GOOD MORNING, VAMPIRE

Chapter 10 : Foundation Part 2

Balasan Review

Namikazexo : Ok ok dihusahakan ya, tapi kalau boleh saran dong, hehe.

Mysterioues Girl : Hehehe, masih lama. Tunggu biar Natsu cinta sama Lucy dulu, dan yah . . . begitulah. Iya memang soalnya author lagi nonton dramanya, hehe.

Fic of Delusion : Kan memang intinya ada disitu. Yup, tebakan anda benar. Masak? Padahal menurutku kejam Natsu di A Voice to You hlo.

Nabilla Damayanti : Makasih, ikuti terus ya

Akayuki1479 : Makasih pujiannya. Coba tebak? Siapa yang setara dengan Zeref? Tentunya semua pertanyaan itu akan dijawab hanya di chapter selanjutnya dan selanjutnya.

Hiruna Mikk03 : Dia kan pangeran sadist, nanti juga dia punya rasa simpati. Kenapa nggak ditendang? Karena hidpunya Lucy dipertaruhkan, panti asuhannya. Iya, tapi maaf karena kali ini telat

Aerillyneel72 : Yah, kan memang sengaja dibuat gitu. Chapter kedepan bahkan ia bisa lebih kejam setelah tahu kalau Lucy permaisuri sih. Ya, nanti dia akan jadi cantik setelah yah . . . baca saja pokoknya

Kotoran : okey okey, arigatone

Lusy92 : Belum, nanti juga dia tahu kok. Hmm, entahlah author masih memikirkannya juga.

Guest1 : tentu saja, kan genrenya mysteri

Alifahgm : Kalau nggak begitu nggak seru kan. Hiks, jangan menangis. Kan author ikut sedih

NataliaXaveria : Jude benci karena suatu alasan. Menurut dia menghilangnya putrinya adalah kesalahan Natsu. Sedangkan Natsu sendiri nggak tahu kalau Lui itu adalah Lucy putri Jude Heartfilia.

Hannah : Hmm mengetahui Lucy perempuan tentu setelah ia menggigit Lucy. Yah, karena entah kenapa aku sulit mempercepat alurnya dan kekurangan ide juga. maaf ya.

Guest2 : siap

I am back : Yah, sabar ya.

Allen Warker : Dia kan sebenarnya nggak benci sama Lucy Cuma gara-gara Lucy dekat sama Sting dan orang special Sting jadi dia pengen mematahkan kalau cinta dan persahabatan itu hal absurd. Ia juga kepengen balas Sting kan. Iya nanti dia nyesel. Dia akan cinta mati, diliputi rasa bersalah yang teramat sangat pokoknya. Begini, karena menurut Natsu mereka orang yang berbeda. Sekedar pemberitahuan, author update tiap minggu loh. Tentu Happy ending.

.

.

.

Rate : T

Genre : Drama, Fantasy, Mystery, Hurt/Comfort, little Comedy

Pair : [Natsu D, Lucy H] Sting E, Lisanna S

.

.

Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei

.

.

.

"Daripada menatapku seperti itu, lebih baik bersujudlah padaku maka aku akan mengampunimu malam ini" perintah Natsu

Mata Lucy memanas. Ia sudah direndahkan sampai titik paling rendah. Natsu benar-benar menjatuhkan harga dirinya. Ditatapnya pemuda itu dengan penuh amarah.

"Aku tidak bisa menghentikan amarahku saat ini. Penyesalan hanya akan datang setelah aku memutuskan. Aku tidak akan pernah berfikir untuk melepaskan tatapan dingin ini" kata Lucy dalam hati

"Tidak masalah jika kau memaksaku mengenakan topeng. Topeng yang kau berikan padaku. Topeng yang suatu saat akan kulempar kembali padamu, mengembalikan rasa sakit atas penghinaan yang kau berikan padaku" kata Lucy dalam hati

"Dia menatapku, dengan mata bulatnya. Dengan penuh rasa kesal dan kebencian. Aku sudah menanam duri dihatinya. Duri yang akan mengunus seseorang yang ia sebut sebagai sahabat. Akan aku tunjukkan bahwa persahabatan, cinta, itu semua absurd dan kebohongan belaka!" kata Natsu dalam hati

"Aku benci seseorang yang naif, percaya bahwa cinta akan membuatmu bahagia. Lihatlah! Apa kau bahagia sekarang?" tanya Natsu dalam hati

...

Gray, Loki dan Gajeel keluar dari mobil. Mereka mengenakan sarung tangan dan mendekat ke belakang Lucy. Sementara Natsu masih menantang Lucy dengan pandangannya, tiba-tiba saja Gray mencengkeram pundak Lucy dari belakang dan memaksanya untuk berlutut. Otomatis saja Lucy tersentak, ia memutar bola matanya dan berusaha berdiri namun Loki ikut mencengkeram pundaknya yang lain, seakan tidak mengizinkannya untuk sekedar beranjak.

"Diamlah, maka ini akan cepat selesai" kata Gray

"Lepaskan aku, brengsek!" balas Lucy

"Hoh, ternyata kau masih punya tenaga untuk mengumpat. Apa ini belum memuaskan bagimu?" tanya Natsu

"Lepaskan aku" kata Lucy dengan penuh penekanan serta mata penuh amarah

Natsu menyeringai sejenak kemudian ikut berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada Lucy. Lucy balas menatapnya dan tidak berniat memundurkan wajahnya yang kini hanya berjarak beberapa centi dari wajah Natsu.

"Kau sangat berani. Aku salut padamu" ungkap Natsu

"Kau fikir aku takut padamu? Jangan mimpi tuan!" balas Lucy

Natsu menyipitkan matanya, membuat atmosfer disekitar berubah. Dapat Lucy rasakan tekanan udara menjadi berat dan bulu kuduknya hampir berdiri. Dingin, mengerikan, itulah apa yang dilihatnya dari mata Natsu sekarang. Tak hanya itu, mata itu bahkan memiliki seribu efek yang membuatnya seakan terintimidasi, seolah mengatakan tatap mataku atau mati ditanganku. Dan inilah sisi Natsu yang ia akui sangat ia takuti. Badannya sedikit gemetar karenanya. Gray merasakan getaran dipundak yang sedang ia cengkeram, begitu melihat Natsu ia langsung meneguk ludah. Jujur saja, jika ia salah langkah disini kemungkinan ia juga akan kena. Diliriknya Loki yang sedang –

TERDIAM

Bahkan setetes peluh sudah mengalir di dahi pemuda oranye itu. Ternyata Loki juga sedang ketakutan. Gray menghela nafas pelan dan menunggu apa yang akan terjadi.

Melihat reaksi Lucy, Natsu menyeringai.

"Kau ketakutan sekarang?" tanya Natsu dengan nada penuh mengintimidasi

"Su-dhah kubilang aku tidak takut" jawab Lucy dengan sedikit terbata

"Ck, Kau tahu apa yang paling menakutkan dari sekedar perasaan takut?" tanya Natsu

"Ketahuan kalau kau sebenarnya takut" lanjut Natsu yang membuat Lucy menegang

Natsu tersenyum meremehkan dan berdiri. Ia pergi, berlalu dari arena circuit menuju mobil Lamborghini Veneno miliknya kemudian menancap gas begitu saja. Menghiraukan puluhan pasang mata yang menegang dan bertanda tanya besar.

"Natsu Dragneel melepaskan mangsanya begitu saja?"

Gray dan Loki melepaskan Lucy dengan sangat kasar, hingga membuatnya hampir tersungkur kalau ia tidak segera menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan segala sisa tenaga. Para anggota dan penonton circuit masih mematung ditempat. Ini jarang sekali terjadi, biasanya Natsu akan menyiksa mangsanya sampai titik darah penghabisan. Tapi kali ini? kenapa mereka merasa sepertinya Natsu bersikap lunak pada bocah pirang itu? masih dengan hipotesa masing-masing, teriakan Erza menggelegar.

"BUBAR!" teriak Erza

Semua langsung sadar, mereka memandang Erza yang dihadiahi pelototan dan aura Titania. Tak mau ambil resiko dengan lepas dari mulut harimau masuk ke lubang buaya, lebih baik mereka menghindar. Ya, benar saja. Tak butuh waktu 15 menit semua bubar dan arena circuit sudah sepi. Kini tinggal Erza, Jellal, Juvia, Levy, Yukino dan Rogue. Yukino langsung mendekati Lucy.

"Lucy, kau baik-baik saja?" tanya Yukino

"Ya, sangat baik Yukino" jawab Lucy datar dengan mata menerawang, otaknya masih terpaku dengan tatapan mengerikan Natsu tadi

Dengan ragu Yukino mengulurkan tangan, hendak menyentuh pundak Lucy. Namun belum sempat tangannya menyentuh pundak sang sahabat, Lucy sudah pingsan. Semua panik dan mengerumuninya.

