Makasih buat reviewny :). Emang rada sebel sendiri pas tau Cao Pi nyuruh Zhen bunuh diri, hiks. Itu selirny apa banget deh... Kalo baca di Wikiny, katany Cao Pi sempet nyuruh orang buat menghentikan Zhen, tapi telat.
Karakter original sepenuhny milik KOEI
Rumah itu sangat besar dan indah, juga terlihat nyaman. Ada dua kolam besar mengapit sebuah jembatan warna merah yang melengkung di atasnya. Di halamannya juga terdapat banyak pepohonan rindang. Rumah itu sendiri bertingkat dua. Enam anak kecil menatap rumah tersebut dengan tatapan takjub dan tidak berkedip sama sekali.
Seorang pria paruh baya berdahem. "Apa ada yang bisa paman bantu, anak-anak?"
"Oh, " Sun Ce memutar tubuhnya dan berhadapan dengan sosok seorang pria berpakaian hijau tua dan berjenggot. "Maaf paman, kami hanya melihat-lihat."
"Apa benar rumah ini dijual?" Tanya Cao Fan selanjutnya.
Paman itu mengelus-elus jenggotnya. "Ya, benar. Aku mau menjual rumah ini."
"Paman, tolong jangan jual rumah ini ke orang lain!" Seru Cao Zong. "Aku mohon dengan sangat!"
"Eh, memangnya kenapa?" Si Paman menaikkan sebelah alisnya.
"Dua puluh tahun lagi, aku pasti akan membeli rumah ini! Karena itu, aku mohon..."
Paman tadi tertawa kencang, perutnya yang besar bergoyang ke atas dan ke bawah. "Maaf, tapi aku tidak bisa menunggu selama itu."
"Ayolah pamaaaaan, kami mohon!" Rengek Shang Xiang. "Rumah ini sangat pas dengan rumah impian kami selama ini."
"Apa kita harus meminta ayah untuk membeli rumah ini?" Bisik Sun Quan kepada Zhou Yu.
"Aku rasa jangan. Ayahmu memang bisa langsung membeli rumah ini detik ini juga. Tapi jika seperti itu, kita tidak ada perjuangan sama sekali untuk mendapatkan rumah impian ini. Dan aku rasa, keempat sahabat kita tidak mau itu." Balas Zhou Yu juga sambil berbisik.
Mereka masih belum mau menyerah sebelum mendengar kata 'iya' dari paman itu. Setelah berdebat selama sejam lebih, akhirnya dia mengalah.
"Oh, baiklah! Aku tidak akan menjual rumah ini dan menunggumu selama dua puluh tahun!" Katanya pada akhirnya. "Tapi awas, jangan sampai kau lupa dengan janjimu untuk membeli rumah ini!"
Cao Zong mengangguk pasti. "Aku tidak akan lupa paman!"
"Mungkin aku harus memberi tahu anakku mengenai hal ini. Siapa tahu aku tidak berumur panjang hingga bisa melihat dirimu yang dewasa datang untuk membeli rumah ini."
"Jangan bilang begitu paman," Zhou Yu bicara. "Aku yakin, paman pasti akan berumur panjang. Dan kami berenam akan kembali untuk membeli rumah ini."
"Ya-ya. Tapi itu artinya kalian harus membayar lebih mahal dari harga aslinya."
"Yaaaaaah..." Teriak anak-anak kecewa.
"Paman curang!" Omel Shang Xiang.
"Ya sudah kalau tidak mau! Aku akan menjual rumah ini sekarang juga!" Paman bertubuh tambun itu membuang muka. "Aku yakin dua puluh tahun dari sekarang kalian sudah sangat kaya raya. Jadi tidak ada salahnya kan, berbagi dengan orang lain?"
Shang Xiang menatap yang lain. "Bagaimana?"
"Argh, paman itu menyebalkan!" Sun Ce menggaruk-garuk kepalanya. "Padahal rumah ini sangat indah. Aku bahkan sudah mulai membayangkan bagaimana kehidupan kita nanti di rumah ini, pasti sangat menyenangkan!"
Cao Zong menghela nafas. "Mau bagaimana lagi? Kalau begitu mulai sekarang, kita harus menyisihkan uang untuk membeli rumah ini. Bagaimana, sejutu?"
