::The Dark Legacy— First Quarter::
By: Morning Eagle
Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::
Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story
Scene 9: Scream and Shout
~0*0~
.0.
.
.
.
.
.
.
.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah pagi terbaik yang disambut oleh Rukia. Dia tidak bermimpi buruk lagi dan tidak terbangun dengan peluh dingin di sekujur tubuhnya. Memandang matahari yang masuk melalui kaca jendela seperti mendapat pencerahan untuk tubuh lunglainya. Telapak tangannya bisa merasakan butiran emosi yang masih berbekas di atas seprai—bergulir kepada memori malam kemarin. Meninggalkan jejak kehangatan yang tak akan pernah bisa dilupakannya.
Dia mengerang saat meregangkan badannya, dengan senyum terukir yang entah muncul karena apa. Tubuhnya benar-benar rileks, karena perhatian yang didapatkannya oleh Si Penjaga Pribadinya. Ichigo melakukan hal yang lebih dari cukup. Mengendarai motor di atas jalanan New York adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi gadis itu. Dia selalu suka dengan kendaraan bermotor dan hal-hal pemacu adrenalin lainnya, hanya saja tidak bisa merasakan bagaimana kendaraan itu melaju selama ada kereta super cepat—shinkansen—juga bus umum.
Kaki telanjangnya menapaki lantai kayu yang terasa dingin, memberikan getaran ringan di permukaan kulitnya. Baju hangatnya sedikit kebesaran di ujung jemarinya, seperti pelapis kulit kedua yang terlalu kendur. Matanya masih terasa berat karena efek bangun terlalu pagi juga mulutnya yang sesekali menguap lebar. Bermaksud untuk membasuh wajah dan menggosok giginya, ketika Rukia mendengar sedikit kegaduhan di lorong luar.
Suara kaki yang berlari dan separuh mengetuk keras. Beberapa orang berbincang seperti berbisik, tidak jelas saat telinga Rukia berusaha menangkap maksudnya. Dia berjinjit-jinjit hingga mengintip di lubang pintu. Beberapa werewolves bertubuh besar menghalangi pandangannya.
Jari telunjuk mengetuk-ketuk dagunya, memilih antara membuka pintu atau tetap mengurung rasa ingin tahunya. Sebagian dirinya didorong oleh kepercayaan diri bahwa Ichigo mungkin akan memperbolehkannya masuk dalam diskusi werewolves dadakan. Dia selalu membela Rukia dalam situasi apapun, mungkin Ichigo akan memberikan sedikit kelonggaran kali ini.
Tangan kanannya siap menekan kenop pintu, ketika salah satu punggung werewolf di hadapannya menyingkir dan memperlihatkan pintu kamar Ichigo yang terbuka lebar. Dan dia ada di sana, bersandar pada daun pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Rukia hampir kehilangan napasnya, ketika melihat Ichigo tanpa pakaian atas. Shirtless. Pertama kalinya gadis itu menyadari semua yang dikatakan Ichigo benar adanya. Tubuhnya benar-benar atletis sempurna—di atas rata-rata.
Werewolves berkumpul di sekitarnya, membahas sesuatu yang terlihat penting. Ichigo dengan sikap santainya, tak bisa menutupi wajah kusut yang baru saja terbangun oleh paksaan. Sesekali dia mengangguk dan berusaha berpikir keras. Alisnya bertaut tajam dan rambutnya mencuat tidak karuan.
Dan Rukia hanya terfokus pada apa yang dilihat oleh kedua matanya—tidak bisa berbohong. Mulutnya sedikit menganga, saat memproses keindahan langka di depannya lekat-lekat. Mengingat setiap lekuk ototnya, juga leher jenjangnya, kemudian mata setengah tidurnya. Pupil hazel itu menatap ke arahnya. Hal yang membuat Rukia terkejut setengah mati, hingga terlompat di tempat dengan jantung bertabuh seperti gemuruh drum.
Dia tidak tahu apapun, pikir Rukia. Gadis itu memastikan Ichigo hanya tidak sengaja menatap ke lubang pintunya, yang mustahil bisa memaparkan bagian isi kamarnya dari depan lorong. Hanya Rukia yang bisa melihat—seharusnya—sampai seringai itu tertarik tajam. Ichigo tersenyum ke arahnya dan membuat Rukia merutuk dalam hati.
"Dia tidak mungkin bisa melihatku … bukan?"
Ichigo melambaikan tangannya, menyuruh para werewolves di sekelilingnya untuk menyingkir. Shuuhei terlihat berdiri di sebelahnya, berusaha menarik perhatian Ichigo yang kini terarah pada pintu kamar Rukia. Pria itu sama sekali tidak terfokus pada permintaan temannya saat mengetuk pintu Si Gadis sebanyak tiga kali.
"Sial…" gumam Rukia panik. Kebingungan memakan otaknya hidup-hidup, memilih dalam waktu yang sangat terbatas. Membuka pintu atau tidak?
Akhirnya dengan gugup, Rukia membuka pintu kamarnya perlahan. Dia terus mengulang dalam hati, agar menatap Ichigo tepat di matanya. Hanya di mata, mungkin hidung atau bibirnya. Tidak daerah lain selain wajahnya.
Dan matanya mengkhianati dirinya sendiri, saat Ichigo berdiri terlalu dekat di hadapannya. Rukia meneliti lebih jelas dari atas hingga berhenti tepat di otot perutnya. Six pack. Sial!
"Morning, sunshine?" sapa Ichigo, jelas-jelas dia menggoda Rukia. "Senang melihat-lihat di pagi hari?"
"Kau … bagaimana—tunggu, aku tidak…"
"Aku bisa mencium baumu yang berdiri di depan pintu. Terlalu dekat dan hanya terhalang sepotong kayu dengan ketebalan dua inci."
Rukia tidak bisa menyangkalnya, juga rasa panas yang menjalar di kedua pipinya.
"Ichigo," panggil Shuuhei yang tidak bisa menepis rasa kekhawatiran di wajahnya. "Kita tidak bisa menunggu hingga Alpha kembali. Lebih baik kau yang mengambil alih dan memerintahkan sebagian penjaga, bukan?"
"Sudah kukatakan itu bukan wewenangku, Shuuhei. Tanyakan langsung kepada Alpha, bila kalian ingin segera bertindak. Aku hanya menyarankan agar kalian tetap menjaga emosi masing-masing dan tidak terganggu dengan masalah ini," balas Ichigo.
"Tapi ini masalah anggota yang terbunuh! Dan kau sama sekali tidak mengambil langkah sebagai calon penerus?"
