"Jikkukan Kekkai!"
Bola hitam itu terserap kedalam sebuah kanji-kanji yang terbentuk dari lukisan tinta, sesaat kemudian sunyi senyap sebelum kanji-kanji tersebut terletak diatas Shukaku memuntahkan bola hitam yang tadi sempat dikeluarkan.
DUAR!
Naruto tersenyum sumringah, akhirnya hanya tersenyum tipis membiarkan saat melihat Shukaku yang hanya kehilangan tangan kirinya. Melihat satu tangannya yang bergerak memukul perutnya sendiri, Naruto pun melebarkan matanya saat sebuah gelombang angin sangat besar menerjang kearahnya.
Brak! Brak! Brak!
Puluhan meter pohon yang berada di belakang Naruto hancur menyisakan potongan-potongan kayu yang berserakan. Puluhan burung berterbangan saat sangkar mereka di rusak, suara geraman binatang buas terdengar cukup memekik telinga.
"Grr sialan kau bocah"
Benar-benar, makhluk immortal yang luar biasa hebat. Menyaksikan sendiri saat lengan kanan itu kembali utuh sedia kala dengan bola mata melebar. Terlebih lagi semuanya terasa ganjil, sesak saat alunan udara disekitarnya seperti menghilang.
'Tahan nafasmu, ini salah satu dari keistimewaan Fuuton Hijutsu'
Naruto mengangguk, dengan susah payah menghirup udara seadanya lalu menahannya untuk beberapa menit kedepan. Ia berlari ke arah Shukaku yang terus mengeluarkan gelombang angin dari mulutnya, tentunya Naruto juga susah payah untuk mengatur gerak lajunya tanpa bernafas karena lari juga membutuhkan pasokan oksigen agar tidak lelah.
Tiba-tiba mulut Shukaku terbuka dan terbentuk pusaran vorteks disana menyerap udara yang tersisa, kini daerah ini tak ada udara sama sekali. Naruto dengan tergopoh-gopoh pun merentangkan tangannya kedepan, ia mengalirkan chakra yang ia punya seluruhnya dan juga sebagai serangan terakhir sebelum pingsan kehabisan nafas.
"SHINRA TENSEI!"
BRUAKH!
Shukaku terhempas puluhan meter ketika dorongan gravitasi menghantam perutnya dengan sangat-sangat keras, matanya yang melotot menandakan kalau ia sedang terkejut. Dan pada saat itu juga, dari mulutnya keluar sebuah gulungan sangat besar berwarna putih dengan corak satu magatama dan kanji Fuuton.
Hap!
Naruto menangkap gulungan itu dengan cepat, tubuhnya tersungkur ke atas permukaan tanah dengan keras hingga harus membatnya memuntahkan darah segar. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat selama lima menit untuk mengisi pasokan udara dalam tubuhnya.
"Hosh.. hosh.. hosh.. ternyata nggak percuma ya" Naruto menatap kearah Shukaku yang menggeram marah dan berjalan kearahnya dengan ekor melambai-lambai.
"Shukaku no Hoko"
Sebuah tombak trisula tercipta dari bawah Shukaku, setelah itu sebuah tombak yang memiliki kekuatan sangat hebat itu telah di terbangkan oleh Shukaku dengan perintah batin menerjang kearah Naruto yang hanya mampu melebarkan matanya, ia menjulurkan tangannya untuk menggapai Shakujo yang berada tak jauh dari tempatnya.
Setelah Shakujo telah tergenggam erat, kini ia melemparkannya dengan sekuat tenaga kearah trisula tersebut. Detik demi detik berlalu saat kedua senjata tersebut saling menerjang satu sama lain, partikel-partikel yang ditembusnya itu terpecah ketika keduanya memancarkan aura yang kuat.
Bresshh!
Shukaku melebarkan matanya saat Trisula Agung miliknya dapat dihancurkan dengan mudah, namun serangan itu tak sampai situ saja. Dengan ekspresi terkejut yang berlebih menatap kearah Shakujo yang terbang kearahnya, Shukaku tak mampu untuk mengelak dari serangan itu.
Jleb!
Shukaku menatap kearah Naruto dengan kosong saat Shakujo menancap di dahinya, tepat dibawah Gaara yang sedang tertidur pulas. Retakan demi retakan terbentuk di tubuh Shukaku yang menyebar ke seluruh tubuhnya hingga berakhir menjadi tumpukan pasir.
Naruto yang tak punya banyak waktu untuk berbicara dengan Gaara pun melemparkan sebuah gulungan kecil kedekat Gaara lalu melesat kearah Konoha dengan cepat, namun ia tetap memaksakan dirinya untuk tetap pergi padahal chakra miliknya telah terkuras.
Sebelum ia pergi ke Konoha, Naruto menghentikan lompatannya tepat didekat tempat Haku dan Kushina yang menyembuhkan teman-temannya.
Saat ia menatap lurus kedepan, suatu kejadian tak terduga pun terjadi.
"Haku...Kushina..apa yang..kalian lakukan.."
Bruk!
