A/N : … Well, entah kenapa passion untuk melanjutkan fic ini mulai meluruh. Rasanya pengen cepet-cepet kembali ke drabble. Hehehe. Ah, buruan deh ini abis. Kasian juga selama seminggu penuh seragam mereka nggak ganti-ganti. Airlangga, semua ini gara-gara kau #santet Aih, hilang keinginan untuk ngelanjutin! Q_Q Semoga chapter kali ini nggak mengecewakan! DX Daan, maap. Janjinya ini mau dipublish tengah malem. Tapi semaleman suntuk saya stress mikirin IHAFest. Semua ini gara-gara karena kesoktauan saya, jari-jari ini iseng mengedit doc mereka yang tentang prompt itu. Hiksu. Maap ya Mbakle ( ), Ferra Rii. Saya emang anak baru yang bandel.
PS : Syukur kalo dibaca sama mereka. Kalo nggak, saya makin rapuh jadinya.
PSS : Nanti balasan review-nya nyusul ya. Lagi feeling guilty banget ini.
Warn : Male!Indonesia. Violance. Vandalism. Too much benda-benda yang rusak (kapan sih The NEWS nggak ngerusak? #plak) Nggak sempet meriksa typo! QAQ Pikiran acak-adut banget. Pengen ngedaftar jadi anggota sirkus habis ini. Bodo amat kalimat saya absurd gini.
Listening to : Counting Stars – One Republic. DEMI TUUU-HAAAAAN #gebrakmeja Ini lagu cucok banget, brooh #headbang #gila
Summary : CHAPTER SEBELUM FINAL. Tak disangka perjalanan menuju bandara akan serumit ini. WARN: Kegalauan dari si penulis.
.
"The NEWS"
By:
RapuTopu
.
Hetalia: Axis Powers
Disclaimer : Hidekazu Himaruya
Monte Carlo, Monaco
"Selamat pagi, Monte Carlo! Kembali lagi bersama kami kru The NEWS yang awesome dalam misi pencarian Airlangga yang menghilang! Sekarang sudah hari kelima semenjak anak itu diputuskan diculik oleh reporter kami, Natalia. Dan berawal dari sanalah kehidupan kami yang awalnya awesome harus bertambah awesome! Airlangga yang malang diculik salah seorang dari gembong organisasi penjualan senjata ilegal di Eropa Barat milik Elizaveta Hedervary, yaitu Ned!"
"Diculik karena berdasarkan masalah pribadi, pemirsa! Mirip sinetron kedengarannya. TAPI—!" Gilbert tiba-tiba menjerit, membuat kuping Antonio sakit dan Ned nyaris menabrak nenek-nenek yang menyebrang jalan. "—mereka terlibat kisah cinta yang romantis sekali, pemirsaa! Bagaimana mungkin seorang penculik berdarah dingin seperti dia rela mengambil sanderanya kembali dari tangan para bangsawan Kirkland! Oooh—Dia bahkan rela berkhianat dari organisasinya sendiri demi menolong orang bernama Airlangga itu! Dia juga sampai repot-repot mencuri seluruh persenjataan dari organisasi!"
.
.
"Tapi satu yang kupikirkan sejak tadi, pemirsa… ini sungguhan semua senjata ini mau dibawa ke bandara? Sebodoh-bodohnya Feliciano, ternyata Ned jauh lebih bodoh lagi—"
"—HEI!"
.
.
"The NEWS"
Chapter X
Natalia Arlovskaya : Reporter of 'The NEWS'
Gilbert Beilschmidt : Leader of 'The NEWS'
Antonio Fernandez Carriedo : Camera-man of 'The NEWS'
Francis Bonnefoy : Driver of 'The NEWS'
Airlangga Putra Brawijaya : Observator of 'The NEWS'
.
Monte Carlo, Monaco
Truk tua itu melaju membelah aspal berembun menuju bandara. Ini masih pagi hari namun Ned tak bisa tenang. Kendaraan karatan itu digas gila-gilaan. Membuat bersin Antonio berkali-kali tersendat dan membuat jidat Gilbert nyeri karena terus-terusan terantuk ke kaca depan mobil . Natalia justru menikmati ini semua. Angin yang mengibarkan rambut peraknya membuat gadis itu mengibas-ibaskan tiap helaian itu bak seorang model iklan shampo. Lalu, Francis? Ah, pemuda Perancis itu terlalu banyak menegak wine semalam. Hm… sekitar empat botol. Dan sekarang dia tergeletak begitu saja di sebelah Natalia dengan mulut menganga lengkap dengan pakaian lusuh.
Gilbert mengerang. Tak tahan dengan semua tingkah Ned. "Hei, kau ini terlalu cepat mengambil tindakan. Kau tidak berpikir kalau bandara itu punya sistem keamanan? Percuma saja kalau kau membawa semua benda-hitam-keras itu jika ujung-ujungnya disita juga!"
Ned terdiam sesaat. Untuk kesekian kalinya lagi-lagi pemuda Belanda itu tersadar. Lagi-lagi terpaksa membenarkan kalimat Gilbert. Sial, rutuk Ned dalam hati. Masalah Airlangga ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Tapi keteguhan hatinya tetap tak bisa dilawan.