"Lucy, bangun!" teriak Yukino

"Hei, Lucy!" teriak Rogue

"Hei, bangun" teriak Levy

...

Kediaman utama keluarga Dragneel. Natsu masuk ke dalam kamarnya dengan sangat tergesa-gesa. Lagi, ini terjadi lagi. Tepat pukul 10.00 PM. Dirobeknya sweater abu-abu dan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan. Ia masuk kamar mandi dengan cara menendang pintu. Nafasnya tersengal-sengal, mata merahnya berubah-ubah. Natsu membuka keran shower, mengguyur tubuhnya yang panas dan dadanya yang mulai sesak.

"Sial!" umpat Natsu

Rasa sesak itu semakin menjadi-jadi. Menggerogoti dan menarik semua oksigen yang ada di paru-parunya. Tak hanya itu, panas yang semula hanya ia rasakan di dada mulai menjalar dengan sepersekian detik, cepat, sangat cepat. Mengalirkan panas yang rasanya seperti lelehan lahar dan meleleh. Keringat dinginpun menetes, membasahi wajah tampannya. Natsu menegang, ia berpegangan pada dinding dan memejamkan mata.

1 detik

2 detik

3 detik

Jari jemari Natsu mulai bergerak. Mengetuk-ngetuk dinding, melemaskan satu persatu sendi jemarinya. Ia mengangkat wajah, ditatapnya pantulan dirinya di cermin.

"Saatnya berburu" kata Natsu

Pintu kamar Natsu terbuka lebar, mengizinkan sang angin malam untuk menerobos masuk. Macao masuk ke kamar sang tuan muda dan terkejut, ia terlambat. Natsu sudah lolos. Dengan segera ia memerintahkan anak buahnya mencari Natsu.

"Siaga 1! Cari tuan muda!" teriak Macao

Para bodyguard kediaman Dragneel melesat pergi. Melompati rumah-rumah dan pepohonan yang ada. Mata mereka merah, menerawang di setiap sudut kota, gang dan setiap tempat yang ada.

Sementara yang dicari, tengah berjalan dengan santainya di jalanan Fiore. Ia mengenakan jaket hoodie berwarna hitam. Bibir manisnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum iblis.

"Lama sekali mereka menemukanku" kata Natsu

"Padahal akan seru kalau bisa menggorok leher dan melenyapkan mereka" lanjut Natsu, menanti para pengejarnya

Tiba-tiba saja ia mencium sesuatu. Mata merah kelamnya berbinar, ini bukan aroma biasa.

"Apa ini? sangat manis dan harum?" tanya Natsu

Natsu segera berlari, mengikuti bau manis nan harum yang dicium oleh panca inderanya. Ia melompat-lompat dan tanpa sadar sudah sampai disebuah rumah besar. Tanpa pikir panjang ia menerjang keamanan dan menyusup ke kediaman tersebut.

Di dalam rumah besar yang sebenarnya merupakan kediaman Raja dan Ratu Vampire yang sedang menjabat, Zeref Dragneel dan Mavis Dragneel tengah duduk berhadapan di ruang utama. Mavis memegang pisau yang baru saja menyayat pergelangan tangannya.

"Dia sudah datang" kata Zeref

"Dia mendekat" kata Mavis

BRAK

Pintu didobrak, para bodyguard di kediaman Raja Vampire menerobos masuk dan mengepung Natsu. Mavis tersenyum tak kala rencananya untuk membawa Natsu ke hadapannya berhasil. Zeref mengedikkan pandangannya, meminta semua menyingkir dan meninggalkan Natsu bersama mereka. Dengan sangat tidak rela para bodyguard itu mundur.

"Bau ini rupanya" kata Natsu seraya mendekat

"Ck, Kau mau memberikan darahmu padaku atau kau sengaja memancingku?" tanya Natsu

"Untuk apa aku menjawab kalau kau sudah tahu, ne?" jawab Mavis

Natsu semakin mendekat dan mendekat, ia bahkan tak sadar kalau Zeref sudah berada di belakangnya dan memukul leher belakangnya pelan. Natsu menoleh, sebelum ia sempat mengeluarkan sumpah serapahnya, kesadarannya sudah terenggut.

BRUK

Natsu pingsan. Zeref menghela nafas lega karena dengan pancingan Mavis, ia bisa membuat Natsu tidak membantai para gadis tidak berdosa setidaknya untuk malam ini.

"Kau berlebihan sayang" keluh Mavis sembari mengusap pergelangan tangannya, dan ajaibnya goresan yang ia buat sudah menutup.

"Kalau tidak begini kau juga yang akan jadi sasaran" jawab Zeref

"Natsu tidak akan melakukannya padaku" balas Mavis

Zeref hanya menghela nafas, ia memanggil sang kepala pelayan, Invel untuk membawa Natsu ke kamarnya. Dengan segala hormat, Invel menggendong Natsu, ia membungkuk pada sang raja vampire dan pergi. Sepeninggalan Invel, Zeref lagi-lagi menghela nafas.

Di kamarnya, Invel segera menyuntikkan vaksin. Ditatapnya Natsu dengan pandangan sulit diartikan, entah apa yang difikirkannya hingga membuat raut wajahnya berubah. Kerutan di dahinya bertambah, perlahan kedua tangannya mengepal.

"Akan lebih baik anda tidak menemukan nona, Natsu-sama" gumam Invel

"Saya bahkan tidak tahu apa yang anda rencanakan pada nona jika menemukannya" lanjut Invel

"Sebetapa bencipun anda pada dirinya, pada kenyataannya nona pasti akan tetap mencintai anda. Meski mungkin ia lupa pada anda, hatinya tetap akan berakhir sama. Takdir memang sangat kejam. Mempertemukan kalian dengan cara manis dan memisahkan kalian dengan kepahitan yang tiada tara" kata Invel kemudian

Dalam tidurnya, lagi-lagi Natsu bermimpi. Kali ini ia memimpikan pertemuan pertamanya dengan Lui.

Natsu's Dream

Natsu kecil menyelinap keluar dari mobil hitam yang membawanya ke sebuah rumah besar dengan pagar yang menjulang tinggi. Tubuh kecilnya mempermudah dirinya untuk memasuki sebuah lubang didinding dibalik semak-semak. Dengan segera ia melarikan diri ke hutan, masa bodoh dengan permaisuri atau apalah itu yang katanya sudah menunggunya di dalam. Ia tidak akan menemuinya, tidak akan pernah!

Dalam larinya, Natsu sesekali menoleh ke belakang, berharap tidak akan ada yang mengejarnya. Ia berhenti, menetralkan nafasnya yang terengah-engah, ini kali pertama dalam hidupnya ia melakukannya. Berlari bukan hal yang mudah terlebih di dalam hutan dengan tanah yang tidak rata dan terkesan menanjak.

"Sial! Kalau tidak karena permaisuri itu aku tidak harus berlari seperti ini. Seenaknya saja mendeklarasikan mau menemuiku. Tch! Dia pikir aku mau? Jangan mimpi!" kata Natsu

Ditendangnya dedaunan di sekitarnya, menyalurkan kekesalan yang selalu muncul dan memenuhi dadanya setiap kata permaisuri disebut.

"Persetan dengan permaisuri! Dengan tidak tahu dirinya ia tidur di rumah bagus dan hangat sedangkan ibuku harus berada di tanah yang dingin" kata Natsu kemudian mengeluarkan sebuah surat dari saku celananya.

Dibukanya lagi surat yang tertanda dari permaisuri, kertas putih dengan aroma apel, tulisan tangan yang rapi, dan segala kalimat yang ada disana.

Dibalik jendela aku berdiam diri

Mendengar bisikan-bisikan dari suatu tempat

Bisa kurasakan suara itu menggema di gendang telingaku

Di bawah langit biru ini, aku benar-benar merasakannya

Angin yang menerpaku berlalu begitu saja

Melewatiku di saat matahari tenggelam

Dan akhirnya menghilang dalam bayangan

Seandainya aku punya kesempatan

Aku ingin mengatakan bolehkah aku menyebut namamu?

Aku berada disini hingga bintang terlihat

Di depan jendela dingin yang tetap membisu

Seperti waktu jeda

Hari berganti, musim terus berganti

Aku datang ke tempai ini, di balik jendela ini

Dengan secuil harapan manis

Bisakah aku bertemu denganmu?

Dada Natsu tiba-tiba menjadi sesak, seolah paru-parunya tersumbat oleh bongkahan batu yang sangat besar. Ini bukan simpati kan? Ini bukan perasaan iba kan? Natsu meremas surat itu dan membuangnya sembarang. Ia kembali melangkah menuju dataran yang lebih tinggi.