Dan tubuh Naruto terjatuh kehabisan chakra, kain hitam yang menutup matanya pun terlepas menampakkan pelupuk mata yang berair bercampur dengan darah segar dari kelopak matanya. Kalau ia boleh mengaku, sungguh perasaan apa yang telah menyerang hatinya saat melihat mereka sedang...
Hah, sulit tuk diucapkan oleh kata-kata karena itu memang terlalu sakit tuk diungkapkan.
Dan saat itu juga, Naruto jatuh pingsan.
.
Desclaimer © Masashi Kishimoto ( ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)
.
.
.
Uzumaki Rinnegan © Draco Steelsel
.
.
Warning : Smart!Naru, Gaje, Abal, Suram, Typo, Ooc, Strong!Naru, Naruto POV, etc
.
.
Genre : Adventure, Romance, etc
.
.
Rating : M
.
Peringatan Keras!
-Jika tidak suka tidak usah dibaca, OK!
.
Dahulu kala ada seorang petapa..
Yang menyegel pemimpin dari para Youkai..
Memiliki kekuatan mata atau Doujutsu..
Yang dikenal dengan..
RINNEGAN
.
Draco, in!
.
[Tenseigan Chakura Modo]
Chapter 10
.
Gudoudama.
Adalah sejenis chakra spesial yang hanya dimiliki oleh beberapa Shinobi saja yang menjadi Jinchuriki Juubi atau memiliki kekuatan Rikudou. Tergolong dalam kekkei Moura, yaitu gabungan dari ke-5 elemen dasar Api + Air + Petir + Tanah + Angin dan juga Elemen Yin-Yang. Gudoudama mampu digunakan sebagai senjata bertahan ataupun menyerang oleh penggunanya.
Memiliki beberapa dampak yang begitu variatif, ada yang mampu meledak dan juga ada yang bisa melenyapkan sesuatu, selain itu bentuknya juga bisa diubah sesuai yang diinginkan penggunanya, seperti tongkat, bola, perisai, atau cairan.
Gudoudama tidak akan mempan jika diserang dengan Ninjutsu apapun, tetapi ia tahu kalau setiap kekuatan pasti ada kelemahan. Toneri-Niisan pernah berkata kepadanya kalau kelemahan Gudoudama adalah Senjutsu / Sennin Mode (Chakra Alam). Setiap ninjutsu yang disisipi oleh Chakra Senjutsu dari penggunanya, maka Ninjutsu itu akan melemahkan dan berdampak pada Gudoudama. Sedangkan Gudoudama sendiri juga terdapat chakra alam, itulah sebabnya hanya Senjutsu saja yang mampu mengimbanginya.
'Jadi hanya perlu berwaspada pada pengguna Senjutsu'
Tik.
Tik.
Tik.
'Hujan?' pikirnya menatap ke langit yang memang sudah mendung, entah kenapa ia merasakan suatu hal yang tidak enak. Dengan cepat ia mengalirkan chakra ke telapak kakinya dan melompati puluhan pohon dalam sepuluh detik.
Tiba-tiba ia terpeleset karena tidak konsentrasi dan membuatnya terjatuh bergulingan diatas tanah yang sudah menjadi lumpur. Tidak peduli tubuhnya basah kuyup, tidak peduli jarak yang jauh. Dingin membungkus tubuh hingga kaki. Terpeleset, dua, tiga kali, tidak peduli. Guntur menggelegar, ia ingat. Ia ingat kalau pertarungan Hokage-Jiji melawan Orochimaru sudah berjalan dalam rentan waktu yang lama.
Ia harus segera. Waktunya terbatas.
Matanya menatap kosong lurus kedepan, bibirnya bergetar menahan sesuatu yang tak pernah ia keluarkan selama ini, tangannya mengepal erat dengan buku jari telah memutih. Getaran di sekujur tubuhnya diselimuti oleh rintik hujan yang semakin deras, menjadi saksi bisu kematian salah satu Tekad Api Konoha.
Hujan yang menyirami Konoha seakan awan tengah menangis karena telah kehilangan dirinya, sosok yang amat bijaksana dan berkepribadian luhur. Tapi, kenapa dunia ini tak pernah adil dalam memilih mangsanya. Ketika ia harus kehilangan orang yang sangat ia sayangi.
Ia tidak tahu kenapa, apakah memang dunia ini tak pernah bisa damai? Penuh kelicikan dan kekejaman, itukah dunia Ninja?
Darah mengalir dari ujung jarinya, bersatu dengan derasnya air hujan hingga atap yang ia hujam dengan kedua kakinya telah berubah menjadi merah muda.
Pertempuran yang hanya mengakibatkan sebuah penderitaan. Rasa balas dendam yang memuncak hingga membuat jati diri seseorang berubah.
Akan tetapi, berbagai alasan tak pernah ia butuhkan. Ia yang sudah sering mengalami penderitaan pun menyerah dengan ini semua. Sebuah kebaikan yang hanya dibalas oleh kejahatan, sebuah kebahagiaan yang terus menerus menjadi sebuah penderitaan.
Dan memang hidup tetaplah perputaran.
Tak selalu seiring harapan...