"Aku bukan penerus Ayahku, selama peraturan kelompok masih berlanjut, Shuuhei!" Ichigo balas memarahi, membuat Rukia bergidik takut akan ketegangannya. "Identitasku sebagai anak Sang Alpha sama sekali tidak mempengaruhi siapa penerus selanjutnya! Seharusnya kau tahu akan hal itu!"
"Dan bersikap santai seperti ini?" Shuuhei melirik Rukia sebagai jawabannya. "Kau sama sekali tidak terlihat seperti dirimu sendiri akhir-akhir ini. Apa karena Rukia?"
Rukia terdiam saat pertanyaan itu terlontar ke udara. Napasnya mencekat jalur pernapasannya sendiri, berusaha memahami apa yang Ichigo pikirkan. Nihil. Pria itu tidak banyak bereaksi, hanya sudut matanya yang bergerak, melirik Shuuhei dalam ketegangan yang semakin menjadi.
"Menjaga Rukia adalah tugasku. Kau ingin aku melepaskan apa yang seharusnya kulakukan, Shuuhei? Memimpin kalian dalam perburuan Hollow tanpa mempersiapkan diri dan strategi? Membunuh lebih banyak anggota?"
"Aku tidak bermaksud—"
"Kau mengganggu waktu tidurku." Ichigo memijit batang hidungnya kuat. "Pergilah, cari Ayahku dan kau akan menemukan solusinya."
Shuuhei tidak bisa berdebat lebih jauh lagi. Dengan terpaksa dia pergi bersama dua werewolves lainnya yang lebih memilih diam sejak awal perdebatan. Mereka tahu bahwa tidak ada yang bisa menembus pertahanan dan kekeraskepalaan Ichigo melebihi apapun. Hanya teman terdekatnya yang berani untuk angkat bicara, walaupun terkadang berhasil dipukul mundur seperti nasib Shuuhei. Kepercayaan diri dan karisma Ichigo hampir menyerupai Sang Alpha itu sendiri.
"Kalian membahas tentang apa?" tanya Rukia kemudian, ketika suasana jauh lebih hening. Dia merasa tertarik, ketika mendengar ada anggota yang terbunuh. Strigoi-kah?
Ichigo memandang lelah gadis itu. Matanya mengerjap dan sesekali menguap lebar. "Hollow. Makhluk jahat lainnya selain strigoi yang muncul secara tiba-tiba, dan seringkali menyerang apapun yang ada di sekitarnya. Dan kali ini mereka menyerang anggota kelompok yang berada di Detroit. Dua werewolves mati karena racunnya—sumber kejahatan yang sulit untuk dibasmi seperti zat kimia berbahaya."
"Apa sebenarnya mereka?"
"Iblis atau perwujudan bagi kematian yang tidak tenang. Jiwa kotor yang perlahan berubah menjadi makhluk terkejam dan tak mengenal belas kasihan. Kemunculan mereka sulit sekali untuk ditebak, karena kami memang tidak bisa mendapatkan tanda-tandanya. Terkecuali, bila ada sesuatu yang murni dan kuat di atas bumi ini."
"Dan apakah itu? Apa kekuatan werewolf kalian yang menjadi pemicunya?"
"Entahlah," gumam Ichigo berdeham. "Aku masih tidak mengerti."
"Kau membiarkan temanmu dibunuh begitu saja tanpa ada perlawanan balik?" Rukia bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi. Sebelah tangannya bertumpu pada daun pintu, melarang Ichigo untuk beringsut lebih dalam ke tempat pribadinya.
"Wow, tenanglah Rukia! Kau terlihat lebih khawatir daripadaku."
"Tentu saja bila temanmu yang menjadi korban. Mereka keluargamu, bukan?"
Ichigo mengerjapkan matanya, melihat Rukia yang berapi-api di hadapannya. Tubuh mungilnya sama sekali bukan halangan untuk mengeluarkan rasa frustasinya.
"Bukan karena aku tidak peduli. Apa yang dirasakan mereka bisa langsung tersalur ke seluruh anggota kelompok dan itu sama sekali bukan hal yang bisa kami tolak begitu saja. Amarah juga pembalasan dendam—seluruh kelompok merasakan hal itu saat ini." Tangannya memijit pelipisnya, sambil tetap menatap Rukia tak bergeming. "Ingin segera merobek dan menghancurkan hollow yang sudah membunuh saudara kami di tempat terkotor dan dipenuhi oleh sampah terbuang. Aku akan melakukannya tanpa disuruh, bila hollow itu muncul di depan mataku saat ini juga. Dengan senang hati akan kurobek tengkorak mereka dan menancapkan taringku hingga darah mereka mengering."
Rukia sedikit tersentak dengan kemarahan yang sekarang muncul di kedua mata Ichigo. Pria itu menyembunyikan perasaannya dari orang di sekitarnya dengan sempurna. Di antara Shuuhei dan kedua werewolves tadi, sebenarnya Ichigolah yang benar-benar terlihat murka.
"Aku hanya tidak bisa melakukannya—karena emosiku akan menuntun anggota lainnya ke jalan yang lebih buruk. Hanya Ayahku yang bisa melakukannya." Ichigo mengerutkan dahinya putus asa. Kesedihan tersirat di raut wajahnya. "Kau mengerti, bukan? Alpha-ini dan Alpha-itu, semuanya terpusat pada pemimpin yang bisa mengontrol lebih baik."
"Aku mengerti." Sejujurnya Rukia masih samar-samar untuk menangkap sekuat apa hubungan anggotanya dengan Sang Alpha.
"Dan—aku akan kembali ke kamarku untuk menetralkan emosiku. Mungkin yoga atau meditasi yang seringkali Chad sarankan, walaupun itu bukan halku."
Rukia tidak bisa menahan senyumnya, ketika membayangkan Ichigo dalam posisi yoga dengan mata terpejam. Dia tidak akan bisa bertahan lebih dari sepuluh detik.
"Kupikir lebih baik bila kau memakai celanamu, Rukia," celetuk Ichigo tiba-tiba, memandangi kaki Rukia yang tak tertutup apapun. "Setengah lebih isi bangunan ini adalah pria yang terkadang sulit mengontrol emosinya. Kau seharusnya mengerti."
Rukia tergagap, memelototi Ichigo yang menyunggingkan seringainya. Pria itu benar-benar membuatnya geram. "Aku memakai celana pendek, bodoh! Baju hangatku sedikit terlalu besar … jadi memang tidak terlihat!" Tangannya menarik-narik baju hangatnya ke bawah, enggan memperlihatkannya pada werewolf mesum di hadapannya.
"Kalau begitu, tubuhmu terlalu kecil," balas Ichigo sambil mengusap dagunya.
