Haihai…! Wuiih, ff ini ternyata udah banyak banget chapternya! Sesuatu banget *plakk*! Aduh? Telat updateee! *headbang ke dinding* Oke, langsung baca! Biarkan DeiLu meratapai kesalahan fatal ini…
Disclaimer : Oom Masashi Kisihimoto
Cerita, DeiLu punya!
oOo
(November Event)
Satu bulan sudah berlalu, kali ini bulan November. Aku sudah mengetahui kapan ulang tahunnya sekarang. Tidak sampai 2 minggu lagi dia memasuki usia selanjutnya. Semua informasi kudapat dari Konan. Sekarang aku sudah terbiasa dengan mereka berDUA. Hanya satu orang yang belum bisa kukendalikan sikapku. Yap, kepada Sasori.
"Konan, un! Kamu mau tidak belajar bersama di apartemenku?" tanyaku.
"Mmm, baiklah. Tapi jam berapa?" tanyanya yang sedang merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ya…pokoknya nanti aku telepon saja, un. Tapi mau kan?" tanyaku dengan ber-kitty face + eyes. (maklum DeiLu gak suka puppy)
"Iya…"
"Mmm…apa kau tidak ada acara lagi dengan anak 10-D, un?" tanyaku.
"Mm…tidak. Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Soalnya, aku ingin mengajakmu pulang, un." Jawabku dengan nada yang lebih pelan.
"Ah…baiklah. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bukankah kau akhir-akhir ini sudah lebih akrab dengannya?" Tanya Konan dengan curiga.
"Iya sih…tapi aku sedang tidak ingin pulang dengannya, un."
"Kenapa?"
"Karena aku mempunyai 'janji' dengan temanku, un."
Konan hanya bersikap santai dan tidak ingin membeberkan rahasia 'teman baru'-nya itu.
"Baiklah, ayo pulang!" ajaknya.
oOo
Malam harinya, aku menelpon Konan.
"Halo."
"Konan, un. Apa kau bisa belajar dirumahku sekarang?" tanyaku.
"Sekarang? Baiklah! Aku segera datang!" jawab Konan dan segera menutup teleponnya.
Bahagia dan juga senang. Itulah yang kurasakan saat ini. Kemudian, aku segera mebereskan apartemenku.
TOK TOK TOK
"Ya, un! Sebentar!" teriakku sambil membukakan pintu.
"Selamat datang Konan-cha…n, un" ucapku yang hampir terputus ketika aku membuka mataku. Dia juga mengajak 3 orang terkeren di sekolah itu! Dan aku sangat grogi di saat itu juga!
"Ma-mari masuk, un." Ucapku gugup.
"Wah…kau rajin juga ya! Rapi sekali kamarmu!" puji Konan. Itachi dan Kisame hanya bisa mengangguk-angguk dan Sasori hanya bisa pasang stay cool-nya.
Tak lama kemudian, kami pun mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Walaupun kami semua berbeda kelas, tapi setidaknya kami bisa mendapat bahan-bahan materi pelajarannya yang akan datang.
"Ahh…aku haus! Dei-chan, maukah Dei-chan mengambilkanku minum?" tawar Konan.
Kisame dan Itachi hanya bisa mengangguk-angguk (lagi).
"Baiklah, un…yuk Konan-chan!" ajakku.
"Padahal kan aku yang minta, kenapa aku harus ikutan membuat minumnya?" gumamnya dan akhirnya mengikutiku ke dapur.
Konan's POV
"Huh…membosankan, un!" keluh Deidara.
"Kenapa?" tanyaku.
"Bukannya kau habis bersenang-senang dengannya?" gumamku.
"Uh?" tanyanya.
"Ah, tidak. Maksudku, bukankah kau sudah bersenang-senang sepanjang malam kerjamu bersama Mae?" tanyaku gugup.
Deidara hanya bisa menjawab pertanyaanku dengan wajah yang lemas. Hampir saja aku ingin tertawa, tapi aku memalingkan pandanganku dan berpura-pura batuk. Jika saja dia tahu kalau Mae itu hanya mengerjainya.
"Untung saja tidak kelepasan." Batinku lega.
"Yah, sebetulnya bisa juga sih, un. Tapi, entah kenapa selalu ada yang ganjil, un! Aku tidak tahu itu apa!" jawabnya sambil menata gelas, dan aku mengambil satu botol sirup yang sudah dicampuri dengan air yang dijamin rasanya pas di dalam lemari esnya.
"Yuk, kita ke tempat belajar lagi! Lagian mereka juga sudah mulai haus tuh!" ajakku.
Dia pun tersenyum.
End of Konan's POV
"Akhirnya, pelayannya datang juga!" ucap Kisame yang daritadi sudah kipas-kipasan dengan buku kimianya.
