Flower Ghost Next Door

"Siapa kau?! Apa yang kau inginkan?!" Tuntutnya.

Dicekam rasa takut, Jinyoung mengangkat kedua tangan di depan wajahnya seakan mencoba untuk melindungi dirinya sendiri.

"Jinyoung…"

Suara gaduh di belakangnya, membuat jeritan Jinyoung tertahan di tenggorokan. Perlahan – lahan ia membuka mata dan menurunkan tangannya.

Sosok bayangan itu menghilang.

Jinyoung menoleh kearah jendela yang terbuka dan melihat Sandeul berhasil merangkak keluar dari jendela.

"Sandeul!" Jinyoung berlari menghampirinya.

Sandeul berusaha berdiri, matanya melebar panik, "Pemantiknya!" Jeritnya, "Kami… kami tak bermaksud… kami…"

Belum selesai Sandeul mengutarakan maksudnya, sosok lain sudah terjun keluar dari jendela. Baro mendarat keras di siku dan lututnya.

"Baro, apa kau baik – baik saja?"

Baro mengangkat kepala dan menatap Jinyoung, "Gongchan," gumamnya, "Gongchan masih di dalam sana. Dia tidak bisa keluar. Terjebak di kamar."

Jinyoung melongo shock, "Hah?!"

"Gongchan terjebak dalam api! Dia akan terbakar!" jerit Sandeul panik.

"Kita harus cari bantuan!" Teriak Baro berusaha mengalahkan deru api. Dia menarik lengan Sandeul. Kedua namja itu berjalan limbung menyebrangi halaman menuju rumah sebelah.

Lidah – lidah api itu merambat kemana – mana. Dalam waktu singkat sebagian sisi rumah telah hangus terbakar.

Aku harus menyelamatkan Gongchan, tekadnya.

Jinyoung menarik napas dalam – dalam, menatap kerlap – kerlip cahaya api di dalam jendela yang terbuka. Tapi sebelum dia bisa melangkah ke jendela, bayangan hitam itu muncul di depannya, menghalangi jalannya.

"Jinyoung pergilah!" bisikan tajam yang menakutkan itu begitu dekat dengan wajahnya, "Pergilah!"

"Tidak!" Bentak Jinyoung, lupa akan rasa takutnya, "Aku harus menyelamatkan Gongchan!"

Sosok gelap itu bermata seperti bara api, menatap balik wajahnya dengan sorot tajam, bergerak semakin mendekati Jinyoung.

"Siapa kau?" Jeritnya sambil beringsut mundur sejengkal demi sejengkal, "Apa yang kauinginkan?"

Sosok gelap itu tak menjawab. Terus melayang mendekati Jinyoung.

Gongchan terjebak disana, pikirnya. Aku harus masuk ke jendela itu.

"Minggirlah!" Pekik Jinyoung. Dalam keputusasaan dia mengulurkan kedua tangannya, menyambar bahu sosok gelap itu, mencoba menyingkirkannya.

Jinyoung memekik kaget, sosok itu terasa padat. Dengan penuh tekad dia menarik pakaian hitam yang menyelubungi sosok itu. Pakaian hitam yang menyelubunginya terjatuh, dan dibawah kegelapan itu, tampak wajah Gongchan!

Jinyoung menatap ngeri dan tak percaya. Menatap wajah Gongchan yang menyeringai kearahnya, masih dengan mata merah bersinar yang membara.

"Tidak!" jerit Jinyoung dengan suara gemetar ketakutan, "Ini bukan kau, Gongchan! Bukan!"

Suatu senyum keji nampak di wajah itu, "Aku hantu Gongchan!"

"Hantu?"

"Ya! Saat ia mati dalam api, aku tak akan lagi jadi bayangan. Aku akan LAHIR!"

"Tidak! Tidak!" jerit Jinyoung sambil dengan kalap mengayunkan tinjunya ke depan. Tapi kepalan tangannya menembus wajah sosok itu, "Tidak! Gongchan tidak akan mati! Aku tak akan biarkan dia mati!"

Hantu Gongchan mengeluarkan tawa jahat yang mengerikan.

"Kau terlambat, Jinyoung! Terlambat!"

"Tidak." Tegas Jinyoung, matanya berkilat tajam, "Aku belum terlambat. Masih ada kesempatan."