Seakan tidak ada yang lebih memacu emosinya lebih dari ini, Rukia menutup pintu kamarnya tanpa peringatan. Jeritan kesakitan muncul kemudian, ditambah rutukan. Ichigo yang merasakan jempol kakinya berdenyut kuat.
"Kau menjepit kakiku!"
"Sayang sekali, pintunya tidak menghantam kepala bodohmu!" Rukia balas berteriak, dan memilih kembali pada rutinitas paginya. Mencuci wajahnya adalah hal terbaik untuk menghilangkan kepenatan di dalam kepalanya.
.
.
…..~***~…..
.
.
Area ruang makan diliputi atmosfer yang menekan kuat. Dirundung oleh emosi yang meluap-luap, seperti berada di dalam gunung berapi dengan lava yang bergolak panas. Werewolves muda seringkali terlihat tidak labil dengan pengendalian diri dan ditekan mundur oleh penjaga yang lebih berpengalaman. Werewolves lainnya memilih untuk diam dan menunggu perintah yang akan segera diturunkan segera. Sang Alpha yang memimpin.
Rukia sudah menyantap sarapannya yang terasa dingin tanpa Ichigo. Pria itu hilang entah ke mana dan meminta Rangiku untuk menemaninya. Rukia tidak bisa memilih pilihannya, berpasrah diri akan sikap penjaga barunya yang berjalan terlalu percaya diri. Tidak jarang wanita memikat itu berusaha mengorek masalah pribadi Rukia. Misalkan, pacar lama atau berapa kali gadis itu pernah mencoba merubah gaya berpakaiannya sesuai mode terbaru—perbincangan wanita pada umumnya. Walaupun Rukia sedikit berharap akan topik yang lebih membahas pada keseharian werewolf. Cara mereka berburu ataupun mengintai strigoi yang berkeliaran.
Rangiku terlihat tak terganggu dengan situasi yang ada, atau mungkin berusaha menjaga etiketnya di hadapan Rukia. Tidak ingin menambah ketakutan yang semakin berlebihan.
Mereka memilih berdiam diri di hadapan kopi masing-masing, sambil memerhatikan beberapa werewolves yang berlalu-lalang. Tidak jarang salah satu dari mereka memberi kabar akan keberadaan Sang Alpha yang sedang mengontrol tempat kejadian. Werewolves muda selalu tidak sabaran dalam menangani situasi yang sudah terjadi. Berlebihan dan liar, itu yang dikatakan Rangiku dalam kebosanan paginya.
"Mereka tidak bisa duduk tenang dan menunggu," gerutu Rangiku dengan sebelah tangan bertopang dagu. "Di dalam situasi seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun selain menyesap kopiku atau mengikir kukuku. Sungguh membosankan."
"Apakah karena Alpha yang belum kunjung datang?" tanya Rukia.
"Mereka melihat Alpha sebagai sosok Ayah yang mengontrol penuh kehidupan anak-anaknya. Tanpa Alpha, kami hanyalah serigala terbuang yang mengais sampah di lorong kotor Manhattan."
"Dan apa yang dilakukan Ichigo? Kau tahu?"
Rangiku mendesah, menatap Rukia seakan gadis itu masih tidak mengerti inti permasalahannya. "Seharusnya kau tahu di mana pria liarmu itu, bukan?"
Rukia hampir tersedak, ketika menyeruput kopi panasnya. Cipratannya mengenai celana jeans-nya, hampir membakar kulitnya.
"Aku salah?"
"Tentu saja—apa maksudmu, Rangiku?"
"Sepertinya Beta kita sudah tertolak," celetuk seseorang yang duduk di seberang meja Rukia. Kokuto dengan botol bir dinginnya.
Rukia tidak menyadarinya sebelum ini, akan sosok Kokuto yang mengintimidasi. Dia muncul seperti kabut, memantau Rukia dalam keheningan yang kaku. Postur tubuhnya yang jangkung, membuat pria itu serupa dengan model langka di agensi ternama. Hampir dua meter tingginya, dengan tubuh kurus namun berotot.
"Kau akan terkena masalahnya bila mengganggu Rukia, Kokuto." Rangiku mengancam tanpa menunjukkan taringnya keluar. Matanya mendelik tidak suka kepada pria yang kini tertawa rendah sebagai cibiran usang.
"Aku tahu, Rangiku. Ichigo tidak akan tinggal diam saat gadis kesayangannya diganggu oleh serigala besar yang jahat." Kokuto menunjuk dirinya sendiri dengan mulut botol, sebelum meneguknya dalam sekali teguk. "Kau tahu kalau hollow itu mengincar dirimu, Rukia?"
Rukia terlihat kebingungan, menatap Rangiku untuk mencari jawabannya. Bahkan, Rangiku ikut terpaku dan mengernyit tidak suka.
"Hollow sangat menyukai kaum fairy," lanjut Kokuto, saat keadaan hening mendadak. "Baumu sangat kental dengan kemurnian fairy yang langka. Kekuatan yang murni juga jiwa yang bersih. Berbanding terbalik dengan hollow yang kotor juga gelap seperti awan hitam. Mungkin sudah sejak awal mula mereka terbentuk untuk menghancurkan kaum fairy."
"Ichigo tidak mengatakannya sebelum ini," gumam Rukia takut, merasakan getaran dingin menjalar cepat di punggungnya. Kenyataan yang lagi-lagi tertutup di depan kedua matanya. "Dan aku bukan fairy."
"Ichigo ingin melindungi dirimu dari amukan liar para werewolves. Karena dirimulah anggota kelompok kami menjadi buruan hollow. Kau membunuh dua werewolves, Rukia."
"Hentikan, Kokuto!" Rangiku menggebrak meja sebagai perlawanannya. Matanya berkilat tajam dan siap menyerang Kokuto dengan tubuhnya yang membungkuk dalam. "Ini bukan salah Rukia atau siapapun itu! Jangan memulai sebelum aku yang merobek pita suaramu!"
Kokuto menaikkan alisnya terlalu tinggi, sama sekali tidak mempermasalahkan gertakan Rangiku yang bukan candaan belaka. "Sekarang kau benar-benar menjadi pengikut Ichigo, ya? Bukan pilihan yang bagus menurutku. Kau mengikuti jejak yang tak tampak di atas tanah—Beta yang tak diakui."
"Jaga sikapmu, Kokuto!" Rangiku menggeram rendah, dengan rambut gelombangnya yang terurai di samping wajah sebagai penanda amarah liarnya—cantik dan berbahaya. Seperti perwakilan dari dewi Romawi Kuno, rambut emas dan mata abu mudanya.
