Karena ini BAB terakhir, maka author mengambil kebijakan untuk membalas review terlebih dahulu. Gapapa kan, ne?
Zira : gapapa chingu… gomawo ne udah berkenan mampir… ne, semua orang baik disini chingu… muehehehe… Yoochun? Ga usah di ragukan dia maa… hha
Nara-chan : gomawo Nara-chan udah berkenan mempollow. Sering-sering mampir ne~. Ne author mesti cari dana tambahan biar bisa kredit laptop baru *ketahuan deh author setan kridit. lol*. Jangan di kurung, chingu, kasian umma #dipeluk-umma. Author juga ga tega liat appa gantung diri. Fufufu.
gery miku : jyahhh… pakenya bantal… lol. Ini endingnya chingu…! Ne, author tahu, author emang nggemesin sih #plak
aku suka ff : ne… sudah tamat chingu… gomawo ne *peluk*
rivisofayy : welcomeee~ \(^o^)/… Yonghwa suka ke Jaemma karena Yunppa suka ma Jaemma. Intinya Yonghwa itu pengen ngikutin Yunppa! #ditendang-Yongyong
jung jaemi gk login : jinjjayoo? Aihh… gomawo ne~… author emg keracunan pelem korea nih kayanya. Muehehehe…
Yunii : Yo ! Yo ! Yo ! Ini finalnya chingu… monggo di baca, neee~
Nina317Elf : *hug balik*, chingu jangan Cuma jingkrak2 deket kulkas. Mending dibuka trus bagiin isinya ma author… tanggal tua, persediaan makanan menipis *jahh curcol aja…*
meirah.1111 : Ne, author juga ga tahan 'bau' buku. Itu lebih lebih dari lagu nina bobo *zzzz*. Beuh, dia manggil MASS?! Kenapa ga abang aja yak biar mantep gitu. Chingu bikin author galau gender neh… tanggung jawab dong *loh?!*. Gomawo ne, udah ngasih tahu, itu yang di table of contents emang salah link-ny. Maklum, copy-susu *eh* copy-paste. Udah di benerin ko *ga nanya*
ejinki : ehh… pemirsa baru nongol neh… hoho… iya tuh, yongyong emang jiwa anak band-nya udah mendarah daging kayanya… ckck. Kalo Jaemma lari dari yunppa, pasti di uber dah meski ke ujung dunia sekalipun *apaan neh*. Tunggu aja ya chingu… muehehehe…
riska0122 : gpp chingu… yang penting mampir. Hho~. Ne, yongyong itu fansnya yunppa… sama kaya kita yak *fufufu*
Aoi ko Mamoru : Ne, ini bab terakhir chingu… Sedih juga rasanya. Hueee~ *mewek-bareng-jaemma*. Wah pemirsa satu ini juga kriminal neh maenannya piso.. awas terbangnya jangan jauh-jauh. Hehe. Ne, yongyong emg innocent dah. Baca sampe akhir ne chingu, ada spoiler ttg ff barunya author sintin ini *promo-gagal*
.
Pemirsa yang udah setia review n baca ff abal author sinting ini…
Gomawo ne…
Yuk lah kita mulai, yo yo yo
YUNJAE
\(^o^)/
.
.
.
.
'Hhh… Mau bagaimana lagi… '
Di rumah megah itu, seorang pria paruh baya sudah bersiap dengan koper yang isinya tidak terlalu banyak. Ia bersiap untuk perjalanannya kembali ke Hongkong, tempatnya mengatur dan mengawasi bisnis yang ia bangung sejak hampir separuh masa hidupnya.
Jam di dinding menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat, dalam dua jam ia akan lepas landas, ia harus cepat, lebih baik menunggu di bandara dari pada harus ketinggalan pesawat.
"Jja, apa semua sudah siap? Hh… pasti banyak sekali pekerjaan menantiku disana. Sudah berapa lama aku disini? Lebih dari seminggu? Woa… Sulit dipercaya, kalau bukan karena Nae-Princess yang sakit, aku tidak akan bisa selama ini meninggalkan pekerjaanku.", gumamnya entah pada siapa.
