.

Fairy Tail by Hiro Mashima

Meltdown

By

Minako-chan Namikaze and Sakurajima no Yama

Warning: OOC, Typo(s), Seiyuu!Natsu and Yandere!Lucy, etc.

Keterangan: huruf italic berarti karakter tengah berbicara dengan bahasa asing.

.

.

Belum sempat Natsu menanyakan mengapa Lucy bersembunyi, dengan dahsyat, terdengar suara ledakan di belakangnya.

"BUSYET!" Natsu megap-megap kayak ikan begitu ia terhempas ke dinding karena ledakan itu. Asap mengepul di apartemennya, sehingga ia tak dapat melihat dengan jelas dua orang pria tua dan wanita yang menggunakan masker pelindung racun. Lebay, ia tahu.

"Siapa kalian?!" hardiknya.

"Kak Lucy! Kak Lucy!" seru sang wanita, tidak mempedulikan Natsu. "Aku hanya ingin Kak Lucy! KKAAAAAAAK LUUUUCCYYYYY!"

"Madam Michelle, bagaimana kalau kita bom pintu-pintu lainnya?" saran sang pria tua.

"Apapun demi Kak Lucy!"

Natsu langsung bergerak begitu asap tidak menghalangi pandangannya lagi. Di depannya, seorang wanita berambut coklat muda dan seorang pria yang mukanya abstrak. Pakaian mereka khas orang bangsawan. Sang wanita menggunakan gaun pink yang agak norak, sedangkan yang Natsu anggap sebagai pelayannya menggunakan... well, jas.

Dari bahasa mereka, Natsu langsung tahu kalau mereka adalah bangsawan Jerman yang pasti ada hubungannya dengan Lucy.

Urgh, padahal dalam hati Natsu berjanji untuk melindungi Lucy agar dirinya tidak tersangkut-paut dengan keluarga Lucy. Menyeramkan. Ia tak mau dipenjara. Ia masih mau makan ayam pedas. Tunggu, mungkin di penjara ia bisa meminta menu spesial ayam pedas.

"Siapa kau?" Michelle sang wanita norak berdesis.

"Kalian yang siapa," balas Natsu. "Aku tidak kenal siapa itu Lucy, jadi pergilah."

"Bohong! Kak Lucy masuk ke sini tadi!" Michelle berkacak pinggang setelah mencopot maskernya. "Capricorn, sebutkan apa yang kau tahu mengenai tempat ini."

"Woi! Jangan seenak jidat! Ini apartemenku!" Natsu berseru kesal. Sudah dibom, mau diperiksa pula. Itu enggak lucu, coba lihat lubang besar yang menggantikan pintunya. Sekarang ia tidak mempunyai pintu dan lemari. Pasti ia akan digebukin Erza dan ditertawakan Gray dan Gajeel.

Capricorn mengangkat sebuah alat yang terlalu persis dengan sebuah hape bermerk Esyia Hidayah. Alat itu berkedip-kedip dengan suara yang aneh sementara Capricorn meng-scan setiap sudut apartemen Natsu.

"Sudah saya scan, Madam Michelle." Ujarnya.

"Psh, bagaimana bisa kau meng-scan informasi?" Natsu mendengus.

Capricorn sempat berkerut kening ke arah Natsu, tanda bahwa ia merasa tertantang. "Apartemen ini dibeli sejak 5 tahun yang lalu, sudah dimasuki setidaknya lebih dari 95 orang yang berbeda, dapat dilacak dari bau mereka. Sekitar 20 orang sudah memasuki apartemen ini lebih dari sekali, dan bau pemilik apartemen dengan seorang gadislah yang paling dapat dideteksi. Yaitu bernama Natsu Dragneel, anak dari Igneel Dragneel yang istrinya telah meninggal, seorang wanita keturunan Jerman. Natsu sendiri adalah seorang pengisi suara, dicurigai mempunyai hubungan gelap dengan Madam Lucy, Gray Fullbuster dan Lisanna—"

"TERLALU LENGKAP!" Natsu memotong. Michelle dan Capricorn melotot kaget.

"Jadi, yang terakhir..."

"FITNAH! YANG TERAKHIR FITNAH!" Natsu jejeritan tidak terima. "Kenapa semua orang menganggapku dengan Gray..." ia mencakar dinding.

"Jadi kau tinggal dengan Kak Lucy?" Michelle berkata dingin. Natsu menelan ludah.

