[REMAKE] Safe With Me by Kristen Proby
.
.
Main Casts: Lu Han (GS), Oh Sehun
And Others
Genre: Romance, Drama.
Rated: M
.
.
Warning: Genderswitch, Some Age-switch, OOC, No Children
Disclaimer: Cerita sepenuhnya milik Kristen Proby.
Saya hanya mengganti nama karakter dan beberapa hal lainnya agar sesuai.
This story set in Seattle, not in South Korea.
.
.
Really hope you guys will enjoy this story~
Review, kritik dan saran sangat dinanti.
No bash, If you hate HunHan or hate this story then don't read.
Thank you.
.
.
Pls read remaker's note in the end of the story if you don't mind.
.
.
Chapter 8
-Luhan POV-
"Hey, terima kasih sudah datang." Aku mencium pipi Jiwon ketika dia dan Yoonseok melangkah masuk ke dalam rumahku. Mereka adalah anggota keluarga terakhir yang sampai disini. "Apa semua anak-anak dititipkan di rumah orang tua Yifan?"
Jiwon mengangguk sembari kami melangkah di belakang Yoonseok menuju ruang keluarga.
Ruang keluargaku tampak penuh karena semua anggota keluarga yang datang.
Aku bisa melihat orang tua dari Kim bersaudara dan juga kedua orang tua dari Jiwon duduk berdampingan di meja ruang makan, sedangkan yang lainnya berkumpul di ruang keluarga. Yifan dan Zitao duduk di kursi yang sama, sedangkan Irene dan Minho serta Chanyeol dan Nana duduk di sofa. Soohyuk, kekasih Nana tidak bisa datang karena dia sedang sibuk dengan tur grup band nya.
Myungsoo, Soojung, Yoonseok dan Jiwon menempati kursi lain yang tersisa, semua mata memandang ke arah Sehun, Junmyeon dan diriku.
Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat bersalah?
"Jadi, ada apa?" Tanya Myungsoo. "Dimana orang tua Luhan dan si kembar?"
"Kedua orang tuaku menjaga anak-anak di rumah mereka. Lebih baik jika mereka tidak mengetahui tentang ini." Beberapa kata terakhir kukatakan dengan berbisik, dan semuanya saling tatap karena penasaran.
"Apa kau baik-baik saja?" Kim Yunho, ayah dari Kim bersaudara bertanya kepadaku, dan aku harus berkedip beberapa kali untuk menahan air mataku yang memaksa untuk jatuh.
Astaga, pembicaraan ini baru saja dimulai, tetapi air mataku sudah mau keluar saja.
Aku mengangguk dan mengalihkan pandanganku ke arah Junmyeon dan Sehun, meminta petunjuk.
"Kalian semua tahu," Junmyeon mulai berbicara dan menghela napas panjang, "kalau Luhan kembali ke Seattle sekitar setahun yang lalu dengan tiba-tiba."
Yoonseok mengusap wajahnya dan mengutuk pelan. Dia tahu segalanya, dan dia harus merahasiakannya selama ini karena diriku.
"Kau tahu?" Jiwon bertanya kepadanya, suaranya terdengar terluka. Yoonseok menghela napas panjang dan memeluk bahu Jiwon, membawa Jiwon mendekat ke arahnya, dan mencium kepalanya lembut sembari berbisik kepadanya.
"Sudah saatnya kalian semua tahu kenapa," aku mengumumkan dan memberikan senyum tipis ke arah Sehun dan Junmyeon. "Dan kalian harus mendengar semuanya dariku."
Aku menelan ludah dengan susah payah dan melihat ke sekeliling ruangan, kepada sekelompok orang yang sudah menjadi keluargaku dan juga sahabatku.
"Di hari Thanksgiving, lebih dari satu tahun yang lalu, aku membawa anak-anak pergi ke rumah baba mereka untuk menghabiskan waktu bersamanya selama beberapa hari. Tetapi, sebelum kami benar-benar sampai di rumahnya, Jackson dibunuh oleh anggota dari sindikat narkoba dimana dia bekerja menyamar disana, dan tepat saat aku sampai di rumahnya, mereka baru saja akan pergi."
Ada emosi yang bercampur dari semua orang di ruangan ini. Beberapa terkesiap. Mata mereka melebar dan mulut mereka terbuka tak percaya.
Aku bisa melihat Mino mengepalkan tangannya.
"Aku tidak mengenali satupun dari mereka," aku melanjutkan dan meremas kedua tanganku yang kuletakkan di atas pangkuanku. "Tetapi, mereka tidak tahu itu. Aku tidak bisa bersaksi melawan mereka di pengadilan, jadi aku tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan perlindungan saksi, tetapi mereka juga tidak tahu akan itu."
"Dia disarankan untuk meninggalkan Chicago, dan selama dia tetap diam dan tidak terlihat, dia seharusnya aman," Junmyeon menambahkan.
"Dan aku telah melakukannya," dengan cepat aku meyakinkan mereka semua. "Kepolisian di Chicago terus menjaga agar mata dan telinga mereka tetap terbuka untuk menginformasikan tentang segalanya kepadaku, dan selama ini yang aku tahu, aku sudah dilupakan oleh orang-orang itu."
"Jadi, apa yang terjadi sekarang?" Tanya Yifan.
"Beberapa hal sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir yang membuat kami semua menjadi lebih waspada," Sehun mulai membuka mulutnya, berbicara untuk yang pertama kalinya. "Pertama, Junmyeon hyung menerima telepon dari seorang private investigator di kantornya, menanyakan segala macam pertanyaan tentang keluarga."
Junmyeon mengangguk dan melanjutkan perkataan Sehun. "Kemudian ada salah satu pekerja baru di perusahaan Yoonseok yang bertingkah..."
