My Beatiful Destiny
Kim Jong in / Do Kyungsoo
SM Family
Rate : Aman
Happy reading
*
Tenang mencekam adalah gambaran yang sedang terjadi di antara Sehun dan Kyungsoo saat ini. Lebih tepatnya itu adalah gambaran perasaan Sehun saat ini.
Sejujurnya ia sedikit terkejut melihat Kyungsoo di Korea namun ia urung bertanya. Belum saatnya, pikirnya. Tidak biasanya Kyungsoo diam dan tenang. Sehun telah mengenal baik wanita itu, Kyungsoo itu bahkan akan sangat berisik menceritakan hal-hal yang menurut Sehun sangat tidak penting. Jika sudah seperti ini, Sehun sangatbl yakin bahwa hal yang terjadi di rumah Jongin adalah sesuai yang buruk.
Sehun menghela napas dalam, dari pada itu ada hal yang perlu ia tanyakan sekarang juga.
Baru saja ia ingin membuka mulutnya, suara Kyungsoo memotong perkataannya, "Jangan bertanya apapun padaku, Sehun." Ujarnya datar sembari memejamkan matanya.
Penampakan siku-siku muncul di dahi tampan Sehun, ia bahkan belum sempat mengeluarkan satu patah kata tapi Kyungsoo menolaknya mentah-mentah. Ingin sekali rasanya ia menjitak kepala wanita itu seperti biasa tapi keadaan mereka tidak telihat seperti biasa. Kembali menghela napas dalam, Sehun memutuskan bertanya hal yang memang perlu ia ketahui saat ini.
"Aku tidak akan bertanya apapun, tapi aku perlu tahu kau akan pulang ke mana?" Tanya Sehun pada akhirnya dengan nada sedikit kesal, dan bertambah kesal karena Kyungsoo bahkan terlihat tidak ingin menjawab pertanyaannya.
Apa ia harus membawa Kyungsoo pulang ke rumahnya? Tapi, ia tidak mengetahui tentang jadwal kepulangan Kyungsoo yang bisa saja dipercepat karena ia mendapatkan perintah untuk menjemput Kyungsoo esok hari di bandara. Daripada menambah masalah, ia kembali melirik wanita itu,
"Noona?" Panggilnya sedikit lebih lembut. Biar bagaimanapun, Sehun tidak membenci Kyungsoo karena mereka di jodohkan. Itu urusan orang tua mereka. Sedari kecil, mereka telah banyak melewati hari bersama-sama, mereka menjadi dekat karena itu, Ia suka menjahili Kyungsoo dari dulu hingga kini, dan Kyungsoo balas akan mendengar apapun keluhan Sehun. Mereka saling menyayangi tanpa merasa perlu membawa hati. Bukankah mereka semua begitu? Kecuali Luhan, tentunya.
"Bawa aku ke apartemen Baekhyun, Hun-ah." Ah, Kyungsoo melembut. Sehun tersenyum mengangguk meskipun wanita itu tidak melihatnya. Wanita dalam lingkar pertemanannya memang adalah wanita yang berisik, seperti Kyungsoo, Baekhyun, dan Luhan kadang, tapi mereka memiliki sisi lembut yang membuat nyaman.
Bicara tentang Luhan, Sehun jadi teringat tentang wanita itu. Saat ini, ia yakin jika kekasihnya itu sedang menangis. Menyalahkan diri sendiri karena Kyungsoo mendapati dirinya bersama Sehun. Tadinya, Sehun menyusul Luhan karena mereka terlibat pertengkaran kecil setelah makan malam romantis, makanya Sehun berniat menyusul Luhan untuk berbaikkan, tapi ia sangat terkejut mendapati Kyungsoo berdiri di hadapan mereka bersama Jongin, seperti sedang terlibat pertengkaran hebat. Sehun jadi bertanya-tanya apakah keduanya saling mengenal? Tapi sejak kapan? Lagipula, jika mereka saling mengenal, hubungan apa yang terjalin di antara mereka? Jongin tidak pernah menyebut nama Kyungsoo begitupun sebaliknya. Apa dari Chanyeol hyung? Batin Sehun seraya melirik wanita yang masih saja memejamkan matanya itu.
Dan kalau ia tidak salah lihat, mata Jongin menyiratkan kemarahan yang mana itu Sehun yakin menyangkut tentang hubungan Luhan dan dirinya. Jongin terlihat ingin meninjunya sampai mati tadi. Untung saja Kyungsoo segera menyuruh keduanya pergi dari hadapan Jongin. Biarpun sedari tadi wajahnya tampak datar, sejujurnya ia juga di liputi sedikit ketakutan.
Ah, tenyata waktunya telah tiba ya? Segalanya, akan menjadi rumit mulai sekarang. Sehun kembali bimbang dalam hati, apakah ia harus jujur pada orang tuanya? Atau membiarkan saja semuanya. Toh, ini adalah untuk kepentingan banyak pihak. 'Dasar pengecut.' batin Sehun.
