[D.I.S.C.L.A.I.M.E.R.]

The story belongs to the real author. I just remaked it into Chanbaek version.

.

.

.

Story by Baek Myo

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

.

Sorry for typo (s)

Happy reading d (^_^) b

.

.

.

EPISODE 9

BAEKHYUN sudah sering mendengar orang memuji kecantikannya. Bahkan ia juga pernah mendengar orang menyebutnya imut dan seksi. Tetapi ini baru pertama kalinya seseorang menatap langsung ke matanya dan bilang "Kau kan cewek!".

Bagi Baekhyun, hanya ada satu hal yang penting. Belajar sungguh-sungguh supaya mendapat nilai bagus dan bisa masuk universitas. Kemudian menjadi dokter hewan, menghasilkan uang, dan pindah rumah.

Walaupun sering mendengar orang di sekitarnya memuji-muji betapa cantik dirinya, walaupun diam-diam medapat pernyataan cinta dari banyak laki-laki, Baekhyun tidak pernah merasakan jantungnya berdebar-debar atau merasa senang. Karena itulah, ucapan Chanyeol itu sangat berkesan baginya.

Baekhyun tidak tahu bagaimana liburan di Thailand ini akan berakhir. Perasaannya berkecamuk terhadap Jongin dan Chanyeol. Yoona selalu membuat masalah, hal yang ia bicarakan dengan Sehun. Samar-samar Baekhyun teringat akan semua itu, tapi yang paling diingatnya adalah mata hitam yang menatapnya lekat-lekat di lobi hotel.

"Ha…"

Mendengar desahan Baekhyun, Ahrim memandangnya dengan khawatir. "Sedang ada masalah?"

"Aah… ada soal matematika yang tidak bisa kuselesaikan."

Baekhyun sadar ia menyukai Chanyeol. Tetapi setelah menyadari perasaannya itu, tetap tidak ada yang berubah. Bagaimana pun ia harus giat belajar, bekerja, dan menabung. Nanti setelah tiga tahun, bukan, sekarang tinggal dua setengah tahun, Baekhyun akan meninggalkan Sky House setelah lulus. Jadi ia tidak punya waktu untuk mengurusi masalah cinta.

"Kau benar-benar rajin. Padahal Direktur Kang pasti akan membantumu."

"Hm… Tuan Putri tidak mau belajar?"

"Tidak. Aku tidak suka belajar. Baekhyun nanti kita pergi berbelanja, yuk."

"Aku harus bekerja."

"Ya ampun, sama sekali tidak asyik."

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

Setelah selesai kelas, Baekhyun pergi ke lapangan parkir. Suho selalu menunggu disana. Baekhyun merasa bersalah setiap kali melihatnya. Walaupun itu memang pekerjaannnya, tetapi jika memikirakn Suho harus menunggu lama sendirian, hati Baekhyun merasa tidak enak.

"Nona." Suho memandang Baekhyun lewat kaca spion saat menyetir menuju tempat kerja paruh waktu Baekhyun.

"Ya?"

"Apakah Nona sedang mencemaskan sesuatu?"

"Ah… sebentar lagi mau ujian…"

"Benarkah?" Suho sepertinya tidak percaya, tetapi ia tidak bertanya lagi. "Kesehatan lebih penting daripada nilai ujian."

"Ya. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

"Ah, hari ini anak anjing Nona sudah boleh keluar dari klinik. Saya akan segera kesana dan membawanya pulang ke Sky House."

"Tolong ya. Oh ya, aku juga harus membeli makanan anjing… Apakah nanti kita bisa pergi bersama-sama?"

"Saya yang akan membelinya."

"Maaf…"

"Nona. Sudah tugas saya membantu Nona."

"Tetap saja, aku harus tetap meminta maaf."

"Tidak perlu minta maaf. Terima kasih saja sudah cukup."

"Baiklah. Terima kasih."

Suho tersenyum. Kalau Suho tersenyum, Baekhyun merasa nyaman seperti berbaring di bawah sinar matahari di musim semi yang hangat. Ia nyaris menceritakan masalahnya dengan Chanyeol tanpa sadar.

Aku harus hati-hati. Jangan sampai aku mengakui semuanya hanya karena terpesona oleh senyum manisnya itu. Begitu kukatakan isi hatiku, segalanya akan menjadi kenyataan.

Baekhyun menggeleng kuat-kuat, berusaha melupakan perkataan yang nyaris diucapkannya.

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

"Enak ya, jadi orang kaya."

Baekhyun sedang memakai seragam ketika Yeonjoo melontarkan perkataan sinis itu.

"Tidak masuk beberapa hari tanpa kabar apapun. Walaupun kesayangan manajer, bukankah sikap seperti itu keterlaluan?"

"Benar. Bukankah dia juga selalu mendapat uang walapun tidak bekerja disini?"

Karyawan lain yang berada di sampin Yeonjoo menimpali perkataannya. Baekhyun pura-pura tidak mendengar sambil memakai seragam kerja. Seragam yang dijahit Sehun sangat rapi, satu jahitanpun tidak copot. Karena merasa berterima kasih pada Sehun, Baekhyun berpikir untuk membelikannya sesuatu dalam perjalanan pulang.

"Kau masuk sekolah Gamseong demi mengejar cucu pemilik Grup Gamseong, bukan?"

"…"

"Enak ya, punya wajah cantik. Tinggal menyabet cowok kaya, langsung bisa hidup senang. Kau tidak bersikap kasar pada cucu pemilik Grup Gamseong kan?"

Baekhyun berbalik menatap Yeonjoo. "Apakah aku pernah bersikap tidak sopan pada Eonni?"

"Kau sedang bersikap tidak sopan sekarang. Kau melotot padaku."

"Apakah aku harus melihat ke arah lain?"

"Apa?"

