Two Sides Girl's Butler
Chapter 10: The Sound
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai dan Sasuke), ribet, aneh, very long fic! de-el-el.
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
Malam hari, pukul 08.00 A.M.
Sasuke menatap pintu di depannya dengan ekspresi tak terbaca. Bibirnya terkatup kaku dengan mata masih memelototi pintu. Lalu setelah beberapa saat, dia menghela napas, dan mendorong kedua belah pintu itu.
Dia harus menghadapi ini.
Dengan langkah elegan, Sasuke menghampiri Naruto yang sedang menonton TV dan menuangkan teh ke cangkirnya. Melihat itu Naruto hanya memasang wajah tak acuhnya, sebelum kemudian menyeruput teh itu dengan tenang.
Lalu setelah cairan itu habis, Sasuke membungkukkan badannya sedikit kemudian beranjak pergi.
"Kurasa aku tidak menyuruhmu pergi dari sini." Seuntai kalimat datar nan tenang menghentikan langkahnya. Sasuke menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik dengan senyum manis yang terlalu dibuat-buat.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya nya, berusaha tetap sopan. Naruto menyesap tehnya sedikit sebelum berkata dengan tenang. "Temani aku ."
Sasuke sudah tahu pembicaraan ini menjurus kemana. "Maaf, Tuan. Saya memiliki pekerjaan lain dan saya tidak yakin dapat menyelesaikannya tepat waktu jika saya menemani Anda disini." Ucap Sasuke datar, bohong banget. Oh, ayolah… Tentu saja itu bukan alasan yang sebenarnya.
Bagaimana mungkin dia sanggup menemani Naruto –DarkNaru–setelah kejadian di taman itu?
"Sayang sekali," desah Naruto sok kecewa, padahal itu malah membuatnya tampak makin menyeramkan. Bayangkan saja ada orang yang berwajah tanpa ekspresi, dengan suara yang benar-benar monoton dan mata kosong mengeraskan rahangnya."Sebenarnya aku –"
"Jangan mulai lagi." Desis Sasuke cepat saat dia melihat tanda-tanda Naruto akan mulai menggombal. Dan benar saja, bibir Naruto langsung terkatup rapat hingga hanya berupa segaris dan pembuluh darah yang menyembul halus di wajah pucatnya semakin tampak jelas.
"Ayam bodoh."
CTAK!
"Ma-maaf?" ulang Sasuke dengan urat tertarik. Rasa-rasanya dia mendengar sebuah kata terlarang, deh.
"Kau awesome." Ucap Naruto tanpa ekspresi. Dia mengatakannya dengan amat lugas, tanpa intonasi, dan terlihat agak eneg.
TWITCH!
'Sialan.' Rutuk Sasuke dalam hati. Dicengkramnya nampan yang ada di tangannya hingga remuk.
"Aneh," tiba-tiba didengarnya Naruto berbisik. "Bibirku terasa aneh."
DEG!
Sasuke yang awalnya berniat meninggalkan ruangan langsung berhenti melangkah.
"Seperti ada rasa strawberry… dan juga mint." Ujar Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari layar televisi. Jemarinya meraba bibirnya sendiri.
'Tadi siang aku memakan permen karet rasa itu…' batin Sasuke cemas. Tapi serius nih? Masa rasanya masih tersisa?
Ya jelas lah, kau kan memakannya sampai dua pack, Sasuke.
"Sedikit rasa keju–dari sandwich, kurasa."
'Itu makan siangku.' Sasuke mulai panik.
"Ah, aroma kopi hitam juga."
'Masa' sampai sedetil itu?!' teriak inner Sasuke syok. Ditatapnya Naruto yang masih anteng menonton dengan pandangan tidak percaya.
"Sangat jelas. Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Kelembutannya, dan juga sedikit rasa tomat –"
Blushhh
Warna pink sukses tercetak tipis di pipi Sasuke.
Hei, hei. Se-serius? Insiden itu kan terjadi 3 jam yang lalu! Kok sampai sekarang masih –
Sasuke melebarkan matanya. Jangan-jangan…
"Oh, Antonio, jangan katakan lagi. Kau membuatku malu. –Kenapa kau harus malu, Esmeralda? Itulah kenyataannya. Aku tidak bisa melupakan rasa itu, Sayang. Diterangi cahaya bulan dan bintang Spanyol, kau dan aku –"
"…"
"…"
"…"
"Dialog picisan. Entah apa yang membuatku mengucapkan terjemahannya dari tadi." Ucap Naruto datar. Matanya bergerak-gerak membaca terjemahan Esmeralda di televisi dan membacanya lagi.
"…"
"…"
BLAM!
Naruto menoleh ke belakang. Tampak pintunya berderak dengan satu engsel lepas terayun ke depan dan ke belakang.
"…"
"Dasar labil." Komentarnya sebelum menonton kembali.
.
.
.
Sasuke menendang tembok koridor hingga retak sambil mengumpat.
'Si DarkNaru itu… berani-beraninya mempermainkanku!' batin Sasuke dengan napas terengah-engah.
Tubuh maskulin itu bersender di dinding batu yang dingin sebelum merosot pelan. Kepalanya tertunduk dalam hingga matanya tertutup oleh poni hitam kebiruan. Jemarinya menari di atas helai ravennya dan semburat merah muda samar-samar menghiasi pipinya.
"Apa yang telah kulakukan?"
FLASHBACK
Sentuhan itu perlahan berakhir seiring dengan menjauhnya wajah Sasuke dari Naruto. Mata onyxnya yang masih setengah terpejam menatap wajah Naruto yang merupakan perpaduan berbagai ekspresi antara kaget, bingung, tak percaya, dan syok.
"Sasu… ke?"
Bisikan tak percaya yang meluncur dari bibir Naruto akhirnya menyadarkan Sasuke. Cepat-cepat dilepaskannya tubuh Naruto dari pelukannya dan mengambil jarak sejauh mungkin.
"Na-Dobe, ini tidak-aku… tidak bermaksud untuk…" Sasuke tergagap, melangkah mundur. Sungguh, dia sama sekali tidak sadar. Dia tidak tahu apa yang membuat tubuhnya bergerak sendiri, kemudian tangannya menyentuh pundak Naruto, mendekatkan wajahnya dan… dan…
Sasuke menelan ludahnya sendiri, tak mampu melanjutkan apalagi dengan semburat merah menghiasi pipinya.
"Sa-Sasuke… kau…" Naruto tercekat seraya mundur menjauh. Mata sapphirenya terbelalak, menyiratkan kekagetan yang luar biasa.