Tangan yang sudah dibalut oleh cairan merah itu melunak saat Shakujo telah berada di genggamannya, tak membutuhkan lagi apa itu penutup mata. Karena tak ada yang harus ia tutup-tutupi saat ini juga, desa yang bedebah ini akan segera musnah dalam genggaman tangannya.
Dan mata biru itu berubah menjadi Tenseigan, rahangnya mengeras dan Shakujo telah ia genggam erat kembali. Menatap dengan tatapan membunuh pada sosok Orochimaru yang tengah tertawa melihat kematian Jiji, pengkhianatan seorang murid terhadap gurunya.
Diseberang sana terlihat Minato dengan kondisi terengah-engah mencoba untuk memberikan serangan, namun tubuhnya tak mampu berbuat banyak karena setelah pertarungan tadi, ia pun kehilangan banyak chakra. Kunai jikkukan sudah tergenggam di tangan kanannya dan bersiap melakukan teleportasi ketika dilemparkan.
Tawa Orochimaru yang menggelegar, Minato yang terengah-engah dan Naruto yang sedang dalam kondisi marah.
Tiba-tiba jubah jirah itu berubah menjadi warna hijau yang sangat terang disertai fisiknya berubah seperti roh yakni bagian kepala yang menguar-nguar seperti chakra. Sembilan gudoudama mengelilingi punggungnya.
Inilah akhirnya...
Tenseigan Chakura Mödö..
Tawa Orochimaru mereda kala itu, ia menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Naruto disana. Iris vertikal itu melebar manakala Naruto menciptakan bola-bola hitam yang sangat banyak lalu menyisipkan aura berwarna hijau yang tidak ia tahu apa itu namun ia menyadari ketika energi alam memasuki Naruto.
"Tenseigan : Scattering Chakra Rosary"
Dan detik berikutnya, Orochimaru meliuk-liukkan badannya untuk menghindari puluhan bola hitam tersebut. Ia yang merasa tak mungkin bisa menang dalam kondisi tanpa tangan pun mendecih. Pada detik berikutnya, Orochimaru melototkan matanya saat satu dari puluhan bola hitam itu adalah yang tercepat dan menghantam perutnya. Satu hal yang dapat ia rasakan adalah...
Duar!
Kawah yang terbentuk diatas atap terlihat sangat besar sehingga membuat ANBU disana langsung bersiaga dengan membawa tubuh Minato untuk menjauhi atap yang sudah runtuh. Debuman puing-puing yang berjatuhan menusuk gendang telinga, debu mengepul sehingga menyulitkan pandangan.
Genin, Chunnin, Jounin dan ANBU menatap dengan pedih kearah Naruto yang sedang marah, melihat bagaimana ekspresi Naruto seperti mesin pembunuh yang tidak mempedulikan orang lain. Lalu mereka mengalihkan tatapannya pada objek yang menjadi bulan-bulanan dari sang veteran.
Duagh Brak Brugh BOOM!
Tiga Gudoudama melancarkan aksinya dengan menyerang beberapa perut, punggung dan kepala Orochimaru secara berurutan sehingga membuat salah satu dari legenda Sannin itu memuntahkan darah segar. Tentu saja diperlakukan seperti itu membuatnya marah.
"Kinrin Tensei Baku"
Bukan, bukan Orochimaru yang mengucapkan jurus itu melainkan Naruto yang sedang memusatkan Chakra berwarna hijau tersebut ke telapak tangannya. Ketika Naruto menjulurkannya kedepan, sebuah laser panjang seperti pedang itu menerjang kearah Orochimaru yang tak berkutik.
Duar!
Bagaikan di terjang tornado, terbelah seperti teriris pisau, hancur dalam serpihan-serpihan cahaya.
Segala pasang mata hanya mampu tercengang dengan mulut terbuka, bagian barat Konoha hancur berkeping-keping menyisakan sebuah kawah lurus hingga ratusan kilometer. Dinding desa yang dibuat oleh Hashirama Senju itu berlubang cukup besar, tak menyisakan apapun kecuali puing-puing yang berjatuhan.
"Dimana Orochimaru?" tanya salah satu shinobi kepada temannya.
Sedangkan yang di tanya hanya mengangkat bahunya.
.
.
Naruto memandang lurus ke arah kawah hasil buatannya, dengan menunggu sebentar. Terlihatlah seekor ular berwarna ungu kehitaman tergeletak tak berdaya di sana, tubuh berlubang cukup besar hingga menembus radius ratusan kilometer. Jantungnya berdetak kencang ketika sebuah tendangan keras bersarang di perutnya, namun itu tidak membuatnya terpental bahkan bergerak sedikit pun. Tapi jika bisa menilik lebih jelas, serangan itu menghancurkan satu Gudoudama yang berada di punggung Naruto.
"Jadi begitu yah, kelemahan jurusmu adalah Senjutsu"
Matanya melebar sedikit, satu detik kemudian ia menatap kearah Orochimaru yang masih memasang pose menendang dirinya. Tidak pernah dalam hidupnya Naruto merasa terkejut ketika melihat seseorang mengetahui kelemahannya. Jujur saja, tekhnik Tenseigan Chakura Modo miliknya sudah di modifikasi sehingga kelemahan terdapat pada Gudoudama yang berada di punggungnya.
