614; BLOOMING DAYS
Sooyeon terserang pani luar biasa. Ia tak memikirkan decitan ban yang menggesek aspal terlalu kuat atau mobilnya yang nyaris melompat ketika pedal gas ia injak keras. Sooyeon tak memiliki waktu untu mengkhawatirkan hal itu kecuali Kris yang tanpa pembicaraan apapun menemui Baekhyun.
Sooyeon nyaris menangis dalam rengekan bertanya apa tujuan Kris menemui carrier itu. Kris tak memberikan sahutan apapun, dengan wajah dingin seperti biasa lantas mengendarai mobilnya menuju Incheon.
Itu bukan guyonan. Kris benar berada disana. Mobilnya terparkir apik di depan rumah Baekhyun, bersebelahan dengan mobil milik Chanyeol pula dan Sooyeon berubah lupa bagaimana untuk mengendalikan deru nafas bergulung didada.
Pintu mobil Sooyeon banting keras. Sol sepatu tebal yang ia kenakan menghentak pasir kemudian bergema di atas papan kayu yang menjadi lantai teras rumah itu. Peluhnya tersebar banyak pun dengan mata melotot mendorong pintu dengan keras.
"Kris!" Pekikannya terdengar dalam teriakan. Bukan hanya Kris sebagai pemiliki nama, namun juga Chanyeol dan Baekhyun yang terkejut mendengar hal itu.
Ketiganya menoleh serempak pada pintu dan menatap Sooyeon kebingunan di depan sana.
"Mengapa kau datang-datang langsung berteriak?" Kris memecah hening yang tercipta—membentuk kerutan pada kening Sooyeon.
Wanita itu mengarahi pandangannya pada Baekhyun dan menghampirinya dengan tergesa.
"Bukankah sudah kukatakan jangan mengusiknya lagi? Baekhyun sudah tak memiliki urusan apapun dengan Park!" Sooyeon berkata dengan nada suara meninggi. Ketiganya lagi serempak menatap Sooyeon kali ini dengan alis berjengit pada kening seolah Sooyeon tengah melakoni film komedi tak lucu di panggung.
"Apa yang kau katakan?" Kris lagi melempar tanya. "Siapa yang mengusik siapa?"
"H-huh?"
Kris berdecak pelan dan menunjuk dagu Chanyeol. "Aku datang untuk mengajari si bodoh ini agar tidak semakin bodoh."
"H-huh?" Sooyeon semakin tak paham. Ia menatap Baekhyun mencari jawaban namun si mungil itu pun sama bingung akan dirinya.
Decakan lagi Kris perdengarkan. Kali ini dengan lengan berkacak di pinggang dan menutur dalam decihan.
"Aku datang untuk menyadarkan si bodoh ini." Kris menunjuk Chanyeol. Anak sulungnya itu membola dan hendak menyerukan protesan ketika Kris melanjutkan kalimatnya lagi. "Sudah kukatakan kami ini berbeda, aku pintar sedangkan si bodoh ini bodoh! Carrier ini bahkan sudah melahirkan 2 anak untuknya tapi lihat apa yang dia lakukan?" Kris untuk kesekian kalinya lagi berdecak. "Oi Chanyeol, akan sampai kapan kau menjadikan carrier ini sebagai simpananmu? Cepat nikahi dia bodoh!"
Sooyeon pikir dia yang terlalu panik sampai lupa membawa otaknya di rumah. Sooyeon tak bisa berpikir jernih, pun Baekhyun dan bagaimana tatapan tanpa dosa itu tak memberikan penolakan yang selalu ia bayangkan.
Sebenarnya ada apa disini?
…
"Apa yang terjadi?" Sooyeon benar tak mampu menahan rasa penasarannya lebih lama. Ia menarik Baekhyun menjauh dari Kris juga Chanyeol dan mulai mengajukan pertanyaan dalam pikirannya.
"Aku tidak tau." Baekhyun menjawab.
"Mengapa kau tidak tau?" Sooyeon lagi bertanya. "Kau dan Chanyeol?"
Mendengar nama Chanyeol membuat Baekhyun paham inti dari pertanyaan itu. Ia mengulas senyum tipis sedang mata tak sengaja bergulir pada Chanyeol di ruangan depan.
"Baekhyun…" Sooyeon memanggilnya, merasa tak sabar.
"Maafkan aku, aku tak bisa membohongi diriku sendiri Nyonya…"
"Kau—" Sooyeon menatap tak percaya anak asuhannya itu, "setelah apa yang terjadi?"
"Seperti apa buruknya Paman Chanyeol, tapi dialah Ayah dari anak-anakku Nyonya."
Sooyeon tertegun, hilang kata atas apa yang Baekhyun katakan.
"Aku butuh Paman Chanyeol untuk membesarkan anak-anakku."
"Aku butuh Kris untuk membesarkan Sehun…"
Untaian kalimat itu berdengung di dalam kepala Sooyeon.
"Bahkan jika nanti aku akan tetap dianggap sebagai simpanan, tak apa hanya itu hal terbaik yang bisa kuberikan untuk Sehun."
Semua seperti rol film. Baekhyun tiba-tiba saja seperti bayang dirinya dalam masa lalu. Itu berbeda, setidaknya Chanyeol tak seperti Kris yang masih memiliki istri sah pertamanya. Mereka telah bercerai sebelum Baekhyun kembali mengisi hidup pria itu—satu-satunya hal yang membedakan mereka berdua, Baekhyun bukanlah alasan retaknya rumah tangga Chanyeol. Namun Sooyeon adalah alasan mengapa berakhirnya pernikahan pertama yang Kris miliki.
Kris sebagai orangtua Chanyeol bahkan datang dan memberikan restu miliknya secara langsung untuk hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Sedang Sooyeon tidak, bahkan ketika Sehun telah dewasa kini, dirinya masihlah bayang-bayang dalam keluarga Park.
Sooyeon bukanlah siapa-siapa, namun ia bisa hidup baik-baik saja.
Lalu bagaimana dengan Baekhyun yang memiliki jalan hidup yang lebih baik darinya?
Baekhyun juga akan sama baik-baiknya bukan? Baekhyun akan mendapatkan kebahagiannya bukan?
"Terakhir, kau tetap menjadi anakku Baekhyun."
Satu hal yang takkan luput Sooyeon sadari. Baekhyun tetaplah anaknya, bukan hanya sebagai anak asuh yang ia urus sukarela di yayasan dulu. Namun seorang anak yang akan memberikan cucu-cucu untuknya pula.
Inilah bagaimana cara takdir mengikat mereka.