"Sangat mengganggu," aku menyelesaikan ucapannya. "Dia mengatakan padaku bahwa dia tahu aku memiliki ikatan dengan polisi, dan terus mencari cara untuk mendekatiku. Tetapi akhirnya, dia ternyata hanyalah seorang pria menyebalkan yang menyukaiku, tetapi..."
"Tetapi aku tidak menyukainya," Sehun menambahkan. "Kemudian, di satu hari, anak-anak melihat seseorang berkeliaran di sekitar rumah, melihat-lihat isi kotak surat di depan rumah tepat ketika mereka turun dari bus sekolah."
"Kenapa kalian baru menceritakan ini pada kami sekarang?" Tanya Irene. "Kami telah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada Luhan selama berbulan-bulan. Jadi, kenapa sekarang?"
"Maafkan aku, guys," aku menutup kedua mataku dan menghela napas. "Aku hanya tidak ingin kalian semua khawatir dan aku tahu semakin sedikit hal yang kalian tahu maka semakin sedikit juga kemungkinan untuk kalian menjadi target mereka, terutama mengingat beberapa dari kalian adalah orang terkenal."
"Tetapi, adik laki-laki kesayangan kami yang merupakan salah satu atlet paling terkenal di dunia memutuskan untuk menjadi romantis, dan melamar kekasihnya di depan umum tadi malam," Junmyeon bergumam dan mengusap dahinya dengan tangannya. "Semua tentang lamaran itu menjadi berita dimana-mana, dan aku mendapatkan telepon dari Chicago tadi pagi."
"Aku berada di dalam foto-foto yang tersebar," aku menambahkan, dan aku bisa melihat yang lain mulai mengerti kenapa kami memutuskan untuk membicarakan soal hal ini sekarang.
"Apakah kau berada di dalam bahaya lagi?" Jaejoong, ibu dari Kim bersaudara bertanya.
"Kami tidak tahu," Sehun menjawabnya. "Tapi kami sadar bahwa kemungkinan buruk bisa terjadi, kesempatan orang-orang itu untuk mengetahui Luhan masih ada dan kembali mengejarnya akan semakin besar."
"Fuck," gumam Myungsoo. "Aku benar-benar minta maaf, guys."
"Kau tidak tahu," dengan cepat aku menenangkannya. "Ini bukan salahmu, Myungsoo."
"Kami ingin kalian semua tahu soal ini agar kalian bisa menjadi lebih waspada," Junmyeon memberitahukan yang lainnya. "Buka mata kalian akan segala sesuatu yang mencurigakan. Seseorang sudah bertanya kesana kemari tentang keluarga kita dan itu juga patut untuk kita waspadai."
Tiba-tiba, kami menyadari Jaejoong yang tengah berbisik serius pada Yunho, yang dengan keras menggelengkan kepalanya.
"Kau harus memberitahukannya," Jaejoong terdengar bersikeras, suaranya terdengar lebih keras. "Mereka punya hak untuk tahu. Kau bisa membuat pikiran mereka tenang, setidaknya tentang hal ini."
"Eomma?" Tanya Irene mengerutkan dahi. "Ada apa?"
Yunho menatap istrinya selama beberapa detik dan ketegangan terasa begitu tebal di dalam ruangan ini.
"Appa."
Suara Yoonseok terdengar tenang tapi tegas dan Yunho mengalihkan pandangannya kepada Yoonseok, kemudian ke arah masing-masing anaknya, satu persatu. Wajahnya benar-benar tegang ketika dia menggerakkan matanya ke sekeliling ruangan dan kembali ke istrinya yang mengangguk meyakinkannya.
Akhirnya, dia berdiri dan melangkah ke samping Junmyeon.
"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana mengatakannya," gumamnya, kedua matanya tidak pernah meninggalkan istrinya. Akhirnya, Jaejoong berdiri dan menghampirinya, mengaitkan kedua tangan mereka dan memiringkan kepalanya untuk mencium bahu Yunho.
"Kalian membuatku takut," Irene berbisik.
"Tepat setelah Sehun lahir," Jaejoong mulai berbicara dan menggerakkan tangannya untuk mengusap lengan Yunho. "Appa dan eomma berpisah."
"Apa?" Junmyeon berseru, terlihat terkejut sekaligus bingung.
"Biarkan aku menyelesaikannya," Jaejoong menegurnya dan kembali berbicara. "Kami mengalami masalah yang sangat parah, seperti kebanyakan pernikahan. Eomma memiliki tiga putra kecil di rumah, dan dia bekerja lebih sering daripada yang eomma suka, dan kami memutuskan untuk berpisah. Jadi, dia pindah dari rumah."
"Appa pindah?!" Irene bergerak maju di kursinya, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mendengarkan lebih seksama.
"Ya," Yunho menganggukkan kepalanya. "Tiga bulan terburuk di dalam hidupku."
"Okay, itu mengejutkan, tetapi apa hubungan semua itu dengan apa yang sedang terjadi sekarang?" Tanya Junmyeon.
"Private investigator yang kau bilang itu. Dia mencari appa," Yunho mengumumkan dan kedua matanya menatap Junmyeon. "Ketika appa terpisah dengan eomma kalian, appa bertemu dengan seorang wanita ketika appa sedang dalam perjalanan bisnis. Appa tidak tahu saat itu, tetapi dia hamil karena appa."
"Kalian pasti bercanda," Yoonseok menggeram.
"Tidak," Yunho menggelengkan kepalanya. "Appa tidak bercanda. Anak laki-laki itu sudah berusaha menemukan appa sejak ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia adalah orang yang mempekerjakan private investigator itu."
Semua orang di dalam ruangan terdiam sementara mereka memproses apa yang baru saja Yunho katakan. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat Sehun, dan aku bisa melihat rahangnya mengeras, otot-otot tubuhnya menegang dan matanya menyipit tajam ke arah ayahnya.