Jika kesembilan Gudoudama itu hancur, maka Tenseigan Chakura Modo akan menghilang secara paksa. Dan efek paksa itu membuatnya akan kehilangan banyak chakra bahkan mampu merusak aliran chakranya. Maka dari itu, ia akan memperdalam jurusnya tentang Gudoudama agar kejadian seperti itu takkan pernah terjadi.
Dengan gerak cepat, ia mencengkeram pergelangan kaki Orochimaru dan menariknya hingga tubuh ular itu tertarik. Dalam satu kedipan mata, yang dapat semua mata lihat adalah tubuh Orochimaru terhempas hingga menabrak rumah-rumah warga. Tak sampai situ, Naruto melompat sangat jauh sambil menggenggam Shakujo di tangan kanannya. Naruto melompat tepat dimana Orochimaru berhenti terpelanting, berniat untuk melemparkan Shakujo namun Naruto hanya mampu mengeluarkan sumpahan ketika melihat seorang genin dengan kacamata bundar di bawahnya sedang merangkul pundak Orochimaru. Naruto kemudian melayang di atas mereka berdua sambil menciptakan kembali sebuah bola hitam sebelum mensisipinya dengan chakra tenseigan.
"Sudah kuduga, gerak-gerikmu mencurigakan. Kabuto"
Namun jawaban yang Naruto terima hanyalah senyuman lebar, bahkan terkesan mengejek. Akhirnya Naruto memutuskan untuk menyerang mereka kembali.
"Hmm, aku juga sudah menduga kalau dari rokkie 11 hanya kau yang paling berbeda" terang Kabuto sambil menggigit jarinya hingga berdarah. Lalu menghentakkannya ke atas permukaan tanah. "Sampai jumpa!"
"Sial-"
Poft!
Perpaduan antara gigi putih itu bergemeltuk cukup keras, mata Tenseigan itu pun meredup tergantikan oleh iris safhire yang menenangkan. Chakra berwarna hijau itu menghilang dalam sekejap mata, memaksakan diri untuk menggunakan jurus yang mampu membelah bulan sekalipun.
Terjatuh. Mungkin ia hanya mampu berbaring di atas udara, menatap dengan sendu kearah langit yang terus menangis setelah kehilangan Sandaime. Ia tak perlu melakukan apapun lagi, menunggu tubuhnya terjatuh dan tulangnya remuk lalu patah tulang kemudian tewas.
Baru beberapa saat ia berpikiran seperti itu, sepasang tangan melingkar di punggungnya dan membawanya untuk menapakkan kaki di atas tanah. Menggunakan sisa tenaga yang ia punya, Naruto menengokkan kepalanya ke samping, hal terakhir yang Naruto lihat adalah wajah yang sangat ia kenali disana.
"Toneri-Niisan"
Mengeluarkan satu bola cahaya berwarna putih terang, Toneri segera menggunakannya untuk menghilang bersama dengan Naruto.
Membuka matanya, Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing yang mendera tubuhnya. Naruto kembali memfokuskan pandangannya ke arah sekeliling saat dilihatnya Toneri sedang berdiri membelakanginya.
"Nii-san?"
Beberapa menit berlalu, tetapi Toneri tidak menjawab panggilan itu, membuat Naruto mengerutkan dahi bingung. Ada apa dengan kakaknya? Apakah marah?
"Sudah kukatakan, jangan menggunakan Tenseigan Chakura Modo. Kau belum bisa menggunakannya secara penuh, apalagi menggunakan jurus yang dapat memotong bulan. Kau benar-benar adik yang bodoh"
"Maaf" Naruto menundukkan kepalanya dalam-dalam, melihat sekelilingnya dengan sedikit heran sebelum pada akhirnya ia membulatkan matanya. "I-ini di Mansion Ootsutsuki?"
Toneri melirikkan matanya kebelakang dengan penuh rasa kesal. "Jangan mengalihkan pembicaraan! Apakah kau tidak tahu jika penggunaan jurus itu mampu membuatmu tewas? Apalagi yang kau lawan musuh yang cerdas, dan sekarang ia telah mengetahui kemampuanmu"
Memandang Toneri dengan tertunduk, Naruto mengepalkan tangannya dengan erat dan menahan rasa penyesalan yang menguar dalam tubuhnya.
"Kuakui kalau kekuatanmu sangatlah hebat... Tak ada musuh yang bisa hidup di hadapanmu, tapi kau takkan pernah bisa menang melawan seorang Dansetsu no Sannin"
Naruto dan Toneri hanya saling lirik, kemudian Naruto merasa bersalah-
Matanya berubah menjadi sayu ketika melihat batu nisan yang terpoles indah oleh ukiran halus. Sembari mengenang apa yang telah diajarkan oleh Shinobi yang Naruto hormati lebih dari siapapun itu, sang shinobi itu hanya mengamati makam tersebut dengan sendu.
Mungkin di mata orang lain, mereka tak tahu betapa berharganya Sandaime baginya. Lebih dari seorang pemimpin, bahkan ia menganggapnya sebagai kakek sendiri. Tapi semua itu hanyalah sebuah kenangan, yang akan pudar seiring berjalannya waktu.
