FAKE LOVER
By Fujiwara Koharu
NARUTO belongs to MASASHI KISHIMOTO
CHAPTER 10
.
.
"Yo, Dei! Apa semua lancar?"
"Ha. Kau meremehkanku?" Deidara menghentikan gerakan jari-jarinya di atas keyboard, mendorong kursinya lalu meletakkan kedua kaki di atas meja. Nagato dan Sasori berdiri di belakangnya.
"Katakan kawan! Sistem keamanan mana yang tidak bisa ku hack?"
"CCTV kamar mandi ibumu?"
"Sialan kau." Deidara menonjok ringan dada Nagato.
"Bagaimana hasil nya?"
Deidara memasukan chip kecil lalu mengoperasikan laptopnya dengan lincah. Pada layar laptop itu muncul software unik yang menampilkan sebuah sistem keamanan.
"Kubuat tampilannya tidak terlalu rumit, tapi keamanannya sangat tinggi. Hanya orang-orang tertentu saja yang akan benar-benar mengawasi sistem ini. Percaya atau tidak sistem ini bahkan bisa mendeteksi pengaksesan diluar jaringan yang sudah diatur. Dan untuk sistem pemancarnya, jarak jangkaunya lebih luas. Kau bisa mendeteksi berapa nyamuk yang memasuki area pemancar jika kau mau."
"Sialan kau Deidara. Jika aku belum menikahi Misaki, aku pasti akan menikahi otak jeniusmu ini."
"Kau seharusnya berterimakasih dan memberi hadiah yang pantas untukku Sasori. Aku sudah berbaik hati mengerjakan proyekmu sementara kau asyik ber-loveydovey dengan istrimu."
Belum sempat Sasori membalas, sang istri telah memasuki ruangan dengan nampan berisi ocha yang masih mengepul hangat.
"Aku buatkan ocha untuk kalian. Deidara-san pasti sudah bekerja sangat keras." Haruno Misaki meletakkan nampan di meja lalu berdiri disamping Sasori.
"Sangat-sangat keras. Hm!"
"Kau akan menamai program ini apa?"
"Aku sudah berpikir tentang 'The Masterpiece of Deidara' atau mungkin 'Deidara's Massive Explosion'?"
"Pfffttt. Apa kau sedang melawak? Itu seperti nama buku dongeng anak TK."
"Kau benar. Hah, kalau begitu Himitsu System. Artinya sistem rahasia. Take or leave it?" Kedua laki-laki diruangan itu saling mengangguk.
"Tidak buruk. Hei, Dei. Jika kau bisa membuat sistem secanggih ini kenapa tidak kita pasang di perusahaan kita, atau di rumah mungkin?" Nagato menyarankan.
"Kalau kupasang, lalu apa gunanya kau dibayar." Nagato mendengus mendengar jawaban rekan sekaligus sahabatnya.
"Aku bercanda. Aku akan membicarakannya pada Hashirama-sama jika tender kita menang besok."
"Hn. Kita pasti menang. Kita akan mengalahkan Shimura brengsek itu."
"Ngomong-ngomong dimana Konan dan Yahiko?"
"Mereka iri dengan kemesraanmu dan Misaki -san."
"Apa kau juga iri Nagato? Kita bisa bermesraan berdua. Hanya tinggal kita yang belum berpasangan."
Selanjutnya ruangan itu dipenuhi oleh canda tawa.
.
.
"Kira-kira seperti itulah keuntungan dari sistem Himitsu ini. Kita hanya butuh satu chip untuk mengendalikan semuanya. Tingkat keamanannya juga sangat tinggi. Sistem ini juga dilengkapi password yang unik, jadi akan sangat sulit untuk di hack. Jadi tuan-tuan menteri yang terhormat, kami pastikan keamanan pertahanan negara akan benar-benar terjamin. Sekian, terima kasih untuk perhatiannya."
Sasori berojigi untuk menutup presentasi software terbarunya yang akan bersaing dengan perusahaan Shimura. Para menteri dan pejabat saling berdiskusi. Di sisi kanan pihak Shimura yang diwakili Orochimaru dan beberapa tangan kanannya terlihat begitu tenang. Sementara di sisi kiri, pihak Haruno yang diwakili Sasori dan ke empat rekannya juga memasang wajah tenang karena mereka sangat yakin akan kembali mengalahkan lawan bisnis mereka.
"Tenanglah! Kita memiliki poin tinggi. Aku melihat kecacatan di program mereka yang masih bisa dikendalikan dua pihak user. Yang artinya pihak pemerintah dan pihak pembuat program." Yahiko mencoba menyampaikan hasil penilaiannya dan mencoba untuk menenangkan Sasori yang terlihat sedikit tegang. Bagaimanapun juga kakeknya telah berpesan untuk memenangkan tender penting ini.
"Kau tahu maksudku. Pemerintah tak akan membiarkan pihak luar mengakses sistem keamanan mereka, sekalipun si pembuat sistem itu sendiri. Program mereka masih belum sempurna Sasori."
