Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)

Cerita ini merupakan fanfiction, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun. I Love BTS :*

BTS Fanfiction

Polar Opposite

Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.

[10]

.

.

.

-Polar Opposite-

10

Melawan alpha.

Itu adalah mustahil dilakukan ketika masa rut mereka tiba. Bahkan bagi Taehyung sendiri, yang biasanya berhasil berlaku sebaliknya ketika alpha yang lain bisa mempengaruhi diri mereka semaunya. Bagi Taehyung, masa rut adalah waktu yang paling sukar dielak.

Naluri dan hasrat yang memuncak. Sebuah siklus yang menunjukkan betapa takdir lebih kuasa berkehendak. Sesadar apapun kondisi Taehyung sekarang, jikalau takdir bermain di antaranya di puncak siklusnya—tiada beda lagi mana dia maupun ruh alpha.

"—Sshh.."

Desisan parau. Gelombang mereka naik secara kontinyu, akibat panas yang bergesekan. Akibat peluh yang berpencar, akibat tangan-tangan nakal, dan tentunya—akibat lidah-lidah yang menjelajah.

Tubuh sang omega tidak lebih besar dari alpha, sama pun tidak. Sang omega masih pria, namun posturnya yang kini terkulai mencoba mengimbangi lidah dan tangan sang alpha yang bergerilya di dada dan punggungnya tampak begitu kecil. Seperti memang sudah ukurannya untuk menjadi yang butuh dimanja. Butuh dipuja.

Tangan sang alpha sudah menari bebas, memastikan betapa halus punggung sang omega yang kebenaran faktanya membuat sumbu bawahnya tersengat gelombang-gelombang yang kian memanas. Ditambah lagi gesekan-gesekan di bawah sana. Jika bukan karena lidah dan mulutnya sibuk menghisap dada seperti menuntut sesuatu keluar dari sana, erangan gagah pasti akan menggema lebih keras.

Karena mereka sama-sama keras, dan panas.

Hanya desahan parau sang omega yang memenuhi ruang dengan umpatan di setiap kesempatan. Hanya suara resahnya, dengan lidah tajam seperti biasa, menengadah untuk mengumpat ketika Taehyung—alpha itu masih saja menjelajah di tubuhnya.

Mencecap setiap jengkalnya. Menghisap, menggigit, bahkan hingga ke sudut antara belakang telinganya. Taehyung benar-benar menjubahinya, sementara kedua tangan hangatnya menjamah sekitar selangkangan sang omega.

Menggerayangi pinggul, mengusap pusar dan paha, dan berakhir menangkup dua bongkah bokong yang menggoda—meremasnya, membuat telinganya kembali mendengar erangan sang omega. Terkadang menggoda di depan peraduan, sekedar menggerayang, maupun menusuk dangkal. Sungguh, sebuah tindakan menggoda yang membuat sang omega tersiksa.

"K-kau hh, kurang ajarh!"

Kemudian dia kembali mendesah. "Nn—ahh, cepatlah!"

Namun demikian, Taehyung hanya tersenyum di sela-sela hisapannya. Masih sibuk menikmatinya, sembari diam-diam mencoba menguasai kembali tubuh rutnya.

Bagaimanapun, Taehyung adalah alpha yang istimewa. Logikanya berjalan semestinya, meski sebagian besar isinya sangat ingin berakhir menghamili omeganya. Tapi, Taehyung masih dengan lembut menyadarkan dirinya.

Taehyung merasa akan sangat menyiksa bagi Yoongi jika ia tak bisa mengendalikan gelombangnya ketika memasuki tubuh sang omega. Yoongi mungkin akan kehabisan napas, tak sanggup mengimbanginya jika Taehyung tidak menurunkan sedikit besar gelombangnya.

Taehyung bisa mengamuk, dan mencelakakan Yoongi jika tidak mempersiapkan semuanya dengan baik. Maka dari itu, dia memperpanjang foreplay, memastikan dengan benar kalau Yoongi siap, serta kekuatannya sendiri berkurang. Supaya Yoongi bisa mengimbanginya, supaya Taehyung tidak mencelakainya.

Clak!

Bunyi decak usai Taehyung menghisap keras, menarik dada kanan Yoongi dalam hisapan sebelum melepas kecupan dan menimbulkan bekas kebiruan. Yoongi mendesah, menggelinjang parah. Tangannya menjamah punggung sang alpha, sementara pinggulnya meronta dan semakin menggesek tanpa diminta. "Hh—ah,"

Namun, Taehyung hanya tersenyum tanpa dosa melihat ekspresi yang ada dalam kungkungannya, membuat Yoongi geram dalam erangan pasrahnya. Sebab, meski Taehyung melepas kulumannya, tubuhnya masih menjepit Yoongi penuh kuasa. Sedang tangannya masih berada di atas bokongnya—meremas-remasnya hingga kemudian meraih pinggulnya dan membuat Yoongi bangun terduduk di atas pangkuannya.