Naruto tahu kalau ia harus melupakan semua yang telah terjadi, buat apa menyesali semuanya karena baginya itu hanya akan membuat dirinya tenggelam dalam kesedihan.
Petunjuk pertama yang membantu Naruto untuk membuat kesimpulan tentang invasi ini adalah Orochimaru yang ingin menghancurkan Konoha sekaligus Sandaime-jiji. Awalnya ia juga merasa kalau ada yang ganjil dengan aura milik Kazekage pada saat itu.
Tapi apa mau dikata, menghajarnya saja tak cukup untuk membalas kematian Hiruzen meski ia sudah memberikan luka yang cukup parah pada Orochimaru. Akan tetapi, untuk alasan yang Naruto sendiri tidak ketahui, Orochimaru mengatakan beberapa hal yang Naruto ketahui sebuah kata yang terputus-putus.
Naruto menghela napas panjang sambil berjalan menghampiri gulungan besar yang terdapat di depannya, kemudian matanya turut mengamati simbol-simbol yang menghiasi gulungan tersebut.
"Kita pergi, Enma" ucapnya pada gulungan besar tersebut sebelum ia menghilang dari balik hembusan angin.
Naruto melirik kearah bola cahaya yang melayang dibelakangnya dengan putus asa, kemudian menangkupnya dengan sebelah tangan sebelum ia menjulurkan tangannya kedepan.
"Tenseigan : Scattering Chakra Rosary"
Pada detik itu juga, bola cahaya tersebut melesat maju kedepan dan berubah menjadi puluhan bola cahaya yang meledak ketika menghantam pepohonan. Tak sampai situ, Naruto pun melesat kearah pepohonan yang tersisa dan melakukan pukulan bertubi-tubi khas Taijutsu Klan Ootsutsuki yang ia ketahui dari Toneri.
Menghantam, meninju, memiringkan, memukul dan berguling. Aspek-aspek itu yang Naruto gunakan dalam pertarungan Taijutsu, meski semua yang ia lakukan tak pernah berharga. Ia sadar kalau kekuatannya sangatlah hebat, tapi buat apa memiliki kekuatan hebat kalau tak bisa menyelamatkan orang yang berharga baginya..
Sial! Sial!
Ia melengos, berusaha menahan air mata yang hampir merebal dibalik pelupuk. Ia tak tahan dengan semua ini, wajahnya tidak menunjukkan sedikitpun apa yang selama ini ia perlihatkan. Ia bukanlah orang hebat, ia bukanlah seorang shinobi sejati!
Ia membenturkan kepalanya berkali-kali pada pepohonan didepannya, hingga cairan kental itu turun melewati pipinya sebelum akhirnya jatuh ke permukaan tanah melalui dagu.
Sekuat apapun ia menahan rasa ini, tetapi semuanya tetap saja. Ia tidak pernah bisa melupakan wajah seorang kakek yang dulu menemukannya, menyayanginya seperti keluarganya sendiri.
Saat Naruto melepaskan kepalanya dari pepohonan tersebut, alih-alih terlihat tenang ataupun rileks. Tetapi tiba-tiba ekspresinya datar, safirnya menatap kedepan tanpa emosi.
"Apa yang sedang kau lakukan"
"Bukan urusanmu"
"Oh.. apakah ini ada masalahnya dengan kematian Sandaime, gaki"
Pandangan Naruto seakan menjauh ketika sebuah sensasi yang tadi sempat hilang kembali muncul. Namun ia tetap diam membiarkan orang dibelakangnya berucap.
"Aku tahu apa yang kau rasakan gak-"
"KAU TAK TAHU APA YANG KURASAKAN!"
Sosok itu pun berjengit sekilas sebelum ia mengukir sebuah senyuman sedih. Ia tahu kalau perasaan bocah didepannya itu nyata dan akan tetap sama. Meski dia hanya seorang pengganti di mata Naruto.
Karena..
Waktu yang telah mereka lalui, membuat Hiruzen sangat berarti dimata Naruto. Karena rasa itulah, Naruto takut untuk melepaskan, terlalu takut untuk melepaskan dan kembali kehilangan.
"Gaki… dengarkan ucapanku" sosok itu bergumam lemah. "…aku tahu apa yang kau rasakan, karena aku sama sepertimu"
Naruto hanya diam karena perasaan ini sangat rumit tuk dijabarkan. Dan biarkanlah kediamannya ini mewakili apa yang ia rasakan, karena hanya dengan ini ia bisa memudarkan kesedihan yang ia alami.
"Hiruzen adalah guruku, dia sama berartinya bagiku. Sama seperti kau. Tetapi ambillah sisi positifnya. Walau raganya telah bersatu dengan tanah, tetapi tekadnya melekat padamu. Kau ingin membuatnya sedih karena kau menangisi kepergiannya?"
Senyap sejenak.
Hanya hembusan angin yang menghujam dedaunan disekitarnya.
"Ikutlah bersamaku, kita akan mengembara"
Hening lagi.
"Sebenarnya aku ingin membawa Menma, tapi karena bocah itu terlalu temperamental. Jadi aku memutuskan untuk mengajakmu, bagaimana?"