"Hubunganku dengannya bukan seperti yang kau pikirkan! Kami—"

"Aku tahu," Michelle menyela. Natsu menghela napas lega. "Sejak kapan kau menjadi pembantu Kak Lucy? Kerja yang becus. Lihat serpihan kayu dan tembok itu."

"ITU GEGARA ELU!" Natsu emosi sendiri. "GUE GA PERNAH DENGER ADA ORANG YANG MEMBOM APARTEMEN ORANG SEBELUM MASUK!"

Michelle mengernyitkan alis.

"Tunggu, gue bukan pembantunya, sialan!"

Michelle mengabaikannya dan berjalan menuju pintu kamar Natsu diiringi Capricorn. Gadis itu lalu mengisyaratkan Capricorn untuk membom pintu itu. Sesaat kemudian, Capricorn mengeluarkan sebuah remote dengan tombol merah besar.

"JANGAN WOOOOOOIII!" Natsu histeris.

"Mengganggu sekali," Capricorn mendengus.

"KAK LUCY! KAK LUCY! AKU TAHU KAK LUCY ADA DI DALAM. KALAU KAK LUCY NGGAK MAU KELUAR, KAMI AKAN BOM PEMBANTU KAKAK!" teriak Michelle dengan senyum lebar.

"Lucy! Jangan terpancing! Biarkan aku mati!" Natsu menjerit dramatis.

Hening.

Tak ada respons.

Kemudian Natsu ingat, bahwa Lucy sedang marah kepadanya...

Sesaat kemudian Capricorn dan Michelle tertawa ngakak berguling-guling di lantai. "LIHAT? KAK LUCY MAU PEMBANTUNYA MATI!"

"WOI!" Natsu emosian.

"Biarpun, Natsu sudah bersama orang lain..." terdengar suara Lucy tiba-tiba. Mata Michelle melebar, pipinya berseri-seri.

"Aku takkan membiarkannya mati!" Lucy menendang pintu kamar Natsu dengan pose heroik.

"PINTU GUA!" Natsu histeris.

Begitu Lucy keluar, Michelle langsung memeluknya dengan wajah yang kelewat terang hingga silau. "Kak Lucy!" isaknya, tiba-tiba menangis lebay. "A-aku kangen Kak Lucy. Kenapa Kak Lucy ninggalin aku?"

Lucy menjauhkan tubuhnya dari Michelle dan memegang pundaknya. "Michelle... kau tahu kita sudah tak bersama lagi."

"Heh?" Natsu cengo.

"Gak mau! Aku masih mencintai Kak Lucy." Michelle berbisik, sebelum menarik kepala Lucy dan mencium bibirnya dengan keras.

Rahang Natsu jatuh ke lantai.

Lucy... Lucy... Lucy...

LESBIAN?!

"BUSENGDED!" secepat roket Natsu mundur ke pojok ruangan dengan syok.

Kemudian, sang Putri Jerman mendorong Michelle hingga terjatuh, membuat sebersit dari hati Natsu lega entah kenapa.

"Michelle!" Lucy marah. "Kalau kubilang jangan, ya jangan! Lagipula, kenapa kau tahu tempat tinggalku?!"

"KAK LUCY JAHAAAAT!" Michelle tersengguk, "Lalu kenapa kalau ada yang meneleponku dan memberitahu alamat Kak Lucy?!"

Mata karamel Lucy melebar. "Hah? Serius?" kemudian ia mengirim tatapan tajam ke arah Natsu, yang membuat pemuda itu mengibas-ngibaskan tangannya.

"B-Bukan aku! Enak saja! Aku saja tak tahu kalau dia adalah pacarmu!" sanggah Natsu dengan nada yang agak gusar. Gusar, tentu saja. Ia tak menyangka bahwa Lucy adalah seorang lesbian yang hanya mencintai Natsu sekedar sebagai fangirl. Natsu tak tahu kenapa ia harus merasa gusar, bukankah sudah banyak yang nge-fans dengannya? Seharusnya ini tak menjadi masalah.

Mungkin... rasanya agak syok kalau ada orang yang terobsesi denganmu ternyata lesbian?

Lagipula, rata-rata orang yang berada di sekeliling Natsu itu normal. Untuk Gray, masih dipertanyakan. Oke, singkirkan Juvia sementara. Gildarts? Ah, iya. Mulai sekarang ia benar-benar harus hati-hati dengan kakek tua itu.