Yoongi merasakan jantungnya berpacu semakin keras. Wajahnya merona, semakin menyeluruh hingga ke belakang telinga. Apa-apaan pose ini?! Yoongi malu, gila.

"I need to take something," ucap Taehyung tepat di sebelah telinga. Yoongi mengerang singkat, reflek meremang ke seluruh tubuhnya. Suara Taehyung, bung. Parau, dalam, seksi gila.

"Tapi, aku tidak mau melepasmu."

Maka dari itu, Taehyung masih merangkul mesra pinggul Yoongi ketika tubuhnya condong untuk meraih rak di bawah nakas di sebelah kasur. Mencari sesuatu yang dia simpan di kamar Hoseok karena tidak ingin ketahuan Minjae telah memilikinya. Sedang Yoongi hanya berpegangan pada bahu kekar sang alpha—sedikit tidak menyangka karena dia pikir Taehyung hanya berupa gumpalan lemak seperti yang terjadi pada perutnya. Ternyata dia salah, dan Yoongi tak henti merona.

Clik!

Yoongi melebarkan matanya seketika, mengerjap cepat, dan berusaha keras memahami keadaan. Tangannya naik ke lehernya, merasakan sebuah benda seperti chocker melapisi lehernya yang sudah terpetak kebiruan beberapa, sebelum Taehyung membanting tubuhnya ke samping dan mengungkungnya.

Yoongi terkesiap.

"Aku tidak menyangka ini akan berguna," gumamnya sembari mengendusi sisi-sisi chocker, menjilatinya juga. "Tadinya hanya iseng saja, sekarang malah kupakai karena ada tujuannya."

"K-kenapa?" Yoongi lirih bertanya, di sela-sela desisan mesra. "T-tidak bertanggung—"

"Jangan merendahkanku untuk hal itu, Yoongi." Yoongi terkesiap, suara dalam sang alpha telak mengambil kombinasinya. "Aku hanya memikirkan kita, dan Mamamu juga. Jadi, diam, dan kita selesaikan yang ini saja."

"Ck!"

Taehyung menghela napasnya sembari menarik wajah Yoongi untuk menghadapnya. Diusapnya kening Yoongi yang mengkilat bersama rambut-rambut basah yang berserak. Yoongi terdiam, hanya terhenyak singkat ketika bibir hangat itu mendarat di kening, dekat pelipisnya.

"Atur napasmu lebih tenang, Yoongi-ah," gumam Taehyung di dekat pelipisnya. "Tarik napas dalam, satu, dua…"

"Ahk—" Yoongi terhenyak, hampir tersedak. Sesuatu memasuki dirinya dari belakang sana. Sebuah jari, masuk dengan begitu mudahnya dan mulai menjelajah di dalam sana. "Hnn—Ahh."

Tangan Yoongi meraba pungguh sang alpha, mencari pegangan, sedang jari Taehyung yang kedua dan ketiga masuk selang beberapa detik saja. Yoongi mendesah, sementara Taehyung pun masih mengecupi keningnya bersamaan dengan tangannya yang melingkar dan mengusapi dadanya. Yoongi terkesiap, Taehyung benar-benar hati-hati untuk mempersiapkan dirinya.

Yoongi merona, sialnya merona! Kenapa juga dia repot-repot melakukan ini semua? Bukankah dia alpha? Kenapa tidak langsung serang saja? Toh Omega dalam tubuhnya hanya ingin dia. Tapi, kenapa?

"B-bukankah kau sedang rut—Ashh—"

Taehyung mengangkat alisnya, menatap Yoongi dari samping dan tersenyum dengan tampannya. Taehyung masih mengecupi pelipis, menemani Yoongi yang hampir gila karena tiga jari Taehyung di dalam sana.

"T-taehh!"

Yoongi hampir sampai, bahkan reflek menggerakkan pinggulnya sehingga bagian depan miliknya yang super erektil itu bisa menggesek lebih cepat. Taehyung tersenyum penuh makna untuk ini semua. "Tidak sabar, huh?"

"J-jangan berhent—YAH!"

Yoongi berteriak, mendelik pada Taehyung ketika ketiga jari itu keluar bersamaan dengan tubuh Taehyung yang terangkat. Sehingga, tidak ada lagi yang memasukinya, dan tidak ada lagi yang diajak beradu hingga tuntas puncaknya. "KAU—AH!"