"Appa memiliki anak haram," Junmyeon menyimpulkan.
"Ya," Yunho menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca." Namanya Kim Jongin."
"Aku benar-benar tidak percaya ini," gumam Sehun.
"Dengar," Yunho mengangkat kedua tangannya seolah sedang menyerah. "Appa sedang menunggu hasil dari tes DNA sebelum appa ingin memberitahukan kalian semua. Appa takut bahwa dia hanya seseorang yang ingin memanfaatkan kalian semua."
"Appa kalian melindungi kalian semua," Jaejoong memberitahu mereka dengan suara yang tegas.
"Tetapi tes DNA itu mengkonfirmasi bahwa dia benar-benar anak appa," kata Sehun dingin.
"Ya."
Junmyeon mengutuk, panjang dan nyaring dan dia bergerak mengitari ruangan sementara Yoonseok menatap tajam Yunho. Irene dan Myungsoo terlihat sangat terkejut, dan Sehun mengerutkan dahinya, terlihat begitu marah dan frustasi.
"Ada yang ingin kukatakan," Sehun berkata dengan suara keras dan tegas.
"Katakanlah," kata Yunho.
"Appa mengajarkan kami bagaimana menjadi seorang pria. Seorang ayah." Sehun menghela napas panjang dan aku bisa melihat rahangnya mengeras ketika dia menggertakkan gigi-giginya. "Aku merasa semua yang pernah appa ajarkan pada kami semua selama ini hanyalah kebohongan."
"Semuanya bukan kebohongan," Jaejoong menyela dengan marah.
"Dia berselingkuh di belakang eomma! Pria macam apa yang melakukan itu?"
"Dia tidak melakukannya!" Jaejoong melangkah mendekati Sehun dan menatap langsung ke matanya. "Saat itu kami sedang berpisah, Sehun. Dan dia memberitahukan segalanya ketika dia kembali pada eomma, memohon untuk mengulang semuanya dari awal."
"Dia masih menikah dengan eomma saat itu!" Yoonseok memotong. "Aku tidak peduli jika kalian sedang berpisah untuk sementara saat itu." Yoonseok tertawa tanpa humor. "Ini bukan drama. Saat itu, dia masih menikah dengan eomma, tidak peduli kalian tinggal di rumah yang sama atau tidak."
"Kami diajari untuk menghormati wanita," Myungsoo menambahkan, suaranya terdengar serak. Dia mengangkat kepalanya dan menatap sang ayah tajam. "Kau mengajarkan kami untuk melindungi wanita yang kami cintai. Untuk menjaga mereka. Untuk tidak menyakiti mereka."
Yunho menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya. "Itu adalah kesalahan terburuk yang pernah appa perbuat, dan sesuatu yang selalu appa sesali setiap hari di dalam hidup appa. Eomma kalian begitu pemaaf, dan appa bersyukur setiap hari karena dia masih mencintai appa, masih mau menerima appa dan memperbaiki pernikahan kami."
"Dimana dia?" Sehun bertanya pelan.
"Dia tinggal tidak jauh dari sini," Jaejoong menjawab dengan mata berkaca-kaca. "Dia dulu tinggal dan tumbuh di Italia bersama dengan keluarga ibunya. Tetapi sudah beberapa tahun ini dia tinggal di Seattle."
"Apa appa pernah berpikir untuk memberitahu kami soal ini sebelumnya?" Tanya Irene. Air mata menetes di kedua pipinya.
"Ya, appa hanya tidak tahu bagaimana," bisik Yunho.
"Tetapi aku rasa tidak jika anak itu tidak ada," Yoonseok menambahkan.
"Jika Jongin tidak ada, tidak ada alasan untuk memberitahu kalian," Jaejoong memberitahu mereka semua. "Apa yang terjadi dalam pernikahan kami adalah urusan kami berdua, bukan yang lainnya."
"Bagaimana bisa eomma terus melindunginya?" Tanya Sehun kepada ibunya dengan nada marah. "Setelah semua yang dia perbuat kepada eomma?"
"Sayangku," Jaejoong meraih tangan Sehun dan menggenggamnya. "Kau harus ingat, hal ini terjadi lebih dari tiga puluh tahun yang lalu. Semuanya baik-baik saja setelah itu. Kami mendapatkan kedua adikmu, Myungsoo dan Irene, dan juga mendapatkan cucu-cucu yang luar biasa selama tiga puluh tahun itu." Dia berbalik dan menatap kami semua dengan air mata yang jatuh di kedua pipinya. "Ini baru untuk kalian karena kalian baru mengetahuinya. Untuk kalian semua, hal ini baru terjadi hari ini, tetapi untuk kami, hal ini hanyalah masa lalu."
"Apa kau punya informasi lain yang harus diberitahu kepada kami?" Yoonseok bertanya pada Junmyeon sembari menarik Jiwon untuk berdiri.
"Tidak," Junmyeon menggelengkan kepalanya.
"Aku pergi dari sini."
Yoonseok membawa Jiwon keluar dari pintu dan kami bisa mendengar dia menyalakan mobilnya dan pergi dari rumah ini.
Irene menangis tersedu-sedu dan Mino menariknya ke atas pangkuannya, mengusap punggungnya lembut dan berbisik pelan di telinganya, mencoba menenangkannya. Zitao mengubur wajahnya di dada Yifan, dan aku bisa melihat air mata jatuh perlahan di sudut matanya.
Myungsoo berdiri dan melangkah pelan mendekati ayahnya, kedua matanya penuh kemarahan. "Aku benar-benar ingin memukulmu saat ini. Tetapi karena aku menghormati eomma, aku hanya akan mengatakan ini. Aku tidak pernah membayangkan akan merasa begitu kecewa seperti ini karena appa."
