`CHAPTER 9

Di dalam ruangan, Sehun melihat Jongin tertidur dengan kepalanya di atas meja. Hari ini ia fokus untuk bercinta dengan Jongin. Ia melihat ada tumpukan buku tebal di samping kepala Jongin, ia melihat-lihat dan menemukan buku itu buku klasik barat dan sebagian besar buku ekonomi dan politik. Ia melihat sebuah kertas yang terselip disana.

Sehun mengambil kertas itu. Judulnya 'New York University Ilmu Politik Daftar Bacaan Penting'.

Ada hampir empat puluh buku yang tercantum disana. Sehun merasa sedikit tersentuh. Dia tiba-tiba teringat Jongin yang berbicara tentang ideologi politik dengan tatapan serius saat mereka minum teh bersama. Dia ingin lebih pintar dari dirinya pada saat itu. Seorang pria lulusan seni ilmu pengetahuan dan teknologi memaksakan diri untuk membaca buku-buku politik. Ini hal yang rumit, kan? Hari itu, ia tertidur saat menghadiri pertunjukan musik karena ia terjaga sampai larut malam?

Dari pemahaman Sehun, Jonginlah yang mulai menggodanya. Dia telah menggunakan cara-cara bodoh untuk mendekatinya.

Jongin berakting dengan sungguh-sungguh, ia seperti tertidur nyenyak, namun dalam hatinya dia terus menghitung waktu. Tiba-tiba, seseorang membelai dahinya.

Jongin pura-pura terbangun oleh suara dan ia mengusap matanya. Dia tampak tak sadar kalau ada Sehun. Tangan Sehun masih menggenggam kertas.

Jongin menyambar kertas itu dan bertingkah seperti tertangkap tangan melakukan sebuah kesalahan. "Siapa yang memperbolehkanmu untuk menggeledah barang-barangku?"

Sehun menatap Jongin dengan mata penuh nafsu, "Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang orang yang ingin bercinta denganku dan jenis buku apa yang biasa ia baca."

Hati Jongin menciut.

Kau dapat mengatakan bahwa kau ingin bercinta denganku, tapi kau tidak bisa mengatakan bahwa aku juga ingin bercinta denganmu! Dia tenggelam dalam pemikirannya ketika rambutnya ditarik sehingga kepalanya terlempar ke belakang.

Sehun mendekatkan wajahnya dengan Jongin, dan hidung mereka bersentuhan.

"Sejak kapan kau menyukaiku?" Sehun tertawa sinis dan menginterogasinya.

Jongin hanya menatap Sehun, "…"

Sehun menatap Jongin dengan intens. Kemudian, ia mengatupkan kedua tangannya pada pipi Jongin, dihadapkan ke arahnya dan menarik wajah Jongin agar mendekat. Sehun memaksakan ciuman yang dalam pada bibir Jongin. Jongin bisa merasakan lidah Sehun menjelajah di dalam mulutnya dan hatinya berdebar liar. Namun, ingin rasanya ia berteriak memberitahu Sehun bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya, tapi dia harus menahannya karena ia masih belum mencapai tujuannya.

Sehun kemudian mendorong Jongin ke meja. Setelah beberapa saat meronta dari ciuman Sehun, Jongin berhasil melepaskannya dan mengatur napasnya dengan brutal, "… sejak aku berjualan di pasar malam."

Jongin mencoba untuk menggoda Sehun dengan sengaja mencium pipinya, karena jarak yang sangat dekat di antara mereka. Sehun dengan senang hati menerima sikap Jongin tapi merasa jengkel dengan hal itu. "Itu berarti, semua insiden yang pernah terjadi selama ini adalah rencanamu?" tanya Sehun.

Jongin dengan santai menjawab, "Ya…"

Jongin hanya menatap Sehun dan berkata dalam hati, apa-apaan? Kau yang membuatku melakukan rencana gila ini, tapi kau mengatakan bahwa ini adalah rencanaku? Huh!

Kemudian, Sehun menjatuhkan berat badannya pada Jongin, membiarkan tubuhnya bersandar di sana dan sengaja membiarkan penisnya yang ereksi menyentuh Jongin. Sehun lebih mendekat ke Jongin, menekan penisnya pada paha Jongin, dan meraba-raba bokong Jongin.

Jongin membeku dan tidak mengatakan apapun.

Sehun kembali mempertemukan bibirnya dengan bibir Jongin dengan tiba-tiba, tanpa peringatan.

Jongin kembali terkejut.

Lidah Sehun begitu lihai dan kuat. Jongin dibuat terkesima hanya dengan permainan lidah Sehun. Sehun menjambak rambut Jongin, membuat Jongin mendongak ke atas. Ciuman itu membuat Jongin kehabisan napas. Dia tidak bisa membebaskan dirinya dan tidak bisa memberhentikan dirinya sendiri.

Indeed Sehun is a great kisser dengan kemampuannya untuk melakukan berbagai jenis teknik ciuman.

