Miss Wuhan present

Tittle : Timeless Love

Main cast : Xiumin

Chen

Luhan

Pairing : Chenmin slight Xiuhan

Genre : School life, romance, a little bit sad

Length : Chaptered

Happy reading ^^

Chapter 10

Bagai tersambar petir di siang bolong, Xiumin begitu terkejut dengan keputusan yang diambil pihak sekolah. Jantungnya seakan berhenti selama beberapa detik ketika mendengar kabar itu. Butuh waktu cukup lama bagi Xiumin untuk bisa memahami situasi sulit yang sedang dihadapinya. Bagaimana bisa program beasiswanya di cabut oleh pihak sekolah? Bukankah dia tidak melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan nama sekolah tercemar? Lalu, apakah ini artinya Xiumin harus segera mengangkat kaki dari XOXO High School?

"Tapi mengapa beasiswa saya di cabut? Apakah saya sudah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan?" Xiumin memberanikan diri menanyakan alasan mengapa beasiswanya dicabut oleh pihak sekolah. Dia harus tahu mengapa sampai kejadian ini menimpa dirinya. Dan Xiumin ingin memastikan apakah pemutusan beasiswa ini ada kaitannya dengan Nyonya besar keluarga Kim.

"Sebenarnya saya pribadi bingung mengapa siswa berprestasi sepertimu program beasiswanya bisa dicabut. Namun maafkan saya Minseok. Saya tidak bisa berbuat banyak karena ini merupakan keputusan pemilik sekolah. Saya hanya menjalankan perintah yang diamanatkan kepada saya. Dan isi dari perintah tersebut adalah untuk mencabut program beasiswa yang kau terima. Sekali lagi maafkan saya Minseok. Sungguh aku ingin membantu tapi ini di luar kuasaku."

Xiumin menahan air mata yang berlomba – lomba ingin keluar dari kedua indera penglihatannya. Mengapa dia bisa menerima nasib seburuk ini hanya karena dia dekat dengan Chen? Xiumin semakin merasakan jika dunia ini tidak adil kepada kehidupannya.

"Bagaimana pak? Apakah bapak bisa memberikan solusi kepada saja sehingga saya tidak perlu keluar dari sekolah ini." tanya Xiumin.

"Sebenarnya ada satu cara agar kau tidak keluar dari sekolah ini Minseok. Tapi ini satu syarat yang sangat berat bagimu."

"Apa itu pak? Saya akan berusaha keras agar tidak di keluarkan dari sekolah ini."

"Kau harus membayar biaya sekolah mu secara mandiri. Pemilik sekolah tidak memerintahkan untuk mengeluarkanmu dari sekolah. Beliau hanya meminta agar program beasiswamu di cabut. Jadi kalau kau bisa membayar biaya sekolah kau akan tetap menjadi siswa di XOXO High School ini. Tetapi sebaliknya jika kau tidak bisa membayarnya maka kami pihak sekolah akan terpaksa mengeluarkanmu Kim Minseok. Aku akan memberimu batas waktu sampai satu minggu Minseok. Dan jika sampai batas waktu tersebut kau belum melunasi biaya sekolah, maka kau harus keluar dari sekolah ini."

"Tetapi bagaimana saya bisa membayar sebanyak itu hanya dalam waktu satu minggu Pak?"

"Maafkan aku Minseok, aku hanya bisa memberikan kelonggaran waktu selama satu minggu kepadamu. Cuma hal yang bisa kulakukan untuk membantumu."

"Baiklah bapak, saya mohon untur diri. Permisi"

Dengan langkah gontai, Xiumin keluar dari ruang kepala sekolah. Pikiran Xiumin mendadak kosong. Dia tidak tahu dengan cara apa dia bisa membayar uang sekolah yang tidak sedikit tersebut. Jika hanya mengandalkan gajinya sebagai barista tentu saja itu tidak akan cukup. Xiumin menghela nafas lelah, jika keadaan seperti ini maka dia harus mencari pekerjaan paruh waktu kembali untuk menambah penghasilannya.

.

.

.

.

.

.

Niat awal Kris adalah untuk menuju ke halaman atap sekolah, menghindari mata pelajaran fisika yang terasa begitu memuakkan baginya. Namun niatnya harus terhenti kala dia melihat orang yang dicintai sahabatnya memasuki ruang kepala sekolah. Rasa penasaran memenuhi benaknya sehingga niatnya untuk pergi ke atap sekolah harus dia lupakan. Dengan langkah hati – hati dia berusaha menguping pembicaraan yang terjadi diantara kepala sekolah dengan Xiumin.