Mata merah hantu Gongchan menyala marah saat Jinyoung berlari menerjang dan menembus tubuhnya.

Sedetik kemudian ia bersiap – siap memanjat naik ke jendela, kedua tangannya menyentuh langkan jendela. Tapi ia buru – buru menariknya lagi begitu telapak tangannya merasakan panas dari kusen jendela.

Aku hantu, Jinyoung mensugesti dirinya sendiri.

Aku hantu. Aku tak bisa mati lagi.

Dengan seluruh tekad dan perasaan mantab, Jinyoung melompat masuk ke dalam melalui jendela. Mengabaikan asap hitam tebal dan lidah – lidah api di sekelilingnya, dia berhasil mendaratkan kaki di lantai.

Dia mengusap mata dengan lengan kausnya, berusaha untuk melihat di dalam kepungan asap tebal yang menutupi pandangannya.

"Gongchan!" panggilnya, "Aku tak bisa melihatmu. Kau dimana?!" teriaknya sekuat tenaga.

Melindungi matanya dengan satu tangan, Jinyoung melangkah ke dalam ruangan lain. Lidah – lidah api terangkat seperti geyser. Dengan cepat bergerak menguasai ruangan dan melahap habis seluruh isinya.

"Gongchan, kau dimana?"

Sayup – sayup dia mendengar suara seseorang berteriak di kamar sebelah. Dengan semangat Jinyoung berlari melewati pintu yang dikelilingi api, Jinyoung melihat Gongchan terperangkap di dinding api yang begitu tinggi dan berkobar – kobar menghalangi jalan. Namja itu terlihat sedang berusaha keras membuka jendela yang ada di belakangnya. Tapi jendela itu tidak bergerak seinci pun. Terkunci rapat.

"Gongchan!"

Gongchan menoleh, kedua tangannya terangkat di depan wajah, "Ji-jinnie? Kaukah itu?"

"Ya, ini aku! Bertahanlah! Aku akan segera menyelamatkanmu."

Aku tak bisa melalui lidah – lidah api yang tebal itu, pikir Jinyoung sambil menatap ngeri.

Tapi sekali lagi ia mengingatkan dirinya: aku hantu. Aku bisa melakukan hal – hal yang tak bisa dilakukan orang hidup!

"Tidak! Pergilah! Ini terlalu berbahaya!" Seru Gongchan dari seberang sana. Masih berusaha membuka jendela itu.

"Ini tidak akan melukaiku!" Balas Jinyoung. Lalu tanpa ragu – ragu lagi ia melompat ke dalam api dan berlari melewatinya.

"Lihat kan?" Jinyoung muncul di depan Gongchan dengan senyuman bangga di wajahnya.

Gongchan menatap Jinyoung tanpa bisa berkata – kata.

"Ayo!" Jinyoung meraih tangan Gongchan dan menariknya. Kali ini tidak menembus, "Ayo kita pergi!"

Lidah – lidah api semakin menjalar kearah mereka, seperti lengan – lengan yang terulur dan siap menangkap mereka.

"Ayo!"

Jinyoung menarik lagi, tapi Gongchan menahan diri, "Aku tidak bisa! Aku tidak sepertimu. Aku tidak bisa menembus api!" Gongchan menarik tangannya dari genggaman tangan Jinyoung.

"Ya." Jinyoung tersenyum penuh arti, "Kau bisa. Kau harus bisa!" kemudian tangannya mulai menyambar dan menarik tangan Gongchan lagi.

"Eh… eh, Jinnie! Tunggu! Jinnie!" teriak Gongchan panik dengan mata melotot ngeri saat Jinyoung terus saja menariknya berlari menuju ke dinding api yang menjulang tinggi di depan mereka, "Kau tidak bermaksud lewat situ, kan?!"

"Diam! Memangnya kau mau mati konyol disini!" Seru Jinyoung tanpa menoleh.

Asap hitam berterbangan di sekitar mereka. Tersedak, Jinyoung menutup matanya dan menarik Gongchan, genggaman tangannya semakin kuat, menarik namja itu ke dalam lidah – lidah api yang sangat panas dan membakar.

Ke dalam lidah – lidah api. Melaluinya.

Mereka berhasil. Tanpa cedera sedikitpun.

