Ulasan reviews chap 8
heztynha uzumaki
hueeeeeeeeeeeeeeeeeee, keren ceritanya , kompleks juga ... :3
ganbatte for next chap ya senpai :D
a : wa… aq lomb bisa di panggil senpai.. ni ru fic pertama q n aq d fanfic ru 4blanan….
Keira Natsuka
lanjut. update kilat yaa
a : kyak nya lumb bsa update kilat. Hontou ni gomenasai….
zulnaen
lanjuuuttt
a : yapz… masih dilanjutkan koqk…
yuichi
akhirnya naru tahu kalau suke itu tunanganya...senangnya...:)
tru sasori gimana...? masa nyerah begitu aja gak ada perjuangan...
d tunggu lanjutanya ya...
a : konflik Sasori mha Naru masih ada koqk. Tnang saja….
Guest
Jdii bingung mw blng ap..
tpii cpet next y?:-)
A : slalu di ushakan untuk itu…. Asal inspirasi ada n fkran gk suntuk…
Ara Uchiha
lanjut Ryuu-san atau di fb Rizhan-san, hehe
Gomen ne baru review Cause baru nemu akun mu, hehe
Hyuuga
a : wah,,, ketahuan ya,,, hehehehehehe…
#garuk-garuk tengkuk…
.921
Lanjut lagi,, cayooo.. Genbatte, ceritanya tambah seru!
a : ,, dilanjutkan koqk….. ^_^
wah... makin hot aja konfliknya... :D
lanjutkan author-san... aku mendukungmu.. ;D
buat cerita yg makin keren ya...
ehmm.. iya lupa... sakit jantung lemah naru gak akan bertambah parah kan?
a : ya,,,, ntu kan rahasia masih….. nanti bakal di terangkan di chap yang selanjutnya, entah 10,11, atau lainnya. hehehe
za hime
kyaaaaaaaa ditunggu lanjutannya...
a : wa… trims udh mw nggu ya..
Axa Alisson Ganger
Sasori no Baka..
Huh lebih mbending Naru kali dari pada si Natsume itu..
Lanjut dong..
a : kan natsume cuman pemeran tambahan yg OC, jadi kemunculannya cuman bentar.
akbar123
bingun mau review apa xD
pokonya update kilat :D
a : always diushakan untuk hal itu
kawaihana
Lanjut lagi dong...
Lanjut lagi.
Yang cepet ya...
A : untuk update kilat slalu author ushakan… yosh… semangat masa muda… hehe
Hikari No OniHime
Lho, tadi diawalnya Gaara nganggep Naru kayak anaknya terus kugg ada kalimat nganggep kayak adiknya ?
Berarti Naru itu dianggep sahabat, adik, sama anak dong? (-.-")a
a : he? Gomen ya… slah ketik berarti.. hehehe #nyengir pasang watados….
Ya,,, intinya gaara nganggep Naru itu adk n sahabat ezt…
minyak tanah
haha lanjut haha tadi sasuke rada ooc ya mengenai naru
a : sasuke always OOC low di depan naru.. kwkwkwkwkwkw
Hyull
Wow, karet.a elastis banget kak, beneran dehh, hahaa, :-D
kak, ini perasaan q aja atau memang cerita ini makin melankolis?
Lain kali update cepet ya kak :-)
salam,
3 Hyull
a : gomenasai,,, hontou ni gomenasai untuk update yg karetan… tapi enelan koqk,,, author slalu ngushain untuk update kilat dan bikin konflik di fic ini smakin melo,, cuman kadang keadaan yang kurang mendukung….
\***/
Cuap-cuap author :
Gomen udah ngecewain para reader untuk segera update kilat, imajinasi author masih melayang-layang, inspirasi yang sebenarnya untuk nglanjutin fic malah kepake untuk mikirin judul proyek akhir semester, gomen ea para reader,,,, mohon dimaklumi,, hehehehehehe….
Salam,
^_^ V
Ok,,,, yuks lanjut bacanya…
\*************************/
The day you went away
Chapter 9.
