Previous
"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!"
Katanya berteriak begitu memilukan tak hanya Max dan Yoochun yang bisa merasakan betapa hancurnya Luhan saat ini. Seorang pria tampan yang sedari tadi berdiri di luar pintu kamarnya pun terlihat sama hancurnya dengan pria cantiknya yang menjerti memilukan saat ini.
"Maafkan aku Luhan. maafkan aku sayang."
Ya-...Sehun tidak pernah pergi ke Jepang. Sehun sudah berdiri disana sejak awal, mendengar seluruh teriakan dan tangisan istrinya yang begitu memilukan dan merasa begitu jahat karena terus menyakiti pria cantiknya.
Sehun terpaksa melakukan kebohongan ini, karena jika dia tidak melakukannya. Luhan akan terus pergi mencarinya. Akan terus menemukannya dan akan terus terluka karenanya. Katakanlah Sehun egois. Dia bisa melihat Luhan kapanpun dia mau tapi Luhan-... pria cantiknya mungkin akan hidup berantakan setelah hari ini.
"KEMBALI PADAKU SEHUNNA!"
Sehun kembali memejamkan matanya saat teriakan Luhan kembali terdengar. Membuatnya seketika jatuh terduduk bersandar di pintu masuk hotelnya, terisak begitu pilu untuk menahan diri agar tak berlari memeluk istrinya yang begitu kesakitan saat ini.
Tangannya mengusap lembut pintu kamar hotelnya, membayangkan kalau saat ini dirinya tengah mengusap punggung istrinya yang bergetar. Merasa begitu sesak dengan keputusan yang dia buat karena masa lalu mengerikan baik dari Luhan maupun dirinya terus berdatangan. Membuat Sehun tak memiliki pilihan lain selain menjaga istrinya dengan caranya sendiri.
"Aku akan kembali-... Aku janji akan kembali padamu."
Sehun memejamkan erat matanya, mengatur nafasnya yang begitu memburu sebelum akhirnya berdiri meninggalkan ruangan dengan istrinya yang masih terisak pilu, dia memutuskan untuk segera pergi –bukan untuk menetap di Jepang seperti kebohongan yang telah ia buat-. Melainkan pergi untuk menyelesaikan semua hal yang membuatnya dan Luhan begitu sulit untuk bersama tanpa harus merasa ketakutan karena bisa kehilangan satu sama lain di waktu yang tak terduga.
"Kau akan baik-baik saja Lu. Aku menjagamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Entangled
Main Cast : Sehun & Lu Han
Genre : Romance, Family, Hurt/Comfort
Rate : M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s)
HUNHAN STORY!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Atur saja pertemuanku dengan keluarga pasien. Aku ingin bicara dengan mereka sebelum melakukan operasi."
Saat ini terlihat seorang dokter spesialis anak yang sedang berbicara dengan dokter mudanya. Dan jika dilihat lebih dekat lagi, dokter yang merupakan calon pemilik dari rumah sakit tempatnya bekerja itu tampak selalu tersenyum walau kantung mata sudah terbentuk di kedua kelopak matanya.
Dokter yang biasa dipanggil akrab dengan sapaan ByunBaek itu memang tidak pernah menyalah gunakan posisinya sebagai putra pemilik Seoul Hospital. Dia tetap menjadi dokter spesialis pada umumnya. Bekerja dan bersikap layaknya dokter yang bekerja dan masih banyak belajar dari semua kejadian yang ia tangani. Mencoba berbaur dan sangat menghargai sebuah proses, menjadikannya cukup berpengalaman dan tidak dipandang sebelah mata mengatasnamakan ayahnya.
"Kapan kau memiliki waktu dokter Byun?"
"Umh...Besok setelah makan siang."
"Tapi besok anda dijadwalkan menghadiri seminar untuk menggantikan Profesor Byun. Anda harus hadir."
"ah-Kau benar..." gumam Baekhyun sedikit menepuk keningnya membuat asisten perawatnya sedikit tertawa melihat dokternya kembali berulah menggemaskan.
"Lusa-..Aku akan menemui keluarga pasien lusa." Gumam Baekhyun memberitahu si perawat senior sedikit tertawa.
Sampai senyumnya samar menghilang saat melihat sosok yang dikenalinya berjalan gontai tak tentu arah, membiarkan orang-orang menabraknya dan berakhir dengan cacian karena sahabatnya tak memakai ID Card dan Jas putih yang menunjukkan identitasnya sebagai dokter.
"Luhan?"
Sang perawat yang mendengar gumaman Baekhyun pun seketika menoleh dan terlihat sama terkejutnya melihat kondisi dokter favoritnya yang lain terlihat berantakan.
"Ada apa dengan dokter Oh?" katanya sedikit bertanya pada Baekhyun yang segera mengembalikan dokumennya pada perawat Kim "Aku akan mengurusnya. Kau sebaiknya kembali bekerja." gumam Baekhyun dan tak lama setengah berlari menghampiri Luhan yang kembali terjatuh karena beberapa orang menabraknya secara bergantian dan hanya dibiarkan saja oleh Luhan yang sepertinya memang tidak fokus.
"Lu...hey Lu."
Dalam sekejap Baekhyun berjongkok sekilas memeluk Luhan dan membantunya kembali berdiri "Ada apa denganmu? Kau kenapa hmm?" katanya sedikit bergumam marah menyadari tubuh Luhan yang bergetar dan tangannya yang terasa dingin.
"Baek…"
"Kita bicara di ruanganku. Jelas ada banyak hal yang harus kau beritahu padaku." katanya terdengar begitu marah dan siap memaki siapapun yang berani membuat Luhannya begitu berantakan bahkan di saat waktu masih sepagi ini.
.
BRAK…!
"Apa kau bilang? Sehun meninggalkanmu? Lagi?"
Saat ini Luhan sedang bersama Baekhyun berada di ruangannya. Menceritakan semua kejadian yang membuatnya berantakan pagi ini. Bagaimana suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dan tak tahu kapan kembali.
Luhan sangat mengetahui sifat Baekhyun. Bagaimana sahabatnya itu akan selalu murka jika sesuatu mengusik dan menyakiti dirinya. Dan Luhan-...Dia adalah tipe orang yang tidak akan bercerita tentang masalah rumah tangganya terutama pada sahabatnya. Serumit apapun masalah yang terjadi antara dirinya dan Sehun. Luhan sama sekali tak pernah bercerita.
Tapi kali ini berbeda, Luhan butuh seseorang untuk mendengarkannya. Dia bisa saja bercerita pada Chanyeol atau Kyungsoo lalu akan berakhir dengan kedua saudaranya yang akan semakin membenci Sehun. Dia juga bisa saja bercerita pada Kai-..lalu penjaga pribadinya itu akan memaksakan keluar dari rumah sakit untuk mencari Sehun dan memperburuk keadaan dirinya.
"hmm..Pagi ini dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku."
"Brengsek!"
"Baek..." gumam Luhan memohon agar Baekhyun tak terus memaki suaminya.
"APA?" katanya bertanya begitu marah membuat tubuh Luhan sedikit tersentak karena tak menyangka sahabatnya akan menjadi semarah ini. Baekhyun yang menyadari kalau sikapnya berlebihan pun hanya bisa memijat kencang dahinya sebelum menarik kursi di depan Luhan
"Luhan dengarkan aku-...Kenapa kau masih mempertahankan pria yang selalu ingin membuangmu?"
"Sehun pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Dia hanya merasa ketakutan dan aku-...aku harus bicara dengannya."
"Apapun alasannya dia tidak bisa memperlakukanmu seperti ini! Ini tidak dibenarkan Lu. Bagaimana kalau pada akhirnya dia berniat bercerai lagi darimu?"
