Title : My Perfect Fiance
Rating : T
Pairing : YunJae, YooSu, ChangKyu
Warning: GENDERSWITCH, PEDOFIL! typo(s), gaje! Cerita pasaran! Alur sesuai mood author! Saya gak maksa baca! Jika tidak suka silahkan klik back!
Disclaimer : I wish I own the cast but they are belong to them selves, family, management, but this fanfiction is pure mine!
.
Fanfic ini adalah fanfic genderswitch pertama saya. Mohon pengertiannya agar dimaklumi jika ada kekurangan. Fanfic ini juga terinspirasi dengan komik "Dear Mine" karya Sigeru Takao. Jalan cerita disesuaikan.
.
Now Playing : Stick With You-PCD
.
My Perfect Fiance
Chapter 9
.
.
Yunho berdiri tegak di depan cermin besar-nya. Sesekali merapikan sweater hitam-nya yang membalut tubuh mungilnya. Ah, minggu pagi ini ia akan berjalan-jalan dengan tunangan cantiknya. Ia sampai-sampai tidak bisa tidur karena menantikan hari ini. Mungkin karena ia begitu bahagia belakangan ini. Setelah minggu kemarin Jaejoong mengatakan bahwa ia adalah tunangan-nya di depan Key dan Jinki, ia serasa dibawa terbang ke langit. Bagi Yunho, ini adalah sebuah kemajuan yang sangat pesat untuk hubungan mereka berdua.
Bocah bermata musang itu berjengit ketika mendengar suara ketukan pintu disusul dengan suara Yoochun yang memanggilnya beberapa detik kemudian. Lantas ia beralih menuju pintu setelah sebelumnya tidak lupa menggunakan parfum-nya.
"Nona Jaejoong sudah menunggu di halaman belakang, Tuan." kata Yoochun ramah, lalu mengikuti Tuan Muda-nya menuju halaman belakang. "Apa saya tidak sebaiknya ikut saja?" tanya Yoochun pelan.
Yunho berdecak sebal. Sejak kemarin Yoochun selalu bertanya seperti itu. Sekertaris pribadi-nya itu terlalu mengkhawatirkan-nya. Ini adalah kedua kali-nya ia pergi tanpa Yoochun disampingnya. Setelah kejadian di Seoul Park minggu lalu, pria berjidat lebar itu menjadi semakin protektif padanya. Ia takut Yunho melakukan hal-hal yang memaksakan dirinya sendiri. Hell, bocah itu benar-benar keras kepala, ani?
"Andwae. Aku akan diantar Han Ahjussi, Chun. Kau tenang saja." kata Yunho yakin.
"Baiklah." Yoochun mengghela nafasnya, "Sebelum berangkat, sebaiknya sarapan-lah terlebih dahulu."
"Arra. Aku akan memanggil Boojae untuk sarapan bersama."
"Biar saya yang memanggil Nona Jaejoong, Tuan Muda bisa ke ruang makan." saran Yoochun.
Yunho menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam Yoochun disampingnya, "Aku lupa mengatakan satu hal padamu Yoochun-ah." Bocah bermata musang itu berdehem sebentar sebelum kembali melanjutkan perkataan-nya, "Jangan terlalu dekat dengan Jaejoongie."
Yoochun membulatkan matanya, sedetik kemudian ia tertawa lepas setelah melihat Yunho tertunduk malu menyembunyikan wajah-nya yang telah merah padam. Bolehkah jika kita mengatakan Yunho tengah cemburu saat ini, eoh? Aigoo, manis sekali~
"Arraseo." Yoochun terkikik geli sambil mengacak pelan rambut hitam Yunho, "Jangan lupa minum susu-mu, eoh."
Yunho berdecak sebal melihat Yoochun yang sudah beralih menuju ruang makan, "Sialan." desisnya sebal.
.
.
Jaejoong mengunyah sandwich-nya dengan dahi berkerut. Gadis bermata doe itu terlihat heran melihat Yunho yang meminum dua gelas susu pagi ini. Tidak biasanya tunangan kecil-nya itu meminum susu. Dibandingkan susu, Yunho lebih suka orange juice. Lagi pula, bukankah terlalu berlebihan meminum susu dua gelas sekaligus seperti itu, eoh? Ini aneh sekali, pikirnya.
"Wae?"
Jaejoong berjengit kaget saat Yunho menatap tajam mata doe-nya, "A-aniya." Mendadak Jaejoong menjadi gugup ditatap dengan begitu intens oleh tunangan-nya itu. "Kita bisa pergi sekarang kalau Yunnie sudah selesai." kata Jaejoong menutupi kegugupan-nya.
"Aku sudah selesai sejak dua menit yang lalu." Yunho mengerutkan dahinya, "Sebaiknya cepat kau habiskan sarapanmu."
Mata doe Jaejoong melitik sandwich di tangan-nya yang masih tersisa setengah. Lantas pipi Jaejoong merona karena malu. Ppabo!
.
.
"Ah, Anda akan berangkat sekarang?" Yoochun tersenyum saat melihat Yunho dan Jaejoong yang sudah bersiap pergi.
Yunho mengangguk, sedetik kemudian mata musangnya menatap Yoogeun yang tengah bermain dengan Heechul di halaman depan. "Mereka sedang apa?"
Yoochun dan Jaejoong mengalihkan pandangan-nya kearah Yoogeun yang tengah bermain baling-baling bambu dengan Heechul. Bocah tiga tahun itu mulai menangis sesenggukan karena kesulitan untuk membuat baling-baling bambu-nya terbang.
"Eei, jagoan tidak boleh menangis." Yunho menghampiri Yoogeun lalu berjongkok sejajar dengan tubuh mungil adik kandungnya.
