Disclaimer: I don't own Digimon

Chapter 10

Dunia Digital telah memulai pagi harinya, begitu juga dengan Takeru yang baru saja tersadar dari alam mimpi. Ia mendapatkan tidur nyenyak sekaligus mimpi yang telah membawanya menuju semangat juang tinggi untuk dunia digital. Takeru beranjak keluar menemui kesegaran pagi dunia itu, sepertinya udara yang dihirup olehnya tidak jauh berbeda dari apa yang biasa dirasakan.

Pagi itu, Takeru kembali dikejutkan oleh sesuatu yang tengah menunggunya di meja makan. Bukan hanya makan pagi yang telah disediakan Gennai, namun ada sesuatu lain yang mengalihkan perhatian pemuda ber-rambut pirang ini. Digivice hijaunya itu terletak disana dan bersanding dengan sebuah tag. Bukan main riangnya perasaan Takeru, benda yang berwarna emas mengkilap dan bertali itu memiliki Crest of Hope terpasang didalamnya. Ini semua terlihat seperti mimpinya menjadi sebuah kenyataan, Takeru tak pernah menyangka jika ia akan melihat kembali Crest miliknya setelah pengorbanan dari anak-anak terpilih untuk pelindung dunia digital.

Saking gembira-nya ia, Takeru langsung beranjak menuju kamar tempat ia tidur semalam dan membangunkan Patamon. Ia terlihat sangat bersemangat tentang ini, bagaimanapun juga ini artinya ia dapat mengevolusikan Patamon menuju tingkat sempurna. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat HolyAngemon, sesosok digimon malaikat yang memimpin pasukan terdepan dalam barisan cahaya. Iapun yang telah menyelamatkan Takeru dan Hikari dari jatuhnya di kastil Dark Master Piemon.

"Patamon! Hei, Patamon! Bangun!" seru Takeru.

Kelopak mata Patamon perlahan-lahan terbuka, walaupun terlihat sangat berat hanya untuk tersadar. Mungkin sedikit keterlaluan untuknya, berteriak-teriak membangunkan pada pukul tujuh pagi disaat kau tak bersekolah hari itu. Namun rasa senangnya tak dapat dikalahkan oleh rasa kasihan sedikitpun, karena pada dasarnya ia mengetahui Patamon juga akan senang mendengar hal ini. Maka dari itu ia tak ingin Patamon menunggu lebih lama untuk mengetahui ini semua.

"Ada apa.. Takeruu?" tanya Patamon dengan nada tak sadarkan dirinya. Bahkan mungkin jika Takeru meninggalkan dirinya saat itu, Patamon akan kembali terlelap dan akan bangun satu jam kemudian.

"Baru saja aku dari ruang makan, dan aku menemukan crest kita berada disana!" ujar Takeru dengan semangat.

Seperti yang telah ia duga, yang semula matanya terpejam kini Patamon tersadar dengan wajah terkejut dan tak percaya. Ia tersenyum lebar dan segera hinggap di kepala Takeru.

"Aku sudah tak sabar melihatnya!" seru Patamon dengan semangatnya yang kini menyamai Takeru. Tak heran kalau mereka seperti itu, karena mereka adalah pasangan antara anak terpilih dan digimonnya.


Takeru beranjak dengan riang menuju ruang makan dimana ia terakhir kali melihatnya. Disaat ia menjejakkan kakinya, ternyata Gennai juga berada disana sedang menuang teh.

"Ohayo, Gennai-san." gumam Takeru menyapanya.

"Ah kalian, Ohayo." ucap Gennai dan memberikan senyum pada keduanya. Ia mempersilahkan Takeru dan Patamon untuk duduk dan menikmati sarapan yang telah ia siapkan. Walaupun sebenarnya, Takeru merasakan ia sedikit telah merepotkan Gennai.

