Not Just Babysitter
Chapter 10
Main Casts : Oh Sehun, Xi Luhan (GS), Oh Haowen (OC)
Support Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Family, Romance
Length : Multichapter
2016©Summerlight92
Makan malam yang seharusnya terasa menyenangkan, nyatanya tak jauh berbeda dengan suasana di area pemakaman.
Sepi.
Tak ada satupun orang dewasa di ruang makan kediaman keluarga Oh itu yang mengeluarkan suara mereka. Hanya suara dentingan dari peralatan makan yang memenuhi ruang makan, ditambah celotehan khas milik Haowen dan Taeoh. Anak-anak jelas tidak mengerti situasi yang terjadi antara para orang dewasa, sehingga mereka dengan leluasa tetap bersenda gurau satu sama lain.
Tuan Seunghwan dan Nyonya Nayoung saling memandang. Hal serupa juga dilakukan oleh dua pasangan lainnya, Yunho-Jaejoong dan Jongin-Kyungsoo. Mereka kompak melirik Sehun yang sedari tadi terus mengeluarkan aura hitam ke seluruh penjuru ruangan.
Seperti tengah menonton adegan dalam drama yang menegangkan, keenam orang itu pun beralih melirik Luhan.
Dari luar pembawaan Luhan tampak tenang. Ia menikmati hidangan makan malam tanpa berkomentar apapun. Mereka sebenarnya sudah bisa menebak, Luhan luar biasa gugup sekaligus takut karena Sehun yang membuat suasana di ruang makan berubah mencekam.
Tanpa dikomando, secara kompak enam pasang mata itu bergulir memandangi sosok pria yang duduk di paling ujung meja makan. Di antara semua orang yang ada di dalam ruang makan, sangat jelas hanya dia satu-satunya yang paling cuek. Tidak peduli dan seolah tak mempermasalahkan pandangan tajam Sehun yang sejak tadi dilayangkan untuknya.
"Yunnie~"
Yunho menoleh, ia menatap Jaejoong yang baru saja memanggil. "Apa?" tanyanya terheran mendapati wajah cemas sang kekasih.
"Aku mengkhawatirkan Sehun." Jaejoong memang tipe orang yang peka. Ia dengan mudah bisa membaca situasi yang ada di sekitarnya.
Yunho terdiam sejenak, sebelum akhirnya ikut memandangi Sehun yang entah sejak kapan terus menatap Yifan dengan aura permusuhan. Ia beralih melirik orang tuanya. Pasangan suami-istri itu hanya menggedikkan bahu sebagai respon, tapi Yunho sempat menangkap seringaian kecil di bibir mereka.
Wajah tenang yang semula melekat pada Yunho, perlahan dihiasi seringaian jahil. Seolah ikut terpengaruh dengan reaksi orang tuanya.
Ingatan Yunho kembali pada kejadian sebelum jam makan siang.
Pertemuan pertamanya dengan sosok Yifan yang kini mengaku sebagai Kris.
Flashback
Yunho mengamati jam tangan yang ia kenakan. Ia mengetukkan jemari tangannya di atas meja lantaran rasa bosan mulai menghampiri. Sejujurnya, Yunho ingin pergi menemui Jaejoong karena terlalu merindukan sosok kekasihnya itu. Tapi pagi ini orang tuanya benar-benar membuat kejutan, memintanya untuk ikut menemui seseorang.
Yunho tidak tahu dan belum mengenal siapa orang yang akan mereka temui. Orang tuanya hanya bercerita bahwa pria tersebut lebih muda satu tahun darinya. Pria yang diklaim sebagai penolong mereka sewaktu berada di Jepang.
Lama Yunho sibuk dengan pikirannya sendiri, perlahan ia mulai mendengar suara langkah kaki dari luar ruangan. Tepat saat Yunho menoleh, pintu itu terbuka menampilkan sosok gadis berseragam pelayan yang datang bersama seorang pria.
"Oh, kau sudah datang."
Yunho tidak berhenti memandangi sosok pria berambut pirang itu.
"Duduklah, Yifan. Kami senang bisa bertemu lagi denganmu," kata Nyonya Nayoung ramah.
Yunho menaikkan sebelah alisnya kala mendengar nama yang terlontar dari bibir ibunya. Ia masih setia memasang wajah datar, sekalipun pria bernama Yifan itu mengulum senyum padanya.
Tuan Seunghwan menyadari arah pandang Yifan, "Ah, kalian belum berkenalan. Ini putra sulungku. Dia—"
"Sebentar, Ahjussi." Yifan memotong ucapan Tuan Seunghwan. "Maaf jika aku menyela."
"Tidak apa. Silakan, apa yang ingin kau katakan?"
Yunho mengerutkan dahi, semakin penasaran kala mendengar dehaman pelan keluar dari bibir Yifan.
"Sebenarnya, aku datang ke sini bukan hanya untuk bertemu kalian. Tetapi karena aku ingin mengajukan satu permintaan."
"Permintaan?"
Yifan mengangguk, lalu tersenyum penuh arti, "Aku membutuhkan bantuan kalian semua," lanjutnya dengan pembawaan tenang.
Yunho dan orang tuanya saling memandang dengan wajah bingung mereka.
"Sebelumnya ... perkenalkan namaku Xi Yifan," Yifan tersenyum kepada Yunho yang kini membelalakkan matanya.
"Xi Yifan?" Yunho merasa tidak asing dengan nama marga Yifan. "Apa kau ada hubungan saudara dengan Luhan?"
"Lebih tepatnya, aku kakak kandung Luhan," lanjut Yifan dengan santai.
Tuan Seunghwan dan Nyonya Nayoung mengerutkan dahi.
"Sebentar, Yunho." Nyonya Nayoung melirik putranya. "Luhan yang kau maksud ... apakah dia yang sedang menjalin hubungan dengan Sehun?"
"Benar, Ahjumma." Bukan Yunho yang menjawab, melainkan Yifan. "Adikku memang sedang menjalin hubungan dengan putramu."
"Jinjja?!" Spontan saja, Nyonya Nayoung berteriak paling heboh. "Ya Tuhan, aku tidak menyangka dunia ini benar-benar sempit. Bukan begitu, Yeobo?"
Tuan Seunghwan mengangguk setuju.
"Aku pun juga baru mengetahuinya kemarin, Ahjumma," sahut Yifan sambil tertawa.
"Lalu bantuan apa yang kau inginkan dari kami?" tanya Yunho kembali ke topik pembicaraan awal.
Yifan berdeham pelan, "Begini, sejujurnya aku tidak pernah keberatan jika adikku menjalin hubungan dengan seorang pria, siapapun itu. Hanya saja, sebagai seorang kakak aku perlu menilai apakah pria itu tepat dan cocok untuk adikku."
"Ah, jadi kau ingin menilai adikku?" tebak Yunho.
"Benar, Hyung. Aku ingin menilai Sehun." Yifan tersenyum, senang karena Yunho bisa langsung mengerti keinginannya.
Yunho mengangguk-angguk. Ia tahu bagaimana perasaan Yifan, karena dirinya sendiri pun pernah melakukannya. Saat Kyungsoo menjalin hubungan dengan Jongin, sebelum akhirnya mereka resmi menikah hingga memiliki Taeoh.
"Baiklah, kami setuju!"
Tuan Seunghwan dan Nyonya Nayoung menoleh kaget.
"Appa dan eomma tidak perlu khawatir. Anggap saja ini ujian untuk Sehun. Bukankah dulu aku juga melakukan hal yang sama pada Jongin?" Yunho tersenyum menyeringai.
Pasangan suami-istri itu hanya menggeleng pelan. Sudah hafal dengan isi otak Yunho yang berniat menjahili Sehun.
"Jadi, apa rencanamu?" tanya Tuan Seunghwan.
Yifan hendak menjawab, namun Yunho lagi-lagi menyerobot.
"Malam ini Luhan akan datang ke rumah kami untuk makan malam keluarga. Bagaimana jika kau datang?" Yunho menaik-turunkan alisnya, "Berikan kejutan untuk adikmu."
Yifan tergelak, tidak menduga jika Yunho akan begitu mendukung keputusannya untuk menilai Sehun. "Tentu, Hyung. Aku akan memberikan kejutan untuk adik tercintaku."
Nyonya Nayoung semakin penasaran, "Jadi, kau akan datang?"
Yifan mengangguk, "Ya, aku akan datang, tetapi tidak sebagai Xi Yifan."
Ketiga orang itu saling memandang. Mereka sempat menangkap seringaian yang terukir di bibir Yifan.
