DISARANKAN UNTUK MEMBACA CHAPTER SEBELUMNYA
FF INI COMEBACK SETELAH 3 TAHUN LEBIH 3 BULAN
Mohon maaf karena terlambat untuk mengupdate cerita ini
Jangan lupa meninggalkan review ya semua
SELAMAT MEMBACA
.
.
Sudah hampir delapan bulan lamanya mereka bekerja penuh tekanan karena kebohongan dan kepura-puraan untuk menyembunyikan kehamilan Baekhyun yang semakin lama semakin tampak mencolok. Sejak tiga bulan lalu, sejak kandungannya bisa dilihat dengan mata telanjang, Kris menyuruhnya untuk berhenti bekerja sementara. Ini semua demi keselamatan Baekhyun dan seluruh tim.
Bagaimanapun, kesalahan sedikit saja karena kecerobohan seseorang bisa membunuh semua orang yang terlibat di dalamnya.
Tentu saja, ini bukan perkara mudah mengingat harus ada orang lain yang menggantikan tugas Baekhyun tanpa diketahui pusat.
Dan satu-satunya orang yang bisa dipercaya melakukan tugas itu adalah Minseok. Tapi, menyatukan pekerjaan Kris dan Minseok bukan perkara mudah, kedua orang itu benar-benar dua sisi kutub yang berbeda.
Selain diberhentikan sementara dari pekerjaan, Baekhyun juga harus diasingkan. Setidaknya ia harus lepas dari pengawasan orang-orang pusat perusahaan yang mengerikan. Dan sekali lagi, satu-satunya tempat tanpa pengawasan di dunia ini adalah rumah Minseok. Jadi, selama tiga bulan terakhir, Minseok membiarkan Baekhyun, beserta Chanyeol sekali untuk tinggal di rumahnya.
Ini juga yang selalu membuatnya uring-uringan setiap hari.
Sementara hubungan Chanyeol dan Kris sudah agak membaik meskipun diluar tugas, keduanya masih memutuskan untuk tidak saling bicara. Bagaimanapun, Kris adalah orang paling keras kepala yang pernah Chanyeol kenal dan itu juga yang membuat hubungan keduanya masih terasa sangat canggung.
Bahkan orang lain tidak tahan jika harus berada dalam satu ruangan yang sama jika hanya dengan kedua manusia itu.
Chanyeol dan Kris sama-sama memiliki sisi keras yang tak bisa dipahami oleh orang lain.
Sama seperti pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, Chanyeol memarkirkan mobilnya di basement dengan tulisan nama Minseok di depan tempat parkir VIP itu. Tentu saja, sejak tiga bulan menumpang di rumah Minseok dengan alasan harus menjaga Baekhyun, setiap hari ia bisa mengendarai mobil Minseok yang luar biasa.
Bagian terbaiknya adalah ia bisa parkir di tempat paling dekat dengan pintu masuk.
Dengan langkah panjang, ia memasuk lift, menekan lantai paling atas dan siap melakukan pekerjaannya hari ini. Hari baru nyatanya tak seperti hari baru baginya, pekerjaan ini menjadi begitu membosankan karena Baekhyun, istrinya, tidak bisa ia lihat lagi setiap waktu di kantor.
Bicara soal Baekhyun, mereka sudah menikah sejak enam bulan lalu. Menikah secara diam-diam, di rumah Minseok, melakukan pesta sangat tertutup hanya dengan anggota tim dan juga beberapa bawahan Minseok yang seolah meramaikan pesta itu. Hanya ada satu orang asing yaitu pendeta yang menikahkan mereka, itu saja, bukan masalah, yang penting mereka benar-benar sudah resmi menjadi suami-istri.
Beruntungnya Chanyeol, Baekhyun tidak seperti gadis lain yang menuntut pesta mewah meriah untuk pernikahan.
Tentu saja, keadaannya sama sekali tidak memungkinkan.
Pintu lift terbuka di lantai yang ia tuju, dengan satu hembusan napas berat, ia melangkahkan kaki. Menelusuri lantai yang rasanya sudah ia kenal dengan baik polanya, menyesap aroma ruangan yang sudah sangat memuakkan baginya. Chanyeol terlalu lelah dengan semua pekerjaan ini, ia bosan.
"Kusut sekali, Yeol Yeol," celoteh Zitao.
Ia mendengus malas, tidak menghiraukan suara menyebalkan gadis China itu. Apalagi Zitao memanggilnya seolah sedang memanggil anjing peliharaan.
