Dear readers, sebelum saya ganti FF ini dengan plot yang versi bahasa inggris, coba baca dulu, deh, plot versi bahasa inggris yang sudah diterjemahkan ini. Kalau banyak yang setuju, saya ganti plotnya dengan yang ini.
Chapter 1: The Meeting
Sedikit rambut merah gelap menyembul keluar dari dalam selimut, dan seorang cowok kecil berambut biru muda memasuki kamar tersebut, membawa seekor anak anjing , dan menaruh anak anjing tersebut diatas tubuh yang tertutup selimut tersebut. Selimut pun dilempar was menyibakkan seorang cowok kecil yang mirip dengan pria yang membawa anak anjing, tetapi bedanya adalah cowok yang masih pakai piyama rambutnya merah , dan cowok yang masih memakai piyama itupun memeluk cowok yang lebih tua tersebut dan mengubur wajahnya di perutnya, badannya gemetaran dan begitu pula dengan suaranya.
"Mama… Aku mohon jangan bangunkan aku menggunakan anak anjing lagi. Mereka mengerikan…"
Cowok berambut biru muda pun mengelus rambut merah tua anaknya, dan tanpa perubahan ekspresi, dengan tenang menjawab.
"Tapi kamu sudah 13 tahun, Daiya. Belum lagi, anak anjing itu lucu, lho."
"Tapi Mama, Papa sudah 33 tahun dan masih takut kepada mereka." Daiya membantah. Tetapi bukan Kuroko Tetsuya namanya kalau tidak bisa tetap tenang.
"Yah, itu kan karena papamu punya trauma ketika dia masih kecil, dan itu tidak terjadi padamu. Cepat pakai baju, sarapan sudah siap."
Sebenarnya, Daiya masih mau berdebat dengan ibunya, tetapi ia cepat-cepat mengenakan seragam sekolah menengahnya. Blazer putih diatas kemeja biru muda, disempurnakan dengan celana putih. Ya, Daiya adalah siswa Teiko. Sekolah menengah yang ternama… Dimana legenda Kiseki No Sedai dimulai…
Setelah selesai dengan seragamnya, Daiya berjalan ke ruang makan untuk sarapan , dan dia makan banyak seperti biasa. Setelah tambah lima kali, Daiya pun menaruh mangkuknya , dan membuat orangtuanya kaget. Sebelum orangtuanya bisa mengatakan apa-apa, Daiya sudah mengatakan mengapa nafsu makannya tidak sebanyak biasanya.
"Papa, Mama, tidak apa-apa… Aku Cuma… Sedikit… Gugup. Karena ini Teiko, kan…"
Suasana hening selama beberapa detik, kemudian Taiga menepuk punggung anaknya.
"Semua akan baik-baik saja! Mamamu juga sudah melewatinya, iya kan Tetsu !? Ayo, Daiya, kau bisa melakukannya. Aku percaya padamu, nak. "
Daiya pun memperlihatkan ekspresi yang sangat imut, dan memeluk pinggang ayahnya.
"Aku tahu, Papa. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Papa benar. Mama juga sudah melalui ini. ..
"Daiyacchi! Aku dating menjemputmu~"
"Sepertinya Hyo-kun sudah disini untuk menjemputku. Tumben sekali Mikado-kun tidak dating untuk menjemputku… Dah, Papa, Mama. Sampai jumpa di waktu makan malam kalau begitu" Ujar Daiya sembari melangkah pergi, dan menutup pintu rumah. Setelah Daiya pergi Taiga pun mulai memperlihatkan kekhawatirannya.
"Apakah dia benar-benar akan baik-baik saja ? Ini Teiko lho, Tetsu.." Gumam Taiga.
"Dia akan baik-baik saja . Bagaimanapun, dia anak kita yang berharga . Begitu-begitu dia anak tangguh, kok, Taiga-kun ." Tetsuya menjawab, sambil melemparkan dirinya ke pelukan suaminya . Cowok berambut merah pun menghela nafas .
"Kita berdoa saja untuk anak kita . Aku harap tak ada hal buruk yang menimpa berlian kecil kita yang berharga…"
"Kamu tetap riang seperti biasa, Hyo-kun. Alangkah bagusnya kalau aku juga bisa tidak segugup kamu." Ujar Daiya di dalam kereta, dan sang cowok berambut biru pun tersenyum kepada yang berambut merah .
"Tidak koook,Daiyacchi,tidaaaaak…Sebenarnya aku juga agak gugup, asal kau tahu saja. Akhirnya,sekolah menengah…"
"Sama sekali tidak kelihatan memang sepertinya sebagian besar diantara kita MEMANG gugup."
"Oh, bahkan Daiyacchi juga gugup ? Yah, tak heran… Karena kita semua masuk SMP yang sama…"
Ketika akhirnya kereta mencapai stasiun dimana mereka harus turun, mereka pun turun dari kereta, dan orang-orang pun mulai membicarakan kenapa Hyo (kelihatan) seperti bicara ke udara kosong, sehingga cowok berambut biru merasa jengkel dan mengangkat si cowok berambut merah dengan gendongan ala putrid, dan berteriak.
"Siapa yang bicara dengan udara !? Aku sedang bicara dengan temanku disini ! " Tapi tetap saja orang-orang tidak menyadari keberadaan Daiya . Yang berambut merah tetap tenang. Tak lama kemudian, sebuah cutter terbang kearah Hyo dan memotong sedikit rambut birunya. Si cowok berambut biru pun dengan takut-takut menengok ke belakang, dan menemukan raksasa berambut ungu dengan mata berbeda warna ; kanan merah kiri kuning, mengangkat kepalanya dan dengan angkuh bertanya.
"Siapa yang memberimu izin untuk bertingkah mesra dengan Daiya, Hyo? "
"Mi.. Mikadocchi... Aku cuma mau... Orang-orang menyadari keberadaan Daiyacchi..." Jawab si cowok berambut biru. Hyo sudah menaruh Daiya turun dan mengelus bagian leher hitamnya yang nyaris terpotong cutter, dan menyadari kalau sedikit rambutnya terpotong ketika si cowok heterochromia melemparkan cutternya.
"Oh, tapi kau tahu kan Daiya bisa beralih ke "power mode" kalau dia menginginkannya ? Kalau dia tidak melakukannya, berarti dia ingin keberadaannya tetap tidak disadari, dan kalau orang berpikir kamu gila ketika kamu bicara dengan daiya, itu masalahmu, bukan masalah Daiya, jadi jangan bawa dia ke dalam masalahmu. Jelas?" " Terang Mikado, masih mengangkat kepalanya seperti merak. Bagaimanapun juga, Daiya menyadari lingkaran hitam di sekitar mata berbeda warna.
"Mikado-kun nampaknya kurang tidur..."
Si raksasa ungu pun melihat ke bawah sehingga keping merah dan kuning bertemu dengan keping biru muda, dan mengangguk sedikit.
'Ah, kau menyadarinya ? Ya, aku nyaris sama sekali tak tidur semalam. Membicarakan penerimaanku ke SMP... Sepertinya hari ini pada jam istirahat pun aku tidak akan makan sama sekali dan menghabiskan waktu istirahat untuk menggantikan waktu tidurku. Karena pada akhirnya kita ada di sini..."
Ketiganya melihat ke atas. Mereka akhirnya ada di tempat ini. Teiko . Dimana legenda Kiseki No Sedai dimulai... Dimana orangtua mereka bertemu dan berkumpul untuk pertama kalinya...
"Omong-omong, sebenarnya aku agak kaget melihat Mikadocchi naik kerta. Biasanya Mikadocchi pergi kemana-mana naik limosine pribadi." Ujar Hyo, memperhatikan sekelilingnya. Cowok berambut ungu pun tersenyum.
"Ya, aku tak lagi pergi ke sekolah dengan mobil dan supirku . Sudah waktunya aku mulai mandiri, kan ?"
"Aku harapa kalian berdua ingat tentang apa yang aku katakan sebelumnya ..." Ujar Daiya tiba-tiba sambil menyesap teh apelnya. Hyo menepuk dahinya sendiri.
"Ahhhh! Aku hampir lupa tentangt itu juga, Mikadocchi, Daiyacchi ! Bagaimana ini !? "
Melihat reaksi Hyo, Mikado menghela nafas, dan dengna tenang menjawab.
"Oh, tak perlu khawatir soal itu. Aku sudah merencanakan semuanya. Mereka juga masuk Teiko, aku yakin. "
"Siapa "mereka" , Mikadocchi ?" Tanya Hyo. Mikado mengacuhkan cowok yang berambut bitu, dan berjalan menjauh.
"Ayo kita lihat kita masuk kelas mana ."
Kemudian ketiga cowok tersebut pun berjalan ke papan pengumuman , dan menemukan nama mereka di kelas 1-2 . Tidak seperti Hyo yang langsung lari ke kelas untuk menaruh tasnya, Mikado masih mengamati nama-nama para murid baru, dan setelah dia menemukan nama-nama yang dia cari, dia akhirnya berjalan menjauh, tersenyum mengerikan dan menundukkan kepalanya sedikit, memperkuat kesan mengerikan ke ekspresinya. Daiya yang sudah terbiasa dengan kegilaannya, dengan tenang bertanya kepada Mikado.
"Nama siapa yang kau temukan , Mikado-kun ? Kenapa kau.. Tampak begitu puas sampai rasanya ada yang ganjil ? "
"Aku selalu benar, Daiya. Aku sudah mengatakannya sebelumnya, kan ? "Mereka" juga masuk sekolah ini, sesuai dugaanku. Tetapi aku tidak mengira "gadis itu " akhirnya menghadiri sekolah... Kukira kakeknya akan menahannya di rumah karena kecelakaan itu, tapi oh, yasudahlah... Begini lebih baik... Ini berjalan lebih lancar daripada yang sudah kurencakan sebelumnya.. Ayo kita ke kelas untuk menaruh tas kita, Daiya ."
"Mikado-kun, kumohon, berikan aku petunjuk , sedikit saja. Kumohon. " Daiya memaksa. Senyum Mikado pun lenyap dari wajahnya, dan dia nampak jengkel sekarang.
