Disclaimer : I don't Own YugiOh!
Genre: Adventure,Angst,Drama,AU..a bit Shonen ai
Main Idea/Story: Amelia Kai
Editor: Hikari Rio
Flawless Mask pt.1
Waktu kembali berputar menuju masa kini, menuju waktu dimana Lard duduk terdiam di sebelah Seth, di bangku taman Chlorose Park, di depan kolam yang jernih dengan pantulan sinar-sinar bulan di permukaannya. Angin kencang yang menyayat kulit kini mulai mereda, suara air mancur terdengar jelas mengisi keheningan,walau para bintang masih berkelap kelip. Setelah terdiam lama, Lard mulai melanjutkan kisahnya lagi.
"Setelah pria bejat bernama Grant itu tewas, para night thief di Black Hidden melaporkan kejadian tersebut murni sebagai kecelakaan pada pihak berwajib. Black Hidden memang tidak memiliki pemilik lagi, tetapi aktivitasnya tetap berjalan. Kami sebagai night thief yang bekerja disana menjadikan klub tersebut sebagai tempat penghasilan. Kami yang juga tidak punya uang, tempat tinggal, dan keluarga. Tidak punya pilihan lain selain tetap menjadi night thief. Pekerjaan itu tetap kulakukan sampai gerakan anti obat-obatan meluas dan kaum gerilyawan bermunculan. Aku dan Joule juga menjadi anggota gerilyawan dan memburu Crawford sampai sekarang." Lard mengakhiri ceritanya dengan tertunduk, diliriknya Seth di sebelahnya, Seth menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, tidak berapa lama terdengar suara seperti isakan.
"Suara siapa itu?? Seth kau menangis ya?" selidik Lard mencari sumber suara tersebut, tidak ada jawaban dari Seth wajahnya tetap tertutup oleh telapak tangannya.
"Ah... sepertinya aku benar. Kau menangis karena mendengar kisahku senangnyaaaa...", ujar Lard mencoba menggoda Seth, namun Seth tetap tidak bereaksi. Ia mulai cemas,digigitnya bibir bawahnya sebelum bertanya.
"Kalau kau ingin menangis jangan ditahan-tahan, nanti rahang dan kepalamu akan sakit, dadamu juga menjadi sesak." tambah Lard, perlahan duduknya bergeser mendekati Seth, Lard dengan ragu-ragu mengulurkan lengannya ke arah bahu Seth.
"Jangan sentuh aku!" ujar Seth tiba-tiba membuat Lard kaget dan menurunkan lengannya, tapi kemudian Lard dengan tenang menjulurkan lagi lengannya, mencoba merangkul Seth, kali ini Seth tidak bereaksi apapun selain melepas kedua telapak tangan dari wajahnya, tangisnya pun pecah memecah kesunyian malam, mengalahkan suara air mancur di Chlorose Park. Lama sekali suara isak tangis itu terdengar, perlahan-lahan suara itu mereda, mereda, lalu berhenti. Seth mengusap wajahnya kemudian ia melepaskan tangan Lard dari bahunya.
"Mataku kemasukan pasir yang terbang dibawa angin dan rasanya perih sekali. Aku tidak menangis karena ceritamu!" ujar Seth setelah terdiam dan menangis begitu lama.
"Ya, aku mengerti, aku sewaktu kecil sering menangis begitu seringnya hingga sekarang aku sudah tidak tertarik lagi untuk menangis. Kau...kau tidak pernah menangis,kan? Karena itu semuanya kau tumpahkan disini... semua yang kau..."
"Bagaimana mungkin aku menangis? Jika aku terlihat lemah semua orang akan menginjakku! Aku dan Mark, adikku sudah bersumpah tidak akan memperlihatkan kelemahan kami pada orang lain!" sela Seth dengan nada sedikit meninggi.
"Aa..Ma-maafkan aku, maaf..." ujar Lard dengan nada menyesal, air mukanya seketika berubah sedih.
Seth menghela napas. "Tidak... kau benar. Saat mendengar cerita masa lalumu, tanpa sadar aku jadi terbawa juga ke masa laluku, tak kusangka orang secerdas dirimu bisa mengalami takdir sekelam itu, lalu...akhir dari kedua walimu bagaimana?" tanya Seth, emosinya sudah mereda. Ia kembali tenang.