"Aku akan datang sebagai Kris Wu. Cinta pertama Luhan di masa lalu."
Flashback off
Bibir Yunho berkedut. Mati-matian ia menahan tawa sejak kedatangan Yifan di rumah orang tuanya. Rencana pria itu sepertinya berjalan sukses. Kejutan yang ia berikan bukan hanya berhasil membuat Luhan tidak berkutik, namun juga sukses memercikkan api cemburu dalam diri Sehun.
"Yunnie!"
Pekikan tertahan Jaejoong membuat Yunho menoleh dengan kedua alisnya yang tertaut sempurna. "Ada apa lagi?" tanyanya bingung.
"Kau tidak mengkhawatirkan adikmu?"
Yunho tidak segera menjawab, ia tersenyum sembari menggenggam lembut tangan Jaejoong. "Tidak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja," bisiknya.
Jaejoong tidak puas dengan jawaban Yunho, tapi wajah penuh keyakinan pria itu mematahkan semua keraguannya. Ia tidak bertanya lagi dan memilih fokus pada hidangan makan malam. Mengabaikan Yunho yang sekali lagi memperlihatkan smirk andalannya tanpa sepengetahuan siapapun.
Barangkali Yifan, yang sempat melihat bagaimana Tuan Seunghwan, Nyonya Nayoung, dan Yunho saling memberi isyarat. Pria itu pun ikut mengulum senyum. Otaknya semakin diisi berbagai ide untuk mendukung aksinya dalam menilai Sehun sebagai calon adik iparnya.
..
..
..
Selesai makan malam, semua orang mengobrol di ruang keluarga. Haowen dan Taeoh menjadi pusat perhatian karena celotehan mereka yang menggemaskan. Terlebih ketika Haowen merengek pada Sehun kapan akan segera menikah dengan Luhan, lantaran tidak sabar ingin segera mempunyai adik.
Kontan saja permintaannya yang sangat polos itu membuat semua orang tertawa. Mereka semakin bersemangat menggoda Sehun yang tampak kikuk. Begitu pun Luhan yang tersenyum malu dengan wajahnya yang merah padam.
Selain aksi lucu Haowen dan Taeoh, mereka turut membahas rencana pernikahan Yunho dan Jaejoong yang akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
Luhan melirik Yifan. Sejak tadi kakaknya itu terus memberi isyarat padanya untuk keluar meninggalkan ruang keluarga. Kentara sekali jika Yifan berniat mengajaknya berbicara secara empat mata.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Sehun dan keluarganya, kakak-beradik itu berjalan ke luar rumah. Tepatnya taman belakang yang berdekatan dengan kolam renang.
"Huh, Kris? Cinta pertamaku?" Luhan tidak kuasa lagi menahan emosinya, "Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Oppa?! Apa tujuanmu datang ke sini dan mengaku sebagai cinta pertamaku?!"
"Tenanglah, adikku tersayang." Yifan terkekeh pelan, mengulurkan tangannya hendak mengusap kepala Luhan namun segera ditepis oleh wanita itu.
"Jawab saja pertanyaanku, Oppa! Kenapa kau bisa datang ke sini? Apa kau diam-diam sedang mengawasiku?!"
Yifan belum menjawab. Ia malah bersedekap dan memasang wajah santai, membuat Luhan kian gemas akan sikapnya.
"Oppa!"
"Baik-baik, aku akan menjelaskan semuanya." Yifan mengalah, "Sebelum itu, tidakkah ada yang ingin kau jelaskan lebih dulu, Nona Xi?"
Glek! Luhan meneguk ludahnya kasar. Perubahan ekspresi wajah Yifan langsung terbaca dengan mudah.
"Aku baru pulang dua hari lalu, kemudian mendapat kabar bahwa kau sudah mempunyai kekasih. Kejutan yang menyenangkan," sindir Yifan.
"Dari mana Oppa tahu soal Sehun?" tanya Luhan hati-hati.
"Aku mendengar obrolan kalian, di ruang kerja appa kemarin," Yifan menjawab sambil tersenyum penuh kemenangan.
Luhan mendesah pelan. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia menunduk dengan jemari tangan yang saling tertaut. Hasrat untuk bertanya lebih lanjut soal kedatangan Yifan malam ini menguap entah ke mana. Semula Luhan memang berniat untuk membela diri, tapi jika dipikir ulang tetap saja dia yang akan kalah dalam menghadapi segala sikap overprotektif kakaknya.
"Jadi ..." Luhan menarik napas panjang-panjang, "boleh aku tahu apa sebenarnya rencana Oppa datang ke sini?"
"Cerita yang disampaikan Seunghwan-ahjussi tadi memang benar. Aku menolong mereka saat melakukan perjalanan bisnis ke Hokkaido," Yifan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Satu-satunya kebohongan yang aku karang adalah identitas Kris Wu sebagai cinta pertama Xi Luhan."
"Apa tujuanmu melakukannya, Oppa? Kau berniat merusak hubunganku dengan Sehun?" tanya Luhan penuh selidik.
Yifan tergelak. Ia benar-benar gemas melihat wajah cemberut Luhan.
"Aku tidak sekejam itu," Yifan berjalan mendekati Luhan, "Sebagai kakak, aku berhak menilai pria yang menjalin hubungan dengan adik kesayanganku. Tidak peduli appa dan eomma sudah setuju dengan pilihanmu."
Luhan mendongak, wajahnya masih memperlihatkan kekesalan pada sikap Yifan yang selalu saja bertindak sesuka hati.
"Anggap saja aku sedang menguji calon adik iparku." Yifan tersenyum menyeringai, "Bukankah dia juga sempat mengujimu untuk menjadi pengasuh putranya?"
Mata rusa Luhan seketika membelalak lebar. "O-Oppa tahu?"
Yifan mengangguk-angguk. Menurut Luhan, senyuman yang diperlihatkan pria itu tampak menakutkan. Kentara sekali jika kakaknya tengah menahan emosi. Bisa dilihat dari kilatan api kemarahan yang terpancar dari sorot matanya.
"Sudah kukatakan bukan? Aku tahu segalanya soal Sehun, termasuk skenario konyol yang ia lakukan bersama anaknya untuk mengujimu."
Luhan menunduk, ia takut jika seandainya Yifan memberitahu orang tuanya soal Sehun yang pernah menculiknya.
Seolah bisa membaca pikiran Luhan, Yifan berkata lembut, "Kau tenang saja, aku tidak akan memberitahu appa dan eomma jika Sehun pernah melibatkanmu dalam skenario konyolnya. Asalkan dengan satu syarat."
"Syarat?"
Yifan menangkup wajah Luhan, kemudian membelainya dengan penuh kelembutan. Kebiasaan yang sering ia lakukan saat berinteraksi dengan adik kesayangannya.
"Sebelumnya, aku mau tanya satu hal padamu. Apa kau sangat mencintai Sehun?"
Luhan mengangguk. Tidak ada keraguan sedikit pun dari sorot matanya.
"Bagus, kalau begitu kau harus mengikuti skenarioku."
"Mwo?"
"Aku ingin tahu, seberapa besar rasa cintanya pada adikku yang cantik ini."
Cup!
Luhan mengerjapkan matanya polos ketika Yifan mencium keningnya. Itu memang hal yang paling sering Yifan lakukan padanya. Akan tetapi, melihat bagaimana seringaian terukir di bibir Yifan, Luhan merasakan firasat yang tidak enak.
"LUHAN!"
Benar saja, seruan Sehun dari belakang membuat wanita itu melonjak kaget. Sebelum mendapati wajah marah Sehun, ia menangkap kerlingan nakal dari Yifan.
Grep!
Luhan memekik ketika tubuhnya tertarik ke belakang hingga jatuh dalam pelukan Sehun. Ia mendongak, menatap penuh ketakutan saat melihat ekspresi wajah kekasihnya.
Ketahuilah, Sehun benar-benar tampak menyeramkan saat sedang marah.
"Se-Sehun ..."
Pria itu masih menatap tajam ke arah Yifan yang tampak bersikap santai. Tidak sedikit pun merasa takut atas kemarahan yang tengah dirasakan Sehun.
Coba saja kalian bayangkan jika berada di posisi Sehun.
Tidak melihat Luhan di ruang keluarga, Sehun pergi mencarinya ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya ia menemukan Luhan di taman belakang rumah orang tuanya. Yang membuat Sehun marah sudah pasti karena Luhan sedang bersama Yifan, yang ia tahu sebagai Kris—cinta pertama kekasihnya itu. Dan emosi Sehun meledak kala ia melihat Yifan mencium kening Luhan.
