"Lepaskan!"

Dua orang saling tarik menarik itu berjalan menyusuri lorong sepi di belakang gedung St. Konoha President. Pemuda tak mau mendengar keluhan wanita ditariknya hingga meringis luka perih di sekujur lengan digenggamnya. Akibatnya, wanita itu hanya bisa mengerut lucu pada ketegasan pemuda di depannya.

"Lepaskan aku sekarang juga atau aku teriak!"

Langkahnya terhenti, wanita itu menghentakkan tangannya dari genggaman sang pemuda. Menatap tajam ke arah pemuda yang menatapnya dengan tenang tanpa ada emosi. Wanita menggeram.

"Aku benci kamu! Aku benci tatapanmu!" serunya menghebohkan.

Pemuda mendengus. "Aku tidak peduli pada pernyataanmu itu! Karena aku tahu, kamu tidak benci sekali sama aku!" katanya percaya diri. Wanita tercengang mendengarnya.

"Apa kamu bilang?!"

"Kenapa kamu membuat berita palsu seperti itu?" tanyanya tak menghiraukan kerisauan wanita di depannya sambil menenggelamkan kedua tangan di saku celana. "Apa kamu ingin membuat seseorang cemburu?" tanyanya berspekulasi.

"Ya!" Wanita itu setengah berteriak, menatapnya nanar. "Aku ingin kamu cemburu! Cemburu melihatku bersama Sasuke-sensei! Cemburu pada Sasuke-sensei tiba-tiba saja aku cium! Tapi, apa aku terima? Kamu menyakitiku dengan gaya santaimu itu! Aku capek seperti ini hanya untuk melihatmu sebentar walau aku satu atap bersamamu sebagai pasangan suami isteri!" tangisnya menutup wajahnya.

Pemuda itu mati gaya. Tak menyangka wanita sudah berstatus isterinya tersebut mengatakan keluh kesahnya dalam pernikahan mereka. Pemuda itu merasa bersalah. Pemuda itu bukannya tidak cemburu, tetapi ini demi menjaga rahasia selalu dipegangnya semasa di dalam sekolah.

"Aku mengerti," kata pemuda menenangkan, mengelus lengan wanita lebih tinggi akibat high heels dikenakannya mencapai 20 centi. "Kamu telah berhasil, Sayangku."

Wanita menurunkan kedua tangan, mengangkat kepalanya melihat pemuda itu ada di bawahnya. Nyaris ingin memeluk sebelum ada pekikan di belakang mereka membuat mereka tersadar mereka tidak sendiri.

"He? Suami isteri?"

Dan itu adalah Naruto dan Gaara.

.

.

Question & Answer

.

DISCLAIMER: NARUTO belong to KISHIMOTO MASASHI

WARNING: High School version. Ada typo. Out of Characters. Deskripsi biasa. Alternate Universe. Genre: Romance, Fluff, Family, Friendship, Humor

.

Chapter 10: Relationship?

.

.

"Benarkah itu?" tanya pemuda jabrik mirip durian berdiri di sana.

Mengapa mereka berada di sini?

Balik lagi ke belakang di mana Naruto dan Gaara melihat Shikamaru menarik tangan Temari-sensei dan membawanya pergi ke gedung belakang sekolah sangat sepi dan jarang dimasuki oleh anak-anak kecuali ekstrakurikuler. Mereka berdua sangat penasaran setengah mati—kecuali Gaara ditarik paksa Naruto karena Naruto sangat takut terjadi apa-apa, misalnya ketemu dengan hantu.

"Gaara, kamu merasa aneh dengan perlakuan Shikamaru dengan Temari-sensei?" tanyanya sambil mengendap-endap tanpa melepaskan tarikan tangannya.

Pemuda berambut merah berwajah datar, mengedikkan bahu. "Maksudmu mereka memiliki hubungan?"

"Bisa jadi 'kan? Sama seperti Sasuke-sensei dan Saku—adauw, sakiit!" ringisnya kesakitan, mengusap kepalanya dijitak Gaara menggunakan sebelah tangan. "Kenapa main jitak?"

"Mulutmu sekalian dilakban. Tidak enak didengar orang. Kamu mau aku mutilasi kamu supaya kamu tidak berbicara keesokan harinya?" ancam Gaara menatapnya biasa saja—datar. Naruto menegak ludah.