Myungsoo menggelengkan kepalanya dan berbalik, berjalan cepat menuju pintu depan. Soojung melangkah di belakangnya sembari mengusap air matanya.
Sehun tidak berhenti menatap ayahnya sejak tadi. Dia sama sekali tidak bergerak di tempatnya. Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya tampak tegang, dan aku bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam dari dirinya.
Air mata jatuh tak tertahan dari kedua mataku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, jadi aku melakukan apa yang aku rasa benar. Aku mengangkat tanganku dan bergerak untuk memeluknya. Perlahan, dia membuka lengannya yang tadi terlipat dan balas memelukku. Aku bisa merasakan jiwanya yang bergejolak saat ini.
"Aku rasa..." Junmyeon membuka suara tetapi ia berhenti sejenak dan menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku rasa pertemuan kita hari ini berakhir. Tetaplah waspada, semuanya."
Ketika dia berjalan melewati Sehun dan aku, dia menepuk bahuku menenangkan dan melangkah keluar dari pintu depan, kemudian menutupnya pelan.
"Ayo," Yunho berkata kepada Jaejoong. "Lebih baik kita pulang dan membiarkan mereka memproses semuanya." Dia melihat ke sekeliling ruangan, kepada kedua orang tua Jiwon yang menatapnya dengan tatapan tak percaya di meja ruang makan, kepada anak-anaknya, juga saudara saudara Yifan yang ikut datang. "Aku mencintai kalian semua. Aku tidak bisa menjelaskan betapa menyesalnya aku karena kalian harus mengetahui tentang Jongin dengan cara seperti ini."
Yunho berhenti di depan Irene, wajahnya tampak tersiksa, ketika matanya menatap ke arah putri satu-satunya itu. "Irene," bisiknya.
Irene melompat dari pangkuan Mino dan bergerak untuk memeluk erat sang ayah. "Aku sangat mencintaimu, appa."
"Aku mencintaimu juga, baby girl."
Irene memeluk ibunya dan mengusap air mata di pipinya ketika dia menarik diri dan kami semua melihat mereka melangkah keluar melewati pintu depan.
.
.
.
.
-Sehun POV-
"Sialan!" Aku berteriak dan melangkah mengitari ruang keluarga, masih merasa begitu marah walau sudah lewat satu jam lebih sejak semuanya meninggalkan pertemuan hari ini. "Dia berselingkuh dari ibuku!"
"Sehun..." Luhan berkata tetapi aku memotongnya.
"Jangan mencoba untuk membelanya."
"Aku tidak," dia menggelengkan kepalanya. "Tetapi sejujurnya, ibumu benar. Kejadian itu terjadi sudah sangat lama sekali."
"Semua yang dia ajarkan kepada kami adalah kebohongan." Aku mengacak rambutku frustasi dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
"Tidak, itu tidak benar, Sehun. Apakah kau pernah berpikir ayahmu mengajarimu berdasarkan dari kesalahan yang pernah dia perbuat? Dia tidak mau kau melakukan kesalahan yang sama seperti yang dia perbuat."
Aku menghela napas panjang dan menutup kedua mataku.
Sialan. Omongan Luhan masuk akal juga.
"Ayahmu sangat mencintai ibumu lebih dari apapun. Itu jelas terlihat oleh kita semua."
"Aku memiliki seorang adik laki-laki yang bahkan aku tidak ketahui!" Seruku dan mulai melangkah mengelilingi ruangan lagi.
"Ayahmu juga tidak tahu. Kau tahu ayahmu, Sehun. Dia tidak mungkin membuang anak itu jika dia tahu kalau anak itu adalah anaknya." Dia memandangku dengan seksama, ekspresinya tampak tenang, dan aku tiba-tiba merasa seperti seseorang yang brengsek.
"Kau benar," gumamku dan aku mengangkat tanganku ke wajahku. "Dia tidak mungkin melakukannya. Tetapi benar-benar sialan dia meninggalkan ibuku tepat setelah ibuku melahirkanku."
"Itu disebut menjadi manusia. Terus terang, aku lega mengetahui bahwa keluarga Kim tidak sesempurna yang orang-orang lihat dari luar." Luhan terkekeh dan aku merengut ke arahnya.
"Apa maksudnya itu?"
"Oh, ayolah, Sehun. Kedua orang tuamu memiliki pernikahan yang bahagia, kalian bersaudara memiliki tampang yang luar biasa, mengalahkan para model di luar sana. Kalian juga sangat akur dengan satu sama lain." Luhan memberitahukan setiap poin tentang keluargaku sambil mengangkat jari-jarinya satu persatu. "Myungsoo, adikmu adalah seorang pemain football profesional yang begitu terkenal, kau adalah seorang tentara..."
"Mantan," aku menyela, tetapi Luhan tetap melanjutkan ucapannya.
"Kalian semua sangat sukses. Sepertinya tidak ada dari kalian yang bisa melakukan kesalahan. Kalian adalah keluarga yang begitu sempurna. Tapi, surprise, ternyata kalian semua juga manusia biasa." Luhan mengangkat bahunya dan menatapku dengan seksama, ketika aku berdiri di tempatku dan hanya menatapnya.
"Junmyeon hyung suka kinky sex, tidak ada yang sempurna tentang dirinya," aku memberitahu Luhan, mencoba untuk tetap berekspresi datar.
"Oh, jujurlah, kau juga suka hal-hal yang kinky," dia menyeringai ke arahku.
"Tidak terlalu kinky, tetapi aku tidak keberatan mengikatmu di ranjang, Legs."
Luhan tertawa dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia berdiri dan melangkah mendekatiku. "Berikan semuanya waktu," mohonnya dan menggerakkan tangannya untuk memeluk pinggangku. "Mungkin Kim Jongin itu adalah pria yang baik."
