Rated : T+

Cast : Kyumin (Always) dan teman temannya mian karna hampir semua yang ada disini itu cast nya mayoritas suju, karna sayana udah bingung mau pake cast siapa lagi.

Desclaimer : Cerita ini milik saya dan karya saya, jadi No Copas ok?

Warning : ini cerita GS dan ini yang nulis masih amatir, Typo bertebaran, DLDR, No Bash or Flame dan jangan lupa review kalo sudah baca, itu menyemangatiku banget…

Feelnya gak banyak di Chap ini, jadi Minhyun minta maaf ya.

RnR juseyoo….

Rekomendasi : pas partnya sungmin, bisa sambil dengerin lagunya Jiang Li - Heart

\(^.^)/ Happy Reading \(^.^)/

"Perkenalkan, Saya Lee Sungmin…. Sekertaris pribadi Tuan Kim Jungmo" ujarnya sembari menyeringai angkuh menatap seorang namja yang kini terpaku melihat kehadirannya.

"LEE SUNGMIN" Ahra dan Kibum berseru bersamaan melihat wanita yang sempat menghilang tiba-tiba muncul dengan penampilan luarbiasa cantik dihadapan mereka. Yang benar-benar membuat keduanya terkejut adalah penampilan Sungmin yang terkesan sederhana kini menghilang dan berganti dengan Sungmin yang tidak terbayangkan.

"Kalian saling mengenal?" Tanya ibu Kyuhyun.

Sungmin tersenyum manis menampilkan gigi kelincinya yang putih bersih "Nde, kami memang saling mengenal Nyonya" ujarnya meski dalam hati ia juga sedikit terkejut karena Ahra juga ikut menyebutkan namanya padahal ia merasa tidak pernah sekalipun memperkenalkan diri dihadapan wanita itu.

"Ah begitukah, Wah senang bertemu denganmu" wanita paruh baya itu menjabat tangan Sungmin kemudian mempersilahkan wanita itu untuk mendekat ke ranjang Kyuhyun bersama Jungmo. Seorang pria paruh baya lain yang sepertinya merupakan salah satu pelayan keluarga Cho dengan sigap membuatkan jamuan untuk tamu dari tuannya.

"Bagaimana Kondisimu Kyu?"

Tersenyum singkat, Kyuhyun tanpa sadar mengapresiasi kedatangan temannya yang sudah sangat lama menghilang itu. Bukan menghilang, lebih tepatnya ia yang tidak pernah mencaritahu keberadaannya.

Namja itu menatap Jungmo "Aku baik-baik saja"

"Syukurlah kalau begitu" jungmo terkekeh pelan.

"Ini semua berkat kekasih Kyuhyun, dia yang menolongnya saat kecelakaan itu terjadi" wanita paruh baya itu berujar dengan bangga sembari menoleh menatap Ryeowook.

"Iya kan sayang" lanjut ibu Kyuhyun. Ryeowook hanya tersenyum menanggapi.

Melihat interaksi yang terlalu dekat dari kedua orang yang tidak seharusnya dekat itu, kibum menggertakkan rahangnya menahan emosi. Entah kenapa apa yang dilihatnya ini benar-benar membuat dirinya muak pada wanita mungil yang berlagak polos itu! Kibum menolehkan kepalanya menatap sosok wanita yang berdiri disisi Jungmo, ingin melihat reaksi apa yang ditunjukkannya atas adegan yang menyebalkan tadi.

Rahangnya dibuat terjatuh.

Apa ia tidak salah melihat?

Sungmin hanya tersenyum, matanya bahkan bersinar. Apa dia senang melihat ini semua terjadi? Apa yang terjadi padanya? Tidakkah dia harusnya merasa… Terluka?

"Hey Kyu, bagaimana bisa kau terlibat dalam kecelakaan itu eoh? Tidak biasanya kau terlibat dalam hal seperti ini"

"Bukan urusanmu"

"Kau ini selalu saja bersikap sarkastik. Tidak bisakah kau merubahnya sedikit, aku ini temanmu"

Kyuhyun hanya tersenyum tipis.

"Oh iya, Jungmo kenalkan, ini Ryeowook. Kekasih Kyuhyun" ibu Kyuhyun berujar dengan bangga. Sungmin lagi-lagi tersenyum. Sikapnya sukses membuat Kibum merasa tertarik untuk diam dan mengamati.

'Sepertinya mereka sudah saling mengenal satu sama lain' batin Sungmin, sebersit rasa iri muncul dalam dirinya.

Ahra yang sepertinya menyadari perubahan emosi Sungmin bergumam pelan "Eomma, hentikan"

"Wae?"

Jungmo hanya tersenyum misterius melihat reaksi ahra.

"Hai, saya Jungmo. Suatu kehormatan besar untukku bisa berkenalan dengan kekasih Kyuhyun yang cantik sepertimu" ujar jungmo bersilat lidah.

"Terimakasih" ryeowook membalasnya malu-malu sembari menjabat tangannya.

"Sungmin-ssi, ini Ryeowook, calon menantuku" lanjut ibu Kyuhyun yang kali ini membuat Jungmo dan ahra terkejut bukan main. Oh daebakk… banyak sekali kejutan di hari ini.

Terkejut. Namun wanita itu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi santai sekaligus memberikan senyuman manis dan ekspresi bahagia atas pernyataan dari wanita paruh baya itu.

Ryeowook menatap Sungmin "Hai"

Wanita dengan balutan coat hitam itu hanya tersenyum dan sedikit membungkuk. "Hn, apa kabar?" ujarnya, sembari menatap Ryeowook tepat di kedua matanya. Ryeowook menjawab pertanyaan Sungmin dengan manis, meski dalam hatinya ia mengalami dilema dengan sikap Sungmin yang berubah 180 derajat. Apakah Sungmin sudah merelakan Kyuhyun untuknya? Atau ada hal lain dibalik ekspresi ceria itu? Ryeowook benar-benar penasaran.

"Apakah kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Ayah kyuhyun yang sedari tadi ikut mengamati menunjukan suaranya.

Sungmin menjawab dengan tegas "Iya, kami sudah saling mengenal satu sama lain" matanya menatap mata ryeowook dengan penuh percaya diri.

"Dia teman dekatku saat masih berada di Seoul International University, Saya, kibum dan Ryeowook dekat satu sama lain karena sempat tinggal di satu flat yang sama" Lanjutnya, senyum ceria tidak pernah terlepas dari wajah manisnya yang kini terlihat sedikit chubby.

"Benarkah? Wah sepertinya dunia ini sempit sekali ya" ibu kyuhyun berujar dengan riang. Tanpa mengetahui apa yang terjadi diantara pemuda pemudi yang ada disana.

"Kau mengenalnya wookie?" Kyuhyun berujar spontan membuat orang yang berada disana lagi-lagi menatapnya penuh keterkejutan kecuali orang tua Kyuhyun yang memang tidak tahu apapun mengenai sosok Sungmin dan menganggap kalau reaksi yang dimunculkan kyuhyun merupakan suatu kewajaran.

Disaat yang lain menatap namja itu penuh rasa terkejut, sungmin tidak bergeming dari posisinya. Ia menatap wajah namja kaya itu melalui ujung matanya yang tajam.

"Kau tidak mengingatnya?" tanya ahra cepat.

"Ada apa ahra?" celetuk Tuan Cho yang merasa heran.

Kyuhyun mencoba mengingat kembali, tapi…

"Ani, aku tidak pernah ingat kalau aku pernah bertemu dengannya"

Muda mudi yang berada disana hanya bisa terdiam. Sedangkan sungmin tersenyum ambigu.

-.-.-.-.-

Kyuhyun mendengarkan dengan serius segala ucapan ryeowook. Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Setelah kepergian Sungmin dan Jungmo, Kibum dan Siwon kembali bekerja, begitu juga ahra dan kedua orang tuanya. Mereka semua memiliki agenda yang tidak bisa ditinggalkan.

Ryeowook memegang dan mengusap tangan Kyuhyun yang terbebas dari perban. Wanita itu mengusap dengan penuh hati-hati agar tidak mengusik jarum infus yang tertanam disana.

"Ya, saat itu kita akan mengunjungi akuarium dan makan malam bersama"

Ujar Ryeowook memulai cerita tentang kisah asmaranya dengan pria di hadapannya.

"Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya tangan ini menggenggam tanganku" ujarnya sembari tersenyum. Memperlihatkan padanya bahwa ia benar-benar menikmati suasana hari itu.

"Kita bahkan saling berbicara melalui telfon sebelum tidur, kau yang terlalu sibuk seringkali tidur di malam hari dan akhirnya kita sering berbicara di tengah malam, aku juga sering memarahimu waktu itu karena kau mengurangi jam tidurmu hanya untuk berbicara denganku"

Apa yang diceritakan oleh ryeowook memicu pria itu untuk menunjukkan senyumannya. Keduanya saling menatap kemudian terkekeh.