"Huks… Iyuung! (Hyuung!)" rengek Yoogeun sambil memberikan baling-baling bambu-nya pada Yunho.
Yunho mengacak rambut Yoogeun pelan, lalu mengambil baling-baling bambunya, "Cha, Hyuung akan mengajarimu caranya, eoh?" kata Yunho dengan sok keren. Padahal dalam hatinya ia tidak pernah memainkan baling-baling bambu itu. Lantas bocah sepuluh tahun itu mulai memutar baling-baling bambu yang ada di tangan-nya. Kemudian ia melempar baling-baling bamboo tersebut ke atas dengan maksud agar bisa terbang, tapi sayangnya baling-baling bambu tersebut malah tergolek (?) lemas di tanah.
"Yunnie sepertinya tidak pandai bermain." Jaejoong terkikik geli melihat tingkah tunangan-nya. "Kemarin, saat Yunho kembali dari Seoul Park tangan-nya memerah. Itu karena dia menangkap bola dengan tangan kosong. Aku pikir itu karena Yunnie tidak tahu bagaimana caranya bermain." cicit Jaejoong. Sebenarnya ia merasa sedih melihat Yunho seperti itu. Sedewasa apa-pun Yunho, ia tetaplah anak kecil pada usianya. Sungguh! Keterlaluan sekali jika Yunho tidak tahu bagaimana cara bermain pada usia-nya saat ini. Apa Yunho sama sekali tidak pernah bermain? Heck, anak-anak tetaplah anak-anak. Ia merasa ini begitu tidak adil bagi Yunho!
Yoochun terdiam cukup lama sebelum ia menjawab perkataan Jaejoong, "Yunho sudah memperoleh pendidikan terbaik sejak ia masih kecil. Dan dia harus mempelajari tentang pendidikan bisnis, sastra Perancis, English, dan banyak lagi. Mungkin di tidak pernah melihat bagaimana cara bermain baseball. Dia bahkan tak punya waktu untuk itu." kata Yoochun sambil tersenyum miris melihat Yunho yang masih berusaha menerbangkan baling-baling bambu dengan Yoogeun dan Heechul.
Jaejoong menggigit bibir-nya pelan, "Aku pikir, anak-anak tetaplah anak-anak. Bermain adalah hal yang sangat penting untuk anak seusia mereka. Mungkin Yunnie tidak memikirkan itu." Lantas Jaejoong menatap tunangan kecilnya yang terlihat kesal karena kembali gagal menerbangkan baling-baling bambunya, "Ah, Bagaimana kalau kita membeli sarung tangan baseball untuk Yunnie?"
Yoochun menatap lama Jaejoong yang berbinar semangat dengan ide-nya, lalu pria dengan jas Armani hitam itu tersenyum manis, "Jangan ikut campur urusan orang lain."
Jaejoong membulatkan matanya, "M-mwo?"
"Tuan Muda mungkin akan berkata begitu." Yoochun terkekik geli melihat ekspresi wajah Jaejoong, "Tapi mungkin dia benar-benar membutuhkan seseorang yang suka ikut campur urusan-nya."
"Kenapa Oppa berpikir begitu?"
Yoochun tersenyum sampai matanya menyipit, "Karena tidak ada satu-pun orang yang seperti itu sebelumnya. Tapi jika kau memperlakukan dia seperti anak kecil, dia akan marah."
Jaejoong mencebilkan bibirnya sebal, "Sebenarnya Oppa mendukungku atau tidak?"
Yoochun tertawa lepas mendengar gerutuan Jaejoong, "Masalahnya kita tidak tahu bagaimana reaksi Tuan Muda nanti." Lantas Yoochun menatap lama Yunho dan Yoogeun, kemudian tersenyum. Entahlah, Yoochun terlihat menyesal ketika tersenyum seperti itu, "Sebenarnya saya juga berpikir anak-anak seharusnya tetap menjadi anak-anak. Bermain adalah hal penting yang akan mempengaruhi pertumbuhan mereka."
Jaejoong menatap wajah Yoochun yang terlihat sedih. Yoochun mungkin agaknya merasa menyesal karena Yunho tidak bertumbuh dengan baik dibawah pengawasan-nya. Jaejoong baru saja ingin membuka mulutnya untuk bicara namun ia urungkan saat melihat Yunho menghampiri mereka.
"Apa yang kalian bicarakan?" Yunho memicingkan matanya, "Kkaja, kita berangkat."
Jaejoong mengangguk, "Ne."
Yoochun tersenyum, "Apa yang ingin Tuan Muda beli hari ini?"
Yunho berdecak sebal, "Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau inginkan? Jarang sekali aku pergi keluar dan menemani Jaejoongie berbelanja."
"Kenapa Tuan Muda bicara begitu?"
Yunho memasukkan tangan-nya ke kantong celana, "Aku sudah mempunyai semua yang aku inginkan. Tanpa ku minta-pun, kau selalu memberikan semua yang aku butuhkan." Bocah bermata musang itu berdehem pelan berusaha mencari kalimat yang pas untuk mengatakan maksud dari pembicaraan-nya adalah balas budi pada Yoochun. Well, dia terlalu gengsi untuk mengatakan-nya secara gamblang, "Kau mengerti maksudku, kan?"
"Algaseumnida." Yoochun tertawa pelan, "Kalau begitu, "Apa benda yang terlahir dari matahari? Saya menginginkan benda itu. Petunjuknya adalah Perancis."
