CHAPTER NINE
THE AMELIORATE
.
You could break my heart in two
But when it heals,
It beats for you
Pagi itu, Kyungsoo bangun dengan suatu visi baru yang mendadak melintas di benaknya; Ia ingin menjual apartemen ini. Kyungsoo berpikir keputusan tersebut akan menjadi sebuah simbol bahwa ia sudah berpindah sepenuhnya. Setelah berhasil memenangkan perhelatan batin dengan tetap mempertahankan prinsip untuk tidak kembali pada Jongin, Kyungsoo kira ia juga perlu mengenyahkan segala sesuatu yang sekiranya akan memicu ingatannya kepada lelaki tersebut.
Menurut Kyungsoo, ia seharusnya berhak memutuskan perkara ini secara sepihak. Akan tetapi, ia merasa masih cukup memiliki hati untuk sekedar memberitahu Jongin mengenai niatnya. Maka pada hari yang sama, Kyungsoo memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat ke nomor tidak dikenal di daftar panggilan terakhirnya. Ia mengetikkan singkat kalimat aku mau menjual apartemen, sebelum menekan tombol kirim dan bersiap untuk beraktivitas.
Pesan balasan dari Jongin datang di siang hari.
Ponsel Kyungsoo berdenting menampilkan notifikasi tepat ketika ia tengah menggulung lengan kemeja seraya kaki melangkah menuju kafetaria. Keningnya sempat mengerut melihat deretan nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak sebelum ia menyadari dari siapa pesan itu berasal. Berhenti di tempat, ibu jari Kyungsoo dengan cepat membuka pesan tersebut.
Apa yang tertera di layar adalah rangkaian kalimat yang panjangnya nyaris sama dengan pesan yang ia kirim sebelumnya. Namun, kalimat berupa pertanyaan itu nyatanya memegang bobot kerumitan yang berbeda.
Bisa kita bertemu dulu?
Kyungsoo menggigit bibir. Kelopak mata berkedip beberapa kali selagi penglihatan memindai apa yang baru saja ia baca. Ia terus berdiri membeku dalam detik yang berlalu. Kemudian, setelah pertimbangan panjang dan dua gerakan pendek di papan huruf 'O' dan 'K', ia akhirnya mengirim pesan tersebut.
-o-o-o-
Ketika Kyungsoo menyetujui untuk bertemu, ia pikir pertemuan yang dimaksud akan berlangsung singkat dan tanpa basa-basi. Jongin ternyata tidak sepemikiran. Lelaki itu justru mengajaknya makan malam di salah satu restoran favorit mereka—dulu. Semua yang menyangkut Jongin, pahitnya, cepat atau lambat, akan diimbuhi dengan kata dulu.
Duduk bersitatap, Jongin menunda percakapan inti hingga mereka selesai memesan makanan. Lelaki yang lebih muda baru mencoba menginisiasi dialog setelah sang pelayan pergi dari hadapan mereka.
"Kenapa kau ingin menjualnya?"
Kyungsoo tidak menyuarakan alasan sebenarnya. Ia hanya mengedikkan bahu tidak acuh sembari melontarkan, "aku bosan."
"Hanya itu?" Jongin memiringkan kepala—curiga. Tetapi berbeda dengan pemikiran Kyungsoo, lelaki itu mengarahkan kecurigaannya pada alasan lain yang sangat jauh berbeda dari alasan asli. "Atau karena kau ingin tinggal bersama kekasih barumu?"
Ada sedikit nada cemburu tertangkap di ucapan itu, jika Kyungsoo mau percaya dan tidak serta merta menuduh bahwa otaknya sedang mengada-ada. Ia lantas berniat untuk mengoreksi asumsi Jongin, namun urung dengan segera. Sesederhana karena Kyungsoo berharap hal itu justru akan mempersingkat waktu diskusi mereka.
"Mungkin itu juga."
Jongin menelan ludah pelan. "Jadi, kalian sudah berada dalam tahap serius?"
"Ya." Kyungsoo untuk kedua kalinya tidak mengoreksi. "Kami sudah berada dalam tahap serius."
Lelaki yang lebih tinggi mengangguk pelan, pandangan menghindar. Kyungsoo melihat Jongin mendadak tampak tidak nyaman di duduknya. Tubuh lelaki itu bergerak-gerak seolah sedang berupaya meredam letupan emosi yang tidak sengaja hadir dari jawaban yang ia utarakan.