"Wae? Apakah itu lucu?"

"Ani. Bisa kau lanjutkan ceritanya?" pinta kyuhyun, suara beratnya benar-benar membuat wanita dihadapannya merasa tenggelam dalam kebahagiaan.

"Eung… hari-hari berlalu seperti biasa, kita makan siang bersama, makan malam bersama dan…."

Ryeowook menggantungkan kalimatnya. Pipinya bersemu merah.

"Mwo?"

Wanita itu tersenyum malu-malu "K-kisseu…"

Kyuhyun menahan tawanya, tiba-tiba jiwa evilnya muncul dan berniat menggoda wanita dihadapannya "Tapi aku tidak ingat bagaimana dan kapan kita melakukannya, aku bahkan tidak ingat rasanya"

Ryeowook menatap kyuhyun penuh tanya

"Bagaimana kalau kau membantuku mengingatnya dengan mempraktekannya?"

Ryeowook membulatkan matanya terkejut "Yak!" wanita itu memukul pelan tangan Kyuhyun membuat pria itu tertawa puas karena berhasil membuat wajah Ryeowook memerah padam.

"Haha lanjutkan ceritamu"

Ryeowook mengerutkan keningnya sesaat namun matanya kembali menatap mata kyuhyun dan kembali bercerita.

"selama itu, tidak ada yang mengetahui hubungan kita, alasannya karena kau merasa ragu untuk mengenalkanku pada orang tuamu, kau takut mereka akan menyakitiku jika mereka ternyata tidak menyukaiku"

Kyuhyun mengangguk membenarkan.

"Namun setelah kau mengajakku mengunjungi kediamanmu di Nowon, tanpa disangka eomonim dan abonim mengeluarkan respon yang luar biasa positif, terlebih karena aku adalah putri dari teman mereka dulu"

'Ah… jadi begitu' batin kyuhyun. Kejadian ini tidak masuk dalam ingatannya. Namun apa yang diceritakan oleh ryeowook benar-benar masuk akal dan membuat ia bisa menerimanya tanpa sedikitpun curiga.

"Kemudian, saat peresmian perusahaan entertainment milik Ahra eonni, dia membongkar hubungan kita di depan banyak orang dan akhirnya menimbulkan kehebohan di kantor. Dan yah… begitulah ceritanya"

"Lalu bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan itu"

Ryeowook terdiam sesaat.

"Eung… saat itu, kau baru saja pulang dari pesta pernikahan salah satu karyawan kita, dan akan menghadiri acara makan bersama dengan rekan-rekan di kantor sekaligus merayakan natal bersama. Namun kau tiba-tiba pergi"

Kyuhyun terdiam dan menunggu kelanjutan cerita dari Ryeowook.

"Dan aku mendengar bahwa kau kecelakaan, dan kau berakhir di ranjang ini"

"Dimana aku mengalami kecelakaan"

"Tidak jauh dari toko yang menjual hadiah dan kue khas natal yang sering di perbincangkan oleh rekan-rekan kantor kita" ujar Ryeowook.

"Aku menduga kalau kau ingin membawakan kami beberapa hadiah natal, tapi yang kami dapat malah berita buruk seperti ini" Ryeowook menunjukkan ekspresi sedihnya membuat pria dihadapannya menatapnya iba. Tentu saja apa yang diceritakannya sebagian adalah kebohongan semata.

"Mian" ujarnya sembari menatap mata itu dalam.

-.-.-.-.-.-

Hari demi hari, wanita bertubuh mungil itu terus mengunjungi Kyuhyun. Menemaninya, menyuapinya dan lain sebagainya. Hubungan keduanyapun terasa semakin dekat. Dan karena seringnya Ryeowook mengunjungi rumah sakit, ia juga menjadi semakin kenal dengan sosok dokter yang berperan dalam penyembuhan kekasihnya. Mereka bahkan seringkali bersantai bersama jika Kyuhyun sedang beristirahat siang.

"Kau sudah sangat bekerja keras" puji Yesung pada wanita yang sedang memegang cangkir kopi ditangannya.

"Terimakasih, kau juga, terimakasih karena sudah membantu menyembuhkan Kyuhyunku"

"Itu sudah menjadi tugasku"

Ryeowook tersenyum senang. Dia merasa nyaman tiap kali berdekatan dengan teman barunya ini. dia memang tidak banyak bicara tapi dia selalu berhasil membuatnya merasa nyaman.

"Dokter"

Yesung hanya bergumam pelan merespon panggilan Ryeowook.

"Apakah ingatan Kyuhyun akan kembali?" lirihnya. Pertanyaan ini lah yang selalu membuatnya merasa terganggu hari demi hari.

"Wae?" tidak, tanpa bertanya pun Yesung sudah tahu alasan Ryeowook menanyakan hal itu. Ia bahkan sudah mendengar pembicaraan Ahra dengan salah seorang psikiatri di rumah sakit ini yang juga merupakan teman dekatnya, Lee Hyukjae.

Dan yah, amnesia yang dialami Kyuhyun bukanlah amnesia akibat adanya kerusakan otak dikepalanya melainkan karena suatu kondisi mental dimana dia mendorong semua ingatan yang yang tidak diinginkan ke alam bawah sadarnya, ingatannya tentu saja masih bisa kembali meski kemungkinannya juga tidak 100%.

"Aku hanya bertanya"

"Mungkin saja"

Ryeowook menurunkan pandangannya. "Begitukah?" ujarnya semakin lirih.

"Kau tidak suka jika ingtan kekasihmu kembali?"

Ryeowook menengadahkan kepalanya "Tidak juga" ujarnya memaksakan diri.

Yesung tidak berniat untuk bertanya lebih jauh, pria itu lebih memilih untuk diam sampai akhirnya wanita disampingnya ini mengubah topik pembicaraan. Jika ditanya apakah dia mengetahui tentang permasalahan yang menimpa orang yang dikenalnya. Tentu saja jawabannya Ya, tapi… Yesung tidak ingin mencampuri urusan mereka. Ia hanya akan menjadi pengamat disini hingga kemudian ia bisa melihat, siapa yang akan memenangkan permainan bodoh ini.

-.-.-.-.-

Sungmin berdiri menghadap kearah jendela. Matanya menatap lurus kearah taman. Ditangannya terdapat segelas susu formula khusus untuk ibu hamil. Betapa pengertiannya yesung terhadapnya, padahal ia hanya berkunjung tapi dia malah menyediakan susu formula ini khusus untuknya.

Ini mungkin akan menjadi kebiasaannya, berkunjung ke rumah sakit saat sedang libur. Sayang sekali Jungmo tidak bisa menemaninya karena harus mengunjungi orang tuanya.

"Min" Panggil Yesung, sungmin menolehkan kepalanya sekilas dan kembali menatap kearah taman rumah sakit.

"Kau sudah selesai Oppa?"

Yesung menjawabnya dengan dengungan pelan menunjukkan bahwa ia memang sudah selesai. Pria itu meletakkan stetoskopnya keatas meja dan berjalan menuju tempat Sungmin berdiri.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Sungmin terdiam sesaat "Hanya berpikir" ujarnya tanpa menoleh kearah Yesung.

"Mwo?"

Sungmin meminum susunya pelan "Beruntung sekali pria itu, bisa melupakan semuanya dalam sekejap mata" ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari objek yang sedari tadi sukses menarik perhatiannya. Mereka adalah orang yang ia temui dua hari yang lalu, di rumah sakit ini.

Yesung menatap Sungmin penuh tanya kemudian mengikuti arah pandang Sungmin yang ternyata sedang melihat seorang pria yang tengah bersenda gurau dengan seorang wanita muda yang cukup dikenalnya di area taman, dia adalah pasiennya dan 'kekasihnya'.

"Kyuhyun maksudmu?" ujar Yesung.

Sungmin mengangguk. Tatapan matanya yang menerawang jauh seolah menunjukkan betapa ia benar-benar iri pada pria yang ia sedang ia amati dari jauh. Meskipun begitu, dari raut wajahnya, yesung juga bisa melihat bahwa wajah itu menunjukkan sisi sedihnya.

"Aku benar-benar ingin membalas perbuatannya, namun setelah mengetahui bahwa ia mengalami amnesia, kau tahu oppa. Aku benar-benar kesal"

Sungmin terdiam sesaat "dan iri" lanjutnya diiringi kekehan yang terdengar begitu miris.

"Aku sangat heran, kenapa Tuhan melakukan ini padaku"

Yesung tidak menjawab apa-apa. Melihat kondisi sungmin yang seperti ini cukup membuatnya mengerti bahwa wanita yang sangat mirip dengan adiknya ini sedang membutuhkan teman untuk berbagi kisah.

"Aku juga ingin mengalaminya, melupakan semuanya dalam sekejap. Sepertinya itu akan menyenangkan. Mungkin aku bisa bahagia dengan melupakan semuanya. Mungkin dengan melupakan semuanya, aku tidak akan lagi merasakan beratnya jalan hidupku" ujar Sungmin, terselip nada frustasi dalam suaranya.