Ucapan Baekhyun sontak membuat sesuatu dalam diri Luhan meremat hebat. Memikirkan kemungkinan terburuk dari semua yang dilakukan suaminya akan berujung perpisahan untuk keduanya membuatnya tak bisa tinggal diam dan harus melakukan sesuatu.
"Baek aku harus mencari suamiku."
Luhan sudah berdiri dari tempatnya, berniat untuk menyusul suaminya –entah kemana pun dia pergi-. Namun seolah sama dengan hatinya yang sedang berdenyut sakit, kakinya pun tak mau bekerjasama untuk menopang tubuhnya. Membuatnya kembali terjatuh duduk sebelum mencoba kembali berdiri dan sedikit terhuyung saat berjalan.
"Kau pikir kau mau pergi kemana Lu?!"
Baekhyun tersenyum pahit melihat keadaan Luhan yang begitu menyedihkan. Membuatnya segera menghampiri sahabatnya dan mencengkram erat lengan Luhan yang kemudian terlihat marah padanya "Baek lepas. Aku harus mencari suamiku!" katanya sedikit berteriak dan menghempas kasar tangan Baekhyun yang mencengkramnya,
"KEMANA KAU AKAN MENCARINYA? DIA MEMBUANGMU LUHAN!"
Luhan kembali terdiam saat entah sudah ke berapa kalinya Baekhyun mengucapkan kata-kata yang paling menampar kesadarannya. Luhan memejamkan matanya erat merasa begitu marah pada Sehun dan tak lama kembali terjatuh dengan Baekhyun yang menopang tubuhnya. "Aku ingin bertemu dengan Sehun. Aku bisa gila jika dia pergi seperti ini. AKU MAU BERTEMU DENGAN SUAMIKU!"
"Luhan jangan seperti ini. Aku janji kau akan bertemu dengan Sehun. aku akan menemanimu mencarinya. Aku janji."
Kali ini Baekhyun yang terdengar putus asa melihat Luhan yang begitu berantakan, membuat pelukannya semakin erat berharap Luhan bisa merasa sedikit nyaman "Aku mau Sehun. Aku mau bertemu dengan Sehun-...Baekhyun tolong aku." Katanya menggeram mencengkram erat lengan Baekhyun berharap sahabatnya bisa membantunya menemukan suaminya.
"Luhan aku janji-..."
Brak...!
"Dokter Oh!"
Belum selesai Baekhyun berbicara, terdengar suara pintu ruangan Baekhyun terbuka membuat baik Baekhyun maupun Luhan segera menoleh dan menyadari kehadiran dokter muda yang saat ini terlihat terengah dan tergesa.
"Ada apa? Kenapa kau tidak mengetuk pintu?" katanya bertanya mendesis membuat si dokter muda hanya menundukkan kepalanya menyesal menatap Baekhyun.
"Ada apa memanggilku?"
Kali ini suara Luhan yang bertanya. Dia melepas pelukan Baekhyun dan mulai berdiri untuk tidak terlihat berantakan di depan dokter muda yang masih harus banyak belajar darinya dan dokter senior yang lain.
"Jadwal operasi putri Professor Lee dimajukan. Semua dokter yang dijadwalkan menangani langsung professor Lee diharapkan berkumpul di ruang operasi saat ini. Dokter Park dan yang lainnya sudah bersiap. Kami menunggu kehadiranmu dokter Oh."
"Dokter Oh tidak akan melakukan operasi apapun hari ini. Katakan pada mereka. Ini perintah.
Baekhyun membuat keputusan tanpa persetujuan Luhan, membuat dokter muda yang sedari tadi merasa tak nyaman berada di ruangan Baekhyun pun sedikit takut pada Baekhyun dan memberanikan dirinya untuk menyanggah ucapan dokter spesialis anak di rumah sakit tempatnya bekerja "Tapi seluruh dokter yang akan menangani putri Professor Lee adalah dokter pilihan yang sudah mengerti kondisi beliau."
"Apa kau tuli? AKU BILANG DOKTER OH TIDAK AKAN MELAKUKAN OPERASI APAPUN HARI INI!" Katanya kembali berteriak membuat si dokter muda sedikit tersentak sementara Luhan tersenyum lirih menyadari sahabatnya sangat mengkhawatirkan keadaanya saat ini.
"Baiklah saya mengerti dokter Byun. Saya permisi."
"Lee Taeyong-ssi."
Merasa namanya dipanggil, membuat si dokter muda yang tidak mau berdebat lebih jauh dengan putra pemilik rumah sakit tempatnya bekerja pun kembali menoleh dan sedikit khawatir melihat keadaan dokter yang sangat ia kagumi memang tidak dalam kondisi terbaiknya. "Ya dokter Oh?"
"Aku akan kesana lima menit lagi. Kalian bisa bersiap terlebih dulu." katanya memberitahu dokter mudanya yang terlihat tersenyum dan tak lama mengangguk mengerti "Ya dokter Oh. Kami menunggumu." katanya begitu bersemangat dan tak lama pergi meninggalkan ruangan Baekhyun merasa tak sabar melihat kolaborasi dua dokter bedah yang menjadi panutannya di ruang operasi.
"Luhan kondisimu sedang seperti ini. Apa kau yakin kau bisa melakukan operasi?"
Luhan yang sedang mencoba kembali berdiri pun pada akhirnya menyerah dan membiarkan Baekhyun membantunya berdiri. Sedikit tersenyum kecil untuk meyakinkan sahabatnya "Aku baik Baek. Aku bisa mengatasi ini."
"Kita akan bicara lagi nanti. Sekarang aku harus bersiap."
Dan tak lama Luhan kembali berjalan sedikit terhuyung meninggalkan ruangan Baekhyun. Sama sekali tak merasa yakin pada dirinya sendiri hari ini, tapi harus tetap berada disana dan menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Tidak hari ini Luhan tidak sepenuhnya menjadi seorang dokter. Dia hanya seorang pria biasa yang sedang berusaha agar karirnya sebagai dokter tidak akan berakhir rumit sama seperti akhir kisah cintanya yang rumit.
"Luhan."
Luhan kembali menoleh saat Baekhyun kembali memanggilnya. Keduanya saling bertatapan dan tak lama Baekhyun tersenyum mengangkat kedua ibu jarinya pada Luhan "Selamat bekerja dokter Oh." Katanya bergumam menggunakan profesi Luhan untuk mengingatkan sahabatnya kalau dirinya adalah seorang dokter yang memang harus selalu menjadi dokter untuk keadaan apapun. Sementara Luhan hanya tersenyum kecil dan mengangguk lemah menatap wajah sahabatnya
"Kau yang terbaik dokter Byun." Gumamnya menutup pintu ruangan Baekhyun untuk segera bergabung dengan tim yang akan melakukan operasi pengangkatan tumor di tubuh putri professor yang merupakan pemilik saham terbesar di rumah sakit tempatnya bekerja.
..
..
..
..
"Dokter Oh."
Adalah Kim Seohyun -dokter muda- lainnya yang kini menghampiri Luhan dengan sedikit tergesa dan cemas mengingat didalam sana ada seorang pasien yang mungkin akan menentukan bagaimana karirnya kelak menjadi seorang dokter di tempatnya bekerja.
"Kalian sudah siap?" katanya bertanya dengan pandangan yang tak fokus dan berusaha mengalihkannya dengan memakai seluruh perlengkapannya untuk bersiap.
"Ya...Dokter Park sedang melakukan briefing dengan perawat dan dokter didalam. Kami menunggu kedatangan anda."
