A Romantic Story About Eunhyuk

Remake Story

Disclaimer: Cerita asli milik Shanty Agatha, saya hanya mengganti pemainnya dengan KyuHyuk. ^^

Warning: Genderswitch

Happy reading

"Seorang wanita simpanan harus diperlakukan seperti wanita simpanan."

Kata-kata Kyuhyun yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah-olah bergaung di ruangan yang hening itu.

Lelaki itu sudah melepaskan kemejanya, dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Eunhyuk gemetar cemas.

"Kau...Harus...Mendengarkan." Eunhyuk masih mencoba, meskipun melihat ekspresi wajah Kyuhyun, ia tahu ia tidak akan berhasil.

Kyuhyun terlalu marah, dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.

"Lepaskan kemejamu Eunhyuk-ah." gumam Kyuhyun datar.

"Kyu..." wajah Eunhyuk langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.

"Lepaskan."

Nada suara Kyuhyun begitu menakutkan. Mungkin Eunhyuk akan lebih berani menghadapi jika Kyuhyun berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tetapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.

Dengan gemetar Eunhyuk melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Kyuhyun dengan wajah memohon, tetapi lelaki itu tidak terpengaruh.

Setelah seluruh kancing kemeja Eunhyuk terlepas, dia berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangannya erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.

"Aku bilang lepaskan kemejamu, Eunhyuk-ah," suara Kyuhyun tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Eunhyuk makin gemetar mendengarnya, dengan sudah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya ke kasur, menatap Kyuhyun tanpa daya.

"Sekarang roknya." sambung Kyuhyun setelah mengamati tubuh Eunhyuk tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Eunhyuk merah padam.

"Tidak...!" Eunhyuk berusaha membantah, dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya.

"Aku bilang roknya!" suara Kyuhyun sedikit naik, tetapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan, hingga mau tak mau Eunhyuk bergerak melepaskan roknya, air mata mulai mengalir di mata Eunhyuk.

Hening cukup lama, Kyuhyun terdiam sambil menatap Eunhyuk tajam. Dan Eunhyuk berlutut di ranjang itu dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kecil.

"Lepas pakaian dalammu."

"Tidak!" dengan was-was Eunhyuk berseru, tanpa sadar tubuhnya beringsut ke ujung ranjang, ketakutan.

Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Kyuhyun, lelaki itu sudah tidak setenang tadi.

"Kenapa tidak Eunhyuk-ah? Wanita simpananku? sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang, dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang tiga ratus juta won...", suara Kyuhyun terdengar jijik, dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Eunhyuk langsung beringsut mundur menjauh.

"Aku membeli tubuhmu seharga tiga ratus juta won, seharusnya tubuhmu itu bisa kupergunakan semauku, tetapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kamu sakit, merawatmu...itu semua terlalu baik untukmu," mata Kyuhyun tampak menyala, "dan kau dasar wanita simpanan tak bermoral! bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku...!"

"Kau salah paham Kyu." Eunhyuk mulai menangis terisak.

Tetapi Kyuhyun tetap mengeraskan hatinya.

"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri."

Dengan gerakan secepat kilat Kyuhyun meraih kedua lengan Eunhyuk, sebelum Eunhyuk sempat menghindar dia menempelkan tubuh Eunhyuk ke tubuhnya sendiri.

"Kalian berciuman! kau membiarkan dia menciummu! menjijikkan sekali dimataku."

Napas Kyuhyun mulai terengah-engah, lalu mendorong Eunhyuk ke bantal membuatnya terbanting kasar disana.

Eunhyuk berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Kyuhyun yang keras dan berat, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Kyuhyun yang kuat dan tanpa ampun.

Tetapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah, bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Eunhyuk yang rapuh.

Lelaki itu seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika dia menatap Eunhyuk. Dengan ketakutan yang amat sangat, Eunhyuk berusaha memberontak dan turun dari ranjang, tetapi Kyuhyun menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar, lalu menindihnya.

