Previous..

"Kondisi Luhan masih kritis. Tapi dia akan baik-baik saja."

Sehun tertawa lirih lalu kemudian berjalan gontai menuju kursi terdekat dan menjambak kuat rambutnya begitu frustasi "Luhan...Luhan...LUHAAAAAAAN!"

Saat ini tidak ada yang lebih diinginkan Sehun selain memanggil nama istrinya, berharap jika dia yang memanggilnya Luhan akan mendengarnya dan segera membuka matanya. Namun dia tahu itu percuma karena memanggil nama Luhan hanya alasan untuk menenangkan dirinya yang begitu ketakutan saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

The Death Fourth Part II

.

.

.

Main Cast : Oh Sehun , Lu Han, Kim Jongin, and Park Chanyeol

Main Pair : HunHan

Genre : Romance, Action, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : T-M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

Lu-..hey sayang. Ini aku. Tetap sadar dan tetap bersamaku mohon.

Luhan...

Luhan...

LUHAAAAANNNNNNNNN!

"haaahh~.."

Kedua mata itu pun otomatis terbuka saat mendengar namanya dipanggil oleh satu-satunya pria yang ia cintai, dia mengerjap beberapa kali untuk membiasakan diri dengan penglihatannya yang seperti sudah lama tak membuka. Dan setelah membiasakan diri pria yang sering disebut playmaker dalam pekerjaan yang ia jalani itu pun berusaha menggerakan tangannya dan menyadari ada sebuah tangan yang menggenggamnya erat disana.

Luhan kemudian sedikit tersenyum terlalu mengenali tangan yang kini menggenggamnya dengan erat

"Se-sehun..."

Luhan berusaha memanggil suaminya namun sepertinya Sehun sedang tertidur pulas terdengar dari suara nafasnya yang begitu tenang, "Sehu-Sehunnie."

Luhan sedikit terkekeh menyadari suaranya begitu tercekat sementara Sehun memang benar-benar tertidur pulas saat ini, dia berniat kembali memanggil Sehun sampai

"Astaga Luhan-..Luhan kau sudah sadar?"

Barulah saat suara Kyungsoo menjerit, Sehun memberikan pergerakan dan terkesiap melihat wajah istrinya tengah tersenyum cantik menatapnya saat ini. Sehun seperti kehabisan nafas karena setelah dua minggu lamanya Luhan akhirnya kembali sadarkan diri

"Luhan?"

"hmmm?"

"Kenapa kau tidur lama sekali. Aku hampir membentakmu kalau kau tak kunjung sadarkan diri" Gumam Sehun berkaca-kaca dan beranjak memeluk Luhan erat membuat Luhan bertanya-tanya pada dirinya sudah berapa lama dia tak sadarkan diri sampai dia menyadari satu hal.

"adik bayi? Sehun... Mana adik bayi? Adik bayi baik-baik sa-.."

"Adik bayi sudah lahir dan dia sehat sayang. Dia ada berada di ruang khusus karena masih terlalu kecil, tapi Yixing bilang dia sudah boleh keluar jika tubuhnya sudah bisa beradaptasi dengan baik."

"be-benarkah? Adik bayi sudah lahir? Anakku baik-baik saja? Benarkan sayang?'

"Benar Lu-...dia lelaki kuat seperti ibunya, Namanya Haowen-..Oh Haowen. Apa kau suka?"

Luhan mengangguk cepat dan menghapus air matanya "Aku suka sayang. Aku suka nama putra kita. Syukurlah." Luhan kembali memeluk erat Sehun dan terisak hebat disana sampai suara dua pria yang begitu ia rindukan juga terdengar saat ini.

"LUHAAAAAANNNN"

Kai menghambur dan membawa Sehun menjauh sementara dirinya memeluk erat Luhan, begitupun Chanyeol yang sudah tak bisa menahan diri dan ikut memeluk Luhan bersamaan dengan Kai membuat Luhan tertawa bersyukur masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarganya.

..

..

..

"Kenapa aku belum dibolehkan pulang? Lagipula putra kecilku juga sudah tampak sehat."

Luhan yang sedang duduk di kursi roda mendongak bertanya pada Kai dan Chanyeol yang mengantarnya ke ruang khusus perawatan bayi melihat putra kecilnya untuk yang pertama kali.

"Kalian berdua belum cukup sehat untuk diperbolehkan pulang. Nanti saja sabar sebentar lagi."

"Apa aku belum boleh menggendong putraku juga?"

"Nanti Luhan... adik bayi masih beradpatasi saat ini." gumam Kai berjongkok didepan Luhan dan menarik gemas hidung Luhan yang tak berhenti berbicara dari saat dia membuka matanya hingga sekarang dia melihat putranya.

"Aku ingin menciumnya."

"Aku juga, tapi kita harus bersabar."

"hmm Baiklah, oia mana Sehun? Kenapa aku belum melihatnya."

Kai berdiri dan menatap Chanyeol sekilas sebelum akhirnya keduanya memutuskan membawa Luhan kembali ke ruangannya.

"Sehun sedang mengurus sesuatu, sebentar lagi dia pasti datang." Ujar Chanyeol memberitahu Luhan dan mendorong kursi roda Luhan menuju ruangannya.

"Dia tidak melakukan hal berbahaya kan?"

"Tidak nyonya besar. Suamimu hanya mengurus beberapa keperluan untuk adik bayi mengingat putramu lahir dua bulan lebih cepat." Timpal Kai memberitahu Luhan

"Itu Sehun." Kai kembali menunjuk pria yang sedari tadi ditunggu Luhan, membuat wajah Luhan berbinar dan tersenyum lebar mendapati suaminya sedang berjalan ke arahnya.

