Chapter 10

.

.

Sakura menatap gugup Sasuke yang memandangnya dalam. Wajah pria itu terlihat tenang. Sakura menggigit bibirnya, firasat buruknya mungkin akan terjadi. Sakura sudah berjanji akan menerima apapun keputusan Sasuke tanpa menuntut. Tapi apakah dia siap menanggung kekecewaan yang akan di rasakannya?

"Sakura..." Sasuke tersenyum lembut dan menenangkan. Pria itu seperti berusaha meyakinkan Sakura bahwa semua akan baik-baik saja. Dan Sakura berusaha mempercayai itu dengan membalas senyuman Sasuke.

"Aku akan menunggumu." ucap Sasuke yang menghantarkan sengatan listrik di sekujur tubuh Sakura. Wanita itu ingin menutup telingannya, rasa takut kecewa sangat besar mengendap di hatinya. Tapi tangannya tak mau di gerakan, sebagian pikirannya sangat ingin mendengar keinginan Sasuke.

"Aku hanya akan menunggumu. Jika kau yakin ingin bersamaku, maka lakukan apapun. Apapun agar kau bisa datang padaku. Jika kau mampu datang padaku, bagaimanapun keadaanmu nanti aku akan ada untukmu. Bersamamu selamanya." onix menawan itu menatap dalam emerald Sakura. Lembut dan meyakinkan. Sakura menggeleng kecil. Senyum sendunya terukir. Sasuke menginginkan dia mengejar pria itu. Melakukan apapun agar bersama dengannya. Pria itu tak akan mengejarnya lagi, dia sudah memutuskan untuk menunggu.

"Apakah aku bisa?" Tanya Sakura parau. Sebenarnya pertanyaan itu di tujukan untuk dirinya sendiri. Tapi emeraldnya seolah hidup saat menatap onix di depannya.

"Akan ku lakukan." Sakura menarik nafas panjang lalu tersenyum meyakinkan Sasuke dan dirinya sendiri. Sasuke membuka tangannya yang langsung membuat Sakura berlari kepelukannya. Sementara ini Sakura akan menganggap ini pelukan terakhir mereka. Sakura akan melakukan apapun agar bisa merasakan pelukan ini lagi.

Sakura menatap wanita yang menjadi harapannya. Wanita yang selalu di bencinya dan tak pernah terfikirkan Sakura akan menjadikan wanita ini harapannya. Sakura menghela nafas, setelah ini apapun yang terjadi tidak akan masalah. Sakura fikir dia sudah terbiasa terluka.

"Apa yang kau inginkan? Aku tidak tahu kenapa, tapi Hinata tak lagi bisa menjadi alasanmu datang kerumah ini."

"Aku tahu." Sahut Sakura dengan suara tenang. Setidaknya dia harus terlihat baik-baik saja. "Aku butuh bantuan anda." emerald Sakura dengan mantap wanita yang sedang menyeduh teh tradisional di depannya. Bahkan ketika Amethys tajam itu menatapnya mengintimidasi Sakura tak mengalihkan tatapannya.

"Ha ha ha." tawa merdu ibu Neji mengalun di telinga Sakura. Tawa lembut yang bagi Sakura bagai nyanyian kematian. Ibu Neji menghentikan tawanya dan menatap serius Sakura. "Kau sungguh berani dan tak tahu malu. Setelah mendapatkan putraku, apalagi kali ini yang kau inginkan?" sinis ibu Neji. Sakura menelan ludahnya gugup.

"Bantu aku bercerai dari Neji-kun." ruangan berukuran empat kali enam itu terasa lengang tapi sesak. Sakura meremas jemarinya, menunggu reaksi ibu Neji. Tapi sampai beberapa menit menunggu wanita di depannya tak juga mengucapkan sesuatu.

"Bukankah itu yang selama ini kau inginkan?" Lanjut Sakura sekaligus berargumen pada hatinya bahwa dia tak melakukan kesalahan. Ibu Neji terlihat memejamkan matanya sebentar.

