Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Nachie-chan : Cemburu menguras hati, katanya Vidi Aldiano. XD
Ebisawa-san : Ya harus akur dong. Masa' Kogoro sama Eri harus ribut terus sampai tua? XD
ArdhyaMouri : Sebenarnya bukan Ai yang mengubah Kogoro, Eri dan Conan, melainkan mereka sendiri yang mengubah dirinya. Yang Ai lakukan hanyalah membuat Kogoro berhenti mabuk-mabukan dan terus berharap agar Conan menikmati hidupnya seperti dia menikmati hidupnya. XD
Kalau tentang Ai, Conan dan Subaru, kujawab di curcol aja ya?
Dwi93Jun : Ai memang pernah jadi ibu perinya Conan. Saat itu Shinichi jadi bulan-bulanan Gin dan dibenci serta dicari-cari oleh Organisasi Hitam untuk memastikan kematiannya. Sherry yang menduga bahwa tubuh Shinichi mengecil, mengkonfirmasi dan menulis bahwa Shinichi sudah tewas karena APTX4869 di database Organisasi Hitam sehingga Organisasi Hitam tidak melacak Shinichi lagi. Karena saat itu Sherry dan Shinichi tidak saling kenal, maka saat itu Sherry menjadi ibu perinya Shinichi. Dan setelah mereka berkenalan dan berteman, status Ai berubah dari ibu peri menjadi sahabat yang bisa diandalkan. XD
Karena kamu sendiri sudah bilang kalau Gin itu pembunuh berhati es, maka aku jadi ingin bertanya, apa mungkin pembunuh berhati es mau capek-capek naik ke atap yang dingin karena lagi turun salju demi menunggu targetnya agar dia bisa memberikan kematian yang indah untuk targetnya itu, kalau tidak ada yang spesial dengan targetnya itu? Apalagi dia bisa saja menghabisi targetnya yang sedang bersusah payah memanjat cerobong asap itu saat dia berada di ruang penyimpanan minuman keras. Gin yang mengenali Sherry dari selembar rambut juga bisa menandakan bahwa Gin sering melihat dan menyentuh rambut Sherry, karena kalau tidak, bagaimana dia bisa melakukannya? Dan yang tidak boleh dilupakan adalah Gin membayangkan Sherry tanpa busana. Kalau Sherry bisa membuat pembunuh berhati es macam Gin menjadi gila dan mesum seperti itu, kenapa dia tidak bisa membuat laki-laki lain jadi seperti itu?
Kalau tentang perasaan Subaru, secara logika itu tidak masuk akal, tapi secara psikologis itu mungkin terjadi. Ai adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Subaru selama beberapa tahun belakangan (petunjuknya di chapter 2 : Subaru tahu bahwa Ai sebenarnya bukan anak SD dan di chapter 3 : Ai menerima kehadiran Subaru sejak kelas 1 SD). Hal ini juga berlaku untuk Conan. Makanya Subaru dan Conan yang lebih sering menggunakan logika tidak menyadari perasaan mereka pada Ai. Hal itu juga yang membuat Subaru dan Conan tidak menyadari perasaan Ai pada Subaru padahal Ayumi bisa melihatnya.
Sebagai fans Ai, adalah wajar kalau aku menjadi sangat subyektif. Tapi aku dengan senang hati menerima kritik yang membangun dari pembaca. Dan kalau aku bisa menjawabnya, aku akan menjawabnya. XD
Lollytha-chan : Conan yang sok itu memang harus diberi pelajaran oleh Kogoro dan Eri. XD
Rawr-san : Yah, aku juga berharap meng-update-nya bisa cepet. XD
Misyel : Maklum, Ran lagi cemburu, makanya dia jadi tidak bisa berpikir jernih. Lagipula Ran tidak menyalahkan Ai, tapi cemburu pada Ai. XD
Atin-san : Syukurlah kamu suka meskipun nggak ada momen antara Conan dan Ai. XD
Septi-san : Lho, jangan begitu dong. Kalau Ai sama Conan langsung jadian tanpa dikasih bumbu dulu, ntar jadinya nggak seru. He he he. H2C buat Subaru!