Tapi yang jelas, di sana, di ruangan itu. Dia dan dua orang lainnya sedang menunggu Tuan Shin dan mobilnya. Mereka. Kim Appa , Hyunjoong, dan… Jaejoong.
.
.
HARD TO BELIEVE
Genre: Romance/Humor(Drama)
Warning: GENDERSWICH, TYPOS, not-so-experience-author
Disclaimer: Semua pemeran adalah milik Tuhan dan keluarganya.
Main Cast: YUNJAE!
Tidak suka? Jangan Baca ^^
BAB X
IS IT HAPPY ENDING?
.
.
===flashback===
"Oppa…", panggil Jaejoong pada Yunho. Mereka sedang berkencan di taman kota. Ya… sembari menunggu hasil akhir ujian Jaejoong, mereka menghabiskan waktu sekedar mengusir rasa khawatir, meski, sepertinya tidak berhasil.
"Ne, Nae-Princess ?", jawab Yunho tanpa mengalihkan pandangannya pada segerombolan anak kecil yang bermain di arena permainan anak tak jauh dari tempat duduk mereka.
"Eh? Oppa memanggilku apa tadi?", tanya Jaejoong yang langsung memandang Yunho dengan mata besarnya yang jernih.
'Aish… Apa yang dia lakukan dengan menatapku seperti itu…', batin Yunho.
"Nae-Princess. Waeyo? Aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?", Yunho tersinggung, pura-pura lebih tepatnya.
"Bukan begitu… Hanya saja itu panggilan yang hanya digunakan oleh Appa dan Hyunjoong-oppa…"
"Hmm… Kau ingin aku memanggilmu dengan nama lain?"
"Oppa punya ide?"
Mereka diam. Yunho mengerutkan dahinya, berpikir. Jaejoong tetap memandangi Yunho, menunggu apa yang akan dikatakan Yunho selanjutnya.
"Hmm… Boo!"
"?", Jaejoong hanya menatap bingung.
"BooJae? Eotte?"
"Hufft… Nama apa itu", Jaejoong tertawa sambil menutup mulut dengan punggung tangan.
"Ya! Aku sudah berpikir keras untuk menemukan nama bagus itu, kau tahu?!", kali ini Yunho benar-benar tersinggung sepertinya.
"Mi-*heuheu*-Mianhae *heuheuheu*", Jaejoong minta maaf sambil cekikikan.
Yunho melepaskan rangkulannya dari bahu Jaejoong, ia melipat tangannya di depan dada. Matanya menatap objek tidak jelas di depan. Wajahnya terlihat kesal. Woa… Yunho sedang kesal.
Jaejoong yang menyadari ekspresi Yunho langsung menghentikan tawanya. Benar-benar berhenti kali ini.
"Oppa…", panggil Jaejoong manja.
"…", sepertinya itu tidak mempan sekarang.
Jaejoong menyisipkan tangannya di lengan Yunho, menggandengnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Yunho. Ikut memandang objek tidak jelas dihadapannya. Yunho? Ia masih dalam situasi-menunjukkan-kekesalannya pada Jaejoong.
"Oppa, apa kau sadar kalau ini kencan pertama kita?"
"…"
"Sudah berapa lama kita menjadi sepasang kekasih, ya?", Jaejoong menegakkan kepalanya, tangan lain yang tidak menggandeng Yunho ia gunakan untuk menghitung.
"1… 2… 3… 4… 5…? Atau 6? Aiish, sudahlah, lupakan…", lanjutnya sambil melipat satu per satu jarinya sambil bergumam tidak jelas.
"…", woa… Yunho benar-benar kesal!
"Aku menyukainya, Oppa! BooJae! Ne, aku menyukainya!", kata Jaejoong sambil memandang wajah Yunho, dagunya masih menempel di bahu Yunho.
"…"
Tidak mendapat respon, sekarang giliran Jaejoong yang kesal. Ia melepaskan tangannya dari Yunho.
"Apa, Oppa mengajakku pergi kemari hanya untuk mendiamkanku seperti ini?!", teriaknya dengan kening berkerut.
Yunho menutup matanya saat Jaejoong berteriak. Telinga Yunho pasti berdengung setelahnya. Yunho masih bertahan di posisinya.