…
"Kau marah?"
Sooyeon menoleh menatap Kris yang berjalan di sampingnya. Matahari senja bersemburat keemasan memantul pada perak serupa pada helai rambut pria itu.
"Tentang apa?" Sooyeon balik bertanya.
Kris menggidikkan pundaknya. "Tentang segalanya."
"Walaupun aku marah apakah itu akan mengubah segalanya?" sakarsme pertanyaan itu membuat Kris tertawa. Ia beringsut lebih dekat pada Sooyeon dan tanpa kata melingkari lengannya pada pundak wanita itu.
Sooyeon terkesiap, sedang matanya melebar—mengerjab berulang pada Kris sebelum berlabuh pada telapak tangan lebar itu.
"Kapan terakhir kali kita seperti ini?" Kris bertanya tanpa peduli keterkejutan Sooyeon atas apa yang baru saja ia lakukan. Ombak bergulung menyapu pesisir membasahi kaki yang menapak di atas pasir. Senja menjemput semakin cantik, membias wajah yang keduanya. Canggung adalah suasana yang selalu mereka miliki. Selalu dan Kris bertanya-tanya mengapa kenangan manis lama mereka tak bisa membenahi keadaan menjadi lebih baik.
Mungkin ego telah memenangkan segalanya. Tanpa sadar hubungan yang dulu sempat menjadi perjuangan kini hanyalah sisa kepingan akan status yang harus di jaga.
Kris haus akan hormat. Orangtua membentuknya seperti itu. Tanpa sadar mengikis dirinya akan kepekaan dan membiarkan ego memimpin segelanya. Kris bisa saja hidup seperti itu sepanjang umurnya.
Ketidakpeduliannya membuat ia kehilangan satu persatu yang mustinya penting untuk ia jaga. Hari lalu, Chanyeol adalah apa yang selalu ia perhatikan hanya karena nominal huruf yang sulungnya itu miliki. Kris melupakan Sooyeon yang nyatanya juga berharga, bukan tentang nominal angka namun cinta dan tulus kasih sayang yang takkan bisa ia beli.
Lalu juga Sehun… yang selama ini tak pernah ia anggap.
Hal lain yang Kris sadari betapa berbedanya ia dengan Chanyeol. Setidaknya Chanyeol tidak sebrengsek itu mentelantarkan buah hatinya, Chanyeol bahkan membuang kesempatan emas yang untuk membangun silsilah bagian warisan yang bisa ia dapatkan, namun Chanyeol malah membuang hal itu begitu saja untuk mendapatkan kesempatan keduanya yang lain. Kesempatan kedua yang lebih berharga—cintanya… kebahagiannya.
Taunya tindakan ceroboh itu malah menampar Kris akan realita yang sudah terlalu lama ia kubur.
"Bagaimana dengan Sehun?"
Suaranya nyaris teredam oleh gemuruh ombak namun Sooyeon dengan jelas menangkap hal itu. Kerjapan mata akan keterkejutan masihlah hal yang sama sebagai respon Sooyeon berikan.
Itu bukanlah pertanyaan tentang bagaimana Sehun yang selalu bisa Kris jadikan sebagai tameng menginjak kelemahan milik Sooyeon. Dibalik itu semua, ada siratan nada lain—terasa asing, seolah itu bukan Kris yang bertanya.
"Menurutmu apakah terlambat untuk mengulang semuanya sekarang? Apakah kau pikir, Sehun masih bisa menerimaku juga?"
"Kris…"
…
Sehun menatap layar ponselnya yang berdering berulang dengan nama Sooyeon yang tertera sebagai pemanggil. Sehun mengabaikannya, berpura-pura menyibukkan diri dengan tataan roti di etalase dan menyajikan pesanan seperti yang Joohyun pintakan.
Hari ini toko sangat ramai. Sehun nyaris keram berdiri di depan etalase sambil membagi konsentrasinya dengan kasir sedang Joohyun berada di dapur menyiapkan adonan yang baru.
Hari telah beranjak malam dan toko telah tutup sepuluh menit yang lalu.
"Sehun bisa kau bantu aku membuang ini?" Joohyun mengejutkan Sehun dengan sekantung plastik besar ditangan. Sehun bergerak cepat menuju perempuan itu dan mengambil alih dan tanpa kata segera membawanya pada bak sampah di dekat toko.
"Aku lelah sekali." Joohyun menghempaskan dirinya duduk pada kursi dan mengusap peluh pada pelipisnya.
"Carilah karyawan baru jika begitu," Sehun menyeletuk sembari menutup pintu. "Jangan hanya 1, kau membutuhkan tenaga lebih untuk membantu bisnismu."
"Mengapa banyak sekali, aku sudah memiliki 1."
"Siapa?"
"Kau." Joohyun menunjuk Sehun.
Sehun terdiam selama beberapa saat kemudian berlalu menuju etalase dan masih mendapatkan panggilan dari Sooyeon.
"Aku ingin mengatakan jika ini adalah hari terakhirku bekerja," Sehun berkata.
Joohyun terlonjak kecil dari duduknya dan menatap Sehun dengan terkejut. "Benarkah? Akhirnya, aku tidak rugi lagi~" senandungnya.
Sehun tersenyum miring, berpikir Joohyun tengah mengejeknya lagi.
"Kau juga tak harus menjaga Baekhyun lagi, maksudku kau benar-benar bisa fokus dengan bisnismu." Itu membuat senyum Joohyun menghilang perlahan. Kekehannya teredam hilang menyadari betul jika Sehun tak sekedar berucap untuk candaan.
"Ada apa?"
"Baekhyun telah memiliki seseorang yang bisa menjaganya. Aku tak harus khawatir tentang itu lagi." Sehun membawa pandangannya pada Joohyun dan menarik senyum tipis disana.
"Bagaimanapun terima kasih untuk semuanya…" lanjut Sehun. "Besok aku akan berangkat ke London, dengan kata lain ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir."
"Kau… takkan kembali lagi?" Joohyun nyaris dalam gumanan.
"Benar," angguk Sehun.
"Bolehkah aku tau mengapa?"
Sehun diam selama beberapa saat, merenung untuk jawaban yang jelas ia tau mengapa.
"Karena aku sudah tak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama."
…
"Tuan Park dan Nyonya Jung sudah pergi?" Baekhyun bertanya ketika ia keluar dari rumah dan mendapati Chanyeol berdiri di teras. Mobil Kris telah menghilang dari halaman rumahnya, menyisakan mobil milik Chanyeol dan Sooyeon yang sengaja ditinggalkan. Mereka kembali bersama ke Seoul menggunakan mobil milik Kris.
