CAST

Park Chanyeol (25)

Byun Baekhyun (19)

Dia masih terdiam berdiri didepanku. Tenggorokanku terasa sakit karena menahan isakan yang ingin keluar, ketika bahkan aku tidak bisa menebak emosinya. Chanyeol hanya membisu walaupun bibirnya beberapa kali terbuka.

"Chanyeol.." lirihku membuat hatiku kembali berdenyut lebih sakit. Bibirnya merapat membuat garis lurus kemudian kepalanya menggeleng. Aku tertegun ditempatku. Jadi benar ?

"Baekhyun.."

Kakiku mundur ketika tangan kananku kuangkat kedepan.

"Chanyeol," bibirku menghentikan mulutnya yang berbicara.

"Kupikir kau harus segera kembali ke kantor. Ahaha benar kan ? Maaf jika bercandaku berlebihan. Aku sangat mengantuk, kurasa aku akan tidur saja" ucapku berusaha menahan genangan airmata yang telah siap untuk jatuh, kemudian memutar tubuhku yang telah begitu lemas untuk berjalan kembali ke kamar.

Aku hanya begitu mencintainya sehingga aku tidak bisa jika harus mendengar kalimat yang tidak kuinginkan keluar dari mulutnya. Terlebih itu akan menyakitiku. Airmataku jatuh dikedua disisi bersamaan dengan gigitan gigi pada bibirku yang bergetar. Menahan suara isakan keluar dari belah bibirku. Dengan pelan kakiku menaiki anak tangga menuju kamar. Batinku berteriak, seharusnya Chanyeol menghentikanku !. Tapi dia hanya diam berdiri diatas lantai yang begitu dingin disana. Mengeratkan genggaman tanganku pada tangga untuk mendukung tubuhku tetap berdiri dengan benar. Pintu kamar tertutup bersamaan dengan suara debuman dari tubuhku yang jatuh setelah tanganku mengunci pintu kamar. Membekap mulutku begitu keras, tidak membiarkan jerit tangisku terdengar olehnya. Pertanyaan mengapa dan mengapa terus menerus menggerus kedalam pikiranku. Kurasa aku bisa menjadi gila setelah ini. Atas keterdiaman Chanyeol, atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tanganku bergerak dengan lembut keatas perutku yang masih rata, dan tangis piluku tidak lagi dapat kucegah.

.

.

.

Aku terbangun dengan pusing dikepalaku ketika seseorang menepuk lembut lenganku.

"Tuan Baekhyun.."

Mengerjapkan mataku lalu menoleh ke arah sumber suara.

"Bibi ?"

Kenapa aku bisa bangun diatas ranjang ?

"Tuan anda harus makan, anda belum makan apapun seharian" ucapnya.

Indra penciumanku menangkap harum gurih dari sup daging.

"Bisa bantu aku untuk duduk ? Kurasa aku masih sedikit pusing" ucapku.

"Tentu, tuan"

Lalu perlahan bibi Yoon menuntunku untuk bangun.

"Arghh..", erangku ketika denyutan itu begitu menyakitkan.

"Tuan, tuan anda baik-baik saja ? Saya akan menelpon tuan Park"

"Jangan !"

"Eh ?"

"Dimana dia ?"

"Tuan Park kembali ke kantor sekitar 3 jam yang lalu. Anda yakin tidak ingin saya memberitahu tuan Park ?"

"Tidak, jangan beritahu dia. Lagipula pusingku tidak terlalu buruk"

"Baiklah kalau begitu. Saya membawakan anda sup daging ini. Masih hangat, semoga anda menyukainya"

Aku hanya mengangguk dan menerima mangkuk berwarna putih itu.

"Kalau begitu saya permisi. Jika ada yang anda butuhkan, hanya beritahu saya" ucapnya.

Aku tersenyum kecil dan mengangguk. Lalu bibi Yoon berjalan meninggalkan kamar setelah sebelumnya membungkuk.

Aku duduk terdiam diatas ranjang. Tanpa kusadari telapak tanganku telah berada diatas perutku yang masih merata. Bibirku kembali merapat, menekan emosiku yang tiba-tiba kembali naik. Baekhyun.. kau tidak boleh seperti ini. Kau tidak bisa rapuh seperti ini. Chanyeol memang orang yang rumit, ini bukan pertama kali untukmu melihat Chanyeol semembingungkan itu Byun.