"Kyungsoo…" gumam Jongin lirih. "Tidak adakah cara agar kau bisa memaafkanku dan kita kembali seperti semula?"
"Aku memaafkanmu." Kyungsoo berkilah dengan seruan menggigit. Ia tahu persis mengapa pertanyaan Jongin menyinggungnya. Lelaki itu sedang membuka sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Sesuatu yang membuat ombak amarahnya pasang surut semenjak mengetahui bahwa Jongin mencoba memperbaiki situasi di antara mereka. "Tetapi itu tidak berarti bahwa keadaan bisa kembali seperti yang dulu."
Karena Kyungsoo masih peduli.
Kyungsoo masih sangat peduli terhadap Jongin dan itu membuatnya merasa bodoh.
"I-I can do better, Kyungsoo." Jongin tiba-tiba meraih tangannya. Lelaki itu menyandarkan kening ke kepalan tangan Kyungsoo sambil melanjutkan, "aku berjanji aku bisa lebih baik dari kemarin. Aku berjanji tidak akan mempermainkan hatimu, aku berjanji untuk mendengarkanmu, untuk membacamu dan mengerti dirimu."
"Aku tidak—"
"Beri aku kesempatan, aku mohon."
Kyungsoo termangu saat ungkapan itu sampai di telinganya. Ia ingin terlena, ingin percaya. Namun kemudian pelayan menginterupsi. Dua hidangan tersaji di hadapan mereka dan Kyungsoo tertarik cepat ke kenyataan. Ia mendengus, hampir ingin menampar diri sendiri sebab bagaimana mungkin ia berkeinginan untuk mengembalikan hatinya kepada Jongin hanya karena permohonan kosong seperti itu.
"Itu akan menjadi percuma." sahut Kyungsoo sinis, walaupun sebagian dari dirinya ikut tercabik ketika mengatakannya. "Kesempatan itu akan jadi percuma karena sudah tidak ada yang bisa dilanjutkan."
Genggaman tangan Jongin di tangannya berangsur melemah. Lelaki itu tetap tidak mengangkat wajah—tanpa respon, tanpa bicara, kening masih menempel lekat di kepalan Kyungsoo. Kendati demikian, hawa pekat di sekitar mereka mengindikasikan bahwa terdapat satu pertanyaan yang menggantung di udara.
"Dulu kau memintaku berhenti," Kyungsoo menjelaskan sebelum pertanyaan tersebut sempat terlempar. Ia merasakan deru napas Jongin mendadak memburu di punggung tangannya. "So I did. I stopped loving you."
Kyungsoo sedikitnya bersyukur mereka tidak sedang bertatap wajah. Berbeda dengan Jongin, ia adalah pembohong yang payah. Menemukan bahwa suaranya tidak bergetar pada momen inipun sudah merupakan sesuatu yang bisa dibanggakan.
"Jadi," suara parau berbisik di antara percakapan ribut sekitar. "Jadi tidak akan pernah ada 'kita' lagi?"
Darah Kyungsoo mendadak berdesir. Harapan yang menyala di dadanya tidak sepantasnya ada. Harapan itu seharusnya enyah karena Jongin pernah memadamkannya begitu saja. Ia tidak boleh peduli, ia tidak boleh jatuh ke Jongin lagi, ia tidak boleh berpikir bahwa masih terdapat celah untuk memulai semuanya kembali.
"Siapa nama lelaki itu?"
Celetukan Jongin semakin membuat Kyungsoo membelalak. Ia tidak dapat menerka mengapa Jongin menanyakan pertanyaan yang tidak memiliki relevansi sama sekali dengan seluruh pembicaraan mereka malam ini.
Bagaimanapun, ia tetap membalas. "J-Junmyeon."
Jongin tersengal pendek kemudian mengulang nama yang baru saja Kyungsoo sebutkan. Punggung lelaki itu tiba-tiba bergetar, sementara genggaman yang melingkupinya perlahan lepas. Wajah yang sedari tadi tersembunyi kini mendongak. Bersama pandangan mereka yang bersambut, lelaki yang lebih tinggi kemudian memoleskan senyum sedih yang membuat perut Kyungsoo bergejolak.
"Dia membuatmu bahagia?"