"Habis melihat adik bayi?" Sehun sedikit membungkuk mencium bibir Luhan dan mengambil alih posisi Chanyeol yang mendorong kursi roda Luhan.

"Hmm..Adik bayi sangat tampan Sehunna seperti aku." Gumam Luhan mendongak memberitahu suaminya yang tampak terkekeh diikuti suara kekehan yang berasal dari Kai dan Chanyeol disamping kanan kirinya

"y-yak!"

"Kau cantik sayang. Aku yang tampan. Jadi jika kau bilang adik bayi tampan. Maka itu Sehun kecil bukan Luhan kecil."

"ish tidak adil." Gerutu Luhan membuat Sehun mengelus sayang pundak istrinya sebelum akhirnya menggendong Luhan kembali berbaring ke tempat tidurnya.

"Jangan menggerutu kau sudah menjadi ibu sekarang. Jadi istriku harus bersikap dewasa."

"Memangnya kenapa kalau aku menjadi i-.."

"LUHAAANNN..."

Kembali terdengar suara teriakan yang kali ini berasal dari Kyungsoo dan Baekhyun membuat Luhan terkekeh saat melihat Sehun mendengus sebal karena kelakuan Kyungsoo dan Baekhyun tidak berbeda dengan kelakuan Kai dan Chanyeol.

"Wah...kalian membawa apa?" mata Luhan berbinar melihat begitu banyak belanjaan yang dibawa oleh Kyungsoo dan Baekhyun membuat Sehun benar-benar tak tahan melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan.

"Aku ingin bicara dengan Kai dan Chanyeol. Kau tunggu disini bersama Kyungsoo dan Baekhyun ya."

"Bicara apa? Kenapa aku tidak boleh ikut mendengar?"

"Bukan hal penting sayang. Lagipula sepertinya matamu tidak bisa lepas dari hadiah yang dibawa Baekhyun dan Kyungsoo. Sebentar ya.." Sehun mengecup sekilas bibir Luhan membuat Luhan secara refleks mengangguk.

"Cepat kembali. Aku ingin melihat adik bayi bersama ayahnya."

"Aku benar-benar tidak menyangka sudah menjadi seorang ayah. Terimakasih untukmu sayang." gumam Sehun yang semenjak kelahiran putranya selalu terlihat cemas dan tidak tenang. Dia sedikit menghela nafasnya dan tak lama melihat ke arah Kai dan Chanyeol.

"Kai..Chanyeol...ikut aku sebentar."

Kedua pria yang masih sibuk memperhatikan Luhan dan hadiah yang dibawa kekasih masing-masing pun sedikit menatap Sehun dan menyadari ada yang berbeda dari tatapan Sehun saat ini.

"Oke." Balas keduanya bersamaan dan tak lama mengikuti Sehun yang kini berjalan didepan mereka.

"Ada apa?"

Chanyeol bertanya pada Sehun saat ketiganya sampai di atap rumah sakit, sedikit bingung memperhatikan Sehun yang sedang membuka kemeja putihnya dan seketika membelalak melihat bekas darah di seluruh kaos putih yang Sehun kenakan.

"Sehun kau terluka.." ujar Kai mendekati Sehun lalu kemudian kembali mengernyit menyadari kalau warna merah itu hanya noda darah yang mengering di pakaian Sehun.

"Ini bukan darahku. Ini darah bajingan yang hampir membuatku kehilangan Luhan dan putraku."

"K-kau menemukannya?" Chanyeol bertanya mendekati Sehun yang kini melepas kaosnya dan membuangnya asal ke tempat sampah yang berada di atap rumah sakit tersebut.

"Aku sudah membunuhya."

"Apa kau bilang?" Kai bertanya memastikan pendengarannya mengenai penuturan Sehun saat ini.

"Aku sudah membunuhnya."

"Dimana? Kapan kau melakukannya?"

Terdengar suara kesal Kai yang tak bisa ikut menghabisi bajingan yang sudah mencelakai Luhan tepat didepan matanya.

"Pagi tadi di markas kita. Aku tidak bisa memberitahu kalian karena Luhan pasti akan bertanya. Aku tidak ingin membuatnya ketakutan."

"Kau mengenalnya?" Kini Chanyeol yang bertanya terdengar tertarik pada identitas pelaku.

"Tidak sama sekali. Mereka hanya kaki tangan Jungkook yang mencoba membalas dendam."

"Sampah." Geram Kai yang merasa puas Sehun sudah menghabisi bajingan amatir yang hampir membuat Luhan dan bayinya terluka.

"Tapi mereka tidak sendiri."

"Apa maksudmu?" Kai dan Chanyeol bertanya hampir bersamaan menatap raut wajah Sehun yang menatap keduanya tak berkedip.

"Sebelum aku membunuh bajingan itu dia mengatakan kalau semakin kita menghabisi mereka maka akan semakin banyak yang mengganggu kehidupan kita. Itu janji mereka."

"Itu hanya gertakan sampah. Kau tidak perlu mendengarkannya."

"Gertakan kau bilang? Luhan dilukai didepan mata kita bertiga dan tak ada yang bisa kita lakukan. JADI BAGAIMANA BISA KAU BILANG INI HANYA GERTAKAN?" Sehun menggeram marah menatap Kai yang hanya membalasnya tak berkedip.

"Aku tahu ada yang ingin kau sampaikan. Cepat katakan apa yang kau inginkan, jangan membuang waktu." Chanyeol bersandar di dinding dekat pintu masuk melerai Sehun dan Kai yang mulai bersitegang.

"Aku akan membawa Luhan pergi."

"Kau akan apa?" Kai kembali bertanya dengan nada tak sukanya mendengar ucapan Sehun.

"Aku akan membawa istri dan putraku pergi." Katanya mengulang tak menatap kedua sahabatnya.