Chanyeol berjalan gontai menuju kursinya, menyalakan komputer dan membaca beberapa email dari ponsel. Tentu saja, semalam ia harus pulang terlebih dahulu karena Baekhyun merasa sakit. Dan pagi ini, ia harus membayar waktunya semalam.
Memulai hari lebih pagi dari semua pulang.
"Hey, kau dengar aku tidak, sih?" protes Zitao lagi.
"Dengar," balasnya malas, menghindari ocehan tidak penting Zitao lainnya lagi.
Gadis itu tidak bicara lagi, Zitao kembali duduk di kursinya, menyesap kopi paginya dengan suara berisik. Dan itu membuat Chanyeol menarik wajah, memandangi gadis itu untuk kali pertama pagi ini. Berbeda dengan kebanyakan orang saat pergi bekerja, Zitao tampak berantakan. Kaus kusut dan celana jeans pendek melekat di tubuhnya. Rambut berantakannya diikat asal ke atas, sementara bagian wajahnya masih setengah basah.
"Semalam kau tidak pulang?" tanya Chanyeol, selesai mengamati Zitao dan menarik kesimpulan bahwa gadis itu belum meninggalkan kantor sejak semalam.
Dengan desahan malas, Zitao menggeleng. "Aku harus menggantikan tugas Yixing untuk sementara,"
"Oh ya? Yixing kemana?"
Zitao menghela napas berat, kali ini entah kenapa mulai terdengar kesal. "Yixing semalam harus memindahkan beberapa barang dari apartemen Luhan ke rumah Minseok,"
"Semalam? Ke rumah Minseok?" tanyanya, dan Zitao hanya menjawab dengan anggukan singkat, masih sibuk mengetikkan sesuatu pada ponselnya. "Kenapa aku tidak tahu?" tambahnya lagi.
"Kau kan menjaga Baekhyun semalaman,"
Chanyeol mengiyakan tanpa suara. "Apa yang mereka pindahkan?"
Kembali, Zitao mendesah malas. "Kurasa Kris benar tentang hal ini, kau benar-benar bodoh," jawabnya, dibalas erangan sebal dari pria itu. "Sebentar lagi istrimu melahirkan dan kau pikir ia bisa melahirkan di rumah sakit biasa?"
"Maksudmu Baekhyun akan melahirkan di rumah Minseok dengan alat-alat yang dipinjam dari rumah Luhan?"
Zitao mengangguk, mengiyakan tanpa suara.
"Apa kau pikir itu tidak berbahaya untuk Baekhyun?" ia menambahkan dengan nada suara yang didramatisir, benar-benar terdengar dilebih-lebihkan.
"Dengar ya," ucap Zitao, benar-benar terdengar kesal sekarang, kali ini ia meletakkan ponselnya dengan kasar, kemudian memandangi wajah bodoh Chanyeol. "Luhan punya peralatan medis yang sama dengan yang ada di rumah sakit dan kita punya satu dokter dengan jam terbang professional. Apalagi yang membuatmu khawatir?"
"Tetap saja," ia menghela napas, menyerah dengan email yang masuk dan menyandarkan tubuh ke bantalan kursi. "Aku tetap berharap Baekhyun bisa melahirkan di rumah sakit normal,"
"Kau pikir Kris akan membiarkan hal itu terjadi?" potong Zitao cepat membuat Chanyeol menutup mulutnya rapat-rapat. "Tidak ketahuan selama delapan bulan saja sudah keajaiban untuk kita," tambahnya.
Zitao ada benarnya juga.
Tapi tetap saja itu berbahaya untuk Baekhyun.
.
.
"Oke, hari ini kita akan mulai tugas baru untuk besok," ucap Kris pagi itu ditengah-tengah ruangan.
Semua orang mendengarkan dengan seksama, kecuali Chanyeol yang memiliki pikiran bercabang. Ia melihat Kris, mendengar pria itu bicara, tapi pikirannya bermain-main disekitar Baekhyun sejak tadi. Bahkan beberapa kali ia memandangi kursi kosong Baekhyun, seolah-olah gadis itu ada dan sedang duduk disana sekarang.
"Ada masalah, Park Chanyeol?" suara Kris yang menginterupsinya tiba-tiba membuatnya menggeleng singkat, mengedarkan pandangan kepada semua orang yang sedang menatapnya sekarang, dan cukup untuk merasa canggung karena ketahuan melamun. "Kau tampak sedang tidak fokus,"
"Aku hanya khawatir tentang peretasan ponsel individu oleh pihak luar," dustanya, membuat Kris memandanginya bingung.