"Pokoknya kita harus ke bandara sekarang, lalu ke Inggris. Entah bagaimanapun caranya, aku mau semua itu beres hari ini."
"Hei, jangan sok memerintah di depan orang awesome! Kau tidak sadar sedang berbicara dengan siapa disini?"
Ned tidak mengacuhkannya sama sekali. Dan hal itu justru memacu Gilbert untuk terus mengamuk.
"Hei, berani sekali mengabaikanku? Heh! Kau dengar apa tidak?"
"Gil—"
"Kuperingatkan sekali lagi, kepala tulip. Kau sudah kuijinkan untuk memegang-megang anak itu selama lima hari ini. Kalau aku jahat, aku bisa menyuruh Airlangga untuk memutuskan hubungan kalian!"
"Gil—"
"Airlangga itu memang cerewet, gampang ngamuk, mudah marah, dan suka blak-blakan. Tapi dia manis dan baik! Aku tak sudi jika orang brengsek sepertimu harus menodai remaja polos tanpa gaji seperti Airlangga! Takkan pernah!"
"Gil—"
"Dan, jika kudengar Airlangga sampai kenapa-kenapa setelah ini, aku takkan segan-segan mencabuti alismu, sialan!"
"GIL!"
"APA, ANTONIO?"
"… Sekelompok polisi mengejar kita dari belakang…"
Monte Carlo, Monaco
Di sudut Monte Carlo yang lain, puluhan mobil-mobil hitam mengilat terpakir tak beraturan di sebuah lapangan luas. Di depannya sebuah pesawat berukuran medium tengah disiapkan untuk lepas landas. Elizaveta Hedervary adalah orang pertama yang keluar dari mobil diikuti pria-pria lain di sekelilingnya.
Mata Elizaveta terpancang lurus pada badan pesawat itu. Tekadnya sudah sangat kuat. Semua permasalahan ini harus diselesaikan. Elizaveta akan memutuskan tali permusuhan di antara kedua kubu. Dan bila memang ada yang harus menjadi korban, Elizaveta takkan gentar.
Dipandanginya satu-satu anggotanya dengan mata tajam yang mengerikan.
"Kalian semua, berjalanlah menuju pesawat! Kita akan memulai misi baru!"
Dan puluhan pria itu mengangkat senjata ke pundak mereka dengan sikap hormat. Menegaskan kesiapan mereka pada misi ini.
"Sekedar pengetahuan saja. Aku yang menculikmu kemari."
"Kau menulis yang aneh-aneh tentangku, ya?"
"Entah kau itu berani atau justru bodoh."
"APB. Inisial namamu. Airlangga Putra Brawijaya. Karena terlalu merepotkan untuk menyebutkan keseluruhan namamu pada saat-saat genting."
"APB. Buka matamu."
"... Airlangga."
" Ternyata kau orangnya tidak sabaran, ya?"
London, England
Sepasang mata hitam itu membuka cepat. Dia baru saja terbangun dari mimpinya. Mimpi yang aneh! Bagai tersengat listrik Airlangga berjengit tertahan ketika kepalanya mendadak pening akibat luka semalam. Napasnya memburu dan jantungnya berdetak tak karuan. Dia memandangi sekelilingnya dengan cepat. Matanya seketika mendelik ketika disadarinya ruangan ini tak pernah ia lihat sebelumnya. Ruangan sempit seluas empat kali empat. Dengan jendela besar di sebelah kirinya, yang membuat Airlangga dapat melihat jelas pepohonan tinggi dan sinar matahari yang menerobos masuk. Dinding-dindingnya dilapisi kain beluru merah bermotif emas. Dan pot-pot besar di empat sudut ruangan. Dari berbagai macam guci dan lukisan yang menghiasi interior ruangan ini, tempat ini terasa jauh lebih sempit dari biasanya.
Airlangga sangat yakin tempat ini benar-benar mahal dari segi desain.
Seketika Airlangga menjerit tertahan. Tangannya terikat. Kedua kakinya juga tak diijinkan untuk bergerak bebas karena terikat tali. Sialnya mulut yang hendak ia gunakan untuk berteriak juga berada dalam keadaan yang sama. Kain hitam itu melilit sebagian wajahnya, membekap hidung dan bibir bersamaan.
Tepat pada saat itu disadarinya ada sebuah meja kayu besar di hadapannya. Meja yang lebih menyerupai meja kerja karena ditumpuki dengan berbagai macam kertas beraneka warna dan buku-buku tebal bersampul kulit. Di belakangnya juga ada kursi besar, berwarna hitam dan tinggi. Terlihat sangat nyaman jika kita menduduki diri disana.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal di visual pengamatannya sejak awal. Sosok yang lebih menyerupai manusia ketimbang patung Michaelangelo, berdiri di sebela meja dengan tangan di saku.
Dan pemandangan asing yang ia lihat tepat di depan mata pada saat itu, membuat lidahnya kelu sesaat.
Tubuhnya menegang sesaat ketika dilihatnya sosok seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
Dan lagi, rupa orang ini begitu mirip dengan beberapa Kirkland yang ia lihat akhir-akhir ini.