"Dia mungkin saja pembunuh berdarah dingin atau seorang bajingan," aku meringis ngeri dan bergidik memikirkannya, membuat Luhan tertawa dan untuk pertama kalinya di hari ini, aku merasa tubuhku menjadi lebih santai.
"Dia mungkin hanya seorang pria biasa yang ingin tahu bagaimana ayah kandungnya," Luhan tersenyum lebar.
Belum sempat aku membalas ucapan Luhan, terdengar suara seseorang mengetuk pintu depan. Aku mengerenyitkan dahi, tetapi Luhan tampak tersenyum sembari menatap pintu itu.
"Kau tahu siapa itu?" Tanyaku dengan alis terangkat.
"Aku menelepon mama dan memintanya untuk membawa anak-anak pulang. Aku merindukan mereka." Dia tersenyum malu dan aku mencium keningnya lembut sebelum melangkah untuk membuka pintu depan. Dua gadis kecil dan seekor anjing yang bersemangat muncul di hadapanku, dengan kedua orang tua Luhan di belakang mereka.
"Terima kasih sudah membawa mereka pulang." Luhan tersenyum ke arah kedua orang tuanya dan memeluk Hana dan Luna erat.
"Tidak masalah. Mereka juga sudah siap untuk pulang."
"Yeye bilang kami buruk untuk tekanan darahnya yang tinggi," Luna memberitahu ibunya dengan wajah serius.
"Yeye bilang kami memberinya vagina!" Hana berseru dan aku mendengus sembari menahan tawa yang hendak keluar.
"Angina (sakit jantung)," ayah Luhan mengoreksi ucapan Hana dan memutar bola matanya. "Kalian berdua memberiku angina."
"Itu yang aku katakan tadi," gerutu Hana.
"Kami langsung pulang, sayang." Ibu Luhan memeluk Luhan erat dan mencium pipiku ketika dia melewatiku untuk melangkah keluar dari pintu.
"Terima kasih lagi, Ma. Dan jangan lupa malam senin adalah malam bulanan kami bersama keluarga yang lain, jadi anak-anak akan ke rumah kalian lagi malam itu."
"Tidak masalah," ibu Luhan tersenyum.
Kami kemudian mengantar kedua orang tua Luhan keluar dan menutup pintu. Dan anak-anak mulai bercerita tentang malam mereka bersama kakek dan nenek mereka.
Bix berjalan ke arahku dan mendudukkan dirinya di atas pangkuanku dan sofa. Aku mulai menggaruk perutnya dan dengan lembut memijat telinganya yang cacat, membuatnya mengerang senang bersamaan dengan suara anak-anak yang berbicara penuh semangat kepada Luhan.
Luhan benar-benar ibu yang luar biasa.
Luhan tersenyum lembut ke arah anak-anak dan mengisyaratkan mereka untuk duduk dengannya di sofa lain yang berdekatan dengan sofa yang aku duduki, anak-anak masing-masing duduk di sampingnya, dan dia memeluk mereka berdua sembari sesekali mencium kepala mereka.
Seandainya saja aku berada bersama mereka ketika anak-anak masih bayi. Pasti begitu membahagiakan melihat Luhan menenangkan mereka, memeluk mereka.
Merawat mereka.
"Gigiku goyang!" Luna memberi tahu Luhan dengan penuh semangat.
"Benarkah?" Luhan bertanya. "Biar mama lihat."
Luna menunjukkan kepada ibunya gigi depan atasnya yang tampak goyang dan kemudian berbalik untuk menunjukkannya kepadaku. "Samchon lihat?"
"Ya, samchon melihatnya. Biarkan samchon mengambil tang samchon, samchon akan melepas gigi itu untukmu."
"Tidak!" Luna terkikik dan menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.
"Gigiku tidak goyang," Hana merengut.
"Jangan khawatir, baby," Luhan terkekeh dan mencium pipinya. "Itu pasti akan terjadi sebentar lagi."
"Bisakah kita menonton film, mama?" Tanya Luna sambil menguap.
"Mama rasa ini sudah waktunya untuk tidur, sweetheart."
"Aku ingin Sehun samchon yang mengantarku ke kamar," jawab Hana dan mengalihkan kedua bola mata coklatnya kepadaku, menatapku dengan penuh harap.
"Come on," aku menjentikkan jariku dan Bix melompat dari pangkuanku, tampak bahagia menaiki tangga menuju kamar tidur anak-anak. Aku mengangkat anak-anak dengan kedua tanganku dan meletakkan mereka di atas bahuku, membawa mereka seperti karung kentang, membuat mereka tertawa kencang karenanya. "Aku akan melemparkan kalian ke tempat tidur."
"Mama! Tolong!"
"Sorry, mama tidak bisa membantu," Luhan tertawa ketika aku mulai menaiki tangga. "Mama punya dapur yang harus dibersihkan."
"Aku akan turun untuk menolongmu nanti!" Ucapku keras, kemudian melangkah memasuki kamar anak-anak dan meletakkan mereka di atas kasur mereka masing-masing. Setelah mencium kening mereka dan mematikan lampu, aku melangkah keluar dari kamar mereka sembari mengucapkan selamat malam.
Sekarang waktunya untukku mengantar ibu mereka yang seksi ke tempat tidur.
.
.
.
.
Malam senin datang dengan cepat. Kami semua kini tengah berkumpul di salah satu pub di pusat kota, menikmati waktu bersama. Suasana pub begitu ramai terima kasih kepada jukebox tua di sudut pub yang memainkan lagu Livin' On a Prayer dan aku bisa melihat para wanita benar-benar menikmati waktu mereka bersama di meja tak jauh dari tempat kami bermain billiard.
Namun, tak lama kemudian kami semua terdiam di tempat ketika kami melihat Junmyeon melangkah melewati pintu bersama dengan seorang laki-laki tinggi, berambut hitam di sampingnya. Kami semua memandang mereka, dan laki-laki itu tersenyum ke arah kami sembari mendengarkan dengan seksama apa saja yang Junmyeon bisikkan kepadanya ketika mereka melangkah menuju meja para wanita.