"Kalau tidak suka aku melotot, berarti aku harus menatap ke arah lain saat berbicara dengan Eonni?"

Plak.

Yeonjoo menampar Baekhyun. Baekhyun sama sekali tidak mengerti kenapa ia ditampar. Kadang-kadang memang ada orang-orang seperti itu. Orang yang tidak bisa mengendalikan diri dan langsung main tampar. Pada saat ia dikucilkan oleh Yoona, ia juga ditampar padahal ia tidak merasa membuat anak-anak lain marah.

Pipi Baekhyun yang semula putih sekarang memerah. Bekas tamparan terlihat di pipinya. Gadis yang tadi berdiri di samping Yeonjoo kaget oleh kelakuan Yeonjoo.

"A… aku pergi dulu," katanya sambil tergesa-gesa keluar.

Tinggal mereka berdua. Baekhyun bertanya-tanya apakah Yeonjoo akan melakukan hal lain untuk menyakitinya. Tetapi Yeonjoo hanya tersenyum mengejek sambil berjalan mendekatinya.

"Byun Baekhyun, kau… aku tidak tahu bagaimana kau biasanya di sekolah, tetapi di sini kau tidak bisa hanya mengandalkan wajah cantik."

"Memangnya Eonni tahu apa yang bisa kuperbuat dengan wajah cantikku?"

"Masih berani melawan." Yeonjoo mengetuk-ngetuk dahi Baekhyun dengan jari. "Jangan macam-macam Byun Baekhyun. Walaupun kau memandang rendah diriku karena kau bersekolah di Gamseong, apakah kau tahu aku berteman dengan siapa?"

"Siapa?"

"Kau pernah dengar Geng KR?"

"…"

"Mereka itu geng motor yang terkenal di lingkungan ini."

Melihat Yeonjoo mengtakan itu dengan penuh kemenangan, tanpa sadar Baekhyun tersenyum geli.

Apaan tuh? Berteman dengan geng motor saja bertingkah sok hebat seperti ini.

Plak. Tidak tahu kenapa Baekhyun tiba-tiba tertawa, Yeonjoo menamparnya sekali lagi.

"Lucu? Lucu ya?"

"…"

"Aw… Marah ya? Dasar…"

Tangan Yeonjoo yang siap menampar Baekhyun lagi tidak sempat mengenai pipinya. Baekhyun mencengkeram pergelangan tangan Yeonjoo, memilinnya, dan mendorong gadis itu ke dinding.

Terdengar suara Yeonjoo yang jatuh terjerembap. Yeonjoo terperangah, membelalak, tidak percaya Baekhyun yang bertubuh kecil mampu melawannya. Dengan matanya yang bulat tajam, Baekhyun balas menatap gadis itu lekat-lekat. Baru kali ini Yeonjoo melihat dan terpaku dengan sorot mata yang begitu dalam dan tajam. Tidak pernah terpikir olehnya Baekhyun sanggup melawannya. Sebodoh apapun, Yeonjoo sadar tidak boleh meremehkan perbedaan dirinya dengan Baekhyun yang ternyata sangat kuat.

Yeonjoo terengah-engah sambil melangkah mundur, tetapi karena tembok ia tidak bisa melarikan diri dari Baekhyun. Sementara selama itu, Baekhyun memperhatikan Yeonjoo tanpa mengatakan apa-apa.

"Ya. Lucu," kata Baekhyun kemudian.

Ia melepaskan tangan Yeonjoo dan berjalan keluar. Setelah Baekhyun keluarpun, Yeonjoo tetap berdiri terpaku. Ia memandang pergelangan tangannya yang sakit, bekas cengkeraman Baekhyun terlihat memerah.

Saat bekerja, Yeonjoo terus menerus mengawasi Baekhyun, tetapi gadis itu bersikap seperti biasa, menjawab panggilan pelanggan dengan senyum ceria.

Sejak pertama kali datang ke tempat ini, Baekhyun sudah terkenal di kalangan pelanggan. Ketika Yeonjoo baru mulai bekerja, para pelanggan langsung marah-marah jika ia melakukan sedikit saja kesalahan. Sebalikanya, jika Baekhyun melakukan kesalahan, mereka hanya tersenyum maklum dan melupakannya. Yeonjoo benci pada Baekhyun gara-gara hal itu, ditambah lagi ia mendengar Baekhyun berpacaran dengan cucu pertama pemilik Grup Gamseong.

Tampangnya saja cantik.

Karena pada dasarnya Baekhyun kurus dan juga tidak tinggi Yeonjoo menyangka gadis itu pasti lemah. Karena hanya menganggap Baekhyun tidak lebih dari gadis berwajah cantik dan mempunyai pacar kaya. Yeonjoo sangat kaget dengan kekuatan yang ditunjukkan gadis itu di ruang ganti.

Kenapa bisa begitu? Padahal kurus begitu…

Teringat tatapan meremehkan yang ditunjukkan Baekhyun padanya, Yeonjoo merasa sangat kesal. Umur gadis itu jauh lebih muda, tetapi kenapa bersikap begitu kurang ajar terhadap kakak seniornya?

Ya, tadi pasti ada yang salah. Tidak mungkin cewek seperti dia bisa sekuat itu.

Yeonjoo pergi ke pojok restoran dan mengeluarkan ponselnya. Ia menelepon temannya yang tergabung dalam Geng KR.

"Halo, ini aku. Kau bisa datang ke tempat kerjaku nanti sekitar jam tiga? Ada cewek yang mau kubalas. Terserah kalian mau apakan dia. Dia cantik lho."

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

"Cakep."

"Dia kan… itu… cucu pemilik Grup Gamseong."

Dari bisikan-bisikan tersebut, kelihatannya Sehun benar-benar populer.

