Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan
.
.
Don't Like Don't Read
.
~ my little husband~
[chapter 10]
.
.
.
Berpikir untuk mengusir Sasuke dan berharap dia tidak akan kembali lagi. Tapi, Dia datang bersama anaknya dan menantunya. Kizashi dan Mebuki datang bersama Sasuke. Tatapan nenek Chiyo sangat marah. Dia merasa Sasuke akan sulit di singkirkan.
"Berani-beraninya kau pulang sekarang? Kenapa baru sekarang kau pulang? Ha!"
"Maaf bu. Aku ada banyak pekerjaan." Ucap Kizashi.
"Apa pekerjaan lebih penting dari pada ibumu?"
"Tidak bu. Ibu lebih penting."
"Maafkan kami bu. Beberapa tahun yang lalu kami mengalami kesulitan." Ucap Mebuki.
"Aku harap kau harus sering-sering menasehati suamimu untuk ingat pada ibunya."
"Ibu. Sakura-"
"Aku menahannya. Dia akan tinggal di sini."
"Maaf bu. Aku sudah menjodohkannya dengan anak dari keluarga Uchiha."
"Ibu tidak perduli. Ibu ingin dia menikah dengan Gaara. Ini semua karena salahmu! Jangan libatkan anakmu!"
"Tapi bu-"
"POKOKNYA AKU TIDAK SETUJU!" Teriak Sakura yang sudah berhasil kabur dari kamarnya.
Semua mata tertuju pada Sakura yang sudah sangat kesal dengan semua hal yang sedang di hadapinya.
"Masuk ke kamarmu Sakura." perintah nenek Chiyo.
"Tidak nek. Dengarkan aku dulu."
"Kembali ke kamarmu!"
"Aku ingin nenek mendengarku dulu. Setelah itu aku akan kembali ke kamarku."
"Apapun yang ingin kau ucapkan. Nenek tetap pada keputusan nenek sendiri."
"Awalnya memang aku merasa terpaksa dengan perjodohan ini, ayah benar-benar keterlaluan dengan keputusannya yang mendadak. Tapi nek, sekarang aku merasa tidak terpaksa jika akan menikah dengannya. Aku tidak keberatan. Aku.. uhm.. aku menyukai Sasuke nek. Bisakah nenek merestui kami?"
"Ibu. Ini memang kesalahanku. Aku minta maaf. Tapi tidak mungkin kita memaksakan kehendak kita pada Sakura begitu saja kan. Dia bebas memilih bu." Ucap Kizashi.
"Aku pikir ayah dan nenek tidak ada bedanya. Sama-sama membuat keputusan yang harus di patuhi." Ucap Sakura dan tersenyum
Ruangan itu menjadi hening. Sasuke sudah mendengar semuanya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi nenek Sakura.
Helaan napas yang berat. Nenek Chiyo merasa dia seperti orang yang jahat pada cucu kesayangannya sendiri. Dia hanya ingin Sakura bahagia. Tapi jika dia tetap dengan keputusannya. Sakura akan menderita.
"Lakukan saja sesuka kalian."
Sakura berlari dan memeluk neneknya. Dia sangat senang dengan neneknya yang akhirnya menerima pernyataannya.
"Sering-seringlah kemari. Nenek akan sangat merindukanmu."
"Iya. Kami akan ke sini saat liburan."
Sebenarnya nenek Chiyo adalah tipe orang yang baik hati. Tapi dia sangat tegas dengan semua ucapannya. Dia merestui hubungan Sasuke dan Sakura. Sedikit pukulan tongkat di punggung Kizashi. Nenek Chiyo merasa anaknya pantas mendapatkan itu. Mebuki malah tersenyum menatap suaminya yang merasa punggungnya sakit.
"Bersiaplah untuk menikah." ucap nenek Chiyo.
Semua yang ada di ruangan mematung. Tiba-tiba nenek Chiyo berucap ingin mengadakan acara pernikahan Sakura dan Sasuke di sini.
"Tapi nek. Sasuke masih berumur 17 tahun." Ucap Sakura.
"Memangnya ini Konoha. Hukum di sini berbeda. Bahkan dari kecil pun kalian sudah bisa di nikahkan."
.
.
.
Sakura sudah mengenakan Kimono putih dengan motif bunga Sakura. wajahnya hanya di make up sederhana dan membuat Sakura sangat cantik. Sasuke dengan Kimono untuk pria berwarna hitam dengan bawahan berwarna abu-abu. Wajahnya semakin tampan dan membuat gadis-gadis yang ada di ruangan itu tidak berhenti menatap ke arah Sasuke.
Mereka berdua duduk di tengah-tengah aula. Seluruh warga yang ada di desa itu turut hadir dan menjadi saksi untuk Sasuke dan Sakura.
Sakura merasa sedikit malu-malu melirik ke arah Sasuke. Dia akan segera melepas masa lajangnya dan menyandang marga Uchiha di namanya. Sedikit terburu-buru tapi ini adalah perintah neneknya. Mungkin setelah kembali ke konoha, Sakura ingin mengadakan pesta dan mengenakan gaun yang sudah di belikan Mikoto, tidak lupa juga dia harus menjelaskan semua ini pada Fugaku dan Mikoto, seperti membawa kabur anak mereka dan menikah secara dadakan dengannya.
Acara pernikahan mereka sudah selesai dan yang tertinggal hanya orang-orang yang tidak ingin pulang dan masih ingin berpesta. Aula itu menjadi tempat pesta mereka. Sakura dan Sasuke duduk di tengah-tengah sisi ruangan aula. Menatap ke depan dengan orang-orang yang masih ramai, mereka turut bahagia dengan pernikahan Sakura.
"Kau lelah?" bisik Sasuke.
"Uhm. Sedikit."
"Apa kita sudah bisa kembali ke kamar?"
"Belum Sasuke. Para tamu harus pulang dulu dan kita baru bisa ke kamar."
"Merepotkan."
"Gaara tidak terlihat."
"Biarkan saja dia."
"Aku merasa tidak enak padanya."
"Kau masih memikirkannya?"