Keduanya menyantap sarapan dengan lahap, Patamon menghabiskan dua potong roti sedangkan Takeru memilih nasi dan ikan. Pertanyaan kecil muncul di benak Takeru, jika Gennai tinggal sendiri di rumah ini lalu bagaimana bisa makanan yang ia santap rasanya begitu lezat.

"Apakah kalian menikmatinya?" tanya Gennai setelah ia melihat keduanya selesai.

"Tentu saja, arigatou gozaimasu ̀¶Gennai-san!" terurai senyum yang cerah dari Patamon dan juga Takeru. Hal ini tentu membuatnya senang.

Sesaat kemudian, pandangan Takeru kembali teralihkan oleh digivice dan juga crest-nya yang terletak disana. Ia memandang kedua benda itu cukup lama, begitu juga dengan Patamon. Gennai pun menyadari kalau keduanya tengah memperhatikan digivice dan crest itu.

"Aku kira kau tak menyadarinya." gumam Gennai. Kalimatnya itu ternyata dapat mengalihkan perhatian keduanya, dan mereka terlihat seperti tertangkap basah. Gennai meraih digivice dan crest yang berada di sisi kirinya, dan kemudian kembali menatap keduanya yang tengah duduk tenang.

"Baiklah, Takeru. Maafkan aku jika mengambil ini ketika kau sedang tidur semalam." ujar Gennai dan menunjukkan digivice hijaunya. Takeru pun tak merasakan keberatan, karena sekalipun Gennai mengambilnya tak akan terjadi sesuatu yang akan menghancurkan dunia.

"Tak apa, Gennai-san. Aku sebetulnya ingin bertanya tentang crest of hope-ku, aku pikir benda ini tak dapat kembali lagi." kata Takeru.

Gennai mengangguk setelah mendengar anak terpilih yang kini berada di hadapannya, ia kemudian melepas crest itu dari tag-nya. Pandangan Takeru pun tak dapat lepas dari apa yang sedang Gennai lakukan.

"Ada dua crest yang spesial di dunia ini, dan milikmu adalah satunya. Itulah kenapa, pertahanan dunia digital akan tetap aman walaupun crest milikmu kembali menjadi bentuk awal seperti ini." jawab Gennai atas pertanyaan Takeru, hal ini membuatnya kembali teringat saat ia menerima pesan dari Gennai untuk pergi ke dunia digital.

"Apa itu berarti.. crest yang lain adalah, Crest of Light?" tanya Takeru dengan antuasias, kini ia telah mengerti alasan dirinya pergi menuju dunia digital seorang diri.

"Tepat, itulah mengapa hanya satu diantara kalian yang dapat pergi." ujar Gennai dan tersenyum pada Takeru. Ia kemudian meletakkan crest berwarna kuning itu sejajar dengan digivice milik Takeru.

"Baiklah, sebelum kau memulai semua ini. Aku ingin kau mengetahui, bahwa musuh kita sekarang bukanlah seperti yang dulu. Jika kau mengetahuinya, kerusakan yang cukup parah telah terjadi pada dunia ini. Maka untuk bertarung dengan caramu terdahulu akan sangat berbahaya, lihatlah." ujar Gennai.

Ia kemudian memasangkan crest of hope itu pada satu slot yang berada pada digivice hijau milik Takeru. Kini crest itu berada didalamnya dan tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang. Perlahan-lahan cahaya itu kembali redup dan akhirnya menghilang. Takeru dan Patamon sempat takjub melihat apa yang terjadi pada digivice miliknya, warna digivice itu kini berubah menjadi kuning keemasan dengan grip yang tetap berwarna hijau.

"Ini milikmu, ambillah." Gennai menyerahkan digivice itu pada Takeru, dan kembali meneguk sedikit teh yang masih tersisa.

"Uhm, Gennai-san. Apa yang harus kulakukan dengan ini?" Takeru terlihat sedikit bingung, digivice yang kini berada di genggaman tangannya terlihat sama namun dengan warna yang berbeda. Hanya saja layar digivice itu kini tertera lambang harapan miliknya.

