Kneelx Present
ChanBaek
HunHan
KaiSoo
Disclaimer : Fanfic ini benar-benar berasal dari otak author sendiri, author hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita. Tidak suka dengan cerita ataupun cast silahkan menekan/memencet tanda kembali/back. Terima kasih
HOLLLAAAA AY EM BACK
KANGEN GAK KANGEN GAK? /kagak yeu
Wkwkwk.. ada yang nungguin ini up nggak? nggak ada kayaknya ya. huhu..
Yang pasti author mau ngucapin makasih buat yang udah review kemarin dan masih nunggu in ff gaje up, dan maaf buat yang mungkin ngerasa ceritanya udah kayak cerita ftv atau yang bosen karena diriku yang nggak up up. maklumi ya gaees, diriku lg ujian sekarang, mumpung jadwal kosong 3 hari jadi kupake buat nulis. semoga suka eaaa..
~HAPPY READING~
Malam semakin larut dan para penjaga lapas yang memiliki jadwal piket mulai berkeliling untuk mengecek setiap sel. Dengan berbekal senter berbohlam putih, para penjaga menyorot satu persatu kedalam sel, sekedar memastikan bahwa tidak ada tahanan yang hilang.
Chanyeol tak kunjung bisa memejamkan matanya. Terlalu banyak hal yang dipikirkannya malam ini. Dia bukannya mau mengeluh tentang bagaimana kerasnya alas tidur ataupun protes dengan ketebalan selimut yang sangat tipis.
Dia hanya tengah memikirkan seseorang, Baekhyun. Dia mengkhawatirkan pemuda manis itu. Didalam fikirannya, dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang tengah Baekhyun lakukan? Apa dia sudah makan? Sudah tidur? Dia tidak sakit kan?
Merasa frustasi, Chanyeol mengacak rambutnya. Tahanan disebelahnya merasa terusik dengan pergerakkan tiba-tiba dari Chanyeol. Tahanan bernama Kim Youngwoon atau yang biasa di panggil Kangin oleh relasinya itu membuka matanya dan melihat punggung Chanyeol yang terus bergerak gelisah.
"Kau kedinginan?" tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur
Chanyeol membalik badannya dan melihat Kangin dengan mata setengah terpejam dan bibir yang setengah terbuka menandakan bahwa lelaki paruh baya itu tengah berjuang menahan kantuknya "Ah, tidak ahjeosi. Maaf mengganggu tidurmu"
"Gweanchana. Saat aku awal-awal masuk kesini, aku juga merasa akan hipotermia" ceritanya lalu memberikan Chanyeol selimutnya.
"Tidak usah ahjeosi"
"Pakailah. Aku sudah terbiasa. Kau tidurlah, ini sudah malam. Dan sudah kubilang, panggil aku hyung"
"Ya. Terimakasih ahjeosi, maksudku hyung" koreksinya cepat
"Kau harus keluar dari sini Chanyeol-ah. Tempatmu bukan disini"
Chanyeol menarik sudut bibirnya pelan "Tempatmu juga bukan disini hyung" balasnya lirih.
Dengkuran halus Kangin menandakan bahwa dia sudah kembali ke alam mimpi. Perlahan, Chanyeol kembali menyelimuti Kangin dengan selimut yang diberikan kepadanya.
Setelahnya Chanyeol tidur terlentang menghadap langit-langit dalam sel. Perlahan matanya tertutup dan berharap bisa bertemu dengan Baekhyun dalam mimpinya.
\/
Namun harapan hanya harapan, karena yang ia dapati dalam mimpinya adalah sosok wanita yang tengah memaki seseorang. Chanyeol menggerakkan kepalanya ke kiri, sekedar ingin melihat siapa orang malang itu.
Tubuhnya terasa berat saat irisnya mendapati dirinya saat di junior high school tengah menunduk, dengan pakaian sekolah yang lengkap Chanyeol kecil mengangkat wajahnya dan menatap tajam wanita yang baru ia sadari adalah ibu tirinya.
"Hoo, kamu sudah berani menatapku sekarang?" Tanya wanita itu marah
Chanyeol kecil tidak menjawab dan terus memberikan tatapan tak sukanya. Chanyeol dewasa yang berada di belakang Se Kyung dengan jelas melihat pergerakan tangan yang terangkat keatas dan dengan cepat hendak menampar dirinya saat kecil.