Jaejoong yang ikut-ikutan kesal lantas berdiri sambil melipat tangan di depan dada, mengikuti Yunho.
"Baiklah… Aku pulang saja!", ia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Tak lama ia berhenti dan menoleh pada Yunho.
"Aku pulang sekarang!", katanya lagi, berharap reaksi dari kekasihnya.
"ISH! Oppa menyebalkan!", ia menghentakkan kakinya dan kembali berjalan menjauh. Dan. Lagi. Ia berhenti lalu berbalik melihat Yunho yang masih duduk di bangku taman itu.
Jaejoong berjalan mendekat lalu duduk lagi di samping Yunho. Ia kesal lalu…
"AAaah!", teriak Yunho. Jaejoong mencubit kedua pipi Yunho dengan keras. Pasti setelah ini bekasnya sulit hilang.
"Bicara padaku! Oppa, pabbo!", katanya semakin keras mencubit.
Yunho menarik kedua tangan Jaejoong dari pipinya, menguncinya dengan tangan besarnya. Jaejoong yang kalah tenaga hanya bisa menggembungkan pipinya, salah satu bentuk protesnya yang lain.
Yunho memandang Jaejoong dengan wajah kesal. Jaejoong menatap Yunho dengan kesal.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
"Muahahahahhhahahhahhahaaaa!", keduanya tertawa.
"Kau tahu wajahmu aneh sekali barusan… hahaha…", kata Yunho melepaskan tangannya dari tangan Jaejoong.
"Heuheu… Ya! Wajahmu jauh lebih aneh!", balas Jaejoong.
"Hahhh…", keduanya menghela napas panjang, menghentikan tawa masing-masing.
"Aku baru tahu tanganmu kuat juga. Ah… Pipiku sakit sekali rasanya…", Kata Yunho sambil mengusap kedua pipinya. Ekspresi wajah kesakitannya sangat meyakinkan.
"Eh? Apa sesakit itu?", tanya Jaejoong dengan tatapan bersalah. Kini ia yang mengusap pipi Yunho pelan. Berharap bisa menghilangkan rasa sakitnya. Ah… Dia tidak tahu kalau Yunho sangat pandai bersandiwara?
"Ne! Kau harus bertanggungjawab!", kata Yunho tiba-tiba.
"Hm? Caranya?", tanya Jaejoong yang sama sekali tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Yunho, author, dan para pemirsa yang membaca ff ini.
"Kisseu!", jawab Yunho lalu menutup matanya. *eiii… appa emang paling bisa cari kesempatan!*
Mendengar hal itu, Jaejoong tidak bisa menahan munculnya semburat merah di pipinya sendiri. Dilihatnya Yunho yang menutup mata membuatnya berpikir apa yang harus dia lakukan. *ummmaa! Pwease deh!*
Ia melirik ke kanan ke kiri, memastikan tidak ada yang sedang memperhatikannya. Setelah yakin dan meyakinkan hatinya sendiri. Ia kemudian…
CUPH! CUPHH!
"Sudah! Sakitnya sudah hilang!", kata Jaejoong setelah mencium kedua pipi Yunho.
Jaejoong menyenderkan badannya di senderan bangku taman itu. Tangannya ia letakkan di kedua pipinya, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah. Sementara Yunho masih dalam posisinya, menghadap Jaejoong sambil menutup mata. Karena heran, Jaejoong kembali meraih pipi Yunho.
"Oppa, gwaenhana? Buka matamu..!", rengek Jaejoong.
Yunho tersenyum dan membuka mata. Ia melihat Jaejoong begitu dekat dihadapannya dengan wajah yang menggemaskan.
CHUU~
Tanpa berpikir panjang, kali itu Yunho mencium bibir Jaejoong. Tidak lama memang. Hanya ciuman sekilas namun cukup membuat Jaejoong diam, membeku. Yunho menjauhkan wajahnya, menyenderkan badannya. Lalu menarik Jaejoong ke pelukannya.
"O-oppa, pabbo!", kata Jaejoong.
Yunho hanya tersenyum lalu mencium puncak kepala Jaejoong.