Menghembuskan napasku begitu kasar. Pikiranku mencoba memungut akal sehatku. Tidak membiarkan emosi kacau ini mengambil alih logikaku. Benar, alasan, pasti dia memiliki sebuah alasan.

.

.

.

Tangan Chanyeol kini sedang bergerak diatas kertas-kertas penuh kesepakatan bisnis dengan bolpoin hitamnya. Telunjuknya beberapa kali menekan pangkal hidungnya. Pikirannya benar-benar pecah semenjak Baekhyun dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan dikamar mandi kampusnya. Semenjak dokter mengatakan bahwa Baekhyun tengah mengandung. Mengandung ?. Chanyeol bahkan belum mempercayainya. Dia telah memikirkan segalanya, baik dirinya maupun Baekhyun, termasuk tidak membiarkannya mengandung sebelum mereka telah benar-benar siap. Lalu semua kekacauan ini terjadi, semua lepas dari kontrolnya. Sesuatu lepas dari kontrolnya. Pikirannya benar-benar kacau sehingga Chanyeol tidak pulang ke penthousenya sampai hari ini. Kemudian pesan dari Baekhyun membuat kepalanya benar-benar ingin pecah. Hatinya begitu sakit ketika melihat Baekhyun menggigit bibirnya, menahan tangis didepan Chanyeol.

.

.

.

[Flashback]

"Ahh.." lenguhan terdengar dari bibir tipis Baekhyun ketika lidah prianya tengah menjilat leher jenjangnya begitu pelan.

Mereka berdua sama-sama terengah ketika memasuki rumah Baekhyun. Baekhyun kembali mengerang karena tangan besar Chanyeol meremas bokongnya. Kedua tangannya semakin mengeratkan kalungannya pada leher Chanyeol. Langkah Chanyeol terlihat begitu tergesa-gesa ketika menuju kamar Baekhyun. Walaupun demikian, bibirnya tidak berhenti menggoda pria kecil didepannya. Dengan kaki kanannya, Chanyeol menendang pintu kamar Baekhyun lalu segera membawa langkahnya masuk. Chanyeol hampir jatuh ketika kakinya mengenai tumpukan buku.

"Ouh, maaf. Aku belum membereskan bukuku" ucap Baekhyun.

Chanyeol hanya menatapnya sebentar lalu mendorong bibir penuhnya diatas bibir tipis pria mungilnya.

"Aw !" , ketika Chanyeol menjatuhkan tubuh Baekhyun ke ranjang.

"Wae ?" Tanya Chanyeol.

Apakah dia menjatuhkan Baekhyun begitu keras ?

Baekhyun sedikit mengangkat tubuhnya lalu tangannya menarik sebuah buku dari sana.

"Seperti yang kukatakan, aku belum membereskan bukuku" ucap Baekhyun sambil menyengir lalu melempar buku digenggamannya ke sisi kanan.

"Lagipula bagaimana bisa bukumu ada dimana-mana ? Kurasa ujian masih lama Baek"

"Itu benar, tapi universitas S begitu besar dimataku. Jadi kurasa aku harus mempersiapkannya dari sekarang"

"Sebaiknya tidak ada lagi bukumu diatas ranjang sekarang atau mereka akan menjadi kotor setelah ini" ucap Chanyeol.

Baekhyun terkekeh.

"Kurasa ranjangku sudah bersih sekarang" ucap Baekhyun.

Chanyeol tersenyum tipis lalu merangkak mengungkung tubuh didepannya.

"Untuk itu kita akan mengotorinya sekarang" Ucap Chanyeol disertai smirk andalannya.

Merundukkan kepalanya untuk mengecup bibir merah jambu milik dearnya. Ketika bibirnya sedang sibuk mencium Baekhyun, tangan Chanyeol menarik dasi sekolah pria yang tengah diciumnya. Membawa kedua tangannya keatas lalu mengikat simpul diatas kepalanya.

"Chanh.. jangan.. ah"

Chanyeol melepaskan bibirnya.

"Kau tahu benar sifatku. Kapan orang tuamu kembali ?"

"Saat makan malam. Ahh !"

"Jawab yang benar"

"Tujuh, jam tujuh malam" jawab Baekhyun dengan napas tersengal.