Yunho melotot tajam, "Yang benar saja." Bocah kecil itu berdecak sebal, "Kau bahkan sudah ratusan kali memberikan teka-teki yang sama padaku." sungut Yunho saat melihat Yoochun hanya tertawa melihatnya.
.
.
"Benda yang terlahir dari matahari?" Jaejoong menggumam sambil memilih pakaian yang cocok untuk Yoochun. Mereka sekarang tengah berada di Mall. "Sepertinya Yunnie sudah tahu jawaban-nya, eoh?" terka Jaejoong. Nampaknya tunangan kecilnya itu sudah tahu jawaban-nya, ia terlihat santai sekali seolah tidak memikirkan teka-teki yang diberikan Yoochun.
Yunho mengangguk mantap, "Jawaban-nya adalah bintang."
Jaejoong melotot horror, "Mwo?! Itu mustahil!"
"Bukan bintang dalam artian sebenarnya, ppabo." Yunho memutar bola matanya, "Jika kita tulis dalam huruf kanji, kata matahari dan kata lahir bila digabungkan akan menjadi kata bintang." Yunho mengulum senyumnya saat melihat ekspresi lucu Jaejoong yang mengangguk, "Dalam bahasa Perancis, bintang berarti 'étoile'. Selain mengandung arti bintang dan takdir, 'étoile' juga bisa diartikan bintang yang besar. Une étoile montante du économique mondial . (Bintang baru di dunia perekonomian.) Maksudnya adalah aku harus menjadi 'Bintang Baru' di Keluarga Jung. Itulah yang Yoochun inginkan."
Jaejoong menganga lebar demi mendengar perkataan Yunho. Yang tadi itu bahasa Perancis, eoh? Astaga, tiba-tiba ia merasa dirinya pusing karena bocah sepuluh tahun di depan-nya ini begitu jenius. Sebenarnya IQ yunho berapa, eoh? God, ia merasa ciut begitu ingat bahwa ia adalah tunangan Jung Yunho. Dibandingkan dengan Yunho, ia bukanlah apa-apa.
"Daebak! Bahasa Perancis!" Puji Jaejoong semangat, berusaha menutupi suaranya yang serak ingin menangis.
Yunho mengalihkan pandangan-nya kearah lain, berusaha menyembunyikan wajah-nya yang sudah merona merah karena malu, "Yoochun selalu memberi teka-teki itu ketika aku menanyakan apa yang dia inginkan. Saat ulang tahunnya-pun ia selalu memberi teka-teki itu. Dia sudah memberikan teka-teki itu sejak umurku empat tahun. Selain menjagaku, Yoochun juga mengurus pendidikan-ku dan hal-hal penting lainnya." Bocah bermata musang itu lantas menghela nafasnya, "Aku pikir yang Yoochun inginkan adalah menyiapkan diriku untuk menjadi penerus Keluarga Jung."
"Yunho sudah memperoleh pendidikan terbaik sejak ia masih kecil. Dan dia harus mempelajari tentang pendidikan bisnis, sastra Perancis, English, dan banyak lagi. Mungkin di tidak pernah melihat bagaimana cara bermain baseball. Dia bahkan tak punya waktu untuk itu."
Serentetan kalimat Yoochun mulai kembali terlintas di benaknya.
"Aku tidak bermaksud buruk, tapi ini seperti terdengar: hal yang penting disini bukanlah 'Yunho' tapi 'bagaimana cara untuk menjadikan Yunho penerus yang layak bagi Keluarga Jung'. Yunnie sudah menanggung beban berat itu sejak kecil. Apa Yunnie juga berpikir seperti itu?"
"Boojae?"
Jaejoong berjengit ketika mendengar suara Yunho memecah lamunan-nya, "Ah, Kenapa Yoochun Oppa menggunakan petunjuk bahasa Perancis untuk teka-tekinya?" tanya Jaejoong berusaha mengalihkan pikiran buruknya tadi.
Yunho memasukkan tangan-nya ke kantung celana, "Mendiang Umma-ku menggunakan-nya saat tinggal di Perancis sebelum Umma menikah dengan Appa. Karena itu bahasa Korea-nya tidak terlalu bagus. Demi Umma, Appa menyewa orang yang bisa berbahasa Perancis agar bisa mendekati Umma dengan ! Appa-ku itu licik, makanya dia- Yya! Changmin-ah apa yang kau lakukan!?" Yunho menjerit horror saat melihat Changmin yang menggunakan gaun wanita yang panjang sampai mata kaki. Ditambah lagi gaun malam itu begitu menyilaukan karena warna merah dengan bling-bling disana-sini. Astaga, Yunho dan Jaejoong rasanya mual melihat Changmin sekarang.
"Bagaimana? Yoochun pasti suka dengan gaun ini." Changmin tertawa nista setelah mengatakannya.
Yunho memijat pelipis kepalanya, "Cepat lepaskan gaun itu, Min. Semua orang melihat kearah kita, bodoh." desis Yunho kesal ketika orang-orang mulai menertawakan mereka.
"Wae? Ini terlihat bagus untuk Yoochun."
Yunho berdecak sebal, lantas mendorong Yoochun ke ruang ganti, "Rasanya mengajakmu kesini tidak ada gunanya. Cepat cari pakaian lain!" Astaga, kalau akan jadi begini ia tidak akan menelpon Changmin untuk menemani-nya. Ia pikir akan lebih mudah memberikan baju untuk Yoochun dengan mengukur tubuh Changmin yang hampir sama dengan Yoochun. Aaish, Changmin malah membuatnya malu sekarang.
Changmin melengkungkan bibirnya ke bawah berusaha membuat wajah sememelas mungkin, "Kau ini kejam sekali! Kau hanya memanfaatkanku untuk menyesuaikan ukuran Yoochun."
