Dumped Princess

Chapter 10

GS! EXO OFFICIAL COUPLE

MONARCHY CONSTITUTIONAL! AU

HUNHAN AS MAIN COUPLE

. . .

Luhan diusir dari rumahnya ketika pemilihan Putri Mahkota Korea Selatan akan dilaksanakan. Pilihan yang diberikan Xi Hangeng—ayahnya hanyalah masuk ke istana atau keluar dari rumah selamanya. Luhan yang bingung tak tau harus bagaimana. "UJIAN TAHAP PERTAMA DIMULAI!" TENGGG! Suara gong kerajaan berbunyi! Putra Mahkota yang duduk disinggasana yang tertutup tirai hanya menatap semua calon Putrinya.

. . .

Oh Sehun as Crown Prince Oh Sehun

Xi Luhan as Crown-Princess-to-be Xi Luhan

Wu (Oh) Yifan as Crown Prince's Brother

Oh Yunho as South Korea King

Kim Jaejoong as South Korea Queen

Tan (Xi) Hangeng and Kim Heechul as Luhan's parents

. . .

FujoAoi present…

. . .

Sehun memegang dua tiket kelas bisnis menuju Thailand sebelum menyusul Luhan yang keluar dari paviliun menuju mobil kerajaan. Sehun dan Luhan berencana berbulan madu di Silavadee, sebuah resort dengan pemandangan yang indah di Thailand. Kabar bulan madu yang mendadak itu membuat masyarakat heboh.

Ada yang menyudutkan Luhan karena ia berani-beraninya melakukan bulan madu sedangkan seharusnya dia masih menangisi kuburan orang tuanya yang bahkan belum kering. Luhan hanya diam tak menanggapi semua komentar jahat yang dilayangkan kepadanya. Tapi, beberapa orang juga membelanya karena mereka mengerti bagaimana posisi Luhan yang seharusnya juga berada di masa-masa indah berbulan madu.

Luhan menggunakan dress putih pendek dan selendang putih yang dililitkan di sekitar lehernya. Ia menggunakan kaca mata hitam dan ia mengecat rambutnya dengan warna coklat muda kemarin malam. Sedangkan Sehun menggunakan kemeja putih yang pas dengan tubuhnya dan celana panjang.

Luhan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Sehun. "Mau bergelayut disini?" tawar Sehun. Luhan menangguk. Ia segera menggelayut di tangan kokoh Sehun. "Kita akan ke Thailand, menikmati masa-masam ini berdua. Dan semoga tak ada gangguan dari pencari berita." Luhan mengangguk setuju.

Ketika mobil kerajaan berjalan meninggalkan wilayah istana, banyak mobil pencari berita mengikuti mereka dari belakang. Sehun mengenakan kaca mata hitam yang disediakannya juga. Ia melihat bagaimana suasana di luar lingkungan istana. Jarang sekali dia berjalan-jalan di sekitar istana tanpa kawalan orang-orang suruhan kakaknya. Lain kali dia harus mencobanya.

Mobil berjalan dengan lancar menuju bandara Incheon. Saat tiba di bandara, banyak wartawan dan kameramen yang mencari berita tentang keberangkatan pasangan muda itu ke Thailand. Sehun dan Luhan segera di bawa ke sebuah lounge VVIP yang tersedia. Mereka menunggu beberapa menit sebelum akhirnya berangkat menuju Thailand.

. . .

Saat tiba di Thailand, hari begitu cerah. Sinar mentari yang menyengat khas wilayah tropis menyapa kulit. Segera Luhan dan Sehun menuju mobil yang disediakan untuk melanjutkan perjalanan ke Silavadee. Baik Luhan dan Sehun tengah lelah karena mereka berada di dalam pesawat lebih kurang 7 jam.

Ketika mereka tiba di Silavadee, tanpa makan siang, Luhan segera menuju kasur dan terbaring lelah. Ia menutup matanya dan tak lama, hembusan nafasnya semakin teratur, meninggalkan Sehun yang tengah mengurus beberapa hal mengenai jadwal pertemuan dirinya dengan Putri kerajaan Thailand.

