Summary :

Setiap waktu, setiap detik.. Kau bukan indigo yang bisa membaca apa yang kupikirkan.

Aku bahkan lebih memilih berpura-pura tidak tau agar tidak menderita hingga akhir nafasku.

Cast :

Byun Baekhyun

Wu Yifan

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Xi Luhan

Byun Baekbeom

Etc..

.

.

Thanks for all supports.

Wish you like this story.

Don't forget to review and don't be plagiator.

The story is 100% mine.

Thank you.

.

.

.

.

.

Day 2260

"Kumohon jangan gantikan Baekhyun. Kumohon percayalah Baekhyun akan bangun dan muncul di konser itu. Kumohon. Sedikit lagi saja. Baekhyun berusaha begitu keras untuk ini semua. Ku mohon dengan sangat. Kau pun mengakui vocal Baekhyun. Dia pasti sadar. Dia masih ingin hidup. Kau pasti bisa merasakannya kan? Dia pasti bangun!" Chanyeol terjebak dalam harapannya yang mungkin sulit dibenarkan secara logika.

Di sisi lain Miyoung masih terus menatap tubuh Baekhyun yang berbaring tak berdaya. Begitu miris. Sejauh ini yang ia tau adalah tidak ada harapan lagi untuk Baekhyun. Bahkan ia mulai berpikir bahwa alat-alat penopang kehidupan itu mulai dicabut. Tapi ia bisa membayangkan betapa hancurnya Chanyeol untuk itu. Dalam isak tangisnya, seluruh implus di otak Miyoung masih cukup tajam untuk menyadari pergerakan jari-jari Baekhyun yang begitu lemah, namun itu sangat berarti untuk mereka yang berharap Baekhyun bangun.

Dalam gerakan cepat Miyong mengambil senter di dalam saku jasnya dan segera memeriksa pupil Baekhyun setelah menekan tombol darurat untuk memanggil perawat. Dalam hitungan detik dua orang perawat dan seorang asistennya sudah berada di sana.

"Dia masih ingin hidup," gumam Miyoung pelan. Ia tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum.

Baekhyun merespon. Baekhyun sadar. Ia bangun. Mereka semua segera melakukan tindakan demi menjaga agar keadaan Baekhyun tetap baik.

Kris dan Zitao datang ketika ruangan itu masih penuh. Alis tebal Kris berkerut cemas. Sebuah ketakutan besar menghantuinya dalam bayang-bayang tak nyata yang seolah menyita seluruh tenaganya hingga menahan kantung plastik belanjaannya pun ia tak mampu. Suara kaleng soda yang bergelindingan menggema jelas di lorong sepi itu. Dalam kelembutan Zitao menggenggam erat tangan Kris yang gemetaran.

Beberapa menit kemudian Miyoung keluar dari ruangan Baekhyun dan menyadari keberadaan Kris yang sudah menantinya dengan sangat cemas di kursi tunggu. Ia melemparkan seulas senyum sebagai pertanda bahwa yang terjadi adalah sesuatu yang baik. Tidak sabar mendengar apa yang terjadi, Kris dan Zitao langsung bangkit dan menyerbu Miyoung. Mimik wajah mereka sudah menjelaskan dengan baik pertanyaan yang akan mereka ucapkan.

"Baekhyun sadar. Ia melewati masa kritisnya. Dia masih ingin hidup, Kris. Dia berjuang sangat keras,"

Seperti menemukan seorang bayi untuk dirawat, Kris langsung memeluk Zitao yang berdiri di sampingnya dan menangis. Kris kelewat bahagia atas seluruh kecemasannya beberapa menit lalu.

"Dia ingin bicara denganmu, Kris. Tapi tolong jangan biarkan dia bicara terlalu banyak. Tubuhnya masih lemah,"

Sebuah anggukan mengakhiri perbincangan singkat mereka. Dengan langkah buru-buru Kris berlari menuju tempat dimana Baekhyun terbaring begitu lemah. Matanya merespon kehadiran Kris dan Zitao. Seulas senyum begitu dipaksakan mengembang lebar ketika Kris menggenggam tangannya gemetaran. Air mata mereka merembes dalam kesunyian tengah malam yang begitu dingin.