"Yya! Kau juga ambil saja sesukamu. Tapi pilihkan untuk Yoochun terlebih dahulu!"
"Arra~"
Jaejoong terkikik geli mendengar adu mulut Changmin dan Yunho, "Bukankah lebih efektif jika kita tadi mengajak Yoochun Oppa?"
Yunho berdecak, "Yoochun sudah berjanji akan menemani Junsu hari ini. Bebek itu bisa mengamuk kalau aku mengambil Yoochun darinya."
Jaejoong mengangguk mengerti, "Arraseo."
"Bagaimana dengan yang ini?"
Kali ini Changmin menggunakan sweater rajut berwarna cream dan ia menggunakan penutup kepala berbentuk strawberry jumbo.
"Shim Changmin!" Yunho menggeram kesal melihat tingkah Changmin. Sedangkan Changmin malah tertawa riang melihat wajah Yunho yang menahan kesal. Menyenangkan sekali menjahili Yunho, pantas saja Junsu suka melakukan-nya. Hahahaha~
Jaejoong tersenyum kecil saat melihat Yunho dan Changmin sesekali bergurau. Walaupun Yunho kesal dengan Changmin, namun Changmin sesekali akan bercanda sehingga membuat suasana jadi menyenangkan.
'Sebenarnya saya juga berpikir anak-anak seharusnya tetap menjadi anak-anak. Bermain adalah hal penting yang akan mempengaruhi pertumbuhan mereka.'
Jaejoong tersentak saat perkataan Yoochun terlintas di benaknya. Bahkan ia masih ingat wajah sedih Yoochun saat mengatakan-nya.
'Jika disamping Yoochun Oppa, Yunnie selalu terlihat serius. Mungkin sebenarnya Yoochun Oppa menyesal karena tidak membiarkan Yunnie menjadi anak-anak pada masanya.'
.
.
Setelah selesai di toko pakaian, mereka mulai beralih melihat toko-toko lain. Jaejoong menghentikan kakinya saat melihat sarung tangan baseball yang ada di etalase toko.
"Mau beli?" kata Jaejoong sambil tersenyum manis pada Yunho.
Yunho memicingkan matanya tajam demi mendengar perkataan Jaejoong. Hell, apa Jaejoong mencoba untuk menyinggungnya, eoh?
"Terima kasih atas pujianmu yang agung."
Jaejoong tersentak kaget. Sumpah! Ia tidak berniat untuk menyinggung perasaan tunangan kecilnya itu, "Aniya! Aku tidak bermaksud begitu, Yunnie!" Lantas Jaejoong menyamakan langkahnya dengan Yunho dan Changmin yang membawa belanjaan mereka. Gadis bermata doe itu masih terus beradu mulut dengan Yunho bahkan ketika mereka kini tengah menikmati makan siang di Bolero café.
"Apa salahnya sedikit bersenang-senang seperti anak kecil? Membeli sarung tangan baseball itu tidak akan membuat uang kita habis, Yunnie!" Jaejoong menggerutu kesal sambil mengunyah sphagetti-nya.
"Kau ini benar-benar menyebalkan!" desis Yunho, "Sudah kukatakan jangan mencampuri urusanku. Dan jangan memperlakukan-ku seperti anak kecil!"
"Tapi tidak ada salahnya kita membeli sa-"
"-Sudah kukatakan aku tidak butuh sarung tangan sialan itu! Memangnya sarung tangan baseball itu berguna untukku, hah?! Jika aku membelinya apa manfaat yang aku dapatkan? Aku tidak membutuhkannya!"
PRAANG!
Suara pecahan gelas membuat mereka terdiam. Lantas mereka mengalihkan pandangan kearah seorang wanita paruh baya yang mengomeli anak-nya.
"Sst… Tenanglah. Aaish! Kau bahkan tidak bisa minum jus dengan benar." gerutu wanita itu sambil membersihkan tumpahan jus di baju anak-nya yang menangis.
Yunho menatap nanar Umma dan anak itu. Dadanya berdenyut nyeri. Ia seperti merasa tertampar ketika menyadari bahwa ia juga sama seperti anak itu. Ia bahkan tidak bisa menangkap bola dengan benar! Shit!
"Yunnie, kita-"
"-Sudah kukatakan aku tidak membutuhkan-nya! Bagian mana yang tidak kau mengerti dari semua perkataanku, hah?!" Yunho berteriak marah sampai-sampai memukul meja dengan keras sehingga semua orang memperhatikan mereka.
Jaejoong terdiam. Dadanya berdetak dengan kencang karena bentakan dari Yunho. Air mata menggenang di pelupuk matanya tetapi ia tetap berusaha menahan-nya, "Kau benar-benar keras kepala!"
Yunho melotot horror saat melihat Jaejoong beranjak dari duduk-nya, "Yya! Kau mau kemana!?"
"Toilet!"
Yunho berdecak kesal lantas kembali menyamankan tubuhnya di kursi. "Jangan tertawa!" desis Yunho pada Changmin yang kini tertawa geli melihatnya. Sedari tadi Changmin hanya diam memperhatikan mereka berdebat, sekarang pria evil itu malah menertawakan-nya. Sialan!
"Aku rasa Jaejoong tidak sepenuhnya salah." Changmin mulai menghentikan tawanya, "Daripada memaksakan diri, keras kepala sepertinya memang lebih cocok untukmu. Kurasa Jaejoong juga tidak memperlakukanmu seperti anak kecil."
Yunho memicing tajam pada Changmin, "Yang benar saja Changmin-ah."