"haah~.." Terdengar Chanyeol menghela nafasnya dan berjalan mendekat ke arah Kai dan Sehun berada "Baiklah jika itu yang kau mau. Kita pergi bersama." Katanya memberiitahu Sehun yang kini menggelengkan kepalanya lemah.

"Kita tidak bisa tinggal bersama lagi untuk sementara."

Baik Kai dan Chanyeol merasa tubuh mereka masing-masing membeku saat ini mendengar ucapan Sehun. Jantung keduanya berdegup kencang dan terlihat sekali kalau keduanya sedang menatap kesal pada Sehun saat ini.

"Apa maksudmu?" Chanyeol bertanya dengan nada setenang mungkin tidak ingin membuat suasana semakin tegang.

"Aku akan membawa Luhan ke rumah ayahnya di Gyeongnam. Hanya Luhan, aku dan putraku. Aku minta maaf. Tapi kalian tidak bisa ikut dengan kami. Hanya seme-..."

"OH SEHUN!"

Kai berteriak mencengkram kerah Sehun dan menatap sahabatnya yang memucat dengan begitu emosi. Nafasya tersengal dengan tangan yang semakin kuat mencengkram kerah Sehun yang kini terlihat kesulitan bernafas.

"Katakan kalau kau tidak serius dengan ucapanmu."

Sehun hanya diam membiarkan Kai mengeluarkan emosinya dan menerima semua bentuk kemarahan yang akan kedua temannya lakukan karena keputusannya pada hidup Luhan selanjutnya.

"KATAKAN KAU TIDAK SERIUS!" Kai mengguncang bahu Sehun dan semakin kesal karena tak mendapat jawaban apapun.

"OH SEH-..."

"Aku serius. Aku serius akan membawanya pergi dari Seoul ke tempat ayahnya. Aku minta maaf untuk mengatakan ini pada kalian. Tapi sementara waktu kita tidak bisa tinggal bersama lagi."

Kai tanpa sadar mengeratkan cengkramannya di kerah Sehun sementara Chanyeol merasa mual mendengar penuturan Sehun mengenai keputusannya untuk membawa Luhan pergi.

"Kau tidak bisa-...KAU TIDAK BISA MEMBAWANYA PERGI LAGI DARIKU." Kai kembali berteriak semakin marah membuat Sehun menatapnya tak berkedip saat ini.

"Aku bisa."

"BRENGSEK!." Kai mengepalkan erat tangannya dan

Bugh...!

"KAI!"

Chanyeol secara refleks berdiri di tengah-tengah Sehun dan Kai yang kini saling menatap tajam dimana yang satu terlihat sangat marah sementara yang satu terlihat menyesal dengan keputusannya.

"Sehun kenapa kau seperti ini?" chanyeol bertanya frustasi pada Sehun yang terlihat diam dan tak bisa menjawab.

"Aku terpaksa mengambil keputusan ini. Aku takut mereka disakiti. Hanya karena aku dan Luhan hidup didunia mengerikan bukan berarti kami harus hidup dalam ketakutan bahkan disaat kami harusnya berbahagia karena kehadiran buat hati kami kan?"

Nafas Kai perlahan mulai terdengar normal dan Chanyeol mulai mengerti situasi dimana menjadi kepala keluarga memang sudah seharusnya melakukan apapun untuk keselamatan keluarganya. Semua berhak diputuskan selama itu merupakan keputusan yang terbaik.

"Tapi apa perlu membawanya pergi? Kita pernah melakukan ini sebelumnya dan itu menyakitkan Sehun." Chanyeol mulai berbicara sedikit bergetar menatap Sehun yang kini merasa bersalah pada kedua sahabatnya.

"Aku tahu. Aku juga merasakan yang kita semua rasakan. Kehilangan dan merasa sangat sepi bahkan di tengah keramaian. Tapi aku terpaksa, semua ini untuk Luhan bukan untukku."

"Sampai kapan kau membawanya pergi?" Kai memotong seluruh ucapan Sehun dan bertanya sampai kapan mereka kembali harus terpisah.

"Sampai aku merasa yakin kalau tidak akan ada yang menyentuh istri dan putraku." Gumamnya menatap kosong Kai dan Chanyeol yang sepertinya mulai tak mempunyai pilihan lain selain menerima keputusan Sehun saat ini.

"Kita tetap akan bertemu, yang membedakan hanya tidak bisa setiap saat seperti ini. Luhan akan menjerit jika tahu aku membuat keputusan ini dan aku membutuhkan kalian untuk membantuku. Aku mohon." Katanya memohon meminta bantuan pada kedua temannya.

Sehun hampir menggeram frustasi karena tak mendapat jawaban baik dari Kai maupun Chanyeol. Dia menatap kedua temannya dengan sangat sampai akhirnya Kai terlihat berjalan meninggalkan atap rumah sakit "Jaga dia selama aku tidak bisa mengawasinya. Dan kembalikan Luhan padaku secepatnya."

Itu adalah kata-kata yang dilontarkan Kai sebelum dirinya benar-benar meninggalkan Sehun dan Chanyeol yang masih saling menatap saat ini.

"Apa kau ingat janji kita untuk terus hidup bersama bahkan sampai nanti anak kita tumbuh besar dan memiliki keluarga sendiri?" Chanyeol bertanya sedikit bergetar menatap Sehun yang semakin bersalah saat ini.

"Ya... Tentu saja aku ingat." Katanya membalas Chanyeol setenang mungkin tapi tak menutup rasa bersalahnya pada pria yang paling dewasa diantara mereka berempat saat ini.

"Tepati janjimu dan bawa Luhan kembali padaku secepatnya." Gumam Chanyeol yang dengan berat hati menerima keputusan Sehun dan tak lama bergegas menyusul Kai untuk segera melihat Luhan yang mungkin akan dibawa oleh Sehun secepatnya.