Kini Natsu kecil sampai di atas sebuah bukit setelah berjalan menelusuri hutan bertebing. Ini sudah mulai siang, ia sudah berjalan cukup lama. Akhirnya ia bersandar di sebuah pohon besar, memejamkan mata dan merasakan udara sekitar. Merilekskan otot-otot kakinya dan punggungnya yang pegal-pegal. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil dan suara gemeresak di dedaunan yang ia tebak adalah batu kecil yang sedang dilemparkan.

"Datang, tidak datang. Datang, tidak datang. Datang, tidak datang. Datang, tidak datang. Datang, tidak datang. Datang, tidak datang. Datang, tidak datang" kata seorang anak

Natsu yang semula menikmati suasana jadi terusik, pasalnya suara anak itu meski kecil namun kalimatnya yang terus diulang membuatnya jengkel. Terlebih batu kecil itu sudah beberapa kali hampir mengenai kepalanya. Sebenarnya ke arah mana anak itu melempar? Natsu menghela nafas kasar dan mencoba memejamkan mata lagi namun darahnya naik ke ubun-ubun tak kala . . .

PLUK

Sebuah batu berhasil mendarat di kepala pinknya. Ia mengambil batu kecil itu dan bangkit. Bibir manisnya komat-kamit menyumpahi siapa orang yang berani mencari gara-gara dengan Natsu Dragneel. Didekatinya anak yang memiliki rambut pirang sebahu.

"Hei, kemana matamu? Huh? Kau tak punya mata? kenapa kau melempar batu asal? Kau sengaja mau mencelakaiku?" cerca Natsu panjang lebar

Anak kecil itu menoleh, memperlihatkan kedua belah bola mata caramel, hidung mancung, bibir mungil berwarna peach dan tampang innocent. Membuat seorang Natsu Dragneel kecil diam seketika.

"Eh? Siapa?" tanya gadis kecil

Natsu masih diam, matanya masih terpaku dengan bola mata itu, warna caramel yang menenangkan. Dengan menatapnya saja entah kenapa membuat hatinya menghangat, kehangatan yang sama ketika ia bersama sang ibunda.

"Siapa ya?" tanya gadis kecil lagi

"Eh?" Natsu baru sadar

"Aku tanya siap-" tanya gadis kecil yang langsung diinterupsi oleh Natsu

"Harusnya aku yang tanya siapa kau hingga berani melempar batu ini padaku!" tanya Natsu

"Aku? Aku Lui" jawab gadis kecil bernama Lui

"Terserah siapa namumu. Yang jelas kenapa kau melempar batu ini? huh?" tanya Natsu dengan nada tinggi sambil mengacungkan batu ditangannya

"Kebiasaan" jawab Lui enteng

"Apa?" Natsu shock, ia bernada tinggi loh, perlu diulangi? Ia bernada tinggi? Bisa-bisanya gadis dihadapannya menjawab seenteng itu ditambah dengan raut seperti itu?

"Aku tidak tahu kalau ada orang disana. Jadi bukan sepenuhnya salahku kan?" balas Lui

"Yak! Kau tidak tahu siapa aku?" tanya Natsu menyombongkan diri

"Aku tidak tahu karena kau tidak memberi tahu" jawab Lui yang sukses membuat urat-urat kemarahan menyembul di dahi sang Dragneel muda

"KAU!" tuding Natsu dengan telunjuknya, namun alangkah terkejutnya ia mendapati reaksi Lui. Tiba-tiba saja Lui menarik tangannya yang menelunjuk dan menyeretnya ke semak-semak.

"Hei apph" tanya Natsu yang lansung dibungkam oleh Lui

"Ssst, diamlah" bisik Lui dengan suara sangat kecil

"Hmmpt" Natsu mencengkeram tangan Lui, berusaha menyingkirkan tangan mungil itu dari mulutnya

"Aku bilang diamlah" bisik Lui lagi

"Singkirkan tangan kotormu itu!" bentak Natsu dalam hati

Lui seolah tidak memperdulikan Natsu yang terus-terusan mencengkeram tangan mungilnya. Ia akui sakit, tapi jika ia berteriak maka ia akan ketahuan. Sudah bermenit-menit melawan dan tak ada tanda-tanda akan dilepaskan, Natsu akhirnya mengalah. Diamatinya Lui dengan tajam.

Detik terus berlanjut, angin berhemus, meniup dedaunan, melewati makhluk hidup bahkan benda mati. Dalam jarak sedekat ini, bisa Natsu cium aroma vanilla dan strawberry dari tubuh Lui. Diamatinya Lui yang sangat serius bersembunyi, gadis kecil itu sesekali mengintip dan menundukkan kepala. Bibir peachnya tak henti-hentinya tersenyum karena alasan yang Natsu tidak ketahui. Dahi Natsu mengernyit.

"Mereka sedang menjauh, cepat sekali" gumam Lui

"Siapa yang kau maksud menjauh? Kau yang harusnya menjauh dariku!" balas Natsu dalam hati

"Salah satu dari mereka berbalik" kata Lui spontan menolehkan wajahnya pada Natsu, yang otomatis jaraknya sangat dekat.

Semburat merah menghiasi wajah Lui, ia segera menoleh ke arah lain dan tetap membungkam mulut Natsu. Natsu terdiam sejenak, ini sudah kali kedua ia seperti ini. Padahal belum ada satu jam ia bertemu dengan Lui, tapi gadis kecil itu pandai sekali membuatnya merasa menjadi aneh. Ia mengamati Lui baik-baik, dari rambut emasnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan semuanya. Masih dalam pengamatannya, tiba-tiba . . .

"Hik" Natsu cegukan

Lui melotot, ia menoleh dan memelototi Natsu. Sementara yang dipelototi tentu tidak suka. Ia balas menatap seolah mengatakan 'apa?'. Namun Lui tak hilang akal, ia menambah jumlah dekapan di mulut Natsu dengan tangan yang satunya. Natsu menolak, ia menjauhkan tangan Lui. Alhasil mereka berdebat, tarik menarik hingga . . .

BRUK

Lui jatuh menimpa Natsu. Mata mereka bertemu. Mereka tetap seperti itu untuk beberapa detik. Hingga Natsu tiba-tiba membalik keadaan dan berada di atas Lui. Ia menatap Lui sekilas dan berdiri dengan sok gagahnya. Namun ketika matanya menangkap sosok tak jauh dari tempatnya, seorang pria paruh baya berpakaian pelayan, seketika ia kembali berjongkok.

Lui tersenyum melihatnya. Merasa ada yang menertawakannya, Natsu menoleh.

"Kau menertawakanku?" tanya Natsu tanpa suara

"Aku tidak menertawakanmu" jawab Lui tanpa suara

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Natsu dengan suara lirih

"Aku tidak tersenyum" jawab Lui lirih

"Kau pikir ini lucu?" tanya Natsu lagi

"Ya" jawab Lui dan senyumnya melebar. Ia benar-benar tak kuasa ketika melihat reaksi Natsu setelahnya. Natsu memerah, entah karena marah atau apa, tapi yang jelas bagi Lui ekspresi Natsu sangat lucu.

"Hik, hik" Natsu kembali cegukan tak kala melihat senyum Lui

Beberapa saat kemudian, keduanya sudah kembali berdiri dan memandang pemandangan dari ujung tebing.

"Berhentilah tertawa. Aku benci itu" kata Natsu ketus

"HAHAHA" tawa Lui

"Berhenti" kata Natsu

"Iya, iya. Aku akan berhenti kalau aku bisa" jawab Lui

"Berhenti atau kau akan menyesalinya" ancam Natsu

"Sudah kubilang kan" jawab Lui kemudian ia tersentak tak kala dua buah telunjuk sudah berada dikedua pinggangnya

"Tertawalah lagi, maka aku akan menyiksamu" ancam Natsu dengan suara mengerikan namun tidak selaras dengan apa yang tengah ia lakukan.

"Hehe, singkirkan tanganmu" pinta Lui mulai berkeringat dingin, ia tidak tahan digelitiki

Natsu menyeringai, ia menggelitiki Lui hingga gadis keci itu tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata. Tanpa ia sadari, Natsu ikut tertawa.

.

.

.

Ditengah tidurnya, Natsu dewasa tersenyum

.

.

.

Hari sudah senja, Natsu dan Lui bersiap berpisah. Mereka berdua bersalaman sejenak dan saling menatap dengan wajah penuh senyum.

"Ingat, namaku Natsu" kata Natsu

"Hmm" angguk Lui

"Aku akan menemuimu lagi" kata Natsu yang membuat Lui terperangah

"Kenapa?" tanya Lui

"Karena kau adalah temanku. Tidak, maksudku mulai sekarang kita berteman" jawab Natsu

Lui kembali tersenyum. Natsu balas tersenyum dengan getir, bukan karena ia tidak menyukai senyum Lui, bukan.