"Hm, baru saja." Jawab Chanyeol. "Anak-anak sudah tidur lagi?"
Baekhyun mengangguk. "Baru saja." Jawabnya.
Chanyeol berguman paham sedang langkah ia bawa beringsut mendekati Baekhyun lantas membelit lengannya pada pinggang anak itu. "Ingin berjalan-jalan sebentar?"
"Tapi anak-anak?"
"Kita takkan lama." Chanyeol meyakinkan. Baekhyun terlihat ragu namun tak menolak bagaimana Chanyeol menuntunnya turun dari teras dan menjelajah pasir menuju pantai. Chanyeol mencari telapak tangan Baekhyun dan mengisi ruas jemarinya dengan jemari lentik anak itu. Genggamannya lembut terasa dan Baekhyun melihat itu tanpa bosan dimatanya.
"Sudah pikirkan tanggalnya?"
"Eung?" Baekhyun sedikit banyak merasa terkejut akan pertanyaan itu dan buyar dalam lamunan terhadap pandangan matanya pada tautan tangan mereka. Ia mendongak kepada Chanyeol dan bertanya dalam kebingungan, "Tanggal apa?"
"Pernikahan kita." Jawaban itu tertuang ringan sedang Baekhyun nyaris tersedak ludahnya sendiri. Sipitnya membola dan Chanyeol malah tertawa disana.
"Aku tak ingin memaksamu Baekhyun," Chanyeol berucap pelan. "Dan kau juga tak harus memaksakan diri."
Baekhyun terdiam tau betul maksud ucapan itu. Chanyeol berbicara mengenai pernikahan yang Kris katakan pagi tadi dan sebenarnya itu cukup mempengaruhi Baekhyun. Ini terlalu cepat, Baekhyun sebenarnya memiliki banyak pertimbangan. Untuk hal yang tak ia ketahui mengapa harus karena—
"Toh pada akhirnya kita akan menikah juga, apa bedanya sekarang atau nanti 'kan?"
Baekhyun bersemu merah. Jika saja rembulan bersinar layaknya matahari mungkin Baekhyun akan mati karena kepanasan.
"Apa rencanamu?" Chanyeol bertanya lagi. "Setelah menikah nanti, apa kau ingin tetap tinggal disini atau tinggal di Seoul?"
"Paman itu—" Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia mendongak menatap Chanyeol di depannya dan perlahan memberikan gelengan. "Aku… tidak tau. Maafkan aku…"
"Hei-hei…" Chanyeol meraih dagu Baekhyun yang hendak tertunduk dan memaksa tautan mata mereka kembali. "Aku hanya bertanya Baekhyun, bukan berarti kita akan melakukannya besok bukan? Jangan jadikan ini beban untukmu."
"Sebenarnya Paman—" Baekhyun menggigit bibirnya pelan. "Aku… tidak mengerti."
Chanyeol berjengit satu alis. "Tentang?"
"Kita…"
Chanyeol semakin tak paham. Baekhyun kembali tertunduk dan menatap ujung sandal rumahan yang ia kenakan nyaris tenggalam di antara buliran pasir putih.
"Apa ini lamaran?"
Baekhyun membekap mulutnya cepat dan membola menyadari luncuran pertanyaan miliknya. Wajahnya benar merasa terbakar sedang kerjapan Chanyeol tak benar membantu degupan jantungnya yang bertalu malu.
Chanyeol berubah dalam tawa. Suara beratnya seperti melawan deru ombak dan Baekhyun bertanya apa yang lucu dari pertanyaannya itu.
"Ya ampun Baekhyun~" Chanyeol benar menahan diri untuk tak mencium gemas Baekhyun. Mengapa Baekhyun lucu sekali, pikirnya… bagaimana Baekhyun masih selugu ini bahkan setelah memiliki dua anak?
Chanyeol tanpa aba-aba mengangkat Baekhyun dari pasir dan menggoyangkannya kesana-kemari. Pekikan Baekhyun, pria itu abaikan sedang tawa masihlah menggelegar di udara.
"Paman aku takut~" Baekhyun merengek tak sadar memeluk leher Chanyeol lebih erat. Kakinya melayang di udara—menendang angin dan membuat keseimbangan Chanyeol goyah dan tungkai terlipat membuat tubuh mereka menemui pasir dibawah sana.
Chanyeol terjerabab jatuh di atas pasir sedang Baekhyun menimpa tubuh Chanyeol dibawah. Baekhyun terserang panik, berpikir jika tulang Chanyeol patah atau tubuhnya yang terlalu berat membuat sekujur tubuh tegap itu menjadi remuk.
Namun Chanyeol tak terlihat seperti itu. Alih-alih menarik senyum berikut kedua lengan memenjarakan Baekhyun dalam pelukan. Baekhyun setengah ragu menyamankan dirinya di atas dada itu, dentuman jantung Chanyeol menyambut inderanya dan Baekhyun terhanyut masuk ke dalam melodi itu.
"Bagaimana jika kita tinggal disini saja?" Chanyeol tiba-tiba saja berucap. Matanya menatap langit jauh dengan kerlipan bintang bertaburan banyak menghiasi langit malam yang gelap. "Seoul takkan memiliki bintang sebanyak ini."
Baekhyun ikut membawa pandangannya pada langit dan membenarkan apa yang pria itu katakan.
"Dan juga Seoul tak memiliki pantai sebagus ini," tutur Baekhyun.
Chanyeol tertawa namun membenarkan hal itu. Puncak kepala Baekhyun ia hujami dalam kecupan, berulang juga pada sisian wajah anak itu.
"Aku sangat mencintaimu Baekhyun…" Chanyeol berucap dengan bintang serupa pada manik bulatnya. "Sangat-sangat mencintaimu." Katanya lagi.
Baekhyun kembali memanas, juga malu mendera—cepat-cepat menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Chanyeol.
"Hei, kau belum menjawabku." Chanyeol menepuk punggung Baekhyun meminta anak itu agar melihat padanya kembali. Namun Baekhyun memberikan gelengan, enggan menuruti pintaan Chanyeol.
"Aku malu…" katanya teredam pada leher Chanyeol.
"Mengapa harus malu pada suamimu sendiri?"
Suami—sebuah ikatan yang selalu Baekhyun harapkan untuk status yang ia miliki. Chanyeol… pria yang memiliki seluruh hal pertama dalam hidupnya.
"Paman~" Baekhyun merengek lagi.
