Chapter 10
Lucy memengang bibirnya terus. Ia termenung dan sesekali ia menggeleng pelan untuk mengusir fantasinya mengenai kejadian tadi. Pipinya tak berhenti memerah dan rasanya ia akan meledak kapanpun karena jantungnya tak berhenti berdetak sangat kencang.
"Maafkan aku juga, Luce."
Suaranya yang dalam dan berat, terdengar menyedihkan dan seksi.
"Apa!? Seksi!? Sadarlah, Lucy Heartfilia." Pekiknya kembali. Ia menepuk pipinya dengan keras dan menggeleng pelan. Rutinitas yang ia lakukan sedari ia masuk ke dalam rumah dengan keadaan linglung.
Natsu menciumnya. Hanya sebentar namun meninggalkan bekas mendalam padanya. Rasa hangat dan lembut itu benar-benar membuat otaknya berhenti berpikir dan malah terdiam di depan gerbang rumah kalau saja Mamanya tak menepuk pundaknya dan menyuruhnya masuk ke rumah karena berdiam sendirian sambil menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Natsu pergi begitu saja setelah menciumnya dan berkata maaf.
"Astaga, Lucy. Mama sudah memanggilmu sedari tadi. Ke bawahlah untuk makan malam. Papa sudah pulang." bentak Mamanya yang sudah lelah memanggil putrinya sedari tadi tapi tak mendapat jawaban sama sekali.
Lucy tersentak kaget dan langsung mengangguk cepat pada Mamanya yang menggeleng kepala melihatnya dan berjalan ke lantai bawah kembali. Ia cepat-cepat membereskan penampilannya dan menepuk pipinya kembali yang mulai mengingat ciuman itu lalu berjalan keluar kamarnya.
"Aku pasti sudah gila."
Yanke-kun to Yanke-chan?
~Fairy Tail~
Pairing: Natsu x Lucy
Genre: Romance and Humor
Warning: OOC and Typo's bertebaran
"Lucy, ada apa denganmu? Kau terlihat… berantakan." Alis Loke menukik tajam melihat penampilan Lucy yang 'wow' di pagi hari. Lucy yang sedaritadi berdiam diri sambil menatap jendela –meratapi bagaimana ia akan bersikap di hadapan Natsu hari ini jika pemuda itu datang setelah tragedy ciuman yang membuatnya hampir salah menggunakan gel pembersih wajahnya sebagai pasta gigi tadi malam- lalu menatap bingung Loke yang hampir memuntahkan tawanya setelahnya. Pemuda jingga itu mengeluarkan ponselnya dan memilih aplikasi kamera depan lalu meletakkannya di hadapan Lucy.
Gadis itu terdiam sejenak dan hampir saja melompat dari kursinya melihat penampilan dirinya sendiri dibalik ponsel Loke. Rambut yang terikat asal dengan ketinggian yang berbeda, tak tersisir sama sekali dan bedak yang tak rata. Benar-benar mengerikan!
Pantas saja Loke menertawakannya.
Ia baru saja hendak berlari ke kamar mandi namun saat mendengar suara Natsu yang menggema menyapa semua orang di dalam kelas, ia langsung meringis pelan. Jadi ia mengeluarkan bukunya dan menutup wajahnya dengan buku agar terhindar dari Natsu.
'Kenapa dia harus datang hari ini, sih!?' Jeritnya dalam hati.
"Ohayo, Luce." Sapa Natsu ceria.
Ia hanya mengangkat tangannya sebelah dan menyembunyikan wajahnya lebih dalam di balik buku tulisnya. "O-ohayo, Natsu." Balasnya. Natsu memiringkan kepalanya dan menatap bingung pada sosok Lucy yang tak mau menatapnya dan malah bersembunyi dibalik buku.
"Kenapa kau menutup wajahmu seperti itu?"
"T-tidak ada. A-abaikan saja aku kali ini. A-aku benar-benar harus ke toilet sekarang."
"Kau kena- pfft!" Natsu langsung tertawa terbahak-bahak begitu melihat Lucy yang memerah malu dihadapannya. Sebelum Lucy sempat bergerak keluar kelas, ia segera menarik buku gadis itu dari wajahnya dan terkejut melihat penampilan 'baru' Lucy yang mencengangkan.
"Hahahah!"
Pipi Lucy semakin memerah dan ia langsung berlari keluar kelas.
'Sial!'
Lucy meringis menatap penampilannya di cermin toilet. Ia segera melepaskan hairbands-nya dan membuat rambut blonde-nya menjuntai kusut. Ia bingung bagaimana caranya agar rambutnya kembali rapi sedangkan ia tak pernah membawa sisir ke sekolah. Ingin meminjam pada Levy-chan, tapi ia terlalu malu untuk keluar dengan keadaan rambut yang mencuat kesana kemari dengan tak rapi.
