A/N :
Monic : Janet, sebenernya kamu gak perlu ngebela aku di Review Page-nya ryanarillo. Aku gak mau kamu masuk ke buku catatan buruk para Author maupun pembela si Author yang log-in maupun yang nggak gara2 aku. Walaupun aku ngehargain banget usaha Janet buat ngebela aku. Tapi please, kamu gak perlu dapet masalah gara2 aku. Tapi thanks banget ya, I think I like you so much now.
Btw, aku mau ngejawab pertanyaan Janet. Kalo yang Draco, aku gak tahu. Tapi kalo yang Hermione, mungkin yang rumput itu bau rumput yang sering kecium kalo matahari udah terbenam di halaman The Burrow, ada di buku Harry Potter ke-4. Kalo yang perkamen baru aku gak tau. Sorry…
Adell : Hahaha, yes Ma'am. Romance pasti ada kog! Tenang aja…
White-Phoenix : Fine then. Hey Kelly… tentang Acc, sama sekali gak ngerepotin kog… aku senang membantu. Tapi kalo Kelly bersikeras gak mau, aku gak papa. Emang Charly kemana?
Devil Angel : Hahaha, padahal kata2 Mione aku murni ngarang. Yaiyalah, suasana nya family, wong genrenya family…
Hehe, bercanda… nanti aku bikin Romance, tapi aku mau minta persetujuan para readers dulu, okay?
Hai… aku balik lagi setelah seminggu gak update. Aku minta maaf banget buat semuanya. Aku pingin ambil suara, karena banyak banget yang minta romance, jadi akhirnya aku mutusin aku bakal bikin di suatu chapter. Nah, plihannya adalah…
a) Victoire-Teddy
b) Tonks-Remus
c) Hermione-Ron
d) Ginny-Harry
Okay deh… pilih salah satu ya… tapi kalo misalnya ada yang mau nambahin pair, tulis langsung di Review Page ya! Aku nerima saran maupun kritik. Yang jelas, aku gak mau ada perkelahian disini. ^_^V
'The Shocking Moment'
Sirius menggendong Lily sampai bawah dan menemukan Fred, George, Fred Jr., dan James sedang sarapan di meja makan seperti anjing yang sangat kelaparan. Mereka berempat sama sekali tidak menyadari kehadiran Lily dan Sirius yang memandang mereka antara rasa geli dan jijik(untuk Lily). Lily turun dari pundak Sirius dan berdiri tepat di kursi di sebelah James. Mrs. Weasley, atau lebih tepatnya Grandna Weasley untuk Lily, keluar dari dapur dengan nampan yang berisi makanan dengan porsi lebih banyak untuk kira-kira 20 orang. Walaupun orangnya tidak sebanyak itu, tapi porsi yang dimakan oleh empat makhluk yang seperti menderita penyakit busung lapar itu sangat banyak. Dia menaruh makanan-makanan itu di meja, untuk sementara sepertinya tidak menyadari kesadaran Lily dan Sirius karena terlalu sibuk menaruh makanan-makanan itu. Sampai Lily menyapanya.
"Selamat Pagi Nan!" kata Lily ceria dengan wajah berseri-seri dan mata coklat yang cemerlang.
Mrs. Weasley terkesiap dan mencari asal suara, dan menemukan Lily masih berdiri diatas kursi dengan cengiran yang berada di wajahnya. Lily nyengir karena di tahu sebentar lagi dia akan terkena omelan dari Grandna-nya ini. Tinggal beberapa detik lagi, satu… dua… tiga…
"Lily Luna Potter! Jangan berdiri diatas meja sedangkan kami semua ada dibawah! Turun! Siapa yang mengajarimu berbuat seperti ini?" bentak Mrs. Weasley.
"Tidak ada yang mengajariku berbuat seperti itu, Nan… aku hanya melakukan apa yang sedang ingin kulakukan dengan senang hati" kata Lily santai dan masih nyengir, tapi akhirnya dia turun dan duduk dengan sopan selayaknya putri yang sedang menghadiri pesta jamuan teh.
"Geez, Lil's, tidak perlu seformal itu kan?" Albus datang ke meja makan dan duduk di hadapan Lily sambil mengambil roti.
"Hihihi, apa salahnya? Aku kan memang putri" kikik Lily.