"Sejujurnya aku benci kalau kau sedang keras kepala, Daiya. Tapi karena ini kamu, sepertinya aku akan memberikan petunjuk walau hanya satu. Kemiripan marga kita. Itu saja, carilah nama mereka kalau kau mau. Aku ke kelas sekarang. " Jawab Mikado dingin , dan dengan tenang melangkah pergi, meninggalkan yang berambut merah sendiri. Daiya memejamkan matanya, dan memikirkan kemiripan marga kisedai. Warna. Itu dia. Itu petunjuknya. Mata biru muda Daiya pun menyusuri nama-nama di papan pengumuman dan dia menemukan nama dengan kata warna, yaitu "hijau" , dengan nama lengkap Midorima Fukuro, dan sekelas dengannya juga. Di dekat situ, ia juga menemukan nama dengan kata yang berhubungan dengan warna, yaitu "pelangi" dengan nama lengkap Nijimura Fuyu. Masih penasaran dengan gadis yang disebut Mikado tadi, mata biru mudanya kembali menyusuri papan pengumuman untuk mencari nama anak perempuan dengan kata warna, dan dia menemukannya. "Putih", dengan nama lengkap Shirogane Yukina. Daiya merasa marga itu tak asing baginya, dan Daiya mencoba mengingat-ingat, tetapi hasilnya nihil. Daiya akhirnya memutuskan untuk menaruh tasnya di kelas, seperti yang dilakukan Mikado dan Hyo sebelumnya, dan berjalan ke lapangan untuk upacara bendera. Setelah upacara bendera selesai dan jam wali kelas dimulai, Daiya masih belum menemukan siapapun yang memiliki rambut hijau, tetapi dia memang menemukan seorang gadis yang dia curigai sebagai Shirogane Yukina. Seorang gadis albino dengan rambut seputih salju dan mata yang berbeda warna, dengan tiap kepingnya merupakan warna yang berlawanan dengan matanya Mikado. Mikado pun menyadari kekhawatirannya dan berbisik kepada cowok berambut merah itu.
"Tak perlu khawatir, Daiya. Mereka juga masuk kelas ini. Tapi mungkin ada masalah kecil sehingga mereka jadi terlambat. "
Baru saja setelah Mikado selesai bicara, dua anak laki-laki terburu-buru masuk kelas dengan napas terengah-engah. Yang satu albino dengan rambut putih dan mata kelabu, yang satu lagi berambut hijau dengan mata jingga, dan dia membawa... Haniwa? Itu yang dipegang si kepala hijau itu patung haniwa, kan ?
Setelah menggosok matanya, Daiya melihat si cowok albino membungkuk kepada guru, besar kemungkinan meminta maaf atas keterlambatannya .
"Saya mohom maaf yang sedalam-dalamnya, Sensei. Kami punya urusan yang harus diselesaikan pagi ini, itulah sebabnya kami terlambat.. . Saya mohon juga maafkan teman saya ini. Apakah hari ini kami tidak diperbolehkan masuk kelas? "
Sang guru pun menyusuri nama di daftar absen, dan bertanya.
" Kamu Nijimura ? Dan yang di sebelahmu itu Midorima ? "
Cowok albino pun mengangguk, keping kelabunya terfokus pada cowoh berambut hijau di sebelahnya dengan tatapan marah, dan si kepala hijau malah tersenyum kekanakan, dan Daiya bisa tahu kalau si albino semakin marah dengan reaksi temannya, tetapi bisa tetap menahan amarahnya dan tetap tenang , kemudian menatap sang guru lagi.
"Ya, sensei. Saya Nijimura Fuyu, dan ini Midorima Fukuro. "
"Hmmm... Karena ini pertamamu, sepertinya tak apa. Duduklah di kursi kosng yang tersedia, kalian berdua. "
Kali ini, sebelum si cowok albino bisa mengatakan apa-apa, si kepala hijau membungkuk dan memperlihatkan rasa terima kasihnya.
"Terimakasih, Sensei ! Kami berjanji kalau kami tidak akan mengulangi kesalah kami. Sekarang, kami permisi..."
Keduanya pun duduk di kursi kosong yang ada. Fukuro di sebelah Daiya, Fuyu di belakang Hyo.
*longkap ke jam istirahat*
Hyo segera mendekati Fuyu dan bicara kepada si albino, dengan mata berkelap-kelip, dan tangan terkepal di bawah dagu seperti fangirl (halah! )
"Kamu... Keren sekali barusan itu ! Bahkan Sensei memuji dialekmu yang sempurna! Bagaimana caramu mempelajari pengucapan yang sempurna !? "
Keping perak bertemu keping emas, dan si albino dengan malas menjawab.
"Huh ? Nggak, itu bukan apa-apa... Eh, bukankah kau Aomine Hyo ? ?"
"Eh? Kau mengenaliku ? " Si rambut biru kaget, dan sang cowok albino berdecak.
"Siapa yang tidak mengenali aktor terkenal Aomine Hyo ? Tidak adil kan kalau aku tahu namamu tapi kau tak tahu namaku ? Namaku Nijimura Fuyu. Salam kenal, ya. " Ujar si cowok albino sambil mengulurkan tangannya. Cowok berkulit gelap pun menjabat tangan yang dibungkus kulit pucat.
"Salam kenal juga! Omong- omong, kamu main basket tidak ? Tanya Hyo polos. Fuyu berdecak, kemudian tersenyum dengan seikit kenakalan dalam senyum itu,
"Kamu benar-benar seperti yang dikatkan orang, ya? Benar-benar si bodoh yang di kepalanya cuma ada basket. Tapi ya, aku main. Biasanya posisiku PF. "
"Hei, hei, Fuu-chan, jangan lupakan aku! " Ujar si kepala hijau sambil bergayut di tangan si albino. Daiya tiba-tiba muncul di belakang Fukuro, anehnya yang berambut hijau tidak terlihat kaget, , dan keping jingga pun bertemu keping biru muda.
"Rambut hijau itu... Kamu pasti Midorima-kun. "
"Oh, ya ! Ya, aku memang Midorima! Mata biru muda itu... Kamu pasti Kagami, kan ? "
"Ya, aku Kagami Daiya. Apakah biasanya posisimu SG? "
"Iya, biasanya aku SG. Memangnya kenapa ? " Fukuro memiringkan kepalanya, keping jingganya menampakkan tatapan bingung, dan bukan Daiya yang menjawab pertannyannya, tapi Fuyu.
" Kamu tidak menyadarinya, Fukuro ? Dia ingin meyakinkan dirinya kalau tim kita sudah lengkap. PF-nya aku, SD-nya kamu, Kagami itu PG, lalu Aomine itu SF... Semua berjalan sesuai keinginannya, yang akan jadi kapten sekaligus Center kita..." Keping kelabu terpusat pada seorang raksasa berambut ungu, yang menaruh kepalanya diatas meja dan menutup wajahnya dengan tangannya, tidur. Kemudian keping kelabu tersebut beralih kepada seorang gadis yang baru saja memasuki kelas.
"Dan coach sekaligus manajer kita baru saja datang... Panjang umur, Yang Mulia Putri Salju." . Gadis yang baru saja memasuki kelas itu pun memusatkan matanya yang berbeda warna ke si cowok albino, dan menyatakan kejengkelannya.
"Berhenti bercanda dengan namaku, Fuyu-kun. Bukan keinginanku punya nama seperti ini." Fuyu menyeringai, dan membalas kata-kata gadis tersebut.
"Tentunya aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak berkelakukan seakan-akan kau adalah putri sungguhan dengan banyak pelayan di sekitarmu. Namamu cocok denganmu, baik dengan kepribadian ataupun penampilanmu. "
"Baiklah, aku mengerti. Bagaimanapun juga, ini sudah melewati kesempurnaan bukan ? Kita semua ada di sini, dengan kata warna dalam marga kita semua, yang merupakan petunjuk atas kekuatan dahsyat kita... Oh, dan Hyo-kun... Apakah kau keberatan kalau aku menantangmu main one-on-one ? Satu babak saja." Ujar Yukina, pandangan matanya yang berbeda warna teralihkan ke Hyo.
" Ya, tentu ! Mengapa tidak ? " Jawab si rambut biru dengan riangnya. Kemudian di lapangan, sebelum permainan, Yukinra mengikat rambut saljunya menjadi gaya buntut kuda, sedangkan Fuyu mengeluarkan payungnya, bola basket di tangan yang lain, dan dia melemparkan bolanya ke atas. Tentu saja karena dia lebih tinggi, Hyo duluan yang mendapatkan bola. Tetapi, ketika Hyo sudah melakukan shoot, tiba-tiba Yukina melompat dan menangkap bolanya, meninggalkan Hyo kaget, karena dia yakin yang barusan itu Formless Shoot tetapi gadis albino itu bisa menebak arahnya. Fuyu pun mengambil bola setelah Yukina melakukan shoot, dan dengan tenang mengomentari adegan barusan, tetapi kata-katanya hanya membuat si cowok berkulit gelap semakin kaget.
"Jangan kaget, Aomine. Kuberitahu saja, dia itu punya kemampuan yang mirip dengan Akashi. "
"Mu... Mustahil! Cuma Mikadocchi yang punya "Emperor Eyes." !"
Fuyu menghela nafas, dan melanjutkan penjelasannya. Kata-katanya membuat albino yang satu lagi menyipitkan keping kelabunya, tapi setelah itu, mengalihkan perhatiannya ke cowok yang berambut biru.
" Tidak, aku tidak bilang dia punya Emperor Eyes. Yang aku katakan adalah dia punya kemampuan yang mirip dengan Emperor Eyes. Lebih tepatnya, kemampuan yang merupakan gabungan dari Emperor Eye dan Hawk Eye, tetapi bukan berdasar penglihatan, tapi kesensitifan kulit... Kemampuan untuk menebak gerakan seseorang dari angin yang paling samar sekalipun, dari arah manapun... Benar kan, Yukina! Apakah kau punya masalah tidur dengan "Princess Skin" mu itu !?"
"Setelah mempermainkan namaku sekarang kau mempermainkan kemampuanku ? Apa kenakalanmu itu ada batasnya ? Tapi kalau kau mau tahu, jawabannya tidak. Aku memang punya kulit sensitif, tapi aku tak punya masalah tidur. Dan Hyo-kun... Biarpun aku lebih cepat, biarpun aku punya "Princess Skin" tapi tetap saja staminaku terbatas ... Yah, anggap saja melawanku latihan untuk melawan Mikado-kun."
"Wah, kedengarannya bagus-ssu! Ayo kita mulai lagi! "
"Nah, kau punya semangat yang bagus. Sepertinya kau bisa bertahan di latihanku, ya."