Phantom-san : Of course you're not an idiot! Aku pun juga begitu. Kalau tidak, aku pasti selalu bisa menebak pelaku di setiap cerita detektif yang kubaca. XD
Ini membuatku teringat pada episode dimana Subaru minum bourbon sambil terlihat mencurigakan. Orang-orang di youtube berkomentar bahwa Subaru adalah Bourbon dan mereka cemas karena mereka pikir sebentar lagi Ai dan Conan akan ketahuan. Lalu di episode detektif cilik vs perampok bank, Camel berkata bahwa minuman kesukaan Akai adalah bourbon, tapi pasti banyak orang yang melewatkan petunjuk itu karena kemunculan Scar Akai, sehingga masih banyak orang berpikir bahwa Okiya adalah Bourbon karena dia minum bourbon. XD
Airin-san : Ai nggak akan menggantikan posisi Ran di keluarga Mouri kok, soalnya dia sudah mengisi posisi lain, yaitu sebagai menantu di keluarga Mouri dengan menjadi istri Conan. XD
Ali-san : Sebenarnya rencana Ran sudah bagus-bagus, tapi dia tidak pernah memperhitungkan sifat ayah dan ibunya sehingga rencananya selalu gagal. Kalau dia bisa meluangkan waktunya sedikit untuk memperhatikan ayah dan ibunya, mungkin dia bisa menyusun rencana yang tepat guna.
Ran sedang cemburu makanya muncul rasa tidak suka. XD
Lala-san : Apa boleh buat? Aku lagi sibuk banget. Ini lanjutannya. XD
Ai-kun : Mungkin para pembaca cuma sebel sama sikap Ran di cerita ini. Lagipula nggak cuma Ran kok. Ada juga yang sebel sama sikap Subaru dan Ai jadi Ran bukan satu-satunya karakter yang membuat pembaca sebel.
Ini update-nya. XD
Fujita-san : Nggak benci kok. Cuma cemburu. He he he.
Iya, good luck ulum-nya. Semoga nilainya bagus! XD
Grey-san : Wah, aku juga nggak tahu Ai bakal sadar atau nggak soalnya Ai tetap tidak mencoba untuk dekat dengan Ran, yang juga berati dia nggak akan terlalu memperhatikan Ran. XD
David Kudo : Terima kasih banyak. Ini update-nya! XD
Lan-san : Itu karena menurut Kogoro dan Eri, Ai itu menantu yang high quality, makanya mereka harus membuat Conan benar-benar menjadikan Ai sebagai istrinya. XD
Kalau tentang sikap Ran terhadap Ai, bisa dibaca di chapter ini.
Moist fla : Kalau tentang Conan yang mengetahui kalau Ai suka sama Subaru, akan aku jelaskan di curcol.
Ai Kudo : Oke. Ai Haibara memang the best!
Aiko Kudo AiConLover : Memangnya para reviewer pada menjelekkan Ran ya? Sepertinya komentar mereka tidak sampai bashing chara deh. Anyway, aku setuju bahwa adalah suatu kewajaran jika Ran cemburu. Ai pun dulu juga pernah iri pada Ran dan kelihatan di episode Mystery in the Net, dimana Ai bersikap dingin pada Ran meskipun Ran bersikap baik padanya. Namun karena pribadi Ai yang cepat belajar menjadi lebih baik, Ai pun terinspirasi oleh kata-kata Ran sehingga dia akhirnya memperkenalkan diri dan bersikap ramah pada Ran.
Waktunya curcol!
Bagi para pembaca yang menunggu-nunggu adegan Conan yang mengetahui bahwa Ai menyukai Subaru, penulis harus mengatakan bahwa ternyata untuk sampai ke adegan itu, membutuhkan beberapa rentetan peristiwa sebagai pengantar. Dan chapter ini adalah awal dari rentetan peristiwa itu. Penulis hanya bisa berharap semoga penulis bisa meng-update lebih cepat sehingga penulis bisa segera sampai ke adegan itu. Kira-kira setelah membaca chapter ini, apa para pembaca bisa menebak bagaimana Conan bisa tahu kalau Ai menyukai Subaru?