"Dapet perumpamaan gila dari mana tuh?" Hugo datang juga, mengambil tempat duduk disebelah Lily, dan Bill, Ron, Remus, Harry, Hermione, Rose, dan Ginny mengikuti dari belakangnya.
"Dad selalu bilang kalau aku adalah putri untuknya, geez… kau selalu menginap dirumahku setiap bulan, apakah kau tidak pernah dengar apa yang Dad selalu katakan saat aku bangun pagi dan sebelum tidur? Pagi Mum, Dad, Uncle Bill, Uncle Ron, Remus" Lily mengambil sup jagung yang masih panas, begitupula dengan Hugo, sambil mengecek arlojinya, 'satu menit lagi' batin Lily sambil nyengir.
"Ugh… apakah aku memberimu makan terlalu sedikit, sehingga kau makan seperti itu?" Ginny menyerngit kepada James, yang masih mengambil ini itu.
"Awaku haws, hingak?*" kata James dengan mulut penuh.
"Hah?" Harry dan Ginny menyerngit serempak memandang James.
James menelan semua makanannya sekaligus sampai tersedak, lalu menjawab setelah beberapa saat, "Namaku James, ingat?"
"Lalu? Apa hubu–, oh…" kata Harry paham sementara Ginny memandang James yang sudah mengambil ini itu lagi.
'Sudah waktunya!' Batin Lily lagi.
"HAHAHAHAHAHA" Tiba-tiba Fred dan George tertawa terbahak-bahak sampai terjatuh dari kursinya dan menggelepar di lantai sambil memegang perut mereka. Mereka berdua memandang ke kepala Sirius yang menjadi Mohawk dan berwarna hijau dan perak.
Semua orang mengikuti arah pandangan Fred dan George, dan bingo! Semuanya sekarang sedang tertawa terbahak-bahak, tapi yang paling keras tentu saja Lily, yang melakukan semua ini.
"WAAAAAAAAAA" Sirius teriak sambil loncat-loncat diatas kursinya. "Rambutku! Rambutku!" katanya terbata-bata. Sirius memandang berkeliling dengan pandangan geram, untuk mencari tahu siapa yang melakukannya, dan matanya berhenti di seorang gadis yang masih tertawa keras.
"Lily…." Geram Sirius.
"Hahaha, ternyata Mohawk cocok denganmu, Sirius. Hebat kan? itu adalah salah satu produk Sihir Sakti Weasley Wonder Witch terbaru yang kudapat dari Uncle George dan Fred kemarin, saat aku ulang tahun kemarin" kata Lily masih tertawa.
"Ta-ta-tapi bagaimana caranya?" tanya Remus yang masih tertawa juga.
"Aku menyuruh Sirius menggendongku kan? saat itu, kutaburkan serbuk model rambutnya, dan kutaburkan diatas rambut Sirius. Lalu aku mengambil serbuk berwarna hijau dan perak untuk warnanya, lalu kutaburkan" kata Lily yang sudah bisa mengatasi tawanya.
"Sihir Sakti Weasley?" tanya Mrs. Weasley, Fred, dan George. Mrs. Wealsey terlihat kesal, sedangkan Fred dan George nyengir sangat lebar.
"Apakah itu berarti toko kita masih lanjut?" Fred nyengir dan bangun dengan semangat.
"Sangat laku. Bahkan James tidak akan pulang ke rumah kalau Mum atau Dad tidak menyeretnya dari toko" kata Albus sinis.
"Tapi–
"Ayolah Nan, tidak akan ada orang waras yang menerima mereka di kementrian kalau O.W.L's mere saja hanya 3" kata Fred Jr.
"Huh... Mohawk sih, boleh saja, tapi kenapa hijau dan perak?"
"Karena itu adalah warna yang kau benci" kata Lily simple.
Setelah berkata begitu, Victoire dan Teddy masuk ke ruang makan. Mereka sudah segar dan sudah berpakaian rapih. Untuk Teddy, dia memakai baju Bill untuk baju salinnya, sementara Victoire memakai baju Hermione yang sedikit dibesarkan oleh Mrs. Weasley. Bersamaan dengan itu, Tonks datang mengunjungi mereka.
"Hai Teddy, hai Vic, tidur nyenyak semalam?" kata Tonks ceria sambil memeluk Teddy.
"Oh ya, mereka tidur kelewat nyenyak seperti sepasang belut sampai-sampai mereka mandi bersama pagi ini" muncul suara sinis Lucy dari belakang bahu Teddy. Lucy juga sudah mandi. Dia memakai baju Ginny yang sedikit di besarkan.