"Jangan hawatir, aku akan hidup," sepatah kalimat yang diucapkan Baekhyun dengan susah payah membuat hati Zitao miris dan merinding. Entah bagaimana perasaan itu mulai muncul dalam hatinya. Sebagaimana yang dirasakan Kris, Zitao mulai merasakan ketakutan itu. Perasaan takut kehilangan abadi akan orang yang ia sayang.

.

.

.

.

.

Day 2264

Hari dimana konser diselenggarakan tiba. Baekhyun memaksakan diri untuk tampil walau Miyoung mengatakan tidak. Tapi apa yang bisa dilakukannya ketika semua menatapnya dengan tatapan memohon yang sangat ia benci. Satu-satunya opsi yang dapat ia sepakati dengan Baekhyun dan Chanyeol adalah Baekhyun hanya akan tampil satu kali dan mereka sudah menyiapkan ambulance untuk antisipasi beserta Miyoung yang harus menjamin keadaan Baekhyun. Mereka sepakat dan mereka semua pergi hari itu. Jongin, Kyungsoo, Sehun, Luhan, Kris, Zitao, Chanyeol, Miyoung; semua mendapat kursi VIP khusus untuk pertunjukan ini. Tapi Chanyeol dan Miyoung memilih untuk berdiri di sisi panggung untuk antisipasi hal apa saja yang mungkin terjadi pada Baekhyun.

Dan di sinilah mereka; sebuah ruang tata rias yang penuh dengan kostum, alat make up, dan orang-orang yang sibuk mondar-mandir dengan langkah buru-buru. Chanyeol tersenyum lembut melihat betapa tampannya Baekhyun dalam make up natural yang tipis dan balutan setelan kemeja putih dengan blazer hitam bercorak silver serta balutan celana hitam skinny yang melekat pas di tubuh apiknya. Dalam sebuah pertahanan yang rapuh air matanya menggenang seolah ia sedang menghadapi kematian kekasihnya yang hanya tinggal menghitung waktu. Kekuatan harapannya seolah mulai melapuk oleh keputus asaan. Matanya semakin memerah ketika satu per satu tamu special mereka menghampiri untuk memberikan ucapan selamat dan beberapa buket bunga yang tampak indah dan segar.

Sementara itu Baekhyun justru terlihat kebalikan dengan Chanyeol. Ia terlihat sangat bersinar dan ceria hari ini. Seperti menemukan hari baru yang tak akan pernah berakhir. Ia sama sekali tidak perduli akan kematian yang akan datang kapan saja tanpa permisi dan seijinnya. Ia hanya merasa bahagia dapat tiba di titik ini.

"Kenapa aku tidak bertemu Luhan-hyung?" tanya Baekhyun setengah bergumam pada Chanyeol.

"Dia sudah kembali ke China. Dia mengajukan surat pengunduran diri semalam," jawab Sehun datar yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang keduanya.

"Ke— ke China? Lalu kali—"

"Selesai," jawab pria tinggi berambut blonde itu setengah menghela nafas dengan berat.

"Tidak, sesuatu pasti ada yang salah. Aku sangat mengenalnya dengan baik. Aku harus menelponnya sekarang juga,"

Baekhyung hampir saja beranjak jika saja Sehun tidak menahan tangannya. Dalam kekecewaan yang berusaha ia sembunyikan.

"Aku juga mengenalnya dengan baik. Aku pacarnya. Tidak semua alasan dapat diucapkan, Baek,"

.

.

.

.

.

Dalam kegelisahan dan kekecewaan atas sikap Luhan yang tidak ia mengerti, Baekhyun mencoba tetap fokus dan profesional.

Giliran Baekhyun tiba. Rasa sakit yang mulai menggerayangi seluruh tubuhnya ia coba tepiskan. Sudah cukup ia membuat masalah selama ini. Tekat atas impiannya yang telah menyusahkan banyak orang, ia harus menyelesaikannya sekarang juga. Banyak orang telah berusaha keras demi impiannya, ia tidak ingin mengecewakan harapan mereka yang telah mempercayainya dan mendekatkannya pada impian itu.