Selamat membaca dan berkomentar!
Tanpa Batas
By Enji86
Chapter 10 – Pantas Mendapatkannya
Setelah beberapa minggu mengajar di SMP Teitan, Ran mulai mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan lamanya. Ran mengajar pelajaran olahraga di SMP Teitan karena dia memang menyukai kerja fisik. Dia juga menjadi guru pembimbing klub karate karena kemampuannya sudah teruji dengan selalu menjadi juara karate di turnamen yang dia ikuti baik ketika dia SMA maupun ketika dia kuliah. Setiap akhir pekan dia akan pergi jalan-jalan bersama Sonoko yang juga jomblo seperti dirinya.
Sudah hampir setahun Sonoko putus dengan Makoto karena dunia mereka yang terlalu berbeda. Sonoko yang sibuk berkarir di perusahaan milik keluarganya dan Makoto yang sibuk dengan karate tidak bisa menemukan hal yang membuat mereka merasa nyaman satu sama lain. Jika mereka bertemu, pertemuan mereka kebanyakan terasa kaku karena minimnya bahan pembicaraan. Namun sepertinya Sonoko tidak akan menjomblo terlalu lama karena dia baru saja berkenalan dengan rekan bisnis yang menarik perhatiannya dan juga berkulit coklat.
Semuanya terasa menyenangkan bagi Ran. Karena kepribadiannya dia cepat disukai murid-muridnya dan juga rekan-rekannya sesama guru. Selain kepribadiannya, dia juga merupakan wanita cantik dengan bentuk tubuh seksi sehingga setiap kali berjalan-jalan dengan Sonoko, selalu saja ada laki-laki yang mengajaknya berkenalan. Ayahnya juga sudah berhenti mabuk-mabukan sehingga pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukannya juga sangat berkurang. Hubungan ayahnya dan ibunya sejauh ini juga lancar.
Namun ada satu hal yang membuat Ran merasa tidak nyaman yaitu bagaimana Ai selalu berada di sekitar Conan. Tentu saja Ran tidak tahu bahwa sebenarnya Conan-lah yang selalu beredar di sekitar Ai atau Conan yang meminta Ai untuk berada di sekitarnya. Ran sebenarnya merasa bodoh karena merasa tidak suka jika Ai beredar di sekitar Conan. Conan sudah SMP jadi wajar kalau Conan mulai dekat dengan seorang gadis. Tapi dia tidak bisa menahan rasa tidak sukanya itu karena memang itulah yang dirasakannya. Dia pun hanya berusaha menutupinya.
XXX
Pagi itu, Ran kembali mengajar olahraga di kelas Conan. Pelajaran hari itu adalah lompat kangkang. Ai yang dari dulu memang tidak pandai dalam pelajaran olahraga, terutama lompat kangkang ini hanya berdiri di pinggir, tidak ikut berbaris dengan teman-temannya. Ai pertama kali mencoba lompat kangkang saat dia kelas 5 SD dan hasilnya tidak begitu bagus karena dia harus dilarikan ke UKS. Ai tidak bisa mengangkat salah satu kakinya dengan sempurna sehingga kakinya terbentur balok yang berakibat lompatannya pun tidak sempurna sehingga dia jatuh dengan kepala terlebih dulu. Sejak saat itu, Subaru yang mewakili Profesor Agasa sebagai wali Ai meminta (lebih tepatnya mengintimidasi) pada sekolah agar Ai tidak perlu mengikuti pelajaran lompat kangkang lagi.
"Baiklah, anak-anak, kita mulai ya," ucap Ran dengan suara bersemangat. Kemudian dia menyadari Ai yang tidak ikut berbaris dengan teman-temannya yang lain sehingga Ran langsung bicara pada Ai. "Haibara-san, kenapa kau tidak ikut berbaris dengan teman-temanmu?" tanya Ran.
"Maaf, Mouri-sensei. Tapi aku tidak bisa melakukannya makanya aku tidak ikut berbaris," jawab Ai.
