Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 10

.

Naruto memandangi layar ponselnya dengan ekspresi serius. Sakura lagi-lagi mengabaikannya. Naruto ingin tahu apakah Sakura baik-baik saja selama berada di Yukigakure tapi entah kenapa Sakura selalu enggan menjawabnya. Ia hanya mengirimkan pesan singkat seperti aku baik-baik saja, disini dingin, kau mau oleh-oleh apa? Atau hanya mengirimkan foto-fotonya saja. Pasti ada yang tidak beres, tapi mengapa Sakura menutup-nutupinya? Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah hubungan Sakura dan Sasuke baik-baik saja?

"Kenapa hanya melamun saja? Cepat habiskan makananmu. Aku sudah susah payah memasaknya, awas jika tidak habis."

Naruto tersenyum lebar melihat perhatian ibunya, Kushina, yang ditujukan untuknya. Mereka berdua saat ini sedang duduk berdampingan di meja makan.

"Kaa-san tidak perlu repot-repot datang kemari. Aku bisa sarapan diluar kok."

Kushina menjitak kepala puteranya itu dengan gemas. "Dasar anak nakal. Kau seharusnya berterimakasih pada Kaa-sanmu ini karena telah meluangkan waktunya untuk mengunjungimu. Kenapa akhir-akhir ini kau jarang pulang ke rumah hah?"

"Ehehe… aku sedikit sibuk. Maaf Kaa-san."

"Dan lihatlah kondisi apartemenmu ini. Jorok. Pakaian kotor berceceran dimana-mana, sampah dan piring kotor menggunung. Jika kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri lebih baik pulang saja." kata Kushina dengan kesal.

"Tapi… Kaa-san… aku lebih suka hidup mandiri." Kata Naruto dengan setengah merajuk.

"Bilang saja kau lebih suka tinggal disini karena tidak ada yang menceramahimu jika kau pulang malam."

Naruto menggaruk kepalanya sambil tersenyum malu-malu. Ibunya benar.

"Makan sarapanmu Naruto. Kau terlihat sedikit kurus, pasti karena kau sering lupa makan siang. Makan yang banyak, oke?"

Naruto menganggukkan kepala dan mulai memakan hidangan yang ada di depannya.

"Mmm… ini enak sekali. Masakan Kaa-san memang yang terbaik." Puji Naruto.

Kushina tersenyum lebar. "Tentu saja! Apapun untuk anak tersayangku."

"Kau hanya memiliki satu orang anak, Kaa-san. Jika kau tidak menyayangiku maka kau akan menyayangi siapa?" Kata Naruto sambil mengunyah makanannya.

"Makanya kau harus cepat-cepat memberikanku cucu."

"Uhuk!" Naruto tersedak nasi yang ada di mulutnya. Ia memukul-mukul dadanya sambil meraih gelas berisi air di depannya dan meminumnya.

"Kaa-san! Aku bahkan belum menikah! Bagaimana kau bisa bicara seperti itu." Kata Naruto dengan wajah memerah.

"Makanya cepat cari istri dan menikah. Lalu kau memberikanku cucu yang manis dan imut. Kalau bisa cucu perempuan, aku ingin sekali mendadaninya seperti boneka atau tuan puteri." Kata Kushina dengan mata berbinar-binar.

Naruto menggelengkan kepalanya. Memangnya mencari istri itu hal yang mudah?! Sejak kapan ibunya mulai berimajinasi seperti ini?!

"Ugh, Kaa-san, aku masih muda. Aku masih belum ingin menikah."

Lagi-lagi Kushina menjitak kepala Naruto. "Apa yang kau katakan ini! Memangnya kau pikir usiamu masih belasan tahun hah?! Kau sudah cukup dewasa, punya pekerjaan mapan dan penghasilan yang stabil. Apalagi yang kau tunggu?"

"Kaa-san…"

"Jika kau mau aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa orang gadis."

"Pokoknya aku masih ingin melajang." Kata Naruto sambil mencibirkan bibirnya.

"Lihatlah Sasuke, meskipun masih muda sahabatmu itu dengan berani mengambil keputusan untuk menikah."

Mendengar tentang Sasuke, suasana hati Naruto menjadi sedikit kacau.

"Kaa-san…" Bisik Naruto.