Sosok itu pasti Allistor Kirkland. Putra sulung Kirkland yang berdiri tak jauh dari dirinya dengan dua tangan di dalam saku celana. Dan mata hijau itu seakan-akan menyihirnya untuk diam.
"Mau mengadakan perundingan?"
Monte Carlo, Monaco
"Polisi?!" Ned segera melirik spion di sampingnya. Benar saja. Sekitar enam mobil polisi melaju dengan sirine yang berangsur-angsur nyaring, mengindikasikan mereka semakin dekat.
Ned mendesis. Lagi-lagi misinya terhalang gara-gara polisi.
"Berhenti! Ini dari kepolisian! Kecepatan kendaraan anda sudah melewati batas maksimum!" Suara di mikrofon itu berkumandang di udara, ditujukan pada truk tua yang melaju bak pembalap di surkuit internasional.
"Jangan berhenti! Gas terus!" Gilbert kian mengompori Ned, sementara Ned semakin panik dibuatnya.
"Bisa lebih cepat lagi, tidak?!"
"Injak gasnya!"
"Belok! Belok!"
"Kenapa sih truk ini lambat sekali?"
Dan teriakan-teriakan serupa yang mengutuk Ned terdengar hingga beberapa menit ke depan. Ned, yang dilanda vertigo ringan langsung terkena serangan jantung dadakan dan menyesal karena membawa keempat reporter ini ikut serta. Teriakan-teriakan dua pria di sebelahnya membuat telinganya sakit. Sementara tangan Natalia yang berusaha mencakarinya membuat bajunya nyaris robek.
Muak, Ned membanting stir, berkelok cepat menukik melewati tikungan. Meninggalkan mobil polisi yang beringas mengejari mereka.
London, England
Allistor Kirkland mendatangi tempat Airlangga dalam langkah pelan. Membuat ketukan-ketukan sederhana antara sepatu dan lantai marmer bergema di ruangan kecil itu. Allistor selalu menghampiri mangsanya dalam langkah pelan. Entah itu Gupta, ataupun sosok pemuda Melayu yang sangat mirip dengan Rayan di depannya ini.
Airlangga memberontak, mati-matian berusaha melepaskan ikatan ini. Sementara sosok penerus takhta Kirkland ini semakin mendekat dengan tangan terulur.
Airlangga tak bisa menghindar. Dalam satu tarikan pelan, kain yang membekap mulut Airlangga terlepas, terjatuh pelan ke lantai. Memperlihatkan wajah yang sedari tadi tersembunyi di balik sana.
"Benar apa kata, Dylan. Kalian mirip." kata Scott pelan, tangannya terulur hendak menyentuh wajah itu.
Airlangga memalingkan muka. Sedetik kemudian diserangnya Scott dengan pertanyaan kasar dan cenderung membentak. "Dimana Rayan?" tanyanya langsung ke inti masalah. Sama sekali tak berniat berbasa-basi.
Scott menaikkan alisnya. Merasa surprise dengan keberanian remaja ini yang sama sekali tak terlihat gentar. Tidak sadarkah dia sedang berada dimana? Scott bisa sewaktu-waktu menarik pedangnya dan menebas kepala anak ini dalam sekali sabetan. Tapi Airlangga sama sekali terlihat tak takut dengan itu semua.
"Ah, benar. Naluri seorang kakak. Mencari dimana sang adik brengsek macam dia berada."
Airlangga mendesis. Rayan memang brengsek. Tapi hanya dia orang yang boleh mengatakan demikian pada adiknya itu. Bukan orang lain!
"Dimana dia?!" bentak Airlangga tanpa rasa takut.
"Adikmu? Si Rayan itu?" Scott menaikkan alisnya.
"IYA!" sentak Airlangga. "MANA DIA?!"
"Aku sedang mengurusnya. Kurasa tidak akan selesai hingga ia mau membuka mulut mengenai dimana ia letakkan uang-uang kami." sahut Scott santai. Namun cukup telak dan mengena.
"Makanya aku memintamu untuk mempertemukanku dengannya, sialan!" geram Airlangga. "Untuk itulah aku meminta pertemuan ini diadakan. Untuk bertemu denganmu dan membicarakan masalah ini!" seru Airlangga panjang lebar dengan emosi memuncak.
Scott tertawa sinis. "Mau menyelesaikan masalahnya, kau bilang? Kau bahkan tak bisa menyelesaikan masalahmu saat ini."
Airlangga mendesis. Jelas yang dimaksud Scott adalah penyanderaan ini.
"Lalu, kau pikir Rayan mau mengaku,heh? Sampai beruang kutub bisa terbangpun dia takkan mau memberitahu dimana ia menyimpan uang-uang curiannya selamanya ini!"
Monte Carlo, Monaco
"Berhenti!"
Seru-seruan dari arah keenam mobil polisi di belakang mereka membuat Ned tanpa sadar semakin mempercepat kecepatan truk ini. Dirinya berkali-kali melirik ke belakang, memeriksa jarak di antara keduanya.
"Oh, tidak. Kita benar-benar kriminal sekarang..." lirih Gilbert.
Sementara Antonio, yang entah mengapa mempunyai insting seorang camera-man yang teramat kuat, mengeluarkan kameranya merekam aksi kejar-kejaran antara mobil ini dengan mobil-mobil bersirine nyaring itu.