Chanyeol semakin mengeraskan tawanya. "Mengapa harus malu, hei…"
Baekhyun lagi memberikan gelengan.
"Mengapa menggeleng?" tanya Chanyeol lagi. "Kau tak mau aku menjadi suamimu memangnya? Kau tak mau menikah denganku?"
"…" Baekhyun terdiam tanpa sahutan yang Chanyeol inginkan.
"Baekhyun?" Chanyeol lagi menuntutnya lagi dalam jawaban.
"Park Baekhyun~" Chanyeol mendayu memanggilnya pun menekan nama keluarga miliknya untuk Baekhyun.
"Paman hentikan…"
"Jawab dulu," Chanyeol benar keras kepala menuntut jawaban. "Park Baekhyun?"
"Mau Paman!" Baekhyun memotong tiba-tiba.
"Huh?" Chanyeol terkesiap, takut salah dengar menangkap seruan tiba-tiba itu. Baekhyun menarik wajahnya dari ceruk leher Chanyeol, wajahnya seperti bara api dan Baekhyun nyaris gila untuk mencari manik Chanyeol dibawahnya.
"Aku mau menikah dengan Paman!"
Lantas kembali berseru, keras seolah itu mampu menahan degupan jantung menggila di dalam rongga miliknya. Nada serupa akan milik Chanyeol.
…
Joohyun benar-benar sudah gila. Dia perempuan gila, Sehun telah mengumpati kalimat itu ribuan kali namun tak juga berhasil menghentikan niatan gilanya.
"Joohyun berhenti! Bae Joohyun!" bahkan dengan teriakan Sehun seperti itu, Joohyun masih saja tuli. Perempuan itu mengindahi berpura-pura tak mendengar walau kenyataannya teriakan Sehun telah menggema kemana-mana.
Baekhyun bahkan mendengarnya pula dan lelaki itu dengan cepat melepaskan dirinya dari Chanyeol dan menghampiri Joohyun yang menuju padanya.
"Noona—"
"Sehun ingin mengatakan sesuatu padamu." Joohyun memotong diikuti telunjuk mengarahi Sehun yang mengejar dibelakang.
Baekhyun membawa pandangannya kesana dan melebar mendapati Sehun. Sudah lama sekali sejak Sehun tak menemuinya dan Baekhyun bertanya dalam hati mengapa Sehun bisa bersama Joohyun.
"Joohyun kau—" Sehun mengerang tak percaya.
"Sehun hyung…" Sehun terengah mencoba menstabilkan deru nafasnya yang bergulung. Ia menatap Baekhyun sesaat sebelum bergulir pada Chanyeol yang datang dari balik punggung carrier itu.
Sehun hanya menatap pria itu sekilas lalu berbalik badan tepat setelah ia meninggalkan delikan tak suka pada Joohyun.
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" Baekhyun mengejar, menarik lengan Sehun membuat langkah pria itu terhenti disana.
Chanyeol memperhatikan dan bertanya dalam hati apa yang hendak saudara tirinya itu katakan. Apakah tentang keberangkatannya ke London bersama Baekhyun?
Deru ombak pantai bergulung dalam gemuruh menjadi satu-satunya simfoni yang memecah sunyi diantara keempat orang itu. Baekhyun menunggu dengan sabar menatap punggung Sehun yang memunggunginya sedang Chanyeol dan Joohyun membawa antensi pada tempat serupa.
"Hyung?" Baekhyun memanggil Sehun lagi.
"Aku—" Sehun menekan bimbang dalam hati. Telapak tangannya terkepal pelan—mencoba menyakinkan dirinya sendiri namun tak cukup membuatnya memiliki keberanian untuk melihat Baekhyun dibelakang sana.
"Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal." Patahan kalimatnya terucap dalam satu tarikan nafas. "Aku akan kembali ke London… sendiri." Sambungnya.
Baekhyun mengerjab dalam keterkejutan. Cengkraman pada lengan Sehun, ia lepas perlahan. "Kapan hyung kembali?" Baekhyun bertanya.
Sehun selalu menyukai pertanyaan itu hari lalu. Baekhyun menginginkan kepulangannya kembali, pertemuan mereka lagi dan Sehun pun sama besarnya menginginkan hal itu. Namun kini Sehun sadar itu semua bukanlah apa-apa, itu hanya basa-basi terucap. Dirinya masihlah transparan terlihat, bagi Baekhyun juga perasaan carrier itu padanya.
Sehun selamanya tak memiliki arti apapun bagi Baekhyun. Lantas, mengapa ia harus tetap berada disini lebih lama lagi?
"Juga… aku mengucapkan selamat untuk kelahiran bayimu." Sehun berucap tanpa menjawabi pertanyaan Baekhyun. "Kau tau jika aku turut bahagia jika kau bahagia bukan?" kekehannya terdengar kemudian.
Baekhyun tertegun. Tau betul kemana arah ucapan itu.
Baekhyun dilingkupi perasaan tak nyaman seketika, pun dengan hadirnya Chanyeol dan bagaimana ia menerima kehadiran pria itu lagi. Sehun ada disana pula, setelah apa yang pria itu lakukan untuknya… Baekhyun tetap tak memiliki perasaan apapun untuk bungsu Park itu. Bahkan sekedar berpura-pura, Baekhyun tak bisa melakukannya.
"Untuk itu selamat tinggal Baekhyun…"
Sehun tak bisa menguraikan dalam kata bagaimana perasaannya setelah itu terucap. Ada kelegaan, itu hanya setitik terasa. Sedih juga sisa kecewa semua berbaur satu dan Sehun masih merutuki dirinya sendiri bagaimana itu masih saja terasa menyakitkan untuknya.
Senyum ia paksa lepas sedang langkah ia bawa pergi tanpa berniat untuk melihat Baekhyun kali terakhir. Sehun takkan kembali ke Seoul, tak ada yang menginginkan dirinya disini. London adalah rumah dan Sehun telah memutuskan untuk berada disana sepanjang hidupnya.
"Sehun hyung—" Baekhyun memanggilnya berulang namun Sehun lagi mengabaikan hal itu. Lututnya terasa keram ia paksa melangkah lebih jauh sampai panggilan Baekhyun tak lagi tertangkap inderanya.
Sehun ingin sendiri, bahkan jika itu Baekhyun… Sehun takkan ditemui oleh siapapun. Terlebih Joohyun namun perempuan itu tetaplah si tidak tau diri yang sama.
Sehun menatap langit berbaur bintang di atas sana, mengerjab berulang seolah itu mampu menghentikan panas bulir air matanya untuk menggelinding jatuh. Namun pipinya telah basah dan Sehun cepat-cepat menghapusnya.