"Tidak juga. Aku hanya ingin menolaknya dengan baik-baik."
"Sudahlah. Mungkin besok kau bisa pamit padanya."
"Baiklah."
"Lagi pula. Apa kau sudah siap malam ini?"
"A-apa! Jika kau berani macam-macam akan ku pukul kau!"
Suara Sakura cukup keras membuat seluruh tamu terdiam dan memandangi mereka.
"Ma-maaf." Ucap Sakura dan menunduk di hadapan para tamu.
Seketika suara ledakan tawa membahana di ruangan aula itu. Para tamu tertawa mendengar ucapan Sakura tadi yang akan memukul suaminya sendiri jika macam-macam di kamar.
Sakura menatap kesal ke arah Sasuke dan Sasuke hanya santai menatapnya. Dia membuat Sasuke merasa ingin ikut tertawa bersama para tamu.
.
.
.
Setelah pesta besar-besaran semalam, esok harinya mereka harus pamit untuk segera kembali ke Konoha. Kizashi dan Mebuki sedang berbicara dengan nenek Chiyo di ruangan khusus, hanya ada mereka di sana. Sasuke santai di ruang tamu menunggu Sakura yang sedang mencari Gaara. Sakura merasa perlu berbicara dengannya. Beberapa pasang mata para gadis di ruang tamu masih senantiasa memandangi Sasuke. Mereka sibuk melayani Sasuke. menanyai perlu minum sesuatu atau makan sesuatu sebelum pulang. Sasuke menjawabnya dengan santai dan sedikit menghilangkan kebosanan menunggu Sakura yang lumayan lama tidak kembali.
Sakura berlari ke sana kemari. Rumah nenek chiyo yang luas membuatnya kesulitan mencari Gaara. Bertanya ke beberapa orang dan ternyata Gaara sedang berada di taman belakang rumah sedang menyiram tanaman favorit nenek Chiyo.
"Kau bahkan tidak datang semalam." Ucap Sakura dengan napasnya sedikit memburu.
"Seharusnya aku memang tidak perlu datang." Ucap Gaara tidak menghentikan kegiatannya.
"Kenapa? Kau marah padaku?"
"Aku tidak pernah marah padamu."
"Maaf. Aku minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf."
Sakura terdiam, sedikit perasaan bersalah tapi, tidak mungkin dia langsung menyukai Gaara begitu saja.
"Mungkin jika kau tidak tinggal di Konoha dan bertemu dengannya. Apa kau akan bersamaku?" Ucap Gaara. Menghentikan Kegiatannya dan menatap Sakura
Sakura terdiam cukup lama dan seperti sedang berpikir. "Aku tidak tahu." Sakura tertunduk tidak berani menatap Gaara.
"Sejak lama aku menunggu dan akhirnya kau pulang. Hanya saja. Kau membawa orang lain."
"Gaara.. aku-"
"Sudahlah. Aku benar-benar tidak pernah marah padamu. Tidak usah pikirkan kalimatku tadi. Aku hanya bercanda." Ucap Gaara. Tapi wajahnya tidak juga menampakkan jika dia sedang bercanda.
"Aku akan kembali lagi dan kita bisa berbicara banyak hal." Ucap Sakura.
"Hn. Akan tunggu saat itu. Sebaiknya kau kembali. Dia pasti sedang menunggumu."
Sakura mengangguk pelan.
"Apa satu pelukan sebelum kau pergi tidak akan menahanmu?" ucap Gaara lagi.
Sakura tersenyum dan berlari memeluk Gaara. "Terima kasih. Gaara" ucapnya.
Gaara membalas pelukan Sakura dan bersiap untuk melepaskan seseorang yang sudah lama dia tunggu dan hanya bertepuk sebelah tangan. Sedikit sakit, hampir saja dia akan bersama Sakura selamanya. Tapi saat menatap Sakura yang mengucapkan dia menyukai calon suaminya, Gaara sudah tahu, Hati Sakura sudah terisi penuh dengan Sasuke. Dia tidak akan memiliki kesempatan apapun untuk mengubah perasaan Sakura.
Mereka menyudahi pelukkan perpisahan. Mata Sakura sudah berkaca-kaca. Dia menyanyangi Gaara seperti saudaranya. Mereka yang sejak kecil tumbuh dan selalu bersama, Sakura yang hanya anak tunggal kadang membutuhkan seseorang yang lebih tua darinya untuk menemaninya. Gaara adalah anak yatim piatu yang di asuh nenek Chiyo dan menjadikannya sebagai seorang anak.
"Aku tidak akan kemana-mana. Nenek harus selalu aku jaga, kau bisa ke sini kapan saja." Ucap Gaara dan menepuk-nepuk perlahan puncuk kepala Sakura.
Anggukan kecil dari Sakura dan bersiap untuk pergi. Gaara tidak ingin mengantarnya dan memilih untuk sibuk di taman.
Sakura dan Sasuke akan pulang lebih dulu sedangkan Kizashi dan Mebuki akan menyusul mereka masih sibuk dengan ceramah dari nenek Chiyo.
Sepanjang perjalanan Sakura terdiam dan tidak juga menampakkan ekspresi apa-apa. Wajahnya sangat tenang dan pikirannya entah kemana. Sasuke melirik sejenak ke arah Sakura dan kembali fokus pada jalanan.
Satu tangan Sasuke bergerak ke arah tangan Sakura yang sedang di pangkunya. Sakura benar-benar tenggelam dalam pikirannya dan tidak sadar jika tangan Sasuke yang tadinya hanya menyentuhnya, kini jari-jari tangan mereka saling menggenggam. Sedikit remasan pelan di tangan Sakura dan membuatnya tersadar.
"Ma-maaf aku melamun." Ucap Sakura.
"Hn. Tidak apa-apa."
"Menyetirlah dengan benar." Ucap Sakura, melepaskan tangan Sasuke dan menaruhnya kembali di setir.
Sasuke hanya tersenyum tipis dan merasa Sakura sudah kembali seperti semula.