"Well, kita memiliki waktu 4 jam. Itu cukup untuk membuatmu meneriakkan klimaks beberapa kali"

"Chan.." , rengek Baekhyun karena Chanyeol begitu vulgar.

"Haruskah kita memulainya ?"

Baekhyun memangguk dan tangan Chanyeol bergerak dengan cekatan melucuti seragam sekolah Baekhyun. Membuka ikat pinggang yang membelit celana itu,membuka kancing lalu menarik turun resletingnya. Baekhyun mendongak menjatuhkan kepalanya ketika bibir Chanyeol mengecup kepala penisnya yang masih terbalut oleh celana dalam. Napas hangat Chanyeol membuat persendiannya lemas. Mulutnya kembali melenguh saat tangan besar Chanyeol menarik turun celana dalamnya. Mengecup paha dalamnya. Mata Baekhyun melebar saat penisnya berada didalam mulut hangat Chanyeol. Secepat ini ?.

"Ahh ! Chan ah.. no oh God"

Lidah prianya bergerak begitu lincah bermain, mengulum penisnya. Buku-buku jari Baekhyun telah memutih karena sensasinya begitu keterlaluan. Mulut Baekhyun kembali menganga ketika tangan Chanyeol berada dikedua bongkah bokongnya. Membuat gerakan memutar membuat kepala Baekhyun semakin pening. Meremasnya bersamaan dengan mulutnya yang menarik penisnya begitu keras.

"Anhh ! Chanyeol.. Chan-ah yeolhh"

Baekhyun berteriak ke awang-awang saat tarikan prianya yang ketiga. Dadanya tersengal bergerak naik turun. Bibirnya kembali melenguh saat Chanyeol membubuhkan ciuman-ciuman kecil disepanjang perutnya, terus bergerak naik. Lalu berhenti diputingnya. Baekhyun begitu frustasi karena gerak tangannya yang terbatas.

"Chanyeolhh "

Chanyeol melepaskan kulumannya pada puting Baekhyun setelah puas melihat dearnya yang begitu frustasi karena tangannya yang terikat. Tangan Chanyeol perlahan membuka kancing celana hitamnya. Menarik kain itu sampai betisnya. Lalu membawa kedua kaki Baekhyun keatas kedua bahunya. Baekhyun telah memerah dibawah sana.

"Comfy ?"

Baekhyun hanya mengangguk kecil. Lalu kepalan tangannya berubah begitu erat ketika penis Chanyeol yang telah mengeras menerobos lubangnya.

"Aght !", Baekhyun terlonjak ketika Chanyeol mendorong penisnya begitu cepat.

Kemudian setelahnya kamar Baekhyun didominasi oleh desahan-desahan dari mulut Baekhyun. Sedang Chanyeol hanya menggeram sesekali ketika lubang Baekhyun menjepit penisnya begitu kuat, begitu nikmat.

Mereka memutuskan untuk berhenti ketika jarum jam menunjuk angka 6. Juga karena Baekhyun terlihat begitu kewalahan untuk mengimbangi Chanyeol.

"Apakah kau memang serajin ini ?" Tanya Chanyeol.

"Huh ?"

"Bukumu ada dimana-mana"

Baekhyun tertawa lalu kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Chanyeol.

"Aku hanya sering lupa untuk membereskannya setelah belajar" jawab Baekhyun.

"Aku harus kembali setelah ini"

Baekhyun mendongak keatas.

"Kenapa tidak makan malam disini sekalian ?" Tanya Baekhyun.

"Ayah pulang. Ibu membuat acara seperti makan malam bersama sekeluarga"

"Ah begitu.. baiklah, aku mengerti"

Chanyeol merunduk untuk mengecup pucuk kepala Baekhyun.

"Bisakah aku mendapatkan pelukan lebih lama ?" Tanya Baekhyun.

"Tentu,"

"1 jam ?"

Chanyeol menggeleng lalu menjawab, "30 menit"

Baekhyun mendengus tapi tidak memprotes.

"Baiklah"

.

.

.

[Another Flashback]

Jeritan menyakitkan telinga dari seorang anak kecil membuat semua anak panti berkumpul sore itu.

"Dia membunuhnya !" Pekik salah satu anak panti kepada anak kecil didepannya.

Kedua tangan Chanyeol yang menggendong kelinci itu kini begitu bergetar. Netranya kebingungan ketika semua anak-anak mengelilinginya.

