Seberkas cahaya perlahan memasuki retina. Matanya mengerjap beberapa kali, sampai penglihatannya tak lagi buram. Kemudian pandangannya mengedar ke penjuru ruangan. Semuanya didominasi warna putih. Meski otaknya dapat mendeteksi nama ruangan yang tengah ia tempati sekarang, namun kesadarannya belum seratus persen, sehingga informasi yag telah dicerna otaknya tidak dapat tersalurkan pada syaraf motoriknya dengan baik.

"Dimana aku?"

.

.

.

Assassination Classroom/Ansatsu Kyoushitsu © Matsui Yuusei

Memory © shichigatsudesu

Chapter 10 : Flashback!

.

.

.

Pukul 07.45, gadis itu menginjakkan kakinya di gerbang SMP Kunugigaoka. Upacara pembukaan tahun ajaran baru, sekaligus penerimaan siswa baru akan dimulai lima belas menit mendatang, namun sudah banyak siswa-siswi seangkatannya yang telah tiba di sekolah. Dan dari siswa-siswi itu, sebagian besar dari mereka tengah berkumpul di mading dekat loker sepatu.

"Permisi— uh!"

Gadis bernama Nakamura Rio berusaha berbaur dengan kerumunan tersebut. Ia mendesak orang-orang di sana agar memberikannya sedikit ruang untuk berjalan.

Sesampainya di barisan paling depan, manik sewarna lautnya menjelajahi aksara kanji pada kertas yang terpampang di mading. Mulai dari kelas A sampai E, ia mencari namanya serta nama beberapa orang yang ia kenal.

"Oh, Asano-kun bertahan di kelas A. Hebat."

Begitulah gumamannya setiap melihat nama yang ia kenal. Dan sampailah ia di kelas 3-D.

"Akabane Karma?" gumamnya heran. "Jadi kita satu kelas lagi? Tidak biasanya."

Ya, gadis itu merasa heran. Biasanya, beberapa siswa yang keluar dari kelas A—katakanlah kelas unggulan dan mereka tidak bisa bertahan—akan dimasukkan ke dalam kelas reguler B sampai E masing-masing satu orang. Namun baru kali ini, ada satu kelas reguler yang terdiri lebih dari satu siswa jebolan kelas unggulan.

"Ahh, ketemu."

Rio menolehkan kepalanya ke belakang. Sebuah lengan berbalut blazer hitam menjadi objek penglihatannya. Penasaran, Rio mencoba mencari tahu siapa pemilik lengan tersebut.

"Karma-kun?"

Karma menundukan kepala, menatap balik seorang gadis pirang di hadapannya.

"Loh, Nakamura-san?" panggilnya. "Apa kau masuk kelas D juga?"

Rio mengangguk. "Kita satu kelas lagi, Karma-kun."

"Sungguh?" Karma segera mencari kanji Rio di daftar siswa kelas 3-D. "Oh, benar."

Rio hanya terkekeh pelan melihat Karma yang setengah terkejut seperti itu.

"Kalau begitu, mohon bantuannya untuk satu tahun ke depan."

Karma mengembangkan seulas senyum. Mungkin itu pertama kalinya Rio melihat senyum si surai merah yang tulus dan lembut tanpa bumbu jahil. Karenanya ia balas tersenyum, senyum yang sama lembutnya dengan Karma.

"Mohon bantuannya juga, Karma-kun."

Selama beberapa detik mereka masih saling melempar pandang dan senyum. Upacara pembukaan akan segera dimulai. Dua merah-kuning itu pun segera pergi menuju kelas, kemudian mengikuti upacara pembukaan di aula.

Selama perjalanan menuju kelas, mereka tidak saling bercakap-cakap. Rio hanya mengekor di belakang Karma. Pemuda itu juga tidak mengajaknya bicara. Meskipun begitu, si surai pirang tidak merasa kesal atau sebagainya. Rio merasa senang, mungkin karena ia menyadari satu hal.

Karma begitu tampan jika tersenyum lembut seperti itu.

.

.

.

Bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Kini Rio sudah beradaptasi dengan baik di kelas barunya. Ia mendapat nilai yang cukup bagus di sana. Selain itu, ia juga berteman dengan Kayano Kaede, Shiota Nagisa, dan Sugino Tomohito. Mereka bertiga begitu baik padanya. Mereka asik, humoris juga, dan tentunya mereka menerima Rio apa adanya. Tidak seperti kebanyakan orang yang ingin berteman dengannya karena mengharapkan sesuatu.

Dan yang membuatnya begitu senang berada di kelas 3-D; si surai pirang semakin dekat dengan Akabane Karma.

Biasanya setiap kali istirahat, mereka berlima selalu memakan bekal bersama. Tak jarang mereka saling melempar topik untuk menghilangkan kesunyian. Mereka juga selalu bercanda setiap kali menikmati makan siang, 'mencuri' makanan misal. Dan itu yang membuat Rio begitu senang jika berkumpul bersama Karma, Nagisa, Kayano dan Sugino.

Begitu juga dengan satu orang lainnya.

"Akabane. Nakamura."

Yang namanya disebut menolehkan kepala, menatap seorang pemuda yang tengah berdiri di hadapan pintu sambil menenteng kotak bekalnya.

"Cepat kemari, Asano-kun. Kami sudah hampir selesai."

Asano Gakushuu— pemuda itu segera masuk ke dalam kelas 3-D, menghampiri Rio, Karma, dan kawan-kawan.

"Kau lama, Asano-kun." Tegur Karma.

"Maafkan aku, barusan aku harus mengumpulkan tugas dulu."

"Heeeehhh, luar biasa, anak kelas A."

"Diam kau, Akabane!" Asano melirik tajam pada Karma, merasa tersindir karena ucapannya.

"Ngomong-ngomong Asano-kun, mengapa kau selalu bergabung bersama kami?" tanya Nagisa penasaran. "Bukankah kau punya banyak teman di kelas A?"

"Aku hanya—"

"HAH? Sejak kapan bocah jenius tapi diktator ini punya teman, Nagisa-kun?"

Satu perempatan muncul di pelipis si pirang stroberi. "Apa masalahmu, Akabane?"

Karma tak menjawab. Ia hanya tersenyum menyeringai ke arah Asano.

"Sudahlah, jangan bertengkar." Rio meleraikan dua sahabatnya yang saling melemparkan deathglare. "Karma-kun, berhenti meledek Asano-kun."

Sugino, Nagisa dan Kayano sweatdrop bersamaan. "Jadi begini, kelakuan kalian berdua saat sedang bersama?"

"Ya begitulah, Sugino-kun. Maafkan kami, ya?" kemudian Rio tertawa pelan.

"Tapi ini lebih menyenangkan dibanding membicarakan pelajaran terus menerus namun tak ada yang bisa mengalahkannya. Benar begitu, Asano-kun?"

"Kumohon hentikan, Akabane."

"Heh? Jadi intinya kau tidak nyaman berada di kelasmu, Asano-kun?" tanya Kayano yang sedari tadi diam saja.

"Ya, begitulah." Jawabnya. "Baik saat pagi, istirahat, atau pulang sekolah, mereka pasti selalu belajar, belajar, belajar. Bukan berarti mereka salah ya? Aku hanya tidak nyaman dengan wajah-wajah serius mereka yang— yaa, sejujurnya mengerikan."

"Kurasa memang tidak bagus jika terlalu sering belajar— maksudku, tanpa ada refreshing sedikit pun." Nagisa berkomentar.

"Benar kan?" Asano menyetujui ucapan si surai biru langit. "Aku saja sudah lelah, apalagi kepala sekolah sangat menekan kami anak kelas A. Rasanya menyebalkan sekali."

"Kenapa kau tidak protes saja? Bukankah kepala sekolah itu ayahmu?"

"Aku sudah melakukannya, tapi kalian tahu lah seperti apa dia."

Tak ada balasan untuk kalimat yang Asano ucapkan, mungkin mereka bingung hendak berkomentar apa. Sampai akhirnya bel masuk berbunyi nyaring. Si pirang stroberi segera meninggalkan kelas 3-D.

"Oh ya, aku hampir lupa." Ucapnya setelah berjalan beberapa langkah. "Nakamura,"

Rio menoleh ke arah Asano. "Ada apa?"