"Paman dan bibiku? Aku tidak tahu... mungkin saja mereka sudah pergi ke luar negeri." jawab Lard, untuk sesaat mata delima Lard dan lazuli Seth berpandangan cukup lama.
"...Kau tidak membalas dendam pada mereka?" ujar Seth yang seketika tersadar dan memalingkan wajahnya dari Lard.
"Aku... tidak bisa. Aku sudah tidak mau lagi menambah kesalahan dalam hidupku. Lagipula aku sudah berjanji pada Joule." jawab Lard dengan pandangan matanya yang sayu.
"Joule...apa dia sebegitu dekatnya denganmu?" tanya Seth lagi.
"Dia sahabat pertamaku, walau orangnya agak ceroboh, tapi ia baik sekali. Dia juga sesungguhnya tidak ingin menjadi night thief." Ujarnya riang. Namun rupanya lawan bicaranya terdiam sunyi. Lard keheranan.
"Ayo pulang, sudah tidak ada lagi hal yang harus dibicarakan. Lebih baik kita tidur sejenak." ajak Seth dengan nada sedikit kesal. Ia kemudian terburu-buru beranjak dari tempat duduknya.
Lard mengangkat alis. "Hei, kenapa tiba-tiba kau marah?" tanya Lard yang merasa tidak nyaman dengan nada bicara Seth.
"Aku tidak marah, aku hanya...hanya.. AKH!! Sudahlah! Aku hanya... capek!... cuma itu!"katanya sambil berbalik pergi.
/ Aah!!Apa sih yang kau pikirkan, Seth?/ Seth kemudian mulai berjalan meninggalkan Lard, ia sepertinya tidak mau kalau Lard sampai melihat wajahnya yang sedikit memerah saat itu.
Lard terbengong-bengong dengan kejadian tersebut, tapi untuk sesaat ia tersenyum melihat tingkah Seth yang aneh, /Sepertinya itu cara ia menenangkan diri.../ pikirnya polos. Lard akhirnya beranjak dari tempat duduknya kemudian mengikuti Seth pergi.
(XXXXXXXX)
Pukul empat lewat lima belas menit dini hari. Seth dan Lard tiba di kediaman Stanford, para pelayan yang ikut pergi bersama Seth menurunkan barang-barangnya dari kereta kuda.
"Taruh saja di tempat biasa,nanti saja dibereskan.", perintah Seth pada pelayannya.
"Baik, Tuan",balas pelayan tersebut.
"Kau telah bepergian jauh, ya?",tanya Lard pada Seth.
"Aku pergi ke rumah sakit di Green Hills menemui Mark, tadinya aku akan menginap disana tapi... aku pikir aku tidak bisa membuang-buang waktu lagi."jawab Seth sembari menaiki tangga. Sampai suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Kau pulang pagi lagi, hal itu tidak baik untuk kesehatan!", ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dari lantai dua, ia kini berdiri di anak tangga ketiga berhadapan dengan Seth.
"Tuan Rhein? Anda sudah bangun atau...anda tidak tidur? Menungguku?" tanya Seth. Ia merasa tuan Rhein akan membicarakan sesuatu yang penting dengannya. Tuan Rhein menghela napas pendek.
"Kau istirahat saja dulu. Nanti siang kutunggu di perpustakaan, jangan terlalu sering keluar malam-malam, Seth. Di luar itu sangat berbahaya!", ujar tuan Rhein dengan nada sedikit cemas.
"Aku tahu, aku akan datang nanti. Ayo, Lard, kita ke kamar." Seth kemudian mengucapkan permisi pada tuan Rhein, Lard kemudian mengikutinya. Ia melihat tuan Rhein sejenak menatap mata Lard, sebelum sang guru berbalik pergi.
(XXXXXXXXX)
"Haaah, capek sekali... jalanan yang tidak bagus membuatku pegal...", keluh Seth sembari membuka sarung tangannya lalu melemparnya ke arah sofa di dekat tempat tidur.
