[RALAT]:
Pada footnote di chapter 9, saya kelupaan sama footnote yang pertama (di LAPD). Jadi, ini yang bener:
*) Letnan Jeremiah Cooper: Kalau pada nonton CSI: Miami, Horatio suka dipanggil 'Letnan Horatio Caine', atau Detroit 1-8-7, kan si bos-bos detektif/polisi di DPD itu, yang cewek negro botak itu kan dipanggil Letnan naon gitu. Nah, setelah nanya abang saya (abang saya lebih pinter daripada ortu saya, -_-), katanya di ke-detektif-an, ada pangkat-pangkatnya. Letnan ini lebih tinggi dari detektif lain, semacam Leon Vance-nya si police department itu.
*)) Ada yang pernah nonton Fast Forward, serial TV Amerika yang sempat diputer di FOX Channel gak? Kalau iya, ada suatu episode waktu Dem sama si-cowok-siapalah-yang-nikah-sama-dokter-namanya-Olivia-dan-punya-anak-namanya-Charlie, ke HK untuk melakukan suatu research tentang cewek yang bilang Dem bakal mati 15 Maret 2010. Waktu mereka sampe bandara HK, ada orang negro gitu ngedeketin mereka dan bilang, "Aku dari kantor perwakilan FBI di Hongkong."
Dengan ini, kesalahan sudah diperbaiki O:) *felaying laik a ji siks*
*u*
Disclaimer: Kuroshitsuji © Toboso Yana. Judul fic yang telah diganti diambil dari lagu milik Taylor Swift dengan titel sama.
Warning: AU OOC OCs Fem!Ciel Don't Like Don't Read. Sama saja dengan ff-ff abal saya yang lain.
Title: Love Story
Pair: Sebastian M. x Fem!Ciel P.
Genre: Romance/Tragedy/Drama
Rate: T
Summary: "Yes, I do." Hanya ketiga kata itu saja yang harus dikatakan. Tak ada kalimat lainnya. Selain—selain kalimat dalam otak mereka—I love you.
*u*
Love Story Chapter 10
Washington, District of Columbia
January 20th, 2009
Saat melepaskan pakaian kasual yang ia gunakan dari rumah dan menggantinya dengan gaun putih itu, seorang lelaki dengan tuksedo hitam berjalan ke belakangnya. Membantunya memasang ritsleting di belakang gaun putih itu dan melingkarkan tangannya di pinggang calon istrinya. Menaruh kepalanya di atas pundak wanita itu.
"Cepat juga, hm?" gumam Ciel sambil menatap cermin. Sebastian—gosh, ia terlihat sangat tampan dengan setelan tuksedonya.
"Ya." Sebastian mencium leher Ciel sekali, lalu ikut menatap cermin. "Kau terlihat cantik." Turun ke bawah, menatap perut Ciel. "Setuju, hm, anakku?"
Wajah Ciel benar-benar merah.
"Nah. Kutunggu di altar. Dag." Sebastian menepuk pundak kanan Ciel, lalu meninggalkannya ke dalam gereja.
"Sayang, sudah siap?" tanya Vincent Phantomhive yang berdiri di pintu. "Tadi kulihat Sebastian keluar dari sini."
"Ya, aku siap." Ciel menghela napasnya, lalu mengambil buket bunga yang ada di pinggir cermin. Meraih tangan Vincent dan menggandengnya seerat mungkin.
_._._._._._._
Lagu pernikahan yang aneh. Bukan lagu pernikahan di gereja-gereja biasa. Malah, lagu When I Get You Alone-nya Rob Thicke.
(Sebastian ikut menyanyi. Benar-benar menyanyi. Dan menari. Di atas altar. Di depan pendeta. Ciel nyaris pingsan di depan pintu gereja. Dan itu benar-benar terjadi.)
Saat lagu itu selesai, Vincent memeluk Ciel di depan altar dan mempersilahkannya naik, sementara dia sendiri duduk di sebelah Rachel.
"Yes, I do."
_._._._._._._
Buket anggrek putih yang dilempar Ciel sampai ke tangan Claude Faustus yang bahkan tak ikut wanita-wanita itu ribut di bawah panggung resepsi.
Sambil menatap Sebastian, Claude menaikkan sebelah bahu, lalu menaruh buket itu di antara dirinya dan Ash. Bibirnya menyeringai, dibalas dengan cekikikan Sebastian dari ujung sana.