"Padahal aku ingin sekali mengenakan gaun yang di belikan bibi Mikoto." Ucap Sakura.
"Tunggu saja. Kau akan segera mengenakannya. Dan jangan lupa, kau sudah harus memanggilnya ibu."
"I-iya. Aku hanya belum membiasakannya. Uhm...Bahkan kau tidak memberikanku cincin. Cincin tunangan ini harus segera di ganti dengan cincin nikah kan." Ucap Sakura dan menatap jari-jarinya yang di angkatnya sejajar dengan wajahnya.
"Apa kau lupa, kalau kemarin itu adalah pernikahan dadakan yang bahkan aku sendiri tidak ada persiapan." Ucap Sasuke.
Sakura menahan tawanya mendengar ucapan Sasuke. pernikahan dadakan mereka. Sangat dadakan sampai-sampai membuat Sasuke sangat gugup tapi terbungkus rapi dengan wajah stay coolnya. Acara sakral itu adalah hal yang baru untuk Sasuke. Dia sendiri sampai bolak-balik di kamarnya sebelum keluar untuk menemui orang-orang dan pengantin wanitanya. Tidak ada ibu dan ayahnya yang bisa berucap apa-apa untuk menenangkannya saat itu. Untung saja Kizashi datang ke kamarnya dan membuat Sasuke sedikit tenang untuk menjalani acara pernikahannya.
"Setelah pulang kau bebas memilihnya." Lanjut Sasuke.
"Aku ingin pesta pernikahan ulang di Konoha dan aku ingin kau mengurus semuanya."
"Aku tidak mau. Merepotkan. Kau pikir aku tidak ada kerjaan apa. Aku harus sekolah. Sakura."
"Aku juga harus kerja."
"Ya sudah, tidak ada pesta ulang."
"Jahat. Aku sudah janji pada teman-temanku akan mengundang mereka jika kita menikah."
"Tidak perlu. Lagi pula kita sudah menikah. Apa harus menikah lagi?"
"Bukan. Tapi pesta, pesta. Sasuke."
"Ah, iya-iya. Dasar wanita."
Sakura menatap kesal ke arah Sasuke yang seperti tidak antusias dengan pesta ulang pernikahan mereka di Konoha.
Tersadar dengan statusnya sekarang. Dia bukan Sakura Haruno lagi. Tapi Sakura Uchiha. Wajah Sakura merona. Dia sudah menjadi istri Sasuke. mengingat akan malam pertamanya dengan Sasuke yang seperti sebuah perang. Sakura memasang brikade di tengah, menumpuk bantal-bantal untuk menghadang Sasuke macam-macam padanya. Jujur dia belum siap. Jika ingin mencium Sasuke lagi, dia merasa tidak keberatan tapi jika sudah lebih dari itu Sakura tidak bisa tenang dan akan segera mengamuk. Dia harus berusaha keras untuk membiasakan dirinya dengan Sasuke yang sekarang adalah suami sahnya. Dia tidak boleh egois dengan melarang Sasuke untuk tidak menyentuhnya.
Sakura menghela napas berat dan membuat Sasuke kembali melirik ke arah Sakura. Dia seperti sedang berpikir sesuatu dan wajahnya kini seperti merasa bersalah.
"Sedang memikirkan sesuatu?"
"Ha! Ti-tidak. Tidak ada. Fokus pada jalanan."
"Hn."
Sedikit ingatan tentang paginya setelah perang malam pertama. Bantal-bantal yang di tumpuknya menghilang dan dia sendiri yang memeluk Sasuke sambil tertidur nyenyak di samping Sasuke. Sakura menarik napasnya dalam-dalam. Raut wajahnya menjadi kaget. Pikirannya mereka sudah melakukan itu pada saat dia ketiduran.
"S-Sasuke." Sakura penasaran dan ingin menanyakannya langsung pada Sasuke.
"Hn?"
"Uhm... itu, apa, apa kita sudah melakukannya?" Ucap Sakura dan menatap serius ke arah Sasuke.
"Melakukan apa?" Sasuke malah bingung dengan pertanyaan Sakura.
"Itu, melakukan yang itu."
"Itu?"
"Di ranjang! Setelah pesta pernikahan!" Sakura menjadi malu sendiri dengan pertanyaannya .
"Oh. Yang itu." Sasuke menatap sejenak ke arah Sakura dan tersenyum, kemudian fokus ke jalanan lagi.
Sakura sendiri merinding melihat senyum Sasuke dan tidak paham dengan senyum Sasuke itu.
"Jadi?"
"Jadi, apa? Kau ingin aku menjelaskannya seperti apa?"
"Jelaskan saja apa yang terjadi." Sakura merasa tidak terjadi apa-apa. Tapi dia sedang dalam keadaan tertidur. Bagaimana jika Sasuke yang menyerangnya duluan.
"Kau benar-benar liar." Ucap Sasuke.
Sakura terkejut. Mana mungkin dia yang memulainya. Sakura meringkuk di kursinya. Dia sudah bukan seorang gadis lagi. Dan ucapan Sasuke seperti dia yang lebih dulu menyerangnya.
"Maafkan aku."
"Bercanda."
Sakura mengangkat wajahnya dan memukul lengan Sasuke.
"He-hei! Kita sedang berkendara!" Teriak Sasuke. Mobilnya sedikit oleng gara-gara Sakura memukul lengannya
"Kau bahkan membohongi!" Protes Sakura.
"Setelah sampai di rumah kau bebas melakukannya di ranjang nanti, jangan di sini."
Sakura melotot ke arah Sasuke dan mencubit lengannya dengan sangat keras. Sasuke hanya merintih kesakitan dan menatap tidak suka ke arah Sakura. kembali fokus ke jalan dan suasananya menjadi hening. Pertengkaran pertama sebagai suami-istri, meskipun hanya pertengkaran konyol mereka.
Mereka sampai dan Sasuke tidak ingin berbicara apa-apa. Dia bahkan hanya memeluk Mikoto sejenak dan segera berjalan ke kamarnya. Dia butuh tidur sekarang. Fugaku dan Itachi masih berada di kantor. Uzuki sedang bekerja di studionya dan di ruang keluarga hanya ada Sakura dan Mikoto yang sedikit merindukan Sakura.