Untuk sesaat, Jongin merasa sedih saat dia sadar bahwa beberapa tahun lalu dia mendedikasikan dirinya sendiri sebagai pencium yang handal dan hebat dengan ketahanan ciuman yang lama, namun sekarang itu tidaklah berarti apa-apa.

Sehun menuntun tangan Jongin untuk menyentuh selangkangannya dan menatap Jongin dengan tatapannya yang tajam.

"Kau ingin melihatnya?" Sehun bertanya.

Seakan alarm tanda bahaya berbunyi nyaring di kepala Jongin, reflek Jongin mengalihkan pandangannya keluar dan berkata secara tidak sadar, "Aku mau melihatnya…atau aku tidak mau melihatnya?"

"…Kau bertanya pada siapa?"

Dibalik pintu, Baekhyun tertawa dengan pertanyaan Jongin. Baekhyun mengetuk pintu dan berkata dengan semangat, "Aku akan pulang!"

Kepercayaan diri Jongin hilang seketika, dia merasa bahwa Baekhyun telah menghianatinya. Jongin bangkit berdiri untuk menyusul Baekhyun, namun cekalan tangan Sehun membuatnya berhenti. Sehun menjatuhkan diri Jongin ke kasur dan menatapnya intens, "Apa kau pernah melihat penis orang lain?" tanya Sehun.

Muka Jongin memerah. Jongin bukanlah orang yang kolot, namun dia tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Biasanya laki-laki akan bercanda dengan sesamanya dan bertanya sesuatu, seperti "apa kau pernah melihat daerah intim wanita?" Ini terlalu berlebihan untuk Jongin.

"Pernah… saat di toilet."

Sehun dengan mudah melepas ikat pinggang yang ia gunakan dan menurunkan celana yang ia gunakan hingga briefs-nya terlihat. Rambut kemaluan yang mengeliling 'sesuatu' yang dapat membuat wanita melonjak dengan gairah dan membuat laki-laki lain malu karena perbedaan ukuran itu, terlihat sangat gagah mengintip di sela-sela briefs yang digunakan Sehun.

Tenggorokan Jongin mengering, ia tidak ingin melihatnya, namun Jongin terlalu syok untuk melawan.

Laki-laki biasanya suka untuk membanding-bandingkan tentang 'sesuatu' itu, namun Jongin bukanlah seseorang yang senang akan hal itu. Sehun belum juga melepas briefs yang ia pakai. Namun Jongin sudah merasa terintimidasi, 'kita berdua laki-laki tapi kenapa penisnya begitu besar?'

Sehun perlahan menarik ke bawah briefs-nya dan Jongin hanya bisa menatapnya horor, 'What the fuck! Bagaimana penis Sehun bisa tumbuh menjadi besar dan juga panjang?'

Sehun kemudian menggeser tubuhnya untuk berbaring di sebelah Jongin. Tangannya membelai leher Jongin, turun melalui pundaknya menuju perut Jongin, dan berhenti di sekitar celana Jongin. Sehun menatap daerah selangkangan Jongin dengan serius. "Biarkan aku melihat punyamu juga."

Bulu kuduk Jongin seketika berdiri saat mendengar kata-kata Sehun, dengan reflek ia mendorong tubuh Sehun menjauh darinya. Bagaimana ini bisa terjadi? Ini tidak boleh terjadi!

Rahang Sehun mengeras, gertakan gigi terdengar jelas. Sehun tidak bodoh, ia mengartikan hal yang dilakukan Jongin adalah suatu penolakan. "Kenapa aku tidak boleh melihatnya?"

Jongin merutuki refleksnya yang terlalu cepat, ia gugup. "Punyaku terlalu kecil. Aku malu untuk memperlihatkannya, karena terlalu jauh dibanding dirimu."

Sehun tersenyum sinis, "Aku ingat betapa besar bola kembarmu saat ereksi," dan menurunkan tangannya beberapa senti lebih dekat dengan penis Jongin. Hampir menyentuh penis Jongin.

"Kau salah mengingatnya!" setetes keringat mulai membanjiri kening Jongin, "… Punyaku tidak terlalu besar."

Sekali lagi, Sehun menggertakan giginya dan menurunkan tangannya lebih dekat dengan penis Jongin. "Eluslah secara rutin, memanjakannya akan membuat penismu dua kali lebih besar." Lagi, tangannya semakin turun kebawah.

Muka Jongin memerah. Tangan Sehun belum menyentuh penisnya, namun Jongin merasa seperti Sehun sudah meremas penisnya. Ia mencoba untuk mendorong tubuh Sehun lagi, namun Sehun tidak bergerak sama sekali. Sehun, dengan kukunya yang setajam pisau, bergerak liar di sekitar pinggang Jongin, kemudian dengan perlahan semakin menurunkan tangannya.

Jongin membeku, ia berada di jalan buntu. Tidak ada jalan keluar, membuatnya harus berani menyerang lawan. Pilihan terakhirnya adalah menggunakan keningnya untuk menyerang tulang selangka Sehun. Serangan itu mampu membuat Sehun merasakan aliran listrik yang mematikan ke seluruh tubuhnya. Sehun merasakan kesakitan yang amat sangat di sekitar dadanya. Jongin mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri ke ujung tempat tidur. Dia bernapas dengan berat dan keringat membanjiri keningnya.