Rate T, disclaimer oleh MK
By : rizhan
Pair : sasufemnaru
Sebelumnya….
Kucengkram dadaku yang terasa sakit, airmataku semakin deras mengalir seiring kepergian Sasori. Aku tak sanggup lagi menahannya. Aku terduduk lemas. Pandanganku mulai menggelap dan samar-samar kudengar suara Sasuke yang berteriak memanggil-manggil namaku. Setelah itu aku sudah tak mengingat apapun lagi.
Naru End POV.
\***/
"Naru,,,,, "Sasuke yang melihat Naru pingsan langsung berlari dan sigap memeluk Naru. Digoncang-goncangkannya tubuh Naru yang lemas. Gaara yang mendengar Sasuke berteriak langsung berlari dan didapatinya Naru dipelukan Sasuke.
"Ada apa dengan Naru-chan, Sasuke?"
"Dia pingsan setelah mengantar Sasori keluar." Sasuke mencoba tegar, entahlah, dia terlalu lemah jika menyangkut Naru yang notabene nya adalah orang yang dia cintai. Gaara hanya diam melihatnya. Dia ingin membantu, namun bingung harus membantu dengan cara apa. Perlahan Sasuke bangkit dan membawa Naru digendongannya. Gaara mendecak sebal. Tangannya gemeretak menahan amarah.
'Cih,,, akan ku beri kau pelajaran, Sasori-Aho.' Batin Gaara. "Sasuke." Panggilnya. Sasuke menoleh sejenak. "izinkan aku pulang sekarang dan memberi pelajaran Sasori." Ucap Gaara sambil menundukkan airmatanya.
"Baiklah,,, sampaikan juga salamku untuknya. Kurasa kau faham akan yang kukatakan. Aku tak mau mengotori tanganku untuk kecoa macam dia." Kata Sasuke dan kemudian dia berbalik menuju kamar Naru.
"Jika itu yang kau mau…" Gaara menyeringai. Sepertinya dia baru saja memikirkan cara untuk memberi Sasori pelajaran.
Sasuke merebahkan tubuh Naru diranjangnya dan segera menaruh handuk kompres di dahinya. Sasuke menggenggam tangan mungil Naru, dielusnya dan ditempelkan kepipinya. Berharap si pemilik akan terbangun dan menyapanya seperti biasanya.
Habata itara modorana ito itte
Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo
tsukinuketara mitsukaru to Shiite
Lagu Blue Bird mengalun di ponsel Naru, 'beloved chichi'. Begitulah yang tertera dilayar ponsel flip tersebut. 'Ini pasti Minato-jisan' batin Sasuke. Segera dia menekan tombol berwarna hijau yang tertera disana.
"Moshi-moshi." Kata Sasuke.
"Moshi,,, Sasuke, kau kah itu?" jawab seseorang diseberang.
"Ya, Jisan."
"Dimana Naru?"
"Dia sedang sakit."
"APA? SAKIT? SAKIT APA DIA?" Sasuke kontan menjauhkan telinganya dari hp yang dipegangnya.
'Aku masih ingin mempunyai telinga yang normal saat ini.' Batin Sasuke. "Dia hanya demam, jisan. Tadi dia bersemangat main hujan-hujanan." Lanjutnya.
"Mengapa tidak kau cegah?"
"Dia keras kepala."
"Ya sudahlah….. Dia memang selalu begitu."
"Ano,, Jisan.. Apa aku boleh meminta satu hal?"
"Apa itu? Suke?"
"Boleh aku meminta sekolah Naru dpindah ke Suna awal semester depan? Bukankah disana ada Tsunade-baasan? Aku pun akan pindah kesana mengikuti Naru dan akan tinggal bersama Aniki."
"Kenapa kau meminta Naru dipindahkan dari KJHS?"
"Aku ingin lebih dekat dengan Naru dan menjauhkan dia dari seseorang yang menyakitinya."
"Siapa maksudmu, Suke?"
"Bisa kuceritakan ketika kalian kembali saja?"
"Ya… baiklah.. Salam untuk Naru ya. Mungkin senin besok kami sudah akan kembali."
