Previous Chap :
"Terima kasih... karena sudah mencintai aku..." Ia tempelkan lagi bibir kami, dan mengecupku sekaligus berbisik. "Yang seperti ini..."
Lalu, pundakku berguncang, kali ini dengan sebuah isakan yang kutahan paksa dengan cara menggigit bibirku sendiri. Mataku terpejam, namun buliran air bening terus mengalir dari sela mataku.
Sampai akhirnya aku membuka kedua belahan bibirnya, membiarkan lidah lunak Sasuke masuk dan menyentuh dinding mulutku. Pria itu menjelajahinya perlahan dan dengan penuh perasaan.
Sekarang, bukan rontaan yang kini aku berikan padanya—mengingat beberapa paksaan yang sering ia berikan padaku di saat bulan madu. Aku memeluknya rapat, seakan-akan tidak mau jika kehangatan ini harus terhenti.
Dan aku yakin, ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kami.
Terutama saat aku menyadari seluruh pakaianku—tanpa terkecuali—sudah terdampar di lantai samping ranjang, menemani pakaiannya.
.
.
Hinata's POV
Aku merasakan tubuhku berada di atas ranjang, terbaring di bawah selimut yang tebal. Kucoba untuk menggerakkan sedikit tubuh pegalku. Aku melenguh pelan ketika kuubah posisi menjadi menyamping, memeluk sesuatu yang terasa sangat dingin di permukaan kulitku.
Suhu di pagi ini memang terlalu rendah...
Jadi jangan heran jika sekarang aku menggigil, karena ini masih terbilang musim dingin. Tapi syukurlah salju tidak turun lagi, dan keadaan pun perlahan-lahan mulai menghangat. Mungkin, sebentar lagi musim semi akan datang.
Kusandarkan pipiku ke sesuatu yang dari tadi kupeluk dan sedikit membuka mata.
Tapi, ada satu hal yang membuatku terkejut. Di hadapanku terpampanglah permukaan leher milik seseorang yang kukenal. Suamiku, Sasuke-kun.
Awalnya, mataku terbelalak dan terpaku pada wajahnya.
Deja vu...
Dulu, sewaktu kami masih di Ame juga seperti ini. Tidur berdua... dan berpelukan. Wajar. Tentu saja wajar bagi pasangan suami istri yang lain, tapi menurutku ini tidak biasa. Pasti kemarin ada sesuatu kejadian yang telah kami lewati.
Lama kelamaan, mendadak tubuhku bergetar. Tidak tau kenapa, aku merasakan sebuah perasaan takut yang langsung memasuki ruang hatiku. Sedikit-sedikit aku menatap permukaan tubuhku yang masih terbungkus selimut. Aku mencoba meraba tubuhku sendiri, memastikan pakaian apa yang sedang kukenakan. Dan setelah selesai memeriksa, aku menelan ludah.
Tubuhku polos tak berbusana sama sekali.
Eng...
Perasaan tidak nyaman ini...
Kedua mataku terbelalak. Otakku dengan cepat menyimpulkan sesuatu.
Jangan-jangan kami sudah melakukan hubungan suami istri—seperti normalnya?
Sontak saja aku terbangun dari posisi tidurku, tak lupa setelah mendorong dada telanjang Sasuke—yang sempat kujadikan bantalan pipiku—agar tidak lagi menempel dengannya. Kututup bibirku dengan telapak tangan supaya tidak menjerit, lalu kugerakan tubuhku ke samping, berusaha menjauh sekiranya semeter dari Sasuke yang masih terlelap.
Aku bukannya tidak suka berada di sebelahnya, aku hanya gugup dan tidak terbiasa. Masih bersama wajah yang panik dan memerah, aku memperhatikan situasi kamar.
Kulirik Sasuke yang masih tertidur. Untungnya selimut menutupi sebagian dari tubuhnya. Aku menghela nafas lega. Diam-diam aku memperhatikan dada pria itu yang setengah terlihat, menunjukkan secara langsung seberapa pucat kulit keturunan Uchiha tersebut. Lama.
Kutarik selimut agar lebih menutupiku.
Tapi saat kutarik selimut sampai ada sebagian dasar seprai putih yang terlihat, ada satu hal yang kian menohokku; kutemukan noda merah di permukaan seprai yang acak-acakan ini.
Aku mematung selama beberapa saat. Beberapa saat kemudian, aku menekuk kedua lututku, lalu membenamkan wajah ke sana. Entah kenapa aku merasakan malu yang teramat sangat perlihal masalah ini. Bahkan sudah kurasakan kedua pipiku memanas.
Apa yang telah kami perbuat di beberapa jam yang lalu?
Aku memejamkan mata, tentu untuk berpikir.
detik demi detik terlewat, semua bayangan tentang apa yang sebelumnya kami lakukan benar-benar terputar ulang di benakku. Ya, semuanya. Sembari menggigit bibir, aku menggeleng untuk menghapus bayangan tadi.
Aku benar-benar sudah melakukannya dengan Sasuke...
Keperawananku hilang.
Dengan terburu-buru dan nyaris tidak berpikir, aku membuka lebar-lebar selimut yang sempat menutupi tubuhku. Dan sebelum hawa dingin di ruangan ini semakin menerpa kulitku yang sama sekali tidak terlapisi oleh apapun, aku segera beranjak turun dari kasur dan bergegas ke kamar mandi.
Kuharap segala derap langkah kakiku yang begitu mengebu-ebu ini tidak membuat Sasuke terbangun.
Pintu kukunci rapat, dan beberapa detik kemudian terdengarlah suara siraman shower yang mulai menggema dari dalam.
Sedangkan dari luar kamar mandi, aku sama sekali tidak menyadari bahwa diam-diam kedua mata onyx itu terbuka. Pria itu mengusap wajahnya sekali, lalu menghela nafas panjang.
.
.
.
I'LL BE WAITING FOR YOU
"I'll Be Waiting For You" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga]
Romance, Hurt/Comfort, Drama
AU, OOC, Typos, Semi-M, etc.
.
.
TENTH. Aku Mencintainya
.
.
Normal POV
Di rumah keluarga Uchiha, Itachi sedang menyibukkan diri di dalam ruangannya. Bersama kacamata yang bertenger di hidungnya, ia menatap lekat ke kerjaannya di notebook. Jemari tangannya terus saja menekan huruf-huruf dengan sebegitu cepat dan tanpa henti.
Beberapa menit terlewat, akhirnya ketikan pun berakhir. Dia rilekskan punggungnya ke sandaran bangku sambil memejamkan mata. Sebenarnya ia mengantuk, sudah dua hari ini ia tidak tidur. Ia terlalu sibuk karena mengurusi permintaan proyek kerjasama perusahaan ayahnya yang kian menumpuk—sebab perusahaan Uchiha semakin berkembang di tangannya.
Lalu sebelum dirinya yang sedang beristirahat itu hampir saja tertidur, tiba-tiba ada suara samar dari luar ruangannya.