"Kau benar. Seharusnya aku senang bukan?" Sakura menatap bingung ibu mertuanya. Tidak ada nada senang sama sekali dalam ucapan wanita itu. Sepertinya Sakura melakukan hal yang salah di mata wanita itu. Lalu apa yang benar, apa karna tidak menyukai Sakura semua yang di lakukan Sakura jadi Salah di mata wanita itu? Sakura mendengus sinis. Harusnya dia memikirkan kemungkinan ini.

"Tapi kenyataanya aku sangat marah. Kau seperti merendahkan harga diri putraku, dan ini menyakitiku. Apa alasanmu? mungkinkah itu yang membuat Hinata membencimu?" Sakura terdiam mendengar pertanyaan ibu Neji. Keringat dingin mengalir di punggungnya. Sakura ngeri membayangkan reaksi ibu Neji bila mendengar alasanya meninggalkan Neji. Tapi dia harus mengatakannya kan?

"Aku... " Sakura menarik nafas. Menatap ibu Neji tepat di matanya. Tidak apa-apa, tidak akan lebih sakit dari setiap hal yang sudah terjadi di hidupnya.

"...mencintai pria lain." ucap Sakura mantap. Tubuh ibu Neji terlihat membeku, lalu dengan cepat dia melemparkan cawan teh ke arah Sakura. Meski Sakura reflek melindungi wajahnya tapi tanganya tetap terluka. Sama sekali Sakura tak menyangka jika wanita anggun itu akan lepas kendali.

"Kau benar-benar perempuan rendahan. Tak mengingat pengorbanan putraku untukmu. Kau tak lebih dari perempuan menjijikan yang membuang mainannya setelah menemukan mainan yang baru." desis ibu Neji tajam dan dingin. Tubuh Sakura meremang mendengar ucapan wanita itu. Mati-matian Sakura menahan air matanya agar tidak jatuh. Sungguh kali ini harus menjadi terakhir kalinya dia terluka karna wanita ini.

"Kau benar-benar yakin aku akan membantumu?" Wanita itu berdiri dan melangkah mendekati Sakura. Sakura meremas jarinya tak berani bicara. Dia tak mau wanita ini mendengar suara parau menyedihkanya.

"Baiklah. Aku akan membantumu. Dan aku tak akan minta maaf tentang luka di tanganmu. Pergilah." Wanita itu bicara di samping Sakura lalu keluar dari ruangan itu. Sakura menarik nafas panjang. Menstabilkan dirinya. Setelah lebih baik Sakura beranjak keluar ruangan. Sakura berhenti melangkah saat dirinya berpapasan dengan Hinata di lorong. Perasaan Sakura terasa di cabik-cabik ketika Hinata mengacuhkanya, bahkan meliriknya pun tidak. Sakura berbalik menatap punggung Hinata.

"Hinata-chan." panggil Sakura sebelum Hinata berbelok. Hinata berhenti tapi tak berniat berbalik. "Maaf." Sakura tak tahu dia minta maaf untuk apa. Dia hanya ingin mengucapkannya. Dia ingin hubunganya dan Hinata membaik meski tak lagi seakrab dulu. Sakura tersenyum ketika Hinata berbalik menatapnya.

"Jangan pernah berfikir aku akan bersikap seperti dulu. Sangat tidak mungkin terjadi ketika kau berniat meninggalkan Neji-nii demi pria lain." Sakura terdiam menatap sedih Hinata. Sekarang dia sadar dan Hinata dengan jelas menegaskan tak akan ada yang bisa di perbaiki dari mereka.