"Bagaimana ini?" rengeknya pada dirinya sendiri. Ia mencoba menyisir rambutnya menggunakan jemarinya namun sama sekali tak berhasil. Yang ada hanya membuat rambutnya semakin berantakan.
Lama-kelamaan akhirnya ia menyerah juga. Jadi ia hanya mengikat rendah rambutnya dan menatap dirinya dengan tak puas. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa karena bisa saja sebentar lagi bel masuk berbunyi dan ia sudah tak ingin membolos lagi seperti seminggu lalu.
Ia melangkah keluar toilet dan terkejut melihat Natsu menyender di dinding lorong dengan tangan terlipat. Ia menatap dirinya lalu tersenyum tipis. "Masih berantakan." Ucapnya santai dan kemudian menarik tangannya dengan lembut. "Ikut aku."
"M-mau kemana?" tanyanya lirih. Ia masih belum bisa menormalkan detak jantungnya saat ini. Ciuman kemarin masih sangat membekas diingatannya dan ia bahkan berpikir kalau ia takkan sanggup untuk menemui Natsu lagi saking malunya.
Natsu terus berjalan melewati lorong dan turun ke lantai satu. Begitu tiba, alis Lucy langsung terangkat. "Ruang kesehatan?" gumamnya heran. Ia tak mengerti kenapa Natsu membawanya keruang kesehatan.
Ia kan baik-baik saja –kecuali penampilannya- atau memang Natsu yang sakit jadi memintannya untuk diantarkan? Batinnya.
Natsu hanya diam saja dan menariknya untuk masuk ke dalam. Ia mengucapkan salam permisi dan tak mendapati siapapun di sana. Ruang kesehatan kosong. Sepertinya penjaganya belum tiba.
Ia mendudukkan Lucy di kursi kecil yang tersedia sedangkan dirinya berjalan menuju lemari kotak obat. Ia membuka lemari tersebut dan mencari sesuatu di dalamnya. "Apa yang kau lakukan?"
"Mencari sisir. Aku selalu melihat Ophiuchus-san merapikan rambutnya dan menyimpan sisirnya di dalam lemari."
"Darimana kau tahu?"
"Aku langganan Ophiuchus-san disini. Laxus-sensei yang selalu menyuruhku ke ruang kesehatan untuk membalut luka-lukaku karena merasa risih. Meski perawat seperti dia benar-benar mengerikan." Jawabnya enteng. Ia tersenyum begitu mendapati sisir berbentuk menggulung berganggang hijau daun dengan corak bunga lili putih tersebut di dalam laci lemari.
Lucy kira Natsu akan memberikannya sisir tersebut dan menyuruhnya untuk merapikan rambutnya sendiri, namun pemuda itu malah mengambil kursi kerja penjaga ruang kesehatan dan duduk membelakanginya. Ia segera melepaskan hairband Lucy dan meletakkannya diatas meja.
"Diamlah. Biar aku yang melakukannya untukmu." Ujarnya begitu melihat punggung Lucy yang bergerak gelisah. "Kau serius?"
"Kau pikir aku bercanda?" Lucy mengangguk pelan.
Ia menghela napas dan mulai menyisir rambut Lucy yang berantakan. Sedikit heran kenapa bisa sangat mudah disisir padahal ia kira bakalan rumit untuk menyisirnya karena surai blonde tersebut benar-benar kusut seperti benang. Namun ia bisa tahu bahwa Lucy sangat merawat rambutnya hingga terasa sangat lembut seperti itu. Apalagi kini aroma shampoo Lucy langsung menyerang indera penciumannya dan hampir membuatnya gila.
"Aku sudah biasa melakukannya. Kaa-chan selalu menyuruhku untuk menyisir rambutnya kalau sedang malas melakukannya." Jelasnya tiba-tiba. Tangannya terus bergerak menyisir surai pirang Lucy dengan gerakan gentle. Ia sedikit menghela napas lega karena Lucy membelakanginya sehingga ia tak perlu melihat rona merah yang kini menjalar di pipinya.
Lucy pun begitu. Ia juga sama memerahnya sekarang. Ini pertama kalinya ada laki-laki yang menyisir rambutnya. Ia bahkan tak pernah ingat apakah Papanya pernah melakukannya untuknya. Papanya itu selalu sibuk bahkan untuk keluarganya sendiri. Kepala pelayan atau Mamanya lah yang biasanya menyisir rambutnya saat ia masih kecil dan kemudian tak pernah lagi karena ia sudah cukup dewasa untuk melakukannya seorang diri.