"Ibu, bolehkah aku membuka hatiku? Bahkan jika aku tetap menutupnya, seseorang dihadapanku sudah membukanya. Ibu, bolehlah aku tersenyum seperti sekarang ini? bolehkah aku tersenyum disaat ibu disana menangis karena ketidakadilan? Bolehkah aku merasakan bahagia barang untuk sejenak?" tanya Natsu dalam hati

"Bisakah aku bersama seseorang? apa ini benar?" tanya Natsu

Mereka berpisah. Natsu menjauh dan Lui yang tetap berada ditempatnya. Lui melambaikan tangan dengan penuh semangat, namun seiring menghilangnya Natsu, ia meneteskan air mata. Dibungkamnya mulutnya guna menahan isakan yang keluar.

"Maaf, maafkan aku" kata Lui

"Natsu" kata Lui kemudian

Lui terisak, liquid bening tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya. Ia sudah lama menanti ini. Sejak pertama kali ia dikenalkan huruf, kata pertama yang diajarkan adalah Natsu. Menulis namanya hampir disetiap buku dan menyebut namanya hampir disetiap harinya. Ia penasaran bagaimana rupa Natsu itu, seseorang yang merupakan jodohnya kelak. Seseorang yang akan bersanding dengannya sebagai pemimpin bangsa vampire. Berawal dari rasa penasaran yang semakin hari semakin berkembang, hingga ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengirim surat. Kemudian terus kecewa karena tidak adanya balasan, terus kecewa karena penolakan untuk bertemu, kecewa karena ia tahu sebenarnya ia tidak diinginkan.

"Maaf, karena aku akan terus berbohong, Natsu" isak Lui

End of Natsu's Dream

Kediaman Eucliffe. Sting pulang dengan mambanting setir, menimbulkan suara decitan antara ban dan aspal. Ia bahkan membuka dan menutup pintu rumah dengan cara dibanting, membuat dinding ikut bergetar. Clara Eucliffe dan Weisslogia Eucliffe yang kebetulan belum tidur sampai terlonjak kaget. Mereka buru-buru pergi ke sumber suara. Tepat di tangga, keduanya melihat sang putra dengan segala raut amarahnya.

"Sting, apa yang terjadi?" tanya Clara

"Urusai" jawab Sting sinis, persis seperti seorang musuh bicara pada musuhnya

Clara tersentak, ini bukan seperti Sting-nya. Karena Sting Eucliffe, putranya tidak pernah marah dan bicara layaknya musuh pada dirinya yang notabane ibu kandungnya. Weisslogia mengerutkan dahi, ada yang tidak beres dengan Sting. Diikutinya sang putra ke kamar, namun seolah tahu maksud sang ayah, Sting membanting pintu dan menguncinya.

"Sting, buka pintunya. Ayah mau bicara" kata Weisslogia namun tak ada jawaban. Weisslogia menghela nafas, ia berlalu dan menemui istrinya. Menenangkan dan menjelaskan kalau Sting dalam masa pertumbuhan jadi wajar kalau moodnya mudah berubah.

Didalam kamar, Sting mencengkeram kepalanya dan mengacak-acak surai spike blondenya. Ia frustasi, bukan semakin dekat dengan Lucy, tapi ia malah semakin jauh.

"Hancurkan"

"Sial!" umpat Sting dan kembali mengacak-acak kamarnya.

"Bunuh Natsu"

"Bunuh dia dan nikmati bagaimana sensasinya"

"Diam" kata Sting

"Bunuh dan dapatkan permaisuri"

"Diam" kata Sting

"Bunuh atau kau akan melihat permaisuri jatuh ke pelukannya"

"Tidak bisa dibiarkan" jawab Sting

"Bunuh"

"Bunuh" kata Sting kemudian

"Ya, bunuh" kata Sting lagi

Under Roof Apartemen. Rogue menggendong Lucy menuju kamarnya. Yukino, Erza, Juvia, Levy dan Jellal mengekor dari belakang. Setelah sampai dalam, Erza langsung memerintahkan Rogue dan Jellal memandikan Lucy yang spontan ditolak mentah-mentah oleh Keduanya dan Yukino.

"Tidak" jawab Rogue dan Jellal bersamaan

"Tidak Erza, jangan mereka. Biarkan aku saja" kata Yukino

"Kenapa harus kau, Yukino?" tanya Erza

"Itu . . . karena, etto. Maksudku" jawab Yukino berbelit

"Lucy perempuan" kata Jellal santai yang langsung dipelototi Yukino

Erza terkejut. Ia melirik Lucy yang masih digendongan Rogue, mengigat wajah Lucy baik-baik namun kepalanya tidak menangkap fakta yang menunjukkan kalau Lucy perempuan.

"Aku tidak percaya, dia sama sekali tidak terlihat seperti . . ." kata Erza yang langsung diinterupsi oleh Rogue

"Jadi kau mau kami melihat tubuh seorang gadis?" tanya Rogue tajam

"Apa? mau kuhajar?" balas Erza

"Aku sudah berteman lama dengan Lucy, dia benar-benar perempuan. Bahkan banyak anak Sabertooth yang menggilainya kalau ia berpakaian seperti layaknya perempuan" jelas Rogue

Akhirnya para gadis yang memandikan Lucy. Sementara diluar, Jellal dan Rogue tengah bersi tegang. Awalnya keduanya hanya membahas alasan kenapa Lucy menyembunyikan fakta kalau ia perempuan. Namun lama kelamaan pembicaraan mereka berujung pada hubungan antara Lucy, Sting dan Natsu.

"Kufikir akan lebih baik jika Sting bersikap sedikit bijak dengan tidak memperhatikan Lucy. Maka Natsu tidak akan sampai senekat ini" kata Rogue bernada sinis

"Meski ia tidak memperhatikannya, pada kenyataannya Natsu tetap akan menarik Sting bagaimanapun caranya" balas Jellal

"Tch, apa mereka pikir mempermainkan seseorang adalah sesuatu yang menyenangkan? Sting dan Natsu" kata Rogue

"Jaga bicaramu. Bagaimanapun mereka tetap temanku. Natsu tidak pernah punya keinginan mempermainkan Lucy. Ia hanya korban balas dendam. Meski patut kuakui caranya terlalu kasar. Sedangkan Sting, ia hanya ingin melindungi temannya. Apa itu salah?" jawab Jellal

"Korban katamu? Dia sengaja memojokkan Lucy untuk melihat reaksi Sting. Haruskah mereka melibatkan Lucy didalam perseteruan mereka?" tanya Rogue, meski ia sendiri sadar kalau awalnya Cloning Sting yang melibatkan Lucy ke dalam jaring-jaring Natsu. hanya saja ia tidak habis pikir dengan diri asli Sting yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

"Lalu? Bisa apa kau atau aku? Apa kita berdua bisa menghentikan putaran roda takdir diantara ketiganya?" tanya Jellal

"Bahkan tanpa kau beritahu aku juga ingin menghentikannya. Karena feelingku mengatakan ini tidak akan baik" lanjut Jellal

...

Esoknya. Natsu bangun dan heran melihat pemandangan di kamarnya. Seingatnya kamarnya tidak serapi ini. Tidak ada toples atau hiasan origami. Ia segera menyingkap selimut dan pergi keluar, namun matanya membulat tak kala mendapati sang permaisuri yang sekarang menjabat berada di depan matanya.

"Mavis-san" kata Natsu tak percaya

"Sarapan dulu, Natsu-kun" sapa Mavis ramah

Kini, Natsu tengah duduk di ruang makan bersama kedua pemimpin bangsa vampire. Ia melirik sinis ke arah Zeref Dragneel yang tak lain juga merupakan pamannya.

"Pandanganmu seperti pemuda yang tengah kasmaran" kata Zeref

Natsu membanting garpu dan sendoknya di piring. Mavis tersenyum, ia memandang Zeref seolah memarahinya kemudian mengambilkan sepotong daging dan meletakkannya ke piring Natsu.

"Jangan hiraukan, makan saja dulu" kata Mavis

"Kenapa kalian membawaku ke sini?" tanya Natsu menatap Mavis sinis

"Untuk bicara, apa lagi? sekarang habiskan dulu makanmu baru kita bicara" jawab Zeref

Dengan sangat terpaksa Natsu memakan sarapannya yang dipenuhi oleh daging. Ketika ia mengunyah daging, mata Onyxnya melihat sesuatu yang tak asing. Telur mata sapi yang tersaji di piring tepat didepannya. Seketika otaknya berputar, mengingat kembali apa yang baru saja ia lakukan semalam. Telur yang mengotori seluruh tubuh bocah laki-laki berperawakan kecil. Entah kenapa timbul perasaan tidak enak di hatinya. Ia berdecak, kenapa ia malah teringat oleh bocah itu? sebenarnya sihir apa yang digunakan bocah pirang dekil itu hingga ia selalu merasakan hal yang sama setiap habis menyiksanya?

