ZuMiSa Kahyuchi {Ga tau nih kenapa ane jadi bikin Mochida Tsundere xD ah sudahlah~ #plak makasih btw ^^ }

Yj {maaf lama TwT ini update :3}

Sinister {saya malah mau bikin reuni Namichuu pake good!Mochida :| #plak tunggu aja ya~ maaf RFnya jadi galau xDD}

Foschia Cielo {makasih xD gpp kok kalau jarang review xDD saya yang nulis aja kesel minta ampun ._. }

Deushiikyungie {Intinya, yang di Future Arc Canon kan satu per satu arcobaleno mati karena radiasi, itu scene pas Fonnya (mungkin) mati /lah makasih ^^}

Fan-chan {Tsuna bisa ketemu Mukuro? Errr rahasia~ banyak momen 6927 itu pas Kokuyou Arc XD}

Alicia . Usagi {Makasih ^^ maaf lama :D}

Himeji Arisa {Maaf ya T_T soalnya Dino masih telmi sih, suka tapi ga sadar #plak oke ^^}

Adelia-chan {Yah, Iemitsu emang jahat ya ._. /elo yang bikin/ yep~ Fon sama Reborn sih XD}

Wookie {Sama sekali ga masalah ^^ Tsuna buta yah mungkin bisa dibilang karena nonno :3 iya dong berubah XD saya ga mau dibunuh sama semua reviewer kalau sampai dimatiin sampe tamat si Tuna XD Mukuh tunggu sampe Kokuyou Arc ya :3}

Matthew Shinez {Fon langsung mati itu… yah gitu deh~ /apa Mochida sedikit beraksi mungkin beberapa kali tapi ga sering 8) pokoknya ane itu mau bikin YamaMochi tapi friendship, mereka bakal sahabatan baik soalnya hobi mereka sama XD TYL!D18? lihat aja deh 8) gpp2 saya yang nulis juga ngambek kok XD /heh}

Yuki Amano {Cuma Original Famiglia~ tapi ketemu sama dua karakter canon disini XD}

ReiRin-Kisuke {/puk2 saya juga suka Mochida disini :3 XDD ganbatte buat nontonnya XD /lah oke ^^}

Guest {Waah maaf kalau tentang typo ya ._.}

Hikari Vongola {ada dong flash backnya~ yang nyelamatin semuanya kecuali Iemitsu /tendang sama Nonnonya langsung tapi kalau anak buah Vongola bakal nyelamatin :3}

Yuzuru {sesuatu ya XD ga mati kok~ itu kan buat Future Arc. Itu cuma famiglia original, tapi bingung mau ketemuin sama dua canon di sini gimana :3 /lihat siapa canon di cerita~/}

ByuuBee {ntar ada lagi mbak TAT; 6927 nanti juga ada lagi~ XD makasih /kecup /woi maaf lama (_ _)}

Davenskye {Boleh2 aja ^^ Big Role ya… mungkin setingkat sama Fuuta kalau di TYL :3 tapi lebih dekat karena dia juga bagian dari Vongola. Pokoknya sejenis sama Bianchi sama I-Pin mungkin XD Iemitsu nyebelin pake banget emang disini ._.}

Armelle Aquamar Eira {Ada dong Pair RF :3 saya naksir sama ntuh pairing XD kurang kejam? Nanti saya siksa lagi deh 8D}

Rin-X-Edden {saya ga tau, g baca ._. Ntar saya baca deh :3 sampe tamat? Insya Allah :3}

Sherry dark Jewel {Memang agak lama un /heh XDD ganbatte UNnya~ XD}

Rye Yureka {Radiasi Anti Tri ni Sette, kan di Future Arc ada XD nah kalau di canon ga dijelasin gimana matinya jadi disini ane jelasin gimana matinya XD /hoi Xanxus? Semuanya kok :3}

Hibari Nura {oke ^^ makasih :D}

Nabila Chan BTL {Iemitsu kejam /masih iyalah Mochida kan ga bawa senjata apa-apa dan ga siap buat ngelawan mafia XD ntar dihajar /plak diajarin Squalo tapi langsung diambil alih Yama kok XD jadi dia bakal belajar sama Yama XD}

Malachan {6927 bakal banyak kok ._. Tapi nanti pas Kokuyou XD Nonno sebenernya ga sepenuhnya salah kok atas kebutaan Tsuna, nanti dikasih tahu :3}

Guest {maaf lama ._. Ga ada ide XD #plak}

DeLoAniMan U-know {kan karena Mochida haven't power for now ._. Ntar lumayan kok bakal kuat :3 CSTnya nanti ya ._.}

Widi Orihara {Ntar dijelasin lagi kok XDD}

Title : He Sees a Darkness but Smile Like a Sun

Genre : Family/Adventure

Pairing : 6927, D18, 8059, slight All27, 1827 (brothership)

KHR © Amano Akira

Warning : OOC!, Twin!Tsuna, Shounen Ai, SoftBashing!Nana, Bashing!Iemitsu

.

Bukan Sawada Tsunayoshi yang menjadi kandidat dari Vongola Decimo, tetapi Sawada Yoshimune. Lagipula mereka hanya tahu bahwa Tsunayoshi hanyalah seseorang yang selalu dikelilingi oleh kegelapan karena ia tidak bisa melihat. Meskipun sebenarnya, merekalah yang tidak bisa melihat, bahwa jiwanya bahkan lebih terang daripada matahari.

{10}

Chap. 10, True Famiglia

{10}

"TSUNA-SAMA DICULIK?!"

Oke, dua chapter dengan tulisan yang sama untuk permulaan. Suatu kebetulan? Memang kok. Setelah ledakan yang 'cukup' keras itu, Gokudera dan juga Yamamoto segera menuju ke asal suara. Hanya menemukan Mochida yang tidak sadarkan diri, dan segera membawanya ke ruangan terdekat hanya untuk mendengarkan kalau Tsuna diculik.

"Dan kau tidak melakukan apapun untuk menyelamatkannya?!"