Kelima anak kecil itu mengangguk serempak.
"Baiklah, paman! Kami setuju untuk membayar lebih! Tapi paman harus janji untuk tidak menjual rumah ini!" Seru Cao Zong.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Shang Xiang terbangun dari tidurnya. Nafasnya naik turun dengan cepat. Sudah tiga hari berturut-turut dia memimpikan kejadian dua puluh tahun silam itu. Janji yang dibuat saat mereka berenam masih kecil dan masih bersahabat. Terkadang Shang Xiang suka tertawa miris jika mengingatnya kembali. Yang masih hidup sekarang dirinya, kakaknya, Cao Zong dan Cao Fan. Tapi Zong dan Fan rasanya tidak mungkin masih mengingat janji itu. Dan kalau pun iya, mereka sudah tidak berada di Wu lagi. Terutama Cao Zong, dia sudah bukan bagian dari Wu lagi.
Beberapa kali melihat mimpi itu, Shang Xiang jadi merindukan Chang Sha. Tempat ia tumbuh besar bersama keluarganya. Meskipun sekarang dia tinggal di tanah kelahiran ayahnya, Chang Sha memiliki arti tersendiri bagi dirinya. Maka ia memutuskan untuk pergi berkunjung ke Chang Sha, selain ingin mengobati rasa rindu, dia juga ingin melihat apakah rumah itu sudah terjual atau si paman memegang janjinya untuk menunggu Cao Zong datang dan membeli rumah itu.
"Aku tidak apa pergi sendiri, kak!" Protes Shang Xiang saat Sun Quan menyuruh salah satu perwira Wu untuk menemani adiknya pergi.
"Aku tahu. Tapi aku tidak mengambil resiko..."
"Saya bisa menemaninya, Yang Mulia." Lu Xun bersuka rela mengambil tugas untuk menemani Sun Shang Xiang pergi ke Chang Sha.
Sun Quan melirik seorang pria yang sedang memegang kipas duduk di sebelah Lu Xun. "Tapi bagaimana dengan Master Zhuge Liang?"
"Saya tidak keberatan untuk ikut dengan Master Lu Xun." Jawab Zhuge Liang. "Lagipula saya memang sudah cukup lama ingin pergi ke Chang Sha. Dan juga, diskusi mengenai pertempuran terakhir melawan Wei bisa kami diskusikan sepanjang perjalanan, atau ketika tiba di Chang Sha nanti."
Maksud kunjungan Zhuge Liang kali ini adalah untuk membahas strategi untuk menghadapi Wei di – yang diharapkan – pertempuran terakhir. Karena itu Zhuge Liang ingin semuanya berjalan sesuai rencana, agar Wei berhasil dikalahkan. Dan kedamaian kembali menyelimuti China setelah perang berkepanjangan.
"Tapi apa tidak apa-apa? Anda akan absen sangat lama dari Shu jika anda juga ikut pergi ke Chang Sha?"
"Zhao Yun, Jiang Wei, Cao Fan, Guan Shao dan Xing Cai bisa mengatasi keabsenan saya untuk waktu agak lama." Lima Jenderal yang baru disebut Zhuge Liang adalah Five General Tiger yang baru. Xing Cai baru diangkat menggantikan Master Ma Chao yang meninggal beberapa waktu silam.
"Baiklah,"Sun Quan menyerah. "Ling Tong. Tolong temani mereka."
Ling Tong memberi hormat dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Terima kasih, Yang Mulia." Ujar Shang Xiang bahagia.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin pergi ke Chang Sha, Shang Xiang? Apa ada sesuatu?"
"Apa kau masih ingat dengan rumah impian kita berenam waktu kecil dulu?"
"Ah, rumah yang berada di dekat danau kecil itu?" Sun Quan mengeritkan keningnya. "Aku ingat, meski hanya samar-samar. Apa kau pikir rumah itu belum dijual oleh pemiliknya?"
"Karena itu aku ingin ke sana untuk memastikan. Sekarang sudah dua puluh tahun semenjak waktu itu."