"JANGAN!" teriaknya dan berlari berniat menghalau wanita jahat itu
Namun Chanyeol merasa indra penglihatannya memutih dan dia tiba-tiba berada di sebuah pemakaman. Chanyeol berjalan mendekat, dan ia bisa melihat peti ayahnya yang tengah di turunkan ke liang lahat. Dan lagi, ia mendapati Se Kyung dan Taejoon yang berbalik kearahnya, tersenyum tipis seolah mengatakan bahwa mereka telah menang.
\/
"Yeol, di dalam sel ada video biru juga?"
"Video biru apaan kupret?"
"Mata lu"
"Mimpi buruk. Biasa"
"Balik lagi?"
"Ya, semenjak Baekhyun gak dateng"
"Yang perlu lu tau, Baekhyun bener-bener kerja keras ngumpulin seluruh bukti yang ada buat keluarin lu dari sini"
"Gue tau Jong. Makasih"
"Wa wa, ada hikmahnya lu masuk penjara Yeol, seenggaknya lu bisa bilang makasih" mendengar itu Chanyeol tertawa, begitupula dengan Jongin. Chanyeol memelankan tawanya dan kembali berwajah serius.
"Jong, perusahaan?"
"Kacau"
Satu kata jawaban dari Jongin membuat Chanyeol terdiam dan mengerti akan keadaan yang tengah terjadi di perusahaan ayahnya.
\/
Saat-saat ini di PC Company, para karyawan merasa hawa perusahaan yang semula damai dan terasa nyaman berubah menjadi neraka karena yang katanya Presedir itu memerintahkan para pekerja semaunya.
Misal, baru kemarin dia menyetujui untuk menerima tawaran pembangunan sebuah bangunan di Swiss lalu keesokan harinya dia memarahi para karyawan dan menyalahkan mereka karena menerima pekerjaan tersebut sebab tidak banyak keuntungan yang bias diambil disana.
Sehun dan Jongin sendiri merasa ingin berhenti saja dan pindah ke perusahaan lain, dengan pengalaman kerja mereka yang banyak dan menjamin pastinya banyak perusahaan konstruksi yang akan berebut untuk merekrut mereka. Tapi kembali kepada janji keduanya pada Chanyeol bahwa mereka akan menjaga perusahaan ini sebisa mungkin.
Kini Sehun berada di cafeteria perusahaan sendirian karena Jongin pergi ke sebuah rapat di Busan. Dan entah lidahnya yang salah atau bagaiamana tapi dia merasa masakan ahjumma tidak seenak biasanya.
Ditengah Sehun yang masih mencoba menikmati makanannya, Taejoon duduk dihadapannya dengan angkuh. Sehun tak mau capek-capek mengangkat wajahnya hanya sekedar untuk menyapa apalagi memberi hormat.
"Aku tak menyangka ternyata Chanyeol menciptakan karyawan yang tak punya sopan santun"
"…"
"…" tak adanya balasan dari Sehun membuat Taejoon ikut terdiam, dia merasa seperti berbicara dengan patung.
"Yak!" panggilnya dingin
"Kau berbicara padaku?" Tanya Sehun tak peduli
"Lalu kau pikir aku berbicara dengan siapa hah?"
"Kukira kau berbicara dengan gelas airku" sahut Sehun dengan bahu terangkat
"Bagaimana kabar Chanyeol?"
"Kenapa kau ingin tau? Mata-mata mu kan banyak. Yak, sebaiknya kau pergi. Jangan merusak nafsu makanku"
"Ini perusahaanku, dengan kata lain cafeteria ini juga punyaku" ucapnya enteng
"Apa kau tak takut dosamu bertambah? Kurang-kurangilah berbohong" sanggah Sehun dengan nada remeh, selesai menegak airnya, Sehun langsung berlalu dari hadapan Taejoon, meninggalkan pemuda tinggi itu dengan tangan terkepal erat.
\/
Dengan dikawal 2 penjaga sipir di belakangnya, Chanyeol berjalan pelan menuju sebuah ruangan dimana dia akan bertemu dengan pengacara barunya. Jujur saja, Chanyeol tak ingin mempercayai firma hukum darimanapun. Menurutnya dikhianati sekali saja sudah cukup.