"Bakka! Aku tidak membawa apapun untuk senjata—dan apakah aku pernah siap untuk berhadapan dengan mafia brengsek yang membawa senjata disekelilingku?!" Mochida berteriak sambil menatap Gokudera. Duh, ia bahkan dipaksa ikut oleh Yamamoto walaupun ia memang ingin bertemu dengan Tsuna.

"Senpai benar Gokudera-kun, ia tidak membawa apapun untuk melawan mereka bukan?"

"Tch," Gokudera tampak memalingkan wajahnya dan menyilangkan tangannya.

"Mochida-san benar?" Pria berambut putih dengan warna rambut hitam di belakangnya dan berusia cukup tua tampak bersama dengan mereka. Kalau tidak salah dengar dan ingat, ia adalah salah satu guardian Vongola Nonno bernama Ganauche III, "apakah kau melihat lambang atau sesuatu yang bisa membuat kami tahu siapa yang menculik Tsunayoshi-san?"

"Entahlah, tetapi—kurasa aku melihat tattoo gagak hitam di punggung tangannya," memegangi kepala belakangnya yang masih nyeri, Mochida memang melihatnya karena semua yang mengepung mereka memiliki tanda itu. Ganauche tampak memikirkan sesuatu sebelum mengangguk dan berjalan keluar meninggalkan mereka semua.

"Kenapa kau juga ikut..."

"Karena aku khawatir dengan Tsuna. Lagipula aku tidak menyangka kalau kau menyuruh Romario untuk memutar balik karena mendengar ini..."

"Bukan urusanmu herbivore—ia masih punya hutang bertarung padaku."

Suara-suara berisik itu tampak terdengar sebelum pintu terbuka lebar dan menampakkan Dino serta Hibari disana.

"Dimana herbivore itu..."

"Mereka sedang mencarinya senpai, tenang saja Tsuna akan baik-baik saja," walaupun Yamamoto mengatakan hal itu, sepertinya rautnya berkata lain. Tidak ada yang tidak tahu kalau Yamamoto juga dalam keadaan marah karena sahabatnya yang diculik dan ia tidak bisa melakukan apapun.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang? Menunggu kabar tidak pasti dari Tsuna-sama?!"

Suasana hening, semua orang tahu kalau itu bukan yang mereka inginkan. Namun toh, pada akhirnya mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan satu kawanan mafia yang tidak mereka tahu kekuatannya.

"VOOOOI, dimana sampah brengsek itu?!"

"Ushishishishi, siapa yang berani menculik Usagi-chan?"

"Muuu, boss marah karena itu dan membuat uangku melayang lagi untuk perbaikan mansion Varia..."

"Mou~ Mammon-chan, yang lebih penting sekarang adalah Tsu-chan bukan?"

"Diamlah kalian semua sampah!"

Dan suara pintu yang terbuka tampak menunjukkan beberapa orang yang tentu saja dikenal oleh mereka. Menoleh pada Mochida, dan mereka tahu apa yang harus dilakukan oleh mereka pada orang itu. Xanxus yang pertama kali mendekat dan tampak mengacungkan pistolnya pada Mochida.

"Kau sudah berbuat kesalahan dengan membiarkan mereka sampah!"

"Xa—Xanxus, jangan menyalahkannya. Ia hanya warga biasa di tempat yang salah," Dino mencoba untuk menghentikan Xanxus.

"VOI kalian juga kenapa tidak segera datang saat ledakan terjadi!?" Squalo menatap Yamamoto yang tampak tertawa dan menggaruk kepala belakangnya, "JANGAN TERTAWA SAJA!"

"Ushishishishi, pangeran belum memberikan 'hadiah' pada Usagi-chan. Pangeran tidak akan membiarkannya terbunuh dulu~"

"Jangan sok akrab dengan Tsuna-sama pangeran palsu!" Gokudera tampak mendeathglare Bel yang ada disana dan tampak ditanggapi oleh Bel dengan seringai penuh artinya.

"Ushishishi, apa katamu rakyat jelata? Usagi-chan benar-benar kasihan memilikimu sebagai anggotanya."

"Kalian semua terlalu berisik, kamikorosu..."

Dan semuanya berakhir menjadi neraka dunia saat semua orang disana tampak bertengkar satu sama lainnya. Reborn dan Fon yang tampak baru masuk hanya bisa terdiam, dan Fon menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.

"Entah aku harus senang atau kasihan pada Tsunayoshi..."

{10}

"Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Iemitsu."

Timotteo tampak berjalan kearah ruangan kesehatan bersama dengan Ganauche dan semua guardiannya. Iemitsu benar-benar seolah tidak perduli pada Tsuna bahkan bersyukur bukan Yoshimune yang diculik. Ia benar-benar harus melakukan sesuatu dengan hal itu. Guardiannya mengerti kalau saat ini boss kesembilan Vongola itu sangat kecewa dengan pemimpin CEDEF itu.

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyelamatkan Tsunayoshi-kun boss. Cornacchia Famiglia bukan kelompok yang besar, tetapi keberadaan mereka susah untuk dilacak," Nonno tahu, tanda gagak yang dilihat oleh Mochida sudah cukup untuk mengidentifikasi keberadaan mereka.

"Meskipun tidak ada yang perduli, aku akan tetap menjaga Tsunayoshi..." Semua guardian tampak saling bertatapan sebelum menatap sang boss dalam diam, "lalu, dimana para ta—"

"Lalu, apakah kau terus menyalahkanku? Sudah kukatakan kalau aku tidak pernah bertarung sungguhan!"

"Dan itulah sebabnya kau adalah sampah brengsek!"

"Xanxus, hentikan—GAAAH! Kyouya, jangan bertarung disini!"

"Kau tidak punya hak untuk memerintahku herbivore..."

"VOOOI! Kau terlalu lemah bocah, biarkan boss brengsek itu yang mengurusi ini!"

"Maa-maa, tetapi kami tidak bisa diam saja saat Tsuna menghilang."

"Ushishishishi, kami tidak mungkin membiarkan kalian yang menangani masalah Usagi-chan~"

"TEME! Kami akan melakukan apapun untuk Tsuna-sama, jangan meremehkanku pangeran palsu!"

"Ushishishishi, kau benar-benar ingin pangeran bunuh ternyata..."

