"kenapa kau menungguku?" tanya Mark dingin.

"karena.. yah, memang tidak ada hal yang bisa kulakukan selain menunggumu." Jawab Bambam pelan.

"kau pikir aku siapamu? Yakin sekali aku akan datang, huh?"

"aku sama sekali tidak yakin kau datang. Karena aku sadar aku bukanlah siapa-siapamu."

"lalu kenapa kau tidak pulang?"

"aku menunggumu untuk latihan hari ini."

"jika dalam lima menit setelah bel berbunyi aku tidak juga datang, itu artinya aku tidak akan datang. Jangan menungguku."

"mana ku tahu?" Bambam mempoutkan bibirnya kesal, penantiannya berakhir sia-sia.

Mark Tuan ini kenapa seenaknya sendiri? Bukankah seharusnya, kalau dia membatalkan latihan, dia harus memberitahu Bambam?

"kau membuatku khawatir, bodoh."

.

.

.

.

GOT7 © JYP

Player © Fea Zee

MarkBam fanfiction with slight JackBam and JaeJin.

Mark and Jaebum : 19 years; Jackson and Jinyoung : 18 years; Yugyeom and Bambam : 17 years

Backsong : Lee Hi – Rose & BTS – I Need U

Ada beberapa kata-kata kasar didalamnya. If you don't like the pairing or the story, please click 'back' or 'close'. Stay away from this fanfic.

.

.

.

.

"jadi.. kenapa kau datang?"

Suara Bambam memecah sunyi diantara suara hujan yang memenuhi mobil milik Mark.

"padahal awalnya kupikir aku akan tidur di sekolah."

Sedari tadi Bambam bicara, dia tidak mendengar sedikitpun suara yang keluar dari bibir Mark. Mark tidak menanggapinya sama sekali.

"apa mungkin kau.." Bambam menatap Mark penuh selidik.

"apa?" akhirnya Mark menjawab. Mengalihkan pandangannya pada Bambam ketika traffic light menyalakan warna merah.

"apa kau.." Bambam kembali menggantungkan kalimatnya.

Kepala Mark mundur beberapa senti ketika wajah Bambam mendekat pada wajahnya. "apa kau, apa?"

"..menyukaiku?"

Mark tersedak ludahnya sendiri. Bambam yang menatapnya sambil memicingkan mata membuatnya tertawa—mengejek—. Sepertinya tingkat ke-percayaan diri Bambam sudah melebihi batas wajar.

"kau gila?"

"mengaku saja. Kau menyukaiku, 'kan?"

"menjauh dariku."

Mark mendorong Bambam menjauh lalu kembali menjalankan mobilnya. Hanya karena Bambam, Mark mendapatkan hadiah bunyi klakson dari kendaraan lain yang menunggunya berjalan —karena lampu hijau telah menyala—.

Sialan, kenapa tiba-tiba jantung Mark berdetak dua kali lebih cepat? Apa karena udara yang dingin? Atau mungkin karena dia hanya berdua saja dengan Bambam di mobil dengan suara hujan ini?

Mark memilih opsi pertama sebagai jawaban.

Dia tidak akan pernah mau mengakui bahwa jantungnya berdetak lebih cepat karena Bambam —walaupun memang itu jawaban sebenarnya.

Handphone Bambam berbunyi, menunjukkan seseorang sedang menelponnya. Setelah melihat siapa yang menelpon, Bambam segera mengangkat teleponnya.

"halo?"

"…"

"tapi dia terlihat berbeda hari ini."

"…"

"Mai ao (tidak mau)!"

"…"

"tapi aku—"

"…"

"aku tidak berani mengatakannya pada dia." Bambam memelankan suaranya. Takut-takut Mark mendengar.

"…"

"hm, begitu?"

"…"

"Chài~~!"

Lalu sambungan telepon diputus sepihak oleh Bambam setelah dia mengiyakan—walau sebenarnya dia tidak setuju—.

Huh, menyebalkan sekali! Di saat Mark terlihat tidak ingin bicara dengannya, dia justru diminta oleh ibunya—dan ibu Mark— untuk bertanya apa yang terjadi pada Mark. Kata ibunya, sepulang sekolah Mark hanya berdiam diri dikamar dan hanya keluar satu kali —untuk menjemput Bambam.

"Mark hyung.."