Hhh… Indah sekali menghabiskan sore hari di taman kota yang indah, pemandangan indah, suasana yang indah pula.
Ini kencan pertama mereka. Berharaplah ini bukan kencan terakhir…
.
.
.
Di kantin sekolah, hari pengumuman nilai akhir ujian semester.
"Waeyo, Jaejoongie? Wajahmu seperti terdakwa yang menunggu eksepsi…", kata Junsu sebelum meminum jus mangganya.
"Eksekusi", kata Kibum mengoreksi.
"Ah! Itu maksudku!", kata Junsu setelah menelan jusnya.
"Ppabbo!", celetuk Yonghwa sambil pura-pura batuk.
"Ya! Diam kau, bocah!", kata Junsu Kesal.
"Eii… Tidak bisakah kalian tenang disini? Aku sedang berkencan dengan kekasihku!", protes Changmin sambil membuka bungkusan roti-lapis-isi-daging-asap-dan-keju-special buatan Kibum.
"Monster!", balas Junsu dan Yonghwa bersamaan.
"Kau mengkhawatirkan nilaimu ya Jaejoongie?", tanya Kibum mengabaikan makhuk-makhluk bodoh disekitarnya.
"Hm… ", Jaejoong mengangguk, "Aku tidak pernah segugup ini sebelumnya.", lanjutnya.
"Tenanglah, Jaejoongie… Kau sudah melakukan yang terbaik yang kau bisa!", kata Yoochun sambil menepuk bahu Jaejoong.
"Ne, gomawo Sunbae-nim.", Jaejoong tersenyum, ia bersyukur dikelilingi teman yang selalu memberi support padanya.
"Sedang apa di sini, Sunbae-nim?", tanya Junsu sambil menatap Yoochun di seberang meja.
"Ya! Apa kau harus selalu bertanya pertanyaan yang sama padaku, eoh? Apa kau tidak punya pertanyaan lain?", jawab Yoochun agak kesal.
"Aku hanya bertanya… Kenapa marah seperti itu?", balas Junsu lalu meminum kembali jusnya.
"Nee~… Kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang bertengkar! Heuheu…", komentar Jaejoong pada YooSu.
"Mwo?! Hyung-jidat-lebar-ku dan Sunbae-pantat-bebek ini?!", kata Yonghwa tidak percaya.
PLETAK! PLETAK!
Dua pukulan diterima Yonghwa dari YooSu.
"Heii.. Jangan memukulnya seperti itu… Gwaenchana? Yongyongie?", Jaejoong membela.
"Woa… Woa… Apa ini? Kau simpati pada bocah ini?!", tanya Yoochun pada Jaejoong, sepertinya ada satu kasus yang ia lewatkan sebelum ini. Sekarang status mata-matamu diragukan, Park Yoochun!
"Ne! Nae-Jaejoongie akan jadi malaikat pelindungku mulai sekarang!", jawab Yonghwa bangga.
PLETAK!
Pukulan ketiga untuk Yonghwa. Pelakunya tidak lain adalah…
"Oppa?!"
"Yunho?"
"Yunho Sunbae-nim?!"
"Sakit, Hyung!"
Reaksi JaeYooSuChangBum dan Yonghwa saat melihat Yunho ada dikantin bersama mereka.
"Sudah kuperingatkan kau tidak diijinkan mendekati Jaejoong-ku lebih dari 2 meter. Pindah sana!", perintah Yunho pada Yonghwa yang memang duduk di sebelah Jaejoong saat itu. Yonghwa pindah ke ujung meja. Sementara Yunho mengambil alih kursi Yonghwa sebelumnya.
"Jarang sekali melihatmu disini, Sunbae-nim. Apa ini artinya kau akan mentraktirku makan sian—", tanya Changmin tiba-tiba.
"Kau baru saja makan siang, Changminie!", potong Kibum.
Dan hari itu mereka menikmati makan siang bersama sebelum libur akhir semester memisahkan mereka satu sama lain untuk sementara. Atau untuk waktu yang lama bagi Jaejoongie?
.
.
.
===flashback end===
.
.