Nonno dan guardiannya yang tampak berada di ambang pintu hanya diam mendengarkan pertengkaran yang berubah dari pertengkaran mulut menjadi fisik. Dimana barang-barang berterbangan, tidak sedikit cairan obat yang terjatuh mengotori lantai. Tidak lupa TV Flat yang tampak pecah karena lemparan Xanxus, dan beberapa jendela yang pecah.

...

"Ehem," suara deheman dari Nonno tampak membuat semuanya terdiam dan menatap Nonno yang tersenyum pada mereka, "jadi, bisa jelaskan apa yang terjadi disini?"

"Mereka terlalu lemah untuk menolong Sawada Tsunayoshi/ Tsu-chan/Sampah itu/Usagi-chan/ /Mereka mengatakan kami tidak bisa menyelamatkan Tsuna/dame-Tsuna/Tsuna-sama!" Semuanya tampak saling menunjuk, dan Nonno hanya diam sebelum tertawa pelan. Ia menyadari sesuatu yang tadi tidak ia sadari.

"Kami akan mencoba melacak dimana mereka membawa Tsunayoshi secepatnya..."

"Aku benar-benar mengandalkanmu Nonno," Fon menunduk dan tersenyum pada Nonno yang tersenyum dan mengangguk.

"Jadi, mungkin sebaiknya kalian menginap disini hingga kami menemukan lokasi Tsunayoshi? Tidak di ruangan ini—karena sudah hancur," Nonno tampak melihat sekeliling seolah tidak melihat kerusakan sama sekali. Berbalik dan tampak berjalan keluar sebelum berhenti, "aku mengandalkan kalian semua untuk menyelamatkan Tsunayoshi-kun..."

Semuanya tampak diam dan mengangguk (kecuali member Varia) dan Nonno meninggalkan ruangan itu bersama dengan para guardiannya.

"Sepertinya aku tidak perlu khawatir dengan Tsunayoshi," para guardian Nonno tampak mengerti kenapa sang boss mengatakan itu, "ia memiliki banyak orang yang lebih menghargainya daripada keluarganya sendiri..."

{10}

Selama beberapa minggu ia tidak pernah sendirian berada di mimpinya. Tetapi tidak hari ini, saat Tsuna tampak lagi-lagi mendapatkan hanya ada kegelapan di sekelilingnya. Tidak ada siapapun disana, tampak hanya ada dirinya. Tidak ada seseorangpun. Tidak ada Mukuro.

"Mukuro…apakah kau ada disini?"

"Aku mengatakan sesuatu yang membuatmu marah? Maafkan aku—" Tsuna terduduk dan hanya bisa menundukkan kepalanya. Mukuro, satu-satunya yang menjadi cahaya di kegelapannya. Ia tidak mengerti, tetapi yang pasti ia masih bisa melihat Mukuro dan terbiasa dengan cahaya yang diberikannya. Tetapi sekarang, bahkan ia tidak bisa merasakan keberadaannya sama sekali.

"A—aku hanya tidak ingin sendiri, apakah aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi?"

Tanpa disadari Tsuna, dalam kegelapan itu sosok Mukuro hanya berdiri dan berjalan perlahan ke belakang tubuhnya. Sebelum ia bisa menyadarinya, Mukuro menutup mata Tsuna dengan sebelah tangannya sambil merangkulkan tangannya di leher Tsuna dan meletakkan kepalanya di bahu pemuda itu.

"M—Mukuro...?"

"Maafkan aku," suara Mukuro berbisik di depan telinga Tsuna. Hanya tersenyum tipis dan tidak melepaskan tangannya. Tsuna mencoba untuk menoleh, namun Mukuro menahannya, "jangan menoleh Tsunayoshi. Kau benar-benar orang yang aneh...baru kali ini aku bertemu dengan seseorang yang membuatku terlihat lemah."

...

"Kufufufu, mungkin kalau kau mengetahui siapa aku yang sebenarnya—kau akan benar-benar menjauhiku," Tsuna hanya terdiam dan memutuskan untuk mendengarkan, "sebelum kau melakukan itu, lebih baik kalau aku menjauhimu. Karena, kalau kau sampai menjauhiku saat aku mempercayai semuanya padamu, aku tidak akan bisa apa-apa..."

"Mukuro," entah kenapa pegangan Mukuro mengendur, membuat Tsuna bisa berbalik dan memeluk pemuda itu serta membenamkan wajahnya di dada Mukuro, "kenapa aku harus menjauhimu? Kau bahkan tidak masalah saat mendengar kalau aku buta bukan? Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi—siapapun kau."

Mukuro tidak bisa berkata apapun, namun tangannya bergerak dan membalas pelukan Tsuna.

"Kufufufu~ mungkin kalau kita bisa bertemu, aku akan mengatakan sesuatu padamu Tsunayoshi," Tsuna hanya diam dan menghela nafas. Ia tahu, ia hanya bisa melihat Mukuro di dalam mimpi, "berjanjilah padaku, kau tidak akan meninggalkanku sampai kita bertemu di dunia nyata..."

"Tentu, aku tidak sabar menunggunya Mukuro."

{10}

Tsuna mencoba untuk membuka matanya, walaupun tentu saja hanya gelap yang ia miliki. Kepalanya sakit karena obat bius yang segera diberikan orang-orang disana padanya setelah menculiknya.

"Kau sudah sadar," suara itu membuatnya menoleh ke asal suara, mengaktifkan penglihatannya untuk menemukan balita yang flamenya mirip dengan Reborn dan Fon namun berwarna hijau. Mencoba menggerakkan tangannya, namun rantai tampak mengikatnya, "kau tidak bisa kabur Sawada Tsunayoshi, rantai itu tidak akan lepas."

"Ba—bagaimana kau bisa—"

"Informasiku lebih akurat daripada Reborn, aku hanya malas untuk memberitahukannya pada Reborn kalau Sawada Yoshimune memiliki kembaran yang punya potensi lebih besar namun buta," menyerengit saat mendengar itu, Tsuna hanya bisa duduk dan menatap kearah flame itu, "aku merasakan flame sky yang besar di matamu, dan sedikit mist flame saat kau sedang tertidur. Aku tidak yakin kalau kau memiliki dua flame."