"Aku sungguh menyesal..." lanjut Hinata. "...Membujuk Neji-nii menikahimu. Kau hanya wanita murahan yang hamil di luar nikah dan tak tahu terima kasih. Aku sangat menunggu saat Naruto menyesal karna bersikap baik padamu." Hinata meninggalkan Sakura yang terpaku di tempatnya. Sakura tak menginginkan ini, tapi air matanya mengalir begitu saja merefleksikan luka di hatinya. Sakura tertawa kecil mengejek dirinya. Setelah menghapus air matanya Sakura pergi dari rumah itu. Setidaknya dia masih bisa berharap pada keputusan ibu Neji yang akan membantunya.

Sakura menatap foto pernikahannya dengan Neji yang di pajang di meja kecil di samping ranjangnya. Bertahun-tahun bersama tidak cukup untuk membuat hatinya tetap bersama suaminya. Dia harus siap apapun yang terjadi bila Neji mendengar keputusan ibunya. Hanya jika bisa Sakura memilih dirinya yang terluka daripada melihat pria itu terluka. Wanita itu meraih ponselnya saat ada panggilan masuk. Neji. Mungkinkah orang tua pria itu sudah membicarakan hal ini padanya? Jika iya, sepertinya mertuanya ingin hal ini cepat selesai. Harusnya tidak masalahkan? Tapi entah kenapa Sakura merasa ketakutan sendiri. Seolah dia sudah melakukan kesalahan fatal.

"Jika kau meninggalkanku, berarti kau membunuhku."

Sakura menggelengkan kepalanya saat dia mengingat ucapan Neji. Sakura mendesah, mungkinkah Neji akan berbuat nekad? Sakura meragukan keyakinanya sendiri. Dia yakin pikiran suaminya tidak sependek itu. Tapi pria itu mengejarnya tanpa memperdulikan dirinya yang terluka karna tertabrak mobil.

"Aku lebih rela kau mati daripada bersama orang lain."

Kembali Sakura teringat kata-kata Neji. Untuk kali ini dia merasa lebih menyetujui kata-kata suaminya itu. Di banding terjadi sesuatu pada dirinya sendiri, Sakura lebih takut jika terjadi sesuatu pada Neji. Tapi jika benar Neji akan membunuhnya, bukankah itu berarti dia sudah berbuat jahat karna membuat Neji menjadi seorang pembunuh? Sakura menggelengkan kepalanya berharap hal itu tak terjadi. Semoga Neji mendengarkan orangtuanya.

Dering ponselnya berhenti ketika dia berniat menjawab panggilan Neji. Sakura menimang-nimang ponselnya menimbang harus menelepon balik atau tidak. Sangat mudah menginginkan masalah cepat selesai, tapi nyatanya dia terlalu takut untuk menghubungi suaminya membicarakan masalah mereka.

Hingga malam tiba Sakura belum memiliki keberanian menghubungi Neji. Di sudut hatinya dia ingin menghubungi Naruto dan menanyakan pendapat pria itu. Tapi di sisi lain dia berpikir harus berhenti menjadikan Naruto pelarian. Sudah waktunya bagi pria itu mendahulukan kepentingannya daripada Sakura. Sakura tak ingin membuat Naruto meninggalkan wanitanya -entah ada atau tidak sekarang- karna dirinya. Seperti yang terjadi pada Hinata. Dia tidak mau membuat hidup pria itu kacau seperti hidupnya.

"Harusnya aku berpikir begini sejak dulu." Sakura mendesah. Senyumnya merekah saat melihat ada pesan masuk dari Sasuke di ponselnya.

Aku merindukanmu. Kau sedang apa?

-Sasuke

Baru Sakura akan membalas pesan Sasuke, Suara mesin mobil berhenti di depan rumahnya membuatnya meletakan ponselnya di ranjang dan turun untuk melihat siapa yang datang. Sakura terkejut, sangat terkejut saat melihat Neji yang datang. Wajah pria itu kaku dan menyeramkan. Tanpa bisa Sakura kontrol rasa takut menjalar keseluruh tubuhnya. Neji menutup pintu dengan bantingan kuat yang membuat Sakura melonjak terkejut sekaligus takut.