Yesung meraih bahu sungmin dan membuat wanita itu menghadap padanya "Sungminie, aku mengerti perasaanmu. Tapi jangan pernah berharap untuk melupakan semuanya. Karena jika kau melupakannya, kau tidak akan mendapat pelajaran dari apa yang kau alami"

Sungmin akui, apa yang diucapkan oleh yesung memang benar adanya. Tapi Sungmin juga memahami bahwa melakukannya akan terasa lebih berat daripada membicarakannya. Bahkan menurutnya, 'pelajaran' yang ia alami ini benar-benar sulit untuk diterima olehnya. Berapa lama lagi iaharus merasakan sakitnya rasa iri disaat orang yang sudah menyakitinya terlihat lebih bahagia darinya?

"Kau ingin berjalan-jalan?"

Sungmin menatap yesung "Eodi?"

"Berkeliling rumah sakit, mungkin mengunjungi bagian ibu dan anak akan membuatmu sedikit terhibur"

Sungmin tersenyum dan mengangguk. Bagian ibu dan anak adalah lokasi favoritnya di rumah sakit ini. disana ia bisa melepas penat dengan melihat anak-anak kecil dan sekaligus belajar untuk menjadi seorang ibu. Masa muda yang ia habiskan untuk belajar dan berkegiatan membuatnya minim pengetahuan tentang anak kecil.

"Kau tahu, kudengar ada seorang ibu yang baru melahirkan bayi kembar juga"

"Jinja?" balas Sungmin antusias.

"Ne, dia istri dari seorang aktor. Dan kudengar bayi-bayi itu diberi nama Daehan Minguk Manse* " lanjut Yesung. Ia berusaha mengubah mood Sungmin yang sempat down.

"Omoo… sepertinya sang appa sangat mencintai Republik Korea eoh"

Keduanya melanjutkan obrolan mereka sembari berjalan menuju bagian ibu dan anak. Ya, tidak ada yang bisa Yesung lakukan untuk saat ini selain membantu untuk menyegarkan pikiran wanita dengan beban yang berat di punggungnya itu.

Setelah hari itu, Sungmin kembali pada karakternya yang sangat totalitas dalam bekerja. Hari demi hari ia lalui dengan bekerja keras. Bahkan tak jarang ia membuat kagum kolega-kolega perusahaannya dan sang boss yang sudah mempekerjakannya. Yah, meskipun begitu. Tidak bisa di pungkiri juga bahwa ilmu-ilmu yang ia peroleh juga berhubungan dengan pria yang masih dalam masa perawatan itu. Jangan lupakan berapa lama waktu Sungmin hidup, belajar dan bekerja bersama dengan pemuda arogan namun jenius itu.

Dalam waktu singkat, sungmin berhasil memenangkan beberapa proyek besar dan sukses membuat investor-investor besar tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan tempatnya bekerja saat ini. hal ini tentu saja membuat perusahaan lain merasa terkejut sekaligus kewalahan, salah satunya adalah perusahaan milik Kyuhyun yang saat ini berada dibawah kekuasaan Ahra sebagai Presdir Sementara menggantikan sang adik. Sepertinya wanita itu masih harus banyak belajar dari sang adik.

Nama Sungmin dan perusahaan tempatnya bekerja saat ini bahkan menjadi buah bibir di kalangan pebisnis kelas menengah keatas. Sepertinya dia bersungguh-sungguh untuk menjalankan niatnya membalas Kyuhyun.

-.-.-.-.-

Sungmin menggerakkan jemari lentiknya diatas sebuah keyboard dengan cepat. Matanya menatap layar komputer berukuran 21 inch yang menampilkan deretan kata bernilai jutaan dolar yang menjadi proyeknya kali ini. tanpa terasa 21 hari telah berlalu sejak pertemuan perdananya dengan Kyuhyun di rumah sakit. Sejak saat itu ia memang tidak pernah bisa menemui namja itu karena jam terbangnya yang memang sangat padat. Namun dari informasi yang Sungmin dengar, pria itu nampaknya sudah kembali ke tahtanya di perusahaan multinasional yang sebelumnya menjadi tempat Sungmin bekerja.

Pintu ruangannya diketuk dari luar. Sungmin menoleh dan mendapati siluet seorang pria yang cukup dikenalnya sedang berdiri disana.

"Ada apa Jungmo?"

"Aku ingin meminta laporan hasil rapat kemarin, apakah sudah kau selesaikan?"

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Sungmin bangkit perlahan dan mengambil apa yang diminta oleh Jungmo. Usia kandungannya yang sudah berada di trimester kedua membuatnya bergerak sedikit lebih lamban dari biasanya.

"Aku sudah menyelesaikannya, semua laporan dari hasil pertemuan sudah selesai" ujar sungmin sambil menunjukkan deretan file berisi laporan yang cukup tebal di lemari berkas yang memang disediakan untuknya.

"Wah"

"Kenapa?"

"Kupikir semua waktumu sudah habis untuk melakukan pertemuan dengan klien dan berbagai kegiatan penting lannya, bagaimana bisa kau menyelesaikan laporan itu dalam waktu yang terbilang singkat eoh?"

Sungmin menyilangkan tangan di depan dada, matanya menatap Jungmo dengan angkuh.

"Aku terbiasa bekerja cepat dan tidak suka menunda pekerjaan, dan lagipula perusahaan ini memiliki SDM yang bisa dimanfaatkan untuk sekedar menulis laporan kan?" ujar sungmin menyombongkan diri. Meskipun begitu ia tidak merasa risih dengan sikap Sungmin karena memang sikap wanita itu sesuai dengan ucapannya. Ia bahkan merasa terkagum-kagum dengan keprofesionalannya dalam bidang ini. dan keberadaannya benar-benar membantunya melanjutkan perusahaan ini. bertemu dengannya seperti menjadi suatu keajaiban untuknya.

Jungmo terkekeh mendengar ucapan Sungmin, ia jadi ingat ada beberapa karyawan yang mengeluhkan perilaku sungmin yang terkadang meledak-ledak jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

"Apakah ini yang menjadi penyebab kau mengamuk pada karyawan-karyawanku?"

Sungmin menaikkan alisnya percaya diri "Kenapa? kau tidak suka?"

"Ani… tapi tidakkah kau merasa kalau kau sedikit melewati batas?"

'sedikit melewati batas' sungmin terkekeh pelan, ia ingat bahwa ia pernah mengatakan hal serupa ketika bersama dengan pria itu. Mendengarnya membuat sungmin kembali mengingat masa-masa yang harusnya sudah ia lupakan.

Sungmin melepaskan silangan tangan di dada kemudian bersandar pada lemari yang ada di belakangnya.

"Karyawanmu bekerja sangat lamban, malas dan tidak serius. Aku tidak tahu bagaimana cara HRD-mu menyeleksi karyawan itu, dan aku tidak bisa bekerja dengan tipe karyawan yang menghambat seperti itu, jadi aku kira aku tidak melewati batas apapun" ujar Sungmin jujur. "Aku hanya ingin mempekerjakan mereka sebagai manusia, bukan sebagai kerbau. Mereka harus memiliki inisiatif, itu akan membantu meningkatkan kualitas perusahaan ini"

Jungmo mendudukkan dirinya di kursi Sungmin kemudian menatap mata wanita itu "Kau tahu, kau sudah menjadi perbincangan seantero gedung ini"

Oh tentu saja, ia hanya orang yang baru datang hampir 8 minggu yang lalu tapi dia sudah di tempatkan disisi boss tampan mereka serta diberikan hak untuk mengatur mereka. Tentu saja itu akan memperpanjang daftar haters nya. Terlebih lagi, perutnya yang terlihat semakin besar membuat mereka semakin gencar membuat rumor tentangnya. Bahkan tidak jarang ada yang menyebutnya sebagai wanita simpanan Jungmo atau bahkan wanita murahan. Hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Menambah beban? tentu saja. Siapa yang tidak merasa sakit saat diperlakukan seperti itu?. Dan lagi pula, ia juga tidak tahu bagaimana harus menutupi kandungannya. Awalnya ia memang ingin melarikan diri, namun Jungmo menghalanginya dan menariknya kesini. Siapa sangka, semuanya terasa lebih menyakitkan untuknya. Dan yang bisa ia lakukan saat ini adalah menutup telinganya, atau setidaknya berpura-pura tuli, dan ini semua ia lakukan untuk bisa membalas Kyuhyun yang ternyata mengalami amnesia. Bukankah ini yang disebut kesialan yang bertubi-tubi?

"Aku sudah biasa 'diperbincangkan' seperti itu semenjak menginjakkan kaki disini"

Jungmo tertawa dengan kepercayaan diri yang dimiliki Sungmin. Wanita ini benar-benar unik dimatanya.