Sakura mulai bercerita tentang pernikahannya dengan Sasuke yang sudah berlangsung di desa kelahirannya dan ayahnya. Tidak ada tanggapan terkejut dari Mikoto, dia bahkan sangat senang jika anaknya sudah sah menjadi pasangan Sakura.
Mulai bercerita tentang acara pernikahan ulang, tapi Sakura seperti mengadu pada Mikoto, Sasuke tidak berniat untuk mengurus pestanya dan hanya membuat Mikoto tersenyum.
"Kami akan membantumu, Sakura. Kamu tidak perlu memikirkan undangan dan semua persiapannya. Kamu hanya perlu siap dan jangan lupa kenakan gaunmu yaa."
"Terima kasih. Tentu, Bi- eh. I-ibu." Ucap Sakura dan sedikit malu saat mengucap 'ibu' pada Mikoto.
Mikoto memeluk Sakura, dia terlihat sangat bahagia dengan Sakura yang sudah menyandang status sebagai keluarga barunya.
"Sepertinya aku perlu bertemu dengan ayah dan ibumu dulu untuk membicarakan pestanya."
"Uhm, mereka masih di tahan nenek, hehehe. Mungkin besok baru pulang."
"Aku jadi penasaran ingin bertemu dengan nenekmu. Meskipun tegas tapi dia sangat baik pada anak dan cucunya."
Sakura hanya tertawa pelan menanggapi ucapan Mikoto. Dia tidak mengatakan kalau Sasuke sudah dipukuli oleh neneknya. Sakura berharap Mikoto tidak punya kesempatan untuk bertemu neneknya.
"Beristirahatlah. Kamu pasti lelah juga." Ucap Mikoto dan membelai rambut Sakura.
"Uhm, iya bu."
Sakura berjalan menuju lantai dua kamar Sasuke. Ahk, Sudah bukan kamar Sasuke. kamar itu sekarang sudah jadi miliknya juga. Membuka pintu perlahan dan mendapati Sasuke yang masih tertidur, dia kelelahan. Padahal Sakura sudah meminta untuk bergantian tapi tetap saja di tolaknya seperti saat mereka pergi.
Berjalan pelan dan Sakura masuk ke kamar mandi. Dia merasa perlu menyiram kepalanya dengan air dingin, berasa pikirannya masih ada di Suna dan mengingat kembali neneknya dan Gaara yang dia tinggalkan lagi. Mungkin dia akan kembali, tapi dalam jangka waktu yang lama. Sasuke akan sibuk sekolah dan setelahnya mungkin dia akan kuliah dan Sakura akan selalu sibuk di rumah sakit.
Air dingin keluar dari shower dan Sakura berdiam diri sejenak sebelum menggunakan shampo dan sabun.
Tok tok tok...
"Sakura..." panggil Sasuke dari luar kamar mandi.
"Apa! Aku belum selesai." Teriak Sakura.
Sakura segera menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi. Eh, apa hanya halusinasinya saja. Tadi ada suara Sasuke dan ketukan pintu kamar mandi. Tapi, yang bersuara tadi masih tertidur dengan tenang. Sakura berjalan menuju ruangan pakaian. Hampir menggapai pintu ruangan itu. Seperti seseorang tengah berada d belakang Sakura.
"Tunggu."
Sakura terkejut seseorang menahan tangannya. Sakura tidak ingin berbalik dan menatap orang yang sudah di hapalnya dari suara, Sasuke. Sakura masih mengenakan handuk dan berharap Sasuke tidak berbuat aneh-aneh padanya.
"A-apa?" tanya Sakura gugup.
"Kau salah pakai handuk." Ucap Sasuke dan melepaskan genggamannya di lengan Sakura.
Sakura melihat ke arah handuknya. Itu adalah handuk milik Sasuke. gara-gara terburu-buru Sakura salah mengenakan handuk lain dan lupa mengambil handuknya.
"Hanya handuk saja kau tidak perlu protes." Ucap Sakura dan berlari masuk ke dalam ruangan pakaian dan merasa sangat malu.
"Kalau kau pakai handukku, aku pakai apa?"
"Pakai kertas koran."
"Tidak lucu."
Sakura tidak menjawab. Sepertinya dia sibuk berpakaian dan Sasuke mulai berjalan menuju kamar mandi.
.
.
.
Makan malam keluarga besar dan sedikit perbincangan tentang acara pesta pernikahan nanti. Awalnya semua akan di bicarakan tahun depan. Tapi dengan status Sasuke dan Sakura yang sudah menikah, mereka mulai bersiap-siap untuk segera mengadakan acaranya, ulang.
Di kediaman Uchiha, seluruhnya ada di meja makan. Orang tua Sakura yang sudah kembali dari Suna, Itachi, Uzuki, Sasuke, Sakura dan kedua orang tua Sasuke.
Mereka sesekali berbincang tentang tempat yang bagus dan mulai mempersiapkan apa-apa yang di perlu untuk acara nanti.
"Apa kalian sudah menetapkan tempat bulan madu?" Tanya Itachi.
Sakura tersedak dan segera minum terburu-buru. Sauke fokus pada makanannya.
"Jangan mengucap hal itu Itachi." Tegur Mikoto.
"Hehehe, maaf bu." Itachi sukses mengganggu. Berharap Sasuke yang mengomentari, malah tatapan cuek yang di dapatnya.
.
.
.
Gedung yang luas dan cukup mewah. Mereka melangsungkan pesta pernikahan ulang di sana. Terlihat begitu banyak orang berdatangan beberapa orang yang penting dan yang lainnya adalah kenalan kedua orang tua Sasuke dan Sakura. Teman-teman Sakura dan Sasuke turut hadir.
Sasuke selalu berusaha bersikap ramah dan santai. Dia merasa sangat bosan dengan acara seperti ini, padahal ini adalah acara yang penting untuknya. Sakura sendiri berusaha tersenyum ramah kepada tamu. Dari pada melihat para tamu, tatapan Sasuke terus mengarah pada Sakura.