Dan setelah selesai mengganti pakaian berwarna birunya, Luhan mengenakan masker sebagai perlengkapan terakhir sebelum mengangguk dan masuk kedalam ruang operasi.
"Dokter Oh."
Mendengar namanya kembali dipanggil membuat si dokter yang sedang dalam kondisinya yang tak stabil menoleh dan mendapati dokter mudanya menatapnya sedikit ragu "Apa anda baik-baik saja?"
Luhan kembali tersenyum sebelum berjalan mendekati calon dokter spesialis penyakit dalam yang patut diperhitungkan kelak di masa yang akan datang "Aku baik. Dan jika terjadi sesuatu didalam sana. Aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Kau tidak perlu khawatir." katanya memegang pundak Seohyun dan tak lama kembali berjalan untuk bergabung dengan Chanyeol dan yang lainnya.
Dan sama dengan Taeyong, Seohyun juga sangat merasakan perbedaan aura yang ditunjukkan oleh dokter senior favoritnya saat ini. Luhan yang biasanya adalah dokter tangguh yang selalu optimis dan yakin bisa melakukan jenis operasi apapun yang dihadapkan untuknya. Berbeda dengan Luhan yang baru saja berbicara dengannya -terlihat begitu kelelahan dan berantakan- begitulah kira-kira yang ada di pikiran Seohyun sebelum ikut menyusup masuk ke dalam ruang operasi.
"Maaf membuatmu menunggu dokter Park."
Katakanlah Chanyeol mengenal Luhan hampir seumur hidupnya. Karena hanya dengan menatap mata Luhan sekilas, tidak menghalangi Chanyeol untuk menebak jika sesuatu sedang terjadi pada Luhan walau setengah wajahnya sudah terlindungi masker saat ini.
Chanyeol memandang Luhan cukup lama, meyakinkan dirinya kalau Luhan baik-baik saja mengingat ini adalah operasi yang bisa dikatakan akan mempengaruhi karir mereka sebagai dokter nantinya. Membuatnya terus memandang Luhan yang telah bersiap didepannya, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya "Apa kau baik Lu?"
Merasa bosan mendengar pertanyaan yang sama hampir seharian ini membuat Luhan sedikit tersenyum pahit sebelum menatap teman kecil sekaligus dokter bedah yang akan memimpin operasi kali ini "Bisakah kita mulai?" katanya bertanya mengabaikan pertanyaan Chanyeol yang terlihat mencemaskan dirinya saat ini.
Chanyeol pun sedikit menghela nafasnya sebelum melihat ke arah asisten perawatnya.
"scalpel."
Mendengar perintah dari Chanyeol, asisten perawat yang bertugas pun segera memberikan pisau bedah dan tak lama
Sret…!
Chanyeol mulai membuka goresan pertama dan tak lama operasi pun dilakukan.
Luhan sedikit menatap lama Chanyeol dengan ragu sedikit tidak yakin dengan dirinya hari ini sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya cepat dan berusaha untuk tetap fokus selama operasi berlangsung.
"Kondisi pasien?"
"Denyut nadi, denyut jantung dan tekanan darah normal." balas Seohyun menjawab Luhan yang tampak bertanya sebelum mengambil bagiannya untuk membantu Chanyeol.
Luhan kemudian mengangguk sebelum membantu Chanyeol untuk menemukan letak tumor yang membesar di sekitar paru-paru putri Professor Lee -dokter spesialis jantung yang merupakan pemegang saham terbesar di Seoul Hospital.-
Dan setelahnya operasi berjalan sesuai prosedur. Chanyeol dan Luhan mempunyai kerjasama yang tak bisa diremehkan di meja "panas" mereka. Jika yang satu dinobatkan sebagai "finder" maka yang lain akan dinobatkan sebagai "eksekutor"
"Kau bisa mengangkatnya?" Chanyeol menujukkan sebuah daging besar yang tumbuh dengan ukuran tidak normal pada Luhan dan seluruh timnya saat ini.
"Tidak sulit untukku."
"Apa kau yakin? Fungsi kelenjar getah beningnya juga sudah terganggu karena tumor ganas ini."
Luhan sedikit menatap ragu Chanyeol sampai akhirnya dia mengangguk, menyanggupi apa yang dimaksudkan Chanyeol untuknya.
"Biarkan aku mencobanya." gumam Luhan dan tak lama kembali fokus pada gumpalan daging yang berada di sekitar pembuluh darah dan bronkus dari pasien yang mereka tangani.
Luhan sudah fokus dan yakin bisa mencapai paling tidak setengah dari gumpalan tersebut sampai
Sret…!
tit...tit….tit..
Suara monitor jantung pasien berubah menjadi tak beraturan membuat seluruh tim medis sedikit membelalak bertanya-tanya apa yang dilakukan Luhan.
"Dokter! Tekanan darah menurun. Detak jantung melemah."
Dua dokter muda yang bertugas memantau kesadaran pasien terlihat panik. Membuat Chanyeol segera menatap tajam ke arah Luhan dan sedikit terkejut Luhan melakukan kesalahan kecil yang berakibat fatal untuk keselamatan pasien.
"Dokter Oh apa yang kau lakukan?! Kau bahkan tak mengenai sama sekali gumpalan itu. Kau memotong pembuluh arteri pasien!"
Luhan sontak membelalak menyadari kecerobohannya sementara darah si pasien terus mengalir deras bahkan sedikit mengenai wajahnya.
Dia panik-...pikirannya kembali kacau dan berusaha untuk menghentikan pendarahan. Namun alih-alih berhenti. Pendarahan yang di alami pasien semakin parah membuat Chanyeol merasa terlalu marah pada Luhan.
"Dokter Oh cukup! Biar aku yang menanganinya." katanya menjauhkan tangan Luhan yang masih mencoba menghentikan pendarahan.
"Aku bisa mengatasinya. Jangan ganggu konsentrasiku!" katanya menepis pergelangan tangan Chanyeol dan kembali mencoba usahanya untuk menghentikan pendarahan yang berakhir dengan kondisi vital pasien yang terus menurun.
Awalnya Chanyeol masih mempercayai Luhan bisa menyelesaikan kesalahan fatal yang dia buat, namun saat menyadari tangan Luhan bergetar dengan pandangan yang tak fokus membuatnya kembali marah dan segera mencengkram erat pergelangan tangan Luhan
"Cukup." Katanya berusaha tenang dan tak membuang-buang waktu kali ini
"Aku bisa melakukannya. Lepaskan tanganku dokter Pa-..."
"CUKUP LUHAN!"
Chanyeol yang tak tahan pun akhirnya berbicara informal pada Luhan didepan seluruh dokter muda dan perawat senior yang melakukan operasi hari ini. membuat Luhan sedikit tersentak menyadari operasi hari ini tidak akan berakhir dengan baik.
"Kau boleh keluar. Selebihnya biar aku yang menangani." Katanya memandang Luhan dengan menyesal dan sedikit memohon agar Luhan tak membuat kekacauan lebih daripada ini.
"Aku bisa-..."
"Dokter Oh! Kau dikeluarkan dari ruang operasi sekarang. Ini perintah." Gumam Chanyeol memejamkan matanya memberitahu Luhan yang terlihat begitu hancur saat ini.
Dan merasa tak memiliki pilihan lain. Luhan pun perlahan membuka masker dan sarung tangannya dengan cepat, melemparnya asal sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruang operasi dengan harga diri yang begitu terinjak sebagai dokter senior di bagian bedah.
"Maaf Luhan."
Chanyeol memandang punggung Luhan yang keluar dari ruang operasi dengan begitu marah dan kecewa. Membuatnya sedikit mengepalkan erat tangannya sebelum kembali fokus untuk menyelesaikan operasi yang bahkan belum berjalan setengahnya saat ini.