"Ada apa? Bukankah itu Kang Sehun?" tanya Yeonjoo apda karyawan di sampingnya yang terperangah dengan wajah bersemu merah.

"Sepertinya begitu. Benar-benar keren. Ternyata dia tinggi juga ya."

"Hei, kalau mendapat cowok seperti dia, hidup akan lebih menyenangkan."

"Bagaimana kalau kita coba mendekatinya?"

Sehun tersenyum lebar ketika melihat Baekhyun.

Orang itu benar-benar tukang sulap, batin Baekhyun. Suasana di dalam toko langsung berubah hanya dengan senyuman Sehun. Selalu begitu. Kalau sedang bersedih, bila Sehun muncul, perasaan akan menjadi senang. Laki-laki itu memang pencerah suasana.

"Baekhyun." Sehun malambai. Ia mendekati Baekhyun dan merangkul bahu gadis itu dengan akrab.

"Kenapa kau kesini?" tanya Baekhyun, sekujur tubuhnya bergidik merasakan iri orang-orang –terutama wanita-di sekeliling mereka.

Kelihatannya Sehun tidak peduli dengan semua perhatian itu. Ia tersenyum ceria sambil berkata, "Aku ke sini untuk melihat bagaimana Cinderella-ku bekerja. Walaupun tidak capek, kau bisa saja pingsan karena bekerja sampai larut malam."

"Aku tidak akan pingsan."

"Tetap tidak boleh begitu." Tiba-tiba Sehun mendekatkan wajahnya. Matanya bulat seperti anak anjing.

"Kenapa tidak boleh?"

"Walaupun kau sangat kuat, tetap saja kau cewek. Bekerja terlalu keras tidak baik untuk kulit dan kesehatanmu."

"A…!"

Tetap saja cewek.

Mendengar ucapan seperti itu, Baekhyun teringat lagi dengan ekspresi Chanyeol saat mengatakannya di Thailand. Tatapan mata yang tajam. Sedikit jengkel, tapi tatapannya sungguh-sungguh.

"Coba lihat sekarang, wajahmu memerah. Jangan-jangan kau demam." Sehun meras cemas dan menyentuh kening Baekhyun. "Hm. Tidak panas."

"Permisi, ini bukan waktunya Baekhyun bersenang-senang." sela Yeonjoo tajam. Sejak tadi ia sebal melihat Sehun dan Baekhyun mengobrol. Sehun memandang Yeonjoo dengan terkejut. Walaupun wajahnya bersemu merah, ia tetap memberanikan diri berkata, "Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi kau tidak boleh mengganggu pekerjaan kami. Kalau dia tidak bekerja, kami yang akan kesulitan."

"Yeo… Yeonjoo." mungkin karena masih ingin membuat Sehun terkesan, karyawan yang berdiri di samping Yeonjoo. menyentak tangannya. Tetapi Yeonjoo masih saja berbicara.

"Kenapa? Itu kan benar. Lagi pula dia tidak bisa bekerja dengan baik."

"Ha ha ha ha." Mendadak Sehun tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang sedang makan di restoran itu menyadari ketegangan yang terjadi dan memandang ke arah mereka dengan penasaran.

Setelah tertawa untuk sesaat, Sehun berkata dengan riang, "Hei, rupanya kau benar-benar nenek sihir."

Terdengar tawa geli entah darimana. Wajah Yeonjoo langsung memanas, merona semerah lobster rebus.

"A… apa kau bilang?"

"Aku bilang kau nenek sihir. Ha ha ha. Sudah lama sekali aku tidak bertemu cewek jahat seperti ini."

Walaupun yang dibilang Sehun itu terdengar seperti gurauan, Yeonjoo hanya menggigit bibir. Beberapa pelanggan tertawa terbahak-bahak dan air mata mulai menggenangi mata Yeonjoo.

"Jangan menangis. Aku tidak percaya air mata cewek jahat. Yah… aku minta maaf telah menahan Baekhyun yang sedang bekerja. Tapi aku kan memesan banyak makanan sebagai gantinya. Boleh kan? Baekhyun, aku duduk disana. Nanti tolong catat pesananku."

Sehun melambai dan berjalan je tempat kosong di pojok. Yeonjoo mengepalkan tangannya yang gemetar dengan penuh amarah sambil membelalak penuh kebencian ke arah laki-laki itu. Namun, ia tidak bisa melabrak Sehun. Karena jika ia benarni macam-macam, cucu pemilik Grup Gamseong itu mampu membalasnya berkali-kali lipat.

Akhinya Yeonjoo melampiaskan kemarahannya itu ke Baekhyun. Ia menatap gadis itu dengan mata berkilat-kialt. Baekhyun membalas tatapan Yeonjoo dengan ekspresi kosong.

"Byun Baekhyun, kau… mengadu dan menyuruhnya datang?"

"Eonni salah paham…"

"Salah paham? Jangan bergurau. Lihat saja nanti, aku tidak akan melupakan ini."

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

Suho tertidur sebentar di balik kemudi saat menunggu Baekhyun, tetapi ia terbangun mendengar bunyi motor yang berisik. Motor-motor tersebut memenuhi lapangan parkir restoran. Dengan bunyi berisik disertai kobaran api biru kecil, sudah pasti motor-motor tersebut telah diutak-atik.

Apakah mereka geng motor?

Suho sudah hendak menaikkan kaca jendela yang tadi terbuka sedikit saat obrolan pengendara motor itu terdengar olehnya di dalam mobil.

"Secantik apa?"

"Secantik boneka? Byun… apa? Byun Hayeon? Byun Baekhyun?"

"Jadi kita boleh menggunggunya? Apa sih yang sudah diperbuatnya?"

"Bagaimana aku bisa tahu soal itu? Yang pasti dia bekerja disini dan bersikap kurang ajar. Saking kesalnya, Yeonjoo sampai mengumpat."