"Tidak peduli sekeras apapun kau berusaha menjadi sosok orang dewasa, kau juga memiliki sisi anak-anak. Semua orang juga memiliki sisi anak-anak dan sisi dewasa-nya dalam hati mereka. Ketika tanggung jawab sebagai orang dewasa diperlukan, karakter dewasa akan muncul dengan sendirinya." Changmin menyesap cappuccino-nya, "Tapi sejak kecil kau sudah dipaksa-melalui harapan keluargamu- untuk tumbuh lebih cepat dari siapapun. Hal itulah yang membuatmu menjadi ragu-ragu. Kau tidak pernah pergi ke sekolah, bahkan tidak mempunyai teman sebayamu. Dan dari perdebatan yang kudengar tadi, aku tebak kau tidak bisa menangkap bola baseball dengan benar."
Yunho merengut kesal, Changmin menebaknya dengan tepat. Sialan!
Changmin tersenyum, "Tapi bagi Jaejoong, anak-anak tetaplah anak-anak."
Yunho menghela nafasnya. "Kau mencoba mengatakan aku menyedihkan?"
"Lebih tepatnya kesepian."
.
.
"Kenapa dia marah-marah begitu? Dia keterlaluan sekali!" kesal Jaejoong sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Sejak keluar dari café tadi ia malah berjalan-jalan untuk meredakan emosinya. "Mungkin itu memang barang yang tidak berguna, tapi setidaknya bisa membuatnya senang, kan?"
Jaejoong menghentikan langkah kakinya saat ia menyadari bahwa ia berada di depan toko olahraga yang ia datangi tadi. Mata doe-nya menatap nanar sarung tangan baseball di etalase toko itu.
"Walaupun Yunnie tidak peduli, Yunnie akan terus tumbuh dewasa. Aku pikir dia harus memiliki kenangan yang membuatnya bahagia."
Jaejoong menggigit bibir bawahnya pelan. Benaknya kini dipenuhi dengan memori tentang Appa-nya sewaktu ia masih kecil. Wajah Appa dan Umma-nya yang tertawa lepas ketika ia bermain di Lotte World tergambar jelas di ingatan-nya. Mereka dulu sangat bahagia dipenuhi dengan canda tawa. Seharusnya, Yunho juga merasakan hal seperti itu.
"Seharusnya Yunnie juga harus mempunyai kenangan yang bisa disimpan dalam ingatan-nya. Makanya kupikir Yunnie akan membutuhkan-nya." Tangan Jaejoong terulur lalu mengelus pelan kaca etalase di depan-nya, "Aku tidak bermaksud memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak disukainya."
"Sudah kukatakan jangan mencampuri urusanku. Dan jangan memperlakukan-ku seperti anak kecil!"
Jaejoong tersentak saat suara bentakan Yunho kembali memenuhi kepalanya.
"Sudah kukatakan aku tidak membutuhkan-nya! Bagian mana yang tidak kau mengerti dari semua perkataanku, hah?!"
Tes…
Air mata Jaejoong akhirnya mengalir dari mata doe-nya. Bibirnya terisak hebat. Dadanya terasa nyeri sekali setiap mengingat bentakan Yunho padanya. Yunho sampai marah seperti itu, berarti ia telah melakukan kesalahan lagi. Apakah ia telah menyakiti hati tunangan kecilnya lagi? Seharusnya, ia tidak perlu memaksa Yunho. Seharusnya, ia tahu diri bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia bahkan tidak setara dengan Yunho yang mengenyam pendidikan tinggi. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan sekarang adalah janjinya pada Umma-nya. Ia akan membalas semua kebaikan yang telah diberikan Keluarga Jung padanya.
"Akulah yang salah. Aku berpikir apa yang penting bagiku juga akan penting bagi Yunnie. Semuanya salahku. Huks… Mianhae, Yunnie."
.
.
"Mungkin kau bukan hanya kesepian. Ada banyak hal lain lagi." kata Changmin sambil mencomot udang pedasnya.
Yunho melipat tangan-nya sebatas dada, "Apa maksudmu?"
"Ketika Jaejoong menyuruhmu membeli sarung tangan baseball itu, kenapa tidak kau lakukan saja?" Changmin menyeringai ketika melihat Yunho hanya diam, "Kau tidak mau membuat kesalahan, kan? Karena kau tidak mau meninggalkan kesan buruk pada gadis yang kau sukai."
BLUUSH!
Wajah Yunho memerah padam. Apa yang dikatakan Changmin memang benar. Ia tidak mau membuat kesalahan yang akan meninggalkan kesan buruk pada Boojae-nya. Sudah cukup semua kekurangan yang ia miliki sekarang, ia tidak mau Jaejoong sedih karena semua kekurangan yang ia miliki. Maka dari itu, ia akan berusaha keras untuk tampil sempurna di hadapan Jaejoong. Sialan! Ia tidak ada bedanya dengan Junsu, kan?
"Kau adalah anak yang pintar dan juga memiliki harga diri yang tinggi. Karena itu, kau tidak mau melakukan kesalahan." Changmin menopang dagunya dengan sebelah tangan-nya, "Pernahkah kau berpikir bahwa mungkin jawabanmu untuk teka-teki yang diberikan Yoochun salah?"
Yunho menyipitkan matanya tajam demi perkataan Yoochun. Lantas ia mendongakkan wajahnya hingga terlihat angkuh, "Itu tidak mungkin! Lagi pula kenapa kita berubah topik pembicaraan?"