Daripada memusingkan hal itu, setelah mengantarkan Kyungsoo, ia harus kembali ke rumah Jongin. Ia harus memastikan keadaan Luhan baik-baik saja. Dia tidak peduli tentang pandangan Siwon samchon dan Yuri imo padanya nanti, toh tadi saja ia melihat kedua orang tua itu hanya diam memerhatikan atau lebih tepatnya menononton drama yang terjadi di antara mereka, dengan pandangan bloon menurut Sehun.
.
Dari semua hal yang paling di bencinya, jatuh cinta termasuk dalam jejeran utama. Bukan karena ia sulit mendapatkan pasangan, tapi lebih dari itu, ia benci jika harus merasa lemah apalagi karena seorang perempuan.
"Aku pulang." Jongin berjalan pelan memasuki apartemennya, dan yang didapatinya adalah kehampaan.
"Sialan." Makinya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin kebiasaan yang baru di mulainya beberapa hari yang lalu bisa membuatnya sakit di hati. Jongin berjalan pelan ke arah sofa, kemudian duduk menyandar di atasnya. Kepalanya pening, entah mengapa, ia rindu senyum hati wanita yang selalu menyambutnya pulang, tidak lagi di temuinya suara lembut wanita itu yang mengalun lembut menyebut namanya.
"Cinta brengsek!!!" Makinya lagi. Jongin mengederkan pandangan menuju pantry, di sisi lemari pendingin, tergantung apron biru langit milik Kyungsoo, biasanya wanita itu akan memakainya dan rambut pendeknya yang ia kuncir asal-asalan. 'Jongin, ayam goreng di sini jangan di curi!!!' Uuh, mengapa suara wanita itu selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Jongin mengubah posisinya menjadi berbaring, aroma Kyungsoo yang tertinggal membuat kepalanya semakin pening, aroma manis itu menempel lekat keseluruh penjuru ruangan, menambah sakit hati Jongin lebih parah.
Ia tidak terima di permainkan!!!
Ingatan kembali membawanya pada awal di mana mereka bertemu. Apakah, pada saat itu, Kyungsoo hanya berpura-pura? Apakah itu termasuk ke dalam rencananya? Apakah Baekhyun tahu soal ini? Apakah Baekhyun, dan Kyungsoo bekerja sama membalas dendam padanya?
Jongin baru saja merasakan kehilangan karena di permainkan. Harga dirinya terluka, ia sedikit mengingat Luhan yang menangis, ia ingin menghibur wanita itu, tapi, ia tidak bisa beranjak dari tidurnya, karena sesungguhnya ia juga butuh di hibur. Ia juga merasa tersakiti. Jongin ingin memaki Kyungsoo, tapi membentak wanita itu tadi saja sudah menyakiti hatinya sendiri.
Jongin menutup matanya dengan punggung tangan, sekilas ia melirik ke arah tempat sampah yang di penuhi cup ramen bekas makan ia bersama Kyungsoo tadi malam. Sampah-sampah itu, seperti merengek minta di buang, sama halnya perasaan Jongin, merengek minta di hilangkan, rasa sakitnya.
Dan yang lebih menyakitkan dari merasa di permainkan adalah, mengetahui wanita yang di sayanginya akan segera bertunangan. Jongin menutup paksa matanya, ia ingin tidur, ingin melupakan kejadin buruk hari ini.
Esok hari, ia yakinkan pada diri sendiri bahwa tidak ada lagi yang akan melukai hatinya. Ia tidak akan membuka hatinya lagi untuk siapapun. Ia tidak peduli lagi. Pada Kyungsoo, pada Sehun. Oh, urusan dengan Sehun ia pastikan belum selesai. Setidaknya, ia harus melukis lebam di wajah datar sahabat brengseknya itu. Jongin tertidur membawa amarah dalam dirinya, tanpa pernah mau berpikir, apakah Kyungsoo benar terlihat seperti orang yang suka menyakiti orang lain? Tapi, bukankah amarah membutakan segalanya? Termasuk rasa percaya? Jongin tertidur sampai pagi, dan hal lain yang ia lupakan adalah, sangat sulit meninggalkan kebiasaan.
.
Sehun telah sampai di halaman parkir apartemen milik Baekhyun. Dia menatap gedung tinggi itu, kemudian beralih menuju wanita yang tertidur di sisinya.
"Noona, bangunlah. Kita sudah sampai."
Dengan begitu, Kyungsoo membuka pelan matanya, mengedip-ngedipkan kelopak matanya membuat itu terlihat lucu. Sehun tertawa dalam hati, jika bukan pada Luhan,orang kedua yang bisa ia sukai mungkin adalah Kyungsoo.
"Terima kasih, Hun-ah." Kyungsoo membuka pelan pintu mobil, dan keluar memijak dengan sedikit limbung. Sehun harus berkata hati-hati yang hanya di angguki pelan oleh wanita itu. Rupanya benar, kejadian tadi bukanlah sesuatu yang bisa di anggap remeh.
"Noona," Teriak Sehun begitu Kyungsoo hampir mencapai pintu lobi, wanita itu berbalik, menunggu kalimat Sehun, "605. Nomor Apartemen Baekki Noona."