Sakura menoleh dan mendapati tatapan Sasuke yang terus mengarah ke arahnya. Wajah Sakura menjadi merona. Mereka tengah duduk di kursi yang berhadapan dengan para tamu. Meja di hadapan yang tertata beberapa makanan tapi tidak di sentuh mereka. Sakura yang merasa gugup dengan banyak orang yang datang membuatnya jadi tidak lapar. Sasuke hanya mencicipi sedikit makanannya.
"A-apa yang kau lihat?" Tanya Sakura.
"Pemandangan indah." Ucap Sasuke santai.
"Maksudnya?"
"Bukan apa-apa."
"Apa ini masih lama?"
"Aku pikir kau yang paling bersemangat jika pesta ini di adakan."
"Te-tentu saja, hahahahah." Sakura berusaha terlihat bersemangat.
"Aku bosan." Ucap Sasuke dan berjalan keluar ke balkon yang cukup luas.
"Dasar. Dia meninggalkan pengantin wanitanya begitu saja." Ucap Sakura pelan. Dia kembali menatap para tamu dengan kesibukan mereka masing-masing.
Sakura menghela napas dan seperti yang di katakan Sasuke, di sini benar-benar bosan, teman-temannya sudah pulang dan membuat Sakura tidak bisa bercerita dengan siapa-siapa lagi.
"Sakura." teriak seorang gadis yang tengah berjalan cepat dan menghampiri meja Sakura.
Sakura segera berdiri dan berjalan sedikit ke depan. Mereka berpelukkan sejenak dan saling tersenyum.
"Kamu cantik sekali." Ucap Rin.
"Terima kasih."
Rin sedikit telat datang. Dia harus mengecek pasien sebelum datang ke pesta Sakura.
"Maaf aku telat."
"Tidak apa-apa. Yang lain sudah datang tadi, tapi mereka sudah pulang. Aku pikir kamu akan pergi bersama teman-teman perawatmu."
"Mereka meninggalkanku."
"Hahaha, ya sudah. Ayo silahkan. Apa mau aku temani?"
"Eh, tidak perlu. Masa aku merepotkanmu."
"Tidak apa-apa. Lagi pula pengantin prianya sedang sibuk sendiri."
Rin melongo ke arah meja pengantin dan kosong. Sasuke tidak ada di tempatnya.
"Dia kemana?"
"Di sana." Ucap Sakura menunjuk ke arah jendela yang terbuka lebar dan menampakkan sebuah balkon yang luas dan Sasuke tengah berdiri sana dan pandangannya mengarah ke luar. "Dia sedang bosan." Lanjut Sakura.
"Hooo. Baiklah. Dengan senang hati aku terima tawaran temanku yang sedang berbahagia ini." Ucap Rin sambil terkeke pelan.
"Ahk, kau bisa saja Rin."
Mereka berjalan-jalan menuju meja prasmanan, Rin mulai mengambil beberapa makanan dan mencicipinya. Sedikit paksaan dari Rin untuk membuat Sakura ikut makan. Sejak tadi dia belum makan dan membuat Rin menegurnya.
Beberapa tamu mendatangi Sakura dan mereka mulai berbincang-bincang dengan Sakura. Rin yang ingin kabur malah di tahan oleh Sakura. Dia tidak ingin sendirian dengan orang-orang yang di kenal Sakura sebagai teman-teman kerja ayahnya.
Selalu saja ucapan yang sama akan di dengar Sakura. mereka memuji Sakura, keluarga barunya yang merupakan keluarga terpandang dengan perusahaan yang sangat sukses dan tersebar di beberapa kota-kota besar. Sakura menanggapinya dengan ramah dan selalu tersenyum di hadapan mereka. Terlepas dari para tamu itu, Sakura dan Rin kembali berbicara ringan dan sesekali mencicipi makanan. Orang tua Sakura dan Sasuke benar-benar orang yang sibuk. Mereka masih di kerumuni dengan para tamu penting mereka.
"Dimana tuan muda itu?" Tanya Uzuki yang baru selesai berbicara dengan beberapa tamu dari perusahaan periklanan.
"Dia sibuk dengan dirinya sendiri di balkon." Ucap Sakura.
Rin mematung dan sepertinya dia ingin berteriak. Untuk pertama kalinya dia bertemu dengan artis dan model terkenal.
"Temanmu?" Tanya Uzuki saat melihat Rin yang senantiasa mendampingi Sakura.
"Iya. Namanya Rin, di asisten ku juga di rumah sakit."
"A-aku fans beratmu." Ucap Rin. Menyimpan makannya di meja dan berjabat tangan dengan Uzuki.
"Terima kasih." Ucap Uzuki dengan ramah.
"Oh iya, aku lupa. Dia sangat nge-fans denganmu, Uzuki." Ucap Sakura.
"Kalau kau teman Sakura, semoga kita juga bisa berteman." Ucap Uzuki.
Rin menutup mulutnya, sedikit malu dan terlihat sangat bahagia mendengar ucapan artis favoritnya itu. Mereka bertiga jadi sibuk berbicara.
Pesta telah usai dan Sakura langsung membuang dirinya di kasur. rasanya badan dan kakinya pegal. Sakura sudah membersihkan dirinya. Sampai acara akan selesai, Sasuke baru kembali dari balkon. Dia bahkan hampir lupa jika itu adalah acaranya sendiri. Sakura merebah dirinya dan menatap seseorang yang sudah tertidur sejak tadi. Dia harus sekolah besok dan membuatnya tidur lebih cepat.
Sakura melirik ke arah jari Sasuke dan jarinya. Cincin sepasang yang Sakura pilih sendiri untuk mereka. Sakura tersenyum kegirangan, mengangkat tangannya lagi dan menatap cincinnya. Kembali menatap Sasuke yang sepertinya tidak terusik dengan Sakura tadi yang sedikit membuat kasur empuk mereka bergoyang. Posisi Sasuke tertidur menghadap ke arahnya. Suaminya itu sangat tampan dan masih muda, mau saat tidur, berbicara, terdiam, tetap saja membuat Sakura deg-degan sendiri saat menatap wajahnya. Tangan Sakura bergerak dan mengusap perlahan rambut Sasuke. Terasa lembut, pikirnya rambut Sasuke akan terasa sangat kasar gara-gara style seperti pantat ayamnya. Sakura tersenyum dan terus mengusap rambut Sasuke.