"yeol..."

Chanyeol berhenti melangkah saat Sehun memanggilnya dia kembali membalikan badannya sampai akhirnya tatapan mereka kembali bertemu.

"Terimakasih. Aku janji akan membawa Luhan pulang secepatnya."

"Sebaiknya begitu." Balas Chanyeol tersenyum pahit dan kembali berjalan meninggalkan atap rumah sakit untuk segera menemui Luhan.

Sehun hanya bisa tersenyum lirih melihat kepergian kedua temannya yang sudah hidup bersamanya jauh sebelum Luhan memasuki kehidupan mereka. Ketiganya bahkan hampir tak pernah hidup berpisah, tapi semenjak kedatangan Luhan mereka seolah memiliki kelemahan dan ketakutan dengan alasan tak bisa menjaga dengan baik. Dan karena hal itulah Sehun membuat keputusan yang sangat memberatkan untuk mereka berempat. Diam-diam dirinya tersenyum kecil tak bisa menyembunyikan rasa lega dan bersyukur karena baik Kai maupun Chanyeol kini merelakan keputusannya.

..

..

..

Dan tak terasa hari ini sudah memasuki hari ke tiga puluh Luhan dan bayi kecilnya berada dirumah sakit. Dan itu artinya hari dimana Sehun akan membawa Luhan pergi hanya tinggal menghitung waktu karena Kyuhyun dan Yixing, keduanya mengatakan bahwa Luhan dan bayi kecilnya sudah bisa meninggalkan rumah sakit karena kondisi keduanya sudah sangat baik dan adik bayi sudah tidak perlu tinggal di inkubator kecilnya karena beratnya telah mencukupi untuk bisa tinggal di ruangan yang sama dengan kedua orang tuanya.

Dan jika Sehun tidak membuat keputusan akan membawa Luhan dan bayinya pergi, mungkin canda tawa yang saat ini terdengar di ruangan Luhan akan terasa bahagia dan tak terlalu menyedihkan baik untuk Kai maupun Chanyeol. Karena satu-satunya yang tertawa bahagia tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya adalah Luhan. Dan ketiga pria yang sedang mendampinginya begitu bahagia melihat wajah ceria itu selalu tersenyum.

"Kau harus cepat besar adik bayi. Ayahmu. Papamu dan Daddy yeol akan membuatmu jagoan hebat seperti iron man." Gumam Luhan berbisik pada putranya yang kini sedang tertidur di pelukannya sementara Luhan duduk di kursi roda sedang bersiap menunggu penyelesaian administrasi biaya rumah sakit.

"Oia...apa kamar Haowen sudah siap?" Luhan bertanya menatap ketiga pria nya yang seperti mematung tak bisa menjawab pertanyaan Luhan.

"Aku bertanya." Gumam Luhan yang mulai kesal tak mendapat jawaban.

"Tentu saja sudah. Kami sudah mendekorasi kamar Haowen. Dia akan senang pulang kerumah." Balas Kai tersenyum pahit melihat Luhan.

"Baguslah. Aku benar-benar tak sabar segera pulang kerumah."

Chanyeol dan Kai hanya bisa tersenyum pahit di masing-masing tempatnya. Sampai akhirnya Kai berjalan mendekati Luhan dan berjongkok didepan Luhan "Papa akan senang jika bisa mendengar tangisanmu nak. Kau harus sehat dan jangan merepotkan ibumu yang manja." Gumam Kai berbisik di telinga Haowen membuat Luhan sedikit terkekeh mendengarnya.

"Kau memang harus bangun tengah malam saat Haowen menangis nanti Kai." Katanya membuat raut sedih di wajah Kai sangat terlihat saat ini "Aku bersedia tidak tidur semalaman hanya untuk merawatnya." Gumamnya terdengar sedih membuat Luhan sedikit bingung.

"Kenapa kau berbicara seolah kau akan pergi jauh." Luhan bertanya menyelidik pada Kai yang kini terlihat semakin menunduk.

Bukan aku tapi kau...

Ingin sekali Kai berbicara seperti itu tapi dia kemudian teringat janjinya pada Sehun dan tak ingin membuat Luhan tersiksa saat ini "Jangan berfikir macam-macam. Kita akan terus bersama cantik." Katanya mengecup kening Luhan cukup lama lalu kemudian berdiri membelakangi Luhan tak tahan menyadari kebersamaanya dengan pria yang selalu ia goda sebentar lagi akan berakhir.

"Kenapa kalian terlihat aneh?" Luhan kali ini menyadari kalau bukan hanya Kai yang terlalu diam melainkan Chanyeol dan suaminya juga tidak terlalu banyak berbicara membuatnya sedikit takut saat ini.

"Jangan berfikir macam-macam." Kali ini Chanyeol yang berjalan mendekati Luhan dan berjongkok didepan Luhan sambil memperhatikan wajah Haowen yang tertidur begitu nyaman di pelukan Luhan. "Kami baik-baik saja." Gumam Chanyeol yang masih terus mengelus surai lembut Haowen dan berkata tanpa menatap Luhan.

"Aku rasa kalian menyembunyikan sesuatu dariku."

"Tidak ada yang disembunyikan. Aku rasa ini sudah waktunya kita pergi." Chanyeol mencium kening Haowen dan tersenyum lucu saat putra kecilnya menggeliat merasa tak nyaman "Daddy loves you Haowen." Gumam Chanyeol sepelan mungkin dan tak lama menatap wajah cantik Luhan yang bahkan semakin cantik setiap harinya "Aku menyayangimu." Katanya mencium kening Luhan dan tak lama berdiri di belakang kursi roda Luhan.