Kyungsoo mengangguk mengerti, ia juga telah hapal letak apartemen calon iparnya itu.
Melihat Kyungsoo yang telah memasuki lobi, Sehun bergegas berlalu, menuju seseorang yang juga perlu di jaganya. Sejujurnya Sehun juga khawatir dengan keadaan Kyungsoo, tapi ia meresa akan baik-baik saja jika Kyungsoo bersama Baekhyun.
.
Sehun telah hilang dari pandangannya, Kyungsoo kembali berjalan menuju Lift yang akan membawanya ke lantai 6 di mana apartemen Baekhyun berada.
Kyungsoo merasa sedikit tidak enak karena mendiamkan Sehun, tapi mau bagaimana lagi, ia sedang kesal sama lelaki itu. Kalau bukan karena dia, semuanya tidak akan jadi seperti ini. Dan Kyungsoo lupa bahwa ia seharusnya berkaca atas tindakannya yang memang sedari awal telah salah jalan.
Lift yang membawanya telah terbuka, Kyungsoo keluar dengan langkah pelan, ia sangat terpikir dengan keadaan Jongin. Ia tidak mengira akan muncul sebuah kesalah pahaman yang sangat jauh dari apa yang ia prediksikan. Apakah Jongin baik-baik saja? Apakah Jongin akan membencinya? Jongin terlihat sangat marah tadi. Kalau Jongin membencinya, dia tidak tahu apakah masih harus membatalkan pertunangan ini atau tidak. Kyungsoo berhenti tidak jauh dari pintu kamar Baekhyun, ia merogoh tasnya, mencari ponselnya. Sesegera mungkin mendial nomor Jongin, suara dering terdengar dua kali, sebelum panggilannya di reeject oleh seseorang di balik telepon. Kyungsoo kembali memanggil nomor Jongin, tapi hanya rekaman suara operatorlah yang menyambutnya.
'Dia benar-benar marah padaku ya.' Batin Kyungsoo lemah.
"Aku ingin menangis." Gumamnya ketika berada tepat di pintu apartemen Baekhyun. Memencet bel, Kyungsoo menanti pintu terbuka sembari melihat kosong layar ponselnya.
Suara scanner pintu menarik Kyungsoo dari lamunan, ia bersiap memeluk Baekhyun namun seketika matanya melotot kaget saat mengetahui siapa gerangan yang membukakan pintu.
"Kyungie?" Suara bas itu, yang sangat Kyungsoo hapal di luar telinga, belum lagi sosok tingginya yang membuat Kyungsoo menengadahkan kepala.
'Gawat. Dunia benar-benar tidak ingin berkompromi denganku barang sebentar. Aku harus jawab apa?' Batin Kyungsoo berteriak. Ia hanya menatap mata Chanyeol yang terlihat sangat terkejut, ah, ia jadi ingin menangis dan memeluk kakaknya itu. Kyungsoo yakin, kakaknya telah menyiapkan berbagai macam pertanyaan dari yang paling masuk akal sampai yang paling konyol.
"Siapa Chan?" Suara perempuan dari balik punggung Chanyeol menarik atensi keduanya, Kyungsoo bisa mendengar langkah kaki mendekat, dan dia sudah mengira wanita itu akan terkejut.
"Kyu-Kyungie?" Siapa yang tidak akan terkejut jika Baekhyun merasa kini mereke seperti menyerahkan diri di kandang singa.
"Baek," Suara lemah Kyungsoo membuat Chanyeol kembali menaruh perhatian pada adiknya itu. Sejujurnya, ia sedang berpikir, mengapa adiknya itu berada di Korea padahal seharusnya mungkin saat ini ia masih berada di pesawat. Tapi, seketika pikirannya buyar saat melihat Kyungsoo menangis, dan menghambur memeluk Baekhyun.
"Baekhyunnie.. " Baekhyun kaget karena tiba-tiba adik dari pacarnya itu langsung memeluk tubunya dan menangis di pundaknya. Oh, Baekhyun tahu. Kyungsoo pasti telah berhasil merusak rencanya sendiri. Bagus sekali. Kyungsoo itu adalah yang paling bersemangat jika ada hal yang harus di taklukannya, namun juga dia akan langsung jatuh jika sesuatu tidak sesuai dengan apa yang ia prediksikan. Yah, tapi setidaknya itu hanya akan berlangsung sementara. Hanya perlu kembali memanas-manasinya, maka wanita itu akan bersamangat kembali.
Tunggu dulu, ia merasa sesuatu yang tidak mengenakkan, dan benar saja, Chanyeol sedang memerhatikan keduanya dengan mata tajamnya.
"Kemarilah. Kita duduk dulu." Baekhyun menghapus air mata Kyungsoo dan membawanya duduk. Ia harus sesegera mungkin menenangkan wanita itu sebelum bertanya lebih lanjut.
"Apa yang terjadi,hm? Tanya Baekhyun, ia melihat Chanyeol menutup pintu dan berjalan mendekat ke arah mereka kemudian duduk tepat di sisi Kyungsoo.
"Kyung?" Tanya Baekhyun lagi, sedangkan yang di panggilnya masih menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya. Dia tidak mau terlihat cengeng.