Eunhyuk mengernyit merasakan cengkeraman tangan Kyuhyun yang kasar di tangannya.

"Sakit Kyu...kumohon..."

"Diam!" seru Kyuhyun marah, dan ketika Eunhyuk meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahan Kyuhyun, lelaki itu merobek baju Eunhyuk dan mencoba membuka pahanya.

Eunhyuk berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Kyuhyun pasti akan melukainya. Tetapi Kyuhyun tidak peduli. Ketika merasakan Eunhyuk tidak basah dan tidak siap, lelaki itu tetap menyatukan dirinya.

Bagi Eunhyuk itu adalah kesakitan yang luar biasa, sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti wanita rendahan yang tak ada harganya.

Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Kyuhyun, tapi Eunhyuk menahan diri, digigitnya bibirnya hingga hampir berdarah, di tahankannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan di tekannya hatinya dalam dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.

Eunhyuk berbaring memunggungi Kyuhyun, matanya nanar, penuh airmata. Napasnya sesak karena isakan yang ditahannya.

Setelah semua usai, Kyuhyun menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya, sampai napas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening. Eunhyuk tahu Kyuhyun tidak tidur, lelaki itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, terlentang menatap langit-langit kamar. Tetapi Eunhyuk langsung membalikkan badan dan berpura-pura tertidur.

Dirasakannya Kyuhyun bolak-balik menghadap ke arahnya, seperti ingin mengajaknya bicara tetapi kemudian ragu dan menghentikan dirinya di detik terakhir.

Saat-saat hening itu terasa menyiksa. Tubuh Eunhyuk tegang meskipun dia berakting sudah tidur dengan baik, dijaganya agar nafasnya teratur, dijaganya agar tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Lama-lama dia merasakan tubuh Kyuhyun berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Eunhyuk menanti menit demi menit, menyakinkan diri kalau Kyuhyun sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.

Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar pemerkosaan, dan Kyuhyun sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Eunhyuk memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras, dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya. Di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.

Tetapi yang paling sakit adalah hatinya.

Air mata mengalir tanpa suara dari pipi Eunhyuk, tapi dia menahan isakan dengan menggigit bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati Eunhyuk duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai, dan pakaiann dalamnya yang setengah dirobek oleh Kyuhyun saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi.

Pelan-pelan, agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Kyuhyun berbaring miring dan tertidur pulas, Eunhyuk bangkit berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah, dan tubuhnya gemetar, tapi Eunhyuk menguatkan diri.

Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan was-was, bersiap-siap jika ada satu gerakan sedikit apapun dari Kyuhyun.

Tetapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Eunhyuk selesai berpakaian. Eunhyuk lalu mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar, tetapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Kyuhyun yang masih tertidur pulas.

Kyuhyun pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Kyuhyun pasti maklum jika Eunhyuk menjauh darinya. Tapi kemudian Eunhyuk mengernyit, teringat kemarahan Kyuhyun ketika Eunhyuk menghilang tanpa pamit untuk menunggui Donghae di rumah sakit hari minggu lalu.

Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Kyuhyun? apalagi dengan perjanjian tiga ratus juta won itu...

Ketakutan mewarnai perasaan Eunhyuk, menahan langkahnya.

Lalu Eunhyuk mengeluarkan kertas dan menulis.

Maaf Kyu, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian.

Tapi kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku.

Aku tidak serendah itu kau tahu.

Sampai jumpa di kantor besok pagi

Eunhyuk.

Pagi itu Kyuhyun duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi, para karyawan belum datang ke kantor, tapi Kyuhyun sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartemen itu sendirian.

Tanpa Eunhyuk.

Dia terbangun pagi-pagi sekali, karena terbiasa mencari Eunhyuk untuk dipeluk, tetapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah Kyuhyun langsung bangun dan murka.