"Jangan khawatir, itu tidak akan terjadi lagi," tambah Yixing dengan suara penuh semangat.
Ia hanya tersenyum singkat pada gadis itu, kemudian kembali menatap Kris. Disana, semua orang mengamati kedua manusia yang seolah sedang bicara dalam diam itu. Baik Kris dan Chanyeol berhenti bicara untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya, Kris memutuskan untuk kembali bicara mengenai tugas yang akan dimulai besok.
Meninggalkan Chanyeol yang kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Kau tidak pandai berbohong, Park Chanyeol," ucap Luhan saat Kris sudah mengakhiri rapat dan semua orang sibuk dengan persiapan tugas besok.
Chanyeol tertawa kecut, menanggapi ucapan gadis itu. "Aku tidak sedang berbohong,"
"Ya, kau sedang melakukannya lagi sekarang," balas Luhan dan ia terkekeh ringan. "Ada apa?"
Chanyeol mengangkat bahu sedikit, menggelengkan kepala beberapa kali, kemudian menghela napas panjang. "Baekhyun," bisiknya nyaris tanpa suara. "Aku hanya khawatir dengan keadaannya sekarang,"
"Yixing bilang rasa sakit yang Baekhyun rasakan itu normal karena kandungannya sudah delapan bulan lebih,"
"Aku tahu, Luhan," ia menatap Luhan yang duduk di sampingnya, kemudian menghela napas lagi. "Bukan itu masalahnya,"
"Lalu apa?" gadis itu mendesak.
"Aku hanya khawatir tentang proses kelahirannya saja,"
Luhan tersenyum, menepuk pundaknya sekali. "Jangan khawatir, Kris sudah meminta bantuan pada dokter lain. Yixing tidak akan menanganinya sendiri. Bahkan jika Baekhyun harus operasi untuk melahirkan, itu semua bisa dilakukan dengan aman tanpa rumah sakit,"
"Tunggu dulu," sela Chanyeol sebelum gadis itu bicara lebih banyak lagi. "Kris mencarikan dokter untuk Baekhyun?" tanyanya dengan nada bicara seolah tak percaya.
"Terkejut, ya?" Chanyeol mengangguk. "Aku juga awalnya, bahkan aku tidak percaya saat Kris meminta tolong Sehun untuk mencarikan dokter yang bisa dipercaya,"
"Sungguhan Kris melakukan itu?" ia tak bisa mengendalikan suaranya sendiri yang seolah-olah penuh semangat sekarang.
Luhan mengangguk yakin, tersenyum lebar pada pria itu. "Sudah kubilang kan, Kris tidak akan tega membiarkan Baekhyun dalam bahaya. Sebenci apapun Kris dengan calon bayimu, dia masih saja menyayangi Baekhyun sebesar itu,"
"Senang mendengarnya,"
.
.
"Hey, Baekhyun sudah tidur?" tanya Chanyeol malam harinya kepada Minseok yang sedang bermalas-malasan di depan komputer menyala di ruang kerjanya.
Tanpa melihat kedatangannya, gadis itu mendengus malas. Dengan sebelah tangan mematikan komputer dan memutar kursinya ke belakang, membuat tatapan keduanya bertemu.
"Kau kemana saja?"
Ucapan Minseok membuatnya mengerutkan kening bingung. Sebenarnya itu bukan pertanyaan yang harus ia jawab, karena secara teknis, Minseok tahu apa yang ia lakukan selama seharian penuh. Bahkan Minseok juga ikut semua kegiatannya tadi siang. Mereka melakukan pekerjaan untuk mempersiapkan tugas bersama-sama.
Lalu kenapa Minseok masih bertanya tentang hal ini sekarang?
Chanyeol sempat berpikir kalau Minseok mengigau malam ini.
"Apa maksudmu? Aku baru saja menyelesaikan urusanku dengan Kris," jawabnya, masih merasa bingung dan aneh. Tapi ia tak punya pilihan lain selain menjawab jujur pertanyaan bodoh itu.
Minseok memutar bola mata sebal. "Baekhyun merengek sejak tadi, aku bisa apa untuk membuatnya tenang?"
"Merengek katamu?"
"Mood swing-nya semakin parah saja,"
"Oke," sahutnya tanpa pikir panjang, kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerja Minseok.
"Chanyeol," suara gadis itu membuatnya berhenti, menoleh ke belakang dengan cepat dan mengucapkan kata apa tanya suara. "Waktunya tidak akan lama lagi,"
"Apa maksudmu?"