"Dasar pembunuh !"

"Kau membunuhnya !"

"Apa ? Dia sangat kejam !"

"Aku tidak !!" Teriak Chanyeol membuat yang lain kini terdiam. Napasnya memburu menahan amarah.

"Bukan aku yang membunuhnya ! Aku merawatnya bukan membunuhnya !"

"Kau merawatnya ? Jangan bercanda ! Kelinci itu mati karenamu ! "

"Kudengar dia tidak memiliki ayah" bisik seorang anak lain.

"Benarkah ? Apa dia sedang mencoba menjadi ayah untuk kelinci itu ?" sahut yang lainnya.

"Bodoh," (Presdir !)

"Dia memang sakit" (Presdir !)

"Pantas saja dia ditinggal orangtua asuhnya disini"

.

.

.

[Flashback end]

"Presdir !"

Chanyeol terkesiap.

"Maafkan saya, tapi anda memiliki meeting sekarang"

Chanyeol memejamkan matanya sebentar, mencoba menggapai akal sehatnya kembali. Kemudian menarik beberapa kertas juga map diatas mejanya dan menyerahkan pada sekertarisnya. Tubuh tegapnya berdiri dari kursinya kemudian berjalan meninggalkan ruangannya diikuti oleh sekertarisnya.

.

.

.

"Aku baik-baik saja eomma. Ya, aku sudah sampai sekarang"

Aku kembali ke penthouse ketika jam menunjukan angka 9 malam. Aku baru saja kembali dari rumahku, hanya merasa jika aku sedang merindukan mereka.. atau mungkin aku sebenarnya tengah merindukan Chanyeol.

Kembali mendengus ketika tidak ada tanda-tanda Chanyeol yang telah pulang. Aku heran, apakah dia memang seperti ini ? Memilih untuk menghindar daripada menghadapi sebuah masalah.

"Aku mengerti eomma. Ya, aku akan kesana. Selamat malam. Aku mencintaimu juga"

Melempar handphoneku kesembarang arah setelah menutup telpon dari eomma lalu menjatuhkan tubuhku ke ranjang. Mataku memandang langit-langit kamar. Pikiranku melayang kepada Chanyeol. Lagi-lagi aku merasa bahwa aku tidak cukup untuk mengerti bagaimana dia. Bagaimana aku mengatasi ini ? Sedang Chanyeol selalu menghindar seperti ini. Apakah aku sebaiknya menelpon dokter Zhang ?. Tidak, itu bukan ide yang bagus. Apa yang harus kulakuan ?. Membalikkan tubuhku kekiri lalu memejamkan kedua mataku. Kupikir aku harus beristirahat. Semua ini sungguh menguras energiku.

.

.

.

Kepalaku bergerak juga menyamankan diriku lalu mengeratkan selimut ketika dingin tiba-tiba menyentuh kulitku.

Tunggu. Selimut ?

Aku langsung mendudukan tubuhku ketika wangi seseorang tercium oleh indra penciumanku. Chanyeol ?. Aku bahkan sudah tidak memakai mantel creamku lagi dan aku yakin Chanyeol yang melepaskannya.

"Chanyeol.."

Tidak ada sahutan. Jam dinding menunjukan waktu jam 11 malam. Menyibak selimutku lalu segera membawa langkahku menuju kamar mandi. Tidak ada, namun aku bertaruh dia baru saja mandi. Terlihat dari titik-titik air disekitar jacuzzi, tanda bahwa baru saja selesai digunakan. Tapi dimana dia ?

Kakiku kini berjalan keluar kamar, lalu menuruni tangga dengan terburu-buru. Penthouse sedikit gelap, hanya temaram dari lampu-lampu yang sengaja khusus dinyalakan hanya untuk malam hari.

"Chanyeol.." panggilku sekali lagi.

Tuhan dimana dia ?. Hatiku mengucap syukur ketika melihat lampu diruang kerjanya masih menyala dari celah pintu yang sedikit terbuka itu. Menghembuskan napasku, mengumpulkan keberanianku pada setiap langkah kakiku yang berjalan memasuki ruang kerjanya. Perlahan tanganku mendorong pintu itu. Terlihat Chanyeol masih dengan bathrobe biru gelapnya berdiri jauh didepanku. Keningku mengeryit ketika melihat Chanyeol tengah memasukkan obat begitu banyak lalu segera meminum air dari gelas ditangan kanannya. Mendudukan dirinya dikursi kerja dengan memejamkan matanya setelah sebelumnya menghembuskan napasnya penuh lelah.