Luhan sendiri masih berjalan gontai menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah, kakinya kembali tak bisa dia jadikan tumpuan karena lagi-lagi semua terlalu banyak ia alami hari ini. "Kalau seperti ini siapa yang harus aku salahkan." Katanya bergumam menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.
"Sehun-...Sehunnna."
Dan setelahnya hanya nama Sehun yang bisa ia ucapkan dengan terisak. Merasa begitu membutuhkan sandaran namun sang penenang berada jauh darinya. Luhan semakin terisak kuat dengan tangan yang mencengkram kuat sampai
"SEHUNNA!"
Katanya berteriak dan tak lama menjambak kasar rambutnya berharap bisa berhenti memanggil nama seseorang yang jelas tak akan datang untuknya hari ini.
..
..
..
..
"Selesai. Kondisi pasien?"
"Semua normal dokter Park."
"Baguslah. Kerja bagus."
Dan setelah hampir lima jam lamanya. Operasi yang begitu menegangkan itu akhirnya berakhir. Chanyeol secara individu dibantu oleh dua dokter muda dan dua perawat seniornya berhasil menyelesaikan operasi mereka yang begitu membuat dada sulit menghembuskan nafas.
Dan tak lama satu persatu dari mereka meninggalkan ruang operasi dengan wajah yang begitu terlihat lega, meninggalkan Chanyeol yang masih sibuk membersihkan diri dengan Luhan yang tak pernah lepas dari pikirannya sedari awal dia mengusir Luhan pergi dari ruang operasi.
Dia menatap cermin cukup lama, sampai bayangan seseorang terpantul dari cermin dan menampakkan seorang pria cantik yang terlihat terengah dan mencari keberadaan seseorang.
Sampai akhirnya mata mereka bertemu di cermin, dimana yang satu menatap bingung sementara yang satu terlihat begitu marah.
"Apa benar kau mengusir Luhan saat operasi berjalan?"
Dan tanpa banyak berbasa-basai dokter spesialis anak itu bertanya pada pria yang selalu menolak perasaannya entah sudah ke berapa kalinya.
Chanyeol pun mematikan kran air yang sedang membasuh tangannya. Berusaha untuk terlihat tenang walau sejujurnya dia sangat kelelahan hari ini.
"Jawab aku Park Chanyeol." Katanya mendesis dan mendekat ke arah Chanyeol yang hanya diam di tempatnya.
"Ya aku melakukannya."
"A-Apa kau gila? KENAPA KAU MELAKUKANNYA? DIA DOKTER UTAMA DALAM OPERASI KALIAN HARI INI?!"
"Dia tidak fokus. Aku tidak memiliki pilihan lain selain-..."
PLAK!
Baekhyun menampar telak pipi Chanyeol. Membuat si ketua dokter bedah mengernyit dan sedikit tak menyangka kalau pria yang selalu berkata lembut padanya terlihat sangat marah hari ini.
"Apapun alasanmu kau tidak berhak mengusir seorang dokter saat operasi berlangsung. KAU MENJATUHKAN HARGA DIRI SEORANG DOKTER DENGAN KEPUTUSANMU!" katanya kembali berteriak dengan tangan mengepal menandakan kalau dirinya terlalu marah saat ini.
"Ayahku memanggil Luhan karena kejadian ini. Dan kau tahu apa yang terjadi jika Profesor Lee menjadikan kesalahan Luhan sebagai alasan untuk membuatnya kehilangan izin resminya sebagai dokter?-...Luhan akan kehilangan pekerjaannya. Dan jika sampai itu terjadi. Aku bersumpah-..."
"AKU BERSUMPAH AKAN MEMBENCIMU SEUMUR HIDUPKU!" katanya berteriak begitu kecewa pada Chanyeol dan berlari meninggalkan Chanyeol yang entah mengapa merasa begitu sakit melihat sikap Baekhyun padanya.
Baekhyun yang biasanya adalah Baekhyun yang suka mengganggu dan tersenyum padanya. Bukan Baekhyun yang suka berteriak bahkan menamparnya seperti hari ini. membuatnya diam-diam memegang bekas tamparan Baekhyun dan merasa begitu merindukan Baekhyun yang selalu datang dengan seluruh senyum di wajahnya.
..
Sementara itu...
Brak...!
"Ini memalukan. Sungguh ini memalukan! Bagaimana kau bisa melakukan kesalahan seperti itu dokter Oh?"
"Maaf direktur."
Sudah hampir dua puluh menit berlalu dan selama dua puluh menit itu pula hanya terdengar suara kekecewaan yang dilontarkan oleh pemilik rumah sakit yang dijawab rasa penyesalan oleh dokter yang hampir membuat putri professor Lee –penyumbang terbesar di Seoul Hospital- hampir celaka karena dirinya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa kau bertindak tidak profesional seperti ini?"
Dokter Byun –pemilik Seoul Hospital- merasa begitu kecewa pada dokter muda yang merupakan sahabat putranya. Pria yang ia kenal begitu bersemangat dan tak terkalahkan hampir tiga tahun lamanya kini melakukan kesalahan kecil yang membuat tak hanya dirinya namun seluruh rumah sakit harus menanggung akibatnya. Hal ini pula yang membuat kemarahan dari ayah dokter spesialis anak di rumah sakit miliknya tak bisa lagi disembunyikan.
"Maafkan saya."
Dan merasa tak perlu menjelaskan apapun, dokter spesialis bedah yang sudah bekerja di Seoul Hospital hampir tiga tahun lamanya itu hanya menunduk dan tak berniat untuk berbicara lebih banyak mengingat kesalahan yang baru saja ia lakukan dengan suasana hati yang begitu tak bisa dijelaskan saat ini.
"Jika bukan karena dokter Park. Kita semua akan kehilangan pekerjaan kita sebagai dokter, jadi apa kau tidak bisa mengatakan sesuatu selain maaf? Aku ingin mendengar pembelaanmu"
"Maaf."
BRAK...!
Luhan kembali tersentak saat ayah sahabatnya itu kembali memukul meja dengan suara nafas yang tersengal, membuatnya sedikit merasa bersalah mengetahui kalau dirinya telah membuat kecewa satu-satunya dokter senior yang tak pernah meremehkan status sosialnya.
Ayah kandung dari Baekhyun itu pun terdengar menghela dalam nafasnya sebelum kembali menatap Luhan yang masih menundukkan kepalanya "Aku harus mengambil keputusan." Katanya memberitahu Luhan dengan berat hati.
"Dokter Oh. Kau dilarang melakukan operasi selama tiga bulan terhitung dari hari ini."
Deg!
Lagi-...Hati Luhan terasa diremat hebat. Pagi tadi saat membuka matanya dia harus mendengar kabar kepergian suaminya, dan kali ini dia harus mendengar bahwa dia juga tidak bisa melakukan satu-satunya pekerjaan yang bisa membuatnya melupakan Sehun sejenak.
"Aku tidak bisa memaklumi kesalahan kecilmu di operasi penting seperti hari ini. Aku juga ingin menunjukkan pada seluruh dokter yang bekerja di rumah sakitku bahwa kau tidak boleh menjadi "amatir" disaat dunia mengakuimu sebagai "profesional". Dengan kata lain, jika dirimu sudah ditunjuk untuk melakukan operasi penting. Maka kesalahan adalah hal yang dilarang dan tak boleh terjadi." Katanya memberitahu Luhan yang masih tak memberikan respon mengingat rasa sesak di dadanya semakin menjadi dan membuatnya tak bisa berkata sepatah kalimat pun.