Rukia mempertanyakan dalam hati akan kesetiaan Kokuto sebagai anggota kelompok. Ichigo sudah menjelaskan sebelum ini, bahwa emosi setiap werewolves saling terkait dan bisa merasakan.
Apakah pria yang kini tengah mengejeknya tanpa beban adalah salah satu dari mereka? Apakah dia tidak merasakan derita saat teman-temannya diserang oleh Hollow hingga mencapai ajalnya?
Dan apa yang disebutkan Kokuto membuat hatinya remuk. Bersembunyi dalam kelompok besar yang memiliki pertahanan kuat sama sekali tidak membuat dirinya merasa aman. Dirinya menjadi pemicu juga munculnya masalah baru yang lebih rumit. Hollow mengincar bau fairy dari tubuhnya, diyakini Rukia adalah milik Byakuya, kakaknya. Energi murni yang kuat telah melindungi kulitnya dan menyamarkan identitasnya.
"Kuharap kau bisa melakukan sesuatu dan membantu Beta-mu, Rukia," ucap Kokuto yang meletakkan bir kosongnya dan berdiri tegap. Tubuhnya menjulang tinggi di atas gadis itu, memberikan rasa dingin yang memaksa siapapun di sekitarnya untuk menunduk. "Sebelum semuanya menjadi bertambah buruk dan berbalik menyerangmu, lebih baik kau mengambil langkah lebih dulu, bukan? Tidak ada yang akan membantumu saat semuanya sudah terjadi."
"Later, sweetheart," lanjut Kokuto seakan berbisik kepada Rukia yang tak bergeming. Pria jangkung itu melambaikan tangan malasnya sebelum berlalu pergi.
Rangiku berdeham, menyeruput kopinya dengan begitu berisik. Rukia hanya bisa termangu diam tak bereaksi banyak, menunduk dan memainkan gelas kopi yang sudah mendingin. Tidak mengerti apa yang harus dia lakukan kemudian.
"Jangan terlalu dipikirkan mengenai apa yang Kokuto katakan," ujar Rangiku, mendesah lelah dalam duduknya. "Dia selalu melakukan apa yang menurutnya menyenangkan—menindas juga mengkonfrontasi siapapun yang menghalangi langkahnya."
"Tetapi, mungkin juga yang dikatakannya adalah benar."
"Rukia!" Rangiku menolak keras, menatap gadis itu sengit. "Aku mengerti situasimu yang merupakan tamu di dalam kelompok ini. Tetap saja itu tidak mengubahmu menjadi satu-satunya yang berbeda dan pembuat masalah. Kami akan menjagamu, apapun yang terjadi."
"Apakah karena perintah Alpha? Ataukah kalian memiliki hal yang sama dengan kekuatan mutlaknya? Sebagian dari kalian pasti menganggapku hanyalah hama pengganggu. Itu yang kalian rasakan sebenarnya."
Rangiku terdiam, di antara tidak bisa membantah atau kehabisan kata-kata. Gadis di hadapannya sungguh keras kepala untuk dihadapi. Serupa dengan Ichigo yang menjadikannya werewolf dominan di antara kelompoknya, selain Alpha itu sendiri. Kedua orang itu seperti magnet dengan kutub yang sama persis, di sisi lain saling bertentangan bila bertemu. Sulit untuk dihadapi.
"Aku akan ke kamarku," ucap Rukia, bangun dari duduknya enggan melihat ataupun tersenyum pada Rangiku. Wanita itu hanya terdiam, melihat kepergian Rukia seperti yang tersesat dalam hutan gelap.
Rukia terlalu dalam terlibat dalam salah satu dominan kelompok. Dia tidak akan bisa menghindar begitu saja tanpa melibatkan masalah menjadi lebih rumit.
Rukia mematung di hadapan lift, sembari memerhatikan pintu depan yang dijaga oleh beberapa werewolves besar. Orang-orang itu tidak akan memperbolehkan Rukia pergi seenaknya, selama situasi masih memanas di luar sana. Rukia mendesah pasrah, memilih untuk segera kembali ke ruangannya dan berusaha tertidur dalam mimpi kosongnya.
Pintu lift terbuka dan seseorang muncul dari dalamnya. Rukia tersentak, melihat Senna menatapnya tajam. Gadis terong itu terlalu terang-terangan bersikap keras juga sinis kepada Rukia—lawan dalam masalah kehidupan manisnya. Berharap Ichigo yang memandangnya, sebagaimana pria itu menatap Rukia protektif.
"Kau," cibir Senna, mendelik tidak suka.
Rukia merasakan naluri untuk menerjang gadis ungu di depannya begitu kuat. Namun, semua itu akan mendatangkan kerugian juga rasa bersalah yang semakin besar untuknya. Mendapat tatapan tak suka dari para werewolves di sekeliling. Bagian dari keluarga fairy yang tak memiliki darah mereka sedikitpun, memberikan predikat buruk untuk Kakaknya. Byakuya, Sang Pemimpin Spring Fairy yang memiliki adik buruk rupa.
Rukia hanya bisa menggeram, mengalihkan pandangannya seraya masuk ke dalam lift. Senna berjalan dengan punggung tegap penuh kesombongan juga percaya diri terlalu tinggi, merasakan keberhasilannya membuat Rukia bungkam.
"Oh ya—sebelum aku lupa," ucap Senna tiba-tiba, menahan pintu dengan tubuhnya. "Ichigo mencarimu."
Rukia membelalakkan matanya, menahan jarinya menekan tombol menutup pintu. Alisnya berkerut terlalu tajam di tengah dahinya. "Untuk alasan apa? Dia sedang melakukan tugasnya, jadi tidak mungkin melepaskan tanggung jawab kelompok."
Dan pria itu akan langsung datang, bila membutuhkan Rukia kapanpun. Tepat di depan wajah gadis itu, dengan seringai lebar yang menampakkan sedikit taringnya.
"Jangan tanya aku! Dia hanya memintaku untuk menyampaikan pesannya pagi tadi. Kalau aku tidak salah, Ichigo sedang membicarakan sesuatu dengan Alpha. Ahh—mengenai Kakakmu, mungkin?"
Punggung Rukia langsung terasa dingin. Tidak bisa menebak apa yang akan Ichigo katakan kepadanya. Informasi Kakaknya, kemungkinan baik ataupun buruk. Rukia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Di mana dia?" Rukia tidak bisa menahannya lagi, ingin segera berlari dan memaksa Ichigo mengatakan segalanya. Termasuk masalah gadis itu di antara para anggota werewolves. Apakah peranan Rukia berdampak besar akan kesulitan yang dihadapinya sebagai Beta dominan?