"Singkirkan telur itu!" perintah Natsu yang langsung dituruti oleh Invel

"Kau tak suka telur?" tanya Mavis

"Aku muak melihatnya" jawab Natsu

"Oh ya Natsu, kau tahu kan kalau pesta tahunan akan segera digelar akhir bulan depan?" tanya Zeref

"Aku tidak akan datang, tenang saja" jawab Natsu

"Fiuh, padahal itu kesempatan bagus bagimu" kata Zeref memulai aksinya

"Apa maksudmu kakek tua?" tanya Natsu

"Aku tidak setua itu, Natsu" gumam Zeref

"Bukankah kau sedang mencari permaisuri?" tanya Zeref

"Kenapa harus bertanya kalau kau sudah tahu?" balas Natsu

"Kurasa kau sangat kesulitan menemukannya" kata Zeref memanas-manasi

"Kalau mudah maka kau sudah lengser dari dulu, kakek tua" jawab Natsu ketus

"Dan, berhenti menyebut kata permaisuri di hadapanku" lanjut Natsu

"Eh? Itu artinya kau tidak suka dengan kehadiranku?" sela Mavis

"Mavis-san, aku tidak mengatakan itu kau" jawab Natsu

"Kenapa kau sangat membencinya?" tanya Mavis

"Sudah jangan tanya lagi, Mavis. Dia bilang tidak tertarik dengan topik permaisuri. Padahal aku sudah menemukan cara untuk mengulur waktu atau mungkin membatalkan pernikahanmu dengannya" kata Zeref kemudian ia makan lagi

Natsu menegang, apa ia salah dengar? Bukankah Zeref mengatakan kalau ia bisa terlepas dari ikatan sial bersama permaisuri? Ditatapnya Zeref dengan serius, berharap pria paruh baya itu mengerti. Namun seolah mematikan daya rasanya, Zeref sama sekali tak berniat untuk bicara duluan.

"Katakan" pinta Natsu

"Apa?" tanya Zeref sok tidak tahu

"Jangan buat aku mengulanginya, kakek tua" jawab Natsu

"Bukankah kau tidak tertarik?" tanya Zeref

Natsu diam, dia memang tidak tertarik tadi. Tapi jika ia bisa menghancurkan harapan permaisuri maka apapun itu akan ia lakukan.

"Kau bisa tidak menikahi permaisuri jika kau punya seseorang yang benar-benar kau cintai, Natsu" kata Zeref kemudian

Seketika Natsu teringat akan Lui, janjinya pada gadis kecil yang ia bunuh dengan tangannya sendiri. Diam-diam, iapun menggigit bibirnya.

"Sayangnya Natsu kita tidak percaya apa itu cinta" kata Mavis dengan menekankan kata cinta

Perkataan Mavis menohok Natsu. Bagaimana tidak? ia bukannya tidak percaya apa itu cinta. Ia pernah percaya, tapi itu dulu. Ketika ia belum tahu apa arti sebenarnya dari kata itu. Bahkan ia bisa dibilang begitu mencinta, hingga gara-gara cintanya seseorang harus terengggut nyawanya. Sekali, dua kali, dengan cara yang sama-sama tragis. Miris. Jadi jika itu kau, masih percayakah dengan yang namanya cinta? Kini bagi Natsu, cinta hanyalah hal absurd yang berbuah malapetaka. Begitu kau sangat mencintai seseorang, makin cepat pula orang itu meninggalkanmu. Jadi untuk apa ada cinta jika ujungnya hanya ada luka?

Untuk beberapa saat Natsu tak sanggup membalas perkataan Mavis.

"Bagaimanapun caranya, bawa gadis yang benar-benar kau cintai ke pesta. Disanalah kau bisa meyakinkan dewan untuk tidak mencari permaisuri lagi. Karena permaisuri ada untuk menjadi pendamping dan melengkapimu tapi jika kau sudah memilih orang lain maka keberadaannya juga sia-sia" jelas Zeref

Natsu menggenggam erat kedua tangannya. Ia benci ini, ia menyesal beberapa saat lalu bersedia melakukan apapun demi lepas dari jerat takdir bersama permaisuri. Menemukan orang yang kau cintai? Heck! Persetan dengan yang namanya cinta!

...

Fairy Tail academy. Sekolah heboh dengan banyaknya foto, poster bahkan video Lucy yang diserang telur semalam. Hampir setiap siswa memperbincangkannya. Dalam sepersekian detik saja ratusan komentar sudah terunggah ke situs sekolah.

Di ruang klub fotografi, Erza membanting semua foto dan poster yang ia dapatkan bersama Levy dan Juvia. Jellal yang sedang membaca buku laporan kas klub tersentak. ditatapnya Erza yang sudah mengeluarkan aura Titania-nya. Ia meneguk ludah, diingatnya semalam betapa marahnya gadis Scarlet itu ketika tahu kalau Lucy adalah perempuan dan disiksa Natsu.

"Siapa biang keladinya? Kupastikan tidak akan melihat hari esok" kata Erza

"Hampir setiap siswa Erza, bagaimana kau akan mengatasinya?" tanya Levy

"Arggh, bisa gila aku" keluh Erza

"Apa Lucy masuk hari ini?" tanya Erza kemudian yang dijawab kedikan bahu oleh Levy dan Juvia

"Berdasarkan apa yang terjadi kemarin sepertinya ia tidak akan masuk" kata Jellal

Di kelas 2-2. Para siswa tengah mamasang taruhan. Siswa laki-laki bertaruh kalau Lucy akan masuk hari ini sedangkan siswa perempuan bertaruh Lucy tidak akan masuk. Setiap siswa memasang uang taruhan 100 ribu jewel, sedangkan yang tengah bertaruh berjumlah 27 orang.

Dipinggir lapangan, lebih tepatnya di kursi yang terletak di bawah pohon ketiga antek-antek Natsu tengah berbincang. Tentu mereka tahu tentang foto-foto Lucy yang beredar. Gray tersenyum, ini baru yang namanya berita. Lihatlah ratusan hujatan dan cemoohan pada bocah miskin itu. Sebelumnya ia sempat heran kenapa Natsu mengizinkan seorang macam Lucy berada di dekatnya. Tapi setelah tahu kalau semua itu demi membalas Sting yang ia sendiri tidak tahu kenapa, ia jadi mengerti.

"Aku bertaruh 1 juta jewel kalau dia akan masuk hari ini" kata Gray

"Kau menantang? Ice Freak? Baiklah, 1,5 juta jewel dia tidak masuk hari ini" kata Loki

"Bagaimana denganmu?" tanya Loki pada Gajeel yang hanya diam

"1 juta jewel untuk dia masuk hari ini" jawab Gajeel

Sementara yang sedang dibicarakan di senatero Fairy Tail tengah berjalan seraya menundukkan kepala dalam-dalam. Hari ini ia mengenakan jaket berhoodie agar bisa menutupi wajahnya. Didengarnya setiap bisikan dan komentar anak-anak Fairy Tail tentang dirinya. Lucy membungkam mulutnya rapat-rapat, ia tidak akan memaki, ia tidak akan berteriak. Itu hanya akan menguras tenaga. Namun disaat ia lewat, tiba-tiba saja . . .

"Bau apa ini?"

"Busuk!"

"Hoek, siapa dia? Apa dia mandi di air kubangan?"

"Siapa yang buang kotoran sembarangan sampai bau begini"

Lucy berhenti melangkah, ingin rasanya ia menghabisi satu persatu dari mereka tapi akal sehatnya menolak. Biarkan saja anjing menggonggong. Ia kembali melangkah hingga dilantai 2 sebelah tangga matanya tak sengaja menangkap sebuah foto tidak asing. Ia berbalik dan menatap foto-foto itu.

"Apa-apaan ini? jadi karena ini?" tanya Lucy dalam hati

"Tidak cukupkah mereka mempermalukanku dan sekarang . . . ." geram Lucy dalam hati

Dilepaskannya semua foto, poster tentang dirinya dengan brutal. Diremasnya kertas-kertas itu. Matanya mengkilap, menahan rasa kesal yang sudah sampai ubun-ubun. Hingga ia kembali mendengar suara yang sangat familiar menyapa gendang telinga. Ditolehkannya kepalanya ke samping, menatap nyalang para siswa yang berkumpul karena melihat aksinya.