"Disini banyak orang. Kita bawa dia ke gudang saja. Jangan sampai salah mengenali orang."

Suho mendesah perlahan sambil menutup kaca jendela mobil.

Kenapa geng motor itu mengejar Nona Baekhyun? Yeonjoo… Gadis itukah yang memanggil mereka?

Apapun alasannya, Suho tidak akan membiarkan orang-orang itu menyakiti Baekhyun. Masih ada setengah jam lagi sampai waktu kerja Baekhyun berakhir. Barusan Sehun masuk ke restoran, jadi gadis yang bernama Yeonjoo itu tidak mungkin bisa mengganggu Baekhyun.

Jadi apakah aku yang harus menangani masalah yang disini?

Setelah bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya, Suho meraih ponsel dan menelepon seseorang.

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

Yeonjoo mengulur-ulur waktu. mungkin di depan restoran, Geng Motor KR yang dipanggil Yeonjoo sedang menunggu. Baekhyun, bersiap-siaplah untuk kaget.

Saat Baekhyun keluar, Yeonjoo menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga… Setelah menghitung pelan-pelan sampai seratus, ia keluar restoran. Di depan tidak ada siapa-siapa.

"Aneh. Apakah mereka bersembunyi?" Yeonjoo menelengkan kepala.

Laki-laki berstelan hitam berjaaln mendekatinya. Wajahnya lebih putih dari sinar bulan dan ia memiliki ketampanan yang tidak biasa. Laki-laki itu lebih tampan daripada aktor film manapun, tetapi entah kenapa ia memancarkan kesan menyeramkan sampai Yeonjoo melangkah mundur tanpa sadar.

Laki-laki itu pelan-pelan berjalan mendekat sambil menatap Yeonjoo.

"Si… siapa?" tanya Yeonjoo dengan suara gemetaran takut dengan sorot mata dingin laki-laki itu.

Laki-laki itu menjawab tanpa senyum "Aku pengawal pribadi Nona Byun Baekhyun."

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

"Sangat aneh."

Baekhyun dalam perjalanan pulang dengan naik motor Sehun. Ia menyukai angin yang menyentuh pipinya saat motor melaju cepat. Biasanya ia tidak suka motor karena bunyinya yang berisik, tetapi ia terkadang ingin mencoba naik sepeda motor, asalkan motor tersebut menaati peraturan lalu lintas.

Baekhyun melontarkan pertanyaan tadi saat motor berhenti sejenak. Sehun berbalik menatapnya.

"Apanya?"

"Suho Ajeossi."

"Ada apa dengannya?"

"Dia tidak mungkin menyuruhku pergi terlebih dahulu."

"Percayalah padaku."

"Oppa juga buka tipe orang yang bisa mudah dipercaya."

"Ha! Maksudmu aku tidak bisa diandalkan?"

"Coba Oppa pikir baik-baik."

"Ha ha ha. Kurasa sebenarnya aku lebih lemah dibandingkan dirimu. Tolong lindungi aku, Baekhyun."

"Dasar bodoh."

Begitu masuk ke Sky House, mereka mendengar gonggonngan anjing.

"Ah! Tori!" Baekhyun tertawa riang sambil berlari kea rah suara tersebut. Tori berguling-guling di taman sambil mengibas-ngibaskan ekor. "Wah, Tori! Kau sudah tiba."

Walaupun masih dibalut perban, Tori terlihat baik-baik saja. Ekspresi Tori yang sedang terengah-engah sangat lucu karena anjing itu terlihar seperti sedang tertawa.

"Ah, kau lucu sekali."

"Tori sudah datang?" Sehun yang sudah memarkir motornya datang menghampiri.

"Ya, sekarang Tori sudah hampir sembuh"

"Sepertinya dia mengenalmu."

Guk guk.

Tori menjilati tangan Baekhyun.

"Ah, lucunya."

Di tengah rerumputan itu, sudah tersedia kandang anjing yang sangat mewah. Kandang anjing tersebut sangat besar sampai Baekhyun juga bisa masuk. Di dalamnya juga ada bantal wol yang empuk. Di depan kandang anjing terdapat mengkuk makanan dan minuman yang terbuat dari emas delapan belas karat. Tadinya Baekhyun mengira mangkuk-mangkuk tersebut hanya berwarna emas yang berkilauan.

Sehun tertawa melihat Baekhyun berguling-guling di tanah sambil membelai Tori. Tori yang mengibas-ngibaskan ekor terlihat manis, tapi Baekhyun jauh lebih manis. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Baekhyun. Tapi Sehun tersentak dan segera menarik kembali tangannya. Bagaimanapun, bukankah Baekhyun pacar Jongin?

Tidak boleh. Sehun tersenyum pahit. Ya, tidak boleh. Sama sekali tidak boleh.

Hati Sehun terasa nyeri. Gadis impiannya ada di depan mata, tetapi ia sama sekali tidak bisa sembarangan menyentuh rambutnya satu helai pun. Kalau Jongin bersama mereka, Sehun bisa menyentuhnya tanpa ragu-ragu, tetapi ia harus berhati-hati jika hanya ada mereka berdua.

"Aku masuk dulu."

Karena ia sangat ingin menyentuhnya jika mereka berduaan.

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

"Indah kan?" kata Kyungsoo, menyandarkan kepala di bahu Chanyeol. Mereka duduk di tepi sungai sambil mendengarkan suara air mengalir.

"Ya."

Jujur saja, Chanyeol sama sekali tidak tertarik. Ia tidak mengerti apa yang indah dari cahaya jembatan buatan yang berkelap-kelip. Bukankah cahaya buatan seperti itu juga ada di rumah? Tapi Kyungsoo mengangap itu indah.