"Hm? Ada apa?" Melihat ekspresi muram puteranya hati Kushina menjadi risau. "Apakah ada yang salah Naruto?"

"Apakah pernikahan harus didasari oleh cinta?"

Kushina sedikit tercengang mendengar pertanyaan puteranya itu. Bola mata berwarna biru jernih itu menatapnya dengan serius. "Cinta memang penting dalam pernikahan, Naruto. Tapi itu bukan hal yang terpenting." Jawab Kushina dengan sabar.

Naruto terdiam mendengar jawaban yang dilontarkan oleh ibunya.

"Untuk mempertahankan sebuah pernikahan, kau tidak bisa hanya mengandalkan cinta. Diperlukan kejujuran, komitmen, keterbukaan, saling menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain." Kushina memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jarinya sambil tersenyum lembut penuh arti. "Pernikahan mengikat dua orang individu menjadi satu. Cincin pernikahan merupakan salah satu simbol janji suci yang diucapkan di hadapan pasangan, orang tua, saudara, dan Kami-sama. Sebuah janji yang tidak akan putus meski maut memisahkan."

Naruto memandangi ekspresi ibunya yang diliputi kebahagiaan. Kedua orang tuanya adalah pasangan yang bahagia, pernikahan mereka sangat harmonis. Ia menjadi sedikit iri. Apakah ia bisa menemukan seseorang seperti itu kelak?

"Bagaimana jika pasangan itu tidak mencintai satu sama lain? Bukankah lebih baik mereka berpisah?" Tanya Naruto dengan nada getir. Sasuke tidak mencintai Hinata, Naruto tahu itu. Bukankah lebih baik mereka berdua berpisah daripada harus terjebak dalam pernikahan palsu.

"Hidup tidak selalu berjalan dengan mulus, Naruto, termasuk pula pernikahan. Janji suci pernikahan bukan untuk main-main. Ketika sudah menikah, setiap pasangan memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan pernikahan itu. Sayang sekali saat ini banyak yang menganggap remeh pernikahan, hanya karena masalah sepele mereka memutuskan untuk bercerai. Itu sangat disayangkan." Jawab Kushina dengan tatapan menerawang. Ia menghela nafas sejenak lalu melanjutkan kembali perkataannya.

"Pernikahan adalah sebuah komitmen, Naruto. Selama suami dan istri memutuskan untuk melangkah maju berdua maka pernikahan itu akan tetap berjalan. Cinta adalah suatu hal yang misterius, itu adalah hal tidak bisa diduga dan diprediksi kapan datangnya. Namun yang terpenting adalah cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Takdir bisa saja membuat dua orang asing yang saling bertolak belakang menjadi pasangan yang penuh cinta, siapa yang tahu? Asalkan mereka berdua saling menerima satu sama lain maka cinta bukan hal yang mustahil."

"Tapi bagaimana jika mereka berdua tidak bahagia?"

Kushina mengusap kepala Naruto dengan penuh sayang. "Kebahagiaan adalah sesuatu hal yang tidak bisa diukur dengan pasti. Mungkin di mata orang lain mereka berdua tidak bahagia, namun siapa yang tahu pasti isi hati keduanya. Kau tidak bisa menilai sesuatu hanya dari luarnya saja." Jari-jarinya memainkan helaian rambut kuning itu dengan lembut. "Berikanlah kesempatan pada benih kecil untuk bisa tumbuh dan berbunga."

Naruto memainkan sumpit di tangannya. Selera makannya hilang.

.

.

"Aku senang sekali bisa sarapan berdua bersamamu, Sasuke-kun." Kata Sakura sambil tersenyum manis. Apalagi jika tidak ada Hinata Hyuuga yang menyebalkan itu batinnya menambahkan.

Sasuke mengangguk pelan.

"Kau selalu saja sibuk, tidak bisakah kau meluangkan sedikit waktu untuk bermain ice skating denganku?" Kata Sakura sambil berpura-pura merajuk.

"Aku disini karena ada urusan pekerjaan, Sakura. Bukan untuk liburan." Kata Sasuke dengan datar.

Sakura menghela nafas. "Aku tahu itu. Tapi jauh-jauh ke Yukigakure tanpa menikmati waktu disini rasanya sia-sia."

Sakura meminum cokelat panas di tangannya sambil mengamati Sasuke yang sedang menyantap sarapannya. Ah~ dia sangat tampan, duduk di hadapannya membuat jantungku berdebar kencang.