Jinyoung terus saja menarik Gongchan. Menarik dengan membabi buta. Menarik dengan sekuat tenaga. Jinyoung tak membuka matanya sampai akhirnya mereka berhasil sampai di jendela. Dia tak bernapas sampai mereka berhasil merangkak keluar dari jendela dan mendarat di tanah yang keras dan dingin.

Dengan bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, Jinyoung berusaha keras untuk bangkit berdiri, napasnya memburu, ia megap – megap menghirup udara bersih di sekelilingnya. Begitu ia berhasil berdiri, Jinyoung bisa melihat sosok bayangan gelap tadi melalui jendela. Terperangkap di dalam lingkaran api yang mengelilinginya. Sosok itu memutar – mutar dalam lidah api. Saat api – api itu berhasil memangsanya, sosok itu mengangkat tangannya menggapai – gapai di udara, berusaha membebaskan dirinya. Namun terlambat, api itu berhasil melahapnya dan melahapnya. Sosok gelap itu akhirnya menghilang di dalam kobaran api.

Dengan napas lega, Jinyoung menurunkan pandangannya ke Gongchan, menatap Gongchan yang berbaring terlentang di dekat kakinya.

Gongchan balas menatap Jinyoung dengan tatapan sayu dan seringai bahagia, "Jinnie… kita selamat."

Jinyoung merasakan sebuah senyuman hangat melintas di wajahnya. Dia mengulurkan tangannya ke Gongchan, "Ayo. Mau sampai kapan tiduran begitu?"

Gongchan meraihnya. Kali ini tidak menembus. Jinyoung menarik namja itu hingga bangkit berdiri. Mereka sudah saling berhadapan sekarang.

Gongchan menatap Jinyoung.

Jinyoung balas menatap Gongchan.

Selama beberapa saat mereka hanya saling menatap tanpa sepatah katapun.

Tiba – tiba...

PLAKK!

"Yah! Kenapa malah nampar, sih?" Protes Gongchan sambil memegangi pipinya yang nyeri kena tabok.

"Kau itu bodoh, ya?! Mau mati, hah?! Kau nyaris saja terbunuh karena 'kenakalan remaja' tolol kalian! Apa kau tidak memikirkan perasaan ibumu?! Bagaimana jika kau mati dan ibumu jadi sebatang kara?! Mengapa kau melakukan ini!?" Sembur Jinyoung emosi.

"Ya deh aku memang bodoh..." gumam Gongchan lirih.

"Memang! Kau itu memang bodoh! Diperintah seenaknya menurut saja! Bodoh kok dipelihara?!"

"Hei itu agak..."

"Bagaimana kalau tadi aku terlambat sedikit saja?! Pasti sekarang kau sudah..."

Chu~!

Curhatan Jinyoung terputus karena Gongchan tiba – tiba saja memeluknya lalu menyerangnya dengan satu ciuman. Ciuman yang singkat, karena Jinyoung langsung bereaksi dan mendorong tubuh namja itu menjauh dengan tampang melongo shock.

Gongchan gelagapan salting dengan wajah menyesal, "Maaf, aku kelepasan. Habisnya kau tidak berhenti bicara."

"Kau ini benar – benar bodoh. Orang terbodoh yang pernah kutemui."

"Yah! Apa maksud-mmh!"

Kali ini giliran Jinyoung yang menyerang balik. Namja itu melingkarkan kedua tangannya di leher Gongchan. Gongchan yang tadinya kaget sekarang tengah menikmati ciumannya, ia mulai memeluk pinggang Jinyoung dan semakin membenamkan namja itu dalam pelukannya. Ciuman itu berlangsung lembut dan agak lama. Tidak ada perang lidah yang mendominasi. Hanya lumatan – lumatan kecil dan penuh perasaan.

"Jinnie... terima kasih." Bisik Gongchan.

Jinyoung tersenyum. Saat bibir mereka kembali bertaut, Jinyoung bisa merasakan sekelilingnya berubah menjadi terang, seterang dinding lidah api.

Kemudian gelap.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Ibu Gongchan membungkuk di atasnya, menarik selimut tipis itu sampai ke dadanya.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya lembut.

Itu adalah dua jam kemudian, Gongchan telah dirawat oleh paramedis yang tiba tak lama setelah petugas pemadam kebakaran. Mereka menemukan Gongchan pingsan tak sadarkan diri di pekarangan belakang rumah Pak Han. Dikhawatirkan ia menderita karena menghirup asap terlalu banyak. Hal ini sempat mengundang tanda tanya dari banyak orang, karena Gongchan berhasil keluar dengan selamat tanpa luka bakar sedikitpun.