Berani-beraninya gadis itu meninggalkannya?

Tetapi kemudian, kertas yang diletakkan di bantal Eunhyuk itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi.

Eunhyuk bilang "Sampai jumpa di kantor besok pagi" jadi Kyuhyun menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap-siap dan berangkat ke kantor saat itu juga.

Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Eunhyuk terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya.

Tapi tidak tahukan Eunhyuk kalau pemandangan Eunhyuk yang sedang dipeluk dan dicium oleh Leeteuk itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Eunhyuk! Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Eunhyuk!

Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Kyuhyun terdiam penuh antisipasi, dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Eunhyuk?

"Masuk."

Pintu itu terbuka pelan, dan Eunhyuk muncul disana. Hati Kyuhyun langsung bagaikan dihantam oleh palu ketika melihat keadaan Eunhyuk.

Gadis itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh. Dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman-ciuman kasarnya kemarin.

Kenapa kau pucat sekali sayang?

Kyuhyun berdehem, menahan perasaannya.

Detik itu juga Kyuhyun memutuskan dia akan memaafkan Eunhyuk. Dia tidak bisa menyalahkan Eunhyuk karena merayu Leeteuk, tidak ada yang bisa melarangnya kan? Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Eunhyuk tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain, disitu hanya tertulis bahwa Kyuhyun berhak memiliki Eunhyuk sesuka hatinya.

Oleh karena itu dia akan segera memastikan adanya klausul tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Eunhyuk tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Eunhyuk adalah hak eksklusifnya, miliknya.

Untuk sekarang, Kyuhyun yakin Eunhyuk akan memohon maaf padanya, dan itu bukan masalah, Kyuhyun siap memaafkan Eunhyuk atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Eunhyuk lagi. Dia belum mau melepaskan Eunhyuk.

"Duduk." perintahnya, berusaha sedatar mungkin.

Dengan patuh Eunhyuk duduk, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya meremas tangannya dengan gelisah.

"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"

Dimana kau tidur semalam? apakah kau baik-baik saja ? apakah aku menyakitimu? pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Kyuhyun, tetapi lelaki itu menahannya.

Eunhyuk mendongakkan kepalanya, matanya tampak penuh tekad ketika menatap Kyuhyun. Takut, tapi penuh tekad.

"Aku...ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita."

Kyuhyun tertegun.

Rasanya seperti seluruh aliran darahnya dihentikan seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Kyuhyun begitu terkejut hingga membatu seperti patung.

Tetapi ketika keterkejutannya usai. Kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar pelan-pelan, makin lama makin berbahaya.

"Apa?" desis Kyuhyun di antara giginya, tangannya terkepal.

Dengan sedikit gemetar, Eunhyuk meletakkan sebuah kertas di meja Kyuhyun.

"Ini cek sebesar tiga ratus empat puluh juta won, untuk melunasi hutangku sebesar tiga ratus juta won, dan hutang ke perusahaan sebesar empat puluh juta won, dan ini..." Eunhyuk meletakkan sebuah amplop di meja, "surat pengunduran diriku dari perusahaan ini."

Hening cukup lama. Kyuhyun hanya duduk di situ, mengamati Eunhyuk dengan mata yang menyala-nyala.

Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Eunhyuk sambil tersenyum dingin.

"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam selama kau melayaniku itu kau anggap service gratis untukku?"

Wajah Eunhyuk pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.

"Aku...Aku hanya ingin melepaskan diri dari perjanjian itu..."

Kyuhyun mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya, alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.

"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam, apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"

Eunhyuk membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang di ambil Kyuhyun.

"Jangan menuduhku serendah itu! Aku...aku bukan wanita penghibur seperti yang kau kira!"

"Kau pernah dengan sukarela menjadi wanita simpananku demi uang tiga ratus juta won! Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia menjual diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku hah?!" Kyuhyun menggebrak meja dengan begitu kerasnya, hingga Eunhyuk terlonjak kaget dari tempat duduknya.