"Kau sepertinya sudah berubah"

Jungmo meletakkan dokumen yang diberikan Sungmin di meja. Pria itu kembali menatap mata Sungmin yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

"Apanya?" wanita itu bertanya pada pria dihadapannya yang tengah tersenyum ambigu.

Diam, pria itu tidak menjawab pertanyaan sungmin dan malah tersenyum ambigu. Pria itu menatap Sungmin lama sebelum berdehem pelan dan bergerak mengambil dokumen yang ia letakkan dimeja.

"Aku senang, karena kau tidak menunjukkan raut menyedihkan itu lagi"

Jungmo menepuk bahu sungmin pelan sebelum meninggalkan wanita itu dalam diam.

'Kau hanya tidak bisa melihatnya' batin Sungmin.

Dan wanita itupun kembali bekerja.

Jungmo melangkah keluar ruangan dengan santai menuju ruangannya. Namun langkahnya terhenti ketika ponselnya berbunyi nyaring. Pria itu mengangkat ponselnya dan mengernyit ketika membaca nama dari penelponnya.

"Ada apa?"

"…."

"Jangan biarkan siapapun menemui Sungmin, terutama 'mereka' "

-.-.-.-

Kyuhyun hampir saja melemparkan dokumen-dokumen yang ada dimejanya ke lantai. Pria itu mendengus kesal melihat beberapa laporan yang diletakkan oleh staf nya di meja kerjanya. Beberapa hal yang seharusnya ia dapatkan hilang dalam kejapan mata. Beberapa tender dan saham serta kegiatan akuisisi yang harusnya bisa ia dapatkan hilang hanya karena ia tidak berada di perusahaan selama hampir sebulan.

Menggeram tertahan. Pria itu memejamkan matanya, amarahnya benar-benar sudah sampai puncaknya dan ia merasa perlu untuk meluapkan amarahnya pada karyawannya namun ia memilih untuk menahannya.

Kyuhyun mengangkat gagang teleponnya dan menghubungi sang sekretaris. Tak lama kemudian sesosok wanita muncul dengan mengenakan rok hitam andalannya serta kemeja putih dengan satu kancing terbuka dan membuat bahunya sedikit terlihat.

"Ada apa?"

Kyuhyun menatap Ryeowook kesal "Kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini semua eoh?!" ujarnya penuh penekanan. Ingin sekali ia memarahi dan membentak wanita dihadapannya ini, namun ia masih memandang wanita di hadapannya ini sebagai orang terdekatnya dan membuatnya terpaksa menahan hasratnya untuk mengamuk.

"I-itu…"

"Jawab aku"

"Ahra eonni yang menyuruhku merahasiakannya darimu, setidaknya sampai kau kembali bekerja"

Kyuhyun menggeram. Emosinya sudah berada pada titik puncak dan ia butuh pelampiasan saat ini.

"Adakan meeting sekarang juga!"

Skip time

Semua peserta meeting di ruangan tersebut terdiam ketakutan ketika kembali merasakan lidah tajam dari atasannya. Sudah hampir tiga jam mereka berada disini dan merasa bagaikan di neraka mendapat komentar dari manusia paling di hormati di gedung ini. bahkan Siwon pun mendapat semprotan dan sindiran dari Kyuhyun.

Satu hal yang ada di pikiran mereka semua. Singa itu telah kembali. Dan sebagai rusa mereka harus bersiap-siap dan kembali berada di suasana hidup dan mati.

"Siapa yang bisa menjelaskan apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan masalah ini terjadi" ujar kyuhyun dingin namun mencekam.

"Kami tidak terlalu yakin, tetapi semenjak Sungmin-ssi bekerja di perusahaan cabang milik Tiger Japan Group, cukup banyak tender dan saham dari cabang perusahaan ini yang berbalik arah-"

Kyuhyun terhenyak ketika mendengar nama itu

"Siapa kau bilang?" ujarnya penuh penekanan.

"Lee Sungmin, apakah kau benar-benar tidak ingat padanya sajangnim?" Tanya Siwon, ia juga penasaran dengan hal ini karena jawaban Kyuhyun saat di rumah sakit waktu itu membuatnya merasa tidak yakin. Mana mungkin pria itu melupakan Sungmin begitu saja.

"Maksudmu, Sungmin si sekertaris itu?" tanya Kyuhyun penuh rasa penasaran.

Siwon menatap Kyuhyun tepat dimatanya "Memangnya Sungmin yang mana lagi" ujar pria itu dengan lugas. Ingin sekali ia mengatakan bahwa 'Kau lah yang membuat wanita berharga itu pergi dari perusahaan ini!'

"Bisakah kalian memberikan alasan yang lebih logis? Tidak mungkin perusahaan ini bisa kalah hanya karena satu orang!"

'SHIT'

Setelah terdiam beberapa lama, Kyuhyun memutuskan untuk mengakhiri meeting dan memilih untuk berdiam diri di ruangannya.

Pikirannya berkecamuk.

Sungmin. Siapa Sungmin sebenarnya? Seberapa besar kemampuannya hingga bisa membuatnya gagal mendapatkan apa yang harusnya ia dapat diawal tahun ini!

"Ryeowook-ah!" panggil Kyuhyun pada seorang wanita yang sedang sibuk dengan laptopnya.

"Nde"

"Bukankah kau dan wanita bernama Sungmin itu berteman satu sama lain?"

"Ya"

"Ceritakan tentang dia" ujarnya datar.

Ryeowook terdiam sesaat, bagaimana ia harus bercerita?. Ia sudah sangat senang dengan Kyuhyun yang lupa pada Sungmin namun ia juga harus berusaha untuk membuat Sungmin tetap jauh dari Kyuhyun.

"Dia gadis yang baik, dan kami mulai bekerja di tanggal yang sama di perusahaan ini, itu saja"

"Berapa lama wanita bernama Sungmin itu bekerja di perusahaanku?"

"Wae?" tanya Ryeowook, ia mulai waspada.

"Jawab saja"

"Lebih dari lima tahun"

"Apa posisi terakhirnya di perusahaan ini" mata namja tersebut menatap lurus seolah melihat sosok Sungmin tengah duduk di depannya. Ia benar-benar penasaran pada sosok tersebut.

"Manager senior bidang keuangan, wae?" Ryeowook mengamati perilaku Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam, posisi tersebut bukanlah posisi yang bisa dibilang remeh, dan bisa dipastikan bahwa dia mengetahui rencana-rencana perusahaan yang sudah ia susun di akhir tahun. Apakah dia melakukan penghianatan pada perusahaan ini?

Tapi kenapa?

Apa alasannya?

Apa karena gaji yang kurang? Itu tidak mungkin, gaji yang diberikan olehnya bahkan berada di tingkat teratas diantara perusahaan serupa.

Atau karena kepuasan kerja?

Selain itu…

"Seberapa sering aku berinteraksi dengan wanita itu?"

Ryeowook mengalihkan tatapan matanya takut, meskipun ini bukan pertama kali ia melihat kyuhyun bersikap dingin dan terlihat mengerikan, namun ia masih belum bisa beradaptasi dengan sifat kyuhyun yang satu itu. Dan pertanyaan Kyuhyun,bagaimana ia harus menjawabnya.

"Eum, c-cukup sering"

"Menurutmu seberapa banyak yang ia ketahui tentang perusahaan ini?"

"Aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin ia memiliki banyak pengetahuan tentang perusahaan ini mengingat ia banyak terlibat dalam suatu proyek, dia mengundurkan diri tepat beberapa hari setelah rapim akhir tahun" ujar Ryeowook yang secara tidak langsung memperkuat dugaan Kyuhyun akan penghianatan yang dilakukan Sungmin.

Kyuhyun terdiam, pria itu menggertakkan giginya menahan amarah.

Pria yang masih dilingkupi rasa kesal dan amarah itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa di ruang kerjanya. Tersenyum selayaknya seorang psikopat yang baru menemukan targetnya.

Tidak salah lagi, wanita bernama Sungmin itu pasti ingin bermain-main dengannya.

-.-.-.-.-

"Tidakkah kau merasa aneh pada presdir?" tanya Yuri. Mereka saat ini sedang berkumpul di pantry dan melakukan kegiatan rutin mereka.

Bergosip

"Ya, kau benar, tadi beliau mengamuk di ruang meeting dan kau tahu?"

Min-ah dan beberapa rekan yang lain mendekatkan telinga mereka pada Sooyoung yang menjadi saksi dalam suasana mencekam itu.

"Sepertinya beliau melupakan Sungmin"

Terkejut bukan main, orang-orang yang mendengarkan ucapan Sooyoung membulatkan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa presdir melupakan kekasihnya sendiri?! melupakan si karyawan teladan yang baik hati itu?!

"Dan yang paling menghebohkan lagi, ternyata banyak tender yang diambil oleh perusahaan tempat dimana Sungmin bekerja saat ini"

"Apa maksudmu?"