"Sehun... apa ada yang tertinggal?" Chanyeol diam-diam menghapus air matanya dan bertanya pada Sehun yang hanya menatap kosong kedua temannya satat ini. "Tidak ada."

"Baguslah. Ayo kita pulang Lu. Adik bayi sudah tidak sabat tidur dirumahnya." Gumam Chanyeol mendorong pelan kursi roda Luhan meninggalkan Sehun yang masih terdiam dan Kai yang masih menenangkan dirinya yang kacau.

"Maaf." Gumam Sehun mendekati Kai dan memegang pundak sahabatnya yang terasa tegang tak bergeming. Kai pun menoleh sekilas dan tersenyum pahit menatap Sehun "Jangan meminta maaf. Jaga dia dan putra kecil kita. Oke?" katanya bergetar menghapus air matanya dan memberitahu Sehun yang tersenyum kecil saat ini "Oke." Gumam Sehun membalas dan tak lama keduanya menyusul Chanyeol dan Luhan yang sudah menunggu didepan lift untuk kembali ke tempat masing-masing saat ini.

"eh Paman Han? Kenapa disini?"

Luhan sedikit terkejut mendapati asisten kepercayaan ayahnya tengah berdiri tersenyum menyambutnya di lobi rumah sakit lengkap dengan mobil yang sudah terbuka seolah mempersilahkan dirinya untuk segera masuk kedalamnya.

"Selamat malam tuan muda dan tuan muda kecil." Paman Han sedikit membungkuk menyapa Luhan dan Chanyeol lalu kemudian menatap gemas pada bayi yang sedang tertidur di pangkuan Luhan saat ini.

"Paman kenapa kau kesini? Apa ayah disini?"

Paman Han menggeleng dan masih tersenyum pada Luhan "Saya disini menjemput anda."

Luhan menaikkan kedua alisnya sedikit mendongak menatap Chanyeol yang hanya diam memucat tak menjawab celotehan Luhan "Menjemputku? Tapi aku pulang bersama Sehun."

"Kita pulang dengan paman Han sayang." Suara Sehun menginterupsi membuat Luhan sedikit menoleh dan semakin mengernyit tak mengerti "Kenapa tiba-tiba dengan paman Han?"

"Aku mendapatkan hadiah utuk adik bayi dari ayahmu. Jadi kenapa aku harus menolak?" gumam Sehun mengecup kening Luhan dan berjongkok menjelaskan tanpa ragu pada istrinya.

"Pulang ke rumah kita?"

Kali ini Sehun sedikit terdiam menatap Luhan sampai dia melihat kedua temannya yang mengangguk memberi persetujuan untuknya membuat Sehun mendapatkan kepercayaan dirinya untuk membuat Luhan mengerti keputusan yang akan ia buat sebentar lagi "Ya..kita pulang ke rumah."

"Jika anda sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang Tuan Oh."

Sehun pun mengangguk dan tak lama Kai mengambil putra kecilnya sementara dirinya menggendong Luhan masuk kedalam mobil.

"Omo! Kenapa kalian ada disini?" Luhan sedikit terkejut mendapati Janggu dan Monggu berada di mobil ayahnya sedang menggonggong kecil menyapanya. "Aku sangat merindukan kalian." Gumam Luhan menciumi wajah Monggu dan Janggu bergantian memeluk kedua anjingnya begitu erat.

Sementara perhatian Luhan teralihkan karena Janggu dan Monggu. Kai masih menatap Haowen cukup lama dan mengecupinya beberapa kali sebelum akhirnya menyerahkan Haowen pada ayahnya "Aku mohon jangan pergi terlalu lama." Gumam Kai kembali merasa sangat sesak meminta pada Sehun yang menatap lirih padanya "Aku akan segera membawa Luhan kembali jika saatnya tiba. Aku janji."

"Sebaiknya begitu. Aku tidak tahan dengan perpisahan sialan ini." gumam Chanyeol mengelus pipi Haowen dan sesekali menatap Sehun dengan kecewa. "Pergilah. Ini sudah malam." Katanya mencium kening Haowen dan tersenyum menatap Luhan yang masih sibuk melepas rindu pada Janggu dan Monggu yang kembali diberikan oleh Kai untuk menemani Luhan saat mereka berjauhan.

Sehun pun mengangguk dan memeluk sekilas Kai dan Chanyeol bergantian "Jaga diri kalian. Sampaikan salamku pada Kyungsoo dan Baekhyun."

Keduanya pun mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk Sehun yang kini memangku putranya.

"eh? Kalian tidak ikut?" Luhan bertanya saat Kai dan Chanyeol tak bergeming pada tempat mereka saat ini.

"Kami akan menyusul. Sampai nanti Luhan." keduanya tersenyum menatap Luhan untuk yang terakhir kali sebelum mobil paman Han berjalan meninggalkan lobi rumah sakit.

"Kenapa aku merasa sedih melihat wajah Kai dan Chanyeol?" gumam Luhan yang menoleh ke belakang dan mendapati Kai serta Chanyeol yang melambai ke arahnya dengan wajah pucat yang terlihat di wajah masing-masing.

"Sehun...Apa semua baik-baik saja?" Luhan bertanya pada suaminya yang juga terdiam tak menjawab apapun selama perjalanan mereka.

"Semua kan baik-baik saja sayang. Sekarang tidurlah, kau pasti lelah." Gumam Sehun menarik Luhan untuk bersandar di pelukannya bersama adik bayi yang juga berada di pelukan Sehun.

Sehun terus mengelus sayang punggung Luhan sampai akhirnya bibir tipisnya tersenyum mendengar suara nafas Luhan yang begitu berat menandakan istrinya benar-benar telah beristirahat. Sehun kemudian menghela nafasnya dan mencium sayang kening Luhan, diam-diam meminta maaf karena kembali harus membuat Luhan berpisah dengan Kai dan Chanyeol "Maafkan aku sayang." Gumam Sehun sedikit terisak tak membayangkan bagaimana reaksi Luhan sesampainya mereka dirumah ayahnya.