Joohyun melihat itu semua dan seketika rasa bersalah memenuhi dirinya. Ia merutuk menyesali hal yang seharusnya tak boleh ia lakukan. Pundak Sehun melesu jatuh, hanya dengan melihat dan mendengar apa pria itu katakan pada Baekhyun, Joohyun telah menebak apa hubungan mereka. Juga dengan kehadiran Chanyeol semakin menegaskan apa yang terjadi di antara mereka selama ini.
Joohyun mempercepat langkah, berdiri tepat di depan Sehun—menghadang pria itu untuk melangkah lebih jauh. Sehun hanya melihatnya datar lalu membawa pandangannya pada arah lain seolah itu mampu menyembunyikan wajah menyedihkannya pada perempuan itu.
"Butuh pelukan?" Joohyun bertanya. "Mungkin sebagai permintaan maafku padamu…" bibirnya tergigit pelan lalu tanpa jawaban persetujuan apapun, ia melingkari tubuh tinggi itu dengan sepasang lengannya.
Sehun terkesiap sedang isakan samarnya menghilang sempurna.
"Kau juga bisa menangis jika ingin, pundakku masih kering jika kau ingin membasahinya dengan air mata."
Sehun ingin tertawa mendengar penuturan itu. Kekehannya terdengar aneh, perlahan berubah dalam tangis dan kepalanya malah meluruh jatuh pada pundak sempit Joohyun.
Sehun benar membasahi pundak Joohyun dengan air mata kesedihannya.
…
Baekhyun tak bisa memejamkan matanya malam itu. Ia membalikkan tubuhnya dalam jangka semenit sekali sampai tempat tidur bergoyang dan membangunkan Chanyeol disampingnya. Baekhyun bangkit dari posisi berbaring, duduk pada pinggiran tempat tidur lalu menghampiri Jiwon di dalam box bayinya.
Anak keduanya itu terlelap, pun sama akan Jackson dan Baekhyun menghabiskan waktunya dengan memperhatikan dua wajah damai itu dalam diam.
Chanyeol ikut terbangun, ia turun dari tempat tidur—menghampiri Baekhyun dan membawa tubuh mungil itu dalam pelukan. Baekhyun tersentak pelan merasakan belitan lengan Chanyeol pada tubuhnya.
"Tidak bisa tidur?" Chanyeol bertanya.
Baekhyun menggigit bibir pelan dan memberikan anggukan.
"Sehun?" Chanyeol menerka.
Baekhyun berubah ragu untuk menjawab, samar ia anggukkan kepalanya lagi. Baekhyun bukan tak ingat bagaimana marahnya Chanyeol dulu ketika mengetahui hubungan mereka. Chanyeol tak menyukai hal itu.
Hela nafas berat Chanyeol taunya membuat resah Baekhyun bertumpuk kian banyak.
"Kupikir…" Baekhyun berkata nyaris dalam gumanan. "Sehun hyung marah padaku."
"Mengapa?"
Baekhyun membawa pandangannya pada Jiwon seolah jawaban dari kepalanya telah tertulis rapi dan Chanyeol bisa membacanya disana.
"Sehun hyung bilang dia…" bibirnya lagi Baekhyun gigit dalam risau, " menyukaiku…" Baekhyun berbalik cepat menatap Chanyeol dengan kacau dalam gelisah. "Apa Paman marah?"
"Mengapa aku harus marah?" Chanyeol bertanya bingung. Sedetik berlalu dan Chanyeol ingat apa yang terjadi hari lalu. "Aku tidak Baek, jangan khawatir tentang hal itu. Tak apa, kau bisa mengatakannya padaku."
Chanyeol membalikkan tubuh Baekhyun lagi untuk ia peluk seperti semula sedang dagu ia tempatkan pada pundak anak itu.
Baekhyun menarik nafas pelan sebelum berucap kembali. "Sehun hyung bilang dia menyukaiku, dia mengajakku untuk tinggal di London." Baekhyun melanjutkan kalimatnya. "Tapi aku menolaknya."
"Mengapa?" Chanyeol lagi berkerut kening.
"Karena—" Baekhyun tiba-tiba diliputi hangat pada wajahnya. "Aku telah menyukai Paman lebih dulu."
Chanyeol mengerjab dalam terkejut. Hanya sekali sebelum tersadar sepenuhnya dan ia pun tertawa. Hangat menyusupi kesekujur saraf sedang belitan lengan semakin jauh menenggelamkan Baekhyun dalam pelukan.
"Sehun akan menemukan seseorang yang lain, jangan khawatir dengan hal itu." Chanyeol berusaha menenangkan. "Dia hanya membutuhkan sedikit waktu."
"Sehun hyung sangat baik padaku selama ini," Baekhyun menutur. "Saat berada di yayasan dulu juga saat aku pindah kesini, Sehun hyung selalu menjagaku. Tapi… aku tak bisa membohongi perasaanku Paman."
"Kau tau kenapa?" Chanyeol bertanya. Baekhyun memberikan gelengan.
Chanyeol tersenyum tipis kemudian mencuri sebuah kecupan pada pipi Baekhyun.
"Karena kau telah terperangkap pada pesonaku." Kekehannya mengelegar pada sunyi malam.
Baekhyun kembali memanas namun tak menghentikan dirinya untuk tertawa pula. Lengan Chanyeol pada perutnya ia cubit pelan dan merengek dalam malu. "Paman~"
"Merasa lebih baik?" Chanyeol kembali melayangkan kecupan pada pipi Baekhyun. Carrier itu mengangguk malu-malu dan tak sadar menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol.
"Kuharap Sehun hyung pun bahagia…"
…
"Mengapa tidak mengangkat ponselmu?" Sooyeon segera memborongi pertanyaan begitu sosok Sehun terlihat di rumah.
"Aku meninggalkan ponselku di mobil," Sehun menjawab sedang langkah tetap tertarik menaiki tangga menuju kamarnya. "Maaf…" ucapnya nyaris tak terdengar. Pintu kamar dibuka lalu mulai membenahi barang miliknya ke dalam koper.
"Kau akan pergi?" Sooyeon membola melihat Sehun membenahi barang miliknya. "Sehun—"
"Aku akan berangkat ke London malam ini," Sehun menjawab ringan tanpa tau bagaimana Sooyeon berubah seperti batu pada tempatnya. Ia tak peduli, hanya melirik sekali dan menemukan Sooyeon yang lagi dalam bisu seperti yang sudah-sudah.