"Neji-kun." Sakura tersenyum kaku berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Apa yang di katakan kaa-san benar?" Sakura termundur melihat Neji mendekatinya dengan aura menyeramkan.

"Neji-kun." suara Sakura bergetar karna ketakutan. Harusnya dia bisa mengatakan dengan benar isi kepalanya. Tapi ketakutan atas sikap Neji terlalu besar mendominasi hingga dia merasa sesak dan sulit bicara.

"Katakan Sakura, APA YANG DIKATAKAN KAA-SAN BENAR?" bentak Neji. Sakura mengangguk berkali-kali sebagai ganti dirinya yang kesulitan mengontrol dirinya agar bicara.

"Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku." desis Neji tajam seraya mencengkeram lengan Sakura. Sakura menengadah mencegah air matanya jatuh dan menahan Sakit di lenganya.

"Neji-kun... Sakit... kita bisa bicara baik-baik." Sakura memaksa dirinya bicara dengan suaranya yang terdengar parau. Neji menggeram.

"Bagaimana caranya bicara baik-baik saat istriku berniat meninggalkanku untuk bersama dengan orang lain." Sakura tahu. Sungguh Sakura mengerti. Tapi mereka harus bicara. Kali ini Sakura ingin Neji mengalah padanya. Membebaskanya membuat pilihan.

"Jika kita tak bisa bersama di dunia ini, aku akan membawamu ke tempat di mana kau tak punya pilihan selain aku." Sakura memucat, apa maksud pria ini? Sakura tak sempat memikirkan berbagai kemungkinan apa yang akan terjadi karna Neji mencengkeram lengannya dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Neji menginjak gas tanpa perlu repot-repot memakai seatbelt. Ini membuat Sakura sangat gelisah dengan pemikiran Neji sekarang.

"Neji-kun... ini... berbahaya." ucap Sakura panik. Tangannya berusaha memasang seatbeltnya di tengah guncangan akibat Neji yang menginjak gas tidak teratur. Kadang tinggi kadang rendah. Demi tuhan ini belum terlalu malam hingga lalu lintas masih cukup ramai. Ini tidak bagus untuk mereka saat Neji berniat berkendara dengan kecepatan tinggi.

"Tidak Sakura. Ini tidak lebih berbahaya dan menakutkan di banding apa yang kau lakukan." desis Neji seraya menaikan kecepatan. Sakura mencengkeram seatbeltnya yang berhasil dia pakai. Dia tak memikirkan pilihan ke tiga Neji, mereka akan bunuh diri bersama. Sakura berdoa dalam hati semoga tidak semenyakitkan yang di pikirkannya.

"Neji-kun." Sakura belum putus asa berniat merubah keputusan Neji. Tapi panggilanya hanya membuat Neji menginjak gas lebih dalam.

"Kita hanya akan selalu bersama setelah ini kan Sakura?" Ucap Neji tenang. Sakura tak sanggup menjawab. Dia tak menyangka Neji terlalu terobsesi bersamanya -atau mencintainya. Tapi apa lagi yang bisa Sakura lakukan sekarang selain berdoa dan berharap mereka akan baik-baik saja. Tapi baik-baik saja tidak akan mungkin terjadi saat Neji nekad tak menurunkan kecepatan sama sekali saat berbelok. Sakura tak tau persis apa yang terjadi, yang dia lihat hanya pohon, mobil lain, mobil berguncang keras serta suara teriakan sebelum akhirnya benturan keras terjadi. Beberapa saat setelah kondisi kembali sunyi Sakura mencoba membuka matanya yang terasa memburam oleh sesuatu berwarna merah. Hanya kurang dari setengah menit Sakura mampu membuka matanya sebelum memberat dan tertutup kembali.

Semua terasa ringan dan tenang bagi Sakura. Tidak ada beban dan segala kegelisahan yang Sakura rasakan. Hanya kesunyian yang membuatnya nyaman. Kelopak mata Sakura perlahan terbuka. Warna pink dan putih sakura mendominasi pandangan Sakura. Senyum wanita itu tersungging dan matanya kembali terpejam menikmati kenyamanannya kembali.