Sakura lalu mengedarkan pandangannya. Sama sekali tidak terlihat sosok Hinata yang ia khawatirkan akan muncul tiba-tiba dan merusak suasana yang sempurna ini. Baguslah kalau bagitu.

"Apa kau juga masih sibuk seharian ini, Sasuke-kun?"

"Hmm."

"Kemarin kau sangat sibuk. Tadi malam juga kau banyak urusan, susah sekali menemuimu."

Sasuke hanya menyunggingkan senyuman sekilas, akan tetapi itu tidak terlepas dari mata jeli Sakura.

"Sasuke-kun, kau barusan tersenyum. Apa ada yang lucu?" Tanya Sakura dengan penasaran.

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."

"Sungguh?"

"Hmm."

"Tadi malam kau selesai meninjau dokumen sampai jam berapa Sasuke-kun?"

Kali ini Sakura benar-benar tidak salah melihat, Sasuke memang tersenyum.

"Lagi-lagi kau tersenyum Sasuke-kun, memangnya apa yang lucu?"

"Tidak ada."

Sebenarnya Sakura masih penasaran, sayang sekali Sasuke tidak mau menceritakan alasannya tersenyum.

"Sasuke-kun, apa kau melihat Hinata pagi ini?" Sakura tidak tahu apa yang membuatnya melontarkan pertanyaan itu, yang jelas pertanyaan itu meluncur secara tiba-tiba dari bibirnya.

Cangkir kopi yang tengah diangkat Sasuke diletakkannya kembali. "Aku tidak melihatnya." Kata Sasuke dengan tenang. Tanpa Sakura sadari ujung bibir Sasuke berkedut menahan senyum.

"Oh." Sakura menganggukkan kepala. Itu lebih baik, Hinata memang seharusnya menjauhi Sasuke. Sakura tahu Hinata dan Sasuke tidak menginap di kamar yang sama.

.

.

Hari ini Hinata melanjutkan penjelajahannya di Yukigakure. Ada beberapa tempat yang belum sempat ia datangi kemarin dan hari ini ia bertekad ingin mengunjunginya. Ia juga berencana akan mencicipi setiap kuliner unik yang ada disini. Untunglah hari ini tidak turun salju, meskipun begitu suhu disini masih tetap dingin.

Terbangun di ranjang kamar hotel Sasuke tadi pagi membuat Hinata merasa canggung untuk kembali bertatap muka dengan Sasuke. Ia tidak tahu harus berkata apa. Haruskah ia meminta maaf karena tanpa sengaja tertidur di ranjangnya? Sasuke bisa saja mengusirnya, tapi entah kenapa ia tidak melakukan itu. Lalu haruskah ia berterimakasih? Itu… itu lebih canggung lagi. Haruskah ia mengabaikannya saja? Hmm… sepertinya itu ide yang bagus, selama Sasuke tidak mengungkitnya maka ia akan diam saja.

Setelah beberapa jam menjelajahi Yukigakure tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari Kakashi. Inti dari pesan itu adalah Sasuke ada urusan pekerjaan mendadak sehingga ia akan secepatnya terbang dari Yukigakure dan pergi ke Suna.

Haruskah ia menemui Sasuke?

Hinata mengacak-acak rambutnya. Tentu saja ia akan menemui Sasuke! Suaminya yang selalu membuatnya bingung itu akan pergi, bagaimana mungkin ia tidak menemuinya.

Setelah menempuh 20 menit perjalanan dengan taksi, ia akhirnya sampai di hotel tempat mereka menginap. Dengan sedikit tergesa-gesa ia menuju lobi hotel dan menemui sosok Sasuke yang tengah berbicara dengan Kakashi.

Hinata berdiri tidak jauh dari dua orang itu, tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka. Tak lama kemudian Kakashi melirik ke arah Hinata, setelah mengatakan beberapa hal pada Sasuke Kakashi lalu berjalan pergi.

Hinata lalu memberanikan diri berjalan mendekati Sasuke yang tengah mengetik sesuatu di layar ponselnya.

"Sasuke, um…"

Sasuke mengalihkan perhatiannya dari ponsel di tangannya. Mata hitamnya yang kelam kini memandangi Hinata yang terlihat gugup.