"Kyungsoo, kenapa kau ada di Korea?" tanya Chanyeol tanpa basa-basi. Sedari tadi ia telah memendam rasa penasarannya.
"Kyungsoo, kau dengar aku?!" Suara Chanyeol sedikit membesar.
'Ah, sudah di mulai. Aku diam aja deh.'
"kyungsoo!!!" Panggil Chanyeol sembari menarik tangan adiknya itu agar berbalik padanya.
Kyungsoo menengadahkan wajahnya takut-takut ke arah Chanyeol, dengan wajah merah sembari mata yang masih mengalirkan airnya, Baekhyun, dalam hati menghitung mundur, 3,2,1, Go!!!!
"Hwaaaaaa, hiks, hiks," Baekhyun memutar matanya malas.
Chanyeol yang melihat adik satu-satunya yang tiba-tiba saja memangis sontak panik bukan main. Dia tahu kalau Kyungsoo menangis, berarti ada hal buruk yang terjadi di hidupnya, dan terakhir Kyungsoo menangis adalah 5 tahun lalu, saat Chanyeol berkata bahwa ia dan Baekhyun saling mencintai dan mereka berpacaran. Saat itu, Kyungsoo menangis karena merasa Baekhyun mengambil kakaknya, ia bahkan tidak berbicara pada keduanya hampir seminggu, dan berhasil diberi pengertian yang membuat Baekhyun hampir mundur dari hubungannya bersama Chanyeol. Baekhyum tidak menyangka sabahat dari bayinya itu mengidap brother complex, namun kurang dari dua bulan, ia berpikir sama saja terhadap Chanyeol yang rupanya juga mengidap sister complex. Baekhyun banyak bersabar menghadapi keduanya, jika boleh jujur.
"Hiks, hiks," Suara isakan nyaring masih menggema di apartemen Baekhyun, karena sedari tadi, Chanyeol hanya menatap adiknya dengan pandangan marah, wajah paniknya telah berubah karena ia menyadari bahwa Kyungsoo hanya berusaha mnegakalinya.
'Yah, ketahuan deh.' Batin kedua wanita milik Chanyeol itu.
"Hapus air mata buayamu dan katakan mengapa kau bisa berada di Korea saat ini?!!" Chanyeol bersedakap dan mendengus saat melihat mata Kyungsoo yang membuat sekian detik.
Baik Baekhyun maupun Kyungsoo, keduanya diam seribu bahasa. Hanya deru napas cepat Kyungsoo yang berasal dari sisa menangis pura-puranya yang terdengar jelas.
"Baekhyun!!!!" Baekhyun berjengit di tempatnya saat Chanyeol tiba-tiba meneriakkan namanya.
"Aku tidak tahu apa-apa, Chan." Ucap Baekhyun cepat, matanya lurus menatap mata Chanyeol dan sedetik kemudian ia palingkan. Tatapan Chanyeol seperti menyuruhnya untuk jujur.
"Kau berbohong, Baek!" Bentak Chanyeol.
"Tanyakan pada adikmu kalau begitu." Balas Baekhyun tak kalah sengit.
"Dia tidak mau bicara!"
"Kau bisa memaksanya, mengancam akan menguncinya selama sebulan hingga pertunangannya adalah hal yang menarik!!"
"Yak!!! Kau mengkhianatiku!!!! Kyungsoo berseru ketika mendengar ide busuk Baekhyun.
"Aku sudah bilang jika ini bukan ide yang baik sedari awal Kyung!!!"
"Harusnya sejak dua minggu lalu kau seret aku bagaimanapun caranya untuk tidak tinggal bersama pri- eh?" Baekhyun menepuk jidatnya sekuat yang ia bisa. Benar-benar bodoh si Kyungsoo itu. Ya ampun.
"PRIA? DUA MINGGU? KAU TINGGAL BERSAMA PRIA SELAMA DUA MINGGU????" Terikan menggema Chanyeol membuat kedua wanita disana tutup kuping, sebelum pendengaran mereka benar-benar terganggu.
"KYUNGSOOOO!!!!! KAU TINGGAL BERSAMA SIAPA SELAMA INI?" Kalimat Chanyeol penuh penekanan, dan menuntut jawaban sesegera mungkin.
"Kau masih tidak menjawab rupanya. Baiklah, siapa yang mengantarmu ke mari?" Tanya Chanyeol berusaha kalem, ia menahan emosinya karena telah menakut-nakuti adik juga kekasihnya itu, "Jawab dan janga berbohong."
"Sehun."
"Hah?"
"Sehun, oppa. Sehun yang mengatarkan aku ke sini."
"Kau tinggal bersama Sehun?"
"Err," Kyungsoo memasang mode berpikir tapi hal itu membuat Chanyeol menyadari bahwa Kyungsoo bisa saja kembali mengakalinya.
"Ok!" Ucap Chanyeol sembari mengambil ponselnya kemudian mencari cepat nomor seseorang. Ia menempel ponsel ke telinga sedang matanya tidak lepas dari adiknya. Sedang yang di tatap malah memgedarkan pandangannya ke arah Baekhyun yang di sambut Baekhyun dengan delikan, Kyungsoo mendengus, mengingat bahwa sahabatnya mengkhianatinya tadi.