"Tidak boleh begitu. Meskipun kau tidak bisa, kau harus melakukannya sama seperti teman-temanmu yang lain," ucap Ran.
Mendengar hal ini Conan pun angkat bicara.
"Mouri-sensei, sejak SD Haibara memang tidak bisa melakukan lompat kangkang makanya lebih baik dia tidak ikut," ucap Conan yang disambut anggukan beberapa teman sekelas Ai yang merupakan teman SD Ai karena mereka semua melihat kejadian percobaan pertama Ai melakukan lompat kangkang saat SD.
Melihat Conan yang membela Ai, membuat Ran semakin ingin membuat Ai melakukan lompat kangkang.
"Tidak bisa begitu, Edogawa-kun. Justru karena Haibara-san tidak bisa melakukannya, maka aku sebagai gurunya harus mengajarinya. Dan agar Haibara-san bisa melakukannya, dia harus mencobanya," ucap Ran.
"Tapi, Sensei...," kali ini Ayumi yang angkat bicara tapi langsung dipotong oleh Ran.
"Sudah cukup. Sensei tidak mau menerima alasan apapun," ucap Ran kemudian dia kembali berpaling pada Ai. "Nah, Haibara-san, berbarislah dengan teman-temanmu," ucap Ran.
Ai pun menghela nafas kemudian ikut berbaris dengan teman-temannya. Saat dia masuk ke dalam barisan, dia langsung merasa takut. Dia takut terutama karena kalau dia sampai terluka, waktu berlatihnya untuk kompetisi bergengsi yang akan diselenggarakan bulan depan akan berkurang.
"Ai-chan, kau baik-baik saja?" tanya Ayumi dengan khawatir.
"Mmm, aku baik-baik saja," jawab Ai sambil berusaha tersenyum agar temannya itu tidak khawatir.
Conan, Mitsuhiko dan Genta melirik Ai dengan khawatir tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baiklah, mari kita mulai," ucap Ran dengan suara ceria.
Dan seperti yang sudah diduga, semuanya tidak berjalan baik untuk Ai. Conan yang pertama berlari menghampiri Ai yang jatuh bersama balok tumpuan sementara beberapa orang teman sekelasnya tertawa. Ran pun juga ingin tertawa tapi dia menahannya. Adegan Ai yang jatuh bersama balok tumpuan itu memang benar-benar lucu.
Ayumi, Genta, Mitsuhiko dan beberapa teman sekelas Ai yang lain segera mengikuti Conan untuk melihat Ai. Ran juga ikut menghampiri Ai.
"Haibara, kau baik-baik saja?" tanya Conan setelah dia membantu Ai bangkit untuk duduk.
"Sepertinya pergelangan tanganku terkilir," jawab Ai sambil memegangi pergelangan tangan kirinya dan mengernyit.
Conan kemudian mengamati Ai dan menemukan bahwa ada benjolan di kepala Ai dan lutut kanan Ai memar dan mulai membengkak karena menabrak balok tumpuan dengan keras.
"Haibara-san, kau baik-baik saja?" tanya Ran.
"Dia tidak baik-baik saja, Mouri-sensei. Aku akan membawanya ke UKS," ucap Conan dengan dingin.
Ran yang menyadari nada bicara Conan merasa terkejut dan tidak terima. Conan tidak berhak marah padanya dan menyalahkannya kalau Ai memang tidak bisa melakukan lompat kangkang dan akhirnya terluka, karena sebagai murid, Ai memang harus melakukan lompat kangkang sama seperti murid-murid lain.
"Terima kasih, Edogawa-kun. Tapi Sensei yang akan membawa Haibara-san ke UKS. Kau dan teman-temanmu bisa ganti baju dan bersiap-siap untuk kelas selanjutnya," ucap Ran dengan dingin juga.
Namun seperti tidak mempedulikan ucapan Ran, Conan sudah menggendong Ai di punggungnya.
"Aku akan membawanya, Sensei," ucap Conan kemudian dia segera melangkah menuju UKS.
Ran pun hanya bisa melihat Conan melangkah pergi dengan terpana.