(Sedikit percikan cinta antara dua sepupu laki-laki?)
Elizabeth berdiri di panggung, di belakang dua pasangan baru itu, dan mulai menyanyi; Candles dari Hey Monday.
Sampai tiba-tiba ia bernarasi:
"Kita tahu kalau seorang suami akan memberikan hadiah pernikahan pada istri barunya," Elizabeth mengerling pada Sebastian, "maka, sambutlah pasangan pernikahan baru kita, Sebastian Phantomhive-Michaelis!"
Ciel mengernyit. Sebastian sendiri tersenyum sambil duduk di depan piano.
I've been alone
Surrounded by darkness
I've seen how heartless
The world can be
Ciel makin mengernyitkan matanya. Apa maksud Sebastian?
I've seen you cryin'
You felt like it's hopeless
I'll always do my best
To make you see
Makin mengernyit, mengernyit, mengernyit.
Baby, you're not alone
'Cause you're here with me
And nothing's ever gonna bring us down
'Cause nothing can keep me from lovin' you
And you know it's true
It don't matter what'll come to be
Our love is all we need to make it trough
Tangan Ciel sedikit gemetar.
Now I know it ain't easy
But it ain't hard trying
Every time I see you smilin'
And I feel you so close to me
And you tell me
Sebastian terdiam selama tiga puluh detik. Tidak ada partitur apapun di depannya. Otaknya blank—dia kehilangan lirik lagunya sendiri. Tangannya ikut mengerjap-ngerjap di atas tuts seperti tangan Ciel yang mengerjap-ngerjap di atas meja. Menutup mata ruby-nya lama. Dan kembali membuka mulut.
Baby, you're not alone
'Cause you're here with me
And nothing's ever gonna bring us down
'Cause nothing can keep me from lovin' you
And you know it's true
It don't matter what'll come to be
Our love is all we need to make it trough
Mengernyitkan mata ruby-nya yang masih terpejam.
I still have trouble
I trip and stumble
Trying to make sense of things sometimes
I look for reasons
But I don't need 'em
All I need is a look in your eyes
And I realize
Baby, I'm not alone
'Cause you're here with me
And nothing's ever gonna take us down
'Cause … nothing can keep me from lovin' you
And you know it's true
It don't matter what'll come to be
Our love is all we need to make it trough
'Cause you're here with me
And nothing's ever gonna bring us down
'Cause nothing, nothing, nothing can keep me from lovin' you
And you know it's true
It don't matter what'll come to be
Our love … is all we need
Our love is all we need to make it …
Trough …*)
*u*
4pm
Sebastian keluar dari kamar mandi dengan sehelai kaus polo putih dengan celana pendek. Menidurkan badannya di kasur sambil menunggu istrinya.
Ciel masuk ke kamar dan ikut menidurkan badannya di sebelah Sebastian. Menaruh kepalanya di atas tangan Sebastian.
"Lagu apa itu?" tanya Ciel.
"Hah?"
"Not Alone."
"That's a song for you."
"Kenapa kau menyanyikan dua lagu dengan kata-kata alone di judulnya?"
"Charlotte sudah menjelaskanya padamu, kan?"
"Ya."
"Ya sudah." Sebastian mengelus-ngelus rambut Ciel.
*u*
Few Months Later
Sebastian berdiri di sebelah Ciel yang menidurkan badannya sambil melihat ke layar USG. Dua anak bergerak-gerak di dalam rahim istrinya. Ciel benar—badannya memiliki tiga jiwa.
Tiga. Dan dia setiap harinya, dengan perut yang semakin membuat tubuhnya berat, berat, dan berat, pergi ke kantor FBI dan naik-turun elevator serta mobil SUV hitam, bahkan menyetirnya ke tempat yang (kadang) cukup jauh.
Keduanya keluar dari ruang dokter itu setelah mengurus administrasi dengan lengan panjang Sebastian menopang badan belakang Ciel. Merematnya sedikit—
—dan berpapasan dengan Vincent Phantomhive serta Arthur Michaelis.
"Eh, Ciel, Sebastian?" tanya Vincent.
"Oh, hey, Dad!" Ciel tersenyum lebar.
"Selamat siang, Vince," sapa Sebastian, "Hai, Ayah."
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Arthur kali ini.
Keduanya bertatapan. Keduanya belum bercerita apapun tentang kehamilan Ciel. Tidak sedikitpun.