.
Setelah berdiskusi selama hampir 10 menit akhirnya para menteri dan pejabat telah siap untuk memberikan suara. Suasana berubah menjadi tegang. Menteri pertahanan yang duduk di paling ujung meja persegi panjang tersebut berdeham untuk menarik seluruh perhatian.
"Baiklah. Setelah mendengar presentasi dari Shimura Corp. dan Haruno Corp. Kami akan memberikan suara untuk masing-masing program. Program dengan suara terbanyak akan memenangkan tender ini dan menjalin kerjasama bersama kami."
"Baik. Untuk Himitsu System, berikan suara kalian." Dari 9 orang penting yang hadir hanya 3 yang memberikan suara. Bahkan satu diantaranya terlihat ragu-ragu mengangkat tangan.
"Sial. Apa-apaan mereka?" Sasori menahan geramannya.
"Untuk Hebi System?" Dan 6 orang sisanya memberikan suara untuk Shimura Corp. termasuk sang menteri pertahanan.
"Sudah diputuskan Hebi sistem akan dipakai untuk pertahanan keamanan negara. Orochimaru-san kita bahas kerjasama dipert—" "—Tunggu! Pasti ada yang salah!" Sasori berusaha menyela keputusan salah satu petinggi negara Jepang tersebut. Deidara dan Yahiko berusaha menahan Sasori yang sudah berdiri dan hendak menghampiri sang menteri.
"Sistem mereka masih cacat. Kalian tidak akan membiarkan orang ini ikut campur dalam pengawasan negara kan?"
"Sasori tenanglah!"
"Sasori-san. Di dalam peraturan, keputusan final kami tidak bisa diganggu gugat. Dan kami memberi suara atas pertimbangan masing-masing divisi. Jadi saya harap anda menghormati keputusan kami. Rapat ini selesai. Maaf aku masih ada pekerjaan lain. Senang berbisnis dengan kalian."
.
Setelah menutup rapat secara sepihak, sang menteri pertahanan segera meninggalkan ruangan diikuti pejabat-pejabat lainnya. Orochimaru dan kaki tangannya pun juga bersiap meninggalkan ruangan.
"Kau pasti berbuat curang kan! Aku tahu kalian selalu bermain licik. Kau suap apa mereka ha?" Emosi Sasori semakin mendidih ketika melihat seringai Orochimaru.
"Licik katamu?" Orochimaru memandang antek-antek Haruno dengan seringai lebar yang menurut mereka sangat menyeramkan.
"Kau tahu bocah, kau bahkan sama liciknya dengan ayahmu. Kekalahannmu ini tak sebanding dengan apa yang Jiraiya lakukan padaku. Pria brengsek itu merebut Tsunade dariku, keluarga kalian juga ikut campur dalam KBC (Konoha Businessman Community) dan menghalangiku untuk menyingkirkan tua bangka Uchiha itu. Kau tak tahu seberapa bencinya aku pada keluargamu. Terutama ayah brengsekmu itu!"
"Kau yang brengsek Orochimaru! Haarghh!" Sasori berniat menerjang Orochimaru dan melayangkan pukulan ke wajahnya. Mungkin itu saja belum cukup untuk membalas perkataan kotor tentang ayahnya. Tapi gerakannya di tahan oleh rekan-rekannya.
"Aku justru bersyukur ibu ku tak menikah dengan orang sebrengsek dirimu. Jika itu terjadi mungkin kakekku sudah gantung diri."
"Khukhu! Tak perlu repot-repot, aku bisa membantu mengakhiri hidup tua bangka jika mau."
"Kgh. Kau—" "—Sasori tenang! Jangan memperburuk keadaan!" Yahiko mencoba menenangkan.
Merasa puas sudah memancing emosi sulung Haruno itu, Orochimaru segera keluar dari ruang itu. Seringaian lebar tak pernah hilang seolah ia berhasil membuat bayi seseorang menangis.
BRAKK.
"Arrghhh! Dia benar-benar licik! KUSO!"
.
.
.
.
Uchiha Sasuke. Pemuda berusia 19 tahun, berwajah bak dewa Apollo dan berotak jenius. Perangainya datar dan pembawaan yang selalu tenang. Lahir ditengah keluarga bangsawan kaya raya. Tidak ada yang bisa merusak kesempurnaan itu kecuali satu, Haruno Sakura. Seseorang yang saat ini sedang ingin dia hindari. Pertengkaran beberapa hari lalu rupanya semakin memperburuk hubungan mereka. Yah, hubungan mereka baik pada awalnya.
Bertemu hanya beberapa hari saat kecil dan menjadi teman baik, bahkan sempat mengucapkan sumpah janji yang masih melekat di benak keduanya. Berubah buruk ketika kedua keluarga saling bermusuhan dan mereka harus menjadi peredam dengan cara berpura-pura menjalin hubungan. Lalu konflik lain muncul dan membuat hubungan mereka retak. Dua tahun berpisah dan si wanita memutuskan ingin menerima laki-laki lain tanpa mengetahui perasaan sesungguhnya dari si pria. Pengecut? Tidak. Uchiha Sasuke bukanlah seorang pengecut yang akan menyerah sebelum berperang. Dia bahkan belum menyatakan perasaan yang sebenarnya jika pemuda ini mencintai Haruno Sakura.
