If Loving You is Wrong, I Don't Want To Be Right
Genre : Drama/Romance
Disclaimer : Persona dan yang lain itu adalah punya ATLUS!
Synopsis : Perlukah sebuah alasan untuk mencintai seseorang? Ken x Minako.
Rating : T
Author note : Don't Like, Don't Read! OK?
Bagian Dua / dwi
Law and Order
.
BAB 9
IF NOT NOW THEN WHEN
.
Seberkas cahaya tertuju lurus ke arah layar putih yang tergantung pada dinding ruangan. Berikan sebuah gambaran jelas perihal suatu rancang bangun sebuah gedung lengkap dengan berbagai diagram sarat penjabaran, mulai dari tinggi bangunan, lokasi, material hingga estimasi anggaran. Terbagi dalam beberapa bagian dan terus berganti dari waktu ke waktu bagai sebuah bacaan diiringi uraian-uraian penjelas berupa narasi untuk memperjelas detail-detail penting agar kiranya semua orang dapat menjadi jelas dengan apa yang dibicarakan.
Begitulah kira-kira pemaparan singkat dalam bentuk tulisan tentang kegiatan Minato Arisato pagi itu. Dimana apabila merujuk pada jadwal yang tertera pada ruang kerjanya. Ia diharuskan menghadiri rapat perencanaan di lantai teratas kantornya bersama segenap jajaran petinggi perusahaan guna menemukan desain bangunan yang tepat untuk kantor cabang mereka di Dubai, Uni Emirat Arab sebagai langkah awal ekspansi bisnis mereka di luar negeri (selain saham tentu).
Dan berhubung ia adalah satu dari sekian banyak pembesar yang ditugaskan untuk mencari desain yang tepat. Maka saat itu adalah waktu baginya untuk berbicara mengenai 'bentuk apa yang kiranya ideal' untuk gedung baru di luar negeri seperti beberapa orang lain yang sudah selesai memberikan usulan.
"Maka oleh karena berbagai macam penjelasan yang telah dipaparkan sebelumnya, kiranya bisa disimpulkan bahwa adalah baik kiranya jika gedung perwakilan kita di sana menggunakan rancangan 'hidung berpilin' yang saya ajukan. Sebab bentuk inilah yang mewakili semangat perusahaan kita di luar." ujar Minato percaya diri dengan pandangan mata meyakinkan yang menyapu seisi ruangan. "Apalagi sudah jadi rahasia umum jika Raja Ahmed amat menyukai desain bangunan yang bersifat unconventional untuk memperindah kotanya. Kita bisa jadikan momentum pembangunan gedung itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri pada penguasa setempat."
Semua orang di ruangan itu manggut-manggut. Takjub dengan segenap pemikiran Minato yang mampu memikirkan segenap peluang di depan mata. Tak terkecuali tiga orang atasannya, yang tak lain adalah keturunan dari pendiri perusahaan Velvet Group tempat dirinya dan Ryoji bekerja : Elizabeth, Margareth juga Theodore.
"Sekian presentasi ini saya berikan dan terima kasih..."
Kemudian pria tersebut menyudahi pemaparannya dan membungkuk sebagai ungkapan terima kasih, sebelum menutup mode slideshow powerpoint-nya.
"Menarik..." Ujar Theodore sembari bertepuk tangan pelan memuji konsep yang diberikan. Sikapnya tampak tenang dan begitu berwibawa. "Saya suka konsepmu tentang penggunaan bentuk hidung pendiri perusahaan ini untuk bangunan baru kita di sana...brilian..." Ia lalu mengamati sekelilingnya. Memperhatikan segenap bawahan juga saudara-saudaranya. "Memang, untuk sebuah pengkonsepan...menara hidung berpilin tersebut tidak diragukan lagi mewakili semangat warisan Igor Alexandrovich Romanov di perusahaan ini. Namun untuk jelasnya...tadi anda katakan jika gedung ini mampu berpilin seperti pusaran badai...benar?"
"Iya, Pak...benar sekali..."
"Kalau begitu apakah anda yakin dengan estimasi harga yang anda ajukan?"