"—Apa kau hamil, Ciel?" tanya Vincent sambil menaruh tangannya di atas perut Ciel. Tepat di saat kedua janin lelaki dan perempuan di dalam perutnya menendang-nendang rahimnya.
Lengkap sudah.
"Ayah, aku bisa menjelaskan—"
"Kenapa kamu tidak pernah cerita?" tanya Vincent yang menjabat tangan Ciel dan mencium kening anaknya.
Arthur sendiri berdiri di depan Sebastian yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Ayah—"
"Congratulations." Arthur hanya menjabat tangan Sebastian dan menepuk-nepuk pundaknya. Urat wajahnya yang menandakan umur yang cukup untuk disebut menjadi lansia itu menarik sunggingan senyum.
Vincent melepaskan tangan Ciel, begitu juga Arthur yang ikut melepaskan tangan Sebastian.
"Senang bertemu dengan kalian kembali. Kami ada urusan yang lebih penting. Sekali lagi, congrats." Keduanya menepuk pundak anak-anaknya dan meninggalkannya ke lantai di mana kantor Arthur berada.
Sementara pasangan suami-istri itu hanya bertatap-tatapan sebentar, lalu keluar rumah sakit dan kembali ke J. Edgar Hoover Building.
*u*
October 09th, 2009
Di hari Jum'at di musim semi itu, Sebastian meremat tangan istrinya sekuat mungkin, yang kali ini sedang mencoba mengingat ayat-ayat Alkitab untuk menenangkan dirinya. Wanita itu bersikeras untuk melancarkan kelahiran kedua anaknya dengan prosesi normal.
"AAAAAAAAAKH!" seru Ciel saat ia sudah tak dapat menahannya. Tangannya mengerat, mengerat, dan mengerat di pegangan Sebastian.
Sebastian mengernyit karena pegangan Ciel sangat kuat di tangannya. Sesakit itukah?
"AAAAAAKH! Ah—kh—AAAAAAAAAKH!" teriak Ciel lagi. Pada saat itu juga seorang bayi perempuan telah dipegang dokter kandungannya—Luka Makken—yang menyerahkannya pada suster di dekatnya untuk dibersihkan.
Lima menit setelah Ciel menggendong anak pertamanya—
"AAAAAAAAAAAAAAAKH!" teriak Ciel tiba-tiba. Adik kembar anak yang digendongnya mulai mendesak untuk mengikuti jejak kakaknya.
"Ah—ah—AAAAAAAAAAAAKKKKKHHHHHH!" teriakannya semakin keras. Rachel yang juga ikut duduk di sebelah lain Ciel nyaris menangis melihat anaknya yang terus-terusan menderita.
Sebastian, entah darimana, mulai mengalunkan suaranya. "Baby, you're not alone. Cause you're here with me. And nothing's gonna bring us down. Cause nothing can keep me from lovin' you. And you know it's true. It don't matter what'll come to be. Our love is all we need to make it trough."
Rachel sedikit kaget karena Sebastian tiba-tiba menyanyikan lagu yang hanya pernah ia dengar di pernikahan anaknya. Lalu …
… suara tangisan bayi terdengar dari frekuensi telinga semua yang ada di dalam ruangan melahirkan itu.
Ciel mencoba mengatur napasnya yang sudah tidak karuan karena prosesi kelahiran kedua anak pertamanya itu. Saat ia kembali bernapas dengan biasa, dia menatap ibunya dan suaminya. "Terima kasih."
Keduanya mencium pipi Ciel, lalu kembali duduk di kursi sebelah Ciel. Sementara dr. Makken keluar dari ruangan melahirkan dan menyambut keluarga Phantomhive dan Michaelis—serta beberapa co-worker keduanya—dengan kabar baik tersebut.
Elizabeth adalah yang pertama masuk mendekati Ciel. Rachel sudah keluar untuk mencari udara segar sementara Sebastian ikut mengantar mertuanya itu ke taman rumah sakit, maka hanya ada mereka berdua.
"Jadi, bagaimana rasanya?" tanya Elizabeth.
"Painful. But beautiful." Ciel memandang langit-langit rumah sakit yang putih itu. Tersenyum seraya membiarkan tangannya diremat Elizabeth.
"Aku mendengar teriakanmu dari luar," gumam Elizabeth.
"Tunggu, apakah aku berteriak sekeras itu?" gurau Ciel.
