10 – Devoted

.

.

Lima belas tahun Luhan adalah Luhan yang harus pindah ke Korea Selatan karena mengikuti pamannya dan ingin belajar mandiri. Baginya, tidak komplet rasanya jika dia tidak jauh dari orang tua sebagai salah satu latihan diri. Dia tidak tahu, jika keputusannya kala itu akan membawanya menemui tetangga yang lambat laun membangun tempat tersendiri di hati kecilnya.

.

.

Jarak yang tidak terlalu jauh, namun juga tidak dekat menjadi alasan Luhan untuk mengendarai sepeda kayuh menuju SMA-nya. Saat dia melwati rumah tetangganya, Luhan melihat sesosok remaja seumurannya yang sedang tekun menyiram bunga. Bersikap ramah, Luhan menghentikan laju sepedanya dan menatap remaja yang masih saja fokus membasahi tumbuhan di pekarangan.

"Halo," Luhan menyapa, memberi senyum ramah kepada remaja yang akhirnya memandang dirinya.

Namun, bukan sapaan balik yang dia terima. Dia malah mendapatkan tatapan kaget dan gembor plastik yang terjatuh hingga air didalamnya tumpah. Tidak hanya itu, remaja yang disapa Luhan lari terbirit dan masuk rumah dengan tergesa. Luhan mengerutkan keningnya bingung. Apa ada yang salah dengan sapaannya? Atau bahkan, apa ada yang salah dengan dirinya?

.

.

Gagal berteman dengan tetangga ternyata tidak berpengaruh pada lingkar pertemanannya di sekolah. Dia mendapatkan banyak teman baru, juga yang akrab. Salah satunya Jongin, bocah berkulit eksotis yang ternyata tinggal tidak jauh dari rumah pamannya. Hanya berbeda tujuh rumah dari rumah paman Luhan. Keakraban yang terjalin pun meningkat hingga keduanya memutuskan untuk pulang bersama.

Saat keduanya pulang bersama itulah, Luhan teringat akan kejadian yang tadi pagi menimpanya. Insiden bocah terbirit saat dia sapa. Karena Luhan merasa Jongin lebih paham akan keadaan lingkungan yang baru baginya, Luhan pun memutuskan untuk bertanya.

"Jongin, kau tahu bocah yang tinggal di sebelah rumah pamanku, tidak?"

"Bocah?" Jongin mengulang, dia menatap Luhan yang mengangguk mengiyakan.

"Sepertinya dia seumuran dengan kita. Aku melihatnya tadi pagi, dia sedang menyiram bunga. Saat aku menyapanya, dia kabur begitu saja. Sungguh tidak sopan sekali." Luhan mendengus hingga membuat poninya ikut tertiup ke atas.

"Oh," Jongin sedikit membulatkan mulutnya, terlihat mengerti. "Sepertinya aku tahu siapa yang kau maksud."

Refleks Luhan menoleh, matanya berbinar mengantisipasi kelanjutan jawaban dari Jongin. "Benarkah?"

"Hmm," Jongin menggumam. "Namanya Sehun." Kali ini bibir Luhan yang membentuk lingkaran kecil dan lantas mengucapkan 'Sehun' dengan lirih. "Tapi kau harus hati-hati dengan dia, Luhan…" Sekali lagi Luhan menatap Jongin, kali ini dengan kening yang mengerut. "Dia itu agak…" Jongin membuat gerakan memutar di samping kepala dengan jari telunjuknya.

"Gila?" Luhan menyuarakan.

"Bukan," Jongin terdiam sejenak, tapi kemudian dengan ragu dia mengatakan apa yang sebenarnya ia maksudkan tadi. "Dia autis."

.

.

Dia autis

Kata-kata Jongin masih terngiang jelas di otak Luhan. Tidak menyangka jika tetangga yang sempat dikiranya tidak sopan adalah penderita autisme. Luhan menjadi merasa bersalah telah berpikir negatif pada sosok yang sepertinya terlihat hangat itu. Luhan menghela napas, menyampingkan tubuhnya dan melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Besok dia akan menyapa lagi dan meminta maaf, meskipun Luhan tidak yakin Sehun akan menerimanya atau tidak.