Entah mengapa Kyungsoo merasa kalimat itu terdengar seperti kalimat yang sudah dilatih berkali-kali. Jongin seolah sudah pernah mempraktekkannya—mungkin di tempat lain, pada orang lain, dengan tujuan yang tidak ia ketahui dan itu membuat segenggam pahit tersangkut di tenggorokan Kyungsoo.
Ia tidak menemukan kekuatan untuk berbohong lagi.
Ia tidak menemukan kekuatan untuk sekedar menjawab ya, aku bahagia, karena apa yang ia inginkan saat ini hanyalah menyerah, lalu membawa Jongin yang tampak begitu terluka ke pelukannya. Kyungsoo tahu ia lemah, maka dari itu ia tidak memiliki pilihan lain selain terburu-buru mendorong kursinya menjauh dari meja.
"K-Kau tahu," ujarnya terbata. "Kita bisa membicarakan tentang masalah apartemen ini lain kali. Aku sudah tidak lapar lagi."
Bersama penutup itu, Kyungsoo berderap meninggalkan Jongin tanpa menengok ke arah lelaki yang terdiam bingung. Ia mendorong pintu keluar dengan kasar, kemudian berlari ke salah satu pilar. Punggungnya dengan cepat bersandar pada permukaan pilar tersebut selagi tangis yang ditahan dibiarkan pecah sepenuhnya. Kyungsoo menangis sambil membekap mulut kuat, berupaya agar sebisa mungkin tidak satupun orang yang bisa menemukannya.
Tetapi tentu Kim Jongin menemukannya.
Tentu Kim Jongin harus melihatnya di saat ia berada pada fase paling buruknya.
Kyungsoo sontak membuang muka. Ia berniat untuk menutupi wajahnya, namun Jongin lebih cepat meraih dagunya. ibu jari lelaki itu lantas mengusap air mata yang berjatuhan di pipi, sementara hela napas berat berhembus ke sela-sela surai Kyungsoo.
"Aku minta maaf," bisik lelaki yang lebih tinggi dengan nada yang kental akan penyesalan. "Aku tidak akan mencampuri pilihanmu lagi, aku minta maaf"
Pernyataan itu justru membuat Kyungsoo menangis lebih keras. Serpih-serpih rasa frustasinya berkumpul karena Jongin tidak mengerti. Kim Jongin masih saja tidak kunjung mengerti apa yang seharusnya sudah jelas; ia—juga, ingin kembali.
Akan tetapi, ia takut akan konsekuensi.
Ia takut ia akan membodohi dirinya sendiri sekali lagi.
Kendati demikian, suara Jongin terlalu halus untuk diabaikan dan terlalu berharga untuk dilewatkan. Tanpa perlawanan lebih, Kyungsoo menyerah ketika kedua lengan lelaki itu menguburnya dalam dekapan. Ia merasakan bibir Jongin kini menempel pada keningnya selagi lelaki itu menambahkan, "aku berjanji ini adalah terakhir kali aku mengganggumu."
Kyungsoo nyaris berkata jangan.
Ia rela—sekali lagi, berada di pusaran kebimbangan yang sama jika itu berarti ia dapat memahami isi kepala Jongin. Bahkan secuil pun mungkin akan menjadi berarti. Karena beberapa hari terakhir, Kyungsoo merasa setiap bujukan Jongin kepadanya menjelma menjadi penyusup kecil yang merekatkan hatinya sisi demi sisi, tepi demi tepi.
Tetapi bungkamnya Kyungsoo diartikan Jongin sebagai sesuatu yang lain sebab lelaki yang lebih tinggi mendadak membungkuk untuk menemukan matanya yang basah. Bibir yang tadi mengecup kening kini berganti menyentuh bibir dalam ciuman panjang tanpa lidah.
Kyungsoo tidak menolak.
Ia menikmati ciuman itu hingga akhir, hingga Jongin memutusnya secara sepihak sebelum bergumam dengan intonasi terpenggal di tengah, "all I did was making you cry."
Lelaki itu melepas seluruh kontak fisik mereka.
"Should've known better that i'm not good for you." Jongin menggeleng pelan dengan pandangan terlempar ke atas, kakinya mundur selangkah. "I'll go, Kyungsoo."
Don't.
"I'll go…"
Kyungsoo membohongi diri bahwa ini adalah jalan terbaik.