"Bukankah lazimnya seorang bangsawan memiliki pelayan pribadi? Kulihat tidak ada yang melayanimu untuk menggantikan pakaianmu." ujar Lard yang heran melihat Seth melepas sendiri long coat-nya dan merapikan ke tempatnya.
"Aku tidak suka dilayani untuk hal-hal pribadi, aku tidak mudah percaya pada siapapun sejak nyawaku terancam oleh Crawford, ia bisa saja menyuruh orang untuk menjadi pelayanku lalu membunuhku sebelum aku membunuhnya." ujar Seth datar kemudian ia menarik dasinya rupanya dasi itu terlilit,dan ia nampak kesulitan melepasnya.
"Kau salah menarik dasinya Seth," Lard menggelengkan kepalanya sebelum memberi isyarat agar Seth menunduk agar ia bisa membantunya, "lagipula kau terlalu curiga sekali kulihat penjagaan disini cukup ketat." ujar Lard yang masih berkonsentrasi membantu Seth melepaskan dasinya. Jarinya yang mungil berusaha keras melepas simpul itu dari sang bangsawan. /Ugh..susah../
"Ketat? Buktinya kau saja bisa menjebol seluruh pintu? Apalagi Crawford yang dulu pernah tinggal disini.." Dasinya terlepas. "Huff! Akhirnya lepas juga, aku hampir tercekik tadi..." jawab Seth di tengah rasa leganya karena dasinya berhasil lepas. Udara yang dihirupnya terasa begitu nyaman dan segar. Ia menghela napas pelan penuh rasa syukur.
"Akh, itu kejadian lama Seth...", ujar Lard wajahnya memerah karena malu. Setelahnya, Seth berganti pakaian dengan hanya mengenakan kemeja putih dan celana pendek, ia menuju tempat tidurnya, menarik selimut lalu perlahan matanya terpejam.
"Ganti pakaianmu Lard, ambil saja punyaku di lemari, dan cepatlah tidur." ujar Seth sebelum matanya benar-benar terpejam.
Lard hanya menatap Seth yang tertidur. /Apa benar seluruh kejadian ini adalah takdir? Alangkah kejam namun entah kenapa terasa manis../ Lard tersenyum sendiri, kemudian membuka lemari Seth dan mengambil sebuah kemeja putih, terlalu besar untuknya, namun entah mengapa ia merasa senang memakainya... tak selang beberapa menit kemudian, ia menyusul Seth menuju dunia mimpi.
(XXXXXXXXX)
Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa matahari sudah semakin tinggi, Lard mengernyitkan kelopak mata mencoba untuk membuka indra penglihatannya, namun ia terkejut melihat di hadapannya adalah wajah putih langsat Seth yang tertidur, dan pergelangan tangannya digenggam erat oleh tangan sang bangsawan.
"Aaah!!...", teriak Lard panik. Seketika membuat Seth juga ikut terbangun dengan kaget.
"Ada apa, ada apa?" Seth bangkit dengan kaget dan mata setengah terpejam, kemudian ia menggosok matanya berusaha untuk sadar.
"A...ah..itu..ma-maaf, tidak ada apa-apa cuma mimpi buruk..sungguh..", ujar Lard berusaha tenang padahal dia merasa jantungnya berdetak sangat hebat, wajahnya memerah hampir semerah kedua bola matanya yang menyala, dan kini terbelalak karena syok.
"Kau ini ada-ada saja... Jam berapa sekarang?" Seth meraih arlojinya di atas meja jarumnya menunjukkan tepat pukul sepuluh, ia kemudian bangkit dan membuka tirai yang menutupi jendela, seketika cahaya matahari menerangi ruangan tidur tersebut. Setelah itu ia menarik sebuah tali di dekat ranjang tidurnya yang ternyata adalah alat untuk membunyikan bel, seketika pintu kamar diketuk.
"Masuk saja." perintah Seth.
"Anda memanggil saya, tuan?", ujar seorang pelayan pria di muka pintu tepat setelah pintu kamar dibuka.
"Siapkan sarapan di ruang makan untuk dua orang... atau tuan Rhein belum sarapan juga?"
"Tuan Rhein sarapan di kamarnya,tuan."
