Donghae mengangkat wajahnya dan memandangi Sungmin dengan serius. Sungmin memang tidak terlihat seperti seseorang yang menyesal.

"Aku cuma takut dia menderita karena sangat banyak orang yang tidak menginginkan kehadirannya. Tapi Zhoumi menyadarkanku kalau cukup aku saja yang menginginkannya, maka dia akan terlahir dengan bahagia." Mata Sungmin berkaca-kaca, ia selalu dipenuhi emosi yang tidak menentu setiap kali membicarakan janin dalam kandungannya. Setetes air mata jatuh dan dengan cepat ia menyekanya. "Maaf, secara hormonal aku sangat kacau, jadi aku seringkali bersikap emosional seperti sekarang ini. Jadi, apa kau tetap mau mengantarku?"

"Aku…" Donghae terdiam menahan kata-katanya, sempat terpikir olehnya akan bertanggung jawab pada Sungmin, ia akan menikahi Sungmin dalam keadaan apapun. Tapi Donghae ragu, ia tidak yakin akan bisa menerima anak itu. "Jangan khawatir, aku akan tetap mengantarmu."


.

Cho Kyuhyun x Lee Sungmin

.

KYUMIN, BoysLove, Mpreg, Mature Content

.

Disclaimer : I don't have anything and don't have any intention.

Phoebe Maryand fully owner all these stories

.


Summary:

Kau tidak boleh menolak. Karena kalau kau menolak aku akan membunuhmu lalu bunuh diri/ Lee Sungmin, menikahlah denganku atau kau akan mati/


.

~ KyuMin ~

.


Sungmin dan Donghae sudah berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan menuju apartemen Zhoumi. Perjalanan terasa hening karena tidak ada satupun diantara mereka berdua yang membuka suara.

Mereka hampir sampai di lingkungan tempat tinggal Zhoumi, namun Sungmin memutuskan untuk turun dalam jarak yang masih cukup jauh dari lingkungan apartemen tersebut, lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Donghae pada awalnya menolak, tapi Sungmin memaksa dengan alasan ia harus lebih banyak berolah raga, dan satu-satunya olah raga yang bisa dilakukannya hanya berjalan kaki. Mengingat sulitnya bagi Sungmin menyenggangkan waktu untuk itu, ia harus berusaha mengakali olah raga disela-sela pekerjaannya. Donghae akhirnya bisa menerima meskipun dengan berat hati.

Sepertinya setelah ini Sungmin harus menghindar untuk bertemu Donghae, tapi menyadari hal ini malah membuat perasaannya menjadi sangat tidak nyaman. Walau bagaimanapun Donghae adalah salah satu orang terdekatnya saat ini, dan bahkan pernah dikaguminya.

Tapi bukankah dia memang tidak perlu khawatir? Sungmin sudah mengundurkan diri hari ini dan mulai besok hingga minggu depan adalah waktu-waktu untuk bersantai di rumah sambil mempersiapkan kepergiannya ke China.

Ponselnya berdering, Sungmin merogoh sakunya dan mengambil ponsel tersebut. Ponsel Kyuhyun. Ia menghela nafas, belakangan ini mau tidak mau Sungmin harus menggunakan ponsel itu untuk menghubungi Zhoumi. Tapi setelah ini ia akan meminta Zhoumi untuk menelpon ke flat saja jika ada perlu, dan sebelum pergi ia sudah harus mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Sungmin mengangkatnya, dari Henry, istri Zhoumi.

"Hallo Sungminie. Kau sudah sampai dimana sekarang?" Henry bertanya dengan lembut. Sungmin sangat suka dengan cara bicara laki-laki itu sejak Zhoumi memperkenalkan mereka.

"Aku sudah berada di bawah, tapi sepertinya aku tidak bisa berlama-lama di apartemenmu."

"Nanti saja kita bicarakan itu. Sekarang cepatlah naik karena makanan-makanan ini sudah hampir dingin."

"Baiklah." Sungmin menjawab dengan lemah.