Permainan berlanjut, Dan Hyo nampaknya lebih sering melakukan dunk daripada shoot, dan pada akhirnya dialah yang menang. Biarpun Hyo yang menang, tetap saja hasilnya mengejutkan karena selisih skornya sangatlah tipis, karena dulu saja itu adalah hal yang langka apabila ada yang bertanding melawan anggota Kiseki no Sedai, apalagi Hyo adalah anak dari dua anggota kisedai sehingga kekuatannya seharusnya sekitar dua kali lipat satu anggota kisedai, tetapi Yukina nyaris seri dengannya. Hyo mengulurkan tangannya, menawarkan jabat tangan dan Yukina dengan senang hati menerima tawaran tersebut.
"Terimakasih atas permainannya, Yukinacchi. Sudah lama sekali rasanya sejak ada yang bisa membuatku merasa setegang itu."
"Sama-sama, Hyo-kun, dan tolong panggil aku dengan margaku, Shirogane. Dengan permainan barusan aku berhail mendapatkan data yang lebih rinci tentangmu... Sayang kamu belum menggunakan Zone, tapi itu memang pengalaman yang bagus..."
Setelah sang gadis berambut salju meninggalkan tempat tersebut, sepasang keping berbeda warna bertemu pasang berbeda warna lainnya ketika gadis tersebut melihat ke atas dan keduanya pun tersenyum licik. Sedangkan Hyo berbalik dan bertanya dengan riang kepada Fuyu.
"Ne, apakah kau juga bermain ? Sepertinya tadi kau bilang kau PF dalam daftar Mikadocchi. Kalau begitu kau seharusnya selevel denganku juga, ssu ! Ne, ne, bisakah kau ? Omong-omong, mengapa warna rambutmu tidak sama dengan margamu, Nijimuracchi ?"
"Waduh, waduh. Tenang, Hyo. Iya, aku bilang begitu... Itu dugaanku berdasarkan kepribadiannya. Tapi aku tidak akan bermain selama matahari masih bersinar di atas sana. Aku albino... Lihat kulit pucat ini ? Aku tak tahan cahaya matahari... Mata dan kulitku sakit sekali kalau kena cahaya matahari..."
Tiba-tiba, Fukuro memotong kata-kata Fuyu.
"Tapi kalau cuma 10 menit Fuu-chan bisa kok nanodayo, dan soal namanya..."
Fukuro pun mendorong Fuyu sehingga si cowok albino jatuh terduduk , dan rambut beningnya terpapar cahaya matahari sehingga membiaskan cahaya matahari dan beberapa garis warna pelangi nampak di rambut kaca tersebut. Memang hanya sekejap, tapi Hyo yakin ia melihat beberapa garis warna pelangi di kepala Fuyu, karena tak lama kemudian si cowok albino langsung bangkit , mengambil payungnya dan menarik kerah Fukuro., yang malah tersenyum ke arah Hyo.
"Tuh ! Pelanginya ada kan ? Dia ini rambutnya bukan putih, tapi bening. Indah kan? Rambut kaca Fuu-chan tidak ada duanya di dunia ini... Rambut bening yang dapar membiaskan cahaya matahari menjadi pelangi... "
"TAPI TIDAK PERLU MENDORONG AKU JUGA KAN !? "
"Habis rambut bening Fuu-chan indah sekali... Aku ingin sering lihat, dan minta baik-baik pun kau masih tidak mau menyingkirkan payungmu."
"Kau ini...Aku tidak minta dilahirkan begini, tahu ? Pokoknya begitu, Aomine. Fukuro benar. Kalau cuma 10 menit, sepertinya aku bisa, tapi aku tak mau. Sakit, aku bukan masochist. Kalau sebegitu inginnya melawanku, tunggulah sampai matahari terbenam. Aku akan menerima tantanganmu. Aku janji."
Respon Fuyu merupakan kejutan bagi Hyo , karena setelah selesai bicara, si cowok berambut bening tersenyum kepada yang berambut biru.
"Ummm... Aku mengerti... Tapi kenapa Shiroganecchi bisa main di bawah cahaya matahari dalam jangka waktu lama ? "
"Itu... Aku juga tak begitu mengerti..."
"Tapi yasudahlah. Kan, kau sudah berjanji padaku."
Tiba-tiba, Daiya muncul, dengan sapu tangan di pipinya, menyeka sisa makanan, yang kemudian kata-katanya mengagetkan cowok-cowok lain.
"Maaf mengganggu, Hyo-kun, Nijimura-kun, Midorima-kun, tapi waktu istirahat sebentar lagi selesai. Jadi ini bekal kalian, dan selesaikan secepatnya."
Ketiganya pun cepat-cepat makan sampai mereka tersedak, dan segera berlari kembali ke kelas , dimana akhirnya Mikado sudah bangun, sepenuhnya terjaga, dan bertanya kepada mereka dengan senyum penuh maknanya yang biasa, yang Fuyu balas dengan desisan.
"Sepertinya kalian semua sudah bertemu, ya ? Apakah kalian melakukan permainan yang bagus barusan ? "
"Tak usah menanyakan yang tak perlu, Akashi. Aku yakin kau pasti memperhatikan kami, jadi tak ada gunanya bertanya karena Emperor Eye-mu yang berharga itu sudah melihat semuanya."
"Kau berani bertanya balik ? "
"Ya, aku berani. Aku akan mematuhimu kalau perintahmu logis dan perlu. Tapi aku tidak bisa selalu setuju pada tiranimu. "
"Hmph, memang diperlukan lebih banyak usaha untuk menundukkan serigala daripada menundukkan anjing. Yah, tak masalah. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku bagaimanapun caranya. Oh, Sensei sudah datang..."
*longkap ke waktu pulang sekolah*
Fukuro dan Hyo masih ada di kelas, dan Fukuro membantu Hyo dengan tugas fisikanya. Bosan, Fukuro akhirnya memulai pembicaraan.
"Akashi itu orang seperti apa, Aomine ?"
"Mikadocchi ?"
" Iya. Kata Fuu-chan, Akashi itu itu benar-benar tiran..."
'Iya memang. Mikadocchi memang tiran, tapi dia punya kemampuan memimpin dan begitulah dia dididik oleh ibunya, jadi kita tak bisa apa-apa... Tingginya mengerikan , kan? Tapi kepribadiannya lebih seram lagi, lho. Kalau dia sudah marah... Dia akan benar-benar membuatmu hancur. Baik secara fisik ataupun mental, tergantung apa yang ditakuti korbannya. Mikadocchi juga tidak akan ragu untuk menggunakan rasa takut untuk mengendalikan orang. Mengerikan..."
"Duh.. Ngeri banget, ya. Sepertinya aku perlu bertanya kepada Papa soal dia, tetapi Fuu-chan yang berani menentangnya ... Menurutku seram juga, bagaimana menurutmu ?"
" Tentu saja! Ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang berani melawan Mikadocchi ! Eh, jawaban yang ini benar tidak ?"
"Oh, iya, ini benar! Akhirnya kita bisa pergi ke gedung olahraga dan mendaftar ke klub basket ! "
Kemudian keduanya pergi ke gedung olahraga , dan ketika mereka membuka pintu, mereka melihat pemandangan yang mengejutkan dimana senpai yang seharusnya merupakan kapten tim basket sekolah mereka saat itu berlutut di depan Mikado yang dengan tenang men-dribble bola dengan tenang di tempat , kemudian mengambil bolanya, masih dengan posisi berdiri dengan angkuhnya.
" Apa, yang barusan itu sudah semua dari keseluruhan kemampuan Senpai ? Betapa mengecewakannya... Kau bahkan tak bisa mengusir kebosananku dan bermimpi untuk mengalahkan aku ? Sungguh mimpi yang fana... Nah, Senpai.. Apakah kau akan menepati kata-katamu ? Atau tidak? "
"A... Apa ini... Apa yang terjadi? " Fukuro kaget, ketika Fuyu menujuk ke papan nilai menggunakan dagunya. 50 lawan 0..."
Fukuro tidak mengerti apa yang sedang terjadi , sementara Hyo mengerti, dan mengkonfirmasikannya kepada Daiya yang juga ada di sana.
"Mikadocchi melakukannya lagi ? "
"Ya. Dan kali ini lebih parah daripada sebelumnya. "
"Tunggu ! Aku masih belum mengerti! Apa yang terjadi disini!? "
Daiya pun berjalan ke sisi Fukuro, dan berbisik ke telinga si burung hantu.
"Beginilah caranya kenapa Mikado-kun bisa jadi kapten padahal masih kelas satu. Dengan mengalahkan kapten sebelumnya dengan telak, menekankan bahwa dia punya kemampuan untuk melakukannya. Dengan "biasanya" , maksudku dia juga melakukan ini waktu SD."
Kapten sebelumnya menggeritkan giginya, meninju lantai , meninggalkan lapangan, , berteriak dengan marah dan setelah itu Yukina muncul.
"Kh... Baiklah! Ambil saja sana kalau mau! Kau yang menang..."
"Semua dokumen sudah diurus, Mikado-kun. Apa yang akan kau lakukan berikutnya ?"
"Sepertinya semuanya ada dalam genggamanmu , Akashi ? Sepertinya kau tak butuh bantuanku, ya. Aku permisi kalau begitu." Ujar Fuyu setelah menganalisa keadaan. Mikado pun melirik ke arah di rambut bening dan kata-katanya terdengar seakan-akan dia mengucapkannya tanpa sadar, walaupun semua orang disana tahu dia serius dengan kata-katanya.
"Oh, tapi aku mempercayakan posisi wakil kapten padamu, Fuyu.
Mata kelabu membeku, kemudian berkedip dengan cepat, dan dia pun akhirnya menjawab.
" Yang benar, Akashi ? Aku ? Kenapa tidak Kagami saja? Dia menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu untuk memahamimu ... Kenapa menunjukku untuk posisi ini . ? "
"Aku yakin kau memiliki kemampuan lebih untuk mengisi posisi tersebut dibandingkan Daiya. Aku selalu benar, jangan bantah aku ." Mikado menjawab dengan penuh keangkuhan seperti ibunya , dan Fuyu menghela nafas.
"Mengerti, Mi-ka-do-sa-ma. Aku akan mengerjakan tugasku setelah kau menunjukku untuk posisi itu. Biarpun begitu, tolong kata-kataku ini dianggap serius. Untuk setiap tiran akan selalu ada pemberontakan. Yah, kalau begitu, aku permisi, karena aku baru akan mulia besok."
Setelah si rambut bening menyelesaikan kalimatnya, dia benar-benar pergi, dan kali itu, Fukuro tidak mengekor di belakangnya. Hyo merasa sedikit sedih, tetapi karena dia adalah aktor, dia pun segera memasang senyum palsu.