"Sasuke-kun? Tumben kau datang ke sini tanpa dipanggil oleh Okaasan..."
Itu suara Mikoto, ibunya—karena ini memang rumah keluarga, rumah yang masih ia tinggali bersama kedua orangtuanya. Mungkin saat itu Mikoto sedang menyapa Sasuke yang mendadak datang ke sini.
Itachi mencoba melepaskan kacamatanya. Setelah menaruh benda tersebut ke atas meja, ia bangkit dari bangku dan berjalan ke luar. Dia temui ibunya yang sedang mengobrol singkat dengan Sasuke. Obrolan biasa, sekedar menanyakan kabar.
"Bagaimana kabar Hinata-chan? Bukannya kalian baru pulang dari bulan madu, ya?" Mikoto tertawa kecil dan mengelus bahu Sasuke. Sedangkan anak bungsunya itu hanya terdiam sambil memalingkan wajah.
"Sudahlah, jangan malu-malu seperti itu, Sasuke..."
Itachi—yang tadi mengeluarkan suara—membuat ibu dan adiknya langsung menoleh kepadanya. Dia pandangi ibunya yang sedang membawa sebuah tas, lalu Itachi melihat jam. "Bukannya Okaasan ada acara di jam 10.00 ini?" Ujarnya mengingatkan.
Mikoto yang sepertinya baru tersadar itu panik seketika. "Ah, Okaasan lupa..." Ia tersenyum malu. "Kalau begitu... sampai jumpa, Sasuke-kun. Kalian berdua baik-baik ya di rumah."
Itachi mengangguk singkat dan memberikan senyuman perpisahan untuk ibunya yang akan keluar rumah.
Setelah Mikoto pergi, barulah Sasuke berjalan ke ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sana. Itachi yang saat ini memang butuh hiburan pun memutuskan agar mengikutinya.
"Bagaimana bulan madumu?"
Sasuke berdecak singkat. "Jangan bertanya."
"Aku hanya melanjutkan pertanyaan Okaasan yang belum kau jawab."
Sasuke tidak menjawab lagi. Ia lebih memilih untuk menekan tombol on di remote agar dapat menyalakan televisi yang ada di depannya.
Dari tempatnya Itachi terus memperhatikan gerak-gerik Sasuke.
Sasuke dan Hinata telah berbulan madu selama beberapa minggu. Dan baru kemarin mereka pulang. Sebenarnya untuk pria macam Sasuke, Itachi yakin dia sudah meniduri Hinata—bahkan sebelum dari bulan madu mereka dilaksanakan. Tapi tidak jika Sasuke benar-benar mencintai Sakura, pria itu pasti akan menahan diri.
Sebenarnya, ia tau tentang kesungguhan hati Sasuke ke Sakura. Tapi, tidak mungkin juga Sasuke mau berbulan madu dengan Hinata tanpa adanya alasan, kan?
Jadi, sekarang siapa yang berada di pilihan adiknya itu?
Sakura... atau Hinata?
Dengan demikian, Itachi tersenyum.
Tidak ada salahnya untuk mengetesnya...
"Sasuke, ikut aku ke ruanganku sebentar. Aku ingin menelfon seseorang."
Sasuke tidak menjawab, menoleh pun tidak.
"Kau dengar aku, Sasuke?"
"Kau bisa menelfon sendiri."
Itachi menghela nafas. Memang susah punya adik yang menuruni sifat keras kepala seperti ayahnya itu.
"Baiklah, aku akan menelfon di sini..." Itachi mengambil sebuah telfon rumah yang ada di sebelah sofa, lalu menekan tombol loud speaker. "Jadi, selama aku menelfon dengannya. Kau tidak boleh bersuara, mengerti?"
Sasuke mengangguk tidak peduli.
Itachi fokus lagi ke sambungan telfon. Setelah terangkat oleh orang di sebrang sana, ia segera berkata. "Halo, bisa bicara dengan Uchiha Hinata?"
Sontak saja Sasuke menoleh. Tatapannya bercampur antara heran dan marah. "Apa—?"
Itachi menjauhkan telfon tersebut dan segeralah ia beralih ke Sasuke, sekilas. "Jangan ribut. Seperti yang kubilang tadi, kau hanya perlu mendengarkan."
. . .
Cklek.
Sembari menghela nafas, Hinata menutup pintu apartemen. Ia baru pulang dari supermarket di dekat komplek, tentu saja untuk berbelanja. Setelah mengganti alas kaki dengan sendal rumah yang bersih, Hinata berjalan menuju dapur untuk meletakkan semua belanjaannya.
Sesaat ia membuka pintu kulkas agar dapat menaruh daging, udara dingin dari dalam benda itu menguar kepadanya. Selesainya, Hinata semakin kedinginan. Ditutupnya kulkas tersebut dan segeralah ia mengusapkan kedua telapak tangannya sampai hangat. Ia lirik heater yang terpajang di ruang tamu. Mungkin ia harus menyalakannya agar ruangan ini tidak semakin dingin.
Tapi, baru saja wanita bermata lavender itu melangkah ke ruang tamu, telfon berdering.
Trrrr...
Mendengar suara tersebut, Hinata melupakan niatnya dan terlebih dulu bergegas ke tempat di mana telfon rumah diletakan. Ia berdehem sebentar, dan menaruh gagangnya ke telinga.
"Halo...?"
Suaranya yang lembut didengar oleh si penelfon.
"Halo, bisa bicara dengan Hinata Uchiha?"
"Iya, ini... siapa?"
Hening sebentar, namun masih ada suara. Tampaknya pria itu tidak hanya berbicara dengannya. Setelah beberapa detik Hinata dibuat terbingung-bingung, orang itu mulai menjawab. "Namaku Itachi Uchiha."
Hinata sedikit tersentak saat mendengar nama itu disebutkan.
Itachi... Uchiha? Bukannya itu kakak dari Sasuke—kakak iparnya?
"Halo? Kau masih ada di sana?"
Sontak saja lamunan Hinata dipecahkan oleh sebuah keterkagetan. Ia sedikit mempererat pegangannya pada gagang telefon. "A-Aa, iya."
Itachi tertawa pelan. "Tidak perlu gugup. Kita memang baru pertama kalinya berbicara seperti ini, tapi anggap saja kita sudah akrab."
"Ba-Baik... a-ada apa?"
"Wah, wah... padahal aku sedang berbasa-basi. Apa perlu aku langsung to the point?"
Hinata menahan nafasnya. Sepertinya ia telah salah kata.
"Maaf..."
"Tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah apa-apa."
"..."
Berhubung Hinata takut untuk menjawab lagi, tidak ada suara dari kedua pihak di telfon.
"Baiklah. Langsung saja, aku menelfon bukan hanya untuk sekedar menanyakan kabar istri adikku. Itu hanya awal dari pertanyaan yang akan kukatakan padamu."
Hinata memiringkan kepalanya. "Pertanyaan...?"
"Ya. Apa kabar hubunganmu dengan Sasuke?"