"Dia bukan pacarku!" Lucy menjerit. "Oke, dulu!"

"Kak Lucyyyy! Kakak sudah berjanji untuk menikah denganku duluuuuu!"

"Jangan mengada-ada!" Lucy emosi. "Aku hanya mencintai Natsu, dan hanya Natsu seorang!" Lucy kemudian memalingkan wajahnya. "Tetapi sekarang, aku sedang tak mau melihat mukanya sekalipun."

"Kejam..." Michelle dan Natsu bergumam bersamaan sebagai korban 'penolakan' Lucy. Yah, untuk Natsu adalah penolakan untuk berbicara dengannya. Sebenarnya, apa salahnya?

"Setidaknya jelaskan padaku soal mantan pacarmu," sahut Natsu dari pojok ruangan.

"Kau tak pernah menjelaskan soal break-mu dengan Lisanna," balas Lucy.

Keduanya terdiam.

"Oke, aku salah. Maaf. Apa itu yang membuatmu marah?" sahut Natsu lagi.

Michelle melihat keduanya dengan bergantian dari lantai, mukanya bingung.

"Aku takkan marah kalau kau tiba-tiba saja menciumku sementara setengah mabuk dan dengan status BARU SAJA balikan dengan Lisanna!" serunya jutek.

"U-uh.." sekarang Natsu bingung mau bilang apa. "Ma...maafkan aku."

Lucy mendengus. Sesaat kemudian ia menangis histeris di pelukan Michelle. "Si.. sial! Aku tak bisa... –croooot- membencimu bahkan setelah ini! –crooot-!"

"Kak Lucy... bahkan aku bahagia ingus Kak Lucy ada di gaunku..!" Michelle ikutan nangis histeris.

"Busyet.." Natsu sweatdropped.

Samar, terdengar Capricorn yang menarik ingus dengan haru.

"KAU JUGA JANGAN MENANGIS!" Natsu emosi sendiri.

Suasana apartemen pun hening, dengan engsel pintu yang tersisa di dinding terjatuh.

"KUPUTUSKAN!" Lucy tiba-tiba berdiri sambil menarik Michelle. "Michelle... beri aku waktu sampai malam nanti untuk menjawab permintaanmu di koridor."

"Permintaan?" gumam Natsu.

"Malam nanti, kuharap Kak Lucy setuju untuk pulang ke Jerman." Michelle tersenyum berseri-seri. "Tuan Jude sangat merindukan kakak."

Mendengar itu, Lucy tak kuasa untuk tak mendengus. "Huh, yang benar saja."

"Benar!"

Mengabaikan rasa kaget akibat mendengar permintaan Michelle, Natsu pun berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang berdebu. "Yang lebih penting, kalian harus menggantikan biaya lemari dan pintu dan tembok dan segala yang kalian hancurkan."

"Aku bersedia," Michelle tersenyum. "Asalkan hingga malam ini, status Kak Lucy adalah pacarku!"

"Apa?" Lucy kaget. "Michelle, statusmu sekarang hanyalah sepupuku."

Rahang Natsu kini menyentuh lantai hingga memantul ke atap apartemen.

SEPUPU?! PACARAN?! SISTER-COMPLEX, KAH?!

Natsu terlalu syok dengan fakta tersembunyi dari Lucy, sehingga ia gagal melihat Michelle berbisik ke telinga Lucy.

"Asal kau tahu, Kak Lucy. Seseorang bernama Lisanna-lah yang memberitahuku tentang alamatmu." Bisiknya. Mata Lucy melebar mendengarnya. "Karena ia baru balikan dengan pembantumu, bagaimana kalau kau balas dendam?"

"Apa maksudmu?" balas Lucy.

"Selama ini hanya kau yang cemburu. Buat Natsu cemburu dengan balikan denganku." Kini Michelle menjauhkan wajahnya dari Lucy, menyeringai dengan mata yang berkilat-kilat.

Lucy menggangguk-ngangguk sambil memegang dagunya. "Benar juga!"

Lamunan Natsu pun terbuyar begitu ia mendengar suara Lucy.

"Baiklah, Michelle. Kita balikan."

Michelle mencium pipi Lucy dengan berseri-seri.

Sekilas, Natsu melihat seringai wanita itu yang diarahkan ke Natsu.