.

.

"Selamat pagi, Sehun!"

Sesuai dengan apa yang dia rencanakan semalam, Luhan kembali menyapa Sehun yang hari ini juga menyiram tanaman di pekarangan seperti kemarin. Reaksi Sehun tidak jauh berbeda. Mata Sehun membeliak, lalu menghindari tatapan Luhan. Namun bocah itu tidak lagi berlari, hanya tangannya tidak berhenti menarik-narik ujung kausnya dan berjalan berputar-putar kecil.

Luhan menganggap itu sebuah kemajuan.

Oleh karena itu dia mendekat, tersenyum untuk Sehun meskipun Sehun tidak melihatnya.

"Sehun, perkenalkan namaku Luhan. Aku tetangga barumu, keponakan Paman Sung." Ujarnya memulai percakapan.

Sehun pun berhenti berjalan berputar. Melihat Luhan sekilas lalu kembali menghindari tatapannya, masih menarik-narik ujung kausnya seperti tadi. Luhan tersenyum kembali, ini kemajuan kedua setelah Sehun tidak kabur darinya.

"Sehun, aku minta maaf karena aku mengagetkamu kemarin. Tapi sungguh, aku hanya ingin menyapa dan berteman denganmu." Luhan berusaha mendekati Sehun dan mencoba agar anak itu menatap dirinya, namun Sehun menghindar.

Luhan tidak memaksa lebih jauh. Baginya, ini saja sudah merupakan sebuah prestasi luar biasa. Oleh karena itu dia mengalah, mencoba mencari topik lain yang sekiranya bisa membangun komunikasi antara dirinya dengan Sehun. Luhan melihat sekeliling, dan menyadari bahwa ada berbagai jenis mawar yang terawat dan tertata apik.

"Kau suka ma-"

"Tidak. Sentuh."

Luhan terkesiap, tangannya yang terjulur akan menyentuh mawar putih ditariknya kembali setelah mendengar suara Sehun. Luhan berbalik, menghadap Sehun yang kini menatapnya takut-takut? Entahlah, Luhan tidak terlalu bisa mengartikan, yang jelas saat ini dia memberikan senyuman untuk remaja yang sepertinya masih enggan berada didekatnya.

"Baiklah, aku tidak akan menyentuhnya. Tapi sungguh, aku ingin mengatakan jika bunga-bunga yang kau rawat ini indah sekali, Sehun. Kau hebat."

Sehun berkedip beberapa kali. Bibirnya terbuka dan terkatup menggumamkan kata 'aku' dan 'hebat' berkali-kali. Meskipun dengan suara lirih, Luhan bisa mendengarnya dengan jelas dan itu membuat senyumnya merekah. Merasa cukup dengan pengenalannya dengan Sehun hari ini, Luhan pun mengatakan pada Sehun bahwa dia harus pergi ke sekolah.

Sehun tidak mengatakan apa-apa, dia hanya melihat Luhan yang mengayuh sepedanya pergi. Tapi bagi Luhan, itu berarti lain. Bagi dia, Sehun yang melihatnya pergi adalah Sehun yang mulai menerima kehadirannya. Karena, saat dia menoleh ke belakang untuk sekali lagi melihat, dia mendapati Sehun yang masih melihatnya, dan kali ini tanpa menarik-narik ujung kausnya.

.

.

Luhan menduga Sehun menyukai mawar dan dugaannya tepat. Tepat lima hari setelah dia cukup lama bercakap-cakap dengan Sehun yang kemudian diikuti dengan sapaan rutin setiap pagi, Luhan memberikan Sehun hadiah mawar kuning. Remaja itu tampak senang, senyumnya yang baru pertama kali Luhan saksikan merekah. Lebih indah dari pada kelopak mawar kuning yang ia hadiahkan untuk Sehun.

"Kau senang?" Luhan bertanya.