Langkah demi langkah terus dijalaninya menuju lantai delapan kawasan apartemen mewah itu.

Selalu begini, Henry sangat antusias terhadap kehamilan Sungmin dan tidak seharipun dilewatinya tanpa mengawasi segala hal menyangkut asupan gizi yang harus Sungmin konsumsi.

Setiap jam makan siang, mendadak Sungmin dikenakan kewajiban untuk menyantap semua masakan sehat ala Henry dan itu sudah berhasil membuat berat badannya naik beberapa kilo.

Sebenarnya Sungmin sendiri merasa bahagia karena sangat banyak orang yang memperdulikannya. Tapi meskipun begitu, ia tetap merasa tidak enak karena sudah merepotkan banyak orang.

Sungmin menghela nafas pelan sambil menunggu lift terbuka. Mulai sekarang, ia harus membiasakan diri untuk itu karena saat di China nanti Henry dan Zhoumi adalah keluarga barunya.

Bunyi dentingan halus membuyarkan lamunan Sungmin. Lift sudah terbuka dan dirinya harus berebutan dengan beberapa orang untuk masuk. Kelihatannya hari ini sangat banyak pendatang, entah dari luar atau memang penghuni gedung ini juga. Yang pasti orang-orang itu menyesaki lift sehingga Sungmin harus terdesak dan berdiri di sudut.

Seseorang lagi masuk, seseorang yang sangat Sungmin kenal dan orang itu langsung tersenyum saat melihat ke arah Sungmin. Cho Kyuhyun.

Kyuhyun seharusnya berdiri di barisan paling depan karena dia adalah orang terakhir yang masuk ke dalam lift, tapi dia memilih untuk menyeruak kerumunan kemudian berdiri di sebelah Sungmin. Dan itu sudah berhasil membuat Sungmin berdiri tidak tenang.

"Kau sedang apa disini?" Kyuhyun bertanya tanpa melirik Sungmin. Tapi Sungmin menoleh kemudian memandang Kyuhyun, entah mengapa memandangnya dengan penuh harap. Sungmin segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain, ke arah pintu lift yang tertutup perlahan-lahan.

"Aku ada janji."

"Dengan siapa?"

"Kau tidak perlu tahu. Ini urusanku dan aku juga tidak akan mencampuri urusanmu, jadi sekarang diamlah."

Entah sampai kapan Sungmin akan bersikap dingin seperti ini. Tapi apapun yang Sungmin lakukan dan sekasar apapun sikapnya, itu malah membuat Kyuhyun semakin merindukannya. Kyuhyun merindukan Sungmin, hanya Sungmin!

Tapi, seperti apakah reaksi Sungmin bila ia mengetahui perasaan rindu Kyuhyun kali ini? Laki-laki itu pasti akan marah atau mungkin menamparnya seperti yang sudah-sudah.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Sungmin dan menatapnya cukup lama. Sungmin terlihat berbeda, tapi entah apa yang membuatnya berbeda, Kyuhyun masih belum bisa menangkap perbedaannya.

Sungmin masih dengan gayanya yang biasa, rambut disisir rapi dengan memakai kemeja sutra berlengan panjang dan celana bahan, serta sebuah mantel tersampir di lengannya. Gaya orang kantoran pada umumnya.

Apakah itu yang membuatnya berbeda?

Kyuhyun sekali lagi memandangi Sungmin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di wajah Sungmin ada binaran yang membuatnya terlihat semakin bercahaya. Kyuhyun merasa Lee Sungmin tidak pernah secemerlang itu sebelumnya.

Penglihatan Kyuhyun tiba-tiba dikejutkan oleh sesuatu. Seorang laki laki yang berdiri di depannya mengulurkan tangan menelusuri mantel yang tersampir di lengan Sungmin. Ia sudah tahu kalau laki-laki maniak seperti ini sangat suka beraksi di tempat ramai dan sempit. Dia akan menyentuh siapapun yang ada di sekitarnya dan kemudian berpura-pura tidak tahu.

Yang pasti, siapapun yang berada di posisi Kyuhyun saat ini adalah orang yang memiliki keuntungan maupun kesialan.