Chanyeol berjalan masuk kedalam ruangan itu, dapat dia lihat seorang lelaki tengah membelakanginya dan malah berhadapan dengan tembok.
"Selamat pagi" sapa Chanyeol duluan, namun tak ada balasan dari lawan bicaranya.
Chanyeol menatap sosok itu dari bawah ke atas kemudian balik dari atas ke bawah lagi. Jantungnya berdegup kencang, apakah itu mungkin?
"Baekhyun?" panggilnya ragu
Sosok itu berbalik dengan mata berkaca-kaca "Yeollieee" tangis Baekhyun pecah dan berlari memeluk Chanyeol erat.
Pundak Chanyeol terasa ringan, rindu yang dia pendam 1 bulan lebih terbayarkan saat tubuh mungil itu menelusup kedalam dekapan hangatnya. "Aku merindukanmu" bisik Chanyeol lembut, air matanya menetes dan dengan cepat ia hapus.
Sang detektif dan1 sipir yang memonitori dari ruangan sebelah tak berniat untuk mengaktifkan speaker dan menyuruh mereka melepas pelukan rindu itu. Mereka hanya terdiam dan menyaksikan itu dengan perasaan berat, seolah mereka tahu bahwa kedua sejoli itu pantas mendapatkan itu.
Salah satu sipir masuk dan membisikkan beberapa kata pada detektif Minho, dan dengan cepat ia berjalan keluar ruangan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Chanyeol tanpa melepas genggaman tangannya pada Baekhyun
"Bukankah sudah kubilang aku akan berusaha sebisa mungkin" ucapnya dengan bibir terpout
Chanyeol tak bisa menahan senyumnya saat melihat poutan itu, Chanyeol merasa lengkap.
"Saranghae" ungkap Chanyeol saat Baekhyun sibuk menjelaskan tentang apa saja yang harus Chanyeol jawab dan jelaskan di persidangan minggu depan.
Baekhyun menghentikan penjelasannya. Dengan rona merah yang sangat Chanyeol rindukan itu, ia menjawab "Nado saranghae. Sekarang perhatikan aku baik-baik"
"Aku memperhatikanmu dari tadi, baiklah akan lebih ku perhatikan sekarang" layaknya gerakan salah satu girlband di Indonesia, Chanyeol menangkupkan wajahnya dan menatap lurus kearah Baekhyun.
"Jangan menatapku seperti itu juga yodaa. Kau membuatku tidak fokus" keluh Baekhyun sambil melemparkan bolpoin kearahnya.
"Hahaha arraseo baby Baek"
Baekhyun ikut tertawa dan kembali menjelaskan pembahasannya yang sempat terputus karena gombalan sang raksasa.
\/
Selesai pertemuannya dengan Baekhyun, Chanyeol kembali ke sel dengan semangat.
"Annyeonghaseo" sapanya saat memasuki sel
"Waw, ada apa ini hyung? Kenapa kau tiba-tiba jadi hidup seperti ini? Biasanya kau akan masuk tanpa berkata apaun" maknae di sel ini bertanya dengan semangat.
"Tidak ada apa-apa Mino ya"
"Hyung dengar kau mendapat pengacara baru. Apa karena itu?" tanya Kangin sambil focus dengan bidak caturnya, ya saat ini dia tengah bermain catur bersama satu tahanan lain.
"Ne" jawabnya malu
"Secantik apa dia?" tanya Mino sambil mendekat kea rah Chanyeol, Kangin pun ikut mendekat, dia jadi penasaran tentang bagaimana rupa pengacara Chanyeol itu.
"Kalian tidak akan bisa membayangkannya" ucap Chanyeol dengan senyum lebar
"Pacarmu?" itu bukan suara Kangin ataupun Mino, tapi itu suara orang lain. Orang yang tak pernah mengajak Chanyeol bicara dari pertama dia memasuki sel ini, Dong Youngbae atau Taeyang.
"A-ah, ne ahjeosi" jawab Chanyeol ditengah rasa kagetnya
Mino mengusap dagunya dengan tatapan memicing pada Chanyeol. "Waeyo?" tanyanya
"Kalau itu pacarmu, berarti cowo pengacara itu? Aw hyung. Sakit!" Mino mengaduh saat tengkuknya di pukul oleh Kangin keras
"Sopanlah Mino" bukan suara Kangin, tapi suara Taeyang.