"Halo hyu-"
"Di mana kau memjemput Kyungsoo?" Chnayeol bahkan tidak merasa perlu mengucap salam.
"Di rumah Jongin- pip!"
Oke. Chanyeol mengambil napas dalam-dalam. Setelah emosinya yang mulai redup, kini ia kembali di sulut emosi. Dari semua pria, kenapa harus Kim Jongin? Bagaimana bisa? Lelaki pemain perempuan itu bersama adiknya selama dua minggu? Dari pada itu, ia lebih mementingkan sesuatu.
Chanyeol berdiri, mengambil jaket yang terlampir di tangan sofa, mengambil kunci mobil dan berjalan menuju pintu sebelum tangannya di tarik oleh adiknya sendiri yang memasnag wajah penuh tanya, "Mau ke mana oppa?" Tanya Kyungsoo khawatir, ia merasa tidak enak dengan aura yang Chanyeol keluarkan.
"Meninju Seseorang!" Jawab Chanyeol cepat, kemudian hendak membuka pintu apartemen tapi ia mengernyit saat Kyungsoo bersusah payah mencoba menutup pintu itu kembali.
"Siapa?"
"Kim Jongin sialan itu!!"
"Dia tidak ada hubungannya dengan ini!!"
"Kau bersamanya selama dua minggu dan kau bilang tidak ada hubungan apa-apa?" Chanyeol mengambil langkah mundur, sedikit menjauhi adiknya yang masih menghalangi pintu.
"Dia tidak menyentuhku jika itu yang kau takutkan. Jangan memukulnya." Chanyeol melihat mata Kyungsoo berair, hendak menangis, pandangan mata Kyungsoo, ah, Chanyeol sedikit tidak suka dengan pandangan mata itu.
"Kau akan bertunangan, Kyung." Chanyeol menjauhi Kyungsoo, duduk kembali di sisi Baekhyun.
"Aku tahu." Ujar Kyungsoo lembut, ia mendekati oppanya kemudian duduk menyandarkan kepalanya di lengan Chanyeol.
"Tapi aku masih ingin meninju Jongin." Kyungsoo kembali menegakkan badannya, menatap Chanyeol. Ia khawatir, Chanyeol tidak pernah main-main, dulu saja, Chanyeol pernah memukul teman sekelasnya hingga mendapatkan rawat jalan karena berani menyentuh bokong adiknya. Ya salah juga sih, teman Kyungsoo itu.
"Dia membuatmu menangis," Chanyeol menepuk kepala Kyungsoo, "Kau berekspresi sedih saat datang ke sini." Kyungsoo menggeleng, kemudian kembali bersandar pada sandaran sofa.
"Jaga dia, Baek." Ucap Chanyeol kepada Baekhyun, ia sedikit merasa bersalah pada kekasihnya itu.
"Maafkan aku karena membentakmu," Chnayeol mengecup dahi Baekhyun yang hanya di angguki oleh wanita itu, mereka berjalan menuju pintu.
"Aku tidak mengizinkanmu bertemu lagi dengan Jongin, Kyung. Kau akan bertunangan. Dan kalian berdua masih harus menjelaskan semuanya padaku nanti," Meskipun nadanya melembut, Baekhyun maupun Kyungsoo paham terdapat ancaman di dalamnya. " Aku akan menjemputmu besok, Kyung." Chanyeol pergi setelah mendapat anggukan mengiyakan dari adiknya.
.
Sepeninggalnya Chanyeol, baik Baekhyun maupun Kyungsoo, keduanya tidak berbicara. Kyungsoo sibuk memikirkan Jongin, sedang Baekhyun sibuk memikirkan alasan jika nanti Chanyeol bertanya mengapa ia membantu Kyungsoo untuk tinggal bersama Jongin.
"Kyung-"
Kyungsoo menghela napas, "Seharunya aku mendengarkanmu, Baek. Jongin sangat marah. Ia mengira aku berniat membalas dendam karena Luhan mengambil Sehun dariku."
"Kalian berempat bertemu?" Tanya Baekhyun penasaran, ia sedari tadi bertanya-tanya dalam hati mengapa Kyungsoo datang di antar Sehun.
"Tidak terduga. Aku ke rumah Jongin, bertemu Siwon samchon dan Yuri imo, bertengkar, bertemu Sehun dan Luhan." Kyungsoo berkata datar, ia masih merasa bersalah sama Luhan. Ah, wanita itu pasti sedang menangis ya.
"Lalu?"
"Aku tidak tahu. Jongin sangat marah, ia membentaku, mengataiku sialan, aku marah ia mengataiku seperti itu, tapi aku tahu semua ini salahku."
Baekhyun mendekati sahabatnya, menepuk-nepuk pundak Kyungsoo, "Apa yang akan kau lakulan saat ini?" Tanya Baekhyun, ia sudah siap untuk kembali menyemangati sahabatnya jika Kyungsoo tidak memiliki rencana apapun.