-o-o-o-
Jongin merasa sedang berada dalam mode autopilot. Hari-hari berkelebat tanpa meninggalkan jejak di memorinya. Ia menjalankan rutinitas, tetapi tidak ada satupun yang membekas. Jongin sedikitnya terkejut belum ada komplain yang dilayangkan kepadanya di lingkup kerja. Walaupun begitu, perkara ini tetap membuatnya mengeluh kepada diri sendiri. Ia sungguh berharap ia dapat segera menuntaskan masa patah hatinya.
Permasalahannya, Jongin justru tengah menambah satu perihal yang tidak perlu.
Ia menduga itu adalah pengaruh dari perintah alam bawah sadarnya. Jongin tidak tahu kapan, dimana, atau apa yang ia rencanakan saat ia meminta Jaehyun untuk mencari informasi mengenai seseorang. Sang asisten datang beberapa hari kemudian, membawa informasi yang dimaksud dan Jongin—masih dalam keadaan tidak sepenuhnya berpikir jernih, memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada nomor telepon yang tercantum di antara deret detail lain.
Keputusan pada hari itu membawanya ke hari ini.
Dimana ia duduk menunggu bersama satu cangkir kopi yang belum tersentuh. Ibu jari bermain pada bibir, mencubit-cubit kecil untuk melunturkan kegugupan serta suatu perasaan tidak nyaman lain merangkak hingga tengkuk. Sepuluh menit berlalu dari waktu perjanjian, Jongin berubah semakin gelisah. Ia tengah memutuskan untuk menyesap kopinya ketika penglihatan menangkap satu lelaki yang tengah membuka pintu kafe.
Jari yang sudah memegang cangkir terhenti di udara. Konsentrasi Jongin teralih untuk memastikan dugaan. Ia melihat lelaki itu melongok seolah sedang mencari seseorang, sebelum pandangan akhirnya mendarat padanya.
Satu rekognisi terhubung.
Lelaki itu tersenyum santun ke arahnya, sementara Jongin meletakkan cangkirnya terburu-buru. Ia berdiri cepat untuk menyambut, tangannya terulur ketika sosok yang menghampiri menawarkan jabat tangan.
"Kim Jongin, betul?" lelaki yang kini berdiri di hadapannya bertanya.
Impresi pertama untuk mendeskripsikan lelaki itu adalah sempurnaㅡjajaran gigi yang terlihat rapi, fitur wajah yang nyaris tanpa cela, serta suara hangat yang menyapa disamping mereka masih berada dalam sekat orang asing.
Jongin menelan kelegaan bercampur getir yang bergumul di kerongkongannya diam-diam. Tetapi melihat bahwa Kyungsoo ternyata berhasil menemukan orang yang jauh lebih baik dari dirinya di segala sisi sudah sepatutnya membuat ia berbesar hati.
"Terimakasih sudah menyetujui untuk bertemu, " Jongin membalas tersenyum meskipun batinnya enggan. Lalu bersamaan dengan tangan yang ditarik, ia menyebutkan nama lelaki di depannya untuk pertama kali, "Junmyeon-ssi."
-o-o-o-
Segala sesuatu tentang Do Kyungsoo selalu mengganjal bagi Kim Junmyeon. Ia tidak dapat menyebutkan secara rinci apa saja, akan tetapi satu hal yang pasti adalah lelaki itu tidak pernah terlihat benar-benar bahagia. Ketika mereka bersama, Junmyeon selalu bisa merasakan bahwa Kyungsoo terlalu berusaha untuk terlihat nyaman. Hal itu bisa dengan mudah dideteksi dari cara lelaki itu tersenyum, balasan dialog yang minim, serta mata yang tidak pernah tertuju padanya.
Kecurigaan Junmyeon terbukti.
Ternyata, memang ada alasan di balik semua itu.
Berselang tiga hari setelah pertemuannya dengan Kim Jongin, ia mendapatkan banyak kepingan terlewatkan yang akhirnya bisa ia susun untuk melihat gambaran Kyungsoo seutuhnya. Ia sekarang tahu alasan mengapa hubungan mereka selalu berada dalam fase stagnan tanpa kemajuan. Ia sekarang tahu alasan mengapa lelaki yang lebih muda tidak akan pernah jatuh kepadanya.
Pada sesi makan malam rutin mereka, Junmyeon tidak bisa melepaskan pandangan dari Kyungsoo. Ia sedang meneliti—membuktikan suatu poin untuk kemudian ditarik kesimpulan sebagai fakta. Maka dari itu, ketika lelaki yang tengah menyuap sendok pertama makanan penutupnya membalas pandangannya, ia akhirnya memberanikan diri memancing.