Kris tertegun saat dia menguping pembicaraan di ruang kepala sekolah tersebut. Bagaimana bisa beasiswa Xiumin tiba – tiba dicabut begitu saja? Pertanyaan itulah yang menghantui benak Kris. Kris sebenarnya bukan termasuk pribadi yang suka ikut campur dengan kehidupan orang lain. Dia merupakan pribadi yang menjunjung tinggi privasi seseorang. Namun pengecualian untuk kasus yang satu ini. Dia harus mengetahui alasan yang sebenarnya kenapa beasiswa Xiumin sampai di cabut. Setahunya, Xiumin termasuk murid paling berprestasi di XOXO High School dan dia tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar peraturan sekolah. Karena ini juga berhubungan dengan kebahagiaan sahabatnya, Chen maka Kris akan berusaha menguak fakta yang sebenarnya.

Kris bersembunyi di balik dinding yang terdapat di samping ruang kepala sekolah ketika dia melihat Xiumin keluar dari ruang itu. Setelah memastikan Xiumin tidak mengetahui keberadaannya, Kris memasuki ruang kepala sekolah itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sementara pria paruh baya yang menjabat sebagai kepala sekolah tersebut menghela nafas saat mengetahui Kris masuk de dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Seharusnya kau mengetuk pintu terlebih dahulu. Mana sopan santunmu?" tanya kepala sekolah bernama Wu Tan Ling tersebut.

"Mengapa baba mencabut beasiswa Kim Minseok?" bukannya menjawab pertanyaan kepala sekolah Kris malah bertanya kembali kepada kepala sekolah sekaligus ayah kandungnya tersebut.

"Kau mengenal Kim Minseok? Bagaimana kau bisa mengenalnya? Bukannya selama ini teman – temanmu hanya dari kalangan atas?" tanya ayahnya heran.

"Tidak penting bagaimana aku bisa kenal dengan Minseok. Yang jelas baba harus menceritakan segalanya kepadaku mengapa beasiswa Minseok sampai dicabut?"

"Aku tidak tahu alasan yang sebenarnya mengapa beasiswa Kim Minseok bisa dicabut. Aku hanya melaksanakan perintah dari Seul Bi bahwa beasiswa Minseok harus di cabut."

"Bagaimana baba bisa melakukan hal itu kepada temanku? Sekarang Minseok harus sekolah di mana jika dia dikeluarkan dari XOXO High School."

"Seul Bi tidak mengatakan akan mengeluarkan Minseok. Dia hanya mengatakan bahwa beasiswanya dicabut. Maka aku memberikan kesempatan kepadanya untuk melunasi biaya pendidikannya dalam waktu satu minggu ke depan. Jika dalam waktu satu minggu dia tidak bisa melunasi uang sekolah dengan terpaksa aku akan mengeluarkan dia dari sekolah ini."

Kris tidak lagi merasa heran jika ibu Chen ada di balik peristiwa di cabutnya beasiswa Xiumin. Saat mendengar cerita dari Chen dulu dia sudah bisa menebak jika ibu Chen tidak menghendaki Xiumin dekat dengan anaknya. Kris berlari meninggalkan ruang kepala sekolah tanpa berpamitan dengan pemilik ruangan. Kris harus segera menemukan Chen dan menceritakan semua yang dia ketahui kepada Chen.

Langkah kaki panjang Kris akhirnya terhenti di kantin sekolah. Di sanalah dia melihat teman – temannya sedang berkumpul untuk menghabiskan waktu sambil menunggu waktu istirahat tiba. Ternyata tidak hanya Kris yang membolos di saat jam pelajaran melainkan teman – temannya juga melakukan hal yang sama. Sesampainya Kris di hadapan teman – temannya tidak ada yang menyadari kehadiran namja jangkung tersebut karena temannya terlalu sibuk dengan urusan masing – masing. Merasa jengkel karena diabaikan Kris menggebrak meja kantin dan itu sukses merebut perhatian dari teman – temannya.

"Kenapa kau menggebrak meja? Kau ingin kami semua jantungan eoh?" maki Chen dan di amini oleh teman – temannya yang lain. Bagaimana tidak merasa kaget jika sedang serius tiba – tiba terdengar suara gebrakan meja.

"Sekarang bukan waktunya untuk protes. Chen aku punya kabar penting untukmu. Ini ada hubungannya dengan Xiumin."

Mendengar nama Xiumin disebut tentu saja membuat Chen mengaihkan perhatiannya ke Kris.

"Ada apa dengan Xiumin hyung? Apa terjadi sesuatu yang buruk kepadanya?" tanya Chen yang tidak bisa menutupi raut penasaran di wajahnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Chen kini mulai merasa khawatir terhadap sosok yang dicintainya tersebut.

"Iya berita buruk Chen. Beasiswa Xiumin dicabut oleh kepala sekolah."

"MWORAGO? Bagaimana bisa?" teriak mereka hampir bersamaan. Bukan hanya Chen saja yang merasa terkejut dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Kris.