"Antonio! Kau gila?" Gilbert buru-buru menarik pundak sang pemuda Spanyol, tepat ketika Antonio menyadari sesuatu di antara lusinan mobil-mobil itu. Seseorang yang teramat dikenalnya tengah duduk disana, duduk di kursi jok dengan wajah manis yang begitu ia hapal, yang saat ini terlihat begitu merah, karena sedang marah, tentunya. Tetapi wajah nan tsundere itu justru membuat hatinya kian menggebu-gebu luar biasa.
"Lovino!" Antonio tiba-tiba mengeluarkan kepalanya lalu melambaikan tangan ke arah mobil polisi itu.
Lovino Vargas yang saat itu tengah menyetir mobil, berada di deret paling depan dengan kecepatan maksimal, seketika membelalakan matanya ketika melihat sosok idiot itu lagi tepat di depannya, setelah menghilang dalam waktu yang cukup lama. "Antonio?"
Ned yang tak peduli dengan segala momen kangen-kangenan antara dua orang itu membelokkan kendaraan ini, membuat tubuh Antonio kembali terlempar ke dalam mobil, menabrak Gilbert dan menindih tubuh pemuda albino itu.
"Hei! Kembalikan aku pada, Lovino!" sergah Antonio kesal.
"Kenapa sih kau suka ngebut-ngebut? Santai saja, kali." gerutu Gilbert pada Ned.
Kendaraan tua yang dikendarai Ned melaju menyusuri gang-gang sempit berisi pasar padat. Para pembeli yang berpadatan di sekitar jalan seketika berlarian panik ketika melihat sebuah truk besar berisi orang-orang yang berteriak heboh, tiba-tiba menabrak wilayah pasar.
Truk itu berkali-kali menyerempet gerobak para pedagang buah. Menyerobot kain-kain yang berseliweran di atas sebagai penghalang panas. Menggilas pot-pot bunga plastik. Memecahkan akuarium pemilik toko nelayan. Dan yang terburuk menabrak sebuah teras cafe dimana terdapat seorang tim reporter terdiri dari Alfred F. Jones sang reporter, Vash Zwingli si driver, dan Yao Wang yang memiliki jabatan sebagai camera-man, tengah menikmati kopi pagi hari mereka disana.
Alfred F. Jones, beserta dua kru reporternya yang lain, Vash dan Yao Wang, yang saat itu tengah menikmati kopinya di sebuah café kecil di pinggir pasar, kontan menyemburkan kopinya ketika sebuah truk besar melintas tiba-tiba di samping mereka.
"A-apa-apaan tadi barusan?"
"Ada sebuah truk besar melintas di jalan pasar, aru." jelas Yao.
"Apa?" Alfred menaikkan satu alisnya.
Mobil-mobil polisi itu terpaksa harus turut serta dalam segala keributan ini. Para pedagang yang awalnya berteriak histeris ketika melihat dagangan mereka tertabrak truk, kini harus berteriak jauh lebih histeris lagi ketika puluhan mobil polisi berkali-kali menerjang dagangan kecil mereka.
Feliciano berkata terbata-bata di sela guncangan mobil yang dikendarai kakaknya. Badan pemuda Italia itu terlempar kesana kemari. Ia memandang takut ke arah jalan. "… K-kita merusak jalanan, ve~"
"Diam. Kita ini sedang bekerja." rutuk Lovino sambil berusaha memainkan stir, mati-matian menghindari gerobak pedagang sekaligus harus mengejar truk yang melewati ambang batas kecepatan ini.
"Kejar mereka!" seru Alfred yang buru-buru mengambil mic kemudian berlari ke luar café bersama dua rekannya. Terburu-buru mengejar truk yang kini menjadi incaran para mobil polisi. Tidak salah lagi! Matanya tidak salah lihat! Tadi itu benar-benar Gilbert! Gilbert dengan anggota krunya yang lain. Dan apa yang mereka lakukan kali ini hingga sampai dikejar-kejar polisi? Insting reporternya menggelitik kakinya untuk langsung mengejar truk itu. Kelihatannya ia punya sesuatu yang baru untuk diberitakan.
"Cepat kabur!" teriak Gilbert.
Sementara Natalia yang berdiri di belakang langsung menundukkan dirinya ke dalam jerami begitu dilihatnya mobil-mobil polisi itu. Bukannya karena takut pada mobil polisi itu, tapi karena kepala Francis terguling ke arahnya. Natalia menggeram kesal sambil menyingkirkan tubuh itu.
Truk itu terus melaju, laju melawan angin dan menabrak segala sesuatu di sekitarnya.
Termasuk gerobak pedagang tomat.
Gerobak berisi buah-buah tomat yang tertabrak moncong truk membuat puluhan tomat segar itu muncrat dan tersemprot ke jendela truk dalam volume cukup banyak. Kaca jendela seketika dibanciri kulit-kulit tomat. Ketiga orang itu menjerit panik karena tak bisa melihat jalanan.
"Cepat hapus! Cepat hapus!" Gilbert mencekik leher Antonio yang berada di dekat jendela dengan teramat panik, karena jalanan di depan mereka terhalangi rupa cairan tomat.