"Takeru, ada sesuatu di dunia ini yang disebut dengan Matrix Evolution." gumam Gennai menjawab pertanyaan itu. Ia telah menduga jika Takeru akan bertanya tentang hal ini, namun bagaimanapun semua ini akan menjadi pengalaman baru baginya.


"Matrix Evolution?" tanya Takeru, bahkan ia baru pertama kali mendengarnya.

"Ya, itu adalah suatu proses evolusi dimana partner dan digimon mereka menjadi satu untuk menggapai tingkat yang lebih tinggi. Tentu saja kau membutuhkan kepercayaan pada seorang teman." Gennai mencoba menjelaskan hal itu pada Takeru, namun sepertinya apa yang tergambar pada raut wajah Takeru bahwa ia tak mengerti hal ini. "Sepertinya kau tidak mengerti, baiklah. Seiring berjalannya waktu kau akan mengetahuinya." Gennai berdiri dan kemudian menghilang ke ruangan lain.

Takeru masih saja terpaku dengan apa yang baru saja didengarnya. Disamping ia tak mengerti, sulit untuk dipercaya juga untuk seorang manusia dapat menyatu dengan digimon. Sekilas ia berpandangan dengan Patamon, dan kemudian terlintas di benaknya bagaimana jika ia bergabung dan menyatu dengan digimon berbentuk hamster orange bersayap itu. Hal pertama yang ia bayangkan adalah, dirinya dengan kulit yang berubah berwarna orange seperti Patamon dan memiliki sayap pada kepalanya.

"Takeruu, apakah kau percaya hal tadi? Manusia sepertimu dapat bergabung dengan digimon sepertiku? Terdengar sedikit menakutkan." gumam Patamon sambil menatap sahabatnya yang ber-rambut pirang itu.

"Hm, aku sedikit tidak mengerti." Takeru menopang kepalanya pada tangan yang disilangkan diatas meja. Ia terus memperhatikan digivicenya yang kini telah berbeda dari sebelumnya. Ia kerap memutar balik digivice itu cukup lama.

"Patamon, bagaimana jika kita memikirkan ini sambil berjalan-jalan diluar?" usul Takeru yang masih saja menatap digivice itu. Ia merasakan sedikit penat ketika berdiam diri saja disana, maka iapun beranjak keluar halaman. Ia dan Patamon kembali menginjak alam liar dunia digital, namun mereka tidak khawatir akan apapun menyerang. Setidaknya ia hanya ingin berjalan-jalan di sekitar sana untuk mencari kesejukan.


Takeru berjalan melintasi pohon-pohon rindang yang samar-samar terdapat sinar matahari menembus celah diantaranya. Matahari sudah mulai tinggi saat itu, dan kiranya ia akan kembali sebelum panas siang menjadi sangat terik. Ia dan Patamon menyusuri jalan setapak yang layaknya seperti hutan didekat danau dimana rumah Gennai berada. Ia akhirnya menemukan satu batu besar yang cukup untuknya duduk bersantai disana.

"Patamon, apa menurutmu tentang ini?" ujar Takeru memulai pembicaraan diantara mereka.

"Entahlah Takeruu, namun tidak ada salahnya jika kita mencoba." Patamon kembali meringkuk di pangkuan Takeru. Mereka berada disana sembari Takeru juga memikirkan apa yang barusan saja Gennai katakan padanya.

"Kepercayaan pada seorang teman.." gumam Takeru.

Disaat ia sedang membayangkan hal itu lebih jauh, Takeru mendengar sesuatu seperti suara sayap yang mendengung sedang mendekat kearah mereka. Ia mencoba untuk diam, dan menajamkan pendengaran. Tidak salah lagi, ia mendengar suara. Takeru berdiri dari tempatnya, dan kemudian memandang kemana arah itu berasal. Kemudian ia melihat tiga, bahkan lima Kuwagamon sedang menuju kearahnya. Takeru berpikir jika itu hanyalah sekumpulan digimon yang sedang berpindah tempat, namun nyatanya berbeda dari apa yang dipikirkan. Para Kuwagamon itu menukik dan hampir saja mendapati Takeru jika ia tak merunduk.