"Siapa yang melakukannya? Katakan padaku" tanya Lucy dengan nada berat

Yang ditanya awalnya tercengang karena tidak menyangka Lucy akan masuk. Namun seiring detik berlalu merekapun menyeringai, pasti sekolah akan heboh dengan para petaruh yang menang.

"Why? Kau tidak suka? Bukannya kau harusnya bangga bisa jadi artis dalam waktu semalam? Jadi siswa disini bertahun-tahun pun belum tentu akan dikenal" jawab seorang siswa laki-laki, Alexei

"Katakan padaku" pinta Lucy menambah tajam nada bicaranya, tak lupa sorot matanya yang menusuk seolah bisa melubangi siapapun yang melihatnya

Alexei merinding seketika. Heck! Padahal ia sendiri adalah seorang vampire, bisa-bisanya bocah pirang dihadapannya menatapnya seperti itu.

"Kau pikir aku akan menjawabnya?" balas Alexei

GYUTT

Lucy mencengkeram kerah Alexei tersebut. Mata caramelnya menggelap, seakan akal sehat dan kesabarannya sudah terenggut. Alexei keringat dingin, tubuhnya seolah takut tapi akal sehat dan egonya mengatakan tidak. Ia vampire, seorang vampire tidak akan takut dengan makhluk bernama manusia, yang hidupnya bahkan tak lebih lama dari mereka.

"Tch, kau mau berkelahi?" tanya Alexei

Sebuah seringaian muncul di wajah manis Lucy, tanpa aba-aba ia melemparkan bogem mentah tepat di wajah Alexei. Alexei terhempas beberapa langkah ke belakang, namun ia masih bisa berdiri. Diusapnya bibirnya, ia terkejut karena pukulan Lucy sanggup membuat bibirnya berdarah.

"Beraninya kau!" geram Alexei

Dengan santainya Lucy menghindari segala serangan Alexei, bahkan dalam hitungan sepersekian menit pemuda tinggi itu sudah ia buat tepar. Selesai dengan Alexei, Obra dan Kurohebi ikut melayangkan tinjunya, namun dapat dengan mudah ditangkis oleh Lucy, ia menarik kedua tangan mereka dan memelintirnya, kemudian menendang punggung mereka hingga berbunyi, namun akibatnya tudung hoodienya merosot, memperlihatkan surai pirangnya yang sudah kembali bersih. Erangan kesakitan menggema di sepanjang lorong koridor, membuat para siswa yang semula acuh tak acuh tertarik dan berkerumun. Kemenangan ada ditangan Lucy, ia meniup poninya dan mengusap kedua tangan layaknya membersihkan kotoran disana.

"Alexei dan kawan-kawan tepar?"

"Bocah itu, beraninya dia!"

"Siapa sebenarnya bocah itu?"

"Kalian pikir aku akan diam saja? asal kalian tahu, aku memang tidak diizinkan menyentuh tuanku yang brengsek itu. Tapi tidak ada larangan bagiku menyentuh antek-anteknya bahkan kalian" kata Lucy dengan seringaian bak medusa

"Kurangajar kau! Padahal semalam kau tidak berdaya" kata Kagura

"Ya, karena kalian bermainnya keroyokan seperti para pengecut" balas Lucy yang spontan membuat Kagura naik pitam

Kagura mendekat, ia melayangkan tangannya dan menampar Lucy seketika hingga wajah gadis bersurai pirang pendekitu tertoleh ke samping. Lucy menyeringai dan . . .

PLAK

Kembali menampar kagura, kagura membalas menampar namun tangannya terhenti diudara tak kala Lucy sudah mencengkeramnya. Tanpa memperdulikan protes dari kagura yang meronta minta dilepaskan, Lucy tersenyum miring dan kembali menampar pipi Kagura. Semua mata melotot, antara kaget atau bahkan sebagian menilai Lucy sangat pemberani dan heroik karena berhasil mempermalukan salah satu primadona Fairy Tail. Kagura melayangkan tangannya yang lain namun lagi-lagi ditahan oleh Lucy. Lucy menyeringai, dua satu. Kini wajah Kagura sudah sangat memerah antara malu dan kesal.

"Why? Kau pikir aku tidak bisa? Kemarin memang aku diam saja. Tapi mulai detik ini tidak akan. Karena dalam kamusku, tangan balas tangan, kaki balas kaki. Catat itu baik-baik di otak brillianmu, nona" kata Lucy menghempaskan kedua tangan Kagura

"Satu lagi, kalau kau berani menyebarkan rumor, foto atau apapun tentangku. Akan kupastikan mematahkan lengan dan kakimu. Aku . . ." kata Lucy memberi Jeda

"PUNYA KEKUATAN UNTUK MELAKUKAN ITU" kata Lucy dengan mata menyipit, persis seperti seseorang ketika mengancam

Dilangkahinya Alexei dan kawan-kawan. Bahkan Lucy tak segan-segan untuk menginjak salah satu punggung teman Alexei. Kagura shock, matanya berkaca-kaca. Seumur hidup baru kali ini ia dipermalukan. Miliiana dan Risley Law menenangkannya.

"Pastikan dia menyesali segala kesombongannya" kata Kagura

Para siswa bubar, mereka masuk ke kelas masing-masing.

Sedangkan Lucy, setelah melakukan aksinya ia menghela nafas. Sting berjalan berlawanan arah dengannya, mereka tidak saling menoleh dan menyapa. Namun langkah Lucy tertahan ketika sebuah suara menginterupsinya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sting dan berusaha menyentuh punggung Lucy yang langsung ditepis

"Bukan urusanmu" jawab Lucy ketus

"Kau fikir dengan mengancam akan membuat dirimu aman?" tanya Sting

"Setidaknya itu yang bisa aku lakukan untuk melindungi diriku sendiri. Kau tidak perlu mengkhawatirkan seseorang sepertiku, Kaichou" jawab Lucy

"Aku . . ." kata Sting

"Apa sudah selesai Kaichou? Aku harus ke kelas" tanya Lucy

Sting terdiam, dadanya sesak tak kala mendengar setiap penuturan Lucy. Lucy membungkuk dan berlalu. Dalam hati kecil Sting, ia berharap gadis itu akan menoleh dan tersenyum padanya. Tapi kenyataannya Lucy tidak menoleh sama sekali. Ini menyakitkan, Sting memegangi dadanya, pandangan matanya berubah menjadi sendu. Padahal jika dipikir lebih sakit mana sikap Lucy sekarang atau sikap Sting dengan menghapus semua ingatan teman-teman Lucy tentang dirinya dan pura-pura tidak mengenalinya?

"Apa aku egois?" gumam Sting

Kelas 2-2. Lucy sudah duduk dibangkunya, ia tidak melepas jaketnya karena selain untuk menutupi kepala tadi, ia juga merasakan dingin. Bagaimana tidak? semalam ia diguyur dengan air dan dimandikan sampai lima kali. Meski itu air hangat, tetap saja ia terkena efeknya. Untungnya ia tidak sadarkan diri, jika tidak bisa saja ia mati karena sesak nafas. Para siswa tak ada yang berani melirik. Lucy sudah mendeklarasikan perang terhadap mereka, dan mampu mereka akui kalau Lucy tidak bisa dianggap remeh. Alexei itu ahli bela diri, masa iya kalah dengan Lucy yang notabane berperawakan kecil dengan tangan mungil itu? mereka bahkan menduga kalau Lucy masih menyimpan kemampuan lain yang tidak diketahui.

Pintu depan digeser, masukkah ketika antek-antek Natsu. Ketiganya terkejut, namun Gray dan Gajeel kemudian tersenyum ke arah Loki. Sedangkan Loki, ia meneguk ludah. 1.5 Jewel itu tidak sedikit, itu jatah uang bulanannya. Ia menyesal kenapa tadi sempat terpacing oleh propokasi Gray. Mereka bertiga duduk ditempatnya dan mencium bau tidak sedap dari arah tempat duduk Lucy.

"Apa ini?" tanya Loki lewat telepati

"Sepertinya dia" jawab Gray dengan telepati

"Tapi kenapa yang lain tidak merasa terganggu?" tanya Gajeel dengan telepati

Lucy melirik tajam ke arah ketiganya, menyeringai dan kembali menoleh ke arah depan. Spontan saja ketiga antek-antek sang Dragneel terhenyak. Apa mereka tidak salah lihat? Merekapun kembali bertelepati.

"Dia menantang?" tanya Loki

"Sepertinya. Tapi tidakkah kelas sedikit aneh. Tumben tidak ada yang membicarakannya" kata Gajeel

"Sepertinya telah terjadi sesuatu" jawab Gray

SREK

Pintu kembali terbuka, kini sang pangeran egois datang, ia cukup terkejut juga dengan kehadiran Lucy. Padahal ia memprediksi kalau bocah itu tidak akan masuk setidaknya sampai 3 hari kedepan. Tapi kenyataannya ia sudah duduk dengan wajah datarnya di sana, tepat di bangku sampingnya. Dengan santainya ia mendekat dan duduk. Satu komentar, Lucy berbau tidak sedap. Natsu melirik sinis.