Keuntungan bila dia dengan cepat bisa menangkap gerakan tangan laki-laki itu, dan kesialan bila semua gerakan laki-laki itu tidak tertangkap, maka tuduhan akan beralih kepadanya. Apapun yang akan laki-laki itu lakukan, Kyuhyun tidak akan tinggal diam.

"Nymph, izinkan aku melakukan sesuatu. Hari ini saja." Kyuhyun merapatkan dirinya pada Sungmin, membuat laki-laki maniak itu menghentikan gerakan tangannya seketika. Tapi tidak ada yang bisa menjamin kalau laki-laki itu tidak akan mengulangi tindakannya saat Kyuhyun lengah.

Sungmin memandang angka merah yang bercahaya di atas pintu lift yang tertutup rapat, mereka baru sampai di lantai tiga dan Sungmin harus menunggu beberapa lantai lagi untuk sampai di apartemen Zhoumi di lantai delapan.

Ia memandang Kyuhyun gelisah. "Melakukan apa?"

"Kau fikir apa? Aku tidak akan melakukan apa-apa."

"Kau tidak akan berusaha menyentuhku di tengah orang banyak seperti ini, kan? Aku bersumpah akan membunuhmu bila itu sampai terjadi."

"Baiklah, aku tidak akan melakukan itu tanpa izinmu."

Sungmin menelan ludah. "Lalu kau ingin melakukan apa?"

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke telinga Sungmin lalu berbisik pelan, sangat pelan sehingga sepertinya tidak ada orang lain yang akan mendengarnya selain mereka berdua. "Rapatkan tubuhmu ke dinding. Kau hanya perlu mundur selangkah, kan?"

Tanpa berkata apapun, Sungmin mundur selangkah hingga pinggangnya menyentuh dinding lift yang memantulkan bayangan punggungnya. Jantungnya seakan-akan melompat saat Kyuhyun bergeser kemudian berdiri di hadapannya dan membelakangi orang lain yang menyesaki lift.

"Kau sedang melakukan apa?"

"Ada seorang maniak yang akan berusaha menyentuhmu. Aku bersumpah tidak akan mengizinkannya melakukan itu!" Jawab Kyuhyun sambil berbisik.

Sungmin melepas sebuah senyum ejekkan. "Lalu apa bedanya kau dengan orang itu? Kau juga maniak, bahkan lebih!"

"Aku bisa menyentuhmu kapan saja karena kau adalah tunanganku!" Ujar Kyuhyun keras. Seolah-olah sedang memberi jawaban atas pandangan orang-orang di sekitar mereka yang menghujani mereka dengan tatapan penuh tanya. "Setidaknya, selagi kau menggunakan cincin itu aku wajib melindungimu. Jadi berhentilah bersikap seperti ini."

Sungmin memandang angka merah di atas pintu lift sekali lagi untuk melenyapkan kegugupannya. Lantai lima, pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang keluar dan masuk. Sungmin semakin khawatir saat seseorang berlama-lama berdiri di depan lift sehingga membuat pintu lift semakin lama tertutup.

Berdiri begitu dekat dengan Kyuhyun membuat Sungmin gelisah, ia berusaha menundukkan wajahnya. Tapi ada sesuatu yang mendesak didalam dirinya yang membuat kepalanya menengadah dan memandang Kyuhyun yang masih memandangnya dengan intens.

Gairah yang selalu dirasakannya selama kehamilan tiba-tiba muncul begitu saja dan tidak bisa ditahan. Sungmin sudah menunggunya terlalu lama dan ia sudah tidak sanggup lagi menahannya. Hasrat yang sudah merasukinya membuat Sungmin mengutuki dirinya sendiri saat tanpa bisa dicegah kedua lengannya melingkari leher Kyuhyun, menyatukan bibirnya dengan bibir Kyuhyun, kemudian mencumbunya dengan penuh kerinduan.

Tapi Sungmin hanya bisa mengutuki dirinya dalam hati, dan kutukan itu sama sekali tidak kuasa untuk membuatnya berhenti.