Changmin tertawa pelan lalu menghabiskan makan siang-nya, "Karena aku gemas sekali dengan harga dirimu yang tinggi itu." Pria jangkung itu tersenyum seperti meremehkan Yunho, "Biar kuberitahu kau sesuatu yang menarik. Kenapa kau hanya fokus pada petunjuk Perancis? Aku sudah mendengar jawabanmu sejak enam tahun yang lalu. Kalau kau menjawab begitu karena Yoochun mengajarimu bahasa Perancis, apa kau pikir jawabanmu benar?" Changmin menyeringai melihat Yunho nampak berpikir, "Kau tahu Raja Louie XIV?"
"Bukankah dia adalah Raja yang tidak berguna dalam masa pemerintahan-nya? Dia menggunakan semua uang untuk dirinya sendiri karena keinginan-nya untuk emas, wanita dan perang." kata Yunho dengan tatapan tajam seolah mengatakan kau-pikir-aku-tidak-tahu!
Changmin tertawa pelan, lantas menopangkan dagunya dengan satu tangan, "Kalau begitu, apa kau tahu ketika Appa-mu bertemu pertama kali dengan Umma-mu di Perancis dan mulai menjalin hubungan, Ummamu pernah memberi panggilan King Louie XIV untuk Appamu-yang waktu itu sudah menjadi pewaris Keluarga Jung?"
Yunho tersentak mendengar perkataan Changmin. Selama ini Yoochun tidak pernah sekali-pun menceritakan hal itu padanya. Jika memang benar begitu, maka jawaban dari analisis-nya meleset. Sialan!
Yunho dengan cepat beranjak dari duduk-nya untuk mencari Jaejoong. Ia harus pulang sekarang dan menyelesaikan teka-teki dari Yoochun. Bocah bermata musang itu berhenti di depan café saat melihat Jaejoong.
"Kita pulang sekarang."
.
.
"Tuan Yoochunnie, bolehkah Su-ie bertanya?" Junsu menatap Yoochun yang berdiri disampingnya.
Yoochun tersenyum ramah, "Ye, Nona."
Junsu mencebilkan bibirnya, lantas bocah imut yang memakai baju kodok itu menepuk pelan sofa disampingnya yang kosong, "Tuan Yoochunnie bisa duduk disini." Junsu memekik girang saat Yoochun menurutinya.
"Nona Muda Junsu ingin bertanya apa, hm?" Yoochun menepuk pelan rambut Junsu yang dikuncir kuda.
Pipi Junsu merona merah dengan perlakuan Yoochun, "Bolehkah Su-ie tahu Tuan Yoochunnie menyukai wanita yang seperti apa?"
Yoochun membulatkan matanya demi mendengar perkataan Junsu. Sebenarnya, ia sudah tahu sejak lama Nona Muda-nya itu menaruh perasaan padanya. Dan Yoochun tidak terlalu memikirkan hal itu, karena Junsu masih terlalu kecil. Ia menganggap rasa suka Junsu terhadap-nya adalah sebuah kekaguman.
"Sebenarnya tidak ada rincian secara khusus. Keunde, saya menyukai wanita yang menjadi dirinya sendiri. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain agar terlihat sempurna di hadapan saya." Yoochun tersenyum, lantas meraih tangan mungil Junsu kemudian meletakkan tangan Nona Muda-nya itu di dada bagian kirinya, tepat di bagian jantung. "Saya akan tahu bahwa saya mencintainya jika jantung saya berdebar dengan kencang saat saya melihatnya. "
BLUSSH!
Wajah Junsu kini memerah padam. Jantung sialan-nya itu kini memberontak hebat. Bahkan jika ia menundukkan wajahnya, Yoochun masih bisa mengetahui ia tengah malu karena telinganya sampai ikut memerah. Ya Tuhan, ia benar-benar malu sekarang!
"Yoochun-ah! Eodiga!?"
Teriakan Yunho yang berasal dari pintu utama keluarga Jung terdengar bergema sampai ruang tengah. Yoochun melepas tangan-nya dan segera berdiri ketika melihat Yunho-disusul dengan Jaejoong dan Changmin di belakangnya- berlari tergesa-gesa kearahnya.
"Pada akhir abad ke-16 Perancis, saat masa pemerintahannya, Raja Louie XIV juga dikenal sebagai Raja Matahari. Petunjuk yang kau berikan adalah Perancis. Dan itu berarti matahari mengacu pada Raja Louie XIV." Yunho mengatur nafas-nya yang masih tersengal, "Dan Louie XIV adalah nama panggilan yang diberikan Umma-ku untuk Appa. Apakah itu benar?"
Yoochun membulatkan matanya mendengar serentetan penjelasan Yunho, "Saya belum pernah memberitahu pada Tuan Muda sebelumnya, kan?"
Yunho berdecak kesal pada Yoochun, "Benda yang lahir dari matahari adalah aku?"
Yoochun menatap lama ke dalam bola mata onyx Yunho, lantas pria dua puluh lima tahun itu mengacak pelan rambut hitam Yunho, "Benar."
Yunho tersenyum lebar. Ia baru saja menjawab teka-teki dengan benar setelah enam tahun berlalu.
"Iyuuuung~" Yoogeun yang baru saja selesai bermain di halaman belakang berteriak girang saat melihat Kakak kandungnya tiba di rumah. Tubuh mungilnya memberontak di pelukan Heechul meminta dilepaskan. Lalu ia berjalan kecil menuju Yunho sambil tangan-nya memutar baling-baling bambu-nya.
SSYUUNG~
Baling-baling bamboo itu akhirnya bisa terbang lumayan tinggi. Yoogeun tertawa senang melihat keberhasilan-nya. Nampaknya ia ingin mencoba pamer dengan Hyuung-nya, eoh?
Yunho tertawa sambil mengacak pelan rambut Yoogeun.