"Aku mencarimu, rupanya kau di sini ..."
Luhan hendak memalingkan wajahnya karena takut, tapi dihalangi oleh Sehun. Pria itu menyentuh dagunya, menuntunya secara perlahan agar mereka saling menatap satu sama lain.
"Kenapa pergi tidak bilang-bilang, hm?" Sehun mengusap lembut wajah Luhan, membuat wanita itu mengernyit heran. Luhan bisa merasakan tangan Sehun sedikit bergetar, ditambah pelukan tangan pria itu semakin mengerat di sekitar pinggangnya yang ramping.
"Aku—"
"Maafkan aku, Sehun-ssi. Aku yang mengajak Luhan ke sini karena aku ingin bicara dengannya. Tadi kami sedang mengenang masa-masa saat dulu masih ada di sekolah."
Sehun menatap Yifan dengan dingin.
"Kau seharusnya meminta izinku terlebih dahulu, Kris-ssi."
Luhan was-was, takut jika Sehun tidak mampu mengontrol emosinya yang berujung pada aksi kekerasan. Dalam hati ia mengumpat kesal saat melihat wajah santai Yifan.
Astaga, kakaknya itu benar-benar sukses memancing kemarahan orang lain.
"Aku tidak akan menghalangi Luhan untuk berinteraksi dengan siapapun. Dia bebas berbicara dengan siapa saja, tapi kau harus ingat satu hal. Aku tidak akan pernah rela melihat milikku disentuh oleh pria lain!"
Hati Luhan menghangat mendengar ucapan Sehun. Sekalipun terdengar posesif, entah mengapa ia menyukai kata kepemilikan itu. Di satu sisi Luhan ingin sekali tertawa. Tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Sehun jika tahu bahwa orang yang membuatnya cemburu adalah calon kakak iparnya sendiri.
Usai mengatakannya, tanpa membuang waktu lagi Sehun segera membawa Luhan pergi. Meninggalkan Yifan yang sejak tadi mati-matian menahan tawanya. Pria itu melambaikan tangannya sambil meringis lebar kepada Luhan yang sempat menengok ke belakang.
"Hei!"
Yifan menoleh lalu tersenyum kala mendapati kehadiran Yunho.
"Sepertinya kau menikmati sekali peranmu sebagai Kris."
Yifan mengangguk-angguk, "Benar, aku senang sekali melihat wajah cemburu adikmu, Hyung."
Yunho tertawa, "Dia memang seperti itu. Apapun pada sesuatu yang sudah ia klaim sebagai miliknya, Sehun tidak akan pernah rela berbagi pada orang lain. Dulu dia juga sangat posesif pada mendiang istrinya."
Yifan terdiam. Menyelidiki latar belakang Sehun, membuatnya tahu masa lalu pria itu yang sudah pernah menikah. Dalam hati Yifan salut pada Sehun. Tidak mudah bagi siapapun untuk menjadi seorang single parent. Banyak hal yang harus mereka lakukan dan pertimbangkan demi kepentingan sang anak.
"Ngomong-ngomong, kau tetap harus berhati-hati pada Sehun."
Kalimat peringatan yang diucapkan Yunho membuat Yifan menoleh heran.
"Aku tahu betul bagaimana kepribadian adikku. Jika dia sedang kalap, bukan mulutnya lagi yang akan berbicara, melainkan tangannya."
Seringaian itu kembali muncul di bibir Yifan, "Jinjja? Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya. Pasti menarik sekali."
Mata musang Yunho melotot, "Kau serius dengan ucapanmu?"
Yifan hanya mengedikkan bahu, setelahnya tertawa melihat bagaimana wajah kaget Yunho. Tawanya baru berhenti ketika merasakan sesuatu yang menarik tangannya. Yifan menunduk, lalu terkejut mendapati tatapan kesal nan menggemaskan dari Haowen.
"Ahjussi siapa? Kenapa tadi dekat sekali dengan eomma Haowen?"
Yifan tersenyum. Ia senang mengetahui adiknya diterima dengan mudah oleh keluarga Sehun, termasuk anak pria itu. Bahkan Haowen sudah mengklaim Luhan sebagai ibunya. Benar-benar persis seperti ayahnya. Like father like son.
"Siapa namamu?" tanya Yifan sambil mengusap lembut kepala Haowen.
"Haowen."
"Haowen mau hadiah tidak?"
"Hadiah?!" Mata warisan Sehun itu seketika berbinar-binar, "Haowen mau, Ahjussi! Haowen mau hadiah!"
"Bagus, aku akan memberikan hadiah untuk Haowen, tapi dengan satu syarat."
Mata Haowen mengerjap lucu. "Syarat?"
Yunho melotot. Ia bersumpah baru saja melihat seringaian jahil di bibir Yifan. Oh tidak, sepertinya calon iparnya itu menemukan partner in crime untuk mengerjai Sehun. Yang bisa Yunho lakukan saat ini hanya berdoa dalam hati. Berharap Sehun akan sabar dan bertahan selama menghadapi sikap Yifan selanjutnya.
Semoga kau berhasil, Oh Sehun.
..
..
..
BLAM!
Luhan merasakan bahunya bergetar setelah mendengar suara pintu ditutup cukup keras. Ia melirik takut ke arah Sehun. Pria itu berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam karena emosi.
Mata Luhan memandang sekeliling. Ia sekarang berada di sebuah kamar, entah milik siapa tapi Luhan bisa menebak jika ini kamar Sehun. Ia bisa mencium aroma khas pria itu di seluruh ruangan.
"Sehun?"
Sehun mengusap wajahnya frustasi. Dalam hitungan detik ia melangkah maju kemudian meremas kuat bahu Luhan. "Jelaskan padaku!"
"So-soal apa?"
Decakan gemas keluar dari bibir Sehun, "Tentu saja soal cinta pertamamu itu, Xi Luhan."
Luhan meneguk ludahnya dengan susah payah. Ya Tuhan, pria ini benar-benar mempercayai ucapan Yifan. Antara ingin tertawa sekaligus prihatin, Luhan sejujurnya tidak tega melihat Sehun begitu marah atas pengakuan Yifan sebagai cinta pertamanya.
Namun karena syarat yang diajukan Yifan, Luhan tidak bisa mundur lagi dari skenario kakaknya.
"Itu hanya masa lalu, Sehun. Untuk apa mengungkitnya?"
Jawaban Luhan secara tidak langsung menolak permintaan Sehun. Pria itu kini meraih tangan Luhan, kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku hanya ingin kita saling terbuka satu sama lain. Kau sudah tahu soal Hanna, maka aku juga berhak tahu soal Kris."
Luhan terdiam, bukan karena tidak mau menjawab. Ia bingung harus menjawab apa. Ayolah, dia tidak mengikuti klub theater seperti yang pernah Yifan lakukan dulu semasa kuliah. Jadi urusan berakting sama sekali bukan keahliannya.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mau terbuka padaku? Kau tidak percaya padaku?!"
Tiga kalimat beruntun yang diucapkan Sehun membuat Luhan menggeleng cepat. Ia mendongak, hingga tatapan matanya bertemu dengan mata elang milik Sehun. Luhan terkejut mendapati sorot ketakutan yang terpancar dari mata pria itu.
"Bukannya aku tidak mau bercerita padamu soal Kris-oppa. Aku hanya ... hanya merasa dia bagian dari masa laluku yang tidak perlu kuceritakan padamu." Luhan menghembuskan napas panjang. Bibirnya berkedut ketika ia mulai mengarang cerita soal identitas kakaknya sebagai Kris.
"Lagi pula setelah dia menolakku, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengannya."
"Dia menolakmu?"
Luhan mengangguk, "Katanya karena dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja," jawabnya sambil tergelak dalam hati. Ekspresi wajah Sehun yang masih meragukan ucapannya justru membuat Luhan ingin sekali tertawa. Namun sebisa mungkin wanita itu mati-matian bersikap tenang di hadapan Sehun.
"Aku tidak percaya. Apalagi tadi aku sempat melihat dia mencium keningmu." Sehun membuang muka. "Mungkin setelah bertemu lagi, sekarang dia berniat untuk mendekatimu."
Ugh, ingin rasanya Luhan mencubit gemas pipi Sehun yang kini tengah menggembung lucu. Sangat kontras dengan reaksinya beberapa jam yang lalu yang tampak seperti serigala menakutkan. Sekarang Sehun bertingkah layaknya anak anjing yang sedang merajuk.