"Chanyeol.." panggilku.

Kedua phoenixnya langsung terbuka, secepat tangannya yang menyingkirkan botol juga sebuah jarum suntik di atas meja.

Apa ? Jarum suntik ?.

"Chanyeol apa itu ?" Tanyaku.

Tubuhku semakin mendekat. Tanganya dengan tergesa-gesa membuka laci disamping kanan lalu memasukkannya kedalam sana.

"Chanyeol ?"

Kini aku benar-benar telah didepannya. Pandangannya beralih kesamping, menatap kedepan padaku.

"Baekhyun, kau bangun ?"

"Chanyeol jawab pertanyaanku. Kenapa kau menyimpan jarum suntik ?"

Chanyeol menggeleng lalu menekan pangkal hidungnya.

"Obat" jawabnya.

Huh ?

"Obat ?. Kau sakit ? Obat seperti apa sampai kau menggunakan jarum suntik ?"

"Baekhyun.." lirihnya.

Perlahan aku menaiki tubuhnya yang terduduk diatas kursi. Chanyeol membuat ekspresi terkejut ketika aku melakukannya. Tapi siapa yang peduli ?.

"Baekhyun apa yang kaulakukan ?"

Setelah tubuhku benar-benar merasa nyaman diatas pangkuannya, tanganku kubawa untuk menyentuh kedua bahunya. Phoenixnya sarat akan kebingungan. Berbeda dengan netraku yang kini begitu bahagia bisa memandang kedua irisnya sedekat ini kembali.

"Aku mohon.. jangan hindari aku" ucapku.

Kedua mataku kembali memanas bersiap untuk meledak kembali.

"Dear.. dear.. hey don't, please don't cry.." ucapnya sambil membawa kedua tangannya untuk menangkup pipiku.

"Aku merindukanmu" cicitku.

"Oh dear.."

Begitu hangat ketika lengannya memelukku. Aku menyenderkan kepalaku didadanya.

"Aku minta maaf. Aku hanya merasa telah merusak masa depanmu"

"Apa ?", menarik tubuhku kembali dan menatapnya tidak mengerti.

Apa maksud ucapannya ?

"Aku merusak masa depanmu" ulangnya.

"Chanyeol, kau masa depanku. Apa yang kau katakan"

"Seharusnya ini menjadi tahun pertamamu sebagai mahasiswa Universitas S tapi aku merusaknya dengan membuatmu hamil. I ran out everything"

Aku tercengang ditempatku. Jangan katakan bahwa ini adalah kekhawatiran Chanyeol selama ini.

"Astaga Chanyeol.. apakah ini alasan kau menghindariku beberapa hari ini ?"

"Aku tahu Baek. Kau begitu menginginkan untuk menjadi mahasiswa disana. Tapi aku hanya mengacaukannya dengan membuatmu hamil"

"Chanyeol, berhenti mengatakan seakan-akan ini kesalahanmu karena membuatku hamil" ucapku.

"Faktanya benar" , mendecih atas jawabannya sendiri.

"Apakah kau pikir Universitas S begitu penting untukku ?"

Alisnya menukik sedang keningnya berkerut.

"Of course. Kau tidak akan tidur sampai menjelang pagi karena belajar jika tidak untuk bisa masuk ke Universitas S. Aku tahu itu dengan benar"

"Baiklah itu benar. Aku memang pria penuh ambisi untuk bisa menjadi mahasiswa disana. Tapi sekarang berbeda. Aku tahu bahwa kau lebih berharga dari hal lain didunia ini. Jika aku memang berhasrat pada Universitas S, aku tidak akan berhenti minum pil dari bibi Yoon atas suruhanmu"

Matanya melebar, terkejut.

"Kau tahu ?"

"Aku tahu. Aku tahu jika kau menyuruh bibi Yoon memberikan pil padaku setiap hari tanpa sepengatahuanku" ucapku.

"Sejak kapan kau mengetahuinya ?. Tidak, itu tidak penting. Kenapa kau tidak memberitahuku ?"