Sehun mengunci pintu rapat dan kemudian berjalan menuju Luhan yang sudah tertidur pulas. Luhan tertidur dengan keadaan menelungkup. Bibirnya sedikit terbuka dan membuat Sehun ingin tertawa. Sehun mengelus pelan rambut Luhan. "Kau pasti kelelahan," ucap Sehun pada Luhan.

Sehun memilih untuk mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih santai. Ia hanya menggunakan celana selutut berwarna hitam dan kemudian membantu memperbaiki posisi tidur Luhan. Ketika ia sudah membenarkan posisi tidur Luhan, muncul ide jahil di kepala Putra Mahkota Korea.

Ia menyeringai dan kemudian melancarkan aksinya.

. . .

Ki Hyo bertemu dengan beberapa pejabat yang memiliki hubungan erat dengannya. Beberapa dari mereka tampak benar-benar senang ketika dipanggil Ki Hyo, salah satu orang 'kesayangan' raja Yunho di istana. Ki Hyo menarik microfon yang berada di depannya dan mengetesnya, memastikan semua orang yang hadir di ruangan tertutup itu mendengarkan dengan baik pembicaraan pentingnya.

"Baik, untuk mempercepat waktu. Aku menyampaikan niatku mengumpulkan kalian disini karena posisi anggota baru keluarga kerajaan. Sesuai dengan keadaan yang ada, saat ini orang tua Putri Mahkota Luhan telah tiada. Kalian tau jika seorang wanita yang duduk di posisi tinggi seperti itu, tanpa dukungan keluarganya saat ini berada di posisi yang sangat lemah. Tak ada koleganya yang dapat membantunya jika terjadi sesuatu. Dan, apabila kita terus membantunya menjadi seorang ibu negara, tak akan ada efeknya kepada kita semua," jelas Ki Hyo.

"Jadi, aku menyarankan agar keluarga kerajaan mencopot posisi dirinya."

Banyak pejabat yang berbisik-bisik kepada kolega mereka masing-masing. "Kalian boleh tidak setuju dan meninggalkan ruangan ini, tapi aku pastikan kalian akan menyesal." Ancaman Ki Hyo membuat semua orang bungkam. "Baik, artinya kalian setuju dengan saranku."

"Jika kita menggoyang posisi Putri Mahkota, kau tau jika dia anak emas Yang Mulia Ratu, bagaimana kita akan melakukan ini?" tanya seseorang. Ki Hyo tersenyum. "Aku sudah punya kartu as untuk Raja Yunho dan calon pengganti istri Putra Mahkota,"

"Jung Daeun. Keponakan Jung Tae Chan, salah satu kolegaku. Jadi, kalian setuju?"

. . .

Luhan terbangun dari tidurnya. Ia melihat matahari sore mulai menyiram daerah sekitar kolam yang berada di luar kamar mereka. Luhan menyingkap selimut yang menyelimuti badannya. Tapi, ia menyadari bahwan ia tidak mengenakan satu helai pakaian pun. Pipi Luhan memerah memikiarkan segala kemungkinan yang terjadi.

"SEHUN!" pekik Luhan.

Sehun muncul dari kolam dengan celana pendek yang sudah basah. Rambutnya yang biasanya disisir menyamping menjadi lemas dan membuatnya meneteskan air dari kolam. Luhan menarik selimutnya tinggi-tinggi. "Ah… Segar rasanya. Ayo, berenang," ajak Sehun.

Luhan menggeleng. "Kenapa? INi sudah sore, air akan terasa menyegarkan," bujuk Sehun. Luhan tetap menggeleng. "Kembalikan pakaianku dulu, baru nanti aku masuk ke sana. Disana itu alam bebas, aku tidak ingin tampil tanpa pakaian."

Sehun tertawa. "Tentu saja kau harus menggunakan pakaian, kau pikir aku mau milikku jadi tontonan orang lain?" Sehun mengambilkan sebuah dress musim pans berwarna tipis dari lemari yang telah ia susun tadi. "Kau menyusun semua barang di dalam koper?" tanya Luhan yang kaget.