Truk oleng tak terkendali. Ned tak bisa mengendalikannya. Tomat-tomat ini menghalangi pandangannya .
"Cepat singkirkan benda ini!" teriak Ned sama paniknya. Dia berusaha memencet penghapus kaca jendela tetapi stik itu macet.
Sementara Antonio yang menganga melihat ribuan tomat bersarang indah di depan kaca tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"¡Dios mio! Tomato!" Antonio langsung menerjang jendela pintu mobil dengan kesenangan luar biasa. Camera-man The NEWS itu duduk di pinggir jendela seraya meraih-meraih tomat segar yang menempel di kaca truk. Sementara Gilbert sang leader begitu panik melihat teman serekannya tiba-tiba mengadakan aksi nekat.
"Hei! Turun! Turun!"
"Cepat singkirkan ini!"
" Tomato!"
"Ada ribut-ribut apa sih di depan?!" Natalia mengintip dari jendela Ned.
Tangan-tangan Antonio yang cekatan memungut lembaran-lembaran kulit tomat itu membuat Ned perlahan-lahan bisa melihat jalanan kembali walau hanya melalui lubang kecil.
"Turun, Antonio!" sergah Gilbert, seraya kerepotan menarik tangan sahabatnya untuk kembali ke jok.
" Tomato!"
"Hei! Kalian bisa diam tidak?" tukas Ned.
Lembar-lembaran kulit tomat yang dipungut Antonio membuat Ned kembali bisa melihat jalanan dengan jelas. Pada saat yang bersamaan bunyi deru mesin pesawat terdenger dari kejauhan. Di belakang mereka kini tak terdengar lagi bunyi sirine mobil polisi. Kelihatannya mereka tak berani mengejar truk tua itu yang mulai menerobos sebuah gang sempit yang diapit dua bangunan rumah.
Truk mulai menabrak sekitarnya. Kendaraan itu berguncang hebat.
Hingga akhirnya menabrak pagar pembatas menuju bandara.
London, England
Airlangga meronta-ronta di kursinya. Dia memberontak.
Ini benar-benar hari sialnya. Scott pergi meninggalkannya begitu saja di ruangan ini. Sendirian, sementara tangannya terikat kuat. Mata Airlangga mencari-cari sesuatu di ruangan ini yang bisa digunakan untuk kabur.
Tapi, tidak ada!
Airlangga hanya berusaha menggoyang-goyangkan tangannya tak karuan. Membuat minimal tali itu longgar sedikit atau terbuka sekalian. Tetapi hal itu justru membuat kulitnya teriris.
Airlangga meringis.
Tepat pada saat itu, pena miliknya meluncur dari saku celana. Jatuh ke lantai marmer dan menimbulkan bunyi dentingan pelan. Mata hitam Airlangga memandangi benda itu sesaat dalam keterdiaman.
Sedetik kemudian sebuah ide terbersit di kepalanya.
Monte Carlo, Monaco
"Bukankah tadi itu Gilbert dan kawan-kawannya?" Alfred menoleh pada kedua temannya.
"S-sepertinya memang begitu, aru."
"Mau apa mereka kesini?" Vash meremas gelas plastiknya.
"Apa peduli kita? Tapi yang penting mereka dikejar-kejar polisi, kan? Kelihatannya kita ada berita baru lagi, teman-teman." Alfred terkekeh penuh arti.
London, England
BRAKK!
Pintu kayu yang awalnya menjadi pembatas antara Airlangga dan ruangan di dalamnya kini terbuka lebar disebabkan tendangan dari kaki Airlangga yang menapak keras. Engsel pintu itu terlepas dan pintu itu roboh seketika, menimbulkan debuman yang nyaring dengan debu di sekitarya. Rasanya tak rugi Airlangga rajin mengikuti kurus tae kwon do tiga tahun silam. Airlangga mengutuk dirinya sendiri, lupa akan keahliannya ini. Kenapa tidak ia tendang saja muka mesum Ned itu dari dulu?
Ah, tapi di samping itu, pena ini berhasil menyelamatkan nyawanya. Hasil dari menonton film-film aksi beberapa bulan terakhir, membuat pemuda Indonesia itu mencoba-coba memungut penanya yang terjatuh dengan cara di tendang-tendangkan ke dinding lalu menangkapnya dengan gigi. Tidak masuk akal? Oh, mungkin akan terdengar masuk akal jika sejak kecil Airlangga selalu bercita-cita menjadi ninja.
Airlangga berlari keluar ruangan menuju sebuah lorong panjang, tepat ketika dilihatnya empat penjaga tengah berdiri di simpangan. Ketika mereka melihat seorang pemuda asing yang baru saja menerobos pintu, sontak keempat penjaga itu buru-buru bergegas dari tempatnya berdiri. Mengejar Airlangga dengan wajah beringas.
"Hei! Berhenti!" Pedang-pedang dari saku dikeluarkan secara bersamaan.
"Oh, tidak..." Airlangga langsung balik badan. Ia berlari menuju tikungan yang lain. Sementara di belakangnya keempat pria itu kian dekat.
Dia memang ahli dalam bidang tae kwon do.
Tapi dia paling lemah dalam hal berlari.