"Saya sangat yakin, bapak...perihal hal ini sudah saya bicarakan dengan arsitek yang saya tunjuk...dan bahkan beberapa perusahaan calon pemegang tender sudah memberikan rinciannya."
"Hmm..." Theodore, sang presiden direktur menganggukkan kepala perlahan. Diletakkannya kedua siku tangan di atas meja sementara kedua tangannya bertaut menutupi mulut. Suasana hening sejenak untuk beberapa saat sebelum ia kembali melanjutkan. "Kalau begitu apa saya bisa tahu rinciannya?"
"Tentu saja..."
Minato lalu berjalan mendekat. Kemudian menyerahkan sebuah map merah yang tergeletak di atas meja, tepat tidak jauh dari lokasi notebook-nya kini berada kepada sang atasan. Sebelum kembali ke posisi awal. Berikan kesempatan bagi direksi utama perusahaan tersebut untuk berdiskusi sejenak dengan direksi lainnya, yang tiada lain tiada bukan adalah Elizabeth, adik perempuannya sendiri. Sementara Minato dapat melihat sepintas orang tertua dari tiga bersaudara itu, Margareth mengamatinya tanpa bicara sama sekali dari kursinya yang terletak di sebelah kedua adiknya tersebut. Semata hanya dalam rangka tugas pengawasannya selaku komisaris perusahaan.
Selayang pandang segalanya berjalan normal. Cuma bagi Arisato senior tersebut, ia tidak pernah benar-benar bisa memahami tatapan tersebut. Bahkan cenderung risih mengingat hubungan di balik layar antara pria tersebut dengan sosok anggun berambut panjang itu yang menjurus pada hubungan gelap. Terutama sejak tiga bulan terakhir, usai diketahui oleh sang pria betapa dirinya begitu berperan dalam meruntuhkan pernikahan janda beranak satu tersebut tanpa disadari.
"Oke...kalau begitu..." kembali Theodore mengalihkan perhatian Minato. Kali ini dengan sedikit senyum pada wajah. "Saya rasa...tanpa harus dilanjutkan kembali...kami sudah menemukan bentuk yang kita cari..."
Eksekutif muda itu lalu kembali berpandangan dengan Elizabeth.
"Dan oleh karena itu, kami menyerahkan wewenang padamu untuk mengepalai proyek ini. Mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan sampai penyelesaiannya. Pilihlah orang-orangmu. Kuharap kamu bisa menjalankan tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Nama baik perusahaan ini ada padamu."
"Jika begitu, kapan kira-kira bisa saya laksanakan?" Minato kembali bertanya.
"Untuk efektifnya besok...sementara kau menjalankan tugas ini, asistenmu, Ryoji akan menggantikanmu dalam mengerjakan pekerjaan harian."
"Terima kasih, bapak!" mendengar ucapan itu tak pelak membuat Minato Arisato terkesiap. Proyek besar menanti di depan mata. Dengan dirinya selaku pimpinan.
Mukjizat.
Tantangan...
Kesempatan...
Peluang...
"Saya rasa sekian rapat pada hari ini...kembalilah kalian ke ruangan masing-masing."
Ketiga orang bersaudara tersebut lantas beranjak pergi. Para hadirin juga berangur kembali. Tinggalkan sang pemenang sendiri. Rapikan diri dalam sepi. Sebelum teringat ganjalan hati. Mulai dari Margareth, Minako hingga Ryoji.
Dalam ruangan yang kini telah kosong itu. Minato lalu memandang telepon selulernya (mungkin bisa juga dibilang smartphone). Ia lalu mencari-cari nomor salah seorang kerabatnya dari daftar kontak. Untuk akhirnya berhenti pada sebuah tulisan berbunyi :
.
Naoto Shirogane
.
Lantas menghubunginya 'tuk berkata.
"Kamu bisa menemuiku hari ini, Naoto? Kutunggu kau nanti siang di Cafe Poirot seberang stasiun. Ada yang ingin kubicarakan tentang Minako."
Sembari mengamati jam di seberang ruangan yang menunjukkan pukul 11.30.
"Jam 12 siang, oke? Baik...Baik...terima kasih."