Sakura.

Ketenangan Sakura terusik oleh panggilan seseorang. Dia berusaha mengingat siapa pemilik suara itu. Suara itu terdengar akrab dan... Sakura suka. Sakura mendengar namanya di ucapkan lagi oleh suara yang sama. Sakura suka. Ini seperti hal indah yang selalu di inginkannya. Wanita itu tersenyum menyamankan diri untuk melanjutkan tidurnya dengan iringan suara merdu yang menyebut namanya. Ini situasi yang bagus untuk melanjutkan mimpi bukan?

Maaf.

Sakura mengrenyit tak suka saat suara lain menyelingi suara favoritnya. Dan ini suara siapa? Sakura merasa dia tak bisa menolak memikirkan pemilik Suara ini. Dia membuka matanya yang pandanganya masih memburam. Sakura benar-benar tak bisa mengabaikan pemilik suara yang berkali-kali meminta maaf padanya. Dia seolah terluka saat tak ada yang bisa dia lakukan untuk pemilik suara itu.

Sakura-chan. Hei Sakura-chan.

Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali tapi pandanganya masih buram. Sebenarnya apa yang terjadi pada matanya? merepotkan sekali. Padahal Sakura sangat bersemangat mencari pemilik suara lainya yang terdengar ceria dan menyenangkan. Setiap panggilan itu bagai sebuah melodi yang sangat sulit Sakura lewatkan. Membawa candu menenangkan yang membuatnya berkali-kali kembali pada pemilik suara.

Semua akan baik-baik saja Sayang.

Sakura tersenyum sendu mendengar suara menenangkan yang sangat di rindukannya. Suara yang selalu berada di mimpinya. Suara yang membuat Sakura di himpit penyesalan yang sangat besar. Tapi juga membuatnya tersenyum setiap saat mengingatnya. Tak masalah jika pandangannya buram, yang terpenting pemilik suara ini ada di sisinya. Selalu ada untuk menjadi sandaran hatinya. Memberinya kekuatan agar mampu selalu tersenyum.

Apa kau senang di sini, sayang?

Ya ibu. Di sini seperti aku mendapatkan apa yang ku inginkan. Ketenangan dan kedamaian. Meskipun ada beberapa orang yang mengatakan tidak ada hidup yang damai. Damai terkadang berarti kematian. Dan aku tak keberatan dengan itu.

Kau tak apa di sini sendirian? Tanpa teman? Tanpa seseorang?

Tidak apa-apa. Kehidupanku juga bukan suatu yang menakjubkan. Hanya hal buruk. Hanya sakit. Hanya kegelisahan tanpa ujung. Selalu di selimuti ketakutan.

Benarkah hanya itu? Tak ada yang bisa menjadi alasanmu kembali?

...

Baiklah. Kau akan di sini. Sendirian. Dalam ketenangan. Mungkin saja kau akan datang pada kami sayang. Apapun keputusanmu, ibu akan mendukungmu. Selama kau bahagia dengan pilihanmu.

Ibu...

Sakura tak kuat lagi menahan matanya tetap terbuka. Tak apa-apa terpejam, toh pandanganya juga buram. Tak ada yang bisa di lihatnya dan ingin dilihatnya. Benarkah? Sakura meragukan pemikiranya. Dia bohong. Banyak yang ingin di lihatnya. Banyak yang ingin di pastikannya. Dia ingin melihat mereka. Tak apa jika dia akan terluka lagi, dia hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja. Sebentar. Dan dia akan lega ketika semua baik-baik Saja. Air mata Sakura mengalir. Membawa cahaya menyilaukan masuk ke matanya.

Perlahan kelopak mata Sakura terbuka. Mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Indera perabanya mulai bekerja. Dia mampu merasakan hangat yang menyenangkan di tangannya.