"Aku baru saja bertanya kepada baba mengapa beasiswa Xiumin di cabut dan baba bilang dia hanya menjalankan perintah dari ibumu Chen."

"Eomma?" tanya Chen tak percaya.

"Ne eommamu yang menyuruh babaku untuk menghentikan beasiswa Xiumin. Tapi babaku masih memberikan waktu selama satu minggu kepada Xiumin untuk melunasi biaya sekolah. Jika dalam satu minggu Xiumin tidak bisa melunasi itu, dia akan dikeluarkan dari sekolah."

Chen langsung pergi meninggalkan teman – temannya. Dia berlari seperti orang kesetanan menuju ke halaman parkir dan segera membawa mobil kesayangannya itu pergi dari sekolah. Saat ini hanya satu orang yang ingin ditemuinya yaitu ibunya.

.

.

.

.

.

.

Aktivitas di kediaman keluarga Kim langsung terhenti tatkala penghuni rumah mendengar suara kerasnya bantingan pintu. Seluruh maid yang bekerja di rumah mewah tersebut langsung berbondong – bondong berlari ke arah sumber suara. Tepat di pintu depan yang menjadi saksi kemarahan anak dari pemilik rumah. Melihat Chen marah secara otomatis membuat seluruh maid ketakutan. Mereka tidak pernah melihat Chen semarah ini sebelumnya. Dengan nafas yang memburu, Chen berteriak memecah keheningan dan membuat suasana di rumah itu semakin mencekam.

"DIMANA EOMMAKU?" teriak Chen jejeran maid yang berada di hadapannya. Salah seorang maid tersebut menunjuk ke arah lantai dua. Tanpa perlu mendengar penjelasan dari maidnya, Chen sudah mengerti apa maksudnya. Kamar eommanya terletak di lantai dua, sudah dapat dipastikan bahwa eommanya sekarang tengah berada di kamar. Chen langsung membuka pintu kamar eommanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal itu tentu saja membuat eomma Chen merasa kaget. Sebelum eommanya menyuarakan protes, Chen terlebih dahulu menyela perkataan eommanya.

"Apa yang sudah eomma lakukan kepada Xiumin?"

"Oh si miskin itu? Eomma hanya berusaha untuk menghilangkan dia dari kehidupanmu sayang."

"MWO? KENAPA EOMMA TEGA MELAKUKAN HAL ITU KEPADA ORANG YANG KU CINTAI?"

Rasa amarah sudah menguasai seluruh tubuh Chen. Sehingga tanpa disadarinya dia membentak wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Kim Seul Bi menunjukkan raut terkejut yang tidak bisa disembunyikannya. Dia tidak menyangka jika darah dagingnya sendiri berani membentaknya hanya karena pemuda miskin bernama Kim Minseok.

"Kim Jongdae beraninya kau berteriak kepada ibumu hanya karena pemuda miskin itu."

"Berhenti menghinanya eomma. Aku tidak akan membiarkan eomma menganggu kehidupan orang yang kucintai."

"Eoh jadi begitu. Haruskah eomma merasa terharu mendengar perkataanmu itu Chen. Jawabannya adalah tidak. Eomma akan melakukan segalanya agar dia menjauh dari kehidupanmu."

"Eomma tidak bisa melakukan ini kepadaku. Tidakkah eomma tahu bahwa aku sangat mencintainya. Dialah hidupku, dialah nafasku, dia segalanya bagiku eomma. Salahkah jika aku sangat mencintainya? Aku hanya ingin berbahagia dengan orang yang kucintai. Keinginanku hanya sederhana eomma, kumohon jangan ganggu Xiumin hyung dan biarkan aku berbahagia dengan berada di sisinya."

Chen berusaha keras mengendalikan emosinya. Dirinya menyadari jika dia terus mengandalkan emosinya maka pertengkaran dengan ibunya tidak akan terhindarkan. Maka dari itu, Chen berusaha memohon kepada ibunya agar beliau tidak mengganggu kehidupan Xiumin. Berharap ibunya akan luluh dengan permintaannya.

"Tidak eomma tidak menyetujuinya. Eomma akan melakukan cara apapun agar dia menjauhimu."

"Bukan dia yang mendekatiku eomma aku yang selama ini mengejarnya. Jadi berhentilah menyalahkan dirinya karena Xiumin hyung tidak salah apapun."

"Kalau begitu jauhilah dia. Apa kata orang – orang jika pewaris utama keluarga Kim menjalin hubungan dengan pria tidak jelas sepertinya."

"Persetan dengan anggapan orang – orang. Mereka tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya eomma. Kumohon eomma keinginanku hanya sederhana jangan ganggu kehidupan Xiumin hyung, biarkan aku mencintai dan berada di sisinya. Kumohon eomma hanya itu yang kumau. Aku, anakmu sangat mencintainya eomma. Dan aku memilihnya untuk menjadi pendamping hidupku."