"Dulu aku pernah datang kesini dengan Jongin Oppa. Padahal saat itu cuaca sangat dingin sampai kami gemetaran…"

"Hm…"

"Ah maaf." Kyungsoo buru-buru minta maaf.

Chanyeol menatap gadis itu dengan sorot kosong. "Kenapa?"

"… Aku menyebut-nyebut soal Jongin Oppa di depanmu…"

"Aku tidak keberatan."

"Be… benarkah?"

Kyungsoo bingung mendengar tanggapan cuek Chanyeol. Padahal tadi ia yakin Chanyeol tidak suka.

Sebenarnya Chanyeol sedang memikirkan hal lain dan tidak benar-benar mendengarkan perkataan Kyungsoo. Ia sedang memikirkan kejadian di pesawat saat perjalanan pulang dari Thailand.

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

Sejak hari kedua liburan di Thailand, mereka sudah diseret kesana kemari oleh Baekhyun. Hari pertama mereka makan bubur seafood yang lembut dan baik untuk pencernaan. Saat sedang menikmati bubur itu di restoran mahal yang terletak di gedung hotel lantai paling atas, mendadak Baekhyun berteriak.

"Liburan klub macam apa ini?"

"Hm?"

Semua orang terperangah dan memandang Baekhyun.

"Sudah bayar mahal-mahal berlibur ke luar negeri, bukankah itu untuk merasakan budaya negara tersebut? Kalau makan makanan mahal di restoran mewah, bagaimana kita bisa merasakan budaya negara ini?"

"Kenapa? Ini kan nyaman dan menyenangkan."

"Tidak menarik."

"Apa?" Jongin yang merencanakan liburan ini tersinggung dengan perkataan Baekhyun yang blablakan. "Kau bilang tidak menarik? Ini liburan yang khusus kurencanakan untuk kekasihku."

"Kau membawa semua anggota klub kesini."

"Ah, jadi itu masalahnya? Baiklah, baik. Kalau begitu, nanti kita berlibur berdua…"

"Maksudku bukan itu. Aku tidak suka liburan seperti ini, tidak menarik."

"Jadi kau suka liburan yang seperti apa?"

"Liburan yang menarik."

Akhirnya Baekhyun yang mengambil alih perencanaan liburan mereka. Ia merencanakan liburan yang aktif dan penuh petualangan. Gadis itu juga membuat beberapa peraturan.

Kalau mau berpindah lokasi, mereka boleh memakai mobil. Tetapi tempat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki, mereka harus jalan kaki. Setidaknya sehari harus makan satu jenis makanan khas Thailand. Jangan mencari tempat yang terlalu mahal.

Sehun yang suka hal menarik, menyetujui semua itu dengan senyum ceria. Jongin yang tergila-gila pada Baekhyun mengangguk mengerti. Dan ternyata Ahrim yang biasanya tidak suka hal yang merepotkan, juga setuju. Jika Jongin, Sehun, dan Putri Ahrim sudah setuju dengan rencana Baekhyun, tidak ada orang lain yang berani menolaknya. Chanyeol tipe orang yang cuek, jadi ia mengikuti saja keinginan Baekhyun.

Liburan Thailand ala Baekhyun benar-benar melelahkan. Selain tetap jalan kaki walaupun cuaca panas, mereka juga menyantap makanan yang kelihatannya tidak terlalu higienis di warung sempit di pinggir jalan. Tapi ternyata semua itu menyenangkan.

Dibandingkan naik mobil dengan AC yag sejuh atau makan direstoran mewah, jauh lebih menyenangkan berkeliling pasar yang ramai sambil menawar harga-harga barang dan menyantap makanan yang belum pernah dicoba. Bahkan anak-anak lain awalnya menggerutu, sorenya mereka berkata sambil tertawa cekikikan bahwa mereka sangat menikmatinya dan sudah bisa menawar harga di pasar penduduk setempat.

"Nanti pulang, kita jangan naik pesawat pribadi. Naik pesawat komersil saja. Aku ingin mencoba naik itu satu kali."

Akhirnya mereka semua naik pesawat komersil. tentu saja mereka duduk di bagian VIP. Tak lama setelah pesawat lepas landas, pramugari datang menyajikan minuman dan makanan kecil yang mahal. Pramugarinya orang Thailand. Saat ia meletakkan minuman di meja Baekhyun, gadis itu menatapnya lekat-lekat dan dengan jelas mengucapkan dalam bahasa Korea, "Aku tidak punya uang."

Lucu.

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙

Tidak, lucu apanya! Dia itu bodoh!

Tiba-tiba Chanyeol jengkel. Ini pertama kalinya ia datang ke Han Gang dengan Kyungsoo. Kenapa ia menghabiskan waktu yang berharga ini dengan memikirkan cewek itu? Akhir-akhir ini ada yang tidak beres dengan pikirannya. Ia menyadari bahwa ia selalu memikirkan Baekhyun tanpa alasan. Ia yakin Baekhyun melakukan sesuatu padanya hari itu di Thailand. Di dalam ruangan yang interiornya berwarna hijau itu.

Wajah Chanyeol yang sejak tadi tanpa ekspresi sekarang mendadak mengernyit. Kyungsoo menatapnya dengan cemas. Ia menyentuh pergelangan tangan Chanyeol dengan jari-jarinya yang gemulai.

"Sedang memikirkan apa?"

Chanyeol menoleh, mendengar pertanyaan yang ditanyakan dengan hati-hati itu. "Tidak ada,"

"Aneh."

"Apanya?"

"Akhir-akhir ini sikapmu aneh. Saat bersamaku, kelihatannya kau selalu memikirkan hal lain."

"Tidak kok." Chanyeol tersenyum lembut sambil mengusap kepala Kyungsoo.