"Dan jika kau sudah tahu, apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada." Shang Xiang menggeleng polos. "Aku hanya ingin melihat rumah itu. Apakah masih sama seperti yang dulu atau sudah berubah. Dan juga, aku ingin melihat apakah paman itu menetapi janji atau tidak. Dan apakah..." dia berhenti sejenak. "Zong, ingat dengan janjinya..." Lanjutnya.
"Shang Xiang..."
"Tidak apa-apa, kak. Aku, aku bisa memahai Cao Zong, rasanya. Mungkin, dari dulu dia sangat ingin pergi ke Wei. Tetapi karena waktu itu Fan pergi ke Shu, dia tidak tega meninggalkan kita. Dan terus mengabdi hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi mengabdi ke Wei. Kau tahu kan, bagaimana sifat Zong?
"Tapi Shang Xiang..."
"Aku mohon kak, hentikan." Potong Shang Xiang. "Semenjak Zong berkhianat, aku sangat membencinya. Sekarang, aku ingin memaafkannya, paling tidak berusaha untuk memaafkannya. Dan begitulah caraku untuk memaafkannya, dengan berpikir seperti itu. Jadi aku mohon, jangan rusak itu." Bisiknya lirih.
Sun Quan menghela nafas. "Baiklah, jika memang itu mau mu. Hati-hati dijalan. Dan, salam untuk paman itu juga kau bertemu dengannya."
"Tentu saja!"
"Dan kau harus menginap di istana Chang Sha!" Tambah Sun Quan. Mengingat adiknya suka pergi sendiri entah kemana, paling tidak Sun Quan ingin tahu dimana adiknya tinggal ketika berada di Chang Sha nanti.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Perjalan menuju Chang Sha sangat menyenangkan dan penuh canda tawa. Padahal mereka sering dihadang oleh bandit. Tetapi hal itu tidak menurunkan semangat mereka, terutama Shang Xiang. Hal itu malah membuatnya tambah bahagia karena bisa menghajar orang-orang yang selalu mengancam ketentraman di wilayah kekuasaan kakaknya.
"Sungguh perjalanan yang sangat menyenangkan." Kata Zhuge Liang begitu mereka tiba di pintu gerbang kota Chang Sha.
Iya juga. Kapan terakhir kali aku pergi seperti ini? Ah, tentu saja. Sebelum dia berkhianat. Biasanya Zong yang menemaniku. "Ya, aku sudah lama tidak berpergian seperti ini." Sahut Shang Xiang dengan bahagia.
"Biasanya anda pergi dengan Cao Zong kan, Tuan Puteri?" Tanya Lu Xun ketika turun dari kudanya. Ketika ia menyadari kalau dia baru saja menanyakan sesuatu yang sangat tabu, dia segera menutup mulutnya lalu membungkuk untuk minta maaf. "Maafkan saya, Yang Mulia!"
Shang Xiang tertawa. Memang, sebelum ini, mengucapkan nama Cao Zong dihadapan Shang Xiang adalah sesuatu yang tabu. "Tidak apa, Lu Xun. Aku sudah bilang kan? Aku sedang berusaha untuk memaafkannya. Jadi kau sudah boleh mengucapkan atau bertanya mengenai dirinya dihadapanku."
"Fan sering bercerita mengenai masa kecil anda dulu." Zhuge Liang tidak membuang-buang kesempatan ini untuk membantu Shang Xiang melupakan kebenciannya kepada Cao Zong. "Katanya anda berdua sangat dekat."
Shang Xiang tertawa pelan. "Ya, hanya dia satu-satunya perwira Wu yang berhasil mengalahkanku dalam lomba berkuda. Aku juga latihan memanah darinya."
Zhuge Liang tersenyum penuh arti. "Itu memang dekat, Lady Shang Xiang. Tetapi, dekat yang saya maksud disini adalah antara seorang pria dengan wanita."
Pipi Shang Xiang memerah, ia malu karena salah mengartikan pertanyaan Zhuge Liang. "Eh, eh...? Apa maksud anda?"
"Hanya dia satu-satunya pria yang sangat dekat dengan anda, sebagai seorang sahabat. Bukan sebagai perwira Wu dengan anak pemimpinnya. Jadi saya pikir bahwa anda..."
Shang Xiang tertawa gugup. "Ah, eh, engg, ummm... Tent, tentu saja tidak! Ah maksudku, kami memang dekat. Tapi sebagai seorang sahabat. Tidak kurang, tidak lebih."