Sooyoung menjelaskan kepada Squad bergosipnya secara rinci mengenai informasi yang ia dapat saat meeting tadi. Semua orang disana mendengarkan dengan serius dan memunculkan reaksi yang berbeda-beda.

"Jadi maksudmu, Sungmin menghianati perusahaan ini?"

"Kurang lebih begitu"

"Tapi itu tidak mungkin"

"Terlihat tidak mungkin memang, tapi hal-hal yang terjadi belakangan ini mengarah pada kesimpulan itu"

"Aku benar-benar tidak mengerti pada apa yang sedang terjadi di perusahaan ini, tidak mungkin couple kesayanganku saling mengibarkan bendera perang seperti itu"

Yuri memajukan tubuhnya, membuat lingkaran penggosip itu menjadi semakin rapat. "Dan kau tahu?" ujarnya ketika tiba-tiba teringat pada suatu hal.

"Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali saat menemani Cho Ahra Sajangnim dalam perjalanan bisnis. Dan kau tahu?" ujarnya mengulangi pertanyaannya sebelumnya. Ya, selama ini memang dialah yang dipercaya untuk menemani ahra melakukan perjalanan bisnis, bukan Ryeowook.

"Aku rasa, Sungminie sedang mengandung"

"HAH?!"

Yuri meletakkan telunjukknya di depan bibirnya berusaha menghentikan kehebohan yang dibuat oleh peer group nya.

"Dan jika dibandingkan dengan kandungan Kibum-ssi, kurasa ukurannya lebih besar milik Sungmin"

"Seolma…" mereka saling menatap satu sama lain. Ini benar-benar berita besar.

-.-.-.-

Sepasang kekasih itu memandang kosong kearah meja berisi tumpukan kertas dihadapan mereka. Kertas-kertas yang menjadi sumber kemarahan sang raja di perusahaan ini.

"Aku tidak tahu, tapi aku benar-benar menduga kalau Sungmin membocorkan rencana perusahaan pada rival kita yang sempat hampir bankcroupt itu"

Kibum menatap Siwon tidak terima, "Tidak mungkin Sungmin melakukan itu"

"Kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya saat ini, tapi dia yang saat ini benar-benar membuatku bingung, aku pikir kau juga merasakan hal yang sama denganku" ujar Siwon penuh percaya diri.

Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Ini merupakan kekalahan terbesar mereka setelah sekian lama, dan yang membuat mereka menerima kekalahan adalah perusahaan tempat dimana Sungmin bekerja. Mereka juga tidak tahu dan tidak ingin berprasangka, namun… faktanya…

"Sungmin bukan orang yang seperti itu Siwonie"

"Ini benar-benar membuatku pusing" gumam Siwon.

"Kau sudah mencoba bertemu dengannya?" lanjut pria itu penuh harap.

"Aku… belum, sulit sekali untuk menemuinya secara personal" adu kibum pada pria yang tengah menghembuskan nafas beratnya.

"Sungmin, dia benar-benar sibuk, dia bahkan tidak mengangkat telfon dariku. Dan jika aku mendatangi kantornya, dia tetap saja sulit ditemui"

Keduanya kembali terdiam dalam pikirannya masing-masing.

"Bagaimana dengan Ahra Noona?"

"Dia, sekalipun dia menajdi kolega bisnis, tetapi tetap saja, Sungmin benar-benar sulit ditemui. Sungmin, saat ini dia benar-benar secara aktif membantu Presdir Kim , tapi aku ragu kalau dia melakukan itu –penghianatan- untuk tujuan yang kekanakan seperti itu. Itu bukan gaya Sungmin" ujar Kibum menerawang.

-.-.-.-

Kyuhyun terduduk diatas kursi rodanya, ia bersama beberapa staff nya baru saja menyelesaikan pertemuan kerjasama dengan salah satu perusahaan besar di korea di salah satu restoran. Sesekali ia melakukan perbincangan dengan Ryeowook yang tengah membantu mendorong kursi rodanya. Sebenarnya kondisi kakinya sudah mulai membaik, dan kursi roda hanya menjadi formalitas saja.*

Ketika mereka berada di lobby, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Sungmin yang tengah berdiri bersama dengan seorang pria dan Juga orang yang barusaja bertemu dengannya untuk melakukan kerjasama. Jika diingat-ingat, ini adalah kali pertama pertemuan mereka dengan Sungmin setelah sekian lama. Dan hal yang membuat mereka begitu terkejut adalah… penampilan Sungmin, terutama… perutnya.

"Ah, kebetulan sekali" ujar pria paruhbaya itu membuyarkan lamunan Kyuhyun beserta staff nya.

"Cho Kyuhyun-ssi, bukankah sebelumnya saya pernah menceritakan tentang pengusaha muda yang membuat saya terkagum-kagum?"

Kyuhyun terdiam dan mengamati sikap paruh baya itu. Jangan bilang bahwa orang yang dibicarakan oleh pria tua itu adalah -

"Dialah orangnya" ujar pria paruh baya itu sembari menepuk bahu Sungmin pelan, sedangkan wanita itu hanya tersenyum mendengar pujian dari salah satu orang berpengaruh di negeri itu.

"Terimakasih atas pujiannya tuan"

Kyuhyun menunjukkan pokerface nya.

"Ah begitukah? Senang bertemu dengan anda" ia menatap wajah Sungmin mengamati.

"Ah iya, mengingat kalian memiliki perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, aku ingin berpesan padamu Kyuhyun-ssi, berhati-hatilah padanya, dia memiliki potensi yang bisa membahayakan perusahaanmu" canda pria paruh baya itu membuat keempat orang yang ada disana tertawa, berbeda dengan staff Kyuhyun yang justru tersenyum kecut mendengarnya. Hell, bahkan pria tua itu yang terkenal sulit ditangani itu memberi pujian pada Sungmin.

"Hahaha aku senang mendengarnya, ini akan menjadi tantangan sekaligus hiburan bagiku" ujar Kyuhyun tanpa beban.

Pria paruh baya itu terkekeh dengan ucapan Kyuhyun "Aku senang dengan sikap optimismu anak muda"

Kyuhyun tersenyum membalas pujian dari pria itu. Setelah mengobrol singkat, pria itupun pergi meninggalkan rombongan Kyuhyun dan juga Sungmin yang sedang ditemani oleh salah seorang partner kerjanya.

"Lama tidak berjumpa, Lee Sungmin-ssi"

Sungmin tersenyum manis menunjukkan sisi ramahnya "Ye, bagaimana kondisi anda Tuan?"

"Kau bisa melihatnya sendiri kan?"

Sungmin kembali tersenyum namun kali ini diimbangi dengan raut sesal di wajahnya "Tapi meskipun begitu, senang sekali bisa melihat anda kembali bekerja"

"Apakah kau benar-benar senang melihatku kembali bekerja?" Tanya Kyuhyun. Sungmin yang mendengarnya membulatkan matanya bingung.

"Kau seharusnya tahu, jika aku kembali bekerja aku bisa menjadi ancaman untukmu dan perusahaanmu itu"

Ucapan dengan nada sombong yang dilontarkan Kyuhyun seolah membangkitkan sisi neuroticism Sungmin "Benarkah? Tapi aku tidak merasa seperti itu Tuan"

Kali ini kyuhyun yang mengernyitkan matanya bingung. Untuk pertama kalinya ia melihat ada orang yang tidak bergeming mendengar tantangan darinya.

"Ada atau tidak adanya Anda, ancaman untuk perusahaan kami akan selalu ada. Dan kami hanya harus menghadapinya. Jadi sekalipun anda akan menjadi ancaman bagi perusahaan kami, yang perlu kami lakukan hanyalah menghadapi anda. Bukankah begitu? " Sungmin tersenyum penuh rasa kemenangan dan percaya diri.

"Kau terlalu percaya diri Nona"

"Aku harus percaya diri untuk menghadapi orang seperti anda" Sungmin berujar sembari menunjukkan senyumannya yang terlihat sangat manis namun mematikan.

Terkejut. Pria itu benar-benar terkejut mendengar respon dari Sungmin. Bukannya kesal, kyuhyun malah menunjukkan seringainya.

-.-.-.-

Kyuhyun kini sudah berada di dalam kediamannya di Nowon. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam dan ia baru saja pulang setelah makan malam bersama dengan Ryeowook. Bibirnya kembali menyeringai kala ia mengingat wajah itu. Tidak, bahkan ia tidak pernah berhenti mengingat wajah itu, wajah yang pernah menunjukkan seringai padanya dan berani menyombongkan diri di hadapannya.

Lee Sungmin. Belum pernah ada seseorang yang berani bersikap seperti itu padanya, bahkan siwon sekalipun.

Wanita itu, Kyuhyun harus bisa membuat wanita itu tunduk di hadapannya. Bagaimanapun caranya.

Kyuhyun menggerakkan tuas yang ada pada kursi rodanya menuju ranjang. ia harus beristirahat dan bersiap untuk esok hari.