"hn."
'dasar, ayah dan anak sama saja. Sama-sama irit kata.' Batin minato. "baiklah,, oyasumi, Suke." Lanjut Minato.
"hn." Minato yang mendengarnya hanya sweatdrop. Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya bukan?
Tangan kanan Sasuke kembali memengang tangan Naru, sedang tanga kirinya mengusap lembut rambut Naru. Dia tak ingin beranjak dari situ. Dia ingin menemani Naru, menjaganya dan ada disampingnya selalu. Perlahan Sasuke mulai tertidur dengan tangan yang masih memegang tangan Naru dan duduk disamping ranjangnya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Perlahan tangan Naru bergerak seiring matanya yang mulai membuka. Dirasakan tangan sebelah kanannya terasa berat seperti ada yang mengganjal. Naru menoleh ke kanan, ketempat tangannya yang terasa berat. Dengan penglihatan yang samar akhirnya dia bisa melihat siluet orang yang menindih tangannya. Rambut onyx pantat ayam, itulah gambaran pertama yang Naru lihat karena posisi orang tersebut tertidur dengan posisi terduduk dilantai dengan kepala yang bersandar dikasur—lebih tepatnya tangan Naru-, dan,, siapa lagi yang punya cirri-ciri tersebut selain Sasuke-Sensei-Teme cap pantat ayam? Author yakin… pasti bukan hanya Naru saja yang langsung mengenali Sasuke dari model rambut pantat ayamnya, tapi readers juga kan?ok.. #lupakan sebait kalimat barusan.
Sasuke yang merasakan pergerakan lemah dari Naru mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Perlahan dia dongakkan kepalanya dan menemukan Naru sedangmenatap sendu kearahnya. Merasakan nyawanya mulai terkumpul perlahan, Sasuke mulai mencoba duduk di samping Naru dan meregangkan otot-otot miliknya yang kesemutan akibat tidur dalam posisi duduk. Dia genggam tangan Naru yang terasa lebih hangat dari biasanya. Dia tau, demam yang diderita Naru semalam pastilah belum sembuh mengingat daya tahan tubuh Naru yang lemah dan tidak mungkin bisa sembuh dari demam dengan waktu yang sangat singkat. Author rasa, jika ini dalam kehidupan nyata, pasti author dan para reader pecinta sasufemnaru rela gebukin Sasori rame-rame karena udah bikin Naru kayak gitu. Bersyukur ini hanya fanfic dan isi ceritanya 90% murni fiksi dan hanya imajinasi author. Benarkah yang author katakan ini?
Naru mencoba duduk dan dengan nyawa yang masih belum terkumpul Sasuke menghentikan pergerakannya. Sungguh, saat ini yang ada difikiran jenius Sasuke hanya bagaimana caranya Naru cepat sembuh dan menampakkan wajah cerianya lagi.
"Istirahatlah dahulu, aku akan membuatkanmu sarapan." Ucap Sasuke. Yang ditanya terdiam dan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tapi bagi Sasuke itu sudah cukup untuk menjwab semua pertanyaannya. "Jika ada apa-apa atau kau butuh apa-apa, beri tau aku lewat hp mu. Aku akan datang." Lanjutnya. Dan lagi-lagi, yang ditanya hanya mengangguk.
Tak mau membuat Naru menunggu lama dan akhirnya kelaperan, Sasuke mulai beranjak dari kamar Naru menuju kamarnya dahulu untuk membersihkan badan. Tidak mungkin bukan? Memasak dengan face yang masih ngantuk dan belum tersentuh air? Cukup. Sasuke masih sadar akan kebersihan.
Selesai mandi dan bersih-bersih Sasuke langsung menuju dapur dan mencoba memasakkan Naru bubur. Untunglah bahan makan yang masih ada didalam kulkas masih ada. Jadi dia tak perlu lagi belanja. Hitung-hitung menghemat waktu agar lebih cepat menemani Naru.