"Apa kali ini kau mau mengatakan kalimat pembelaanmu? Aku masih memberikan kesempatan untukmu."
Luhan kembali diam tak merespon. Luhan masih sibuk mengontrol dirinya sendiri sementara otaknya masih memikirkan cara untuk membela diri. Namun merasa tak bisa mengatakan satu apapun kalimat pembelaan membuatnya kembali mengangguk dan secara tak langsung menyetujui sanksi yang diberikan untuknya.
"Tidak ada kalimat pembelaan apapun dariku direktur. Aku menerima hukuman atas kesalahanku."
"KAU!-..." gumam dokter Byun yang merasa begitu marah pada Luhan. merasa begitu kecewa pada dokter andalannya di rumah sakit miliknya, namun kembali berusaha memaklumi kalau ada sesuatu yang tak bisa dikatakan oleh sahabat putranya saat ini "haah~...Baiklah. Sanksi yang kuberikan padamu mulai berlaku hari ini, dan mulai hari ini secara tidak langsung kau di bebas tugas kan dari pekerjaan utama mu sebagai dokter bedah. Kau mengerti?"
"Ya saya mengerti di-.."
BRAK!
Kali ini terdengar suara dari pintu masuk yang menampilkan putra tunggal dari pemilik Seoul Hospital. Si pria berperawakan tampan dan cantik dalam waktu bersamaan itu tampak terengah terlihat dari mulutnya yang membuka sementara helaan nafasnya pendek namun terdengar cepat. Matanya pun tak berkedip menatap kedua pria yang sedang berbicara serius tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Hanya karena Luhan melakukan kesalahan kecil. Kau tak bisa memberikannya sanksi untuk tidak melakukan operasi. Ini tidak adil direktur!" katanya mulai berjalan mendekati sang ayah dan sahabatnya yang hanya tersenyum lirih menatapnya saat ini.
"Ini bukan urusanmu Dokter Byun. Aku rasa kau boleh pergi."
"Tentu saja ini urusanku. Kau memberikan keputusan yang tidak adil untuk dokter sekelas Luhan!"
"Sekelas Luhan? Apa maksudmu? Hanya karena dia dokter senior bukan berarti dia tidak pernah melakukan kesalahan. Operasi yang dokter Oh lakukan adalah operasi penting. Dan dokter Oh melakukan kesalahan tanpa berniat menjelaskan apa yang sedang terjadi. Jadi katakan padaku bagaimana bisa aku tidak memberikannya sanksi?"
Baekhyun pun secara refleks menatap kecewa pada sahabatnya yang jelas sama sekali tak berusaha mempertahankan apa yang harusnya ia pertahankan. Membuatnya menatap memohon pada ayahnya agar tidak menjadikan situasi semakin sulit untuk Luhan "Tapi setidaknya berikan dia waktu untuk menjelaskan."
"Aku sudah memberikannya dan dokter Oh menolak. Sanksi untuknya akan berlaku terhitung hari ini!"
"APPA!"
Kali ini Baekhyun tak tahan berbicara sebagai atasan dan bawahan dengan ayahnya. Dia berharap dengan memanggil ayahnya membuat ayahnya sedikit melunak dan membiarkan Luhan bekerja seperti biasa. "Ini keputusan final ku. Kalian boleh pergi!"
"Appa kau-..."
Baekhyun tiba-tiba menahan ucapannya saat Luhan mencengkram lengan tangannya. Membuatnya sedikit menoleh dan mendapati sahabatnya tengah menatapnya memohon untuk segera menghentikan keributan yang terjadi karena dirinya.
"Saya akan menerima sanksi yang diberikan direktur. Anda tidak perlu khawatir. Saya permisi." Katanya membungkuk berpamitan sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan ruangan dokter Byun dengan Baekhyun yang kini mengikutinya di belakang.
"Appa kau keterlaluan!" katanya menggeram pelan membuat sang ayah hanya terdiam memaklumi kemarahan putranya karena keputusan yang ia buat untuk kesalahan Luhan di ruang operasi beberapa jam yang lalu.
"Luhan kau mau kemana?"
Baekhyun sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Luhan, membuat Luhan sedikit tersenyum dan tiba-tiba menghentikan langkahnya "Ada apa?" gumam Baekhyun yang kembali berjalan mundur dan bertanya pada Luhan yang hanya diam tak menjawab.
"Baek. Aku butuh waktu sendiri. Aku mohon."
"Dalam kondisi seperti ini, kau tidak bisa dibiarkan sendiri."
"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang konyol."
"Aku tidak percaya."
"Baek...Aku mohon." Luhan kembali berkata lirih membuat Baekhyun menggigit kencang bibirnya sebelum menatap Luhan yang begitu membuatnya cemas seharian ini.
"Baiklah aku akan membiarkanmu sendiri! Tapi setidaknya beritahu aku kemana kau akan pergi. Aku harus tahu."
"Untuk beberapa hari ini. Aku akan menetap di rumah sakit."
"Di mansion rumah sakit?"
"hmmm.."
"Kenapa tidak pulang?"
"Tidak ada yang menungguku pulang Baek." Katanya tersenyum getir membuat Baekhyun kembali salah tingkah.
"Aku boleh mengunjungimu kan?"
"Itu Mansion mu juga. Kau bisa datang kapan saja. Hanya biarkan aku sendiri saat ini."
Baekhyun memandang Luhan cukup lama sampai akhirnya mengangguk menyetujui apa yang diinginkan sahabatnya "Hubungi aku jika kau butuh teman bicara."
Kali ini Luhan tersenyum sedikit tulus membuat hati Baekhyun sedikit menghangat melihatnya "Aku akan menghubungimu. Tapi untuk saat ini yang aku butuhkan hanya memejamkan mata." Gumam Luhan dan tak lama berjalan meninggalkan Baekhyun yang tak mempunyai pilihan lain selain membiarkan Luhan memiliki waktunya sendiri untuk menenangkan pikirannya.
.
Cklek...!
"Apa kau menemukan sesuatu tentang bajingan itu?"
Terlihat pria tampan dengan seluruh aura dingin yang dimilikinya bertanya pada kaki tangannya yang terlihat memasuki ruang kerjanya dengan dokumen yang diletakkan di meja kerja miliknya.
"Kami belum mendapatkan informasi apapun tentang Yifan saat ini dan kami berani bertaruh siapapun yang membantunya pastilah orang yang berpengaruh karena keberadannya seperti menghilang tanpa jejak. Rasanya seperti kembali memulai dari nol untuk mencari bajingan itu."
Sehun –pria yang memiliki aura dingin dan menakutkan- itu terlihat mengepalkan erat tangannya. Berusaha untuk tidak terpancing emosinya dan lebih memilih untuk bertanya hal lain sebelum amarahnya kembali tak bisa ia kendalikan.
"Apa itu?" katanya bertanya pada selembar dokumen yang diletakkan Max di mejanya.
"Kami mendapatkan kertas ini di kotak suratmu. Sepertinya Direktur Park Youngmin benar kembali ke Seoul."
Sehun membaca cepat kertas yang diletakkan Max. Membacanya terlalu seksama sampai akhirnya merobek kertas yang merupakan undangan makan malam untuknya. Membuang remahan kertas itu dengan geram sebelum akhinya memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut sakit "Kenapa semuanya bisa terjadi dalam waktu bersamaan." Katanya berpikir terlalu keras membuat rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Max."
"Ya bos."
"Pastikan Direktur Park tidak bertemu dengan Luhan selama dia berada di Seoul. Kau mengerti?"
"Ya saya mengerti."