Ia menggenggam erat ujung rok sekolahnya dan menghela napas beberapa kali untuk meredakan detak jantungnya yang menggila. Inginnya ia bertanya mengenai sikap Natsu yang tergolong sangat biasa saja setelah ciuman kemarin namun ia tak sanggup melakukannya. Logikanya menolak dan ia merasa itu hal yang sangat memalukan. Setidaknya ia harus mensyukuri bahwa hubungannya dengan Natsu sudah kembali seperti semula.
"Nah, sudah selesai." Ujarnya. Sedikit bangga melihat hasil kerjanya yang tergolong bagus dan rapi. Lucy segera berdiri dan menatap pantulannya di depan cermin ruang kesehatan. Ia terdiam sejenak. Berkedip beberapa kali menatap dirinya yang terlihat berbeda. Ia benar-benar terpana dengan hasil gaya rambut braided style yang dilakukan oleh Natsu.
Seorang Natsu Dragneel yang notabene-nya adalah yankee yang lebih jago bertarung dibanding melilit rambut seorang gadis seperti seorang ahli.
"Kau terlihat 10 kali lebih berbahaya dari biasanya sekarang." Ujar Natsu tiba-tiba. Lucy memutar tubuhnya dan Natsu hampir saja tersedak ludahnya sendiri karenanya. Ia berdehem sejenak dan mengalihkan pandangannya dari manic caramel Lucy yang kini menatapnya.
"Arigatou, Natsu."
"T-tak masalah."
Benar saja tebakannya tadi. Setelah bel istirahat berbunyi, banyak lelaki yang menatap Lucy dengan wajah memerah. Mereka tak berani mendekatinya karena sedari tadi ia terus melemparkan tatapan membunuh pada siapapun yang mendekat kecuali Loke. Hanya karena status sepupu, dibiarkannya saja singa playboy tersebut duduk di hadapan Lucy dan memuji keimutannya yang makin bertambah.
"Jadi, apa yang terjadi padamu tadi pagi? Tak biasanya kau sampai tak memerhatikan penampilanmu." Tanya Loke sambil menopang dagu.
Lucy yang tengah membaca novel –ia sedikit mengambil jarak dari Natsu- kembali memerah dan membenamkan wajahnya di buku miliknya. Jantungnya kembali berdegup kencang hingga ia takut bahwa Natsu dan Loke bisa saja mendengarnya. "T-tak ada. K-kurang konsentrasi. Ya! aku hanya kurang konsentrasi."
Alis Loke menukik tipis, begitupun Natsu yang sedang berbaring di atas mejanya. Loke menatap Natsu sejenak lalu kembali menatap Lucy yang tertutupi buku –karena Natsu hanya menjawab dengan gelengan.
"Maksudku, kenapa kau tak konsentrasi? Kau kan selalu fokus pada apapun. Dan juga kenapa kau malah menutup wajahmu dengan buku?" tanya Loke kembali. Kali ini ia merebut novel Lucy dengan sedikit paksaan dan ikut tersipu melihat sepupunya yang memerah sempurna dengan imutnya.
Astaga, bahkan dirinya saja bisa terpesona begini pada sepupunya sendiri.
Lucy langsung menutup wajahnya kembali dengan kedua telapak tangannya dan menggeleng kecil. Membuat rambutnya ikut bergerak mengikuti irama gelengannya.
"Kau tanya saja pada naga ini!" pekiknya malu dan langsung berlari keluar kelas.
"Naga?" ucap Natsu dan Loke berbarengan. Mereka saling menatap satu sama lain dan memiringkan kepala lalu saling mengedik bahu.
Memangnya siapa naga disini?
"Ngomong-ngomong Natsu, kulihat kau sudah baikan dengan Lucy." ucap Loke sambil menatap Natsu yang mulai tiduran di atas mejanya. Natsu mengangkat wajahnya dengan malas dan menatap Loke dengan wajah tertekuk. Moodnya antara jengkel dan senang hari ini.
"Apa maksudmu, Loke?" Loke tersenyum tipis dan menatap kursi Lucy yang kosong dengan pandangan menewarang."Semingguan ini dia mengkhawatirkanmu terus. Kupikir kalian bertengkar karena kau selalu bersikap menghindar dan Lucy yang selalu menyendiri di kantin sekolah."
Natsu kembali membenamkan kepalanya diatas meja dengan wajah cemberut. "Kami tak bertengkar." Gumamnya pelan.
"Hanya salah paham saja." Lanjutnya lagi, namun Loke dapat mendengar jelas perkataannya. Ia terus tersenyum tipis menatap Natsu yang memanyunkan bibirnya sambil menatap bangku Lucy.