"Aku hanya takut. Takut kalau.." Naruto berkata pelan. Tertunduk menatap permukaan tanah, berusaha menyeka matanya.
Jiraiya tersenyum lembut. Menepuk lembut bahu Naruto.
"Kau tak perlu takut akan hal itu, kita akan mengembara setelah menemukan calon kepala rumah sakit Konoha"
Naruto hanya diam. Berusaha mengendalikan dirinya.
"Kau tahu kenapa?" Jiraiya tersenyum getir.
Naruto menoleh. Susah sekali menyembunyikan perasaan hati. Susah. Sejak tadi. Sejak seluruh kenangan itu membuncah, kembali memenuhi memori kepalanya, semua terasa sesak. Matanya berkaca-kaca lagi, sejak tadi dia menangis, malah tanpa sengaja ketahuan oleh Jiraiya. Dia tidak bisa berpura-pura lagi, mengenang semua itu membuatnya benar-benar tersentuh. Biarlah. Biarlah Jiraiya melihatnya menangis, karena Jiraiya juga tahu bagaimana rasanya ketika berada diposisinya.
"Konoha sedang dalam kondisi Kemanan Siaga 4. Setelah Invasi, banyak korban jiwa yang termakan oleh invasi tersebut, ratusan shinobi dalam keadaan luka parah sedangkan Ninja Medis berkurang karena serangan tersebut"
Naruto tiba-tiba saja berdiri, tangannya terkepal erat.
"Kita pergi"
Jiraiya mengukir senyuman tipis. Inilah bocah yang ia kenal dari Hiruzen dulu, penuh akan semangat dan tekad. Meski ia harus mengajari bocah ini dalam mengendalikan emosi.
"Sebelum itu, kita pergi ke rumah sakit Konoha. Menemui Yondaime yang sudah siuman dari pingsan nya"
Naruto tidak menjawab, ia hanya mengeluarkan Shakujo dari ketiadaan. Menepuk pundak sebelah kanannya dan memunculkan satu set pakaian miliknya, yaitu kaos berwarna putih dan jubah berwarna merah maroon dengan aksen api hitam pada bagian bawahnya. Tak lupa sebuah hitai-ate dengan tali berwarna hitam yang ia buat secara khusus.
Setelah memakai semua itu, ia melirik kearah Jiraiya yang hanya diam.
"Kita pergi" Naruto menepuk pundak Jiraiya sekilas sebelum ia mengeluarkan gulungan fuinjutsu dari ketiadaan dan berucap. "Jikkukan!"
…
Draco Steelsel?
…
"Aku berharap penuh kepadamu, Jiraiya-sensei" ucap Minato dengan suara yang lemah. Kemudian mata birunya menatap kearah remaja yang berada disamping sosok gurunya. "Dan untukmu Naruto, mungkin perlakuan kami terhadap desamu bisa dikatakan tidak.. uhuk uhuk.. baik. Tapi ketahuilah kalau kami bukannya tidak membantu Uzushio, tetapi akses militer kami terhambat oleh Kumogakure"
Naruto hanya bisa terdiam ketika Minato berucap lemah kepadanya. Dia hanya mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Kage itu. Walau sudah terlihat tidak memungkinkan untuk berucap sedikit saja.
"Aku percaya kepadamu, jadilah Pemimpin Klan yang hebat"
Naruto melebarkan matanya mendengar hal itu.
"A-apa maksudmu?"
"Shizune, berikan" perintah Minato pada istrinya yang tengah terisak karena dirinya memaksakan untuk berbicara. Kemudian Shizune Senju memberikan buku tebal kepada Naruto. "Itu adalah aturan untuk menjadi Kepala Klan, pelajarilah dan pahami karena kelak kau akan menjadi Kepala Klan Uzumaki"
Melihat wajah Naruto yang terkejut, Minato pun mengukir sebuah senyuman.
"Setelah aku sembuh nanti, aku ingin berbicara empat mata denganmu"
Terlihat Naruto cukup tenang ketika Minato berujar seperti itu, matanya terpejam sesaat sebelum ia menghela napas panjang. Sebuah senyuman tipis ia berikan kepada Minato. "Seperti yang kuharapkan dari seorang Genius"
Sedangkan Jiraiya, ia hanya diam karena belum begitu mengerti tentang permasalahan ini.
"Ah iya, sebelum kalian pergi sebaiknya kau temui Haku dan Kushina dulu, Naruto" tutur Minato singkat. "Kulihat kemampuan mereka mulai berkurang, aku yakin pasti ada masalah antara kalian"
Tiba-tiba tubuh Naruto menegang, sebelum ia berhasil mengendalikan emosinya. Mata birunya meredup sebelum pupilnya berubah menjadi akar yang bercabang-cabang.
'Tenseigan'
Minato yang melihat perubahan mata itu hanya menaikkan satu alisnya, ia berpikir kalau itu merupakan doujutsu tetapi disatu sisi ia tidak pernah melihat doujutsu seperti itu.
"Baiklah, kami pergi" cetus Naruto singkat meninggalkan ruangan ini, namun baru tiga langkah ia ambil sebuah suara menginterupsi pendengarannya.