"Tidak keputusan eomma sudah bulat. Sadarlah Chen perasaanmu kepada Xiumin hanya semu. Rasa cintamu itu hanya sementara. Percayalah kepada eomma kau bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik daripadanya."

"Eomma salah rasa cintaku kepadanya sangatlah tulus. Baiklah jika eomma tetap keras kepala aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan memperjuangkan cintaku dan membuktikan kepada eomma bahwa cintaku kepada Xiumin hyung bukanlah cinta semu."

"Kim Jongdae kau tidak bisa melakukan ini kepada eomma. KIM JONGDAE KEMBALILAH. KAU AKAN MENJADI ANAK DURHAKA JIKA KAU LEBIH MEMILIH NAMJA MURAHAN ITU."

Chen meninggalkan rumah mewah itu dengan langkah yang mantap. Kali ini keputusan yang Chen buat sudah bulat. Dia akan memperjuangkan cintanya. Meskipun ibunya melarang rasa cintanya namun hal itu tidak menjadi penghalang baginya. Chen akan membuktikan kepada keluarganya bahwa rasa cintanya terlalu besar untuk Xiumin. Setelah dirinya keluar dari gerbang rumah itu perjuangan Chen yang sesungguhnya baru saja dimulai.

.

.

.

.

.

.

Xiumin menghempaskan tubuhnya di kursi. Tubuhnya serasa remuk saat ini, karena hari ini weekend tentu saja pengunjung di MAMA café membludak. Ditambah lagi sebelum bekerja, Xiumin mencoba peruntungannya dengan melamar sebagai pekerja part time di beberapa tempat. Namun sayangnya dewi fortuna masih belum memihak kepada Xiumin. Dari sekian banyak tempat yang dia datangi tidak ada satu pun yang menerimanya sebagai pekerja part time. Xiumin mengacak rambutnya frustasi, dia merasa stress karena kejadian tadi pagi yang dialaminya di sekolah. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan uang untuk melunasi biaya sekolahnya.

Setelah merasakan kelelahan mulai menghilang di tubuhnya, Xiumin membuka koran yang tadi dibelinya sepulang sekolah. Dia membuka kolom lowongan pekerjaan dan mulai mencari pekerjaan yang mungkin cocok dengannya. Usianya yang masih pelajar menyulitkan dia untuk mendapatkan sebuah perkerjaan. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangatnya. Xiumin bukanlah tipe orang yang mudah menyerah sebelum mencobanya. Dan kali ini dia berharap dewi fortuna berada di pihaknya. Ketika sedang serius mencari lowongan pekerjaan di koran, Xiumin merasakan ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda ada panggilan masuk. Xiumin melihat ID Luhan yang tertera di ponselnya lalu dia menerima telepon.

"Yoboseyo gege. Mengapa gege meneleponku?" tanya Xiumin.

"Apakah pekerjaanmu hari ini sudah selesai? Aku berencana akan menjemputmu dan mengajakmu untuk makan malam bersama. Bagaimana apakah kau menerima tawaranku?"

"Menjemputku? Apakah kau sudah benar – benar sembuh gege?"

"Benar Minnie jika aku belum sembuh maka aku tidak akan menjemputmu. Bagaimana apakah kau menerima tawaranku?"

"Baiklah jemput aku 30 menit lagi gege. Aku masih harus membersihkan café ini sebelum pulang."

"Aku sudah dalam perjalanan dan 10 menit lagi aku akan sampai. Aku akan menunggumu di café saja. Boleh?"

"Baiklah. Sampai jumpa lagi gege."

Setelah Luhan memutuskan sambungan telepon, Xiumin beranjak dari tempat duduknya dan mulai membersihkan café yang sudah tutup sejak 20 menit yang lalu. Sesuai dengan waktu yang dijanjikan oleh Luhan tadi, tepat 10 menit kemudian Luhan sudah sampai di café tempat Xiumin bekerja. Melihat Xiumin yang belum menyelesaikan pekerjaannya membuat Luhan berinisiatif untuk membantu. Luhan mengambil sapu yang tersedia di pojok ruangan lalu mulai menyapu lantai. Xiumin yang baru menyadari kehadiran Luhan langsung membulatkan matanya horor kala dia melihat Luhan sedang menyapu.

"Gege sejak kapan gege datang?" tanya Xiumin lalu bergegas menghampiri Luhan.

"Aku baru saja datang. Tapi kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu Minnie sehingga kau tidak memperhatikan jika aku sudah datang." Jawab Luhan diiringi dengan senyuman bak malaikat yang membuat siapapun merasa terpesona.

"Seharusnya kau langsung duduk saja di tempat biasa kau menungguku. Tidak perlu kau membantu pekerjaanku gege."