Sehun mengangguk sambil mengoper pakaian dalam Luhan yang tadi dia lepas dan ia lipat. "Jangan sembarangan melepas ini!" pekik Luhan sambil memeluk pakaian dalamnya. Sehun tersenyum. "Tak apa kan? Aku bosan menungguimu tidur. Sebenarnya tidak terlalu bosan sih, cuma, kalau aku menunggu terus, aku bisa saja memperkosamu tadi."

Luhan bergidik ngeri. "A-Ah… Ya sudah…" Luhan segera memakai dress dan memakai celana dalamnya. Sehun segera mengangkat tubuh Luhan sebelum Luhan berencana mengambil celana pendeknya.

Sehun menurunkan Luhan di dalam kolam. Luhan menatap Sehun hingga Sehun juga masuk ke dalam kolam. Sehun menarik Luhan menuju ujung kolam yang menghadap pemandangan laut. "Ibu benar-benar menyiapkan segalanya hanya untuk kita berdua," ucap Luhan dengan nada rendah. Ia ingin sekali menangis karena besarnya perhatian Jaejoong kepadanya.

Sehun memeluk Luhan dan mengecup pucuk kepala Luhan lama sebelum akhirnya menangkup wajah Luhan. "Karena ia menyayangimu. Kami semua menyayangi dan mencintaimu Luhan. Jangan pernah berpikir kalau kami tidak akan melindungimu walaupun secelah saja. Kami akan menjaga anggota keluarga kami karena mereka sangat berharga."

Matahari yang kembali ke peraduannya menjadi saksi bagaimana dua insan manusia itu menyalurkan kasih sayang melalui sebuah ciuman panjang yang penuh keikhlasan. Mereka melepaskan ciuman mereka dengan wajah memerah hingga akhirnya Sehun memecah suasana yang sangat canggung itu dengan merapatkan tubuhnya dan Luhan sambil berbisik. "Bagaimana jika kita melakukan 'itu' disini?"

BYURRR!

"YAAA!"

. . .

Jaejoong menguap melihat berita kepergian Sehun dan Luhan ke Thailand hingga photo mereka masuk ke dalam best suite di Silavadee yang ia pesankan. Ia lebih suka menerima foto dari anaknya dari pada melihat berita di televisi.

Sebenarnya, beberapa menit lalu Jaejoong menerima photo dari Sehun. Di photo itu, Luhan terbaring disamping Sehun dengan keadaan berantakan dan Jaejoong pastikan mereka baru saja membuat calon Putra Mahkota untuk mereka nanti. Yunho baru keluar dari kamar mandi menggunakan bath robe berwarna hitam kemudian mendekati Jaejoong.

"Melihat apa?" tanya Yunho. Jaejoong tersenyum. "Sehun dengan Luhan benar-benar ganas," komen Jaejoong. Yunho tertawa. "Kalau Sehun buas, maka aku lebih buas. Benar?"

Flashback…

Yunho mengejar-ngejar Jaejoong di sekitar resort. Mereka kemudian masuk ke dalam villa mereka dan Jaejoong segera masuk ke kolam meninggalkan Yunho yang masih terengah-engah. "Baby Boo!"

Jaejoong tersenyum melihat Yunho yang akhirnya ikut masuk ke dalam kolam dalam keadaan kelelahan. Yunho menyandarkan kepalanya di dada Jaejoong. "Ah… Lelah…" keluhnya. Jaejoong tersenyum, ia kemudian mengelus kepala Yunho dengan lembut. "Kita istirahat saja," ajak Jaejoong.

Yunho menggeleng. Tiba-tiba Yunho menggendong Jaejoong ke kamar dan segera melucuti pakaian Jaejoong. Tak lama, terdengarlah desahan dan suara-suara yang membuat telinga Yunho keenakan.

Flashback end…

"YAYAYAYA! OH YUNHO!"

"Aku menginginkanmu, Baby Boo," desah Yunho tepat di telinga Jaejoong. Jaejoong merasa tubuhnya meremang. "Jangan menolak, baby." Yunho mendorong Jaejoong sehingga Jaejoong berada di kungkungannya. "Ta-Tapi…"

"Tapi, apa hm?"

"Aku tak mau kalau Sehun dan Yifan punya adik lagi Yunho. Mereka sama-sama akan memiliki anak. Tak mungkin anak mereka memiliki paman yang bahkan seumuran!" jelas Jaejoong. Yunho tak peduli. "Mereka pasti mengerti…"

"Tapi, aku tidak!"