"Kita siap berangkat, Tuan!", kata Tuan Shin pada Kim Appa.
"Benarkah? Kalau begitu apa yang kita tunggu? Ayo ayo kita berangkat!", ujar Kim Appa bersemangat.
Hyunjoong dan… Jaejoong, mengikuti Kim Appa.
Di sepanjang perjalanan, Jaejoong hanya menatap keluar jendela. Ia ingin merekam setiap inchi pemandangan Korea dalam hatinya sebelum ia pergi… menuju Hongkong.
Hyunjoong yang melihat adik kesayangannya bersedih seperti itu hanya bisa berdoa ada keajaiban yang terjadi sehingga adiknya tetap bisa di Korea, bersama teman-teman yang menyayanginya, bersama pria yang dicintainya.
Sesampainya di bandara, Tuan Shin lantas mengeluarkan koper-koper di dalam mobil. Ada tiga koper disana, satu milik Kim Appa, satu milik Hyunjoong dan satu lagi milik… Jaejoong?
"Baiklah kita berpisah disini, ne Appa, Nae-Princess.", kata Hyunjoong yang hendak lepas landas terlebih dahulu. Ne… Tujuan Hyunjoong bukan ke Hongkong melainkan Jepang.
"Jaga dirimu baik-baik, jangan membuatku khawatir lagi, dan jangan makan ramen kali ini, arra!", kata Hyunjoong pada adiknya setelah melepaskan pelukan perpisahan mereka.
"Nee~. Joongie akan jadi anak baik kali ini!", kata Jaejoong sambil mengangkat tangannya sebatas pelipis. Hormat ala prajurit, eoh?
Tak berapa lama setelah Hyunjoong pergi, Kim Appa pun bersiap sambil menarik kedua kopernya. Dilihatnya Jaejoong yang terlihat sedih saat itu tapi Kim Appa malah tersenyum. What the…?
Kim Appa mulai berjalan memasuki gerbang keberangkatan, dibelakangnya Jaejoong mengikuti dengan langkah tak bersemangat. Ia berjalan sambil menundukkan kepala sampai tidak sadar kalau Kim Appa berhenti. Jaejoong menabrak Kim Appa dari belakang.
"Appa… kenapa berhenti tiba-tiba begini…", tanya Jaejoong bingung.
"Appa lupa meminta pelukanmu, Nae-Princess!", kata Kim Appa yang kemudian memeluk Jaejoong yang terlihat kebingungan.
"Jaga dirimu baik-baik,ne? Kalau bocah Jung itu macam-macam padamu, segera telepon Appa , saat itu juga Appa akan datang dan mematahkan lehernya!", lanjut Kim Appa.
"Eh? Maksudnya— Joongie kan— Apa ini artinya— ", bahkan Jaejoong tidak bisa menyelesaikan kalimat saking bingungnya.
"Ne. Tetaplah di Korea. Tetaplah disini dan sekolah dengan semangat bersama teman-temanmu. Dan teruslah belajar bersama bocah Jung itu. Appa menunggu nilai 90 darimu!", jelas Kim Appa.
"APPA!", teriak Jaejoong sambil memeluk appa-nya.
"Gomawo, Appa. Jeongmal gomawoooo~", lanjutnya.
"Ahahaha… Baiklah baiklah. Appa harus pergi sekarang, ne?", balas Kim Appa sambil melepaskan pelukkan putri kesayangannya.
"Pulanglah, mungkin bocah Jung itu sedang menunggumu dirumah.", lanjutnya sambil menepuk pelan puncak kepalaku.
"Ehh? Yunho-oppa?", tanya Jaejoong bingung.
"Yaa… Cepatlah sebelum dia menyangka kau jadi pergi bersamaku…"
Jaejoong tersenyum lebar lalu berlari menuju Tuan Shin dan mobilnya. Sebelumnya ia mengecup pipi sang appa dan mengucapkan 'Saranghaeyo. Appa yang terbaik!'.
Dan Kim Appa memasuki pesawatnya, ia mencari kursi sesuai nomor di tiketnya. Di bantu pramugari, ia temukan kursi itu lalu duduk disana. Di sampingnya seorang pria seumurannya sedang sibuk membaca berita melalui tablet-PC.