Tapi, Natsu tak terlalu mempermasalahkan itu. Masalahnya adalah...

Lucy balikan dengan Michelle.

xxx

Setelah kejadian itu, Natsu kebanyakan diam di apartemen. Dalam sehari, tentu saja, reparasi pintu sudah selesai dan lemari baru sudah terbeli. Natsu memandang ruang tamunya dengan ekor matanya. Rapi seperti semula.

Capricorn tengah berjaga di luar. Michelle dan Lucy.. nah, itu sumber masalahnya.

Setiap Natsu memandang Lucy, gadis itu hanya akan memalingkan wajah, dan parahnya, ia berpaling ke Michelle. Iritasi muncul di hati Natsu. Hei, dihiraukan itu sakit. Apalagi setelah kau meminta maaf.

Ia melirik jarum jam. Sudah jam lima sore. Ia tengah berbaring di sofa ruang tamu dan menyalakan AC karena lelah telah membersihkan apartemennya. Di sofa yang lain, Natsu dapat melihat Michelle yang terus-terusan memeluk Lucy. Tampaknya, mereka sedang bercerita. Natsu sendiri tak terlalu peduli dengan cerita mereka—toh, ia tak mau tahu-menahu tentang kehidupan lesbian...

Ia sudah tahu banyak kehidupan gay dari alur cerita Honto Yajuu. Mungkin, setelah pasangan lesbian di kehidupannya, ia akan berteman dengan seorang asexual dan bisexual... yang dikomplikasi dengan sifat mereka yang masokis dan psikopat—

Natsu bergidik. Oke, itu agak seram. Natsu hanya mau kehidupan seiyuu yang normal.

"Kak Lucy, aku saaaaaaaangat mencintaimu."

"Aku... tak bisa mengatakan sebaliknya, Michelle."

"Kenapa? Kita kan balikan!"

"Hanya sampai malam kan?"

Kemudian Natsu mendengar Michelle berbisik.

"Oke... Michelle... aku saaaaaaaangat mencintaimu juga."

"Hehe! Seperti itu semangatnya, Kak!"

Samar-samar, Natsu dapat mendengar suara ciuman.

Wajah Natsu membiru.

Ia tersiksa, oke?! Ia tak tahu kenapa, tetapi... urgh.

"Aku akan ke kamarku dulu." Gusarnya, sebelum menutup pintu kamarnya dengan keras.

Michelle menghentikan suara kecupan yang ia buat-buat itu. Lucy tertawa. "Kurasa ia benar-benar cemburu!" Lucy tersenyum lebar.

"Misi ini akan berhasil jika dilanjutkan hingga esok hari!" Michelle menambahkan, berharap agar sisi naif Lucy muncul. Tentu saja, ia melakukan hal ini demi mendapatkan Kak Lucy-nya kembali, dan bisa pulang ke Jerman tanpa adanya kekerasan.

"Michelle..." Lucy menghela napas. "Maafkan aku, tapi sepertinya aku sudah punya jawaban."

"Apa?!" seru sang empunya nama dengan antusias.

"Aku..." Lucy terhenti, "Aku akan mendapatkan Natsu dengan caraku sendiri. Jadi aku takkan pulang. Maaf."

Michelle tak terlalu terkejut. Ia sudah mengantisipasi hal ini, tentu saja. Namun, kekecewaannya tetap saja ada. Ia sudah menyukai Kak Lucy sejak dulu, kenapa ia malah menyukai orang lain?

"Aku sudah menyukai Kakak sejak dulu. Kenapa begini?" gumamnya.

"Aku tahu rasanya..." Lucy menjawab. "Aku sudah menyukai Natsu sejak dulu. Kenapa begini?"

Benar. Kondisi mereka berdua sama. Seharusnya Michelle menyadari hal itu, tetapi yang terlebih penting, seharusnya Natsu menyadari hal itu. Seharusnya pemuda itu menolak Lucy dengan tegas agar Lucy menyerah.

Michelle menatap Lucy dengan wajah kecewa. "J-Jika kakak takkan menyerah soal Natsu.. seharusnya aku juga tak boleh menyerah!"

"Maaf saja, Michelle," senyuman Lucy melebar. "Natsu belum menolakku. Jadi aku masih mempunyai harapan."

Skakmat.