"Kkk tidak apa. Saya tidak tersinggung sama sekali, karena kurasa itu tidak salah"
"Apa pendapat ibumu jika dia tau tentang ini?"
"Ibuku?" Chanyeol terdiam menatap Taeyang yang gelagapan karena ucapannya "Ahjeosi tau tentang ibuku?"
"Aku hanya bertanya Chanyeol-ah"
"Kalau ahjeosi hanya bertanya, kenapa ahjeosi gugup seperti itu? "
"Aku tidak gugup" dengan tangan bergetar Taeyang meneguk airnya pelan. Dan Chanyeol terus menatap Taeyang serius.
"Baiklah, aku hanya mengenalnya sekilas" tak ada sahutan, menandakan bahwa Chanyeol tak puas dengan 1 kalimat tersebut.
"Haah, dulu aku mulai mengembangkan usahaku di Daegu dan itu berkembang baik, lalu aku mulai bermain kotor. Aku melakukan korupsi saham, yang membuatku bangkrut dan langsung dijebloskan di penjara.-"
"-Sebelum aku di jebloskan di penjara, aku dan istriku bersembunyi di Mokpo. Disanalah aku bertemu ibumu. Kau mungkin tidak percaya ini tapi ayahmu dulu adalah rekanku saat SMA. Dan ayahmu sudah sejak lama berpacaran dengan ibumu.-"
"-Dia berkata bahwa dia terpaksa meninggalkanmu demi kebaikanmu dan ayahmu. Kukira kau hidup bahagia di Seoul bersama ayah dan ibu tirimu. Dan akupun tertangkap, lalu dipindahkan ke Seoul. Aku melihatmu di tv dengan setelan jas rapi saat peresmian gedung rumah sakit terbaru di daerah Gangnam.-"
"-Saat itu aku berfikir bahwa kau anak durhaka karena menelantarkan ibu kandungmu seperti itu. Tapi aku tak pernah mendengar kabar Seunghyun atau ibu tirimu di setiap berita yang kutonton. Aku bertanya pada Kangin, dan dia mengatakan bahwa Seunghyun sudah meninggal sejak lama. Saat itu aku sangat terkejut, dan kurasa ibumu juga tidak tau tentang kabar duka ini."
Pandangan Chanyeol menjadi kosong "Jadi ibuku masih hidup?" tanyanya dan diiyakan oleh anggukan kepala Taaeyang.
Setitik liquid bening itu terjatuh dan merambat ke pipinya. "Eomma masih hidup" seketika dia tersenyum, tertawa pelan dengan air mata yang mulai berjatuhan "Eommaku masih hidup"
"Ajeosi, hyung, Mino-ya, eommaku masih hidup" racau Chanyeol dengan senyum lebar dan air mata yang masih mengalir "Dia masih hidup"
Ia tak perduli jika setelah ini akan diejek cengeng, yang dia tau dia bahagia dengan perasaan lega yang teramat sangat setelah mengetahui bahwa ibu yang dicarinya selama belasan tahun masih hidup.
\/
"Saat jaksa bertanya tentang nominal terakhir di rekeningmu, jawab sejujurnya dengan wajah sesantai mungkin. Dengan begitu dia akan merasa bahwa kau tidak terintimidasi dengan pertanyaannya. Kau tau kan, kerjaan jaksa adalah mengintimidasi tersangka sehingga mereka terlihat gugup dan itu bisa mereka jadikan bukti tak nyata bahwa kau sedang berbohong"
"Arraseo pengacara Byun. Kau tau terlihat santai itu keahlianku"
"Kkkk baiklah Presdir Park. Selanjutnya-,"
"Baek, eyeliner mu hari ini rapi sekali. Kau terlihat beratus kali lipat lebih cantik sekarang"
"Berhentilah menggombal yodaaa, kau tau aku sedang bekerja sekarang" lagi lagi Baekhyun mempoutkan bibir pinknya membuat Chanyeol harus menahan nafsunya untuk kesekian kali.
"Aku tak menggombal, ciyusdah. Lipbalm mu juga sangat bagus hari ini. Waa apa kau menggunakan parfum baru, baunya enak sekali"
Oke Yeol, sesuai keinginanmu, kini wajah Baekhyun sudah merah padam. Chanyeol terkekeh senang dan dengan cepat jemarinya mencubit pipi Baekhyun.