Melalui getaran tubuhnya, Sungmin bisa merasakan jika Kyuhyun sangat terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba. Tapi Sungmin tidak perduli. Nafasnya tersengal-sengal menanti sentuhan Kyuhyun, dan meskipun butuh waktu Kyuhyun memberikannya.

Kyuhyun berusaha membalas dengan membelai punggung Sungmin, memeluk erat pinggangnya, dan meremas dadanya dengan kuat. Sungmin mengerang dalam hati dan ia belum ingin berhenti.

Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa bermesraan seperti ini, karena minggu depan ia akan berangkat ke China bersama Zhoumi dan Henry. Dan saat itu tiba, Sungmin pasti akan sangat merindukan Kyuhyun disetiap detik yang ia lalui.

Udara dipenghujung musim dingin dan Air conditioner yang menyelubungi mereka membuat Kyuhyun bisa merasakan panas melalui geliat bibir Sungmin. Ia sebenarnya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Sungmin hari ini. Tapi kenapa ia harus peduli?

Dia tidak menyentuh Sungmin tanpa izin, Sungmin yang memulainya lebih dulu. Kyuhyun hanya ingin menikmati semuanya meskipun ia meragukan kalau dirinya benar-benar menginginkan ini.

Bisa berdekatan dengan Sungmin sedekat ini saja sudah cukup membuatnya merasa jika anugerah Tuhan sedang melingkupinya, meskipun disaat yang sama bisikan-bisikan tentang mereka terdengar jelas dari orang-orang yang berada di dalam lift.

Saat ini semua orang yang berada di dalam lift sedang memandangi mereka. Beberapa orang memuji betapa mereka terlihat serasi, dan sebagian lagi mencaci maki karena melakukan hal yang bersifat pribadi di depan banyak orang.

Apapun pendapat mereka, Kyuhyun akan lebih suka menganggap kalau semua orang sedang merasa iri melihat mereka berdua.

Sementara itu, tangan Kyuhyun mulai bergerilya berusaha menemukan kulit dada Sungmin yang lembut, meskipun harus terhalang oleh kemeja yang hanya terbuka seluas tangannya, meskipun remasannya, cubitannya, dan belaiannya pada nipple Sungmin terhalang oleh kemeja yang dikenakannya, Kyuhyun bisa merasakan kalau Sungmin lebih sensitif. Ada sesuatu yang terjadi dengan tubuh laki-laki itu dan Kyuhyun bisa merasakan perubahannya saat menjelajahi setiap inci tubuh Sungmin dengan tangannya.

Tapi desahan demi desahan terus membisiki Kyuhyun untuk berhenti berfikir yang lain-lain. Sungmin sedang menciumi lehernya dengan ganas sehingga meninggalkan bekas yang lembab, lalu kembali menyatukan bibir mereka.

Ciuman erotis yang membuat Kyuhyun melupakan sudah berapa kali lift berhenti dan sudah berapa banyak orang yang keluar masuk hingga hanya mereka berdua yang tertinggal di dalamnya.

Sungmin semakin liar saat menggigit bibirnya, lehernya, membelai dadanya, menyentuh perutnya, dan semakin liar menjalar ke bagian-bagian penting miliknya yang hampir menegang dan sudah menunggu cukup lama.

"Apa kita harus melakukannya di sini?" Kyuhyun berbisik mesra. Tapi tiba-tiba saja ia menyesal telah bersuara karena Sungmin segera menghentikan kecupannya dan menarik tubuhnya secepat mungkin dengan nafas terengah-engah.

Untuk beberapa lama mereka berdua saling bertatapan. Sungmin merasa sudah melakukan kesalahan, sudah memberikan harapan sedangkan dalam waktu dekat ia akan segera pergi jauh meninggalkan Kyuhyun disini.

Tidak, Sungmin tidak sedang memberi harapan kepada Kyuhyun, tapi memberi harapan pada dirinya sendiri.