"Gedung terbengkalai tak jauh dari sini. Lima blok di sebelah Selatan, berangka besi yang dulunya adalah sebuah pabrik. Kau langsung bisa mengenalinya, begitu melihat eksteriornya yang menyerupai tempat pejagalan."
Rukia berdecak tak percaya, melihat Senna seperti mengada-ada. Mungkin saja gadis itu berbohong mengenai letaknya.
"Aku tidak bercanda!" Senna menyangkal, melemparkan kedua tangannya ke udara. "Kami selalu memakai tempat yang tak akan dimasuki penduduk sekitar. Menjaga rahasia dan kebebesan kelompok, seharusnya kau tahu itu."
"Tapi, aku tidak bisa keluar," ucap Rukia, melihat penjaga di luar pintu utama masih setia berjaga. "Rangiku yang mengatakannya, Ichigo memerintahkan anggotanya agar menjagaku tetap berada tempat ini."
"Katakan saja ini perintah Ichigo. Ohh—baiklah kalau kau tidak percaya, sebutkan mandantum!"
"Ma? Apa?"
"Mandantum—kami memakainya untuk menandakan adanya pertemuan misi. Mereka akan memperbolehkanmu pergi, karena ini semua perintah Ichigo."
Rukia hanya bisa memutuskan di antara pergi atau tetap di tempat. Senna sudah berlalu pergi, mengedikkan bahunya pertanda kebebasan Rukia untuk memilih. Dan ini menyangkut Kakaknya yang selalu dipikirkannya sepanjang waktu. Tidak ingin menunda lebih lama lagi, dia segera menekan tombol pembuka pintu dan bergerak cepat ke arah pintu keluar.
Di sisi lain, Senna bersandar di balik tembok, melihat Rukia sedang berbicara dengan beberapa werewolves penjaga yang kebingungan. Lima menit mereka bernegosiasi, sebelum akhirnya membiarkan gadis itu pergi.
Senna mengetukkan jari telunjuknya ringan pada pipinya, dengan senyum menukik di satu sisi.
"Lupa untuk kukatakan, bahwa serigala pun selihai dan selicik rubah. Too bad, huh?"
.
.
…..~***~…..
.
.
Rukia menatap gedung tinggi di hadapannya, berpikir berulang kali sebelum memutuskan inilah tempatnya. Gedung dengan rangka besi yang berkarat, terlihat seperti pabrik pada dulunya. Tempat yang dikatakan Senna sebelumnya, namun tak berpenghuni seperti yang dikiranya.
Tidak terdengar suara Ichigo ataupun tanda-tanda werewolves lainnya. Hening dengan angin yang menerpa terlalu kencang. Langit berubah gelap seperti petunjuk akan datangnya badai. Rukia melihat sekeliling dengan tatapan meneliti, berharap tidak ada makhluk kegelapan yang mengintai dirinya.
Hollow. Rukia menebak-nebak seperti apa rupanya. Berwajah tengkorak dan tak lazim, seperti yang sudah Ichigo katakan. Mungkin mereka bersembunyi di balik bayang-bayang, ataupun masuk ke dalam dinding dan keluar di saat mangsanya mendekat.
Rasa dingin menelusuri lengan hingga tenguknya. Perlahan kakinya menapak pada dataran yang tak rata dan penuh dengan rongsokan besi. Tangga dan pintu besi—menampakkan tempat itu seperti gudang ataupun rumah berhantu.
Cahaya mentari masih menelisik dari jendela kotornya. Menerangi langkah yang akan diambil, serta memberikan bayangan mengerikan dari jalinan rangka besi tak beraturan. Rukia sudah masuk terlalu dalam, ketika melihat sebuah tangga besi menuju ke bawah tanah.
Gelap, tak terlihat apapun selain warna hitam. Rukia meneguk ludahnya takut, mencari-cari sosok Ichigo yang mungkin saja bersembunyi darinya. Mempermainkan gadis itu adalah kemungkinan dari sifat buruk Si Pria Serigala.
"Ichigo?" Rukia berbisik, tidak ingin berteriak dan memanggil makhluk lainnya. Ichigo memiliki pendengaran tajam, jadi tidak masalah dirinya harus sedikit menahan suaranya.
Suara besi berdenting jatuh membuat bulu kuduknya berdiri. Rukia tidak ingin menebak apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Angin tidak mungkin bisa menerbangkan besi.
Senna berbohong. Satu-satunya solusi yang bisa diterima akal sehatnya. Gadis pencemburu itu sudah berhasil menjebaknya untuk masuk ke dalam bangunan mengerikan ini. Semuanya karena dia sudah mengetahui kelemahan Rukia. Kakak satu-satunya dan yang paling disayanginya. Rukia akan melakukan apapun demi Kakak laki-lakinya, bahkan menerjang strigoi sekalipun.
Bunyi itu terdengar lagi, seperti besi dilempar dan suara mendesis. Rukia mundur terlalu cepat hingga menubruk penyangga besi di punggungnya. Besi itu tumbang karena keropos dan terlalu tua, menimbulkan bunyi demuman besar dan kemudian hening.
Rukia menutup mulutnya sendiri dengan tangannya, memerhatikan sekelebat sosok muncul dari tangga yang menuju bawah tanah. Di antara kegelapan itu, terdapat sosok gelap yang mengerikan. Lebih hitam dan mendesis. Jantungnya bergemuruh terlalu cepat, mengatakan spontanitas di saat keadaan di luar kendalinya.
Lari!
Rukia mengambil langkah cepat tanpa melihat ke belakang. Menelusuri lorong gelap yang mengarahkan kepada tangga besi untuk naik. Tidak mempermasalahkan apakah tangga itu masih layak dipijak atau tidak, tangannya meraih pegangan dan mendorong tubuhnya untuk naik. Suara ketukan nyaring pada pijakan besi yang dilewatinya menambah keadaan semakin buruk. Suara mendesis yang semakin banyak terdengar, juga geraman rendah yang menandakan ada makhluk lain di tempat itu.
Ujung lorong mengarahkannya kepada anak-anak tangga lagi, semakin ke atas mendekati puncak bangunan. Pada pijakan kelima, besi di bawah kakinya terlalu keropos untuk menahan berat badan. Pijakannya jatuh ke bawah dan hampir membuat Rukia ikut terjatuh, bila tangannya tidak sigap menahan pada pegangan tangga.
Napasnya memburu dan semakin memacunya untuk menarik oksigen lebih banyak. Kakinya terasa lemas karena adrenalin juga teror yang memburu. Peluhnya membasahi kening juga lehernya, ketika berhasil mencapai lantai tertinggi di atasnya.