Kemudian menutup sambungan sambil berjalan keluar dengan semua peralatan dan berkas di tangan.
.
Tinggal Ryoji sekarang
.
Ruang kerja Minato
Pukul 11.35
.
Suasana di dalam ruangan kerja kala itu agaknya adalah yang tersunyi sejak kali pertama Minato menjejakkan kaki berbulan-bulan silam saat ia masih sendiri. Tanpa asisten. Tanpa pula kesibukan berarti sebab kepemulaannya dulu. Ketika tempat eksklusif tersebut masih berbentuk hamparan kosong usai ditinggalkan oleh pengguna sebelumnya yang telah mengundurkan diri untuk melanjutkan karir di tempat lain.
Dilihatnya sosok Ryoji di sofa sedang terduduk diam. Tidak berbuat apapun kecuali hanya duduk merenung dengan pandangan entah kemana. Raga tertinggal pikiran malang melintang nun jauh di sana. Persoalan semalam masih berlanjut hingga sekarang. Lepas dari kinerja profesional yang masih dijalankan dengan baik. Mereka belum bertegur sapa sejak pagi, apalagi bercakap-cakap biasa sekalipun cuma formalitas semata. Ibarat mulut tertahan pengikat. Jika kejadian semalam kembali diingat, sukar hati berbicara cairkan es pembeku nuansa.
Apakah sudah ada perkembangan?
Jawabannya tidak.
Ken masih meringkuk di tahanan.
Minako juga masih bermuram durja.
Pria berambut biru itu lantas berjalan ke mejanya, lalu meletakkan barang-barangnya. Beberapa saat lagi jam makan siang akan tiba. Untuk dapat mencari penyelesaian terbaik perihal perkara semalam, tentulah sosok asistennya itu harus diajak bicara barang sebentar agar dapat maju selangkah dalam perundingan. Musyawarah untuk mufakat haruslah bisa terlaksana.
Minato kemudian memeriksa sejenak beberapa hasil pekerjaan asistennya tersebut. Buat sebuah kepastian jika tidak akan ada masalah tercipta dari kesalahan-kesalahan remeh mengingat ada kemungkinan pertemuan akan berlangsung selama lebih dari satu jam. Setelahnya baru ia meneruskan niatannya kala itu. Sebab adalah tidak pantas jikalau akibat permasalahan pribadi, urusan pekerjaan sampai terkena imbasnya. Dia dibayar untuk bekerja, bukan untuk hal lain (Margareth tentu di luar konteks).
"Ryoji..." sapanya mencoba memulai pembicaraan.
Pria itu menoleh, namun tidak berbicara apa kecuali diam seribu bahasa.
"Sebentar lagi istirahat..." ujar Minato, "Mau makan sama-sama?"
Mendengar hal tersebut, Ryoji hanya mendengus, menggelengkan kepala untuk selanjutnya berdiri hendak beranjak dari ruangan. Nampak jelas kemarahan masih begitu dominan dalam hatinya.
"Makan saja sendiri." jawabnya.
Pria itu lantas bergerak keluar. Jelas jauh hasil dari harapan. Apakah memang tidak ada lagi solusi? Masih bergunakah pertemanan yang telah dibina selama bertahun-tahun? Bayangan adik perempuannya kembali melintas. Dari samar perlahan jelas. Dari bahagia jadi begitu sendu. Ia sudah berjanji akan membantu untuk menyelesaikan masalah meski tiada diharapkan. Tapi apakah pantas seorang kakak dipanggil kakak jikalau tiada dapat menolong adiknya sendiri yang harus ia lindungi? Ini masalah tanggung jawab bukan keegoisan.
"Tsk!"
Mendapati kelakuan Ryoji belum berubah kondisinya tak pelak membuat Minako berdecak. Dengan cepat ia segera berlari mengejar, mencegah sang asisten untuk meninggalkan tempatnya. Sebagai teman bukan atasan-bawahan dalam masalah pribadi yang untuk Arisato senior tersebut sungguh nihil kegunaannya dipermasalahkan.
"Aku ingin bicara..."
"Bicara soal apa? Apakah pekerjaan saya ada yang salah bapak?"