Sebuah dentingan lembut kembali membuat perhatian Sungmin teralih ke angka yang berada di atas pintu lift. Sungmin mendesah, ternyata mereka sudah kembali lagi ke lantai tiga.

Pintu lift terbuka dan seorang wanita ada di baliknya, ia mematung saat melihat Sungmin dan Kyuhyun lalu mengurungkan niatnya untuk masuk.

Pintu lift kembali tertutup. Sungmin mengerang ketika Kyuhyun meremas selangkangannya dan berniat melanjutkan percumbuan mereka dengan menghujani Sungmin dengan ciuman. Tapi Sungmin menolak dan mendorong tubuh Kyuhyun jauh-jauh.

"Sudah cukup."

Suara Sungmin yang tidak begitu kuat membuat Kyuhyun melepaskan tubuh Sungmin dari kuasanya. Ia memandangi Sungmin yang sedang memperbaiki pakaiannya yang tampak kusut, rambutnya yang berantakan semakin membuat Sungmin terlihat seksi dan membuat Kyuhyun semakin menyesal karena sudah bersuara tadi.

"Kenapa? Kau kehilangan mood?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin maju beberapa langkah dan menekan tuts lift yang berangka delapan. Secepat mungkin lift yang tadinya sudah sampai di lantai dasar kambali melesat ke atas tanpa hambatan.

"Maaf. Aku tadi…ummm…aku rasa secara hormonal aku sedang kacau. Jadi…aku minta maaf. Tadi itu benar-benar diluar kendali."

Kyuhyun merunduk dan mengambil mantel Sungmin yang terjatuh. Sungmin mungkin terlalu gugup hingga ia melupakan mantelnya. Kyuhyun memberikan mantel bulu berwarna coklat muda itu kepada Sungmin dan laki-laki itu segera meraihnya. Sungmin sedang berusaha untuk tidak memandangnya dan itu membuat Kyuhyun lebih merasa kecewa bila dibandingkan dengan hasrat kali ini yang tidak kesampaian.

"Secara hormonal sedang kacau? Apa maksudmu?"

"Sudahlah tidak usah dibahas lagi." Sungmin menyentuh kepalanya lalu memandang Kyuhyun dan berbicara dengan nada yang tinggi. "Makanya jangan pernah mendekat kepadaku!"

"Padahal aku benar-benar berfikir kita akan melakukannya di lift. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya."

Bunyi dentingan halus terdengar lagi. Mereka sudah berada di lantai delapan dan Sungmin segera melesat keluar tanpa menoleh lagi ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun menelan ludah, Sungmin benar-benar sudah membuatnya gila. Sudah begitu lama dia bersikap dingin kepadanya. Dan hari ini, laki-laki itu kembali membangkitkan angan dan gairahnya membuat hatinya kembali merasa hangat. Tapi dengan kejamnya, laki-laki itu mendorongnya dalam kubangan es sehingga memadamkan kembali bara di dalam dirinya. Sungmin selalu membuatnya bingung.

Kyuhyun kembali ke lantai lima. Victoria sedang menunggunya di sana karena wanita itu ingin mengatakan sesuatu, itu yang tertulis difax ruangan kantornya. Ia berjalan sambil menerawang, kembali memikirkan tubuh Sungmin yang berubah, kembali kepada rasa yang berbeda, dan reaksi yang berbeda.

Kyuhyun kembali mengingat saat ia menelusuri tubuh Sungmin dengan mesra, lalu mengerjapkan matanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Sungmin?

"Kenapa kau lama sekali? Kau hampir membuatku gila karena menunggumu." Victoria berdiri di depan pintu apartemennya yang terbuka. Dia sedang menunggu Kyuhyun sejak tadi.

Kyuhyun memandang wanita itu dengan perasaan bermacam-macam. Victoria mengenakan sebuah gaun tidur di siang hari? Kyuhyun rasa ia tidak akan menyukai hal ini. Tapi dia tidak bisa menolak saat Victoria menarik tangannya untuk masuk ke dalam apartemennya. Kyuhyun duduk di ruang tengah dan mendapat suguhan air minum yang tidak biasa.