Untuk saat ini, si bungsu Uchiha lebih memilih kembali menjadi Uchiha Sasuke yang dingin dan tenang. Sifat ini untuk menekan rasa bersalahnya setelah beberapa hari lalu dengan seenaknya pemuda ini mengacaukan acara makan siang Sakura, bahkan mencuri ciuman gadis musim semi itu. Oh, dan jangan lupakan sikap Sasuke yang memojokkan hubungan Sakura dengan lelaki bernama Sabaku Gaara. Dan bodohnya adik Itachi ini baru menyadari jika perbuatannya tempo hari sudah melewati batas. Ia baru menyadari arti perkataan Hyuuga Neji tentang pengorbanan cinta. Tentang perasaan tulus untuk melihat kebahagiaan bagi orang yang dicintai.
Mungkin Sasuke harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi akan ia pikirkan caranya nanti. Karena Sasuke masih belum siap jika harus bertemu Sakura. Membayangkan wajah cantik gadis itu saja bisa membuatnya kembali mengingat penyatuan kedua bibir mereka yang di hiasi rasa manis dan asam buah tomat. Ciuman pertama yang menggairahkan dan penuh candu. Sial! Berhenti memikirkan yang tidak-tidak Uchiha Sasuke! Yang harus kau lakukan adalah mengikuti kelas terakhir dan kau bisa pulang untuk menenangkan diri. Ya, tenangkan dirimu.
.
.
TAP. TAP. BRUK.
"Hey!"
"Ah, gomen ne! Aku tidak terbiasa memberi jalan untuk orang lain. Ahaha."
Double sial.
Gadis yang baru saja ingin ia hindari kini ada di hadapannya. Haruno Sakura dengan gusar dan jengkel berjongkok untuk memunguti lembaran-lembaran quisioner yang berceceran dimana-mana setelah sebelumnya ditabrak dengan 'sengaja' oleh dua gadis yang sangat Sasuke kenali. Shion dan Sara, si ketua Fans Club Sasuke dan anggotanya. Bukannya membantu, dua gadis itu malah menertawainya dan berlalu pergi.
"Kuso! Aku benar-benar akan telat kali ini. Yugao-sensei pasti akan mengamuk lagi."
.
SRET.
Sakura sempat terkejut saat mendapati Uchiha Sasuke, pemuda yang ia pikir menghilang karena beberapa hari ini absen mengusik kegiatannya. Dengan tenang dan tanpa suara Sasuke memunguti kertas-kertas yang berserakan di lantai lorong. Untuk beberapa detik Sakura memandangi lelaki itu dengan perasaan berkecamuk. Kemana saja dia? Kenapa sekarang hanya diam saja? Apa dia masih marah atas pertengkaran mereka tempo hari? Tidak! Disini seharusnya Sakura yang marah.
"Lain kali hati-hati." Akhirnya Sasuke buka suara. Merasa tersadar, Sakura kembali fokus untuk memunguti quisionernya.
"Ini semua karena fans gila mu yang tak tahu sopan santun. Apa kau tak pernah mengajari mereka sopan santun?"
"Hn." Hanya itu? menanggapi dengan 'Hn' saja? Tak berdebat seperti biasa?
"Oh, aku lupa. Idola mereka saja sopan santunya sangat-sangat minus."
"Hn." Lagi? Lelaki ini tidak marah dan membalas? Apa dia benar-benar marah? Wajahnya datar. Sasuke kembali menjadi pemuda dingin dan tanpa ekspresi. Ada apa Sakura? Kenapa kau gelisah melihat tingkah Sasuke yang seperti ini. Seharusnya kau senang karena pemuda ini sudah tak mengusikmu lagi.
.
Sakura mengambil tumpukan kertas yang Sasuke kumpulkan dan menumpuknya di atas quisioner lain yang ia kumpulkan. Sasuke bahkan tak memandang wajahnya. Sial!
"Kau marah padaku? Kenapa kau yang marah? Seharusnya aku yang marah. Aku yang dirugikan. Kau mengambil ciuman pertamaku, brengsek!" Demi majalah-majalah dewasa Deidara, entah mengapa saat ini Sakura sangat ingin membuat Sasuke berbicara padanya. Setidaknya membalas umpatannya.
"Maaf."
Apa? Maaf? Kenapa baru sekarang? Itu sudah terlambat bodoh. Saat ini Sakura tidak ingin permintaan maaf dari Sasuke. Bukan berarti Sakura tidak butuh. Hanya saja saat ini Sakura sangat ingin melihat kelakuan Sasuke yang menjengkelkan seperti biasa. Bukan Sasuke yang pendiam.