"Oh begitu. Tolong ,siapkan juga kamar mandinya. Terima kasih."
"Baik, tuan", pelayan tersebut kemudian pergi, beberapa menit kemudian pelayan tersebut kembali, ia menuju kamar mandi menyiapkan air dan peralatan mandi.
"Kau tidak curiga padanya? Kau bilang kau tidak suka dilayani." ujar Lard yang masih terduduk di tempat tidur pada Seth yang sedang menatap ke luar jendela.
"Dia bisa dipercaya, walaupun tidak seratus persen, yang tidak bisa kupercaya hanya Linda. Dia senang sekali bergosip."balas Seth tanpa menatap Lard. Kelibat tubuh mungilnya dengan hanya memakai kemeja putih Seth yang kebesaran yang sempat silihatnya, membuat Seth merasa tidak nyaman.
"Air mandinya sudah siap, tuan", ujar si pelayan yang baru keluar dari kamar mandi kepada Seth.
"Terima kasih, kau boleh pergi." Angguk Seth.
"Saya permisi, tuan", pelayan tersebut pergi dan pintu kamar kembali ditutup meninggalkan keduanya lagi di ruang besar itu.
"Baiklah, aku akan mandi...", kata-kata Seth terhenti, ia kemudian menatap Lard, sebuah ide terlintas di benaknya. /Gila, ide gila...mungkin..tapi,sepertinya tak apa-apa kan?/. Ia memperhatikan calon penggantinya lekat-lekat.
"Ke-kenapa... kau menatapku seperti itu, Seth?", tanya Lard yang merasa aneh dengan tatapan Seth dan senyum licik di bibirnya.
"Kau mau merasakan seperti apa seorang bangsawan mandi ?" pertanyaan Seth membuat Lard kaget.
"Ha? Apa maksudmu?" tanya Lard heran dan sedikit panik.
"Nah, lepaskan pakaianmu, bagi seorang bangsawan mandipun haru dilayani.."
"Seth!! Ka-kau gila!" Lard tercekat. Wajahnya merah padam. Ia mundur dengan panik hingga punggungnya menyentuh kepala tempat tidur.
"Ayo... cepat...", ujar Seth kalem,kemudian dengan mudah menarik lengan Lard dan menyeretnya. Ke kamar mandi.
(XXXXXXXXXX)
"Tidaaakk! Cukup!!" teriak Lard saat Seth menggosok punggungnya, tingkah Lard seperti anak kecil yang sedang dimandikan oleh ayahnya.
"Hahahaha, seorang bangsawan memang dilayani seperti ini oleh pelayannya, hal ini bukan sesuatu yang aneh.", ujar Seth yang merasa kegirangan menggoda Lard. /Dia mungil sekali...apa benar laki-laki?/
"Kau keterlaluan Seth, kau tahu aku merasa..maluuuuuuuuuuuuu...", gumam Lard yang pasrah dengan perbuatan Seth. Ia menunduk dengan wajah...sangat merah padam. Bagaimana tidak? Seth menyeretnya dengan paksa, melucuti pakaiannya, dan memandikannya. Ia bukan bocah berumur sembilan tahun lagi, ia seorang pemuda berumur tujuh belas tahun yang merasa aneh dan malu karena seorang bangsawan muda yang menjadi Adonis di Ancerest memandikannya.
"Jangan berlebihan, sekarang akan kucuci rambut antikmu itu, Mark sangat suka jika aku yang...", kata-kata Seth tiba-tiba terhenti.
"Seth, kau kenapa?" tanya Lard heran. Ia mendongak, mata delimanya menatap lazuli yang berkabut.
"Ah...Ti-tidak apa-apa. Aku hanya teringat masa kecilku", pikiran Seth seketika berputar ke masa lalu saat usianya sembilan tahun dan Mark empat tahun, mereka sedang berendam bersama di bak ini dengan dilayani oleh seorang pengasuh, Mark sangat senang saat Seth membersihkan rambutnya dengan shampoo, Mark memainkan buih-buih yang muncul mereka tertawa begitu lepas tanpa beban. Ia tersenyum kecut mengingatnya.