"Kau tak harus pergi jika kau tak menginginkannya Sehun…" Sooyeon berujar nyaris dalam gumanan. Pergerakan Sehun melambat, sedikit banyak merasa terkejut akan penuturan itu. "Kau bisa tinggal disini, ini—rumahmu…"
"Aku bukan, Bu." Sehun menyahut. Ia berbalik menghadap Sooyeon dan mengulas senyum pada bibirnya. "Bahkan jika aku memaksakan diri, aku tetap tak bisa 'kan?"
Sooyeon merasakan hatinya tercubit untuk ucapan itu. Rasa perih menderanya mengiris segala sudut hanya dengan ungkapan dari anaknya itu. Sooyeon bukan tak tau bagaimana sulitnya Sehun menjalani hidupnya seorang diri, Sehun telah banyak menderita dan dirinya penyebab di balik itu semua.
"Kau benar, aku terlalu serakah…" Sooyeon menertawai dirinya sendiri. "Seharusnya aku juga tak egois membiarkanmu menjalani seorang diri. Aku—orangtua yang buruk 'kan?"
Sehun tertegun. Lidahnya terasa kelu walau ingin ia bantahi semua ucapan itu. Tapi inilah Sehun dengan semua keterpakuan yang ia miliki.
Sooyeon menarik nafasnya pelan dan berusaha keras menarik senyum menatap Sehun di depannya. "Ayo kita pergi bersama Sehun…"
"Bu—"
"Pergi kemana?"
Atensi dua orang itu serempak terarah pada sumber suara yang lain. Tepatnya pada pintu dengan sosok menjulang Kris disana. Alis tebal pria itu naik pada kening sedang kedua tangan tersimpan pada kantung celana.
Sooyeon menahan nafas sedang Sehun menatap awas—siap untuk mengusiran lainnya.
"Kris…" Sooyeon melirih menyebutkan nama suaminya itu. Kris mengabaikan, berjalan melewati Sooyeon dan berdiri menghadap Sehun.
"Aku memecat Chanyeol karena dia benar-benar payah dalam berbisnis. Sekarang posisi direktur kosong dan aku penasaran apakah kau bisa lebih baik darinya atau tidak?"
"Huh?" Sehun berkerut kening, pun dengan Sooyeon menatap tak mengerti akan penuturan pria itu.
"Setidaknya jika kau gagal, kau merugikan perusahaan keluargamu sendiri bukan perusahan orang lain. Setidaknya kau tak harus membayar denda, 'kan?"
Sehun semakin tak paham namun lidahnya malah membeku sekedar bertanya apa maksud ucapan itu.
Kris berdecak sekali kemudian menatap koper Sehun yang masih setengah kosong, sesaat sebelum beralih menatap Sehun kembali.
"Aku juga tidak suka karyawan yang telat, jadi pastikan kau sudah berada di kantor sebelum jam 9 kau paham Park Sehun?"
Dentuman keras mengenai Sehun sampai bola matanya hendak meloncat keluar dari tengkorak. Sooyeon pun sama terkejutnya namun lagi Kris melihat itu dengan tak peduli. Ia malah berbalik badan, bersiul dengan langkah tenang keluar dari kamar itu.
"Park Sehun?" Sehun mengulang setengah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Pikirnya Kris baru saja terantuk batu sampai otaknya melenceng tak waras dan memanggil namanya berikut dengan embel-embel Park—untuk pertama kali dalam hidup Sehun.
…
Baekhyun pikir, Chanyeol hanya akan pulang ke Seoul seorang diri ketika Kris menghubungi mengatakan ia harus masuk kerja hari itu. Namun taunya tidak dengan dirinya yang harus ikut pula dan Baekhyun memberikan penolakan walau kemudian tak berkutik ketika Chanyeol mulai memaksa.
Dan disinilah Baekhyun berada, di dalam mobil, tepatnya pada jok belakang agar bisa menjaga Jackson dan Jiwon sekaligus. Chanyeol berada di jok kemudi dan bergurau mengatakan jika ia terlihat seperti sopir pribadi.
Baekhyun hanya menanggapi dengan tawa dan menghabiskan sepanjang perjalanan itu dengan pembicaraan bersama Chanyeol.
"Aku terkadang bingung dengan Ayahku sendiri," Chanyeol melompat pada topik yang lain. "Dia sebenarnya lebih mirip seperti alien daripada manusia,"
"Paman…" Baekhyun menegur, berpikir Chanyeol berlebihan mengatai orangtuanya sendiri.
"Aku serius Baek, baru kemarin dia memecatku dan lihat sekarang dia memintaku untuk bekerja lagi. Sebenarnya dia mau apa?" pria tinggi itu berdecak di akhir. Baekhyun hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan tanpa ujaran apapun. Jiwon terjaga kemudian merengek pelan dan Baekhyun cepat-cepat membuka kancing kemejanya dan mulai menyusui bayi itu.
"Jika aku benar-benar disuruh bekerja lagi, maka tak ada pilihan kita harus tinggal di Seoul Baek." Ucap Chanyeol. "Tapi jika kau ingin tinggal di Incheon maka aku tak bisa memaksa juga. Lagipula menjadi pengangguran tidaklah seburuk itu, aku bisa bersantai seharian dan bermain bersama anak-anak 'kan?" suara beratnya bergaung dalam tawa.
"Tidak masalah jika harus tinggal di Seoul, Paman." Baekhyun menyahut. Ia meringis pelan merasakan nyeri akibat hisapan Jiwon pada putingnya.
Chanyeol memperhatikan melalui kaca spion dan teringat akan sesuatu yang lain.
"Chanhyun berusia 1 tahun lebih tua dari Jiwon, ya?"
"Hm… 1 tahun 5 bulan?" Baekhyun mencoba mengingat kembali. "Kupikir aku mengandung Jiwon saat Chanhyun berusia 5 bulan."
Chanyeol berdehem pelan teringat tentang bagaimana ia menumbuhkan janin itu pada Baekhyun. Itu bukan kenangan yang menyenangkan dan bagaimana Baekhyun malah menanggapinya dengan tenang taunya semakin mendera Chanyeol dalam rasa tak nyaman.
"Omong-omong lagi, kita akan ke rumah orangtuaku terlebih dahulu. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
"Hm, bukan masalah."
…
Baekhyun menggendong Jiwon sedang Chanyeol mendekap Jackson yang sama tertidur pulas ketika sampai ke kediaman Park. Sooyeon menyambut di pintu. Jackson dalam gendongan Chanyeol, ia ambil alih sembari mengatakan jika Kris telah menunggu di ruangannya.