.

Bruk!

Yoongi tiba-tiba dibalik paksa, membuat tubuhnya tengkurap dengan bagian bokong menantang ke atas. Dasar alpha tidak tertebak! Yoongi baru mau mengumpat ketika sesuatu yang besar menggoda pintu masuknya, membuat Yoongi reflek menggeram dan menenggelamkan kepalanya di atas kasur.

Gila, gila, gila! Itu tidak akan muat! Tidak akan muat!

"T-Taehyung, itu.. tidak A—AHK!"

Taehyung menggeram, mengecupi tengkuk Yoongi yang terlindung di balik chocker tadi. Yoongi bergerak resah, tubuhnya perlahan terasa terbelah. "Hng—ngahh—AhK!"

Taehyung menggeram. Pinggulnya bergerak mendorong lebih dalam, sementara giginya menancap di atas chocker yang dipakai Yoongi. Sedangkan Yoongi,

"Nn—ahhh! Ahhk!"

Dia merasa terbelah sepenuhnya. Terbelah dan penuh. Serta, menggila.

Sebab, Taehyung tidak memberinya kesempatan untuk beradaptasi barang sejenak saja. Meski dimulai pelan, tapi Yoongi bahkan belum merasa kembali ke sisi warasnya. Taehyung sudah bergerak, menarik pinggulnya dan mendorongnya. Membuat Yoongi kacau, sekacau aroma heat yang mendadak merebak bercampur aroma maskulin sang alpha yang rut.

.

"Hya—ahh, Tae!"

.

Sukses.

Yoongi bukan lagi omega yang virgin. Taehyung sudah mengambil jatah pertama matenya, menggempurnya habis.

Meski belum terikat tanda, dan Taehyung belum memenuhi peraduannya dengan sperma.

.

-Polar Opposite-

.

Hoseok masih bersama dua juniornya, menunggu Tuan Muda mereka yang tengah digagahi Taehyung—tetangga yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Benar. Pada akhirnya, dia menyerahkan mereka berdua untuk menurut pada naluri, meski sekali saja. Sebab, Hoseok sudah tidak bisa memikirkan cara apa-apa.

Hanya cara ini yang bisa dilakukan olehnya. Sebuah cara yang mungkin akan mempermudah Yoongi melawan heatnya selama hari-hari yang tersisa.

"Hoseok-ssi," tegur Luigi yang duduk di sebelahnya. "Selanjutnya bagaimana?"

"Bagaimana?" Hoseok mengerutkan keningnya, sebelum menghela napasnya singkat. "Mereka akan kembali ke kehidupan semula, mungkin?"

"Huh?" Wendy menyahut, merasa pernyataan Hoseok sangat tidak lucu. "M-maaf, tapi, mana mungkin begitu? Tuanku—"

"Tolong rahasiakan ini dulu dari Tuan Taemin," sahut Hoseok, tidak peduli jika Wendy belum menyelesaikan kalimatnya. "Setidaknya, untuk keselamatan kalian berdua. Biar aku saja yang bertanggung jawab untuk ini ke depannya."

Hoseok memijat keningnya, melirik sekilas pada pintu kamarnya yang sedang dijadikan ajang pergumulan panas dua muda yang sama berharganya baginya. Tidak ada suara-suara karena kamar Hoseok kedap suara. Hoseok kemudian menatap dua juniornya yang menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.

"Doakan saja jika Tuan Muda Yoongi dapat mengurangi masalah heatnya beberapa hari ke depan setelah kegiatan ini."

.

-Polar Opposite-

.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar Hoseok terbuka. Wendy baru selesai mencuci piring bekas dipakai makan. Luigi tengah asik membaca majalah bisnis di tempatnya.

Pintu terbuka dan menampakkan sosok Taehyung yang sudah tampak segar dengan aroma sabun kesukaan Hoseok. Sosok yang lekas terkesiap karena terkejut mendapati Hoseok sudah bersilang tangan di depan dadanya.

"H-hyung! Kau meng—" Taehyung tiba-tiba menahan seruannya, menoleh ke belakang, sebelum menatap Hoseok lagi dan meneruskan kalimatnya dengan suara yang lirih. "—ngagetkanku!"

Hoseok hanya mencebik sebelum menghela napasnya. "Sudah selesai?"

Tidak langsung dijawab, Hoseok mencebik lagi. Nyatanya, bocah itu hanya tersenyum kaku. Antara malu, senang, bingung, dan menyesal yang ditunjukkan menjadi satu. Hanya sekilas mengangkat bahu. Hoseok pun mendengus pelan.