"Kau ada waktu tidak pulang sekolah nanti?" kemudian Rio menganggukkan kepala. "Kalau begitu, pulang sekolah jangan dulu pulang."

"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan, Asano-kun?"

"Ya, nanti kau datangi aku di kelas ya?"

Setelah itu, Asano pergi dari kelas 3-D. Si pirang hanya menatap kepergian sobatnya, merasa bingung dan penasaran dengan apa yang pemuda itu katakan.

Namun saat itu, ia tak tahu kalau itu merupakan suatu bencana bagi seorang Asano Gakushuu.

.

.

.

"Kau yakin ingin berbicara di sini saja?"

Asano hanya mengangguk. "Aku tidak ingin kita menjadi pusat perhatian orang-orang."

"B-Benar juga." Tanggap Rio sepikiran. "Tapi kelasmu sudah sepi, Asano-kun."

Mendengar kalimat barusan, Asano mendadak kaku. Kepalanya ia paksakan bergerak, menjelajahi ruang kelas A yang hanya berisi meja-kursi, sarana mengajar, serta mereka berdua.

Seketika ia blushing. "Setidaknya di sini lebih aman." Katanya seraya memalingkan wajahnya. Asano tak berani menatap Rio. "Aku juga ingin berdua denganmu sebentar saja."

"Hah?" Rio tidak mendengar kalimat terakhir Asano yang terdengar seperti suara cicitan seekor tikus— tidak jelas. "Kau bicara apa, Asano-kun?"

"Lupakan." Serunya. Setelah diam beberapa saat, kini raut wajah Asano terlihat serius. Sepertinya dua remaja itu mulai memasuki topik pembicaraan yang sesungguhnya.

"Ano—"

"Nakamura, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."

Entah kenapa Rio merasa gugup. Ada suatu firasat aneh yang menghampiri dirinya. "Kau ingin menyampaikan apa, Asano-kun?"

"Sebenarnya… ano… bagaimana aku mengatakannya ya?" Asano menggaruk kepalanya salah tingkah. Jujur saja, ia kurang berpengalaman soal ini, jadi wajar saja pemuda itu terlihat gugup.

"Loh? Memang apa yang akan kau katakan, Asano-kun, sampai gugup begitu?" tanya Rio.

"Sebenarnya… aku menyukaimu, Nakamura."

Rio mengerjapkan mata. "Hah? Kau…"

"Ya. Aku menyukaimu. Kumohon jadilah pacarku." Ucap Asano mantap.

Rio menundukan kepalanya. Ia merenung, membiarkan waktu terus berjalan tanpa membuka mulut sedikit pun. Terkejut, sangat, itu yang ia rasakan. Dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Bagaimana ia menghadapi kalimat pernyataan cinta yang keluar dengan tegas dari mulut sang anak kepala sekolah itu?

Dan setelah mengulur waktu selama beberapa detik, akhirnya si pirang mulai membuka mulut. Diawali dengan mengambil napas, kemudian mengeluarkannya, sebelum ia menjawab,

"Asano-kun… maaf, aku tidak bisa."

Hanya empat kata, namun sukses membuat Asano Gakushuu terpaku di tempat. Waktu seolah berhenti berjalan, begitu juga detak jantungnya yang tak terasa. Saking terkejutnya, atmosfer menjadi sunyi senyap beberapa saat.

"Kenapa? Apa ada orang yang kau sukai?" tanya Asano kemudian.

"Aku menyukai orang lain. Aku hanya menganggapmu sebagai teman."

Lagi-lagi serangan kejut itu menimpanya dua kali. Namun ini tidak seperti sebelumnya yang sampai memerlukan waktu satu menit untuk si pirang stroberi kembali dari alam bawah sadar.

"Siapa? Siapa orang yang kau suka?"

Rio semakin menundukan kepalanya. "Aku menyukai… Karma-kun."

Asano membulatkan mata, terkejut mendengar ungkapan si gadis. Rio masih menundukan kepala, menyembunyikan rona merah yang tampak di wajah cantiknya. Namun melihat sorot matanya, meski sekilas, Asano Gakushuu dapat merasakan perasaan tak enak milik si gadis.

Tapi perasaan apa itu? Apa Rio merasa malu dengan ucapannya, atau tidak enak hati?