Ia tampil setelah Yiruma mengantarkan audience pada lagu River Flow In You yang sangat emosional sebagai pembuka. Menghela nafas ketika gugup adalah teknik yang selalu Yiruma ajarkan ketika mereka berlatih bersama. Walau setenang apapun, ketika berada di atas panggung dengan ratusan penonton tetap akan memberikan tekanan tersendiri yang sudah jadi hal pasti terjadi padanya.

Setelah hitungan tiga beriringan dengan alunan piano merdu dan suara backing vocal pengantar lagu Kiss The Rain, ia mulai bernyanyi. Alunan vokal yang begitu pas untuk menyanyikan lagu patah hati yang diiringi melodi melankolis piano lihai seorang Yiruma. Seluruh ruangan begitu hening. Membiarkan bagaimana lagu itu menyentuh syaraf sensitif mereka dan mengalun merdu.

Dalam sunyinya konser, Chanyeol menangis dalam diam di sisi kiri panggung dimana ia dapat melihat penampilan Baekhyun dengan baik di balik tirai merah tua. Miyoung menepuk lembut bahunya yang terus bergetar.

"Dia masih ingin hidup. Percayalah,"

.

.

.

.

.

Day 2272

Mereka terbang ke New York untuk rekomendasi Miyoung dan mengunjungi Baekbeom. Gambaran apartment tempat tinggal Baekbeom tidak pernah berbeda dengan tempat tinggal yang ayah mereka selalu pilih untuk ditinggali. Sebuah apartment mahal yang sangat membosankan tempat orang-orang sibuk hanya menumpang tidur dan mandi. Itulah kenapa Baekhyun benci New York. Di sana jauh lebih sumpek dari pada Seoul.

Kehadiran mereka berdua disambut ramah oleh Baekbeom yang sudah mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari. Chanyeol terpukau akan kemiripan sepasang saudara ini. Mereka terlihat seperti kembaran. Polosnya ekspresi Chanyeol yang masih terekam dengan baik oleh otak Baekbeom membuat dua bersaudara Byun ini terkekeh bersama. Well, hanya Chanyeol yang pikun di antara mereka ketika dua bersaudara itu memiliki ingatan yang tajam tentang hari-hari ketika mereka berlarian bersama di bawah matahari yang hangat.

"Hyung, bolehkan aku tidur denganmu?"

Tanpa mengetuk pintu si bungsu masuk ke dalam kamar kakaknya yang masih terang akan cahaya lampu meja yang masih berpendar setia menemaninya bekerja di malam yang selarut ini.

"Kau belum tidur?"

Baekhyun berjalan mendekat dan menyadari apa yang sedang dilakukan kakaknya. Setumpuk dokumen berisi lembaran-lembaran kertas dengan tinta-tinta dan beberapa ada yang berisi coretan tangan Baekbeom.

"Kau akan menikah?" Baekhyun tersentak kaget melihat nama Baekbeom tercetak di sebuah desain undangan yang tergeletak di atas meja kerjanya.

"Kau tidak memberi tauku apa-apa tentang ini," seulas senyum Baekbeom meluluhkan Baekhyun yang sedikit marah. Sebuah nama tercetak berdampingan dengan nama Baekbeom. Jung So Min. Alisnya mengernyit membaca nama yang bahkan belum pernah ia dengar dari saudaranya sebelumnya. Mereka sangat terbuka, tapi sepertinya tidak untuk kali ini.

"Kemana Albee Huang-mu itu? Kupikir wanita Taiwan itu sangat cocok dan serasi denganmu,"

"Kau tidak selalu menikahi pacarmu, Baek,"

"Dia selingkuh?"

"Aku yang menghianatinya," di situlah Baekhyun merasa ini bukanlah topik yang baik untuk mereka bahas di malam selarut ini. Jadi mereka memutuskan untuk mimilih tidur sebagai pilihan terakhir untuk mengakhiri perdebatan ini.

.

.

.

.

.