"Etto—"

"Verde, namaku adalah Verde aku adalah ilmuan..." Tsuna hanya sweatdrop, ia tidak mengerti siapa Reborn, Fon, dan sekarang Verde, bayi dengan pekerjaan Hitman terhebat—Reborn, master matrial art—Fon, dan sekarang ilmuan—Verde. Yang pasti mereka bukan bayi biasa, "ngomong-ngomong darimana kau mendapatkan kotak ini?"

"Kotak?"

"Kotak aneh kira-kira berukuran 20 meter kubik dan sebuah lubang di salah satu sisinya," Verde memegang sebuah kotak yang diberikan Tsuna di masa depan pada Mochida. Sepertinya Mochida sempat memberikannya pada Tsuna atau secara tidak sengaja terbawa, "aku pernah melihatnya, tetapi aku tidak ingat..."

"Ba—bagaimana dengan orang-orang itu?"

"Mereka mengetahui kalau kau bukan Sawada Yoshimune. Aku tidak memberitahu kalau kau adalah Sawada Tsunayoshi," Verde masih berkutat dengan komputer di depannya, "tetapi mungkin mereka akan memakaimu untuk memancing ayah dan juga adikmu."

...

"Mereka tidak akan datang, mungkin sudah merayakan karena aku menghilang dari hidup mereka," Verde menghentikan acaranya dan menatap kearah Tsuna yang duduk disana. Ia sedikit berhutang pada famiglia ini, dan sudah sifatnya sejak dulu untuk membalas kebaikan baik itu dari musuh maupun rekannya.

"Bagaimana dengan Gokudera Hayato, Yamamoto Takeshi, Reborn, Fon, Mochida Kensuke, Hibari Kyouya, dan Dino Cavallone? Ah, dan tambahan para Varia sepertinya," Tsuna hanya bisa ber'HIEEEE' ria, menatap Verde dengan tatapan tidak percaya.

"Ba—bagaimana kau bisa tahu?!"

"Sudah kukatakan caraku mendapat informasi lebih akurat daripada Reborn. Bagaimanapun juga, aku adalah Arcobaleno terpintar bahkan daripada Reborn," membenahi kacamatanya, dan tampak kembali bekerja dengan laptopnya, "kotak ini menyimpan flame yang sangat besar terkurung di dalamnya."

Tsuna tidak perduli dengan kotak itu—tidak sekarang.

"Le—lepaskan aku, aku harus menghentikan mereka! Bahkan mereka tidak bisa menggunakan flame sama sekali," Tsuna mencoba untuk bergerak dan melepaskan rantai yang menghubungkan tangannya, "ka—kalau terjadi apapun pada mereka…"

'Aku merasakan beberapa saat yang lalu flamenya membesar—' Verde tampak tidak bergeming dari tempatnya, "aku tidak perduli. Dan untuk informasi, berhati-hatilah karena disana ada buaya peliharaanku…"

"HIEEE!"

{10}

"VOOOOI! GERAKANMU LAMBAN BOCAH!"

Suara itu menggema di ruangan latihan Vongola saat Yamamoto dan juga Squalo berhadapan. Yamamoto tidak mungkin begitu saja diam dan tidak melakukan apapun selama semua orang mencoba untuk mencari tahu dimana Tsuna. Beruntung Squalo menagih 'janji' mereka untuk berlatih.

"Maa, kau yang terlalu cepat Squalo-sensei. Aku tidak bisa mengikuti gerakanmu."

"VOOOOI!"

"Mereka benar-benar monster," Mochida yang sebenarnya juga ikut berlatih bersama mereka sudah cukup menyerah dengan latihan Squalo, "ah kuralat, semua yang ada disini benar-benar monster…"

"VOOOI! Istirahatmu sudah selesai sampah, kalau kau mau terus berlatih, kau harus mulai sekarang!"

"APA?!" bahkan Mochida baru berhenti setelah 3 jam berlatih. Dan sebagai catatan, Squalo tidak sama sekali terluka walaupun bertarung dengan dua orang—Yamamoto dan juga Squalo, 'apakah dia monster?!'

"Senpai, sebaiknya kau istirahat saja—aku akan menghadapinya sendirian," Yamamoto tampak tersenyum dan sedikit terlihat kelelahan. Mochida membulatkan matanya sejenak sebelum menghela nafas. Mereka benar-benar monster, walaupun Yamamoto tampak kelelahan, tetapi ia sama sekali tidak mencoba untuk beristirahat, "aku akan menemanimu untuk latihan, tenang saja!"

...

"Tch, baiklah! Jangan sampai melupakan janjimu!"

{10}

Ledakan terjadi di salah satu sisi dari ruangan itu, dan tampak Gokudera yang berada di tengah kepungan asap itu. Memegang beberapa dinamit di tangannya, beberapa luka juga tampak terlihat di tubuhnya. Entah sudah berapa kali ia mencoba untuk berlatih, namun entah sudah berapa kali juga ia terluka.

"Kalau aku tetap lemah, Tsuna-sama tidak akan bisa diselamatkan," Gokudera mengingat bagaimana ia sama sekali tidak berguna. Ia bahkan tidak mengetahui bagaimana caranya untuk menyelamatkan Tsuna. Ia tidak perduli saat beberapa luka bakar terlihat di wajah dan tubuhnya.

Ia harus menjadi lebih kuat—melindungi Tsuna, bahkan dari keluarga yang tidak menginginkannya. Karena Tsuna juga sudah memberikan sebuah 'keluarga' yang tidak pernah ia miliki sejak ibunya meninggal.

"Kau tetap saja urakan seperti dulu," suara itu membuat Gokudera menoleh dan menemukan pemuda dengan rambut model hampir sama dengan pemuda itu dan berjalan bersama dengan seorang perempuan yang tidak dikenal, "jangan memintaku untuk mengobatimu."

"Tch tidak perlu kau katakan," Gokudera memalingkan wajahnya dan berdecak kesal. Walaupun tadi ia memiliki niat untuk meminta Shamal mengajarinya, tetapi tentu saja pria itu tidak akan mau.