..

..

..

"Lu...hey sayang. Kita sudah sampai."

Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam lamanya. Mobil paman Han akhirnya terparkir di halaman rumah Luhan yang begitu luas, membuat Sehun sedikit ragu untuk membangunkan Luhan sampai akhirnya tersenyum saat melihat kedua mata Luhan perlahan membuka.

"Kita sudah sampai?" katanya bertanya pada Sehun yang kini mengecup bibirnya lembut.

"Kita sudah sampai sayang."

"Kenapa lama sekali? Mana adik bayi?"

Sehun merasa inilah saatnya memberitahukan pada Luhan mengenai keputusannya sebelum Luhan menyadari dimana mereka berada saat ini. Sementara Sehun merasa ragu, Luhan yang sedang melihat sekitar dan merasa familiar dengan suasana serta pemandangan halaman luas yang tidak asing untuknya.

"tunggu. Sehun kenapa kita bisa berada dirumah ayahku?"

Luhan melihat ke sekitar dan semakin berdegup kencang menyadari ada yang tidak beres yang membuatnya berakhir di rumah kedua orang tuanya.

"Sayang aku-..."

"Mana Haowen?" katanya bertanya sedikit takut menyadari Haowen tak berada bersama mereka.

"Bibi Kim sudah membawa Haowen kekamarnya."

"Ke kamarnya? Apa maksudmu?"

Tiba-tiba raut wajah Kai dan Chanyeol yang sudah bertingkah aneh belakangan ini terlintas di benak Luhan dan seketika membuat Luhan merasa mual karena baru menyadari bahwa eskpresi yang diberikan Kai dan Chanyeol adalah ekpresi yang sama saat mereka akan berpisah beberapa waktu lalu.

"Mulai hari ini kita tidak akan kembali kerumah kita Lu. Kita akan tinggal disini untuk sementara."

Luhan membelalak menatap Sehun dan merasa nafasnya terengah sebelum akhirnya kembali bersuara meminta penjelasan pada suaminya "apa maksudmu?"

..

..

..

"TEGA SEKALI KAU MEMBUAT KEPUTUSAN SEPERTI ITU!"

Saat ini Luhan dan Sehun sudah berada di dalam rumah dengan Haowen yang sudah tertidur di kamarnya sementara Tuan Xi terlihat mendengarkan pertengkaran hebat yang terjadi antara putra dan menantunya.

Luhan merasa sangat marah pada keputusan yang Sehun buat tanpa melibatkan dirinya. Dan semua hal yang sedang terjadi saat ini sudah seperti perkiraan Sehun sebelumnya. Luhan akan menjerit dan Luhan akan marah sampai wajahnya memerah dan yang bisa Sehun lakukan hanya diam dan menatap memohon maaf padanya.

"Aku terpaksa sayang. Aku tidak bisa membuatmu terus dalam bahaya."

"JIKA SEPERTI INI KAU MEMBUNUHKU PERLAHAN. KITA SUDAH BERJANJI UNTUK TERUS HIDUP BERSAMA APAPUN YANG TERJADI. KENAPA KALIAN TEGA SEKALI PADAKU." Geramnya berteriak memukuli dada Sehun dengan air mata yang tak mau berhenti keluar dari matanya.

"Kita akan kembali bersama Luhan." gumam Sehun yang terus membiarkan istrinya melampiaskan kemarahannya pada Sehun.

"KAU BOHONG SEHUN! KAU MEMBOHONGIKU arghhhhh!" Luhan meraung menggigit paha Sehun dan kini tersedu memeluk erat kaki Sehun karena dirinya sudah sangat lemas dan takut saat ini.

"Aku mau pulang hkss..Aku mau rumahku. Aku mau bersama Kai dan Chanyeol. Aku mohon sayang. Aku mohon aku mau pulang." Luhan terisak pilu membuat hati Sehun memejamkan erat matanya merasa begitu hancur melihat istrinya seperti ini. Dia kemudian ikut berjongkok dan menangkup wajah Luhan yang memerah saat ini.

"Aku janji kita akan pulang sayang. Aku janji."

"K-kapan kita pulang? Minggu depan?"

Sehun menggeleng menyesal dan mencium kening bibir istrinya sekilas "Aku tidak bisa menjanjikan kapan kita bisa pulang. Aku hanya menjanjikan kita akan kembali bersama pada akhirnya."

"Kau jahat Sehun-...Kau jahat argghhhh!" Luhan kembali menjerit dan memukul dada Sehun membuat Sehun jatuh terduduk saat ini sementara tangannya masih mencoba menggapai Luhan menatap istrinya dengan begitu menyesal

"Maaf sayang. Maafkan aku."

"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!"

Luhan menjerit dan tak lama berlari ke kamarnay meninggalkan Sehun yang hanya bisa menerima perubahan sikap Luhan yang pasti akan membencinya setelah ini "Aku minta maaf sayang." Gumamnya tersenyum lirih dan tak lama berjalan menuju kamar Haowen untuk menenangkan dirinya saat ini.

Sementara itu Tuan Xi yang mendengar pertengakaran Luhan dan menantunya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dengan jelas betapa kekanakan putranya dan betapa bodoh menantunya yang bahkan tak menjelaskan apapun mengenai keputusan yang ia buat.

Membuat pria yang sudah memasuki usia enam puluh tahun itu mau tak mau menghela nafasnya dan memutuskan untuk mencoba berbicara pada putra tunggalnya yang pasti masih marah dan kesal saat ini.

Cklek...!