Bubur telah terhidang dengan beberapa pelengkap. Rasanya enak, dan Sasuke telah mencicipinya sendiri. Dia taruh bubur dan segelas susu di dalam nampan yang telah dia persiapkan. Ah, moment langka. 'Seperti sudah berkeluarga saja dengan Naru jika seperti ini.' Batin Sasuke.
Sasuke melangkah masuk kekamar Naru dan mendapati Naru menangis lagi. Lagi-lagi hatinya ikut merasakan sakit yang dirasakan Naru. Batinnya menangis pilu. Dia taruh nampan tadi di meja belajar Naru dan dirinya menghambur kearah Naru yang menangis sesenggukan. Didudukkannya Naru hingga menghadap kearah tempatnya duduk. Dia tatap iris sapphire yang redup seolah kehilangan cahayanya. Mencoba menyelami dalamnya penderitaan yang di alami sang pemilik iris sapphire. Sasuke tau bagaimana rasanya sakit itu, meskipun dia sendiri tidak mengalaminya langsung.
"Tatap mataku, Naru." kata Sasuke. Naru hanya mencoba memandang wajah sasuke yang tenang dan menatapnya tajam. Ia bingung, harus bagaimana lagi. Air mata terus saja mengalir diwajah mulusnya tanpa bisa dibendung lagi. Grepp….. lagi-lagi Sasuke memeluknya disaat ia menangis. "Keluarkan tangisanmu untuk sekarang jika itu bisa membuat hatimu lega. Berjanjilah kau akan move on setelah ini dan tidak akan menangisinya lagi. Wakatta?" Naru mengangguk, sepertinya ucapan Sasuke berhasil. Tapi tentu tidak 100%.
"Baiklah,, Sepertinya tuan putri harus makan dulu." Sasuke melepaskan pelukannya dan mengambil bubur yang tadi sempat didiamkannya. Untunglah bubur itu masih ada sisa hangatnya. Dari pada dingin dan tak ada kehangatan sama sekali? Mungkin Naru bisa sakit perut.
Dengan telaten dan hati-hati Sasuke menyuapi Naru, sesekali Sasuke mengusap area sekitar bibir Naru yang belepotan akibat ulah jahil Sasuke. Tak ayal, Naru mulai ngambek dan memonyongkan bibirnya dan hanya dibalas dengan gelak tawa Sasuke yang gemas melihat reaksi Naru yang menurutnya 'imut'.
\*-*/
Konoha Gakure, 6.30 PM!
Naru yang duduk di antara ayah dan ibunya hanya menundukkan kepalanya. Dia bingung. Sebenarnya apa yang telah direncanakan Sasuke hingga dia terjebak diantara kedua orang tuanya seperti ini. Ya, orang tuanya telah datah beberapa jam yang lalu saat ia istirahat siang tadi. Dan kini dia dipanggil setelah 'agak' baikan dari 'demam'nya. yang jelas, dalam hati ia merutuki ulah Sasuke yang bertindak tanpa persetujuan darinya.
"Jadi, Suke. Apa yang kau bicarakan kepada kami?" Minato, selaku kepala keluarga memulai pembicaraan setelah beberapa lama terdiam bersama.
"Naru sudah tau tentang perjodohan ini." Jawab Sasuke.
"Benar begitu, Naru-chan?" Kushina menambahkan dan membelai lembut rambut Naru. Sedang yang ditanya hanya mengangguk lemah tanpa bersuara. Mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan sang ibu.
"sou ka." Minato hanya manggut-manggut melihat reaksi putrinya. "lalu, apa yang ingin kau rencanakan, Suke?" lanjutnya.
"Aku, ingin memajukan pertunanganku dengan Naru secepatnya. Kalau bisa, pernikahannya juga." Minato yang mendengarnya terkejut setengah mati. Dia tak menyangka akan mendengar ini langsung dari Sasuke yang notabenenya adalah orang-yang-irit-kata. Yah,, mungkin ini kata terbanyak yang pernah dia dengar slama ini.
"Bagaimana bisa?"