"Ternyata kau…"
Deg. Deg. DEG. DEG.
Jantung Sasuke berdegup cemas.
"Kau ini menyimpang, ya?"
"…"
Hening.
"Penyuka sesama jenis!"
Hegh.
"GAY! LOLICON!
CTAK!
"YAOI! BOYS LOVE!"
TWITCH. TWITCH
"BADASS UKE!"
BRUAGH!
Dalam satu gerakan, Sasuke meremukkan tiang listrik disampingnya.
"Suit~" Naruto bersiul dengan sebelah alis terangkat, takjub. "Hebat juga kau. Bisa hancurkan yang disana juga?" tunjuknya tak tahu diri pada tiang di sebelah kiri Sasuke, nggak baca situasi.
"…"
Oke, sedingin-dinginnya Sasuke, dia masih punya nafsu membunuh.
Menggertakkan gigi, pemuda itu berjalan maju dengan langkah penuh dendam.
"Eh, pemuda itu ternyata…" bisik-bisik tak enak mulai terdengar.
"Nggak nyangka, ya... padahal tampan begitu."
"Yang pirang itu seme atau ukenya?"
"Entahlah... tapi melihat mereka, rasanya naluri fujo ku bangkit kembali."
"…"
"Kemari kau." Desis Sasuke sembari menarik tangan Naruto dengan kasar, hendak menjauhi habitat fujo yang entah mengapa ada di sekeliling mereka. Heh, bukannya tadi tempat ini sepi?
"Hei! Apa yang kau lakukan?! Lepas!" seru Naruto memberontak, membuat Sasuke cukup kewalahan dengan tenaga gorilanya.
"Diam, Dobe." Ucap Sasuke sadis sebelum memukul tengkuk Naruto dan memanggul tubuhnya yang sudah tak sadarkan diri.
END FLASHBACK
'Dobe…' geram Sasuke dalam hati. 'Kenapa kau membuat momen nista seperti itu?' batinnya miris. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Dia mencium seorang gadis! .S!
Ya, tapi yang abnormal macam Naruto.
'Nista banget.' Sasuke nyaris mewek dibuatnya. Hell, itu ciuman pertamanya. Kenapa kejadiannya malah nggak enak banget?
'Tapi, kenapa…' ekspresi Sasuke mengeras kembali. Jujur, ini aneh. Sasuke sama sekali tidak mempunyai ide mengapa tubuhnya bergerak sendiri. Padahal selama ini dia selalu menjaga kontrol dirinya; berusaha bersikap ego-sentris dan mengunci hatinya rapat-rapat.
Apa mungkin…
'Tidak…' Sasuke menggelengkan kepalanya, tertawa hambar. 'Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya.' Batin Sasuke meyakinkan dirinya sendiri. Benar, tidak mungkin Sasuke yang sudah membuang perasaan romantis tersebut jauh-jauh bisa jatuh cinta pada anak urakan macam Naruto.
Lagipula, kalau dia benar-benar mencintai Naruto…
Maka suara itu akan datang.
'Ibu,' pemuda raven itu bangkit, merapikan lipatan kemejanya. Dalam diam dia memandang bulan dengan sendu. 'Kumohon, jangan biarkan aku mencintainya.'
.
.
.
Minggu pagi yang tenang di Konohagakure. Para penduduknya yang notabene adalah penduduk rajin, sederhana, tidak sombong, dan gemar menabung memilih untuk melakukan hal-hal yang berguna seperti… tidur.
Tak terkecuali Sasuke.
Pasti banyak yang heran, mengapa anak rajin nan soleh seperti Sasuke bisa tidur di pagi cerah seperti ini. Biasanya, dengan naluri pembokat yang meluap-luap dia akan bersih-bersih dan menyiapkan sarapan 4 sehat 5 sempurna untuk Tuannya tercinta. Namun tindakan mulia itu tidak dilakukannya.
Salahkan Naruto yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
TRANG! TRANG!
Sasuke yang masih bergumul dalam selimutnya mengerenyitkan dahi dengan risih. Suara ribut-ribut apa itu?
Dengan langkah gontai nan malas, plus tampang yang sedikit acak-acakan dia bangkit dari tempat tidurnya ke arah sumber suara. Awalnya mata Sasuke masih setengah tertutup, namun begitu dia melihat sang penganggu tidur cantiknya, matanya langsung terbelalak lebar.
Disana, di dapur, tampak Naruto sedang mengenakan apron putih berenda, sambil menyerang kompor dan wajan dengan katana.
"BUNUH! BUNUH! BUNUHHH!" teriak Naruto garang. Tangannya terus mengayunkan pedang panjang itu kearah wajan yang mengeluarkan bunyi mendesis dengan kekuatan penuh. "Apa kalian pikir aku akan diam saja kalau kalian meletup-letup seperti itu, HAH?! JANGAN BERMIMPI!" lanjutnya lagi seraya menusuk ikan yang sedang digoreng dengan ujung pedangnya.
"…"
Sasuke cengo.
"Na… ru… to?"
"Eh?" Naruto menoleh, dan langsung cengar-cengir. "Sasuke? Sudah bangun? Gomen, masakannya belum siap. Ada sedikit masalah yang-HIAH!" Naruto terlonjak kaget saat minyak panas di wajan terciprat ke lengannya. Gadis itu refleks mengibas-ngibaskan tangannya menahan perih, dan tanpa sengaja sikunya menghantam sudut lemari piring.
DHUAGH!
"AKKHHH!"
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Sasuke khawatir. Mata onyxnya menatap Naruto yang berdiri dengan kepala tertunduk.
"Khukhukhu…" tawa Naruto, sadis. Dan dalam sekejap ruangan itu langsung dipenuhi aura-aura tak enak. "Bagi seorang ksatria… kalah dari musuh itu sangat memalukan," bisik Naruto, dendam. "Dan jangan kalian pikir mentang-mentang kalian benda mati, aku akan mengalah–"Naruto mengangkat pedangnya. "–Karena aku tidak akan segan-segan."
TRANGGG!
"MATI KAU, ELPIJI!"
Glek.
"Hentikan, Idiot!" teriak Sasuke panik. Dengan sigap tangannya menepis pergelangan tangan Naruto dan membuang pedang yang hanya berjarak 2 cm saja dari selang gas.
"Jangan hentikan aku, Teme! Sudah cukup aku dipermainkan oleh mereka, mereka, dan mereka!" seru Naruto berapi-api seraya menunjuk wajan, blender, dan elpiji yang tak berdosa secara bergantian.