"Dulu Tuan Muda juga begitu." Yoochun tertawa lepas, "Setelah seharian bekerja atau belajar, ketika istirahat atau makan, sebelum tidur, Tuan Muda selalu meminta saya untuk memberikan teka-teki. Jika jawaban-nya benar, Tuan Muda akan sangat senang. Jika jawaban-nya salah, Tuan akan sangat kesal memikirkan-nya. Tapi jika saya memberitahu jawaban-nya dan melanjutkan ke teka-teki yang lain Tuan Muda akan marah."
Yunho menutup telinga-nya dengan kedua tangan, "A-aku ingat! Jadi karena kau khawatir aku akan marah, kau tidak pernah memberitahuku jawaban yang sebenarnya walaupun jawabanku salah?"
"Aniya." Yoochun tersenyum teduh, "It's the same anyway. Asalkan itu adalah sesuatu yang Tuan Muda pilih untuk saya, maka itu akan berarti sama juga bagi saya."
Jaejoong tersenyum melihat Yoochun yang menepuk kepala Yunho pelan. 'Yoochun Oppa tidak bisa memaksa Yunnie yang sudah terlalu lelah menanggung beban sejak kecil. Jadi, selama itu adalah pilihan Yunnie, Yoochun Oppa akan selalu menurutinya, ani?'
"Ah, Nona Jaejoong bilang tadi kalian akan membeli sarung tangan baseball." kata Yoochun.
Yunho berjengit saat mengingat pertengkaran mereka di Mall tadi. Lantas ia berbalik menghadap Jaejoong. "Aku pikir kita tidak usah memikirkan kejadian tadi lagi." Yunho menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Aaish! Kenapa mengatakan 'maaf' susah sekali, sih! "Maksudku, kita tadi hanya salah paham. Jadi, ya begitulah kau mengerti, kan?"
"Kau hanya perlu mengatakan 'Aku minta maaf' padanya!" Junsu yang sedari tadi diam di balik punggung Yoochun akhirnya bersuara karena gemas melihat tingkah laku musuh bebutan-nya.
Yunho berjengit kaget melihat Junsu. Astaga, ia baru sadar jika Junsu sedari tadi berada disana. "Apa yang kau lakukan disini, hah!?"
Junsu mencebilkan bibirnya, "Aku sudah membuat janji dengan Tuan Yoochunie. Kau tidak lupa, kan?"
Yunho menggerutu sebal, bisa-bisanya ia lupa. Setelah ini, Junsu pasti akan semakin gencar mengejek-nya yang tidak becus minta maaf. Lantas sedetik kemudian ia menarik tangan Jaejoong menuju halaman belakang Keluarga Jung.
"Waeyo?" tanya Jaejoong setelah mereka berada di dekat kolam renang.
Yunho menundukkan kepalanya sambil menatap kolam renang di depannya, "A-aku minta maaf."
Mendadak Jaejoong merasakan perutnya seperti digelitiki. Aigoo~ rasanya geli sekali! Bibirnya menahan tawanya yang ingin meledak ketika melihat wajah Yunho yang memerah sampai ke telinganya.
"Hahahahha…" Ahkirnya tawa Jaejoong meledak tanpa bisa ia tahan lagi.
Yunho memicingkan matanya tajam melihat Jaejoong tertawa renyah, "Ini tidak lucu!"
"Aniya." Jaejoong berusaha menghentikan tawanya, "Yunnie sangat imut saat minta maaf."
Sialan! Wajahnya malah bertambah merah sekarang!
"Mwoya?!"
"Neomu kyeowo~" Jaejoong menggoda Yunho dengan senyuman-nya. Mata doe Jaejoong membulat saat melihat Yunho berjalan meninggalkan-nya, "Yunnie, Chakkaman!"
Yunho berdecak kesal saat Jaejoong menarik tangan-nya. Hell! Kalau ia tidak segera pergi dari sini, suara detak jantung sialan ini akan terdengar oleh Jaejoong. Dan itu akan sangat memalukan, kau tahu!
"Yunnie, aku juga minta maaf." Jaejoong mencoba membalik tubuh Yunho agar berhadapan dengan-nya, "Aku tidak akan memaksa Yunnie lagi. Yaksokhe!"
"Aniya!"
Jaejoong mengerjapkan matanya mendengar penolakan dari Yunho.
"Hanya kau yang boleh memaksaku. Asalkan itu Jaejoongie, aku tidak apa-apa. Lain kali kita akan beli sarung tangan baseball itu."
BLUSSH!
Sekarang malah wajah Jaejoong yang merona merah. Astaga! Nampaknya sekarang bunga-bunga senang sekali bermekaran di sekitar mereka, eoh?
"Kenapa wajahmu memerah?"
Jaejoong buru-buru menutupi wajahnya dengan kedua tangan-nya. "Jangan lihat!"
Yunho tertawa renyah melihat tingkah laku Jaejoong, "Kau malu, ya?"
"Aniyaaaaa!"
.
.
-To be Continued-
Annyeooooong ^o^
Apakah ini sudah update cepat?