"Aku masih harus memperbaikinya. Chanyeol oppa belum tahu sepenuhnya, jangan sampai dia tahu sekarang. Bukan hanya Jongin yang akan di pukuli, tapi Sehun juga," Baekhyun mengangguk mengiyakan.
Kyungsoo melanjutkan, "Aku mungkin tidak akan bertemu Jongin sampai hari pertunanganku, bahkan, mungkin aku tidak bisa keluar rumah seenaknya mulai besok," Baekhyun memasang raut sedih, "Bukan salahmu, tanpa kau berkata begitu, oppa akan tetap melakukannya."
"Apa rencanamu?"
"Aku akan mengabaikan perasaanku pada Jongin untuk saat ini. Aku harus segera memperbaiki hubungan Sehun dan Luhan. Aku butuh bantuanmu, Baek. Kau mau membantuku?"
Baekhyun membawa Kyungsoo dalam pelukannya, "Aku akan membantu sebisaku." Kyungsoo membalas pelukan Baekhyun. Ya, ia harus segera menyusun rencananya, tidak banyak waktu yang tersisa, dan undangan yang telah tersebarpun tidak akan membuatnya menyerah. Ia harus membalas air mata Luhan. Sahabatnya satu itu pasti sedang menyalahkan diri sendiri. Ia jadi ingin memeluk Luhan kalau bisa.
"Tapi Baek," Kyungsoo melepas pelukan Baekhyun, kemudian menatap tepat ke mata sahabatnya, Baekhyum menunggu apa yang hendak di ucapkan Kyungsoo dengan wajah penuh tanya.
"Jangan mengkhianatiku lagi!" Dan Baekhyun tergelak karean wajah Kyungsoo sangatlah membuatnua gemas.
"Tidak akan." Dan tawa keduanya menggemana dalam apartemen milik kekasih Chanyeol itu.
.
Pagi datang terlalu cepat, meninggalkan malam yang dingin, matahari musim gugur kali ini seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak menyengat, saat menyoroti seseorang yang masih tertidur meringkuk di atas sofa apartemennya sendiri.
Jongin mengerjab-ngerjabkan matanya perlahan, membiasakan silau matahari pagi yang memasuki matanya, ia melirik jendela besar, rupanya tirai memang tidak tertutup.
"Ah, jam berapa ini?" Gumamnya sembari mengambil posisi duduk. Ia merasakan kaku hampir di seluruh tubuhnya.
Ya, pagi datang terlalu cepat, mengusir malam yang dingin, tapi rupanya tidak mampu mengusir ingatan yang ia mulai coba lupakan.
"Jongin, bangun!"
"Ah, aku telat. Kau tidak membangunkanku noona,"
"Kau itu hibernasi Jongin, bukan tidur lagi."
"Nanti malam jangan begadang lagi. Kau hanya akan telat."
"Jongin, sarapanmu."
"Jongin, hati-hati di jalan."
"Jongin, jika kau lama pulang, aku bisa mati kebosanan."
Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, mengusir-ngusir beberapa ingatan yang masih terlalu pagi untuk membuatnya rindu. Ya, Jongin rindu gadis itu. Tapi, kejadian semalam, membuanmtnyanhsrus membuang jauh-jauh apa yang oramg bilamg harapan. Ia hanya objek pembalasan balas dendam, memangnya apa yang hsrus ia harapkan.
Sehun, Jongin perlu bicara dengan lelaki tanpa ekspresi itu, mungkin akan lebih naik jika ia bertemu Sehun setelah ia selesai dengan pekerjaannya.
Dengan susah payah Jongin berdiri, berjalan menuju kamarnya. Mulai hari ini, ia akan kembali seperti saat di mana Kyungsoo belum hadir mengisi harinya. Ya, semuanya harus kembali seperti semula, termasuk perasaannya.
Ternyata memang tidak mudah melupakan kebiasaan, karena nyatanya, selepas Jongin bersiap dengan baju kerjanya, ia berharap seseorang mengingatkannya untuk segera menyantap sarapan. Tidak lagi sama, Jongin merapal kata memgingatkan untuk jangan terbawa perasaan yang memuakkan itu.
Melirik jam di pergelangan tangan, rupanya ia sudah sangat telat. Biarlah, toh hari ini ada ayahnya juga sudah kembali.
Jongin melangkah santai, sesat berikutnya sebuah pesan masuk membuatnya mengernyit heran.
Mari bertemu pagi ini di kafetaria Oh Corp. Aku benar-benar akan meninjumu jika kau tidak datang.
Sebuah pesan dari Chanyeol membuatnya bertanya-tanya, apakan ini sebuah pesan ancaman?
.
Sehun mengetuk-ngetukkan jarinya pelan di meja kafe, seperti terlihat sibuk menghitung detik yang terbuang untuk menunggu seseorang. Ia melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya, kemudian kembali mengetuk-ngetukkan jarinya lagi.