"Sa-Sasuke… a-aku… um…" Apa yang harus Hinata katakan?!

Sasuke terlihat tidak sabar menanti perkataan Hinata.

"Sore ini aku akan pergi ke Suna. Aku akan kembali ke Konoha seminggu lagi."

Hinata menganggukkan kepala sambil memainkan jari telunjuknya.

"Kau bisa tetap disini atau pulang ke Konoha. Terserah apa maumu. Kakashi masih berada disini beberapa hari lagi. Jika ada sesuatu kau bisa meminta bantuannya."

"Ba-baik." Bisik Hinata.

Hinata ingin bertanya pada Sasuke apakah Sakura juga akan pergi dengannya ke Suna. Itu tidak mungkin kan? Sasuke tidak mungkin mengajaknya kan? Tapi bagaimana jika iya? Haruskah Hinata ikut pergi ke Suna?

"Sakura tidak akan pergi denganku. Ia harus segera kembali ke Konoha." Kata Sasuke dengan datar.

Bagaimana bisa Sasuke membaca pikirannya?!

"A-aku ti-tidak menanyakan tentang Sa-Sa-Sakura!"

"Apa tujuanmu datang kemari?"

"E-eh?!"

"Itu karena Sakura bukan?"

"I-itu…" Haruskah Hinata berkata jujur?!

"Kau datang ke Yukigakure karena kau tahu Sakura juga akan berada disini. Bukankah itu tujuanmu?"

Hinata bungkam. Dasar Sasuke brengsek, kau sudah tahu alasannya tapi mengapa kau membuatku harus mengatakannya.

"Sasuke." Panggil Kakashi.

Sasuke menganggukkan kepala. Mungkin ini saatnya Sasuke harus pergi?

"Sa-Sasuke… kau ha-harus membelikan oleh-oleh dari Suna u-untukku." Kata Hinata sambil menatap Sasuke.

Sasuke hanya menaikkan alisnya.

"Pokoknya ha-harus. A-awas ji-jika tidak. Ka-kau akan menyesalinya." Hinata mempertegas kembali ucapannya.

Senyuman singkat terlintas di bibir Sasuke. Sangat singkat hingga membuat Hinata hampir melewatkannya.

"Lain kali jika kau mencoba mengancam seseorang setidaknya jangan berbicara dengan terbata-bata. Itu sama sekali tidak meyakinkan."

Hinata menundukkan wajahnya yang terasa memanas.

Tuk!

Hinata mematung. Barusan… Sasuke mengetuk dahinya dengan dua ujung jarinya.

Tuk!

Sasuke melakukannya lagi. Ujung jari telunjuk dan jari tengahnya mengetuk dahi Hinata. Apa maksudnya ini?!

Mata Hinata membulat. Wajahnya kini merah padam.

"Sa-Sa-Sasuke?!"

Tuk! Tuk! Tuk!

Lagi. Lagi. Dan lagi.

"Aku pergi." Kata Sasuke sambil berjalan menjauh.

Melihat punggung Sasuke yang berjalan menjauh, Hinata berusaha mengejarnya.

"Sasuke!" Hinata mencegat Sasuke.

Sasuke menghentikan langkahnya dan kini menatap Hinata.

Apa yang harus Hinata lakukan? Haruskah ia memeluk Sasuke? Ataukah ia harus menciumnya? Peluk? Cium? Peluk? Cium? Peluk? Cium? Peluk? Cium?

Pada akhirnya Hinata lebih memilih untuk memeluk Sasuke. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh Sasuke dan membenamkan wajahnya ke leher Sasuke. Ia lalu menutup matanya sambil berusaha menikmati momen ini. Detak jantung mereka beradu. Dua hati yang terlihat dekat namun terasa jauh. Hinata lalu menghirup nafas dalam-dalam, menyimpan aroma tubuh Sasuke di memorinya.

"Hey Sasuke…" Bisik Hinata perlahan. "Aku akan menantimu pulang."

Ketika Hinata mencoba melepaskan pelukannya Sasuke justru memeluk punggunggnya dengan erat.

"Hmm. Tunggu aku pulang."

.

.

Dukungan kalian adalah sumber semangat saya (^_^)

Beberapa reader menginginkan Gaara diantara SasuHina… hmmm… haruskah saya hadirkan…

Sampai jumpa di chapter selanjutnya!