"Apa anda yakin? Bagaimana dengan perasaan Cao Zong sendiri?"
"Aku..." Shang Xiang menunduk. "Aku tidak tahu... Aku saja tidak tahu dan mengerti perasaanku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa mengerti perasaannya? Ketika Lord Liu Bei melamarku, dia adalah orang pertama yang aku beri tahu. Tapi reaksinya biasa saja, dia tidak terlihat marah, tapi juga tidak terlihat senang..."
"Nah, itu dia!" Seru Ling Tong yang sedari tadi hanya mendengarkan. "Aku rasa dia mencintai anda, Yang Mulia."
Warna merah sudah menjalar hingga ke daun telinga Shang Xiang. "Kenapa kau tiba-tiba mengambil kesimpulan seperti itu, Ling Tong?"
"Tentu saja bisa! Ketika seorang pria mendengar langsung dari wanita yang ia cintai bahwa dirinya dilamar oleh pria lain dengan wajah bahagia, tentu saja dia marah! Tetapi karena kalian tidak saling mengetahui perasaan kalian satu sama lain, jadi Cao Zong hanya bisa marah dalam hati. Dan cara menunjukkannya adalah dengan bersikap biasa-biasa saja ketika mendengar berita itu!"
"Pengalaman yah?" Ledek Lu Xun dengan wajah mengejek.
Ling Tong yang masih berada di atas kudanya langsung menendang pundak Lu Xun dengan kesal. Sementara yang ditendang hanya mengomel-ngomel, membuat Ling Tong tertawa puas.
Bisa jadi... Maksudnya, apakah dia mau aku cium dua kali jika dia tidak suka kepadaku? Apa jangan-jangan sebetulnya dia marah karena aku cium, tapi dia tidak berbuat apa-apa karena... Tunggu! Wajah Shang Xiang menegang. Kami sudah berciuman sebanyak dua kali! Padahal, hubungan kami... Hubungan kami ini, apa... Argh, aku paraaaaah! Mencium seorang pria seenaknya saja! Lutut Shang Xiang langsung lemas, dengan susah payah dia bersandar dikudanya.
"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" Tanya Lu Xun panik karena melihat wajah Shang Xiang yang merah dan tubuhnya yang lemah.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Apa anda yakin tidak ingin ke istana dulu untuk beristirahat?" Tanya Lu Xun hati-hati.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Sungguh. Lagipula aku ingin melihat rumah itu secepat mungkin." Jawab Shang Xiang sambil menuntun kuda warna putihnya itu.
"Tapi anda terlihat sangat pucat tadi."
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Lu Xun." Shang Xiang tersenyum kepada Lu Xun yang berjalan disebelahnya. Sebetulnya aku tidak bisa memberi tahu yang lain kalau penyebab aku pucat itu karena aku baru ingat kalau aku sudah berciuman dengan Cao Zong dua kali!
"Apa ini rumahnya?" Ling Tong bertanya.
Shang Xiang menatap rumah yang ada dihadapannya. Sama! Memang ini rumahnya. "Iya! Ini rumahnya!"
"Wah, ada pengunjung." Suara serak seorang pria terdengar dari dalam rumah. Ketika ia keluar untuk menyambut tamu tak diundang itu, Shang Xiang terlihat kecewa. Apa ini artinya paman itu sudah menjual rumah ini? Batin Shang Xiang.
"Um, maaf, apa rumah ini sudah dijual?" Tanya Shang Xiang.
"Ah, baru saja laku!" Pria tua itu menjawab sembari mengelus-elus jenggotnya. "Anak kecil itu benar-benar kembali setelah dua puluh tahun!" Ia tertawa serak. "Aku kira dia sudah lupa dengan janjinya. Aku sempat frustasi juga karena dia tak kunjung datang. Tapi akhirnya dia datang, dan memberikan emas yang cukup banyak. Dia benar-benar ingat dengan janjinya. Dan dia sudah tumbuh menjadi seorang pria sejati. Aku bisa melihat dari sorot matanya."
Jantung Shang Xiang berdetak lebih cepat ketika mendengar cerita pria tua yang ternyata pemilik – atau lebih tepatnya mantan – rumah ini. Dia tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh pria ini!