Cahaya matahari tidak lagi terlihat, bersembunyi di balik awan abu-abu pucat. Jantungnya hendak merobek dadanya, saat melihat sesuatu melompat dari bawah dan mendarat di hadapannya. Mustahil bisa dilakukan oleh manusia biasa, kecuali musuh besarnya. Rukia tidak bisa melakukan apapun, saat sosok itu memutus langkahnya untuk maju lebih ke depan.
Seorang pria kurus yang berwajah pucat. Mulutnya menyeringai untuk menampakkan dua gigi taringnya. Pakaiannya terlihat lusuh juga rambutnya yang seperti rumput liar. Kepalanya miring ke samping, hampir serupa dengan manusia tanpa tulang leher yang kuat. Dia bukan manusia, melainkan strigoi yang kelaparan—pemilik mata merah seperti darah.
Rukia memilih untuk mundur perlahan, sementara pria itu masih mematung di sana. Tangannya meraba-raba, mencari sesuatu yang bisa dipakainya sebagai pembela diri. Tapi, di atas sini tidak banyak rongsokan besi yang bisa ditemukan. Dia harus bertindak cepat, sebelum strigoi itu bergerak dan menyerangnya.
Sosok strigoi kedua menampakkan dirinya di belakang Rukia. Pria yang lebih tinggi dari yang satunya, berambut putih seperti albino. Dia menggeram dan tangannya terulur menunjukkan kuku-kuku tajamnya, kotor karena debu dan kotoran. Tawanya keluar seperti sebuah ejekan untuk Rukia yang tersudut.
Rukia kembali memilih untuk mundur, menuruni tangga yang sudah dinaikinya barusan. Besinya bergetar karena baut yang kendor juga strigoi di belakangnya yang ikut memijak kuat. Beberapa bayangan terlihat di sudut bawah bangunan dan tangga yang menuju bawah tanah. Lebih banyak strigoi, mungkin empat strigoi di bawah sana.
"Lari, gadis kecil! Larilah dan buat permainan ini semakin menarik!" Salah satu strigoi berteriak di belakangnya, menggoyangkan tangga semakin kuat.
Rukia bertumpu pada pegangannya, ketika tangganya keluar dari jalur. Bautnya lepas dan dia akan segera terjatuh.
Teriakannya menggema di dalam bangunan. Sikap spontan telah menyelamatkan dirinya dari besi-besi penyangga yang berantakan di bawah pendaratan. Rukia melompat ke samping sebelum tangga membentur tanah. Hampir saja, tubuhnya bisa mendapat luka serius dan memudahkan para strigoi mencium bau darahnya.
Tangannya mendorong tubuh mungilnya untuk berdiri. Satu strigoi berdiri menjulang tinggi di sampingnya, kemudian berjongkok dan mengamati Rukia dari atas ke bawah. Menikmati mangsanya sebelum membenamkan taringnya kuat-kuat.
"Yang ini spesial. Dia bukan manusia biasa."
Rukia beringsut mundur, menghindari strigoi yang menatapnya lekat juga tajam. Mata darahnya mengamati secara detail, bagaimana Rukia mengambil langkah juga hentakan napasnya yang memburu.
Empat strigoi mengintai di depannya, sementara dua lagi di sampingnya. Rukia tidak memiliki kesempatan untuk kabur, atau mungkin membela diri. Dia seperti ikan kecil di antara kerumunan hiu yang mengintai. Tidak bisa melakukan apapun, selain berenang dan kemudian diterkam dengan gigi tajam yang menyakitkan.
Suara besi didobrak terdengar begitu keras, membuat para strigoi memandang ngeri pada tamu tak diundang. Sesosok makhluk besar—penuh geraman kemarahan dengan tubuh berbulu lebat—menerjang salah satu strigoi di hadapan Rukia, melemparnya seperti bantalan usang. Tubuh strigoi itu menghantam dinding besi begitu keras, hingga merusak permukaannya tak lagi mulus.
Rukia melihat penyelamatnya bergerak buas. Menancapkan taringnya pada strigoi di samping tubuh raksasanya dan mencengkram sekuat mungkin. Teriakan strigoi lebih menyakitkan dan menyamai penderitaan manusia itu sendiri. Bagaimana moncong besar yang kuat itu meremukkan hingga ke tulang.
Serigala itu menggeram rendah kepada empat strigoi tersisa, yang mundur terlalu dalam ke kegelapan. Ekornya mengibas, menandakan area barunya yang tidak akan bisa dimasuki musuhnya. Serigala itu membelakangi Rukia—melindungi dengan segenap kekuatannya.
"Ichigo…" Rukia berbisik, membuat telinga Si Serigala bergerak ringan. Wajahnya tidak menengok, tapi gerak tubuhnya menandakan jawabannya. Dia akan selalu melindunginya, itulah janji yang dipegangnya seumur hidup.
Ichigo—serigala besar berbulu coklat kekuningan, menggeram hingga menampakkan deretan giginya yang mengancam. Matanya berkilat penuh amarah, menantang para strigoi yang bersiap menyerang balik.
Satu strigoi melompat dan menerjang tubuh besar Ichigo. Rukia hampir berteriak saat Ichigo oleng ke samping dan membentur rongsokan besi dengan bunyi keras. Satu strigoi membantu temannya untuk menjatuhkan Ichigo yang mengerang dan berusaha menggigit tubuh mangsanya.
Rukia melihat satu strigoi mengintai dirinya, menampakkan gigi tajamnya seraya berlari cepat. Tanpa berpikir panjang, Rukia bangkit dari duduknya. Memaksakan kaki lemasnya untuk kembali berlari menghindar. Tangannya menyambar potongan besi tajam, sebelum menapaki tangga berikut di pojok ruangan.
Kakinya menapak cepat dan terasa kram. Ketika strigoi itu melompat dan menjatuhkan Rukia dalam sekali sentakan, tangan mungilnya langsung menyentakkan potongan besi tepat ke arah wajah strigoi. Teriakan kesakitan karena besinya menancap tepat di matanya, membuat Rukia sedikit mual akan darah yang keluar. Kakinya mendorong kuat strigoi di atasnya, bergulingan di lantai untuk berusaha mengeluarkan potongan besi dari indera penglihatannya.
Rukia mendengar benturan juga keributan semakin menjadi di bawah sana. Mengintip dari lantai atas apa yang sedang terjadi, melihat pemandangan yang di luar perkiraannya. Ichigo jauh lebih kuat dari strigoi yang menancapkan kukunya di tubuh besar Sang Serigala. Satu strigoi terkapar tak berdaya, dengan leher yang hampir putus.