Ah!, Bambam mengutuk dirinya dalam hati. Kenapa aku memanggilnya hyung? Bagaimana kalau dia tidak suka? Bodoh., lanjutnya.

"hm?"

"ma-maukah kau mengantarkanku.. ke sebuah tempat?"

Pabopabopabo! Kenapa dia jadi gugup begini?

"kemana?"

Katakan saja, Bambam. Katakan!, Bambam menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

Sepertinya, untuk kasus kali ini dia harus sedikit merubah dirinya. Dia harus bersikap seperti dulu, seperti ketika rasa penasarannya belum datang. Kemungkinan terburuk jika dia kembali seperti dulu adalah Mark akan kaget. Atau bahkan Mark akan menganggap Bambam berkepribadian ganda. Ah, Bambam tidak peduli. Hanya menunjukkan hal ini pada Mark bukanlah hal yang buruk. Yang terpenting adalah dia mengikuti kata ibunya yang sudah dia setujui—dengan—terpaksa—.

"aku.. ingin makan tteobokki."

"tteobokki? Hujan-hujan begini?"

"hu'um. Antar 'kan aku, ya?"

Mark melirik Bambam sekilas. Mulai merasa aneh dengan sikap Bambam. Tidak biasanya Bambam seperti ini, apalagi terang-terangan menggunakan nada manja padanya.

"kau sakit, Bam?"

"aish, hyung~ aku serius."

"Bam, kau menakutiku. Kembalilah pada dirimu yang biasanya."

"ck. Apa susahnya mengikuti apa mauku, brengsek?"

Mark kembali terkejut. Baru saja dia meminta Bambam kembali seperti biasanya dan itu benar-benar terjadi. Apa mungkin Bambam sedang mabuk? Kebanyakan orang selalu berubah ketika dia mabuk. Tapi kalau memang benar Bambam mabuk, apa yang dia minum di sekolah? Atau mungkin Bambam memang sedang sakit —seperti pertanyaan Mark tadi—? Sampai-sampai dia lupa dia sedang berada dikeadaan apa dan dengan siapa?

"kau benar-benar kembali."

"Mark hyuung~ jangan banyak protes dan antar aku membeli tteobokki."

Mark berharap orang yang duduk disebelahnya itu benar-benar seorang Bambam. Raga maupun jiwa-nya, Mark berharap itu benar-benar Bambam yang dia kenal.

"asalkan kau menjawab pertanyaanku." Mark memberi syarat.

"apa?"

"siapa yang menelponmu? Kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini?"

Ah, sial! Kenapa Mark harus menanyakan hal ini? Mana mungkin Bambam terang-terangan memberitahunya? Bisa-bisa Mark malah marah padanya.

"ibuku. Dia bilang.. di rumah—mu— makanannya sudah habis, jadi dia menyuruhku untuk membeli makan diluar." Jawab Bambam setengah jujur dan setengah bohong.

"dan kau berpura-pura menjadi baik agar aku mengantarmu?"

"tidak! Aku sebenarnya—" Bambam berhenti. Hampir saja dia memberitahu Mark apa yang sebenarnya dikatakan oleh ibunya.

"sebenarnya apa?"

"aku sebenarnya.. kalau lapar aku memang akan menjadi seperti ini. Jangan mengira aku seperti ini karena aku ingin mendekatimu apalagi menggodamu."

"aku tidak pernah berpikir kau ingin menggodaku. Jangan-jangan—" Mark melirik Bambam, "—kau memang sebenarnya ingin menggodaku, hm?"

Wajah Bambam memerah. Sialan, kenapa Mark malah membuat Bambam terjebak pada kalimatnya sendiri?

"aish, cerewet. Fokus saja pada jalanmu agar kita cepat sampai. Aku sudah sangat lapar."

Sebenarnya siapa yang cerewet disini?, batin Mark protes.

Seumur hidup, baru kali ini ada yang mengatakan Mark cerewet. Padahal sebenarnya, Bambam jauh lebih cerewet darinya. Mungkin, Bambam saja yang tidak tahu diri. Ups.

Beberapa menit kemudian, Mark memarkirkan mobilnya didepan sebuah toko penjual tteobokki yang biasa didatangi oleh ibu Mark —beberapa puluh meter dari pinggiran sungai Han—. Menurut ibu Mark, ini adalah toko tteobokki terenak di Seoul. Mark yang tidak terlalu menyukai tteoboki hanya mengiyakan apa kata ibunya.