"Kalau aku dilakban mulutnya, bagaimana bisa menjaga Sakura?" Mata Naruto menangkap dua orang saling memarahi, sebenarnya hanya Temari-sensei menceritakan semua curahan hatinya sering dipendam selama ini. "Mereka—"

Gaara mendorong tubuh Naruto ke depan. "He? Suami isteri?" pekiknya mengagetkan dua orang nyaris berpelukan karena rindu. Mata dan mulut Naruto membuka lebar, untung ditutup sama Gaara karena ada lalat hamper masuk ke dalam mulut berbau ikan goreng bikinan sang Bunda.

Seperti sekarang, Naruto belum mendapatkan jawaban. Naruto gemetaran tidak enak, gelisah terus menerus. "Kenapa kalian belum mengatakan apa-apa? Kenapa Temari-sensei ada hubungan dengan Shikamaru mau bekerja di sekolah ini? Lalu, Temari-sensei untuk apa bertunangan sama Sasuke-sensei kalau kalian masih ada hubungan? Kenapa memancing-mancing Shikamaru sampai-sampai Shikamaru tadi hampir dimarahi oleh Kabuto-sensei?" tanyanya memberikan pertanyaan bertubi-tubi.

"Kalau menanyakan itu harusnya satu-satunya. Seperti wartawan saja!" Gaara menjewer telinga Naruto, menatap kedua orang di depan masih diam. "Biarkan aku menjawab, kalian sama seperti dua orang—jangan sebutkan itu di sini—menutupi rahasia tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Temari-sensei sengaja bekerja demi mencari perhatian si wajah malas dan tenang—jangan sebutkan, karena aku malas. Temari-sensei sengaja juga yaitu memancing pandangan si wajah malas selalu menatap sensei, benar 'kan? Dan terakhir, itu adalah bohong karena kami cepat-cepat gara-gara anak aku jewer ini tidak sabaran. Selesai," jelasnya tandas. Shikamaru melongo takjub pada penyampaian Gaara menjawab sesuai pertanyaan Naruto. Temari-sensei semakin malu, bersembunyi di punggung Shikamaru.

"Lepaskan tanganmu di telingaku, Gaara!" teriaknya menepiskan tangan itu. Gaara tak peduli, memelintir sedikit di telinga saudaranya, gemas. "Aduuh!"

"Hubungan kalian sama rahasianya pada dua orang belum bisa menceritakan." Gaara bersedekap menantang. "Kuharap Temari-sensei mengajukan surat pengunduran diri sebelum orang-orang belum tahu rahasia ini semakin mencurigai apa kalian lakukan, misalnya bermesraan."

"Astaga, Gaara, aku belum tentu melakukannya." Baru kali ini Gaara selalu jengkel pada ucapan dicampur desahan dilontarkan wanita seksi di depannya. Semoga saja, dia tidak punya calon isteri seperti itu. Mana tahan, rasanya mau minggat. "Aku 'kan baru sebulan di sini, masa pergi begitu saja. Aku mau di sini kami bisa bermesraan."

Jantung Naruto berdetak, dirasakannya lewat tangan Gaara. "Dengar, jantungku rasanya mau copot."

"Berlebihan!" jitaknya, lagi. Gaara menatap tajam pada keduanya, tak mau berlama-lama di kandang menguras tenaga meladeni dua orang sepertinya ingin memulai pertarungan di tempat sepi—kalian pasti tahu maksud Gaara. "Aku berikan dua jam untuk melaksanakan perintah. Apabila tidak menyelesaikan dalam hari ini sebelum sore, aku yang bakalan mendepak kalian atau anak kalian paling manis itu aku culik sampai kalian tidak melihatnya lagi!" ancamnya benar-benar keji.

Naruto terperangah, bertepuk tangan. Tidak ada pembicaraan lagi, kali ini Gaara menarik paksa Naruto meninggalkan keduanya. Mereka pun tidak berbicara apa-apa. Namun, karena terlalu rindu, Shikamaru mendorong tubuh Temari bersandar di dinding. Mereka melakukan hal-hal berbau panas.

Anak kecil jangan melihat, ya!

.

.

.