"Kau takut aku jatuh cinta lagi pada Kris-oppa?" tanya Luhan sambil memasang wajah jahil.
Semula berniat ingin menggoda, namun reaksi Sehun benar-benar di luar dugaan Luhan. Pria itu malah memeluknya erat. Dan Yang membuat Luhan lebih bingung ketika merasakan tubuh kekar Sehun bergetar hebat.
"Berjanjilah, kau tidak akan pernah pergi meninggalkanku ..." kali ini Luhan juga mendengar suara Sehun yang bergetar.
"Sehun?"
"Aku takut, Lu. Aku takut kau akan pergi meninggalkanku setelah bertemu lagi dengan cinta pertamamu."
Luhan tertegun. Sungguh tidak menyangka reaksi Sehun seperti ini. Jika sebelumnya ia masih ingin tertawa, kini Luhan merasa bersalah pada Sehun. Tidak peduli skenario ini hanya untuk menguji pria itu, tetap saja sikap Yifan telah membuat Sehun menjadi sosok pria yang lemah akan cinta. Meski begitu, Luhan merasakan hatinya semakin menggila. Jelas ia tidak akan pernah salah menangkap arti di balik permintaan Sehun barusan.
Bukankah ini cukup—atau mungkin sangat—menjelaskan bahwa pria itu sangat mencintainya?
Perlahan tangan Luhan bergerak ke atas, mengusap lembut punggung Sehun dengan penuh kehangatan.
"Aku berjanji, Sehun. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Sehun semakin menenggelamkan wajahnya di belakang tengkuk Luhan. Membuat wanita itu sedikit geli sekaligus sesak, lantaran Sehun tak kunjung melepaskan pelukan mereka. Sebaliknya, malah semakin erat.
"Ugh, Sehun aku ... ugh tidak bisa bernapas!"
Pelukan itu akhirnya terlepas. Sehun menangkup wajah Luhan dengan mata elangnya yang kini menatap teduh sepasang mata rusa itu. Ia menyatukan keningnya secara sempurna pada kening Luhan.
Wajah Luhan merona kala ia merasakan sapuan lembut napas Sehun di sekitar pipinya.
"Kau harus memegang janjimu," bisik Sehun seduktif.
Luhan mengangguk, kemudian tersenyum lebar. Mata wanita itu sempat terpejam ketika bibir Sehun dengan lembut mencium bibirnya. Tidak hanya berhenti di sana saja. Sehun bahkan mencium tiap jengkal wajah Luhan, mulai dari kening, hidung, kedua pipi, hingga akhirnya kembali lagi di bibir.
"Aku mencintaimu, Luhan." Sehun mengusap pipi Luhan yang semakin didominasi warna merah. "Jangan tinggalkan aku dan Haowen. Kami sangat membutuhkanmu, Lu."
"Eum, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kalian." Luhan membelai wajah Sehun, kemudian dengan berani mencium bibir tipisnya. "Aku juga sangat mencintaimu, Sehun."
Sehun tersenyum penuh kelegaan. Ia kembali membawa tubuh Luhan ke dalam pelukannya yang penuh akan kehangatan. Ketakutan yang sempat menghinggapinya sejak kemunculan Yifan yang mengaku sebagai cinta pertama Luhan, perlahan mulai sirna.
Ia percaya Luhan tidak akan pernah meninggalkannya. Seperti dirinya yang sudah berjanji akan selalu di sisi wanita itu untuk selamanya.
"Besok kau ada jadwal mengajar sampai jam berapa?"
"Ngg ... sepertinya hanya sampai jam 4 sore. Kenapa?" tanya Luhan dengan mata berkedip lucu.
"Kita makan malam di luar, ne?"
"Haowen juga ikut?"
"Aniya, hanya kita berdua saja." Sehun mendekatkan bibirnya di telinga kiri Luhan. "Kita berkencan."
Wajah Luhan merah padam. Seperti layaknya remaja tanggung, ia mengangguk dengan wajah tersipu malu. Membuat Sehun gemas dan kembali mencium bibirnya.
..
..
..
Haowen tertidur selama perjalanan pulang ke rumah. Luhan dengan penuh kasih sayang menggendong Haowen, sejak di dalam mobil hingga sampai ke dalam rumah. Baik Sehun maupun Jongdae sempat menawarkan untuk membantu, namun ditolak olehnya. Luhan berkata bahwa ia ingin membaringkan Haowen sendiri di kamar anak itu.
Luhan tersenyum ketika ia menginjakkan kaki di kamar Haowen. Nuansa kamar yang didominasi warna biru laut memang sangat cocok untuk anak itu.
Perlahan dan sedikit berhati-hati, Luhan membaringkan Haowen di atas ranjang. Senyum mengembang di bibir anak itu ketika Luhan mengusap lembut kepalanya. Setelah menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh Haowen, Luhan mendaratkan kecupan lembut di keningnya.
"Jaljayo, Haowen. Eomma sangat menyayangimu ..." bisik Luhan sembari tersenyum bahagia. Ia tidak peduli lagi dengan status Haowen. Semenjak ia memberi izin Haowen untuk memanggilnya eomma, Luhan sudah bertekad akan menganggap Haowen seperti anaknya sendiri.
Setelah dari kamar Haowen, Luhan kembali ke kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan piyama. Tak lupa menggosok gigi dan mencuci wajah turut ia lakukan sebagai rutinitas sebelum pergi tidur.
CKLEK!
Tepat saat Luhan membuka pintu kamar mandi, ia dikejutkan dengan keberadaan Sehun yang sudah duduk bersandar di atas ranjangnya.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya Luhan bingung.
"Aku ingin tidur denganmu," jawab Sehun santai. Mengabaikan bagaimana ekspresi kaget yang menghiasi wajah Luhan. Pria itu beranjak dari ranjang lantas berjalan menghampiri Luhan yang masih terbengong di depan pintu kamar mandi. Sama seperti Luhan, Sehun sudah mengenakan piyama sutra warna hitam. Berbeda dengan Luhan yang mengenakan piyama sutra warna pink.
"KYAAAA~" Luhan memekik histeris karena tiba-tiba Sehun mengangkat tubuhnya tanpa izin. Refleks ia mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun. "Apa-apaan kau ini?!"
Sehun terkekeh, dengan segera ia mencium bibir Luhan yang tengah bersungut kesal. Membuat mata rusa itu berkedip-kedip lucu menatapnya.
"Kalau seperti ini, rasanya kita seperti pengantin baru saja," bisik Sehun seduktif. Desahan napasnya di sekitar leher Luhan membuat wanita itu menggeliat geli.
"Kita belum resmi menikah, Tuan Oh." Luhan melotot tajam, "Aku tidak akan memberimu izin untuk menyentuh tubuhku sampai kita sah sebagai suami-istri secara agama maupun hukum."
Tawa Sehun pecah. Luhan yang terkadang galak namun juga menggemaskan sangat ia sukai. Sehun jadi ketagihan untuk menggoda wanita itu terus-menerus.
"Aku bahkan hanya ingin menggendongmu seperti ini, tapi kau sudah berpikiran sampai ke sana. Jangan-jangan memang kau yang tidak sabar ingin segera menikmati malam pertama kita, Sayang?"
Benar saja, semburat rona merah segera menghiasi pipi Luhan. Wanita itu memalingkan wajahnya ke mana saja, asalkan tidak berhadapan dengan Sehun.
"Kenapa? Kau malu, hm?" goda Sehun semakin menjadi.
Luhan mengerucutkan bibirnya imut.
Sehun tertawa keras, "Kau menggemaskan sekali. Aku jadi ingin memakanmu."
Mata rusa Luhan kembali melotot.
"Aku hanya bercanda, Sayangku." Sehun tergelak sambil menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung Luhan.
"Kau menyebalkan, uuh~"
"Menyebalkan tapi kau suka 'kan?"
"Sehun!" Luhan memukul dada bidang Sehun, setelahnya ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu. Mau bagaimana lagi, wajahnya sudah merah padam karena rayuan Sehun.
"Turunkan! Aku mau tidur!" rengek Luhan kesal.
Kali ini Sehun mengalah, menghentikan aksi merayu yang tengah ia lakukan pada Luhan. Ia membaringkan tubuh Luhan di atas ranjang. Sehun terkekeh ketika melihat pergerakan Luhan yang langsung menghadap ke samping, dengan sengaja membelakanginya yang baru saja ikut menyusul naik ke atas ranjang.
Grep! Tetap saja, Sehun tidak akan membiarkan Luhan lepas dari jeratannya. Ia kembali melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh wanita itu.
"Kau marah, hm?"