"Asano-kun, maaf, aku tidak bisa."

Asano masih membatu. Hatinya begitu tertohok, sampai bicara pun ia tak sanggup. Asano yang biasanya mudah mengendalikan emosi serta ekspresi wajah, sekarang ia tidak dapat melakukannya setelah sang target kokuhaku-nya mengatakan kalimat itu.

"Sepertinya selama ini aku salah." Gumamnya. "Seharusnya aku tidak boleh merasa percaya diri seperti itu."

Perlahan Rio mengangkat wajahnya, menatap Asano yang kini tengah memasang seulas senyum. Manis sekali, namun tersirat secuil kesedihan di sana.

"Maafkan aku, Nakamura. Aku sudah mengatakan hal yang macam-macam."

"Tidak, Asano-kun. Aku yang seharusnya minta maaf." Rio menggeleng. "Aku menolakmu. Maafkan aku."

"Eh, tapi—"

"Maafkan aku."

Rio membungkuk pada Asano, jelas saja ia bingung. Memang, si pirang stroberi merasa kesal dengan penolakan halus dari si gadis. Namun melihat Rio yang bersikukuh meminta maaf, ia merasa tidak enak. Seharusnya gadis itu tidak perlu sampai membungkuk seperti itu. Masalah diterima atau ditolak, itu urusannya.

"N-Nakamura, sudahlah." Asano berusaha menghentikan Rio yang masih menggumamkan permintaan maaf. Sayangnya gadis itu tidak mendengar.

Pemuda itu tidak tahu harus berbuat apa. Namun setelah berdiam diri cukup lama, ia mulai bertindak.

Tangan kanannya bergerak menuju tangan kiri Rio, mencengkeramnya. Belum sempat gadis itu berucap atau angkat kepala, Asano sudah menarik tubuhnya. Ia mendekap Rio dengan tangannya yang lain, menghirup harum shampoo yang kentara di surai pirangnya, mengelusnya pelan, hingga tangannya mendekap tubuh langsing itu semakin erat.

Tentu saja Rio terkejut. Ada apa dengan pemuda di hadapannya? Meski pertanyaan tersebut terdapat dalam pikirannya, namun ia tidak dapat mengeluarkannya.

"Sebagai gantinya, aku ingin posisi kita tetap seperti ini sampai beberapa saat." Ucapnya. Rio masih membelalak kaget. "Kumohon, sebentar saja."

Mau tak mau Rio menurut, toh ia juga tidak dapat keluar dari dekapan Asano dengan mudah. Akhirnya Rio membalas pelukannya. Tepat setelah ia melingkarkan tangannya, ada perasaan aneh timbul dalam hatinya.

Pertama, ia merasa nyaman jika dipeluk oleh Asano sampai hangat begini.

Kedua, hatinya merasa sakit luar biasa karena benarnya, ia memiliki perasaan pada Akabane Karma yang lebih besar dari siapapun.

.

.

.

Satu orang telah menghilang dari hadapannya. Asano Gakushuu tak lagi bergabung dengan Nakamura Rio dan gerombolannya, sejak saat itu. Rasanya Rio benar-benar bersalah, karena penolakan halusnya berujung pada perpisahan dirinya dengan Asano.

Namun semua itu tertutup oleh bayang-bayang Karma. Pemuda itu begitu dekat dengan Rio, sejak saat itu. Mereka memang bersahabat, tapi kedekatannya yang ini terasa berbeda. Seperti, pemuda itu menyukainya?

Tidak, tidak. Rio tidak boleh berprasangka. Jangan ge-er!

—inginnya sih begitu, namun ternyata salah.

"Aku mencintaimu, Nakamura."

Ternyata Akabane Karma benar menyukainya, malah lebih dari itu.

"A-Aku..." Rio gugup, tentu saja.

"Apa kau juga mencintaiku?"

Ya, aku juga— mana mungkin Rio mengatakan itu dengan polosnya. Yang menjadi masalah, rasa gugupnya. Bagaimana caranya ia menjawab pertanyaan itu dengan jujur tanpa merasa gugup sedikit pun?

"U-Umm." Rio hanya mengangguk.