"Yak kau tak ingat kita sedang berada dimana sekarang?" gerutu Baekhyun
"Setiap berada di dekatmu menurutku itu tempat terindah yang pernah ada"
"Lihatlah, kau menggombal lagi" malu Baekhyun dan menarik hidung kekasihnya.
"Tapi Baek, kenapa ruangan hari ini berbeda?"
"Ruangan yang biasa kemarin itu sebenarnya untuk jaksa. Yang ini baru untuk pengacara, aku tak mengerti kenapa detektif menyuruhku bertemu denganmu diruangan yang penuh cctv itu" jawab Baekhyun sambil melihat berkas-berkas selanjutnya.
"Baekkie"
"Kenapa Yeol?"
"Bisakah kau pergi kesuatu tempat sebentar?"
"Heung? Kemana?"
Tanpa suara Chanyeol menyodorkan sebuah kertas berisikan sebuah alamat yang membuat Baekhyun memiringkan kepalanya bingung.
"Apa kau selalu melakukan itu dengan klien lain juga?" sungut Chanyeol tak suka
"Melakukan apa?" kaget Baekhyun
"Bertingkah imut" lagi dan lagi, Baekhyun memerah sementara Chanyeol mengalihkan pandangannya sambil bersiul tak jelas.
"Dasar" dengus Baekhyun dengan senyum manisnya.
\/
Baekhyun mengecek sekali lagi alamat yang tertera di potongan kertas yang diberikan Chanyeol kemarin. Ia sendiri tidak tau kenapa Chanyeol menyuruhnya kesini. Seperti yang kalian tau, dia bahkan tak sempat bertanya karna Chanyeol selalu menggombalinya.
Langkah mungilnya membawanya pada sebuah rumah sederhana yang terlihat asri dengan banyak tanaman hias di sekitarnya. "Apa benar disini?" tanyanya pada diri sendiri.
Baekhyun hampir saja mengetuk pintu itu, namun gerakannya terhenti saat terdengar suara dari dalam. Maaf, bukannya mau menguping tapi Baekhyun sangat penasaran. Yang pasti bukan tanpa sebab Chanyeol menyuruhnya datang kesini.
"Tidak usah repot-repot Bom-ah"
"Anni, ini tidak merepotkan. Minum lah dulu"
"Sudah lama kau tak kesini Sekyung-ah, ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin menjenguk teman lamaku"
"Kkk kukira ada apa. Karena tak biasanya kau kesini. Ah, bagaimana keadaan Chanyeol?"
Baekhyun menegang, yang dimaksud itu Chanyeol kekasihnya kan?
"Tentu saja dia baik-baik saja. Sekarang anak itu sangat sibuk mengurus perusahaan"
Baekhyun mengerutkan dahinya bingung, Chanyeolnya mana ada baik-baik saja.
"Syukurlah kalau begitu. Yang penting dia sehat"
"Seunghyun oppa juga baik-baik saja. Berkali-kali aku mengajak Chanyeol dan Seunghyun oppa untuk mengunjungimu, tapi mereka selalu punya alasan untuk menolak. Mianhae Bom-ah"
"Mereka pasti lelah karena bekerja Sekyung-ah. Biarkan saja. Terimakasih ne"
"Aku jadi tidak enak denganmu. Seharusnya dari sebelum kau menikah dengan Seunghyun oppa aku sudah memberitahumu kalau kami sudah berpacaran"
"Sekyung-ah" nada panggilan itu terasa dingin ditelinga Baekhyun
"Ne?"
"Bisakah kau tidak usah mengungkit yang sudah lalu?"
"Ah maaf"
"Gweanchana" dan kembali ke nada semula, lembut.
Tangan Baekhyun mengepal erat. Baekhyun menyimpulkan pemilik rumah ini adalah ibu kandung Chanyeol dan tamu itu adalah ibu tirinya. Lalu kenapa dia mengatakan bahwa ayah Chanyeol masih sehat-sehat saja padahal Baekhyun tau bahwa beliau telah kembali ke pangkuan-Nya bertahun-tahun lalu.
Tapi tunggu, jadi selama ini ibu tiri Chanyeol selalu berhubungan dengan ibu kandungnya. Lalu apa maksud nenek sihir itu mengatakan bahwa Chanyeol tak ingin bertemu denngan ibunya?