"Kelahirannya, bodoh. Kau pikir apalagi?" ucapnya, mulai kesal karena di malam hari ternyata kebodohan Chanyeol masih saja nyata.
Ia memandangi gadis itu dengan mata menyipit, dahinya yang berkerut dalam menandakan ia sedang berpikir. Dan memang ada pikiran yang sejak tadi mengganggunya tentang proses kelahiran ini, sampai sekarangpun, pikiran itu tidak membiarkannya tenang walau sedetik.
"Kapan kira-kira?" tanyanya, putus asa untuk menunggu Minsoek kembali bicara.
Minseok menggeleng ringan, memutar kursinya membelakangi Chanyeol dan kembali menatap layar komputernya. "Tidak lama lagi,"
Sadar Minseok tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh lagi, ia beranjak. Menaiki tangga dengan langkah panjang dan terkesan terburu-buru, ia membuka pintu kamar Baekhyun, tepat dimana gadis itu sedang duduk berbaring sambil memainkan sesuatu di ponselnya.
Ia tersenyum saat pandangan mereka bertemu dan Baekhyun tampak berseri-seri saat melihatnya berdiri di depan pintu masuk.
Istrinya tampak begitu cantik, tentu saja, dalam keadaan apapun, Baekhyun selalu kelihatan sempurna dimatanya. Kaus longgarnya hanya terlihat ketat di bagian perut, sementara selimut tipis menutupi kaki hingga pinggangnya. Dengan tubuh sekurus itu dan perut sebesar itu, Baekhyun tampak sangat rapuh sekarang.
Mengabaikan fakta bahwa gadis mungil itu sudah banyak membunuh orang sebelumnya.
"Hey, apa yang kau lakukan di depan pintu?" bisik Baekhyun, suara lembutnya menyadarkan Chanyeol dari lamunan singkatnya.
Ia tersenyum canggung, kemudian melangkahkan kaki menghampiri Baekhyun yang mencoba untuk duduk dengan susah payah. Gadis itu tersenyum lagi, menggeser tubuh lemahnya sedikit dan memberikan Chanyeol tempat untuk duduk di atas ranjang.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya sekarang. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Baekhyun yang tampak lebih tirus dan lebih dingin dari biasanya.
Kembali, Baekhyun tersenyum. Sebuah senyuman yang menenangkan, menyenangkan untuk dilihat.
"Aku lebih dari baik. Jangan terlalu khawatir,"
Satu hembusan napas berat keluar dari bibir Chanyeol, dan itu membuat Baekhyun memandanginya dengan kening berkerut. "Yixing bilang tidak lama lagi kau mungkin akan melahirkan," ia mengernyit, mencoba mencari kata yang tepat untuk bicara. "Aku takut itu tidak akan berjalan lancar,"
Baekhyun tertawa, sebuah tawa yang terdengar lembut. "Luhan juga bilang kau terlalu paranoid," Chanyeol nyengir. "Luhan dan Yixing sudah membawakanku mini rumah sakit, kau jangan terlalu memikirkan hal ini,"
"Tetap saja, ini yang pertama kali untukmu. Kau kan, belum berpengalaman,"
"Memangnya kau sudah berpengalaman dengan wanita hamil?"
Chanyeol mengumpat tipis, dan membuat gelak tawa Baekhyun kembali terdengar. Gadis itu mengulurkan tangan, mengusap wajah pias Chanyeol dengan tangannya yang lembut, kemudian tersenyum lagi.
"Aku akan baik-baik saja, oke? Kau harus fokus melakukan tugasmu besok. Jangan mengacaukan apapun,"
Desahan ringan keluar dari bibirnya, ia meraih tangan Baekhyun dan mengecupinya beberapa kali. "Tentu saja,"
"Dan jangan sampai pulang dengan luka,"
"Itu selalu kulakukan," potong Chanyeol. "Aku tidak pernah pulang membawa luka,"
Baekhyun tersenyum lembut, menggenggam tangan suaminya lebih erat. "Karena mungkin besok, bukan hanya aku yang menunggumu pulang,"
Ya Tuhan.
.
.
"Pada posisi," suara Chanyeol terdengar nyaring, ia melirik Jongin yang sedang memainkan komputer lipat di kursi penumpang disampingnya, sementara ia mendengarkan orang berbicara melalui earchip di telinga kanan.
Minseok sedang membuat laporan panjang tentang barang bukti yang harus diambil malam ini.
"Oke, menurut rencana, mereka akan melakukan transaksi di sebuah kasino bawah tanah, dua puluh tiga meter dari tempat Suho," ucap Jongin, masih sambil memperhatikan layar komputer lipatnya yang bergerak-gerak dengan cepat.