Sasuke memijat pangkal hidungnya. "Dengar, Do–maksud saya Tuan, lebih baik Anda beristirahat saja di ruang keluarga. Biar saya yang menyiapkan sarapannya." Kata Sasuke pelan. Dalam hati dia mengutuk kebodohan Naruto yang bisa-bisanya nyaris menghancurkan tabung gas! Tabung gas!
"Baiklah, kau saja yang masak," bersungut-sungut, Naruto mengiyakan. "Tapi kau masak makanan kesukaanmu, ya?"
"Sup tomat?"
"Apapun, terserah," Ucap Naruto sembari mengangkat bahu. Dipandangnya peralatan dapurnya sendiri dengan pandangan benci. "Asal aku tidak perlu menyentuh mereka lagi, lakukan apapun yang kau bisa. Heran, sebenarnya apa salahku pada mereka?"
Dalam hati Sasuke merutuk. 'Kesalahanmu adalah kau tidak paham gendermu sendiri.'
"Cih, padahal aku sudah rela bangun pagi-pagi untuk memasak sesuatu," Naruto melanjutkan curhatnya. "Tapi tanganku malah terciprat minyak, teriris pisau, dan kepalaku tertimpa penggiling," katanya, sukses membuat Sasuke sweat drop. Memangnya separah itu?
"Huh, kalau bukan demi Sai, aku tidak akan mau memasak." Gerutu Naruto sambil mengumpat pelan. Diacaknya rambutnya frustasi.
Sasuke yang telinganya menangkap nama Sai mematung untuk sesaat sebelum menyipit tajam.
"Maksud Anda?"
Naruto menghela napas, berat. "Kau tahu kan, Sai masuk rumah sakit karena pingsan beberapa waktu lalu? Aku ingin menjenguknya hari ini, dan aku ingin membuatkannya sesuatu. Tapi aku tak tahu apa. Namun saat aku melihatmu tadi… baru kusadari ternyata kalian mirip, jadi kupikir mungkin saja makanan kesukaan kalian juga sama." Jelasnya panjang lebar.
Sasuke terdiam.
Sai?
"Tapi kurasa aku hanya akan mengacau. Aku tak berbakat dalam hal memasak, kau tahu. Jadi, err… bisa aku minta tolong padamu untuk memasakkan sup tomat untuk Sai? Kuyakin dia pasti senang." Pinta Naruto dengan pandangan memohon.
"…"
"…"
"…"
Hening.
"Hei, Sasuke? Kenapa kau diam saja?" tanya Naruto heran seraya menepuk bahu Sasuke. Pemuda itu tetap tidak merespon, hanya menunduk dalam hingga beberapa helai rambutnya menutupi mata onyx nya.
"Sasu– "
"Saya mengerti."
"Eh?"
Naruto tercekat. Kenapa suara Sasuke jadi sedingin itu?
"Tenang saja, akan saya siapkan dalam waktu singkat. Jadi tolong tinggalkan saya sendiri. Sekarang." Ucap Sasuke datar tanpa ekspresi. Perlahan dia menjauh dari Naruto dan mulai bekerja dalam diam, seakan Naruto tidak ada.
Hal itu tentu saja membuat Si Pirang mengerenyit. Naruto, yang notabene telah mengenal Sasuke menyipitkan matanya. Ada yang… aneh dengan Sasuke.
"Baiklah! Kalau begitu, kau ikut juga, ya! Kupikir akan lebih baik jika kalian berbaikan secepatnya, iya kan?" seru Naruto ceria. Hmm… sepertinya Naruto memutuskan untuk mengabaikan keanehan Sasuke dan menganggapnya sebagai serangan 'bulanan'.
'Aku mengerti, Sasuke. PMS memang suka bikin sensi.'
Sasuke hanya mengangguk.
"Aku mengandalkanmu, 'Suke! Kita akan pergi 30 menit lagi, ya!" seru Naruto lagi, kemudian berlari dengan wajah cerah ke kamarnya untuk bersiap-siap.
"…"
Pemuda itu seketika menghentikan aksinya. Dia hanya diam tak bergerak sembari memandang api yang menyala dengan pandangan kosong. Kepalanya tetap tertunduk, namun masih dapat memperlihatkan onyx nya yang menggelap.
Perlahan, tangan alabasternya bergerak, meremas dada kanannya dengan kuat.
Terasa dingin dan…
Kosong.
'Sakit,' tangan itu semakin mencengkram dadanya. 'Sakit sekali, Naruto.'
.
.
.
Sementara itu, di Iwagakure…
Minato memandang apartemen di hadapannya dengan pandangan dan ekspresi yang sulit ditebak. Disampingnya, Kushina sang istri mengenggam AK-47 yang tersampir di bahunya dengan geram.
Ini dia, kediaman Uchiha Madara.
"Saatnya kita selesaikan semua ini, Minato." Ujar Kushina datar tanpa melepaskan pandangannya dari bangunan mewah tersebut. Minato mengangguk pelan.
"Benar," sahutnya dengan mantap. "Tapi sebelum itu, Kushina, err…" Minato melirik senapan laras panjang yang bertengger di bahu istrinya dengan takut-takut. "Bisa kau letakkan itu dulu di mobil?" Lanjutnya hati-hati seraya memasang pose ngacir no jutsu andalannya.
Tipe suami-suami takut istri.
"Oh, ini…" Kushina mengedikkan kepalanya santai. "Kau yakin? Apa kau tidak ingin melubangi kepalanya setelah apa yang telah ia lakukan pada Naruto? Minimal mematahkan rusuknya, mungkin?" bujuk Kushina dengan mata puppy eyes yang blink-blink. Minato menelan ludah.
"Hahaha… tapi sebaiknya tidak sekarang. Ada masalah yang lebih penting yang harus kita urus,kan?"
Kushina tampak berpikir sejenak sebelum mencibir. "Baiklah, tapi biarkan aku membawa cairan potassium sianida dan shot gun ini. Kita tidak tahu apa yang menanti kita disana, Minato."
Dengan gerak patah-patah Minato mengangguk. Dalam hati dia membenarkan perkataan Kushina. Namun… tetap saja seringai iblis dan aura neraka yang dikeluarkan istrinya menimbulkan firasat buruk.
'Madara, walaupun kau musuhku, tapi aku berharap kau bisa selamat dan bertobat sepanjang sisa hidupmu. Namun kalau kau mati, tolong maafkan istriku.'