Konan pun mendeathglare Kisame, sedangkan aku sama sekali tidak tersinggung karena itu adalah pekerjaan sampinganku.
Baru beberapa langkahku dari dapur, Sasori dengan cepat mengambil tatakan gelas yang kupegang.
"Eghem!" Kisame berdehem.
"Egh…eghem!" dilanjut dengan Konan.
"Ghem…" dehem Itachi pelan.
"Iya, ya sabar! Ini juga mau diisi gelasnya! Kalo suara serek jangan gede-gede juga kali dehemnya!" ucap Sasori jengkel sambil menuangkan sirup ke dalam gelas-gelas dengan cepat dan lincah. Semua gelas, kecuali miliknya.
"Sori deh kalo nyinggung!" kata Kisame setelah meminum seteguk sirup yang sudah terisi digelasnya.
"Lebih baik kau minum juga seperti yang lain. Nggak enak tahu sama kamunya." kata Konan yang kemudian memberikanku isyarat bahwa aku yang harus menuangkan minuman itu digelasnya.
Aku membalas isyarat itu dengan menunjuk diriku sendiri yang berarti kenapa-harus-aku, dan Konan pun memberikan deathglare padaku. Sebuah ancaman.
"Baiklah…" gumamku. Sekilas aku melihat wajah Konan yang tersenyum makna kemenangan.
Aku agak kerepotan memegang botol sirup itu. Masih agak penuh, jadi harus dua tangan memegangnya. "Ah..!" teriakku kaget. Botol sirup itu pasti sudah jatuh dan lantai pasti sudah basah jika dia tidak menolongku untuk memegangnya. Astaga! Kenapa aku bisa seceroboh ini!
"Lain kali hati-hati." Ucapnya.
"Maaf, un." Jawabku malu.
Setelah itu, aku kembali ke tempat dudukku. Konan memberiku sesuatu. Sebuah surat dan juga sedikit gambaran.
Di kertas itu digambarkan gadis berambut panjang yang memakai yukata dan juga seorang laki-laki yang agak tinggi darinya. Latarnya agak samar-samar, tapi bisa kutangkap kalau latar tersebut bertema karnaval. Lebih tepatnya di pusat karnaval. Keduanya saling bertolak punggung. Dan disana tertulis "Me and You Always Together".
"Apa maksudnya…" gumamku pada Konan. Dan aku melihat Konan, lagi-lagi wajahnya tersenyum.
Tepat pukul 10.00 malam mereka semua pulang. Senang rasanya bersama mereka. Tapi…
CUP
Langsung wajahku merona. Dia secara tiba-tiba mengecup pipiku! Dan secara tiba-tiba, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Hati-hati, selamat malam, dan terima kasih." Ucapnya yang membuatku ingin mencair langsung.
Aku hanya bisa mematung setelah dia pergi menyusul 3 temannya yang sudah mendahuluinya. Untung saja kejadian tadi tidak ada yang melihatnya kecuali hanya aku dan dia. Yah, itu karena dia membantuku merapikan kamar.
Kemudian aku menutup pintu kamarku. Dan setelah itu aku segera terjun ke tempat tidurku.
"Aku senang senang senang, un!" teriakku tidak karuan. Dan tidak lama kemudian, aku tertidur. Tidur dalam mimpi yang indah.
Saso's POV
Semalam mungkin bagiku menjadi malam yang indah. Walaupun aku belum tahu pasti kenapa, tapi yang jelas point pertama yang bisa kutangkap adalah bisa melihatnya dan bertemu lagi dengannya. Akhir-akhir ini perasaanku jadi nggak menentu!
Kembali ke kejadian semalam! Sebenarnya, selama aku berada di apartemennya yang kulakukan hanya melihatnya, dan bukan belajar. Kuambil beberapa buku dan kubuka asal buku-buku tersebut –biar dibilang belajar, tapi itu hanya untuk penyamaran saja! Sama sekali aku tidak tahu apa yang aku pelajari!
"Ahh…aku haus! Dei-chan, maukah Dei-chan mengambilkanku minum?" tawar Konan pada Deidara yang sedari-tadi sibuk membolak-balikkan halaman buku Biologi.
"Baiklah, un…yuk Konan-chan!" jawabnya dengan wajah lemas. Seperti orang yang putus asa karena tidak mendapat jawaban dari halaman yang sudah dibolak-balik sedari-tadi selama 1 jam. Tapi, sekilas aku melihat dia tersenyum. Astaga, manis sekali! (kenapa jadi kayak stalker gitu ya?)
Aku menghela nafas panjang, dan menunggu mereka berdua kembali ke ruang tengah dengan membaca sekilas halaman-halaman yang sudah terpampang di depanku.