'Nyaman sekali

Aku membenarkan posisi tubuhku sembari menghadap layar televisi. Kemudian mengambil sebuah majalah bisnis yang ada di meja.

"Makanlah" ujar seseorang menyodorkan sebuah apel padaku. Aku melirik keatas dan melihat seseorang dengan rambut yang digulung keatas memperlihatkan leher baru kusadari bahwa saat ini aku tengah berbaring di pangkuannya.

Aku menerima suapannya. Rasanya enak sekali. Tapi siapa wanita itu.

Sembari berbaring, aku dan dia mebicarakan sesuatu, tidak tahu apa yang dia bicarakan namun aku bisa merasakan bahwa itu adalah pembicaraan yang sangat penting.

"Hey bagaimana bisa kau menjadi sangat percaya diri seperti ini hmm?" ujarku tiba-tiba sembari menutup majalah dan bangkit untuk menatap wajahnya.

"Aku selalu memiliki rasa percaya diri yang tinggi Kyunnie, jika aku tidak mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, aku tidak akan mungkin bisa menghadapi pria dengan ego tinggi seperti dirimu" ujarnya sambil mencubit hidungku. Aku menatapnya, namun aku tidak bisa melihat wajahnya yang terlihat buram.

Siapa wanita ini.

"Apa maksudmu dear?" ujarku merasa sedikit kesal. Namun bukannya marah aku malah menunjukkan tawa terkejutku padanya. Siapa dia, kenapa aku merasa bahwa dia begitu dekat denganku.

Apakah dia Ryeowook?

Aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku merasakan bahwa wanita itu sedang tertawa.

"Bukankah uri wanjangnim memang seperti itu?"

"Yak! Aku tidak seperti itu"

Wanita itu kembali tertawa "Lalu kau seperti apa?" aku bisa merasakan tangannya yang terasa kesat dan sedikit kasar menariku untuk kembali berbaring.

"Aku adalah pria baik hati yang sukses membuatmu bertekuk lutut dihadapanku"

Dia …

"Bukankah aku yang sukses membuat Singa jantan ini bertekuk lutut dihadapanku?"

Aku membulatkan mataku, merasa tidak terima.

"Ani, tidak seperti itu. Aku yang menaklukanmu"

Wanita itu tertawa penuh kemenangan "Uri bunny yang menjadi saksinya, bahwa kau lah yang jatuh dihadapanku terlebih dahulu, sajangnim"

Bunny? Sajangnim?

"Aku harus percaya diri untuk menghadapi orang seperti anda"

Kyuhyun membuka matanya tiba-tiba. Nafasnya memburu dan jantungnya berdegup kencang. Apa itu? Bagaimana bisa suara wanita itu muncul tiba-tiba.

Kyuhyun memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri

Melihat sekeliling, pria itu baru menyadari bahwa apa yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi. Namun yang membuatnya merasa heran adalah, rasa nyaman itu, rasa bahagia itu, semua terasa begitu nyata, seolah ia pernah mengalaminya sebelumnya. Tapi kapan?

Dan jika diingat-ingat, ruangan itu… dimana?

Itu bukanlah rumahnya. Tempat itu benar-benar berbeda jauh dengan kediamannya saat ini yang bergaya victorian. Furniture dan interiornya juga terlihat sangat modern, berbeda jauh dengan kediamannya.

Dan wanita itu… siapa dia?

Kenapa aku memanggilnya dengan sebutan 'dear'?

Apakah itu Ryeowook? Tapi sepertinya tidak mungkin. Cara berbicaranya terdengar begitu tegas sekaligus lembut. Berbeda dengan ryeowook yang lebih terkesan manja. Selain itu, aku tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu.

Seberapa dekat dia dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas berat.

"Sudahlah, itu hanya mimpi" ujarnya dan kembali berbaring.

"Aku harus percaya diri untuk menghadapi orang seperti anda"

Kyuhyun kembali membuka matanya kala kalimat itu kembali terngiang dikepalanya.

"Argh! Sial! Kenapa tiba-tiba wanita itu muncul dalam pikiranku hah!" geramnya.

-.-.-.-

Dengan tergesa. Seorang pria paruh baya berlari menuju sebuah ruangan dimana seorang pria yang jauh lebih muda darinya terduduk angkuh sembari menopang dagu dengan kedua tangannya. Matanya yang sehitam arang itu menatap pintu dengan tatapan menghunus, menunggu sang bawahan yang ia yakini sedang bersiap menerima 'sapaan hangat' darinya. Kini ia tenagh berada di salah satu anak perusahaannya yang berada di Seoul.

"Maaf membuat anda menunggu presdir"

Kyuhyun tidak berniat menjawabnya dan hanya mengeluarkan dengungan kecil.

"A-apa yang ingin anda bicarakan Presdir?"

"Jelaskan padaku tentang hal ini?" kyuhyun menggeser dokumen-dokumen yang ada di hadapannya dan menyuruh pria tersebut untuk mengambilnya. Dengan kikuk, pria itu menjulurkan tangannya meskipun sebenarnya tanpa ia membacanya pun ia sudah tau isi dari kertas berisi laporan itu.

"I-ini…" dengan gemetar, pria itu menatap mata Kyuhyun. Pria itu memang tidak menunjukkan ekspresi apapun namun aura yang dikeluarkannya membuat pria itu sadar akan posisinya yang sedang berada dalam bahaya. Satu kata saja bisa menentukan bagaimana kehidupannya nanti.

"Jelaskan" perintah kyuhyun.

"Maafkan kami presdir" ujarnya dengan bergetar. Jantungnya berdegup kencang dan bahkan tangannya berkeringat. Ia benar-benar ingin lari dari situasi ini.

"Kami… kalah strategi"

"Apa maksudmu?"

"Kami mengalami kesulitan menghadapi Lee Sungmin"

'Lagi?' Kyuhyun mengepalkan tangannya erat. Ryeowook yang berada disisinya hanya bisa meremas bahu kyuhyun meminta agar pria itu menahan amarahnya. Kyuhyun benar-benar tidak percaya pada apa yang di dengarnya. Lagi-lagi dia…. Kyuhyun semakin mengepalkan tangannya erat.

"Mengingat bahwa ia pernah bekerja di kantor pusat, kami yakin bahwa ia juga mengetahui strategi dan cara bermain kami, terlebih dia juga pernah memimpin wilayah Incheon selama satu tahun, itu membuat kami benar-benar kewalahan karena kami harus membuat strategi baru dalam waktu kurang dari tiga minggu. Kami benar-benar minta maaf"

Kyuhyun terkesiap mendengar penuturan pria dihadapannya. 'Memimpin wilayah Incheon?' pria itu bertanya-tanya dalam hatinya. Menunjuk seseorang untuk menjadi pemimpin wilayah, seharusnya Kyuhyun bisa mengingatnya! Karena dia memiliki kewenangan dalam hal itu. Tapi bagaimana bisa ia tidak mengingatnya?!

Dan bukankah pria itu mengatakan bahwa Sungmin pernah memimpin Incheon selama satu tahun? Tapi kenapa ia tidak ingat sama sekali tentang hal itu? Jika ia menjadi seorang pemimpin di salah satu cabang prioritas, seharusnya ia memiliki jadwal pertemuan yang intens dengannya, terlebih ia juga pernah menjadi senior manager di kantor utama tempatnya beraktivitas. Seharusnya ia mengenal wanita itu, mengenal bagaimana caranya bekerja seperti ia mengenal manager senior lain di kantornya.

Tapi kenapa?

Ia tahu bahwa dirinya memang mengalami hilang ingatan, tapi itupun hanya dalam rentang waktu kurang dari tiga bulan. Selain itu, segala memory yang ada di masa lalunya tidak ada yang mengalami masalah. Masa sekolahnya, masa kuliahnya, masa dimana ia menjadi direktur muda. Tidak ada yang bermasalah. Tapi, bagaimana bisa ia melupakan wanita itu? Dari sekian banyak orang yang sering berinteraksi dengannya. Hanya wanita itu yang tidak ia ingat.

Ini aneh.

"Kyu" panggil Ryeowook membuyarkan lamunan Kyuhyun.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya dengan penuh perhatian. Wanita itu menggenggam jemari tangannya hangat. Tangannya terasa begitu lembut dan halus membuatnya merasa seperti menyentuh tangan anak kecil.

"Tidak ada"

"Kau ingin mampir ke café sejenak? Mungkin segelas espresso bisa membuat pikiranmu sedikit lebih rileks"

Kyuhyun menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan "Lakukan sesukamu"

Ryeowook menghela nafasnya berat kemudian meminta sang driver untuk berhenti di café terdekat. Matanya menatap kearah Kyuhyun dengan sendu. Tidak, bukan ini yang ia harapkan. Ia senang, bahkan saat senang saat mengetahui bahwa Kyuhyun melupakan Sungmin. Itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuknya. Tapi, melihatnya bersikap seperti ini membuatnya kembali teringat saat-saat dimana ia mulai diabaikan oleh Kyuhyun. Dia tidak menyukainya, benar-benar tidak menyukainya. Dan lagi-lagi, ini semua terjadi karena Sungmin. F*ck! Bagaimana caranya agar ia bisa menghapus Sungmin dari hidup Kyuhyun?!.