"APA?" teriak Remus, Tonks, dan Bill.
"Hehehe" Teddy nyengir, sementara Victoire dengan tenangnya duduk di kursi disebelah Bill dan mengambil salad.
"Ternyata aku memang salah membiarkan kalian tidur berdua" geram Bill.
"Ya, Dad. Kau telah membuat kesalahan, dan pastikan kau tidak akan mengulangnya lagi. Tapi peraturan ada untuk dilanggar kan?" kata Victoire tersenyum kecil, tapi sudah bisa membuat Ron memandanginya terus menerus sampai Hermione menyadarkannya dengan cara menginjak kakinya.
"Aku dari kemarin penasaran, kau tahu? Kenapa ada anak yang dinamai Fred, sedangkan aku masih segar bugar disini?" Fred menyerngit memandang Fred Jr.
Suasana meja makan langsung berubah. Para Next Gen terlihat sedih, bingung, dan pucat. Sedangkan para orang tua memandang mereka dengan rasa keingin tahuan yang besar.
"Bagaimana Teddy? Haruskah aku mengatakan siapa tepatnya aku ini?" Fred menanyai Teddy yang pucat.
"T- Terserah" kata Teddy pelan.
"Baiklah… namaku adalah Fred Gideon Weasley. Aku berumur 14 tahun, sama seperti James. Main Quidditch, dan posisiku adalah chaser. Bakat dari Mum, kurasa. Aku anak Georgie" kata Fred Jr. berusaha tenang.
"Thanks George, kau menamai anakmu dengan namaku. Jadi, anakku namanya George?" kata Fred bersemangat.
"Er… aku tidak pernah bertemu kamu sebelumnya. Ini adalah pertemuan pertamaku dengamu, Uncle Fred" Fred Jr. suaranya agak bergetar ketika mengucapkan ini.
"Apa maksudmu?"
"Kau me- me- meninggal sebelum aku lahir" mata Fred sekarang sudah berair.
"Tidak" kata Mrs. Weasley tiba-tiba.
"Molly" kata Arthur berusaha menenangkan, tapi diabaikan oleh Mrs. Weasley
"TIDAK! Fred tidak mati!" jerit Mrs. Weasley, memandang para Next Gen seolah berharap ada yang mengatakan 'tapi bohong!' tapi nihil, tidak ada yang berkata seperti itu. Mrs. Weasley mulai nangis dibahu Arthur.
Harry dan Ron mulutnya terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar. Untuk sementara, sepertinya otak Ron dan Harry tidak bisa diajak kompromi. Hermione dan Ginny menangis dalam diam dibahu calon suami masing-masing. Bill memandang meja dengan pandangan hampa. Dan Tonks tampak sangat pucat. Sirius tampak seperti mayat hidup. Tapi Fred tetap tersenyum.
"Wah… mengharukan sekali, ternyata kalian semua sangat menyayangiku, bahkan kau juga Mione" canda Fred, berusaha membuat semuanya tenang.
Tapi dia tahu itu tidak akan berhasil. Dia tidak akan bisa menenanangkan orang lain kalau dirinya saja tidak tenang. Tapi di tidak ingin memperlihatkannya. Dia adalah seorang Griffindor, dia harus tegar, toh semua orang pasti akan mati.
"Jadi karena itulah aku menamai anakku Fred? untuk mengenang Fred?" kata George setelah akhirnya bisa menenangkan diri.
"Semacam itu" kata Fred Jr.
"Jadi siapa yang menjadi istriku?" tanya George, hanya sekedar untuk membuat semuanya merasa lebih baik.
"Angelina Johson"
"Kau menikah dengan pacarku!" teriak Fred.
"Hei, aku belum melakukan apa-apa!" kata George berusaha menenangkan Fred.
"Sudahlah… toh, muka kalian sama" kata Fred Jr. tenang.
Tapi pertengkaran mereka masih belum cukup untuk membuat semuanya kembali tenang dan kembali ke makanan mereka yang tampaknya sudah dingin. Sedangkan Fred masih pucat walaupun terlihat berusaha tegar dengan berita kematiannya.
"Kapan? Kapan Fred meninggal?" tanya Tonks.