Karma mengembangkan senyumnya. "Jadi, kau mau menjadi kekasihku?"

Langsung saja wajah Rio berganti warna. Mengapa Karma bisa setenang itu? Kalau gugup begini, ingin menjawab 'ya' pun terasa sulit.

Untuk yang kedua kali, Rio menganggukkan kepala.

Senyum Karma semakin merekah. Ia meraih kedua tangan Rio, menggenggamnya erat, mentransferkan rasa bahagianya pada si pirang.

"Terima kasih, Nakamura. Mulai sekarang, kita pacaran ya?"

Rio tersenyum, berarti mengiyakan. Karma terlihat girang sekali. Beruntung hanya ada mereka berdua di tempat itu, sehingga orang lain tidak perlu menuduh Karma dengan kata-kata ejekan macam gila dan sebagainya.

Kemudian si pirang menundukan kepalanya. Hatinya sedikit merasa sakit, hanya sedikit. Pasalnya kejadian ini pernah ia alami beberapa waktu lalu, bersama Asano, dan ia menolaknya. Karenanya si pirang stroberi pergi, tanpa meninggalkan jejak apapun untuknya.

Maafkan aku, Asano-kun...

.

.

.

Kini Rio tidak lagi mempermasalahkan itu. Karma selalu membuatnya bahagia, walau hanya dengan hal-hal kecil. Bahkan sekarang, Rio bisa melupakan rasa bersalahnya pada Asano. Karma begitu menyayanginya, tulus, sampai Rio merasa kalau menerima si surai merah merupakan keputusan yang tepat.

Dan semakin lama, rasa sayang keduanya semakin bertambah, meski per hari hanya mengalami peningkatan sepersen. Memanggilnya dengan nama kecil, mengusap kepalanya jika melakukan hal yang benar, mencubit hidungnya jika melakukan salah, terkadang merangkulnya saat ia sedang membaca, dan lain sebagainya. Karenanya, hubungan Karma dan Rio begitu langgeng, sampai tembus dua tahun.

Tentu saja Rio senang dengan ini. Saking senangnya, si gadis pirang tak tahu kalau kelakuannya sudah di luar batas kesabaran Karma.

"Kita putus saja ya?"

"Aku... tidak mau. Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meminta putus, Karma?"

"Benar sih, tapi kali ini berbeda."

"Apanya yang berbeda? Kalau kau minta putus karena aku posesif, cengeng, atau apapun itu, kasih aku kesempatan satu kali untuk berubah!"

"Maafkan aku, Rio. Keinginanku untuk putus saat ini lebih besar dibandingkan rasa cintaku padamu. Maafkan aku."

"Tidak mungkin..."

"Jangan menangis. Bukan berarti hubungan kita putus lalu persahabatan kita putus juga. "Kita masih bisa bersahabat."

"Sungguh?"

"Tapi, kalau kau ingin dipeluk, akan aku kabulkan."

"Mau bagaimana lagi." Akhirnya Rio menyerah. Ia pun mengabulkan permintaan Karma yang sesungguhnya berat sekali untuk diterima batinnya. Namun apa boleh buat? Ia tak mungkin memaksa pemuda itu untuk meneruskan hubungan spesial mereka. "Karma,"

"Hmm?" sahutnya.

"Terima kasih, karena kau telah bersedia menjadi kekasihku."

Pada akhirnya, sebuah bencana harus menjadi pemutus hubungan istimewa Karma dan Rio yang sudah mereka rajut dengan susah payah selama dua tahun.

.

.

.

Rio yakin, semua potongan memorinya yang terpencar itu sudah sepenuhnya terkumpul. Buktinya ia dapat mengingat di mana tempatnya bersekolah dulu, kapan ia mengenal Karma, kapan Karma menyatakan cinta, begitu pun Asano. Juga Nagisa, Kayano, dan Sugino, Rio ingat kapan ia mulai mengenal mereka.

Namun, mengapa ia melupakan makhluk Tuhan yang satu ini? Siapa pemuda dengan surai hitam yang mencuat itu? Mengapa ia memanggilnya senpai? Mengapa ia meminta maaf? Mengapa ekspresi wajahnya menyiratkan kesedihan yang begitu kentara?

"K-K-Kau siapa? A-Aku... tidak mengenalmu."