Sepasang muda mudi itu kini terduduk di salah satu kursi di sebuah café pinggir jalan. Kyuhyun yang memang sedang banyak pikiran memilih untuk bungkam. Ia benar-benar tidak ingin berbicara untuk saat ini. Hell, ini benar-benar menjadi kekalahan terbesar baginya. Untuk pertama kalinya ia mengalami kekalahan sebesar ini dan yang lebih parahnya adalah, hanya karena satu orang! Satu orang yang sudah menjadi batu penghalang kesuksesannya di awal tahun ini. dan yang paling membuatnya geram adalah, semua ini terjadi dalam waktu yang terbilang singkat.

DAMN!

Umpatan-umpatan itu mengalir deras di kepalanya. Ia bahkan sampai tidak menyadari bahwa kekasihnya sudah kembali dengan membawa dua cup minuman bercafein dan beberapa makanan ringan.

"Kyu" Panggil Ryeowook. Kyuhyun yang merasa terganggu menoleh dan menunjukkan tatapan tajamnya pada Ryeowook. Oh No! He's got Mad!

"Apa aku mengganggumu?"

Kyuhyun tidak menjawab, pria itu hanya mengambil minumannya dan menyeruputnya sedikit.

Ryeowook menjulurkan tangannya, menyentuh lengan Kyuhyun yang sedang memegang gelas kopi. meremasnya pelan dan menunjukkan raut khawatir miliknya.

"Jangan di pendam sendiri, kau bisa berbagi denganku… hn?"

Masih dengan tatapan datarnya yang begitu gelap. Kyuhyun hanya menatap wajah itu dalam diam. Tiba-tiba ia teringat pada wanita yang ada di mimpinya… jelas sekali bahwa mereka berbeda. Gaya bicara, gestur… terlihat berbeda.

"Kau sudah siap berbicara?"

Kyuhyun tersentak dan langsung meletakkan gelas kopinya keatas meja. Pria itu melihat ke kanan dan ke kiri, mencari sumber suara tersebut. Namun nihil karena ia tidak menemukan ada orang yang duduk didekatnya selain Ryeowook.

"Ada apa Kyu?"

"Kau mendengarnya?" tanya nya gusar.

"Apa?"

Kyuhyun mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih jauh "Ah… tidak. Lupakan saja"

Kyuhyun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan mereka dengam membahas urusan pekerjaan.

-.-.-.-

"Bagaimana kondisiku Hyung?" seorang pria mendudukkan dirinya disebuah sofa panjang berwarna putih. Pria itu membenarkan letak kemejanya dan menyamankan posisi duduknya.

"Cukup baik, untuk saat ini. Tapi kau harus mendapatkan transplantasi secepatnya jika kau ingin hidup lebih lama"

Pria itu tersenyum kecut. Pada akhirnya, kunci keselamatannya hanya ada pada transplantasi.

"Kau meminum obatmu dengan rutin kan?"

Jungmo mengangguk sambil tersenyum "Sungmin, dia benar-benar merawatku dengan baik. Dia bahkan berani memarahiku jika aku lupa meminum obatku"

Yesung mengamati pasien sekaligus teman dekatnya itu dengan baik. Dilihat dari caranya berbicara, yesung bisa merasakan kalau temannya ini memiliki ketertarikan pada Sungmin, duplikat adiknya.

"Itu bagus. Bersyukurlah karena sungmin tinggal satu atap denganmu"

Jungmo terkekeh, dalam hatinya ia benar-benar bersyukur pernah mengenal wanita baik bernama Sungmin itu.

"Kau benar Hyung" ujarnya sambil tersenyum.

"Ada apa dengan senyummu?"

Jungmo menolehkan kepalanya menatap yesung bingung "Wae?"

"Kau terus tersenyum selama menceritakan tentang Sungmin"

Jungmo menatap Yesung dengan was-was "Wae?" tanyanya lagi.

"Kau menyukainya?"

Tidak menjawab, Jungmo hanya terdiam. Dia dengan segera mengalihkan pandangannya menghindari tatapan menelisik dari Yesung.

"Tidak usah Sungkan" ujar Yesung, pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Hyung, bukankah kau memiliki banyak pasien?"

Yesung terkekeh, Jungmo yang ia kenal ternyata masih ada "Kau mencoba mengalihkan pembicaraan hah?"

"An-"

"Aku tahu kau menyukainya, dia wanita yang benar-benar unik bukan? Dia cerdas, cantik, tegas sekaligus lembut, dan dia kuat. Siapa yang tidak menyukai wanita seperti itu?"

Jungmo menatap Yesung terkejut, jangan-jangan…

"Hyung, jangan-jangan kau-"

Yesung tersenyum santai "Ya, aku pernah menyukainya. Dan mungkin masih menyukainya" Yesung menatap Jungmo nakal "dan kau harus bersaing denganku jika ingin mendapatkannya"

"Mwo?!"

Yesung tertawa pelan, ternyata Jungmo benar-benar menyukai Sungmin "Aku memang menyukainya, dia benar-benar berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah kutemui. Satu hal yang membuatku merasa berat adalah… "

"Dia benar-benar mirip dengan Vincent secara fisik"

"Kau benar, aku tidak bisa membedakan perasaanku padanya. Tapi aku benar-benar ingin melihatnya selalu tersenyum"

Suasana yang semula hangat itu berubah menjadi sendu. Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.

"Bagaimana tentang rencanamu terhadap Sungmin"

"Itu.."

Pintu bercat putih itu diketuk dari luar. Yesung si pemilik ruangan pun memberi ijin pada orang tersebut untuk memasuki ruangan. Dan sesuai dengan dugaan mereka. Seorang wanita masuk kedalam ruangan tersebut sembari membawa dua buah kantung obat.

"Aku sudah mengambil obatmu" ujar Sungmin girang.

"Wah Gomawo"

"Cheonma" Sungmin mendudukkan dirinya diatas sofa, berhadapan dengan Jungmo.

"Kau sudah mengambil vitamin mu?"

Sungmin mengangguk dan menunjukkan kantung obatnya.

"Sungmin-ah, tidak bisakah kau bergerak dengan sedikit lebih pelan?"

Sungmin menatap Yesung bingung "Wae?"

"Kau sedang mengandung bocah"

Sungmin hanya terkekeh dan mereka bertiga memulai suatu obrolan baru.

-.-.-.-.-

Sungmin duduk di balik meja kerja yang terletak di dalam kamarnya. Laptop masih menyala menampilkan grafik yang berwarna warni dengan angka-angka yang entah tentang apa. Ia melakukan peregangan dengan memutar kepalanya kekanan dan kekiri. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Sungmin memangku kepalanya diatas keduatangannya yang ia letakkan diatas meja. Matanya memang menatap dengan serius layar latop yang ada di hadapannya. Namun pikirannya tidak berada disana. Ia menutup jendela kerjanya dan membuka sosial media. Menelusuri sebuah nama.

Sungjin

Sebulir airmata terjatuh dari pelupuk matanya.

Betapa ia merindukan Sungjin dan juga orang tuanya. Hampir setiap hari ia melakukan panggilan ke kampung halamannya, dulu. Dan kini ia hanya bisa melihat mereka melalui sosial media milik adiknya. Dia tidak memiliki keberanian untuk menghubungi mereka. Padahal, ia benar-benar ingin melakukannya. Ia ingin bercerita tentang kegiatan sehari-harinya.

Bercerita tentang pekerjaannya.

Bercerita tentang … semuanya.

Selama ini merekalah yang selalu mendengarkannya, selain sahabatnya tentunya.

Ia ingin bercerita, bagaimana ia menerima hujatan dari rekan kerjanya. Bagaimana perkataan buruk selalu menghampiri telinganya setiap kali bekerja. Bagaimana ia merasakan sakit saat kandungannya sedang bermasalah atau saat dirinya kelelahan. Ia ingin berbagi, tapi ia tidak bisa. Semua itu selalu ia tanggung sendiri. dan ia hanya bisa menangis setiap malamnya.

Sangat menyedihkan bukan? meskipun ada Jungmo, Yesung dan Kim Ahjumma, semuanya selalu terasa kurang untuknya. Dan ketiga orang itu tidak bisa dijadikan tempatnya untuk berbagi. Dia cukup sadar bahwa ia sudah menjadi beban bagi mereka dan dia tidak ingin menambah beban mereka dengan keluhan-keluhannya.

Sungmin menghapus airmatanya pelan. Semuanya memang terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah terus bergerak maju bukan?

"Dan Aku akan tetap maju. Aku tidak akan berbalik… Aku akan tetap maju, dan terus maju.