"Di perang Hogwarts. di tertimpa oleh reruntuhan tembok Hogwarts yang diledakkan oleh Doholov" kata James pelan, tapi cukup untuk didengar semua orang.
"Er… aku ingin memberi makan Buckbeak, Lil's, tolong benarkan rambutku, Buckbeak tidak akan mengenali tampangku kalau seperti ini" kata Sirius memecahkan keheningan canggung diantara keluarga Weasley.
"Aku ikut" kata Lily berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan bersama Sirius.
Lily dan Sirius berjalan dalam diam. Sirius menggendong tas yang berisi tikus mati untuk Buckbeak, sementara Lily memandang rumah itu. Sirius masih tampak pucat, sedangkan Lily terlihat agak bersalah karena Mum nya menangis. Lily berjalan dalam diam sambil bergandengan tangan dengan Sirius, lalu tiba-tiba Lily menemukan sebuah pintu yang berpapan nama 'Sirius'.
"Sirius, boleh aku liat-liat kamarmu?" kata Lily berhenti, dan berdiri di depan kamar Sirius, lalu memegang kenop pintu kamar Sirius, dan tinggal meminta persetujuan dari Sirius.
"Ah, Ya, Silakan. Tapi jangan beritahu Molly apa yang ada di dalam situ" Sirius pergi meninggalkan Lily sendirian.
Lily memasuki kamar Sirius dan memandang kamar Sirius. Dia yakin dulu kamar ini pasti sangat bagus. Di kamar Sirius ada banyak sekali panji-panji Griffindor hanya untuk menggaris bawahi bahwa Sirius jauh berbeda dari seluruh keluarga Black. Sirius pastilah sudah berusaha mati-matian untuk menjengkelkan orangtua nya. Banyak sekali poster muggle disitu. Lily terkikik pelan saat melihat beberapa poster wanita muggle yang berbikini, dia tahu sekarang apa maksud Sirius dengan 'jangan beritahu Molly apa yang ada di dalam situ'. Lily terus berkeliling dan melihat-lihat kamar Sirius, dan tiba-tiba Lily berhenti di sebuah foto kecil yang ditempeli Sirius di dinding kamarnya. Foto itu adalah foto para Marauders.
Lily meraba foto itu, meraba wajah-wajah yang tidak asing baginya. Dia yakin orang yang sangat mirip dengan Harry, pastilah James, kakek Lily. Lalu ada lagi yang berambut hitam elegan dan sangat tampan, Sirius. Wajah pucat dengan mata yang ramah, dan tampang yang lusuh, Remus. Dan, Lily merasa bahwa dirinya sangat marah saat melihat anggota Marauders yang terakhir, Peter Pettigrew. Si pengkhianat. Bergabung dengan Voldemort dan menjual Lily dan James kepada Voldemort dengan melanggar kepercayaan James dan Lily. Dialah yang membuat Harry tidak memiliki orang tua. Dan dia jugalah yang membuat James, Albus, dan Lily tidak memiliki kakek dan nenek dari Harry.
Lily meninggalkan foto itu setelah beberapa saat. Lily sekarang menuju ke laci penyimpanan barang Sirius. Dia membuka laci paling atas dan menemukan sebuah kotak didalamnya. Kotak itu dilebeli oleh Sirius dengan nama Marauder's and Lily Flower Memory dengan tinta permanen. Lily langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah Buku Diary. Lily yakin bahwa buku itu adalah milik neneknya. Lily langsung membuka-buka bukunya tapi dia tidak menemukan apa-apa. Lily membolak-balik halaman yang sama lagi dan tetap tidak menemukan apa-apa. Lily menghela nafas panjang. Pastilah neneknya Lily sudah memantrai bukunya agar tidak isinya tidak bisa terbaca jika tidak memasukkan kata kuncinya. Lily masih belum menyerah dan masih mencari-cari halaman yang tidak di beri kata kunci. Setelah melihat ketabahan Lily, akhirnya si buku membuka halaman pertama. Halaman yang paling pertama. Lily terkesiap sesaat, lalu langsung membaca halaman pertama itu.