"Bukan, ini soal Ken dan Minako..."
"Saya rasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan, bapak...saya masih ada pekerjaan..."
"Ryoji...aku..."
"Lepaskan...saya..." balas Ryoji.
.
Sialan
.
Kesal tidak mendapat respon baik. Alih-alih berniat baik justru jawaban meradangkan hati jadi hasil. Belum masalah hubungan 'berbahaya' dengan salah seorang atasan beres, Minako dan Ken menambah kewajibannya via sebuah masalah rumit. Perbuatan Ryoji kali ini sama saja dengan menambahkan lagi beban pada pikirannya. Padahal dia ingin bisa mengerjakan proyek pembangunan tersebut secara lebih santai. Kenapa-kenapa-kenapa? Cukup! Begitulah perasaannya berteriak. Sebagai kelanjutan, akhirnya Minato berang.
Dengan kasar lagi penuh emosi ia menarik kerah baju kakak dari pacar adiknya itu. Merenggutnya keras sehingga tubuhnya tertarik untuk dibenturkan pada sebuah dinding gipsum di dekat pintu kaca yang agak terbuka. Timbulkan suara keras penarik perhatian orang di sekitar. Buat sekitar bertanya-tanya akan kejadian tepat di muka mata mereka.
Namun bukan itu tujuannya. Minato hanya ingin berbicara, mendiskusikan masalah mereka sebagai pribadi, sebagai seorang sahabat. Itu saja. Tidak kurang tidak pula lebih.
"Dengarkan aku dulu Ryoji!" ujarnya emosi, "Terserah kamu untuk merasa marah pada Minako, aku dan teman-temanmu karena tidak memberitahumu soal ini! Itu hakmu! Tapi setidaknya bisakah kita yang sedang ribut ini membicarakan penyelesaian untuk mereka berdua dengan kepala dingin?"
"Oh, kalau begitu. Kamu memangnya mau apa?" jawab pria bermarga Mochizuki itu, "Menyuruh adikmu itu menangis meraung di kantor polisi jadi mereka akan membebaskan Ken? Begitu?"
Orang ini...
"Kuberitahu kau sesuatu Minato," ujar Ryoji dengan mata terbelalak marah, "Masalah Ken adalah masalahku! Aku adalah kakaknya dan aku tahu apa yang harus kulakukan! Lebih baik kau urus sendiri adikmu itu dan jangan pernah ikut campur lagi dengan masalah ini!"
"Ryoji..."
"Apa kau pikir...kau bisa membujukku dalam hal ini sehingga aku mau termakan usulmu yang akan membiarkan Ken terus masuk dalam penyimpangan?"
"Ryoji..."
"Kuberitahu saja kau...jangan samakan aku dengan seorang eksekutif berbakat yang bisa dengan enaknya menjadi simpanan atasannya sendiri sehingga karirnya bisa bagus!"
.
Keparat!
.
"RYOJIII!"
Cukup sudah. Kekesalan Minato akhirnya memuncak. Amarah juga tiada lagi dapat dikendalikan. Meledak. Geram. Emosi. Dengan muak akhirnya selayang tinju diarahkan oleh pria berambut biru tersebut pada kepala sang asisten. Menghantam kepalanya kuat sehingga Ryoji terdiam sesaat sementara kedua matanya masih tertuju pada Minato.
"Apa? Kesal karena ucapanku benar dan kau memukulku lagi? Pukul!" asistennya itu kembali menantang.
"Dengarkan aku dulu!" Teriak Minato seraya kembali menarik kerah Ryoji dengan kuat, "Persetan dengan hubungan mereka! Aku tidak mau tahu apa perasaanmu sekarang! Tapi setidaknya apa kau tahu bagaimana keadaan Ken sekarang! Aku selama ini memandang Ken juga Minako sebagai adik sekaligus sahabatku juga. Yang Minako dan aku inginkan sekarang hanyalah kebebasan Ken! Terserah setelah itu kau mau memindahkan Ken ke suatu tempat yang jauh entah dimana atau memaksa maupun membujuknya untuk tidak berhubungan lagi dengan adikku! Tapi yang jelas aku juga Minako tidak ingin Ken menghabiskan sebagian hidupnya sebagai pesakitan di penjara! CAMKAN ITU BAIK-BAIK!"