"Sebaiknya kau segera ke kelas jika tidak ingin semakin terlambat. Dan—" Kali ini Sasuke memandang lurus kedua manik hijau teduh didepannya. "—aku benar-benar minta maaf untuk waktu itu. Aku hilang kendali."
Beberapa detik berlalu dan Sakura masih memandangi punggung yang perlahan menghilang di tikungan lorong kampus.
"Bodoh. Aku membencimu. Uchiha Sasuke." Tanpa terasa titik-titik air mata telah berjatuhan membasahi kertas putih yang telah tertumpuk rapi didekapan Sakura.
.
.
.
.
"Konan-Nee. Mana yang lebih enak? Coklat atau strawberry? Atau mungkin Misaki-Nee lebih suka rasa vanila?"
Sakura menunjukan kotak susu untuk ibu hamil dengan rasa strawberry di tangan kanan, dan coklat di tangan kiri. Adik Haruno Sasori ini menjadi sangat bersemangat ketika mengetahui kakak iparnya tengah mengandung. Ia mengajukan diri untuk membeli perlengkapan ibu hamil bersama Konan.
"Kenapa tak tanyakan saja Misaki suka rasa apa? Lagipula Ojou, kandungannya masih sangat muda."
"Hmm. Kalau begitu aku ambil ketiganya saja. Asal kau tahu saja Konan-Nee, indra perasa ibu hamil bisa berubah-ubah. Dan kurasa kau harus segera menikah dengan Yahiko-Nii agar tahu bagaimana rasanya hamil."
Konan mendorong troli belanja yang hampir penuh dengan wajah memerah dan kesal. Tidak kakak, tidak adik sama saja. Selalu saja ingin menggoda hubungannya dengan Yahiko. Mereka hanya teman kok. Hanya teman berbagi 'segalanya'.
"Konan-Nee matte! Kita harus membeli popok bayi juga." Gadis berhelaian merah muda itu segera menyeret teman belanjanya menuju deretan rak untuk popok bayi.
"Sakura! Usia kandungannya bahkan belum genap satu bulan. Masih terlalu lama untuk membeli popok bayi."
"Tidak apa-apa. Lebih baik berjaga-jaga kan?"
"Sekarang aku meragukan kemampuanmu sebagai calon dokter dan calon pewaris Haruno Hospital."
Sakura terkekeh mendengar insinuasi dari salah satu tangan kanan kakeknya. Sakura sendiri tak paham mengapa ia bertingkah sangat excited mengetahui dirinya sebentar lagi akan mendapat keponakan. Kondisi ini mengingatkannya akan seseorang. Seorang bayi lebih tepatnya. Mengingatkannya pada Uchiha Kenichi. Anak dari sahabat kakaknya yang juga merupakan keponakan dari Sasuke. Bayi lucu itu bahkan bisa membuat Sakura berhalusinasi mendengar tangisannya.
"Hiyaaa..huaa..huaaa~ hiks hiks."
Tunggu! Sakura sedang tidak berhalusinasi. Ia benar-benar mendengar suara bayi menangis.
"Ssshh. Diam dulu Kenichi. Setelah ini kita pulang."
"Sasuke!"
.
Pemuda yang merasa disebut namanya terdiam menggantung tangannya yang hendak meraih 1 pack popok bayi. Ia menoleh ke arah kiri dan mendapati Sakura dan Konan yang menatap tak percaya ke arahnya. Uchiha Sasuke yang terkenal dingin dan minim ekspresi kini sedang berbelanja popok bayi di supermarket dengan gendongan bayi di depan dada lengkap dengan bayinya. Sakura tak pernah tahu sisi lain Sasuke yang bisa dekat dengan anak kecil. Tidak, mungkin hanya dengan keluarganya saja.
Bayi dalam gendongan Sasuke tampak tak nyaman dan terus bergerak-gerak. Tangisnya pun tak segera berhenti. Membuat siapa saja yang mendengarnya merasa kasihan. Sakura melihat Sasuke tampak kerepotan menenangkan keponakannya.
"Kenapa Kenichi terus menangis?"
"Dia demam." Sakura menyentuh kening Kenichi dan rasa panas segera menjalar di telapak tangannya.
"Astaga. Apa sudah di bawa ke dokter? Di mana orangtuanya?"
"Semua orang rumah sedang keluar kota menghadiri pertemuan. Mereka menitipkannya padaku. Mungkin dia demam karena merindukan orangtuanya." Sasuke meraih 1 pack popok bayi dan memasukkannya ke keranjang belanja.
"Aku sudah menemui dokter keluarga dan sudah diberi obat. Dia hanya butuh istirahat dan perawatan yang baik." Sasuke mencoba mengatur nafas nya yang entah sejak kapan mulai memanas. "Tidak perlu khawatir. Orangtuanya akan segera kembali." Sasuke membalikan badan bersiap untuk pergi.
"Setahu ku serangga merah itu tak akan membiarkan calon tunangannya lepas dari pengawasannya. Hn."