"You did."
"Oh, akan kutunggu teriakanmu." Ciel tersenyum dan mendapat pukulan main-main dari Elizabeth.
"Kau tuh, ya!" Elizabeth mengumpat sambil tertawa.
"Hahaha!" Ciel tertawa lepas. Dia mendudukkan badannya di kepala tempat tidur.
Keduanya tersenyum kepada masing-masing.
"Aku nggak sabar melihat anak pertamamu, Liz."
"Kau kira aku tidak?"
_._._._._._._
"Jadi, kabar terbarunya adalah, Elizabeth itu tunanganmu, dr. Makken?" tanya Ciel yang sedang menuliskan beberapa nama untuk anaknya yang sudah ia pikirkan.
"Bisa dibilang begitu." Dokter berambut merah itu menjawab. "Dia cantik, kau tahu? Meski pirang, dia juga pintar—"
"Kata siapa orang pirang harus bodoh?" tanya Ciel.
"Whoops. Maaf, Agen Phantomhive-Michaelis."
"Hnggggh. Seingatku, Lizzy ada di NY selama ini. Bagaimana kau bertemu dirinya, dr. Makken?" tanya Ciel.
"Panggil saya Luka. Well, katakan saja, Arthur dan Eliza cukup dekat." Luka berkata.
"Maka panggil aku Ciel. Lalu?"
"Saat itu, Arthur harus keluar sebentar. Saya kebetulan harus memberikan laporan kinerja bawahanku kepadanya."
"Hm?"
"Saat itu Eliza ada di sana. Kami bersalaman dan mulai bercerita ini-itu, dan menemukan banyak kesamaan dalam pribadi saya dan Eliza."
"Kenapa dia bertanya tentang rasanya melahirkan padaku?"
Deg.
"Dia—" Luka menggigit bibirnya. "—hamil. Sudah dua bulan ini."
"H-hah?" Ciel mengerjap-ngerjapkan matanya. "Yang serius saja kau!" serunya seketika.
"Benar! Eliza hamil sejak bulan Agustus lalu. Saat itu kami cuti dari pekerjaan masing-masing dan berlibur ke Bali. Saat saya membawanya kembali ke AS, dia sempat meminta untuk diperiksa kehamilan. Dan hasilnya, Eliza positif hamil."
"—Ya sudahlah." Ciel menghela napas. "Pastikan itu anakmu. Jika bukan, aku tak segan-segan membunuhmu di tempat."
Luka Makken mendapat kelegaannya kembali. Ya Tuhan—dia takut sekali tadi.
"Omong-omong, Lizzy sudah hamil sekarang. Dua bulan, malah. Kenapa belum kau nikahi?"
Ups.
_._._._._._._
Arthur Michaelis dan Vincent Phantomhive masuk ke ruangan bergantian. Keduanya memberi selamat pada Ciel, lalu mengelus pipi kedua cucunya, dan meninggalkan ruangan.
Kali ini hanya keheningan yang menerpa Ciel dan Sebastian.
"Jadi," gumam Sebastian, "sudah memikirkan nama mereka?"
"Ya," jawab Ciel.
"Aku juga." Sebastian menggumam.
"Menurutmu siapa?" tanya Ciel.
"Mungkin Natasha Celine Phantomhive-Michaelis? Natasha berarti 'manifestation of God' sementara Celine dari namamu. Anak lelaki kita … Sebastian William Phantomhive-Michaelis, Jr.?"
"Nama yang bagus."
"Yeah. Menurutmu?"
"Chloe Elizabeth Phantomhive-Michaelis atau Chloe Phantomhive-Michaelis, tanpa 'Elizabeth', dan Sebastian Michael Phantomhive-Michaelis, Jr.."
Sebastian mengangguk-angguk. Lalu dia mengambil formulir akta kelahiran di dekatnya. Ia mulai menulis.
"Hei, apa yang kau tulis?" tanya Ciel.
Setelah menulis di dua lembar formulir itu, ia memberikannya pada Ciel.
Formulir 1: Chloe Natasha Elizabeth Phantomhive-Michaelis, Female, 09 October 2009, 17.55
Formulir 2: Sebastian Michael William Phantomhive-Michaelis, Jr., Male, 09 October 2009, 18.00
"Pernahkah aku berkata bahwa kau ini jenius?"