Setelah hari pertama di SMP, Hyo berjalan pulang sendiri. Hari itu dia tidak merasa sreg untuk pulang berama Mikado dan Daiya. Matahari juga sudah terbenam... Malam sudah benar-benar datang sekarang... Hyo pun terbayang kata-kata Fuyu tadi. Sekarang sudah gelap, seandainya tadi si albino belum pulang, dia pasti mau memenuhi tantangannya... Seandainya saja si albino itu masih ada...
"Yo , Aomine! Sesi latihannya Akashi dan Yukina makan banyak waktu , kan !? Bagaimana, bisakah kau menyelesaikannya !?"
Hyo berbalik untuk melihat sumber suara tersebut, dan menemukan Fuyu duduk di kursi dekat lapangan luar gedung, tersenyum padanya, dan Hyo tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum balik.
"Tadi aku sudah janji, kan? Ayo kita main! "
" Yuk !"
Hyo pun menang dengan perbedaan nilai yang tipis, yang sekali lagi mengagetkan si rambut biru karena dalam sehari dia bertemu dua orang yang selevel dengannya. Belum selesai sampai di sana, kalimat Fuyu pun membuatnya makin kaget.
"Aku sebenarnya belum menggunakan kemampuan yang aku warisi dari ibuku, Aomine. Tapi kemampuanku memang mirip denganmu, sih. Tapi aku tak punya hati untuk menggunakannya saat latihan melawan teman setimku."
"Apaaa !? Kau membuatku makin penasaran dengan kemampuanmu... Beritahu aku, beritahu!"
"Mungkin lain kali. Ah... Hujan.."
"Aaaaahh! Aku sama sekali tak membawa payung hari ini! Aku akan basah kuyup... Ahhh.."
Fuyu menghela nafas, dengan tenang mengambil payungnya dari tasnya dan membukanya.
'Kemarilah, bodoh. Aku akan mengantarmu pulang. Tapi sekali ini saja."
"Yaaayy! Nijimuracchi, diluar dugaan kamu ternyata baik ya! " Hyi menjerit dengan riang, mencoba memeluk si rambut bening, tapi si rambut bening menghindarinya.
"Tidak, jangan bertingkah sedekat itu denganku. Kita baru kenal satu sama lain hari ini. Lakukan itu lagi dan aku akan meninggalkanmu dalam keadaan basah kuyup"
"Tidaaaaakkk ! Aku jaji aku tidak akan melakukannnya lagi ! Jadi bisakah kau mengantarku pulang ? Kumohon? "
"Baiklah, baik! Ikutlah denganku! "
Dengan itu, Hyo pun akhirnya berjalan pulang berssama Fuyu, dan sambil mereka berjalan, keping emas mengamati badannya si rambut bening. Otot yang terbentuk sempurna yang dibungkus kulit pucat... Benar-benar mengalihkan perhatian...
"Hei... Mengapa kaku menatapku dengan tatapan mesum begitu ?"
"Heh !? Oh, buka apa-apa... Aku cuma berpikir... bentuk badanmu bagus.."
"... Kurasa aku harus mengucapkan terima kasih karena itu pujian, tapi entah mengapa aku merasa ngeri..."
"Oh, Ini dia ! Nijimuracchi, ini rumahku! Ujar Hyo sambil menunjuk sebuah rumah besar dengan cat biru dan gerbang kuning. Hyo pun membuka pintu rumah, dan ketika dia berteriak "aku pulang", ibunya ada disana untuk menyambutnya.
"Aku pulaaaang~! Eh ? Ibu sudah ada di rumah ? "
"Selamat datang kembali, Hyocchi! Ib u mau libur, capek. Eh ? Kau membawa teman lain selain Mikadocchi dan Daiyacchi ? Masuklah, masuklah! Lagipula sekarang hujan, berteduhlah dulu! "
"Eh, tidak, terimakasih .. Saya tak mau merepotkan... Lagipula kita baru bertemu..." Fuyu mencoba menolak baik-baik, tapi Ryouta memaksa.
" Tidak, sungguh tak apa! Oh, omong-omong rasanya aku mengenal wajahmu..."
Fuyu pun menggigit bibir bawahnya, mencoba mengendalikan kegugupannya.
"Hmm.. Oh! Aku tahu! Kamu pasti anaknya Nijimura-senpai kan ? Wajahmu begitu mirip dengannya! Eh... Tapi kalau begitu... Nama ibumu sebelum menikah... Haizaki Shougo, benar tidak? "
"I.. Iya.."
"Wah! Aku sungguh tak menyangka Nijimura-senpai benar-benar menikah dengan Ibumu itu dulu begitu, sih... Tapi, kau benar- benar mirip ayahmu, ya... Kalau kulitmu tidak sepucat ini, dam rambutmu juga hitam mungkin orang akan mengiramu sebagai ayahmu."
"Eh.. Hehe.. Begitu, ya."
"Kenapa kau canggung begitu, sih... Aku memang dulu punya hubungan sebagai r rival yang kurang sehat dengan ibumu, tapi itu kan dulu.. Sekarang, aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi, dan kalaupun aku masih mempermasalahkannya, itu kan masalahku dengan ibumu dan bukan denganmu. Aku tak punya kebencian apa-apa padamu. Karenanya masuklah, aku akan memperlakukanmu dengan baik."
"Ehm, terimakasih, Aomine-san. Tapi, tetap tidak. Masalahnya, Ayah bisa membunuhku kalau aku pulang telat hari ini ! "
"Oh, iya! Ayahmu memang seperti itu orangnya, dia keras sekali orangnya... Ya sudah, sampai jumpa. Ah! Sebelum pergi, berikan namamu dulu! "
"Nijimura Fuyu! Sudah ya Aomine, aku pulang dulu! "
"Ya! Sampai jumpa besok, Nijimuracchi ! "
Dan dengan itu pun, Fuyu lenyap dari pandangan. Malam itu, Hyo bersyukur orangtuanya memasukkanya ke Teiko.
Chapter 2 : How The Successors Started It
Dalam sebuah kamar rumah sakit, seorang pria duduk di sisi kasur, memegangi tangan kanan dari tubuh diatas kasur yang wajahnya ditutup sehelai kain. Laki-laki berambut perak pun terisak, dan memegangi tangan kanan tersebut lebih kuat. Tiba-tiba pintu terbanting terbuka, dan seorang pria berambut hitam dengan nafas terengah-engah pun berjalan mendekati kasur tersebut.
"Kemana saja kau, brengsek ? Anakmu sekarat... "
"Shou, maafkan aku, aku..."
" Dan sekarang dia sudah pergi! Kemana saja kau, hah !? "
"... "
"Mau beralasan apa lagi , Shuu !? "
" ... Aku tak bisa mengucapkan selamat tinggal pada ayahku di detik-detik terakhirnya, dan begitu juga dengan anakku ? Ini terlalu berat bagiku..."
"..."
Shuuzou pun berjalan mendekati kasur, menyibakkan kain yang menutupi wajah di atas kasur tersebut , sehingga nampaklah wajah yang mirip dengan Shuuzou sendiri, dan mengecup dahi tubuh tersebut.
"Fuyu... Maafkan Ayah yang tidak bisa menemani detik-detik terakhirmu..."
Tiba-tiba, keping perak sepenuhnya terbuka dan Fuyu pun terbangun dari mimpi buruknya. Ia pun mengatur nafasnya dan meminut sedikit air.
"Mimpi buruk itu lagi..."
Tidak bisa kembali ke alam mimpi, Fuyu memutuskan untuk bangun dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Ketika ia sedang mengikat tali sepatunya , ada suara yang menyapanya dari belakang.
"Tidakkah ini terlalu pagi untukmu berangkat sekolah sekarang ? Sekarang baru jam 5:30, dan sekolahmu tidak sejauh itu dari sini."
Fuyu menengadahkan kepalanya untuk melihat sumber suara tersebut. Keping perak bertemu keping perah, dan dia melihat ayahnya disana, dan membalas.
"Akashi menunjukku sebagai wakil kapten , jadi aku punya banyak tugas sekarang. Bolehkah aku bertanya tentang beberapa hal ?"
"Tentu boleh, nak. Sebagai ayahmu, aku akan mendukungmu dengan semua yang kupunya. "
"Terimakasih, Ayah. Kalau begitu, pertanyaanku adalah... Separah apakah tirani keluarga Akashi ? "
Shuuzou menghela nafas, kemudian mengangkat lengan anaknya, membantunya berdiri.
"Ini masalah serius yang tidak bisa dibicarakan di genkan, Fuyu. Yuk, kita masuk ke dalam lagi. Lepas sepatumu. "
"Fuyu pun menruti apa yang dikatakan ayahnya, dan berjalan kembali ke ruang keluarga, kemudian duduk di sofa. Ayahnya kemudian duduk berseberangan dengannya, dan mulai menjelaskan keadaan.
"Sejujurnya, aku tak ada di dekatnya ketika Akashi mendapatkan "Emperor Eye." Oh, dengan "Akashi, maksudku ibunya, Akashi Seijuurou. Tentu, dia punya status yang dahsyat seperti anggota Kisedai lainnya, tapi dia tidak seangkuh itu waktu aku masih ada di Teikou. Dia juga belum punya Emperor eyes waktu itu. Dia orangnya patuh dan lembut ketika aku masih di klub. Dan waktu itu, keda matanya masih berwarna merah."
Yang berambut bening berkedip, keping kelabunya melebar dalam keingintahuan.
"Kemudian apa yang terjadi ? Mengapa mata kirinya berubah menjadi kuning dan kepribadiannya berubah ?
Lelaki yang lebih tua menghela nafas, dan melanjutkan penjelasannya.
"Aku juga baru tahu mengapa ketika kami bertemu lagi di pernikahannya. Dia menjelaskan banyak hal... Tentang kerasnya ayahnya... Tentang ibunya.. Tentang bagaimana ketakutannya akan kekalahan dan stresnya melahirkan kepribadian keduanya... "
"Ayah, kalau Akashi yang kutahu juga punya mata beda warna, apakah itu artinya dia juga berkepribadian ganda ? "
"Bahkan akupun tak tahu sejauh itu, nak. Tapi adalah tugasmu untuk menyelidikinya sendiri. Kau bisa melakukannya... Tapi kalau memang dia berkepribadian ganda seperti ibunya, besar kemungkinan kepribadian lain tersebut lahir dari tekanan lingkungan, atau kejadian yang membuatnya trauma. Itu akan jadi alasan kenapa kalian, anak-anak Kisedai yang lain, untuk bertahan di sisinya dan mendukung kepribadian aslinya yang rapuh..."