Mereka membahas itu keesokan paginya. Chanyeol juga sangat terkejut tentang pernikahan Baekbeom yang hanya tinggal dua minggu lagi. Menurutnya itu terlalu terburu-buru dengan persiapan yang hanya dilakukan dalam sebulan.

Dan Baekbeom mulai menanyakan pada Chanyeol ketika ia tidak melihat adiknya pulang selama tiga hari lebih. Baekbeom mulai mendesaknya untuk membawanya ke tempat Baekhyun berada setelah ia mulai bosan dengan alasan Chanyeol yang berbeda-beda setiap harinya. Ia seorang lulusan S2 diusia 25 dengan IQ lebih dari 125; Chanyeol tidak cukup pintar untuk mengelabuinya.

Sialnya Baekhyun mendapat jadwal operasi tepat sehari sebelum hari pernikahan Baekbeom. Kakak Baekhyun memukuli Chanyeol hingga babak belur karena menyembunyikan rahasia sebesar ini darinya. Wajar jika ia marah. Chanyeol tidak akan membalasnya sama sekali. Di dunia ini hanya tinggal Baekhyun-lah keluarga yang Baekbeom punya. Hanya Baekhyun harta yang tersisa untuknya. Bahkan hanya demi Baekhyun-lah alasan ia memutuskan untuk menikahi seorang Jung So Min yang tidak pernah ia cintai. Wanita itu memang baik. Wanita itu memang cantik dan polos. Tapi tidak cukup untuk membuatnya jatuh cinta.

Baekhyun dalam kesadaran seratus persen ketika Baekbeom dan Jung So Min menjenguknya sehari sebelum pernikahan mereka. Jung So Min terlihat sangat manis dan perhatian. Hatinya begitu tulus. Mereka terjebak dalam kecanggungan seperti orang asing karena kekecewaan yang berkecamuk dalam hati Baekbeom. Tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari mulut Baekhyun maupun Baekbeom. Bahkan So Min mulai merasa tidak nyaman dengan kesunyian canggung ini.

Chanyeol dan Jung So Min memutuskan untuk pergi mencari makan siang untuk memberikan privasi agar dua bersaudara itu saling bicara.

"Aku tidak akan bisa hadir di upacara pernikahanmu, hyung,"

"Jika Chanyeol tidak memberi tauku, sampai kapan kau akan menyembunyikan ini dariku?!"

"Hingga aku mati,"

"…"

"Aku menemui Albee Huang sebelum ke sini. Perusahaan kita terus berjalan karena bantuan perusahaan keluarga Jung So Min. Kau berhutang budi dan dia menyukaimu. Karena itulah kalian menikah. Kau sudah terlalu banyak menderita sejak ibu meninggalkan rumah. Aku tau meninggalkan orang yang kau cintai untuk menikah dengan orang lain bukanlah hal yang menyenangkan, hyung. Aku tidak bisa tiba-tiba datang dan mengatakan padamu aku sekarat sementara kau sedang terluka,"

"Tapi—"

"Kau mau aku mengatakannya?! Ya! Ya! Aku sekarat! Setiap hari aku takut tidak sempat memberi taumu dan tiba-tiba kau menemukan tubuhku sudah di dalam peti mati! Aku benci ketika aku juga tidak tau apa-apa dan tiba-tiba menemukan berita kematian ayah dari artikel orang-orangku! Aku takut meninggalkanmu, hyung,"

Bahunya bergetar hebat. Baekbeom memahami apa yang dirasakan adiknya. Ia mengerti alasan Baekhyun dengan baik. Sengatan-sengatan listrik serasa mulai menyetrum seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Air mata Baekbeom menetes. Bahkan air mata itu tidak keluar di hari pemakaman ayahnya.

.

.

.

.

.

Tadaaaa! :D

Mianhae baru mengupdate setelah berbulan-bulan yg aku perkirakan hehehe

Terima kasih untuk setiap review, komentar, dan penantiannya.

Author sangat terharu unnnn… ^0^

Jangan lupa tinggalkan lebih banyak review agar author lebih semangat mengupdate ff nya yaaa.

Gomawo.