"Kau masuk untuk menyiksa hidung semua orang rupanya" sindir Natsu

"Otakmu sangat pintar tuan, hingga tahu maksudku" jawab Lucy

"Dan aku kira kau akan memberikan surat pengeluaran diri" kata Natsu kemudian

"Tch, kau berharap aku akan melakukannya? Jangan mimpi" jawab Lucy ketus

"Mulutmu tambah tajam rupanya" komen Natsu

"Kau yang mengajarinya, tuan" balas Lucy

"Tch" tanggap Natsu

Jam pelajaran berlangsung, sejarah oleh Fried-sensei. Dipapan tulis tertulis banyak sekali huruf kanji yang berisi penjelasan sebuah hikayat dari salah satu era di jaman jepang kuno. Lucy mencatat seperti biasanya, ia menuliskan buku Natsu terlebih dahulu. Ia biasa saja karena sudah sering melakukannya. Natsu membuang mukanya, pelajaran yang membosankan. Daripada berusaha memahami isi palajaran, Natsu malah memikirkan apa yang dikatakan Zeref dan Mavis pagi tadi.

"Membawa gadis yang kucintai? Sialan! Mereka benar-benar ingin mempermainkanku. Mereka tahu kalau aku tidak percaya dengan apa yang namanya cinta, tapi dengan tidak tahu dirinya meminta hal konyol seperti itu! Bilang saja ingin aku segera menemukan permaisuri! Tch!" umpat Natsu dalam hati

"Aku bisa saja tidak datang, tapi kakek tua itu pasti akan memenjarakanku di isntananya kalau aku melakukannya. Tua bangka licik itu benar-benar masalah. Andai dia bukan raja vampire, pasti sudah kubunuh dia dari dulu"kata Natsu dalam hati

"Tch! Bagaimanapun aku harus membatalkan pernikahan itu. Lebih baik hidup menjadi setengah vampire daripada harus menikah dengan permaisuri sialan" kata Natsu dalam hati

"Tapi jika aku tidak mencari permaisuri, bagaimana mungkin aku bisa membalaskan dendamku? Arrggh! Ini membuatku frustasi saja" keluh Natsu

"Apa aku memang harus membawa gadis kesana? Lalu mau ditaruh mana harga diriku sebagai seorang Natsu Dragneel?" tanya Natsu dalam hati

"Haruskah aku menghipnotis seseorang? tidak, mereka pasti akan tahu. Haruskah aku menyewa seseorang? tidak, tidak mungkin juga" kata Natsu

Disamping Natsu, Lucy yang sedang rajin mencatat berkeringat dingin. Dahinya mengeluarkan banyak keringat. Bahkan ia sesekali berhenti mencatat dan mengedipkan matanya beberapa kali.

Jam pelajaran berganti. Saatnya matematika oleh Laxus-sensei. Guru bersurai pirang, cucu dari kepala sekolah itu memasuki kelas dengan segala aura killernya. Lucy buru-buru memasukkan buku sejarahnya, dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan buku matematika dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah kalung dari tasnya. Onyx hitam Natsu melihatnya, ia mengernyit tak kala melihat kalung Lucy. Ketika Lucy mengambil dan memasukkan kembali liontin itu, mata Natsu menyipit.

Istirahat. Natsu dan antek-anteknya sudah keluar kelas, lagi-lagi Natsu meminta Lucy mengekorinya. Namun sebelum sampai kantin, tiba-tiba Natsu berhenti.

"Kalian pergilah dulu, aku ada janji" kata Natsu berbalik arah

"Janji?" gumam Lucy heran

Kantin sekolah. Hari ini, Lucy makan bersama dengan ketiga antek-antek sang Dragneel. Tak ada yang berani berkomentar padanya karena kejadian tadi pagi. Setelah mengambil makanan, mereka duduk berempat dengan Gray sebangku bersama Gajeel dan kedua yang lain didepan mereka. Gray, Gajeel dan Loki berusaha mengabaikan penciuman mereka yang mencium sedikit bau amis dari telur. Lucy mulai memakan makan siangnya yang porsinya sedikit, bahkan sangat sedikit.

"Bocah, sebenarnya apa hubunganmu dengan Sting?" tanya Gajeel

"Tidak ada apa-apa, hanya sebatas kenal nama saja" jawab Lucy datar

"Kenal? Aku tidak yakin. Sting memperlakukanmu sangat istimewa. Bahkan ia yang hampir tidak mau satu mobil dengan seseorang mau mengantarmu ke sekolah" kata Gray

"Kenapa tak kau tanyakan saja padanya?" tanya Lucy

"Kalau aku bisa maka tak perlu kutanyakan padamu" jawab Gajeel

Lucy tak menjawab. Ia acuh tak acuh dan mengunyah makanannya yang hari ini terasa hambar. Bahkan keringat di dahinya semakin banyak.

"Lalu, bagaimana kau bisa kenal dengan Yukino dan Rogue?" tanya Gray

"Mereka temanku sejak pertama kali masuk Sabertooth" jawab Lucy

"Dan, bagaimana dengan kalian? Sepertinya kalian ini benar-benar pengikut setia tuan Dragneel itu" tanya Lucy balik

Tak ada yang menjawab, pertanyaannya seolah dianggap angin lalu. Lucy mengedikkan bahu, toh tadi ia juga tidak menjawab. Tiba-tiba sebuah suara cempreng nan melengking menyapa gendang telinga Lucy.

"Luucyyyyyy" panggil Levy

Lucy menoleh dengan mulut yang sedikit belepotan. Ia mengernyit karena melihat ketiga siswa perempuan Fairy Tail mendekat ke arahnya. Mereka adalah Levy, Erza dan Juvia. Gajeel meneguk ludah, kenapa di saat seperti ini? disaat Natsu tidak ada. Erza Scarlet adalah malapetaka kedua setelah Natsu.

"Boleh kami bergabung?" tanya Erza dengan aura titanianya

"Hai" jawab ketiganya

Levy segera menempel pada Lucy. Diberikannya makanan yang ia ambil di piring Lucy, spontan semua mata melihat kearahnya, terutama ketiga pemuda tampan itu.

"Ada apa dengan si pendek ini?" tanya Lucy dalam hati

"Lucy, aku benar-benar salut padamu" kata Levy

"EH? Apa aku mengenalmu?" tanya Lucy innocent

"Kau tidak ingat? kami yang membawamu pulang bersama Yukino dan Rogue. Bahkan kami betiga yang me.." kata Levy yang langsung diinterupsi oleh Erza

"merawatmu semalam" potong Erza

"Jadi mereka pelakunya? Yang mengguyurku dengan air malam-malam?" tanya Lucy dalam hati

"Aku Levy, ini Erza dan Juvia" kata Levy memperkenalkan diri

Levy yang cerewet dan Juvia yang selalu aktif serta Erza yang sedikit acuh tak membuat Lucy merasa terbebani. Entah kenapa ia ma;ah mudah saja berkomunikasi dengan ketiganya. Ternyata di Fairy Tail masih ada siswa yang memiliki hati manusia serta jiwa kemanusiaan. Sementara Gajeel, Gray dan Loki yang terganggu memutuskan untuk pergi.

"Oh ya Lucy, apa benar kau jadi pelayan Natsu?" tanya Erza

"Hmm, Erza" jawab Lucy

"Kenapa kau mau saja? kau tidak tahu dia orang seperti apa?" tanya Erza tidak percaya

"Aku sangat tahu. Dia seseorang yang bermain dengan kepalan tangan dan uangnya" jawab Lucy dengan nada sinis namun terluka

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?" tanya Erza

"Apa? tentu bertahan. Setidaknya itu yang bisa aku lakukan" jawab Lucy

"Satu sekolah ini, hampir semuanya berpihak padanya. Apa kau yakin? Kenapa kau tidak pilih pindah saja. Tentu aku tidak bermaksud mengusirmu" kata Erza

"Hmm, Natsu itu sangat kejam. Dia bahkan tak segan-segan untuk memb" kata Juvia yang dipotong oleh Lucy

"Bunuh bukan?" lanjut Lucy

Semua tercengang. Bagaimana Lucy tahu? Apa gadis tomboy yang menyembunyikan jati dirinya itu mengetahui siapa Natsu sebenarnya?

"Oh ya Levy, Juvia. Bisa tolong ambilkan aku jus dan stawberry shortcake?" pinta Erza

"Tapi Erza" Juvia beralasan yang dihadiahi pelototan maut sang Erza Scarlet

Keduanya menurut. Meninggalkan Erza dan Lucy.