"Sulit dipercaya kau merestui mereka juga akhirnya, ku kira kau tidak ingin jadi besanku…", kata pria-tablet-PC itu pada Kim Appa.
"Aishh… Mereka belum tentu menikah! Dan kalaupun mereka menikah nantinya, aku akan merasa sangat kasihan pada Nae-Princess karena mendapat ayah mertua yang hobinya keliling dunia sepertimu! Dia pasti kurang perhatian nanti.", balas Kim Appa.
Ne… Pria-tablet-PC itu adalah Jung Jihoon. Appa Yunho dan Yonghwa yang juga teman akrab Kim Appa semasa SMA. Hyunjoong pernah melihat photo Jung Appa di buku tahunan SMA Kim Appa . Yaa… memang benar, dunia itu sempit, pemirsa.
.
.
.
.
===HARD TO BELIEVE===
.
.
.
.
Sepulangnya dari bandara, Jaejoong berlari ke ruang tengah, ruang dimana seminggu ini ia dan kekasihnya belajar bersama untuk ujiannya. Ia tidak sabar menemui Yunho yang ia ketahui pasti ada di ruangan itu karena Jun Ahjumma yang memberitahunya saat dia baru turun dari mobil.
Dan…
Bingo!
Yunho memang menunggunya disana. Ia bangkit dari sofa ruangan itu, berjalan sedikit ke pinggir, menatap Jaejoong sambil tersenyum lalu merentangkan tangannya.
"Apa kau tidak akan memeluk pangeranmu ini?", kata Yunho.
"OPPAAA!", teriak Jaejoong yang langsung melempar dirinya ke pelukan Yunho.
WOOPS
BUGHH
Karena reaksi spontan Jaejoong, Yunho sedikit kehilangan keseimbangan saat Jaejoong sudah ada di pelukannya sehingga mereka terjatuh ke atas sofa. Jaejoong di atas Yunho. *aihh umma ^w^*
"Oppa tahu soal ini juga, kan? Kalian bersekongkol sengaja mengerjaiku, kan? Kau sudah tahu kan kalau appa memang tidak jadi membawaku ke Hongkong bersamanya, kan? Begitu kan?!", tanya Jaejoong bertubi-tubi.
"Hey… Tenanglah BooJae… Aku juga tidak tahu, aku bahkan baru di telepon pagi ini oleh appa-mu untuk datang. Aku benar tidak tahu apa-apa, sungguh!", sanggah Yunho.
"Bohong!"
"Aku tidak bohong!"
"Benarkah?"
"Tentu saja!"
"Buktikan!"
"Mwo?"
"Buktikan kalau Oppa tidak berbohong!"
"Tapi, bagaimana caranya?!"
"Mana ku tahu, Oppa yang cari tahu!"
Mereka diam dalam posisi itu, menatap satu sama lain.
"Tutup matamu!", perintah Yunho.
"Ne?!"
"Lakukan saja!"
Dan Jaejoong menutup matanya.
Yunho ingin sekali tertawa melihat kepolosan BooJae-nya. Ia hanya asal bicara tadi. Tapi melihat kesempatan emas seperti ini, tidak mungkin ia sia-siakan.
Yunho mengangkat sedikit kepalanya. Ditariknya dagu Jaejoong supaya lebih dekat. Merasakan itu, Jaejoong refleks membuka matanya. Tapi, terlambat, mereka sudah terlalu dekat. Dan, kalian tahu…
CHUU~
Yunho mencium Jaejoong lembut. Ciuman penuh cinta. Dan kali ini Jaejoong membalasnya dengan senang hati.
"Senang melihatmu tetap disini, BooJae…", kata Yunho setelah melepaskan ciuman mereka, masih di atas sofa.
"Senang tetap memilikimu sebagai tutorku dan…", Jaejoong menjeda kalimatnya, "…kekasihku, Oppa."
.
.
.
-Fakta HTB #6 : Nilai rata-rata Kim Jaejoong adalah 78.9—
.
.
.
===HARD TO BELIEVE===
The Last Words
Yunho : Apa ini sudah berakhir?