Isogai menghela napas.

"S-Senpai—"

"Rio? Kenapa, kau tidak mengingat Isogai-kun?" tanya Karma.

Rio menatap Karma, matanya mengerjap kemudian. Jadi benar, ia melupakan sesuatu?

"Jadi aku mengenalnya?"

Rio kembali menatap Isogai. Anak itu masih mematung. Manik madunya yang bergerak-gerak itu menyiratkan perasaan amat syok yang tiba-tiba menyerang hatinya. Rio dapat merasakan bagaimana sakitnya hati Isogai sekarang, namun si pirang masih belum dapat mengingat siapa ia.

"Rio-chan, dia itu Isogai-kun, adik kelas kita." Tunjuk Kayano pada kouhai surai hitamnya itu.

"Ya, benar." Sugino menimpali. "Dia yang menyelamatkanmu saat kecelakaan, kau ingat? Dia—"

"Senpai,"

Semua pandang beralih menatap Isogai. Bocah kelas dua itu menunduk, suaranya begitu parau saking kecewanya. Namun tak lama, pemuda itu menengadahkan kepalanya, menatap gadis berambut pirang yang duduk di ranjang empuk rumah sakit, di hadapannya.

"Aku permisi."

Isogai membalikkan badan. Dengan tempo yang cepat, ia melangkah keluar dari ruangan. Semakin lama temponya berubah teratur, menjadi lebih cepat, lebih besar, agar ia dapat segera menjauh dari sana, agar Nakamura Rio enyah dari hadapannya.

"Tunggu, Isogai!"

Maehara Hiroto menyusul sang sahabat. Tak ada satu pun dari mereka yang mencegat kepergian Isogai dan Maehara. Mereka diam karena tak tahu harus berbuat apa.

Tapi tidak dengan Asano.

Rasanya telapak tangannya begitu gatal, ingin mencegah Isogai namun gagal. Dan ia dilema, antara ingin mengejar pemuda itu atau membantu menenangkan Rio.

"Karma-kun," panggil Rio. "Apa aku melakukan kesalahan?"

Ya, kau salah— hei, mana mungkin Karma memberikan jawaban terus terang seperti itu. Karma tak ingin Rio berpikiran macam-macam, gadis itu baru sadar hari ini. Alhasil ia diam saja. Tangan kanannya memegangi tengkuk, berdehem panjang. Ceritanya berpikir, padahal otaknya sama sekali tidak bekerja.

"Aku harus mengejar Isogai."

Karma, Rio, serta Nagisa, Kayano dan Sugino menoleh ke arah Asano yang beranjak dari ruangan ICU. Pemuda pirang stroberi itu mengambil langkah seribu, menyusul dua kouhai yang telah pergi lebih dulu. Namun dari mereka berlima (terkhusus Rio), tak satu pun yang berinisiatif menghentikan siswa Kanagawa itu. Mungkin mereka tahu, bahwa Maehara tidak dapat menahan Isogai seorang diri. Asano pasti akan menghentikan pemuda itu.

.

.

.

"Isogai,"

Maehara memanggil sang sahabat. Napasnya masih terengah karena mengejar pemuda itu. Tetes demi tetes keringat dikeluarkan, namun si surai kecokelatan tidak peduli. Yang penting ia bisa menemukan Isogai.

"Jangan pikirkan hal barusan, ya?" hiburnya. "Nakamura-senpai baru sadar, jadi—"

"Sudahlah, Maehara, aku lelah."

Maehara membelalakan mata. Isogai Yuuma terlihat begitu lesu, namun suara yang ia dengar tadi tegas sekali. Isogai lelah? Apa maksudnya?

"Isogai, jangan-jangan—"

"Ya, aku akan berhenti mencintai Nakamura-senpai." Katanya penuh tekad. Tangannya dikepal kuat, menandakan bahwa keputusan yang diambilnya sudah bulat.

"Tapi kenapa?"

"Bukankah jawabannya sudah jelas, Maehara?" Isogai bertanya balik. Ia menatap mata Maehara, dan itu membuat sang sahabat merasa semakin iba. "Nakamura-senpai melupakanku, lagi. Bahkan ketika ingatannya sudah kembali, dia tetap melupakanku."