"Yah, bagaimanapun, aku senang melihat kalian kembali seperti semula meski ada sedikit jarak. Kurasa kau melakukan sesuatu padanya makanya dia jadi sedikit menghindar dan malu di dekatmu." Tuturnya santai. Natsu bergeming di tempatnya. Ia memutar otaknya dan sama sekali tak mengerti apa maksud perkataan Loke. Bagian mananya ia melakukan sesuatu sampai-sampai Lucy menghindar padanya? ia rasa ia tak melakukan apapun selain ciu-
Tunggu, jangan-jangan…
"Ah!" teriak Natsu tiba-tiba. Loke hampir saja terjungkal dari kursinya saking terkejut dan siswa lainnya pun hampir saja ikut terpekik kaget mendengar teriakan tiba-tiba Natsu yang membahana.
Pipinya langsung memerah dan ia meringis pelan sambil membenamkan wajahnya diatas meja kembali. Ia memukul kepalanya sendiri dan mengutuk-ngutuk dirinya yang baru sadar. Mengacak-acak rambutnya dan memekik frustasi.
Loke hanya mengusap dadanya sebentar lalu menggeleng-geleng dengan tingkah Natsu.
Kenapa dua sejoli ini malah bermain rahasia-rahasiaan dengannya?
Ia menghela napas pelan. Angin musim panas berhembus pelan menerpa wajahnya. Langit tampak bersinar cerah dan teriknya sedikit membuatnya kepanasan karena berdiam diri di atap sekolah sendirian.
Pipinya masih terasa panas karena pembicaraan tadi dan ia terus mengusap bibirnya yang menjadi perhatiannya semenjak kemarin. Apa memang segila ini hanya karena sebuah ciuman pertama?
Ia hanya menghela napas pelan setelahnya. Tak mengerti dengan kinerja otaknya kali ini. Padahal ia ingin berbaikan dengan Natsu dan bersikap normal seperti biasa, namun entah kenapa malah ia yang menghindar.
Disandarkannya kepalanya diatas pembatas besi atap dan ia hanya menatap taman sekolah yang terlihat segar dengan warna hijau dedaunan yang rindang. Diam memandangi bagaimana daun-daun bergerak ketika angin berhembus dan mendengarkan nyanyian cicadas yang menjadi khas musim panas. Matanya terus menatap taman sekolah hingga ia langsung mengangkat wajahnya dari pembatas atas dan melebarkan manik coklatnya.
Di bawah sana, seorang lelaki berambut pirang berantakan khasnya dengan pakaian kasual, tengah tersenyum menatapnya. Senyum tipis yang pernah dilihatnya sebelumnya. Membuatnya menyerngit bingung dengan teriakannya yang kini memanggil namanya.
"Jackal?"
Kenapa dia ada di sini? Apa yang dia inginkan? Dan siapa dia sebenarnya?
TBC
chapter 10 update!
akhirnya ide saya lancar kembali dan mumpung belum sibuk, hehehehe... yang paling de best sih karena mumpung ada kuota whahahaha XD
nah, karna chap sebelumnya saya kebanyakan drama daripada romance humornya (yang menjadi genre utama saya dan malah melenceng) akhirnya saya bakalan kembali dengan adegan humor romance mereka. Mungkin bakalan ada beberapa chap lagi sebelum end, jadi saya masih memikirkan bagaimana endingnya yang bisa memuaskan kalian...
dan, apa ada yang bisa tebak sebenarnya siapa Jackal sebenarnya? yang bener saya bakal kasih permen deh #plak *emang bisa?
ngomong-ngomong, kalian ingat ophiuchus, kan? yang pas bagian celestial spirit jadi liar trus ada tuh yang kunci gerbang ke tiga belas kalau gak salah, yang punyanya yukino... entah kenapa dia cocok jadi perawat kejam karena outfitnya dan juga karakternya yang sadis XD
oklah, saya akan balas review minna-san dulu ya...
guest: sama-sama ;D gomennya kalau kelamaan updatenya... semoga kamu suka chap ini~
r dragneel77: whahaha enak loh, sejuk-sejuk gimana gitu XD kamu mau ikut gak? jadi teman saya aja disana wkwkwkwk yah, mungkin bakalan ada scene Natsu nanti, tapi masih rahasia apa isinya hehehe semoga kamu suka chap ini~
Arin Dragneel: ini udah update... makasih udah review.. semoga kamu suka chap ini~
baiklah, saya juga berterima kasih yang udah dan selalu baca ff saya ini... Arigatou gozaimasu!
nah, sekian dulu dari saya...
salam hangat dan penuh cinta
IreneReiko-chan
mind RnR?