"Kau masih mencoba untuk teknik ini bukan?" pria itu—Shamal tampak mengambil dinamit entah darimana, menerbangkan sebuah pesawat kertas sebelum melemparkan dinamit itu tepat pada pesawat kertas itu. Gokudera membulatkan matanya, ia tahu kalau apa yang dikatakan oleh pria itu benar, "kalau kau terus berlatih dengan gaya seperti ini aku tidak akan mengajarimu sampai kapanpun…"

"Tenang saja, aku tidak akan meminta bantuanmu!" Gokudera mendeathglare pria berambut hitam itu.

"Kalau kau tidak segera menjadi kuat bukankah kau tidak akan bisa menyelamatkan Tsuna-samamu itu?" dan strike saat pria itu mengatakan hal itu. Ia tahu kalau guru yang tepat untuknya hanyalah pria ini, "jadi?"

"Kalau kau tahu seperti itu, kenapa kau tidak ingin mengajarkanku?!"

"Karena kau belum mengerti kenapa aku melakukan itu Hayato," pria itu menghela nafas dan menggaruk kepala belakangnya, "aku akan mengajarimu kalau kau bisa mengetahuinya."

"Kau sendiri yang mengatakan kalau aku tidak punya waktu lagi untuk menjadi lemah!"

"Tetapi aku juga tidak ingin menyia-nyiakan waktuku untuk mengajarimu, jadi—selamat tinggal!" Pria itu tampak melambaikan tangannya dan berbalik sambil merangkul perempuan yang tadi bersama dengannya.

"HEI!" Gokudera tampak mengepalkan tangannya kesal dan berbalik dengan dinamit yang ada di tangannya. Shamal adalah seseorang yang mengajarinya menggunakan dinamit. Selain pria mesum itu, tidak ada orang lain yang menerimanya di keluarga itu karena statusnya sebagai anak hasil hubungan gelap ayahnya.

'Memangnya siapa yang mau menerimamu? Kau hanya bisa bermain piano saja—dunia mafia tidak membutuhkanmu.'

Berdecak kesal, tampak melemparkan beberapa dinamit kearah pesawat kertas itu. Namun sekali lagi meleset karena dinamit itu tidak terlempar dengan benar.

'Brengsek, apa sebenarnya yang dimaksud oleh dokter mesum itu?' ia masih tetap mencoba untuk menerbangkan pesawat kertas dan melemparnya dengan dinamit meskipun tetap tidak bisa mengenainya, 'kalau begini Tsuna-sama akan benar-benar terluka…'

'Kuharap bisa mendengarmu bermain piano lagi…'

'Aku akan membantumu untuk menjadi tangan kanan dari Yoshi-kun…'

'Aku tidak akan masuk ke dalam dunia mafia. Aku akan melindungi Tsuna-sama dari dunia itu!'

'A—aku hanya ingin kau menjadi temanku Gokudera-kun…'

"Sial!" ia bahkan tidak menyadari sebuah dinamit menyala di bawahnya. Dan saat sumbu itu akan meledak, ia bahkan tidak sama sekali bergerak dari sana entah mengetahuinya dan sengaja atau memang tidak tahu.

"OI BODOH, AWAS!" suara itu membuatnya menoleh sebelum seseorang mendorongnya dari jalur ledakan itu. Saat Gokudera membuka matanya, ia bisa melihat orang yang menariknya dari jalur ledakan itu.

"WHA—Apa yang kau lakukan brengsek!" Gokudera menatap pemuda berambut hitam jabrik itu. Mochida yang sepertinya malah berakhir disini dan melihat saat dinamit itu akan meledaklah yang menyelamatkannya.

"Kau yang bodoh! Kau tidak lihat dinamit yang kau bawa itu akan meledak!"

"Aku tidak perduli dengan itu, kau fikir aku tidak tahu tentang itu?" Gokudera berdecak kesal dan mengambil dinamit lainnya begitu juga dengan pesawat kertas yang ada di dekatnya, "aku harus bisa menjadi lebih kuat agar semua ini tidak akan terulang lagi. Aku tidak perduli apakah aku akan terlua atau bahkan sampai mati. Asalkan Tsuna-sama selamat—"

"Hah? Kau bodoh atau apa kepala gurita?" Gokudera mendeathglare Mochida yang mengatakan hal itu, "kalau kau saja tidak bisa melindungi dirimu sendiri, bagaimana kau bisa melindungi dame-Tsuna itu? Hah, bayangkan saja kalau kau hanya berdua saja dengan dame-Tsuna dan kau begitu saja dikalahkan dan terluka? Dan saat itu kau malah melihatnya tewas karena kau tidak bisa melindunginya dalam keadaan seperti itu."

Gokudera membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Mochida itu.

"Oooi senpai! Apakah kau ingin berlatih denganku?" suara Yamamoto membuat Mochida menoleh.

"Dia bahkan tidak istirahat sama sekali, apa-apaan orang-orang disini semuanya aneh…" Mochida menggerutu sambil berjalan mendekati pemuda berambut hitam pendek di dekat aula latihan Vongola, "baiklah, jangan sampai menyalahkanku kalau kau pingsan karena kelelahan!"

"Hahaha, tidak akan~" Yamamoto tertawa dan pada akhirnya keduanya meninggalkan Gokudera sendirian terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Mochida.

{10}

Malam hari, belum ada tanda-tanda kalau Nonno dan juga yang lainnya akan bergerak. Semua teman-teman Tsuna tampak tidur di satu kamar saat itu kecuali Hibari yang memang tidak suka berada satu kamar dengan para herbivore. Lagipula matanya membuka dan sama sekali tidak tertidur, hanya menyilangkan tangannya dan duduk di tepi jendela.

"Kau tidak tidur Kyouya?"

Suara itu, tidak perlu untuknya berbalik mengetahui siapa yang ada disana. Sang Don Cavallone yang memutuskan untuk tinggal di mansion Vongola agar bisa mengetahui bagaimana perkembangan dari keadaan Tsuna. Walaupun ia bukan adik seperguruannya, tetapi Dino tetap lebih menyukai Tsuna daripada Yoshimune.