"Si kepala merah sok maharani itu dulu memang sangat menyebalkan, tapi aku juga baru tahu dia punya beban seperti itu... Apa memang takdirmu ya, mengurus para kouhai dengan rumah tangga berantakan begitu ? Omong-omong, sarapan kalian berdua sudah siap dan bekal sudah kugantung di pintu." Shougo pun tiba-tba muncul dan memeluk Shuuzou dari belakang.
"Kamu juga begitu, kan. "
"Ya, makanya aku sayang padamu karena mau meluangkan waktumu untukku dan membuatku sadar aku masih punya tujuan hidup... Dan tempat bersandar... Eh, Fuyu. Melihat kemiripanmu dengan Shuu , pasti anak Seijuurou menunjukmu sebagai wakil kapten, ya ? "
"Kok, Ibu bisa tahu ?"
"Si maharani itu memang begitu orangnya, jadi aku tak heran kalau anaknya juga begitu. Pokoknya, dengan itu kamu pasti jadi sibuk, tapi ingat , ya... Jangan memaksakan dirimu... Nanti kamu sakit dan dasarnya kamu memang sakit-sakitan, jadi terlalu sibuk itu berbahaya untukmu... Hati-hati, ya? "
"Iya. Ayah, Ibu, Fuyu pamit dulu, ya.."
Fuyu pun berangkat, tapi bukannya langsung ke sekolah dia mengunjungi kediaman Midorima dulu. Tetapi Fukuro sudah berangkat duluan, dan setelah pamit Fuyu pun melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Ketika itulah dia mendengar Fukuro memanggilnya, dan ketika ia menoleh, Fuyu menjerit dalam kekagetan.
"APA-APAAN GEROBAK ITU !?"
Ya, Fukuro datang dengan gerobak terkenal yang awalnya merupakan kendaraan khas orangtuanya. Kalau author Fuyu, Author juga bakal kaget, kok.
"Ini ? Papa dan Mama memberiku ini sebagai hadiah masuk SMP. Ke sekolah bareng yuk, Fuu-chan! "
"AMIT-AMIT! MENDING JALAN SENDIRI! "
"Aku yang ngayuh deh, hari ini! "
"TETEP ENGGAK! " Jelas si albino sembari mempercepat langkahnya, meninggalkan si kepala hijau jauh di belakang, mengacuhkan jeritan sang burung hantu. Si albino pun naik bus hari ini, padahal biasanya dia naik kereta. Tetapi setelah melewati tiga stasiun, ia melihat bayangan biru yang tak asing.
Hyo.
Ketika si kepala biru masuk ke dalam bus, gadis-gadis mulai menjerit seperti orang gila dan Fuyu pindah ke bagian belakang bus. Tapi Hyo juga pindah ke sana.
"Selamat pagi, Fuyucchi. Aku sama sekali tak menduga akan bertemu denganmu disini, tapi tidak berarti aku tidak senang dengan kenyataan itu. Apa kau juga biasanya melalui rute ini ?"
'Aku juga sama sekali tak menduga artis sepertimu dengan santainya naik kendaraan umum. Tidakkah ini berbahaya untukmu, karena dengan begini lebih mudah bagi para penguntit untuk menguntitmu ? "
"Ahhh! Tapi aku suka berhubungan dengan banyak orang. Tapi kali ini, aku naik bus karena hari ini aku kepagian. Aku langsung kesini dari tempat shooting, aku bahkan belum tidur~. Ehe~ . Sepertinya Mikadocchi akan jengkel lagi karenanya, tapi tak apalah. Lebih baik jengkel sedikit daripada marah~.Hehe~ " Jawab Hyo riang, wakaupun lingkaran hitam di sekitar matanya nampak begitu jelas diatas kulit hitamnya. Fuyu pun menyadari kalau ini kesempatan emas untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang Mikado, tapi alangkah baiknya kalau ia berbasa-basi dulu untuk kesopanan.
"Susah ya, jadi artis kelas atas. Memangnya kamu biasa pergi ke sekolah tanpa ditemani teman? "
"Biasanya aku naik kereta sama Daiyacchi. Tapi hari ini, Mikadocchi sudah datang menjemput Daiyacchi duluan jadi aku tak punya pilihan lain, ssu."
"Oh ? Dari gaya bicaramu, sepertinya kau lumayan dekat dengan Akashi..."
"Tidak sedekat Daiyacchi. Daiyacchi sudah mengenal Mikadocchi sebelum aku, padahal aku sudah kenal Mikadocchi sejak umurku... Tujuh tahun, kalau tak salah. Kalau tentang Mikadocchi, lebih baik tanya Daiyacchi. Eh ! Omong-omong aku sudah bertanya kepada ibumu tentangmu... Dan ibuku memang kenal dengan kedua orantuamu. Bolehkan aku melanjutkannya."
Fuyu menelan ludah. Ia agak sungkan pada ibunya Hyo karena dulu dia punya hubungan yang buruk dengan ibunya. Tapi ia mencoba mempertahankan kekalemannya, dan mengangguk.
"Ibu bilang wajah dan perilakumu benar-benar mirip ayahmu, dan ia bersyukur karenanya, ssu."
Wajah pucat itu pun menampakkan ekspresi lega, dan dia dengan tenang menjawab.
"Aku sering mendengar kalimat itu. Kalau boleh jujur aku memang bangga dengan kemiripanku dengan ayahku. Apakah ibumu mengatakan hail lain ?"
"Kata ibuku, ibumu punya kemampuan yang disebut "Skill Steal." Apakah kau mewarisinya, seperti aku mewarisi Perfect Copy ibuku? "
"Ahh... Ya. Tapi-"
"IDIH, KEREN BANGET! JADI LAWAN GAK BISA PAKE KEMAMPUANNYA, DONG !? KEMUNGKINAN KITA MENANG JADI MAKIN GEDE DONG YAH !? YA!? YA!? "
Fuyu kaget karena bukan ini yang ia duga. Biarpun begitu si rambut bening segera mendapatkan kembali kemampuan berpikirnya dan menoel dahi Hyo dengan jari telunjuknya.
"Dasar bodoh. Benar-benar kosong, ya, disini..."
"Jahatnya! Setelah aku mengata-."
"Tapi, disini isinya perasaan-perasaan yang bagus. Aku benar-benar suka orang sepertimu, tahu." Lanjut Fuyu sembari memindahkan jari telunjuknya ke dada Hyo. Hyo bersemu.
"A... Yang barusan itu.. Kamu nembak aku ? Tapi kita baru ketemu kemarin..."
Fuyu pun menjitak kepala Hyo dengan acuh, dan tanpa melihat ke cowok berkulit gelap itu, menjelaskan arti perkataannya barusan.
"Bodoh. Maksudku aku suka punya teman sepertimu, sebagai seseorang yang aku ingin punya hubungan horizontal denganku. Aku tak apa punya atasan menyebalkan tapi berkemampuan, kalau teman, bodoh tak apa, yang penting baik. Begitu. Oh, omong-omong, kita seharusnya turun disini."
Ketika Hyo masuk kelas, sebelum ia bisa mengatakan apa-apa pada Fuyu, Mikado sudah memanggil si rambut bening. "
"Kemarin kau bilang akan mulai mengerjakan tugasmu, kan? Apakah kau akan menepati janjimu ? "
"Aku akan menepatinya, Akashi. Makanya ini aku mau ke lapangan."
Mikado menggelengkan kepalanya, dan perhatiannya terpusat pada Fuyu lagi.
"Tidak, kau tak perlu melakukannya. Nanti saja. Omong-omong, Hyo, ini bekal yang dibuat Daiya untukmu. Berterimakasihlah. "
"Tapi Mikadocchi, aku sudah punya bento sendiri..."
"Aku tahu, tapi itu hanya cemilan pencegah kantuk saja, karena kau pasti megantuk karena begadang, kan. Pastikan kau memakannya tanpa menyisakan apapun, ya."
"Wah... Makanan yang dibuat Daiyacchi untukku... Benarkah ?"
"Aku benar-benar membuatnya untukmu, Hyo-kun. Sebenarnya, aku memberikannya pada Mikado-kun karena aku lihat kau sudah bawa bekal sendiri, tapi Mikado-kun tetap memberikannya untukmu. Oh, omong-omong, Nijimura-kun, kata Midorima-kun kau melupakan sesuatu dan dia sedang ke sini ."
"Wah ! Daiyacchi , kenapa harus muncul tiba-tiba, sih !? "
"Wah ! Kagami ! Benar-benar, deh... Untung jantungku tidak selemah dulu . Duuuuh... Kalau itu memang hobimu... Itu hobi yang buruk, tahu."
Daiya berkedip, kemudian keping biru muda bertemu keping perak.
"Benarkah, Nijimura-kun? Kamu sakit-sakitan ?"
Fuyu menatap balik Daiya, dan dia menjawab seolah-olah dia menjawabnya tanpa sadar, tetapi Daiya dan Hyo menyadari nada sedih dalam suaranya.
"Iya, Kagami. Makanya aku dekat dengan Fukuro. ... Tapi aku tak mau menjelaskan mengapa.
"Karena dia putus denganku karena aku payah dikasur~ " Ujar si kepala hijau dengan nada bercanda sambil muncul tiva-tiba dari belakang si rambut bening, dimana kemudian Fuyu membalas dengan me-headlock Fukuro dan menjitaknya
"Kapan kita pacaran, hah ? Kapan kita melakukan hubungan intim, hah ? Benar-benar deh, mulutmu itu..."
"Aduh! Sakit, Fuu-chan ! Tidak akan ada yang akan berpikir kau ini sebenarnya sakit-sakitan dengan kekuatan seperti ini ! Omong-omong , aku akan memaafkanmu karena sudah meninggalkanmu tadi, dan aku sudah menaruh obatmu di tasmu !"
"Oh... Begitukah... Terimakasih..."
*longkap ke waktu istirahat*
Yukina mendekato Fuyu, kemudian mereka berjalan bersama ke atap. Tak lama kemudian, Daiya mendekati Hyo, mengatakan kalau setelah itu dia harus bertemu Yukina di atap. Pintu atap terbuka sehingga Hyo bisa melihat dengan jelas kalau Fuyu sedang berbicara dengan sopan dengan Yukina.
"Baiklah, aku mengerti. Nanti akan kuberitahu Hyo soal ini."