Chanyeol menuruti dan pergi berlalu sedang Baekhyun berjalan mengikuti Sooyeon ke sebuah kamar untuk membaringkan anak-anaknya di dalam sana.
"Tidur mereka nyenyak sekali…" Sooyeon berbisik pelan tak ingin mengganggu tidur dua bayi itu.
"Mereka sudah tidur sebelum kami berangkat." Baekhyun menjawab. Tangannya mengusap helai rambut Jackson yang menutupi kening kemudian membenarkan pakaian anak pertamanya itu.
Sooyeon memperhatikan dan tersenyum lembut pada Baekhyun. siapa yang akan menyangka, lelaki yang bahkan belum menanjak umur 20 itu telah memiliki 2 buah hati dan merawat keduanya dengan baik. Juga siapa yang akan menebak anak asuhnya itu kemudian menjadi calon menantunya kini.
Tidak ada. Bahkan Baekhyun juga Sooyeon sendiri.
"Ayo kita temui yang lain." Ajak Sooyeon. Baekhyun sedikit ragu namun Sooyeon menyakinkannya dan ikut beranjak keluar dari kamar itu.
Kris dan Chanyeol keluar dari ruangan kerja milik pria yang lebih tua dan bergabung dengan Sooyeon dan Baekhyun di ruang keluarga. Para pesuruh rumah menyiapkan minuman juga kue manis lantas berlalu setelah membungkuk hormat.
Baekhyun duduk di sebelah Chanyeol, menunduk menatap pahanya—benar menghindari bagaimana tatapan Kris yang mengarahi dirinya. Kris tak bermaksud menakuti, picingan matanya memang telah menyebalkan sejak lahir dan tak bisa diubah walau ingin.
"Tidak perlu berbasa-basi," pun dengan nada bicaranya yang selalu saja menembak pada pada point seperti biasa. "Kalian harus segera melangsungkan pernikahan."
Baekhyun tersentak kaget pada tempatnya. Sipit membola dan yang ia lihat pertama kali adalah Chanyeol dan berpikir pria itu akan memiliki reaksi yang sama. Namun nyatanya satu-satunya yang terkejut adalah Baekhyun pun dengan Sooyeon yang terlihat sama tenangnya akan Kris.
"Aku sudah membicarakan ini dengan Chanyeol dan dia setuju. Kupikir kau juga seperti itu 'kan Baekhyun?"
Baekhyun lagi terkejut dan gelagapan untuk jawaban, "A-aku—"
"Bagaimana dengan bulan 6 tanggal 14?" Kris menyela.
"Aku suka tanggal itu," Chanyeol malah menimpal. "614, terlihat bagus tidakkah?" senyumnya tertarik lebar menatap Baekhyun.
Baekhyun masih tak sepenuhnya menguasai diri, menatap Chanyeol dengan tatapan terkejut serupa dan mengulum bibirnya sendiri dalam keraguan.
"Aku tau ini terlihat sangat mendadak," Sooyeon mengambil alih pembicaraan. "Tapi Baekhyun…" wanita itu membawa pandangannya pada Baekhyun dan menatap teduh anak itu. "Kalian harus segera menikah untuk bisa mengurus akta kelahiran Jackson dan Jiwon dan juga Chanyeol—" matanya melirik si sulung Park sesaat. "Harus memiliki seseorang yang bisa mendampinginya…"
Chanyeol mengangguk dalam persetujuan. Telapak tangan ia raih dan menggenggamnya dengan lembut. "Kau tidak keberatan bukan?"
Baekhyun memanas dan yang bisa ia lakukan hanyalah menunduk menghindari 3 pasang mata yang menatapnya.
"Paman…" suaranya dalam cicitan memanggil Chanyeol.
"Ya?" si pemilik mata menjawab.
Baekhyun menggigit bibirnya resah, "aku malu sekali…"
"…"
…
Sehun pikir karena lelahnya ia di kantor maka ketika pulang otaknya mulai berimajinasi akan sosok Baekhyun. Sehun sampai mengerjab beberapa kali berpikir dengan itu mampu melenyapkan bayang Baekhyun namun taunya tak bisa ia lakukan. Sehun lantas tersadar jika sosok itu bukanlah sekedar imajinasi saja, itu nyata. Di depannya benar merupakan Baekhyun.
"Nyonya Jung bilang hyung tak jadi berangkat ke London," Baekhyun memulai pertama kali. "Aku senang hyung memutuskan untuk tinggal." Senyumnya tertarik lebar, mengingatkan Sehun akan debaran yang masih samar ia miliki.
"Kau disini?" Sehun melempar tanya dalam basa-basi.
Baekhyun memberikan anggukan. "Aku akan tinggal di Seoul," Baekhyun memberitau.
"Ah, seperti itu…" Sehun mengguman sebagai respon. Keterdiaman memenuhi kemudian. Canggung adalah situasi yang meliputi.
"Apa hyung membenciku?" Baekhyun bertanya takut-takut.
"Aku tidak membencimu," Sehun menjawab cepat. "Mengapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena Sehun hyung tak ingin menemuiku lagi?" Baekhyun malah melempar tanya balik.
"Itu tidak benar," Sehun menyanggah dalam gelengan. "Aku tidak mungkin membencimu…"
Baekhyun menatap Sehun dengan sisipan ragu namun tak mengujarkan apapun dalam bantahan. Kepalanya terangguk dua kali—paham lantas menarik senyum disana.
"Aku dan Paman Chanyeol akan menikah." Baekhyun berucap lagi.
Ada jeda yang terisi, terlebih Sehun dengan kerjaban kelopak mata terkejut namun dengan cepat menguasai dirinya lagi.
"Itu bagus," ucapnya, "Selamat untuk kalian." Senyumnya ia paksa tarik dalam pahit. "Kita akan menjadi keluarga…"
"Sehun hyung adalah hyung terbaik yang pernah ada."
"Aku akan menjadi adik iparmu Baek." Sehun tertawa.
Baekhyun mengerjab dua kali, mencoba mencerna ujaran Sehun sebelum ikut tertawa.
"Benar…"
…
Joohyun menarik nafasnya panjang. Ia menempatkan dirinya duduk lega dibalik kasir dan meneguk lattenya yang telah mendingin ketika lonceng pada pintu terdengar. Ia terburu bangkit siap untuk sapaan ramah seperti biasa namun tertahan di udara ketika sosok tinggi itulah yang memasuki tokonya.
"Sehun?" keningnya berkerut samar, menatap menyeluruh—memastikan pria itu benar merupakan Sehun.