"E-Eh?" Hinata menelan ludahnya sendiri. Ia sedikit bingung untuk menjawabnya. "B-Ba-Baik..."
Hinata dapat mendengar helaan nafas Itachi dari sambungan ponselnya. Seperti kecewa. "Dari nada suaramu, tampaknya hal itu berlainan."
"..."
"Seperti yang kalian tau, kalian itu menikah karena political marriage, perjodohan. Saat pernikahan saja, kau dan Sasuke bahkan belum saling mengenal, kan?"
"Iya..."
"Dan apa kau bahagia bersama Sasuke?"
Bahagia?
Apakah ia bahagia bersama Sasuke?
"Iya... a-aku bahagia..."
"Hm..."
"..."
"Lalu..." Itachi memberi jeda selama per sekian detik. "Apa kau merasa Sasuke juga bahagia denganmu?"
Tanpa suara, nafas Hinata seperti tercekat. Jujur saja, Hinata bingung dengan maksud Itachi mengatakan hal itu padanya. Apakah ada maksud di balik kalimatnya yang tadi?
"A-Aku..." Takut-takut Hinata menjawab. "Aku tidak tau..."
Itachi mendengus meremehkan. "Memangnya kau pernah merasa bahwa Sasuke mencintaimu?"
"A-Aku—"
"Tidak, kan?" Itachi memotongnya. Tapi, Itachi tidak sedang menggunakan nada dingin, ia hanya terdengar seperti sedang bertanya.
"Kalau begitu... cerai saja."
. . .
"Cerai saja."
Saat Itachi mengatakan hal itu, onyx-nya melirik Sasuke yang terbelalak.
"Itachi!" Desisnya tidak terima. Sasuke baru saja akan berdiri dari posisi duduknya. "Kau—!"
"Kenapa?" Itachi menyela Sasuke dengan sebuah desisan. Sembari menjauhkan ganggang telfon dari bibirnya, pria berambut hitam panjang itu menampilkan senyum dingin ke Sasuke.
"Kau tidak suka mendengar kalimatku, hn?"
Itachi menaikkan salah satu sudut bibirnya.
"Bukannya dari dulu kau yang ingin cerai darinya? Seharusnya kau senang, kan?"
Sasuke tersentak. Ia berdecih, lalu membuang muka.
Kemudian, Itachi kembali mengarahkan telfon ke telinganya. "Bagaimana, Hinata-san?"
"..."
Seperti harapan Itachi, Sasuke dan Hinata sama-sama terdiam. Karena inilah maksud dari Itachi yang sebenarnya, ia ingin menguji Sasuke. Walaupun ia juga harus menguji Hinata juga karena kalimatnya.
Sasuke yang kesal melihat tingkah Itachi, memutuskan beranjak dari sofa. Ia berniat keluar dan pergi menjauh dari ruangan itu—agar tidak lagi mendengarkan obrolan tersebut. Namun Itachi menahannya.
Dan baru saja Itachi akan kembali menagih jawaban dari Hinata, mendadak terdengar suara samar dari loud speaker telfon...
"Aku..."
"Aku memang bukan istri yang pantas bagi Sasuke-kun..."
"Tapi aku mencintainya..." Satu isakan menemani kalimat tadi, lalu dilanjutkan dengan suara yang terdengar serak. "Lebih dari yang Uchiha-san kira..."
"Maaf..."
"Maaf, Uchiha-san... a-aku terlalu egois."
"Egois... karena selama ini telah mencintainya sendirian..."
"Aku sampai-sampai tidak memikirkan... apakah Sasuke-kun bahagia bersamaku..."
"A-Aku—uhk... hiks..."
"Ah... a-aku..."
Hinata menghirup udara dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Tapi tetap saja, tangisannya yang sudah dia tahan sedari tadi tetap saja tidak bisa tertahankan lagi.
"G-Go-Gomen..."
"Gomen ne..."
Itachi menghela nafas. Diliriknya Sasuke yang saat ini terdiam di posisinya berdiri. Pria itu merenung.
Kemudian, Sasuke mencoba memandang kakaknya. "Cukup. Hentikan ini..."
"Ya..."
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Sesudah sambungan yang di-loud speaker itu dimatikan, Itachi langsung memejamkan matanya sendiri, mengabaikan tatapan datar—namun menusuk—yang Sasuke berikan kepadanya.
"Entah kenapa aku merasa seperti kakak ipar yang jahat..." Itachi melipat kedua tangannya di dada. "Mungkin saat Hinata ke rumah keluarga lagi, aku harus minta maaf padanya—"
"Apa maksudmu melakukan hal itu?" Tanya Sasuke, menyela kalimat basa-basi Itachi. Ia semakin menunjukkan nada ketidaksukaannya.
"Kau tidak mengerti?" Itachi membalas tatapan Sasuke. "Kupikir kau orang yang bernalar tajam, Sasuke..."
"Jawab pertanyaanku."
"Kau memang tidak bisa bersabar, ya?" Itachi menjawabnya pelan. "Tentu saja aku melakukan hal setega itu untuk membuktikan suatu hal padamu..."
"Membuktikan apa?"
"Bahwa Hinata sayang padamu."
Sasuke berdecak. Matanya langsung berpaling ketika Itachi kembali menatapnya dan mendekatinya. Ia tidak tau harus berbuat apa. "Sudahlah, ini urusanku."
"Tidak bisa." Itachi tersenyum. "Kau memikirkan perasaan Sakura, kan?"
"..."
"Kalau begitu, kau juga harus memikirkan perasaan Hinata."
"..."
"Pilih salah satu dari mereka—jangan dua-duanya kau pertahankan." Disentuhnya puncak kepala Sasuke, lalu ia usap kepala raven itu sampai akhirnya Sasuke yang kesal menepisnya.
Lalu Itachi berjalan ke arah pintu. Namun sebelum ia benar-benar keluar, ia menyempatkan diri untuk menoleh sebentar ke Sasuke yang masih mematung di tempatnya.
"Belajarlah menjadi orang yang lebih dewasa, Sasuke."
Itachi tersenyum tipis, dan pintu pun tertutup pelan, meninggalkan Sasuke yang sudah kehabisan kata-kata untuk membalas kalimatnya.
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Sedangkan di pihak Hinata, setelah mematikan sambungan telfon, ia terdiam di ruang tamunya. Punggungnya yang saat itu menempel di dinding merosot ke bawah. Tanpa ekspresi, Hinata langsung terduduk. Ia mencoba memejamkan matanya. Mendesah kecil, lalu dia peluk kedua kakinya yang tertekuk sehingga ia bisa menyandarkan pipi di salah satu lututnya.
Tatapannya kosong, tapi setiap hembusan nafasnya terdengar berat.
Seluruh pikirannya terlalu sibuk mencerna ulang kalimat per kalimat yang baru saja didengarnya dari Itachi—kakak iparnya sendiri. Semua pembicaraan tadi seakan menamparnya—menamparnya dengan kesadaran bahwa Sasuke tidak bahagia bersamanya.