"Aku baru mau mendobrak pintu dan memisahkan kalian secara paksa jika kalian bermain lebih lama lagi, tahu?" Hoseok berjalan mendekat ke arah kamar, diikuti Taehyung yang tangannya masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. "Sebentar lagi, Tuan Besar akan pulang."

Hoseok berjalan ke arah lemari, sementara Taehyung sudah duduk di tepi kasur, di dekat Yoongi. Hoseok membuka lemari, sejenak melirik ke kiri untuk mendapati Tuan Mudanya tertidur pulas dengan kondisi yang sudah rapi dan wangi. Sudah pasti, Taehyung menyempatkan untuk membersihkan Yoongi juga. Hoseok sudah bertahun-tahun mengenal bocah ini.

"Apa aku boleh ikut mengantar Yoongi, hyung?"

Hoseok berbalik, menghadap Taehyung sembari membawa sebuah jas, lengkap dengan seragam dan atributnya. "Tentu saja. Justru, kau yang wajib mengantarnya. Itu tanggung jawabmu."

"Apa?" Taehyung sedikit terkejut, lekas merasa mulai panik. "A-apa maksudmu aku harus bertemu dengan Mamanya juga dan meminta restu—"

"Bukan, genius. Tidak seceroboh itu," potong Hoseok.

"T-tapi aku sudah—eum, ya memang belum kutandai."

Hoseok menatapnya datar, membuat Taehyung mengerjap cepat. Hoseok berdecak sembari menyodorkan jas dan pakaian yang tadi diambilnya pada Taehyung. "Hebat. Adikku sudah belajar jadi brengsek rupanya."

Hoseok tebak, setelah ini Taehyung tidak akan mengelak. Dia hanya akan diam, dan menyetujui kalimat yang akan dikeluarkan Hoseok berikutnya. "Menggagahi omega polos tanpa menandainya. Bukankah itu brengsek sekali?"

Telak.

Taehyung benar-benar tidak menjawab apapun. Lidahnya kelu, lehernya kaku. Dadanya tiba-tiba merasa berat. Hoseok benar. Yang dilakukannya adalah perilaku yang sangat kurang ajar. Brengsek, dan sungguh mencoret tekadnya untuk menjadi kepala keluarga yang terhormat di masa depan.

Hoseok kemudian tertawa pelan. "Dan si brengsek ini menyesali perbuatannya, hum?"

Hoseok kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kepala Taehyung perlahan terangkat dengan mata tak berani menatap kakaknya. Hoseok tersenyum diam-diam, meskipun senyumnya sebagian sarat dengan kasihan.

Bagaimanapun, Taehyung masih terlalu lugu untuk mengambil risiko berat yang menanti dirinya di masa depan. Sebuah risiko yang akan bermain dengan hati dan statusnya. Hoseok merasa perlu menyusun rencana yang tepat untuk kebaikan mereka.

"Pakai itu, Tae. Kau yang akan menggendong Yoongi ke kamarnya," tukas Hoseok sebelum ia sendiri mengambil seragam yang lain untuk dikenakan.

"Setelah itu, malam ini kau harus menginap di sini. Semua perbuatanmu harus kau cuci sendiri," ucapnya, sukses membuat Taehyung menggembungkan pipinya. Hoseok terkekeh, lalu menghela napasnya. "Setelah itu, kita harus bicara. Mengenai masa depanmu, Yoongi, dan segala aturan yang harus kau turuti. Kita akan mendiskusikan itu,"lanjut Hoseok sebelum pergi ke kamar lain untuk berganti.

Taehyung terdiam untuk menyetujui. Sedikit banyak dia sudah mengerti jika Hoseok akan membicarakan ini. Bukan lagi tentang dia yang brengsek, tapi tentang Yoongi si pewaris dan dia yang orang biasa.

Taehyung menghela napasnya. Melalui deru alphanya yang tenang, bisa ia dengar juga napas omega yang ada di sebelahnya juga terlelap.

Jika hari ini aku benar-benar menolak takdir, apakah ini akan lebih mudah?

Sialnya, aku masih punya mimpi untuk membangun keluarga suatu hari nanti. Melawan takdir sama saja mati. Aku masih ingin bermain dengan anak-anakku, esok, ujar Kim Taehyung, dalam hati.

.

.

-TBC-

Mind to Review?


Semakin gila. Saya pun jadi ikut tidak waras sama cerita ini wkwk

Sorry for typo (s), I don't have a personal editor kkk..

Selamat datang di keabsurdanku yang lain..

Salam

Sugarsister!