"Hai," Sehun menyapa.
"Kau disini?" Joohyun menyergit. "Kupikir kau berada di London…"
"Seharusnya, tapi tidak jadi."
"Mengapa?"
"Mengapa?" Sehun mengulang. "Kau tak suka melihatku disini?" ada rengutan pada belah bibir itu.
"Eh, bukan seperti itu!" Joohyun gelagapan menyangkal. "Kupikir—"
"Aku datang membawa ini," Sehun menyodori Joohyun sebuah undangan. Sampulnya berwarna perak dengan ukiran nama Baekhyun dan Chanyeol dalam tinta keemasan. "Baekhyun mengundangmu untuk datang ke pernikahannya."
"Baekhyun akan menikah?!" Joohyun terpekik tak percaya. "Aku yang lebih tua darinya bahkan belum menikah." Kali ini Joohyun yang berganti dalam rengutan.
Sehun tertawa pelan. "Well, aku juga." Pundaknya ia gidikkan pelan.
"Ah, benar." Joohyun ikut tertawa.
"Kita akan konyol datang tanpa pasangan," Sehun menyelutuk.
"Dan aku tidak peduli akan hal itu, aku datang untuk melihat Baekhyun menikah bukan tanggapan orang-orang. Lagipula aku tidak mengenal siapapun." Joohyun mencetus tak peduli.
Sehun mengerjab lagi sedang wajahnya berubah masam akan penuturan itu.
"Tapi aku peduli," tandasnya.
Joohyun menyipitkan matanya menatap Sehun tak paham. "Lalu?
"Well," pria itu berguman "Kulihat kau tidak terlihat buruk juga…"
"Apa?"
"Bagaimana jika kau saja yang menjadi pasanganku saat pesta nanti? Oke, tanpa penolakan!"
"Apa—hei!"
…
Baekhyun pernah memimpikan hal ini dulu. Mengenakan teksudo putih suci, berjalan di altar dengan sosok cintanya menunggu di ujung sana. Itu Chanyeol, pria yang menjadi cinta pertamanya, ayah dari anak-anaknya.
Namun Baekhyun luput membayangkan akan debaran miliknya. Rasanya sedikit menakutkan dengan peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya. Baekhyun terlihat pucat pun dengan pewarna bibir yang telah Sooyeon oleskan pada bibirnya dan itu tak benar membantu.
Baekhyun menggigit bibirnya resah, pantulan sosok Chanyeol yang memasuki ruangan tempatnya berias diri masih juga tak membantu apapun.
Semuanya berbanding terbalik dengan Chanyeol yang terlihat begitu tenang pun dengan tatapan takjub melihat Baekhyun menyeluruh. Baekhyun begitu menakjubkan. Dia begitu sempurna dan Chanyeol pikir, cintanya bertabuh dalam genderang—termuat penuh tumpah ruah akan kebahagian bisa memiliki si mungil itu.
Chanyeol merasa sempurna. Ia tak membutuhkan apapun lagi, kecuali pernikahan kedua yang nyatanya lebih menakjubkan daripada yang pertama. Debaran jantung menggila di rongga seolah itu merupakan pernikahannya yang pertama. Bahkan lebih baik dan Chanyeol benar tak menginginkan apapun lagi.
Hanya Baekhyun dan semua kebahagian miliknya bersama carrier itu juga anak-anak mereka.
"Gugup?" Chanyeol bertanya dalam bisikan.
Baekhyun mengangguk dan rasanya ia ingin menangis saja.
"Aku ingin bertemu anak-anak," katanya.
"Anak-anak bersama Sehun dan Joohyun, jangan khawatir mereka baik-baik saja."
"Mungkin Jiwon haus, aku harus menyusuinya—" Baekhyun baru akan mengambil langkah beranjak pergi ketika Chanyeol menahannya disana. Baekhyun mendongak dan Chanyeol mengunci segala motorik anak itu melalui manik bulatnya.
"Kau bisa melakukannya Baekhyun… untukku kau pasti bisa melakukannya bukan?"
Baekhyun menggigit bibirnya resah. Ia tak memberikan sahutan apapun dan menjatuhkan kepalanya bersandar pada dada Chanyeol. Lengannya membelit pinggang pria itu erat dan berusaha keras menenangkan dirinya disana.
"Ingin kunyanyikan sebuah lagu?" Chanyeol bertanya dalam bisikan.
Baekhyun memberikan anggukan dan benar berharap itu dapat menekan resah dalam dirinya.
Laughter and tears, scars and healing
(Tawa dan air mata, bekas luka dan kesembuhan)
Questions and answers, they're all in you
(Pertanyaan dan jawaban ada di dalam dirimu)
You have my world, you're my small universe
(Kau memiliki duniaku, kau adalah semesta kecilku)
The moment it vanishes, I will disappear as well
(Saat itu lenyap, akupun akan sirna juga)
I'll search the universe
(Aku akan mengelilingi alam semesta)
Until I can find you again
(Sampai ku menemukanmu lagi)
I won't let go, even the smallest memories
(Aku tak akan melepaskannya, bahkan kenangan kecil sekalipun)
Because that's love
(karena itu cinta)
"Saya Park Chanyeol mengambil Engkau Byun Baekhyun menjadi pendamping hidupku, sepeti Tuhan yang berkehendak mempertemukan kita dan mengikat kita dengan begitu mulia, dengan mengasihi dan menghormati Engkau sampai mau memisahkan kita. Di hadapan Tuhan, itu janjiku padamu!"
"Saya Byun Baekhyun menerima Engkau Park Chanyeol menjadi pendamping hidupku, sepeti Tuhan yang berkehendak mempertemukan kita dan mengikat kita dengan begitu mulia, dengan mengasihi dan menghormati Engkau sampai mau memisahkan kita. Di hadapan Tuhan, itu janjiku padamu!"
FIN THE END TAMAT SELESAI BUBAR
Cocot:
1 lagi fic sinet selesai :"))
Terima kasih beribu banyak kepada pembaca semua untuk luangan waktunya baca ini sinet mainstream jijay, yang nge fav, nge foll terlebih yang ninggalin satu dua kata di kotak review berjuta terima kasih.
So yeahh… inilah akhir selamat tinggal kita hehe
Jadi kenapa judulnya Heavy Blue dan Softly Red?
Err… ya ga kenapa2 aku cuman suka aja gitu sama judulnya '-'
He-he
Akhir kata, masih terima kasih dan sampai kita bertemu lagi di sinet yang lain~
SALAM #CHANBAEKISFUCKINGREAL !