"Hn…"

"Hari ini kau benar-benar tidak mudah menyerah ya, aku saja sampai kelelahan karena berlatih denganmu," Dino tertawa dan memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di dekat sana. Hibari tetap tidak menjawab dan masih melihat kearah luar, "seranganmu juga sering kali membuatku menjadi serius. Aku penasaran bagaimana kau bisa tidak terluka parah karena beberapa seranganku."

"Aku tidak lemah Haneuma…"

"Oh, baru kali ini aku mendengarmu memanggilku selain dengan sebutan herbivore?" Dan Hibari hanya mendeathglare Dino yang tertawa gugup karena itu, "apakah kau tidak bisa tidur karena tidak ditemani oleh bonekamu atau karena tidak dinyanyikan lagu nina bobo?"

"Kau benar-benar ingin kugigit sampai mati ya…"

"Hahaha, aku hanya bercanda! Kau pasti cemas dengan Tsuna eh?" Dino menatap Hibari yang tampak diam, namun samar—sangat samar ia bisa melihat tatapan Hibari yang melembut selama sepersekian detik dan itu membuatnya terdiam dan tidak mengatakan apapun.

"Ia adalah calon Omnivor, aku tidak akan membiarkannya sampai direnggut oleh herbivore itu, dan hanya karena aku mengatakan hal itu bukan berarti aku menghawatirkannya," Hibari menoleh pada Dino dan mendeathglarenya. Namun ia berhenti melakukan itu saat ia bingung dengan raut wajah Dino, "oi Haneuma, ada apa dengan wajahmu? Sangat merah kau tahu…"

"E—eh?" Dino menutup mulutnya, dan benar saja wajahnya benar-benar memerah saat itu setelah melihat tatapan Hibari yang melembut tadi, "ti—tidak, aku tidak apa-apa…"

"Dasar aneh—kalau kau tidak punya kerjaan sebaiknya bangunkan salah satu anak buahmu dan berlatih denganku?"

"Aku tidak mungkin melakukan hal itu bukan?" Dino hanya tertawa dan menggaruk kepala belakangnya. Ia mencoba menghilangkan perasaan tadi yang membuat jantungnya berdetak kencang dan wajahnya menjadi memerah, 'tunggu, aku tidak mungkin merasakan ini…'

"Ya sudah, aku akan berlatih sendiri…" Hibari melompat dan hampir membuat Dino berteriak karena ini adalah lantai dua. Namun, menoleh ke bawah, ia tahu kalau Hibari bisa mendarat dengan mulusnya di lantai dasar dan segera menjauhi bangunan mansion.

"Memangnya dia itu kucing liar apa…" Dino tampak sweatdrop sebelum berjalan berbalik. Namun, saat ia melihat tangannya, tampak sebercak darah yang mengotori tangannya. Dan yang ia tahu, ia sama sekali tidak terluka. Melihat pada bingkai jendela, ia menemukan bercak darah lainnya di salah satu tepi jendela itu.

"KYOUYA?!"

{10}

Hibari tampak memegangi pinggangnya yang sebenarnya terluka cukup dalam saat latihan bersama dengan Dino. Namun, ia sama sekali tidak mau diobati oleh siapapun, karena luka itu bukan untuk diobati begitu saja. Jadi, saat ini ia berjalan di tengah hutan sambil melihat malam yang semakin larut.

'Bahkan melawan haneuma itu saja aku tidak bisa menang jika berada di dekat anak buahnya…'

Hibari menghentakkan sebuah tonfanya pada salah satu pohon hingga pohon itu retak karena pukulannya. Ia kesal, karena ia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Hibari Kyouya tidak akan mau terlihat tidak berguna seperti ini—terutama berkaitan dengan murid-murid Namichuu, terutama untuk pemuda berambut cokelat bernama Sawada Tsunayoshi itu.

'Kenapa aku memikirkan pemuda itu…?'

"Kyouya!" Hibari menoleh ke belakang dan menemukan Dino yang berlari kearahnya dan mencoba untuk mengecek tubuhnya. Mungkin Dino menyadari kalau ia terluka, dan terlihat juga ia membawa kotak obat bersama dengannya.

"Kenapa kau berlari seperti orang bodoh menggunakan kotak obat itu?"

"Kau terluka bukan? Jangan berbohong padaku," Dino meninggikan nadanya dan menatap Hibari yang ada di depannya. Hibari hanya diam sejenak sebelum menatapnya dengan dahi berkedut.

"Memangnya ada apa jika aku terluka?"

"Obati Kyouya!"

"Tidak mau," Hibari berbalik kembali dan tampak akan berjalan meninggalkan Dino yang dengan segera memegang pergelangan tangannya untuk menahannya, "lepaskan aku..."

"Tidak sebelum kau mau menurutiku," Hibari menggerutu pelan sebelum melayangkan tonfanya pada Dino yang mencoba untuk menghindarinya dengan susah payah. Namun serangan kedua dan ketiga tampak tidak bisa ia hindari. Walaupun begitu, tangannya tetap menahan Hibari.

"Baiklah, setelah itu kau tidak boleh melarangku," Hibari yang tampak menatap Dino hanya mendeathglarenya dan Dino hanya tersenyum lebar dan mengangguk cepat. Yang pasti Hibari mau mengobati lukanya itu sudah sangat cukup untuknya.

"Baiklah, jadilah anak manis dan biarkan aku mengobatimu…" Dino melihat luka dalam yang tadi membuat darah di tepi jendela. Luka di pinggangnya yang terlihat saat ia menyibakkan pakaiannya sedikit, 'kulitnya benar-benar putih dan pinggangnya benar-benar langsing…'

Dino mencoba untuk berkonsentrasi dan mengobatinya dengan perlahan. Ia bisa merasakan wangi dari tubuh Hibari yang juga bercampur dengan bau darah karena luka goresan itu. Ia memakaikan perban pada pinggang Hibari saat itu, membuat tangannya harus melingkari tubuh Hibari.

'Kulitnya benar-benar halus…' Dino menyelesaikan bagian pinggang dan sekarang beberapa luka beres yang ada di wajah dan tangan Hibari. Tangannya memegang sebuah kapas dengan obat merah, dan melapisinya pada luka yang ada di wajah Hibari. Tidak butuh waktu lama saat ia selesai melakukannya namun tetap tidak bergerak dari tempatnya.