"Tolong ya, Fuyu-kun. Karena dengan begitu akan menghemat waktu. Nah, sekarang aku perlu bicara dengan Daiya-kun."
Yukina pun meninggalkan atap di saat yang sama dengan Hyo keluar ke atap. Kemudian, ekspresi tenang Fuyu lenyap dari wajahnya, dan digantikan dengan amarah , dan dia memukul-mukul pagar sambil berteriak-teriak penuh kemarahan.
" PEREMPUAN SIAL HIMEDERE ITU! APA YANG DIPIKIRKANNYA !? PERTANDINGAN BUKAN PERMAINAN! MEREMEHKAN ORANG JUGA ADA BATASNYA, TAHU !"
Ketika Hyo jatuh karena kaget, Fuyu menyadari keberadaannya dan membantunya berdiri.
"Maaf, kamu pasti kaget, ya. Apakah kau mendengar semua percakapan barusan ?"
"Uhm, tidak sepenuhnya. Cuma dari bagian dimana kau bilang akan mengatakan sesuatu padaku, kemudian Shiroganecchi pergi dan kau langsung berteriak-teriak begitu."
"Hyo menjawab, masih belum sepenuhnya pulish dari kekagetannya. Fuyu menghela nafas, lega, dan mulai menjelaskan.
"Baiklah, aku akan jelaskan. Kau tahu kan, dia sekarang pelatih rentetan pertama? Dan karena kemampuan yang kita warisi dari oangtua kita, otomatis kita masuk rentetan pertama , kan? "
"Lalu, apa yang membuatmu marah ?"
"Aku perlu menjelaskan bagian itu sebelum aku menjelaskan kenapa aku marah dan informasi yang harus aku beritahukan padamu. Dia akan memberikan masing-masing anggota rentetan pertama latihan khusus per orangnya untuk melatih kemampuan masing-masing orang. Ini bagian pentingnya. Karena Perfect Steal-ku dan Perfect Copy-mu mirip, Yukina akan memberikan kita latiha yang sama. Dia... Akan mengirim kita ke pertandingan rentetan kedua sesering mungkin, supaya kita bisa mengcopy kemampuan sebanyak-banyaknya. Menngerti sekarang kenapa aku marah-marah begini ?"
"Mengirim kita ke pertandingan rentetan kedua hanya untuk melatih kita !? Itu gila! "
"Makanya . Yah.. Bukannya aku tak tahu dia bahkan lebih keras pada dirinya sendiri, sih..."
Ketika mengatakan kelimat yang terakhir itu, Fuyu menggumam sendiri, tapi kemudian dia menyadari kalau Hyo masih ada di dekatnya dan mendengarkannya .
"Ah... Kalimat yang terakhir itu, tolong dirahasiakan, ya. Jangan dibicarakan kepada siapa-siapa, oke ? Yuk, balik ke kelas dan makan bento kita.
Kemudian mereka, keenam remaja itu, menjalani hari-hari damai tanpa menyadari apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari.
Dua bulan kemudian, Teikou menyabet semua piala kejuaraan musim semi, seperti apa yang terjadi 20 tahun lalu dengan Kisedai. Tak heran, karena anak-anak Kisedai berkumpul di Teiko. Orang-orang pun mulai menyebut mereka Penerus Keajaiban (Kiseki no Keishi atau bisa disingkat Kiseishi)
Sebuah wawancara langsung diadakan di Teiko. Yukina menyatakan bahwa ia memang pinya metode latihan khusus per anggota rentetan pertama, tetapi dia menolak menjelaskan detailnya. Ketika pertanyaannya apakah tujuan mereka, Daiya menjawab ia ingin mengukir legenda baru, mengalahkan orangtua mereka. Mikado juga bilang itu mungkin karena masing-masing dari mereka memiliki kemampuan orangtua mereka.
Setelah wawancara, sebelum siapapun pulang, Mikado mempercayakan beberapa kartu ke tangan Daiya, dan sebelum mengatakan apa-apa, mempercepat langkahnya dan hilang dari pandangan. Daiya membaca kata-kata yang tercetak pada kartu, dan menyadari yang dipegangnya adalah kartu undangan, yang dibuat atas perintah Akashi Seijuurou, yang berisi undangan kepada para orangtua Kiseishi ke sebuah pesta formal. Seijuurou memerintahkan agar anak yang dibawa setiap pasangan ke pesta tersebut hanyalah anggota Kiseishi. Reuni Kisedai dengan anak-anak mereka sebagai penerus... Akan bagaimana jadinya pesta tersebut?
Chapter 3. : The Reunion Of The Previous Miracle
Mobil merah berhenti , dan yang di dalamnya pun keluar. Ternyata, keluarga Kagami...
"Benar-benar deh, Tetsu.. Orang itu benar-benar terlalu kaya." Taiga berkomentar, yang dibalas istrinya tanpa nada.
"Bukannya kau memang sudah tahu kalau Seijuurou-kun itu kaya. Lagipula ini bukan pertama kalinya kita diundang ke pesta olehnya."
"Aku tahu, Tetsu! Aku hanya berkomentar ! Memangnya aku terdengar seperti tak tahu apa-apa barusan !?"
" Kau memang terdengar seperti itu, Ayah." Kata Daiya, bergabung dengan debat antara ibu dan ayahnya. Taiga membalas.
"Kau memang terlalu mirip ibumu, Daiya..."
"Ayah mau bilang kemiripanku dengan Ibu adalah hal yang buruk? "
Taiga pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal , menggeram, lalu mengacak-acak rambut Daiya.
"Tidak, itu bagus kok. Tapi kadang rasanya terlalu berlebih..."
"Kita harus masuk sekarang. Kita tidak akan tahu kepribadian mana dari Seijuurou-kun yang sedang mengendalikan tubuhnya, lebih baik kita cepat-cepat.
Tetsuya pun memotong pembicaraan suami dan anaknya., dan Daiya mengekor tanpa keluhan apapun. Sedangkan Taiga meraung karena kejengkelannya pada istrinya.
"AAAAAAARRRRGH! Tetsu, benar-benar deh, kamu, kamu... Argh! Terserah. Toh, kamu benar. Aku akan ikut. "
Di dalam villa, Taiga mengamati sekelilingnya dan menyadari ini bukan kediaman utama keluarga Akashi. Benar-benar, sekaya apa si kepala merah itu ?
Sambil berjalan, Taiga melihat dua orang berambut biru dan berkulit gelap, dan cowok berambut biru dan bermata emas mencoba memeluk anaknya dan cowok pirang yang mencoba memeluk istrinya, dengan tenang dihindari Tetsuya dan Daiya. ."
"Kenapa menghindar, Tetsuyacchi/Daiyacchi !?" Ryouta dan Hyo menjerit bersamaan, dan Tetsuya dan Daiya menjawabnya dengan bersamaan pula.
"Yah, penelitian membuktikan kalau keimutan memang membangkitkan keinginan menyerang. Yang menjelaskan perbuatanku."
Ketika para istri sibuk dengan satu sama lain, para suami juga sibuk dengan lainnya.
"Hei, Bakagami ! Awas saja kau kalau membuat Tetsu menangis ! Aku akan mematahkan tulang-tulangmu, tahu ? "
"Ha ! Kau memang Ahomine, ya! Kau sama sekali tidak berpikir sebelum meraung dengan kencang seperti itu, ya!? Marganya Tetsu kan sekarang Kagami juga! Kalau kau bilang Bakagami sama saja dengan mengatakan Tetsu juga bodoh ! "
"Apa-apaan !? Kau memanggil Tetsu seperti itu !? Yang bisa memanggilnya seperti itu hanyalah aku !"
"Kebodohan ternyata tidak bisa disembuhkan oleh waktu, ya. Sudah punya anak juga, masih saja bodoh dan kekanakan..."
Taiga dan Daiki berbalik untuk melihat sumber suara, dan sumber suara tersebut adalah mantan ace Shutoku, Midorima Shintarou. Di sebelah kirinya ada istrinya Kazunari dan di kanannya ada anaknya Fukuro. Fukuro pun mendekati dan menyapa Hyo dan Daiya.
"Aomine, Kagami! Kalian juga sudah disini !" Ujar Fukuro riang sembari mencoba memeluk kedua temannya. Daiya menghindari si burung hantu, sementara si panther menerima pelukannya. Setelah melihat adegan tersebut, Taiga berkomentar.
"Midorima juga sudah disini... Berarti para tamu sudah disini semuanya, ya ?"
"Belum, belum semuanya... Masih ada satu keluarga lagi." Jawab istrinya. Tepat setelah itu, seorang pria lanjut usia dan seorang gadis cantik dan berjalan masuk dan menyapa mereka.
"Aku harap kalian semua belum melupakan Bapak, dan Bapak senang kalian sudah tumbuh menjadi orang dewasa yang pantas dihargai."
Semua lulusan Teikou yang ada disana pun termangi, dan membungkuk kepada pria lanjut usia tersebut. Kazunari berbisik kepada Tetsuya.
"Om ini siapa, sih ? Kenapa semuanya begitu hormat padanya ?"
"Dia ketua pelatih kami waktu di Teikou dulu, Shirogane Kouzou."
"Wow, ketua pelatih Teikou ? Tak heran kalau bahkan Aomine dan Shin-chan membungkuk padanya... Apakah gadis manis ini manajer tim kalian ? " Tanya Kazunari sambil menunjuk ke arah Yukina menggunakan dagunya. Gadis berambut putih pun berbalik dan bertanya dengan sopan.
"Ya ? Apakah ada yang salah, Midorima-san ?"
"Wah ! Apakah dia punya kemampuan yang mirip denganku ? "
"Kau Takao Kazunari, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Midorima Kazunari, benar ? Ya, dia memang memiliki kemampuan yang mirip denganku. Kemampuan anak ini disebut "Princess' Skin" . Omong-omong, aku ketua pelatih Kisedai waktu mereka SMP. Salam kenal, , Kazunari-kun. Kau juga, Kagami-kun." Salam Kouzou dengan senyum lembutnya yang biasa. Kazunari mengangguk.
"Heee... Princess Skin, ya... Kedengarannya menarik ! Kau pasti pemain yang cukup andal dengan kemampuan seperti itu ! "
"Ya , benar. Tapi aku tidak terlalu tertarik untuk jadi pemain itu sendiri. Aku lebih suka mendukung sebagai pelatih dan manajer."
" Mubazir sekali, padahal kau punya kemampuan seperti itu.." Komentar Ryouta. Hyo pun berkomentar juga.