"PERGI KAU! AKU TIDAK MAU BERBICARA DENGANMU."

"Ini ayah Lu."

Luhan dengan cepat menoleh dan berlari ke pelukan ayahnya. "appa..." gumam Luhan yang merasa menyesal karena harus menyapa ayahnya dalam kondisi seperti ini.

"Aku sudah melihat cucuku. Dia terlihat tampan seperti ayahnya. Terimakasih sudah membawa keajaiban untuk hidup ayah ." katanya mencium kening Luhan namun tak mendapat respon apapun dari Luhan.

"Kenapa menangis dan berteriak? Kau bahkan belum ada satu jam berada disini." Tuan Xi bertanya dan membawa Luhan duduk di sofa yang berada di kamarnya dan Sehun.

"Aku bahkan tidak tahu kalau aku akan datang kesini. Maaf karena tidak memberitahumu terlebih dulu." katanya menyesal dan semakin memeluk rindu pria tua didepannya.

"Ayah tahu kalau kalian akan datang malam ini. ayah bahkan tahu kalian akan menetap disini"

"eh? Kau tahu? Jadi semua ini sudah direncanakan?" Luhan bertanya dengan emosi yang kembali menguasai dirinya.

"Sehun sudah merencanakan semuanya nak."

"Dia keterlaluan. Dia bahkan tidak memberitahukannya padaku." Geram Luhan mengusap kasar wajahnya dengan frustasi.

"Ayah juga akan melakukan hal yang sama dengan yang Sehun lakukan jika ibumu masih hidup."

Luhan secara refleks melihat ayahnya dan menatap bingung pria paruh baya yang sedang mengusap lembut pipinya saat ini "Apa maksud ayah?"

Tuan Xi tampak tersenyum dan menghela nafasnya membertitahu Luhan "Sebulan yang lalu Sehun menemui ayah dan menangis berlutut didepan ayah. Dia begitu menyesal membuatmu terluka didepan kedua matanya sendiri sementara dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolongmu. Ayah sudah mengatakan tidak apa karena kau sudah sadarkan diri. Tapi Sehun terus menangis menyesali semua yang terjadi padamu." katanya memberitahu Luhan yang merasa bersalah karena membentak suaminya saat ini.

"Puncaknya adalah dua minggu yang lalu saat untuk pertama kalinya dia melihat luka jahitan di punggungmu. Suamimu kembali menemui ayah dan kembali menangis didepan ayah takut membayangkan hal buruk kembali terjadi padamu. Dan hari itu adalah hari yang berat untuknya karena dia memutuskan untuk membawamu menetap disini dan meninggalkan kehidupan kalian di Seoul. Sehun menangis hebat malam itu."

Luhan merasa hatinya teriris pedih mendengar bagaimana suaminya begitu tersiksa melihat jahitan di punggungnya. Dan Luhan berani bertaruh kalau ayahnya adalah orang pertama yang bisa melihat seorang Oh Sehun menangis tersedu karena terlalu mengkhawatirkan dirinya dan membayangkan hal itu entah mengapa membuat hati Luhan menghangat.

"Kau harus tahu kalau seorang suami akan melakukan apapun untuk melindungi istri dan buah hatinya. Ayah juga melakukan hal itu saat harus berjuang dengan penyakit ibumu. Ayah melakukan segala cara untuk menyembuhkan ibumu. Tapi ayah kalah-...ayah kalah karena ayah harus berhadapan dengan takdir Tuhan." Katanya tersenyum lirih menatap satu-satunya buah hati yang ia dapatkan bersama istri tercintanya.

"Tapi Sehun-...dia tidak berhadapan dengan takdir Tuhan. Dia berhadapan dengan sekumpulan orang jahat yang hanya ingin menyakitimu untuk membalas dendam. Sehun berniat melindungimu dan dia melakukannya dengan caranya. Jadi jangan bersikap seperti ini pada suamimu. Hatinya pasti sangat hancur saat ini." gumam Tuan Xi menghapus air mata putranya dan mencium kening Luhan cukup lama.

"appa..." Luhan kembali memeluk erat ayahnya melepas rindu yang begitu menyesakan untuk satu-satunya pria yang benar-benar mencintai ibunya. Sama seperti dia mencintai Sehun.

"Bicara dan temui Sehun nak. Dia pasti sangat merasa bersalah saat ini."

Luhan pun mengangguk dan tak lama menghapus cepat air matanya. "Aku akan meminta maaf padanya."

"Itu baru anakku." Gumam Tuan Xi kembali mencium kening Luhan sebelum akhirnya melihat punggung putranya menghilang dari balik pintu.

Sementara itu Luhan langsung berlari menuju kamar putranya yang berada persis disamping kamarnya, dia bergegas membuka pintunya dan

"Sehun!"

Dirinya mengernyit tak mendapati Sehun dikamar putra mereka, dia kemudian menutup perlahan pintu kamar Haowen sebelum akhirnya berlari menuruni tangga memanggil nama Sehun yang tak kunjung menjawab panggilannya.

"Seh-..."

Luhan tersenyum saat berhasil menemukan suaminya yang kini sedang duduk di halaman belakang rumahnya dengan Janggu dan Monggu yang menemani pria yang terlihat sedih malam ini.

"Maaf membuat kalian kembali terpisah dari Jongin. Sama seperti aku berjanji pada istriku, aku juga berjanji pada kalian kalau kita akan kembali hidup bersama nantinya. Jangan membenciku hmm." Gumam Sehun mengusak lembut Janggu dan Monggu bergantian. Membuat Luhan yang mendengarnya semakin merasa bersalah karena baru saja membentak suaminya beberapa saat yang lalu.

Guk...guk...!

"Iya...aku janji akan membawa kalian kem-..."

"Sebaiknya begitu."