"Cepatlah Haneu—" Hibari yang sudah tidak sabar tampak menoleh pada Dino untuk menemukan boss mafia itu tampak wajahnya sangat dekat dengannya. Dan sebelum Hibari bisa bereaksi, Dino entah sadar atau tidak sudah mempertemukan bibirnya dengan bibir Hibari.

Saat itu bukanlah ciuman yang tidak disengaja—karena Dino segera memperdalam ciuman itu walaupun Hibari yang pertamanya tampak terdiam karena shock kini tampak memberontak untuk dilepaskan. Dino tidak sama sekali bergerak, hingga Hibari yang sebenarnya juga kehabisan nafas segera melayangkan tonfanya dengan sangat keras.

DUAGH!

Dan tentu Dino terpelanting dan menjauh dari Hibari yang nafasnya tampak terengah-engah. Memegangi pipinya yang membengkak, Dino sendiri shock dengan apa yang ia lakukan tadi. Dan melihat Hibari pergi dengan marah, ia memegangi bibirnya yang tadi ia sentuhkan pada bibir kecil Hibari.

Dan dengan segera wajahnya memerah padam seperti tomat saat itu.

'Kenapa aku melakukannya?! Tetapi bibirnya sangat lembut—' mengusap bibirnya dengan wajah yang masih memerah, ia yang selama ini tidak tahu kenapa perasaannya berbeda pada Hibari akhirnya menyadari perasaan apa itu.

'Kenapa aku bisa jatuh cinta pada Kyouya…?'

{10}

"Kau benar-benar merepotkan kau tahu…"

Suara Verde membuat Tsuna yang sedaritadi hanya diam dan hanya duduk tampak menoleh pada asal suara. Dari suara langkah yang terdengar, ada satu orang dewasa selain Verde dan satu orang lagi adalah seorang anak kecil. Satu hal yang ia pertanyakan adalah—untuk apa anak kecil berada di tempat seperti ini.

"Jangan banyak bicara Verde, kau berhutang padaku dan aku ingin kau menjaga dua bocah ini…"

"Tidak dengan bocah bintang ini," Verde hanya menghela nafas dan tampak membuka pintu penjara untuk memasukkan seseorang kesana. Anak kecil berusia dibawah Tsuna yang berambut cokelat dan memiliki syal bergaris-garis.

"Jagalah dia sampai dia mau menyerahkan buku itu!"

"Baiklah," Verde hanya menghela nafas dan menggaruk kepala belakangnya, "maaf kau harus bergabung dengannya…"

"Kau tahu kalau aku tidak akan memberikannya bukan?"

"Ya, dan itu artinya kau akan berada disini untuk waktu yang lama," Verde berbicara dengan anak kecil itu sebelum menoleh pada Tsuna yang tampak hanya diam tidak bergerak sama sekali. Walaupun begitu, Tsuna hanya melakukannya karena Verde mengatakan teman-temannya akan semakin dalam bahaya kalau ia tidak bersikap baik.

"H—Hei, kau tidak apa-apa?"

Anak itu tampak terkejut melihat kearah Tsuna yang ada di belakangnya.

"Eh, kau…" Tsuna sudah siap dikatakan sebagai Yoshi, karena memang itu yang selalu terlihat oleh orang-orang yang baru mengenalnya, "Tsuna-nii! Kau adalah Tsuna-nii bukan? Aku tidak percaya kalau aku bisa bertemu denganmu!"

"E—eh siapa kau?"

"Dia adalah Fuuta dela Stella. Dia adalah bocah yang bisa memberikan peringkat pada apapun yang ada di dunia ini. Akurasinya 100 persen dan semua orang mencoba mengincar buku yang ada padanya," Verde menerangkan dengan wajah yang bosan dan tidak tertarik, "itulah sebabnya ia diculik."

"Kau adalah orang dengan peringkat yang menurutku unik, saat aku mencoba bertanya tentangmu dari Nonno-sama dan juga Iemitsu-san mereka tidak menjawabnya. Jadi aku mencoba untuk mencarimu, ternyata benar kalau peringkat pertama tempat yang bisa kupakai bertemu denganmu adalah dengan sengaja ditangkap oleh orang-orang ini!" Fuuta tertawa dan tampak Tsuna hanya bisa sweatdrop mendengarnya.

"Tetapi apakah kau bisa pergi dari sini Fuuta? Ini adalah tempat yang berbahaya…"

"Percuma saja, ia tidak bisa bertarung…"

"HIEEE! Lalu bagaimana caramu bisa selamat dari sini nanti?!"

"Peringkat pertama orang yang bisa menyelamatkanku dari sini dan membawaku ke tempat yang aman adalah Tsuna-nii," entah darimana buku besar tampak muncul di tangan Fuuta. Verde hanya bisa berdecak kagum sementara Tsuna hanya diam tidak mengerti, "walaupun aku tidak mengerti karena dari semua peringkat kemampuan fisik serta akademik Tsuna-nii berada di peringkat bawah."

"Mungkin saja kau salah."

"Tetapi Verde-san juga tahu kalau akurasi planet ranking itu 100 persen bukan?"

"Mungkin saja—"

Tsuna hanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan bingung.

"A—ano, bagaimana dengan mengetestnya lagi? Kau bisa melakukannya bukan?" Tsuna memberanikan diri untuk mengatakannya. Kedua orang yang sedang berbincang tadi tampak menoleh pada Tsuna dalam diam. Satu orang terpintar daripada para Arcobaleno, dan seorang anak laki-laki yang tidak biasa.

"Ah benar juga!"

Dan Tsuna sweatdrop mendengar perkataan mereka yang bersamaan dikatakan itu.

{10}

"Baiklah, apa yang ingin kau ketahui dari semua yang terjadi dalam hidupmu Tsuna-nii?"

Tsuna tampak gugup mendengarkan perkataan dari Fuuta yang lebih seperti seorang peramal. Ia sebenarnya tidak memiliki permintaan untuk melihat hal-hal seperti itu.