Tak lama kemudian, mereka datang dengan membawa tatakan yang dibawanya. Dengan sigap, aku mengambil tatakan itu dari genggamannya. Walaupun yang lain asik menyindirku tapi aku sengaja mengabaikannya. Memang aku terkenal dengan stay cool-ku, jadi aku harus mempertahankan trademark-ku itu!
"Ghem…" waktu itu juga Itachi berniat menyindirku, tapi ke-stay cool-annya yang udah kelewat batas itu sudah dikenal banyak orang, dia hanya bisa berdehem pelan. Ingin rasanya aku tertawa pada saat itu juga, tapi inget tetep stay cool!
"Iya, ya sabar! Ini juga mau diisi gelasnya! Kalo suara serek jangan gede-gede juga kali dehemnya!" kalo nggak salah aku mengatakan itu. Sebenarnya, aku hanya berpura-pura. Tapi, banyak yang bilang aku berbakat di bidang acting, jadi ya aku manfaatkan saja waktu itu.
Kutuangkan sirup yang sedaritadi ditangan Konan ke dalam gelas-gelas yang sudah tersedia, kecuali milikku. Kau tahu kenapa? Aku sengaja melakukannya, karena aku ingin dia –Deidara- yang melakukannya!
"Lebih baik kau minum juga seperti yang lain. Nggak enak tahu sama kamunya." kata Konan. Dia memberikan isyarat padanya bahwa dia yang harus menuangkan sirup ke gelasku. Tapi, dia membalas ucapan Konan dengan menunjuk dirinya sendiri. Kemudian, aku melihat Konan mendeathglare-nya.
"Baiklah…" gumamnya.
Sepertinya dia agak kerepotan memegang botol sirupnya. Isi sirupnya masih agak penuh, jadi dia harus memegangnya dengan kedua tangannya.
"Ah..!" teriaknya kaget. Spontan aku segera menahan botol sirupnya dan otomatis aku juga memegang tangannya.
"Lain kali hati-hati." Ucapku.
"Maaf, un." Jawabnya malu. Manis sekali.
Setelah itu, kami selesai belajar bersama. Yang lainnya membereskan buku-buku pelajaran, sedangkan aku dan Deidara merapikan apartemen. Tidak terlalu berantakan, hanya pada daerah TV dan sofa saja yang berantakan. Aku sekilas melihatnya yang sudah terlihat lemas. Mungkin tenaganya terkuras untuk belajar tadi, sehingga dia hampir tidak sanggup membereskan apartemen ini. Kemudian aku mengambil jaketku yang tergeletak di tempatku 'belajar'. Konan, Itachi, dan Kisame sudah mendahuluiku. Aku melihatnya yang masih berdiri di samping pintu –menungguku.
CUP
Aku mencium pipinya sekilas.
"Hati-hati, selamat malam, dan terima kasih." Ucapku kaku. Aku tidak terbiasa mengucapkan kata-kata seperti itu pada perempuan!
Kulihat sebentar wajahnya yang tiba-tiba sekilas kemudian pergi menyusul teman-temanku yang mendahuluiku.
Sebenarnya, aku sudah mengatakan pada Konan kalau ada acara sesuatu yang berhubungan dengannya –Deidara- dia harus mengabarkannya padaku. Perasaan seperti ini disebut 'suka' oleh kebanyakan orang. Tapi, aku tidak mau suka! Aish, akhir-akhir ini pikiranku hamper dipenuhi oleh dirinya. Kemudian, aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil sarapan pagi di ruang makan.
End of Saso's POV
Empat hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Tapi aku bingung harus memberinya apa.
"Konan-chan, apa kau sudah menyiapkan kado untuk Sasori, un?" tanyaku.
"Belum. Kenapa? Bingung ya mau kasih apa?" goda Konan.
"Iya, un. Memang orang seperti dia itu susah ditebak apa yang dia suka, un." Ucapku.
"Menurutmu, kado yang terbaik pada orang yang kita suka itu bagaimana, un? HMPH!" ucapku dengan lantang dan kemudian menutup mulutku erat-erat.
"Apa? Orang yang kita suka? Kau suka padanya?" Tanya Konan.
"Tidak, un!" jawabku.
"Tidak ada gunanya juga kau menyangkal. Perasaan nggak boleh dibohongi. Kalau kamu kelepasan di depanku juga, aku nggak bakalan gacor kok!" ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.
"Benar kamu Konan-chan. Perasaan memang tidak boleh dibohongi, un." Gumamku.
"Hm…biasanya kado yang terbaik untuk orang yang kita suka itu makanan favoritnya. Kalau kita nggak tahu, biasanya sih cokelat. Tapi lebih baik cokelat buatan sendiri." Jelas Konan.
"Terima kasih Konan-chan, un!" jawabku sambil memeluk Konan.
"Sama-sama."