Tapi... Sasuke memang benar-benar tidak bahagia bersamanya, kan?
Ia tau itu. Bahkan sudah dari lama.
Sasuke tidak pernah bahagia, walaupun peristiwa semalam sudah mereka alami bersama.
Sasuke tidak bisa dibilang bahagia dengannya, hanya karena pria itu kemarin mencium dan menyentuhnya dengan lembut... satu kali.
Tidak bisa, kan?
Hinata memang sempat berharap bahwa... pria itu sudah mulai bisa menerimanya, dan mengizinkannya untuk mencintai Sasuke. Namun, seluruh kalimat Itachi seakan menerbangkan semua harapannya.
Kini harapannya pergi. Semuanya terlalu mustahil untuknya. Lagi-lagi—terlalu... tinggi.
Tiba-tiba saja, Hinata merasakan air matanya kembali mengalir. Menetes melewati pipi, dagu dan kemudian mengalir ke lututnya—karena saat ini ia membenamkan wajah ke lipatan kakinya. Lama-lama ia terisak, wajahnya semakin memerah akibat emosi yang saat ini ia rasakan.
Kenapa... semua ini terasa semakin sulit?
Dia pejamkan matanya rapat-rapat sampai dua alisnya mengernyit. Lima detik kemudian, ia kembali membuka mata. Ia melihat telfon rumah yang masih di genggamannya. Lalu, akhirnya Hinata mencoba untuk menyandarkan punggungnya ke tembok dan menekan tombol otomatis—untuk menelfon seseorang. Satu-satunya nomor telfon yang ia berikan jalan mudahnya.
"Halo? Ini siapa?"
Di saat deringan keempat, seorang pria di sambungan menjawabnya dengan nada yang masih mengantuk. Sepertinya ia baru bangun tidur siang.
"Naruto..."
"Ah, Hinata-chan! Apa kabar?" Suara yang tadinya malas-malasan itu berubah menjadi semangat.
"Baik..."
"Dengar-dengar, kau sudah bulan madu dengan Sasuke, ya? Bagaimana hari-harimu?" Godanya.
Hinata tidak menjawab. Ia hirup udara banyak-banyak, lalu dihembuskannya lewat hidung. "Na-Naruto-kun... a-aku ingin bercerita..."
"Oke, cerita apa? Tentang Sasuke?"
"Bukan—ini bukan tentang Sasuke-kun." Hinata memberikan jeda untuk menelan ludahnya sendiri. Wajahnya ia dongakan ke atas agar gravitasi tidak membuat matanya masih berkaca-kaca itu menumpahkan air mata lagi. "Aku mau bercerita... kalau aku baru saja jalan-jalan..."
"Dan aku... aku menemukan toko hewan."
Sebenarnya...
Hinata ingin bercerita tentang Sasuke...
Tapi ia tidak bisa.
Tes.
"Anjing, kucing, kelinci... semuanya ada."
Tes.
Tes.
"Me-Mereka menggemaskan..."
Mereka memang berada di tempat yang berlainan, tapi Naruto tau satu hal. Dimulai dari nada, dan intonasi, semuanya terasa seperti bukan Hinata yang sedang senang. Dengan itu saja Naruto—yang sebenarnya tidak terlalu peka pada orang lain—dapat menduga bahwa Hinata sedang menahan sesuatu di dalam hatinya.
'Hinata, jangan berbasa-basi. Kalau kau butuh bercerita yang sesungguhnya, aku akan mendengarkanmu...'
Sesudah mendengar kalimat itu dari sahabatnya, benteng pertahanan Hinata agar tidak menangis pecah. Mendadak ia terisak, lalu dengan susulan tetesan air mata yang berjatuhan melewati pipi serta dagunya, ia pun menunduk, dan bercerita.
"Aku..."
"A-Aku rasa... aku tidak cocok menjadi istri Sasuke-kun..."
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Tepat di apartemen Hinata, kedua orang itu terduduk di meja bundar yang berada di tengah ruang tamu. Bersama suara samar-samar dari televisi yang menyala, Hinata bercerita dan Naruto mendengarkan.
Sesudah gadis yang sudah berganti marga menjadi Uchiha itu menghela nafas—tanda ia sudah selesai bercerita—barulah pria jabrik itu berani mengangkat sedikit kepalanya agar menatap wanita yang ada di hadapannya. Hinata menanyakan pendapat dari sorotan matanya.
Pria pirang itu bergumam sebentar. Dan sebelum ia akan meluncurkan sebuah kalimat dari bibirnya, ia putuskan terlebih dulu mengambil potongan cookies dari stoples dan menggigitnya sekali.
"Jadi..." Bersama kedua mata yang masih menatap lurus Hinata, Naruto memiringkan kepalanya. Ia sedang bingung. "Kalian berdua... melakukannya? Melakukan... itu?"
Dengan wajah memerah, Hinata kembali menunduk dan mengangguk lemah. Hinata memang menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Sasuke sewaktu bulan madu, tapi tidak dengan pembicaraannya dengan Itachi di telfon. Ia rasa mengeluarkan salah satu dari dua uneg-unegnya sudah cukup membuatnya lega.
"Kalian baru melakukannya? Maksudku, 'baru' sekali?" Sontak saja alis Naruto bertautan.
"I-I-Iya..."
"Hm... sebenarnya sih aku maklum kalau mood-mu down sampai sebegitunya. Hanya saja... kenapa harus 'baru sekali', Hinata?" Sambil menghela nafas kecewa, Naruto—yang merupakan satu-satunya kenalan Hinata yang tau permasalahannya bersama Sasuke—menempelkan punggungnya ke senderan kursi.
Hinata terkesiap, dan semakin memperdalam tundukan kepalanya sampai kedua matanya tak lagi terlihat karena tertutup poni tebalnya. "Na-Naruto-kun... omonganmu terlalu vu-vulgar."
"Soalnya kukira kau sudah banyak melakukannya dengannya—secara Sasuke benar-benar terlihat posesif padamu." Katanya sembari mengingat masa-masa Sasuke meninjunya hanya karena kesalahpahaman sederhana.
Ketika Naruto menyadari wajah Hinata kini sudah semerah tomat, barulah Naruto meringis geli.
Dengan tatapan cuek ia pandangi setiap sudut di ruangan. "Gomen. Di sini tidak ada kamera sisi tv, kan? Siapa tau diam-diam Sasuke mendengarkan."
Merasa candaan Naruto tidak perlu dijawab, Hinata mencoba untuk menatap langsung kedua sapphire milik Naruto yang juga sedang menatapnya. "Naruto-kun..." Lirihnya.
"Iya?"
"Kira-kira... apa aku akan hamil?"
"Pastilah."
Hinata tersedak seketika. "Bu-Bukan, b-bukan itu..." Dengan wajah yang semakin memerah, ia menggelengkan kepalanya. "Aku mau bertanya... apakah jika baru sekali melakukannya... aku sudah dapat... hamil?"