"Takeru! Kau tidak apa-apa?" tanya Patamon yang berada dalam pelukannya itu.

"Argh!" desah Takeru dan kemudian ia bangkit berdiri.

Tak hanya sampai disana, Kuwagamon itu berbalik arah dan kembali mengejar mereka. Takeru yang menyadari hal tersebut, kemudian membawa Patamon lari ke tempat yang aman. Hal pertama yang terlintas di kepalanya adalah kembali ke rumah Gennai. Ia mencoba untuk kembali menuju danau itu dengan jalan memutar, karena ia tak mungkin berbalik arah dan menghadap para Kuwagamon itu. Ia berlari ditengah pepohonan tinggi dan terkadang harus melompat untuk menghindari dahan pohon yang jatuh.

"Patamon.. berubah.. lah.." ujar Takeru tergesa-gesa. Ia menggenggam digivicenya sambil berlari di jalan setapak melewati hutan. Ia berharap jika Patamon dapat berubah saat itu dan mengalahkan para Kuwagamon atau paling tidak mereka dapat pergi.

"Patamon.. shinkaaaa.." Patamon mencoba keras untuk berubah, namun yang didapatkannya hanyalah ia tersedak. "Uhk, Takeru.. aku.. tak dapat melakukannya.."

"Apa.. Apa maksudmu?" Takeru tak dapat berpikir dalam keadaannya yang sedang dalam bahaya seperti itu, ia terus saja berlari karena masih terdengar dengungan sayap mengejarnya.

Bahkan Takeru tak luput dari kesialan di hari crest nya kembali, ketika ia mulai merasa sudah lebih jauh dengan para Kuwagamon itu Takeru mengambil napas lega. Namun apa yang menghadangnya adalah sesuatu yang lebih buruk dari dikejar oleh digimon ganas seperti tadi, yaitu akhir dari jalan setapak. Takeru merasa panik didalam dirinya, bahkan ia kembali mendengar para Kuwagamon itu tidak menyerah. Maka ia berbalik, dan merapat kearah tebing bebatuan tempat berakhirnya jalan tersebut. Kondisinya yang terpojok ini membuatnya berpikir keras bagaimana bisa pergi dari situasi dan kembali ke rumah Gennai. Jikalau pun Takeru mencoba untuk lari ke arah lain, ada kemungkinan besar jika Kuwagamon akan mendapatkannya.

"Ah tidak, kita terjebak.." gumam Takeru. Ia merasakan keringat mengalir di sekujur tubuhnya ketika para Kuwagamon itu menjejak permukaan tanah dan melangkahkan dentuman kaki mendekat kearahnya.

"Ta..keru, bagaimana.. ini?" tatih Patamon dan pandangannya yang terlihat terbuka menandakan ia sedang ketakutan. Bahkan ia mencoba sekeras mungkin untuk berubah, Patamon memejamkan mata dan kemudian menghembuskan napas. Sedikit terlambat untuknya mencoba untuk berubah, karena ayunan cakar salah satu Kuwagamon tengah melesat kearah mereka.

"Patamon!" teriak Takeru.

"Final Elysion!"


Terdengar oleh Takeru, suara ledakan yang menghabisi seluruh Kuwagamon itu dalam satu serangan. Perlahan ia membuka mata dan menemukan dirinya masih berdiri dan selamat. Takeru mengadah keatas dan menemukan siapa yang telah menyelamatkannya. Ia melihat ksatria dengan baju besi berwarna putih mengkilap, jubah merah yang terkibar dengan sangat gagahnya, dan berdiri diatas dua belah sayap sebuah benda yang mirip seperti pesawat. Ksatria itu kemudian berbalik, dan melompat turun. "Apa itu.. digimon?" bisik Takeru pada Patamon yang juga sedang menatap takjub pada ksatria dihadapan mereka.