Sehun sedikit terkejut saat tiba-tiba Luhan duduk di pangkuannya dan sedang menatapnya tersenyum saat ini. Membuatnya harus berkali-kali mengerjapkan matanya takut mengira kalau Luhan yang sedang duduk di pangkuannya hanya imajinasi sesaat karena terlalu merindukan istrinya.

"Maaf aku membentakmu." Luhan melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun dan mencium telak bibir suaminya yang terasa sangat dingin.

"Luhan?"

"ish. Iya ini aku. Aku sedang meminta maaf padamu." katanya bersandar di dada bidang suaminya dan menyamankan posisinya saat ini.

"Lihat aku sebentar." Sehun menangkup wajah Luhan dan menatapnya cukup lama sampai akhirnya tersenyum bahagia karena Luhan yang berada didepannya saat ini adalah benar-benar Luhan, istrinya.

"Kau tidak marah lagi padaku?"

"Aku masih sedikit kesal padamu. tapi aku sudah tidak marah lagi. Maaf membentakmu." Katanya merasa bersalah dan sedikit tak berani menatap Sehun.

Sehun pun kembali menangkup wajah Luhan dan menggigit gemas bibir merah milik Luhan "Aku minta maaf karena tak memberitahumu sebelumnya. Aku tahu kau tidak akan setuju. Aku hanya-..."

Ucapan Sehun teredam saat Luhan mencium lembut bibirnya saat ini, membungkam bibir suaminya dengan lembut dan saling menggigit kecil bibir masing-masing sebelum pagutan kecil itu terlepas. "Aku janji akan mengikuti semua ucapanmu mulai saat ini." gumam Luhan mengusap bibir Sehun yang menjadi sedikit basah karena ulahnya.

"Benarkah? Kenapa tiba-tiba?" Sehun bertanya mencurigai perubahan sikap Luhan.

"ummh...Karena kata ayah kau menangis karena terlalu mencintaiku. Jadi aku akan membayarnya dengan mengikuti semua keinginanmu. Semuanya."

"Aku tidak menangis."

"Kau menangis."

"Aku tidak-...haah~ Baiklah..." Sehun tersenyum sangat tampan saat ini, perasaan gundahnya tiba-tiba saja menghilang saat melihat wajah Luhan yang tersenyum begitu hangat padanya. Dia kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Luhan dan tak lama berdiri dengan Luhan berada di gendongannya.

"Kau yang mengatakan akan menuruti semua keinginanku. Jadi tanggung sendiri akibatnya." Gumam Sehun mencium sekilas bibir Luhan dan perlahan berjalan menuju kamar mereka dengan Janggu dan Monggu yang mengikuti di belakang.

"Tapi kau juga harus menepati janjimu untuk membawaku pulang. Aku tidak mau berpisah dengan Kai dan Chanyeol terlalu lama." Katanya bergumam sedih mengingat tak akan melihat wajah Kai dan Chanyeol untuk sementara waktu.

"Aku janji sayang. Lagipula mereka akan mengunjungi kita dan Haowen. Kau tidak perlu khawatir."

Luhan hanya membiarkan Sehun membawanya sementara dirinya menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher jenjang suaminya.

"Sehun-..."

"hmmm.."

"Terimakasih sudah mencintaiku dengan sangat banyak."

Sehun tersenyum dan mengecup pucuk kepala Luhan dengan sayang "Itu akan bertambah banyak seiring waktu yang akan kita lewati bersama Lu."

Luhan kemudian mendongak dan menatap Sehun yang terlihat tampan dengan rambut hitamnya yang terlihat acak karena pertengkaran mereka belum lama tadi. Luhan kemudian mencuri ciuman Sehun dan tak lama kembali bersandar di perpotongan leher suaminya

"Kalau begitu sudah dipastikan cintaku untukmu akan lebih banyak."

Sehun terkekeh dan sedikit membenarkan gendongannya pada Luhan "Buktikan kalau begitu."

"Baiklah aku harus melakukan apa agar kau percaya?"

"ummhh...Kau cukup melakukan satu hal untukku." Gumam Sehun berbisik di telinga Luhan.

"Katakan."

"Aku ingin Haowen memiliki dua adik untuk menemaninya bermain."

"y-yak!" Luhan memekik saat mendengar permintaan suaminya yang membuatnya seketika merona.

"Aku serius Lu."

"Sehun..."

"Aku serius."

Luhan mendelik dan tak lama menghela dalam nafasnya "Baiklah. Dua adik untuk Haowen."

Sehun tertawa kencang tak tahan menghadapi tingkah Luhan yang begitu menyebalkan dan menggemaskan disaat bersamaan. Hal itu membuatnya semakin suka menggoda Luhan yang kini sedang bersembunyi di perpotongan lehernya.

"Aku bersemangat membuatnya." Sehun kembali berbisik menggoda Luhan yang wajahnya kini merona hebat.

"ish. Terserah kau saja." Gumam Luhan menggerutu namun diam-diam tersenyum karena terlalu menyukai bagaimana cara Sehun semua itu hanya miliknya.

Karena apapun tentang Sehun adalah milik Luhan. Dan apapun tentang Luhan semua adalah milik Sehun.


tobecontinued...


.

Mau liat Haowen punya ade kan?

Mau liat Luhan balik lagi kerumah kan?

Mau liat wedding Kaisoo sama Chanbaek kan?

Mau liat rempongnya anak2 TDF pada ngumpul kan?

.

Kalo gitu biarin gw napas sebentar dan kasi gw satu chapter tambahan lagi yak kkkkk...

.

Jadi officially end nya di chap 11..setuju yak ? *iyaa ka pleeeeeeeettt...#efek jari kram kebanyakan ngetik :""

.

Okay happy reading n review...

.

Next update : Entangled...