"Ohhh..." Naruto tertawa pelan. Ia lanjutkan sembari mengangkat cangkir tehnya dan menyeruputnya pelan. "Bisa iya, bisa tidak."
"Kenapa...?"
"Ya, karena kau baru melakukannya sekali dengan Sasuke!" Kali ini Naruto tidak bisa lagi menahan gelak tawanya saat meneriakkan kalimat tadi. Kesannya seperti menjelaskan pendidikan seks ke orang yang sebenarnya sudah menikah duluan dari dirinya. "Kalau setiap manusia dapat langsung hamil dalam sekali proses, bisa pecah bumi ini karena bayi-bayi."
Hinata mengerjapkan matanya, bingung. "Be-Berarti masih lama, ya?"
Naruto terkekeh sebentar, lalu menunjuk Hinata dengan cookies-nya. "Iya, kau harus melakukannya bekali-kali dulu dengan Sasuke." Jelasnya, lalu ia mengulangi untuk menekankan kata berikut. "Ingat... berkali-kali."
Hal itu membuat pipi gembil gadis berkulit pucat tersebut memanas. Pandangannya sontak ia lemparkan ke arah ke bawah, sedangkan kedua tangannya bertautan erat.
Tentu saja Hinata malu. Mengingat peristiwa kemarin malam saja sudah membuatnya salah tingkah terus-terusan, bagaimana jika melakukannya berkali-kali?
Hinata hanya bisa cemas sendiri.
Melihatnya, Naruto tersenyum dan kembali mengganti channel televisi. "Memangnya kau ingin hamil?"
"Umm... iya, mungkin." Jawab Hinata ragu. Naruto menoleh dan dia pun melanjutkan. "Tapi... aku ingin hamil jika Sasuke sudah mencintaiku."
"Eh?" Kedua mata Naruto terbelalak, ia memperbaiki posisi duduknya yang seenaknya itu dan langsung bertanya. "Jangan bilang Sasuke belum pernah bilang kalau dia mencintaimu..."
Hinata memandang kedua mata yang irisnya sebiru langit itu di depannya. Tampaknya ia penasaran sekali dengan perkembangan cerita cintanya bersama Sasuke—karena memang Hinata jarang bercerita tentang itu.
Awalnya Hinata ingin menjawab, tapi... rasanya susah.
Pertanyaan Naruto sederhana, hanya 'apakah Sasuke pernah mengatakan cinta kepadamu?' Dan jawabannya juga mudah. Cukup katakan tidak—ya, karena Sasuke memang tidak pernah sekali pun mengatakan hal itu padanya. Karena... Sasuke memang tidak pernah mencintainya. Entahlah, ia tidak tau.
Di lisan, Sasuke juga pernah mengatakan 'entahlah' ketika ditanya apakah pria itu mencintainya. Tapi, untuk perbuatan... Sasuke tentu masih terlalu dingin. Namun, setidaknya kemarin sudah menjadi lebih lembut. Malah dia sendirilah yang terkesan terlalu menghindari pria tersebut.
Di lain sisi, Naruto—yang tidak mendengar jawaban apa-apa dari Hinata—pun sedikit salah kaprah.
Segeralah Naruto merebahkan kepalanya ke meja, meniban seluruh remehan cookies yang berceceran di permukaan meja.
"Hahh... siapa sih pacarnya Sasuke? Kalau aku jadi dia, aku pasti akan langsung memutuskannya. Lagian, mana betah aku jadi pacar seseorang pria yang beristri? Huh." Naruto menggerutu, lalu ia melihat Hinata. "Kau wanita yang sabar, Hinata..."
Hinata kembali melihatnya dan tersenyum tipis, tidak berniat lagi untuk menjawab.
Naruto menghela nafas, lalu memejamkan matanya. Ia sempatkan diri untuk melirik jam bulat yang ada di dinding. Ini sudah sore. Dia bangkitkan tubuhnya, lalu meregangkannya perlahan. "Sepertinya... sudah saatnya aku pulang. Aku tidak ingin Sasuke datang dan memergoki kita sedang bersama. Dia bisa meninjuku lagi seperti bulan lalu. Cih..." Naruto mengangkat kedua bahunya dan menguap.
"Baiklah..." Hinata mengangguk, ia ikutan berdiri sambil membagi senyum manisnya untuk Naruto. Hinata mengikuti langkah Naruto yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
Tapi sebelum ia pergi, Naruto menyempatkan diri untuk menepuk pelan kepala Hinata. "Kalau dia bertindak kasar... kau akan kuberikan pemukul baseball untuk memukulnya, oke?"
Hinata tertawa pelan. Ia lambaikan tangannya saat Naruto mulai berbalik dan berjalan menjauh.
"Jaa ne..."
"Jaa, Naruto-kun..." Ia tersenyum. "Kalau ada waktu, main lagi ya ke sini?"
Naruto membalas lambaian Hinata. "Iya!"
Setelah sosok Naruto sudah menghilang dari pandangannya, Hinata melangkahkan kakinya kembali ke apartemen. Setelah menutup pintu, Hinata menghela nafas dan menatapi ruangan apartemennya yang kosong. Hanya tersisa dua cangkir teh dan stoples kue yang tinggal setengah—akibat obrolan seriusnya dengan Naruto barusan.
Ia dekati meja tersebut dan menyentuhkan punggung tangannya ke poci teh—memeriksa suhu teh tersebut. Nyatanya sudah dingin. Ia ambil benda itu lalu meletakkan lagi ke atas kompor, berniat memanaskannya.
Sekarang, suhu di Tokyo masihlah rendah—walaupun ini sudah saatnya pergantian dari musim dingin ke musim semi—tapi ia benar-benar tidak menyangka bahwa suhu musim dingin di Konoha itu setara dengan suhu musim panas di Ame. Ame benar-benar kota bercuaca mengerikan.
Sesudah mengusap tangannya yang setengah membeku, Hinata mengangkat poci tersebut dan menuangkan cairan coklat beningnya ke cangkir. Lalu, saat ia baru saja menyentuhkan bibirnya ke cangkir, ada sebuah suara mengagetkannya.
Ting tong.
Hinata terdiam.
Apa itu Naruto lagi?
Tanpa banyak pikir Hinata meletakkan minumannya ke meja dapur, dan berjalan ke pintu untuk membukanya.
Namun, yang membuat kedua matanya terbelalak. Di depannya sudah ada seorang gadis berambut merah muda yang sedang tersenyum ramah kepadanya.
"Hai, selamat sore. Aku Sakura Haruno..."
Kalau saja Hinata masih menggenggam cangkirnya, dapat dipastikan cangkir tersebut akan jatuh dan terpecah belah di lantai pada saat ini juga. Karena, tentu saja ia kaget.
"Sa-Sakura-san?"
Sedangkan, di sisi lain Sasuke baru memasuki gedung apartemen mereka. Pria itu awalnya masih sibuk berbicara di telfon, tapi sepertinya ia mendadak berhenti fokus ketika melihat seseorang yang sangat familiar berada di depan kamarnya.