Luhan menggeleng, tetap tanpa memberikan jawaban. Sehun tertawa tanpa mengeluarkan suara. Ia menenggelamkan wajahnya di sekitar tengkuk Luhan, menghirup aroma madu yang sangat khas dari wanita itu.
"Apa kau sudah tidur?"
Kali ini Luhan tidak memberikan reaksi apapun. Membuat Sehun beranggapan jika wanita itu memang sudah tertidur. Bibir tipisnya perlahan melengkung sempurna.
"Jaljayo, nae sarang." Sehun berbisik lembut, "Berjanjilah, kau tidak akan pernah meninggalkanku."
Hanya berselang beberapa detik setelah mengucapkannya, Sehun tertidur. Mungkin karena kelelahan—bukan hanya dari segi fisik, melainkan secara mental. Bagaimanapun kedatangan pria yang mengaku sebagai cinta pertama Luhan membuat Sehun sedikit tertekan.
Tanpa Sehun sadari, Luhan sebenarnya masih dalam kondisi sadar. Ia hanya pura-pura tidur hingga tak sengaja mendengarkan ucapan Sehun, khususnya kalimat terakhir pria itu.
Pelan-pelan Luhan membalikkan tubuhnya sampai berhadapan dengan Sehun. Jemari tangannya bergerak menelusuri setiap lekukan wajah Sehun. Ia mencium bibir Sehun sambil tersenyum, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku padamu, Sehunku."
..
Not Just Babysitter
..
Suara kicauan burung membangunkan Sehun. Ia mengerjapkan matanya secara perlahan, kemudian menggeliat dan merenggangkan otot tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Ia menoleh dan seketika matanya terbuka lebar kala menyadari sisi sampingnya kosong.
"Luhan?" Sehun bergumam lirih. Teringat kejadian semalam, rasa panik seketika menguasai diri Sehun. Ia melompat dari ranjang, kemudian membuka pintu kamar mandi dengan cukup keras. Nihil, ia tidak menemukan Luhan di sana.
Secepat kilat Sehun keluar dari kamar Luhan, berpindah ke kamar Haowen namun ia juga tidak menemukan kekasihnya itu di sana. Hanya ada putranya yang masih terlelap di balik selimut.
"Tidak ... dia tidak mungkin pergi ..." Sehun menggeleng kencang, berusaha menepis berbagai pikiran buruk yang segera menghinggapi isi kepalanya. Tak ingin membuang waktu lagi, Sehun berlari menuruni tangga, kemudian berpencar ke sekeliling rumah.
"LUHAN!"
"Sehun, kenapa kau berteriak?" Minseok keluar dari dapur dengan wajah kebingungan. Kedua alisnya tertaut sempurna. Sehun masih mengenakan piyama tapi sudah berlarian ke sekeliling rumah sambil berteriak tanpa henti.
"Luhan di mana, Noona?"
"Luhan?" Minseok tersenyum, "Oh, dia sudah pergi."
"Pergi?!"
Minseok melonjak kaget mendengar reaksi heboh Sehun, "Kau ini kenapa?!"
"Di-dia pergi ke mana?"
Minseok mendongak, tampak sedang berpikir. "Dia bilang ingin pergi ke apartemen Baekhyun."
"Pagi-pagi sekali?"
"Aku juga tidak tahu," Minseok mengedikkan bahunya cuek, "Dia menitip pesan untukmu. Minta maaf karena pergi pagi-pagi tanpa pamit lebih dulu denganmu. Katanya tidak tega membangunkanmu yang tampak kelelahan."
Hembusan napas penuh kelegaan keluar dari sela-sela bibir Sehun. Pria itu tersenyum lebar, meluapkan kegembiraannya hingga tanpa sadar memeluk Minseok sangat erat.
"Ya, ya, ya. Apa yang kau lakukan, Sehun?! Kau membuatku sesak!" protes Minseok. "Pagi ini sikapmu sangat aneh. Kau seperti orang kesetanan yang berlarian sambil meneriaki nama Luhan."
Sehun tidak membalas, hanya senyuman kikuk yang ia berikan pada Minseok. Secepat kilat ia langsung memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan Minseok yang masih terbengong di tempatnya.
"OH SEHUN!" Minseok berteriak kesal karena Sehun tak memberikan penjelasan apapun.
Jongdae yang baru saja datang bersama Daeul hanya menggeleng melihat kelakuan Sehun dan Minseok. Terlebih saat menyaksikan bagaimana Sehun dengan terburu-buru menaiki tangga, lalu masuk ke kamar dengan bantingan pintu yang sangat keras.
"Ck, kenapa pagi-pagi sudah berteriak?" Jongdae bertanya pada Minseok yang masih berkacak pinggang di ruang tengah. Ia menyerahkan Daeul yang segera meronta dalam gendongannya, meminta pindah ke dalam gendongan Minseok.
"Salahkan Sehun yang sudah membuatku penasaran!" bibir Minseok mengerucut lucu. "Dia bangun tidur lalu berteriak mencari Luhan seperti orang kesetanan. Padahal mereka masih sepasang kekasih, tapi tingkah Sehun sudah persis seperti suami Luhan."
"Seperti kau sendiri tidak pernah mengalaminya," sindir Jongdae sambil menyeringai, kemudian berlari lantaran Minseok kembali berteriak, dan sukses membuat anak mereka menangis karena kaget dengan teriakannya.
..
..
..
"Ini."
Luhan tersenyum lebar, menatap takjub pada sepiring omurice yang disodorkan Chanyeol. "Selamat makan~" teriaknya riang seperti anak kecil.
Chanyeol dan Baekhyun saling memandang. Mereka bingung dengan kedatangan Luhan di pagi buta. Untung saja Luhan tidak terlalu banyak bertanya melihat Chanyeol yang menyambut kedatangannya. Mungkin, karena Luhan sudah hafal dengan kebiasaan Chanyeol yang memang kerap menginap di apartemen Baekhyun.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Baekhyun penuh selidik. "Kau bertengkar dengan Sehun?"
Luhan menggeleng, "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Karena pagi-pagi sekali kau sudah datang ke sini." Baekhyun menyuap sesendok omurice ke mulutnya. "Kebiasaanmu jika sedang ingin berkeluh kesah dengan kami."
Luhan meringis lebar, "Aku memang berniat cerita pada kalian, tapi aku tidak bertengkar dengan Sehun. Sebaliknya, hubunganku dengan Sehun kian mesra," ucapnya sedikit pamer.
"Lalu kau sedang ada masalah apa jika bukan dengan Sehun?"
Wajah Luhan berubah lesu, "Kakakku."
"Kau bertengkar dengan Yifan-oppa?" tanya Baekhyun kaget.
"Aniya, hanya saja ... dia ..." Luhan menggigit bibir bawahnya, "Dia sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Sehun."
"MWO?!"
Luhan mengangguk dengan kepala tertunduk lesu.
"Bagaimana dia bisa tahu?"
"Dia tidak sengaja mendengar obrolanku dengan appa dan eomma saat aku pulang ke sana dua hari lalu."
Baekhyun terdiam, teringat ketika ia memergoki Yifan yang tengah berhenti di depan sebuah ruangan. "Ah, jadi waktu itu dia sedang mencuri dengar pembicaraan kalian? Pantas saja wajahnya tampak menakutkan."
"Kau melihatnya?" tanya Luhan kaget.
"Eum, waktu itu wajahnya benar-benar mengerikan," jawab Baekhyun mereka ulang bagaimana ekspresi wajah Yifan. Namun karena tidak cocok dengan wajahnya yang manis, terang saja berhasil memancing tawa Chanyeol dan Luhan.
"Lalu ... apa yang Yifan-hyung lakukan? Apa dia berbuat sesuatu pada Sehun?" tanya Chanyeol. Ia penasaran bagaimana sikap Yifan setelah tahu adik kesayangannya sudah mempunyai kekasih.
"Lebih dari itu, Yeol." Luhan menghembuskan napas panjang, "Semalam aku pergi ke rumah orang tua Sehun. Kami diundang makan malam bersama, sekaligus Sehun ingin mengenalkanku pada keluarga besarnya. Kalian tahu apa yang terjadi di sana?"
Pasangan itu menggeleng kompak.
"Yifan-oppa datang atas undangan orang tua Sehun. Awalnya aku kaget melihat kedatangannya. Kemudian, aku semakin tidak bisa berkutik ketika ia mengaku sebagai Kris Wu. Cinta pertamaku sewaktu masih SMA."
Chanyeol maupun Baekhyun sama-sama melongo mendengar cerita Luhan.