Ichigo melihat Rukia sedang memandanginya. Sorot matanya tajam, sambil berusaha berkelit dari musuh yang berusaha menjatuhkannya ke atas tanah. Dan mata awasnya mendapati strigoi di belakang Rukia—berdiri oleng dengan besi menancap di sebagian wajahnya.
Ichigo menggeram rendah, sebelum berancang-ancang untuk melompat tinggi. Menggunakan dinding sebagai pijakan, tubuh besarnya mampu mencapai lantai dua di atasnya, menerjang strigoi di belakang Rukia dengan serangan tak terduga. Strigoi yang masih bergelantungan di punggung atasnya terbentur pada dinding karena hantamannya. Pegangannya terlepas dan tubuhnya remuk oleh berat tubuh Ichigo.
Rukia menahan napasnya, memerhatikan Ichigo yang terengah kelelahan. Terdapat darah di punggung juga pelipis kanannya. Kuku kakinya keluar menukik sempurna, juga moncongnya sebagai alat untuk meremukkan tulang lawannya. Telinganya bergerak gelisah dan tubuhnya kembali awas. Dia memerhatikan sesuatu di bawah sana—kebisingan akan hal yang lebih buruk.
Strigoi lebih banyak lagi berdatangan dari bawah tanah. Kemungkinan jalur penghubung dengan saluran air bawah tanah, menjadi akses mereka untuk mengintai daerah kota yang dijaga ketat oleh para werewolves.
Ichigo maju lebih dulu, mendorong ringan tubuh Rukia agar bersembunyi di belakangnya. Rukia merasakan hangatnya bulu itu, sama seperti pertama kalinya Ichigo berubah di hadapannya. Serigala itu sehangat mentari pagi.
Dua strigoi melompat tinggi, bertumpu pada ujung pagar pembatas. Tanpa aba-aba, Ichigo menerjang mereka hingga jatuh ke lantai bawah. Rukia terburu-buru mengambil langkah, melihat apa yang terjadi di bawah sana. Debu pasir memenuhi udara dan pergelutan kembali dimulai.
Tiba-tiba lolongan tinggi terdengar mencekik. Rasanya seperti dililit tepat di dadanya, Rukia merasakan rasa sakit yang menghentakkan jantungnya. Ada yang salah—terjadi sesuatu pada Ichigo.
Rukia segera menuruni tangga menuju ke bawah, tidak peduli berapa strigoi yang menunggunya untuk turun ke dalam perangkap. Semuanya terasa alur lambat terjadi di depan matanya, melihat Ichigo menggeliat kesakitan dan satu strigoi menancapkan sesuatu di kaki depannya. Rukia membelalakkan matanya, merasakan getaran untuk menerjang strigoi itu semampu yang dia bisa.
Dobrakan keras terjadi pada kaca jendela dan pintu depan. Sekelompok werewolves bermunculan dan mengepung tempat itu dengan segera. Para strigoi yang panik segera belarian ke area bawah tanah. Sebagian werewolves lebih cepat dari mereka, menerjang dan menggigit tubuh yang sekeras kayu kokoh sambil mengoyak kuat.
Rukia menggunakan kesempatan itu untuk berlari ke tengah area, di mana Ichigo tergeletak tak berdaya dan sudah berubah ke tubuh manusianya. Telanjang sepenuhnya, melepaskan bulu tebal juga kekuatan liarnya. Napasnya terengah dan tubuhnya mengejang tidak karuan.
Tangan Rukia perlahan menyentuh wajahnya, sambil berlutut duduk di sampingnya. Matanya terpejam erat, wajahnya terlihat pucat menggigil. Rukia menemukan luka di mana strigoi tadi menancapkan sesuatu pada tubuh serigala Ichigo—lengan kirinya, bila dalam wujud manusia. Terlihat membengkak dengan urat biru di sekelilingnya yang timbul seperti aliran sungai bercabang. Racun.
"Ichigo … Ichigo…" panggil Rukia putus asa, merasakan air mata terkumpul di pelupuk matanya. Dia sulit untuk menangis selama ini, bahkan berhadapan dengan strigoi sekalipun. Melihat Ichigo kesakitan di depan matanya, membuat dirinya remuk karena rasa bersalah dan tak berdaya.
Rukia hanya bisa memanggil namanya, sementara membaringkan kepala Ichigo di pangkuannya, berharap rasa sakitnya bisa segera menghilang. Werewolf bisa menyembuhkan lukanya lebih cepat dari manusia biasa, itu yang diketahuinya sebagai sumber harapan. Tapi, kondisi Ichigo semakin memburuk, dengan mata tak fokus dan tangannya mencengkram lengan Rukia kuat. Bertumpu pada gadis itu agar tetap tersadar.
Seseorang muncul di antara keributan yang terjadi di latar belakang. Sang Alpha bersama anggota lainnya, melihat kondisi Ichigo yang berbaring tak berdaya. Rukia bisa melihat Shuuhei dari sudut matanya, mengeluarkan selembar selimut tebal dari ranselnya dan menyelimuti tubuh Ichigo yang tak tertutup sehelai benangpun.
"Racun Devil's Helmet—wolf's bane," ucap Isshin, memerhatika luka di lengan atas Ichigo yang semakin memburuk. "Segera bawa kembali ke markas!"
Beberapa rekan Ichigo terlihat di belakang Shuuhei—Kensei juga Tetsuzaemon. Rukia terlihat panik saat tubuh Ichigo diangkat dan mendengar pria itu kembali mengerang kesakitan. Air mata gadis itu merebak, berusaha menahan tangannya lebih lama lagi.
"Dia akan baik-baik saja," cegah Isshin, menahan Rukia untuk tidak menahan putranya di tempat.
Rukia melihat Isshin yang tak bergeming. Tidak ada emosi lebih, selain kecemasan di kedua mata tajamnya. Bahkan, Sang Alpha sendiri merasakan sesuatu yang buruk mengancam nyawa Ichigo.
"Ikutlah, Rukia." Isshin merangkul bahunya, mengajak gadis itu yang masih terpaku pada sosok Ichigo yang sudah dibawa pergi. Area sekeliling lebih parah dari dugaannya. Darah di dinding besi, tubuh strigoi ditumpuk pada satu tempat, beberapa werewolves masih berkeliaran ke sana kemari.
Rukia mengangguk kemudian, mengikuti langkah Sang Alpha yang menjangkau lebih lebar jarak darinya. Rasa gugup terselimuti oleh penyesalan tak berujung. Seharusnya Rukia tak mendengar keegoisannya sendiri dan membuat situasi semakin memburuk. Membuat Ichigo terluka karena harus melindunginya, juga menjatuhkan mental kelompok werewolf semakin pelik.