Dan... sepertinya di situlah akhir dari usaha Michelle.

xxx

"Jadi, bagaimana saranku tentang modus membuat Natsu cemburu yang berujung pada balikan?" tanya seseorang ceria dari seberang telpon dengan Bahasa Inggris yang fasih.

"Kak Lucy sudah memberikan jawaban." Michelle menjawab dengan kefasihan yang sama—intonasinya dingin. "Kami kembali putus. Alasannya masih sama. Saat kecil, ia masih naif dan asal menerima cintaku. Aku tak tahu bagaimana ia mulai jatuh cinta kepada Natsu, tetapi ... sepertinya ia sungguh-sungguh mencintai pacarmu."

Michelle dapat mendengar Lisanna mengerang. "Benar-benar dia! Seenaknya saja mau merebut pacar orang!"

"Tetapi Natsu tak pernah menolaknya dengan tegas, kudengar." Michelle tersenyum. "Kak Lucy bisa saja mempunyai harapan."

"Lain kali aku akan membicarakannya dengan Natsu." Lisanna bergumam sendiri, membuat Michelle terkekeh.

"Baiklah. Terima kasih atas kerja samanya. Setidaknya hari ini aku sempat mencium Kak Lucy!" intonasi Michelle kemudian berubah menjadi riang. Ia menghiraukan suara tersedak Lisanna dari seberang telpon.

"Y-Yah, terserah kau."

Kemudian Lisanna memutuskan telepon.

Michelle melirik jam yang menunjukkan pukul 10 malam. Kak Lucy dan Natsu pasti sedang tidur sekarang. Hm, waktu yang pas untuk pergi.

"Capricorn, ayo." Michelle berkata, sebelum akhirnya kedua menghilang dibalik remang-remang cahaya koridor.

xxx

Natsu membuka matanya perlahan.

Hari masih sangat gelap, kamarnya hanya disinari cahaya bulan yang menembus tirai putih tipis yang membalut jendelanya.

Napas hangat menerpa lehernya, membuatnya syok jantung kecil-kecilan.

'Lucy?' pikirnya.

"Nnnghhh..." Lucy mendesah pelan, merapatkan tubuhnya untuk mencari kehangatan tubuh Natsu. Natsu dapat merasakan mulut Lucy bersentuhan dengan lehernya.

"S-Sial.."

Lucy lalu memerangkapkan kakinya ke atas kaki Natsu dan meletakkan kedua tangannya di dada bidang sang seiyuu.

Mata Natsu melembut, entah kenapa.

Ia tahu betul bahwa gadis ini mencintainya.

Tapi... ia tak bisa berkata bahwa ia tidak balik mencintainya. Gadis ini jauh-jauh datang ke Jepang demi menemuinya—ia tak bisa menolaknya begitu saja. Setidaknya, itulah alasan yang dapat Natsu pikirkan sekarang.

Lagipula, Lucy baru saja balikan dengan Michelle..

Bagaikan menjawab pemikirannya, Lucy bergumam.

"Natsu.. aku sudah putus lagi dengan Michelle..."

"Huh?" Natsu menarik napas kaget. "Mengigau, ya?"

"Sekarang.. giliranmu memutuskan... nenek sihir itu..."

Kemudian hening. Deru napas Lucy yang pelan memenuhi ruangan.

Natsu menghela napas. Lain kali, ia harus berbicara ke Lisanna untuk tidak menjahili gadis ini lagi. Ia harap saja balikan dengan Lisanna bukan keputusan yang salah, mengingat sikap posesif keterlaluan sang sound editor dulu.

Tapi... benarkah... bahwa itu adalah keputusan yang salah?

Haruskah ia menjawab perasaan Lucy agar ia tak lama menunggu dan terluka?

Cih, Natsu jarang berpikir. Karena gadis itu, ia memikirkan hal yang tidak perlu.

Lebih baik... ia tidur.

Dan benar, detik selanjutnya ia tertidur.

.

.

.

Bersambung...

A/N: Aloha minna-swaan.. Yama kembali. Eh ketahuan deh kalo Yama yang ngolor update. GOMEN TAPI KAN GUE BANYAK TRY OUT DAN UJIAN DAN HAFALAN SANA SINI GITU LOH /hush. Ananda Nako, maafkan diriku juga :') /udah nak.

Tik tok! Yama cuma bisa nulis ini. Yak! Sampai jumpa di chapter depan! Terima kasih sudah me review! Review itu bagai permen yg membahagiakan author :D

~Minako&Yama