"Orang tua Sehun mengundangnya karena memang mereka sudah saling mengenal. Kakakku pernah menolong orang tua Sehun sewaktu mereka berada di Jepang. Hanya saja, semalam oppa sengaja datang dengan identitas sebagai Kris Wu dan cinta pertamaku. Tujuannya untuk menguji Sehun. Oppa ingin tahu seberapa besar rasa cinta Sehun padaku."
"Jinjja? Wow, ide kakakmu sangat cemerlang." Baekhyun tersenyum geli, "Sehun sebelumnya juga pernah mengujimu bukan? Anggap saja ini karma untuknya, Lulu Sayang."
"Tetap saja aku tidak tega pada Sehun. Kau tidak tahu auranya seketika menggelap sejak pengakuan oppa sebagai Kris di hadapan semua orang. Bahkan ketika memergoki oppa mencium keningku, Sehun langsung menarikku dan sedikit membentak oppa."
"Membentak?"
Luhan mengangguk, sekilas ada rona merah menghiasi pipinya. "Dia bilang, dia tidak akan pernah rela jika miliknya disentuh oleh pria lain."
"Sehun pria yang sangat posesif, eoh?" celetuk Chanyeol sambil melahap omurice miliknya.
"Memang kau sendiri tidak?" sindir Luhan dengan mata memicing, yang hanya dibalas cengiran khas milik Chanyeol.
"Bagaimana reaksi orang-orang di rumah Sehun?" tanya Baekhyun penasaran.
Luhan terdiam sejenak, mencoba mengingat lagi beragam wajah yang terlihat ketika Yifan datang ke rumah orang tua Sehun. "Sebenarnya aku sedikit mencurigai orang tua Sehun dan kakaknya. Kurasa mereka turut terlibat dalam skenario yang direncanakan Yifan-oppa," katanya sambil memasang ekspresi wajah bak seorang detektif handal.
"Kau yakin?"
"Eum, aku yakin sekali. Karena di antara semua orang, hanya mereka bertiga yang tetap tenang sewaktu Sehun terus-menerus mengeluarkan aura kegelapan ke seluruh penjuru rumah," jawab Luhan polos.
Chanyeol tergelak, "Aku jadi penasaran seperti apa wajah Sehun, Lu. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana reaksi Haowen?"
"Haowen? Dia sama sekali tidak bertanya apapun soal Yifan-oppa. Kurasa karena ia masih anak-anak dan kemarin terlalu senang berkumpul lagi dengan Taeoh dan kakek-neneknya."
Baekhyun mengangguk-angguk, "Jadi, kau turut terlibat dalam skenario kakakmu?"
"Aku tidak punya pilihan lain. Oppa mengancam akan memberitahu soal kelakuan Sehun sebelumnya yang pernah menculikku pada appa dan eomma. Dia sudah mencari tahu semua soal Sehun," jawab Luhan lesu.
Baekhyun dan Chanyeol memandang prihatin pada Luhan. Di satu sisi mereka bisa merasakan posisi Luhan. Pasti risih jika orang lain terlalu ikut campur urusan kita sendiri, apalagi urusan percintaan. Tidak peduli jika dia adalah orang terdekatmu, bahkan kakakmu sendiri.
Tapi bagaimanapun, sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, mereka paham jika Yifan hanya menginginkan yang terbaik untuk Luhan.
"Ya sudah, ikuti saja kemauan Yifan-oppa. Masih baik dia tidak langsung menemui Sehun dan menghajarnya," sahut Baekhyun santai. "Bersemangatlah, kau tidak boleh berhenti mendukung Sehun dalam menghadapi kelakuan kakakmu. Ya, saat ini yang dia tahu Yifan-oppa adalah Kris, saingan terberatnya dalam memperebutkan cintamu. Kau hanya perlu meyakinkan Sehun untuk tetap mempercayaimu."
Luhan mengangguk. Hatinya merasa lega karena sudah menceritakan masalahnya pada Chanyeol dan Baekhyun. Mereka pun kembali menyantap sarapan bersama-sama dengan gelak tawa. Obrolan masalah Yifan dan Sehun sudah mereka akhiri, kini Luhan lebih sering menggoda Baekhyun dan Chanyeol yang sedang menyiapkan rencana pernikahan mereka.
DRRT! DRRT!
Perhatian Luhan teralih pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar di atas meja. Luhan melirik sebentar. Rupanya ada satu pesan yang baru saja masuk. Ia tersenyum ketika melihat nama kontak pengirim pesan tersebut.
Siapa lagi jika bukan Sehun?
From : My Hunnie
Haowen menangis karena kau pergi pagi-pagi sekali :(
Luhan terkikik, dengan cepat ia membalas pesan Sehun.
To : My Hunnie
Jinjja? Kau tidak ikut menangis? :D
Tak lama pesan balasan Sehun masuk.
From : My Hunnie
Aku tidak menangis, tapi bertingkah seperti orang kesetanan. Kau pergi tanpa pamit membuatku gila, Oh Luhan!
"Hihi~" Luhan kembali tertawa. Tidak sadar jika Baekhyun dan Chanyeol memperhatikannya.
To : My Hunnie
Aku sudah menitip pesan pada Minseok-eonni. Marga keluargaku masih Xi, kalau kau tidak lupa Tuan Oh :p
Luhan hendak menyantap kembali omurice miliknya, tapi pesan balasan Sehun lebih cepat masuk.
From : My Hunnie
Aku jadi tidak mendapat jatah morning kiss darimu, Sayang :*
Baik, secepatnya akan kubuat marga keluargamu menjadi Oh. Dengan begitu, kita bisa segera menikmati malam pertama kita, Sayang. Hihi~
"Ya ampun ... dia benar-benar ..." gerutu Luhan gemas
To : My Hunnie
Mesum!
DRRT! DRRT!
From : My Hunnie
Aku hanya mesum padamu saja, Nyonya Oh. Nanti malam jangan lupa dengan acara kencan kita, ne? Aku akan menjemputmu, Sayangku ;)
"KYAAAA~" Tiba-tiba saja Luhan menjerit heboh. Chanyeol dan Baekhyun nyaris terjungkal dari kursi yang mereka duduki.
"Aish, kenapa tiba-tiba berteriak?! Kau membuat kami terkena serangan jantung!" maki Chanyeol sambil mengusap dada.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aku lupa." Luhan mengerjapkan matanya polos. "Malam ini Sehun mengajakku berkencan."
Detik selanjutnya terdengar teriakan Baekhyun yang lebih spektakuler dari Luhan. Chanyeol menggeleng pasrah sambil menutup telinganya. Ia sudah terbiasa dengan duo wanita itu yang kerap berisik jika sudah heboh karena suatu hal. Khususnya dalam urusan asmara.
..
..
..
Hyunjoong menatap Sehun dengan takut. Sikap atasannya yang berubah-ubah membuatnya pusing tujuh keliling. Pagi tadi Sehun datang dengan senyum sumringah, bahkan menyapa para staff dengan riang gembira. Tapi begitu masuk ke ruangan, aura dingin seketika menyebar di dalam sana.
"Aku ingin kau menyelidiki seseorang."
Hyunjoong terdiam, belum memberikan respon karena menerka siapa orang yang dimaksud Sehun. Tepat saat tatapan tajam milik Sehun mengarah padanya, Hyunjoong refleks menganggukkan kepala. Ia bergidik ngeri melihat wajah menyeramkan Sehun.
"Cari tahu soal pria bernama Kris Wu. Aku ingin kau mendapatkan informasi tentang dia selengkap-lengkapnya. Dan aku ingin informasi itu secepatnya. Kau mengerti?"
"Ba-baik, Busajangnim." Hyunjoong membungkuk sopan, kemudian ia melangkah keluar meninggalkan ruangan Sehun.
Baru saja Hyunjoong duduk di tempatnya, tak lama kemudian Yunho datang. Hyunjoong lagi-lagi harus berdiri untuk menyapa pria itu.
"Sehun sudah datang?" tanya Yunho tanpa tedeng aling-aling.
"Sudah, Sajangnim. Anda ingin bertemu dengannya?"
Yunho mengangguk, "Jika ada orang yang datang, suruh menunggu di luar. Aku ada perlu dengannya."
"Baik."
Hyunjoong mempersilakan Yunho masuk ke ruangan Sehun. Pria itu mendapati adiknya duduk di balik layar netbook. Semula Yunho pikir Sehun tengah fokus bekerja, namun semuanya terbantahkan karena ia menangkap tatapan kosong dari sepasang mata elang itu.