Sehun mengangguk cepat, lalu menempatkan mawar itu dibarisan tanaman mawar lainnya dan mengambil gembor plastiknya untuk menyirami. Luhan turut bersuka cita, dia mencoba untuk berdiri di samping Sehun dan secara mengejutkan remaja itu tidak menjauh. Luhan kembali berhasil, dan dia bangga.

"Sehun, kau tahu tidak? Mawar kuning melambangkan persahabatan. Itu artinya, kau dan aku sekarang adalah sahabat. Mengerti?"

Sehun menoleh untuk menatap Luhan, berkedip beberapa kali. "Sehun," Sehun menunjuk dirinya sendiri. "Luhan," kali ini dia menunjuk Luhan tepat di dada. "Sahabat?"

Luhan tersenyum lebar. "Benar!" Luhan bertepuk tangan, lantas mengulangi apa yang baru saja dilakukan Sehun. "Sehun," Luhan menunjuk dada Sehun. "Luhan," menunjuk dadanya sendiri. "Sahabat." Tutupnya, kali ini dengan menautkan kelingking mereka.

Luhan tersenyum untuk Sehun. Dan untuk pertama kalinya, Sehun tersenyum untuk Luhan.

.

.

Kedekatan keduanya mulai terjalin. Luhan seringkali membantu Sehun untuk menyirami tanaman saat sore hari karena saat pagi hari, dia tidak memiliki cukup waktu. Persahabatan mereka nyatanya baik-baik saja sekalipun salah satu dari mereka sedikit istimewa. Ya, meskipun Luhan harus dengan sabar memperlakukan Sehun, terutama ketika remaja itu meraung saat apa yang diinginkannya tidak sesuai, Luhan dengan perlahan berusaha mengartikan keinginan Sehun hingga Sehun bisa kembali tersenyum.

Luhan bahagia. Dia tidak tahu mengapa dia bisa bertahan merawat Sehun dan anehnya dia merasa bahagia. Terutama jika Sehun tersenyum untuknya, atau ketika Sehun membuatkannya kue yang Luhan tidak menyangka jika Sehun sangat ahli membuatnya (meskipun harus dengan pengawasan sang ibu agar dapur tidak terlalu berantakan). Luhan jadi teringat apa yang diceritakan ibu Sehun tentang anaknya, Sehun adalah anak yang cerdas dan berbakat dalam membuat kue, ibu Sehun ingin anaknya bisa menjadi seorang pastry chef tapi keadaan Sehun membuat wanita itu tidak yakin.

Sempat terpikir di kepala Luhan bahwa dia akan mengajak Sehun ke Prancis dan tinggal bersama. Di sana Sehun bisa belajar pastry dan Luhan bisa melanjutkan sekolah desain sesuai dengan keinginannya. Tapi Luhan masih mengusir pemikiran itu, dia masih harus mematangkan rencana jika suatu hari dia memang akan melakukannya.

.

.

Langit yang tenang tidak berarti badai tidak akan datang.

Hari itu, hal yang kurang menyenangkan terjadi pada Sehun. Taman bunga mawarnya rusak, tanpa tahu siapa pelakunya. Yang Sehun tahu hanyalah tanaman-tanamannya tidak rusak karena hal yang terjadi secara alamiah, tapi disengaja. Bekas injakan kaki di tangkai dan kelopak mawar yang layu menjadi bukti, dan Sehun menangis keras saat dia mendapatinya.

Sehun bahkan menolak untuk meninggalkan pekarangan sekalipun berkali-kali dibujuk oleh orang tuanya dan Luhan. Dia sudah menangis dari pagi namun dia tidak bisa berhenti. Dia hanya bisa meraung, menangis dan menggaruk-garuk tanah mawarnya yang tidak lagi tertata. Wajahnya merah, matanya sembab dan bibir yang berkali-kali bergumam 'mawar Sehun'. Pelukan dari ibunya tidak ia pedulikan, dia hanya menunjuk-nunjuk mawarnya yang hancur dengan tangisan.

Luhan, yang juga berusaha untuk menenangkan Sehun hanya bisa menghela napas panjang. Keterbatasan kemampuan berkomunikasi Sehun nyatanya masih menjadi penghalang besar. Hingga akhirnya, Luhan menggenggam tangan Sehun yang penuh dengan tanah dan berusaha membuat wajah Sehun menatap dirinya.