"Kyungsoo?" panggilnya, ia telah menanggalkan imbuhan resmi pada nama lelaki itu. "Kau ingat ketika kau mengatakan bahwa kau belum siap untuk suatu hubungan serius karena seseorang terdahulu?"
Terlihat bingung, Kyungsoo tetap mencoba membalas. "Ya, ada apa dengan itu?"
"Seseorang yang kau maksud, beberapa hari lalu menemuiku."
Sendok yang berada di tangan mendadak diturunkan, sementara bahu sang pemilik tampak menegang. Junmyeon kembali mengamati gerak-gerik Kyungsoo yang seakan tengah menahan hantaman gelombang perasaan.
"Maksudmu—"
"Ya," sela Junmyeon. "Kim Jongin menemuiku."
Tepat ketika nama itu disebut, ada kilat kentara dalam lensa mata Kyungsoo—sesuatu yang memancarkan damba serta pergolakan batin yang sulit diatasi, dan bagi Junmyeon perihal tersebut adalah bukti yang cukup untuk hipotesanya.
Masih ada cinta.
Di sana—tidak terbantahkan, masih ada ikatan yang belum sepenuhnya terputus di antara Kyungsoo dan Jongin.
"A-Apa yang dia katakan padamu?"
"Banyak." Junmyeon tersenyum timpang. "Ia mengatakan bahwa warna favoritmu adalah hitam, bahwa kau menyukai segala sesuatu yang sederhana, bahwa kau membenci debu serta residu asap rokok pada perabot yang sulit dihilangkan. Ia mengatakan bahwa kau suka bersenandung setiap kali sedang mandi atau menyiapkan makanan. Ia mengatakan bahwa kau baik—yang terbaik, meskipun hatimu keras dan lembut dalam waktu bersamaan."
Junmyeon mengambil napas seraya ingatan menggambarkan sosok lelaki gugup yang ia pikir sama sekali tidak sesuai dengan tampilan fisiknya. Lelaki itu berbicara dalam nada hati-hati dengan dalih takut mengatakan sesuatu yang salah, walaupun Junmyeon dapat mengecap itu hanyalah kamuflase dari buah kesedihan yang berusaha ditutupi.
"Ia juga mengatakan," lanjutnya kemudian selagi melirik Kyungsoo yang menatapnya dengan mulut terkatup rapat, "bahwa aku harus menjagamu."
Lelaki di hadapannya tampak terhenyak dan Junmyeon tidak memberi jeda untuk mengalamatkan poin penting dari pembicaraan ini—sebuah keputusan yang telah ia pikirkan berkali-kali semenjak ia mendengarkan Jongin mengutarakan kalimat-kalimat yang baru saja ia kutip.
"Tetapi aku tidak bisa, Kyungsoo."
Junmyeon menyibak rambutnya sendiri pelan. Perbincangan antara ia dan Jongin terngiang di telinganya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain menyampaikannya kepada Kyungsoo. Junmyeon memaparkan bahwa selama ini, Jongin berperang melawan dirinya sendiri untuk mendatangi Kyungsoo.
Lelaki itu berulang kali menghampiri Kyungsoo di tempat tinggal, namun hanya bertahan sampai di pelataran karena Kyungsoo memintanya untuk tidak menginjakkan kaki lagi di apartemennya. Lelaki itu memilih tetap menunggu di depan gedung kantor ketika Kyungsoo terus menghindar karena ia ingin Kyungsoo mau berbicara kepadanya atas dasar kerelaan. Lelaki itu tidak mengejar Kyungsoo—sekalipun, karena ia tidak mau melanggar batasan tipis antara usaha dan paksaan.
Namun pada akhirnya, Jongin berkata—dengan bahu turun serta lengkung di bibir yang lemah, bahwa ia akan berhenti mencoba. Bahwa ia ingin menyerahkan Kyungsoo pada seseorang yang jelas memberi kebahagiaan nyata. Jongin lantas mengaku bahwa ia bukan tidak mau berusaha, melainkan karena ia sudah cukup menyakiti Kyungsoo dan ia tidak mau menambah daftar tersebut dengan perihal lain.