Chanyeol mengedarkan pandangan jauh ke depan, tempat dimana ia melihat Suho berdiri sambil mengamati dua orang yang sudah menjadi target sejak beberapa minggu lalu. Suho tampak sedang batuk dan suara dehaman terdengar ditelinganya.
"Peretasnya masih terlacak?" tanya Luhan.
"Hanya sampai mereka masuk dalam area bawah tanah," balas Jongin.
"Tak bisakah kau melakukan seperti yang biasa Yixing lakukan, Kim Jongin?" protes Sehun, suara pria itu terdengar keras ditelinganya. Sehun berada sangat jauh dari target, jadi ia bisa berteriak tanpa khawatir penyamarannya terbongkar.
"Aku berusaha, bodoh," sahut Jongin kesal, kembali menekan-nekan keyboard komputer lipatnya dengan cepat.
Sementara Yixing harus absen dalam tugas kali ini, ia harus menjaga Baekhyun sekarang mengingat waktu persalinannya mungkin tidak akan lama lagi.
"Oke, aku pada posisi," bisikan Luhan nyaris tak terdengar. "Ada empat orang tambahan yang masuk ruang bawah tanah," bisiknya.
"Kau dimana? GPSmu tidak bekerja," Jongin menyahut.
"Saluran udara ruang bawah tanah, kau pikir aku ada dimana?" ia masih berbisik.
"Oke, target akan masuk sekarang," tambah Chanyeol, memberikan isyarat pada Suho untuk tetap pada posisi. "Suho, kau bisa berjalan mendahului mereka,"
Tanpa bicara, Suho melakukan apa yang Chanyeol minta. Dan suara Zitao yang terengah-engah terdengar ditelinganya sekarang.
"Aku ketinggalan sesuatu?" tanya Zitao.
"Kau dimana?" balas Luhan dengan suara tipis.
"Begitu kau lempar bom asapnya, aku sudah siap menarik pelatuk,"
"Tahan," Kris menginterupsi. "Jangan sampai ada peluru sebelum mereka melakukan transaksi,"
Suara desahan kecewa Zitao terdengar jelas. "Oke," sahutnya malas.
Para target berjalan santai memasuki sebuah bar, tepat dimana Suho sudah masuk mendahului dan Sehun sudah berada di dalam sana. Sementara Chanyeol mulai menekan pedal gas perlahan untuk membuat mobil bergerak pelan lebih dekat.
"Chanyeol, kau bisa keluar sekarang," kata Kris.
Tanpa bicara, pria itu keluar dari mobil, menekankan senjata apinya lebih dalam di balik saku mantel dan berjalan dengan santai. Sementara suara-suara musik keras mulai terdengar ditelinga –suara dari Suho dan Sehun yang sudah berada di dalam kelab malam.
"Dua belas meter dari target," Chanyeol menambahkan. "Tidak ada kamera yang bisa diretas disini,"
"Ya, aku tau," balas Jongin kesal. "Sial, aku butuh sinyal,"
"Makanya kau jangan selalu menggantungkan hidup pada Kyungsoo, Jongdae, dan Yixing. Sekarang mereka tidak ada kau bingung sendiri," gerutu Minseok.
Terdengar suara menahan tawa dari semua orang dan Jongin yang mengumpat tipis. "Inilah kenapa tidak seharusnya Kris meminjamkan Jongdae dan Kyungsoo pada tim lain,"
"Fokus, Jongin," Kris mengingatkan "Bukan masalah jika tidak bisa terlacak lagi, Sehun dan Suho akan mengikuti mereka dari dalam,"
"Tunggu dulu," sahut Luhan. "Kau bilang mengikuti sampai masuk ke ruang bawah tanah?" ia berbisik sangat pelan.
"Kenapa, Luhan?" sahut Chanyeol dan Sehun hampir bersamaan.
"Bom asapnya?"
"Jangan khawatirkan kami," jawab Suho diiringi satu tawa renyah.
"Dia mengkhawatirkanku," balas Sehun.
"Teman-teman, bisa tidak kita tidak bercanda sekarang? Ini masalah penting," protes Zitao yang diam sejak tadi.
"Kalian hanya terlalu paranoid karena kekurangan orang malam ini," tambah Sehun. "Santai saja,"
"Mereka masuk sekarang," Chanyeol menginterupsi. "Suho, ada dua orang dengan senjata di pintu masuk ruang bawah tanah. Satu lagi di pintu belakang,"
"Sehun putar kearah belakang," tambah Kris.