"Sehun, kita akan menyembuhkan mawar-mawar ini." Bujuknya lembut. Tanpa disangka ternyata bujukan Luhan berhasil. Sehun menatapnya penuh harap.

"Mawar… sembuh?" Ulangnya dengan isakan yang tersisa.

Luhan mengangguk pasti. "Iya, mawar-mawar ini akan sembuh, tapi besok karena mereka harus istirahat. Sekarang Sehun istirahat juga, Luhan akan ke sini besok untuk mengobati mawar Sehun, oke?"

Akhirnya anggukan persetujuan ia dapatkan dari Sehun setelah beberapa saat. Ibu Sehun tersenyum, mengecup kepala anaknya dan Luhan bergantian. Mengucapkan terima kasih lirih yang juga diikuti oleh ayah Sehun. Luhan hanya membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman, karena dia merasa bahwa dia belum sepenuhnya berhasil mengembalikan keceriaan Sehun.

.

.

Luhan tersenyum saat mengingat bahwa kemungkinan besar nanti dia akan melihat senyum Sehun. Dia dan orang tua Sehun telah merencanakan 'penyembuhan mawar', ayah Sehun akan membeli tanaman-tanaman mawar baru dan meletakannya di pekarangan ketika ibu Sehun menjaga anaknya tetap sibuk dengan mengajaknya membuat kue bersama. Dan Luhan, adalah pemain terakhir yang akan menyusun tanaman-tanaman mawar itu bersama Sehun dan menyiraminya. Memikirkannya saja sudah membuatnya tersenyum kecil. Dia jadi tidak sabar menunggu bel pulang sekolah berbunyi.

.

Luhan agak menyesali keinginannya untuk mendengar bel sekolah jika yang ia dapati adalah Jongin dan teman-temannya tertawa. Bukan tertawa karena candaan biasa, namun mentertawakan Jongin yang berhasil merusak mawar-mawar Sehun karena Sehun telah mencuri Luhan darinya.

Luhan, dengan emosi yang tersulut tanpa pikir panjang menghajar Jongin hingga bocah itu tersungkur dengan pipi yang memar. Luhan tidak peduli dia diperhatikan oleh siswa yang melihat, pun tidak peduli dirinya dipanggil oleh kepala sekolah dan mendapatkan hukuman berupa skors selama tiga hari. Justru dia merasa lega, lega karena dia telah menghajar penyebab kesedihan Sehun kemarin.

Hukuman itu tidak berarti apa-apa baginya asal kebahagiaan Sehun kembali.

Dan untuk Jongin… katakanlah Luhan tidak ingin berurusan dengan dia lagi.

.

.

Luhan sampai di rumah Sehun tepat saat Sehun menata mawar-mawarnya yang 'sembuh'. Senyum Sehun merekah, dan sekali lagi Luhan melihat bahwa senyum Sehun memang lebih indah dari pada kelopak mawar. Hati Luhan berdebar dan ia sadar. Sudut bibirnya tertarik kecil, terlebih saat Sehun melihatnya dan tertawa, lalu menarik dirinya untuk ikut menata tamannya agar seperti sediakala.

Luhan lebih banyak memandang Sehun dari pada membantunya jika dipikir-pikir. Isi kepalanya penuh terisi raut bahagia Sehun saat bocah itu menyirami bunganya. Tanpa Luhan sadari dia mendekat, mengecup pipi Sehun yang ditanggapi dengan reaksi kaget oleh sang pemilik yang berkedip cepat.

"Kenapa aku baru menyadari jika aku jatuh cinta kepadamu?"

"Cinta?"

Luhan tersenyum dan mengangguk. Direngkuhnya Sehun ke dalam pelukan sekalipun bocah itu sedikit lebih tinggi darinya. Dan tersenyum lagi ketika dia merasakan jika tangan Sehun merambat perlahan sebelum melingkar sempurna dipinggangnya.