"Kalau begitu aku permisi dulu Bom-ah, jaga kesehatanmu"
"Ah baiklah, kau juga Sekyung-ah. Hati-hati dijalan"
Dengan kecepatan cahaya Baekhyun bersembunyi di samping rumah, matanya melihat jelas sosok wanita pelakor-maaf Baekhyun sudah terlanjur emosi- yang berjalan dengan sok anggun keluar dari rumah itu lalu berjalan menjauh mungkin menuju mobilnya yang diparkirkan di tempat lain karena tidak muat jika harus masuk kedalam hingga ke rumah ibunya Chanyeol.
Baekhyun masih berada di tempat dengan posisi yang sama, mencoba mengumpulkan puzel tentang semua ini. Sampai telinganya mendengar suara isakan pilu dari dalam rumah. Baekhyun memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut, sesaat pintu itu terbuka Baekhyun memeluk Bom erat lalu menangis menumpahkan emosinya.
Ia tak tahu kenapa ia malah menangis seperti ini, tapi Baekhyun benar-benar ingin menangis saat ini. Bom yang terlalu kaget tak sempat bertanya dan malah melanjutkan tangisnya bersama Baekhyun.
Bom merasa seperti anak yang memeluknya kini tengah bersedih untuknya meskipun dia tidak tahu siapa anak lelaki ini.
\/
Sehun memijit pelipisnya pelan, setelah pusing dengan urusan pekerjaan Sehun berniat ingin membeli buble tea kesukaannya tapi antrian panjang ini membuat pusingnya bertambah. Taejoon benar-benar menguras tenaga Sehun, dan tanpa alas an kini Jongin dan Sehun tak pernah bersama karena mereka selalu ditugaskan di tempat yang berbeda.
"Selamat siang, mau pesan apa?"
"Buble tea rasa coklat satu, tolong perbanyak bublenya"
"Ne, algeuseubnida" pegawai itu menerima uang Sehun lalu mengetikkan beberapa angka dan kata-kata pada monitor touch screen itu.
"Mohon tunggu sebentar" dan pegawai tersebut pergi menuju pintu yang berada dibelakangnya, lalu kembali sambil membawakan pesanan Sehun "Buble tea rasa coklat dengan ekstra buble, terimakasih, silahkan datang kembali"
"Terimakasih" balas Sehun lalu berbalik sambil menyedot minuman favoritnya.
Ponselnya bergetar lama menandakan ada panggilan masuk "Yo Jong, kenapa?"
"Lu dimana?"
"Di kedai buble tea. Lu lagi dimana?"
"Gua barusan balik Seoul, gua mau jemput baby Soo buat makan siang dulu"
"Siplah, ntar malem ketemuan di apart Chanyeol jangan lupa"
"Iya siap. Yodah bye"
"Hooh"
BUK!
"Siala-," umpatan Sehun terpotong saat dia melihat siapa yang menabraknya barusan hingga menumpahkan buble tea yang dia dapatkan susah payah.
"Ah maaf saya sedang terburu-buru" kata orang tersebut sambil membungkukkan tubuhnya berkali-kali "Sehun-ah" orang tersebut, Luhan, terperangah saat melihat siapa yang ditabraknya barusan.
"Iya tidak apa-apa. Permisi" ucap Sehun datar dan berniat pergi dari sana, namun langkahnya terhenti saat Luhan menggenggam lengannya erat
"Jangan pergi"
"Maaf?" tanya Sehun tetap dengan wajah dan ekspresi datarnya
"Kumohon jangan seperti ini Sehun-ah"
Sehun tercengang saat melihat air itu membasahi kedua mata indah Luhan. Tak bisa bertahan lebih lama, pertahanan Sehun akhirnya runtuh. Perlahan Sehun menghapus air mata Luhan dengan ibu jarinya.
"Kenapa kau nangis di depan toko seperti ini Lu? Orang-orang memperhatikanmu" Sehun terkekeh pelan dan kini keduanya duduk berhadapan di pojok kedai tanpa suara.
"Kenapa-,/Jadi-," Luhan dan Sehun berbicara disaat yang sama, membuat keduanya berdehem dan saling menyuruh untuk bicara terlebih dahulu.