"Dan dari situ aku mengetahui," Junmyeon berdecak sembari menekan kekecewaan yang hadir saat menyadari ini akan menjadi akhir dari perjuangan singkatnya untuk mendapatkan Kyungsoo. "Bahkan dengan ada atau tidaknya kompetisi antara aku dan Jongin, aku tidak akan pernah menjadi lawan yang sepadan."
Ia menahan pandangan sejenak ke lelaki yang belum memberi respon.
"Bukan hanya karena ia jelas lebih mencintaimu," lanjutnya. "Melainkan karena ia telah memiliki hatimu sejak awal dan kaupun sebaliknya."
Itu terjadi secara berangsur, tetapi Junmyeon menangkap semuanya. Mulai dari Kyungsoo yang menarik napas panjang, pandangan menyisir ke sekitar seakan tidak tahu harus melihat kemana, hingga air mata mendadak jatuh dari pelupuk lelaki itu tepat ke kepalan tangan. Bahu Kyungsoo kemudian berguncang keras selagi tangis yang dibendung lepas. Junmyeon yang menyaksikan itu ingin menawarkan pelukan, akan tetapi ia lantas menyadari bahwa itu bukan tangis berlandaskan kesedihan.
Sebongkah pengingkaran yang keras juga ikut larut—terkikis oleh realisasi serta meninggalkan endapan keyakinan yang pasti. Junmyeon seakan baru saja memberikan dorongan terakhir yang Kyungsoo butuhkan. Apa yang terjadi selanjutnya sudah bisa diprediksi, Kyungsoo akhirnya mengangkat kepala. Lelaki itu berusaha bicara di tengah tangis yang belum reda.
"A-Aku minta maaf."
Tidak perlu penjelasan verbal bahwa makna dari ungkapan itu menyembunyikan sesuatu yang lebih luas. Sesuatu seperti aku minta maaf karena aku harus memilihnya dan itu membuat Junmyeon tertawa pedih.
"Kau sungguh tidak perlu." Ucapnya untuk memecahkan tensi. "Pergilah, temui dia."
Hatimu di sana, bukan di aku.
Sorot khawatir menatap ke arahnya. Rasa bersalah tercetak jelas di mimik wajah lelaki yang sedang menggigiti bibir. Junmyeon mencoba tersenyum lebih tulus seraya perlahan menerima kenyataan bahwa seseorang yang telah mengambil hatinya sejak lama tidak berniat untuk menyimpannya.
Ia menggenggam tangan Kyungsoo lembut, lalu berbisik meyakinkan. "Aku akan baik-baik saja."
Mendengar pernyataan tersebut, Kyungsoo tanpa ragu beranjak. Lelaki itu mengucapkan satu permintaan maaf sekali lagi sebelum bertolak meninggalkan meja mereka. Segera setelah Kyungsoo menjauh, tatapan Junmyeon ikut mengekor. Ia melihat lelaki yang berjalan cepat kini tengah menempelkan ponsel di telinga. Sayup-sayup, Junmyeon dapat mendengar suara halus Kyungsoo berbisik kepada seseorang yang berada di seberang sambungan.
"Jongin?" tutur lelaki itu berseling napas pendek. "Pulang."
Di dalam hidupnya, Kim Junmyeon selalu melabeli dirinya sendiri dengan banyak titel. Ia tahu ia perfeksionsis, keras kepala, dan pantang menyerah. Ia tahu ia adalah seseorang yang tidak akan melepaskan sesuatu sebelum benar-benar bisa mendapatkannya. Namun kenyataannya, sebagian hal memang tidak ditakdirkan untuk dimiliki sesederhana karena mungkin—di luar sana, ada seseorang yang lebih pantas untuk mendapatkannya.
Kali ini, Junmyeon mengaku kalah.
Terlebih ketika ia mendengar lelaki yang meninggalkannya berkata, "pulang, kembali padaku."
CHAPTER NINE: TO BE CONTINUED
Author's Note:
HAHAHAHAHAHA SUSAH BANGET LOH NULIS CHAP INI
FEEL-NYA GA DAPET MULU MONANG RASANYA UHUHUHUHU
jadi maaf ya kalo lama dan tida bagus, disamping karena sibuk, ku juga lagi gabisa nulis banget
tapi ku suda janji bakal ditamatin jadi ya aku tulis sebisaku
semoga kalian tida membenciku :')
Dan selalu, saran, review, maupun kritik sangat amat diapresiasi.
XOXO
Sher.