"Aku hanya ingin membantumu supaya kau bisa langsung beristirahat di rumahmu. Apakah tindakanku salah?"

"Tentu saja. Ya Tuhan bahkan wajahmu saja masih pucat. Bagaimana jika kesehatanmu memburuk jika melakukan pekerjaan yang berat. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan yang membuat tubuhmu lelah gege. Kau harus istirahat. Berikan sapu itu kepadaku, biar aku saja yang melanjutkan menyapunya."

Di dalam hati Luhan merasa amat senang karena orang yang begitu dicintainya mengkhawatirkan kesehatannya. Hatinya terasa menghangat ketika melihat raut wajah penuh kekhawatiran yang ditunjukkan Xiumin untuknya.

"Tapi aku hanya ingin memban…" belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya namun Xiumin sudah menyelanya.

"Aku tidak menerima penolakan gege. Aku tidak mau jika fisikmu sampai drop hanya karena kau memaksa untuk membantuku."

Luhan hanya bisa pasrah menerima perintah dari Xiumin. Jika dia tetap memaksa membantu Xiumin maka konsekuensi yang harus diterimanya adalah dirinya yang akan di diamkan oleh Xiumin selama seminggu. Tentu saja dia tidak akan membuat keputusan bodoh yang berakhir dengan di diamkan oleh orang yang dicintainya. Akhirnya dia memilih menunggu Xiumin menyelesaikan pekerjaannya, lalu mereka akan makan bersama.

.

.

.

.

.

.

Xiumin tidak bisa lagi menyembunyikan kekagumannya terhadap desain dari restoran yang di datanginya bersama Luhan sekarang. Xiumin baru pertama kali ini memasuki restoran semewah ini. Restoran La Petite merupakan salah satu restoran Perancis yang paling terkenal di kawasan Seoul. Maka tidaklah heran jika desain interior di restoran ini mampu membuat Xiumin menganga takjub. Salah seorang maid mengantarkan mereka ke meja yang terletak di lantai dua restoran tersebut. Ketika sampai di lantai ke dua, Xiumin semakin dibuat terkagum dengan apa yang dilihat oleh indera penglihatannya. Mereka di arahkan ke salah satu meja yang terletak di sebelah selatan restoran dan di sampingnya terdapat pemandangan menakjubkan kota Seoul pada malam hari. Pemandangan yang spektakuler ditambah interior restoran bertemakan suasana Perancis abad pertengahan membuat restoran ini semakin high class. Setelah duduk seorang maid menyerahkan menu kepada mereka dan Xiumin membiarkan Luhan memilihkan menu apa yang akan dimakannya. Jujur ini pertama kalinya bagi Xiumin berkunjung ke restoran Perancis jadi dia sama sekali awam dengan masakan dari negeri menara Eifel tersebut.

"Kau sepertinya menyukai tempat ini, Minnie"tanya Luhan membuka percakapan setelah maid itu selesai mencatat pesanan mereka.

"Kau bercanda gege. Mustahil jika ada orang yang tidak menyukai tempat ini. Kau tahu sudah sejak lama aku bermimpi bisa makan malam di restoran semewah ini. Xie – xie gege. Bagaimana kau bisa berhasil mendapatkan tempat pada jam makan malam seperti ini? Setahuku antrian tamu yang ingin reservasi pada jam makan malam seperti ini akan sangat panjang."

Tentu saja aku bisa langsung mereservasi tempat ini karena akulah pemiliknya. Aku langsung membeli restoran ini begitu mengetahui jika kau sangat menyukai restoran ini Xiumin. "Aku hanya meminta sedikit bantuan temanku. Maka itu kita dipermudah untuk melakukan reservasi." Jawab Luhan sambil mengulum senyum, berharap bahwa Xiumin tidak akan menyadari sedikit kebohongannya.

"Wah kau beruntung sekali mengenal teman sebaik itu. Aku jadi iri denganmu." Kekeh Xiumin.

"Jika kau ingin pergi ke restoran ini katakan kepadaku. Aku akan mengabulkan keinginanmu."

"Tentu saja kau kan ibu periku. Kajja kita makan. Cacing di perutku sudah meronta ingin diberi makan."

Rencana awal Luhan adalah setelah mereka makan malam bersama, dia akan mengantarkan Xiumin pulang. Namun hal itu urung terjadi ketika namja mungil tersebut memintanya untuk jalan – jalan sebentar di taman kota untuk melepaskan penat. Luhan pun menuruti keinginan Xiumin, baginya apapun permintaan Xiumin sudah seperti kewajiban baginya untuk menurutinya. Saat ini mereka berdua tengah duduk sambil menikmati indahnya langit malam kota Seoul. Beruntung karena cuaca hari ini tidak mendung sehingga mereka dapat melihat bintang – bintang bertaburan di langit sana.