Lalu tanpa di duganya. Kyuhyun mengambil surat pengunduran dirinya di meja. Dan merobek-robeknya bersama dengan cek yang diberikannya.

Eunhyuk hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga Kyuhyun itu. Sementara lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan mengancam sambil merobek-robek surat dan cek itu menjadi serpihan-serpihan kecil.

Ketika Kyuhyun mulai mendekati Eunhyuk, Eunhyuk langsung berdiri menjauh, waspada.

"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Eunhyuk gugup, takut akan suasana hati Kyuhyun yang begitu muram.

Kyuhyun makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Eunhyuk mundur lagi menjauhinya.

"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah Eunhyuk-ah, kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu..."

Tiba-tiba Kyuhyun bergerak cepat meraih Eunhyuk sebelum dia bisa menghindar. Eunhyuk mencoba meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Kyuhyun, jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.

"Katakan padaku Eunhyuk-ah...Pria yang membayari hutangmu itu...Apakah dia sudah menidurimu?" mata Kyuhyun menggelap penuh kemurkaan, "apakah dia sudah menyentuhmu?" napas Kyuhyun mulai memburu, "apakah ciumannya sebaik ciumanku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu oleh kepolosan palsumu yang..."

"Lepaskan aku!" entah darimana Eunhyuk seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Kyuhyun dan melangkah menjauh. "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"

"Melecehkan katamu? Kau bilang itu pelecehan? Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?"

PLAK!

Tangan Eunhyuk tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Kyuhyun sekeras mungkin, kata-kata Kyuhyun yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya.

Kyuhyun berdiri disana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.

"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap disini?" gumamnya sinis.

Dengan bergegas Eunhyuk melangkah ke pintu, sedikit lega karena Kyuhyun tidak mengikutinya.

"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru, berikut surat pengunduran diriku...Bagiku semua sudah lunas di antara kita" gumamnya lirih.

"Bagiku belum," desis Kyuhyun tenang, "kau boleh kabur kemanapun Eunhyuk-ah, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi aku tidak akan main-main lagi, aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun, aku akan merobek-robeknya lagi."

Tangan Eunhyuk yang memegang gagang pintu gemetaran.

"Kenapa kau begitu kejam padaku...?" Rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.

Sejenak Kyuhyun terpaku. Eunhyuk tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Kyuhyun ingin memeluk Eunhyuk dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting, teriaknya pada diri sendiri, jangan tertipu, gadis ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya bukan?

"A...Aku tetap akan pergi..." Eunhyuk bergumam ketika Kyuhyun hanya berdiam diri, "kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga."

Dengan cepat Eunhyuk membuka handel pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Kyuhyun, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Eunhyuk dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik baik, dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Eunhyuk

melangkah keluar dari ruangan itu.

Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung sekretaris Kyuhyun.

Di lobby, suster Heechul yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Eunhyuk muncul di lift.

"Bagaimana...?"

Pertanyaannya tak terjawab karena Eunhyuk langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Heechul mengantar mereka ke sini tadi.

Di mobil air mata Eunhyuk tak terbendung lagi dan suster Heechul langsung memeluknya untuk menenangkannya.

"Ssshhh...Semuanya tak berjalan baik ya?"

"Dia...Dia tidak mau menerima uang itu..." Eunhyuk tersedak oleh tangisan yang dalam. "Dia...Dia menuduhku menjual diriku kepada lelaki lain demi mendapatkan uang itu..." tangis Eunhyuk meledak lagi dengan kuatnya.

Dan suster Heechul langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Eunhyuk.

"Apakah...kau mencintainya, Eunhyuk-ah?" tanya suster Heechul hati-hati.

Eunhyuk langsung tersentak, menatap Suster Heechul dengan pandangan nanar.

"Apa...? Itu...Itu tidak mungkin..."