Tangan hangat yang sama. Senyum hangat yang sama. Tetapi hati Kyungsoo tetap khawatir. Mata hitam yang sangat indah itu biasanya memandang Kyungsoo seakan ia satu-satunya gadis di dunia ini. Tetapi akhir-akhir ini, kadang-kadang Kyungsoo merasa mata indah itu seperti melihat orang lain.

"Chanyeol."

"Ya?"

"Kau… menyukaiku?"

Chanyeol tertawa mendengar pertanyaan Kyungsoo.

"Tentu saja."

"Sungguh?"

"Ya. Kenapa bertanya seperti itu?"

"Tidak apa-apa…"

"…"

Kyungsoo mengulurkan kedua lengan yang langsing dan memeluk Chanyeol. Ia membenamkan wajah dlam dada Chanyeol dan berbisik, "Mungkin aku bisa mati kalau kau meninggalkanku."

"…"

Kenapa aku merasa tidak nyaman?

Dalam perjalanan pulang setelah pulang mengantar Kyungsoo, Chanyeol mendesah beberapa kali. Hatinya sesak seperti ada batu berat yang menahannya. Setiap kali menarik napas, hatinya terasa sakit.

Kenapa perasaanku tidak enak?

Chanyeol tidak mengerti. Biasanya ia selalu pulang dengan perasaan gembira setelah bertemu dengan Kyungsoo. Walaupun tahu Kyungsoo mengaharapkan Jongin, selama bisa berpacaran dengan gadis itu, Chanyeol merasa senang. Jika Kyungsoo bisa tertawa mendengar gurauannya, Chayeol sudah senang.

Sekarang kami sudah berpegangan tangan, juga berpelukan. Aku mengalami hal yang selalu kuimpikan, tetapi kenapa perasaanku tidak nyaman?

Chanyeol sampai di pintu depan. Begitu membuka pintu, sesosok bayangan hitam berlari ke arahnya. Sebelum sempat berancang-ancang menghadapinya, bayangan hitam itu mendengking.

Guk!

"Ah…!"

Kalau dipikir-pikir, ia pernah mendengar mereka akan membawa pulang anak anjing bernama Tori.

"Kau Tori?"

Tori anjing yang ramah. Anjing itu tidak bermaksud menyerangnya, sepertinya hanya berlari ke arahnya untuk mengajak bermain. Begitu anjing itu menunjukkan ketertarikannya pada Chanyeol, Tori langsung mengibas-ngibaskan ekor sambil menggigiti sepatu ketsnya. Bulu Tori berwarna putih dengan bercak-bercak hitam. Dengan bola mata yang berbinar-binar dan badannya yang gendut, Tori terlihat begitu menggemaskan sampai Chanyeol tersenyum.

Chanyeol berjongkok dan mengelus punggung Tori yang masih asyik menggigiti sepatu ketsnya.

"Hei, kau lucu. Kau cewek atau cowok?"

Seolah mengerti pertanyaan Chanyeol, Tori berbaring telentang.

"Ha ha ha. Rupanya cewek. Bagaiaman bisa langsung telentang seperti itu? Cewek tidak boleh bersikap seperti itu. Sepertinya kau sangat mirip dengan pemilikmu."

Guk!

Karena Chanyeol sedang mengusap usap lehernya, Tori bersusah payah mencoba menundukkan lehernya yang pendek untuk menjilat tangan Chanyeol. Ekspresinya saat berusaha keras sambil mendengking terlihat sangat menggemaskan sampai akhirnya Chanyeol mendekap Tori erat-erat.

"Astaga kau sangat lucu."

Untuk beberapa saat, Chanyeol mengusapkan wajah ke samping badan Tori yang lembut sebelum mendadak tersadar.

"Ya ampun!"

Chanyeol melepaskan Tori dan anak anjing itu menatapnya sambil menelengkan kepala.

"Hei, jangan bilang pada siapa pun kalau aku gemas melihatmu ya. Asal kau tahu saja, aku sangat tidak suka dengan pemilikmu."

Anak anjing iru menelengkan kepala lagi.

"Kenapa menatapku dengan begitu meggemaskan? Aku benar-benar tidak tahan melihatnya. Kandangmu dimana?"

Guk!

Tori menggonggong saingkat sambil menujuk ke suatu arah. Anak anjing itu mulai berjalan, tapi melihat Chanyeol yang tidak bergerak selangkahpun, Tori berbalik lagi. Seakan menyuruh Chanyeol mengikutinya.

"Rupanya kau anjing pintar."

Chanyeol tertawa geli sambil mengikuti Tori. Ia khawatir Tori tidak bisa menemukan kandangnya di taman yang begitu luas itu, tetapi Tori bahkan tidak berputar-putar kesana kemari. Tori berjalan langsung menuju kandangnya. Chanyeol berbaring di bantal di dalam kandang anjing itu, dan dengan nyamannya mengelus-elus Tori.

"Hei. Karena aku benar-benar tidak suka pemilikmu, aku tidak bisa terlalu akrab denganmu. Tidak ada gunanya kau menatapku seperti itu. Selamat tidur."

Chanyeol melontarkan ucapan itu sebelum berjalan pergi, tetapi ia merasa sepasang mata sedang memandanginya. Tidak boleh berbalik. Kalau berbalik, hatinya pasti luluh. Tetapi akhirnya ia berbalik. Mata yang berbinar-binar seperti batu permata itu memandangi Chanyeol seolah mengharapkan sesuatu.

"Huh. hei, sudah kubilang aku membenci pemilikmu."

Mata Tori berbinar-binar.

"Hei. Ja… jangan memandangiku seperti itu."

Mata Tori masih berbinar-binar.

"…Apakah kau … merasa bosan?"

Mata Tori masih berbinar-binar.

"Ya sudah, sebentar saja ya!"

Guk!

Chanyeol memeluk Tori.