Orang yang mengirimkan pesan padanya pagi ini rupanya sedikit terlambat, tapi seseorang yang tak terduga berjalan menghampirinya dengan wajah yang Sehun tahu penuh dendam dan amarah. Orang yang tak lain tak bukan adalah Jongin, semakin mendekat dan kemudian memilih duduk sedikit menggeser bangkunya menjauhi Sehun, tersisa satu bangku lagi yang belum terisi dan Jongin maupun Sehun mengutuk si pembuat janji yang rupanya datang terlalu terlambat.
Sebenarnya, Sehun ingin bertanya pada Jongin tentang hubungannya dengan Kyungsoo, namun karena Jongin hanya mengeluarkan aura seperti ingin menonjoknya jika ia mengeluarkan satu patah kata, niat itu ia urungkan. Bukan berarti ia takut pada Jongin, tapi ia hanya tidak ingin membuat keributan di pagi hari apalagi di kantornya sendiri.
Langkah kaki yang berhenti tepat di depan mereka rupanya berhasil membuat Jongin dan Sehun kembali dari pemikirannya masing-masing, di depan mereka kini berdiri sosok Chanyeol dengan mata yang sedikit bereda dari biasanya. Lagi pula, kemana senyum idiot Chanyeol yang biasa? Apakah ini sesuatu yang serius? Pikir Jongin, sedang Sehun sudah cukup mengerti untuk tahu apa yang akan Chanyeol bicarakan.
Chanyeol menggeser bangku, duduk berhadapan dengan Sehun dan Jongin yang hanya berbatas meja bulat kecil. Ia menatap kedua dongsaengnya itu kemudian menghela napas sesaat sebelum mengutarakan hal yang ingin ia sampaikan.
"Dengarkan aku dan jangan katakan apapun hingga selesai." Chanyeol memulai, ia dapat melihat kedua lelaki di depannya mengangguk setuju tanpa suara.
"Aku mempunyai adik perempuan satu-satunya," Jongin sontak mengernyitkan alis, ia tidak tahu-menahu soal itu meskipun ia telah berkawan cukup lama dengan Chanyeol.
"Kau punya adik, hyung?" Tanya Jongin juga.
"Jangan memotong, Jongin-ah."
Jongin, meskipun penasaran, ia pada akhirnya memilih diam, toh Chanyeol akan kembali menjelaskan maksudnya. Tapi, apa hubungannya?
"Aku sangat menyayanginya karena ia adalah satu-satunya perempuan dalam keluargaku yang harus ku lindungi setelah ibu kami meninggal." Chanyeol melihat ke arah Sehun, sedangkan yang di tatap hanya mengangguk membenarkan, Sehun tahu soal itu. Chanyeol dan Kyungsoo kehilangan Ibu mereka sejak mereka bersekolah dasar.
"Aku menyeleksi semua orang yang berhasil mendekati adikku, termasuk sahabat-sahabatnya sedari kecil. Baekhyun, Kristal, Luhan, termasuk kau, Sehun, dan aku bersyukur tidak ada dari lingkar pertemanannya memiliki niat jahat pada adikku."
Sehun diam, dan Jongin memikirkan sesuatu, rupanya adik dari Chanyeol hyung juga berteman dengan Luhan noonanya. Mengingat Luhan, membuat Jongin menatap sinis ke arah Sehun. Ia tidak sabar meninju wajah yang masih datar itu.
"Aku, dan kalian berdua adalah sama saja. Kita bermain perempuan meskipun kini aku sudah berhenti, tapi pada dasarnya kita adalah lelaki yang sama brengseknya." Jongin mulai merasa aneh dengan apa yang Chanyeol katakan sedangkan Sehun masih menyimak sembari membenarkan sedikit.
"Adikku saat ini telah dewasa. Ia akan segera bertunangan. Dan dari semua lelaki di dunia, aku tidak mau adikku jatuh pada lelaki seperti kalian," Sehun maupun Jongin menatap Chanyeol penuh minat, menanti kalimat Chanyeol berikutnya,"Tapi, dari semua lelaki di dunia, hanya kalian berdua yang bisa ku izinkan untuk menjaga adikku, karena yang bisa ku percayai adalah hanya kalian berdua."
Chanyeol menghela napas, ia melihat Sehun yang masih memasang wajah poker andalannya, sedang Jongin dengan wajah yang tidak tahu apa-apa. Oh, apakah Jongin belum tahu kalau Kyungsoo adalah adiknya? Sepertinya iya, mengingat dirinya yang tidak pernah membicarakan Kyungsoo pada Jongin.
"Sehun-ah, apa kau menyayangi adikku?"Tanya Chanyeol.
"Kau jelas tahu, hyung. Waktu yang berlalu di antara kami sudah tentu membuatku menyayanginya." Chanyeol mengangguk paham, ia dapat membaca secara jelas bahwa Sehun memang menyayangi adikknya, tapi Chanyeol tidak menemukan pancaran yang lebih dari sorot mata itu.
"Jongin," Sehun maupun Jongin merasa aneh saat nada suara Chanyeol berubah lebih dalam dan menekan.
"Ya hyung?"
"Apa kau mencintai adikku?"
"Hah?" Beo Sehun dan Jongin bersamaan.