"Eunhyuk-ah, mungkin kau tidak menyadarinya, tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian..." suster Heechul menatap Eunhyuk lembut. "Dan kau...Tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Kyuhyun, sayang."

Eunhyuk hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Kyuhyun telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Eunhyuk tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan tidak bisa. Ada Donghae di sisinya bukan?

Suster Kim mendesah melihat kediaman Eunhyuk.

"Yah, setidaknya, suatu saat ketika Kyuhyun menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan kuharap kau ada di sana ketika dia memohon maaf padamu."

Suster Kim benar, Kyuhyun memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Eunhyuk.

"Aku menerima kalian di sini hanya demi Jinhee," gumam Kyuhyun dingin, suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.

Ketika sekretarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Jinhee dan Leeteuk ada di ruangan depan, ingin bertemu dengannya, Kyuhyun hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekretarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu. Tetapi Jinhee memaksa, dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.

"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting." Gumam Jinhee penuh tekad, tidak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Kyuhyun kepada Leeteuk yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.

"Kyu," Jinhee mencoba menarik perhatian Kyuhyun yang terus menerus mempelototi Leeteuk. "Ada suatu fakta penting tentang Eunhyuk yang harus kau ketahui."

Kyuhyun langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya?

Dia diam dan menunggu, bersiap-siap untuk meledak lagi, kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.

"Kyu..." Jinhee mengernyit cemas ketika melihat Kyuhyun tampak kesakitan, "Kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa! Cepat selesaikan yang ingin kau katakan, dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Kyuhyun bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Leeteuk.

Jinhee menarik napas panjang.

"Kau...Kita...Mengambil kesimpulan yang salah tentang Eunhyuk." dengan cepat Jinhee membentangkan artikel itu di meja Kyuhyun, "Baca ini."

Kyuhyun melirik artikel itu, semula tidak tertarik, tetapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Eunhyuk, lebih muda beberapa tahun, tapi dia tak mungkin salah.

"Apa yang...Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya, tetapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian, mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di artikel itu tak terbantahkan lagi.

"Benar KyuHyun-ah, keluarga Eunhyuk, kedua orangtuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan Junho", mata Jinhee berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.

"Oh Tuhan!" Kyuhyun berpegangan pada meja untuk menopang tubuhnya, Ini sebabnya, Eunhyuk selama ini sebatang kara dan sendirian?

"Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, saya hidup sendirian" itu jawaban Eunhyuk waktu gadis itu terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.

Lalu uang tiga ratus juta won dan hutang puluhan jutanya di perusahaan itu... Sekali lagi Kyuhyun mengernyit.

"Tunangannya, Donghae, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Eunhyuk berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai biaya perawatan Donghae, dan hutangnya kepadamu tiga ratus juta won mungkin karena gadis itu putus asa," Jinhee memandang Kyuhyun, dan tiba-tiba merasa kasihan, Kyuhyun tampak hancur berkeping-keping. "Aku menelepon rumah sakit tempat Donghae dirawat, Donghae saat itu harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus...biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta won...Mungkin itu alasan Eunhyuk menjual dirinya padamu, gadis itu putus asa."

Kyuhyun memejamkan matanya, mengingat hari berhujan dimana Eunhyuk membuat penawaran gila itu padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Eunhyuk memang terlihat putus asa, panik dan putus asa.

"Leeteuk bercerita bahwa Eunhyuk hilang seharian di hari minggu dan kalian mencarinya kemana-mana," Jinhee mengedikkan bahunya pada Leeteuk yang hanya diam dan menundukkan kepalanya. "Itu hari di mana operasi Donghae dilaksanakan."

Sebuah hantaman lagi yang menerjang Kyuhyun. Dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia sudah berpegang teguh pada suatu keyakinan bergitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.

Eunhyuk gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya dikorbankannya. Kyuhyun langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Eunhyuk pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.

"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka Kyu," Jinhee menoleh secara terang-terangan kepada Leeteuk. "Biarkan Leeteuk yang menjelaskan sisanya kepadamu."