Aku tidak perlu bertanya untuk tahu siapa laki-laki itu. Aku seperti melihat versi muda ayahku tiga puluh tahun yang lalu, hanya saja laki-laki itu memiliki kulit yang lebih gelap.
"Oh, hell no," Yoonseok menggeram tetapi Myungsoo menghentikannya dengan meletakkan tangannya di dada Yoonseok.
"Santailah, hyung," Myungsoo bergumam pelan di telinga Yoonseok.
Yoonseok merengut ke arah Myungsoo dan kemudian kembali menatap ke arah dimana para wanita tersenyum dan tertawa karena sesuatu yang laki-laki itu katakan. Dia menjabat tangan para wanita satu persatu dengan sopan, tetapi ketika dia sampai di depan Irene, dia berhenti dan menjabat tangannya lebih lama, kedua matanya menatap Irene dengan seksama.
Irene sendiri terpaku padanya dengan takjub, dan akhirnya, dia melompat dari bangku dan memeluk laki-laki itu erat dan tersenyum lebar kepadanya. Laki-laki itu membalas senyuman Irene, menepuk bahunya canggung dan Irene pun kembali ke tempat duduknya untuk menghabiskan nachos nya. Zitao juga memeluknya dan memberikannya senyuman sebelum dia dan Junmyeon akhirnya melangkah menghampiri kami.
Tiga saudara sudah ditaklukkan.
"Aku punya seseorang yang ingin aku perkenalkan kepada kalian," Junmyeon mulai berbicara ketika dia dan laki-laki di sampingnya mendekat ke arah kami. Kedua mata laki-laki di sampingnya terlihat gugup.
Yifan melangkah maju dan mengulurkan tangannya. "Aku Park Yifan, suami dari Zitao," dia mengisyaratkan ke arah istrinya yang cantik dan menjabat tangan laki-laki itu erat.
"Kim Jongin," jawabnya.
"Mino," Mino berdiri dan mengulurkan tangannya. "Aku suami dari Irene."
"Myungsoo, saudara laki-laki yang paling muda." Myungsoo menghampiri Jongin dan menjabat tangannya, kedua matanya menatap Jongin dengan seksama. "Apa kau suka football?" tanyanya, membuat kami semua menyeringai.
"Aku tidak terlalu menontonnya, aku mengakui," jawab Jongin menunjukkan senyumnya. "Tetapi aku dengar kau adalah salah satu pemain."
"Ya, itu benar," Myungsoo menganggukkan kepalanya dan melepas jabatan tangan mereka.
Jongin berbalik ke arahku dan aku menjabat tangannya, senang karena jabatannya terasa tegas dan kuat. Ibuku selalu bilang, kau bisa mengetahui banyak tentang seseorang dari jabatan tangannya.
Sejauh ini, aku tidak punya keluhan apapun.
"Aku Sehun," aku memberitahunya.
"Kau yang bekerja sebagai tentara?" Tanyanya.
"Dulu, ya."
Jongin menganggukkan kepalanya dan bergerak maju untuk berbisik kepadaku, "Terima kasih atas pengabdianmu, man. Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu.
Well, fuck.
Aku hanya menganggukkan kepalaku ketika Yoonseok melangkah mendekat.
"Aku Yoonseok."
"Yang tertua," balas Jongin.
"Ya, itu benar," Yoonseok menganggukkan kepalanya dan menjabat tangan Jongin. "Aku masih tidak yakin tentang bagaimana perasaanku tentangmu saat ini."
"Well, aku juga sebenarnya, sepertinya," Jongin mengangguk dan melangkah mundur, menatap kami semua. "Aku tidak pernah memprediksi seorang Kim Yunho memiliki keluarga yang begitu besar. Aku tidak tahu apa yang akan ku temukan sebelumnya, sebenarnya."
"Ayo kita pesan makanan dan beer lagi," Yifan menyarankan dan mengisyaratkan kepada pelayan yang langsung mendatangi kami dan mencatat pesanan kami.
"Apa yang membuatmu akhirnya mencari ayah kami?" Tanyaku sembari dia mendudukkan diri di salah satu kursi dan mengambil sebotol beer dari pelayan.
"Ibuku meninggal musim gugur tahun lalu," jawabnya. "Dia tidak pernah memberitahuku tentang ayah kandungku sebelumnya."
"Apa dia pernah menikah?" Tanya Junmyeon.
"Tidak," Jongin menggelengkan kepadanya dan entah kenapa aku merasa kasihan kepadanya. Tumbuh tanpa sosok seorang ayah pasti sangat tidak menyenangkan.
"Setelah dia meninggal, aku merapikan beberapa barang miliknya, dan aku menemukan surat darinya yang ia tujukan kepadaku." Jongin mengangkat bahunya dan berdeham sekali. "Dia menjelaskan di surat itu tentang siapa ayah kandungku, dan apa yang dia ingat tentangnya, jikalau aku ingin tahu dan mencoba mencarinya."
"Tuan Kim bilang kau tumbuh besar di Italia?" Tanya Yifan.
"Bisa dibilang begitu," dia menganggukkan kepalanya dan bergerak di kursinya. "Keluarga ibuku berada di sana, dan ketika aku berumur lima tahun kami berdua pindah kesana sehingga dia bisa dekat dengan keluarganya. Kami pindah kembali ke Amerika ketika aku berumur lima belas tahun. Kemudian aku kembali lagi ke Italia di musim panas dan sekolah di sana selama beberapa lama. Kakek dan nenekku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, dan aku mewarisi properti mereka disana."