"Anu, paman, kemana pria itu sekarang?" Shang Xia memotong cerita pria tua dihadapannya.
"Ah, dia sudah pergi. Sayang, aku kira dia akan ke sini bersama teman-temannya waktu kecil dulu. Dia bilang mereka sedang sibuk, jadi tidak bisa datang."
"Dia pergi ke arah mana?!"
"Dia pergi ke pintu gerbang utara. Jika kau pergi sekarang, mungkin bisa menyusulnya."
"Terima kasih, paman!" Shang Xiang langsung berlari, meninggalkan Zhuge Liang dan yang lainnya, bahkan kudanya.
"Hei, kau teman pria itu kan?"
"Iya paman. Aku senang paman akhirnya ingat denganku." Seru Shang Xiang dari kejauhan.
Pria tua itu tertawa sambil melipat tangannya ke belakang. "Insting pria itu berarti benar. Tadi dia pamit cepat-cepat, karena katanya akan ada orang yang mengenailnya datang dan menanyakan rumah ini. Jangan-jangan mereka jodoh?"
"Bisa jadi." Zhuge Liang mengipas-ngipas tubuhnya.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Cao Zong, tunggu!" Shang Xiang berteriak ketika melihat sosok Cao Zong hendak menaiki kudanya.
Yang dipanggil terkejut. "Shang Xiang..."
Ia menunggu hingga Shang Xiang bicara setelah dia berdiri tidak jauh darinya.
"Kau masih ingat dengan janji itu, rupanya..." Kata Shang Xiang disela tarikan nafasnya.
"Kau juga." Cao Zong tersenyum tipis.
Melihat sosok Cao Zong yang tersenyum, membuat Shang Xiang ikut tersenyum juga. Sosok yang sudah lama tidak ia lihat, sosok yang sudah lama menghilang dari sisinya. "Ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kita jalan-jalan sebentar?"
Cao Zong menghela nafas. "Baiklah." Ia pun kembali menitipkan kudanya di pos penjaga gerbang kota.
Ada jarak cukup jauh selama mereka berjalan, sekarang benar-benar seperti seorang prajurit yang sedang menenami anak pemimpinnya jalan-jalan. Keduanya sampai di danau dekat rumah yang baru saja dibeli oleh Cao Zong.
"Beberapa hari belakangan ini, aku sering memimpikan hari itu. Ketika kau berjanji akan membeli rumah ini." Shang Xiang menatap Cao Zong. "Aku senang, kau tidak melupakan janjimu."
"Aku tidak pernah melupakan janjiku, Shang Xiang." Ucap Cao Zong pelan.
"Oh? Lalu bagaimana dengan janji kepadaku? Janji bahwa kau akan selalu ada untukku? Kau bilang kau tidak melupakan janjimu."
Cao Zong menghela nafas, nampaknya dia tahu kalau Shang Xiang akan membahas masalah ini. "Aku sudah bilang..."
"Jawab! Apa kau sudah lupa dengan janjimu?" Pekik Shang Xiang. "Padahal selama ini aku percaya kepadamu... Jika kau memang ingin pergi mengabdi kepada Wei, kenapa tidak bilang langsung? Kami pasti akan mengizinkanmu. Kenapa kau harus mengkhianati Wu?" Shang Xiang menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Aku hanya ingin tahu alasanmu..."
Shang Xiang merasakan tangan hangat Cao Zong menyentuh dagunya, mengangkatnya dengan lembut, hingga akhirnya mata mereka saling bertemu. Tatapan itu, tatapan yang sama seperti waktu mereka bertarung di He Fei. Apa arti tatapan itu? Dia hanya bisa menutup kelopak matanya ketika bibirnya bertemu dengan bibir Cao Zong.
Ciuman itu tidak berlangsung lama, dan Cao Zong kembali menatap lurus ke arah Shang Xiang. Seolah ada yang ingin dia katakan, tetapi tidak bisa. Mereka terus dalam keadaan seperti itu untuk beberapa saat hingga suara Ling Tong memanggil nama Shang Xiang terdengar.
"Maaf, aku harus pergi." Cao Zong mengecup kening Shang Xiang. "Sampai jumpa lagi."
Shang Xiang hanya bisa menatap punggung Cao Zong yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