"Apa-apaan itu tadi?" tanya Ran dalam hati.
Ran terus berdiri diam sampai Ayumi bicara padanya.
"Sensei, apa kami boleh pergi ke UKS juga?" tanya Ayumi.
"Oh, lebih baik kalian segera ganti baju karena sebentar lagi kelas kalian yang selanjutnya akan dimulai. Sensei akan melihat Haibara-san di UKS jadi kalian tidak perlu khawatir," jawab Ran sambil tersenyum.
"Baik, Sensei," sahut murid-murid Ran kemudian mereka melangkah menuju ruang ganti sementara Ran melangkah menuju UKS.
XXX
"Kudo-kun, apa yang kau lakukan? Ran-san adalah guru kita jadi kau seharusnya mematuhinya," ucap Ai dalam perjalanan ke UKS.
"Ya, ya, terima kasih kembali," ucap Conan dengan nada tidak peduli sehingga Ai menghela nafas karena dia tahu Conan tidak ingin membicarakan hal itu sekarang.
Ai pun memutuskan untuk tidak meneruskan topik pembicaraan yang dimulainya itu karena dia merasa tubuhnya sakit semua dan kepalanya terasa berdenyut-denyut terutama di bagian yang benjol. Hal ini membuatnya tidak punya energi untuk berdebat karena semua energinya sudah terpakai untuk menahan rasa sakit.
"Baiklah. Terima kasih atas bantuannya," ucap Ai kemudian dia mengerang pelan karena rasa sakit yang dirasakannya ketika dia mencoba menggerakkan tangannya yang terkilir untuk mempererat pelukannya di leher Conan.
"Sudah, jangan banyak bergerak dulu. Kita sudah hampir sampai," omel Conan dengan nada khawatir yang gagal ditutupinya.
Sesampainya di UKS, suster jaga yang ada di situ langsung memeriksa Ai dan merawat luka Ai. Dan setelah dia menanyai Conan tentang alasan kenapa Ai bisa terluka, suster yang bernama Midori itu menyuruh Conan kembali ke kelasnya sementara Ai istirahat di UKS.
Dalam perjalanan dari UKS ke ruang ganti, Conan mulai memikirkan kejadian barusan dan dia merasa bingung dengan sikapnya tadi. Ketika dia melihat Ai terluka tadi, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih dan dia langsung menyalahkan Ran yang tidak mau mendengarkannya sehingga menyebabkan Ai terluka. Dia bingung karena setahunya Ran adalah orang yang paling dia cintai di dunia ini jadi tidak logis baginya untuk marah pada Ran hanya gara-gara Ai. Mungkinkah perasaannya sudah berubah sekarang? Dia tidak tahu dan dia terlalu takut untuk memikirkannya.
Ai sendiri juga merenung sambil berbaring di UKS. Melihat sikap Conan kepada Ran barusan juga membuatnya bingung. Dia tidak mengerti kenapa Conan bertingkah seperti itu, karena yang dia tahu Conan sangat mencintai Ran. Ai pun hanya bisa menduga bahwa mungkin Ran baru saja mendapat pacar baru, makanya Conan jadi seperti itu. Conan memang selalu bad mood kalau Ran mendapatkan pacar baru. Tapi sepertinya Conan sudah mulai terbiasa sejak mereka kelas 6 SD, makanya Ai jadi agak bingung.
"Ai-chan, kau baik-baik saja?" tanya Ran yang baru saja sampai di UKS setelah mampir sebentar ke ruang guru.
Ai yang sedang merenung pun tersentak karena kaget, tapi dia segera mengendalikan dirinya dan menoleh pada Ran dengan sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Ran-san," jawab Ai.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Ran sambil tersenyum manis. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau benar-benar tidak bisa melakukan lompat kangkang. Tapi jangan khawatir, aku bisa mengajarimu sepulang sekolah agar kau bisa melakukannya," lanjutnya.
"Uh, maaf Sensei, tapi aku rasa aku tidak bisa," ucap Ai dengan agak gugup. Membayangkan dia harus melakukan lompat kangkang lagi saja sudah membuatnya merinding.