"Apa kau sering berkunjung kesana setelah kau pindah lagi ke sini?" Tanya Myungsoo. "Aku benar-benar ingin mengajak Soojung kesana jika kami ada waktu."
"Beberapa kali aku kembali ke sana untuk mengurus bisnisku, tetapi tidak terlalu sering, tetapi jika kau dan Soojung mau mengunjungi Italia, kalian bisa menggunakan tempatku di sana kapanpun kalian mau." Dia mengangkat bahunya seperti apa yang dikatakannya barusan adalah hal biasa. Walaupun kami baru bertemu, dia seperti sudah menganggap kami benar-benar keluarganya.
Mungkin Luhan benar, dia hanyalah pria biasa yang tidak berbahaya.
"Apa kau sudah menikah?" Tanya Yoonseok kemudian.
"Tidak," Jongin menggelengkan kepalanya dan tampak tersenyum sedih. "Terlalu sibuk untuk itu. Tetapi aku sudah bertemu dengan istrimu yang cantik."
"Apa yang kau kerjakan?" Yifan bertanya.
"Aku memiliki dua kebun anggur. Satu di Washington dan yang lainnya berada di Italia, walaupun sepupuku yang selalu mengurus kebunku yang berada di Italia."
Kami terus mengobrol dengan santai dan menanyakan hal yang ingin kami tanyakan pada Jongin. Beruntung suasana sama seklali tidak canggung dan lama kelamaan aku bisa melihat kami semua bisa mulai menerima Jongin dengan baik, termasuk aku tentunya. Tak lama kemudian, aku bisa melihat para wanita bangun dari kursi mereka dan mulai melangkah menuju meja kami.
.
.
.
.
-Luhan POV-
"Jadi, kau adalah orang Italia?" Tanyaku kepada Jongin ketika kami sudah berpindah meja, bergabung dengan para pria dan juga Kim Jongin, tambahan baru keluarga Kim yang tidak kalah tampannya dengan para pria Kim lainnya.
Jongin mengangguk dan mengarahkan pandangannya ke arahku, menunjukkan senyum setengahnya yang terlihat begitu mirip dengan senyum Sehun, dan aku bisa merasakan wajahku memanas karena senyum itu.
"Jadi, kau bisa berbahasa Italia?"
Jongin mengangguk lagi dan terkekeh. Sehun melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dan menarikku mendekat kepadanya, membuat tubuh kami menempel, dan entah kenapa aku menjadi merasa bersalah karena secara tidak langsung aku terlihat sedang merayu adik tirinya tepat di depannya, walaupun aku sama sekali tidak berniat seperti itu.
Dan melihatnya cemburu benar-benar lucu bagiku.
"Aku rasa maksud Luhan disini adalah dia ingin memberitahu kita bahwa kau akan terlihat sangat seksi jika kau benar-benar bisa berbahasa Italia," ucap Soojung tersenyum.
"Oh please," Myungsoo memutar kedua bola matanya dan merengut ke arah Soojung.
"Itu benar!" Soojung bersikeras.
"Aku rasa sudah waktunya kita untuk pulang," Sehun menggeram dan menarik tanganku untuk dia genggam. "Have fun, guys. Jongin, senang bertemu denganmu."
Jongin menganggukkan kepalanya dan berkedip kepadaku ketika Sehun menarikku untuk berdiri dan kami mulai berjalan meninggalkan pub. Aku tidak bisa menahan tawaku melihat Sehun yang terlihat begitu cemburu saat ini. Dia terus menarikku menuju tempat parkir, membuatku harus berlari di atas sepatu hak tinggiku.
"Sehun, pelan-pelan!"
"Kau melakukannya dengan sengaja," bisiknya dan dia mendorongku pelan hingga punggungku menyentuh mobil, wajahnya ia dekatkan padaku, dan kedua lengannya mengurung tubuhku. Dia kemudian menempelkan bibirnya di atas bibirku lembut.
"Melakukan apa?" Tanyaku pelan.
"Membuatku cemburu dengan merayu saudaraku."
Aku tertawa keras ketika dia menggerakkan bibirnya menuju rahangku dan turun ke leherku. Aku mengangkat tanganku untuk menyusuri lengannya, melewati bahunya dan naik ke atas rambutnya. "Sehun?"
"Mmm..."
"Bawa aku pulang sekarang."
Setelah mencium bibirku dengan lembut, dia menuntunku masuk ke dalam mobil dan dengan cepat menggerakkan mobilnya pergi dari tempat itu. Beruntung pub ini berjarak cukup dekat dengan rumahku, sehingga tak butuh waktu lama kami sudah sampai di rumah.
Sehun menggendongku masuk dan dengan cepat menaiki tangga menuju ke kamar tidur dimana dia langsung melepaskan pakaian kami berdua dan dengan lembut meletakkan tubuhku ke atas tempat tidur.
Dia tidak pernah bersikap selembut ini sebelumnya, dan ini membuatku sedikit merasa aneh.
Dia mendorongku hingga terbaring dan menempelkan tubuhnya dengan tubuhku, menciumku lembut sebelum akhirnya menarik diri untuk menenggelamkan wajahnya di leherku. Aku bisa merasakan napasnya disana dan itu membuatku merinding. "Kau membuatku benar-benar takjub, Lu. Kau benar-benar luar biasa."
Aku mengerutkan dahi dan menarik kepalaku mundur agar aku bisa melihat wajahnya. Dia menangkup kedua pipiku dengan tangannya dan mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.
"Kau begitu menyenangkan, dan manis, dan juga pintar." Sehun menelan ludahnya dan menciumku lagi. "Kau bahkan bisa membuat seorang iblis jatuh cinta kepadamu," bisiknya.