Seketika, ksatria tinggi berbaju besi itu bercahaya terang yang mengelilingi dirinya. Perlahan-lahan cahaya itu mulai menyusut dan terbagi dua. Melihat apa yang terjadi di hadapannya, Takeru menganga takjub. Tampaklah seorang anak laki-laki berjaket biru dan memakai goggle di kepala seperti Taichi dan Daisuke, beserta dinosaurus berwarna merah yang sepertinya itu adalah partner digimon dari anak laki-laki itu. "Ia.. adalah anak terpilih?" batin Takeru.

"Kalian tidak apa-apa?" gumam seorang anak laki-laki yang tadi, ia mendekat kearah Takeru sembari tersenyum. Diikuti dengan digimon berbentuk dinosaurus merah itu.

"Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, terimakasih atas pertolonganmu." gumam Takeru dan kemudian mengulurkan tangannya. "Takaishi Takeru."

Anak laki-laki berjaket biru itu juga menjabat tangannya, "Matsuda Takato." senyum cerahnya itu mengingatkan Takeru pada Taichi, bagaimanapun jika warna biru pakaiannya itu dipadukan dengan goggle maka keduanya akan tak asing lagi.

"Ah? I-Itu.. Patamon!" seru Takato dengan ekspresi wajahnya yang terkejut melihat digimon yang berada di pelukan Takeru. Patamon sendiri sedikit terkejut, dan wajahnya memerah karena seseorang yang belum pernah ia temui ternyata mengetahui namanya.

"Matsuda Takato-kun, uhm.. sepertinya kau dapat bersatu dengan digimonmu, apa itu benar?" Takeru merasa jika ini adalah kesempatan besarnya untuk bertanya tentang hal ini. Setidaknya ia telah menemukan bukti nyata tentang manusia yang dapat bersatu dengan digimon.

Pemuda itu kemudian mengangguk, "Itu benar, dan panggil saja aku Takato. Ini partnerku, Guilmon." diusapnya punggung digimon berbentuk dinosaurus itu.

"Kalian terlihat seperti sahabat baik." gumam Takeru melihat keduanya.

"Arigatou, Takeru-niichan!" seru Takato menatap pemuda ber-rambut pirang dihadapannya itu. Mendengar apa yang dikatakannya, Takeru menjadi sedikit bingung. Baru sekali ini ia dipanggil dengan sebutan nii-chan oleh seseorang yang berarti kakak. "Onii-chan?" batin Takeru. Mungkin saja karena dirinya lebih tinggi dibanding Takato.

Tiba-tiba terdengar suara perut yang kelaparan diantara mereka, dapat dipastikan jika bukan Takeru maupun Patamon. Kemudian, digimon yang telah diketahui bernama Guilmon itu menarik-narik hoodie Takato. "Taakatooo, Guilmon lapar.."

Takeru merogoh sakunya, dan mengeluarkan sebatang cokelat. Ia membuka bungkus cokelat itu dan memberikannya pada Guilmon. "Ini untukmu." Dilahapnya coklat itu habis oleh Guilmon, dan terlihat dirinya sangat senang.

"Ah, Takeru-niichan. Tak apa?" Takato merasa sedikit tak enak dengan perlakuan Guilmon yang masih saja seperti itu sejak dulu, bahkan ia baru pertama kali bertemu dengan Takeru.

"Daijoubu, karena kalian telah menyelamatkan kami." gumam Takeru sambil tersenyum padanya. Ia kemudian mengingat jika masih ada suatu hal yang ingin ditanyakannya. "Uhm, Takato-kun. Jika kau tidak keberatan, aku ingin sedikit berbincang denganmu."

"Tentu, kami tak keberatan." lalu anak laki-laki itu mengikuti Takeru berjalan menyusuri hutan dengan pepohonan yang rindang. Selama perjalanan, mereka berdua saling bertanya tentang apa saja yang dilakukan selama menjadi anak terpilih. Berbagi cerita, dan canda tawa yang menyejukkan hati.