"Sakura." wanita itu mencoba fokus pada seseorang yang membisikan namanya. Seseorang yang menggenggam dan mencium punggung telapak tanganya berkali-kali. Sakura tersenyum saat dirinya telah mampu mengenali sekitarnya. Sasukenya adalah orang pertama yang di lihatnya.

"Terima kasih. Terima kasih. Kau bangun. Terima kasih, Sakura." Sakura terharu saat Sasuke menciumi punggung tangannya. Tak lama seorang dokter dan seorang perawat datang melakukan serangkaian pemeriksaan pada Sakura.

Setelah dokter dan perawat selesai dengannya, Sasuke dengan cepat berada di sisinya lagi. Senyum lembut terukir di bibir pria yang masih setia menggenggam tangan Sakura. Mereka saling menatap dalam diam. Seolah itu cara mereka mengungkapkan kerinduan. Sebenarnya berapa lama Sakura tertidur?

"Sakura-chan!" Teriakan itu datang bersama dobrakan pintu ruang rawatnya. Naruto. Pria kuning itu langsung menerjang Sakura yang masih berbaring dan memeluk erat dirinya sembari berkali-kali mengucapkan syukurlah. Sepertinya Sakura benar-benar membuatnya khawatir. Naruto baru melepaskannya setelah mendapat tiga jitakan dari Sasuke. Sakura tersenyum senang. Ternyata dia sangat merindukan suasana ini. Syukurlah dia kembali.

Dari cerita mereka Sakura mengetahui bahwa dia dan Neji telah mengalami kecelakaan. Dia koma selama sebulan setengah. Selebihnya dia baik. Sedangkan Neji sudah baik-baik saja. Sayangnya kecelakaan itu bukan kecelakaan tunggal. Mobil Mereka menabrak mobil lain hingga jatuh ke dasar tebing. Pengendaranya seorang wanita, dan mengalami kerusakan di ruas tulang belakang nomor tiga dan empat. Sakura tidak tahu artinya hingga dia mendengar penjelasan bahwa wanita itu akan lumpuh dari dada ke bawah. Seumur hidupnya wanita itu akan memakai kursi roda. Sakura menangis memikirkan kehidupan apa yang akan di lalui wanita itu karna kesalahanya dan Neji.

Sakura menatap pria yang kini duduk di samping ranjangnya. Neji menatap emerald istrinya. Sakura sendiri tak tau harus mengatakan apa. Dia bahkan tak tau lagi situasi apa yang dia hadapi. Mendengar cerita tak membuatnya bisa memutuskan apa yang harus di lakukan atau di katakan.

"Aku..." Neji menarik nafas sebentar lalu kembali menatap Sakura. "Aku tak tahu. Aku tak tahu apa yang ku rasakan saat aku melihatmu tak bangun selama sebulan lebih. Aku hanya tak mampu memikirkan apapun." Sakura hanya diam. Dia akan mendengarkan semua yang ingin di ungkapkan Neji. Selama ini mereka sangat kurang berkomunikasi. Mereka sangat sulit bicara dari hati ke hati.

"Melihatmu menutup mata, Aku hanya berpikir kenapa aku masih selamat. Padahal aku ingin membawamu pergi... " Amethys Neji terlihat menerawang jauh. Senyumnya sendu dan terasa menyakitkan bagi Sakura. "Terlalu banyak yang menginginkan kita berpisah. Bahkan kau..." akhir kalimat Neji hanya berupa bisikan. Tapi mampu membekukan tubuh Sakura. Emeraldnya menatap wajah tersiksa Neji. Belum sempat sakura mengatakan sesuatu wajah Neji telah kembali ke pose tenang. Pria itu memandang Sakura dengan tatapan meyakinkan.

"Aku lelah Sakura. Bahkan alam tak membiarkanku membawamu pergi. Aku lelah mempertahankanmu. Kaa-san akan mengurus perceraian kita." Neji mencoba menyembunyikan lukanya dari emerald Sakura. Sakura tahu. Dia terlalu lama mengenal Neji.