"Aku akan membuatkan minum dan menyiapkan beberapa cemilan dulu untuk kalian." Kushina menginterupsi percakapan dan tanpa persetujuan Minato langsung melesat menuju dapur.
"Aku tak ingin kehilangan dan jauh dari Naru. Hanya itu yang kuinginkan saat ini."
"Tapi kan tidak harus secepat ini?"
"Sudah aku bilang di awal kan? Aku ingin memajukan. Bukan menentukan besok aku akan melaksanakannya."
"Ya,,, baiklah baiklah. Nah, Suke, apa rencanamu?"
"Aku ingin pertunangannya dimajukan hingga Naru lulus KJHS, ji-san."
"Bukankah kau sudah tau jika pertunangannya saat kau lulus KSHS(Konoha Senior High School)?dan Naru juga nantinya sudah menginjak awal kelas 2. Kurasa hal itu ccukup mengingat usia Naru yang menginjak 17 tahun di saat itu"
"Ya, tapi sudah kubilang untuk dimajukan Saja. Aku tak ingin hal serupa terjadi lagi."
"Hal serupa?"
"Hn."
"Bisa kau perjelas? Suke?" Sasuke menoleh kearah Naru sejenak dan dibalas anggukan dari Naru.
"Naru patah hati."
"?" Minato bingung dengan 2 kata dari Sasuke itu. 'Apa maksudnya ini?' Batinnya. "bisa kau jabarkan kejadiannya?" Minato mencoba merileks kan badan dan fikirannya. Kenyataan Naru sudah tahu perjodohannya cukup memicu jantungnya bekerja lebih keras. Mungkin jika Minato punya riwayat penyakit jantung, hidupnya sudahlah berakhir.
Sasuke menghela nafas, sepertinya ini akan mencadi kalimat terpanjang dalam hidupnya. "Naru memutuskan untuk menjadi kekasih Dari pemuda Baka berambut merah bermarga Akasuna, teman seangkatannya. Hanya saja dia berbeda kelas dengan Naru. Naru mencintainya, namun ternyata pemuda itu telah mempunyai kekasih lagi dibelakang Naru yang berbeda Sekolah. Dan…" ucapan Sasuke terhenti sejenak dan menoleh kearah Naru. "Bisa kuminta kau tidak akan menangis setelah ini, Naru?" lanjutnya. Sejenak Naru diam. Lalu mengangguk.
"Memangnya ada apa Sasuke? Lajutkan ceritamu." Ah, sepertinya Minato tidak sabar mendengar cerita Sasuke. \*ceileeeee…. Penasaran ea? Penasaran ea? Minato diKasih tau gk ya? Kasih tau gk ea? #plakk… kasih tau ah….*\
"Naru hanya dijadikan ajang taruhan Sasori dan Sakura. Aku tidak tau pasti. Yang jelas itu yang dikatakan Gaara." Selesai melanjutkan ceritanya mata Sasuke terpejam. Kepalanya ia sandarkan ke sandaran kursi dibalakangnya. Berat rasanya harus mengatakan kenyataan pahit ini. Tapi mau bagaimana lagi? Di tutupi pun sudah terasa percuma.
Naru menundukkan kepalanya, mencoba menahan tangis yang tertohok dan terbendung di pelupuk matanya. Bibirnya bergetar, dan matanya terasa panas. Namun apa daya, dia telah terlanjur janji untuk tidak menangis lagi.
\******sountrackkkkk - untuk yang gk suka, bisa geser terus kebawah. Lagu ini cuman buat soundtrack cerita ini.