Jaejoong menendang kejantanan Yunho hingga akhirnya Yunho harus menjerit kesakitan. Ya ampun, bagaimana mungkin seorang raja Korea yang dikenal tangguh di ranjang pada masa muda—sehingga bisa membuat pangeran Yifan hadir—bisa dikalahkan oleh ratunya sendiri?

. . .

Sehun menarik satu kursi untuk Luhan dan membiarkan Luhan duduk dan menikmati pemandangan di sebelah kirinya. Sehun tersenyum melihat wajah indah Luhan di malam indah seperti ini. "Apa bisa kehidupan jadi sesantai dan seindah ini?" tanya Luhan.

Tak lama, makanan mereka tiba. Sehun memberikan sendok ke Luhan dan membiarkan Luhan makan lebih dulu. "Bagaimana?" tanya Sehun. "Enak. Aku suka."

Sehun menarik piring milik Luhan. "YA!" pekik Luhan. Sehun mengambil sendok Luhan kemudian menyuapi Luhan seperti anak kecil. Luhan terdiam kemudian tersenyum dan tertawa. "Kau ini!" Luhan menerima suapan Sehun. Sehun tersenyum. "Kau indah."

Luhan tersenyum malu. "Kau selalu memujiku! Aku jadi malu!" gerutu Luhan dengan nada seperti anak kecil yang mengucapkan alasannya melakukan sesuatu. Sehun tersenyum lagi. "Semakin kau malu, kau semakin cantik. Aku menyukai segala bentuk ekspresimu, tapi aku senang melihatmu yang tersenyum malu seperti itu," ungkap Sehun.

"Yang Mulia Putra Mahkota…"

Luhan tersenyum manis kepada Sehun dan menangkup wajah Sehun. "Maka, buatlah aku tersenyum selalu. Aku akan tersenyum untukmu selamanya." Luhan memberikan sebuah kecupan singkat dan membuat Sehun terdiam.

. . .

Yifan bertatapan dengan Ki Hyo yang tiba-tiba datang ke kediamannya. Zitao tertidur di kamar mereka setelah Yifan menenangkan Zitao yang khawatir dengan kedatangan Ki Hyo di tengah malam seperti ini. "Apa mau mu?" tanya Yifan dingin.

"Aku mau penyelidikan kecelakaan orang tua Putri Mahkota ditutup," ucapnya enteng. Yifan menggebrak meja di depannya. "KAU GILA?!" Ki Hyo tertawa mencemeeh. "Tidak. Tapi, apa untungnya bagi negara jika kalian tau siapa dan apa penyebabnya?" tanya Ki Hyo. Yifan menggeram.

"Ini urusan keluarga kerajaan yang tak seharusnya kau urus!" ucap Yifan. "Beraninya kau mempertanyakan keputusan Yang Mulia Raja!"

"Tapi aku harus menyelesaikannya. Karena menurutku dan menurut beberapa orang tetua, ini sangat tak berguna." Yifan menggebrak meja di depannya. "Kau sungguh kurang ajar! Penyelidikan ini berguna. Kami mencurigai keluarga Jung telah sengaja meracuni dan membunuh orang tua Putri!" jelas Yifan.

"Kalan mencurigai. Tanpa bukti dan alasan yang jelas. Jadi, aku sarankan kalian melepaskan kedua Jung itu dari tahanan. Kenapa? Jika tetua sudah mulai muak, maka posisi Tuan Putri yang akan terancam. Aku hanya menyarankan itu padamu. Sudahlah, aku harus pergi. Selamat malam, Yang Mulia Pangeran Yifan," pamit Ki Hyo.

Yifan melihat Ki Hyo pergi dari pandangannya. Berani-beraninya orang tengik seperti ini mengancam keluarga kerajaan. Ia harus segera melakukan penyelidikan hubungan Ki Hyo dengan Daeun dan Tae Chan.

. . .

Seminggu kegiatan bulan madu mereka lakukan dengan kunjungan ke keluarga kerajaan Thailand dan juga menikmati wisata di Thailand. Hingga akhirnya, Sehun dan Luhan kembali tiba di Korea Selatan. Sama seperti saat keberangkatan kemarin, Sehun dan Luhan terus diliput oleh pencari berita yang seperti semut mengerubungi gula.