Di UKS, pemuda berambut merah sutera—bernama Sasori—menunggu Sakura yang tertidur. Sudah lebih beberapa menit lalu, gadis ini belum membuka mata hijau disukai Sasori. Sasori berniat mencium Sakura meski dalam ruangan sepi. Ino dan Tenten belum menunjukkan batang hidungnya karena harus mengambil barang-barang di kelasnya, makanya mereka pergi sedari tadi.

Tangan Sasori terangkat, mengelus pipi mulus Sakura. Dicondongkan tubuhnya ke depan, meneliti wajah Sakura sangat damai dalam tidurnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Sasori mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi sekaligus bibir Sakura, ikut mencicipi bagaimana rasa beraroma manis itu setiap kali mereka berpapasan.

"Sakura ..."

Sasori menutup matanya, akhirnya mendekati hingga bibir itu disentuh. Bibir ke bibir saling menempel, Sasori melumatnya pelan. Namun, rasanya tak sama seperti rasa selalu dilihatnya.

"Sa—Sasori ..."

"Sakura ..."

Pemuda berambut merah membuka matanya melihat wajah disukainya itu, melotot maksimal siapa menciumnya kali ini. Seringai itu muncul dan akhirnya pemuda itu pun berteriak.

"Kyaaa!"

"Berisik!" Palu sering digunakan untuk memperbaiki sesuatu mendarat di kepala Sasori hingga pemuda itu pingsan sampai mata berputar-putar riang. Gaara tersenyum pada teman Sasori sudah lama menyukai Sasori meski dalam diam. "Terima kasih, Deidara-senpai. Lebih tepatnya sudah membangunkan Sakura dan menyelamatkan dari setan pencium. Berarti kita impas, bukan?"

Mereka ber-high five, saling menyalami satu sama lain. Naruto terkejut di tempatnya. Sakura mengkerut ketakutan. Deidara menyeringai mantap. Gaara tersenyum licik. Kemudian terakhir, Sasuke membeku.

"Saatnya perang dimulai!" Gaara memantapkan diri. "Karena Deidara-senpai sudah balik dari luar negeri akibat pertukaran pelajar, maka kita atur strategi karena aku merasa sebentar lagi orang itu muncul sendiri di sekolah ini."

Naruto duduk berjongkok memandangi wajah Sasori dan focus pada bibirnya ada bekas ciuman berwarna kuning. "Ckckck! Ciuman pertama diambil sama laki-laki. Tamatlah riwayatmu, Sasori-senpai," katanya geleng-geleng kepala.

Pemuda berambut kuning berkepang ekor kuda membopong tubuh Sasori layaknya karung beras, membungkukkan badan. "Terima kasih sudah menjaga buah cintaku ini."

"Gaara, korek kupingku. Rasanya agak sensitif dengar kalimat menjijikkan itu." Gaara malah menggigit telinga saudaranya tanpa ampun. "Gyaaa! Ini sih, bukannya dikorek tapi mengundang kematian. Gaara! Lepaskan!"

Sakura tertawa melihat dua orang itu, terkaget-kaget pada kecepatan kilat dilakukan oleh Sasuke. Ciuman super kilat membuat Sakura bersemu merah.

Sebentar lagi, saatnya tiba di mana kedua insan ini melakukan aksinya besar-besaran. Sementara pemuda berambut abu-abu tersenyum licik karena membayangkan kemarin dia ditolak, hanya menangis tersedu-sedu di atas atap sekolah.

Uh, kasihan sekali.

To be continued ...

.

A/N: Akhirnya chapter di mana SasuSaku sedikit sekali ditampilkan, akan berubah full SasuSaku di chapter 11 sampai selesai! Itu baru proyek! Tapi, sebentar lagi sudah selesai. Jika kalian merasa aneh dengan fic ini, alurnya apalagi. Saya kasih tahu, chapter 1 adalah pertanyaan dan chapter 2 adalah jawabannya. Chapter 2 adalah pertanyaan dan chapter 3 adalah jawabannya. Begitu seterusnya! XD

Kalian tidak membayangkannya? Maaf, banyak pengulangan kata-kata. Saya sadari itu begitu pun typo merajalela di mana-mana, itu saya sadari. Tapi, karena saya menggunakan opmin jadinya saya tidak bisa mengedit. Maafkan saya :'(

Maaf juga kalau chapter ini agak datar dikarenakan chara tertentu sangat mendominasi.

Terima kasih sudah membaca dan review ... heuheu

Sign,

Zecka Fujioka

Date: 05 Januari 2015