"Wine?" tanya Kyuhyun. Ia sudah tahu semuanya sedang mengarah kemana. Victoria sedang menggodanya seperti yang selalu dilakukannya dulu. Tapi Kyuhyun tidak akan membiarkan semuanya berakhir seperti harapan Victoria. "Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Kemana suamimu?"

"Kenapa kau menanyakannya? Aku sedang bertengkar…"

"Kalau begitu aku lebih baik kembali ke kantor." Kyuhyun memotong kata-kata Victoria, bukan hanya dengan ucapan tapi juga dengan gerakan. Tapi usahanya untuk bergerak tidak membuahkan hasil karena Victoria langsung menghambur ke dalam pelukannya.

"Kau tidak boleh meninggalkanku begitu saja. Kau juga menginginkanku, kan? Aku tahu kalau saat di restoran waktu itu kau akan melamarku. Seandainya kau melakukannya seminggu lebih cepat aku pasti akan langsung menerimamu."

Kyuhyun menjauhkan Victoria dari pelukannya. "Sudahlah, lupakan semua itu. Sekarang aku tidak mengharapkan apapun lagi darimu."

"Karena ada orang lain? Di tubuhmu tercium bau parfum yang berbeda. Apa kau juga menginginkannya seperti kau menginginkanku saat itu? Apa dia lebih baik dariku"

"Aku menginginkannya seperti aku menginginkanmu? Saat itu aku menginginkanmu karena ku anggap kau adalah orang yang pantas untuk mendampingiku. Tapi aku menginginkannya karena tubuhku menginginkannya, hatiku menginginkannya, otakku menginginkannya, jantungku, bahkan darahku. Jadi sekarang berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan dia!"

"Siapa dia?" Victoria terdiam sesaat. Laki-laki itu yang sangat dipuja oleh Kyuhyun, yang diinginkannya dengan setiap sendi dirinya. Apakah pengacara itu? Kyuhyun bahkan memilih tinggal bersamanya dibandingkan pergi dengan Victoria pada saat itu. "Orang yang kau sukai itu, dia Lee Sungmin, kan?"

Kyuhyun memandangnya cukup lama. "Lee Sungmin bukan hanya sekedar laki-laki yang kusukai, dia tunanganku dan kami akan segera menikah."

Ada sebersit keheranan yang Kyuhyun rasakan pada ucapan yang keluar dari mulutnya. Benarkah dia dan Lee Sungmin akan menikah? Apakah dia sudah meyakininya sekarang?

Victoria tertawa sinis. "Benarkah? Oh Tuhan…bahkan dia memiliki kelamin yang sama denganmu! Bagaimana mungkin kau bisa menyukainya! Dia seharusnya tidak menghalangi hubungan kita, kan? Aku pernah mengatakan kepadamu kalau kita masih bisa berhubungan seperti biasanya meskipun aku sudah menikah. Seharusnya kau juga begitu!"

"Maaf, aku tidak bisa. Sungmin adalah orang yang tidak suka berbagi apapun yang sudah menjadi miliknya dan aku adalah miliknya. Dia sudah membuat gairahku kepada seorang wanita hilang begitu saja. Seperti yang sudah kukatakan, setiap jengkal tubuhku menginginkannya, hatiku juga menginginkannya, hanya menginginkannya!"

Victoria menyerah, sebenarnya ia masih bisa bersikap keras kepala dan Kyuhyun tentu saja akan kalah. Tapi melihat Kyuhyun yang berbicara dengan penuh keseriusan mengingatkan Victoria saat mereka melihat Sungmin di depan toko kue dalam keadaan basah kuyup.

Saat itu Kyuhyun membatalkan rencananya untuk mengantar pulang dan memilih untuk mencegat taksi dalam derasnya hujan, padahal saat itu Kyuhyun bisa saja menelpon perusahaan taksi dan menunggu sampai taksi itu datang. Tapi Kyuhyun lebih memilih untuk menyingkirkan Victoria secepatnya, dan laki-laki itu tidak pernah sekalipun melakukan hal itu pada teman kencannya selama ini. Kyuhyun benar-benar menganggap Lee Sungmin sebagai seseorang yang special dihatinya. Victoria tersenyum kecut.