Doa Minato sepenuh hati dihadapan sebuah batu dengan tulisan R.I.P Madara Uchiha di permukaannya.
.
.
.
Sai sedang beristirahat di kasur rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Dia merasa amat resah kali ini. Bukan karena kenyataan bahwa dia akan dianugerahi PR segunung banyaknya karena lama tidak sekolah. Bukan. Dia merasa gelisah hanya karena satu hal.
Naruto.
Menghela napas, Sai menyisir rambut dengan jemarinya. Hell… dia bahkan tidak tahu sejak kapan Kepala Kuning itu sudah mendekam dalam otaknya dan menghantui pikirannya sampai sejauh ini. Apa yang terjadi pada dirinya?
Sepertinya hanya ada satu penjelasan.
Dia mencintai Naruto.
Dan karena alasan itulah dia sampai melakukan hal segila ini.
Ya, dia pasti sudah sangat gila hingga menelepon Madara dan menukar satu aset peninggalan keluarganya untuk mengetahui cara melenyapkan kutukan Naruto. Dan percayalah, harga sebuah tambang berlian bukanlah sesuatu yang murah.
Hmm… ternyata dia orang kaya, eh?
TOK TOK TOK!
Suara ketukan pintu yang persis seperti ketukan penagih hutang membuyarkan lamunannya. Dengan sedikit menggerutu, dia menyahut. "Masuk."
"Yo, Sai." Helaian rambut pendek kuning adalah hal pertama yang dilihatnya. Lalu sepasang sapphire, kemudian sesosok lelaki –ehem– gadis yang tengah menyeringai padanya.
"Ah, Naruto." Sapa Sai kaget, kemudian tersenyum agak canggung. Barusan saja dia berpikir yang 'iya-iya' pada Naruto, orangnya langsung datang. Sepertinya lain kali dia harus berpikir dua kali untuk melamunkan 'sesuatu' tentang Naruto.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Naruto dengan tampang sedikit khawatir. Disentuhnya lengan Sai pelan, seolah ingin mengecek keadaannya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Sai, tersenyum senang. Ah… rasanya sebuah tambang berlian tidak ada harganya jika dibandingkan dengan momen ini.
"Hei, Sai…" tiba-tiba Naruto berubah ke serius mode. "Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa masuk rumah sakit?" tanya Naruto. Sai hanya tersenyum gugup.
"Umm… i-itu karena… well, sebenarnya –"
"Itu karena aku."
Serentak dua insan berbeda warna itu menoleh kearah sumber suara.
"Sasuke." desis Sai tajam. Sasuke yang baru saja muncul dan berdiri dengan kedua tangan di saku celana menatapnya dengan pandangan merendahkan.
Sementara dua orang pemuda nyaris identik itu saling melempar deathglare, Naruto, sang objek perebutan hanya memakan pisang dari keranjang buah yang dibawanya sambil menonton TV.
"Apa maksudmu, 'Suke?" tanya Naruto tanpa melepaskan pandangannya dari layar kaca, santai sekali.
"Aku memberitahukan pada Sai tentang kutukanmu." Jawab Sasuke tanpa dosa.
Mendengarnya sejenak kedua sapphire itu melebar, sebelum sang pemilik menggemakan tawa kecil.
"Oh, kau syok, eh?" tanya Naruto ringan seraya menatap Sai yang juga memandanginya. "Manusiawi. Aku juga sempat syok, walau tidak sampai harus dirawat di rumah sakit sepertimu." Komentarnya dengan nada mengejek. Lalu dia terkekeh pelan, seolah-olah sedang membicarakan hal yang lucu. Ekspresinya sangat cerah dan tidak terlihat tertekan sama sekali.
Mata Sai melebar melihat reaksi Naruto, begitu juga dengan Sasuke walau tak terlalu kentara.
Mungkin… inilah yang membuat mereka berdua jatuh cinta pada gadis itu.
"Jadi," perkataan Naruto membuyarkan keterpanaan Sai. "Bagaimana sekarang? Apa kau akan menjauhiku?" tanyanya. Kedua matanya menatap lekat sepasang obsidian Sai dengan penuh ketenangan.
Mendengar itu Sai hanya tersenyum kecil. "Jangan bercanda. Tidak mungkin aku akan menjauhimu hanya gara-gara hal seperti itu," lanjutnya dengan senyum manis. "Lagipula, di mataku kutukan itu malah membuatmu menjadi lebih… istimewa."
DEG!
"A-Ahahaha!" kali ini Naruto benar-benar tertawa, canggung. "Senang rasanya mempunyai teman tukang gombal." Ujarnya sarkastis, nggak sadar bahwa dia –lebih tepatnya DarkNaru- juga tukang gombal. Malah lebih parah.
Mendengarnya Sai ikut tertawa.
'Aku benar-benar harus mendapatkan dia.' Batin Sai dengan pandangan penuh arti pada Naruto.
"…"
Sasuke, yang sejak tadi hanya mengamati interaksi kedua orang itu di sudut ruangan sambil bersedekap menatap tajam Sai. Dia memang tidak ada niat beramah-tamah atau bergabung dengan pembicaraan hangat ini. Asal tahu saja, dia kesini untuk memenuhi permintaan Naruto. Tidak ada niatan lain.
Awalnya dia berusaha untuk bersikap tidak peduli dengan suasana menyenangkan yang mereka berdua ciptakan. Namun ketika dia melihat mata Sai yang menatap Naruto, dia tersentak kecil.
Dia tahu apa arti tatapan itu.
Seketika itu juga dadanya terasa bergemuruh. Ada sesuatu yang bergejolak disana, menimbulkan rasa panas yang menyebalkan. Dia merasakan ketidaksukaan saat melihat interaksi keduanya yang cenderung err… romantis?
'Apa maksudnya semua ini?' batin Sasuke seraya mencengkram dada kanannya. Rasa sakit ini datang lagi. Dan kali ini jauh lebih menyakitkan.
'Tidak… ini tidak mungkin! Tidak mungkin aku cemburu, kan?' Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. Ini… tidak benar. Dadanya sakit karena akhir-akhir ini dia jarang beristirahat. Ya, pasti begitu.
Dan harus begitu.
Karena kalau benar dia cemburu, berarti dia –
–benar-benar telah jatuh cinta.
Pemuda itu membelalakkan mata. Langsung ditepisnya pikiran aneh itu. Itu tidak mungkin terjadi. Dia berani jamin karena suara itu tidak muncul di kepalanya. Dan selama suara tersebut tidak ada, maka semua akan baik-baik saja.