Seandainya dia tidak mendengar kata-kata dari mulut berbohong Senna. Seandainya saja, dia lebih memercayai Ichigo dan mengandalkannya lebih dari seharusnya. Mendengarkan apa yang hanya dikatakan oleh pria itu, hanya untuk pria itu. Ichigo menjadi pusat dari kehidupan barunya, tanpa disadari Rukia dan hampir ditolaknya menjauh. Menyangkal sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dengan kata lain ketakutannya.
Sekarang semuanya menjadi lebih nyata. Rasa sakit itu menusuknya berkali-kali, setiap mengingat bagaimana lolongan kesakitan itu mendengung di telinganya.
Apakah Ichigo akan bisa memaafkannya? Dan, haruskah?
…..~*(to be continued…)*~…..
.
.
.
.
.
.
.
Author's note:
Chapter 10's up people! Maaf karena keterlambatan update-nya, karena memang aku sedikit terombang-ambing dari 1 fic ke fic lain. Fic ini lebih ringan dari ficku lainnya, dan emosinya tidak sekental Black Hair Girl. Hufth—jujur aku harus berpikir dua kali sebelum menenutkan sifat Ichigo juga Rukia yang berbanding terbalik dari fic satunya. Dan ditambah chapter ini ada adegan action-nya. Yeahh—siapa yang sudah menunggu? Aku juga sudah gatal ingin mengetik bagian aksinya, walaupun tidak banyak tapi kuharap bisa menghibur kalian.
Chapter ini agak sedikit pendek, memang iya XD. Sebenarnya ini lebih fokus ke emosi Rukia ke Ichigo. Di awal Rukia merasa lebih dekat dengan Ichigo, namun di bagian akhirnya dia kembali mempertanyakan dirinya. Sebenarnya Rukia masih tertutup dengan kedekatannya dengan Ichigo, jadi begitu Senna menyebut masalah tentang Kakaknya, Rukia langsung pergi tanpa pikir panjang. Tapi, setelah chapter ini perkembangan Rukia bakal lebih sensitif dan berbeda cara pandangnya ke Ichigo. Xixixi….
Terima kasih sebelumnya untuk para readers yang selalu membaca fic ini! Kuharap fic ini bisa menghibur kalian semua. Dan untuk para reviewers yang selalu memberi masukan, kesan pesan, kritik saran, terima kasih banyak untuk bantuan kalian! Love u all~ 3 3 3
Penjelasan isi chapter:
Musuh baru! Hollow. Masih serupa dengan manga aslinya, wujud hollow tidak terlihat oleh mata manusia biasa, kecuali makhluk jadi"an. Mereka muncul dari jiwa yang kotor dan meneror manusia maupun kelompok jadi"an lainnya, tapi kemunculannya jarang". Tidak bisa ditebak kapan mereka keluar. Dan yang dikatakan Kokuto benar, karena hollow lebih tertarik dengan kaum fairy.
Strigoi yang menyerang Ichigo menggunakan racun mematikan bagi werewolf. Wolf's bane, nama lainnya Devil's Helmet, sebenarnya tanaman ini memang ada dari genus aconitum, bisa membunuh manusia yang mengkonsumsinya dalam waktu 6 jam saja. Kalau kalian suka menonton film supranatural yang membahas werewolf, pasti tahu dengan tanaman satu ini. Di fic ini, wolf's bane bisa melumpuhkan werewolf dan mengubah wujud serigalanya kembali menjadi manusia. Bila tidak cepat ditangani, werewolf yang terkena racunnya bisa sekarat dan melumpuhkan jaringan transformasinya. Kasus terburuk, kematian TAT…
.
.
Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:
adin: Terima kasih untuk reviewnya! Action nya baru muncul di chapter ini, kuharap bisa memuaskan. Sudah kuupdate, maaf ga bisa cepat sebelumnya.. huhu.. Makasih untuk semangatnya
Snow: Terima kasih sudah mereview! Wkwkwk Mereka belum sadar aja XD, makanya masih sekedar dekat" tapi malu" gitu. Ahhh… tebakanmu belum bisa aku jawab *galau* wkwkkw mungkin aja Rukia Yuki no Crystalnya, atau mungkin aja ada kaum fairy lainnya.. Ahhh… jangan buat aku gigit jari XD masih rahasia pokoknya… hahaha.. Ini sudah ada lanjutannya, semoga kamu suka ya. Soal Hitsugaya itu masih belum aku pertimbangin :D
Ayuu: Terima kasih untuk reviewnya! Hahahha… boleh" nanti giliran sama Rukia XD Jadi tukang ojek donk si Ichigo #plak Senna memang suka seenaknya sendiri.. hihihi Di chapter ini juga ada kok scene Senna dan Rukia, walaupun ga berniat cakar"an kaya yang kemarin XD Terima kasih buat semangatnya~
dearest: Terima kasih untuk reviewnya! Hihihi… makasih juga buat semangatnya :D
uzumakisanti: Terima kasih untuk reviewnya! Makasih sudah menunggu lama ya, juga chapter baru ini agak lama updatenya TAT… Aksi menegangkannya ada di chapter ini loh~ fufufu… Semoga suka dengan chapter terbarunya!
uchiha ulin: Makasih buat reviewnya! Yup! Kan Ichigo penggemar berat es krim.. wkwkkw Dia udah mau mulai berbagi ke Rukia, mencuri" kesempatan XD hahahha bisa dibilang begitu, kissu ga langsung. Ini sudah kuupdate semoga kamu suka ya!
ella mabby chan: Terima kasih untuk reviewnya! Hahaha… hubungan mereka masih hambar" sedikit manis XD Kapan ya Ichi mulai sadar? Seiring berjalannya chapter #plak Di chapter ini nanti bakal memengaruhi perasaan mereka berdua buat ke depannya kok. Rukia memang tipe cewe kejam di sini, serem… Aksinya ada di sini, semoga kamu suka ya~
darries: Makasih buat reviewnya! Cie cie… Rukia~ wkwkwk Rukia dongkol liat Senna seenaknya, tapi perasaan dia ke Ichigo masih tertutup :D Belum kelihatan jelas. Ichigo suka muncul tiba", udah sifat bawaannya kali ya… Masalah identitas Rukia nanti akan diungkap, walaupun masih sedikit lama… xixiix Semoga suka dengan chapter terbarunya ya!
Playlist:
Ry Legit- Rampage
Fall Out Boy- Alpha Dog
Jack Trammell- Catastrophic, Stand And Become Legendary
Borgeous and Tony Junior- Break The House
B. O. B feat. Hayley Williams- Airplanes
Far East Movement feat. Sidney Samson- Bang It To The Curb
These songs don't belong to me…