Xiumin mendesah pelan lalu meminum kopi panasnya perlahan. Meskipun cuaca malam ini menakjubkan berbanding terbalik dengan wajah Xiumin yang terlihat mendung. Luhan menyadari jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa Xiumin. Rasa khawatir pun tidak dapat Luhan hindari ketika melihat keadaan Xiumin yang seperti ini.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Luhan.

"Emm. Anni aku baik – baik saja gege."

"Gotjimal. Pasti sudah terjadi sesuatu kepadamu. Jika tidak terjadi apapun, kau tidak mungkin mengajakku ke taman. Itu sudah menjadi kebiasaanmu jika kau sedang mengalami masalah. Kau selalu ingin menenangkan diri di taman."

"Kau memang selalu mengerti diriku gege."

Luhan meraih kedua tangan Xiumin dan meremasnya pelan. Memberikan kekuatan tak kasat mata kepada Xiumin untuk membagi permasalahan yang dihadapinya. Xiumin merasa lebih tenang saat ini. Hal itulah yang selalu dia rasakan jika berada di dekat Luhan.

"Program beasiswaku dicabut oleh pihak sekolah gege."

"Ba… bagaimana bisa? Aku bersumpah jika kau tidak pernah melakukan hal buruk yang dapat mencemarkan nama baik sekolah."

"Entahlah mungkin ini ada hubungannya dengan Chen."

"Chen?"

Jujur Luhan sangat terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Xiumin. Apakah Chen dalang dibalik masalah yang menimpa Xiumin? Itulah pertanyaan yang berada di benak Luhan. Jika hal itu benar adanya, Luhan bersumpah dia tidak akan memaafkan Chen. Tanpa disadari oleh Luhan kedua tangannya terkepal erat menahan amarah yang membakar tubuhnya.

"Ibu Chen tidak menyukai jika aku berhubungan dengan anaknya. Maka, beliau melakukan segala cara agar aku tidak mendekati Chen lagi. Dia mengancamku jika aku masih tetap dekat dengan Chen. Aku sudah berusaha untuk menghindari Chen. Namun, kau tahu sendiri gege jika Chen-lah yang selalu mendekatiku. Ibu Chen murka dan dia mulai menjalankan rencana untuk menghancurkan kehidupanku. Hal pertama yang dilakukannya adalah mencabut program beasiswaku di sekolah. Itu bisa dilakukannya karena dialah pemilik yayasan sekolahku. Entahlah setelah ini apa lagi yang dia lakukan untuk menghancurkan hidupku gege."

Tubuh Luhan menengang dan wajahnya berubah pucat pasi mendengar cerita Xiumin. Dia tidak menyangka jika orang yang dicintainya akan mengalami masalah sepelik ini. Luhan bisa melihat bahu Xiumin yang bergetar. Jiwa Luhan serasa ditikam belati melihat Xiumin seterpuruk ini. Xiumin yang dikenalnya adalah pribadi yang panjang menyerah dan kuat. Jika sampai dia menangis dihadapannya, maka beban yang dipikul oleh Xiumin amatlah berat. Karena tidak tega dengan keadaan Xiumin saat ini, Luhan berinisiatif menenangkan hati Xiumin dengan pelukannya.

"Stt…kau bisa mengandalkanku Minnie. Jangan khawatir aku akan selalu berada di sampingmu. Menjagamu dan selalu melindungimu."

Saat ini Xiumin meluapkan segala perasaan menyesakkan yang dipendamnya. Dalam pelukan Luhanlah, Xiumin bisa melepaskan semuanya. Xiumin sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikannya kesempatan untuk mengenal Luhan, guardian angel-nya.

.

.

.

.

.

.

Kris menghela nafas ketika melihat keadaan sahabatnya yang terkesan berantakan itu. Tadi sore tiba – tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Chen di depan pintu apartemennya. Kris tahu jika sahabatnya itu sedang kacau saat ini. Karena Chen akan selalu datang ke apartemennya jika dia merasa tidak mampu menghadapi masalahnya seorang diri. Menurut Chen, diantara sahabatnya yang lain Kris-lah yang mempunyai sifat lebih dewasa. Kris berjalan menghampiri Chen yang sedari tadi masih duduk termenung menatap pemandangan di luar kaca jendela. Dia menyerahkan soda dingin kepada Chen lalu duduk di sebelahnya.

"Apa rencana yang sedang kau pikirkan saat ini?" Kris memutuskan untuk bertanya setelah mendapati Chen sedari tadi hanya duduk termenung.

"Entahlah. Yang pasti aku tidak akan membiarkan Xiumin di keluarkan dari sekolah."

"Kau sudah membicarakan masalah ini dengan ibumu?"

"Sudah dan seperti yang kuprediksikan dia menolak untuk mencabut keputusannnya. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi dari rumah."