"Selalu aku mendapat tugas yang lebih mudah," rengek Sehun.
"Menghindari kau akan membuat kesalahan," jawab Kris singkat. "Chanyeol, ambil alih dari sana. Mereka tidak akan melakukan apapun diluar rencana,"
"Apa maksudmu?" kali ini Minsoek menyahut.
"Aku tidak mengerti," Chanyeol menambahkan.
"Ambil alih tugas, setelah transaksi dilakukan, lumpuhkan mereka semua. Ambil barang bukti seperti rencana awal dan lakukan pembersihan sesuai prosedur. Zitao dan Luhan akan mengambil alih pembersihan malam ini," Kris menjelaskan panjang lebar.
"Tunggu dulu, Kris," suara Jongin terdengar keras. "Apa yang kau lakukan? GPSmu bergerak menjauh. Kau mau kemana?"
"Kris?" panggil Zitao.
"Ada panggilan penting, aku harus pergi sekarang," tambah Kris, kemudian suaranya menghilang.
"Apa yang terjadi?" tanya Minseok.
"GPS Kris menuju rumahmu, Minseok," jawab Jongin cepat.
"Baekhyun," ucap Chanyeol tanpa sadar. Pikirannya kembali berfokus pada gadis itu dan seolah-olah sekarang tubuhnya tidak berada disana, seolah ia menghilang dari tempat dimana ia berdiri. Pikiran sempitnya mulai membayangkan apa yang terjadi dengan Baekhyun hingga harus membuat Kris buru-buru pergi.
"Oke, sekarang waktu yang tepat," suara Zitao menginterupsi Chanyeol dari pikiran-pikirannya.
"Chanyeol," panggil Suho.
"Tunggu," jawabnya dengan suara nyaris habis, berusaha menyadarkan diri sendiri. "Sekarang," ia nyaris berteriak.
Kemudian suara bising terdengar mendengung-dengung ditelinganya, cukup bisa mengalihkan pikirannya mengenai Baekhyun.
.
.
TBC
EPILOG SETELAH AUTHOR'S NOTE
(BELUM END – HANYA EPILOG PER-CHAPTER)
.
.
SEKALI LAGI MAAF JIKA AUTHOR TERLAMBAT MENGUPDATE FF INI
Sebenarnya FF lainnya pun terlambat update tapi Author berusaha mencoba untuk melanjutkan.
Bukannya tidak sempat mengupdate FFini, tapi Author nunggu ada feel baru menulis chapter selanjutnya dari FF ini. Karena kalau tidak dapat feel-nya, khawatir akan mengecewakan.
Semoga saja chapter ini tidak mengecewakan meskipun terlalu lama update.
Author harap masih ada yang membaca FF ini, meskipun tidak yakin banyak yang masih nunggu.
Jangan lupa review ya semuanya~
With love,
lolipopsehun
.
.
EPILOG
"Apa yang terjadi?" Kris nyaris berteriak saat berlari menerobos rumah Minsoek. Ia melihat Yixing berada disana, berkutat dengan komputer yang menyala. Wajahnya dipenuhi ketegangan dan beberapa kali umpatan tipis keluar dari bibirnya.
Gadis itu tidak langsung menjawab karena pandangannya terpaku pada layar yang bergerak-gerak naik turun sementara jemarinya juga bergerak sangat cepat hingga nyaris tak terlihat. Kris berusaha melihat, berusaha membaca apa yang sedang Yixing lakukan tapi ia sama sekali tak mendapatkan petunjuk dari layar komputer itu.
Baru kali ini ia melihat tampilan komputer yang seperti itu.
"Apa itu?" menyerah untuk menerka, Kris akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Pusat mencoba meretas sistem keamanan rumah Minseok karena mereka pikir semua orang sedang di lapangan sekarang," sahut Yixing tanpa memutuskan perhatian dari layar komputer. "Pusat sedang berusaha menyelidiki apa yang sedang terjadi di rumah Minseok sekarang,"
"Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Apa yang mereka gunakan?"
"Ini virus baru yang dikembangkan di Hongkong akhir tahun lalu dan kurasa mereka sudah mahir menggunakan virus ini untuk meretas sistem," tambah Yixing. "Sial, ini nyaris-nyaris gagal sejak tadi. Andai saja di markas, aku bisa mengendalikannya dengan mudah,"
"Kau bisa mengatasinya sendiri?"