Kyuhyun menoleh kepada Leeteuk dengan muram, masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara, kalau begitu kenapa Eunhyuk ada di pelukan Leeteuk dan Leeteuk bilang Eunhyuk rela menjual diri padanya?

"Waktu itu semua sudah kurencanakan, Kyu," gumam Leeteuk pelan seolah bisa membaca pikiran Kyuhyun, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku... Waktu aku mendampingimu mencari Eunhyuk yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu, itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya, aku berpikir Eunhyuk telah menimbulkan pengaruh buruk padamu...Jadi aku mengambil keputusan...aku merekayasa semuanya...Ciuman itu adalah paksaan dariku...Eunhyuk sama sekali tidak sukarela, dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu..."

Kyuhyun langsung merangsek maju dengan marah, tanpa diduga. Langsung meraih kerah kemeja Leeteuk. Tak peduli tubuh Leeteuk yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.

"Brengsek kau Leeteuk hyung! Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Kyuhyun menggeram di antara ke dua giginya. "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagai wanita penghibur rendahan?! Aku memperkosanya!"

"KyuHyun-ah, tenanglah dulu", gumam Jinhee hati-hati, berusaha membuat Kyuhyun melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Leeteuk. "Kau menyakiti Leeteuk oppa, tidakkah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia Kyu", bujuknya lembut.

Kyuhyun bergeming, sejenak seolah-olah akan menghajar Leeteuk, tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.

"Harusnya kubunuh saja kau sekalian!", desisnya geram sambil mengacak rambutnya.

Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya.

"Kenapa harus Eunhyuk yang menanggung seluruh biaya perawatan Donghae? Kenapa bukan keluarga Donghae?"

"Donghae tidak punya keluarga." Leeteuk yang menyahut setelah berhasil meredakan napasnya yang terengah karena perlakuan kasar Kyuhyun tadi. "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya", suaranya tertelan melihat tatapan bermusuhan Kyuhyun, tapi dia bertekad melanjutkan. " Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya, tetapi Donghae cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya, aku... Eh... Melakukan penyelidikan singkat tadi dan mendapati bahwa Donghae dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara...karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur, dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan Donghae sudah meninggal, tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Donghae masih hidup dan ada dalam kondidi koma", Leeteuk menatap Kyuhyun sungguh-sungguh. "Aku menyesal dan aku meminta maaf KyuHyun-ah. Aku memang bodoh dan gegabah, aku juga menyesal setengah mati"

Kyuhyun tercenung. Lama tidak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.

"Kyuhyun, mungkin lebih baik kita harus melepaskan Eunhyuk, sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Jinhee pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu-ragu dan berhati-hati dengan reaksi Kyuhyun, "mengenai hutang-hutang Eunhyuk baik kepadamu dan kepada perusahaan, aku bersedia menggantinya."

"Tidak."

"Tidak?" Jinhee mengernyit mendengar gumaman pelan Kyuhyun itu.

"Tidak akan kulepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Eunhyuk tidak akan kulepaskan."

"Kyu!", Jinhee mengernyit jengkel. "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan yang ditanggung Eunhyuk selama ini! tidak bisakah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Eunhyuk dalam beberapa menit!"

Kyuhyun mengusap wajahnya, tampak begitu menderita.

"Tidak, aku tidak bisa Jinhee-ya." erangnya parau.

Mata Jinhee melebar melihat ekspresi Kyuhyun, tidak pernah sebelumnya Jinhee melihat Kyuhyun begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Kyuhyun benar-benar mencintai Eunhyuk?

"Dia punya tunangan KyuHyun-ah, jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Donghae."

Kebenaran itu menyakiti hati Kyuhyun, sengatan cemburu itu kembali melukainya.

"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku," mata Kyuhyun penuh tekad.

"Dimana alamat rumah sakitnya?"

TBC