"Baiklah kau boleh pergi. Aku merasa akan meledak saat ini." gumamnya begitu kacau memikirkan bagaimana jika Youngmin –pria tua yang membesarkannya dan menjadikannya mesin penghasil uang untuk bisnisnya- bertemu dengan istrinya yang jelas sama sekali tak menyukai keberadaan Youngmin di sekitarnya.
Sehun mengambil minuman kerasnya dan menenggaknya langsung dalam sekali teguk berharap semua hal yang begitu membuatnya ketakutan cepat hilang bersamaan dengan hilangnya kesadaran yang ia miliki sesaat lagi "Aku bilang kau boleh pergi! Kenapa masih berdiri disini?" katanya bertanya membuat Max yang awalnya ragu sedikit membuka mulutnya, kini terlihat mengeluarkan suara untuk memberitahu sesuatu pada Sehun.
"Berbicara tentang Luhan. Aku rasa anda berhasil menghancurkan istri anda sendiri bos."
Mendengar nama istrinya disebut pun membuat perhatian Sehun sepenuhnya tertuju pada pria cantiknya dan begitu marah mendengar ucapan Max yang terdengar menyindir dirinya "Apa maksudmu?"
"Seperti yang kau minta, kami mengikuti Luhan sepanjang hari. Dan hasilnya?-...Hanya air mata dan wajah pucatnya yang kami lihat seharian ini."
"Jangan berputar-putar. Bicara yang jelas!"
"Hari ini saat kami berbohong tentang keberadaanmu, Luhan memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dan diluar dugaan, ternyata dia memiliki jadwal operasi penting hari ini."
"Lalu?"
"Lalu Luhan melakukan operasinya. Namun kali ini Luhan tidak seperti Luhan sang dokter bedah yang biasanya."
"Apa maksudmu?"
"Luhan melakukan kesalahan kecil dan gagal menyelesaikan operasinya kali ini. Dia dikeluarkan dari ruang operasi sebelum operasi selesai."
Mendengar hal itu, sontak membuat Sehun terkejut. Bagaimana dia tidak terkejut, dia mengenal Luhan sebagai si "eksekutor" di ruang bedah hampir lima tahun lamanya. Dan selama lima tahun itu pula Luhan nyaris tak pernah melakukan kesalahan bahkan saat dirinya masih menjadi dokter magang yang tak menghasilkan uang.
Dia mungkin pernah mengalami kegagalan seorang dokter yang menyelamatkan pasiennya. Tetapi dikeluarkan dari ruang operasi sebelum operasi selesai-...itu adalah berita baru untuk Sehun.
"Apa istriku baik-baik saja?"
"Kau berharap apa dari seorang istri yang ditinggal pergi begitu saja oleh suaminya dan seorang dokter yang dikeluarkan saat operasi sedang berjalan?"
"SHIM CHANGMIN!"
Sehun benar-benar menggeram menyadari apa yang telah ia lakukan pada Luhan, membuatnya marah namun tak mau terlihat bersalah dan berakhir dengan menyalahkan siapapun yang bisa dia salahkan.
Max sendiri hanya tersenyum getir sedikit mengepalkan tangannya erat. Dan lagi-lagi-...Ini adalah pemandangan yang langka untuk Sehun. Karena dari keempat "kaki tangannya". Kai adalah yang paling pembangkang dan Max adalah yang paling patuh. Jadi jika kau melihat si patuh yang mulai membangkang. Itu artinya kau sudah melakukan kesalahan besar.
"Luhan dilarang melakukan operasi selama tiga bulan."
Deg!
Kali ini jantung Sehun serasa dihantam batu kecil. Mendengar istrinya tak bisa melakukan pekerjaannya sebagai dokter sudahlah pasti membuat hancur pria cantiknya. Dan membayangkan wajah Luhan yang perlahan akan memucat karena ulahnya dan masalah pekerjaan yang dialami. Entah mengapa membuat sesuatu di hatinya diremat begitu kuat.
"Aku mempunyai saran untukmu bos." Gumam Max menambahkan membuat Sehun yang masih diam tak berkata sedikit menoleh padanya.
"Jika kau ingin meninggalkan istrimu lakukanlah dengan caramu. Tapi satu pesanku. Lakukan tanpa membuatnya merasa bersalah atau bertanya-tanya kenapa kau meninggalkannya. Buat dia membencimu agar dia tidak menderita, Aku permisi."
Sehun seketika mengepalkan tangannya mendengar pesan sindiran yang dilontarkan Max untuknya. Berniat untuk menghajar anak buahnya, sampai akhirnya dia mengakui apa yang dikatakan Max adalah sepenuhnya benar.
Lakukan tanpa membuatnya merasa bersalah atau bertanya-tanya kenapa kau meninggalkannya. Buat dia membencimu agar dia tidak menderita.
"Apa aku harus melakukannya?"
Sehun bertanya entah pada siapa. Merasa begitu frustasi dengan kepala yang tersembunyi di antara mejanya. Dia tidak mau sesuatu terjadi pada karir Luhan, membuatnya sedikit terdiam cukup lama sampai akhirnya menyerah pada situasi yang mengharuskannya kembali menjadi seonggok pria jahanam yang begitu jahat pada pria cantiknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
I'm so done with you
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian….
Tring…
Terdengar suara pintu kantin rumah sakit terbuka dan menampilkan seorang dokter yang resmi dilarang melakukan pekerjannya sebagai dokter bedah karena sedang menjalani sanksi atas kesalahannya saat melakukan operasi di ruang bedah.
Dokter muda yang berusia dua puluh delapan tahun ini pun terlihat berantakan namun tetap berusaha tersenyum agar tidak membuat semua orang bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Bibi aku pesan seperti biasa."
Wanita tua yang sangat mengenal Luhan pun tampak mengernyit mengkhwatirkan keadaan Luhan yang selalu memesan kopi tanpa makanan apapun sudah hampir lima hari ini.
"Aku memasak sup ayam hari ini. Apa kau mau mencicipinya?"
Luhan kembali menggeleng dan tersenyum sekilas menjawabnya "Americano saja bi."
"Kau terlihat kehilangan banyak berat badanmu dokter Oh. Makanlah sesuatu."
"Aku baik." katanya tersenyum memberitahu.
"Kau yakin?"
"Ya."
"Baiklah akan aku buatkan."
Luhan pun hanya tersenyum sekilas melihat wanita tua yang tampak mendelik kesal padanya. Dan sambil menunggu pesanannya datang, sesekali dia mengetukan jarinya ke meja kasir dan kembali tersenyum melihat para tamu yang ia tebak keluarga pasien sedang beristirahat dan menyegarkan pikiran masing-masing.
"haah~"
Dan pada akhirnya sang dokter menghela dalam nafasnya sesekali memijat keningnya yang begitu terasa berat menyadari kalau semua yang dilakukan oleh keluarga pasien untuk menghilangkan penat juga ia lakukan agar sakit di kepala dan hatinya cepat terobati. Merasa sedikit iri pada keluarga pasien yang masih bisa melihat orang yang mereka cintai setiap saat. Sementara dirinya-...entahlah.
"Makan yang banyak. Aku tidak ingin kau sakit."
Luhan seketika menoleh saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Sedikit menoleh ke kanan dan ke kiri sampai tersenyum getir mengira pria tampan yang sedang duduk berhadapan dengan wanita di depannya adalah Sehun.
"Aku pasti sudah gila." Katanya bergumam dan memutuskan untuk kembali menunggu minumannya sampai tiba-tiba dia tak sengaja melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang
"Sehun?"
Beberapa kali Luhan mengerjapkan matanya, sampai akhirnya meyakini kalau pria yang sedang duduk di tempat favoritnya dan Sehun saat berada di kafe adalah benar Sehunnya.