"Karena ini hari pertama kau disini, aku akan membawamu ke dalam. Hari ini saja kau boleh tidur di kamarku. Mulai besok, kau harus pura-pura tidak mengenalku."

Guk!

"Lucunya."

Hati Chanyeol luluh melihat sinar mata Tori yang berbinar-binar sehingga akhirnya ia membawa anak anjing itu ke dalam rumah. Chanyeol menaiki tangga pelan-pelan. Tadinya ia mengira Baekhyun sudah tidur, tetapi ternyata ada berkas cahaya yang terlihat dari celah pintu.

"Kau harus tetap tenang. Jangan sampai kita ketahuan."

Tori sama sekali tidak menyalak, seakan mengerti ucapan Chanyeol. Chanyeol menahan napas saat melewati kamar Baekhyun sebelum masuk ke kamarnya sendiri.

Setelah pintu ditutup, ia baru bisa bernapas lega dan melepaskan Tori.

Mungkin karena ini pertama kalinya masuk kamar, mata Tori bersinar penuh rasa ingin tahu dan anjing itu berlarian kesana kemari sambil mengendus-endus. Saking hebohnya Tori mengibas ekor, Chanyeol sampai takut ekor anak anjing itu copot. Setelah selesai menjelajahi kamar, Tori berlaari riang ke pelukan Chanyeol.

"Hei. Aku membawamu ke kamarku bukan berarti kita boleh menjadi akrab. Kan sudah kubilang aku sangat membenci pemilikmu."

Tori seakan tidak peduli dengan apa yang diucapkan Chanyeol dan mengibaskan ekor di dalam pelukannya. Chanyeol tersenyum lebar sambil menatap Tori. Akhirnya ia mendaratkan kecupan di hidung Tori yang lembab. Mendadak ia tersadar dan wajahnya bersemu merah.

"Jangan mengejar-ngejarku terus."

Ketika Chanyeol sedang tersenyum seperti orang bodoh melihat Tori yang menggemaskan, Baekhyun sedang belajar di kamar. Walaupun biologi dan kimia menarik, pelajaran fisika sangat sulit dimengerti padahal ia suka matematika, tetapi kenapa ia susah memahami pelajaran fisika yang hampir sama dengan matematika ini. Pengetahuannya tentang pelajaran biologi dan kimia sudah melampaui tingkat SMA, jadi ia hanya perlu belajar fisika.

Ia sudah memutuskan untuk tidur begitu selesai mempelajari satu bab, tetapi setelah berjam-jam, ia masih belum menyelesaikan setengah bab. Kenapa materinya sebanyak ini? Setelah beberapa jam belajar dalam posisi tidak nyaman, pundaknya terasa nyeri.

"Apakah sudah waktunya beristirahat?"

Saat sedang memijat bagian belakang leher, tiba-tiba Baekhyun ingin melihat muka Tori saat tidur. Ia segera keluar dari kamar. Tanpa sadar, ia memandang ke pintu kamar Chanyeol. Tadi tidak ada cahaya, tapi sekarang sudah ada. Kelihatannya dia sudah pulang.

"Hah…"

Baekhyun berulang kali menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran aneh. Ini bukan waktunya terlibat dalam hubungan cinta. Ia menyelipkan kakinya ke sandal dan berjalan menuju kandang Tori. Tidak terdengar suara apapun, jadi Baekhyun yakin Tori sudah tidur. Namun, ketika ia melihat ke dalam kandang, anak anjing itu tidak ada. Kemana dia? Tiba-tiba ia cemas dan berteriak memanggil Tori.

"Tori!"

Tidak ada tanggapan.

"Tori, kau dimana? Ayo kesini."

Tamannya begitu luas, mungkin Tori tidak mendengar panggilannya. Berpikir seperti itu, Baekhyun berkeliling taman beberapa kali sambil memanggil anjingnya. Beranggapan mungkin Tori masuk ke rumah kaca, Baekhyun coba mencarinya disana, tetapi Tori tetap tidak kelihatan.

Kemana dia? Apakah dia berlari keluar saat pintu depan terbuka? Siapa yang pulang terakhir?

Chanyeol yang pulang terakhir.

Baekhyun berjalan masuk ke rumah dengan lemas. Ia menaiki tangga ke lantai dua dengan berisik dan masuk ke kamar Chanyeol tanpa mengetuk pintu. Dan disana, ia melihat pemandangan yang aneh.

Bagian dalam kamar hanya didekorasi warna hitam dan putih yang sedikit suram itu, hanya ada satu pemadangan yang manis. Di tempat tidur, wajah Chanyeol yang tidaur sambil memeluk Tori membuat jantung Baekhyun berdebar.

Ia memandangi Chanyeol seperti orang bego.

Rambut hitam Chanyeol di atas bantal putih, kulitnya yang putih bersih, alis mata panjang yang menghiasi wajahnya. Tanpa sadar Baekhyun melangkah maju. Saat ia tersentak sadar, tangannya sudah terulur ke rambut Chanyeol. Ia terperanjat dan menarik kembali tangannya.

Apa yang aku lakukan? Baekhyun bingung. Ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Inikah artinya menyukai seseorang? Tanpa sadar selalu ingin menyentuh orang tersebut. Apakah perasaan suka seperti itu?

Malu dengan sikapnya sendiri, wajah Baekhyun bersemu merah. Apakah tadi ia sungguh-sungguh ingin menyentuh wajah cowok yang sedang tidur? Ia tidak tahu apa yang harus ia katakana tentang sikapnya yang menyimpang ini. Saat itu, tiba-tiba Chanyeol mengernyit seolah-olah merasakan kehadiran seseorang.

Astaga!

Baekhyun tersentak, mencoba keluar dari kamar itu karena tidak ingin tertangkap basah, tapi Chanyeol terlanjur membuka mata. Dia menatap Baekhyun seakan tidak percaya gadis itu berdiri di samping tempat tidurnya. Ekspresinya seperti sedang bermimpi.