Luhan akhirnya mengalah dan mulai buka suara "Kenapa kau tak pernah membalas pesanku?"
"Ah maaf, aku mengganti nomorku kemarin"
"Kau tak pernah mengganti nomormu sebelumnya, karena takut aku menghubungimu tiba-tiba. Karna kau tau, hanya nomormu yang kuhafal"
"Ya, aku tau itu"
"Kalau kau mengganti nomor seperti itu bagaimana aku bisa menghubungimu kalau aku kecopetan seperti yang selalu kau harapkan?"
"Lu.."
"Apa kau berusaha mempermainkan perasaanku lagi sekarang?"
"Sehun-ah aku tidak-,"
"Aku mencoba menjadi dewasa seperti yang kau harapkan. Aku bukan bocah yang akan merengek agar kau menerimaku lagi, aku bukan-,"
"Aku mencintaimu"
"Ap-apa?" kaget Sehun
"Kubilang aku mencintaimu. Kau tau kenapa aku berlari terburu-buru kesini? Karena pegawai toko ini memberitahuku bahwa kau datang. Sudah berapa puluh kali aku kesini hanya untuk mengecek apa kau membeli buble tea atau tidak.-"
Luhan menunduk dan mulai terisak "-Aku, aku merindukanmu. Tak melihatmu di IGD membuatku merasa ada yang kurang, aku tak bisa fokus saat memeriksa pasien, aku tak bisa tidur nyenyak, bahkan aku kesusahan buang air karnamu, hiks~"
"-Saat kau pergi begitu saja dari ruang karaoke waktu itu, aku merasa ada lubang besar yang menganga di dalam diriku. Hariku terasa kosong tanpamu. Maaf karna selalu menyakitimu, maaf karna selalu menyuruhmu pergi, Mianhae Sehun-ah mianhaeyo"
"-Kau bisa berhenti menjadi bocah, sekarang biarkan aku yang menjadi bocah dan selalu merengek ingin bersamamu"
Luhan merasa kepalanya tertarik pelan hingga kepalanya menyentuh dada bidang Sehun, dapat ia rasakan rengkuhan Sehun pada tubuhnya. Luhan semakin terisak mendapati bahwa hatinya yang terasa dingin mulai menghangat dengan usapan lembut Sehun pada surainya dan perasaannya yang selalu gelisah kini terasa damai saat Sehun mengecup keningnya lama.
Sehun menyembuhkannya secara total, bukan dengan obat kimia maupun ramuan-ramuan magis. Ia menyembuhkan Luhan hanya dengan sebuah pelukan hangat.
"Aku juga mencintaimu Lu, sangat" bisik Sehun dan kembali menghujani kening Luhan dengan kecupan-kecupan halus
"Pekerjaan ku terasa lebih berat semenjak aku memutuskan untuk tidak menghubungimu lagi. Mungkin disbanding rasa rindumu, aku 100 kali lipat lebih rindu padamu"
"Apaan, kau bahkan berbicara dengan nada datar menakutkan itu padaku tadi"
"Kau tau itu juga sulit untukku. Makasih karna sudah berani ngungkapin perasaanmu Lu"
Akhirnya, setidaknya kisah mereka berakhir manis, keduanya tetap berpelukkan dan saling menyuap cake yang dipesan Luhan tadi. Sepertinya Jongin akan menderita karena pasangan baru ini nanti.
\/
"Selamat menikmati" harap pelayan itu dengan senyum sopannya.
Jongin dan Kyungsoo mengangguk bersamaan dan membalas senyum si pelayan. Keduanya menyantap hidangan dengan khidmat, sesekali mereka bercanda dan membicarakan beberapa masalah direstoran atau perusahaan.
"Jong kenapa kau jarang bersama Sehun sekarang?"
"Taejoon selalu menempatkan kami di daerah yang berbeda. Aku tak tau apa maunya si brengsek itu"
"Apa kau tak pernah berfikir kenapa dia seakan-akan memisahkanmu dengan Sehun?"
"Maksudmu baby?"
"Ya, jika kalian terpisah dan sibuk dengan pekerjaan bukankah itu sama saja kalian tidak sempat mencari bukti apapun?"
Jongin terdiam ditempatnya, otaknya mulai mencerna ucapan Kyungsoo. Dan bagai seseorang yang tersadar dari pengaruh magis, Jongin menepuk keningnya.