"Apa kau juga tahu kalau aku memiliki kemampuan blowjob yang hebat?" Tanyaku padanya sembari menyeringai. Dia tertawa kecil dan meraup bibirku dengan bibirnya lagi, menggigir sudut bibirku dan membuatku merinding di sekujur tubuh. Aku memiringkan pinggulku, perlahan mengundangnya untuk segera memasukkan dirinya ke dalam diriku, tetapi dia menjauhkan miliknya.
"Sehun," aku mendesah dan menggigit rahangnya lembut.
"Ya, sayang," bisiknya, mencium bahuku.
"I really want you to fuck me now."
Dia menarik dirinya dan menatapku dengan kedua mata birunya, menyingkirkan anak rambutku yang menutupi wajahku. "Aku tidak akan melakukan seks denganmu malam ini, baby." Dia menggelengkan kepalanya dan menutup kedua matanya perlahan, kemudian dia membukanya kembali dan memandangku dengan kedua mata birunya yang cerah sekali lagi. "Aku akan bercinta denganmu malam ini."
Sebelum aku bisa merespon, dia menurunkan kepalanya dan menciumku lagi. Aku menggerakkan tanganku di lengan telanjangnya dan mengerutkan dahi ketika aku merasakan bekas luka di kulitnya yang mulus.
"Sehun, apa yang terjadi dengan lenganmu?" Aku bertanya.
"Pekerjaan," gumamnya dan melanjutkan memberikan ciuman di leherku.
"Bekas luka ini terlihat buruk," balasku.
"Bukan masalah besar." Dia membungkus putingku dengan bibirnya dan menghisapnya perlahan, membuatku melengkungkan pinggulku.
"Aku tidak suka melihatmu terluka," bisikku. "Sama sekali tidak suka."
"Aku baik-baik saja, Legs." Dia menggerakkan tangannya yang besar menuju pinggulku dan menurunkannya ke pahaku dan betisku dan terus seperti itu selama beberapa kali. Dia kemudian mengangkat lututku ke pinggulnya dan membuka kedua kakiku lebar untuknya. Kejantanannya yang begitu keras dia tempelkan di klitorisku dan aku hampir mencampai puncakku karena itu.
"Ah, Sehun, ini benar-benar nikmat."
Dia menyeringai di depan dadaku dan mengulangi pekerjaannya di putingku yang sebelumnya untuk putingku yang satunya, menghisap dan menarik putingku dengan bibirnya. Dia menggerakkan pinggulnya, menggesek kejantanannya dan klitorisku dan aku tidak bisa melakukan apapun selain mengerang karenanya.
"Aku membutuhkanmu, Sehun."
"Aku disini," jawabnya pelan. Tubuhku terbakar untuk dirinya. Aku tidak bisa berhenti bergerak di bawahnya, tidak bisa menghentikan tanganku untuk menyentuh setiap bagian tubuhnya yang begitu luar biasa.
Akhirnya, dia memasukkan ujung kejantanannya ke dalam diriku dan berhenti, mengangkat wajahnya naik dan menempelkan kening kami berdua, menciumku dengan dalam dan penuh gairah, membelitkan lidahnya dengan lidahku, menangkup wajahku dengan kedua tangan besarnya.
Dia memuja tubuhku, dan hal ini adalah hal paling luar biasa yang pernah aku rasakan selama hidupku.
Dia perlahan memasukkan seluruh kejantanannya ke dalam kewanitaanku dan aku bersumpah rasanya benar-benar begitu luar biasa nikmat.
"Benar-benar menakjubkan," bisiknya. Kamar ini terasa sunyi, begitu juga dengan rumah ini, ketika dia mulai bercinta denganku. Kami berdua masih bernapas, tetapi kami sama sekali tidak bersuara saat dia bergerak di atas tubuhku dan aku menaikkkan dan menurunkan pinggulku untuknya, menikmati betapa kerasnya dirinya di dalam tubuhku.
"Aku sangat mencintaimu," bisikku di bahunya ketika aku bisa merasakan pubisnya menggesek klitorisku, mengirimku ke puncak kenikmatan bersamaan dengan dirinya. Dia gemetar di atasku, sama sekali tidak bersuara ketika dia ambruk di sampingku dan menarikku ke dalam pelukannya.
Jika dia mendengar pernyataanku beberapa detik yang lalu, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menarikku menempel padanya, mendorong jari-jarinya di atas rambutku dan mencium keningku sebelum dia tertidur lelap.
Setelah beberapa menit, aku melepaskan diriku dari pelukannya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku, mengenakan pakaian, dan juga berpikir.
Apakah dia tidak mendengarku?
Mungkin saja.
Ketika aku kembali ke dalam kamar, aku melihat tubuhnya berbalik memunggui sisiku di atas ranjang. Aku bergerak naik ke atas ranjang dan berbaring di tempatku, beberapa inchi berjarak darinya, memandangnya ketika ia bernapas dalam tidurnya. Sinar bulan di luar menyinari punggung lebarnya.
Dia adalah segalanya yang aku inginkan.
.
.
To be continued...
.
.
Dan akhirnya Luhan bilang I Love You, tapi si Sehun gak ngebales.
Dia beneran gak denger, atau pura-pura gak denger? Jengjeng~
Dan ada pengenalan karakter Jongin disini yang akan muncul di salah satu sekuel cerita ini yang akan aku buat nanti.
Karena chapter ini lebih seperti filler chapter sebelum konflik terjadi, aku bakalan fast update buat chapter selanjutnya~
Next chapter konfliknya bakalan dateng so get ready for it! Wkwk
Dan terima kasih banyak buat yang udah review dan kasih semangat di chapter sebelumnya:
Chogiwillis, Guest, Feyaliaz307, hunhantime, Hunhania7, Fe261, Guest, 88it'sme, selynLH7, ad8l90, lala94, indah945, lalacelia23, rly
You guys are the best as always!
Jangan lupa tinggalkan jejak buat chapter ini yaaa~
See you guys real soon in the next chapter! Bubye~