.
.
.
Membuka matanya perlahan dan suasana di kamar sudah sangat terang, jendela di sudah di buka oleh para pelayan yang sudah masuk sejak pagi di kamar Sasuke. Melirik ke samping dan Sakura sudah tidak mendapati seseorang tidak ada di sana, di alihkan tatapannya ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan angka jam 11. Sakura tertidur pulas dan tidak ada yang membangunkannya. Hari ini juga pas dengan hari liburnya.
Tidak terasa Sasuke akan segera masuk kuliah. Dia tengah sibuk mengikuti ujian masuk. Uzuki sudah kembali ke kota dimana dia akan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Fugaku dan Mikoto kadang-kadang tidak berada di rumah dan Itachi akan selalu sibuk bekerja.
Sakura menutup matanya kembali. Rasanya suasana di rumah ini akan seperti biasa lagi, tidak saat mereka masih mempersiapkan pesta. Semuanya selalu berkumpul dan membuat rumah ini menjadi rame. Hal itu sudah lewat beberapa bulan yang lalu. sekarang sudah memasuki tahun yang baru lagi.
Sibuk dengan kertas-kertas laporannya, Sakura memilih untuk mengerjakan laporannya hari ini, mungkin jika besoknya dia bisa meminta Sasuke untuk mengajaknya jalan-jalan. Hingga siang Sakura masih berada di kamar dan meminta para pelayan untuk membawakan cemilan untuknya.
Pintu kamar terbuka dan menampakkan seseorang yang sudah pulang dari ujian masuknya ke universitas. Menyimpan tasnya di meja dan menghampiri Sakura yang tengah duduk di sofa sambil menulis-nulis laporan pasiennya.
"Sudah pulang?"
"Hn."
Sasuke masih berjalan dan berhenti untuk duduk di sebelah Sakura.
"Aku pulang." Ucap Sasuke menarik dagu Sakura pelan, mengarahkan nya ke hadapannya dan mencium bibir Sakura sepintas.
"S-selamat datang." Ucap Sakura gugup.
"Wajah macam apa itu?" ucap Sasuke.
"Wajah apa maksudnya?"
"Bahkan sudah beberapa bulan pun kau masih tidak terbiasa."
"Aku sudah berusaha."
"Kau harus terbiasa denganku mulai sekarang. Tingkahmu seperti anak-anak saja."
"Kau itu yang anak-anak. Masih mudah tapi mesumnya minta ampun."
"Jangan nyolot. Itu tandanya kau yang masih anak-anak. Ingat sekarang umurku sudah 18 tahun, Sakura."
"Ya sudah, aku yang anak-anak. Sudah sana, kau menggangguku." Ucap Sakura dan mendorong-dorong Sasuke untuk menjauh dari sofa.
"Begitu yaa, caramu memperlakukan suami setelah pulang ujian?"
"Aku hanya ingin menyelesaikan laporanku dengan tenang. Bisakah kau menyingkir dari sini?"
"Apa kehadiranku mengganggumu?" ucap Sasuke dan menatap Sakura.
Wajah Sakura merona saat di tatap Sasuke. Segera saja Sakura membuang mukanya dan mencoba kembali mengerjakan laporannya. Sasuke benar-benar mengganggunya.
Sakura sadar, dia dan Sasuke sudah lama resmi menikah. Tapi, tetap saja sampai sekarang pun Sakura belum benar-benar terbiasa dengan hal-hal yang sering Sasuke lakukan padanya. Bahkan saat berciuman pun Sakura merasa ingin lari saja. Dia sedikit iri dengan Sasuke yang langsung terbiasa dengannya. Menciumnya begitu saja tanpa sedikit malu. Sedangkan Sakura harus bersusah payah menyembunyikan perasaan malunya.
Mengingat tentang malam pertama mereka, lagi , membuat Sasuke sedikit kesal dengan tingkah Sakura yang mau kabur begitu saja saat di dekatinya. Malam pertama mereka berakhir dengan kamar yang berantakan gara-gara Sakura mengamuk dan tidak bisa tenang.
"Hei, jangan mengabaikanku." Ucap Sasuke.
"Aku sedang Sibuk. Bukan mengabaikanmu." Ucap Sakura cuek.
"Sakura." ucap Sasuke lembut.
Sakura menghentikan kegiatan menulisnya untuk memperingati Sasuke kembali agar tidak mengganggunya lagi. Sakura terkejut dengan ciuman singkat lagi dari Sasuke.
"A-apa yang kau lakukan, aku kan sedang sibuk."
"Aku ingin sekarang, Sakura."
"Tu-tunggu dulu Sasuke, jangan sekarang, laporanku. A-aku harus mengerjakannya sekarang. Sasuke!"
Sasuke tidak perduli lagi apapun yang di katakan Sakura. Dia menginginkan Sakura meskipun Sakura akan melukainya nanti.
Pukul 01:14
Sakura terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling ruangan kamarnya yang hanya di terangi lampu kamar yang kecil. Di alihkan pandanganya ke samping, Sasuke tengah tertidur pulas dan dia lupa mengenakan apapun di tubuhnya, hanya selimut yang menutupi kaki hingga pinggangnya. Pandangan Sakura mengarah ke sofa dengan tumpukan laporannya yang belum kelar. Sakura mengepalkan tangannya dan merasa perlu membalas Sasuke yang sudah mengganggu kesibukkannya tadi siang.
Perutnya terasa lapar, gara-gara Keinginan Sasuke membuatnya tidak bisa makan. Sakura bergeser dan duduk di samping Sasuke. mencoba membangunkan orang yang harus bertanggung jawab untuk rasa laparnya sekarang.