"Aku tidak tahu siapa adik-"
"Kyungsoo, adikku. Kau mencintainya, Jongin?" Tanya Chanyeol memutus rasa bingung Jongin sebelumnya.
"Hah?" Kali ini hanya suara Sehun yang terdengar, ia melihat Jongin cepat dan wajah lelaki itu telah berubah sendu.
"Kau tidak ingin menjawab?" Tanya Chanyeol lagi, ia bisa melihat Jongin yang masih menundukkan kepalanya.
Menghela napas, Chanyeol membuka suaranya lagi, "Berdirilah, Jongin."
Jongin melihat Chanyeol kemudian berdiri seperti yang lekaki itu minta. Jongin bisa melihat Chanyeol mendekat ke arahnya, baru saja ia ingin bertanya namun sesuatu yang keras menghatam perutnya, membuatnya terduduk dan sedikit tergeser dari posisi awalnya.
Bugh!!
"Hyung!!!" Sehun berteriak melihat Chanyeol yang tiba-tiba saja memukul Jongin tepat di perutnya. Orang-orang yang berada di sekitar merekapun telah berbisik-bisik melihat adegan pemukulan itu.
Chanyeol menghampiri Jongin yang masih terduduk, kemudian secara tiba-tiba ia menarik kasar kerah kemeja yang Jongin gunakan, memaksa Jongin kembali berdiri.
"Aku tidak menyuruhmu duduk seperti orang lemah," Ujar Chanyeol santai, Jongin di depannya mengerang menahan sakit.
Bugh!!!
Suara pukulan lagi yang membuat Sehun kembali kaget, ia melihat Jongin mundur kebelakang karena kerasnya pukulan Chanyeol di wajah Jongin. Sehun bisa melihat lebam di pipi lelaki itu, dan darah di sudut bibirnya.
"Hy-hyung, menga- kkh -pa kau memulku?" Tanya Jongin di sela-sela rasa sakit akibat pukulan Chanyeol.
"Kau ingin tahu?" Chanyeol balik tanya, ia sudah gatal ingin meninju Jongin sejak semalam. Chanyeol kembali mendekat ke arah Jongin,
"Ini karena kau dengan berani tinggal bersama Kyungsoo selama dua minggu."
Bugh!
Satu tinju melayang lagi menyentuh perutnya, sakit memang tapi Jongin tidak harus terduduk lagi.
Bugh!!
"Dan itu karena kau telah membuat Kyungsoo menangis semalam."
Chanyeol melihat Jongin yang mendesis sambil memegang perutnya, dari wajahnya Chanyeol tahu bahwa Jongin sudah mengerti dengan arti pukulannya. Chanyeol berbalik menatap ke arah Sehun yang masih terperangah melihat keadaan Jongin. Chanyeol juga bisa melihat beberapa orang yang berkumpul memandangi mereka. Tidak ada yang mendekat karena masing-masing tahu siapa gerangan yang terlibat pertengkaran itu.
"Sehun," Panggil Chanyeol saat ia berada di depan lelaki berwajah datar itu,
Bugh!!
Sehun yang mendapat serangan tiba-tiba seperti itu terkejut bukan main, ia tidak mengira jika Chanyeol juga akan memukulinya.
"Itu untuk mengajarimu agar tidak menjadi pengecut!"
Chanyeol menjauhi Sehun yang meringis memengang pipi kirinya. Ia mengambil sesuatu di dalam tas kerjanya kemudian menyerahkan kertas bersampul biru langit itu pada Jongin.
Chanyeol menepuk kuat dada Jongin dengan kertas bersampul yang langsung di terima Jongin denga segera.
"Hadiah untukmu. Jangan temui Kyungsoo lagi jika kau masih ingin mendapatkan pukulanku," Ujar Chayeol penuh penekanan, "Dan kau, Sehun, aku menunggumu datang padaku jika kau sudah mengerti." Dengan itu, Chanyeol melangkah pergi, meninggalkan Jongin yang sibuk membuka sampul kertas yang mana adalah undangan pertunangan Sehun dan Kyungsoo, Jongin langsung terduduk saat itu juga, membuat ia tidak bisa berpikir jernih, padahal, jika ia mengerti kata-kata terakhir Chanyeol, mungkin semuanya masih bisa di rubah. Sedang Sehun masih berdiri, bertanya-tanya apa maksud dari kalimat Chanyeol sebelumnya.
"Dan kau, Sehun, aku menunggumu datang padaku jika kau sudah mengerti."
Chanyeol memasuki mobilnya, sedikit tersenyum, merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang memang harus ia lalukan. Ia hanya berharap, kedua dongsaengnya itu mengerti dengan kalimat terkahirnya tadi.
Chanyeol meninggalkan parkiran, ia harus menjemput adiknya siang ini.
.
TBC
.
Note :
Aku balik lagi. ehe ehe.
yawdah, aku gak bakal banyak bacot. Smoga capter ini tidak mengecewakan kalian.
Tak lupa terima kasih banyak atas apresiasi kalian semua.
Sampai bertemu Chapter depan.
Bye Bye,
salam sayang.
Anna,
mwah.