Wanita itu berdiri di depan pintu, dan memunggunginya. Seperti nya ia belum sadar dengan kehadiran Sasuke yang ada di 10 meter di belakangnya.
Lalu, pintu terbuka. Istrinya—Hinata—menyambut Sakura dengan tatapan terkejut. Setelah itu, mereka berdua masuk ke apartemen.
Sasuke mengernyit heran.
Untuk apa Sakura mendatangi Hinata?
.
.
~zo : i'll be waiting~
.
.
Setelah mempersilahkan Sakura masuk, gadis berambut merah muda itu melepaskan mantelnya, dan menggantungkannya ke coat hanger di belakang pintu. Hinata biarkan Sakura berjalan terlebih dulu, dan hanya memberikan isyarat agar ia duduk di ruang keluarga—karena ruang tamu masih lumayan berantakan karena remeh-remeh kue yang ditinggalkan olehnya dan Naruto.
Tapi, Sakura masih tetap menempatkan dirinya di meja bulat itu. Hinata jadi panik sendiri. "Sa-Sakura-san, d-di sana kotor..."
Dengan senyumannya, wanita cantik itu menggeleng. "Tidak apa, aku ke sini hanya sebentar kok. Tidak perlu repot-repot."
Walaupun sedikit tidak mengerti tentang maksud kedatangan Sakura ke sini, Hinata mengangguk. Dan berhubung Sakura masih berstatus tamu di rumahnya, Hinata pun memindahkan beberapa cangkir—yang sebelumnya ia gunakan saat Naruto datang—dan menggantinya dengan cangkir teh yang baru. Setidaknya ia harus memberikan minum kepada Sakura.
Setelah tiga menitan terduduk sendirian di meja, Hinata datang bersama nampan antik yang terdapat sepoci teh hangat dan dua buah cangkir berisi bongkahan kecil gula batu.
"Maaf menunggu lama..."
Sakura mengangguk, dan menunggu sampai Hinata duduk di hadapannya.
Setelah Hinata selesai di persiapannya menyambut Sakura yang tiba-tiba datang, iris emerald-nya menatap mata Hinata dengan senyum ramah. "Perabotan di sini ditata dengan anggun sekali. Pasti kamu ya yang mengubahnya?"
"Eh..." Merasa topik yang dibahas Sakura begitu tidak terpikirkan, Hinata segera melirik ke sekitar. "I-Iya..."
"Mamaku juga sering merubah posisi perabotan rumah. Kadang rumah jadi terlihat bagus, tapi kadang jadi aneh dan terasa asing. Beda denganmu, Hinata-san... sepertinya kamu telah membuat suasana apartemen ini menjadi seperti hotel..." Sakura tertawa kecil. "Terutama susunan bunga hiasnya... kamu hebat, ya?"
"Aku... Aku sudah belajar merangkai bunga sejak kecil. Ja-Jadi... aku lumayan bisa."
"Femininya..." Sakura menatap Hinata. "Pasti Sasuke bahagia bersamamu."
"Tidak juga..." Kali ini Hinata menggeleng lemah.
Dirinya semakin ciut ketika mendengar kata 'bahagia' di kalimat Sakura. Satu kalimat tadi seakan-akan mengingatkannya kembali ke obrolannya beberapa jam yang lalu bersama Itachi.
"Ohya, kalau boleh tau... Sasuke ada di mana?" Tanyanya kemudian. "Setauku, di jam ini biasaya dia sudah pulang..."
Di detik itu, Hinata sedikit menunduk. Lagi-lagi nama Sasuke disebut. Apa jangan-jangan kedatangan Sakura ke rumahnya untuk membahas Sasuke bersamanya?
Hinata tau ia tidak boleh berburuk sangka, tapi sebagian dari pikirannya yakin bahwa itulah tujuan Sakura mendatanginya.
"Setelah kerja, Sasuke paling suka tidur di kamar sambil membaca. Muka seriusnya lucu sekali jika kau melihatnya dari dekat..."
Hinata sedikit menaikkan pandangannya, menatap lurus ke Sakura.
"Terutama saat ia sedang ngantuk. Biasanya sih dia ngantuknya sesudah mandi sore. Bayangin deh, Sasuke itu tahan berhari-hari tidak tidur untuk berkerja. Tapi sekalinya mandi, dia pasti akan langsung ngantuk. Jadi jangan heran kalau di malam hari kadang ia tiga kali lipat lebih pendiam."
Entah kenapa, Hinata merasa terbebani saat mendengar kalimat-kalimat Sakura. Nada yang digunakannya memang biasa, namun... terasa berat di telinga dan hatinya.
Apa ia sedang cemburu?
Cemburu karena... ia tidak tau apa-apa tentang kebiasaan Sasuke?
"Lalu—"
"Sakura-san..."
Kalimat lirih Hinata membuat Sakura berhenti bercerita. "Aku senang sekali kau mau menceritakan Sasuke padaku..." Bisiknya perlahan, sambil menyentuhkan tangannya ke cangkir teh. "Tapi tenang saja... Sasuke-kun tidak akan selingkuh di belakangmu..." Hinata mencoba mengangkat wajahnya da tersenyum. "Dan terlebihnya lagi, tidak mungkin jika bersamaku..."
Sakura terdiam selama beberapa detik. "Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Maaf sebelumya, tapi aku benar-benar tidak bermaksud untuk—"
"Tidak tau kenapa... aku cuma ingin menjawab segala pertanyaan yang Sakura-san tanyakan lewat pandangan matamu. Itu saja."
Sakura menghela nafas, tampaknya niat awalnya ke sini sudah terlihat. "Jujur, memang itu yang ingin kutanyakan."
Hinata mengangkat cangkirnya dan menyentuhkannya ke bibir. "Tidak apa, tidak perlu sungkan untuk bertanya langsung padaku..."
Sakura tersenyum samar, lalu ia mengalihkan pandangannya ke meja. "Kalau boleh, aku ingin bertanya lagi..." Sakura sedikit memberikan jeda dengan melihat kedua manik Hinata—yang tidak sedang menatapnya. "Apa kamu bahagia bersama Sasuke-kun...?"
Hinata terdiam.
Ia jadi teringat kalimat Itachi...
Beberapa saat kemudian ia memejamkan kedua matanya. "Aku bahagia. Walaupun kadang perasaanku padanya sedikit sulit ditebak olehku sendiri."
Sakura memutuskan untuk terus mendengarkan.
"Tapi, aku tidak yakin kalau Sasuke-kun bahagia bersamaku..."
Sakura sedikit merenung. Ya, ia tau benar mengenai sifat Sasuke yang begitu dingin ke banyak orang. Pria itu bagaikan es di dalam kulkas—seseorang yang teguh dalam pendiriannya—dia susah sekali untuk dicairkan.
"Hinata-san..." Ucap Sakura hati-hati. "Lalu... apa kamu... tidak meminta cerai?"