Dear Diary
Semua wanita di sini, di Hogwarts, sangat mengidamkanmu dan hampir semuanya selalu berusaha tampil cantik didepanmu. Seharusnya aku merasa cemburu kan? tapi aku selalu berkata, atau lebih tepatnya membentakmu, bahwa aku tidak cemburu sama sekali. Aku tidak merasakan apapun terhadapmu dan tidak akan pernah. Tapi kutarik kembali kata-kataku. Aku memang cemburu. Walaupun sangat sedikit, lebih dari sedikit, tetap saja itu namanya cemburu. Kau berubah benyak sekali tahun ini. Atau mungkin aku lah yang buta selama ini. Tapi aku sama sekali tidak cemas kalau kau akan berhenti mengejarku, atau lebih tepatnya belum. Aku sangat ingin mencoba mempercayaimu seperti yang kau bilang seperti ini. Tapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana aku bisa mempercayaimau. Dan aku sama sekali tidak tahu kenapa kau mencintaiku. Aku tidak mengerti sama sekali. Aku tidak tahu apa yang kau lihat dariku. Aku tidak menyenangkan, aku tidak cantik, aku hanya wanita biasa. Ditemani oleh hidup yang biasa saja. Tapi jangan salah, ternyata menjadi wanita seperti ini lumayan menyenangkan. Itu malah membuatku senang, mengetahui bahwa kau memilihku, dan bukan semua wanita yang selama ini selalu mencoba mendapatkanmu. Aku bisa lihat sekarang kenapa mereka memilihmu, walaupun mereka tidak melihat dirimu yang sebenarnya. Mungkin hanya akulah wanita satu-satunya di hogwarts yang melihat jati dirimu yang sebenarnya. Tapi ada satu pertanyaan yang sama sekali tidak bisa kutahan, dari semua wanita yang ada, Kenapa Aku?.
Lily membaca ini dengan mata berair. Dia sangat terharu dengan isinya dan dia membiarkan air mata kerinduan dan kesedihannya jatuh satu per satu ke atas tulisan tangan Lily Evans. Wanita yang memiliki nama sama sepertinya, dan wanita yang dikejar-kejar oleh kakeknya selama 4 tahun penuh tanpa menyerah dan putus asa. Lily yakin bahwa neneknya menulis Diary ini saat dia kelas 7.
Tok, tok, tok.
Lily mendengar suara langah kaki Sirius. Buru-buru dia memasukkan kembali buku itu ke lacinya, dan mengelap air matanya.
"Lil's? kau sudah selesai?" Sirius membuka kamarnya.
"Ah, hai Siri, aku sudah selesai. Bagaimana Buckbeak?" kata Lily berusaha terdengar ceria.
"Ada apa denganmu?" kata Sirius sambil menghampiri Lily.
"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya kelilipan"
"Buckbeak makan dengan lahap, dan tidak, kau tidak kelilipan. Apa yang terjadi?"
"Well, aku membaca diary Nan, dan… dan..." suaranya hilang dan air matanya keluar lagi.
Sirius menghampiri Lily dan memeluknya. Dia memang sudah berpengalaman melakukan ini.
"Shush, tidak apa-apa, jangan menangis, oke? Kau adalah seorang Potter, dan kau harus tegar. Aku pernah tinggal di tempat kakekmu dulu saat aku kabur dari sini. Keluarga Potter adalah segalanya untukku. Mereka selalu ada dan menerimaku kalau aku membutuhkan mereka. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang aku percaya well, hitung moony juga. Mereka sangat baik terhadapku dan peduli padaku. Jika aku punya masalah, aku selalu datang ke mereka dan menceritakan semua bebanku kepada mereka. Ingatlah, kalau keluarga Potter itu selalu ada di dalam hatimu tidak peduli dalam kondisi apapun. Dan kau dilahirkan oleh keluarga seperti itu, dan seharusnya kau bangga kepada mereka. Mereka tidak mengorbankan nyawa mereka untuk melihat cucu mereka menangisi kematian mereka. Mereka masih hidup, dan akan selalu berada di dalam hatimu" kata Sirius tenang, dan membiarkan Lily tetap menangis di dalam pelukannya.
Diluar, Molly mendengar setiap kata yang Sirius ucapkan, dan menangis di bahu Harry, yang ikut mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.
To be Continued...
* : aku beneran nyumpelin mulut aku pake tangan aku sendiri, dan emang kederannya kayak gitu. kalau kurang memuaskan maaf ya...
Aku beneran gak dapet ide lain, dan sekali lagi sorry... banget kalau kurang muasin.
Tapi tolong Review ya, dan pilih salah satu pair biar aku bisa bikin Romance.