"Tidak apa-apa. Aku punya kesibukan untuk melupakanmu." lanjut pria itu. Sakura tak bisa protes jika Neji memilih untuk melupakannya.

"Neji-kun..." Neji menatap Sakura tanda mendengarkan. "Bisakah aku bertemu dengan wanita itu? Aku... hanya ingin melihat keadaannya. Apa dia..."

"Akan ku antar." Neji berniat menggunakan kursi roda untuknya. Tapi Sakura menggeleng. Dia sudah baik-baik saja.

Sakura mendekati ranjang di mana seorang wanita berambut coklat terbaring tenang. Mungkin dia tertidur karna pengaruh obat. Wanita ini terlihat cantik meski sedikit pucat. Sakura duduk di tepi ranjang dan meraih tangan wanita itu.

"Namanya Tenten. Dia putri dari teman kaa-san. Entahlah sebenarnya sistem kerja dunia itu seperti apa." Sakura tersenyum. Setidaknya jika sudah menyangkut ibu Neji berarti semuanya akan baik-baik saja.

"Tenten-san akan baik-baik sajakan?" Bisik Sakura. Air matanya mengalir membayangkan kehidupan wanita berambut coklat itu yang pasti menjadi sulit karna harus bergantung pada kursi roda.

"Satu kali lagi operasi lalu rehabilitasi. Dia harus baik-baik saja karna aku akan memastikanya." Sakura tersenyum lagi. Semoga ini menjadi akhir yang baik. Semoga semuanya baik-baik saja.

Hari berikutnya Sakura kedatangan tamu cantik berambut merah yang memandangnya malas-malasan. Karin. Sakura tersenyum senang. Hanya kedatangan wanita itu cukup membuatnya merasa lebih baik.

"Jangan berfikir aku sudah memaafkanmu. Itu tak akan terjadi." ketus karin yang tak bisa memudarkan senyum Sakura.

"hm." Sakura mengangguk-angguk. Tak apa-apa. Akhir-akhir ini dia merasa lebih bisa mengontrol perasaannya. Karin cemberut melihat reaksi Sakura.

"Kau memang menyebalkan. Asal kau tahu, jika bukan Naruto yang bilang akan merawatmu aku tak akan ke sini." Sakura terkekeh mendengar nada ketus Karin.

"Aku tau. Maaf..." Sakura menatap Karin sebentar lalu terkekeh lagi. "... maaf merepotkanmu."

"Ya ya ya. Jangan merepotkanya. Jangan menghubunginya. Jangan berpikir bertemu denganya." Sakura merengut mendengar ancaman Karin.

"Kau tau jika aku mengalami masalah aku selalu..."

"Stop! Jika kau berkelahi dengan Neji datang padaku. Jika kau marah pada Sasuke datang padaku. Jika kau ingin kabur dari mereka datang padaku. Apapun. apapun masalahmu datang padaku. Jangan Naruto. Kau mengerti?" Karin menunjukkan wajah garang. Sakura terkekeh melihat Karin. Apa boleh dia mengartikan jika ada sesuatu yang khusus pada ke dua sahabatnya itu?

"Kapanpun?"

"Kapanpun."

"Boleh aku menginap juga?"

"Apa?! Tidak. Aarrrgh ok. Apapun. Kapanpun. Di manapun. Puas." Sakura mengangguk dan tersenyum manis. Karin menggeram jengkel.

"Aku sungguh ingin menjambakmu. Tidak sekarang. Nanti. Saat Naruto sudah lebih mementingkanku dari pada kau. Ingat itu."

"Akan ku ingat." jawab Sakura kalem.