Perlahan, Hinata sedikit mengangkat dagunya, melihat kedua manik Sakura yang sempat menatap matanya. Namun, karena takut kalimatnya dianggap salah, Sakura sedikit memalingkan wajah.
"Eh! Bu-Bukan maksudku untuk menyuruh kalian bercerai...!"
"Tidak apa-apa, Sakura-san..."
Lagi pula, pertanyaannya sama seperti yang Itachi katakan beberapa waktu yang lalu.
Hinata mengangguk mengerti. "Aku memang tidak akan menceraikannya." Ia terdiam sebentar. "Karena... aku mencintainya..."
Sakura terdiam sebentar. Ditatapnya cairan cokelat bening yang dari tadi ia pegang.
"Tapi... Sasuke..."
Hinata tersenyum, dan hal itu sontak membuat Sakura memandang kedua iris lavendernya.
Hinata terlebih dulu menggigit bibir bawahnya, terutama ketika ia mengingat kejadian semalam yang terjadi pada mereka.
Semua perlakuan Sasuke kepadanya hangat. Namun... ia masih tidak mengerti. Entah Sasuke menyentuhnya hanya untuk kesenangan semata, atau memang karena membalas perasaannya.
'Terima kasih... karena sudah mencintaiku... yang seperti ini.'
Kalimat itu terulang di benaknya.
Luar biasa memberatkan hatinya.
Iya, kan? Ia benar-benar tidak tau...
"Ya. Sasuke memang tidak mencintaiku." Tapi, ia paksakan dirinya untuk tersenyum. "Aku tau kok..."
"..."
"Dulu kami hanya dijodohkan, aku tidak mencintainya dan dia tidak mencintaiku."
Ia ulangi kalimat Itachi yang sekarang sudah ia mengerti.
"Lalu sebelum kami menikah, dia mengatakan padaku kalau pernikahan ini hanya pura-pura dan dia masih mempunyai seorang kekasih." Hinata mengelus cangkir tehnya sendiri. "Tapi aku hanya orang bodoh..." Ia tersenyum lemah. "Aku masih mau menjadi seorang istri dari pria... yang masih berhubungan dengan wanita lain."
Sakura menyimak.
"Karena aku mencintainya." Hinata menelan ludahnya terlebih dahulu, lalu melanjutkan. "Dan aku mematuhi aturannya, agar aku bisa terus bersama Sasuke-kun..."
Seusai kalimat itu, hanya suara detikan jam dinding yang terdengar. Tidak ada lagi pertanyaan Sakura maupun jawaban Hinata.
Lalu dengan kedua sudut bibir yang terangkat, Hinata kembali menatap Sakura. Sampai kedua matanya menyipit, dan pipinya memerah. Entah malu, ataupun karena sedang susah payah menahan tangisannya.
"Aku hanya menunggu..." Lirihnya. "Menunggu sampai dia bisa melepaskanmu dan mulai mencintaiku."
"..."
"Tapi, bila tidak mungkin..." Hinata sedikit tertawa kecil, bertingkah seolah-olah semua pembicaraan ini hanyalah main-main. "Seperti kalimatmu sebelumnya, aku hanya tinggal menunggunya untuk... menceraikanku."
Di saat itu juga, kedua iris hijau milik Sakura membulat.
"Aku memang tidak akan menggugat cerai kepadanya. Namun aku akan menerima jika ia yang menceraikanku."
"..."
"Karena... aku mencintainya. Aku ingin Sasuke-kun bahagia." Hinata melanjutkan. "Dan dia hanya bahagia bersamamu."
"..."
"Itu saja." Kali ini Hinata sedikit mengadah dan tersenyum lebar. Entahlah untuk apa, dan mengangkat wajahnya untuk kembali membagi tatapannya ke Sakura. "Karena itu, aku harus bersabar."
Merasa keheningan yang terasa di ruangan ini semakin membuat keduanya tidak nyaman, Hinata menuangkan teh ke cangkirnya, dan menawarkan untuk menambahkan teh ke cangkir Sakura. Sakura menolak dengan gelengan sopan.
Sesudah menaruh poci teh ke meja, Hinata memiringkan wajahnya sambil menatap Sakura. "Sakura-san... mau kuberitau dua rahasia?"
Sakura tidak menjawab lewat anggukan maupun gelengan kepala. Tapi, ia tetap menatapnya.
"Ini rahasia pribadiku... dan kujamin Sakura-san belum pernah tau..."
Sakura sedikit cemas.
Rahasia apa tentang Sasuke yang tidak ia ketahui?
Apa itu rahasia pribadi mereka yang selama ini Sasuke sembunyikan darinya... atau apa?
"Yang pertama, sebenarnya..."
Hinata memberi jeda dengan tersenyum, dan Sakura menunggu.
"Sasuke-kun sama belum pernah sekalipun tersenyum untukku. Sama sekali."
Sakura mengerjapkan matanya. Ia tidak mengerti. Yang manakah yang rahasia dari kalimat tadi?
Lalu, sampai akhirnya ia mendapatkan jawaban, dari senyuman Hinata yang tersungging untuknya.
"Tapi... kamu pernah."
Sakura tersadar. Kini ia tau apa yang rahasia yang dimaksud oleh Hinata. Senyuman Sasuke.
Sesederhana itukah rahasianya?
"Kau pasti sering sekali melihat dia tersenyum "
Lalu Hinata memainkan jemari tangannya, mengingat bahwa dulunya ia sempat melihat Sasuke tersenyum. Tapi, bukan untuknya... melainkan Sakura.
"Rahasia keduaku... aku iri padamu..."
Hinata tertawa kecil.
"Kamu dicintai oleh Sasuke-kun..." Bisiknya. "Kamu adalah wanita yang sangat beruntung."
Tes.
"Eh?"
Setelah merasakan ada setitik air mata yang menjatuhi meja bundar milik keluarga Uchiha ini, Sakura mengangkat wajahnya. Ia pun melihat Hinata. Awalnya ia mengira bahwa Hinata-lah yang menangis, tapi nyatanya tidak. Hinata melihatnya dengan tatapan bingung.
Lalu Sakura mengangkat salah satu tangannya, dan menyapukan tangannya ke pipinya sendiri.
Memang...
Bukan Hinata yang menangis, tapi dirinya.
Tes.
Tes.
"Uhk..." Entah kenapa Sakura menjadi terisak. Selain kedua bahunya yang terus berguncang, dirinya juga kerepotan untuk menghapus butiran air matanya yang berlinangan.
"Sa-Sakura-san... kamu kenapa?"
Hinata bangkit dari tempatnya terduduk, dan akan mendatangi Sakura yang duduk di seberang. Tapi, Sakura tidak mau. Dia juga langsung bediri, dan sedikit memberikan jarak di antara mereka dengan telapak tangannya.
"Ti-Tidak. Aku tidak apa-apa..."
Kenapa... jadi dia yang merasa jahat ke wanita ini?
Sasuke juga...
Padahal Hinata mencintai Sasuke. Dia berstatus sebagai istrinya. Hubungan mereka sudah mendapatkan restu dari berbagai pihak.