Kenapa dia baru sadar sekarang? Beberapa minggu ini dia akui dia tak mencari bukti apapun dan fokus dengan pekerjaannya. Oh god, bagaimana bisa dia lebih memprioritaskan pekerjaan daripada sahabatnya yang jelas-jelas membutuhkan bantuannya.
"Aku mencintaimu baby, sekarang ayo kita bertemu Sehun"
\/
Bunyi tanda password sedang di masukkan terdengar, membuat Jongin menolehkan kepalanya ke arah pintu dan mendapati Sehun bersama..
"Luhan?" itu bukan Jongin, tapi Kyungsoo "Kalian…?" lanjutnya ragu
"Lihatkan, sudah kubilang aku akan mendapatkannya" bangga Sehun dengan bahu yang terangkat sombong
"Anjaay, my brader" teriak Jongin dan keduanya berpelukkan sambil berputar-putar layaknya teletubis
"Jika ada Chanyeol maka ke idiotan kalian lengkap" ucap Kyungsoo seakan menyadarkan keduanya bahwa saat ini bukanlah saat yang pas untuk merayakan keberhasilan Sehun.
Keempatnya kini duduk di sofa ruang tengah apart Chanyeol, Jongin dan Sehun bergantian menjelaskan beberapa file yang mungkin saja bisa membantu Chanyeol .
"Gue udah sempet hubungin salah satu direktur di Pyramid company, tapi sampai sekarang belum ada balasan sama sekali. Jadi niatnya minggu lalu gue sama Sehun mau ke Cina buat ketemu secara langsung, tapi tugas perusahaan tiba-tiba membludak 3 kali lipat dari biasanya" jelas Jongin
"Ketemu secara langsung gimana? Pesan kalian yang kemarin aja belum di bales sampai sekarang" sanggah Kyungsoo
Sehun mengeluarkan sebuah foto, terlihat seperti sebuah foto kelulusan. Kyungsoo mengambil foto tersebut dan melihatnya dengan seksama, Luhan yang penasaran ikut mepet kea rah Kyungsoo dan memperhatikan foto itu.
"Itu Chanyeol kan?" tanya Luhan sambil menunjuk salah satu objek dalam foto tersebut
"Kau benar sayang"
"Huek" dan Jongin langsung dihadiahi lemparan bantal
"Ini foto kelulusannya di Jepang kan? Apa pentingnya?" lagi-lagi Kyungsoo kebingungan, untuk apa bocah albino itu memperlihatkan foto tersebut.
"Kau lihat yang berdiri di samping Chanyeol? Dia, adalah anak dari presiden direktur Pyramid company"
"Hah?" kaget Luhan dan Kyungsoo
"Tunggu-tunggu, maksudmu mereka dulu dekat?"
"Yap. Aku dan Jongin juga lumayan dekat dengannya" jawab Sehun
"Itulah yang membuat kita bingung, kenapa tiba-tiba ada berita yang mengatakan bahwa PCC melakukan penipuan pada Pyramid company"
"Aku seperti pernah melihatnya" gumam Luhan yang hanya terdengar oleh Sehun
"Kau mengenalnya Lu?" tanya Sehun dan JongSoo langsung mengalihkan perhatiannya pada Luhan
"Eh, aku tidak mengenalnya Hun. Hanya saja aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat"
"Dimana hyung?"
Luhan membuat keheningan cukup lama dan matanya seketika membola "Rumah sakit"
"Aku melihatnya di rumah sakit"
"Apa dia menjenguk seseorang?" Sehun bertanya dengan pelan
"Hun-ah, apa kau punya foto presiden direktur Pyramid company?"
Layaknya bocah SD yang percaya diri bisa menjawab pertanyaan gurunya, Jongin mengangkat tangannya tinggi-tinggi "Aku punya, tunggu sebentar" ucapnya dan mengobrak-abrik file di hpnya.
Setelahnya Jongin menyodorkan ponselnya pada Luhan "Sekarang aku yakin, presdir Pyramid company ada di rumah sakit tempat ku bekerja"
.
.
.
Te Be Ce
JANGAN LUPA REVIEW GAEESS... LOPYUPUL DAH, SEE YOU IN NEXT CAP :*
REVIEW REVIEW REVIEW...