"Ba—bagaimana kalau peringkat berapa Yoshi-kun dari kandidat terkuat untuk menjadi boss Vongola kesepuluh?" Verde hanya mengerutkan alisnya, sementara Fuuta hanya diam sebelum matanya kosong dan membentuk galaksi. Gravitas di ruangan itu menjadi nol, dan Tsuna sangat terkejut saat merasakan tubuhnya melayang.

"H—HIEEE!"

"Gravitasinya akan menjadi nol saat ia mencoba untuk membuat kontak dengan planet ranking itu," Verde tetap tenang duduk di kursinya yang juga melayang.

"Sawada Yoshimune, berada di peringkat 2 terkuat untuk menjadi boss Vongola kesepuluh…"

"Kedua? Kukira yang pertama," Verde tampak mengerutkan dahinya mendengarkan itu. Tsuna diam dan gugup, memikirkan apa yang bisa ia tanyakan lagi.

"Siapa seseorang yang paling khawatir dengan Tsunayoshi saat ini?"

"Yang pertama adalah Gokudera Hayato, lalu Yamamoto Takeshi, Fon, Dino Cavallone, Hibari Kyouya…" tidak mendengarkan nama dari saudara kembar anak itu, Verde tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apapun.

"Bagaimana dengan saudara kembarnya?"

"Sawada Yoshimune tidak ada dalam peringkat itu begitu juga dengan Sawada Iemitsu," Verde tidak mengerti, apakah sampai sebegitunya mereka berdua membuang Tsuna sampai mereka tidak merasa khawatir sama sekali dengan Tsuna?

"Ba—bagaimana dengan Xanxus-san, urutannya untuk menjadi boss Vongola kesepuluh?"

"Xanxus berada di peringkat tiga setelah Sawada Yoshimune menjadi kandidat terkuat boss Vongola kesepuluh," keduanya tampak mengerutkan alisnya mendengar itu. Yoshi berada di peringkat kedua dan Xanxus peringkat ketiga. Lalu siapa yang berada pada peringkat pertama?

"Siapa yang berada dalam peringkat pertama di list itu Fuuta?"

"Peringkat pertama yang menjadi kandidat terkuat dari Vongola adalah Sawada Tsunayoshi…" Verde dan Tsuna membulatkan matanya mendengar itu. Bahkan Tsuna sendiri tampak tidak tersentuh dengan dunia mafia itu, bagaimana mungkin ia bisa menjadi kandidat terkuat bukan?

"Siapa orang yang paling dirindukan oleh Tsunayoshi saat ini?" Tsuna tampak menatap Verde dengan wajah memerah, dan sebenarnya itu hanyalah pertanyaan iseng dari Verde.

"Saat ini, peringkat pertama yang dirindukan oleh Tsuna-nii adalah Leon…"

"Verde-san, apakah kau yakin kalau ramalannya sangat akurat?" Tsuna menatap Verde yang melayang di dekatnya. Satu pertanyaan yang bisa menunjukkan apakah akurat atau tidak adalah—

"Bagaimana dengan orang yang paling ingin menyelamatkan Tsuna saat ini?"

"Orang yang paling ingin menyelamatkan Tsuna-nii di peringkat pertama adalah Sawada Yoshimune," oke, Verde benar-benar merasa aneh dengan apa yang dikatakan oleh Fuuta. Satu keadaan dimana ramalan Fuuta meleset adalah—

"Kenapa semua barang berterbangan semua?"

Suara pria yang merupakan salah satu penjaga di famiglia itu terdengar. Membuat Verde dan Tsuna menoleh, dan pria itu menoleh pada Fuuta.

"Ia melakukan ranking? Itu terdengar menyenangkan, tetapi diluar sedang hujan. Ia tidak akan berguna…"

"Hujan?" Fuuta terkejut mendengarnya, dan tiba-tiba gravitasi kembali normal dimana semua barang terjatuh begitu juga dengan Verde dan juga Tsuna. Fuuta meringkuk di lantai sambil memegangi lututnya saat itu, "aku benci hujan…"

"Kenapa?"

"Ramalannya akan meleset kalau sampai hari saat itu hujan. Jadi, semua ramalan tadi itu saat hujan turun akan meleset dari aslinya," Tsuna hanya bisa mengangguk-angguk mendengarnya dan mencoba untuk mengusap kepala Fuuta yang ada di dekatnya dengan lembut.

"A—ah pantas saja saat ditanya tentang kandidat terkuat yang muncul adalah namaku…"

"Sudahlah, kalian berdua tidurlah, aku akan melanjutkan risetku," Verde berbalik dan kembali pada komputernya selama Tsuna dan Fuuta hanya mengangguk dan akan tertidur bersama-sama. Melirik dari bahunya beberapa saat ketika Tsuna dan Fuuta tertidur, Verde membuka salah satu aplikasi di komputernya dan sebuah video saat tadi mereka melakukan ramalan.

'Hujan baru saja turun beberapa saat yang lalu. Berarti ada kemungkinan ramalan yang disebutkan tidak salah sepenuhnya,' mencocokkan jam yang tertera dengan waktu pertama kali hujan rintik, dan Verde hanya bisa duduk dengan tegang sambil mengacak poninya.

"Hujan turun saat pertanyaan siapa yang paling dirindukan oleh Tsunayoshi…"

.

.

.

"Itu artinya, kandidat terkuat untuk menjadi boss Vongola ke sepuluh memang benar-benar Sawada Tsunayoshi…"

{To be Continue}

Finally, bisa juga lanjut...

Maaf agak lama, soalnya ane sibuk + ga ada ide nih T.T di chap ini agak bosenin ya~ yang culik Tsuna itu bukan canon famiglia kok, cuma buat ketemuan sama Verde + Fuuta aja kaya di chap sekarang.

Maaf ya kalau ini bosenin, ada service D18 tuh xD dan Dino yang baru sadar sama apa yang dirasain sama dia xD

{RnR?}

Terharu lihat gimana banyaknya review disini bahkan saat fandom lagi sepi TT_TT saya akan berusaha sangat keras untuk menulisnya lebih baik dan tidak mengecewakan untuk kalian semua.

(_ _)

Terima kasih untuk semua review dan lain-lainnya ;D