"Apa? Kau kabur dari rumah? Apakah kau sudah gila"

"Aku rela melakukan apapun demi kebaikan Xiumin, Kris. Dialah hidupku. Aku rela melepaskan segalanya termasuk kekayaanku demi bisa bersama Xiumin."

"Lalu kau akan melakukan apa untuk membantunya?"

"Aku akan mencari pekerjaan untuk membantu membiayai sekolah Xiumin."

"Mengapa kau melakukan hal itu? Bukankah lebih mudah jika kau meminta uang kepada orang tuamu untuk membayar biaya sekolah Xiumin?"

"Tidak, aku akan berusaha mencari uang dengan keringat dan jerih payahku sendiri."

"Kau sudah banyak berubah Chen dan aku bangga akan hal itu."

"Gomawo Kris, dukunganmu sangat berarti bagiku."

"Jadi di mana saat ini kau akan tinggal? Kau bisa tinggal disini selama kau mau."

"Tidak Kris aku tidak mau lagi menjadi beban orang lain. Aku akan belajar menjadi sosok mandiri. Aku akan menyewa rumah dan memulai mencari pekerjaan paruh waktu."

Kris merasa terharu dengan perubahan sikap yang dialami Chen. Sebagai sahabat yang mengenalnya sejak kecil, Kris sangat mengetahui watak Chen. Dulu Chen merupakan sosok pemuda angkuh dan penuh keegoisan kerena sejak kecil dia sudah dimanjakan dengan harta yang melimpah. Tetapi semenjak dia mengenal sosok Xiumin Chen berubah menjadi manusia yang lebih baik. Kris berdoa semoga ketulusan cinta Chen untuk Xiumin membuahkan hasil.

.

.

.

.

.

.

Bel pulang sekolah seakan menjadi surga bagi para siswa XOXO High School. Dengan terdengarnya bel tersebut semua siswa terbebas dari pelajaran yang membuat otak mereka bekerja keras. Chen langsung melesat pergi meninggalkan sekolah. Meninggalkan teman – temannya (kecuali Kris) yang memandang kepergian Chen dengan tatapan heran. Chen memacu mobil mewahnya ke sebuah toko mobil. Dia merencanakan untuk menjual mobil kesayangannya tersebut. Setelah berhasil menjual mobilnya, Chen pergi mencari rumah sewa. Chen sengaja ingin menyewa rumah di dekat apartemen Xiumin agar dia bisa leluasa mengawasinya.

Setelah negosiasi yang lumayan panjang akhirnya Chen mendapatkan rumah sewa yang jaraknya dekat dengan apartemen Xiumin. Rumah sewanya berada tepat di depan apartemen milik Xiumin. Luas rumah yang disewanya ini keadaannya sangat jauh berbeda dengan rumahnya. Bahkan kamar tidurnya lebih besar dan mewah daripada rumah sewa itu. Namun itulah resiko yang harus diambil oleh Chen ketika dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Mulai sekarang dia harus belajar hidup mandiri dan memulai semuanya dari nol. Sekarang yang menjadi prioritasnya adalah mendapatkan uang untuk membayar biaya sekolah Xiumin. Sebenarnya bisa saja Chen meminta uang kepada orang tuanya tanpa harus repot – repot banting tulang demi mengais uang. Namun ketika mengingat jika Xiumin tidak menyukainya, maka niat itu dia urungkan. Lagipula dia ingin membantu Xiumin dari hasil jerih payahnya sendiri. Selesai merapikan tempat tinggalnya, Chen memutuskan untuk pergi mencari pekerjaan.

Teriknya sinar matahari tidak menyurutkan langkah Chen untuk mencari pekerjaan. Entahlah sudah berapa tempat yang sudah dia datangi tetapi tidak ada satupun yang membuahkan hasil. Saat rasa lelah melanda, Chen akan membayangkan wajah Xiumin dan hal tersebut memberikan energi berlebih kepada Xiumin. Karena perutnya yang mulai meronta meminta diisi, Chen memutuskan untuk berhenti sejenak dan membeli makan. Chen memasuki sebuah kedai ramen sederhana. Awalnya Chen merasa kikuk harus makan di tempat sesederhana ini karena ini pertama kalinya Chen makan di restoran yang bukan bintang lima. Mulai sekarang Chen juga harus belajar hidup sederhana, maka itu kali ini dia hanya memesan semangkuk ramen dan segelas air putih. Setelah menu yang dipesannya datang, Chen menatap miris menu makannya. Jika dibandingkan dengan menu makannnya sehari – hari maka makanan ini tidak layak di hidangkan di rumahnya. Namun apa boleh buat karena inilah resiko yang harus diambilnya.