" Bicara soal kemampuan, ada aku dan Fuyucchi... Dan dia belum hadir disini ? Apakah dia terlambat ? Jarang-jarang orang sepertinya bisa terlambat. Aku harap penyakitnya tidak kambuh lagi."
"Rasanya bukan itu alasan mengapa dia terlambat, Hyo-kun. Apakah kau ingat isi kartu undangan itu?
" Uhhh, tidak. Kukira isinya hanya tentang reuni disini."
"Dalam kartu itu dijelaskan larangan membawa anak lain selain anggota Kiseishi. Dia punya adik yang jauh lebih muda darinya dan sepertinya dia terlambat karena mencari seseorang untuk menjaga adiknya semalam ini. Kudengar dia memang sister complex..."
"Maaf deh, kalau aku memang sister complex. Tapi adikku baru berumur 3 tahun, gila saja kau kalau kau pikir aku akan pergi tanpa menjamin dia berada di bawah pengawasan yang layak."
Semuanya pun berbalik ke arah sumber suara. Seorang albino dengan mata kelabu dan... Rambut putih... Dengan sedikit garis-garis pelangi ?
Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya.
Masalahya di sisi siapa dia berdiri.
Karena melihat si rambut perak yang dikenalnya, Taiga pun meraung penuh kemarahan.
"HAIZAKI! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI !? "
Daiki segera menahan si kepala merah yang jangkung, dan yang berambut perak hanya menatap dengan tatapan meremehkan.
"Aku tak mungkin ada di sini kalau tidak diundang, Taiga. Seharusnya kalian semua tahu separah apa hubunganku dengan Seijuurou. Tapi sudah aturannya kalau anggota Kiseishi harus datang bersama kedua orangtuanya. Kalau tidak ada aturan itu aku takkan datang, tahu ?"
Yang berambut perak pun menunda kata-katanya sebentar, memalingkan wajahnya dan wajahnya pun bersemu.
"Lagipula, margaku sudah bukan Haizaki ."
"Apa-apaan , Haizaki. Apa kau mencoba mengatakan kalau kau bukan Haizaki Shougo yang dulu rambutnya gimbal?"
"Bukan itu , bodoh. Aku memang "Haizaki" yang kau kenal . Tapi namaku sudah bukan "Haizaki" lagi. Margaku sudah berganti menjadi Nijimura, marga suamiku ."
" Suami ? Aku tak menyangka orang sepertimu mau mengambil peran istri. "
"Awalnya aku memang tak mau , tapi suamiku memang terlalu seme ! "
"Shou, apa lagi yang kau lakukan ? " Ujar seorang pria berambut hitam yang muncul tiba-tiba sambil mencubit kedua pipi istrinya. Yang dicubit hanya mengeluh.
" Kau itu yang apa-apaan ! Aku ini istrimu , mengapa kau tak percaya padaku !? "
" Kau benar tak melakukan apa-apa, kan ? "
"Tidak ! Macan itu saja yang langsung histeris melihatku! "
"Bagaimana tidak, kalau yang muncul adalah orang sepertimu ! " Balas Taiga. Yang lain malah tetap tenang.
"Kami tidak, Kagami. Karena kami tahu dia sudah mengikat hubungan dengan Nijimura-senpai ." Jawab Shintarou dingin.
"Kalau itu Nijimura- senpai, serigala jalang macam Haizaki pun bisa jadi istri ." Jawab Daiki dengan nada menyinggung. Shougo pun meraung marah.
"Daiki! Apa maksudmu, hah !? Aku serius suka Shuu dari dulu, tahu ! "
"CUKUP! " Teriak sang mantan kapten Teikou. Semua yang ada di sana pun terdiam.
"Kalian ini, sudah bapak-bapak semuanya masih saja begitu. Ah, ya, istrinya Midorima dan suaminya Kuroko pasti belum mengenalku, ya. Namaku Nijimura Shuuzou, mantan kapten Teikou sebelum Akashi , dan suami Shougo."
" Sa… Salam kenal juga, Nijimura-senpai. Aku Kagami Taiga."
"Salam kenal juga, Nijimura-san. Wah… Kau past sangat dihormati Kisedai ya, mereka langsung diam begitu kau buka mulut. "
"Seijuuroucchi saja kalau Nijimura-san yang bicara juga akan diam." Komentar Ryouta. Kazunari pun terpana. Sementara itu, Fuyu pun menghampiri Hyo.
"Ya ampun, kau benar-benar mengubahnya !? "
"Aku.. Aku tak tahu kau sedang bicara tentang apa, Nijimuracchi."
"Jangan pura-pura bodoh, kau tahu kan, aku sebenarnya sedang bicara tentang apa ? Kau tahu kan indra penciumanku lebih tajam dari orang biasa kan ? Maaf, deh, kalau aku tumpul! Tapi aku benar-benar tak menyangka kau akan menanggapi kata-kataku dengan sungguh-sungguh. Duh, maksud jawabanku dari pertanyaanmu waktu itu "aku paling suka buah apa untuk dimakan" bukan "wangi buah kesukaanku." Aku tahu biasanya kau pakai body mist lemon, tapi hari ini kau pakai lengkeng. Tidak cocok denganmu, tahu. Kau lebih cocok dengan lemon seperti biasanya, atau blueberry atau pisang juga masih cocok."
"O…Oh… Jadi kau benar-benar menyadarinya…. Sepertinya Midorimacchi tidak sedang mengerjaiku ketika dia bilang kau punya indra penciuman yang tajam, seperti halnya aku punya indera pendengaran yang tajam, ya.."
Sementara Hyo bersemu dan menggaruk pipinya dengan telunjuknya, Fuyu menyadari Fukuro yang mencoba menyembunyikan seringainya, tapi gagal.
"OH , JADI KAU YANG MEMBERITAHUNYA! " Raung Fuyu, dan Fukuro sudah bersiap untuk kabur dari si rambut bening, tapi ia pun membatalkannya ketika ia melihat mata rubi dan topaz yang menatapnya.
"Ah, sepertinya semua tamu sudah hadir. Okaa-sama akan senang dengan situasi ini, begitu juga aku. Dan Fukuro, mengapa kau menatapku dengan pandangan seperti itu ?"
"Ah… Ahahahaha…Tidak, ini bukan karena kau muncul, Akashi… Aku… Aku membuat Fuu-chan marah, itu saja ! "
"Hmmm, aku ragu memang itu penyebab tatapanmu. Memancing kemarahan Fuyu itu kan keseharianmu, apa aku salah ?"
"Ahhh… Ah… Ahehehe.. Hehe.. Hehe.."
"Kau tidak cukup sopan sebagai anak Akashi. Tidakkah ibumu mengajarimu untuk memperkenalkan dirimu terlebih dahulu ?" Shintarou memotong tawa canggung Fukuro, yang dibalas Mikado dengan senyum yandere yang mengerikan.
"Oh, aku berencana untuk memperkenalkan diriku setelah aku mengantarkan kalian semua ke balairung utama mansion ini. Orangtuaku akan ada di sana."
"Tidak seperrti kau saja, melakukan apa-apa sendiri." Geram Fuyu. Mikado hanya mengeluarkan aura"perlihatkan-rasa-hormatmu-padaku-atau-sesuatu-yang-buruk-akan-terjadi."
"Kecuali aku menilainya menarik. Seperti bagaimana sebagian besar para orangtua lain bereaksi dengan keberadaanmu… Aduh, aku tak sengaja mengatakannya. Maaf, ya. "
Fuyu tetap diam. Dia tahu mustahil bagi kaptennya itu untuk melakukan sesuatu secara tidak sengaja. Tapi dia memilih untuk tidak membantahnya di kediamannya sendiri. Keluarga Akashi yak an "seperti itu", entah ada perangkap apa di sini.
"Kalau, begitu, silahkan ke mari…"
Setelah Mikado memandu para tamu ke balairung utama mansion tersebut, seperti biasa Seijuurou belum hadir juga. Tetapi setelah 5 menit, dia datang dalam gendongan suaminya Atsushi, dalam gendongan ala putrid, mengernakan kimono mewah dengan warna dasar hitam dan motif bunga spiderlily merah, sedangkan semua laki-laki lain disana mengenakan kemeja (saya males jelasin… OK, bencanda. Para istri mengenakan blazer putih dan kemeja hitam dengan dasi biru muda, sementara para suami mengenakan kemeja berlawanan warna dengan para istri; blazer hitam dengan kemeja putih, dan dasi merah. Para putra mengenakan blazer sewarna rambut mereka dan kemeja sewarna mata mereka, dan dasi cokelat. Karena Mikado heterochromia, dia memilih mengenakan kemeja merah, dan karena rambut Fuyu terlihat putih, maka ia pun mengernakan kemeja putih. Sementara Yukina dan kakeknya mengenakan putih dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Atsushi pun menaruh Seijuurou turun, dan si rambut merah pun menyapa tamu-tamunya.
"Selamat datang semuanya, ke villaku. Sudah lama sekali sejak kita berkumpul seperti ini." Ujar Seijuurou dengan senyum licik yang samar di wajah cantiknya. Yang malah membuat suasana semakin suram dan seram.
"Ya, sudah lama sekali sejak kita begini. Dan kau masih saja berkelakuan seperti bocah angkuh . Kau pasti takkan turun, heh !?"
"Aku tidak menerima perintah darimu, Daiki. Tapi aku memang akan turun."
Si kepala merah menjawab sambil berjalan menuruni tangga dengan anggunnya, dengan tuntunan suaminya. Setelah merasa ia sudah cukup dekat dengan tamu-tamunya, ia pun menaikkan kepalanya seperti merak, dan member perintah kepada Kiseishi.
"Sekarang, aku ingin kalian, Kiseishi, memperkenalkan diri kalian dengan benar kepadaku. Pertama , kau, anak Daiki, kemudian anak Shintarou, setelahnya anak Shuuzou, setelah itu cucunya Shirogane-san, lalu kau anak Tetsuya, dan untuk penutup, perkenalkan dirimu di depan para tamu, Mikado."
Kiseishi pun memperkenalkan diri mereka satu persatu, dan pesta pun dimulai. Setelah perkenalan diri para anggota Kiseishi, para hadirin pun mulai sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri. Shuuzou mengobrol dengan Seijuurou, Atsushi sibuk dengan makanannya. Shougo mengawasi suaminya dari pojokan, Kazunari bermain dengan Ryouta, Daiki juga mengobrol dengan Taiga , dan Kiseishi pun bermain dengan sesamanya.. Semua, kecuali Fuyu dan Mikado. Tak lama setelah mereka menyadari kapten dan wakil kapten mereka sudah lama lenyap, mereka pun kembali, dengan Mikado memiliki senyum kemenangan yang tipis di wajahnya, yang kontras dengan ekspresi Fuyu yang asam.