"Tapi kan—"

"Mana mungkin aku mencintai orang yang bahkan tidak mengingatku!"

Isogai mendadak naik oktaf, jelas sekali kalau ia sedang kesal. Maehara selaku pelampiasan hanya bisa diam, menampung segala emosi yang keluar dari si surai hitam.

"Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak ingin bertepuk sebelah tangan lagi. Sampai kapan pun, aku tak akan pernah bisa memiliki Nakamura-senpai."

Kepalan tangan Isogai semakin erat. Kalimat yang ia keluarkan itu, menimbulkan perasaan kesal bukan main. Kalau saja ia perempuan, mungkin ia akan menangis sekarang juga.

"Bahkan, jika Karma-senpai melepasnya, maka Asano-senpai-lah yang menggantikan posisinya di hati Nakamura-senpai, bukan aku."

...

"Aku hanyalah adik kelas yang menolongnya saat kecelakaan waktu itu. Kami begitu dekat hanya saat berada di klub, sisanya hubungan kami hanya sebatas adik kelas yang menghormati kakak kelas."

...

"Jadi, dengan hubungan seperti itu, mana mungkin Nakamura-senpai 'melihatku'? di matanya hanya ada Karma-senpai, tidak ada waktu sedikit pun untuk dia 'melihatku'."

"Tak kusangka mentalmu selemah ini. Baru begitu saja sudah menyerah? Payah."

Isogai dan Maehara menoleh bersamaan. Sosok yang baru datang itu melangkah mendekat, hingga kedua bocah itu dapat melihat rupa wajahnya dengan jelas.

Isogai yang sedang diselimuti aura negatif menatap pemuda itu tidak suka.

"Apa maumu, Asano-senpai?"

"Mauku?" ulangnya seraya tertawa kecil, lalu raut wajah si pirang stroberi kembali serius. "Aku ingin kau menyingkirkan pikiranmu itu."

"Kau pikir itu mudah?" sanggah Isogai. "Lagipula, penyataanku itu penar kan?"

Asano mengernyit sebal.

"Nakamura-senpai mencintai Karma-senpai, tapi Karma-senpai memutuskannya. Satu-satunya orang yang bisa menggantikan posisi Karma-senpai hanya kau, senpai." Isogai menunjuk si pirang stroberi, bahkan ia sengaja menekan dada bidang senpainya itu dengan jari telunjuknya. "Kau mengenal Nakamura-senpai jauh lebih dulu dibanding aku. Dia mengetahui sifatmu, jadi dia jauh lebih mempercayaimu dibanding aku."

Asano menundukan kepalanya. Ia bergumam,

"Kenapa kau mempunyai pikiran seperti itu?"

"Huh?"

Tiba-tiba Asano meraih kaos Isogai, menariknya tepat di bagian leher, lalu mendekatkan wajahnya pada si surai hitam. Kini Isogai bisa melihat dengan jelas wajah tak beraturan Asano yang menyiratkan emosinya.

Tentu saja Isogai terkejut. Siapa yang tidak takut dengan ekspresi wajah seperti itu?

"Kenapa kau berpikiran seperti itu?! Tahu apa kau soal Nakamura? Dasar naif."

"Memang begitu kenyataannya kan?" Isogai berusaha melepaskan cengkeraman Asano padanya. "Setelah ingatannya kembali, aku yakin, Nakamura-senpai pasti merasa senang karena kau kembali bergabung bersamanya."

Asano semakin memperkuat eratannya.

"Kau pikir kau dokter, huh, bisa mengambil kesimpulan seperti itu?!" bentaknya. "Kau benar, Isogai. Aku mengenal Nakamura lebih dulu dibanding kau. Karena itu, aku mengetahui semua perasaannya lewat gelagat dan wajahnya."

Isogai menaikan alisnya bingung.

"Dan apa yang kau pikirkan itu salah besar. Benar-benar salah besar." Lanjutnya. Kini Asano tidak lagi menarik-narik atau mencengkeram erat kaos Isogai. Syukurlah, Isogai bisa bernapas dengan leluasa.