Monte Carlo Airport, Monaco
"Tapi, Pak, semua tas harus diperiksa melalui detektor ini." Seorang satpam muda lagi-lagi harus memohon dengan sangat pada kelima orang bertampang berantakan dan baju penuh lumpur sana-sini.
Gilbert mengerang keras. "HEI! BUKANKAH KAMI SUDAH BILANG ISI TAS INI ADALAH HEWAN BERBAHAYA? KALIAN SEMUA DISINI MAU MATI TERGIGIT?"
Ancaman Gilbert yang disertai teriakan membuat penghuni bandara ketakutan dan seketika menghentikan kegiatan mereka. Belum lagi tampang keempat manusia aneh beserta satu orang berpakaian jas yang ternoda lumpur dan dibanjiri rerumputan di setiap senti pakaian mereka. Mereka lebih mirip pembunuh bayaran gila yang kehilangan target ketimbang pembeli tiket pesawat.
"Tapi, Pak," Toris memotong percakapan Gilbert takut-takut. Bahunya mulai menggigil ketakutan. "Semua barang memang harus melewati alat ini." Toris menunjuk sebuah detektor logam di sebelahnya.
Gilbert mengerang tak sabar. Di tas hitam besar ini ada berbagai senjata titipan Ned. Pria Belanda itu buru-buru memasukan semua benda ini ke dalam ransel Gilbert ketika mobil polisi mulai memergoki mereka tadi. Beruntung mereka berhasil kabur dengan menyelinap ke dalam dapur bandara. Dan melalui tempat itu lah mereka berhasil menyelinap ke dalam bandara dalam keadaan aman. Sayangnya mereka harus melewati bagian keamanan untuk saat ini.
Dan jika tas ini harus dimasukkan ke dalam alat tersebut, otomatis senjata mereka akan ketahuan. Sialnya Ned mengancam tidak akan membawa mereka ke Inggris jika semua persenjataan itu tak ikut serta. Gilbert bahkan menolak hal ini sejak awal. Jika saja kru The NEWS masih punya uang untuk pergi kesana, mereka pasti tidak akan menerima tawaran bodoh ini dan lebih memilih pergi sendiri.
"DISINI ADA IKAN KAMNIVORA YANG SUKA MEMAKAN MANUSIA! KALIAN TIDAK TAKUT, APA?"
"Mana ada ikan yang dimasukkan ke dalam tas."
Komenter itu membuat Gilbert mendelik. "Makanya, ini spesies ikan yang spesial! Jika tas ini dibuka dia akan memberontak dan memakan kalian satu-persatu!"
"Dan dia punya tanduk!" Kini giliran Natalia yang memberi komentar.
"Juga cakar dan ekor cambuk!" Francis ikut-ikutan mengompori. Semenjak sadar dari pengaruh alkohol setengah jam yang lalu, pria ini terlihat jauh lebih tak waras dari sebelumnya.
"Dan pandangan laser." Sahut Antonio.
"Dan sedikit duri-duri tajam." Ned, entah mengapa terhanyut ke dalam perdebatan ini.
"Terakhir kali adikku membuka tas ini, dia harus kehilangan keperjakaan untuk selamanya! Kalian juga mau? "
Mereka bergidik seram.
"Tapi, Pak…"
"JIKA KAU MASIH TAK PERCAYA, AKU AKAN MEMBUKA TAS INI DAN SELURUH JAGAD MANUSIA AKAN MUSNAH!"
London, England
Airlangga berlari terengah-engah menuju koridor sebelah kiri. Dirinya bahkan berkali-kali nyaris terjatuh jika tangannya tak menapak pada dinding dengan permukaan kain beludru berwarna merah itu.
Sedikit lagi dia pasti jatuh terduduk karena kelelehan. Tapi dia masih belum mau berakhir disini.
Hingga Dewi Fortuna mendengar rintihannya. Di ujung lorong, ia menemukan sebuah ruangan kecil. Tak ada jalan lagi. Airlangga tak bisa kembali, jika ia balik badan, otomatis dirinya akan bertemu dengan keempat orang itu lagi. Airlangga mengerang.
Berharap pintu itu tak terkunci, Airlangga berlari menuju pintu itu. Kakinya langsung menendang pintu itu begitu saja. Tubuhnya seketika terjerembab ke dalam sana.
Dirinya terjatuh di permukaan berdebu. Ia terbatuk-batuk sesaat.
Melihat pintu yang masih terbuka, pemuda Indonesia itu buru-buru bangkit berdiri kemudian menguncinya dari dalam. Dirinya tersengal-sengal, masih kelelahan akibat aksi lari-larian tadi. Ruangan yang pengap dan berdebu membuat dadanya semakin terasa sesak.
Penglihatannya sangat terbatas. Ruangan ini teramat gelap. Sangat sepi.
Airlangga baru saja mencoba menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu, tepat ketika dilihatnya seonggok rupa manusia yang meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Airlangga berjengit kaget.
"…S-siapa kau?..." Sosok itu bertanya takut-takut dengan tubuh menggigil ketakutan.