'Oh, benarkah, Sasuke?'
DEEEGGGG!
Su-suara itu…
Dia kembali.
'K-kau?'
'Merindukanku, eh, Master?'
Membelalak, napas Sasuke tak lagi berhembus.
'Apa yang kau lakukan disini? Pergi! PERGI!'
'Ah, Master… sebenarnya aku mengharapkan sambutan yang lebih hangat. Kalau kau lupa, kita sudah 6 tahun tidak berkomunikasi. Dan aku cukup merindukanmu.'
'Enyahlah kau, Sampah!'
'Aw… aw… aw… itu sakit, lho.'
Napas Sasuke mulai tersengal-sengal. Pupil matanya mengecil.
'DIAM! DIAM KAU!'
'Oh, berhentilah bersikap naïf, Master. Kau tahu bahwa kau sendiri yang memanggilku. Dan kau tahu –'
'KUBILANG, DIAM!'
'–Bahwa aku kembali karena gadis itu.'
'…'
'…'
Dia tiba-tiba menghilang. Suara itu benar-benar menghilang.
Terengah-engah, Sasuke berusaha mengembalikan fokusnya. Dia baru saja mendengarnya lagi. Suara itu kembali. Suara yang selama 3 tahun menghantui pikirannya sejak ia berusia 10 tahun.
Suara yang membuatnya membunuh ibunya.
"Hei, Sasuke! Kenapa kau diam saja? Kau sakit?" suara cempreng Naruto sukses membuat tubuhnya menegang. Dengan liar ditatapnya wajah Naruto yang memandang khawatir dirinya.
"Ti-tidak," menelan ludah, berusaha mengurangi getaran tubuhnya. "Aku baik-baik saja."
"Naru," tiba-tiba suara Sai menginterupsi Naruto yang hendak menghampiri Sasuke. "Aku mengetahui sesuatu, yang kuharap dapat memusnahkan kutukanmu."
Seketika suasana langsung hening.
"A-apa maksudmu?" tanya Naruto, terbata. Sai memejamkan matanya, menghela napas perlahan.
"Madara–" Sai berkata pelan, dan amat menikmati wajah Sasuke yang seketika menegang. "Itu orang yang mengutukmu, dan merupakan…" berhenti sejenak, melirik Sasuke melalui ekor matanya. "Kakek dari Uchiha Sasuke."
"…"
Mata Naruto melebar. Dalam sekejap pandangannya beralih pada sesosok pemuda yang menatap nyalang dirinya.
"Kau?" bisik Naruto tak percaya. Sebagai respon Sasuke hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya walau dadanya terasa amat perih.
"Namun bukan itu inti masalahnya," Sai memecah keheningan yang menyesakkan antara majikan dan butler itu.
"Naruto…" panggilnya dengan nada lembut. "Aku tahu bagaimana cara memusnahkan kutukanmu."
Satu kalimat itu sanggup membuat suasana menjadi hening.
Dengan ekspresi bisa ditebak, Naruto menatap tajam Sai.
"Tapi, Naruto…" bisik Sai seraya menyentuh pipi Naruto dengan jemarinya. "Apa kau keberatan jika memberikan sedikit imbalan untukku?" tanyanya pelan penuh makna. Naruto yang kelewat polos itu hanya mengerenyitkan dahi dan melotot seram, merasa sedang dibodohi dengan kata-kata ambigu.
"Apa maksudmu?"
"Jadilah milikku."
"Hah?" ulang Naruto seraya menempelkan sisi tangannya di telinga, menampilkan gesture yang menyebalkan. Ugh, dia memang tidak sadar situasi, ya?
Sai tersenyum penuh pengertian. Tidak dipedulikannya Sasuke, seolah hanya ada dia dan Si Pirang. "Sederhana, Naruto. Hiduplah bersamaku, dan semua akan sesuai keinginanmu." Jelas Sai singkat tanpa melepas senyumnya. Senyum dengan sedikit guratan kepedihan disana.
'Maafkan aku, Naruto. Namun kali ini, izinkanlah aku bersikap egois sekali saja.'
"Maksudmu, seperti yang ada dalam komik shojo itu? Yang ada aura-aura pinknya itu?" tanya Naruto, merinding ngeri.
"Hahaha… itu tidak seperti yang kau bayangkan. Hanya… habiskan sebagian besar waktumu bersamaku. Itu saja." Pinta Sai. Sungguh permintaan yang terlalu sederhana untuk sebuah tambang berlian.
Oh, kau memang gentle, Sai.
Naruto mengangguk paham. Well, kalau cuma seperti itu tidak ada ruginya, kan? Lagipula, dia tidak mau merepotkan Sasuke lagi. Sudah cukup Sasuke berkorban untuknya. Berkorban waktu, tenaga, dan juga perasaan.
Sudah saatnya… Sasuke bebas.
"Aku setuju."
Dua kata yang dilontarkan tanpa beban itu sukses membuat senyum Sai semakin lebar.
"Aku permisi." Suara dingin nan rendah membuyarkan dunia milik mereka berdua. Sasuke, dengan wajah tanpa ekspresi yang amat dingin menatap mereka intens sebelum keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
"Ada apa dengannya?" bisik Naruto pada Sai. Yang ditanya hanya mengangkat bahu dengan tampang polos.
"Ah, Naru? Kau membawakan sesuatu untukku?" tanya Sai saat matanya menangkap sebuah kotak di meja samping Naruto.
"Oh, iya. Aku membuatkanmu sup tomat. Kau suka?"
"…"
'Sup tomat?'
Mata Sai menyorot miris ke arah pintu yang baru menutup, lalu mengulum senyuman pedih.
"Iya, aku suka sekali."
.
.
.
'Ah, Master… Kau baik-baik saja?'
'Berisik.'
'Bagaimana rasanya? Sakit sekali, bukan?'
'Bukan urusanmu.'
'Seharusnya gadis itu tidak mengiyakan permintaan Si Mayat, Master. Itu sama saja dengan ia meninggalkanmu, bukan?'
Tep.
Langkah Sasuke terhenti.
'Meninggalkanku?'
'Meninggalkanmu setelah semua yang telah kau lakukan untuknya.'
'…'
'Dia lebih memilih orang itu daripada kau.'
'Dia lebih memilih Sai hanya karena dia bisa memusnahkan kutukan itu…'
'Padahal kau telah memberikan semuanya, eh? Waktumu? Tenagamu? Hatimu?'