Tanpa menunggu reaksi dari kedua perempuan berbeda warna rambut itu, Sasuke segera berjalan meninggalkan mereka. Meski rasa rindu masih menyeruak serta beberapa pertanyaan yang masih setia ia tahan, paman muda ini memutuskan untuk segera kembali ke apartemen nya. Ia hanya ingin segera mengistirahatkan kepalanya yang mulai berputar-putar dan juga Kenichi. Kasihan juga melihat keponakannya terus menangis.
.
.
.
.
Sasuke menuang kembali susu formula dari botol bayi ke dalam gelas. Susu itu terlalu panas menurutnya. Sasuke kembali menakar susu bayi ke dalam gelas dan memberi air panas. Kali ini tak sampai sepertiga gelas. Lalu mengaduknya. Suara tangis Kenichi dari dalam kamar Sasuke masih terdengar hingga dapur. Sasuke kembali merutuki kebodohannya karena susu kedua yang ia buat kini terlalu dingin.
"Sial!"
Sabar Sasuke, sabar. Hitung-hitung berlatih menjadi ayah yang baik. Paman muda ini kembali akan menuangkan susu dari botol ke dalam gelas sebelum mendengar suara pintu apartemen nya di ketuk. Sasuke menaruh botol susu itu di meja dapur dan berjalan ke arah ruang tamu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati tamu itu adalah gadis yang sedang ingin ia hindari saat ini. Haruno Sakura berdiri di ambang pintu dengan sekantung plastik di tangan kanannya. Tapi bukan itu yang membuat Sasuke bingung. Melainkan darimana Sakura tahu alamat apartemen nya? Mereka berdua masih terdiam untuk beberapa detik.
"Ku bawakan obat dan buah."
"Kenichi sudah dapat obat sendiri. Dan bayi umur satu tahun belum mampu mengunyah apel atau peer, dokter Haruno." Seolah menyindir tindakan gadis didepannya ini.
"Bukan untuk Kenichi. Tapi untukmu." Sasuke menaikkan satu alisnya pertanda belum paham maksud Sakura.
"Kau sakit."
"Aku baik-baik saja."
Tap.
Dan tanpa Sasuke duga, telapak tangan kiri Sakura telah menempel di kening berkeringat Sasuke. Suhu panas segera berpindah ke telapak tangan Sakura. Dengan melihat saja pun calon dokter ini mampu mengetahui jika Sasuke tidak dalam kondisi fit. Wajah memerah pucat, tubuh berkeringat, mata berkunang-kunang dan suhu badan diatas normal. Masih mau mengelak?
"Kau tertular demam Kenichi. Obat saja tidak cukup. Kalian perlu perawatan yang tepat untuk cepat sembuh."
.
Sakura mendorong tubuh Sasuke masuk kedalam apartemen lalu menutup pintu. Mendengar suara tangis bayi Sakura segera berlari menuju sumber suara tersebut. Di samping ranjang Sasuke terdapat box bayi berwarna putih. Di dalamnya Kenichi tengah terduduk dan terus menangis bahkan sampai sesenggukan. Sakura segera mengangkat bayi malang itu dan menggendongnya. Kepala Kenichi bersandar di pundak Sakura sementara punggungnya di belai-belai pelan.
"Kapan dia terakhir minum obat?"
"Sepulang dari supermarket. Aku baru akan membuatkannya susu sebelum kau datang."
Oh, demi rambut putihnya Hidan. Sasuke benar-benar berharap waktu saat ini dapat berhenti. Ia benar-benar menikmati pemandangan Sakura yang menggendong bayi. Seperti melihat keluarga masa depannya. Sasuke dapat melihat kehangatan yang disalurkan Sakura untuk menenangkan keponakannya. Wajah khawatir Sakura serta segala gerak-geriknya bersama bayi itu. Sasuke rela menukarkan apapun untuk dapat terus melihat pemandangan ini.
"Kau gendong Kenichi seperti ini. Akan ku buatkan susunya. Setelah itu baru mengurusmu. Kau sudah minum obat?" Sasuke menggeleng pelan dan membuat kepalanya semakin berdenyut.
Sakura lalu menyerahkan bayi laki-laki itu pada pamannya. Sasuke memposisikan gendongan Kenichi seperti yang Sakura arahkan tadi. Melihat Sasuke menuruti perintahnya, Sakura segera keluar menuju dapur. Desahan serta gelengan kepala tak luput dari calon dokter muda ini ketika melihat suasana dapur. Botol susu bayi, gelas-gelas berisi susu, kaleng susu bubuk yang belum tertutup.
.
Sakura membuang susu yang telah mendingin lalu mencuci bersih gelas dan juga botol susu kemudian mengeringkannya. Menakar susu ke dalam gelas lalu menambahkan air panas dan air dingin hingga menghasilkan suhu hangat-hangat kuku, setelah itu menuangkannya ke botol susu bayi. Sakura juga menyiapkan air putih dan obat penurun demam untuk Sasuke. Setelah meletakkan semua di nampan, gadis Haruno ini segera menuju kamar Sasuke. Sasuke masih menggendong Kenichi dan bayi itu terlihat masih menangis meski tak sekeras sebelumnya.