Sekarang Gongchan sudah berbaring di atas tempat tidur di kamarnya, menatap ibunya, masih merasa pening dan bingung. Sementara Lee ajumma berdiri dengan cemas di sebelah ibu Gongchan.

"Aku-aku baik – baik saja, hanya sedikit lelah." Jawab Gongchan pelan.

Ibunya semakin menunduk menatapnya, berusaha membaca gerakan bibir Gongchan, "Bagaimana kau bisa keluar dari rumah itu?"

Gongchan tersentak, seperti teringat oleh sesuatu. Matanya menatap berkeliling dengan raut cemas, "Mana? Mana Jinnie?" ia mulai bangkit terduduk dan celingukan panik mencari – cari ke segala arah.

"Siapa?" Ibunya menatap heran.

"Jinnie, bu. Anak laki – laki tetangga sebelah. Dia seumuran denganku. Masa ibu tidak tahu?" Jawab Gongchan tak sabar.

"Tak ada anak tetangga sebelah." Tukas ibunya.

Lee ajumma menggeleng membenarkan, "Ya, rumah itu sudah lama kosong."

"Namanya Jung Jinyoung. Dia yang telah menyelamatkanku, bu."

Lee ajumma mendesah simpatik, "Jung Jinyoung anak yang meninggal lima tahun yang lalu," katanya pelan, "Gongchan yang malang jadi mengigau karena demam, aku khawatir."

"Berbaring saja," Tukas ibu Gongchan, dengan lembut mendorongnya kembali ke bantal, "Beristirahatlah. Kau akan segera baik – baik saja."

Jinyoung menyaksikan adegan itu dari balik kaca pintu.

Tiga orang di dalam sana tidak ada yang menyadari keberadaannya, bahkan Gongchan. Dan sekarang ruangan beserta orang – orang di dalamnya terlihat samar, memudar menjadi abu – abu.

Mungkin inilah alasan mengapa aku dan keluargaku kembali setelah lima tahun, pikir Jinyoung getir. Mungkin kami kembali untuk menyelamatkan Gongchan agar tidak mati dalam tragedi mengenaskan yang sama.

"Jinyoung... Jinyoung..." sebuah suara manis yang terdengar familiar memanggilnya dari kejauhan.

"Umma? Apa itu kau?" Panggil Jinyoung.

"Waktunya untuk kembali," bisik Ummanya lembut, "Kau harus pergi sekarang, Jinyoung. Sudah waktunya untuk pulang."

"Baik, umma."

Jinyoung menatap ke dalam Gongchan untuk terakhir kalinya. Menatap Gongchan yang sedang berbaring damai dengan sebuah senyuman yang terukir di wajah tampannya.

Jinyoung kini mulai memudar menjadi abu – abu.

"Pulanglah, Jinyoung," bisik ummanya, "Pulanglah pada kami sekarang."

Jinyoung bisa merasakan dirinya mengambang sekarang. Dan saat ia melayang, ia melihat ke bawah, melihat dunia untuk terakhir kalinya.

"Aku bisa melihatnya, umma!" Tukas Jinyoung penuh semangat sambil menghapus air mata di pipinya, "Aku bisa melihat Gongchan di kamarnya. Tapi semakin samar..."

"Jinyoung, pulanglah. Pulanglah pada kami."

"Gongchan, ingat aku! Jika suatu saat kita bertemu lagi, jangan lupakan aku!" teriak Jinyoung saat wajah Gongchan terlihat jelas dalam kabut abu – abu itu.

Apa Jinyoung tidak salah lihat? Apa dia baru saa melihat Gongchan mengatakan sesuatu seperti: 'Beristirahatlah dengan tenang. Aku tidak akan melupakanmu, Jinnie.'?

Bisakah dia mendengarnya?

Bisakah dia mendengar Jinyoung memanggilnya?

Jinyoung berharap begitu.

-Fin-

.

.

.

.

A/N : Taraaa! akhirnya selesai juga. Thanks buat para reader yang masih betah membaca sampai sejauh ini. (^o^). rencananya habis ini bakal bikin extra story gitu. Selamat menunggu...