Airlangga berusaha menenangkan dirinya akibat kemunculan sosok ini. Dirinya memandangi orang itu lekat-lekat dengan tatapan menyelidik. Airlangga merasa tak yakin, tapi pikirannya berteriak mengungkapkan bahwa ia cukup familiar dengan sosok ini. Airlangga juga sama ketakutannya dengan sosok ringkih di hadapannya ini.
"…S-salam kenal. A-aku Airlangga…" Airlangga berkata takut-takut juga dengan nada yang hati-hati.
Sosok kurus di depannya tak berkata banyak. Malah terlihat mengamati dalam-dalam. Dirinya terlihat ragu sesaat, tepatnya berpikir keras. Hingga kemudian ia menyerah kemudian berkata. "... Kau bisa memanggilku Gupta..."
Kedua iris Airlangga melebar. Merasa terkejut dengan nama asing itu. Hingga kemudian ingatannya melayang ke kejadian beberapa hari lalu. Ingatan asing yang bahkan Airlangga sendiri tak yakin akan kebenarannya.
Airlangga menundukkan kepalanya, seakan-akan hendak mendekatkan wajahnya ke telinga orang di depannya, seperti sikap menginterogasi. "... Kau, anak saudagar Mesir yang diculik itu?"
Monte Carlo Airlines— Trip to London
"Selamat siang pemirsa yang awesome kembali lagi dalam liputan The NEWS! Hahaha! Ternyata kalian masih setia pada liputan ini, ya! Ya, mungkin ini akan menjadi liputan terakhir—oh, ralat. Mungkin beberapa liputan lagi hingga roll film di kamera Antonio habis. Sekarang kami sedang berada dalam perjalanan menuju Inggris! Kabarnya, ada Airlangga disana. Si pria mesum yang mengaku-ngaku kekasih Airlangga ini mengajak kita ikut serta dalam petualangan menemukan Airlangga. Yah, kuharap—kuharap dengan amat sangat jangan ada penculikan lagi. Bila Airlangga diculik lagi, aku akan berhenti menjadi reporter dan beralih profesi menjadi penjual bensin di Indonesia—"
"GIL! KEMBALIKAN MIC-KU!"
Gubrak! Dzingg! Bruk!
Kamera terombang-ambing.
Bzzttt. Layar seketika gelap.
.
"Nat... Kau memukul kameraku sampai mati begini." Mata Antonio meratapi nasib kamera berdebunya yang nyaris menjadi bulan-bulanan Natalia.
"Siapa suruh si pria albino itu mengambil bagianku! Heh, kau itu leader. Dan leader itu bertugas mengawasi anak buahnya, bukannya justru mengambil posisi mereka!" Natalia menunjuki hidung Gilbert, menyalahkan tingkah kelewat narsis dari sang pemimpin kru.
"Hei, aku itu memberi contoh yang baik dengan meliput segala kejadian di sekitar kita. Kita kan reporter yang mengabdi pada pekerjaannya." Gilbert membusungkan dadanya angkuh dan penuh percaya diri.
"Cih, mana ada reporter yang mau menyelundupkan senjata api ke pesawat. Kita bahkan harus menyamar menjadi penjaga satwa liar segala." Natalia menunjuk sebuah tas hitam besar berisi peralatan Ned. Setelah setengah jam lebih berdebat dengan petugas keamanan, mereka akhirnya berhasil membawa tas ini ikut serta dengan alasan: 'jika tas ini dibiarkan tanpa pengawas, maka seluruh jagad manusia akan hancur.'
Alasan bodoh memang, tetapi dua petugas itu ketakutan dan memercayai kebohongan Gilbert.
"Jika tak kubilang begitu kita takkan bisa sampai disini kan?" Gilbert nyengir lebar dengan sikap seolah-olah tak ada masalah lagi.
Natalia mendesis dengan mata menyipit. "Bodoh…"
Tawa Gilbert menyembur. "Santai saja lah, Nat. Lagipula di belakang sini cuma ada kita bertiga kan? Paling belakang, dekat toilet, dan sepi." Gilbert memandangi ke sekelilingnya dengan tatapan miris. Mereka bertiga duduk berjejer di jejeran kursi bagian terakhir, paling ujung tepatnya.
"Kuharap tanganku tak melayang ke wajahmu sebelum kita tiba di Inggris."
Gilbert tertawa lagi. Sesaat kemudian ia menolehkan kepalanya pada Antonio yang tengah meratapi kameranya. "Hei, Antonio, kau masih memegang ponsel Katyusha, kan?"
Antonio mendongak.
"Ya. Memangnya kenapa?"
Gilbert menyeringai lebar. Natalia memandanginya risih. Biasanya kalau tersenyum begini Gilbert pasti punya rencana yang aneh-aneh dan di luar nalar manusia. " Aku ingin kau menghubungi seseorang…" Gilbert menggantungkan kalimatnya sambil menyunggingkan senyum, membayangkan betapa hebatnya jika rencana ini berhasil. "…untuk ikut pergi ke Inggris juga—dengan kita."
London, England
"... Kau, anak saudagar Mesir yang diculik itu?"
Mata Gupta melebar begitu masalah terbesarnya saat ini disebut-sebut oleh orang tak dikenal. Gupta bertanya-tanya bagaimana bisa orang asing yang tiba-tiba menerobos ke dalam ruangan ini tahu-tahu menanyakan hal yang sakral seperti itu. Dan terlebih lagi, jika orang ini tahu, mungkinkah ada orang lain yang mengetahui mengenai penculikan ini selain dia?