"Kucoba, tapi sambungkan clear call pada Jongdae atau Kyungsoo. Jaga-jaga kalau aku butuh bantuan,"
"Oke," sahut Kris, kemudian mulai menekan-nekan layar ponsel untuk membuat panggilan.
"Ah, sial," ucap Yixing lagi, seolah baru saja mengingat sesuatu. "Aku lupa," tambahnya, kemudian berhenti bicara karena kembali sibuk dengan komputer.
"Ada apa?"
Yixing menekan tombol enter beberapa kali sebelum kemudian berhenti dan menarik napas. "Baekhyun sedang proses melahirkan di atas. Hanya ada dua dokter disana, kau bisa masuk dan membantu mereka sementara aku melindungi kalian semua dari pusat,"
"Apa kau bilang?" Kris membulatkan mata, kemudian melirik lantai dua rumah Minseok. "Sekarang?"
"Ya, cepat pergi,"
"Sial," umpat Kris sembari berlari menaiki tangga.
Dan saat membuka pintu berwarna gading pucat itu, ia bisa melihat Baekhyun terlentang dengan kedua kaki terbuka lebar di atas ranjang yang lebih mirip dengan ranjang rumah sakit. Dua orang dokter yang ada disana sedikit terkejut karena kedatangannya, tapi kemudian mereka menundukkan kepala sedikit saat menyadari siapa yang datang.
Lalu kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Satu orang berada di dekat kaki Baekhyun sementara satu lagi di dekat kepala.
Sedangkan Baekhyun mengerang kesakitan, berusaha mengatur napas melalui mulut dengan suara yang terdengar mengerikan.
"Baekhyun," panggilnya, tapi gadis itu tidak menyahut, ia hanya kembali berusaha mengatur napas dan mendesah kasar.
"Kalau kau tidak keberatan, tolong bantu Baekhyun mengatur napas," ucap salah satu dokter. "Pegang agar kepalanya tetap berada diatas bantal,"
Seperti orang bodoh, ia berjalan perlahan mendekat, berdiri tepat disamping tubuh Baekhyun. Matanya masih menatap gadis itu dengan pandangan bingung, takut-takut, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara Baekhyun benar-benar tampak kesakitan, suara erangannya terdengar mengerikan, dan peluh membasahi seluruh tubuhnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" ia tak bisa menyembunyikan nada suaranya yang terdengar panik, memandangi dua dokter itu dan Baekhyun bergantian.
Kris memang pernah mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang mengancam nyawa. Bahkan bisa dibilang sering dan selalu. Tapi ini berbeda, kali ini, ia harus menyaksikan orang yang ia sayangi layaknya adik sendiri, merasakan kesakitan. Baekhyun sedang berada diambang hidup dan mati, mungkin. Dan Kris tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Baekhyun mengurangi rasa sakitnya.
Sungguh, pemandangan ini adalah sesuatu yang baru untuknya.
"Pegangi dia," ucap salah satu dokter, memerintah Kris dengan tidak sopan.
Dengan cepat, ia meraih tangan Baekhyun yang basah karena berkeringat. Ia menggenggam tangan gadis itu erat-erat sementara Baekhyun mencengkeramnya. Baekhyun masih mengatur napas, berusaha mendorong sesuatu yang tak bisa Kris pahami.
Butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk menarik napas, membuangnya, kemudian mendorong lagi. Suara erangannya terdengar mengerikan ditelinga dan Kris berusaha menahan diri untuk tetap berdiri disana, mencoba menguatkan Baekhyun padahal dalam hati ia menguatkan diri sendiri.
Otaknya tidak bisa diajak berpikir lebih jauh lagi sekarang.
"Sedikit lagi, Byun Baekhyun. Kau luar biasa, kepalanya sudah kelihatan," suara dokter itu terdengar penuh semangat menggebu-gebu.
"Kepalanya, kau bilang?" Kris nyaris berteriak, sementara sang dokter memandanginya dengan tatapan aneh.
"Dorong sedikit lagi, Baekhyun," tambahnya. "Sebentar lagi akan selesai,"
"Baekhyun, apa yang harus kulakukan?" frustasi dengan keadaan itu, Kris tak bisa memikirkan hal lain selain merengkuh tubuh Baekhyun dalam pelukannya, membiarkan suara erangan tertahan Baekhyun teredam didadanya.
Ia ingin membuat Baekhyun tenang, meskipun dalam dirinya sendiri berkecamuk.
"Ah, ini sakit sekali," ucap Baekhyun dengan suara nyaris habis, jemari lemahnya mencengkeram punggung Kris sementara ia masih terus mengatur napas untuk mendorong bayinya keluar.