Sehun dan Luhan masuk ke dalam limousine dan menghidupkan radio. Luhan menyandarkan kepalanya di dada Sehun karena lelah. Sehun mengelus rambut Luhan dengan lembut. Mereka sama-sama lelah saat ini. Tapi, Sehun harus bertahan, karena ia berjanji akan membiarkan Luhan menjadikannya tempat sandaran yang nyaman.

'Berita terkini dari gedung dewan tetua Korea Selatan. Kebijakan Yang Mulia Raja tentang penyelidikan penyebab kematian orang tua Yang Mulia Putri Mahkota menimbulkan gejolak di dalam gedung dewan. Lee Ki Hyo, anggota dewan tetua Korea mengajukan surat untuk membatalkan perintah Yang Mulia Raja pada badan Intelijen untuk menyelidiki kejadian itu.'

'Saat ini, mulai timbul desas-desus yang mempertanyakan posisi Putri Mahkota yang tanpa orang tua dan tanpa penyokong dari belakang. Apakah ia sanggup untuk menjalankan tugasnya sebagai Putri Mahkota tanpa bimbingan orang tuanya?'

Luhan menegang. Apa maksudnya semua berita ini? Luhan menatap Sehun dengan tatapan penuh tanya. "A-Apa maksudnya i-itu?"

'Usulan pencopotan gelar Putri Mahkota dari Yang Mulia Putri Mahkota XI Luhan semakin kuat gaungnya di masyarakat. Apakah ini benar adanya usulan ini, belum ada kepastian dari pihak keluarga kerajaan. Mari kita tunggu kabar selanjutnya dari pihak keluarga kerajaan'

Luhan menyandarkan tubuhnya yang menegang di jok limousine. Sehun mencoba menenangkan Luhan dengan mengelus punggung tangan istrinya. Di sepanjang jalan menuju istana, beberapa televisi besar yang berada di gedung-gedung menampilkan gambar perbandingan kekuatan pendukung dirinya dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh calon-calon Putri Mahkota dulu.

Setibanya di gerbang istana, mereka disambut oleh para pencari berita yang menunggu mereka untuk keluar dari limousine dan memberikan sedikit kabar kepulangan mereka dari Thailand. Para pencari berita itu mulai mendekati limousine dan menghalangi jalan masuk Sehun dan Luhan. "Yang Mulia, harap bersabar. Tim pengamanan akan segera mengamankan mereka. Kita akan segera masuk," ucap supir.

Luhan menutup matanya. Matanya rasanya semakin panas. Apa lagi ini? Ia belum memiliki fondasi yang cukup kuat setelah meninggalnya orang tuanya. Jangan lagi ada gangguan atau terpaan saat ini.

. . .

TBC

. . .

Ahaha, malah update ini duluan karena ini idenya sedang banyak-banyaknya. Aoi senang banget karena Icing si Jang Yuzup udah balik ke pelukan ayangnya, mamang Suholang kaya. Semoga EXO nggak terpisahkan lagi.

Nah, gimana chapter ini? Kurang greget? Kurang manis, pahit, asin atau asam? Kalau kurang semua, minum baygon aja sama Aoi yuk. Bercanda keles.

Yang review banyak dan Aoi kadang senyum-senyum sendiri bacanya. Readers Aoi kayaknya pengertian banget bikin Aoi senyum-senyum sendiri. Ada yang bilang politiknya kerasa, konfilnya kayak real, dan bahkan ada yang bilang udah kayak K-drama, sumpah kalian bisanya bikin Aoi ngapung di udara.

Makasih banyak yang suka FF ini, yang udah baca dan lainnya di chapter ini apalagi. Mungkin banyak kurangnya. Semoga kalian enjoy deh baca chapter ini.

Yang mau kenal dekat (banget) ke Aoi, bisa temuin fb Aoi yang real. Tebak aja di salah satu friend-nya HunjustforHan sunbae. Yang paling aneh.

So, dari pada banyak cuap-cuap, segini dulu.

REVIEW JUSEYYYOOOWWW!~~~