'Aku telah memberikan hati yang selama ini telah susah payah kuhancurkan…'
'Karena itulah seharusnya dia menjadi milikmu, Master. Hanya milikmu, sebagaimana kau telah menjadi miliknya.'
'Dia milikku…'
'Dan mata sapphire indah itu hanya boleh menatapmu.'
'Kedua mata itu telah ditakdirkan untukku. Begitu juga hatinya...'
'Dia ditakdirkan hanya untuk yang terbaik.'
'Aku adalah yang terbaik. Aku orang yang terbaik untuknya dan tidak ada seorangpun yang boleh merebutnya dariku.'
'Benar. Dia adalah bayaran yang setimpal untukmu atas jasamu sebagai butler, Master.'
'Aku ingin dia. Aku ingin dia. Aku ingin dia sebagai bayaranku.'
'Tidak, Master. Kau buka ingin 'dia'. Kau ingin kematiannya.'
'Apa maksudmu? Tidak! Dia tidak boleh mati.'
'Apa yang kau bicarakan, Master? Kau harus membunuhnya. Walau dia menjadi milikmu, dia hanya akan tersiksa. Dia membencimu, kau pasti tahu itu.'
'Lagipula, tidak ada jaminan bahwa dia akan selalu setia padamu, kan? Manusia di dunia ini banyak, Master. Dan menurutku tidak sulit untuk menemukan orang yang lebih baik darimu.'
'Tidak… TIDAK!'
'Membiarkannya hidup hanya akan membuat dirimu dan dirinya menderita. Dan dengan kematiannya, kalian bisa hidup tenang. Tidak ada beban. Percayalah, dia akan berterimakasih padamu jika kau menghilangkan nyawanya.'
'Tapi kalau dia mati, aku tidak bisa memilikinya…'
'Bicara apa kau? Jika kau membunuhnya, tentu saja kau telah memilikinya. Kau memiliki nyawanya dan jiwanya; hal yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun kecuali kau.'
'Tidak ada siapapun kecuali aku?'
'Tidak ada. Hanya milikmu, Master. Hanya milikmu yang telah mencintainya.'
'Benarkah… Aku mencintainya?'
'Kau mencintainya, Master. Kau sangat mencintainya hingga kau akan membunuhnya, kan?'
'Ya… aku mencintainya.'
'Kalau begitu, bunuh dia.'
'Bunuh?'
'Bunuh.'
'Bunuh.'
'BUNUH!'
Sasuke menengadahkan wajahnya, menyeringai.
"Matilah kau, Naruto."
.
.
.
JDAARRR!
Kepala kuning Naruto yang sedang menautkan jemari di pangkuannya terdongak sedikit. Mata biru kelamnya melirik kearah jendela di samping ruangan. Kilatan petir menyambar-nyambar di luar sana.
Malam ini sepertinya akan terjadi badai.
Perlahan, dilangkahkan kakinya kearah jendela tanpa suara. Entah mengapa… malam ini terasa aneh. Langit cerah tanpa awan, namun tampak jauh lebih gelap dibanding biasanya. Belum lagi kilatan petir dan guntur yang bersahut-sahutan. Buat telinga sakit saja.
Dengan pandangan dingin nan kosong diamatinya ruangan itu. Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk duduk disini, dia tidak tahu.
Tapi harus dia akui, kamar Sasuke ini benar-benar rapi.
Matanya bergulir pelan dan tertumbuk pada perapian mati di hadapannya. Aneh. Sepertinya perapian itu tidak pernah digunakan. Dia tahu Sasuke adalah orang yang sibuk. Namun sesibuk-sibuknya dia, mana mungkin dia sampai tidak sempat menyalakan perapian sejak datang kesini?
Tiba-tiba manik suramnya menangkap sesuatu. Ada gumpalan disana, di sudut dekat arang perapian. Walau di tengah kegelapan seperti ini, dia bisa masih melihatnya.
Menyipitkan matanya sejenak, Naruto melangkah pelan. Diambilnya bola itu dengan sedikit usaha karena terjepit arang. Ini aneh. Orang serapi Sasuke tidak mungkin membiarkan sampah bertebaran seperti itu.
Tenyata bukan bola. Itu gulungan kertas.
Dengan pandangan kosong dibukanya kertas itu. Sedikit dirapikan, dan diusap untuk menghilangkan bekas arangnya.
OTTOGAKURE MEDICAL PSYCHOLOGY CENTRE
NAME: UCHIHA SASUKE
AGE: 11 YEARS OLD
SEX: MALE
CHECK-IN DATE: JULY 12TH 2006
DIAGNOSE: HIGH MENTAL DISORDER
PRA-PARANOID SCHIZOPHRENIA
"Skizofrenia." Bisik Naruto dingin. Safir hitamnya melebar menatap satu kata bercetak tebal itu dengan datar. Lama. "Pra paranoid skizofrenia."
"…"
Melempar kertas itu dengan wajah luar biasa kaku, Naruto berbalik–
"Oh, kau sudah menemukannya, Hime?"
–Hanya untuk menemukan Sasuke berdiri di belakangnya.
Naruto tidak menjawab. Ditatapnya Sasuke dengan matanya yang menusuk dingin. Ada yang berbeda dengan Sasuke. Wajahnya memang tidak terlalu jelas karena gelap, namun Naruto dapat melihat seringai mengerikan terpahat jelas di bibirnya.
Skizofrenia…
"Kau kaget?" kekehan nyaring terdengar menggema di ruangan itu. "Kau tidak menyangkanya, eh? Ah, aku lupa. Kau tidak bisa merasakan apapun. Tapi kuyakin kau akan ketakutan jika melihatku nanti." Lanjutnya dengan nada aneh. Mendengar itu Naruto hanya menaikkan sebelah alisnya sedikit.
"Kau pikir aku peduli?" satu kalimat yang diucapkan dengan nada dingin itu sukses menghilangkan seringai sadis Sasuke. kemudian dia berlalu dari hadapan Sasuke dengan wajah sedingin es nan tak acuh
"Asal kau tahu saja," langkah Naruto mendadak berhenti. Punggungnya membelakangi Sasuke. "Apapun yang terjadi padamu itu bukan urusanku."
Onyx Sasuke menyipit mendengar kata-kata itu. Dengan dingin dipandanginya punggung Naruto yang perlahan menjauh darinya.
"Naruto."
Tap.
Langkahnya lagi-lagi terhenti.
Perlahan Naruto membalikkan badannya. Dan tepat pada saat itu dari balik jendela petir menyambar dengan keras, membuat ruangan yang awalnya gelap mendadak terang dalam waktu sepersekian detik.