"Aku pulang." Karin menghentak-hentakan kakinya melangkah keluar dari ruang rawat Sakura. Sakura tersenyum saat mendengar Karin menelepon Naruto, melarang pria itu datang ke rumah sakit karna dia yang akan selalu memastikan Sakura baik-baik saja. Padahal dia datang hanya untuk melarang Sakura bertemu Naruto. Sakura tersenyum manis, berharap kehidupan mereka akan manis.

Semuanya akan baik-baik saja. Sakura mulai meyakini itu. Suara pintu terbuka mengalihkan pikiran Sakura. Sasuke. Wajah pria itu terlihat khawatir sekaligus lega. Nafasnya juga sedikit memburu. Sakura menatap bingung pria itu.

"Aku bertemu karin." Sasuke terlihat lebih tenang berjalan mendekat pada Sakura. Sakura tersenyum memaklumi kekhawatiran Sasuke mengingat pertemuan terakhirnya dengan Karin. "Aku cukup terkejut kau baik-baik saja." pria itu mengecup puncak kepala Sakura.

"Kau tahu..." Sakura terkekeh membuat Sasuke mengrenyit. "...sepertinya Naruto membuatnya menjadi sosok manis yang menggemaskan. Kau akan menyesal telah meninggalkanya."

"Ya mungkin. Tapi aku tak akan menang jika bersaing dengan Naruto." Sasuke mengangkat bahunya acuh.

"Kau benar." Ruangan hening sesaat. Mereka terhanyut oleh pikiran masing-masing. Sakura menatap lembut Sasuke. "Aku... mungkin akan selalu datang padamu mulai sekarang." Ucap Sakura. Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Kau hanya perlu lepas dari Neji dan aku... pasti akan datang padamu."

"Kau berubah pikiran?"

"Sedikit mengubah pikiran." mereka berdua tersenyum. Sakura menarik pelan Sasuke dan membawa mereka ke dalam ciuman singkat.

"Sudah ku lakukan. Ah tidak. Neji-kun yang melepasku." Mata Sakura menyendu mengingat kemungkinan hubunganya dengan keluarga itu membaik hanya sebesar bintik. Tapi ini pilihannya. Semua pilihan memiliki sisi buruk. Apalagi yang bisa Sakura lakukan selain menerima dan berharap waktu akan membantunya.

"Lalu?"

"Apa?"

"Apa mulai sekarang kita bisa melakukan sesuatu?" Sakura cemberut melihat seringai jahil Sasuke muncul. "Aku tak akan berterima kasih padanya."

"Hmm." Sakura hanya tersenyum. Tidak mudah mengikis kecanggungan dan kebencian karna masalah yang terjadi. Semuanya akan baik-baik saja. Hanya butuh waktu untuk prosesnya.

Sudah beberapa minggu berlalu sejak Sakura resmi bercerai dari Neji. Rumah yang di tempatinya bersama Neji tetap menjadi rumah Sakura. Neji bilang ingin memastikan Sakura baik-baik saja meski Sakura sendiri masih memiliki sedikit warisan dari orang tuanya dan tabungan.

Keyakinan Sakura tentang hari-harinya yang semakin bahagia sedikit goyah saat seorang wanita berkunjung kerumahnya. Usianya kira-kira seumur ibunya. Wanita itu terlihat cantik dengan surai hitam kebiruan dan onix menawan. Membuat Sakura teringat pada seseorang.

"Perkenalkan. Namaku Uchiha Mikoto, ibu Sasuke." Sakura menatap wanita yang tersenyum itu dengan tegang. Bagaimana ini? Bagaimana jika wanita ini tidak menyukainya? Bagaimana jika wanita ini sama dengan ibu Neji? mereka sama-sama dari kalangan bangsawan. Terlalu banyak hal buruk terjadi membuat otak Sakura terlatih berpikir negatif.

.

.

TBC

.

.

Huffft bagian Karin adalah favoritku di chap ini. Aku ingat dulu terinspirasi sikapnya itu dari krystal jung di the heirs. Dan bagiku sikap seperti itu sangat menggemaskan.

.

.

Keyikarus

13/8/2017