Mengapa?
Karena selain suara, pria itu memiliki sesuatu yang tak mungkin di miliki pria lain pada umumnya. Karena pria yang ia tebak sepenuhnya adalah Sehun memakai sesuatu yang melingkar di jari manisnya persis seperti yang dikenakan Luhan saat ini –cincin pernikahan-
Ya-...satu-satunya alasan Luhan berjalan mendekat ke meja pria itu adalah karena cincin yang bertengger manis di jari pria yang duduk bersama wanita dengan posisi membelakanginya.
Membuatnya bertanya-tanya jika benar itu Sehun. apa yang dia lakukan bersama wanita cantik itu di rumah sakitnya? Kenapa Sehun tidak menemuinya? Atau-...Bukankah Sehun berada di Jepang hampir seminggu ini?
Luhan kemudian menggelengkan kepalanya cepat sebelum akhirnya
Grep...!
Dia menarik lengan pria tersebut. Bertatapan cukup lama sampai akhirnya kakinya kembali melemas membuatnya harus memegang salah satu kursi yang berada di kantin rumah sakitnya
"Se-Sehun?"
"Ya?"
"Ya?"
Luhan kembali dibuat mengernyit saat pria –yang benar adalah suaminya- hanya menjawabnya datar dan hanya mengatakan ya setelah hampir membuatnya mati merindukan pria sialan didepannya ini hampir seminggu lamanya.
"Kau membuatku hampir mati seminggu ini dan hanya YA yang kau katakan?" gumam Luhan sedikit menuntut membuat Sehun diam tak menjawab.
Luhan kemudian ikut terdiam cukup lama sampai dia menyadari kalau alasan Sehun meninggalkannya begitu saja adalah karena suaminya menyembunyikan sesuatu dan tak akan mengatakannya jika dia terus menuntut secara berlebihan.
Dia pun memutuskan untuk tidak memaksa dan melupakan hari mengerikan yang harus ia lewati beberapa hari ini tanpa Sehun disampingnya
"ah lupakan. Aku tidak marah sayang. Aku senang kau terlihat baik."
Dan tanpa berpikir dua kali pun, Luhan langsung memeluk erat tubuh suaminya. Merasa begitu berbeda menyadari aura yang menguar dari suaminya begitu dingin dan sama sekali-...Luhan tak mengenalinya.
"Max dan Yoochun bilang kau ke Jepang? Apa kau sudah pulang?"
"Oppa dia siapa?"
Merasa begitu terganggu dengan pertanyaan wanita yang bersama suaminya pun membuat Luhan menoleh dan menatap si wanita dengan begitu gusar dan bertanya "Oppa?" katanya bertanya pada Sehun yang perlahan melepaskan pelukan Luhan dari tubuhnya.
"Aku tidak pernah ke Jepang."
"eh?"
"Aku meminta Max dan Yoochun membohongi dirimu."
Jantung Luhan kembali berdetak kencang, namun kali ini bukan gugup yang ia rasakan. Dia merasa begitu marah dan benci di permainkan oleh suaminya sendiri. Setelah lima hari yang lalu harga dirinya sebagai dokter diabaikan oleh Chanyeol. Kini Sehun melakukan hal yang sama-..Dia mempermainkan harga diri Luhan yang begitu hancur ketika mendengar dirinya pergi ke Jepang hari itu.
"Kenapa? Kenapa kau membohongiku?" katanya bertanya setenang mungkin dan mengharapkan Sehun untuk berkata jujur padanya kali ini.
"Entahlah. Hanya bosan bersamamu."
"Bosan?"
"Ya aku bosan. Dan perkenalkan dia wanitaku. Aku sedang mengantarnya ke dokter kandungan. Aku menebak dia mungkin sedang mengandung anakku."
Luhan tahu Sehun sedang menyerangnya. Menggunakan kebohongan yang entah sudah ke berapa kalinya dilakukan untuk menutupi apa sebenarnya maksud suaminya melakukan hal sekeji ini padanya.
Nafas Luhan seketika memburu hebat tak beraturan. Membuat Luhan menundukkan kepalanya dengan mata terpejam dan tangan yang mengepal erat mendengar ucapan sialan yang dikatakan pria didepannya.
"cih!...Wanitamu? Mengandung anakmu? Pikirmu aku akan begitu saja percaya?" katanya bergumam masih menolak untuk menatap Sehun takut dirinya tak bisa mengontrol diri karena terlalu marah saat ini.
"Terserahmu mau mempercayainya atau tidak. Ayo sayang kita pergi."
Lagi-lagi Luhan memejamkan matanya erat. Mendengar Sehun menyapa mesra seseorang selain dirinya begitu menghancurkan hatinya. Nafasnya semakin memburu dan seketika mencengkram erat lengan suaminya sebelum prianya menggenggam erat tangan wanita itu didepan matanya.
Luhan menebak jika dia membuka matanya sekarang maka air mata akan menetes setelahnya dan benar saja saat dia membuka matanya
Tes..!
Air mata secara berlomba keluar dari kelopak matanya. Awalnya dia berencana untuk tidak terpengaruh apapun yang akan Sehun katakan atau lakukan. Tapi melihat Sehun bersikap lembut dan mesra pada seseorang selain dirinya membuat sesuatu dalam diri Luhan terbakar dan terasa begitu sesak.
Luhan sedikit menggigit kencang bibirnya sebelum memberanikan diri menatap Sehun "Apa yang kau mau?" katanya bertanya dengan isakan yang terdengar begitu memilukan.
"Aku ingin kita berpisah."
Sungguh-...Seluruh ucapan yang dilontarkan Sehun hari ini begitu menyakitkan, membuat Luhan tak henti-hentinya memejamkan erat matanya merasa begitu kesulitan bernafas sedari awal pertemuannya dengan Sehun.
"Katakan sekali lagi." katanya kembali menatap Sehun dan menantang suaminya untuk mengulangi ucapannya.
"Aku ingin kita berpisah."
"Katakan se-sekali lagi." katanya semakin menantang dan semakin sakit mendengar apa yang di ucapkan suaminya tanpa ragu.
"Aku ingin kita berpisah."
"brengsek. KATAKAN SEKALI LAGI?"
"Aku ingin kita ber-.."
PLAK...!
Tangan Luhan akhirnya menemukan cara untuk menghentikan ucapan Sehun yang begitu menghancurkan hatinya. Dan menurut Luhan-..Tamparan keras itu benar-benar tak sebanding dengan luka yang diberikan Sehun untuknya. Membuat Luhan seketika mencengkram erat kerah Sehun dan sedikit berjinjit menatap suaminya berkilat.
"Kau berhasil membuatku membencimu tapi kau tidak akan pernah berhasil membuatku mengakhiri hubungan kita!" katanya menggeram penuh luka dan sedikit memohon pada Sehun agar menghentikan omong kosong ini.
Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Luhan mendesah frustasi menyadari Sehun tak akan mengucapkan apapun saat ini "PIKIRMU KAU BISA HIDUP TANPA DIRIKU HAH!?" katanya mendorong Sehun sedikit kasar dan mengusap kasar wajahnya frustasi.
"Sehunna sayang-...Jangan seperti ini aku mohon." Katanya berlutut memohon di kaki Sehun yang seketika memejamkan erat begitu ingin membunuh dirinya sendiri saat ini.
"Aku harus pergi!"
Katanya menghindari Luhan dan dengan sengaja menggenggam wanita yang dibawanya melewati Luhan yang masih duduk berlutut dengan wajah tertunduk mencengkram erat dadanya.