"Tsunade-sama biasanya berada ditempat yang penuh akan perjudian ataupun sebuah festival besar-besaran. Kalian bisa lebih mudah mencarinya dibagian barat ataupun timur Konoha"
Mendengar penuturan singkat itu, Naruto hanya membalasnya dengan anggukan. Sebelum ia menjentikkan ibu jarinya dan mengeluarkan sebuah kepulan asap kecil sebelum menampakkan sebuah longsword.
"Nui..bari"
Naruto mengangguk lagi. "Aku akan menjelaskannya ketika perjalanan nanti, Ero-sennin"
"Hei! Apa-apaan panggilanmu itu! Dasar tidak sopan!" ucap Jiraiya marah meski disetiap kata-katanya tidak terdengar tersinggung sama sekali.
Naruto tidak menjawab, melainkan menepuk pundak kirinya dan mengeluarkan sebuah gulungan fuinjutsu disana. Menulis beberapa rangkai aksara semesta sebelum ia berucap..
"Jikkukan!"
.
.
.
-Mainwhile-
"KENAPA!? KENAPA KAU MENGANGGAP KAMI SEPERTI ITU!"
Naruto hanya diam, setelah kepergiannya dari ruangan Minato kini ia bersama Jiraiya berada di tempat para ninja medis. Ia awalnya ingin berniat untuk menemui Kushina dan Haku untuk berbicara beberapa hal, yang entah kenapa pembicaraan itu berakhir dengan atmosfir yang memanas.
"Aku tak tahu…" ucapnya pelan bahkan terdengar seperti bisikan. "…kalian pergi bersama Sasuke dan Menma, mungkin mereka lebih baik daripada aku"
"TIDAK!" raung Kushina dengan wajah menahan tangis meski cairan bening itu mulai menuruni pipi mulusnya, ia pun langsung memeluk Naruto yang berdiri di depannya. "Hiks.. hiks.. jangan tinggalkan kami" pecah sudah tangisan Kushina, ia menangis sejadi-jadinya pada pemuda ini.
"Maaf"
Haku yang memang sudah menangis dari tadi hanya menatap kearah pemuda itu dengan bingung. "Uh?"
"Maaf, karena aku membuat kalian menangis"
"T-tidak.. seharusnya k-kami yang meminta maaf karena m-membuat Naruto-kun salah paham" ungkap Haku dengan penuh rasa bersalah. Tetapi ia juga sadar kalau yang salah adalah dirinya, karena ia mau-maunya di gendong oleh Menma hingga membuat kekasihnya salah paham.
"Hmm yah" Naruto menjawab singkat sambil merangkul keduanya dalam sebuah rengkuhan hangat. "Aku menyayangi kalian"
Mereka pun berpelukan dengan mesra hingga tidak menyadari ada satu orang yang menatap mereka dengan kesal. Jiraiya terlihat berdiri di depan pintu dan berkali-kali menggeser pintu untuk membangunkan mereka.
Dan tentu saja itu membangunkan mereka semua, Naruto yang mendengar kode keras dari Jiraiya pun nyengir lebar sambil mengangkat alisnya berkali-kali.
"Dasar anak muda"
Mengacuhkan kedua gadis yang dalam masa puber itu tengah merona, Jiraiya pun mengambil langkah untuk mendekat. Dengan satu jentikan jari, ia mengeluarkan sebuah scroll dari ketiadaan.
"Ambillah, itu hadiah untuk kalian. Jurus 'Human Strength' milik Tsunade, aku yakin kemampuan kalian akan sangat hebat. Setidaknya setelah kami kembali"
Kushina mengerutkan dahinya. "Kembali? Maksudmu kalian akan pergi?"
Naruto tersenyum lembut mendengar nada khawatir itu. "Tenanglah Kushi-chan, aku hanya pergi dalam waktu dua minggu atau mungkin sebulan. Mencari kepala rumah sakit yang baru, ah iya jaga Shizune-sama karena dia sedang hamil anak keduanya" lalu ia menepuk-nepuk kepala kedua kekasihnya dan mengecup dahinya masing-masing. "Jaga diri kalian, jadilah Kunoichi yang hebat"
"Tentu saja.." balas Haku dengan senyuman manisnya.
"Karena kita akan…" lanjut Kushina dengan tangan terkepal keudara.
.
"…mendamaikan dunia ini"
.
.
.
Jiraiya dan Naruto sudah tiba di Main Gate Konoha, pakaian mereka sama sekali tidak berubah seperti yang dikenakan saat ke rumah sakit tadi, terkecuali sepasang pedang Kiba yang menyilang di punggungnya dan gulungan besar di punggung Jiraiya.
Naruto memetik sekilas jari-jarinya sebelum ia melirik kearah Jiraiya yang sedang berbicara dengan Izumo dan Kotetsu. Naruto hanya membiarkannya sebelum satu lambaian tangan Naruto berikan kepada sosok yang berjalan dibelakangnya.
"YO NARUTO-SAN! Sepertinya semangatmu membuatmu nampak keren siang ini!"
Naruto yang mendengar itu hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya yang tidak pernah berubah itu, meski masih harus dibantu oleh sebuah alat bantu untuk jalan tetapi Lee tetap semangat seperti biasanya.