Inikah caramu membalas cintaku,
Kau nodai cinta yang kuberi
Inikah caramu membalas sayangku
Kau lukai sayangku untukmu
Teganya kau menari diatas tangisanku
Kau permainkanku sesuka htimu
Sudah cukup cukup sudah
Cukup sampai disini saja
dari pada hati gelisah
Cintaku kau balas dengan dusta
Sudah cukup cukup sudah
Cukup sampai disini saja
Dari pada batin tersiksa
Lebih baik ku pergi saja
Tlah berulang kali kucoba mengalah
Ternyata sabarku tak berarti untukmu
Teganya kau menari diatas tangisanku
Kau permainkanku sesuka hatimu
By : Nirwana_cukup sudah
\*End soundtrack…
Naru hanya bisa menghela nafas demi mengurang rasa emosinya. Dia tak tau lagi harus berbuat apa untuk semua ini. Dia hanya ingin yang terbaik saat ini. Terbaik untuk dia? Pasti. Tapi yang dia ingin melebihi itu. Terbaik untuk semuanya. Untuk dirinya, keluarganya san keluarga Sasuke, dan teman-temannya juga. Meski dia tau belum tentu teman-temannya memikirkan yang terbaik untuknya. Tapi, tidak ada salahnya bukan? Meminta yang terbaik?
"Lalu, Suke. Apa maksudmu akan meminta Naru pindah ke Suna?" degg… Naru terkejut sekali lagi. Tapi dia tak ingin berkata apa-apa sebelum semua jelas dan dia dimintai keputusan oleh sang kepala keluarga.
"Aku ingin Naru melupakan patah hatinya dan melupakan semua kenangan pahit yang di alaminya. Dengan berada di Suna, dia akan membuka lembaraan baru lagi."
"Tapi, bukankah itu sama saja dengan melarikan diri dari masalah?"
"Naru disini tidak membuat masalah, ji-san. Yang bermasalah adalah Sasori dan Sakura. Mungkin jika Sasori tidak terlalu membuat perubahan yang signifikan. Sakura? Dia adalah nenek sihir-gomenasai buat fansnya Sakura- yang terus menerus menyakiti Naru. Dia menaruh hati padaku (dengan sedikit narsis tentunya) dan dia telah mengetahui jika aku adalah calon tunangan Naru. Dia orang yang nekat. Tentunya dia tidak akan tinggal diam dan akan menyingkirkan Naru. Aku hanya ingin menyelamatkan Naru." Sasuke menunduk sekali lagi. Semua uneg-unegnya telah dia keluarkan. Tinggal menunggu keputusan Naru saja.
"Bagaimana menurutmu, Naru?"Tanya Minato. Biar bagaimanapun juga, dia tetap menentukan keputusannya berdasarkan keputusan yang akan diambil Naru nantinya. Sejenak Naru menunduk dan memejamkan matanya. Dia juga bingung keputusan apa yang akan dia ambil. Menghela nafas panjang,,, keluarkan dan buang,,, ambil lagi,,, buang lagi,,, hingga beberapa kali akhirnya dia jengah, namun masih bingung dengan jawabannya.
"Aku menerimanya. Dengan syarat aku akan kembali bersekolah disini ketika Suke telah menyelesaikan SMA nya dan meneruskan kuliah disini." Naru kembali menhembuskan nafas panjang setelah mengeluarkan keputusannya tadi. Kedua orang yang mendengar Naru menundukkan kepala, mencoba mencerna keputusan Naru dan memikirkan apakah keputusannya itu baik atau tidak untuk semuanya.
"Baiklah,,, aku menyetujuinya." Sang kepala keluarga ikut angkat bicara.
"Hn, aku juga. Asal itu terbaik untukmu, Hime." Sang pemilik surai gelap ternyata ikut nimbrung untuk menyetujuinya.
"Baiklah, tapi biarkan aku pergi setelah semester ini usai. Lagi pula besok aku masih harus ujian. Aku permisi, aku akan istirahat. Oyasuminasai…." Ucap Naru. Perlahan dia bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Sepertinya rasa lelah telah menggerogoti tubuhnya. Lelah fikiran, hati, dan fisiknya. Berharap dengan istirahat semua kan kembali seperti semula. Yah,,,, meski tidak semua secara sempurna seperti semula. Tapi bukankah berharap meski sedikit itu boleh?