"Sehun-ah?"
Sehun tidak menjawab. Pria itu justru menunduk sambil meremas rambutnya kasar.
Yunho terkikik geli. Wajah frustasi Sehun entah mengapa menjadi hiburan tersendiri baginya. Kakak yang jahat, ya?
"Hei, rambutmu bisa rontok jika kau remas seperti itu?"
Lamunan Sehun buyar. Ia mendongak dan seketika menatap sinis kepada kakaknya. "Ada apa kau ke sini, Hyung?" tanyanya galak.
"Tidak ada. Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Well, ternyata benar seperti dugaanku," Yunho mengusap dagunya sembari tersenyum jahil. "Sedang memikirkan cinta pertama Luhan, ya?"
Sehun mendesah panjang. Kentara sekali jika ia tidak suka dengan topik pembicaraan yang diusung Yunho.
"Jika kau ke sini hanya untuk membuatku semakin emosi, sebaiknya kau keluar saja, Hyung!"
Tawa Yunho meledak. Sehun yang menyaksikan pemandangan itu mendengus kesal.
"Ya ampun, Sehun. Baru kali ini aku melihatmu sangat frustasi hanya karena masalah perempuan," cibir Yunho.
"Kau tidak mengerti, Hyung!" Sehun menggeram emosi, "Jika dengan Hanna, kami dipertemukan lewat perjodohan. Kami tahu sejarah kehidupan masing-masing yang sama-sama belum pernah berpacaran sama sekali. Berbeda dengan Luhan. Awalnya kami bertemu secara tidak sengaja, tepatnya aku yang menemukannya lebih dulu. Lalu aku merancang skenario agar aku dan Haowen bisa bertemu dengannya. Sampai akhirnya kami menjalin hubungan seperti sekarang, aku tidak pernah tahu bagaimana masa lalu Luhan, Hyung."
Yunho mengangguk-angguk mendengar cerita panjang lebar yang dipaparkan Sehun.
"Luhan hanya pernah bilang kalau aku adalah pria pertama yang menjalin hubungan dengannya, dan aku pun berharap juga bisa menjadi yang terakhir baginya. Tapi setelah kejadian semalam, aku sadar bahwa selama ini aku tidak pernah mencari informasi apapun soal kisah percintaan Luhan di masa lalu."
Yunho terdiam. Diliriknya Sehun yang kembali menunduk sambil meremas rambutnya.
"Sekarang pria yang mengaku cinta pertama Luhan muncul di hadapan kami. Aish, aku harus bagaimana, Hyung?! Aku benar-benar takut jika Luhan akan kembali pada pria itu!"
Senyum simpul terukir di bibir Yunho, "Bodoh, hanya masalah seperti itu kau sampai frustasi seperti ini? Kau hanya perlu percaya pada Luhan, Sehun-ah."
Sehun menoleh dengan wajah kebingungan, "Percaya pada Luhan?"
Yunho mengangguk, kemudian berdeham pelan. "Kalau kau ingin dia selalu berada di sisimu, kau hanya perlu percaya pada Luhan. Maksudku, jangan pernah ragukan perasaan cintanya padamu. Sedikit saja kau meragukan cintanya, dengan mudah dia akan terlepas dari genggamanmu."
Sehun merenungi nasehat Yunho. Seulas senyum perlahan menghiasi wajahnya yang sempat tampak frustasi. "Kau benar, aku hanya perlu percaya pada Luhan. Terima kasih, Hyung. Perasaanku jauh lebih baik sekarang."
Yunho tersenyum. Di satu sisi, ia sangat menghormati keinginan Yifan yang berniat menguji cinta adiknya. Di sisi lain, ia pun tidak akan membiarkan Sehun terpuruk hanya karena kehadiran Yifan. Sebagai kakak, ia akan selalu mendukung apapun pilihan Sehun. Termasuk Luhan yang kelak akan menjadi adik iparnya. Karena itu, Sehun harus berhasil melewati ujian yang nantinya akan diberikan oleh Yifan.
"Woah, aku jadi semakin bersemangat untuk berkencan dengan Luhan malam nanti."
Yunho mengerjapkan matanya, "Kau akan berkencan dengan Luhan?"
Sehun mengangguk, setelahnya ia menarik napas panjang-panjang. "Aigo, sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Sekarang aku jadi sangat gugup, Hyung. Bagaimana ini?"
Yunho tergelak. Sehun benar-benar persis seperti remaja tanggung yang baru pertama kali mengenal cinta.
"Ck, kau itu terlalu lama menduda!" Yunho menggeleng geli, "Ajak saja ke tempat favoritmu atau kau sendiri yang menanyakan pada Luhan. Atau ... kau ajak saja dia menginap selama beberapa hari di luar kota."
Sehun melotot, "Ya, usul macam apa itu?! Ini kencan pertama kami. Tidak mungkin aku langsung membawa Luhan menginap ke luar kota. Lagi pula kami belum resmi menikah. Tidak semudah itu aku mengajaknya menginap bersama, Hyung."
"Dasar payah. Kau tidak akan pernah tahu sensasinya akan lebih menyenangkan saat mengajak kekasihmu menginap di luar kota," sahut Yunho.
Sehun memicing curiga, "Jangan-jangan kau sering mengajak Jaejoong-noona menginap di luar kota? Ayo mengaku!"
"Memang." Yunho menjawab santai dengan cengiran khasnya.
"Ck, akan kulaporkan pada appa dan eomma. Biar mereka tahu kelakuan anak sulungnya yang sangat mesum sepertimu."
"Seperti kau sendiri tidak mesum saja," Yunho memutar bola matanya malas. "Adukan saja pada mereka. Aku justru senang karena dengan begitu mereka akan segera menikahkan kami. Tidak seperti dirimu yang masih harus menghadapi cinta pertama kekasihnya. Kasihan."
Mata elang Sehun melebar, "Beruang gendut!"
"Serigala albino!"
"HYUUUUNG~"
Sebelum terkena lemparan map dari Sehun, Yunho sudah berlari keluar dari ruangan dengan gelak tawanya.
Dasar kakak beradik yang tidak ingat umur. Sama-sama sudah tua tapi kelakuan masih seperti anak kecil. Ckck ...
..
..
..
Yifan berbaring di atas sofa panjang yang ada di ruang tengah. Pria itu sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui ponselnya. Sesekali Yifan tertawa kala mendengar celotehan dari lawan bicaranya.
"Aku tidak akan setega itu, Zi." Yifan tertawa kecil, "Sudah kubilang aku hanya ingin menguji calon adik iparku. Mana mungkin aku menjalin hubungan dengan adikku sendiri?"
Tawa Yifan kembali pecah, "Aigo, kau cemburu, hm? Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahmu secara langsung. Seandainya saja kita melakukan video call, pasti aku bisa melihat wajahmu yang menggemaskan saat sedang marah," godanya.
"YIFAN!"
"Hanya bercanda, Sayang." Yifan tersenyum lembut, ia melirik ke sisi lain di mana orang tuanya baru keluar dari kamar. "Sudah dulu, ya. Nanti kutelepon lagi."
"Baiklah, aku juga harus melayani pasien."
"Eum, jangan terlalu lelah bekerja, ne? Kau harus selalu menjaga kesehatanmu, arrachi?"
"Aku ini seorang dokter, Tuan Yifan. Kau tidak perlu khawatir. Aku tahu batas kemampuanku."
"Dokter juga seorang manusia biasa, Zi. Tidak selamanya tahu batas kemampuannya sendiri," balas Yifan yang segera disambut protesan kesal dari seberang sana. Yifan kembali tertawa, "I love you, Honey."
"I love you too."
PIP!
Yifan mengakhiri obrolannya dengan sang kekasih yang berada di China. Senyum bahagia menghiasi wajahnya, membuat Tuan Shuhuan dan Nyonya Haneul saling memandang kebingungan. Mereka dengan jelas menangkap obrolan Yifan yang terdengar sangat mesra.
"Kau baru saja berbicara dengan siapa?" tanya Nyonya Haneul penasaran.
"Eomma ingin tahu saja," jawab Yifan jahil dan sukses membuat ibunya melotot. Ia tertawa puas, sementara Nyonya Haneul langsung merajuk pada suaminya. Tuan Shuhuan hanya menggeleng, sudah hafal dengan kebiasaan putra sulungnya yang kerap jahil pada ibunya sendiri. Dan kebiasaan merajuk istrinya ini menurun pada putri bungsunya.
Jadi tidak heran jika Yifan juga senang menjahili Luhan.