Sampai akhirnya Aku bisa menemukan kebahagiaanku".

-.-.-.-.-

Sungmin meletakkan gagang telefonnya dengan kasar. wanita itu berdecak sebal sembari mendorong kasar laporan dihadapannya. ia mengurut pelan dahinya yang mulai terasa berdenyut nyeri. Dan tak lama kemudian seseorang memasuki ruang kerjanya dengan kasar. tanpa menoleh pun Sungmin sudah tahu siapa pria itu.

"Min, ada apa ini?" omel Jungmo sembari membawa faksimili yang tanpa melihatnyapun Sungmin sudah tahu siapa yang mengirimnya.

"Ini pasti ulah Kyuhyun" gumam Sungmin. Ia merasa kesal karena projek yang sudah hampir ia menangkan sepenuhnya menjadi harus dibagi dua dengan anak perusahaan Kyuhyun.

Sungmin tahu, Kyuhyun memang tidak main-main dengan ucapannya.

"Apa maksudmu?"

"Jungmo, kita harus membagi tugas, kau urus projek yang sudah siap dijalankan sesuai rencana. Aku akan mencoba mempertahankan projek yang ini" ujar Sungmin penuh semangat. Ia langsung mengambil mantelnya dan pergi sembari membawa tas serta barang-barang yang ia perlukan.

Sungmin berjalan memasuki sebuah gedung pencakar langit yang berada di pusat kota Seoul. Wanita itu berjalan dengan ditemani seorang pria yang menjadi pengawal Jungmo yang saat ini ditugaskan untuk menemani dan membantu Sungmin kapanpun Sungmin membutuhkan. Sungmin sesekali membaca laporannya sedangkan pengawal itu berjalan dengan tegap di belakang Sungmin sembari membawa barang-barang Sungmin.

Sungmin memasuki sebuah ruangan yang memang disediakan untuk agenda dadakannya hari ini. disana ia bisa melihat orang yang akan menjadi pemperi proyek dan juga seseorang yang sedang berbincang serius dengan asistennya.

"Selamat Siang, Saya Lee Sungmin, hari ini saya datang menggantikan Presdir Kim dalam pertemuan ini. mohon bantuannya" ujar Sungmin formalitas.

Sungmin melirik kearah Kyuhyun yang sedang berbincang serius dengan Ryeowook. Tatapan keduanya saling bertemu hingga kemudian Sungmin mulai mengeluarkan senyuman manisnya yang membuat pria di sebrang sana ikut tersenyum. Senyuman tersebut memang terkesan hangat, tapi aura peperangan mengalir dari keduanya.

Pertemuan itupun diawali dengan basa basi dari pemilik proyek, pria paruh baya itu melakukan pembukaan diikuti dengan penjelasan mengenai proyeknya. Orang-orang diruangan itu mulai melakukan perdebatannya. Tak jarang Sungmin menyanggah ide Kyuhyun atau mendebat argumen dari perusahaan yang kini menjadi rivalnya ini. Apapun yang terjadi ia harus bisa memonopoli proyek ini, jangan sampai Kyuhyun berhasil mengambil proyek ini darinya atau membuatnya untuk menjadi proyek kerjasama antara dua perusahaan. Karena tentu saja itu akan berdampak buruk bagi perusahaannya saat ini.

Mereka saling berdebat memperebutkan proyek ini tanpa kenal lelah, satu jam, dua jam. Perdebatan itu masih berlangsung hingga akhirnya sang pemilik proyek berdiri kemudian bertepuk tangan.

"Kalian benar-benar mengangumkan" pujinya.

"Baik, sudah kuputuskan. Saya akan memberikan proyek ini pada kedua perusahaan, dari analisa kami, akan lebih baik jika kalian bekerja sama untuk menyelesaikan proyek ini"

"Tapi-"

"Saya sangat mengharapkan hasil terbaik dari kedua perusahaan"

"Mohon kerjasamanya" ujarnya memberikan keputusan mutlak.

'Argh! Sial'

"Sepertinya mulai saat ini, kita akan sering bertemu. Mohon kerjasamanya, Cho Kyuhyun-ssi" ujar Sungmin datar dan angkuh. Ia benar-benar merasa kesal namun ia harus menyembunyikanya. Menunjukkan rasa kesal atau amarah hanya akan membuat pria dihadapannya merasa semakin senang.

"Sepertinya kau tidak senang dengan apa yang terjadi hari ini" ujar Kyuhyun sombong.

"Bagaimana aku bisa senang saat projek yang sudah berhasil aku menangkan tiba-tiba diubah hanya karena permainan kecilmu Tuan Cho Kyuhyun" Sungmin berujar datar dan menatap Kyuhyun dengan angkuh.

Kyuhyun tersenyum manis kepada Sungmin "Bukankah aku sudah memperingatkanmu sebelumnya?"

Sungmin berpura-pura mengingat "Ah itu, aku tidak mengira bahwa kau akan menggunakan cara seperti ini Tuan Cho Kyuhyun. Bukankah ini terlalu kekanak-kanakan?"

Kyuhyun menatap Sungmin tidak Suka "Apa maksudmu?"

"Jika kau ingin mengalahkanku, lakukanlah dengan cara yang benar. Bukan dengan cara merebut apa yang seharusnya sudah kudapatkan. Bukankah kau terkesan terlalu serakah? Apa kau punya masalah denganku sampai-sampai kau rela menggunakan tenagamu untuk mencegahku mendapatkan proyek ini sepenuhnya? dan jika dilihat dari skala perusahaan, seharusnya proyek ini hanya bernilai kecil untukmu. tapi kenapa kau bersikeras untuk mendapatnya eoh?" ujar Sungmin to The point.

Kyuhyun hendak membalas ucapan Sungmin namun kata-katanya langsung dipotong oleh wanita berparas cantik itu. "Sudahlah, Tidak penting untuk mempermasalahkan hal spele seperti ini. jadi, mohon kerjasamanya ya"

Setelah mengucapkan itu, Sungmin segera meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa menggeram kesal. Wanita itu pandai sekali memainkan kata-kata.

-.-.-.-

Sungmin meletakkan gagang telefonnya dengan kasar. wanita itu berdecak sebal sembari mendorong kasar laporan dihadapannya. ia mengurut pelan dahinya yang mulai terasa berdenyut nyeri. Dan tak lama kemudian seseorang memasuki ruang kerjanya dengan kasar. tanpa menoleh pun Sungmin sudah tahu siapa pria itu.

TBC

Footnote : pake kursi roda, *holang kaya mah bebas

Daehan mingguk mansae = jayalah republik korea, kurang lebih artinya begitu.

YA HALOOOOOO

Wassap guys. Long time no see!

Minhyun comeback bawa new chapter.

Jangan marah sama minhyun ya… *bow

Mian… Jeongmal Mianhae…

Minhyun kehilangan aspirasi dan kata-kata. Hehehe

Makasih buat kalian yang udah ripiuuuuuuuu sayang kalian semuahh *cium satu-satu

Oiya buat memperjelas kondisi kyu, dia itu lupa semua tentang min tapi dia ga lupa ttg hubungan dia sama Ryeowook yang emang sembunyi sembunyi dari sibum. Kalo masi bingung cek chap 9 bagian akhir aja yaaa hehe maapkeun.

sedikit menjawab pertanyaan temen temen.

Sungmin emang hamil triplet, tapi dari yang aku liat di yutub hamil kurang dari 3 bulan itu masih bisa ketutupan kalo kita pake sweater atau jaket tebel, nyaru gitu loh. apalagi kan kalo ciwi itu ada *ekhm* dada nya, jadi kalo pake baju yang longgar longgar nggak terlalu keliahatan.

dan buat memperjelas amnesianya Kyuhyun, yesung udah jelasin sedikit kondisinya ya.

"semua tingkah mommy k daddy itu udh bkin daddy jerah dan toh daddy udh introspeksi diri kan ? :( kasian uri daddy" minhyun juga kasian sih, tapi kan mommy gatau kalo daddy udah interospeksi :( apalagi auntinya nempel nempel moloo

dan bagaimana tentang kehamilan Sungmin? Mommy udah ceritain sedikit tentang kefrustasiannya dia diatas wkwkwk

oiya, minhyun juga gamau lama-lama bikin mereka pisah kok. kasian, si kembar butuh bapaknya.

oiya, trus soal kenapa minhyun ga menceritakan pernikahan Yunyun, itu karena... Yunyun bukan karakter utama disini, jadi minhyun lebih fokus ke Umin dan Kyuhyun. trus kan di pernikahan itu sungminnya kabur duluan, dan abis tu kecelakaan. jadi yahh... setelah itu sungmin bener bener lost contact sama mereka. dan di chap ini juga minhyun udah memberikan spoiler kenapa umin gabisa ditemuin ya hehehehe maaf kalo ceritanya membingungkan.

okey... sekian

salam hangat dari minhyun.

Saranghae yeorobeun!