Blank Screen
Isogai benar-benar tidak bisa menempatkan dirinya di sekeliling Kirara. Tapi ia cemas. Entah kenapa wanita itu berubah. Dan Isogai ingin mengawasinya, karena ia merasa jika ia lengah sedikit, wanita itu akan lenyap.
Saat itu seseorang menutupkan pintu mobilnya.
"Kau temannya Hazama-san?" tanya pria berambut pirang madu kecokelatan. "Aku Ikeda, tetangga apartemennya. Apa kalian bertengkar?"
"Bukan…ah," Isogai tertawa kecil. "Aku mencemaskannya. Apa kau lama mengenalnya?"
"Tidak, aku baru pindah ke sini…" Ikeda memandangi Isogai dari jendela mobil. Pria berambut hitam itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyalakan mobil dan pergi, jadi Ikeda membuka pintu mobil dan masuk.
"Maaf, aku ingin menanyakan sesuatu," ujarnya. "Apa yang kau cemaskan soal Hazama-san?"
Isogai terdiam sejenak, separuh heran dan separuh merasa lebih tenang dengan kehadiran Ikeda. Diperhatikannya penampilan pemuda itu, dan ia merasa pria ini tidak akan mendadak menikamnya dengan pisau lipat.
"Dia berubah…menjadi sangat aneh. Aku merasa…" Isogai menghela napas, akhirnya menemukan apa kata yang tadi hilang dari ujung lidahnya. "Aku merasa Kirara Hazama tidak merasakan bahagia."
Ikeda memandanginya sejenak, dan Isogai pun lamat-lamat meneruskan dengan versi singkat bagaimana Kirara Hazama bermimpi menjadi penulis yang sukses.
"Dan ia meraih impiannya. Awalnya aku rasa ia berkelit bahwa ia bukan orang yang ekspresif, dan lama-lama ia semakin…menjauh. Ia seperti tidak peduli dengan apapun, namun ia menunjukkannya dengan berdalih seakan peduli. Ia memberiku pena miliknya," Isogai menunjukkan pena yang selalu ia bawa di kantong kemejanya. "Ini adalah pena keberuntugannya yang ia gunakan untuk menulis kerangka novel. Hadiah dari gurunya sewaktu SMP. Ia berikan begitu saja seakan ini bolpoin BIC."
"Lalu ia memberiku semua buku-bukunya untuk disumbangkan. Ia juga memberikan royalti yang ia dapat ke Afrika. Ia memberikan mobilnya hampir gratis begitu saja pada Maehara…"
Ikeda menoleh melihat sebuah taksi yang tiba di belakang mobil Isogai. Ia menoleh pada Isogai yang terdiam sejenak.
"Apakah…Apakah Hazama-san mau pergi?"
"Ya…ia mau liburan ke Belanda."
Ikeda buru-buru membuka pintu. Ia bergegas menuju taksi dan sepertinya menyuruh supir taksi tersebut pergi, namun Isogai melihat Kirara telah keluar dari apartemen membawa kopernya yang kecil.
"Apa yang kau lakukan, Ikeda-san?" Kirara bertanya, bergegas, namun ternyata taksi yang ia pesan telah pergi.
Isogai pun turun dari mobilnya dan menghampiri keduanya yang sepertinya berdebat.
"Aku tahu kau mau pergi ke mana dan apa yang akan kau lakukan..."
"Ya? Itu bukan urusanmu."
"Hazama-san, bukannya kau harusnya berangkat besok untuk ke Belanda?" Isogai akhirnya menengahi mereka dengan suaranya.
Kirara menatapnya dan hendak membual demi menyelamatkan dirinya dari situasi ini, namun Ikeda mendahuluinya.
"Dia mau bunuh diri."