Tak lama dari tempat terakhir mereka, berteduhlah keduanya dibawah satu pohon yang cukup besar dan sejuk. Udara yang menyegarkan, angin berhembus perlahan menambah kenyamanan, juga ditemani dengan sinar mentari yang menghangatkan tubuh. Guilmon segera meringkuk dan menaruh kepalanya di tanah, begitu juga dengan Patamon yang memejamkan mata disebelahnya.

"Mereka sudah layaknya teman dekat.." gumam Takato ketika melihat dua digimon itu tertidur bersebelahan. Sebelumnya, Patamon dan Guilmon juga sempat bermain selama perjalanan mereka.

Mendengar itu, Takeru pun tersenyum. Tak ada lagi yang lebih indah di dunia ini kecuali sahabat, dan kasih sayang. Ia pun percaya jika kekuatan persahabatan adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena bagaimanapun temanmu adalah sebuah kekuatan.

"Takato-kun, ketika kau bersatu dengan Guilmon. Apa yang kau rasakan?" tanya Takeru memulai percakapan diantara mereka. Sekilas, Takato terlihat seperti berpikir dan mengingat-ingat.

"Uhm.. aku merasakan dirinya, dan diriku menjadi satu. Seperti kau memiliki dua jiwa yang dapat dikendalikan. Begitulah, sedikit sulit untukku menjelaskan bagaimana rasanya. Namun itulah yang kurasakan." jawab Takato sembari menyenderkan tubuhnya pada batu. Takeru mengangguk, ia kini dapat sedikit membayangkan bagaimana dan apa sebenarnya menjadi satu dengan digimon.

"Kau dan Guilmon adalah sahabat baik, bukan?" Takeru menatapnya selagi bertanya.

"Tentu, dan tak ada yang dapat memisahkan kami." ujar Takato dengan senyum bangganya.

Takeru menemui jawaban atas hal ini, ketika kau memerlukan kepercayaan dari seorang teman. Maka ia haruslah memiliki kepercayaan kuat pada Patamon, juga dengan sebaliknya maka mereka akan menggapai sebuah kekuatan. Semua ini menurutnya sangatlah berhubungan, karena tidak hanya kau memiliki digivice pada kantungmu, jika kau tak bersahabat dengan digimonmu maka akan sulit baginya.

"Sepertinya aku sudah mengerti, arigatou Takato-kun." ucapnya dengan senyuman cerah.

"Syukurlah jika itu membantumu, ibu-ku selalu mengatakan untuk membantu seseorang walaupun itu sedikit." ujar seorang pemuda dengan goggle di kepalanya itu. Belum sampai mereka membahas hal lain, sesuatu terdengar berbunyi dari saku celana Takato. Dirinya dan Guilmon kini dikelilingi cahaya kembali.

"Uhm, maafkan aku Takeru-niichan. Sepertinya aku harus pergi sekarang." ia beranjak menghadapnya bersama Guilmon yang baru saja terbangun. "Namun, aku senang memiliki kesempatan bertemu denganmu. Seorang anak terpilih, dan.. kau adalah teman Taichi-san, bukan?"

"Odaiba!" seketika Takeru berteriak ketika melihat Takato mulai menghilang perlahan. "Kau dapat bertemu dengan anak-anak terpilih lainnya. Jika kau memiliki kesempatan, maka berkunjunglah!"

Terlihat senyum terurai pada raut wajah Takato. "Sampai jumpa, Takeru-niichan."

Menghilanglah Takato dan Guilmon, seorang Tamer dan partnernya. Takeru merasakan pertemuannya dengan anak itu sangatlah singkat, namun sangat berarti. Kini, tiada lagi keraguan didalam hatinya untuk menghadapi semua rintangan yang telah menantinya. Kekuatan persahabatan yang erat akan menuntunnya menuju suatu kemenangan manis, dan kemudian ia akan menepati sebuah janji yang telah terucap.