"Kau pasti bisa. Asal ada kemauan untuk belajar, setiap orang pasti bisa melakukan apapun," ucap Ran dengan nada meyakinkan.
Melihat Ran yang mencoba membujuknya untuk melakukan sesuatu, membuat Ai teringat pada sosok kakaknya. Kakaknya yang selalu tersenyum dan kelihatan ceria padahal dalam hati sedang menangis sedih, sedang membujuknya melakukan sesuatu yang tidak ingin atau tidak bisa dia lakukan. Ai hampir saja mengiyakan tawaran Ran itu sebelum suster jaga UKS yang tadi pergi sebentar untuk menelepon wali Ai, memotong pembicaraan Ai dengan Ran.
"Selamat pagi, Mouri-sensei. Apa kau datang untuk melihat Haibara-san?" tanya Midori sehingga Ran menoleh pada suster jaga UKS itu.
"Begitulah," jawab Ran sambil tersenyum.
"Haibara-san butuh istirahat karena dia bilang kepalanya sakit setelah terbentur tadi. Jadi kalau Sensei ingin mengobrol dengan Haibara-san, Sensei bisa kembali lagi nanti," ucap Midori.
"Oh, begitu ya? Kalau begitu aku akan pergi sekarang karena aku juga ada kelas," ucap Ran kemudian dia menoleh ke Ai. "Sensei harus pergi sekarang. Selamat beristirahat," ucap Ran.
"Terima kasih, Sensei," ucap Ai. Kemudian Ran pun pergi.
"Haibara-san, aku sudah menelepon walimu dan aku sudah menceritakan kondisimu seperti yang kau inginkan. Dia akan datang nanti siang untuk menjemputmu. Sekarang istirahatlah," ucap Midori sambil tersenyum.
"Terima kasih, Midori-san," ucap Ai.
"Sama-sama," sahut Midori.
XXX
"Apa ini, Ai-chan? Kau meminta suster jaga UKS-mu berbohong padaku tentang kondisimu?" tanya Subaru dengan marah sehingga Ai merasa merinding karena dia merasakan aura yang seperti aura anggota Organisasi Hitam, keluar dari Subaru.
Profesor Agasa sedang pergi ke luar kota untuk konferensi ilmuwan sehingga Subaru-lah yang menjemput Ai dari sekolah siang itu.
Subaru menatap Ai yang menundukkan kepalanya, dengan tajam selama beberapa saat sampai dia sadar bahwa Ai sedang ketakutan karenanya. Dia pun segera mengendalikan diri lalu duduk di tempat tidur Ai dan memegang bahu Ai.
"Jadi kenapa kau lakukan itu?" tanya Subaru dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku hanya tidak ingin kau khawatir," jawab Ai dengan suara menggumam.
Subaru pun mengangkat dagu Ai agar Ai menatap wajahnya.
"Dasar bodoh. Aku akan lebih khawatir kalau kau tidak jujur padaku," omel Subaru. Kemudian dia mengamati Ai dengan lebih seksama. Wajah Ai yang pucat, kepala Ai yang benjol, pergelangan tangan kiri Ai yang terkilir dan lutut kanan Ai yang memar dan bengkak. Itu membuatnya merasa ingin mencekik guru olahraga Ai sekarang juga.
Tadi di telepon, Subaru diberi tahu bahwa Ai menderita pusing setelah mengikuti pelajaran olahraga sehingga Subaru diharapkan untuk menjemput Ai siang harinya. Jadi tentu saja Subaru langsung merasa marah ketika dia tahu bahwa Ai tidak sekedar menderita pusing.
"Tunggulah di sini sebentar. Aku harus menemui kepala sekolahmu," ucap Subaru.
"Huh? Untuk apa? Tidak usah. Aku baik-baik saja kok. Lebih baik kita pulang sekarang. Aku ingin istirahat di rumah," ucap Ai.
"Tunggulah sebentar. Ini tidak akan lama," ucap Subaru. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah pergi.
Ai pun menghela nafas kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Midori yang juga terlihat ketakutan.