Minato hanya menatap kepergian putrinya dengan iba. Dia tak menyangka, gadis kecil yang selalu ia jaga dan lindungi kini telah beranjak dewasa dan telah terluka oleh yang namanya cinta. Dikhianati oleh orang yang dicintainya sendiri. Ingin rasanya dia member pelajaran kepada pria yang menyakiti putrid 'kecil'nya itu, namun tentulah hal itu sangat beresiko mengingat urusannya itu adalah urusan yang seharusnya hanya diselesaikan oleh yang bersangkutan. Dan,, biarlah, sepertinya dia harus menahan amarah itu dan menyerahkan semua kepada putrinya. Sedang dia hanya akan menonton dan member dukungan penuh atas apa yang akan dilakukan putrinya-selama itu baik tentunya.
Berbeda dengan Minato, Sasuke justru ingin menghabisi Sasori dengan tangannya sendiri, melihatnya bertekuk lutut didepannya dan merengek-rengek meminta maaf kepada Naru. Atau bahkan membuatnya lebih menderita dari itu.
"Anata,,, Apa yang telah kalian bicarakan?" Kushina datang dengan membawa nampan berisi minuman serta kue kering sebagai cemilan. "Dimana Naru?" lanjutnya kemudian duduk disebelah Minato.
"Dia telah kembali kekamarnya." Jawab Minato.
"Boleh ku tau apa yang telah kalian bicarakan?" ucap kushina. "eh ya,, silahkan minuman dan cemilannya." Lanjut kushina.
"Ya/Hn" Jawab dua orang pria berbeda warna rambut tersebut. Kushina hanya sweatdrop mendengar jawaban keduanya yang sangat amat singkat tersebut. 'Aku jadi ragu menjadikan Sasuke menantuku jika dia irit bicara seperti Fugaku. Ah,, kenapa dulu tak kujodohkan dengan Itachi saja yang lebih banyak bicaranya. Mungkin dengan begitu keluarga Naru nantinya akan lebih ramai.' Batin Kushina.
"Itadakimasu" ucap minato dan Sasuke ketika akan menyantap cemilannya. Kushina hanya menonton keduanya. Sepertinya dia harus bersabar lagi jika ingin mendengar cerita tentang pembicaraan mereka.
Lama mereka tidak terlibat pembicaraan dan hanya suara orang mengunyah saja yang terdengar diruangan itu. Sepertinya ketiga orang yang ada disitu masih berkutat dengan fikirannya masing-masing hingga malas untuk membuka permibcaraan terlebih dahulu. Kushina mendengus nafas sebal dengan keadaan yang seperti itu. Biar bagaimanapun juga dia ingin tau apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Ne,, Minato, Sasuke, bisa kalian ceritakan padaku se-ka-rang?" aura yang tidak bersahabat menguar dari tubuh Kushina. Sepertinya rasa tidak sabar telah menrasuki tubuhnya. Minato yang merasakan hal itu menengguk ludah dengan susah payah. Dia faham, istrinya sudah mulai menunjukkan gelagat akan menghabisi seseorang jika tidak segera angkat bicara.
"Y-ya… Kushina sayang, akan kuceritakan." Minato mulai gemetar dengan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya.
"Bagus." Ucap kushina diselingi seringaiannya.
"Naru akan pindah ke Suna setelah ujian semester ini." Minato memulai ceritanya. "Sasuke meminta Naru dipindahkan ke Suna karena di KJHS sudah tidak memungkinkan lagi untuk Naru. Bukan tentang masalah kualitas sekolahnya. Tapi tentang psikologi Naru. Putri kecil kita telah menginjak usia remaja dimana dia harus mengenal dan mengalami patah hati. Dan aku juga tak ingin Naru terus-terusan terpuruk dengan bertemu mantannya setiap hari. Apalagi, kini Naru mempunyai musuh baru."
"Apa maksudmu dengan musuh baru, Mnato?" potong Kushina.
"Ada teman Naru yang mencintai Sasuke dan kini tau jika Sasuke tunangan Naru. Dan kemungkinan sesuatu akan terjadi kepada Naru jika dia tidak segera dijauhkan dengan Naru."
"Oh,,, lanjutkan ceritamu, Minato."