*u*
Few Years Later …
Sambil menunggu kedatangan kedua anaknya dari sekolah, Sebastian mulai menyiapkan makan siang, sementara Ciel masih ada di kantor.
Pintu rumah terbuka dengan suara ketukan dua pasang sneaker dari ujung sana.
"Ayaaaaaaah! Kami pulaaaaaaaang!" seru Chloe Natasha Elizabeth Phantomhive-Michaelis sambil menaruh tasnya di sofa dan memeluk ayahnya.
"Ayaaaah, aku dan Chloe menang! Kami menaaaang! Ayaaah!" seru Sebastian Michael William Phantomhive-Michaelis, Jr. sambil ikut memeluk ayahnya.
"Hahaha. Selamat, ya! Kalian tidak tahu bagaimana bangganya nanti ibu kalian saat mendengar kabar itu." Sebastian mengecup kening kedua anaknya. "Nah, siapa yang mau bantu Ayah membuat makan siang?"
"Memangnya makan siang hari ini apa?" tanya Chloe.
"Pancake?" tawar Sebastian.
"Yaaaaaaay!" girang Sebastian William dan Chloe bersamaan.
"Kaliaaan! Ada yang mau bantu Ayah, nggak?"
"Aku! Aku! Aku!" seru keduanya.
"Ya sudah. Chloe, kau bisa mengaduk adonannya. Will, menyiapkan piring-piring dan topping yang kalian inginkan. Atau kau bisa membantu Chloe memasaknya nanti!" kata Sebastian sambil tersenyum.
"Aye, captain!" jawab keduanya sambil segera mengerjakan apa yang disebutkan Sebastian tadi.
Android Xperia-nya menderit di atas meja dapur.
"Sebastian Phantomhive-Michaelis, Sr.," jawab Sebastian.
"Hei! Bagaimana Chloe dan Sebastian William?" tanya Ciel dari ujung sana.
"Sibuk membantuku membuat panekuk," jawab Sebastian.
"Aaah, padahal yang harusnya di sana itu ibunya …," gumam Ciel.
"Makanya, jangan jadi FBI," gurau Sebastian.
"Heh!" gerutu Ciel.
"Bercanda." Sebastian tersenyum sendiri. Lalu Sebastian William menarik-narik ujung kemejanya.
"Ya, Sebastian William?" tanya Sebastian.
"Itu Ibu?" tanya Sebastian William.
"Ya, kau ingin bicara?" tawar Sebastian sambil menyerahkan ponselnya kepada anaknya itu.
"Ibu?" panggil Sebastian William.
"Hei, Sebastian William! Bagaimana kau tahu ini ibumu?" tanya Ciel.
"Ibu, tolong, deh. Aku tahu cara bicara Ayah kepada Ibu beda dengan cara Ayah bicara dengan perempuan lain." Sebastian William tertawa kecil.
"Hahaha. Kau menangkapku, Nak. Mmm, maaf, ya, Ibu tidak bisa lama-lama. Ada pekerjaan, tapi Ibu tidak akan lama tinggal. Selamat makan, Sayang! Sisakan ibu satu."
"Kay, Mom!" Sebastian William membiarkan Ciel menutup teleponnya dan memberikannya pada Sebastian.
"Apa katanya?"
"Meminta untuk disisakan panekuk satu. Untuk ukuran Ibu, sepertinya maksudnya adalah porsiku dan Chloe digabung," gurau anak 11 tahun itu.
"Hahaha! Ayo, masak. Kau bisa, 'kan?" tanya Sebastian.
"Ayaaaaaah!"
*u*
End of Love Story.
10 Chapter, 30+ reviews, high range hits in Indonesia, United States, and United Kingdom (fourth place, ISRAEL!). Thank you so, so, so much.
*u*
*) Not Alone: aslinya bukan lagu yang saya asal buat. Ini lagunya Darren Criss yang saya paling suka, kebetulan original song di demo album-nya. Not Alone ini lagu yang Darren nyanyiin di suatu kafe atau restauran di LA waktu dia bener-bener pertama kali sampai di LA. Sambil main piano juga, dia sempat kehilangan lirik dan cuma kayak 'blrrblrrrblrrr and you know it's true blllrrblrrrblrr' =))
*u*
So, it's done. FINALLY.
Hoping that I can finish my another multi-chapters. Good night, everyone. Have a nice dream!
~an unknown girl. (PS: some last review?)