"Sehun oppa hanya mencintaiku bitch!" geram Si wanita yang seketika merasa genggaman tangan Sehun mengerat di tangannya. Lebih seperti cengkraman daripada genggaman menurutnya.
Sementara Luhan hanya diam dan sama sekali tak tahu lagi harus mengatakan apa agar Sehun berhenti mempermainkannya. Membuat tangannya mencengkram begitu kuat dan
"Sehun.."
Langkah Sehun seketika terhenti menyadari perubahan suara istrinya, membuatnya melepaskan genggaman si wanita dan berbalik untuk menatap istrinya yang begitu terlihat hancur berkeping karena dirinya.
"Baiklah kalau kau memaksa berpisah. Aku bersedia." Katanya berjalan gontai menghampiri Sehun yang kini merasakan kehancuran yang sama dengan pernyataan Luhan.
"Aku bersedia berpisah dengan satu syarat." Katanya bergumam semakin tidak jelas mengangkat satu jari telunjuknya meminta persetujuan dari Sehun.
"Katakan."
"Bunuh aku dengan kedua tanganmu sendiri." Katanya kembali mendekati Sehun dan meletakkan tangan Sehun ke lehernya berharap Sehun akan mencekiknya dan mengakhiri mimpi buruknya saat ini.
"ck! Kenapa tidak bisa? Kau memang tidak akan pernah bisa hidup tanpaku!" katanya tertawa meremehkan sebelum akhirnya menghempas kasar tangan Sehun.
"Jika kau benar-benar ingin berpisah kau harus membunuhku. Jika tidak bisa-...Doakan saja agar seseorang datang untuk membunuhku. Kau akan bebas setelahnya." Katanya menghapus cepat air matanya sebelum tertawa hampa kembali menatap suaminya
"Aku begitu merindukanmu tapi kau membuatku membencimu seperti ini. Beberapa hari ini aku benar-benar hancur. Dan terimakasih untukmu karena telah membuatnya hancur menjadi serpihan malam ini."
Luhan berlari keluar meninggalkan Sehun yang hanya terdiam di tempatnya, merasa begitu bodoh berharap prianya mengejarnya dan memeluknya meminta maaf. Yah-...Semua itu hanya harapan karena nyatanya Sehun hanya berdiri disana dengan tangan yang mengepal erat tak melakukan apapun untuk membuat Luhan tetap tinggal.
..
..
..
"Aku membencimu Oh Sehun. Aku membencimu!"
Mata sembab, wajah memucat dengan hati yang begitu hancur. Begitulah kira-kira yang sedang terjadi pada kondisi dokter muda yang baru saja bertengkar hebat dengan suaminya.
Pria yang pernah menjadi seorang ibu untuk putra kecilnya itu terlihat memasukkan asal beberapa helai pakaiannya ke tas besar dengan tergesa. Mengambil apapun yang ia lihat sampai
"Luhan? kau sudah pulang?"
Luhan kembali memejamkan erat matanya saat mendengar Kyungsoo memanggilnya. Sungguh-...dia tidak siap berbicara dengan Kyungsoo saat ini, membuatnya terus melanjutkan kegiatannya memasukkan pakainnya ke tas besar miliknya.
"Ya aku sudah pulang." Katanya berujar begitu tercekat membuat Kyungsoo sedikit mengernyit karenanya.
"Kau baik-baik saja?" katanya semakin mendekat dan berniat melihat wajah Luhan sampai
Sret..!
Luhan menutup cepat tas nya dan sedikit terdiam sebelum menghapus cepat air matanya dan menoleh menatap Kyungsoo
"Aku akan pergi selama beberapa hari. Ini urusan pekerjaan, jadi jangan menungguku pulang dan aku akan-.."
"Luhan kau menangis?"
"Aku akan memastikan Jongin menjagamu. Kau tenang saja aku akan kembali secepatnya. Sampai nanti Kyungie."
Luhan tidak membiarkan Kyungsoo mendekatinya. Dia sengaja berbicara menunduk sebelum akhirnya berlari mengenai bahu Kyungsoo dan benar-benar pergi meninggalkan Kyungsoo yang sangat mengkhawatirkan Luhan saat ini.
"Luhan" katanya bergumam lirih sebelum menyadari ada selembar kertas yang terjatuh di lantai karena Luhan berlari pergi dengan tergesa-gesa.
Kyungsoo pun berjalan mendekati lembar kertas tersebut sedikit menunduk untuk mengambilnya dan tersenyum melihat foto keluarga kecil Luhan lengkap dengan malaikat kecilnya dan Sehun.
Kyungsoo masih memperhatikan bergantian wajah Luhan sedikit tersenyum mengagumi wajah Luhan lalu beralih ke wajah Sehun yang sedang menggendong malaikat kecilnya.
"Kau sepertinya ayah yang baik." Kyungsoo bergumam dan tak lama berjalan menuju lemari es untuk mengambil segelas air sebelum
"Aku mengenalnya."
Sebelum langkah Kyungsoo terhenti dengan mata membelalak dan kaki yang begitu melemas. Dia masih mengagumi foto kecil keluarga Luhan, sampai akhirnya matanya tertuju pada pria kecil bertopi merah yang memandangnya di foto.
Membuatnya berusaha mengingat karena begitu familiar dengan topi yang dikenakan putra Luhan dengan senyum khas yang terlihat sama persis seperti Luhan. Membuat beberapa suara tiba-tiba masuk kedalam memorinya dan
"Arghhh!"
Kyungsoo tiba-tiba terjatuh merasa kepalanya berdenyut hebat saat ini . Ada beberapa hal yang sepertinya memaksa masuk ke dalam kepalanya membuatnya begitu kesakitan. Dia mengingat ucapan Suho yang mengatakan jika kau tidak siap dengan ingatan itu kau boleh menolaknya.
Namun semakin Kyungsoo menolaknya kepalanya akan terasa sakit dan tiba-tiba ada banyak suara yang begitu membuatnya ketakutan.
Appa Eomma esklim! mau esklim!
"Arghhh...!"
Suara pertama begitu mengganggunya dan tak saat dia menolak suara kedua, maka semua makin terdengar semakin jelas untuknya.
Sebentar sayang. Eomma dan Appa sedang menjawab panggilan
"argggghhhh!" Kyungsoo kembali menjerit kesakitan dan seketika membelalakan matanya saat ingatan terakhir yang begitu kuat seketika mengenai memorinya yang paling tidak ingin ia sentuh. Ia menutup kedua telinganya agar suara tidak semakin berdatangan namun gagal karena
ZIYU AWAS!
BRAK...!
ZIYU!
"Ziyu?"
Kyungsoo sudah terkapar di lantai. Dia tidak tahan lagi mendengarnya. Dia mendengar suara Sehun dan Luhan bersahutan memanggil nama Ziyu dengan begitu pilu dan ketakutan
Dia tidak tahu itu apa. Siapa dirinya? Siapa Luhan? siapa Sehun? dan siapa Ziyu-..nama yang tak pernah ia dengar namun terasa begitu familiar untuknya-
"Siapa kau?" katanya bergumam memandang wajah Ziyu di foto sampai akhirnya tak sadarkan diri dengan menggenggam erat selembar foto yang ia temukan di tangannya.
Dan hal terakhir yang Kyungsoo inginkan ialah dia tidak pernah terbangun lagi setelah ini. karena dia yakin jika dia terus mengingat siapa dirinya maka semua tidak akan berakhir baik untuknya dan semua orang yang berhubungan dengannya.
tobecontinued.
.
Baru bisa update masa...lagi sibuk sama RL jadinya molor gini..
.
Kyungsoo for real is...?
.
Nextchap juga Civil War of HH.
.
Seeyou and happy reading yyah