Sehun merasakan perasaan yang aneh saat melihat Jongin yang merasa lega dari penyerangannya. Ini pertama kalinya ia melihat reaksi itu dan ia menikmati reaksi yang diluar dugaannya itu. Mengingat reaksi Jongin saat pertama kali mereka bergandengan tangan, reaksi ini tidaklah masuk akal baginya.

Sehun mengulurkan tangannya kearah Jongin, namun Jongin refleks menghindarinya. Sehun memaksa Jongin untuk melihat ke arahnya. Dengan lembut ia mengusap keringat yang membasahi kening Jongin. "Kenapa kau begitu ketakutan? I'm not going to eat you."

Aku tidak takut! Hanya saja aku tidak tahu bahwa akan berakhir seperti ini! Jongin berada diambang tangisan. Walaupun tanpa bully-an seperti ini, semua laki-laki akan sama. Jadi untuk apa untuk melihat satu sama lain?

Saat sudah tenang, Jongin mulai berkata, "Aku tidak ingin melakukannya denganmu saat ini."

"Kau belum pernah melakukannya dengan orang lain sebelumnya?" tanya Sehun.

Jongin memberikan tatapan penuh harap pada Sehun. Melihatku yang seperti ini, apakah aku terlihat seperti sudah pernah melakukannya dengan orang lain sebelumnya?

"Lalu, bagaimana kau mengerti bahwa kau menyukai laki-laki?" tanya Sehun lagi.

Bibir Jongin bergetar dan membiarkan otaknya yang merespon, "Aku tidak tahu jika aku suka laki-laki atau tidak, tapi aku hanya tahu bahwa aku menyukaimu."

Kata-kata itu sangatlah kasual dan singkat, tapi itu tepat mengenai hati Sehun.

"A refined fella!" Sehun tanpa ampun menjitak kening Jongin.

Walaupun itu sakit, namun Jongin bisa bernapas lega karena ia bisa mengontrol situasi dan mengelak semuanya untuk tidak terjadi.

"Aku tidak suka memaksa seseorang. Karena kau tidak ingin, biar aku lakukan dan tunjukan padamu."

Lalu, Sehun menarik keluar penisnya yang tegang, mengelusnya sebentar dan bermain dengan lihai.

Jongin tidak berkedip, semuanya menjadi kosong. Fuck, apa yang dia lakukan? Ia kira Sehun akan membatalkan rencananya, namun ide gila itu malah membuat Jongin membeku ketakutan lagi.

Sehun melihat Jongin yang mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum licik dan mengarahkan kepala Jongin untuk melihatnya.

"So shy yet still want to fuck with me?"

Jongin menggeretakkan giginya, dia takut segala macam sumpah serapah akan keluar dari mulutnya ketika ia membuka mulutnya. Napas Sehun yang berat dan kasar masuk ke pendengaran Jongin, membuat muka Jongin memerah di cahaya kegelapan.

"Jangan tutup matamu. Take a good look."

Jongin memberanikan dirinya untuk melihat penis Sehun yang tadi tegang. Jongin kembali menutup matanya setelah melihat ukuran penis Sehun yang tegang dengan sempurna. Itu lebih cocok disebut naga daripada penis.

"Kau menyukainya?" tanya Sehun.

Jongin menggeretakkan giginya.

"Come and touch it if you like it." Kata Sehun tanpa menghentikan aktifitasnya.

"…Ah? …Ah!"

Selama beberapa saat, kesepuluh jari-jari Jongin menjadi kaku. Pada akhirnya, Sehun tidak membuat sulit Jongin. Ia meraba tangannya di bokong Jongin, lalu meremas bongkahan bokong itu. Jongin tidak protes, jadi Sehun semakin gencar meremas bokong Jongin.

"Kau ingin aku meremasnya lebih kasar?"

Tanpa disadari, Sehun menjadi bukan seperti Sehun yang biasanya semenjak bertemu dengan Jongin. Ia tidak pernah menyentuh dirinya di depan orang lain, hanya Jongin. Sejak Jongin menumpahkan bubur padanya, semua perhatian Sehun jatuh pada Jongin, merasa bahwa Jongin mungkin adalah anugerah.

Saat Sehun ingin klimaks, ia menarik Jongin mendekatinya. Penisnya ia tekan dan ia gosok di bawah perut Jongin. Sesaat, Jongin melihat cairan putih kental membasahi pakaian yang ia gunakan. Membuat Jongin syok dan berdiam diri seperti patung.

Saat Sehun hendak pulang, Jongin masih setia pada posisinya. Sehun mengelus kening Jongin dan memperingatinya, "aku akan menghabisimu jika kau menggunakan keningmu lagi untuk menghantam sesuatu."

.

.

.

TBC

.

.

.

Shtpnk memo

I'm sorry udah telat banget update. Sekalinya update malah sedikit banget. Ini shtpnk cuma mau kasih tau kalo shtpnk akan tetep lanjutin Counterattack. Thank you yang udah setia menunggu love love