Kris hanya bisa mengernyit menahan ngilu menyaksikan Baekhyun kesakitan.
Satu dorongan penuh diiringi dengan teriakan Baekhyun membuat Kris mau tak mau memperkuat pelukannya pada gadis itu. Untuk sesaat Baekhyun tidak bernapas, gadis itu memejamkan mata kuat-kuat, sebelum akhirnya mendesah lega.
Detik berikutnya suara tangisan bayi terdengar nyaring ditelinga.
Ini sudah berakhir.
Ini sudah selesai.
Tanpa sadar, Kris mendesah lega. Ia melonggarkan pelukannya pada Baekhyun dan membiarkan gadis itu bernapas dengan tenang. Peluh membasahi seluruh wajah piasnya dan air mata keluar dari mata tipisnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kris dengan suara yang terdengar bergetar.
Baekhyun mengangguk, dadanya naik turun dan napasnya tersengal. Ia tersenyum, terlihat sangat bahagia sekarang. Seolah rasa sakit yang baru saja ia rasakan adalah hal yang membuatnya senang. Seakan-akan ia bersyukur karena merasa kesakitan.
"Aku akan mulai menjahit lukanya sekarang," ucap dokter itu lagi. "Kau baik-baik saja?"
Baekhyun mengangguk. "Ya, sangat baik, dok," ucapnya dengan suara parau.
Satu orang dokter yang tadi membawa bayi Baekhyun, kembali masuk ke kamar, kali ini dengan menggendong bayi yang sudah ditutupi selimut berwarna putih. Kris melihat bayi itu dan Baekhyun bergantian, sang bayi berhenti menangis sementara wajah Baekhyun berseri-seri menerima uluran bayi itu dari dokter dengan hati-hati.
"Selamat Baekhyun, bayimu laki-laki. Dia sehat dan sempurna," ucap dokter itu.
Air mata Baekhyun kembali menetes saat menggendong bayi kecil itu, merengkuhnya dalam pelukan hangat dengan sangat hati-hati seolah itu adalah barang antic pecah belah. Lalu dengan senyum bahagia menghujani wajah mungilnya dengan kecupan lembut. Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana bahagianya Baekhyun saat melihat bayi dalam gendongannya itu.
Bayinya.
Sedangkan Kris berdiri mematung, memandangi Baekhyun dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan lega karena Baekhyun sudah berhasil melewati semua ini dengan baik dan selamat. Dan juga ada perasaan bersalah yang seolah menghantamnya sejak tadi. Rasa bersalah yang menggerogoti hatinya, membuatnya merasa sangat menyesal.
Hatinya terasa berdenyut nyeri.
Ya, ia ingat betul pernah berusaha menyingkirkan bayi itu sejak dalam kandungan Baekhyun.
Dan sekarang, ia membayangkan dirinya sendiri sebagai monster kejam mengerikan karena berniat membunuh bayi tak berdosa itu.
Bayi yang sekarang menjadi alasan Baekhyun bahagia.
Dengan senyum miris, Kris mengusap wajah Baekhyun yang berpeluh, membuat gadis itu menatap kearahnya dengan pandangan bingung. Ia memandangi Baekhyun dan bayinya bergantian, kemudian mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut beberapa kali.
"Maafkan aku, Baekhyun. Maaf untuk semuanya," bisiknya dengan suara yang terdengar menyedihkan, kemudian berjalan perlahan keluar dari ruangan.
Sampai diluar ruangan, ia mengambil ponsel dari saku celana, menekan layarnya beberapa kali. Ia menghela napas panjang sambil menunggu orang di seberang sana menerima panggilan.
"Kris. Apa semua baik-baik saja?"
"Ya, baik, Chanyeol," ia berhenti sebentar untuk menarik napas. "Kau seharusnya yang menemani Baekhyun saat ia melahirkan,"
"Baekhyun sudah melahirkan?" Chanyeol nyaris berteriak diujung sana.
Kris tersenyum. "Ya, selamat, kau resmi menjadi ayah sekarang. Dia laki-laki, tampan sepertimu," Chanyeol tidak menjawab sementara Kris menarik napas panjang. "Aku minta maaf untuk semua yang pernah kulakukan padamu dan Baekhyun tentang bayi itu,"
"Kris,"
"Cepatlah kemari, keluarga kecilmu sudah menunggu, Chanyeol," bisiknya, mematikan sambungan telepon sepihak, kemudian mengusap ujung matanya yang basah.
Apa yang membuatku menjadi monster sekejam ini?