Setelah pulang dari sekolah, aku mampir ke toko supermarket dulu untuk membeli bahan-bahan membuat cokelat. Tapi, disana aku bertemu dengan geng perempuan disekolahku –siapa lagi kalau bukan Sakura dkk. Aku tetap cuek saja, walaupun mereka menatapku sinis.
Setelah di apartemen, aku mulai membuatnya. Agak merepotkan karena aku harus membeli buku resepnya yang agak lumayan jauh. Setelah satu setengah jam berlalu, cokelat yang kubuat pun jadi. Kuharap dia akan menerima pemberianku.
Hari H pun datang, ini saatnya aku harus memberikan kado yang sudah kupersiapkan dari hari sebelumnya. Memang tidak ada perayaan yang mewah disekolah.
Konan pun datang menghampiriku. "Hallo! Apa itu? Kado ya? Untuknya? Wah…" Tanya Konan bertubi-tubi.
Aku hanya bisa menjawab pertanyaan Konan dengan anggukan pelanku.
"Kapan kau akan memberinya?" tanyanya.
"Entahlah, un." Jawabku. Tak lama kemudian, orang yang ingin kutemui datang juga.
"Eh, itu orangnya! Sas, sini! Ada orang yang ingin ketemu sama kamu!" teriak Konan yang selisih satu senti dia atas telingaku.
Orang yang dipanggil pun merespon, dan dia pun menuju ke tempat aku dan Konan berdiri. Ketika dia sudah berada tepat di depan kami –tepatnya di depanku-, tiba-tiba Konan langsung kabur!
"Konan-chan, un!" teriakku. Astaga, aku grogi sekali kalau seperti ini.
"Apa kau ingin bicara padaku? Kalau tidak ada lebih baik aku pergi saja." Katanya datar.
"Tunggu, un!" tegasku. Untuk pertama kalinya aku bisa memegang tangannya.
Dia pun memandangku heran.
"Um…aku hanya ingin…" ucapku GROGI. Ternyata susah menyatakan hal spele di depan orang yang kita sukai.
Kemudian, dia sedikit memiringkan kepalanya seakan-akan ia ingin tahu apa yang ada dibalik punggungku.
"Um…aku hanya ingin memberimu ini, un!" ucapku cepat dan menyodorkan sebuah kotak kecil –yang kalian tahu pasti apa itu isinya- dan pergi.
Apa yang sudah kulakukan? Aku sudah melanggar janjiku dengan Mae! Aggh…! Orang macam apa aku ini!
oOo
Sasori's POV
Aku bingung dengan gadis pirang itu. Sikapnya terutama, kadang-kadang dia menjadi gadis yang menyenangkan, dan kadang-kadang dia menjadi gadis yang membuatku penasaran.
Oh, ya. Tadi dia memberiku kotak kecil, mungkin aku bisa menangkap poinnya kalau itu adalah kado. Memang banyak orang-orang yang memberiku kado –terutama para perempuan-, tapi aku lebih tertarik oleh kado yang satu ini. Sangat simple, aku jadi ingin membukanya. Kubuka pita kado yang meliliti kado, kemudian membuka tutup kado itu. Dan kau tahu apa isinya? Aha! Cokelat! Hha, jadi ingat masa kecil. Tapi, tunggu ada surat. Kemudian, aku membaca isi surat tersebut.
Untuk yang ulang tahun,
Hei! Selamat ulang tahun ya, un! Kuharap kau bisa menjadi orang yang berharga bagi orang-orang yang ada disekitarmu. Oh, ya! Cepat-cepat taruh di kulkas. Kalau tidak, kau tidak akan bisa memakan cokelat itu, un! Sekali lagi otanjoubi omodetou!
Salam,
Dei
"Dasar." Gumamku sambil tersenyum. Kemudian, aku melihat bagaimana kondisi cokelat yang diberi olehnya. Masih utuh. Kemudian, aku menuruti apa kata isi surat tersebut. Menaruhnya di dalam kulkas. Dan sekali-kali aku iseng dengan mengambil HP ku.
oOo
Yak, itu baru chapter kesepuluhnya…
Maap kalo DeiLu ngupdet ficnya lama!
Maaf untuk review-review yang masuk DeiLu gak bias bales, coz demmie (si modem) lagi bermasalah. Biasa udah mau akhir tahun. =.="
Dan maap kalo makin lama makin gaje and nyasar ceritanya! =.="
Nanti bakal ada chapter selanjutnya ko!
Mungkin chapter selanjutnya bakal jadi chapter TERAKHIR…! *mulai nyediain tisu*
DeiLu gak tega harus pisah secepet ini… hiks…hiks…*sroot*
DeiLu nerima flame, tapi gak terlalu pedes-pedes amat…
Aer dirumah DeiLu lagi diserang ulet bulu. *diserang ulet bulu*
Okeh…para senpai sekalian…
Maukah…
Senpai sekalian…
R
E
V
I
E
W
Please? ^^