"cepat turun."

"ambilkan aku payung."

"untuk apa?"

"agar aku tidak kehujanan, tentu saja." Mark tertawa pelan mendengar jawaban Bambam, "yah! Apa yang lucu?"

"kau tidak lihat? Disini tidak ada sedikitpun air hujan yang turun."

Bambam melirik keluar jendela dan sedetik kemudian wajahnya memerah menahan malu. Sialan, apa yang ada dipikirannya sampai-sampai tidak melihat kalau didaerah sungai Han ini tidak hujan? Dan ngomong-ngomong, kenapa hujan hanya turuh disekitaran sekolahnya?

Suara debaman pintu mobil yang ditutup membuat Bambam kembali sadar. Bambam cepat-cepat ikut keluar dari dalam mobil yang mengikuti Mark yang terlebih dulu berjalan mendekati sang penjual.

"kau juga suka tteobokki?" tanya Bambam ketika dia sudah berdiri tepat disebelah Mark.

"tidak. Aku lebih suka sup."

"jeongmal? Aku juga." Bambam tersenyum lebar.

Mark kembali menatap Bambam heran—horor—dan bingung. Bambam benar-benar berbeda dari yang biasanya. Bambam yang seperti ini membuatnya takut. Dia bahkan sempat berpikir Bambam ini adalah seorang psikopat yang sudah benar-benar muak dan berpura-pura baik pada Mark lalu akhirnya akan membunuh Mark.

Oh, sepertinya sifat berlebihan Bambam sudah menular pada Mark.

"kakimu sudah sembuh?" tanya Mark menutupi kegugupan—ketakutan—nya

"entahlah," Bambam melirik kakinya lalu sedikit menggerakkannya, "tapi sepertinya sudah. Tadi siang memang terasa nyeri, tapi entah kenapa sekarang rasanya baik-baik saja."

Sambil tersenyum, Bambam menerima wadah sterofom berbentuk mangkok yang berisi tteobokki dari sang penjual. Memasukkan satu potong tteobokki kedalam mulut, Bambam memejamkan matanya; menikmati setiap rasa yang menyapa lidahnya. Sudah lama sekali dia tidak makan tteobokki seperti ini.

"mashitta~" guman Bambam.

Mark tidak salah memilih tempat. Tteobokki ditempat ini memang terasa paling enak dari semua tempat yang—dulu— pernah Bambam datangi.

"err.. Bambam?"

Bambam yang sedari tadi menikmati tteobokki-nya sambil memejamkan matanya langsung membuka matanya ketika dia mendengar Mark memanggil namanya.

"ada apa?"

"kau.. sedang apa?" tanya Mark. Terdengar aneh ditelinga Bambam.

"makan tteobokki, tentu saja."

"tapi wajahmu seperti—"

"ada apa? Sausnya mengenai pipiku?" Bambam mengusap sekitaran bibir dan pipinya untuk mengecek apa ada sesuatu disana..

"bukan itu. Tapi saat kau makan tteobokki, wajahmu terlihat seperti—" orang yang sedang menikmati klimaksnya, Mark melanjutkan dalam hati.

.

.

.

Bersambung…

Jangan timpukin Zee abis baca kalimat terakhir pls XD Zee ngeblank nulisnya XD Huaaaa Zee seneng banget review, fave, sama follow-nya nambah XD makasih banyak ya buat yang udah baca, suka, review, fave, sama follow Player ini XD

Oh iya, Zee jawab yang banyak ditanyain sama yang bisa dijawab(?) aja ya? XD

Zee, Mark kenapa negbatalin latihan? duh, itu sebenernya kak Mark gada kepentingan apa-apa kok. dia cuma ada "masalah". dan sayangnya gak diceritain disini e.e gamau kepanjangan dan jatuhnya ngebosenin e.e

Zee, pendek banget sih? Panjangin dong! gabisaaaa e.e ide-nya Zee mentok disini dan emang gamau kepanjagan (takut bikin bosen) e.e Maafin Zee -3-

JaeJin itu siapa? itu kak Jaebum sama Kak Junior._.

Zee, chap tambahan buat JackBam dong! gabisa janji e.e Zee gatau harus dimasukin dimana 'chap tambahan' itu e.e maaf /bow

Last word,

Review, please?