Semoga ada yang menunggu fanfic ini, ne? XD
Saya tidak tahu chapter ini akan memuaskan atau tidak, semoga berkenan ^^
Ini adalah chapter tercepat yang pernah saya buat hahah saya mengetik ini sehari loh biasanya butuh paling cepat dua atw tiga hari. Ya, soalnya saya suka nunda2 pekerjaan nungguin mood lagi berkobar2 dulu baru dikerjain. Jangan ditiru teman2 XD
Selamat datang untuk readers baru ^^
Dan terima kasih karena kalian sudah mau membaca, review, follow dan fav ff abal ini :')
Vic89 : Iya Vic, nampaknya Tuan Muda terbakar api cemburu LOL
Ny cho evil : Kyeowoooo XD
JungHero : Panggil bebeb saja ^^ waah terima kasih kamu sudah menunggu dan memuji ff ini ^^ Iya kita doakan yun cepet gede biar bs ngelindungi Jae dgn keren XD
Akiramia44 : ngakak aja asal gak ktawan Yun, mari ngakak bersama LOLOLOL reaksi Jinkey gak dijelaskan terlalu detail, tetapi mereka bisa paham keadaan YunJae, karena mereka juga mengalami hal yg sama pacaran dgn jarak 7 taun ^^
Yoon HyunWoon : here next chap ^^
.1272 : Iya, kesabaran Yun diuji disini XD
MaxMin : Yes! Very very Happy XD
Babychokyu : Itu masih lama sekali ToT
Hana-Kara : Aah, ternyata kerasa ya mereka makin manis aigoo u,u iya masih lamaa ToT
Danactebh :Panggil bebeb saja ^^ terima kasih supportny ^^
:Eeits! Bulan puasa XD
AyuClouds69 : Iya, bahagia Yunho memang simple sekali :') Sebenerny dari kecil, Yun gak pernah minta yg muluk2 :') mungki sekitar Chapter 16 kali ya :o
Fuji jump910 : Yun gak mau banyak berharap, dia takut nanti sakit hati. Tapi Yun akan tetap berusaha membuat Jae suka sm dia ^^
Dewi15 : Kamu benar! Jae sepertinya belum sadar, mari kita sadarkan XD
: Sangat bahagia malah ^^ ini udah lanjut~
ClouDyRyeoRez : Yun gede masih lama, dan mungkin gak akan diceritain di ff ini :o
Rly. : Setidaknya satu beban sedikit demi sedikit menghilang ^^
Tabifangirl : Iya, ini next chapnya semoga suka ^^
Noona : Mksh udah mau nungguin ^^ Fighting!
Neng : Bener banget! Adek saya juga sekarang lebih tinggi dari saya, padahal dulu kita sering ngejekin dia kerdil -_-
Ruixi : Apakah ini terlalu lama update? Mian, saya sudah berusaha semampu saya YoY
FiAndYJ : waah iya saya tau :D Selamat menikmati baca disini &^^ Yunho masih lama gede, dan mungkin gak diceritain di ff ini u,u
Pay : Loh kok benci? :o
Cha yeoja Hongki : Mksh udah mau nunggu kak ^^ IDS masih lama update, maaf ya. Saya stuck di plotnya gak tau mau dibawa kmn :'(
Guest 1 : Hahaha that's right! XD
Ibchoco : Kyeowooo XD
Gdtop : saya juga XD
GuestYunjae : Saya sepertinya tau kamu, kamu Ria bukan? Review kamu yang panjang selalu nyantol di kepala saya :D Salut sm kamu yg mau repot2 review begitu untuk ff saya aaw saya bahagia heheh XD
Guest 2 : LOLOL
Yuu si Fujoshi : Ini udah update :D
Kimfida62 : masih lamaaaa -,-
Ditassi : Selamat datang di ff ini ^^ Iya, karena Yun udah di didik terlalu dini makanya jadi gitu, iya susah emang bayangin Min lebih tua dari Yun .-.
Irengiovany : hihihi kyeowooo u,u
Aiska jung : masih laamaaa ToT
Sampai jumpa di next chapter~
Kamsahamnida, I LOVE YOU :*
Thanks to :
hanazawa kay|yoon HyunWoon|yoshiKyu|joongmax|YeChun|Diin Cassha|lipminnie|I|leeChunnie|nunoel31|AliveYJ|Jonkey shipper 04|Minhyunni1318|chitao|kime simiyuki|junghyojin|FiAndYJ|Taeripark|Park Minnie|azahra88|CuteCat88|Himawari23|aoi ao|Jae sekundes|Hana - Kara|Gwanshim84|rizqicassie|Vic89|Dhea Kim|Dee-chan tik|shanzec|Jihee46| 1272|Nayuya|Dipa woon|YunnieBoo10|Narita Putri|YJS12|rimadsung|queen407|hye jin park|t|hi jj91|Elzha luv changminnie|irengiovanny|ssiopeiajaejoong|jaena|danactebh|mrspark6002| Kakaichi|Neng|jaejae|natsuki cho|toki4102|nanajunsu|Rly.|BlackXX|peachpetals|JungKimCaca|akiramia44|Panda MYP|farla23|ezkjpr|haruko2277| cindyshim07| WhiteXX |YunjaeDDiction|Leejisung4|Imelriyanti|Kim07|Ifa. |Sangie|SukiYJ57|zhe|Fuawaliyaah|Jung Jaehyun| |kimfida62| mirai.|YuyaLoveSungmin|my yunjaechun|may|Tabifangirl|Rya|Irma|Kim hyeSun|Akino Haruka|Ami|Sachan|dewi15|nurul khaeriah|Cha Yeoja Hongki|Verlove-yjs|Salsasehun|Wulan|Zhoeuniquee|MaxMin| BabychokyuAyuClouds69|GuestYunJae|Ny cho evil|JungHero| |Fuji jump910|ClouDyRyeoRez|Noona|Ruixi|Pay|Ibchoco|Gdtop|Yuu si Fujoshi|Ditassi|Aiska Jung|Para Guest dan Silent Readers|
Berminat ninggalin jejak? /kitty eyes/
Jika ada yang belum saya tulis namanya mohon katakana pada saya, ne ^^