"Ya, Sehun. Cinta." Bisiknya. "Itu artinya kita akan hidup bersama untuk waktu yang lama."

Sehun melepaskan pelukan mereka, menatap Luhan sedikit bingung dan menunjuk laki-laki itu tepat di dada. "Luhan," lalu menunjuk dirinya sendiri. "Sehun, bersama?"

Luhan untuk kesekian kalinya mengangguk dan Sehun menjerit senang. Matanya yang melengkung sempurna menandakan jika kebahagiaan itu benar-benar nyata. Luhan meraih tangan Sehun, mencoba menghentikan kegirangan bocah itu dan berjinjit sedikit untuk mencium keningnya.

"Melihatmu yang seperti ini… mungkin aku benar-benar akan membawamu ke Prancis dan membiarkanmu membuat kue-kue ternikmat di sana saat aku belajar merancang baju-baju indah untukmu. Apa Sehun mau?"

Sehun, memandang Luhan tanpa ekspresi namun bibirnya mengucapkan kalimat yang cukup bagi Luhan sebagai jawaban. "Sehun suka membuat kue."

"Aku tahu," Luhan menggesekkan ujung hidungnya ke ujung hidung Sehun. "Sekarang hal yang perlu kita lakukan hanyalah meminta izin orang tua-"

"Meminta izin untuk mencuri anakku?" Tanpa disangka ayah Sehun menyahut, beliau keluar dengan ibu Sehun yang bergelayut manja di lengan suaminya.

"Paman," Luhan mendadak gugup. Dia benar-benar merasa seperti pencuri sekarang. Terlebih ayah Sehun menatapnya penuh selidik seolah dia telah melakukan kejahatan besar. Tapi kegugupannya hilang saat ayah Sehun tersenyum kepadanya dan memberikan tepukan di bahu.

Ibu Sehun melakukan hal yang sama, wanita itu tersenyum dan berujar lembut. "You have our blessing," lalu mencium kening Luhan dan Sehun bergantian, kemudian tersenyum kepada Luhan untuk waktu yang lama dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Luhan. Bibi tidak bisa menyebutkan apa saja yang telah kau lakukan hingga membuat Bibi merasa begitu bersyukur dengan kehadiranmu. Tapi satu yang pasti, terima kasih telah berada disamping anak kami." Ibu Sehun mengusap pipi anaknya. "Selama ini aku dan ayah Sehun terus dirundung rasa takut, takut jika nanti tidak aka nada orang yang tulus menyayangi Sehun karena keadaannya. Tapi rasa takut kami perlahan hilang saat kau datang. Terima kasih."

Ibu Sehun memberinya pelukan, singkat namun terasa begitu tulus. Orang tua Sehun lalu kembali masuk ke dalam rumah, memberikan waktu berdua baginya dan bagi Sehun yang matanya tidak lepas dari warna warni kelopak mawar yang mekar.

Luhan tersenyum memandang, menautkan jemarinya dengan jemari Sehun yang masih terlihat tidak terlalu paham dengan situasi yang baru saja terjadi. Atau mungkin yang dipikiran Sehun saat ini hanyalah masih ingin melanjutkan kegiatan menyembuhkan mawar-mawar miliknya? Entahlah, Luhan tidak tahu dan tidak bisa memastikan. Tapi apapun itu, apapun yang ada dipikiran Sehun, Luhan akan mencoba untuk memahami dan menuruti.

Karena terhitung sejak hari ini, dia telah mengikrarkan hatinya untuk hanya mencintai manusia istimewa yang tengah ia kecup dibibir.

Hatinya akan akan mencintai Sehun.

.

.

FIN

Saya rasa ini bukan short story jika melihat words-nya yang ternyata membludak hingga tembus 2k+, haha. Anyway jikalau para pembaca memiliki ide atau prompt untuk next short stories bolehlah atuh dituangkan ke saya(?) hahaha. Saya usahakan untuk menulisnya meskipun harus saya kasih warning dulu untuk tidak berekspektasi lebih karena saya masih harus banyak belajar nulis *nyengir canggung*

Anyway hope you and enjoy this story! 520 :*