Suara langkah kaki dapat terdengar jelas walau di dalam keributan seperti itu, sebuah bayangan lain mulai keluar dari asap tebal dengan santai. Setelah bayangan itu mulai meninggalkan asap tebal tersebut, terlihatlah dua orang remaja pria berambut hitam yang satunya memiliki model emo dan satunya model jabrik.
"Hn"
Tiba-tiba rahang Naruto mengeras, matanya berkilat tajam ketika merasakan aura dari mereka berdua. Dan pada detik berikutnya, mata biru itu bertransformasi menjadi Tenseigan yang menyala.
"Apa yang ingin kalian lakukan?"
Menma maju satu langkah dengan tangan terkepal.
"Aku ingin melawanmu untuk mendapatkan Haku-chan!"
Dan Naruto melirik kearah Sasuke yang hanya terdiam. "Lalu?"
"Aku tak mungkin mengkhianati sahabatku sendiri" tutur Sasuke singkat, tak lupa wajahnya yang tidak menyiratkan kebohongan sedikit pun. Dan itulah yang membuat Naruto mengeluarkan senyuman tipis.
"Jadi…" ia melirik kearah Menma yang sudah memasang pose kuda-kuda. "…kau ingin melawanku dimana?"
Mendengar nada meremehkan itu, mau tak mau Menma pun menggeram marah. Tanpa ba bi bu lagi, Menma langsung melesat maju kearah Naruto sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi kearah wajah dingin tersebut, melihat apa yang ia lakukan tidak berdampak pada Naruto mau tak mau ia pun mengambil satu lompatan mundur.
"Fuuton : Daitoppa!"
Wush!
Naruto hanya menjulurkan tangannya kedepan, dan pada detik itu juga tercipta sebuah robekan dimensi yang menyerap jurus Menma secara keseluruhan. Melihat jurusnya digagalkan, mata Menma melebar saat melihat Naruto yang kini melesat kearahnya dengan satu tangan berubah menjadi hijau muda.
Namun ketika serangan itu mengenai tubuhnya, yang ia rasakan bukanlah sakit. Tetapi tiba-tiba pandangannya mengabur, ia merasakan kalau Naruto melakukan sesuatu pada organ dalamnya.
"MENMA!" teriak seseorang dari belakangnya.
Naruto memandang jauh kedepan, kearah gadis dengan rambut indigo yang melambai-lambai diterpa oleh angin. Hinata seketika langsung menghampiri Menma yang sudah jatuh tak sadarkan diri tersebut.
Melihat wajah khawatir Hinata membuat Naruto merasa tidak enak.
"Teme, kupastikan kalau kau akan melebihiku saat aku kembali"
Sasuke yang mendengar suara percaya diri itu hanya bisa menyeringai dan menjulurkan tangannya yang terkepal, Naruto yang melihat itu pun membalas seringaiannya dan menyatukan kepalan tangan mereka.
"Tiga minggu, temui aku di Lembah Kematian"
Sasuke hanya memandang punggung Naruto dengan senyuman tipis. Ia tahu kalau Naruto tetap menjadi sahabatnya, sampai mereka mampu menguasai dunia ini.
.
.
'Setidaknya aku bisa berdekatan dengan Kushi-chan, khu khu khu'
.
.
To be Continued~
Note : Whoaa! Mungkin sudah lama sekali Fic ini tidak update. Dan datang hanya dengan word sedikit, oke gomen ne Readers-san.
Saya sih tidak bisa mengelak dari takdir anak sekolah, yap yang selalu dijadikan sebagai alasan untuk tidak bisa update. Sebenernya saya kehilangan ide untuk melanjutkan Fic ini, awalnya saya Cuma matokin Fic sampai chapter 15 tetapi ide terus datang hingga pengen sampe 25. Tapi saya sadar kalau membuat Fic itu sulit ketika mau menjelang akhir tahun. Dan saya sedang berpikir harus sampai manakah Fic ini berakhir.
.
Okelah kalau begitu, saya Cuma memberikan beberapa info tentang Fuuin Naruto:
Fuinjutsu (Bahu kanan) : tempat penyegelan bahan makanan yang pernah Naruto taruh disitu.
Fuinjutsu (Bahu kiri) : Kertas Fuinjutsu beserta kuas nya.
Fuinjutsu (Telapak dan punggung tangan): Kuchiyose
Fuinjutsu (Tiap jari) : Weapon
.
Weapon :
Setiap masing-masing jari terdapat segel :
1. Tangan Kanan
Jempol – Nuibari
Telunjuk – Yukianesa
Tengah – Kubikkiribocho
Manis – Raijin no Ken
Kelingking – Kiba
2. Tangan Kiri
Jempol – Samehada
Telunjuk – Kusanagi
Tengah – Uzushio no Ken (Penjelasannya nanti)
Manis – Light Scythe (Salah satu kemampuan Naruto dalam memanipulasi elemen Tenseigan)
Kelingking – Ryuujin (Dragon Sword)
.
Oke, segitu dulu informasinya. Jika ada kesalahan tolong beritahu saya. Agar saya bisa membenahinya.
Draco, out!