Tapi kenapa... Hinata bisa menerima semuanya?
Dan kenapa dia juga bisa sabar menerima cobaan yang telah Sasuke dan aku berikan?
"Sa-Sakura-san, apa kamu benar-benar tidak baik-baik?"
Sakura menghela nafasnya, dan mencoba melepaskan telapak tangannya yang sempat menutupi wajah basahnya. Bersama matanya yang masih menangis, Sakura menatapnya. Sedikit buram. memang. Tapi ia masih dapat melihat wajah Hinata yang begitu tulus menanyakan keadaannya.
Lalu sebelum Hinata kembali bertanya lagi, Sakura berkata dengan susah payah.
"Kamu pantas bahagia..." Bisiknya. Lalu ia pun berdiri dan berjalan untuk mengambil mantelnya. Dibukanya pintu apartemen sehingga ia bisa keluar dari sana. "Sampai jumpa, terima kasih untuk tehnya."
Cklek.
Sesaat Sakura keluar dari ruangan Hinata, seseorang yang sebelumnya ada di balik pintu sudah terlebih dulu menghilang. Sasuke telah pergi entah ke mana.
. . .
Jauh dari apartemen, Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Banyak yang memberikannya klasonan panjang karena tindakannya di jalan terlihat seperti pengemudi ugal-ugalan. Tapi Sasuke tidak peduli dengan mereka.
Ia baru saja mendengar segala percakapan Sakura dan Hinata.
Dan tidak tau kenapa... dirinya merasa sesak. Padahal dia hanyalah pihak yang mendengar, bukan pihak yang terlibat.
Bersama tatapannya yang masih fokus menyetir, Sasuke terus merenungkan semua kalimat yang tadi ia dengar. Ia kesal dan juga bingung...
Kenapa ia bisa jadi gampang tersentuh seperti ini?
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Ahahahaha akhirnya update *dibunuh*. Maaf karena saking lamanya update, kalian sampe lupa sama fict ini. Udah kebiasaan update lama sih. Walopun di sini scene SasuHina-nya cuma dikit dan konfliknya terkesan monoton, mohon diterima... soalnya BENTAR LAGI FICT INI TAMAT LOH! WAKAKAKAKA #mainmercon.
Ngomong-ngomong aku mau berterimakasih untuk Hyuuga Prinka. Soalnya dia yang ngebuatin cover untuk fanfict ini. Terimakasih banyak yaaa {}
Ohya, ini udah lebaran aja deh. Selamat menunaikan lebaran, ya? Jangan lupa minal aidin-an... apalagi yang banyak dosa sama aku #buagh.
Eh, aku bingung sama jalan kelanjutan fict ini. Apa ada yang mau ngasih saran atau ide untuk ending? Ini serius loh, daripada aku WB terus hehe.
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Itachi milik nitachi, Fujisawa Yukito, Shizuka Meiko, FarEien, rutherss, AuthorBimbang, Sabaku no ligaara cantik, Yukio Hisa, Wely Chan, chibi beary, IndigOnyx, Inolana WillowShimmer, harunaru chan muach, SuHi-18, Aiiko Aiiyhumi, lavender hime chan, suka snsd, SasyaTazkiya Lawliet, akemimatsushina, Miya-hime Nakashinki, RK-hime, Himeka Kyousuke, Michelle Aoki, Hazena, Hyou Hyouichiffer, Dae Uchiha, pearLite, Evil, tsuki sota, Lollytha-chan, minatsuki heartnet, Pasta Gigi Gum ga login, Chikuma unlogin, n, molly, Emmie, firsisyahoo. com, Guest, Nara Hikari, choami, Nanairo Zoacha, elfhottest, nanaichi, Hanazono Suzumiya, gui gui M. I. T, jonghoshinoxxxsai, OraRi HinaRa, Aurora, KagiyamaHINA-chan, hinata, cia-san, Miss Lavonyx, TSUBASA LI, astiamorichan, Mikaniku94, kesetanan, Kesurupan, Serenity, SparKyuHae elf, Eilla 'qina, Miku, BeeShiffer, Kaka, AnnisssARA, NaylaAlmira, ristia15, Guest, Shena Blitzryuseiran, Rara-uchihahyuga.
.
.
Pojok Balas Review :
Akhirnya SasuHina ngelakuin itu. Iya. Aku turut seneng juga. Ibwfy mau sampe berapa chap? Belasan, tapi ngga sampe 15 chap kok. Lama update, tapi sekali update words-nya dikit. Ini udah banyak, ya. Sebentar lagi Sasuke bakalan berubah, kan? Sepertinya... Sakura ending-nya sama Sasuke atau Naruto? Belom pasti juga sih, tapi diusahain NaruSaku. Sakura mau ngelabrak Hinata? Iya, itu labrakannya. Tapi jangan ngebayangin labrakan khas anak SMA loh. Harusnya kamu nulis di FNE, pasti lebih banyak yang nge-review. Demi Tuhan Yang Maha Esa, aku ngga bisa bahasa inggris. Paling nantinya malah di-flame soal grammar blablabla #ngek. Ditunggu NejiHina ratem-nya. Gila, mana bisa aku buat ratem wkwk. Penantian Hinata sama Sasuke ngga akan sia-sia, kan? Ngga dong. Apa Hinata akan hamil? Belom kepikiran sampe sana sih... Ini rated-nya hampir M. Makanya kusebut semi-M (hampir M) #jbum. Ng... emang sih, kayaknya malahan udah M. Tapi mau gemana lagi? Udah terlanjur. Harap maklum, yaa. Tambahin scene ItaKonan dong. Wah, kayaknya ngga ada. Si Sasuke ngelakuin 'itu' karena apa? Sayang, kasihan, atau apa? Aku ngga mau jawab. Kalo Sakura tau SasuHina udah begitu kan pasti makjleb. Iyalah, pastinya. Emosi Hinata kerasa banget, SasuHina ngga OOC, dan gaya penulisannya bagus. Terimakasihh. Kenapa tokoh ketiga harus Sakura? Ngga tau. Mungkin karena dulu aku masih polos urusan milih pairing (?). Lagian aku emang suka muter-muterin pairing yang make Hina, Sasu, Naru, Saku sih. Hate You Always sama Nerds update dong. Nerds udah tamat, dan HYA lagi diketik. Sasuke POV dong. Ngga bisa ngebuat POV cowok. Di summary ketulisnya udah update chap 10, tapi pas di-klik masih chap 9. Itu tandanya mau cooming soon haha.
.
.
Next Chap :
"Tuan, apa Anda mabuk?"
"Tadaima..."
"Sasuke-kun jangan tidur di sini..."
"Kalau Sasuke-kun... masih menyayangi Sakura-san... k-ku-Kupikir... tidak perlu terlalu baik padaku... tidak perlu lagi menyentuhku, bahkan... tidak perlu menyapaku sekalian."
.
.
Review kalian adalah semangatku :'D
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