"Lucy, maafkan Natsu" kata Erza mewakili

"Kenapa kau yang meminta maaf?" tanya Lucy tak suka

"Karena aku temannya" jawab Erza

"Apa teman yang baik meminta maaf atas kesalahan temannya? Tidakkah harusnya kau menasihatinya untuk meminta maaf padaku?" balas Lucy

"Natsu, dia tidak akan mengatakannya. Kata maaf adalah pantangan baginya" jawab Erza

"Tapi dia meminta maaf pada seseorang bernama Lui" kata Lucy dalam hati

"Maafkanlah dia. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Yang jelas, dibalik kekejaman dan keegoisannya ia seseorang yang rapuh. Dia hanya tidak tahu bagaimana mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri saja. Maka dari itu ia suka menindas dan menyiksa yang lain" jelas Erza

"Apa menyiksa adalah cara mencari kebahagiaan?" tanya Lucy

"Kau akan mengerti jawabannya jika kau belajar memahaminya. Bagaimanapun jangan membencinya. Kumohon padamu" kat Erza

Lucy menahan nafasnya. Erza memang penuh dengan kejutan. Gadis Scarlet itu menasihatinya lalu memintanya untuk memaafkan dan tidak membenci Natsu. Bagaimana mungkin setelah apa yang pemuda itu perbuat padanya? Mempermalukannya, menyiksanya, mengancamnya, menghinanya. Jika itu kau? Akankah kau memaafkannya? Bahkan jika dunia runtuh dan bulan jatuh menimpa bumi sekalipun, ia tidak ingin memaafkan Natsu.

Bel jam tanda istirahat berakhir tinggal 15 menit lagi. Setelah mendengar permintaaan absur Erza, kepala Lucy tak henti-hentinya berputar. Apa benar kalau Natsu itu rapuh? Diingatnya lagi ketika Natsu menangis di gendongannya malam itu. Isakan Natsu serta suara serak Natsu terngiang kembali di gendang telinnganya. Lucy memejamkan matanya sejenak, ulung hatinya terasa ngilu tak kala suara serak Natsu terus memenuhi kepalanya. Lucy menggeleng, ia kembali berjalan ke kelas dengan lemas. Keringat dingin membasahi dahinya. Di depan kelas, dilihatnya gadis berambut silver yang ia kenal sebagai Lisanna.

"Sedang apa? kenapa tidak masuk?" tanya Lucy

"Eh? Lucy. Tidak, aku hanya ingin memberikan ini pada Natsu saja" kata Lisanna menunjukkan setoples penuh origami bangau

"Jadi dugaanku benar, benar-benar dia rupanya" kata Lucy dalam hati

"Serahkan saja padanya, apa kau mau menunggu disini. Kelas akan dimulai" tanya Lucy lagi

"Ah, aku titip kau saja. Tolong diberikan ya" kata Lisanna menyerahkan toples bening itu, meninggalkan Lucy yang protesannya tertahan

Di kelas. Lucy meletakkan toples itu di meja Natsu yang berada disampingnya. Natsu masuk, ia duduk di bangkunya. Matanya melirik toples bening itu kemudian membuang muka.

"Seseorang memberikannya padamu" kata Lucy dengan nada malas

"Buang saja" kata Natsu ketus

"Kalau kau tidak mau menerimanya, setidaknya kembalikan atau buang sendiri" kata Lucy

Natsu hendak menendang toples itu dengan kepalannya namun dengan cekatan Lucy meraih dan melindunginya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucy

"Kau bilang aku harus membuangnya. Jadi daripada repot-repot membuang mending kuhancurkan saja" jawab Natsu

"Kau gila? Menghancurkan pemberian tulus seseorang itu lebih kejam daripada membuangnya. Kau tega melakukan itu pada seseorang yang bersusah payah membuatnya untukmu?" tanya Lucy

"Bukan urusanmu. Berikan padaku" pinta Natsu

"Tidak, aku akan mengembalikannya saja" kata Lucy

"Aku bilang berikan padaku" pinta Natsu lagi, kali ini ia mengulurkan tangan berusaha merebut toples dipelukan Lucy. Lucy kekeh tak mau memberikannya, ia tidak tega dengan Lisanna yang sudah bersusah payah membuat origami sebanyak itu. Ia saja kesulitan untuk memuat satu. Alhasil mereka terlibat aksi tarik-menarik dengan posisi Natsu seperti memeluk Lucy dari belakanng, hingga –

Natsu memenangkan tarikan. Toples itu sudah berada di genggamannya. Kejadian itu membuat seisi kelas menoleh.

"Dengar ya, Bocah. Aku tidak suka kau sembarangan mencampuri urusanku. Ini milikku, jadi terserah mau kuapakan" kata Natsu

"Kalau kau tidak menyukai pemberiannya, kenapa kau tidak mengatakan langsung dan menolaknya terang-terangan? Apa mempermainkan seseorang itu adalah hobimu?" balas Lucy

Natsu mengangkat sudut bibirnya. Ia sungguh selalu terkesan dengan kata-kata Lucy yang sok bijak. Sungguh naif, didunia ini orang yang paling ia benci salah satunya adalah orang naif. Menganggap dirinya baik dan selalu bersikap baik, heck! Membuatnya mual saja. Diangkatnya toples itu setinggi-tingginya dan . . .

PRANG

Natsu melemparkan toples itu ke dinding belakang kelas, semua mata terlonjak. Natsu menyeringai menatap Lucy.

"Kau lihat itu? aku sudah menghancurkannya" kata Natsu

Lucy menggenggam kedua tangannya, sebagai sama-sama perempuan ia tidak terima. Apa perasaan seseorang itu salah? Kenapa Natsu setega itu? Natsu meraih dagu Lucy dan mencengkeram wajahnya.

"Semakin hari kau semakin menarik, bocah. Kau juga semakin berani" bisik Natsu

"Tapi masih bisakah kau seberani ini?" tanya Natsu

"Apa maksudmu?" tanya Lucy

"Aku ingin melihat bagaimana ekspresimu jika kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Seperti toples yang hancur itu, Apa jika aku menghancurkan benda berhargamu kau akan menangis dan memohon ampun padaku kali ini?" tantang Natsu

"Sudah kubilang padamu. Kau akan menyesalinya" lanjut Natsu

Natsu mendekatkan kepalanya di telinga Lucy, ia menyeringai sejenak tak kala merasakan tatapan penasaran dari seisi kelas. Ya, semalam saking ramainya mereka tidak dengar apa yang ia bisikkan pada Lucy.

"Salahkan persahabatanmu, bocah. Karena jika kau tidak pernah mengenalnya maka kau tidak berada diposisi sekarang ini" bisik Natsu

Lucy hendak melayangkan elakan, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Bisikan Natsu menohoknya, menghunusnya sampai ke ulung hati. Persahabatan, sebuah kata indah yang selalu ia yakini dan percayai selama ini. Namun kenapa Natsu sangat pintar dan membuatnya selalu mempertanyakan persahabatannya?

"Jadi berhenti melawan, karena aku raja disini" bisik Natsu tepat di telinga Lucy yang sudah memerah

"Kau lihat itu? kau akan hancur layaknya toples kaca itu. Perasaanmu akan berhamburan layaknya origami-origami itu. Kau akan berakhir di tempat yang sama pula dengannya" kata Natsu dalam hati

"Kenapa selalu seperti ini? Kenapa dia selalu menatapku dengan mata kelamnya? dan kenapa aku merasakan rasa sakit setiap menatap matanya?" tanya Lucy dalam hati

"Meski aku menatapnya dingin, tapi tubuhku seolah mengkhianatiku. Aku bahkan tak mampu untuk mendorongnya ketika membisikkan ancaman di telingaku. Dan, kenapa aku harus merona ketika mendengar suara iblisnya?" kata Lucy dalam hati

"Meski aku ingin marah dan memaki tapi aku tidak pernah bisa benar-benar melakukannya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Batu? Mungkin. Jadi, haruskah aku marah kali ini? haruskan aku memaki? Atau haruskah aku membencinya? Haruskah aku membalasnya?" tanya Lucy dalam hati

To Be Continue

Mina-san, Gomenasai karena update telat.

Author sibuk di akhir pekan kemarin. Maaf jika kalian menemui kejanggalan dalam cerita karena author lagi buntu ide. Maaf juga jika banyak typo atau kekurangan lain.

Terimakasih buat para readers yang tetap mengikuti kelanjutan ceritanya.

Oh ya, jangan lupa review. Jika kalian menulisnya, author akan sangat senang karena itu akan menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan cerita.

Sekian dari Nao, terimakasih.

Best Regards

Nao Vermillion