Jaejoong : Sepertinya begitu… Apa kau senang dengan akhir ceritanya?
Yunho : Selama aku berakhir bersamamu, tidak ada yang lebih menyenangkan selain itu, BooJae…
Jaejoong : Menurutku juga begitu… (^_^)
.
Junsu : Woah… Aku tidak menyangka akhirnya akan jadi seperti ini, ku kira Jaejoongie akan benar-benar pergi ke Hongkong…
Yoochun : Aku juga… Tapi, untunglah, Yunjae akhirnya tetap bersama seperti ini.
Junsu : Ne, kau benar, Yoochunie. Eumm… Kau sudah ambil gambarnya?
Yoochun : Tentu saja! Ini akan jadi hadiah untuk para Yunjae-shipper. Akan ku unggah malam ini…
.
Changmin : Kenapa aku seperti monster makanan di cerita ini?!
Kibum : Karena kau memang seperti itu!
Changmin : Tapi… Tapi… Kenapa aku tidak terlihat keren di cerita ini?!
Kibum : Karena kau memang seperti itu! *silang jari di balik punggung*
.
Siwon : Wah… Sepertinya aku terlupakan disini…
Heechul : Bukan kau saja, Wonie.
Siwon : Aku meragukan integritas author yang satu ini.
Heechul : Aku berpikiran sama denganmu.
.
Yonghwa : Hm… Kenapa aku terlihat seperti bocah 10 tahun disini?
…
Yonghwa : Dan sekarang aku terlihat seperti orang gila yang bicara sendiri… -_-a
…
.
Author :
Gimana? Mengecewakan ya? Mianhae yo… Jeongmal mianhae yo!
Kalo ada yang berkenan review bab ini, author udah siapin lapak buat jawab review-an pemirsa di wp-nya author.
Setelah ini author masih punya 3 HTB SPECIAL STORY. 'Drama Musikal Sekolah', 'Liburan,Yunho, dan Yunho?!', dan 'Beasiswa Keluar Negeri?!'. Ketiganya masih berbentuk kerangka cerita. Tapi… akan segera author publish asap, ne.
Author berencana bikin HTB 2. Ne… Kan setiap happy ending itu mesti dibarengi dengan wedding party, iya toh?
Kalo disini, Yunppa mulu yang dikasih ujian, di HTB 2 giliran Jaemma yang membuktikan kesetiannya pada Yunppa Mueheheheee…
Tapi sebelum itu!
Author akan mempublish projek ff ketiga. Pairingnya masih YunJae. Teaser yang isinya piku sama summary bisa di lihat dimari : ikkimassuu. wordpress 2012/ 08/ 22/ teaser-ff-thats-not-me/
Dan! Genre-nya angst/drama. Dan! Karena ini angst… itu artinya… NO HAPPY END… nyahahaha *kaboor*
.
Special thanks for you Silent Readers.
Even you're not leave your tracks here, I know you keep reading my ff. That's more than enough for me. But! If you change your mind and decide to leave some words even it just say hi to me, I would glad to reply then.
.
See you later guys
HAPPY YUNJAE!
.
.
===HARD TO BELIEVE===
"Ini sulit dipercaya… INI BAHKAN TIDAK BISA DIPERCAYA!", Yunho berteriak sambil membanting dua buku yang baru saja ia lihat isinya.
"…"
"…"
"Apa ingatan kalian menguap saat liburan kemarin, EOH?! Begitu?!", kata Yunho lagi. Dua orang dihadapannya tertunduk sambil meremas pensil dan penghapus yang dipegang masing-masing.
"Kau! Kenapa tidak menjawabku?!", tanya Yunho pada orang yang sudah menjadi 'murid' sekaligus kekasihnya selama lebih dari satu semester ini.
"J-Joongie… Joongie lupa… Joongie benar-benar lupa. Kau tahu itu dengan baik, Oppa!", kata Jaejoong dengan wajah memelas.
"Hhh… Kau benar-benar…", Yunho tidak menyelesaikan kalimatnya, "Dan KAU!", katanya sambil menunjuk orang disamping Jaejoong.