"D-darimana kau tahu?" Gupta bertanya susah payah dengan suara terbata-bata.
Airlangga meringis. Ia bahkan bingung mau menjelaskan dari mana. Dia bahkan mulai lupa bagaimana dirinya bisa berakhir disini. "Terlalu panjang ceritanya. Dan disamping itu... sudah berapa lama kau disini?"
Gupta menunduk. Kesedihan terlihat jelas di raut wajahnya. "... Aku tidak ingat."
Airlangga mendengus. Dia terlihat berpikir keras hingga kemudian menatap Gupta dengan pandangan yakin. Dihampirinya anak berkewarganegaraan Mesir itu dengan langkah cepat. Gupta kebingungan ketika dilihatnya Airlangga mendatangi tempatnya.
"Mau apa—"
Belum sempat Gupta menuntaskan kalimatnya, Airlangga keburu menarik tangan Gupta, membantu anak itu berdiri.
"Akan kubawa kau pergi dari sini!" ucap Airlangga yakin. Keseriusan terlihat jelas di kedua iris gelap itu.
"M-maksudmu—"
Airlangga bergegas menarik tangan anak itu menuju pintu. "Ayo!"
Dan Gupta hanya bisa mengikuti tubuh Airlangga yang kembali membuka pintu lalu menerobos melewatinya. Kedua orang itu berlari menelusuri lorong koridor yang sepi. Berusaha menyelamatan diri. Walaupun puluhan serdadu tengah berpatroli di sekitar gedung.
.
.
To be Continued
A/N : Lanjutin lagi nggak, ya? Ini aja nulisnya setengah hati. Tapi nanggung, ih. Chapter depan itu chapter terakhir DX Dan segala macam final bakal ada disana. Mulai dari liputan, wawancara, bunuh-bunuhan, dan lovey-dovey-an antara si APB dan seme-nya. Buat yang nggak ngeh sama cerita kali ini, saya jelasin aja ya. Nggak melanggar guidelines, kan?
Jadi kali ini mereka bareng-bareng ke Inggris buat nyelamatin si APB. Dan sialnya mereka harus kepergok polisi dan ketemu sama krunya Alfred. Tetapi akhirnya mereka berhasil masuk ke pesawat dengan berbagai macam alasan nggak logis. Dan disaat yang bersamaan Elizaveta juga berangkat menuju Inggris. Jadi nantinya mereka semua bakal ketemuan di sana(ehem-spoiler-ehem). Dan di saat yang bersamaan juga, Airlangga berhasil nemuin Gupta, anak yang diculik itu, tetapi belum nemuin Rayan. Dan di chapter depan juga bakal jadi bahan liputan terakhir mereka :') Pokoknya mereka bakal tetap ngeliput sampai titik darah penghabisan #halah
Btw, saya ada bikin fanart The NEWS looh! Tapi hasilnya hina banget deh. Saya masih pake Paint Tool SAI! QAQ Dan saya nggak bisa ngewarnain! #plak Jadi bagi kamu-kamu yang jago ngewarnain atau minimal bisa ngasih warna, bahkan kalo bisa di-edit sekalian, silahkan warnai draft gambar saya. Minta tolong bangeett QnQ
PS : Yang pengen bantuin saya silahkan buka di deviantArt rapuh : raputopu.
Someone : Hahaha. Tetapi tetap aja kalo Luddy dan Anton muncul, predikat seme itu akan bergeser lagi. Yaah. Gimana cara ngejelasinnya ya? Kirkland itu nggak gay sebenarnya. Tapi… homo #plak NGGAAAK! NGGAAK! Becanda! Hahaha. Mungkin karena Airlangga kelewat manis kali ya. Muka-muka polos yang pantas dinodai gitu kesannya. Sederhana: dari roll film. Hahaha. Typo udah diperbaiki Makasih ya reviewnya! Doain aja muse untuk ngelanjutin fic ini masih ada hingga chapter final QnQ
Luciano Fyro : Hei, Fyro! Aih aih, makasih loh udah ngatain The NEWS awesome! Sebenarnya nggak segitu awesome sih karena ini belum tamat #apahubungannya Ned emang harus latian nyetir dari sekarang, supaya bisa nyulik APB lagi suatu saat :3 APB kelewat manis malah, rada tsundere gitu XD Jangan Connor doang dong. Kutuk aja semua Kirkland. Hahaha! Ya, dan saya juga rada kesel sama mereka. Eh, artinya apaan ya? OwO Sori kepo. Makasih ya reviewnya!
Genetic : Dan sekarang saya kembali ke kebiasaan lama: telat update. Hehe. Dirimu suka Romano? :3 Aih awalnya saya mau masukin adegan *PIIIPPP* disitu, tapi gak jadi deh. Mengingat hasilnya pasti bakalan hina banget. Makasih yaa reviewnya!
Oke, dan saya akan kembali menggalau lagi soal IHAFest.
Semuanya karena aku dan ke-soktahuan-ku itu.
Jadi sungkan ikut IHAFest... #kuburdiri