"Sebaiknya, cepat selesaikan mandinya", ujar Seth tiba-tiba, Lard melihat raut wajah Seth yang berubah sedih, namun ia tak berkata-apa-apa karena buih sabun yang membuat matanya pedih menyibukkan pikirannya.
(XXXXXXXXXX)
Setelah mandi dan sarapan, Lard dan Seth segera menuju perpustakaan, disana Tuan Rhein sudah menunggu di tempat yang sama saat ia menceritakan segala sesuatunya pada Lard.
"Kami datang. Apa kau sudah menemukan sesuatu, tuan?", tanya Seth pada tuan Rhein.
"Duduklah, aku ingin menitikberatkan hal ini pada Lardiast", ujar tuan Rhein.
"Padaku?", tanya Lard tak mengerti. Ia menatap Seth, lalu kembali ke tuan Rhein.
"Gerald Stanford sengaja menyembunyikan dirinya dari dunia luar setelah merasa jiwanya terancam oleh Crawford, aku sudah mendengar gosip yang beredar di kota kalau Gerald mengangkat Seth menjadi count karena ia sudah sekarat, aku yakin sekali ini perbuatan Gerald, dia memang pengecut!" jelas tuan Rhein.
"Ya, orang itu kini hanya seperti tikus yang ketakutan, dia sudah lama mendekam di ruang bawah tanah." timpal Seth.
"Hari ini kau akan bertemu Gerald Stanford, Lard. Sebagai pengganti Seth." ujar tuan Rhein.
"Aku..tidak mengerti..", Lard menjawab bingung, dahinya berkerut tanda ia berpikir.
"Kau buat seolah-olah Seth sudah pergi mencari Crawford, dengan begitu ia akan keluar secara jantan dan menyelesaikan semua masalah lama itu, aku berniat berbicara dengan Crawford untuk mempertemukannya dengan Gerald."
"Tuan Rhein !!" Seth kaget dengan rencana mantan guru privatnya itu.
"Terlalu berbahaya? Kau sudah tahu Crawford dimana bukan?, biar aku yang melakukannya, ini kulakukan demi kamu, Mark juga keluarga ini."
"Tapi pak guru...Crawford pernah mengenalimu, kau juga pengajar Ayah..", wajah Seth seketika berubah menyeramkan.
"Aku sudah bukan gurumu, aku sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga ini. Salahkah jika aku melakukan sesuatu yang baik untuk kelangsungan keluarga ini?" tanya tuan Rhein pada Seth. Seth hanya diam menunduk. Dalam pikirannya segalanya berkecamuk hebat. / Selama ini..selama ini..ada orang yang begitu peduli padaku./
"Aku mengerti tuan, aku akan melakukannya." ujar Lard mantap, ia menatap mata tuan Rhein dan Seth bergantian.
"Kau memang orang baik. Seth tidak keliru memilihmu. Sekarang, kita ke ruangan dimana Gerald Stanford berada", tatapan tuan Rhein kali ini begitu lembut pada Lard, Lard memang merasakan pengorbanan hebat orang tua tersebut pada Seth dan Lard tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan itu, diliriknya Seth di sebelahnya ,perang batin pasti terjadi dalam hatinya. Tuan Rhein kemudian beranjak dari tempat duduk diikuti oleh Seth dan Lard, mereka kini akan menemui sumber dari segala sumber permasalahan yang sudah sangat jauh meluas akibat perbuatannya, kepala keluarga sekaligus dokter terkemuka, Gerald Stanford.
To be continued…
(XXXXXXX)
A/N:
Okay..the last chapter untuk bulan ini…akan di lanjutkan sekitar Oktober-November. Mohon maaf, tp ini dikarenakan saya akan menghadapi beberapa ujian di perkuliahan sedangkan Amelia baru memulai masa orientasi. Hal yang sama juga untuk Condor of Bisque Tale..
Alasannya? Kedua cerita ini perlu energi 'extra' dalam penyampaian berbahasanya..hehehe..
Tapi, kami akan buat 1 atau 2 cerita ringan untuk keep-on touch, juga sebagai kado untuk Seto..
Mohon maaf dan terima kasih telah membaca!!
Please REVIEW!!