"Asano-senpai—"

"Kau ingat, saat kita bertemu pertama kali, aku bercerita soal kokuhaku-ku pada Nakamura dulu?" Isogai hanya mengangguk. "Sejak itu, aku benar-benar kecewa dan merasa patah hati. Namun aku masih tetap mencintainya."

Isogai kembali menatap si pirang stroberi, membiarkan kedua belah bibirnya membeberkan cerita masa lalunya yang tidak diketahui oleh si surai hitam. Begitu juga dengan Maehara, yang entah sudah berapa menit mengheningkan cipta.

"Setelah resmi menjadi siswa SMA, Nakamura masih selalu menghubungiku, meski kebanyakan aku abaikan." Sambung Asano. "Banyak cerita yang ia bicarakan, terutama soal hubungannya dengan Akabane. Aku merasa cemburu, namun aku tetap mencintainya."

Asano-senpai, apa kau masokis?— tte, sebenarnya Isogai ingin sekali melontarkan kalimat itu. Namun ia tak ingin suasana yang bagus ini menjadi rusak. Biarkan siswa Kanagawa itu menyelesaikan ceritanya.

"Begitu aku bertemu dengannya lagi, kau ada di sampingnya, Isogai. Setelah kau memberitahuku soal hubungan mereka yang putus, aku menyangka kalau kau yang menggantikan posisi Akabane." Asano membuang napas. Entah kenapa rasanya lelah sekali berbicara panjang lebar sambil menggali kembali luka yang bahkan benang-benang fibrin tak dapat menutupnya dengan sempurna. "Dan aku semakin cemburu, ketika Nakamura membicarakan dirimu yang selalu membantunya baik saat kecelakaan, maupun saat Nakamura rutin check up ke rumah sakit."

Dalam hati Isogai merasa terkejut. Benarkah begitu? Ingin rasanya ia bertanya, namun lidahnya begitu kelu. Sampai akhirnya Asano kembali bersuara.

"Meskipun begitu, aku tetap mencintainya."

"Asano-senpai..." Maehara angkat suara, lirih. Ia tidak bermaksud menyela, namun sepertinya si cassanova itu mengerti apa maksud dari cerita Asano barusan. "Kurasa, aku mengerti apa maksudmu."

Sedangkan Isogai yang berada di samping Maehara membelalak tak percaya. "Jangan-jangan, kau bermaksud untuk..."

"Ya, aku ingin kau tidak menyerah semudah itu. Kalau kau berpikiran seperti tadi, kau hanya akan merasa sakit hati."

Entah Isogai harus merasa senang, sedih, atau kasihan dengan si pirang stroberi yang ternyata begitu masokis dalam urusan cinta. Namun mendengar 'amanat' dari cerita masa lalunya, si ikemen merasa sangat berterima kasih pada Asano. Meski masih merasa sakit, namun setidaknya perasaan itu sudah terhapus sebagian.

Ya, sebagian. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Terima kasih, Asano-senpai. Tak kusangka, ternyata kau itu baik juga." Isogai tersenyum, tulus sekali, membuat Asano merasa lega karena dapat menenangkan bocah kelas dua itu.

"Aku melakukan ini karena kau berada di posisiku dulu." Balasnya, kedengarannya agak tsundere ya? "Jangan salah paham."

Isogai tak menjawab, namun ia masih memasang senyum cerah yang sama seperti sebelumnya. Kini otaknya tengah berpikir keras, mencari sesuatu yang akan ia lakukan selanjutnya.

Dan sekarang, ia menemukan satu pertanyaan.

Apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan senpai surai pirangnya itu?

.

.

.

"Hmm... begitu rupanya. Kalau urusan seperti ini, ternyata dunia cukup kejam ya?"

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Haloooo~ lama tak jumpa~ *lambai-lambai*

Maaf ya saya ngilang berbulan-bulan, maaf hiatus gak bilang-bilang, maaf baru bisa update sekarang. Dan sebenarnya saya masih (harus) hiatus karena lagi ujian sekolah. Ini juga maksain karena tangan saya gatel banget pengen ngetik fanfic *nangis*

Maaf (lagi) kalau chapter ini aneh, maklum udah debuan *nangis* (2)

Chapter depan dipost abis UN ya? Saya UN awal april *nangis* (3)

Next Chapter 11 : Memory!