Benar. Ini mimpi. Mimpi. Semoga kau berpikir ini mimpi.

Baekhyun melangkah mundur dengan perlahan-lahan walaupun hatinya menjerit-jerit.

"Hai, kau!" Tetapi Chanyeol sudah menyadari situasi di sekelilingnya, "Kenapa kau berada di kamarku…"

Guk!

Tori ikut menggonggong. Ketika mendengar gonggongan Tori, Chanyeol teringat keadaannya sendiri dan wajahnya memerah.

"Kau…"

Padahal ia tidak ingin tertangkap basah dalam keadaan seperti ini. Padahal ia tidak ingin bersikap akrab dengan Tori karena ia sangat membenci cewek itu.

"Tori… tidak ada di kandangnya, jadi aku mencarinya…"

Baekhyun terus melangkah mundur sampai mendekati pintu kamar. Chanyeol mengernyit, tidak senang dengan sikap Baekhyun yang pelan-pelan mundur berusaha melarikan diri seolah melihat monster.

"Kenapa kau selalu…"

"Ka… kalau begitu selamat tidur." Baekhyun menyela perkataan Chanyeol dan bergegas keluar dari kamar. Ia mencoba masuk ke kamarnya sendiri, tetapi Chanyeol berlari keluar mengikutinya dan mencengkeram pergelangan tangannya, menyebabkan Baekhyun menoleh ke belakang. Saking kagetnya mendapati wajah cowok yang begitu dekat dengannya, Baekhyun terhuyung. Chanyeol melingkarkan lengan di pinggangnya, mencoba mencegahnya jatuh.

Terlalu dekat.

Tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Chanyeol. Walaupun Baekhyun berusaha menjauhkan diri, tubuhnya seperti tidak bertenaga. Chanyeol masih menahan pinggang Baekhyun dan menunduk menatapnya. "Kau… kenapa selalu menghindariku?"

Mendengar pertanyaan tak terduga itu, mata Baekhyun membelalak, "Apa?"

"Sejak di Thailand, kau sering menghidariku."

Sejak ia sadar ia menyukai Chanyeol, Baekhyun tidak sanggup menatap cowok itu secara langsung. Karena itu tanpa sadar, Baekhyun menghindari cowok itu. Tetapi sepertinya perubahan sikapnya sangat terlihat.

"Kau," Baekhyun menelan ludah. "Kau membenciku. Bukankah lebih baik kita tidak bertatap muka?"

Alis Chanyeol terangkat, terlihat terkejut dengan perkataan Baekhyun. Dia tetap terlihat tampan walaupun dahinya sedikit berkerut.

"… Ya, tetapi…"

"Kalau begitu, bisa tolong lepaskan aku?"

"Ah!"

Bingung dengan tindakan tanpa sadarnya, Chanyeol segera melepaskan cengkeramannya. Baekhyun menjauhkan diri dari Chanyeol dengan bersandar ke dinding, menunggu perkataan cowok itu selanjutnya.

Apa yang mau dikatakannnya? Ini sama sekali tidak seperti sikap Chanyeol yang biasanya. Biasanya dia langsung mengomel setiap kali melihatku. Kenapa hari ini dia bersikap seperti ini?

Sepertinya Tori suka pada Chanyeol. Anak anjing itu duduk di atas kaki Chanyeol. Chanyeol menunjuk Tori sambil berkata, "Ini… bawa dia pergi."

"Dia lucu. Kau boleh tidur bersamanya."

"Lucu? Siapa yang bilang dia lucu?"

"Kaukan suka hewan."

"Tidak suka."

"Kalau begitu, kenapa kau bawa Tori ke dalam kamarmu?"

"Karena kupikir dia anak anjing tersesat."

"Memangnya ada anak anjing tersesat di taman rumahnya sendiri?"

"Mau terus berdebat?"

Baekhyun tidak bermaksud bersikap sinis, tetapi bagi Chanyeol, perkataannya terdengar seperti itu sehingga dia menjadi jengkel. Tori mendengking mendengar suara Chanyeol yang biasanya lembut menjadi kasar. Anak anjing itu menggeram. Begitu mendengar geraman anjing itu, raut wajah Chanyeol langsung melembut.

"Aku tidak marah padamu. Benar kok. Anak pintar."

Melihat ekspresi Chanyeol yang langsung melembut, Baekhyun mendengus tertawa.

"Kenapa tertawa?"

"Karena terihat manis."

Baekhyun terkejut dengan ucapannya sendiri. Ia sedang berpikir betapa manisnya Chanyeol yang langsung berubah di depan anak anjing, dan tanpa sadar melontarkan perkataan tersebut dari bibirnya. Baik Chanyeol maupun Baekhyun, dua-duanyabergeming sambil bertatapan. Chanyeol menatap bibir Baekhyun seakan tidak percaya ucapan itu keluar dari bibir gadis itu, sementara Baekhyun tidak mampu bernapas karena tidak percaya kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya.

"… Maksudku To… Tori terlihat manis."

Ia berhasil memberikan alasan yang masuk akal.

"Ten… tentu saja."

Chanyeol melangkah mundur. Tori menelengkan kepala dan mendongak, memandang mereka berdua bergantian.

"Kalau begitu, selamat tidur."

Astaga, Chanyeol sampai mengucapkan selamat tidur? Wajah Chanyeol merona sambil bergegas masuk ke kamar dan menutup pintu. Setelah ditinggal berdua dengan Tori, Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berjongkok di depan anjing itu. Seakan tahu perasaannya, Tori menjilat kaki Baekhyun.

"Tori, bagaimana ini?"

Tori terus menjilat.

"Ugh, aku sangat malu."

⸙…⸙…⸙

⸙…⸙