Fuyu pun menjauh dari pesta, lebih dekat ke pojokan . Tak lama kemudian, Shougo datang dengan sepiring besar penuh makanan dan dengan santai menaruhnya di meja yang sama dengan dimana Fuyu menyandarkan lengan kanannya. Si rambut bening pun terkagetkan dengan jumlah makanan di piring tersebut, dan sebelum ia bisa berkata apa-apa, ibunya sudah menyuruh-nyuruhnya.
"Makan, Fuyu. Makan. Makan sampai habis. Semuanya. "
Si rambut bening pun menggelengkan kepalanya dan melegakan tenggorokannya untuk menjawab ibunya
"Ti… Tidak. Aku bukan Akashi atau Kagami. Aku tak bisa memakan semuanya…. Ini terlalu banyak. "
"Makan saja , ah! Kau ini remaja dalam pertumbuhan, dengan olahraga yang berat, dan kau piker kau bisa dapat stamina dari mana kalau kau makan seperti burung, hah !? Kau bahkan makan lebih sedikit dari adikmu ! Bagaimana kalau kau pingsan lagi !? Setidaknya kurangilah kemungkinannya dengan makan ! Apa kau tahu sebetapa khawatirnya aku padamu !?
Fuyu terkagetkan oleh reaksi ibunya. Dia tahu ibunya sayang sekali padanya, tapi lepas kendali di tempat seperti ini ? Yah, semua disini mengenalnya, mungkin itulah sebabnya…
Sambil menelan ludah, Fuyu pun mengambil piring dan alat makan, dan sebelum mulai makan, melihat ke arah si rambut perah dan mengatakan ini kepada ibunya.
"Baiklah, aku akan makan. Tapi tidak semuanya. Bisakah aku makan setengah saja ?"
"3/4 ?"
" 5/8 , bagaimana ?"
Shougo pun melihat tumpukan makanan itu, dan mengangguk.
"Baiklah. Segitu juga sudah cukup banyak dibandingkan dengan porsi makanmu yang biasa. "
Fuyu kemudian mencoba memakan jumlah yang dijanjikan, menyapu mulutnya menggunakan serbet dan menyadari ibunya yang tersenyum lebar.
"Apa-apaan ?"
" Bodoh, ibu macam apa yang tidak senang ketika putranya makan banyak ? Ini, minum obatmu."
"Ibu benar-benar tidak punya hubungan baik dengan siapa-siapa kecuali Ayah, ya. Huh… Baik. "
"Ya, dan dia sekarang sibuk dengan si kepala merah sok maharani itu. Tapi tak apa. Lihat sisi bagusnya, aku penyendiri waktu sekolah dan waktu reuni seperti ini aku punya lebih banyak waktu untuk memperhatikan anakku. Karena kau memang butuh perhatian khusus. "
"Aku tak yakin Ibu memang penyendiri atau Ibu memang terlalu mengkhawatirkan aku sehingga lebih memilih memanjakan aku daripada berbaur dengan teman-teman SMP Ibu."
"Heh, kukira kau tahu aku tak dekat dengan siapapun kecuali ayahmu dulu. Kalau kau benar-benar menginginkan jawaban lain, yang bisa kupikirkan hanya Tetsuya."
"Ibunya Kagami ?"
"Ya. Dia benar-benar orang yang pedulian, asal kau tahu. Dia yang mengejarku ke tempat pembakaran dimana aku membakar sepatuku… Hah, tapi ayahmu yang menyimpan sepatuku. …. Aku iri sekaligus bangga padamu. Kau punya apa yang aku tak punya dulu. Teman, posisi, dan ketenaran yang positif. "
"Hehe. Ibu tahu kan aku bisa mendapatkan ketenaran ini dari bakat yang aku warisi dari Ibu, kan ? "
"Aku tahu. Itulah sebabnya mengapa aku bangga padamu. Tapi…"
Shougo pun berjalan mendekat, dan memeluk anaknya.
"Maafkan aku karena tak bisa memberimu lebih. Seandainya mengorbankan diriku bisa menyelamatkanmu, maka aku akan melakukannya. "
Fuyu membalas pelukan ibunya, dan tersenyum lebar.
"Bukan itu yang aku inginkan darimu, Bu. Aku sudah menerima lebih dari cukup. Meminta lebih bearti tidak berterima kasih, kan ? Aku sayang Mama."
"Heh, kau manis sekali di saat-saat seperti ini. Sepertinya tak ada siapa-siapa lagi disini, jadi tak apa. Mama juga sayang kamu, kristalku."
"Ma, bisakah kau melepaskanku sekarang ? Aku ingin berbaur dengan yang lain."
"Huh, tentu. Pergilah. Nikmati masa mudamu. "
Fuyu pun berdiri dan menghampiri Hyo dan Fukurp, yang duduk di sekitar pertengahan ruangan (dan tepat di tengah ruangan ada Mikado, Yukina dan Daiya ) dan dengan alami berbaur dengan kedua anggota Kiseishi yang berkulit cukup gelap . Shougo menghela nafas, kemudian tersenyum. Si rambut bening tentunya hidup dengan baik, tidak seperti dirinya di masa lalu. Yang membuatnya merasa sangat lega. Ketika Shougo akan beranjak dari tempatnya, Ryouta pun menghampirinya.
"Bisakah aku bicara denganmu sebentar, Shougo-kun ?"
"Kau mau bicara tentang apa ? Apa tentang Fuyuku semakin dengkat dengan Hyomu ? "
"Ya… Tentang itu… Aku benci mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya, sebagai ibu Hyocchi. "
Ryouta pun membungkuk, dan dengan suara lemah berkata :
"Terimakasih… Karena Fuyucchimu yang selalu mendukung Hyocchi, walaupun harus menentang Mikadocchi."
"Heh… Aku sama sekali tak menyangka kau akan membungkuk dan berterima kasih padaku. Dan lagi, aku juga tak punya peran besar dalam pertumbuhan mental anak itu. Yang aku lakukan hanyalah memanjakannya, yang mendisiplinkan anak itu Shuu."
"Tapi, kau yang membuat dia terbiasa dengan kehangatan orang-orang, kan ? Dia tahu bagaimana caranya membalas perlakukan orang padanya, kan ?"
"…. Ya. Kau takkan mengerti betapa bangganya aku padanya."
"Aku takkan mengerti, karena anakku bukan cuma Hyo. Jadi aku harus membagikan perhatianku kepada kelima anakku secara merata. "
"Tunggu, apa yang kau katakan barusan !? "
"Aku punya lima anak, apakah itu mengagetkan ?"
"Ya, lumayan. Aku sama sekali tak menyangka orang sepertimu tahan punya anak, sudah begitu lima pula."
"Aku juga tak menyangka kau akan mengatakan itu padaku. Kau punya dua anak, kan ?"
"Aku punya Shuu, ingat ? Shuu bisa diandalkan bahkan sejak kita SMP. Sedangkan Daiki… Aku tak bisa membayangkan dia jadi ayah."
"Bicara soal SMP, sekarang anak-anak kita sudah SMP. "
"Benar. Dan sebagian besar dari kita bertemu di SMP, dan bukan SMA. Kalau kita tidak masuk Teiko dulu, kita takkan berkumpul seperti ini, dan anak-anak itu pun takkan berkumpul seperti ini juga…"
"Ini takdir, ssu !"
"Takdir, ya ? Sepertinya itu juga yang menghubungkan anak-anak itu dengan "gadis itu " ."
'Siapa ?"
Shougo pun menunjuk gadis yang sedang berbaur dengan Kiseishi di taman bawah. Ryouta pun pun melihat kebawah.
"Gadis itu… Cucunya pelatih Shirogane kan ? Yukina ? "
"Iya, Shirogane Yukina, cucu pelatih Shirogane. Memangnya kau belum dengar dia nyaris mengalahkan Hyo ?"
"APA !? BENARKAH !? DIA MENGALAHKAN HYO !? "
"Nyaris. Tetap saja, dia sekuat itu sampai-sampai gadis itu sebanding dengan Kiseishi, dan semuanya dua kali lipat lebih kuat dari orangtuanya masing-masing. Tapi bukan itu kenapa aku akan berhati-hati kepada gadis itu dan bukannya kepada anak Seijuurou. Jangan bilang kau lupa sesadis apa Pelatih Shirogane dulu. "
"Kau.. Tak bermaksud mengatakan…"
"Ya, memang itu yang akan kukatakan. Dia dikatakan sebagai salinan kakeknya soal kepribadian. Itu saja yang akan aku katakan. Kau takkan mendengarkanku, apapun yang kukatakan kan ? Yah, aku pergi sekarang. Sampai jumpa lain waktu, Ryouta. "
Shougo pun meninggalkan mansion mewah itu bersama keluarganya, meminggalkan Ryouta dalam renungan, haruskah ia mengawasi gadis albino itu atau tidak ?
Hari berikutnya, di sebuah café kelas atas di Tokyo.
Fuyu, Daiya, dan Yukina duduk di meja dekat jendela, dan hanya Yukina yang duduk di sebelah kiri, sementara kedua cowok di sisi kanan. Fuyu pun membuka mulutnya, memulai pembicaraan.
"Jadi, Yukina, sudikah kau beritahu aku apa yang direncanakan Akashi, karena aku, kau, dan Kagami sudah berkumpul di sini ? "
Yukina dengan tenang pun mengecek waktu menggunakan ponselnya, menutupnya, dan menjawab.
"Tentu. Pertama-tama, Mikado punya dua adik perempuan. Kau mengenal mereka kan, Daiya ?"
Daiya menangguk.
"Ya, kembar bersaudari Tsubaki-san dan Yurie-san. Mereka benar-benar gadis-gadis manis luar dalam. Memangnya ada apa dengan mereka ? "
"Sebenarnya ini bukan rencana Mikado. Tapi rencana ibunya. Dia merencanakan untuk memasangkan anak-anaknya, supaya mereka tidak jatuh cinta pada orang yang salah. Fuyu dengan Yurie, Daiya dengan Tsubaki, dan aku dengan Mikado."
Fuyu yang sedang menyesap kopinya pun segera menyemburkannya keluar, kemudian mengelap mulutnya.
"BILANG APAAAAA ?! "