"Bagaimana kau bisa menutupi kebodohanmu selama ini tanpa ada yang curiga, Yonghwa?!"
"Eum… Itu sebenarnya… Eum… Aku…", Yonghwa ketakutan.
"Bicara yang jelas! Atau kuberitahu Halabeoji untuk membongkar ruang-berisik—"
"ANDWAE , HYUNG! Aku mohon, apa saja asal jangan yang itu. Baiklah, baiklah, aku mencontek pada temanku saat ! Hanya saat ujian matematika, hyung… Aku jenius sama sepertimu, tapi tidak untuk pelajaran yang satu itu. Ku mohon, hyung, jangan biarkan Halabeoji membongkar ruang-berisikku…", jawab Yonghwa memohon.
"Sudahlah, Yunho-ah… Kau hanya akan membuat mereka stress jika mengajari dengan cara keras seperti ini", kata Jung Umma yang datang sambil membawa camilan untuk kedua anak dan calon menantunya.
"Umma, apa yang umma idamkan saat mengandung Yunho-hyung dulu? Kenapa dia galak sekali?", tanya Yonghwa. Ne… Sejak insiden cium-Jaejoong-dipukul-Yunho, Yonghwa jadi dekat dengan Yunho bahkan dengan Jung Umma… Lama kelamaan Yonghwa seperti mendapat sosok umma yang tidak pernah ia rasakan selama ini.
"Jangan membelanya Umma… Dia akan semakin manja!", kata Yunho.
TING TONG!
Bunyi bel rumah Yunho. Siapa tamu yang datang?
Jung Umma pergi membukakan pintu.
CKLEK!
"Appa?!", kata Jung Umma agak kaget.
"Hye Gyo? Bagaimana kabarmu? Apa kau sehat?", tanya si appa, Jung Halabeoji.
"Tentu, Appa. Kenapa datang tidak memberitahuku dulu? Aku jadi tidak menyiapkan kimchi kesukaanmu.", Jung Umma mempersilahkan Halabeoji duduk di sofa bersama Yunho. Sementara Jaejoong dan Yonghwa duduk dibawah diatas karpet.
"Woa… Kalian sedang belajar? Apa aku mengganggu kalian?", tanya Halabeoji pada JaeYong.
"Tidak, Halabeoji…"/"Tentu tidak, Halabeoji…", jawab JaeYong serempak.
Dan mereka meneruskan kegiatan belajar hari itu, disaksikan Halabeoji dan Jung Umma.
Bisa kalian tebak, semakin waktu berjalan, Yunho semakin uring-uringan menghadapi duo-kurang-pintar dihadapannya. Karena sudah lelah, ia memutuskan mengakhiri pembelajaran sore itu. Ia membereskan bukunya lalu pergi mandi. Mendinginkan kepalanya.
'Astaga… Aku bisa mati muda kalau begini…', batin Yunho selama di kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Yunho merasa pikirannya sedikit tenang. Ia hendak ke dapur untuk mengambil air minum ketika ia mendengar cekikikan dan tawa dari ruang tamu…
Disana, Halabeoji, Jung Umma, Yonghwa dan Jaejoong terlihat sedang melihat-lihat album photo sambil tertawa-tawa. Karena penasaran, Yunho mendekat lalu bertanya,
"Apa yang kalian tertawakan?"
Mendengar Yunho, Jung Umma dan Jaejoong yang duduk ditengah cepat-cepat menutup album photo tersebut dan berhenti tertawa, begitu pun Yonghwa.
"Ahahaha… Ahahahaha…", kecuali Halabeoji. Ia masih tertawa sampai-sampai mengeluarkan air mata.
"Apa yang kau tertawakan, Halabeoji?", tanya Yunho sekali lagi. Ia hendak meminum air yang sejak tadi dipegangnya.
"Ahaha… Itu… Kau lucu sekali Yunho-ah… Photo-mu dengan baju wanita… Ahahaha…", lanjut Halabeoji.
BRUSSTTFFFF….
Yunho menyemburkan air yang sedang diminumnya.
"MWO?!", teriak Yunho.
.
.
===HARD TO BELIEVE===
-Tamat-