Dan dalam waktu sepersekian detik itu, Naruto melihat kilatan kecil di tangan Sasuke.
'Bunuh.'
CRASSHHH!
Pupil Naruto melebar seketika. Rasa perih nan dingin menusuk perutnya, diikuti dengan semburan cairan merah yang terciprat ke segala arah. Dalam kegelapan, mata safirnya menangkap kilatan itu terbenam di tubuhnya.
"Maaf, Naruto," diantara rasa sakit yang luar biasa itu dia masih bisa mendengar Sasuke berbisik. Pisau yang tengah digenggamnya bergetar hebat. Getaran itu membuat rasa sakitnya semakin menjadi-jadi dan membuat pandangannya mengabur.
"Maaf… maaf… maaf… Maafkan aku…" bibir Sasuke tak henti-hentinya bergumam. Bahu dan kepalanya yang tertunduk juga ikut bergetar saat isakan kecil mulai mengalun.
"Maafkan aku, karena telah mencintaimu."
UKH!
Tusukan itu semakin dalam menembus perutnya.
Diantara batas kesadarannya, diantara denyutan nadinya yang semakin melemah, jemari Naruto terangkat. Disentuhnya pipi Sasuke lembut.
Basah.
Dengan susah payah didongakkannya dagu Sasuke, memaksa onyx nya bertatap langsung dengan sang safir.
"Sudahlah," diusapnya air mata yang mengalir di pipi Sasuke. Menyibakkan sedikit rambut raven yang menutupi matanya, dengan lemah Naruto menempelkan dahinya pada dahi Sasuke. "Tidak apa-apa,"
Lalu untuk pertama kalinya, DarkNaru tersenyum tulus.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Bisiknya sebelum darah termuntahkan dan tubuhnya ambruk di lantai yang dingin.
.
.
.
SKIZOFRENIA
Merupakan gangguan jiwa berat dan berbahaya yang tidak bisa disembuhkan, salah satu dari penyakit jiwa paling rumit selain Multiple Personality Disorder–Kepribadian Ganda–
Secara umum merupakan gangguan mental serius yang ditandai dengan gejala psikosis akut, delusi, disintegrasi kepribadian, dan juga halusinasi (auditorik–mendengar suara-suara dalam kepala–visual, maupun gustatorik). Gejala lainnya yaitu alogia (irit bicara), anhedonia (tidak suka berteman), antipati (bersikap tak acuh), hilangnya emosi, dan ketidakmampuan untuk berekspresi. Terkadang diikuti atensional impairmen.
Ada beberapa macam skizofrenia, yang salah satunya adalah skizofrenia paranoid. Tipe ini berbeda dari tipe lainnya, dimana penderitanya tampak lebih waras dan dan normal. Bersikap bermusuhan, fanatik, dan tidak mampu mengatur emosi. Mengalami halusinasi parah dan waham yang berbahaya. Seringkali berhalusinasi ekstrim saat menemui pemicu emosi seperti dendam, kebencian, sakit hati, dan juga…
Cinta.
.
.
.
To Be Continued
Ma-mati… #gemetar# Naruto kok mati?! #mandang syok hasil ketikan sendiri# Se-serius?
WAAAA! Kok ujung-ujungnya gini?! Ini mah genrenya tragedy! Naru-chaannn… maafkan Rei! #nubruk Naruto-ditendang di kepala-#
Gawat. Ini sih death chara namanya. Apa beneran dibuat tewas aja ya, Naru? #dilempar elpiji sama Sasuke#
Jujur, Rei agak bingung sama fic ini. Bimbang, jadinya nanti SasuFemNaru atau SaiFemNaru? Kalo diingat-ingat Sai juga nggak bisa dibiarin gitu aja. Apalagi dia sampe ngorbanin tambang berlian, rasanya sayang banget kalau nggak dapat Naru. Trus rasanya tega banget kalo Naruto sama Sasuke. Sama-sama 'sakit', sih…
Tapi kalau Sasuke nggak dapat Naruto, jadinya… gimana gitu…#menerawang# Ukh! Kenapa jadi plin-plan gini?!
Kushina: Ya udah, lu lelang aja anak gua. Yang paling banyak nawar tarifnya dia yang dapat.
Minato: Ku-kushina… a-anak kita…
Kushina: #nginjek kepala Minato# Busyet! Ribut banget sih lu! Kapan lagi bisa dapet mantu kaya?!
Naruto: Kaa-san…
Kushina: #langsung nyeret Naruto ke butik dan didandanin pake kostum maid# Oi, Mayat! Ayam! Liat nih, Naru-chan!
Sai n Sasuke: #nosebleed mesum# Kami berikan semua harta kami.
Naruto: #nonjok muka Sai n Sasuke# Apaan kalian liat-liat?! Mau gue buat picek mata loe semua?!
Author: Ma-maaf… tapi kita kan baru lebaran nih. Masa' udah berantem?
All: #kaget# Oh, iya ya…
All Chara TSGB: Kami mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannya! Minal Aidin wal Faizin! Mohon Maaf Lahir dan Batin!
Naruto: Eh? Tapi kan udah telat?
Author: Berisik! Oh ya, kalau ada yang bingung sama 'speaks', itu suara dalam kepala Sasuke. salah satu ciri random penderita skizofrenia akut. Err… sebelumnya Rei minta maaf kalau ada yang kurang sesuai, terutama masalah skizofrenia Sasuke. Skizofrenia itu kompleks banget sih, rumit dan susah dipahami.
Ok, udah cukup ngocolnya! Sekarang waktunya balas review!