~ KyuMin ~


"Haruskah aku pergi sekarang?"

"Kau tetap harus kembali ke Tokyo karena masa bertugasmu sudah habis. Kenapa kau kelihatannya sedih Cho? Bukankah naik jabatan dan kembali ke Tokyo adalah keinginanmu yang selalu kau impikan? Sekarang kau mendapatkannya, lalu kenapa wajahmu seperti itu?"

Kyuhyun menghela nafas. Benar, naik jabatan dan hidup di Tokyo adalah impiannya. Tapi bila itu semua harus membuatnya jauh dari Sungmin, Kyuhyun merasa impiannya akan kehilangan arti. Sekarang apa yang harus dilakukannya?

Kyuhyun memandangi kedua telapak tangannya dengan seksama. Tangan ini yang telah menyentuh Sungmin di lift waktu itu dan tangan ini juga yang merasakan ada sesuatu yang lain yang Sungmin sembunyikan darinya. Tubuh Sungmin tidak sama dengan tubuhnya yang biasa. Kyuhyun seharusnya curiga, tapi mengapa ia tidak bisa?

.

.

Kyuhyun memegangi kepalanya. Ia menekan tuts ponselnya dan itu sudah berkali-kali dilakukannya hari ini. Mencoba menelpon Sungmin adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukannya sekarang karena Sungmin ternyata sudah pindah dari flatnya.

Shindong juga selalu menghindar setiap kali ia bertanya. Dan Donghae, laki-laki itu bahkan tidak lagi menyapanya karena sebab yang tidak Kyuhyun ketahui.

Mata Kyuhyun membesar saat pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka dan melihat asistennya masuk ke ruangan tanpa permisi.

"Maaf mengganggu anda." Katanya pelan."Saya sudah berusaha mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Seseorang menitipkan ini dan dia bilang ini adalah sesuatu yang penting yang harus sampai di tangan anda saat ini juga." Laki-laki itu kemudian meletakkan sebuah kotak di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas berat lalu membuka kotak itu dengan lesu. Sebuah ponsel dan cincin bermata ruby dalam sebuah kotak beludru berwarna merah. Melihat ini membuat ingatannya hanya tertuju pada satu orang. "Sungmin?" Desisnya. Semangatnya tiba-tiba saja muncul.

Kyuhyun menegakkan kepalanya dan menatap pegawainya dengan serius. "Yang mengantarkannya seorang pria? Kapan dia datang?"

"Ya, pria itu langsung pergi setelah memberikan kotak ini."

Tidak ada satupun yang bisa menghalangi kehendaknya sekarang. Yang ingin Kyuhyun lakukan adalah menyusul Sungmin secepatnya. Ia berlari sekuat tenaga, berharap bisa menyusul Sungmin dan tidak lagi kehilangannya. Kyuhyun bahkan tidak sabar menunggu lift dan memilih untuk menuruni tangga darurat dengan terburu-buru.

Kepalanya berkeliling mencari-cari, kakinya bergerak kesana kemari, Sungmin menghilang dan ia benar-benar terlambat. Kyuhyun berhenti bergerak dan merasa sangat bodoh karena sudah menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya selama ini. Sekarang apa yang harus dilakukannya?

"Kau mencariku?" Sebuah suara datang dari arah belakang, Kyuhyun berbalik dan memandangi seorang laki-laki yang sangat dikenalnya, meskipun bukan seseorang yang sedang dia harapkan. Shindong.

"Kau?" Kyuhyun terkejut. "Kau yang mengantarkan barang-barang itu kepadaku?"

"Lalu kau berharap siapa? Lee Sungmin?"

"Tentu saja. Kau sendiri tahu kalau aku hampir gila karena dia menghilang begitu saja. Selama ini, meskipun dia selalu bersikap dingin setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya setiap hari. Sekarang dimana dia? Kau masih menolak untuk memberi tahuku?"