Sepuluh menit kemudian Chen telah selesai makan, ketika akan meninggalkan restoran itu langkahnya di hadang oleh seseorang. Mulanya Chen tidak mengerti mengapa laki-laki di hadapannya ini menghadang langkahnya. Namun setelah dia menjelaskan bahwa saat ini dia membutuhkan seorang pegawai untuk bekerja di café barunya Chen pun tidak kuasa untuk menolak. Chen merasa sangat beruntung karena belum ada satu hari dia mencari pekerjaan sudah ada lowongan pekerjaan untuk dirinya. Meskipun dia harus menjadi badut yang memakai kostum mascot dari café tersebut itu bukanlah masalah. Asalkan dia bisa mencari uang dengan keringatnya sendiri.

Chen pulang ke rumah setelah menandatangani kontrak dengan tuan Han – laki-laki yang menawarkan pekerjaan tadi-. Langkahnya terhenti di depan pintu rumahnya saat dia melihat mobil mewah berhenti tepat di seberang rumahnya. Tangan Chen mengepal erat saat mengetahui siapa orang yang keluar dari mobil tersebut. Tepat di seberang sana kedua nertanya menatap penuh kecemburuan terhadap interaksi antara Xiumin dan

Luhan

Lagi – lagi nama tersebut yang menjadi momok bagi Chen. Luhanlah yang selama ini menjadi batu sandungannya, penghalang terbesarnya dalam mendapatkan hati Xiumin. sebenarnya Chen sangat ingin menghampiri mereka dan menarik paksa Xiumin agar dia menjauhi Luhan. Namun jika dia mengikuti keinginan egoisnya, Xiumin akan membenci Chen. Itu adalah hal terakhir yang diinginkan Chen dari Xiumin.

Luhan keluar dari mobilnya lalu bergegas membukakan pintu untuk Xiumin. Saat Xiumin ingin berpamitan danmengucapkan terima kasih kepada Luhan, dia merasakan kehangatan yang menyelimuti tubuhnya. Jantung Xiumin berdegup ketika merasakan bahwa penyebab tubuhnya menjadi hangat adalah karena Luhan saat ini yang tengah memeluk Xiumin.

"Jangan lagi kau pikirkan masalah ini. Kau tahu hatiku serasa di tikam sembilu ketika melihat ekspresi terluka yang ada di wajahmu. Aku akan membantumu Minnie. Aku akan melakukan segalanya untukmu."

Xiumin bisa merasakan ketulusan Luhan melalui untaian kalimat yang dilontarkannya. Xiumin menggeleng perlahan dalam dekapan Luhan. Merasa tidak setuju dengan perkataan Luhan tadi.

"Tidak gege, kau tidak perlu membantuku. Aku yakin bahwa aku bisa melewati semua ini. percayalah kepadaku."

Luhan tampak akan memprotes apa yang dikatakan Xiumin. Namun sebelum kata – kata itu keluar, Xiumin sudah terlebih dahulu menyelanya.

"Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu maka dari itu kumohon kau tidak perlu membantuku kali ini gege. Aku takut masalah ini akan semakin rumit jika kau ikut campur."

Menghela nafasnya lelah, Luhan hanya bisa mengangguk menyanggupi perkataan Xiumin. Luhan hanya bermaksud menenangkan Xiumin saat ini. Di kepalanya saat ini sudah tersusun rencana yang akan dilakukannya untuk membantu Xiumin. Bagaimanapun juga dia tidak akan pernah membiarkan siapapun mempermainkan orang yang dicintainya.

Chen memalingkan wajahnya dan berangsur – angsur pergi memasuki kediamannya. Dia tidak sanggup lagi melihat Luhan yang tengah memeluk Xiumin dengan begitu eratnya. Tubuhnya merosot jatuh kebawah tepat ketika dia menutup pintu rumahnya, Hatinya sakit, jiwanya terluka, seakan dia sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Mengapa harus Luhan? Mengapa selalu dia yang menjadi sandaran Xiumin dalam menghadapi semua masalahnya?

Mengapa bukan aku yang kau pilih menjadi sandaranmu Xiumin?

(TBC/END)

Hallo akhirnya saya mempunyai waktu untuk mengupdate setiap ff saya. Saya mohon maaf jika kelanjutan setiap fan fiction yang saya buat kelanjutannya sangat lama. Tapi saya tetap akan melanjutkan setiap ff karya saya, jadi jangan khawatir jika saya tidak akan melanjutkan semua ff saya.

Jadi bagaimana pendapat reader mengenai chap ini? Silahkan kirimkan komentar kalian di review ya.

Terima kasih banyak bagi reader yang sudah menunggu lama untuk kelanjutan setiap ff saya. Saya harap kalian masih setia menunggu setiap kelanjutan ff saya.

See you in next chap

Special thanks to:

HappyHeichou, winter park chanchan, shiningxiu, firda-xmin, HZakeea, SilentB, V3, XIUDO30, ChenMin EX-Ochy, GitARMY, Iqshof