Meg chan
Iya, Rei juga sependapat kalau kita selalu berpikir positif, hidup jadi lebih mudah, kan? Tinggal ngubah masalah jadi hal yang kita suka, pasti bisa bikin ketawa. #sok tau#
Ha? Respon Naru soal ciuman itu? Hohoho… udah ketauan kan, gimana reaksinya? Nah, kalo mau geplak Naruto sekarang, silakan! #nyodorin sendal# -ditonjok Naru-
Ok, ini udah diupdate! Makasih atas reviewnya, ya~ ^^
Dwidobechan
Yosh, ini udah diupdate! Maaf kalo gak bisa update kilat, ya…
Makasih reviewnya… ^^
Xxruxx
Hiks, iya… tapi sekarang udah baikan kok. Makasih, ya…
Rei selalu usahain untuk cepet update, tapi terkadang malah nggak kesampaian. Maaf ya, kalau mengecewakan #nangis meluk guling#
Ngingatin dengan salah satu sahabat? Ngingatin yang baik-baik, kan? Kalo yang jelek-jelek… #pundung di pojokan# -PLAKK!-
Makasih reviewnya, ya~ ^^
Nia Yuuki
Yoroshiku, Nia-san~
Rei seneng kalau Nia suka sama karakternya darknaru dan naru. Tapi terkadang Rei mikir karakter Naruto disini gaje banget, ya? #dicekik mas kishimoto#
Eh? Rambut Rei juga pendek kok, sampe sekarang. Cepak malah. Tapi nggak pernah dikira kayak cowok… apalagi sampe ditembak cewek. Hehe… #nyengir# berarti Nia itu dulunya ganteng, ya? #dibunuh# -becanda kok!-
Yosh, ini udah diupdate! Maaf kalau lama, dan makasih reviewnya! ^^
Mugiwara eimi
Yoroshiku, eimi~
Eimi #boleh manggil gitu?# suka adegan itu, ya? Rei malah blushing-blushing gaje pas ngetiknya. Rei nggak pernah nulis adegan kissing sih, takutnya malah aneh jadinya. Tapi kalau Eimi suka, jadi seneng deh. Nggak sia-sia dag dig gug tengah malam pas buat adegan kissingnya. #nyengir#
Sama-sama, Rei juga senang bisa buat Eimi senang, apalagi sampe senyum" gaje. Hehehe…
Ini udah update! Makasih reviewnya, ya ^^
Kamikaze no Shinigami
Ini udah diupdate, maaf ya kalau lama…
Makasih reviewnya! ^^
Ririe
Salam kenal juga… ^^
Hehehe… nggak nyangka, ya? Rei juga nggak nyangka mereka bakal 'begituan'. #plakk!#
Nggak karena iseng kok, ada alasannya. Kalo ngutuk cuma karena iseng sih, jahat banget tuh namanya. Ato authornya yang jahat? #garuk-garuk kepala# Alasannya bakal dijelasin di chap depan.
Fufufuf… udah ketauan kan, Sasuke sakit apa? #senyam-senyum#
Yosh! Ini udah diupdate! Makasih, ya reviewnya… #psstt, Rei udah baikan kok#
Geng' Ashikaga Akane
Hai juga~
Eh? Ngapain minta maaf? Geng udah mau baca aja Rei udah senang kok! ,
Oh, iya ya… bener. Ada typo-nya. Makasih ya, udah koreksi! Nanti Rei perbaiki. # Ugh, bahasa indo itu susah juga, ya?#
Err, Rei kena sinusitis n gastritis. hampir kena pneumonia juga. Payah banget, ya? #pundung# Tapi sekarang udah baikan kok! Arigatou buat review dan doanya… ^^
Aoi Ciel
Wah… ganti penname, ya? Keren keren… artinya 'langit', kan? #sok tahu#
Romantis? iya juga sih, sesekali buat mereka ber-manis ria, daripada berantem terus… -_-"
ok! ini udah diupdate! makasih reviewnya, ya…
Kazuki NightNatsu
Egh.#syok berat# Se-selama itukah Rei gak update sampe dilupain cerita chap 8? Hiks, maafin Rei! #nangis guling-guling# Maafin Rei yang udah update lama n buat Sasuke jadi mother complex gitu!
Eh? #syok kuadrat# Kazuki kok bisa nebak? Bener, Sasuke punya penyakit kayak gitu. Udah baca, kan? Di-dia udah bunuh Naru juga.
#kok bisa tahu sampe sedetil itu, sih?# –ngelus dagu–
Ok! Ini udah update. Makasih review dan doanya, ya~ Rei udah baikan kok. ^^
Farenheit July
HIEEE! Maaf, maaf! #sujud-sujud# Maaf Rei lama update. Maaffff…. #nangis#
Hiks, ini udah diupdate. Makasih reviewnya ya, dan maaf karena udah nunggu lama… m(TmT)m
I'm girl in afraidness
Ne? untuk apa minta maaf? Udah mau baca aja Rei udah senang banget kok! Secara kan, Rei masih newbie, jadi ada yang mau baca aja udah syukur, apalagi review. Harusnya sih Rei yang minta maaf karena lama update… -_-a
Eh? Masa'? bagus, ya? Hehehe… makasih pujiannya… #blushing gaje#
Ok! Ini udah diupdate! Makasih reviewnya, ya~
Runriran
Hai, Run… #boleh manggil gitu?#
Err… jangan dibantai, ya? #senyum gugup# Beneran gak boleh dibantai, nih? Ta-tapi #nunjuk fic# kalo ditusuk boleh, kan? #plakkk!#
Salahin Sasuke! Dia yang jadi tersangka! Rei nggak salah! #ngacir ke Bunaken#
Makasih reviewnya, ya!
Sasu-femnaru Lovers
Udah tau kan, Sasuke sakit apa? Yup, dia penderita skizofrenia! #tepuk tangan senang# -dibantai-
Makasih reviewnya, ya!
Utau no Hana
HYAAA! Rei juga kangen sama Utau! #nerjang pake tenaga penuh# -ditendang-
Fufu… entah kenapa Rei seneng banget nistain Sasuke dan buat dia OOC. Ada kepuasan gimana gitu… #diinjek Sasuke FC#
Sejujurnya Rei juga sampe sweatdrop sendiri pas ngeliat hasil ketikan, Sasuke mother complex… -_-a Tapi demi cerita ya, terpaksa dikorbanin si Sasuke.
Udah tau kan, Sasu sakit apa? err… kayaknya penyakitnya aneh bin gawat deh. Hehehe… #nyengir innocent#
Yosh! Ini udah diupdate! Makasih reviewnya, ya…
Uzumaki wulan
Ok! Ini udah Rei update! Makasih reviewnya ya, dan maaf udah lama nunggu~ ^_^\
Namizora ayaka
Yoroshiku ne, Ayaka~
Rei desu! Panggil aja gitu, ya? ^_
Umm, kayaknya Naru nggak selamanya berkepribadian ganda, deh. Kasian… menderita banget pasti. Jadi Rei sebagai author baik nan penyayang jadi gak tega~ #dilempar gallon sama SasuNaru#
Rei seneng Ayaka suka DarkNaru. Jujur sebelum publish fic ini Rei sempet khawatir kalau ada yang benci DarkNaru karena jauh banget dari karakter asli. Tapi syukurlah, ternyata banyak yang suka… #ngusap dada#
Yosh! Ini udah diupdate! Makasih reviewnya, ya~