"Maaf ya, Midori-san," ucap Ai.
Midori pun akhirnya bisa tersenyum kembali.
"Pamanmu benar-benar galak ya? Tapi sepertinya dia sangat menyayangimu jadi lebih baik mulai sekarang kau tidak berbohong lagi padanya kalau kau sakit," ucap Midori.
"Paman?" ucap Ai sambil tertawa dalam hati. Tapi dia tidak berniat untuk meluruskannya.
"Yah, dia kadang-kadang terlalu berlebihan tapi aku rasa kau benar. Aku akan berusaha untuk tidak berbohong lagi padanya," ucap Ai sambil tersenyum.
XXX
"Ada apa Pak Kepala Sekolah? Kenapa anda memanggil saya?" tanya Ran saat dia masuk ke ruangan kepala sekolah.
Subaru pun langsung menoleh pada Ran dan Ran langsung merasa merinding karena Subaru mengeluarkan hawa membunuh, namun hanya sesaat karena Subaru merasa terkejut mendapati bahwa guru olahraga Ai adalah Ran.
"Ah, Mouri-sensei. Silahkan duduk," ucap Kepala Sekolah. "Ini adalah Okiya-san, wali dari Ai Haibara. Okiya-san mengajukan protes karena Haibara-san terluka saat mengikuti pelajaran anda. Jadi apa ada yang mau anda sampaikan?" tanya Kepala Sekolah.
"Saya hanya menjalankan tugas sebagai guru. Jika Haibara-san tidak bisa melakukan lompat kangkang, maka sudah kewajiban saya untuk mengajarinya. Haibara-san harus melakukannya sama seperti teman-temannya yang lain," jawab Ran dengan angkuh. Dalam hati dia merasa kesal karena Ai begitu diperhatikan banyak orang. Pertama, orang tuanya, lalu Conan, lalu sekarang muncul Subaru yang menumpang di rumah Shinichi.
Ucapan Ran membuat Subaru merasa geram.
"Bagaimana bisa dia berkata seenaknya begitu setelah melihat Ai-chan terluka? Dia bahkan tidak minta maaf," ucap Subaru dalam hati dengan marah.
"Jadi beginikah idealisme guru di sekolah ini? Siswa selalu dituntut untuk menguasai suatu pelajaran tanpa mempedulikan kondisi siswa itu. Saya rasa kualitas sekolah ini benar-benar rendah," ucap Subaru dengan sinis.
"Tentu saja tidak, Okiya-san. Mouri-sensei ini guru baru dan masih muda. Jadi dia masih perlu banyak belajar. Kami akan menegurnya dan kami berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi," ucap Kepala Sekolah untuk menenangkan Subaru sambil memberi isyarat pada Ran untuk tutup mulut.
"Baiklah, saya akan memegang kata-kata anda. Saya permisi karena saya harus membawa Ai-chan pulang. Selamat siang," ucap Subaru dengan dingin. Dia memberi Ran tatapan tajam sekilas kemudian dia beranjak dari kursinya dan melangkah pergi.
Setelah Subaru keluar dari ruangan, Kepala Sekolah mengalihkan pandangannya ke Ran.
"Mouri-sensei, apa yang sudah anda lakukan? Saya mendapat laporan dari Midori-san bahwa Haibara-san terluka cukup parah. Kita di sini untuk mendidik siswa, bukan membuat mereka pulang dengan kondisi terluka. Apalagi Haibara-san termasuk murid paling pintar di sekolah ini dan juga berprestasi di klubnya. Kali ini saya hanya akan memberi anda peringatan. Tapi kalau ini terjadi lagi, anda akan terkena skors, anda mengerti? Anda boleh pergi sekarang," ucap Kepala Sekolah.
Ran beranjak dari kursinya dalam diam, lalu dia mengangguk sedikit pada Kepala Sekolah sebelum berbalik dan melangkah pergi. Tadinya dia agak merasa bersalah ketika melihat Ai di UKS, tapi sekarang dia tidak merasa bersalah sama sekali karena menurutnya Ai memang pantas mendapatkannya.
Bersambung...