"Sasuke." ucap Sakura sambil menggoyangkan tubuh Sasuke agar segera bangun.
"Nnggg.."
"Ishh, Sasuke! bangun ayo bangun."
"Ada apa? Aku ngantuk, besok saja, Sakura."
"Sekarang. Aku mau sekarang!"
"Apa? Kau ingin di beri jatah lagi?" ucap Sasuke yang sudah membuka matanya dan menatap Sakura.
Satu tendang dari Sakura dan sukses membuat Sasuke jatuh ke lantai. Sasuke hanya merintih saat sudah mendarat di lantai. Dia masih duduk dan belum juga berdiri. Menatap kesal ke arah Sakura yang sudah berwajah cemberut.
"Aku lapar."
"Makan aku saja." Canda Sasuke.
Lemparan bantal mendarat di wajah Sasuke.
"Buatkan aku sesuatu. Lagi pula para pelayan sudah tertidur."
"Aku pikir kau sudah mahir memasak saat di ajari Naho."
"Kau pikir apa? Aku hanya bisa mengingat teriakannya yang keras di telingaku. Sakura bumbunya! Sakura panci! Sakura kamu salah! Sakura itu sudah mendidih! Sakura garam! Sakura, Sakura, Sakura. Aku lebih mengingat teriakkannya dari pada cara memasak yang baik dan benar." Ucap Sakura panjang lebar menjelaskan kembali cara Naho mengejarinya masak.
"Ah, merepotkan saja. Aku hanya bisa buat ramen instan."
"Tidak apa-apa, asalkan kau yang membuatnya. Aku sedang malas."
Sasuke berdiri dan selimut yang tadi menutupi bawahannya jatuh ke lantai.
Sakura terkejut melihat penampilan Sasuke tanpa busana. "Pa-pakai pakaianmu dulu!" ucap Sakura sambil menutupi wajahnya.
Sasuke hanya menahan tawa dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Istrinya masih saja belum terbiasa dengan dirinya. Dengan sedikit malas Sasuke mengambil pakaiannya, berjalan keluar dari ruangan pakaian, Sasuke dengan celana kain abu-abunya dan kaos yang baru akan di pakainya, Sakura sudah merapikan rambutnya dan menatap Sasuke sejenak. Punggungnya penuh bekas cakaran. Sakura menelan ludahnya dan tidak sadar jika itu adalah perbuatannya sendiri.
"Apa sakit?"
"Sakit?"
"Uhm, di punggungmu."
"Yaah, lumayan. Seharusnya aku memakaikanmu sarung tangan agar kau tidak mencakar lagi."
"Setidaknya kita impas." Ucap Sakura.
Baju tidur Sakura dengan desain tali di bahunya, menampakkan beberapa bekas memerah yang sudah sedikit menghitam pada bagian lehernya.
Sasuke hanya menutup mulut dengan satu tangannya dan tidak ingin menatap Sakura. Terkesan lucu dengan ucapan Sakura tadi, setidaknya mereka impas dengan sama-sama memiliki bekas.
Di dapur, Sakura mulai menunggu, dia duduk di kursi meja makan para pelayan yang berada di dapur. Matanya sesekali menatap Sasuke yang mulai memanaskan air.
"Mau yang mana? Pedas atau original saja?" Tanya Sasuke sambil menunjukkan dua bungkus ramen.
"Yang pedas."
Sambil menunggu airnya mendidih, Sasuke sibuk membuat teh untuknya. Sakura sedikit bosan dan mereka tidak berbicara apapun. Di sini sangat berbeda dengan rumahnya, jika dia bangun di tengah malam, sudah ada makanan yang di siapkan Mebuki. Sedikit rindu dengan suasana rumahnya, Sakura merindukan ibunya, berpikir untuk mengunjungi ibunya besok tapi Sakura harus menghubungi mereka terlebih dahulu. Selalu saja mereka tidak ada di rumah saat Sakura datang.
"Hei, jangan melamun." Ucap Sasuke dan mengetuk jidat Sakura dengan jarinya.
"Aku tidak melamun. Hanya sedang merindukan rumah." Ucap Sakura.
Sasuke duduk di kursi yang berhadapan dengan Sakura, hanya meja panjang yang membatasi mereka. Segelas teh hangat di teguk Sasuke dan di taruhnya di meja.
"Pulang saja kalau begitu."
"Mereka jarang berada di rumah." Ucap Sakura dan tertunduk lesu.
"Minumlah ini."
Sasuke menggeserkan tehnya ke arah Sakura, bukannya meminumnya, Sakura malah menggeser kembali gelas Sasuke.
"Aku mau kopi saja."
"Jangan minum kopi di jam segini." Ucap Sasuke, berjalan meninggalkan Sakura dan kembali ke air yang sudah mendidih, Sasuke mulai membuatkan ramen instan untuk Sakura.
Sakura memanyunkan bibirnya ke arah Sasuke, dia tidak mendapatkan apa yang di inginkannya, padahal hanya segelas kopi.
Makanan Sakura sudah siap di hadapannya, Sakura memakan ramennya dengan tenang, dan tatapan Sasuke selalu ke arah Sakura.
"Mau?"
Sakura mengambil sesendok dan menyuapi Sasuke.
"Kapan Uzuki akan datang lagi?" tanya Sakura di sela makannya.
"Biasanya di akan datang beberapa bulan sekali, dia sangat sibuk jika sedang bekerja."
"Uhm... Ibu dan ayah kapan kembali?"
"Aku tidak tahu, mereka kalau keluar kota akan lama, biasanya pekerjaan ayah akan banyak saat dia berada di perusahaannya yang berada di sana."
"Kak Itachi? Aku tidak melihatnya dari tadi."
"Dia sedang tertidur di kamarnya."
Sakura tidak bertanya apa-apa lagi dan segera menghabiskan makanannya. Setidaknya masih ada Sasuke yang akan menemaninya.