"Minum obatmu lalu istirahatlah! Biar Kenichi aku yang gendong."
Dengan enggan Sasuke menyerahkan Kenichi pada Sakura lalu berjalan menuju nakas. Mengambil obat yang sudah disediakan Sakura lalu menimumnya. Tapi bukannya menuruti perintah Sakura untuk istirahat, Sasuke justru hanya mendudukan diri di tepi ranjang. Mata hitam jelaganya menatap Sakura yang sedang menggendong bayi mungil itu sambil memberinya susu botol.
"Apa kau tak tahu apa artinya istirahat? Artinya kau harus tiduran Sasuke. Berbaringlah!"
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Mendengar pertanyaan itu Sakura tak berani membalas tatapan Sasuke. Sakura sendiri tidak tahu mengapa perasaan khawatir muncul saat melihat wajah Kenichi dan Sasuke yang terlihat pucat. Meski sudah menemui dokter sekalipun, Sakura sangat sangsi jika Sasuke bisa mengurus Kenichi seorang diri dalam keadaan dirinya juga sedang sakit. Diliriknya bayi 1 tahun itu tengah tertidur pulas. Nafasnya sudah mulai teratur. Dengan lembut dan hati-hati Sakura membaringkan Kenichi di box bayi lalu menyelimuti sampai dirasa bayi itu tak lagi kedinginan. Sakura mengambil termometer dari dalam tasnya.
"Buka mulutmu!"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku hanya tak ingin Kenichi semakin sakit karena kau yang tertular demam dan tak bisa merawatnya dengan baik."
"Benarkah? Bukan karena alasan lain? Seperti kau mengkha—" Sakura segera memasukkan termometer kedalam mulut Sasuke dan mendorong dagu Sasuke agar menutup mulutnya.
"Tak ada alasan lain. Berbaringlah tuan sok kuat! Kau mulai menggigil."
Akhirnya Sasuke menyerah dan memilih berbaring di ranjangnya. Rasa kantuk akibat efek obat mulai menguasainya. Ditambah pusing dikepala yang terus berdenyut membuatnya harus menuruti semua perintah Sakura. Gadis itu menarik selimut hingga sebatas dagu Sasuke lalu menarik termometer dari mulut pemuda itu.
"Tiga puluh delapan derajat kau bilang baik-baik saja? Keras kepala. Aku akan menyiapkan kompres."
Dengan mata yang mulai memberat Sasuke masih mengamati Sakura berjalan keluar kamar. Diam-diam sebuah senyum telah tersungging di bibir tipisnya. Jujur ia sangat menyukai semua perhatian Sakura. Meski sikap gadis itu terlihat terpaksa tapi Sasuke tetap meyakini alasan Sakura bukan hanya mengkhawatirkan keponakannya. Bolehkan kali ini ia masih berharap? Setidaknya berharap Sakura tak lagi membencinya.
.
Sepanjang hari Sakura berada di apartemen Sasuke. Dengan telaten ia merawat Sasuke dan Kenichi secara bergantian. Terkadang ia mengganti plester kompres untuk Kenichi dan kompres untuk Sasuke. Lalu jika Kenichi menangis ia akan menggendongnya dan memberi susu botol. Beberapa kali juga ia membujuk Sasuke untuk menghabiskan bubur buatannya. Begitu seterusnya. Hingga tanpa sadar dirinya tertidur di sofa hitam kamar Sasuke. Tubuhnya juga butuh istirahat bukan?
Dering ponsel Sasuke berbunyi mengusik keheningan apartemen elegant tersebut. Mata hijau teduhnya yang bersembunyi di balik kelopak kini perlahan terbuka. Sakura memaksakan diri untuk melihat jam digital di atas nakas. Pukul sembilan malam. Itu berarti dia tertidur selama dua jam. Di liriknya Sasuke. Pemuda itu masih tertidur. Gadis musim semi itu lalu berjalan mendekati nakas disamping ranjang Sasuke. Dering telefon masih berbunyi. Itu telefon dari Itachi. Apa sebaiknya ia yang menjawab, ataukah harus membangunkan Sasuke? Rengekan kecil Kenichi mulai terdengar. Tanpa pikir panjang lagi Sakura segera mengangkat telefon tersebut dan bayi mungil itu kembali terdiam.
"Moshi-moshi."
"Eh?...Sakura-chan? Apa itu kau?"
"H-hai. Gomen, Sasuke-kun ikut tertular demam jadi dia sedang istirahat."
"Ah, tak apa. Jadi kau bersama mereka? Yokatta. Aku jadi sedikit lega. Apa mereka merepotkanmu?"
"Tidak Nii -san. Mereka penurut, Kenichi-kun juga tidak terlalu rewel." Sakura mendekati box Kenichi lalu menyentuh dahi bayi mungil tersebut. "Kurasa demamnya sudah mulai turun. Mungkin besok pagi sudah sembuh."