Ryoji kembali terdiam. Kali ini tidak menjawab.
"Apa kita sama sekali tidak bisa membicarakan masalah ini dengan kepala dingin Ryoji? Minato kembali berkata. "Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kejadian kemarin...Apa kau tahu siapa yang ia pukul Ryoji?..."
Ryoji bungkam tiada berkata tetapi hanya menundukkan kepala.
"Entah apa kau sudah memikirkan jalan keluar yang pas, aku hanya coba menawarkan salah satu solusi yang aku miliki...sebagai kakak dari adik masing-masing juga selaku sahabat..."
"..."
"..."
Mereka berdua kembali terdiam. Sementara itu, di luar...mata semua orang telah terlanjur pada mereka berdua dengan tatapan kaget, penasaran juga bertanya-tanya. Apa yang terjadi juga kenapa pula mereka bertengkar seperti itu.
"Setidaknya sampai pemulangannya...Aku punya seorang saudara yang bisa membantu," kata Minato seraya melepaskan cengkramannya. Mempersilahkan sang asisten untuk kembali bebas berdiri sebelum dilanjutkan dengan menghela nafas.
"Bagaimana?" tanya Minato kembali.
Ryoji tetap bungkam. Sesaat untuk kemudian akhirnya berbicara.
"Tapi apa kau tahu...Ken sudah dipindahkan ke rumah tahanan..."
"Kita coba saja dulu," jawab Minato.
Sebelum keterkejutan kembali melanda ketika salah seorang office boy datang masuk untuk membawakan sebuah surat kabar bernama Nikkan Kogyo Shimbun, dimana pada koran tersebut termuat headline tentang kejadian pemukulan yang dilakukan oleh Ken Amada dengan judul :
.
SEORANG PRIA JADI KORBAN PENGANIAYAAN ABG,
TANDA LEMAHNYA UNDANG-UNDANG REMAJA DI MASYARAKAT?
.
Yang membuat Ryoji terkejut bukan kepalang saat membacanya. Juga Minato yang menggelengkan kepala tidak percaya. Diamatinya isi artikel surat kabar tersebut dengan seksama. Lantas dicermati isinya yang memuat kronologis peristiwa pemukulan Ken Amada terhadap Hidetoshi Odagiri. Tampak jelas bagaimana isi artikel tersebut dibuat memihak sebelah. Dengan Odagiri sebagai korban sementara Ken sebagai bocah vandal pengangguran tanpa masa depan beperkejaan pengangguran. Lebih ironis lagi dalam artikel yang sebenarnya tidak penting itu, sosok Ken digambarkan dengan begitu berlebihan bahkan sampai dijelaskan tentang hubungannya dengan seorang wanita yang jauh lebih tua. Sehingga terkesan jika bocah SMA tersebut tiada lebih aneh dari pesakitan sejati.
Berlebihan?
Memang
Bahkan begitu berlebihannya hingga Ryoji hanya bisa terkesiap bukan kepalang. Tidak percaya jika kejadian demikian bisa belanjut pada tahap di luar dugaan.
"I-ini..." ujarnya sambil memandang Minato.
"Sepertinya dia sudah bergerak..." jawab sang atasan sementara didapati olehnya bahwa ponselnya kembali berdering. Membuat pria itu mengangkatnya untuk menjawab.
"Halo..." ujar Minato, "Ya...tunggu sebentar. Aku akan segera kesana."
Untuk kemudian kembali menutup sambungan. Pusatkan kembali perhatiannya pada sebuah warta di muka.
"Apa kau yakin Minato...Hidetoshi, dia..."
"Kita coba saja..." jawab sang atasan, "Jika tidak sekarang kita mulai, kapan lagi?"
.
TBC
.
Sedikit komentaar:
1. Makasih buat semua reviewer dan yang menjadikan cerita ini sebagai fave
2. Makasih pula untuk pemberitaan MD yang terlalu berlebihan di TV
3. Sampai jumpa di lain kesempatan, THX! Juga GOOD LUCK!
.
.
.
.
V