"Sasuke juga akan iku pindah ke Suna mengikuti dan menjaga Naru selama disana. Ah,,, kusana peran kita sebagai orang tua yang melindungi anaknya harus berakhir disini, Kushina. Dan sepertinya sudah saatnya kita menyerahkan urusan putrid kecil kita kepada pangerannya. Apa kau setuju, Kushina?" Minato memandang Kushina denga tatapan teduh. Kushina menghela nafas dan memejamkan matanya, mencoba memikirkan sesuatu yang bisa membuat hatinya senang dan rela melepas putri kecilnya untuk seorang pangeran dihadapannya dengan tenang.
"Ya, kurasa kita cukup sampai disini melangkah disamping Naru. Ne,, Sasuke. Gantikan kami ya, menjaga dan melindungi Naru. Kami percayakan Naru padamu." Ucap Kushina sambil memandang Sasuke dan kemudian tersenyum. Sasuke yang dipandang Kushina seperti itu hanya tersenyum dan mengangguk menanggapinya.
"Kurasa malam sudah cukup larut. Ayo, kita semua beristirahat." Ajak Minato dan di angguki oleh Kushina dan juga Sasuke.
"Oyasumi, Ji-san, Ba-san." Ucap Sasuke dan kemudian beranjak meninggalkan tempat duduknya.
"Ne, Suke. Belajarlah menyebut kami dengan panggilan Kaa-san dan Tou-san." Ucapan Kushina menghentikan langkah Sasuke. Sasuke menoleh kearah Kushina dan Minato. Dia tidak bersuara, hanya anggukan kepalanya saja menandakan ia setuju denga pernyataan Kushina. Jantungnya berdebar kencang. Ah,, sepertinya rasa bahagia telah menyeruak ke hati si bungsu Uchiha tersebut.
\*****/
Skip time..
Hari saat dilaksanakannya classmeeting, KJHS.
Naru menata rambut panjang sepunggungnya dan mencoba memakai bandana dikepalanya. Muka kusut dan berantakan masih terlihat diwajahimut Naru meskipun itu samar. Ah, dia sudah tidak peduli lagi. Biar bagimanapun juga Naru sudah tak peduli lagi mengenai rupanya saat ini. Toh, meskipun ia tampil lebih cantik, tak mengubah kenyataan bahwa ia telah putus dengan kekasih yang ia cintai sekaligus orang yang telah menyakitinya bukan? Jika boleh berandai-andai, mungkin Naru ingin memutar waktu dan lebih memilih untuk tidak mencintai Sasori dan hanya mencintai Sasuke saja. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, dan ia sudah terlanjur merasakan cinta dan sakitnya patah hati. Ia tak tau, sampai kapan ia akan terus-menerus menyimpan rasa sakit itu.
Naru melangkah pelan menuruni anak tangga yang membawanya menuju ruang makan. Sesampainya disana ia telah disambut oleh senyuman oleh orang-orang yang menyayanginya, Sasuke, ayah, san juga ibunya. Sejenak sakit hati yang ia derita ia lupakan begitu merasakan kehangatan keluarganya saat ini. Tak terasa ia mengucap syukur dalam hati, meski ada yang menyakitinya, tuhan masih mengirim beberapa malaikat lain untuk menemani dan menghibur lukanya.
"Ittadakimasu" ucap Naru sebelum menyanta hidangan yang ada dihadapannya. Pasangan MinaKushi hanya tersenyum dan bersyukur Naru tidak lebih terpuruk akibah patah hati yang dialaminya. Sedang Sasuke hanya diam seolah tidak ada apa-apa dan menyantap hidangan dihadapannya tanpa berkata sedikitpun.
KJHS, 9.40 am.
Naru menggenggam mic ditangannya sambil menghela nafas. Juri telah memanggil namanya sebanyak 2x. dan itu berarti waktunya dia untuk tampil membawakan sebuah lagu untuk mewakili kelasnya. Ia sudah tak banyak berharap lagi, entah menang atau kalah, lagi-lagi ia sudah tak peduli. Toh, sebentar lagi juga ia akan meninggalkan sekolah ini.
\*Bersambung ke next chapter ea minna…..*/