"Kyuhyun-ssi," Shindong berdesis. "Kau sudah membuatku mengingkari janjiku kepadanya. Aku sudah bertaruh dengan diriku sendiri, bila kau turun dan mengejarku aku akan mengatakan dimana dia sekarang. Tapi kau membuatku hampir putus asa karena aku harus menunggu lama disini."

"Baiklah, aku minta maaf. Sekarang dimana Sungmin?"

"Apa kau tidak ingin mendengar ceritaku dulu?"

"Nanti aku akan mendatangimu untuk itu. Aku harus segera pindah ke Tokyo akhir minggu ini dan aku harus sudah menemukannya sebelum waktu kepergianku tiba."

"Kyuhyun, apakah kau benar-benar mengharapkannya untuk berada di sisimu? Kau mengharapkannya dengan hatimu atau…"

"Aku bahkan siap memberikan darahku jika dia menginginkan itu!"

"Baiklah." Shindong menghela nafas lega. "Aku tidak tahu apa yang akan Sungmin lakukan. Yang aku tahu, dia sekarang tinggal disebuah apartemen mewah di Gangnam. Dia pernah mengatakan kepadaku kalau dia akan berangkat ke China dalam waktu dekat, tapi Sungmin tidak pernah memberi tahuku kapan rencana keberangkatannya. Seharusnya dia sudah berangkat beberapa hari yang lalu bersama keluarga itu, tapi aku tidak mengerti kenapa dia membatalkannya."

"Milik siapa apartemen itu?"

"Milik seniorku dirumah sakit. Tapi dia sudah pergi ke China lebih dulu bersama istrinya dan Sungmin menempatinya beberapa hari belakangan ini."

"Baiklah, terimakasih."

Lagi-lagi Kyuhyun harus melakukan hal bodoh ini. Ia datang ke apartemen dan menaiki lift yang sama dengan lift yang menjadi tempatnya melepas kerinduan bersama Sungmin beberapa hari yang lalu. Tapi sekarang bukan saatnya untuk mengenang kembali hal yang sudah terjadi.

Dengan gelisah kaki Kyuhyun mengetuk-ngetuk lantai lift dengan irama yang tidak teratur sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam lift bersamanya memandanginya berkali-kali. Ini hal yang bodoh tapi Kyuhyun tidak perduli.

Lantai delapan. Ya, saat itu Sungmin keluar di lantai delapan karena ingin menemui seseorang. Apakah itu hari kepindahannya ke tempat ini? Kyuhyun tidak yakin, ia bahkan masih bisa melihat Sungmin yang membuang wajahnya saat mereka bertemu pandang setelah Kyuhyun pulang kerja hari itu. Tapi pada pagi harinya, barulah ia sadar kalau Sungmin sudah menghilang sama sekali.

Bunyi dentingan halus membuat Kyuhyun melangkahkan kaki selebar mungkin keluar dari lift dan mendekati pintu yang Shindong katakan kepadanya.

Kyuhyun mencoba menekan bel, tapi tidak ada jawaban. Berulang kali ia melakukannya, tapi tetap tidak ada seorangpun yang menjawab. Apartemen ini sangat hening.

Dari pengelola gedung, Kyuhyun baru mengetahui jika ternyata Sungmin sudah pindah dari apartemen itu beberapa hari sebelumnya. Kyuhyun merasa lemas, lagi-lagi ia terlambat. Lalu kemana sekarang ia harus mencari Sungmin?


.

TBC

.


Udah update lagi,,,

Ngetik ini sebenarnya ditengah-tengah suhu tubuh yang lagi tinggi, tapi karena kemarin udah terlanjur bilang mau update cepet jadi saya usahakan untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Jadi, mohon dimaklum ya kalo kacau dan banyak typo. Dikepala saya soalnya lagi banyak bintang yang berputar-putar, hehe….

Okelah, terima kasih buat yang sudah menyempatkan diri untuk hadir. Kita berjumpa kembali dichapter depan. See u…^3^

.

.

_Pegasuss_