"Aku hanya takut jika kita akan bertengkar lagi"

"Astaga Baek"

"Aku tahu aku salah. Maafkan aku"

"Kau tahu Baekhyun. Kau tahu bahwa itu akan mencegahmu untuk hamil. Tapi kau berhenti meminumnya, juga tidak memberitahuku"

Aku mengeryit atas ucapannya.

"Chanyeol, kau membencinya ?" Ucapku bersamaan dengan tangan kananku yang kini berada di atas perutku.

"Apa ?"

Airmata kembali mengumpul dibawah mataku.

"Kau menghindariku Chanyeol. Kau membenci bayi ini. Aku kebingungan, aku membutuhkanmu. Tapi kau menghindariku. Aku tidak mengerti Chanyeol.. aku tidak mengerti" , tangisku pecah, emosiku yang selama ini kutahan kini bertebaran.

"Aku peduli padamu Baekhyun. Aku peduli sehingga aku melakukan itu semata-mata untukmu. Untuk kerja kerasmu belajar selama ini. Aku tidak ingin merusak masa depanmu !"

"Tapi kau masa depanku Chan !. Aku memilihmu sehingga aku berhenti mengonsumsi obat-obat itu"

"Baekhyun.."

"Aku tidak tahu. Tapi kini aku merasa bahwa kalian segalanya, duniaku saat ini. Aku tidak bisa berpikir yang lain"

"Tapi,Baekhyun ini juga begitu tiba-tiba untukku. Aku tidak membencinya sungguh. Dia darah dagingku sendiri. Aku hanya belum.. aku belum"

Kedua tanganku menangkup kedua pipinya.

"Chanyeol.."

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran, bibirnya berulang kali merapat lalu terbuka kembali.

"Kita akan belajar bersama-sama" ucapku ketika pandangannya masih penuh kebingungan.

"Aku takut bagaimana nanti aku akan menjadi ayah. Aku takut jika aku tidak bisa menjadi ayah yang baik. Aku-"

"Ssh..shh.. Chanyeol, kau bisa. Aku tahu kau bisa. Kau akan menjadi ayah yang baik Chanyeol. Dan bayi ini.. dia akan memiliki ayah yang begitu hebat. Mencintainya sebagaimana ayahnya mencintai papanya"

"Papa ?" Ulangnya.

Aku terkekeh lirih.

"Itu.. hanya terlintas di kepalaku. Tidakkah kau bahagia ketika mendengar aku sedang mengandung ?"

Alisnya berkerut.

"Rumit. Tapi aku bahagia" ucapnya lalu setelahnya bibirku segera terdorong kedepan menekan bibir tebalnya.

Aku begitu merindukannya. Senyuman terkembang diantara ciuman kami ketika tangannya bergerak digaris pinggangku. Aku mendesah ketika bibirnya melepaskanku secara tiba-tiba.

"Baekhyun "

"Hm ?"

"Bagaimana dengan kuliahmu ?"

Memutar mataku. Apakah itu benar-benar penting untuknya ?.

"Ahh" lenguhku ketika paha Chanyeol bergeser ketengah menekan penisku dari luar.

"Mata Byun.. mata. Sekali lagi, bagaimana dengan kuliahmu ?"

"Mungkin tahun depan ? Atau tahun berikutnya ? Atau haruskah aku mengambil cuti ?"

"Baek-mmph"

Bibirku kembali membungkamnya dengan ciuman. Tidak lama karena setelah itu aku melepaskannya.

"Bisakah kita tidak membicarakan hal lain ?. Aku merindukanmu~"

"Baek uhmm"

"Hm ?"

"Hati-hati dengan bokongmu. Apakah kau sedang menggodaku ?"

"Aku tahu seorang Park Chanyeol cukup pintar untuk mengerti apa yang terjadi saat ini. Tidakkah begitu ?", tidak lupa dengan kedipan oleh mata kananku.

Chanyeol tersenyum tipis. Lalu pekikan keluar dari mulutku ketika tiba-tiba kedua tangannya meletakkan tubuhku diatas meja.

"Karena kau tidak ingin kita membicarakan hal lain, jadi, haruskah aku membuatmu berhenti bicara ?"

.

.

.

.

.

I'm back ! thankyou for all who favorite and followed this story.

DON'T FORGET TO REVIEW THIS CHAPTER ! see u !