Mereka kembali ke kamar, Sakura mengekor di belakang Sasuke. Rasanya Sasuke semakin berubah saja. Mengingat kembali akan dirinya saat pertama kali bertemu dengan Sasuke, rasanya Sakura ingin memasukkan Sasuke ke dalam karung dan membuangnya ke laut. Dia terkesan sangat sombong dan angkuh pada Sakura. Kata-katanya selalu menusuk dan tidak pernah ramah pada Sakura.
Senyum manis menghiasai wajah Sakura. Sasuke benar-benar berubah, Sasuke selalu memberi perhatian lebih padanya. Lupa akan panggilan 'cebolnya' pada Sasuke. Tapi tetap saja, sampai sekarang pun Sakura masih lebih tinggi dari Sasuke. mereka tengah berjalan di tangga dan Sakura menatap ke arah Sasuke yang sudah berada di anak tangga yang lebih tinggi dari Sakura.
"Aku ingin bertemu dengan dirimu jika sudah setinggi ini." ucap Sakura pelan.
Sasuke berhenti berjalan dan berbalik.
"Apa? Kau bilang apa tadi?"
"Ti-tidak, aku tidak bilang apa-apa, heheheh"
Sasuke menarik pelan tangan Sakura dan menggenggamnya. Sakura seperti anak kecil yang sedang di tuntun untuk berjalan. Sakura membiarkan Sasuke melakukannya. Sedikit lucu, jika dia yang selalu kekanak-kanakan di hadapan Sasuke gara-gara sikap Sasuke yang terlihat lebih dewasa darinya.
.
~TBC~
.
.
Lagi nggak bisa update kilat ehehe. Yang penting sudah update, kan.
Kenapa Gaara? nggak Sasori atau yang lainnya. Jawabannya karena author butuh karakter yang sikapnya tenang seperti Gaara. Tenang-tenang bikin tenggelam(?) eaaaa..~
Kenapa nenek chiyo? nggak nenek-nenek yang lain saja. Alasannya karena author terlalu malas menggambarkan sosok karakter yang OC, kalau nenek chiyo udah tahu kan, kalau dia emang nenek-nenek.
Beberapa ada yang tanyain tentang alurnya, sebenarnya di chapter berapa yaa, author lupa, ada yang sudah bertanya dan author sudah jawab, yups, cerita ini terinspirasi dari anime dengan judul -Soredemo Sekai wa Utsukushii- author hanya pernah nonton animenya dan belum pernah baca komiknya. Sedikit gregetan dengan kisah cinta mereka dan author malah balas dendam di sini, hohohoh *ketawa nista*
Sebenarnya ada hal yang lucu dari fic ini, mungkin karena author yang kagak sadar atau kelupaan ama konsepnya *udah chapter 10 woii* hahahah, harusnya sejak chapter pertama author sudah membuat mereka (sasu-saku) menikah. tapi kenapa malah membuat mereka baru menikah di chapter ini, hahah, maafkan author. Tapi semoga tetap enjoy dengan ceritanya.
=balas review=
Himeko Utshumi : update, tpi nggk tahu ini greget atau nggk XD
Hayashi Hana-chan : update
echaNM : sabar yaa XD
meganeko-chan : maaf klu chapter ini ngg terlalu bagus =_=
yencherry : chapter ini romance versi author, ehehe, sorry kalau kurang
RizkyUmeda : aku udah bahas di atas XD, yang benarnya, neneknya sakit encok , dan ibunya sakit-sakitan jadi jarang keluarh, ehehehe
UchiHaruno Sya-Chan : yeey. Author dukung juga. Hehehe
Uchihamisato : saku akhirnya berhasil di selamatkan XD
Ganbatte : makasih telah kembali di review, eheheh
Niayuki : update
I'm a silent : terima kasih sudah mereview *senang* update. Update. Eh(?) uhmm.. temenan. Kalau review lagi log in yoo, nanti author kirim nama akun lewat inbox aja, ehehehe. Sebenarnya author sedikit malas untuk menggabungkan dunia sosmed dan dunia ffn, malu-malu aja kalau ketahuan aslinya, hehehe. pengennya kayak author misterius gitu, eeeaaa, Tapi nggk apa2 kalau ingin berteman silahkan. ^_^
LIttle Cherry : terima sudah mereview, yups, author sudah bahas di atas, ehehe,
Yukihiro Yumi : semua reviewnya sudah terjawab di chapter ini dan di curhatan author di atas XD
Sipembaca : udah author balas di atas, eheheh. Umur Gaara 26, untuk di chapter kemarin. Sekarang udah 27,
Euri-chan : hai juga..., terima kasih sudah mereview, ahk, nggk apa-apa, selama masih di baca author udah senang, hehehe XD sudah update.
Tyas : sudah author jawab di chapter ini, ehehe
Jamurlumutan462 : author juga suka kamu(?) loh, ahahah, bercanda, sudah di update.
yuiharuno47 : ya sudah, sini bareng author, kita party jones... (?) wkwkkw, *plaaakk*
Uchiha Lili : kalau author punya waktu banyak fic ini akan update, jika waktunya sedikit fic ini akan lama update, tapi nggk lama-lama amat kok, XD
ishidayamatoryy : sudah update.
Mustika447 : author dukung juga..
chika kyuchan : terma kasih *terharu* Gaara jones, kamu ambil aja dia, dia abis di tolak, ehehehehe
hanazono yuri : sudah...~~
Babyponi : update
sandal lezatos : update... update..!
silent reader : su sudah di update, TT^TT
Y : sudah author update-kan
Hina hime : oh iya, makasih sarannya, author kadang kalau udah fokus ama alur, lupa deh, yng lain, kalau saat 17 tahun tinggi sasuke masih 161, dan sakura masih 162, sepertinya Sakura tidak akan bertambah tinggi lagi XD terima sudah sempatkan untuk membaca dan mereview
Me : sudah update yaa
uchiha's family : author suka dengan sikap saku heheheeh. *ketawa jahat* sudah update yaa.
Hufff...~ terima kasih yang sudah mereview. Dengan berat hati next chapter -final-, seribu maaf kalau perlu milyaran maaf dari author untuk next chapter,
Review lagi yaa, hehehhe.