"Hanya bercanda, Eomma. Tadi aku sedang berbicara dengan Zizi. Dia kekasihku, namanya Huang Zitao," jawab Yifan dengan senyum khasnya.
"Jinjja? Kapan kau berniat membawanya ke sini? Eomma sudah tidak sabar ingin segera melihat calon menantu eomma~" rengek Nyonya Haneul. Benar-benar persis seperti anak kecil. Mungkin efek terlalu lama menunggu kedua putra-putrinya mengenalkan calon pasangan mereka.
"Dalam waktu dekat, Eomma. Dia masih harus bertugas di rumah sakit tempatnya bekerja," jawab Yifan. "Lagi pula, untuk saat ini masih ada hal yang harus kuselesaikan dulu."
Tuan Shuhuan menaikkan sebelah alisnya, "Hal yang harus kau selesaikan? Apa yang kau maksud urusan Luhan dan Sehun?"
"Yeobo!" Nyonya Haneul menoleh kaget. Terkejut karena sang suami langsung membahas apa yang ingin mereka tanyakan pada Yifan tanpa berbasa-basi lebih dulu.
"Sudahlah, aku tidak sabar ingin mendengar penjelasannya yang ikut campur dalam urusan pribadi Luhan," sergah Tuan Shuhuan.
"Hoo ... rupanya Luhan sudah mengadu pada kalian? Dasar rusa manja," cibir Yifan.
PLETAK!
"Aish, kenapa Appa memukul kepalaku?!" Yifan mengusap-usap kepalanya yang baru saja mendapat jitakan gratis dari Tuan Shuhuan.
"Itu hukuman karena kau sudah membuat putri kesayanganku kesusahan karena sikap jahilmu. Bagaimana jika keluarga Sehun tidak menerimanya, hah?!"
"Ck, Appa tidak perlu khawatir. Lagi pula orang tua dan kakak Sehun sudah tahu kalau aku ini kakak kandung Luhan. Aku sudah menemui mereka lebih dulu sebelum aku hadir dalam acara semalam." Yifan tersenyum penuh kemenangan, "Mereka ada di pihakku dan ikut membantuku untuk menguji Sehun."
"Tetap saja seharusnya kau bicarakan dulu rencanamu itu dengan kami, Yifan." Tuan Shuhuan menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan sikap Yifan yang selalu overprotektif pada adiknya.
"Kalian juga tidak memberitahuku kalau Luhan sudah mempunyai kekasih!" protes Yifan.
Nyonya Haneul mendesah, "Sudahlah, mau membela diri percuma saja. Anakmu ini keras kepala," bisiknya. Sayangnya itu lebih tepat dikategorikan sebagai ucapan ketimbang bisikan, karena suara Nyonya Haneul cukup keras saat mengatakannya.
"Eomma!"
Nyonya Haneul meringis lebar, sementara Tuan Shuhuan tertawa geli.
"Luhan itu sudah dewasa, Yifan. Dia berhak menentukan calon pasangannya sendiri tanpa campur tangan kita," jelas Tuan Shuhuan pelan-pelan.
"Sebagai kakak, aku juga berhak menilai calon adik iparku. Luhan itu sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam urusan percintaan. Aku benar-benar tidak habis pikir. Sekalinya dapat, justru duda beranak satu!"
"Cinta itu tidak memandang status maupun usia, Yifan. Lagi pula, Sehun lebih muda darimu. Dia juga sangat tampan, oh ... anaknya juga sangat menggemaskan! Begitu mereka menikah, eomma langsung mendapat cucu, yeay!"
Yifan memutar bola matanya jengah. Sudah biasa akan segala tingkah ajaib ibunya.
"Pokoknya appa tidak mau tahu. Kau harus tetap pada batasanmu. Tidak boleh mencampuri urusan mereka terlalu jauh," Tuan Shuhuan menghela napas panjang. "Appa hanya tidak ingin Sehun salah paham dan membuatnya semakin runyam."
"Itu berarti dia tidak percaya pada Luhan," celetuk Yifan santai. Setelahnya terdiam usai mendapat tatapan tajam dari ayahnya. "Iya, iya. Aku tahu. Aku tidak akan berbuat macam-macam."
"Bagus."
"Tapi ..." Yifan tersenyum tanpa dosa, "Jangan salahkan aku jika berhasil memancing kemarahan adik iparku. Aku belum puas jika belum melihatnya mengamuk seperti banteng, Appa."
"YIFAN!"
Tepat saat teriakan keras ayahnya, Yifan sudah berlari meninggalkan ruang tengah sambil tertawa puas. Nyonya Haneul menggeleng melihat kelakuan anak sulungnya, lalu menatap sinis ke arah suaminya.
"Lihat, anakmu mewarisi sikap jahilmu." Nyonya Haneul mendengus kesal. "Awas saja kalau dia berbuat macam-macam pada calon menantuku. Akan kubuat naga itu kembali ke tempat asalnya!"
Tuan Shuhuan tertawa geli. Kalau ia mewariskan sikap jahilnya pada Yifan, maka istrinya mewariskan sikap pemarah tapi menggemaskan pada Luhan. Lihat saja ekspresi wajah istrinya sekarang. Benar-benar persis seperti Luhan ketika sedang merajuk.
"Ya, semoga saja Yifan bisa menepati janjinya ..."
TO BE CONTINUED
20 Juli 2016
A/N : Yuhuuu ... akhirnya kelar juga nulis chapter ini. Hihi, maaf untuk keterlambatannya *deep bow*
Tuh, Yifan akhirnya digetok juga sama ayahnya. Salah sendiri sih, udah tahu adiknya lagi kasmaran sama Sehun malah dikerjain. Situ malah enak-enak sendiri sama Zizi (^_^)
Intinya sih karakter Yifan ini abang yang rada koplak (eh, emang koplak sih kekeke). Jadi dia nggak bener-bener ngelarang Luhan sama Sehun, cuma sekedar menguji. Beda sama karakter Yifan di WPMIG. Sama-sama overprotektif sih, tapi kalau di sini masih ada konyolnya. Sementara yang di WPMIG dia super galak sama Sehun, soalnya di sana karakter Sehun playboy cap kadal wkwkwkw
Chapter depan HunHan kencan. Udah pada siap sama sweet-moment mereka yang entah ke berapa? Berharap nggak ada gangguan ya *senyum evil*
Eniwei, aku posting cerita terbaru loh. Judulnya Picture of You (1shot). Kali aja ada yang berminat baca (bagi yang belum hehe)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya *bye-bye*
Special Thanks to :
teukiangle, elisabethlaurenti12399, huangfe, Rin SNL, sehunfans, osehn, Wiwiet, hunhunrinlu, oktafernanda666, ChanHunBaek, park hye cha, Angel Deer, AGNESA201, wollfdeer520, BabyByunie, nareul, Fe261, fakkpark, fangirlll95, Telekinetics726, fuckyeahSeKaiYeol, nadiraauliaa, reykovandafell, hime31ryuka, Selenia Oh, keziaf, kartikaandri15, almurfa, Ririn Ayu, Kim YeHyun, luvjongin, vietrona chan, Mustika253, Oh Hanniee, Hunna04, sehunluhan0494, He Who Controls The Light, Guest (1), satanSEKAI, Sanshaini Hikari, Shierashie94, sherli898, Arifahohse, Seravin509, Bambi, moebyansz, HHCBcouple, ZzzxHan, Juna Oh, PxnkAutumnxx, Park Rinhyun-Uchiha, joon park, sehunnissa, Hunhanlove, Asmaul, fikaa194, daebaektaeluv, Hanna Hyun, zuhrohlulu . shiners, Mocha-chan, lululovehunnie, Skymoebius, ramyoon, chenma, dokipoki, ichaadyah, hunwifey, nina park huang, ChagiLu, OhXiSeLu, kimjunheekji, Nurul999, joohyunkies, shintaaulia23, pcyB . I, awk . ohra, Gaemgyu402evilmaknae, xi serin, DwiLu, anaknyaAmiAbi, yousee, jdc21, Oh Hee Ra, kyulkulator, Annisawinds, dozhanghan, AlienBaby88, xytehoon, bylvcky, Byunsilb, chocovanila, arosiwonest603, HunHanCherry1220, srilestari, rizkianita16, xiaoluhan1220, hatakehanahungry, babydkas, Fujiwaracha, 07VA, ori . aurel, XiXunLu, Yuliani Kim, shintaelf, anxbyul, BLUEFIRE0805, iwinmagnaemochi, PCYKarinPark, syifka . ardhina, Avivah495
I love you all *muach*