"Hm. Arigatou Sakura-chan. Aku sebenarnya agak ragu meninggalkan Kenichi sendirian dengan Sasuke. Tapi syukurlah kau menemani mereka. Kami akan kembali ke Konoha besok pagi. Apa kau bersedia menginap disana Saku-chan?"
"E-eh? Tap—" "—aku akan sangat berterimakasih jika kau bersedia menginap. Onegai, Sasuke sangat sulit dibujuk minum obat dan istirahat. Dia selalu memaksakan diri akhir-akhir ini. Aku akan memberitahu Sasori kau me—" "—Jangan!"
"Maksudku kurasa Sasori-Nii masih marah pada Sasuke-kun. Aku akan meminta ijin sendiri."
"Hah, aku mengerti. Arigatou Sakura-chan. Oyasumi."
"Um. Oyasuminasai."
.
Sakura meletakkan smartphone Sasuke di tempat semula. Lalu mendudukan diri disamping tubuh Sasuke. Ia mengambil termometer dan menyelipkannya di mulut Sasuke dengan hati-hati. Setelah hampir satu menit Sakura mengambil termometer tersebut.
"Tiga puluh sembilan derajat? Tck, kenapa justru naik?" Dengan telaten Sakura mengganti kain kompres Sasuke dengan yang baru.
Drtt. Drrtt. Kali ini ponsel Sakura yang berdering. Setelah merapatkan selimut Sasuke, gadis cherry ini segera membuka smartphone nya.
Kau belum pulang? Dimana? – Gaara
Singkat. Tanpa basa-basi. Tipe-tipe lelaki dingin. Tak ada bedanya dengan Sasuke. Tapi Sakura selalu menyukai semua perhatiannya. Sakura sedikit berpikir mencari alasan untuk menjawab dimana ia skarang. Lalu dengan cepat jemari Sakura mengetik balasan untuk Gaara. 'Gomen Gaara-kun. Aku harus berbohong padamu.'
Aku menginap di rumah Ino malam ini. Maaf lupa memberitahu. – Sakura
Tak apa. Jaga dirimu. – Gaara
Dan balasan 'terimakasih' telah mengakhiri percakapan pendek mereka. Sakura tahu Gaara telah diberi amanat oleh kakeknya untuk selalu menjaga Sakura. Gaara adalah pemuda yang sangat baik. Dia menjadi penerang Sakura ketika gadis itu kehilangan arah. Dia juga yang menghangatkan kembali hati Sakura setelah dibekukan oleh Sasuke dulu. Gaara berkorban banyak untuknya. Dan Sakura tahu, pemuda itu menyimpan perasaan untuknya. Tak ada yang tahu seberapa marahnya Sakura karena sampai saat ini belum bisa membalas perasaan pemuda Sabaku itu. Sakura telah berusaha membuka hatinya agar bisa menerima Gaara.
Tapi entah takdir senang sekali mempermainkannya. Sakura tak mengerti mengapa hatinya masih saja terpaku pada sosok yang sedang terbaring lemah dihadapannya. Sosok yang selalu membuat hatinya campur aduk.
.
Diam-diam Sakura memperhatikan wajah pria disampingnya. Keningnya berkerut. Apa mungkin kepalanya masih terasa pusing? Jemari lentik Sakura perlahan menyentuh rambut darkblue Sasuke. Dibelai nya perlahan lalu menyingkirkan anak rambut yang mengganggu wajahnya. Wajah tidur Sasuke yang selalu dia bayangkan sejak lama, kini Sakura bisa melihatnya.
Seandainya, seandainya saja lelaki ini bisa tegas pada perasaannya sendiri. Seandainya pria ini tak keras kepala waktu itu dan mau melihat Sakura. Seandainya takdir tak mempermainkan perasaan mereka. Seandainya, begitu banyak pengandaian dalam benak Sakura. Tapi semua sudah terlanjur. Semua telah terlanjur membekas di hati Sakura. Terlalu menyakitkan dan terlalu sulit bagi Sakura untuk memaafkannya. Semua perlakuan Sasuke begitu membuat hatinya sesak.
Dan kini, Sakura terlalu takut untuk membuka kembali hatinya. Entah untuk hati yang lama atau hati yang baru seperti Sabaku Gaara misalnya. Benteng dihatinya masih saja kokoh untuk bisa ditembus. Jika saja Deidara bisa membuat alat untuk memeriksa hati seseorang, Sakura akan dengan senang hati menjadi relawan agar bisa melihat apa yang salah dengan hatinya.
.
Belaian tangan Sakura bergerak menyusuri garis rahang Sasuke. Pemuda itu masih menggigil. Sakura beniat membenahi selimut Sasuke. Tapi tanpa diduga tangan Sasuke menangkap tangan Sakura dan menarik Sakura hingga jatuh di atas tubuhnya. Gadis itu memekik kaget. Apa Sasuke merasakan tindakannya barusan? Apa Sasuke hanya pura-pura tidur? Tapi matanya masih terpejam erat, dan tubuhnya pun masih menggigil.
"Sa-Sasuke-kun?" Bisiknya.
Belum ada jawaban dari lelaki itu. Sakura berusaha menarik dirinya dari cengkraman Sasuke. Tapi cengkraman Sasuke terasa sangat kuat.
"Kenapa...kau pergi...waktu itu?" Dan pertanyaan itu muncul dari bibir pucat Sasuke.
Apa Sasuke benar-benar sadar? Atau dia hanya mengigau? Ditatapnya wajah Sasuke dalam.
"Karena kau yang menyuruhku pergi." Ragu-ragu Sakura menjawabnya. Entah Sasuke benar-benar mendengarnya atau tidak. Tapi Sakura merasa ingin menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku ingat semua." Lagi. Suara lemah Sasuke terdengar. "Kau gadis yang membuat janji denganku 10 tahun yang lalu." Sakura melebarkan matanya. Apa Sasuke sudah mengingat masa lalu mereka?
"Apa..." Hembusan nafas Sasuke terdengar berat. "Janji itu harus ditepati?"
Tes. Tanpa bisa dicegah liquid bening meluncur dari emerald Sakura. Hatinya terasa mencelos. Pertanyaan itu juga yang terus berputar di benak Sakura selama ini. Janji konyol yang menyangkut perasaan keduanya. Janji yang berawal dari permainan sepele, tapi begitu berkesan dan membekas bahkan mengakar seiring berjalannya waktu.
"Tidak." Tubuhnya bergetar menahan isakan. "Janji itu tidak bisa ditepati jika keduanya tidak saling mencintai."
Jeda beberapa menit. Apa yang pemuda ini pikirkan sebenarnya? Apa Sasuke akan tetap menepati janji itu meski keduanya tak saling cinta atau salah satu dari mereka telah berpaling? Seberapa penting janji itu bagi Sasuke?
"Kau. Mencintaiku?"
Sakura menundukkan kepala. Isakannya semakin dalam. Persetan Sasuke saat ini sadar atau tidak. Kenyataannya Sakura memang kebingungan untuk menjawab pertanyaan ini. Sakura membenci lelaki ini, tapi juga mencintainya.
"Wakkanai." Isakan Sakura masih terdengar. "Perasaan seseorang bisa berubah kapan saja."
Dan dengan satu tarikan keras Sakura berhasil keluar dari kungkungan Sasuke. Gadis ini menghapus airmatanya kasar lalu berjalan keluar kamar. Tanpa gadis musim semi itu ketahui, sang pemuda perlahan membuka matanya. Onyx yang biasanya menatap tajam kini tampak meredup seolah baru saja kehilangan cahayanya.
.
.
CHAPTER 10 END
.
.
A/N
Yak chapter 10 up. Gimana? gimana?
author merasa chap kemaren memang kurang ada feel. Yah, karena hidup itu banyak rasa. Jadi mood author juga macam-macam rasa (ah, iklan lagi) 'v'
maaf update nya lama. banyak hal berat yang terjadi akhir-akhir ini. sekali lagi, saya akan tetap berusaha update cepat.
heumm, minta-minta lagi deh. boleh minta fav, fol, repiyuu nya minna-san. hohoho #senyumgaje#
.
dan waktunya balas review:
ichachan21: sasuke makin brengsek ya? Yah begitulah sasu-chan. Brengsek dan tamvan ;) . kalo pair gaasaku ntar ganti cerita donk. Ha'i arigatou
Luca Marvell: belum tunangan. Baru rencana, tapi sakura belum jawab mau terima gaara atau nggak.
anazono yuri: sudah lanjut J
fii-chan: gaara-kun emang kakkoi ~v~ . yak, sudah update.
Guest: sudah lanjut
misakiken: yah kurang lebih kayak gitu. Gaara dijodohin sama saku, tapi saku belum jawab sih. Tau tuh nunggu wangsit kali. Itu tuh saori, eh salah, sasori. Lengkap sama istrinya sama calon anaknya :3 .hayoo siapa yang cengar-cengir sendiri. ^bercanda^
Ryuuki Kuchiki: awww nanas-nanas. api nerakanya nyampe sini nih :p bisa buat masak aer. lumayan hemat gas ohoho #modus#
kalo sasu menderita mulu ntar nggak kelar2 ini ceritanya donk. :D tpi ntar sasu-chan emg masih menderita sih di chap depan. #upskeceplosan
dianarndraha: sudah lanjut lho
BaekhyunSaranghaeHeni: iya tuh, harus di apain biar mereka baikan yah. Tunggu chap selanjutnya~
suket alang alang: ho'oh kok jadi gini? Masih banyak yang bingung gaara siapa ya. Hmm gaara calon tunangan sakura. Tapi sakura belum jawab mau trima ato gak. Sasu-chan lagi kena demam, jadi belum bertindak. Hoho #tawanista#
Guest: setelah author perkirakan trnyata ini akan jadi kurang lebih 15 chap. Ah tidak, mungkin lebih dari 15 chap.
